Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PEDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bahasa adalah suatu elemen penting dalam kehidupan masyarakat yang dipergunakan
sebagai suatu sistem komunikasi baik secara tertulis maupun lisan. Peranannya sangat
berpengaruh dalam interaksi sosial manusia. Namun masyarakat tidak bisa sembarang
menggunakan suatu bahasa agar dapat menciptakan hubungan yang harmonis antar
sesamanya, diperlukan aturan untuk membuat bahasa tersebut dipergunakan dengan baik
dan benar. Dalam pemahaman umum, bahasa Indonesia sudah diketahui sebagai alat
berkomunikasi. Setiap situasi memungkinkan seseorang memilih variasi bahasa yang akan
digunakannya. Berbagai faktor turut menentukan pemilihan tersebut, seperti penulis,
pembaca, pokok pembicaraan, dan sarana.Bahasa Indonesia Banyak digunakan dalam
penulisan karya tulis ilmiah .Seperti penggunaan paragraf, kalimat efektif,dan penalaran
.Dalam penulisan karya ilmiah perlu diketahui penggunaan kalimat efektif,paragraf
dan penalaran yang baik.Tidak dipungkiri dalam penulisan karya tulis ilmiah masih
ditemukan kesalahan dalam penulisan paragraf,kalimat efektif dan penalaran.
Berdasarkan masalah tersebut maka penulis menkaji penggunaan kalimat
efektif,paragraph dan penalaran dalam makalah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


 Apa definisi kalimat efektif,paragraf dan penalaran?
 Bagaimana penggunaan kalimat efektif,paragrf dan penalaran yang baik ?
 Apa penyebab ketidak efektifan kalimat?

1.3 TUJUAN PENULISAN


 Mengidentifikasikan kalimat efektif,paragraf dan penalaran
 Mengidentifikasikan penggunaan kalimat efektif,paragraf dan penalaran yang
baik
 Mengidentifikasikan penyebab ketidakefektifan kalimat
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Penalaran
1.1.1 Definasi Penalaran
Penalaran ialah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data
atau fakta yang ada sehingga sampai pada simpulan.Penalaran juga dapat
diartikan proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis,
berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang
menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses
inilah yang disebut menalar.

1.1.2 Unsur-unsur Penalaran

 Fakta
jumlahnya tak terbatas
perlu diklasifikasi
 Proposisi
Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenaran
maupun kesalahannya
Contoh Proposisi
Sebagian besar mahasiswa Semester I STIKES berasal dari Bali.
Semua mahasiswa yang diterima di STIKES merupakan kelulusan pilihan
Di rumah sakit Sanglah sudah tidak ada algi pasien yang diduga
penderita penyakit flu burung.

1.1.3 PROSES PENALARAN


 Penalaran Induktif

Penalaran yang pengambilan kesimpulan atau keputusan prinsipnya


berdasarkan hal-hal yang bersifat khusus.

Contoh paragraf Induktif:

Pada saat ini remaja lebih menukai tari-tarian dari barat seperti
brigdens, shafel muter, salsa (dan Kripton), free dance dan lain
sebagainya. Begitupula dengan jenis musik umumnya mereka
menyukai rock, blues, jazz, maupun reff tarian dan kesenian
tradisional mulai ditinggalkan dan beralih mengikuti tren barat.
Penerimaan terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai dengan
pelestarian budaya sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-
lahan menggeser kesenian dan budaya tradisional.

 Penalaran Deduktif

Penalaran yang pengambilan kesimpulannya bertolak dari hal-hal yang


bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.

Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan


adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan
gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status
sosial.

1.2 Kalimat Efektif

1.2.1 Definisi Kalimat Efektif


Kalimat efektif ialah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat
sehingga dapat dipahami secara tepat, mudah, jelas, dan lengkap.
1.2.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kalimat efektif
 Keparalelan: terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama
pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.
Contoh:
a. Demikianlah agar ibu maklum, dan atas perhatiannya saya
ucapkan terima kasih. (salah)
b. Demikianlah agar Ibu maklum, dan atas perhatian Ibu, saya
menyampaikan ucapan terima kasih. (benar)
 Ketepatan: kesesuaian/kecocokan pemakaian unsur-unsur yang
membangun suatu kalimat sehingga terbentuk pengertian yang
bulat dan pasti.
contoh:
a. Perawat teladan itu memang tekun bekerja dari pagi sehingga
petang. (salah)
b. Perawat teladan itu memang tekun bekerja dari pagi hingga
petang. (benar)
c. Dia makan air. (salah)
d. Dia minum air. (benar)
 Kecermatan: kalimat tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat
dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesehatan yang terkenal itu menerima
hadiah. (tafsiran ganda: mungkin mhs terkenal atau Stikes
terkenal)
 Kehematan: menghindari pemakaian kata, frasa, atau bentuk lain
yang tidak perlu.
Contoh:
Para hadirin berdiri setelah mereka mengetahui presiden datang.
(salah)
Hadirin berdiri setelah mengetahui presiden datang. (benar)

1.3 Sebab ketidak efektifan kalimat

Kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu dipahami pembaca sesuai


dengan maksud penulisnya. Sebaliknya, kalimat yang sulit dipahami atau salah
terpahami oleh pembacanya termasuk kalimat yang tidak efektif.

Ketidakefektifan kalimat tersebut antara lain disebabkan oleh beberapa hal


sebagai berikut:

1. Kontaminasi, yaitu merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah.

Contoh:

 diperlebar, dilebarkan (benar) – diperlebarkan (salah)


 memperkuat, menguatkan (benar) – memperkuatkan (salah)
 sangat baik, baik sekali (benar) – sangat baik sekali (salah)
 saling memukul, pukul-memukul (benar) – saling pukul-memukul (salah)
 Di sekolah diadakan pentas seni (benar) – Sekolah mengadakan pentas
seni (salah)

2. Pleonasme, yaitu berlebihan atau tumpang tindih.

Contoh:

 para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)


 para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
 banyak siswa-siswa (banyak siswa)
 saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
 agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
 disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3. Tidak memiliki subjek

Contoh:

 Buah mangga mengandung vitamin C. (SPO) (benar)


 Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar)
 Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)

4. Adanya kata depan yang tidak perlu

Contoh:

 Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat. (kata daripada


dihilangkan)
 Kepada siswa kelas VII berkumpul di GOR. (kata kepada dihilangkan)
 Selain daripada bekerja, ia juga kuliah. (kata daripada dihilangkan)

5. Salah nalar

Contoh:

 Waktu dan tempat dipersilahkan. (siapa yang dipersilahkan)


 Vespa Pak Erwin mau dijual. (apakah bisa menolak?)
 Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
 Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
 Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
 Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
 Bola gagal masuk gawang. (ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk
subjek bernyawa)

6. Kesalahan pembentukan kata

Contoh:

 mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan


 menyetop seharusnya menstop
 mensoal seharusnya menyoal
 ilmiawan seharusnya ilmuwan
 sejarawan seharusnya ahli sejarah
7. Pengaruh bahasa asing

Contoh:

 Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (kata rumah


seharusnya tempat)
 Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada
dihilangkan)
 Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah
saya katakan)

8. Pengaruh bahasa daerah

Contoh:

 … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
 … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif
persona)
 Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)

1.3 Paragraf

1.3.1 Definisi Paragraf

Sebuah paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, "menulis di samping" atau


"tertulis di samping") adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide.
Awal paragraf ditandai dengan masuknya ke baris baru. Terkadang baris pertama
dimasukkan; kadang-kadang dimasukkan tanpa memulai baris baru. Sebuah
paragraf biasanya terdiri dari pikiran, gagasan, atau ide pokok yang dibantu
dengan kalimat pendukung. Paragraf non-fiksi biasanya dimulai dengan umum
dan bergerak lebih spesifik sehingga dapat memunculkan argumen atau sudut
pandang. Setiap paragraf berawal dari apa yang datang sebelumnya dan berhenti
untuk dilanjutkan. Paragraf umumnya terdiri dari tiga hingga tujuh kalimat
semuanya tergabung dalam pernyataan berparagraf tunggal.Paragraf ialah sebuah
wacana mini atau satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil
penggabungan beberapa kalimat, artinya setiap unsur pada karangan panjang ada
pada paragraf.
1.3.2 Jenis-jenis Paragraf:

1.3.2.1 Jenis Paragraf Berdasarkan letak kalimat topik

1) Paragraf deduksi: kalimat topik di awal paragraf pada umumnya berisi


pikiran utama yang bersifat umum. Kalimat selanjutnya berisi pikiran
penjelas yang bersifat khusus.
2) Paragraf induksi: kalimat topik berada di akhir paragraf sedangkan kalimat
penjelas mengawali paragraf.
3) Paragraf kombinasi: kalimat topik di awal dan di akhir paragraph
4) Paragraf penuh: paragraf penuh dengan kalimat topik.

1.3.2.2 Jenis Paragraf Menurut Sifat Isinya/ Bentuk Pengembangannya


1) Paragraf argumentasi: paragraf yang berisi gagasan, pikiran, atau pendapat
dengan membahas suatu masalah yang bertujuan untuk mempengaruhi
pembaca atau meyakinkan pihak lain dengan argumen-argumen yang
disajikan secara logis dan objektif.
2) Paragraf persuasi: isinya berupa ajakan yang mempromosikan sesuatu dengan
cara mempengaruhi atau mengajak pembaca.
3) Paragraf deskripsi: melukiskan atau menggambarkan sesuatu dengan bahasa
tentang suatu hal atau peristiwa secara objektif dengan harapan pembaca
seolah-olah melihat keadaan dan peristiwa tersebut secara langsung.
4) Paragraf eksposisi: memaparkan suatu fakta atau kejadian tertentu yang berisi
paparan pikiran atau pendapat dengan harapan dapat memperluas wawasan
atau pengetahuan dan pandangan orang lain.
5) Paragraf narasi: menuturkan rangkaian peristiwa atau keadaan yang dikaitkan
dengan kurun waktu tertentu dalam bentuk penceritaan.

1.3.3 Syarat-Syarat Paragraf

Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan, yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan
paragraf.
a) Kesatuan Paragraf
Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran. Oleh sebab itu, kalimat-
kalimat yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat
yang menyimpang dari ide pokok paragraf itu. Kalau ada kalimat yang menyimpang dari pokok
pikiran paragraf itu,paragraf menjadi tidak berpautan, tidak utuh. Kalimat yang menyimpang itu
harus dikeluarkan dariparagraf. Perhatikan paragraf di bawah ini.Jateng sukses, Kata-kata ini
meluncur gembira dari pelatih regu Jateng setelah selesai pertandinganfinal Kejurnas
TinjuAmatir, Minggu malam, di Gedung Olahraga Jateng, Semarang. KotaSemarang terdapat di
pantai utara Pulau Jawa, ibu kota Propinsi Jateng. Pernyataan itu dianggap wajar karena yang
diimpi-impikan selama ini dapat terwujud, yaitu satu medali emas, satu medali perak, dan satu
medali perunggu. Hal itu ditambah lagi oleh pilihan petinju terbaik yang jatuh ketangan Jateng.
Hasil yang diperoleh itu adalah prestasi paling tinggi yang pemah diraih oleh Jateng dalam arena
seperti itu.Dalam paragraf itu kalimat ketiga tidak menunjukkan keutuhan paragraf. Oleh sebab
itu, kalimat tersebut harus dikeluarkan dari paragraf.
b) Kepaduan Paragraf
Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyusunan secara logis dan melalui ungkapan-
ungkapan(kata-kata) pengait kalimat. Urutan yang logis akan terlihat dalam susunan kalimat-
kalimat dalam paragraf itu. Dalam paragraf itu tidak ada kalimat yang sumbang atau keluar dari
permasalahanyang dibicarakan
Pengait Paragraf Agar paragraf menjadi padu digunakan pengait paragraf, berupa :
1) Ungkapan penghubung transisi, 2) Kata ganti, atau 3) Kata kunci (pengulangan kata yang
dipentingkan).Ungkapan pengait antar kalimat dapat berupa penghubung/transisi.
Beberapa Kata Transisi
1. Hubungan tambahan :
lebih lagi, selanjutnya, tambah pula, di samping itu, lalu,berikutnya,demikian pula, begitu juga,
di samping itu, lagi pula.
2. Hubungan pertentangan :
akan tetapi, namun, bagaimanapun, walaupundemikian,sebaliknya, meskipun begitu, lain halnya.
3. Hubungan perbandingan :
sama dengan itu, dalam hal yang demikian, sehubungandengan.Itu.
4. Hubungan akibat:
oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh karena itu, maka, oleh seba itu
5. Hubungan tujua:
untuk itu, untuk maksud itu
6. Hubungan singkatan :
singkatnya, pendeknya, akhirnya, pada umumnya, dengan katalain,Sebagai simpulan.
7. Hubungan waktu :
sementara itu, segera setelah itu, beberapa saat kemudian
8. Hubungan tempat :
berdekatan dengan itu Paragraf di bawah ini memperlihatkan pemakaian ungkapan pengait
antarkalimat yang berupa ungkapan penghubung transisi.Belum ada isyarat jelas bahwa
masyarakat sudah menarik tabungan deposito mereka. Sementara itu, bursa efek Indonesia mulai
goncang dalam menampung serbuan para pemburu saham.Pemilik-pemilik uang berusaha meraih
sebanyak-banyaknya saham yang dijual di bursa. Olehkarena itu, bursa efek berusaha
menampung minat pemilik uang yang menggebu-gebu.Akibatnya, indeks harga saham gabungan
(IHSG) dalam tempo cepat melampaui angka 100persen. Bahkan, kemarin IHSG itu meloncat ke
tingkat 101,828 persen,Dengan dipasangnya pengait antarkalimat sementara itu, oleh karena itu,
akibatnya, dan bahkan dalam paragraf tersebut, kepaduan paragraf terasa sekali, serta urutan
kalimat-kalimat dalam paragraf itu logis dan kompak.
Daftar Pustaka
 https://www.scribd.com/doc/52883371/Makalah-Paragraf-Bahasa-Indonesia
 http://harrysprincenata.wordpress.com/2010/12/20/penggunaan-kalimat-efektif-dalam-
penulisan-karya-ilmiah/
 http://utohadalimunthe.wordpress.com/2013/01/15/-kalimat-efektif/
MAKALAH BAHASA INDONESIA KALIMAT
EFEKTIF,PARAGRAF,PENALARAN

OLEH : KELOMPOK 4
NAMA KELOMPOK : NI AYU PARWATI

NI LUH YONI SRI ANTARI

I GEDE ARTHA DIANA

SRI BINTARI

NI KADEK ENY APRIANI

I KADEK APRY TISMAYANA

PUTU ADITYA MAHARDIKA

NI PUTU NOVI SUMARLENI

KELAS : A8-A

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES)

WIRA MEDIKA PPNI BALI