Anda di halaman 1dari 9

BAB II

METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat-alat yang digunakan


Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
1. Kolom adsorpsi
2. Ayakan plastik
3. Gelas ukur
4. Gelas piala
5. Corong
6. Labu ukur
7. Timbangan analitik
8. Corong pisah
9. Pipet tetes
10. Batang pengaduk
11. Statif dan Klem

2.2 Bahan-bahan yang digunakan


Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
1. Larutan Cu+2 sebagai limbah cair
2. Lempung
3. Aquadest
4. Kertas saring
5. Kapas

2.3 Prosedur Percobaan


2.3.1 Persiapan Sampel
1. Larutan Cu2+ 1000 ppm dibuat dengan cara melarutkan padatan Cu(NO3)2.3H2O
sebanyak 3,8 gram (sesuai dengan lampiran B) didalam gelas kimia kemudian
dimasukan kedalam labu ukur 1000 ml lalu ditambah dengan aquades sampai
tanda batas lalu di kocok hingga homogen.
2. Pembuatan larutan Cu2+ 100 ppm dilakukan dengan cara pengenceran dari larutan
Cu2+ 1000 ppm. Diambil 50 ml larutan Cu2+ 1000 ppm (sesuai lampiran B) lalu
dimasukkan kedalam labu ukur 500 ml dan ditambahkan aquades sampai pada
tanda batas kemudian dikocok hingga homogen.
1.3.2 Persiapan Adsorben
1. Lempung digerus menggunakan lumpang, lalu diayak dengan ayakan plastik
sampai ukurannya seragam.
2. Adsorben dicuci dengan aquadest berulang kali sampai pH air pencuci netral
3. Lempung dikeringkan dalam oven pada suhu 110oC sampai kering.
4. Lempung digerus lagi dengan menggunakan lumpang, kemudian ayak dengan
ayakan plastik sampai ukurannya seragam.
5. Adsorben disimpan dalam wadah plastik.

1.3.3 Proses Adsorpsi Limbah Cair secara Kontinu


1. Adsorben lempung dimasukkan kedalam kolom yang bagian bawahnya telah
ditutup dengan kapas. Variasi tinggi unggun yaitu 1 cm dan 2 cm.
2. Sampel dialirkan dari corong pisah kedalam kolom. Keluaran kolom ditampung
± 50 ml dalam gelas kimia.
3. Keluaran kolom dianalisa, dilakukan dengan menggunakan AAS. Absorbansi
masing-masing sampel dicatat.
2.3.4 Rangkaian Alat

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Percobaan


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Percobaan pengolahan limbah B3 dilakukan dengan memvariasikan tinggi
unggun yaitu 1 cm dan 2 cm. Data hasil percobaan disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Data hasil percobaan pada berbagai variasi tinggi unggun
Tinggi Unggun Absorbansi Konsentrasi (ppm)
Lempung (cm)
1 0,0050 0,165
2 0,0002 0,06

3.2 Pembahasan
Tahapan pertama pada percobaan ini dimulai dengan persiapan adsorben dari
lempung. Lempung yang digunakan pada praktikum ini yaitu yang berukuran halus.
Proses pertama yaitu mencuci lempung dengan menggunakan air. Tujuan dari proses
pencucian tersebut yaitu agar lempung yang digunakan benar-benar terbebas dari
senyawa-senyawa lain yang terkandung di dalam lempung tersebut yang mana dapat
mempengaruhi konsentrasi keluaran kolom nantinya. Proses selanjutnya yaitu
menjemur lempung yang telah dicuci dibawah sinar matahari. Penjemuran ini bertujuan
untuk menghilangkan kadar air yang terkandung di dalam lempung sehingga
mempermudah proses selanjutnya. Disamping itu, penjemuran ini juga bertujuan untuk
menjadikan lempung menjadi kering dan ini akan menyebabkan celah lempung terbuka
sehingga proses penyerapan akan lebih baik. Setelah kering, lempung kemudian
digerus untuk menyeragamkan ukurannya.
Dalam percobaan ini sampel yang digunakan yaitu Cu2+. Penentuan kurva
kalibrasi dilakukan dengan menguji absorbansi larutan pada berbagai variasi
konsentrasi larutan standar (1, 3, 5, 7 dan 9 ppm) dengan menggunakan alat AAS
(Atomic Absorption Spectroscopy). Larutan standar yaitu larutan yang konsentrasinya
telah diketahui secara pasti. Selanjutnya dilakukan pengukuran absorbansi kepada
semua larutan standar tersebut. Absorbansi yang telah diukur kemudian dicatat dan
dibuat grafik absorbansi vs konsentrasi sehingga diperoleh suatu kurva yang disebut
kurva kalibrasi. Berdasarkan hasil penentuan kurva kalibrasi, didapat absorbansi
masing-masing larutan standar seperti yang disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Absorbansi pada berbagai konsentrasi larutan standar
Konsentrasi
0 1 3 5 7 9
(ppm)
Absorbansi 0,0009 0,0424 0,1326 0,2294 0,3133 0,4166
Berdasarkan Tabel 3.2 dapat dibuat kurva kalibrasi yang merupakan hubungan
antara konsentrasi larutan standar terhadap absorbansi, seperti yang disajikan pada
Gambar 3.1.
0.5

0.4

0.3
(Abs)

y = 0.046x - 0.0026
0.2
R² = 0.9993
0.1

0
0 2 4 6 8 10
-0.1
Konsentrasi (ppm)

Gambar 3.1 Kurva hubungan antara larutan standar dan absorbansi

Berdasarkan Gambar 3.1 diperoleh kurva standar dan persaman linear yaitu
y = 0,046x - 0,0026, yang merupakan acuan untuk menghitung konsentrasi dari Cu+2
jika absorbansi diketahui. Filtrat yang telah tertampung dilakukan pengujian pada alat
AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) untuk mengetahui nilai absorbansi. Setelah
absorbansi diperoleh, nilai absorbansi tersebut dapat digunakan untuk menghitung
konsentrasi dari filtrat yang tertampung menggunakan persamaan linear dari kurva
standart. Konsentrasi filtrat yang diperoleh pada masing-masing tinggi unggun dapat
dilihat pada Tabel 3.1. Dari Tabel 3.1 dapat dilihat bahwa semakin besar tinggi unggun
maka semakin kecil nilai konsentrasi yang didapat. Hal ini dikarenakan pada tinggi
unggun 2 cm menggunakan lempung yang lebih banyak dari pada tinggi unggun 1 cm
sehingga lebih banyak Cu+2 yang terserap oleh lempung sehingga konsentrasi Cu+2
semakin kecil. Berikut adalah grafik hubungan antara tinggi unggun dengan konsetasi
yang disajikan pada Gambar 3.2
0.18 0.165
0.16
0.14
Konsentrasi (ppm)

0.12
0.1
0.08 0.06
0.06
0.04
0.02
0
1 2
Tinggi Unggun (cm)

Gambar 3.2 Pengaruh tinggi unggun dengan konsentrasi

Dari Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa semakin besar tinggi unggun maka
semakin kecil konsentrasi yang didapat. Konsentrasi dari filtrat yang tertampung dapat
dihitung menggunakan persamaan linear dari kurva standart. Konsentrasi filtrat yang
diperoleh pada masing-masing tinggi unggun adalah 0,165 ppm pada tinggi unggun
1 cm dan 0,06 ppm pada tinggi 2 cm.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

1. Dari percobaan didapat konsentrasi filtrate Cu+2 yang didapat pada tinggi
unggun 1 cm dan 2 cm ialah berturut-turut 0,165 ppm dan 0,06 ppm.

2. Semakin besar tinggi unggun maka semakin kecil nilai konsentrasi yang
didapat.

4.2 Saran

1. Larutan standar harus dibuat seteliti mungkin. Kesalahan dalam pembuatan


larutan standar akan menyebabkan terjadinya kegagalan dalam penentuan
kurva kalibrasi.

2. Jangan terlalu lama membiarkan air tampungan yang berada digelas dengan
tidak dilakukan proses penentuan konsentrasi secepatnya, hal ini bias
mempengaruhi hasil dari konsentrasi.
LAMPIRAN A

PERHITUNGAN

A. Persiapan Larutan
1). Pembuatan larutan induk Cu2+ 1000 ppm

Pembuatan larutan induk Cu2+ 1000 ppm dengan rumus sebagai berikut:
𝑀𝑟 Cu(NO3)2.3H2O
Konsentrasi Cu(NO3)2.3H2O = 𝑥 1000 𝑚𝑔/𝐿
𝐴𝑟 𝐶𝑢
241,6 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙
= 1000 𝑚𝑔/𝐿
63,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙

= 3800 mg/L

=3,8 g/L

Maka untuk membuat larutan induk Cu2+ 1000 ppm, dilarutkan Cu(NO3)2.3H2O
sebanyak 3,8 gram dengan aquadest hingga 1000 mL

2). Pengenceran Larutan Cu2+


Pembuatan larutan Cu2+ 100 ppm sebanyak 500 mL sebagai berikut:

V1. N1 = V2. N2

V1. 1000 ppm = 250 mL. 100 ppm

V1 = 25 mL

Maka untuk membuat larutan Cu2+ 100 ppm sebanyak 250 mL, 25 mL larutan Cu2+
1000 ppm diencerkan di labu ukur 250 mL.

B. Penentuan Konsentrasi Filtrat Cu2+ pada Setiap Tinggi Unggun Lempung


1 cm dan 2 cm
Bersumber dari kurva standart didapatkan persamaan linear perbandingan
antara konsentrasi Cu2+ dengan absorbansi, yaitu y = 0,046x – 0,0026
1). Konsentrasi Filtrat Cu2+ pada Tinggi Lempung 1 cm

Absorbansi (y) : 0,0050

Konsentrasi (x): y = 0,046x - 0,0026

0,0050 = 0,046x - 0,0026

x = 0,165

Maka besar konsentrasi filtrat Cu2+ dari tinggi unggun 1 cm adalah 0,165 ppm.

2). Konsentrasi Filtrat Cu2+ pada Tinggi Lempung 2 cm

Absorbansi (y) : 0,0002

Konsentrasi (x): y = 0,046x - 0,0026

0,0002 = 0,046x - 0,0026

x = 0,06

Maka besar konsentrasi filtrat Cu2+ dari tinggi unggun 2 cm adalah 0,06 ppm.