Anda di halaman 1dari 8

Bab 8 – Kematian Karena Tembakan Senjata Api dan Ledakan

- Pengantar - Mengestimasi jarak tembakan


- Mekanisme dari cidera karena peluru - Luka senjata angin
- Jenis senjata - Pembunuh manusiawi (dokter hewan), Pistol
- Luka Paku Industrial, dan pistol peluru kosong
- Luka yang ditimbulkan dari semjata laras halus - Peluru karet dan plastik
- Luka yang ditimbulkan dari senjata Laras Kasar - Kematian karena ledakan
- referensi
- Bekas luka tembak
- Luka dalam yang ditimbulkan senjata api

Pengantar
Meskipun mayoritas luka dari peluru disebankan oleh senjata api, senjata-senjata seperti busur silang,
pistol baut, senjata angin, bahkan ketapel dapat menyemburkan peluru yang mematikan. Dalam kematian
karena bom sekarang ini yang umumnya dikaitkan dengan terorisme, potongan dari peluru dapat
menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan efek dari ledakan bom itu sendiri, jadi secara
keseluruhan pemahaman tentang trauma proyektil sangatlah penting. Balistik adalah ilmu mekanisme
yang berhubungan dengan jarak terbang, perilaku, dan efek dari proyektil. Balistik internal berhubungan
dengan proses peluru didalam senjata api. Balistik eksterior berhubungan dengan perilaku peluru setelah
keluar dari laras senjata. Luka balistik meliputi perubahan yang disebabkan peluru menembus tubuh
manusia atau hewan.

Mekanisme dari cidera karena peluru


Dengan pengecualian dari luka perlambatan, semua trauma mekanikal, entah itu pukulan, tusukan, atau
tendangan, yang disebabkan dari perpindahan energi dari benda eksternal yang bergerak kedalam jaringan
kulit dan tidak ada yang lebih jelas daripada dalam tembakan. Untuk cidera yang terjadi, beberapa atau
keseluruhan dari energi kinetik dari peluru harus terserap oleh jaringan kulit dari target dimana energi
tersebut berpencar sebagai panas, suara, dan gangguan mekanikal. Saat peluru melewati jaringan kulit
halus secara penuh, kekuatan kinetik dari peluru akan tertahan dan gagal untuk memindahkan sebagian
besar tenaga terhadap jaringan kulit, yang mungkin masih utuh selain dari jalur peluru langsung. Jika
yang terakhir mengenai otot sendi, mungkin tidak ada efek yang serius jika pembuluh darah mayor tidak
terkena imbas, meskipun jalur yang sama dalam otak, paru-paru, ataupun jantung dapat berakibat fatal
(Fig. 8.48)
Untuk memastikan perpindahan energi ke jaringan kulit, beberapa peluru secara khusus dirancang atau
dimodifikasi untuk diperlambat atau berhenti saat berada didalam tubuh. Peluru berujung halus akan
mengurangi benturan dan beberapa dirancang untuk menyebar. Peluru Dumdum, yang memiliki ujung
yang bulat, dan peluru dengan rongga udara didalam ujungnya diciptakan untuk membuka lebar saat
penembakan untuk menciptakan pengereman atau efek perlambatan, dan memindahkan lebih banyak
energi untuk memecahkan atau mencerai-beraikan jaringan kulit. Peluru dengan ujung yang eksplosif,
seperti yang digunakan untuk percobaan pembunuhan terhadap Presiden USA Ronald Reagan di tahun
1981, tidak dirancang untuk memberikan cidera dari peledakan kecil, melainkan dirancang untuk
merubah bentuk peluru secara drastis untuk mendapatkan perlambatan yang maksimum.
Senjata dirancang untuk ditembakan di dalam ruang yang terbatas, seperti saat melawan percobaan
pembajakan pesawat relatif lebih rendah dalam kecepatan tembakan dan memiliki fitur perlambatan untuk
memastikan tidak ada peluru yang keluar dari tubuh target, dan membatasi gerak dari peluru agar tidak
mengenai kabin penumpang.
Lintasan dari peluru juga ditentukan dari seberapa banyak dan seberapa cepat energi diberikan kepada
target. Peluru shotgun berbentuk tumpul, jadi orientasi dari benturan tidak relevan, namun semua peluru
berbentuk cone dapat memberikan jalur tidak menentu terhadap jaringan kulit. Mereka dapat terguling
hingga akhir, terutama saat mendekati batas jangkauan, mereka dapat ‘mengibaskan’ atau ‘mengoleng’
sisi ke sisi dari lintasan axial mereka; badan peluru dapat berotasi di sekitar sumbu, sedangkan ujungnya
tetap pada lintasan lurus; dan mendahului atau mengangguk dengan gerakan spiral rumit atau gerakan
melingkar pada sumbu.
Apapun penyimpangannya, menawarkan kontak yang lebih antara peluru dan jaringan kulit, memberikan
transfer energi yang lebih dan cidera lebih pada jaringan kulit. Jumlah dari energi kinetik yang dimiliki
oleh peluru sesuai dengan rumus yang familiar dari setengah produk masal peluru dan kuadrat dari
kecepatannya. Secara relatif peluru dengan kecepatan pelan adalah yang melaju dengan kecepatan
mengimbangi kecepatan suara di udara (340 m/detik atau 1115 kaki/detik), yang arahnya meliputi semua
peluru pendorong non-eksplosif seperti panah busur silang, peluru senapan angin, juga hampir seluruh
peluru revolver. Ilmu militer modern mengambil manfaat dari pengkuadratan kecepatan untuk
mengembangkan senjata yang memiliki peluru bermassa kecil namun memberikan kecepatan yang tinggi
untuk memberikan energi kinetik maksimum untuk melukai jaringan kulit.
Mode dari cidera bergantung kepada beberapa faktor: bentuk, kecepatan dan kemungkinan deformasi atau
penyebaran dari peluru, yang semuanya mempengaruhi interaksi antara peluru dan jaringan kulit.
Saat peluru menghantam badan pertama-tama terproduksi gelombang kompresi sonic (gelombang kejut)
dari durasi yang sangat singkat (dalam jarak mikrodetik) yang menyebar dalam jaringan kulit dalam
kecepatan suara dalam air (1500 m/detik atau 4921 kaki/detik). Meskipun gelombang tersebut
meningkatkan tekanan jaringan kulit menjadi nilai yang ekstrim, hingga ribuan kilopascal, ada
kontroversi dari potensi untuk menyebabkan cidera jaringan kulit.
Saat peluru menusuk kedalam kulit secara mekanis menghujam disamping jaringan kulit dalam lintasan
lebih lebar dari peluru. Lapisan kulit tersebut tersobek atau rusak, cidera sekunder terjadi dari pecahnya
pembuluh darah dan struktur lain yang menyebabkan rongga luka permanen.
Peluru berkecepatan tinggi menciptakan fenomena lain, dalam menciptakan rongga. Peluru berakselerasi
ke jaringan kulit berdekatan dengan lintasan, jadi saat peluru melaju secara sentrifugal menjauh bahkan
setelah peluru telah melaju kedepan. Hal ini menyebabkan terciptanya rongga di sekitar lintasan yang
lebih lebar dari diameter peluru itu sendiri. Rongga mencapai ukuran maksimum dalam hitungan mili
detik dan kemudian bergetar dengan pengurangan luas ayunan sehingga rongga fusiform secara cepat
mengikuti dalam kebangkitan dari peluru.
Saat peluru berhenti atau melewati organ, rongga secara cepat berkurang, namun lintasan dari kerusakan
bertahan dalam zona tubular lenih lebar dari peluru itu sendiri. Dalam peluru kecepatan tinggi dari senjata
militer – sebagai contoh, 980 m/detik (3215 kaki/detik) efek peronggaan adalah mekanisme paling
merusak; dalam tambahan kepada kerusakan fisikal, vakum-dekat menyedot kotoran terinfeksi dan serat
pakaian kedalam luka. Organ padat seperti otak dan hati berdampak lebih dibandingkan kandungan
kenyal seperti paru-paru. Jaringan kulit tersebut yang mengandung air lebih banyak adalah yang paling
terluka sangat parah dari penusukan peluru dan luka dari peluru berkecepatan tinggi adalah proporsional
pada gravitasi tertentu dari jaringan kulit yang terluka.
Dalam banyak kasus penembakan yang dilihat oleh patologis forensik, kematian dapat terjadi secara cepat
namun, dimana itu diperlambat, cidera sekunder dari infark, kebekuan lokal dari otot dan organ dan
infeksi harus selalu diingat.

Jenis Senjata
Sifat dari luka senjata api dibedakan berdasarkan jenis senjata yang digunakan. Sebuah pengetahuan u,u,
dari fungsi utama dari beberapa jenis pistol dalam pemakanan umum adalah esensial, walaupun tidak ada
guna bagi patologis untuk menguasai detail ketidakperluan dari konstruksi senjata api yang ditawarkan
oleh beberapa buku forensik. Sesungguhnya, banyak dari ini hanya wewenang dari pengamat senjata api,
bukan dokter. Banyaknya jumlah dari detail yang terkadang disediakan mungkin merupakan gejala dari
daya tarik dimana senjata api lebih banyak digunakan oleh pria – namun jarang apda wanita (Figs 8.1-8.4)
Dalam konteks menciderai, senjata dibagi menjadi dua tipe utama.
Senjata berkaliber halus atau shotgun
Sebuah shotgun terdiri dari satu atau lebih selongsong besi yang berdiameter relatif lebar, yang mana
memiliki lapisan dalam yang lembut. Shotgun menembakan jumlah variabel dari tembakan timah bulat
(peluru), yang timbul dari ujung (moncong), bercabang secara bertahap dalam bentuk cone yang panjang
dan sempit. Secara luar biasa, shotgun dapat menembakan beberapa peluru besar atau bahkan satu tumah
besar, namun jarang ditemukan dalam praktek forensik, jumlah lazim dari peluru yang mencapai angka
ratusan. Tipe spesial dari peluru akan dijelaskan nanti. Sebuah shotgun seringnya memiliki 2 selongsong,
baik itu bersebelahan maupun atas bawah. Satu selongsong dapat berbentuk pararel berdampingan
(silinder) dan yang satu meruncing mendekati ujungnya (pencekik). Tipe pencekik akan memproduksi
cone yang lebih sempit dari tembakan dan mempengaruhi estimasi dari jarak yang berasal dari ukuran
luka. Ada beberapa gradasi dari pencekik, seperti Improved Cylinder, Modified Choke, Half Choke, dan
Full Choke.
Beberapa dari senjata modern memiliki fasilitas untuk menanggalkan satu tipe partikuler dari selongsong
dan menggantinya dengan cekikan berukuran lain. Aksesoris modern dapat mengkonversi selongsong
silinder ke selongsong cekik – sebagai contoh, variabel cekik seperti Poly-Choke, Kutts Compensator,
dan Weaver-Choke tersedia, terutama di USA.
Tipikal modifikasi Amerika lain adalah kemampuan untuk menembakan satu peluru melalui kaliber
halus. Beberapa alat diciptakan untuk berburu tersetia, namun dapat berperan dalam pembunuhan
manusia. Salah satu tipe yang lebih tua adalah peluru bulat padat Pumpkin Ball atau peluru senapan
Brenneke, namun beberapa alat terdahulu meliputi Foster Rifled Slug dan French Blondeau, yang mana
adalah peluru berbentuk dumbell.
Shotgun terdapat dalam 2 ukuran utama, yang mana menentukan sifat dari luka. Yang pertama adalah
Twelve-Bore atau yang biasa disebut Twelve-Gauge di Amerika Utara, yang memiliki diameter sekitar
19mm atau 0.748 inci. Yang satu lagi biasa disebut Four-Ten, yang biasanya selongsong tunggal dengan
diameter 10.6mm atau 0.417 inci.
Peluru Shotgun
Peluru untuk shotgun adalah peluru yang dibuat dari karton atau silinder plastik yang melingkari besi
sebagai isinya. Didalamnya terdapat detonator perkusi yang dihentakan oleh pin penembak dengan per
saat pelatuk ditarik. Peluru mengandung bahan bakar, diatas dimana adalah gumpalan atau piston, dan
karton ataupun plastik, piringan, atau keduanya. Diatas semua itu adalah beban dari tembakan, yang
bervariasi dalam angka dan ukuran, dan akhirnya dilapisi oleh karton ataupun piringan plastik.
Deskripsi dari peluru yang klasik dan tua namun amunisi modern memiliki variasi dari beberapa alat yang
terkorporasi menjadi peluru untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi. Ini meliputi piston tenaga, nama
paten dari salah satu kelas peluru yang menahan tembakan didalam cup polythene dan yang dengan
sendirinya dapat berkontribusi terhadap luka tembak dari jarak tembakan. Peluru modern lain dapat
memiliki biji plastik sebagai isi di dalam tembakan; material berwarna cerah ini dapat ditemukan didalam
luka tembak.
Kerusakan dari peluru ditandai pada perubahan dari penyebaran dan karakteristik dari tembakan dan juga
karena luka tembak yang dihasilkan. Tembakan dapat tergabung menjadi gumpalan dengan menuangkan
lilin paraffin atau bahkan menuangkan resin pada peluru (Fig. 8.5). Karton atau silinder plastik dapat
terpotong sebagian pada tingkat penggumpalan, sehingga, saat menembak, bagian atas pada pelapis
peluru meledak untuk menahan penyimpangan dari pelet.
Bahan bakar dari peluru juga berganti dalam beberapa tahun terakhir, jadi bubuk mesiu hitam yang sudah
tua sudah sepenuhnya tergantikan dengan bahan peledak yang lebih bersih yang tidak mengeluarkan
volume yang sama dengan bahan bakar yang berasap dan tidak terbakar, yang dapat tertinggal di dalam
dan disekitar luka tembakan jarak dekat.
Pistol ‘Country’
Pada negara berkembang, di beberapa daerah yang terpencil dan miskin dari negara lainnya, dalam
subversi dan terorisme dan terkadang dalam tangan remaja, senjata dan amunisi dapat dibuat secara
rumahan. Hal ini umum di India, dimana mana Country Gun sangat lazim; mereka juga dibuat di Sri
Lanka dan area Asia lainnya, namun dapat ditemui dimanapun.
Satu dari penulis (BK) memiliki pengalaman tentang senjata rakitan di area kekuasaan teroris di Malaya
(Malaysia) pada tahun 1950an, dimana senjata mentah dibuat didalam hutan dari potongan pipa air yang
disambungkan pada kayu yang telah diukir, dan dengan mekanisme menembak yang primitif. Senjata
bermoncong yang diisi dengan bubuk mesiu hitam dan peluru yang biasanya dibuat dengan sekrup kayu,
mur, dan baut serta campuran tidak biasa dari besi maupun batu.
Dalam praktek sipil di Inggris, dua senjata yang mirip pernah terlihat, keduanya dibuat oleh pemuda dari
pipa listrik, dengan bahan bakar potasium klorida dan gula. Pada yang satu, pemakai terbunuh saat senjata
meledak; dan yang satu berhasil menembakan obeng kecil melewati beberapa jarak untuk (sedikit)
melukai seekor sapi.
Teroris di Irlandia Utara juga membuat senjata mereka sendiri, namun yang ini relatif lebih canggih,
dibuat dari bengkel yang tersembunyi namun dengan peralatan yang lengkap.
Masalah untuk patologis dengan senjata rakitan adalah saat beberapa dari kriteria senjata tersebut
menyebabkan bekas luka, terutama saat peluru yang tidak diketahui seperti obeng kayu digunakan.
Pengetahuan lokal dan pengalaman sangat penting untuk mengetahui jenis luka tersebut.
Senjata Laras Kasar
Pistol tangan, senapan, senapan angin, dan senjata militer berbeda dengan shotgun dalam penembakan
satu peluru melalui laras yang lebih tebal dan memiliki gerigi spiral didalamnya. Perpindahan peluru
melalui gerigi disebut lands, yang mencengkram peluru saat peluru melewati barrel dan memberikan
gerakan memutar pada peluru. Efek giroskopik meningkatkan stabilitas pada arah peluru dan
meningkatkan akurasi.
Pistol tangan, yang mengakibatkan 50% dari pembunuhan di USA pada tahun 2005, meliputi revolver
dan pistol otomatis. Revolver memiliki silinder berputar yang menampung beberapa peluru, yang
ditembakan satu persatu saat pelatuk ditarik. Revolver memiliki kecepatan moncong yang rendah pada
250 m/detik (840 kaki/detik). Pistol otomatis atau yang lebih tepat disebut pistol yang mengisi sendiri,
memiliki tempat peluru dalam model pengisian per, sehingga setiap peluru ditembakan akan langsung
terisi oleh peluru baru dengan tekanan gas setiap peluru ditembakan. Kecepatan moncong berada di angka
300-350 m/detik (sekitar 1000 kaki/detik) (Fig 8.57, 8.66).
Senjata laras kasar adalah pistol berlaras panjang yang memiliki mode sekali tembak, pengisi manual
ataupun pengisian sendiri dan digunakan untuk berburu, menembak target, dan untuk kepentingan militer.
Senjata militer datang dalam varian tipe yang luas, kebanyakan dari mereka adalah pengisian sendiri
dimana pelatuk harus ditarik setiap menembak- atau yang benar-benar otomatis dimana senjata akan terus
menembak saat pelatuk ditarik hingga tempat peluru habis. Kecepatan moncong bervariasi, dari 450 –
1000 m/detik (1500-3300 kaki/detik) (Fig. 8.58)
Amunisi untuk Senjata Laras Kasar
Variasi tipe peluru senjata laras kasar bahkan lebih banyak dari jenis senjata yang digunakan untuk
menembakan mereka, namun dalam satu pola umum. Ada silinder besi, tertutup pada ujung yang satu,
pada bagian cangkang, membawa detonator perkusi dalam basisnya, baik secara sentral maupun peripral.
Cangkangnya diisi dengan bahan bakar peledak seperti nitroselulosa dan pelurunya dijepit secara erat
pada ujung yang terbuka. Pelurunya dapat berbahan dari berbagai besi, lebih sering compound. Inti timah
dapat dilapisi dengan nikel atau jaket besi, namum ada variasi lain. Detonatornya dapat mengandung
elemen seperti barium, timah, atau antimoni.
Peluru dari senjata laras halus maupun kasar mempunyai kegunaan yang sama saat diledakan – untuk
memproduksi volume besar dari gas panas dibawah tekanan yang memuntahkan peluru atau tembakan
dari selongsong. Satu kilogram dari bubuk mesiu hitam memproduksi sekitar 280 liter dan nitroselulosa
memproduksi 900-970 liter gas, yang mengandung karbondioksida, monoksida, nitrogen, hidrogen
sulfida, hidrogen, metana dan kandungan lain, dalam suhu yang tinggi.
Luka Tembak
Walaupun konstruksi dan performa dari senjata adalah minat utama dari pengamat forensik senjata api,
relevansi terhadap patologis berkonsentrasi kepada aspek yang mempengaruhi sifat dari luka:
- Apakah senjata tersebut laras halus atau kasar
- Jika laras kasar, berapa kecepatan moncong senjata
- Sifat dari peluru
- Sifat dari bahan bakar peluru
- Besarnya cekikan
- Jarak tembakan
- Sudut tembakan
Luka tembak yang disebabkan senjata laras halus (shotgun)
Beberapa unsur dari peluru saat ditembakan dari shotgun dapat berkontribusi terhadap luka tembak :
- Pelet timah
- Soot dalam bentuk asap dan puing
- Partikel bahan bakar yang terbakar dan tidak terbakar
- Api dan gas panas dibawah tekanan
- Karbon monoksida
- Gumpalan, entah itu karton, plastik, ataupun kain
- Detonator
- Pecahan lapusan peluru
Saat shotgun ditembakan, massa kompak dari tembakan keluar dari moncong dan mulai memecah,
pembubaran dari material meningkat secara drastis saat jarak memanjang. Lidah api dan gas panas
mengikuti tembakan. Tekanan tinggi dan suhu yang tinggi terjadi didepan moncong, namun ini cepat
menyebar dan mendingin. Gas ini tersusun dari oksida dari nitrogen, karbon dioksida, udara panas, dan
komposisi lain, namun yang menarik minat dari patologis adalah karbon monoksida. Soot dari
pembakaran bahan bakar terbuang, bersama dengan serpihan serta bijih dari bahan bakar yang masih
dapat terbakar. Gumpalan juga terbuang, sifatnya bergantung kepada tipe dari peluru. Beberapa amunisi
modern dapat mengandung alat lain yang dapat berkontribusi terhadap luka.
Bekas kimia dari elemen dalam detonator atau tutup perkusi tidak dapat dilihat, namun dapat menjadi
bukti laboratorium yang vital, dimana timah, barium, antimoni, dan besi lain bisa di betulkan pada
analisis atau dengan cara discan pada mikroskop elektron. Pecahan dari lapisan peluru juga dapat
terhempas, terutama jika sudah dirusak seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Potongan yang sangat penting bagi patologis adalah saat ditanya untuk membuat estimasi jarak dari
penembakan, yang dapat secara garis besar memberikan pengaruh kepada perbedaan dari kecelakaan,
bunuh diri, dan pembunuhan. Bentuk dari luka sangat banyak dimodifikasi dari variasi dalam jarak dan
kesesuaian dalam menjelaskannya dalam artian dari meningkatkan jarak dari tembakan (Fig. 8.6)
Luka Kontak Shotgun
Bentuk
Saat moncong diletakan dekat dengan permukaan dari abdomen, thorax, siku, atau leher, luka yang
disebabkan akan berupa bekas tembak tunggal atau melingkar sebesar kaliber dari senjata, walaupun luka
dari senjata .410 dapat lebih kecil karena efek elastis kontraksi kulit yang lebih besar. Sudut dari luka
dapat mengembang dari tembakan individual, namun biasanya tidak terlihat.
Noda dan luka bakar
Dalam luka akibat kontak rapat, kulit senjata memnbentuk lapisan disekitar moncong, mencegah gas
panas dan abu keluar terlalu banyak, untuk meminimalisir atau menghilangkan noda dan luka bakar (Fig.
8.10). saat mengisi peluru, yang mana menarik moncong menjauhi kulit senjata, dapat melonggarkan
lapisan dan jika moncong tidak ditekan secara erat, api, gas, dan abu dapat keluar dari samping yang
mempengaruhi kulit. Saat pakaian tersangkut antara moncong dan kulit senjata, abu dapat lebih mudah
keluar dari sisi samping senjata dan dapat mengotori lapisan pakaian, maupun kulit. Pakaian dapat hangus
pada sudut lubang tembakan dan memberikan bekas luka bakar berbentuk cincin pada luka di kulit,
terutama saat menembak dengan menggunakan amunisi bubuk mesiu hitam. Pada kedalaman luka
tembak, lapisan kulit menghitam karena endapan abu.
Jejak moncong
Jejak moncong dapat terjadi pada luka dari kontak sempit yang diciptakan oleh tekanan mekanikal yang
erat atau benturan dari pinggiran besi terhadap kulit. Banyak buku yang salah mengatributkan ini dengan
pengisian peluru, walau pastinya pengisian peluru menjauhakan moncong dari kulit, bukan sebaliknya.
Penjelasan sesungguhnya dari tanda bekas moncong adalah secara subkutan menyebar, mengangkat kulit
secara paksa keatas kepada moncong. Tanda bekas moncong adalah indikasi yang penting bagi patologis
luka kontak dan Anton Werkgartner (1890-1970) adalah yang pertama menyadari dan menjelaskan arti
dari luka berpola ini. Memar yang sebenarnya dapat timbul disekitar cetakan moncong, walau adalah hasil
yang lebih lazim didapatkan dari luka memar dari efek tembakan. Secara langka, senjata bertabung ganda
dapat meninggalkan bekas seperti cincin berdekatan dengan luka masuk.
Carbon monoksida.
Karbon monoksida adalah gas yang berkombinasi dengan haemoglobin dan myoglobin untuk
menghasilkan warna pink pada bagian dalam dari bekas luka dan lapisan kulit disekitarnya. Hal ini,
bersamaan dengan sisa tembakan lain, seperti abu, partikel bubuk dan elemen utama, berkurang dalam
konsentrasi disekitar jejak luka, namun dapat tetap muncul didalamnya – dan bahkan di luka keluar, jika
ada. Keberadaan dari Carbonxyhaemoglobin dan myoglobin dianjurkan sebagai test dalam membedakan
luka masuk dan luka keluar, terutama dimana dekomposisi telah mengaburkan tampilan secara morfologi.
Test ini harus digunakan dengan hati-hati.
Kontak luka pada tulang
Saat luka berada pada tempat dengan tulang dibawahnya, luka dapat berbentuk lain. Terutama pada kulit
kepala, namun juga pada belakang leher, sternum, bahu, pinggul, dan area lain dimana lapisan kulit
lembut melapisi tulang, volume besar dari gas tembakan tidak dapat berhamburan, dan bisa pada
abdomen, dada, atau massa otot. Saat gas dipaksa untuk melewati kulit, gas dipantulkan kembali oleh
lapisan keras didalamnya dan secara sesaat menaikan kubah kulit dan lapisan kulit subkutan. Hal ini
menghantam kembali moncong untuk meningkatkan tekanan dari kontak lebih jauh, terkadang
memproduksi cetakan moncong. Saat volume dari gas besar, seperti pada pistol tweleve-bore, kubah ini
dapat terpisah, menyebabkan bentuk luka salib, bintang, maupun bergerigi. Hal ini jarang terjadi pada
pistol .410 karena peluru lebih kecil, namun dapat terjadi bila menggunakan senjata laras kasar.
Tembakan jarak dekat dari shotgun
Saat moncong diarahkan dekat dengan kulit, namun tidak secara langsung berkontak dengannya, beberapa
tanda bermanfaat tercipta. Sekali lagi tampilan secara alami dirubah oleh pakaian, yang mana harus selalu
diawetkan secara hati-hati dan digunakan untuk pemeriksaan forensik ilmiah. Saat pakaian terlibat, benda
itu dapat memuat sebagian besar, namun tidak semua, dari abu dan bubuk biji (Figs 8.11-8.15).