Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

“KEDAULATAN NEGARA ATAS WILAYAH DARAT, LAUT


DAN UDARA“

OLEH :
NAMA : PUTRY AYU PUPUH

KELAS : X MIA4

NO. ABSEN : 25

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 8 MATARAM

TAHUN AJARAN

2017
Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan “Makalah KEDAULATAN
NEGARA ATAS WILAYAH DARAT, LAUTAN DAN UDARA”. Dan juga saya berterima
kasih pada selaku dosen mata kuliah Kedaruratan Dan Bencana yang telah memberikan tugas
ini kepada saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.
Akhirnya saya selaku penyusun, berharap semoga Allah SWT memberikan pahala
yang setimpal kepada mereka yang telah memberikan bantuan dan dapat dijadikan sebagai
ibadah,serta untuk para korban, semoga diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani
kehidupan, Aamiin Yaa Robbal’Alamiin.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Mataram, 16 Oktober 2017


Kedaulatan Negara Atas Wilayah
Kedaulatan Negara Atas Wilayah sangat penting dalam mempelajari hukum internasional.
Dalam hukum internasional, sesuatu dapat dikatakan negara jika sudah memiliki rakyat,
wilayah, pemerintahan yang berdaulat dan kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan
negara lain. Wilayah disebutkan sebagai syarat nomor 2 menunjukkan bahwa wilayah yang
tetap merupakan syarat penting terbentuknya suatu negara. Karena di atas wilayah itulah
nantinya akan diselenggarakan suatu negara dengan pemerintahan yang berdaulat. Oleh
karena itu dalam artikel kali ini saya akan membahas mengenai wilayah dalam hukum
internasional dan kedaulatan negara atas wilayah

Arti Penting Wilayah

Sebagaimana ditentukan dalam pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 tentang Hak-hak dan
Kewajiban-kewajiban Dasar Negara, bahwa :
Negara sebagai subyek hukum internasional harus memenuhi ciri-ciri tertentu, yaitu : a).
memiliki penduduk yang pasti, b). wilayah yang pasti, c). berpemerintahan yang berdaulat,
dan d). kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain
Senada dengan konvensi tersebut, Oppenheim mengatakan bahwa :
suatu negara dapat dikatakan layak berdiri apabila rakyatnya berdiam di dalam suatu wilayah
di bawah pemerintahannya sendiri. Ada empat syarat yang harus dipenuhi bagi eksistensi
suatu negara, yaitu : harus ada rakyat, harus ada wilayah, harus ada pemerintahan, dan
pemerintah yang berdaulat
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa wilayah merupakan salah satu
unsur penting bagi adanya negara. Sebab, bagi sekelompok individu sekalipun sudah
dikatakan merupakan satu kesatuan, apabila ternyata hidupnya masih mengembara maka
kesatuan yang demikian belum dikatakan sebagai bangsa yang bernegara. Namun seberapa
luas wilayah yang harus dimiliki oleh suatu negara, hukum internasional tidak mengatur.
Demikian juga, wilayah suatu negara tidak harus selalu mempunyai tapal batas yang tetap.
Terjadinya perubahan tapal batas suatu negara tidak menyebabkan perubahan identitas negara
yang bersangkutan.

Dalam masyarakat internasional, ternyata ada negara-negara yang hanya memiliki wilayah
sempit, namun ia berstatus sebagai ‘pribadi’ dalam hukum internasional. Negara-negara
tersebut status hukumnya sama dengan negara-negara besar seperti Indonesia, Amerika
Serikat, RRC dan sebagainya. Wilayah suatu negara umumnya terdiri atas wilayah daratan,
wilayah laut, dan wilayah udara di atasnya. Sebagaimana pula dikatakan Priyatna
Abdurasyid, bahwa :
Wilayah negara itu terdiri atas tiga dimensi yaitu, darat, laut dan udara. Berdasarkan
Konvensi Hukum Laut 1982, negara memiliki kedaulatan atas perairan kepulauan. Sedangkan
atas wilayah udara, negara memiliki kadaulatan atas wilayah ruang udara di atas daratan dan
di atas wilayah laut yang berada di bawah kedaulatan negara yang bersangkutan
Indonesia adalah negara kepulauan dan sebagai subyek hukum internasional. Eksistensi
negara kepulauan telah diterima oleh masyarakat internasional melalui Konvensi Hukum
Laut 1982. Hal ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan semakin eksis
dalam masyarakat internasional.
Kedaulatan Negara atas Wilayah

Pengertian Kedaulatan Teritorial

Negara mempunyai kedaulatan atas wilayah yang berada di dalam kekuasaannya.


Kekuasaan negara atas wilayah tersebut melahirkan konsep kedaulatan teritorial, yaitu
kekuasaan negara untuk menjalankan jurisdiksinya atas orang-orang dan harta benda yang
berada dalam wilayahnya. Pengertian kedaulatan tertinggi mengandung dua pembatasan,
yaitu (1) kekuasaan terbatas pada batas-batas wilayah negara yang memiliki kekuasaan, dan
(2) kekuasaan itu berakhir dimana kekuasaan suatu negara lain mulai.

Cara memperoleh Wilayah

1. Okupasi merupakan cara memperoleh tambahan wilayah atas wilayah tak bertuan
(penemuan). Cara ini dianggap sah didasarkan pada prinsip “effectiveness”, yang
didalamnya mengandung adanya kemauan sebagai yang berdaulat dan adanya
pelaksanaan kedaulatan. Prinsip ini telah dipakai oleh Mahkamah Internasional dalam
perkara seperti Sipadan-Ligitan, Sengketa Laut Cina Selatan.
2. Aneksasi adalah penggabungan wilayah lain ke dalam wilayahnya dan harus ada
pernyataan aneksasi. Aneksasi dapat terjadi dengan jalan penaklukan lebih dulu atau
penguasaan.
3. Akresi adalah memperoleh tambahan kedaulatan karena kejadian alam.
4. Cesi atau penyerahan merupakan cara memperoleh tambahan kedaulatan atas
wilayah melalui proses peralihan hak, dimana dapat terjadi secara sukarela atau
paksaan. Sebelum tahun 1997 Hongkong di bawah kedaulatan Inggris, karena disewa
Inggris, baru pada sekitar tahun 1997 dikembalikan ke RRC.
5. Preskrepsi/Kadaluarsa, yaitu lampaunya waktu negara memperoleh tambahan
wilayah. Jadi disini kadaluarsa bersifat ‘acquisitive’, bukan yang extinctive. Cara ini
menimbulkan perbedaan pendapat di antara para sarjana.
6. Plebisit, yaitu mendengar suara rakyat. Rakyat dalam suatu wilayah didengar
pendapatnya atau keinginannya, untuk kemudian dijadikan sebagai dasar untuk
memperoleh tambahan wilayah. Cara ini sebenarnya merupakan proses ke arah
memperoleh tambahan kedaulatan atas wilayah atas kehilangan wilayah. Contoh
keinginan rakyat Timor Timur dalam jejak pendapat tahun 2000.

Kedaulatan Negara atas Wilayah Daratan


Daratan merupakan wilayah kedaulatan negara
Pengertian daratan termasuk berupa daratan termasuk sungai, perairan daratan dan danau.
Penentuan batas wilayah antar negara dilakukan dengan penentuan perbatasan, dapat
ditentukan melalui garis imajiner atau melalui penentuan perbatasan secara alamiah, yang
berupa gunung, sungai atau hutan.

Apabila perbatasan itu berupa sungai dan sungai tersebut daoat dilayari maka batas
wilayah antar negara tersebut pada sepanjang garis tengah sungai yang paling dalam yang
dapat dilayari (Thalweg). Namun jika tidak dapat dilayari, maka penentuan batas wilayahnya
dapat menggunakan cara (a) garis tengah sungai (median line) atau (b) garis tengah sepanjang
cabang utama.

Apabila perbatasan itu berupa hutan, biasanya disediakan zona perbatasan, sebagai zona
bebas pabean ‘customs free zone’, bagi penduduk lokal di sekitarnya dispensasi untuk saling
berhubungan. Dan di zona bebas tersebut biasanya dibentuk Komisi “Bipartite Permanen”.

Kedaulatan Negara atas Wilayah Laut

wilayah lautan
Wilayah laut adalah bagian negara yang berupa perairan. Negara yang memiliki atau
berbatasan dengan laut disebut negara pantai atau ada sebutan negara kepulauan. Terhadap
bagian wilayah laut tertentu negara memiliki kedaulatan, dan terhadap bagian wilayah laut
tertentu negara mempunyai hak berdaulat. Ketentuan hukum internasional yang berlaku bagi
wilayah laut antara lain hukuk internasional kebiasaan, Konvensi Jenewa 1958, Konvensi
Hukum Laut 1982 (United Nations on The Law of the Sea 1982).
Bagian laut yang berada dalam kedaulatan negara adalah 1). Laut pedalaman (internal
waters), 2). Laut teritorial (territorial sea), dan 3). Bagi negara kepulauan yang memiliki
kedaulatan atas peraian kepulauan (archipelagic rights). Sedangkan bagian wilayah laut yang
negara hanya memiliki hak berdaulat berupa : 1). Zona tambahan (contiguous zone), 2). Zona
ekonomi ekslusif (exclusive economic zone) dan 3). Landas kontinen (continental shelf).

Deskripsi singkat mengenai laut.

Wilayah laut dapat dibedakan atas laut pedalaman, laut teritorial, jalur tambahan, zona
ekonomi eksklusif, landas kontinen, laut bebas, peraian kepulauan bagi negara kepulauan.

Peraian pedalaman

Adalah wilayah perairan yang berada disisi dalam garis pangkal, termasuk pelabuhan,
pangkalan laut, teluk. Negara mempunyai kedaulatan penuh. Negara dapat menolak
masuknya kapal, kecuali kapal tersebut dalam bahaya, berdasarkan pejanjian, dan karena
perubahan penarikan garis pangkal yang tadinya merupakan laut bebas berubah menjadi
perairan pedalaman.

Garis pangkal atau baselinnes adalah garis yang ditetapkan sebagai dasar pengukuran batas
terluar laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen. Garis
pangkal juga mempresentasikan batas peraian pedalaman yang berada di sisi dalam garis
pangkal ke arah daratan (landward).

Ada 3 macam garis pangkal, yaitu :

1. Normal baselines, atau garis pangkal biasa, yang ditetapkan berdasarkan air pasang
surut.
2. Straight baselines, atau garis pangkal lurus, yang ditetapkan dengan cara
menghubungkan antara titik-titik pada ujung pulau dengan suatu garis lurus.
3. Archipelagic baselines, atau garis pangkal kepulauan ditarik untuk menghubungkan
titik terluar dari pulau-pulau terluar dan karang kering terluar kepulauan, termasuk
pulau-pulau utama, dengan perbandingan antara daerah perairan dengan daerah
daratan antara 1:1 dan 9:1.
Garis Pangkal Biasa
sumber : google.com

Garis Pangkal Lurus


sumber : google.com

Garis Pangkal Kepulauan


sumber : google.com

Laut Teritorial

Laut teritorial adalah wilayah perairan yang berada di sisi luar garis pangkal yang
lebarnya tidak lebih dari mil laut diukur dari garis pantai. Negara pantai berhak menetapkan
batas luar laut teritorial, yaitu suatu garis yang jarak setiap titiknya dari titik yang terdekat
dengan garis pangkal, sama dengan lebar laut teritorial. Negara pantai mempunyai kedaulatan
atas laut teritorial. Kedaulatan negara pantai meliputi ruang udara di atasnya, kolom air dan
tanah di bawahnya dasar laut. Kedaulatan negara pantai dibatasi oleh adanya right of innocent
pasage (hak lintas damai) bagi kapal asing, yaitu suatu hak berlayar secara terus menerus
melalui laut teritorial dengan tujuan hanya lewat tanpa memasuki perairan pedalaman atau
singgah pada suatu pangkalan laut atau fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman; atau
meneruskan ke atau dari perairan pedalaman atau suatu persinggahan pada pangkalan laut.
Suatu lintas dianggap damai apabila dilakukan dengan tidak merugikan bagi perdamaian,
ketertiban atau keamanan negara pantai.

Adapun kewajiban dari negara pantai sehubungan dengan hak lintas damai tersebut antara
lain tidak boleh melarang adanya lintas damai, memberitahukan adanya bahay, tidak boleh
melakukan penundaan kecuali tempat tertentu demi alasan keamanan dan harus diumumkan.

Zona Tambahan (Contiguous Zone)

Adalah wilayah laut yang berbatasan dengan laut teritorial, yang lebarnya tidak boleh
lebih dari 24 mil diukur dari garis pangkal. Negara pantai mempunyai hak berdaulat atas
wilayah zona tambahan. Hak negara pantai melakukan pengawasan untuk kepentingannya,
mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, imigrasi, atau saniter di
dalam wilayah atau laut teritorial, menghukum pelaku pelanggaran peraturan perundang-
undangan negara pantai.

Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone)

Adalah wilayah laut yang berada di sisi luar dan bersambungan dengan laut teritorial yang
lebarnya tidak boleh lebih dari 200 mil diukur dari garis pangkal dari mana lebar laut diukur.
Di wilayah zona ekonomi eksklusif ini negara pantai hanya mempunyai hak berdaulat.
Negara pantai tidak berhak atas wilayah zona ekonomi eksklusif. Adapun hak negara pantai
antara lain :

1. Hak eksklusif untuk melakukan eksploitasi dan eksplorasi atas sumber kekayaan alam
yang ada di zona ekonomi eksklusif, serta kegiatan lain seperti produksi energi dari
air, udara dan angin;
2. Menjalankan yurisdiksi berkaitan dengan pembuatan dan pemakaian pulau buatan,
penelitian ilmiah, perlindungan dan pelestarian lingkungan laut;
3. Menetapkan terlebih dahulu kapasitas tangkapan sumber kekayaan hayati;
4. Melakukan hot pursuit.

Wilayah zona ekonomi eksklusif pada dasarnya merupakan bagian dari wilayah laut
bebas, sehingga negara lain juga mempunyai hak-hak tertentu di wilayah zona ekonomi
eksklusif suatu negara, sepanjang mendapat ijin dan tunduk pada pengaturan yang ditentukan
oleh negara pantai tersebut. Hak negara lain seperti :
1. Berhak turut serta melakukan eksploitasi atau eksplorasi atas sumber kekayaan alam
hayati;
2. Menikmati kebebasan sebagaimana di laut bebas;
3. Negara yang secara geografis tidak berpantai dan atau tidak beruntung, mempunyai
hak yang diutamakan atas kelebihan kemampuan negara pantai tersebut.

Landas Kontinen (Continental Shelf)

Adalah wilayah luas di lepas pantai yang merupakan kepanjangan alamiah daratan.
Menurut Konvensi Jenewa 1958, landas kontinen adalah dasar dan lapisan tanah bagian
bawah laut yang berbatasan dengan pantai di luar laut teritorial sampai kedalaman 200 meter
atau sampai kedalaman yang masih dapat diekploitasi atau dieksplorasi.

Sedangkan dalam KHL-82 dimasud dengan landas kontinen adalah dasar laut dan tanah
bawahnya dari permukaan laut yang berada di luar laut teritorial, sepanjang kelanjutan
alamiah hingga pinggiran luar tepi kontinen, atau hingga jarak 200 mil dari garis pangkal
darimana lebar laut teritorial diukur, atau bila kelanjutan alamiah hingga pinggiran luar tepi
kontinen tersebut lebih dari 200 mil negara dapat menetapkan sampai batas maksimal 350
mil.

Atas landas kontinen negara pantai tidak berhak atas wilayah landas kontinen, namun
mempunyai hak berdaulat. Hak berdaulat negara pantai tidak terpengaruh oleh keadaan
wilayah di atasnya. Negara pantai mempunyai hak eksklusif atas sumber kekayaan alam non
hayati di landas kontinen tanpa dipengaruhi hak negara lain. Kewajiban negara pantai bila
lebar landas kontinennya hingga 350 mil adalah membayar kontribusi pada badan otorita
internasional sebesar 1 % dari nilai 350 mil mulai tahun ke-6 setelah berproduksi dan naik
1% tiap tahun hingga tahun ke 13.

Wilayah Laut Lepas

Adalah wilayah laut yang tidak dikuasai oleh hukum suatu negara. Setiap negara punyai
hak dan kewajiban yang sama. Kebebasan di laut lepas dilaksanakan berdasarkan syarat-
syarat yang ditentukan dalam Konvensi Hukum Laut 1982 dan ketentuan lain hukum
internasional, serta memperhatikan sebagaimana mestinya kepentingan negara lain dalam
melaksanakan kebebasan di laut lepas. Kebebasan di laut lepas meliputi kegiatan-kegiatan :

1. Kebebasan berlayar,
2. Kebebasan penerbangan,
3. Kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, dengan tunduk pada Bab VI
(Landas Kontinen),
4. Kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang diperbolehkan
berdasarkan hukum internasional, tunduk pada Bab VI,
5. Kebebasan menangkap ikan, dengan tunduk pada bagian 2 (Konservasi dan
pengelolaan sumber kekayaan hayati di laut lepas),
6. Kebebasan melakukan riset ilmiah, dengan tunduk pada Bab VI dan XIII (Riset
Ilmiah Kelautan).
Gambar yang menunjukkan Laut Teritorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif, Landas Kontinen dan Laut Lepas

Wilayah Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters)

Adalah wilayah perairan yang ditutupi oleh garis pangkal kepulauan. Garis pangkal
kepulauan digunakan pula sebagai dasar penetapan zona teritorial, zona tambahan, zona
ekonomi eksklusif, dan landas kontinen bagi negara kepulauan.

Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan
dan mencakup pulau-pulau lain. Sedangkan yang dimaksud dengan Kepulauan adalah suatu
gagasan pulau, termasuk bagian pulau, perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang
hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya, sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud
alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi, ekonomi, dan politik, atau yang secara
historis dianggap demikian.

Untuk dapat memenuhi syarat penggunaan garis pangkal kepulauan sesuai dengan KHL
1982 ada empat persyaratan utama yang harus dipenuhi, sebagaimana diatur dalam Pasal 47
KHL 1982, yaitu :

1. Seluruh daratan utama dari negara yang bersangkutan harus menjadi bagian dari
sistem garis pangkal;
2. Perbandingan antara luas perairan dan daratan di dalam sistem garis pangkal harus
berkisar antara 1 : 1 dan 9 : 1.
3. Panjang satusegmen garis pangkal kepulauan tidak boleh melebihi 100 mil laut,
kecuali hingga 3 persen dari keseluruhan jumlah garis pangkal yang melingkupi suatu
negara kepulauan boleh melebihi 100 mil laut hingga panjang maksimum 125 mil
laut;
4. Arah garis pangkal kepulauan yang ditentukan tidak boleh menjauh dari konfigurasi
umum kepulauan.
Kedaulatan negara kepulauan meliputi wilayah perairan kepulauan, ruang udara di
atasnya, dasar laut di bawahnya, dan sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya. Sedikit
pembatasan atas kedaulatan negara kepulauan yaitu adanya hak lintas alur laut kepulauan
bagi kapal asing.

Lintas alur laut kepulauan adalah pelaksanaan hak pelayaran dan penerbangan yang sesuai
dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut (1982) secara normal dan semata-
mata untuk melakukan transit yang terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak
terhalang antara satu bagian laut lepas atau zona ekonomi eksklusif dan bagian laut lepas atau
zona ekonomi eksklusif lainnya.

Sehingga sebagai salah satu kewajiban yang tercantum dalam KHL 1982 yang harus
dilaksanakan oleh negara kepulauan adalah mementukan alur laut kepulauan, sebagaimana
ditentukan dalam pasal 53 KHL-1982, yaitu :

1. Bahwa negara kepulauan dapat menentukan alur laut dan rute penerbangan di atasnya
yang cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat udara asing;
2. Semua kapal dan pesawat udara menikmati hak lintas alur laut kepulauan dalam alur
laut dan rute penerbangan demikian;
3. Lintas air laut kepulauan berarti pelaksanaan hak pelayaran dan penerbangan sesuai
dengan ketentuan-ketentuan Konvensi ini;
4. Alur laut dan rute penerbangan yang demikian harus melintasi perairan kepulauan dan
laut teritorial serta meliputi rute lintas normal yang digunakan untuk penerbangan
melalui atau rangkaian garis sumbu;
5. Alur laut dan rute penerbangan demikian harus ditentukan dengan suatu rangkaian
garis sumbu;
6. Dalam hal negara kepulauan tidak menentukan alur laut atau rute penerbangan, maka
hak lintas alur laut kepulauan dapat dilaksanakan melalui rute yang biasanya
digunakan untuk pelayaran/penerbangan internasional.

Kedaulatan Negara atas Wilayah Ruang Udara dan Wilayah Ruang Angkasa