Anda di halaman 1dari 41

RESUSITASI CARDIO PULMONAL PADA PNEUMOTORAKS

DI RS KELAS B

Disusun Oleh:

KELOMPOK I
Andryo Tiranda, S.Kep
Aminah, S.Kep
Flaviana Nona Dian, S.Kep
Felisitas Leonora Ndori, S.Kep
Gita Yolanda Sari, S.Kep
Imam Ahmad Nasai, S.Kep
Ni Made Hatining Ayu, S,Kep
Bukhori Muslim, S.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS XII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MATARAM
2017
KATA PENGANTAR

Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan

hidayah, kesehatan dan kesempatan kepada kelompok satu sehingga

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “resusitasi cardio pulmonal

pada pneumothorax di RS kelas B”. Makalah ini disusun untuk memenuhi

sebagian syarat penugasan pelatihan BT-CLS progsus Ners yang

diselenggarakan oleh STIKES MATARAM yang bekerjasama dengan

MAHAPUTRA HOLDING CORPORAID.

Dalam penyusunan makalah ini, kelompok satu banyak

mendapatkan bimbingan MAHAPUTRA HOLDING CORPORAID. Oleh

karena itu kelompok satu menyampaikan terimakasih.

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH ................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 2
Pneumotoraks ............................................................................. 2
A. Definisi ................................................................................ 2
B. Klasifikasi ............................................................................ 2
C. Penghitungan Luas Pneumotoraks ..................................... 7
D. Gejala klinis ......................................................................... 9
E. Pemeriksaan fisik ................................................................ 10
F. Pemeriksaan Penunjang ..................................................... 10
G. Penatalaksanaan ................................................................ 14
H. Pengobatan Tambahan....................................................... 18
Resusitasi Kardio Pulmonal ......................................................... 19
A. Defenisi ............................................................................... 19
B. Indikasi dan Kontraindikasi RKP ......................................... 19
C. Teknik penatalaksanaan resusutasi kardiopulmonal ........... 20
D. Komplikasi ........................................................................... 21
E. bantuan hidup dasar (basic life support) ............................. 22
BAB III STUDI ANALISA DAN PEMBAHASAN.................................... 36
BAB IV KESIMPULAN ......................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
LATAR BELAKANG MASALAH

Paru-paru merupakan unsur elastis yang akan mengempis seperti


balon dan mengeluarkan semua udaranya melalui trakea bila tidak ada
kekuatan untuk mempertahankan pengembangannya. Paru-paru
sebenarnya mengapung dalam rongga toraks, dikelilingi oleh suatu
lapisan tipis cairan pleura yang menjadi pelumas bagi gerakan paru-paru
di dalam rongga. Jadi pada keadaan normal rongga pleura berisi sedikit
cairan dengan tekanan negatif yang ringan .
Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam
rongga pleura. Dengan adanya udara dalam rongga pleura tersebut, maka
akan menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru
tidak dapat mengembang dengan maksimal sebagaimana biasanya ketika
bernapas. Pneumotoraks dapat terjadi baik secara spontan maupun
traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan
sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik
dan non iatrogenik.
Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak
yang tidak diketahui. Namun dari sejumlah penelitian yang pernah
dilakukan menunjukkan bahwa pneumotoraks lebih sering terjadi pada
penderita dewasa yang berumur sekitar 40 tahun. Laki-laki lebih sering
daripada wanita, dengan perbandingan 5 : 1.
Sesuai perkembangan di bidang pulmonologi telah banyak
dikerjakan pendekatan baru berupa tindakan torakostomi disertai video
(VATS = video assisted thoracoscopy surgery), ternyata memberikan
banyak keuntungan pada pasien-pasien yang mengalami pneumotoraks
relaps dan dapat mengurangi lama rawat inap di rumah sakit .

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pneumotoraks
A. Definisi
Pneumotoraks adalah suatu keadaan terdapatnya udara atau
gas di dalam pleura yang menyebabkan kolapsnya paru yang terkena.

B. Klasifikasi
Menurut penyebabnya, pneumotoraks dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
1. Pneumotoraks spontan
Yaitu setiap pneumotoraks yang terjadi secara tiba-tiba.
Pneumotoraks tipe ini dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis,
yaitu :

2
a. Pneumotoraks spontan primer, yaitu pneumotoraks yang
terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya.
b. Pneumotoraks spontan sekunder, yaitu pneumotoraks yang
terjadi dengan didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah
dimiliki sebelumnya, misalnya fibrosis kistik, penyakit paru
obstruktik kronis (PPOK), kanker paru-paru, asma, dan infeksi
paru.
2. Pneumotoraks traumatik,
Yaitu pneumotoraks yang terjadi akibat adanya suatu trauma,
baik trauma penetrasi maupun bukan, yang menyebabkan
robeknya pleura, dinding dada maupun paru.
Pneumotoraks tipe ini juga dapat diklasifikasikan lagi ke dalam
dua jenis, yaitu :
a. Pneumotoraks traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumotoraks
yang terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada
dinding dada, barotrauma.
b. Pneumotoraks traumatik iatrogenik, yaitu pneumotoraks yang
terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotoraks
jenis inipun masih dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental
Adalah suatu pneumotoraks yang terjadi akibat
tindakan medis karena kesalahan atau komplikasi dari
tindakan tersebut, misalnya pada parasentesis dada,
biopsi pleura.
2) Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate)
Adalah suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan
dengan cara mengisikan udara ke dalam rongga pleura.
Biasanya tindakan ini dilakukan untuk tujuan
pengobatan, misalnya pada pengobatan tuberkulosis

3
sebelum era antibiotik, maupun untuk menilai
permukaan paru.
Dan berdasarkan jenis fistulanya, maka pneumotoraks dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu (4) :

1. Pneumotoraks Tertutup (Simple Pneumothorax)


Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas
terbuka pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan
dunia luar. Tekanan di dalam rongga pleura awalnya mungkin
positif, namun lambat laun berubah menjadi negatif karena diserap
oleh jaringan paru disekitarnya. Pada kondisi tersebut paru belum
mengalami re-ekspansi, sehingga masih ada rongga pleura,
meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif. Pada waktu
terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap
negatif.

2. Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax),


Yaitu pneumotoraks dimana terdapat hubungan antara
rongga pleura dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia
luar (terdapat luka terbuka pada dada). Dalam keadaan ini tekanan
intrapleura sama dengan tekanan udara luar. Pada pneumotoraks
terbuka tekanan intrapleura sekitar nol. Perubahan tekanan ini
sesuai dengan perubahan tekanan yang disebabkan oleh gerakan
pernapasan.
Pada saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada waktu
ekspirasi tekanan menjadi positif. Selain itu, pada saat inspirasi
mediastinum dalam keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi
mediastinum bergeser ke arah sisi dinding dada yang terluka
(sucking wound).

4
3. Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax)
Adalah pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang
positif dan makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di
pleura viseralis yang bersifat ventil. Pada waktu inspirasi udara
masuk melalui trakea, bronkus serta percabangannya dan
selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel yang terbuka. Waktu
ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat keluar.
Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama makin
tinggi dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul
dalam rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering
menimbulkan gagal napas.

Sedangkan menurut luasnya paru yang mengalami kolaps, maka


pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Pneumotoraks parsialis, yaitu pneumotoraks yang menekan pada
sebagian kecil paru (< 50% volume paru).

5
2. Pneumotoraks totalis, yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian
besar paru (> 50% volume paru).

C. Penghitungan Luas Pneumotoraks


Penghitungan luas pneumotoraks ini berguna terutama dalam
penentuan jenis kolaps, apakah bersifat parsialis ataukah totalis. Ada
beberapa cara yang bisa dipakai dalam menentukan luasnya kolaps
paru, antara lain :
1. Rasio antara volume paru yang tersisa dengan volume
hemitoraks, dimana masing-masing volume paru dan hemitoraks
diukur sebagai volume kubus .
Misalnya : diameter kubus rata-rata hemitoraks adalah 10cm
dan diameter kubus rata-rata paru-paru yang kolaps
adalah 8cm, maka rasio diameter kubus adalah :
83 512
______ = ________ = ± 50 %
103 1000

6
2. Menjumlahkan jarak terjauh antara celah pleura pada garis
vertikal, ditambah dengan jarak terjauh antara celah pleura pada
garis horizontal, ditambah dengan jarak terdekat antara celah
pleura pada garis horizontal, kemudian dibagi tiga, dan dikalikan
sepuluh .

% luas pneumotoraks

A + B + C (cm)
= __________________ x 10
3

3. Rasio antara selisih luas hemitoraks dan luas paru yang kolaps
dengan luas hemitoraks (4).

(L) hemitorak – (L) kolaps paru

(AxB) - (axb)
_______________ x 100 %
AxB

7
D. Gejala klinis
Berdasarkan anamnesis, gejala dan keluhan yang sering
muncul adalah :
1. Sesak napas, didapatkan pada hampir 80-100% pasien. Seringkali
sesak dirasakan mendadak dan makin lama makin berat. Penderita
bernapas tersengal, pendek-pendek, dengan mulut terbuka.
2. Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien. Nyeri dirasakan
tajam pada sisi yang sakit, terasa berat, tertekan dan terasa lebih
nyeri pada gerak pernapasan.
3. Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien.
4. Denyut jantung meningkat.
5. Kulit mungkin tampak sianosis karena kadar oksigen darah yang
kurang.
6. Tidak menunjukkan gejala (silent) yang terdapat pada 5-10%
pasien, biasanya pada jenis pneumotoraks spontan primer.

Berat ringannya keadaan penderita tergantung pada tipe


pneumotoraks tersebut,:
1. Pneumotoraks tertutup atau terbuka, sering tidak berat
2. Pneumotoraks ventil dengan tekanan positif tinggi, sering dirasakan
lebih berat
3. Berat ringannya pneumotoraks tergantung juga pada keadaan paru
yang lain serta ada tidaknya jalan napas.
4. Nadi cepat dan pengisian masih cukup baik bila sesak masih
ringan, tetapi bila penderita mengalami sesak napas berat, nadi
menjadi cepat dan kecil disebabkan pengisian yang kurang.

8
E. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik torak didapatkan :
1. Inspeksi :
a. Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiper
ekspansi dinding dada)
b. Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal
c. Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat
2. Palpasi :
a. Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau
melebar
b. Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat
c. Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit
3. Perkusi :
a. Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan
tidak menggetar
b. Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat, apabila
tekanan intrapleura tinggi
4. Auskultasi :
a. Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai
menghilang
b. Suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni
negatif

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Röntgen
Gambaran radiologis yang tampak pada foto röntgen kasus
pneumotoraks antara lain:
a. Bagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang
kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru.

9
Kadang-kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis,
akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.
b. Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa
radio opaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini
menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru
tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang
dikeluhkan.
c. Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat,
spatium intercostals melebar, diafragma mendatar dan
tertekan ke bawah. Apabila ada pendorongan jantung atau
trakea ke arah paru yang sehat, kemungkinan besar telah
terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intra pleura yang
tinggi.
d. Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi
keadaan sebagai berikut:
1) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam
pada tepi jantung, mulai dari basis sampai ke apeks. Hal
ini terjadi apabila pecahnya fistel mengarah mendekati
hilus, sehingga udara yang dihasilkan akan terjebak di
mediastinum.
2) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga
hitam dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan
kelanjutan dari pneumomediastinum. Udara yang tadinya
terjebak di mediastinum lambat laun akan bergerak
menuju daerah yang lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di
sekitar leher terdapat banyak jaringan ikat yang mudah
ditembus oleh udara, sehingga bila jumlah udara yang
terjebak cukup banyak maka dapat mendesak jaringan
ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada depan dan
belakang.

10
3) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka
akan tampak permukaan cairan sebagai garis datar di
atas diafragma

Foto Rö pneumotoraks (PA), bagian yang ditunjukkan


dengan anak panah merupakan bagian paru yang kolaps.

11
2. Analisa Gas Darah
Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran
hipoksemi meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak
diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang berat secara
signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.

3. CT-scan thorax
CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara
emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara
dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan
antara pneumotoraks spontan primer dan sekunder.

12
G. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan pneumotoraks adalah untuk
mengeluarkan udara dari rongga pleura dan menurunkan
kecenderungan untuk kambuh lagi. Pada prinsipnya, penatalaksanaan
pneumotoraks adalah sebagai berikut :
1. Observasi dan Pemberian O2
Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan rongga pleura
telah menutup, maka udara yang berada didalam rongga pleura
tersebut akan diresorbsi. Laju resorbsi tersebut akan meningkat
apabila diberikan tambahan O2. Observasi dilakukan dalam
beberapa hari dengan foto toraks serial tiap 12-24 jam pertama
selama 2 hari . Tindakan ini terutama ditujukan untuk
pneumotoraks tertutup dan terbuka .
2. Tindakan dekompresi
Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus
pneumotoraks yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini
bertujuan untuk mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat
hubungan antara rongga pleura dengan udara luar dengan cara :
a. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga
pleura, dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga
pleura akan berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar
melalui jarum tersebut .
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
1) Dapat memakai infus set
Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke dalam
rongga pleura, kemudian infus set yang telah dipotong
pada pangkal saringan tetesan dimasukkan ke botol yang
berisi air. Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak
gelembung udara yang keluar dari ujung infus set yang
berada di dalam botol.

13
2) Jarum abbocath
Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari gabungan
jarum dan kanula. Setelah jarum ditusukkan pada posisi
yang tetap di dinding toraks sampai menembus ke rongga
pleura, jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal. Kanula ini
kemudian dihubungkan dengan pipa plastik infus set. Pipa
infuse ini selanjutnya dimasukkan ke botol yang berisi air.
Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung
udara yang keluar dari ujung infuse set yang berada di
dalam botol (4).
3) Pipa water sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (toraks kateter) steril, dimasukkan ke
rongga pleura dengan perantaraan troakar atau dengan
bantuan klem penjepit. Pemasukan troakar dapat
dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan bantuan
insisi kulit di sela iga ke-4 pada linea mid aksilaris atau
pada linea aksilaris posterior. Selain itu dapat pula melalui
sela iga ke-2 di garis mid klavikula.
Setelah troakar masuk, maka toraks kateter segera
dimasukkan ke rongga pleura dan kemudian troakar
dicabut, sehingga hanya kateter toraks yang masih
tertinggal di rongga pleura. Selanjutnya ujung kateter
toraks yang ada di dada dan pipa kaca WSD dihubungkan
melalui pipa plastik lainnya. Posisi ujung pipa kaca yang
berada di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah
permukaan air supaya gelembung udara dapat dengan
mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut .
Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila
tekanan intrapleura tetap positif. Penghisapan ini dilakukan
dengan memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O,

14
dengan tujuan agar paru cepat mengembang. Apabila paru
telah mengembang maksimal dan tekanan intra pleura
sudah negatif kembali, maka sebelum dicabut dapat
dilakukuan uji coba terlebih dahulu dengan cara pipa dijepit
atau ditekuk selama 24 jam. Apabila tekanan dalam
rongga pleura kembali menjadi positif maka pipa belum
bisa dicabut. Pencabutan WSD dilakukan pada saat pasien
dalam keadaan ekspirasi maksimal.

15
16
3. Torakoskopi
Yaitu suatu tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga
toraks dengan alat bantu torakoskop.
4. Torakotomi
5. Tindakan bedah
a. Dengan pembukaan dinding toraks melalui operasi, kemudian
dicari lubang yang menyebabkan pneumotoraks kemudian
dijahit
b. Pada pembedahan, apabila ditemukan penebalan pleura yang
menyebabkan paru tidak bias mengembang, maka dapat
dilakukan dekortikasi.
c. Dilakukan resesksi bila terdapat bagian paru yang mengalami
robekan atau terdapat fistel dari paru yang rusak
d. Pleurodesis. Masing-masing lapisan pleura yang tebal dibuang,
kemudian kedua pleura dilekatkan satu sama lain di tempat
fistel.

H. Pengobatan Tambahan
1. Apabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan
ditujukan terhadap penyebabnya. Misalnya : terhadap proses TB
paru diberi OAT, terhadap bronkhitis dengan obstruksi saluran
napas diberi antibiotik dan bronkodilator .
2. Istirahat total untuk menghindari kerja paru yang berat .
3. Pemberian antibiotik profilaksis setelah setelah tindakan bedah
dapat dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi komplikasi,
seperti emfisema .

17
Resusitasi Kardio Pulmonal
A. Defenisi
Resusitasi kardiopulmonal adalah suatu tindakan darurat
sebagai usaha untuk mengembalikan keadaan henti napas dan atau
henti jantung (kematian klinis) ke fungsi optimal, guna mencegah
kematian biologis. Kematian klinis ditandai dengan terhentinya denyut
jantung dan napas. Sedangkan pada kematian biologis terjadi
kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki lagi yang terjadi kurang
lebih 4 menit setelah kematian klinis.
Henti jantung adalah suatu keadaan penghentian mendadak
fungsi pompa jantung, yang ditandai dengan menghilangnya tekanan
darah arteri. Sedangkan henti napas adalah keadaan tidak terjadinya
inhalasi dan ekshalasi pernapasan.
Infant adalah manusia yang berusia dibawah 1 tahun.
Sedangkan anak adalah manusia yang berusia lebih dari 1 tahun
sampai mencapai masa pubersitas. Namun berdasarkan International
Consensus Conference on Cardiovascular Care Sciece with Treament
Recommendations tahun 2005, kategori anak lebih diutamakan untuk
usia 1-8 tahun. Dewasa didefenisikan sebagai manusia yang telah
melewati fase pubertas. Dalam penatalaksanaan resusitasi
kardiopulmonal, dewasa merupakan manusia yang berusia lebih dari 8
tahun.

B. Indikasi dan Kontraindikasi RKP


Indikasi RKP adalah semua pasien henti napas dan henti jantung
yang tidak diharapkan kematiannya. Dalam artian pasien yang
sebelumnya dalam keadaan sehat. Contoh pasien yang diindikasikan
dilakukan RKP adalah korban tersengat listrik, tenggelam, keracunan,
kecelakaan, percobaan bunuh diri, shock anafilaktik, dan operasi.

18
Kontraindikasi RKP adalah pasien berada pada stadium terminal
suatu penyakit. Contohnya adalah pasien dengan penyakit DM yang
telah berkomplikasi dan keganasan.

C. Teknik Penatalaksanaan Resusitasi Kardiopulmonal


Keadaan henti napas dan henti jantung dapat terjadi baik
tersendiri maupun bersamaan. Pasien yang membutuhkan RKP dapat
ditemukan dalam dua keadaan; henti napas namun denyut nadi masih
ada, serta dalam keadaan henti napas dan henti jantung. Hal ini perlu
dipertimbangkan dalam penentuan apakah breathing support atau
circulation support yang akan didahulukan.
Prinsip penatalaksanaan resusitasi kardiopulmonal adalah
melakukan semua upaya untuk mempertahankan aliran darah
mencapai organ vital hingga tercapainya sirkulasi spontan.

19
1. Baringkan pasien ke tempat yang datar.
2. Letakkan telapak tangan yang telah saling berkaitan di dada bagian
bawah tulang dada, dua jari di atas processus xyphoideus.(Lihat
gambar 1).
3. Lakukan kompresi dada dengan frekuensi yang mencukupi (min.
100x per minit).
4. Jika pasien dewasa, lakukan kompresi dada dengan kedalaman 2a
inchi (minimal 5 cm).
5. Jika kompresi dilakukan oleh orang awan, kompresi di lakukan 100
x per menit tanpa interupsi.
6. Jika kompresi dilakukan

D. Komplikasi.
Lima komplikasi yang mungkin terjadi saat melakukan RJP,
antara lain :
1. Fraktur costa-sternum (patah tulang iga & tulang dada).
2. Laserasi (lecet) hati & limpa.
3. Pneumotoraks (penimbunan udara di dalam rongga dada
disekeliling paru-paru dapat menyebabkan paru-paru kolaps.
4. Hematotoraks (terkumpulnya dadah dengan cepat lebih dari 150 cc
di dalam rongga pleura).
Kapan dihentikan resusitasi jantung pulmonal
 Pasien meninggal.
 Penolong kelelahan (sudah melakukan bantuan hidup dasar
secara maksimal).
 Bantuan datang.
 Keluarga pasien meminta RJP untuk di hentikan.
Ketika menemukan pasien yang tidak sadarkan diri dan dicurigai
mengalami napas dan henti jantung, maka yang pertama dilakukan
adalah memanggil pertolongan jika penolong sendirian. Setelah itu

20
periksa kesadaran pasien dengan cara memanggil maupun
memberikan rangsangan nyeri. Jika pasien tidak merespon
rangsangan yang diberikan, periksa keadaan napas dan sirkulasi
pasien.
RKP pada dasarnya terbagi dalam tiga tahap dan pada setiap tahapan
dilakukan tindakan-tindakan pokok, yaitu:
1. Bantuan hidup dasar (basic life support)
a. Airway control dan cervical spine control
b. Breathing support
c. Circulation support
2. Pertolongan lanjut (advanced life support)
a. Drugs
b. EKG
c. Fibrilation treatment
3. Pertolongan jangka panjang (prolonged life support)
a. Gauging
b. Hypothermia control
c. Intesive care

E. Bantuan Hidup Dasar (Basic life support)


Bantuan hidup dasar merupakan tindakan darurat untuk
mempertahankan perfusi dan oksigenasi ke organ vital hingga
tercapainya sirkulasi spontan.
a. Airway Control dan Cervical spine control
Pada tahap ini dilakukan pembebasan jalan napas dan menjaga
agar jalan napas tetap terbuka dan bersih. Lakukan penilaian
apakah jalan napas pasien terbuka atau mengalami obstruksi.
Kegagalan pasien untuk merespon rangsangan yang diberikan
memberi kesan suatu gangguan tingkat kesadaran atau jalan
napas/ventilasi yang mengalami gangguan sehingga otak

21
mengalami hipoksia. Pada pasien trauma terutama yang dicurigai
mengalami fraktur cervical, penting untuk menjaga vertebre
cevical tetap terfiksasi.
Tanda-tanda obstruksi jalan napas dapat dikenali dengan cara:
- Lihat apakah terdapat gerakan dada pasien
- Dengar apakah ada suara napas pada saat ekshalasi.
- Rasa apakah terasa udara dari hidung atau mulut(6).

Pemeriksaan ini harus dilakukan minimal dalam waktu 5 detik dan


maksimal dalam waktu 10 detik.
Pembebasan jalan napas dapat dilakukan dengan cara:
a. Head tilt : leher diekstensikan sejauh mungkin dengan
menggunakan satu tangan(6).
b. Chin lift : jemari satu tangan diletakan dibawah rahang,
kemudian secara hati-hati diangkat keatas untuk membawa
dagu ke arah depan. Ibu jari yang sama menekan bibir bawah
untuk membuka mulut. Ibu jari dapat juga diletakan dibelakang
gigi seri bawah dan secara bersamaan dagu diangkat. Pada
saat melakukan manuver chin lift tidak boleh menyebabkan
hiperekstensi leher.

Gambar 1.
a. Obstruksi jalan napas disebabkan karena jatuhnya lidah dan
epiglotis
b. Manuver Head tilt-chin lift(7).

22
(1) Jaw trust : manuver mendorong rahang dilakukan dengan cara
memegang angulus mandibulae kiri dan kanan dan mendorong
rahang bawah ke depan.

Gambar 2. Teknik Jaw trust(2).

(2) Pemasangan oropharyngeal airway (OPA). OPA digunakan pada


pasien yang mengalami obstruksi jalan napas karena lidah yang
jatuh ke orofaring. OPA hanya digunakan pada pasien yang tidak
sadar. Cara pemasangan OPA:
- bersihkan mulut dan faring dari sekret, darah, atau muntahan
- pilih ukuran OPA yang tepat dengan cara meletakan OPA disisi
wajah pasien. Ukuran yang tepat didapatkan jika ujung OPA
berada di sudut mandibula
- masukan OPA dengan cara terbalik dimana sisi yang cekung
menghadap ke arah kranial, kemudian putar 180°.

23
Gambar 3.Teknik pemasangan OPA(8).

(3) Pemasangan nasopharyngeal airway (NPA). NPA adalah pipa


plastik lunak yang tidak memiliki cuff. NPA digunakan untuk
mempertahankan jalan napas yang telah dibuka dengan teknik-
teknik sebelumnya. Keuntungan pemasangan NPA adalah NPA
lebih kecilnya resiko terjadinya muntah pada pasien. Cara
pemasangan NPA:
- pilih ukuran NPA dengan cara membandingkan diameter
lubang hidung dengan diameter NPA. Selain itu juga diukur
panjang NPA, yaitu dengan cara meletakan NPA disisi wajah
pasien. Panjang NPA yang cocok dengan pasien adalah NPA
yang panjangnya sama dengan jarak dari puncak dorsum nasi
sampai lubang telinga.
- beri pelumas pada NPA
- masukan NPA dengan ujung yang runcing berada di bawah.
Masukan NPA menyusuri dasar nasofaring. Jika menemukan
tahanan selama pemasangan, putar NPA supaya dapat
mempermudah melalui rongga hidung dan nasofaring.

24
Gambar 4. Teknik pemasangan NPA

(4) Advanced airway intervention dilakukan jika terdapat:


- ketidakmampuan mempertahankan jalan napas dengan teknik
sebelumnya
- kebutuhan melindungi jalan napas bagian bawah dari aspirasi
darah atau vomitus.
- Cedera inhalasi
Advanced airway intervention meliputi pemasangan combitube dan
LMA (laryngeal mask airway).
(5) Cricothyroidotomy adalah suatu prosedur emergensi dimana
dilakukan pembuatan saluran pada ligamen krikotiroideum
sehingga udara bisa masuk kedalam paru-paru. Krikotiroidotomi
dilakukan jika terdapat obstruksi jalan napas dan tidak dapat
dibebaskan dengan cara mengorek maupun suction. Ligamen
krikotiroideum berada diantara kartilago tiroid dan kartilago krikoid.
Krikotiroidotomi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

25
a. Needle cricothyroidotomy
Pada needle crycothyroidotomy digunakan syringe dengan
needle untuk membuat saluran pada ligamen krikotiroideum.
Setelah needle mencapai trakea, sambungkan needle dengan
sebuah kateter dan fiksasi ke luka
b. Surgical cricothyroidotomy
Pada surgical cricothyroidotomy, pembuatan saluran pada
ligamen krikotirodeum dilakukan dengan menggunakan pisau
bedah. Setelah saluran dibuat, dipasang kateter untuk
memfiksasi lubang tersebut(2).

Gambar 5. Posisi ligamen krikotiroideum.

Pada kasus trauma dimana pasien dicurigai mengalami


fraktur servikal, leher pasien harus dijaga agar tetap terfiksasi
selama melakukan pembebasan jalan napas. Kecurigaan akan
fraktur servikal dapat dilihat dengan adanya jejas disekitar leher.
Jika penolong tidak yakin apakah pasien mengalami fraktur
servikal, maka lakukan tindakan sebagaimana pasien mengalami
fraktur servikal sampai dibuktikan sebaliknya. Fiksasi leher dapat
dilakukan dengan memakaikan cervical collar, bantal pasir, maupun
sepatu yang dipasang pada kedua sisi kepala pasien.

26
Gambar 6. Servikal collar.

b. Breathing support
Breathing support merupakan usaha ventilasi buatan dan
oksigenasi dengan inflasi udara tekanan postif . Breathing support
dapat dilakukan dengan cara mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau
dengan menggunakan alat seperti bag valve mask.
1) Pada pasien dewasa dilakukan breathing support inisial
sebanyak 2 kali. Setiap breathing support dilakukan minimal
selama 1 detik. Lihat apakah pasien merespon dengan dapat
bernapas spontan. Terlihatnya gerakan dada menunjukan jalan
napas paten. Jika pasien tidak merespon, maka periksa
sirkulasi dengan meraba denyut arteri karotis atau arteri
femoralis. Lakukan pemeriksaan dalam waktu 5 sampai 10
detik. Jika sirkulasi ada, maka terus lakukan pemberian
bantuan pernapasan sampai pernapasannya kembali normal.
Setelah itu posisikan pasien dalam posisi mantap. Namun jika
sirkulasi tidak teraba, maka lakukan circulation support.

27
Posisi mantap merupakan posisi yang dapat membuat pasien
senyaman mungkin. Cara memposisikan pasien ke posisi
mantap:
- Pasien dalam keadaan tertelentang. Penolong berada disisi
pasien. Posisikan tangan pasien yang terdekat dengan
penolong menjauhi pasien.
- Letakan tangan pasien yang lain ke leher kontralateral dan
fleksikan kaki pada sisi tubuh yang sama
- Satu tangan penolong menahan leher pasien sedangkan
tangan yang lainnya menarik kaki yang fleksi.
- Tarik badan pasien yang ke arah penolong.

28
3

Gambar 7. Posisi Mantap(2)

 Pada anak lakukan breathing support initial sebanyak 5 kali.


Breathing support dilakukan selama 1-1,5 detik. Nilai apakah
terdapat respon berupa kembalinya pernapasan spontan
pasien. Circulation support dilakukan jika;
- tidak teraba denyut nadi
- denyut nadi lemah dan kurang dari 60 kali permenit.
 Pada infant, penatalaksanaan breathing support sama dengan
anak

29
c. Circulation support
Circulation support merupakan tindakan resusitasi jantung dalam
usaha mempertahankan sirkulasi darah dengan cara memijat
jantung. Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara pijat jantung luar
(PJL) dan pijat jantung dalam.
Teknik melakukan pijat jantung luar:
(1) pada pasien dewasa
- Penolong berada disisi pasien. Cari prosesus xifoideus,
kemudian letakan satu tangan diatas sternum sejauh 2 jari
arah kranial dari prosesus xifoideus.
- Letakan tangan yang lain diatas tangan tersebut, kemudian
beri tekanan dengan kekuatan badan.
- Beri tekanan kebawah sedalam 4-5 cm.
- Pijat jantung luar dikombinasikan dengan breathing support
dengan perbandingan 30:2.
- Pijat jantung luar dilakukan dengan perkiraan 100 kali
permenit.

30
Gambar 8.Teknik pijat jantung luar pada dewasa.

(2) Pada pasien anak, teknik pijat jantung luar sama dengan pada
dewasa. Kombinasi antara PJL dengan breathing support
adalah 15:2. Namun jika hanya ada satu penolong dan
dikhawatirkan penolong tidak adekuat dalam memberikan
pertolongan, maka dapat dilakukan kombinasi 30:2.
Terdapatnya perbedaan kombinasi PJL dengan breathing
support antara dewasa dan anak karena tubuh pasien dewasa
lebih besar dibandingkan tubuh anak, sehingga dibutuhkan
aliran darah yang lebih banyak untuk mencapai organ vital
dibandingkan pada anak. Dengan dilakukannya PJL yang lebih
banyak maka diharapkan aliran darah meningkat menuju organ
vital.
(3) Pada pasien infant, pijat jantung luar dilakukan dengan
menggunakan dua jari. Letakan kedua jari diatas sepertiga
distal sternum. Beri tekanan sedalam kira-kira sepertiga
diameter anteroposterior rongga thorax pasien. Kombinasikan
PJL dengan breathing support sebanyak 15:2.

31
Gambar 9. Teknik pijat jantung luar pada infant

Pada pasien yang diyakini berada pada tahap awal henti napas
dan hentijantung, dapat dilakukan resusitasi dengan cara hanya
melakukan pijat jantung luar saja. Hal ini disebabkan pada fase ini
kadar oksigen didalam darah masih cukup tinggi. Namun kombinasi
PJL dengan breathing support lebih baik daripada hanya dengan
melakukan PJL saja.
Resusitasi kardiopulmonal dilakukan sampai:
- pertolongan medis tingkat lanjut datang
- pasien dapat bernapas spontan
- penolong kelelahan sehingga tidak mampu melakukan resusitasi
lagi.
- Pasien tidak menunjukan respon setelah dilakukan resusitasi
selama 30 menit

32
Algoritma Resusitasi Kardiopulmonal

Menemukan pasien

Panggil pertolongan

Periksa Kesadaran Pasien

( suara & nyeri)

Tidak ada respon Ada respon

Periksa pernapasan Kontrol pasien

(lihat, dengar, rasakan)


Buka jalan napas

lakukan
Breathing support
2x pada dewasa
5x pada anak&bayi

Periksa sirkulasi

Tidak ada sirkulasi Ada sirkulasi

Lakukan PJL kombinasi dengan Posisi mantap


breathing support
Dewasa 30:2
Anak 15:2
Bayi 15:2

Beri epinefrin 0.2-0,3 mg.


Ulangi tiap 3-5 menit Asistol
Atau
Atropine 3 mg Periksa EKG
Ulangi tiap 3-5 menit
Fibrilasi DC Shock

33
BAB III
STUDI ANALISA DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan tinjauan pustaka diketahui bahwa pneumotorakx


adalah suatu keadaan terdapatnya udara atau gas di dalam pleura
yang menyebabkan kolapsnya paru karena faktor primer ataupun
sekunder. Sedangkan Resusitasi kardiopulmonal adalah suatu
tindakan darurat sebagai usaha untuk mengembalikan keadaan henti
napas dan atau henti jantung (kematian klinis) ke fungsi optimal, guna
mencegah kematian biologis. Tindakan resusitasi kardiopulmonal
dapat dilakukan pada kasus pneumotoraks yaitu pada kasus
pneumotoraks terbuka.
Pneumothorax terbuka ( Sucking chest wound ) Defek atau luka
yang besar pada dinding dada yang terbuka menyebabkan
pneumotoraks terbuka. Tekanan di dalam rongga pleura akan segera
menjadi sama dengan tekanan atmosfir. Jika defek pada dinding dada
mendekati 2/3 dari diameter trakea maka udara akan cenderung
mengalir melalui defek karena mempunyai tahanan yang kurang atau
lebih kecil dibandingkan dengan trakea. Akibatnya ventilasi terganggu
sehingga menyebabkan hipoksia dan hiperkapnia. Langkah awal
adalah menutup luka dengan kasa stril yang diplester hanya pada 3
sisinya saja. Dengan penutupan seperti ini diharapkan akan terjadi
efek flutter Type Valve dimana saat inspirasi kasa penutup akan
menutup luka, mencegah kebocoran udara dari dalam. Saat ekspirasi
kasa penutup terbuka untuk menyingkirkan udara keluar. Setelah itu
maka sesegera mungkin dipasang selang dada yang harus berjauhan
dari luka primer. Menutup seluruh sisi luka akan menyebabkan
terkumpulnya udara di dalam rongga pleura yang akan menyebabkan
tension pneumothorax kecuali jika selang dada sudah terpasang.

34
Tension pneumorothorax berkembang ketika terjadi kebocoran
udara yang berasal dari paru-paru atau melalui dinding dada masuk
ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi. Akibat udara yang
masuk ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar lagi, maka
tekanan di intrapleural akan meninggi, paru-paru menjadi kolaps,
mediastinum terdorong ke sisi berlawanan dan menghambat
pengembalian darah vena ke jantung, serta akan menekan paru
kontralateral. Maka pada kondisi tersebut dapat dilakukan resusitasi
kardiopulmonal. Harapannya dengan dilakukan resusitasi
kardiopulmonal maka ekspansi pada salah paru yang sehat tetap
maksimal sehingga kebutuhan oksigen di paru dan seluruh tubuh
tetap tercukupi.

35
BAB IV
KESIMPULAN

Pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana rongga pleura


terisi oleh udara, sehingga menyebabkan pendesakan terhadap jaringan
paru yang menimbulkan gangguan dalam pengembangannya terhadap
rongga dada saat proses respirasi. Oleh karena itu, pada pasien sering
mengeluhkan adanya sesak napas dan nyeri dada.
Close pneumothorax dapat terjadi secara spontan primer (psp) tanpa
ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya, umumnya pada
individu sehat dewasa muda, tidak adekuat denga aktifitas fisik yang
berat, tetapi justru pada saat istirahat, pneumothorak ini juga disebabkan
oleh kantong kecil berisi udara didalam paru- paru yang disebut bleb
(bull). Sedangkan pneumothorak sekunder adalah suatu pneumothorax
yang terjadi karna komplikasi dari penyakit paru-paru, misalnya penyakit
paru obstruktif yang menahun, ashma, fibrosis kistik, tuberkulosis, batuk
rejan, ppok, dan sebagainya.
Open Pneumothorax dapat terjadi karna trauma tajam sehingga ada
hubungan udara luar dengan rongga pleura, sehingga paru menjadi
kuncup, sering kali hal ini terlihat sebagai luka pada dinding dada yang
mengisap pada setiap inspirasi (sucking chest wound). Apabila lubang ini
lebih besar dari pada dua pertiga diameter ttachea maka pada inspirasi,
udara lebih mudah melewati lubangb pada dinding dada dibandingkan
melewati mulut, sehingga menjadi sesak yang hebat. Dengan demikian
maka pada open pneumothorak usaha pertama adalah menutup lubang
pada dinding dada sehingga open pneumothorak menjadi close
pneumothorax atau tertutup.
Berdasarkan penyebabnya, pneumotoraks dapat terjadi baik secara
spontan maupun traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat
bersifat primer dan sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat

36
bersifat iatrogenik dan non iatrogenik. Dan menurut fistel yang terbentuk,
maka pneumotoraks dapat bersifat terbuka, tertutup dan ventil (tension).
Dalam menentukan diagnosa pneumotoraks seringkali didasarkan
pada hasil foto röntgen berupa gambaran translusen tanpa adanya
corakan bronkovaskuler pada lapang paru yang terkena, disertai adanya
garis putih yang merupakan batas paru (colaps line). Dari hasil röntgen
juga dapat diketahui seberapa berat proses yang terjadi melalui luas area
paru yang terkena pendesakan serta kondisi jantung dan trakea.
Pada prinsipnya, penanganan pneumotoraks berupa observasi
dan pemberian O2 yang dilanjutkan dengan dekompresi. Untuk
pneumotoraks yang berat dapat dilakukan tindakan pembedahan.
Sedangkan untuk proses medikasi disesuaikan dengan penyakit yang
mendasarinya. Tahap rehabilitasi juga perlu diperhatikan agar
pneumotoraks tidak terjadi lagi
Resusitasi kardiopulmonal merupakan suatu tindakan yang dapat
menolong pasien yang mengalami atau akan mengalami kematian klinis
sehingga mencegah terjadinya kematian biologis. RKP bermanfaat hanya
jika dilakukan dengan cara yang benar, adekuat, dan sistematis. Selain itu
juga harus dilakukan sesegera mungkin begitu penolong menemukan
pasien. Oleh karena itu, setiap tenaga medis seharusnya menguasai
teknik ini, sehingga kematian yang tidak harapkan sebelumnya dapat
dihindari.
Oleh karena itu Maka pada kondisi tersebut dapat dilakukan resusitasi
kardiopulmonal. Harapannya dengan dilakukan resusitasi kardiopulmonal
maka ekspansi pada salah paru yang sehat tetap maksimal sehingga
kebutuhan oksigen di paru dan seluruh tubuh tetap tercukupi.

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Gray, Huon H, dkk.2011.Lecture Notes On Cardiology edisi ke-4.


Jakarta: Erlangga.Halaman 188-198.
2. European Resuscitation Council.2005.Guidelines for Resuscitation.
http://www.erc.org. Diunduh pada tanggal 16 September 2012.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.2006.Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I edisi ke-4.Halaman 176-180.
4. Dorland.2000.Kamus Kedokteran edisi ke-29.Jakarta:EGC.
5. UK Resuscitation Council. 2005. Resuscitation Guidelines 2010.
http://www.resus.org.uk Diunduh pada tanggal 25 Agustus 2008.
6. American College of Surgeon.2009.Advanced Trauma Life
Support.Halaman 32-74.
7. American Heart Association.2006.Advanced Cardiovascular Life
Support.
8. http://www.tpub.com/medical. Diunduh pada tanggal 16 September
2010.
9. http://www.merck.com/mmpe/sec06/ch064/ch064c.html Diunduh
pada tanggal 16 September 2010.
10. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1910. Buku Ajar
Kardiologi. Jakarta:Balai Penerbit FKUI.Halaman 283.

38