Anda di halaman 1dari 9

KONSEP NEGARA HUKUM DALAM NEGARA KESATUAN

REPUBLIK INDONESIA

Oleh
Hifdzil Alim

Demokrasi dan Keberadaan Negara: Sebuah Pendahuluan


Realitas kepolitikan Orde Baru yang ditandai dengan besarnya peranan pemerintah dalam
menentukan jalannya negara dan keterlibatannya dalam berbagai sektor masyarakat, telah
menimbulkan minimal dua tanggapan. Pertama, tanggapan yang mempertanyakan relevansi
realitas tersebut dengan prinsip demokrasi sebagai salah satu prinsip hidup bernegara yang
fundamental. Tanggapan ini seakan menggugat kenyataan bahwa peranan negara yang begitu
besar dan yang pada batas tertentu telah menghambat aspirasi dan partisipasi dari bawah
adalah realitas yang agaknya kurang menguntungkan bagi pelaksanaan demokrasi dan perlu
diambil langkah-langkah konstruktif. Kedua, tanggapan yang mencoba menjelaskan atau
memberi pijakan teoritis atas realitas kepolitikan yang menunjukkan dominasi peran negara
itu. Pada tanggapan yang kedua ini telah dimunculkan bermacam-macam pendekatan seperti
patrimonialisme, pasca-kolonial, beamtenstaat, politik birokratis, rezim birokratis otoritarian,
strategi korporatisme, sampai pada pembahasan kembali staatsidee integralisitik yang dulu
pernah dicetuskan oleh Prof. Soepomo di dalam sidang BPUPKI.
Diakui atau tidak, dalam konteks keindonesiaan, peran negara dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara memegang peranan penting. Pada era Orde Baru misalnya,
cengkraman negara begitu kuat dalam masyarakat. Negara ikut campur dalam segala hal
masalah ekonomi, politik dan sosial rakyat. Disatu sisi, memang negara mempunyai tanggung
jawab (state responsibility) untuk mengendalikan dan memberdayakan rakyatnya agar tidak
terjadi kesengsaraan dan penderitaan. Namun, di sisi lain, peran negara ini kadang
disalahgunakan sebagai bentuk represifitas negara terhadap rakyatnya. Negara menerapkan
aturan yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh rakyat, yang peraturan itu hanya
menguntungkan sebagian kecil dari apa yang disebut sebagai “rakyat”.

Beberapa ahli mendefinisikan berbeda tentang negara. Roger H. Soltau menuliskan: “Negara
adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan
persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat (The state is an agency or authority
managing or controling these (common) affairs on behalf of and in the name of the
community). Harold J. Laski mengatakan: “Negara adalah suatu masyarakat yang
diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah
lebih agung dari pada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu
(The state is a society which is integrated by possessing a coercive authority legally supreme
over any individual or group which is part of the society).
Max Weber berujar: “Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam
penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah (The state is a human society that
(succesfully) claims the monopoly of the legitimate use of physical force within a given
territory). Robert M. MacIver menyatakan: “Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan
penertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem
hukum yang diselenggarakan oleh suatu yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaan
memaksa (The state is an association which, acting through law as promulgated by a
government endowed to this end with coercive power, maintains within a community
territorially demarcated the external conditions of order).
Miriam Budiarjo menyimpulkan bahwa negara adalah suatu daerah teritorial yang rakyatnya
diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warganya
ketaatan pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dari
kekuasaan yang sah.
Abraham Amos lebih menegaskan arti sebuah negara menjadi dua, negara dalam arti objektif
dan negara dalam arti subjektif. Negara dalam arti objektif berarti segala sesuatu yang
menyangkut ruang lingkup kedaulatan suatu kelompok komunitas masyarakat, dimana
didalamnya terdapat strukutur kehidupan sosial atas kehendak organ masyarakat pada suatu
wilayah tertentu; dengan tujuan menjalankan segala bentuk aktivitas hidupnya. Sedangkan
negara dalam arti subjektif diartikan dengan adanya sekelompok komunitas manusia yang
menghendaki suatu bentuk teritorial kedaulatan, yang kemudian dibentuk semacam
konsensus atau kontrak sosial. Kontrak sosial itu tak lain ialah mufakat bersama dengan
tujuan untuk membentuk wilayah kedaulatan sesuai kehendak komunitas dan memiliki
seorang pimpinan komunitas sosial.
Negara bukan sekadar sekumpulan keluarga belaka atau suatu persatuan organisasi profesi,
atau penengah di antara kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan antara
perkumpulan suka rela yang diizinkan keberadaannya oleh negara. Dalam suatu komunitas
politik yang diorganisir secara tepat, keberadaan negara adalah untuk masyarakat dan bukan
masyarakat yang ada untuk negara. Pasalnya, keberadaan negara bermula dari perkembangan
manusia (rakyat) yang kompleks dengan segala permasalahannya sehingga dibutuhkan
adanya sebuah organisasi yang dilengkapi kekuasaan, disepakati bersama oleh rakyat
tersebut, dan berfungsi menyelesaikan perselisihan untuk mengatur dan menciptakan
ketentraman serta kedamaian dalam hubungan kemasyarakatan.
Logikanya, jika misalnya, keadaan rakyat dengan segala kompleks permasalahannya telah
tentram dan damai maka rakyat tidak memerlukan adanya organisasi kekuasaan lagi. Dengan
kata lain, bisa saja organisasi kekuasaan tersebut dibubarkan keberadaannya oleh rakyat.
Akan tetapi, logika ini mungkin akan sangat sulit terealisasi karena kompleksitas
permasalahan rakyat selalu ada seiring dengan berkembangnya kepentingan manusia.
Namun, hal ini tidak bisa dijadikan alasan bahwa negara boleh menerapkan represifitas
terhadap rakyat, karena hakekatnya keberadaan negara adalah untuk rakyat bukan rakyat
yang ada untuk negara.
Keberadaan negara menjelma dalam sistem penyelenggaraan negara yang dijalankan oleh
tiga lembaga kekuasaan negara. Yakni lembaga legislatif (sebagai pembuat undang-undang),
lembaga eksekutif (yang menjalankan undang-undang) dan lembaga yudikatif (pengadil
terhadap pelanggaran atas undang-undang). Lembaga-lembaga kekuasaan negara ini
menjalankan fungsinya dengan prinsip demokrasi (penyelenggaraan negara dari, oleh, dan
untuk rakyat).
Biarpun prinsip demokrasi baru lahir pada akhir abad-19 mencapai wujudnya yang kongkrit,
tetapi ia sebenarnya sudah mulai berkembang di Eropa Barat dalam abad-15 dan abad-16.
Demokrasi abad-19 mengutamakan beberapa asas yang dengan susah diraihnya, misalnya
kebebasan rakyat dari segala macam bentuk kekangan, dari kekangan kekuasaan yang
sewenang-wenang. Dalam rangka ini posisi keberadaan negara hanya sebagai “penjaga
malam” (Nachtwachtersstaat), yang hanya boleh ikut campur dalam kompleksitas
permasalahan rakyat dalam batas-batas tertentu. Pada perkembangannya, keberadaan
negara—khususnya setelah Perang Dunia II—tidak sebatas hanya sebagai penjaga malam.
Negara harus turut bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat dan karena itu harus aktif
berusaha untuk menaikkan taraf kehidupan ekonomi warga negaranya. Gagasan ini
dituangkan dalam konsep Welfare State (negara kesejahteraan) atau Social Service State.
Beriringan dengan tanggung jawab negara dalam gagasan Welfare State (negara
kesejahteraan), timbul berbagai macam jalur demokrasi untuk menuju demokrasi yang
modern. Setidaknya Mahfud MD mencatat ada tiga jalur menuju demokrasi modern, yakni:
pertama, jalur revolusi borjuis yang ditandai dengan kapitalisme dan parlementarisme
(misalnya, di Prancis dan Inggris). Kedua, jalur revolusi kapitalis dan reaksioner yang
berpuncak pada facisme (misalnya di Jerman) dan ketiga, jalur revolusi petani. Seperti yang
terlihat pada rute komunis yang sampai tahap tertentu disokong oleh kaum buruh (seperti
Rusia dan Cina).
Bagaimana dengan demokrasi modern di republik ini? Selama 32 tahun lebih (1966-1998)
pada era Orde Baru, negara ini mengalami masa pengelabuan sejarah. Demokrasi dalam arti
sebenarnya berjalan ditempat. Semua kendali berada ditangan pemerintah. Represifitas dan
pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjadi kebiasaan, yang setiap orang “dipaksa” untuk
mengakui keberadaan serta kebenarannya sebagai bentuk menjaga stabilitas negara. Keadaan
yang seperti ini mengalami klimaksnya dengan ditandai turunannya Presiden Orde Baru yang
digulingkan oleh kesatuan demontrasi aksi mahasiswa selaku kelompok penekan (pressure
group) dan kelompok oposisi (opposition group) pada peristiwa tanggal 13-21 Mei 1998. era
baru pun dimulai, yakni disebut dengan Orde Reformasi.
Orde Reformasi mengamanatkan agar demokrasi dikembalikan ke arti semula. Kedaulatan
rakyat dikembalikan kepada rakyat dan negara harus mengusung kedaulatan tersebut menurut
konstitusi (Undang-Undang Dasar). Ternyata dari sini bisa dilihat bahwa demokrasi modern
di Indonesia dipakai dengan jalur yang berbeda dengan tiga jalur sebelumnya. Demokrasi
modern di Indonesia ditapaki dengan jalur reformasi sosial.

Arti dan Prinsip Negara Hukum


Telah jelas bahwa apabila negara dikendalikan oleh kekuasaan yang korup maka akan
menimbulkan kesengsaraan. Oleh karenanya, perlu diadakan suatu kontrol dan aturan yang
dapat mengendalikan negara. Sejak zaman city-state (negara kota) di era Yunani kuno,
keberadaan negara dikontrol melalui aturan yang disepakati bersama oleh rakyat Yunani.
Norma (nomos) mengendalikan kekuasaan (cratos) negara. Maka Yunani telah sejak dulu
mengenal adanya nomokrasi, yakni kekuasaan negara yang dikendalikan oleh norma/aturan.
Ide nomokrasi ini identik dengan konsep kedaulatan hukum, bahwa hukum memegang
peranan tertinggi dalam kekuasaan negara, yang dibayangkan sebagai faktor penentu dalam
penyelenggaraan kekuasaan adalah norma/aturan/hukum. Sesungguhnya yang dianggap
sebagai pemimpin dalam penyelenggaraan negara adalah norma/aturan/hukum itu sendiri.
Dalam perkembangannya, kedaulatan hukum menjelma menjadi konsep negara hukum.
Pada zaman modern, konsep negara hukum di Eropa Kontinental dikembangkan antara lain
oleh Immanuel Kant, Paul Laband, Julius Stahl, Fichte, dan lain-lain dengan menggunakan
istilah Jerman rechtsstaat. Sedangkan dalam tradisi Anglo-Saxon, konsep negara hukum
dikembangkan atas kepeloporan A.V. Dicey dengan sebutan The Rule of Law.
Selain itu, negara hukum juga dapat dibagi ke dalam negara hukum formil (demokrasi abad
XIX) dan negara hukum materil (demokrasi abad XX). Peran pemerintahan dalam negara
hukum formil dibatasi. Artinya, pemerintah (negara) hanya menjadi pelaksana segala
keinginan rakyat yang dirumuskan para wakilnya di parlemen. Karena sitanya yang pasif ini,
maka negara diperkenalkan sebagai nachtwachterstaat (negara penjaga malam).
Negara hukum materil (demokrasi abad XX) mengamanatkan peran bahwa peran negara
tidak hanya sebatas penjaga malam, tetapi negara juga harus ikut bertanggung jawab dan ikut
campur dalam menciptakan kesejahteraan rakyat.
A.V. Dicey menguraikan tentang negara hukum (The Rule of Law) lewat pengalaman de
Tocqueville, seorang Perancis yang mengamati konstitusi Inggris, yang kemudian dipaparkan
melalui tiga makna, yakni: pertama, Supremasi dan superioritas hukum reguler (Supremacy
of Law) yang mutlak yang bertentangan dengan pengaruh kekuasaan sewenang-wenang, dan
mencabut hak prerogatif atau bahkan kekuasaan bertindak yang besar di pihak pemerintah
karena munculnya kesewenang-wenangan tersebut.
Kedua, The Rule of Law juga berarti kesetaraan di depan hukum, atau ketundukan setara
semua kelompok masyarakat kepada hukum umum negara yang dijalankan oleh mahkamah
umum (Equality Before The Law). Ketiga, seseorang dapat dihukum karena melanggar
hukum, namun ia tidak dapat dihukum karena alasan lain (Due Procces of Law) atau dengan
kata lain, dalam negara hukum pasti berlaku asas legalitas.
Para Sarjana Eropa Kontinental—yang diwakili oleh Julius Stahl—menuliskan prinsip negara
hukum (Rechtsstaat) dengan mengimplementasikan:
1. Perlindungan hak asasi manusia;
2. Pembagian kekuasaan;
3. Pemerintahan berdasarkan undang-undang;
4. Peradilan Tata Usaha Negara.
International Comission of Jurists pada konfrensinya di Bangkok (1965) juga menekankan
prinsip-prinsip negara hukum yang seharusnya dianut oleh sebuah negara hukum, yaitu:
1. Perlindungan konstitusional, artinya, selain menjamin hak-hak individu, konstitusi harus
pula menentukan cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin;
2. Badan-badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak;
3. Pemilihan umum yang bebas;
4. Kebebasan menyatakan pendapat;
5. Kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi; dan
6. Pendidikan kewarganegaraan.
Jimly Ashshiddiqie menuliskan kembali prinsip-prinsip negara hukum dengan
menggabungkan pendapat dari sarjana-sarjana Anglo-Saxon dengan sarjana-sarjana Eropa
Kontinental. Menurutnya dalam negara hukum pada arti yang sebenarnya, harus memuat dua
belas prinsip, yakni:
1. Supremasi Hukum (Suprermacy of Law).
Dalam perspektif supremasi hukum, pada hakekatnya pemimpin tertinggi negara yang
sesungguhnya bukanlah manusia, tetapi konstitusi yang mencerminkan hukum yang tertinggi,
The Rule of Law and not of man.
2. Persamaan dalam hukum (Equality before the Law).
Setiap orang berkedudukan sama dalam hukum dan pemerintahan. Sikap diskrimatif dilarang,
kecuali tindakan-tindakan yang bersifat khusus dan sementara yang disebut affirmative
action, yakni tindakan yang mendorong dan mempercepat kelompok warga masyarakat
tertentu untuk mengejar kemajuan, sehingga mencapai perkembangan yang lebih maju dan
setara dengan kelompok masyarakat kebanyakan yang telah lebih maju.
3. Asas Legalitas (Due Process of Law).
Segala tindakan pemerintahan harus didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang sah
dan tertulis. Setiap perbuatan administrasi harus didasarkan atas aturan atau rules and
procedurs (regels). Namun, disamping prinsip ini ada asas frijsermessen yang memungkinkan
para pejabat administrasi negara mengembangkan dan menetapkan sendiri beleid-regels atau
policy rules yang berlaku secara bebas dan mandiri dalam rangka menjalankan tugas jabatan
yang dibebankan oleh peraturan yang sah.
4. Pembatasan kekuasaan.
Adanya pembatasan kekuasaan negara dan organ-organ negara dengan cara menerapkan
prinsip pembagian secara vertikal atau pemisahan kekuasaan secara horizontal. Kekuasaan
harus selalu dibatasi dengan cara memisahkan kekuasaan ke cabang-cabang yang bersifat
checks and balances dalam kedudukan yang sederajat dan saling mengimbangi serta
mengendalikan satu sama lain.
Dapat juga dilakukan pembatasan dengan cara membagikan kekuasaan negara secara
vertikal, dengan begitu kekuasaan negara tidak tersentralisasi dan terkonsentrasi yang bisa
menimbulkan kesewenang-wenangan. Akhirnya falsafah power tends to corrupt, and absolut
power corrupts absolutly bisa dihindari.
5. Organ-organ eksekutif independen.
Independensi lembaga atau organ-organ dianggap penting untuk menjamin demokrasi, karena
fungsinya dapat disalahgunakan oleh pemerintah untuk melanggengkan kekuasaannya.
Misalnya, tentara harus independen agar fungsinya sebagai pemegang senjata tidak
disalahgunakan untuk menumpas aspirasi pro-demokrasi.
6. Peradilan bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary).
Dalam menjalankan tugas yudisialnya, hakim tidak boleh dipengaruhi oleh siapapun juga,
baik karena kepentingan jabatan (politik) maupun kepentingan uang (ekonomi). Untuk
menjamin keadilan dan kebenaran, tidak diperkenankan adanya intervensi ke dalam proses
pengambilan putusan keadilan oleh hakim, baik intervensi dari lingkungan kekuasaan
eksekutif maupun legislatif ataupun dari kalangan masyarakat dan media massa. Namun
demikian, hakim harus tetap terbuka dalam pemeriksaan perkara dan menghayati nilai-nilai
keadilan dalam menjatuhkan putusan.
7. Peradilan Tata Usaha Negara.
Dalam setiap negara hukum, harus terbuka kesempatan bagi setiap warga negara untuk
menggugat keputusan pejabat administrasi negara dan dijalankannya putusan hakim tata
usaha negara (administrative court) oleh pejabat administrasi negara. Pengadilan administrasi
negara ini juga menjadi penjamin bagi rakyat agar tidak di zalimi oleh negara melalui
keputusan pejabat administrasi negara.
8. Peradilan Tata Negara (Constitutional Court).
Pentingnya Constitutional Court adalah dalam upaya untuk memperkuat sistem checks and
balances antara cabang-cabang kekuasaan yang sengaja dipisahkan untuk menjamin
demokrasi.
9. Perlindungan hak asasi manusia.
Perlindungan terhadap hak asasi manusia dimasyarakatkan secara luas dalam rangka
mempromosikan penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia sebagai
ciri yang penting suatu negara hukum yang demokratis.
10. Bersifat demokratis (democratische rechtsstaat).
Negara hukum yang bersifat nomokratis harus dijamin adanya demokrasi, sebagaimana di
dalam setiap negara demokratis harus dijamin penyelenggaraannya berdasar atas hukum. Jadi
negara hukum (rechtsstaat) yang dikembangkan bukanlah negara hukum yang absolut
(absolute rechtsstaat) melainkan negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat).
11. Berfungsi sebagai sarana mewujudkan tujuan bernegara (Welfare Rechtsstaat).
Sebagaimana cita-cita nasional Indonesia yang dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945,
tujuan bernegara Indonesia dalam rangka melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
Negara hukum berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan dan mencapai keempat tujuan
negara Indonesia tersebut. Dengan demikian, pembangunan negara Indonesia tidak terjebak
pada rule-driven, melainkan mission driven, tetapi mission driven yang didasarkan atas
aturan.
12. Transparansi dan kontrol sosial.
Adanya transparansi dan kontrol sosial yang terbuka terhadap setiap proses pembuatan dan
penegakan hukum, sehingga kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam mekanisme
kelembagaan resmi dapat dilengkapi secara komplementer oleh peran serta masyarakat secara
langsung.
Singkatnya, negara berdasarkan hukum (negara hukum) secara esensi bermakna hukum
adalah “supreme” dan kewajiban bagi setiap penyelenggara negara atau pemerintahan untuk
tunduk dan patuh pada hukum (subject to the law), tidak ada kekuasaan diatas hukum (above
the law). Semuanya ada di bawah hukum (under the law). Dengan kedudukan ini tidak boleh
ada kekuasaan yang sewenang-wenang (arbitrary power) atau penyalahgunaan kekuasaan
(missuse of power). Hukum dan prinsip-prinsipnya harus menjadi panglima dalam
penyelenggaraan kekuasaan negara.

Negara Kesatuan Republik Indonesia


Strong mendefinisikan negara kesatuan sebagai sebuah negara yang diorganisir di bawah satu
pemerintahan pusat. Artinya, kekuasaan apapun yang dimiliki berbagai distrik di dalam
wilayah yang dikelola sebagai suatu keseluruhan oleh pemerintah pusat harus
diselenggarakan menurut kebijakan pemerintah itu. Lebih lanjut Strong menyatakan bahwa
sebuah negara kesatuan setidaknya mempunyai dua sifat penting yakni (i) supremasi
parlemen pusat dan (ii) tidak adanya badan-badan berdaulat tambahan.
Supremasi parlemen pusat dimaknai bahwa dalam negara kesatuan hanya ada satu lembaga
legislatif yang selalu memegang kekuasaan tertinggi secara absolut. Sifat ini membedakannya
dengan paham dalam negara federal yang lembaga legislatifnya ada dua—lembaga legislatif
federal dan lembaga legislatif negara bagian—satu lembaga untuk setiap bidang
wewenangnya sendiri dan tidak berkuasa secara universal.
Tidak adanya badan-badan berdaulat tambahan diartikan sebagai tidak adanya otoritas lain
selain otoritas tertinggi. Jika otoritas pusat membawahi otoritas-otoritas lain yang
menjadikannya tidak berdaya untuk turut campur dengan proses perundang-undangan biasa
(selain yang ditetapkan dalam konstitusi), maka otoritas pusat itu adalah otoritas federal.
Apabila otoritas pusat membawahi otoritas-otoritas lain yang dapat dibuat atau dihapuskan
menurut kehendaknya, maka otoritas itu adalah otoritas tertinggi dan negara dengan batas-
batas otoritas tak terbatas ini disebut dengan negara kesatuan.
Di Indonesia, konstitusi pra-amandemen maupun konstitusi pasca-amandemen telah jelas
menyatakan bahwa negara ini adalah negara kesatuan. Dalam Pasal 1 ayat (1) ditulis:
“Negara Indonesia ialah negara kesatuan, yang berbentuk republik.” Paham negara kesatuan
Indonesia dipaparkan oleh Soepomo dengan paham integralistik (penyatuan/kesatuan) atau
lebih dikenal dengan staatsidee Integralistik yang disampaikan di depan sidang BPUPKI
tanggal 31 Mei 1945.
Menurut Soepomo, dari berbagai aliran yang diterapkan ke dalam negara maka aliran
nasional-sosialis—persatuan antara pemimpin dan rakyat serta persatuan dalam negara
seluruhnya—merupakan aliran yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Soepomo
menyatakan:
“Manusia sebagai seorang tidak terpisah dari seseorang lain dari dunia lain, golongan-
golongan manusia, malah segala golongan mahluk, segala sesuatu bercampur-baur dan
bersangkut-paut, segala sesuatu berpengaruh-mempengaruhi dan kehidupan bersangkut-paut.
Inilah ide totaliter, ide integralistik dari bangsa Indonesia, yang berujud pula dalam susunan
tata negaranya yang asli….bahwa jika kita hendak mendirikan negara Indonesia yang sesuai
dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasar
atas aliran pikiran (staatsidee) negara yang integralistik…..”

Negara kesatuan yang diperkenalkan oleh Soepomo, dalam perubahan kontitusi—hingga


perubahan keempat—tetap dipertahankan. Pasal 1 ayat (1) tidak dirubah. Negara
persatuan/negara kesatuan menjelma menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
dan keberadaan NKRI ini menjadi keharusan. Barang siapa ingin merubah NKRI berarti dia
melawan konstitusi.
Dalam penjelasan UUD pra-amandemen, pada bab II. “pokok-pokok pikiran dalam
“pembukaan” dinyatakan:
“…..Dalam pembukaan ini diterima aliran pengertian negara persatuan, negara yang
melindungi dan meliputi segenap bangsa dan seluruhnya. ….Negara, menurut pengertian
“pembukaan” itu menghendaki persatuan, meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya,
inilah suatu dasar negara yang tidak boleh dilupakan.”

Negara Hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD NRI 1945: Catatan Akhir
Pada tulisan sebelumnya telah didapatkan kesimpulan bahwa negara hukum adalah sebuah
negara yang menjadikan hukum sebagai panglima dalam penyelanggaraan negara. Tentunya
maksud hukum sebagai panglima tersebut diterapkan melalui pelaksaanaan prinsip-prinsip
negara hukum. Pada ranah lain, negara kesatuan—dengan mengutip tulisan Strong—diartikan
dengan penyelenggaraan negara harus di organisir dari pemerintah pusat. Strong selanjutnya
menuliskan bahwa negara kesatuan tersebut harus memiliki sifat (i) supremasi parlemen
pusat dan (ii) tidak adanya badan-badan berdaulat tambahan. Di Indonesia, konsep negara
kesatuan di perkenalkan oleh Soepomo dalam pidatonya di depan sidang BPUPKI tanggal 31
Mei 1945.
Penulis melihat ada kemiripan konsep negara kesatuan yang ditulis oleh Strong dengan
konsep yang ditawarkan oleh Soepomo. Keduanya telah diakomodir dalam UUD pra-
amandemen, dengan implementasi bahwa Indonesia memiliki MPR yang menjadi lembaga
tertinggi sebagai pelaksana kedaulatan rakyat secara penuh. Pasal 1 ayat (2) UUD pra-
amandemen mengatakan “Kedaulatan berada di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya
oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. Pasal ini mensuratkan bahwa kedaulatan negara ini
ada ditangan rakyat dan yang mempunyai wewenang penuh untuk melaksanakan kedaulatan
rakyat tersebut adalah MPR. Mungkin konsep seperti ini yang dibicarakan oleh Strong
dengan “supremasi parlemen pusat.”
Keberadaan dewan perwakilan (DPRD) di daerah pun harus tunduk pada majelis tertinggi.
Dewan perwakilan di daerah tidak punya kuasa untuk membuat kebijakannya sendiri.
Kebijakan yang dijalankan haruslah berasal dari pemerintah pusat. Mungkin pula konsep
seperti ini yang dinyatakan oleh Strong dengan “tidak adanya badan-badan berdaulat
tambahan”.
Namun kenyataannya, konsep negara kesatuan yang diterapkan di Indonesia sebelum
perubahan UUD tidak mengakomodir prinsip negara hukum dalam arti sebenarnya. MPR
yang kekuasaannya berasal dari kedaulatan rakyat, dimainkan sedemikian rupa oleh Presiden
sehingga hampir 32 tahun (1966-1998) penyelenggaraan negara menabrak prinsip-prinsip
negara hukum.
Beberapa contoh misalnya, Prinsip supremacy of law tidak dijalankan. Kekuasaan berada
penuh ditangan Presiden, yang terjadi bukanlah hukum yang menjadi panglima, tetapi
Presidenlah yang menjadi panglima. sektor ekonomi digenjot begitu rupa untuk
“pembangunan”. Kaum pemodal baik asing maupun dalam negeri diundang untuk
menanamkan investasinya di Indonesia. Regulasi dimuluskan oleh Presiden dan para
kroninya guna mendukung usaha “pembangunan” ini. Banyaknya investasi yang ditanam
menjadi lahan basah untuk menggarap pohon korupsi. Pundi-pundi korupsi yang ditumpuk
oleh oknum pejabat negara makin berlimpah dan merajalela. Diakui atau tidak, kenyataannya
Presiden (penguasa) “memuluskan” jalan korupsi para oknum ini, dan parahnya hukum tidak
bisa menjangkau mereka. Pada titik ini The Rule of Law and not of man tidak berjalan.
Kedudukan yang sama di depan hukum (equality before the law) juga tidak berlaku. Para
pejabat negara yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme jarang bisa dijerat dengan
hukum. Mereka aman berlindung dibawah ketiak penguasa (Presiden). Jerat hukum hanya
bisa menjangkau kaum tidak berpunya (the not have society). Orang yang hanya mencuri
ayam untuk dijual kembali—karena tidak makan seharian—akan dikurung atau bahkan,
apabila psikologi masyarakat lagi panas, dibakar tanpa ampun. Bagi orang kecil, dekil dan
miskin, perjuangan untuk mencari sesuap nasi di republik ini bagaikan menanam duri dalam
samudra, sulit dan butuh pengorbanan yang sangat. Jerat hukum tidak bisa menjangkau kaum
berpunya (the have society). Oknum yang korupsi hingga milyaran rupiah, bebas bertolak-
pinggang dan keluar-masuk negara ini tanpa takut akan ditangkap oleh penegak hukum.
Equality before the law hanyalah angan-angan semua yang berada di menara gading.
Asas legalitas (due process of law) menjadi mimpi diatas mimpi. Jarang sekali menjadi nyata.
Penguasa mnggunakan pasal-pasal penyebar kebencian, Pasal 154, 154a, 155, 156, 156a. 157,
dan 160 KUHP/hartzai artikelen, untuk membungkam aktivis pro-demokrasi. Tindakan
subversif adalah alasan yang paling sering ditujukan kepada mereka yang menanyakan
keadilan, demokrasi dan semacamnya secara terang-terangan. Pemberlakuan kekuatan militer
(tentara) untuk menumpas kelompok yang dianggap “para gerombolan” dan pemberlakuan
Daerah Operasi Militer (DOM) di beberapa daerah seakan menjadi pembenaran. Parahnya
lagi, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang sedikit vokal saja terhadap kebijakan
pemerintah akan tinggal nama belaka. Mereka hilang (dihilangkan) sampai-sampai kuburnya
pun tidak diketahui dimana letaknya.
Lalu bagaimanakah penerapan negara hukum dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) pasca-amandemen (UUD NRI 1945)? beberapa pasal dirubah melalui proses
amandemen, akibatnya substansi penyelenggaraan negara pun berubah. Namun, negara ini
tetap menjadi Negara Kesatuan. Beberapa pasal yang dirubah tersebut misalnya Pasal 1 ayat
(2) UUD 1945: “Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratn Rakyat.” menjadi: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
sepenuhnya menurut Undang-Udanng Dasar.”
Pasal 1 ayat (1) UUD NRI 1945 itu adalah sign bahwa negara ini akan menjadikan hukum
sebagai panglima, karena penyelanggaraan kekuasaan negara haruslah didasarkan atas hukum
(UUD), tidak lagi dipegang penuh oleh Majelis Permusyawaratan.
Jaminan Hak Asasi Manusia (HAM) pun semakin diperkuat. Sebelumnya, jaminan HAM
hanya diakomodir dengan pasal 28 saja. Sekarang jaminan terhadap HAM diakomodir pada
pasal 28, 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, dan 28I UUD NRI 1945. Rakyat dijamin
hak-haknya. Dengan akomodasi pasal-pasal HAM ini, harapan untuk menciptakan equality
before the law dan due process of law dapat tumbuh dalam langgam bahasa hati rakyat.
Dengan demikian, seperti di ungkapkan oleh John Locke bahwa negara harus memegang
kewajiban-kewajiban dalam bentuk (i) kekuasaan legislatif tidak boleh digunakan untuk
mengatur nasib rakyat secara sembarangan; (ii) kekuasaan negara tidak boleh dijalankan
tanpa pertimbangan yang matang; (iii) pemerintah tidak boleh mengambil atau merampas hak
milik rakyat tanpa persetujuan; dan (iv) perundang-undangan harus menjamin agar kekuasaan
politik digunakan bagi kepentingan umum akan terealisasi dalam koridor NKRI.
Terlepas dalam perjalanannya nanti, apakah konsep negara hukum dapat terus dijaga dan
dilestarikan dalam NKRI atau tidak, setidaknya pada saat ini prinsip negara hukum telah bisa
dimasukkan dalam konstitusi. Dan selanjutnya dijalankan oleh lembaga kekuasaan
penyelenggara negara, karena hakekatnya kedaulatan ada ditangan rakyat dan negara ini
adalah milik rakyat bukan penguasa.

DAFTAR BACAAN

Amos, H.F. Abraham. 2005. Sistem Ketatanegaraan Indonesia dari Orla, Orba Sampai
Reformasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Asshiddiqie, Jimly. Prof. Dr. S.H. 2004. Format Kelembagaan dan Pergeseran Kekuasaan
dalam UUD 1945. Yogyakarta: FH UII Press
Asshiddiqie, Jimly. Prof. Dr. S.H. 2005. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia.
Jakarta: Konstitusi Press
Asshiddiqie, Jimly. Prof. Dr. S.H. 2005. Pilar-Pilar Demokrasi: Serpihan Pemikiran Hukum,
Media dan HAM. Jakarta: Konstitusi Press
Dicey, A.V. 2007. Pengantar Studi Hukum Konstitusi (terj). Bandung: Penerbit Nusamedia.
Ghaffar, Affan. 2004. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Mahfud MD, Moh. Prof. Dr. SH. SU. 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indoensia: Studi
tentang Interaksi Politik dam Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta: Rineka Cipta
Manan, Bagir. Prof. Dr. MCL. SH. 2004. Teori dan Politik Konstitusi. Yogyakarta: FH UII
Press
MPR-RI. 2002. Persandingan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Sekjen MPR-RI
Nurtjahjo, Hendra. 2005. Pengembangan Teori Bernegara dan Suplemen. Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Soemardjan, Selo (ed). 2000. Menuju Tata Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia
Strong, C.F. 2004. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern: Studi Perbandingan tentang Sejarah
dan Bentuk-bentuk Konstitusi Dunia (terj.) Bandung: Penerbit Nuansa dan Nusamedia
Wheare, K.C. 2003. Konstitusi-Konstitusi Modern. Surabaya: Pustaka Evreka
Widjojanto, Bambang, Saldi Isra, Marwan Mas (ed). 2002. Konstitusi Baru Melalui Komisi
Konstitusi Independen. Jakarta: Pustaka Harapan