Anda di halaman 1dari 22

LBM 3 “Anakku kok gemuk”

HORMON METABOLISME

SGD 11
MODUL HORMON DAN METABOLISME
1. Ade Chandra Multazam 30101306850
2. Alin Wahyu Utami 30101306862
3. Annisa Nurul Khakimah 30101306876
4. Aviv Azalia Nurchumaeroh 30101306887
5. Durriah Dayana 30101306923
6. Fatchan Nurfahmi 012065183
7. Liana Indri Shantika 30101306974
8. Muamar Aulia Gadafi 30101306998
9. Muhamad Faishal Rizki 30101307001
10. Ovita Mutiakanza 30101307036
11. Zaky Davidia Rivaldi 30101307105
12. Zuni Aqii Musholah AM 012106304
SGD 11 LBM 3

MODUL HORMON DAN METABOLISME

STEP 1

1. Overwight: kelebihan berat badan.

STEP 2

1. Hubungan aktivitas anak dengan berat badan ?


2. Hubungan kebiasaan ngemil dengan berat badan ?
3. Bagaimana cara pemantauan gizi pada si anak ?
4. Apa kasus yang terjadi pada skenario ?
5. Bagaimana penanganan pada kasus tersebut ?
6. Bagaimana ukuran gizi yang baik untuk anak umur 5 tahun ?
7. Klasifikasi obesitas ?
8. Apakah normal pada anak umur 5 tahun BB:32Kg, TB:110 ?
9. Apa saja komplikasi yang terjadi akibat overwight ?
10. Apa homon yang mempengaruhi dari kasus ?
11. Apa yang menyebabkan terjadinya overwight dari kasus tersebut ?
12.Mengapa jajanan manis dapat mempengaruhi dari overwight ?
bagaimana metabolismenya ?
13.Manifestasi klinis yang akan timbul pada kasus ?

STEP 3

1. Hubungan aktivitas anak dengan berat badan ?


 Anak tidak mau beraktivitas  terjadi penumpukan lemak  lemak
tidak bisa dipecah  overwight.
Obesitas dan overwight ??
Overwight dulu baru obesitas
 Aktivitas kurang  kh disimpan jadi glikogen
Disimpan di rongga peritoneal
 Kenapa sering disimpan di subkutan paha dan pantat ?
Karena lebih elastis,
2. Hubungan kebiasaan ngemil dengan berat badan ?
Udah makan karbohidrat ditambahin ngemil = melebihi kalori normal.
Sindrom couchpotato: suka ngemil sambil nonton TV (kebiasaan ?)
Jaringan lemak ? jaringan adiposa=tempat penyimpanan lemak
Sel lemak ?
3. Bagaimana cara pemantauan gizi pada si anak ?
Dengan KMS (isinya banyak, salah satunya status gizi) cari antropometri!
4. Apa kasus yang terjadi pada skenario ?
Obesitas: dihitung dari BMI. BB/TB(m)2
WHO
Underweight: <18,5
Normal: 18,5-24,9
overweight: >25
praobes: 25-29,9 (kasus skenario)
Obes 1: 30-34,9
Obes 2: 35-39,9
Obes 3: >40
5. Bagaimana penanganan pada kasus tersebut ?
1. Edukasi (pemantauan gizi)
2. OR yang teratur
3. Pemantauan diet
4. Merubah pola hidup anak
Terapi farmakologis (pada anak tidak boleh)
Sedot lemak ? bahaya.
Grafik
6. Bagaimana ukuran gizi yang baik untuk anak umur 5 tahun ?
7. Klasifikasi obesitas ?
Berdasarkan etiologi
 Obes primer: asupan berlebih
 Obes sekunder: karna penyakit

Berdasarkan patologis

 Regulatory obes: dari proses pengaturannya


 Obesitas metabolik: dari metaboliknya

Berdasarkan kelbihan lemak;

 Mild: BB 20-30% diatas berat ideal


 Moderet: 30-60%
 Morbid: >60% (resiko megalami gagal jantung, kematian mendadak, )

Berdasarkan letak

 Sentral: daerah tertentu (perut saja)


 Perifer: diseluruh tubuh

Berdasarkan keadaan sel

 Obesitas

Perbandingan lingkar perut dan lingkar paha & resiko ?


Lingkar perut laki-laki: 90 Wanita: 80

8. Apa saja komplikasi yang terjadi akibat overwight ?


 Faktor resiko penyakit cardiovaskuler, DM,
 obstruktif sleep apneu:
- gejala mengorok. Karena jaringan lemak didada mengganggu
pergerakan dinding dada.
- Lidahnya kebelakang jadi nafasnya tersumbat. Bisa kebelakang
karena ada atrofi.
- Tonsil membesarsaluran nafas menyempitbisa menyebabkan
ngorok.

Obesitas sentral lebih baik dari obesitas perifer??

9. Apa hormon yang mempengaruhi dari kasus ?


a. Hormon grelin: menaikkan nafsu makan
b. Leptin: menurunkan nafsu makan
c. Kolesistokinin: menormalkan kembali berat badan yang naik
Peranan dan cara kerja ?

Tidak normal / obesitas: defek reseptor leptin (yang menyebabkan kerusakan


adalah FFA) leptin numpuk didarahtidak dimanfaatkan

Normal: Leptin menekan nafsu makan

10. Apa yang menyebabkan terjadinya overweight dari kasus tersebut ?


Pola makan: antara yang dimakan dengan gerak fisik tidak seimbang.
Herediter
Gangguan hormonal: disebabkan endokrin. Cth: sindrom cushing
 Genetik
 Psikis: emosi naikbanyak makanpola makan abnormalobes

Bedanya OR siang dan malam ? hormon ?

11.Mengapa jajanan manis dapat mempengaruhi dari overweight ?


bagaimana metabolismenya ? mengalami gangguan atau tidak ?

Manis mengandung banyak karbohidratglukosa dirubah jadi


glikogen disimpan di hati, otot,adiposa.  makin banyak adi
overweight

STEP 4
Life style

Metabolisme
terganggu

Penumpukan lemak
di jaringan adiposa

Obesitas
anak

primer sekunder

edukasi
Step 7

1. Hubungan aktivitas anak dengan berat badan ?


Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari
meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur.
Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang
cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik
yang seimbang, akan mengalami obesitas.

Fisiologi kedokteran guyton & hall

2. Hubungan kebiasaan ngemil dengan berat badan ?

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21087/4/Chapter%20II.pdf
Jaringan lemak ? jaringan adiposa=tempat penyimpanan lemak
Sel lemak ?
Jaringan adiposa (lemak) adalah jenis jaringan ikat khusus yang terutama
terdiri atas sel-sel lemak atau adiposit. Sel-sel ini dapat tersebar sendiri
ataupun berkelompk didalam jarigan ikat iregular atau longgar. Karena
terdapat di banyak area tubuh pada pria dengan BB normal memliki
jaringan adiposa 15-20% pada wanita 20-25% dari BB.
Histologi Dasar Junqueira. Anthony L. Mescher. Jakarta:2011. EGC

3. Bagaimana cara pemantauan gizi pada si anak ?


Dengan KMS (isinya banyak, salah satunya status gizi) cari antropometri!
4. Apa kasus yang terjadi pada skenario ?
Diketahui BB : 32kg dan TB :110cm
Obesitas : dihitung dari BMI anak yaitu 32 ÷ (1,10)2 = 26,4462
5. Bagaimana penanganan pada kasus tersebut ?
Tatalaksana Obesitas Pada Anak

Mengingat penyebab obesitas bersifat multifaktor, maka penatalaksanaan obesitas


seharusnya dilaksanakan secara multidisiplin dengan mengikut sertakan keluarga dalam
proses terapi obesitas. Prinsip dari tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi
serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas
fisik, dan mengubah / modifikasi pola hidup.

1. Menetapkan target penurunan berat badan

Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak, yaitu usia 2 - 7
tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi.
Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup
dengan mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi pada anak
usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk menurunkan
berat badan. Target penurunan berat badan sebesar 2,5 - 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 -
2 kg per bulan.
2. Pengaturan diet

Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan
RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi diet
harus disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta.
Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori
dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97
persentile) dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat
rendah (very low calorie diet ).
Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang
Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak
jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg per hari.
Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan penghitungan dosis
menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5) gram per hari.

3. Pengaturan aktifitas fisik


Peningkatan aktifitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme. Latihan
fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik
dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan
ketrampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk
melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per hari.

4. Mengubah pola hidup/perilaku


Untuk perubahan perilaku ini diperlukan peran serta orang tua sebagai komponen
intervensi,
dengan cara:
Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas fisik serta
mencatat perkembangannya.
Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat menyingkirkan
rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk makan.
Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang
dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
Memberikan penghargaan dan hukuman.
Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada umumnya
lezat dan memilih makanan berkalori rendah.

5. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru.

Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli
gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah
perilaku makan dan aktifitas yang mendukung program diet.

PENATA PELAKSANAAN
Tujuan pengobatan obesitas pada anak berbeda dengan pengobatan obesitas
dewasa, karena tujuannya hanya menghambat laju kenaikan berat badan yang pesat tersebut
dan tidak boleh diet terlalu ketat. Sehingga pengaturan dietnya harus dipertimbangkan bahwa
anak masih dalam masa pertumbuhan sesuai tinggat pertumbuhan pada usia anak tersebut.
Disamping itu pengobatan obesitas pada anak sering gagal, kecuali mendapat dukungan dari
seluruh keluarga. Olahraga atau aktifitas tubuh yang teratur sangat penting dalam upaya
penata laksanaan obesitas pada anak ini.
Pada prinsipnya pengobatan anak dengan obesitas adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki factor penyebab, misalnya kesalahan cara pengasuhan maupun factor
kejiwaan.
2. Motivasi penderita obesitas dewasa tentang perlunya penggusauran badan. Sedangakan
orang tua bayi atau anak yang obesitas harus dimotivasi tentang pentingnya memperlambat
kenaikan berat badan bayi atau anaknya.
3. Pemberian diet rendah kalori seimbang untuk menghambat kenaikan berat badan kemudian
membimbing pengaturan makanan yang sesuai untuk mempertahankan gizi yang ideal sesuai
dengan pertumbuhan anak. Ditambahkan pula vitamin dan mineral.
Mengajukan penderita untuk olahraga yang teratur atau anak bermain secara aktif, sehingga
banyak energy yang banyak digunakan.
Baik terapi diet maupun pisiko terapi harus diberikan pada seluruh keluarga. Sehingga
seluruh keluarga seolah-olah turut serta dalam usaha pencapaian berat badan tersebut.

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/120/jtptunimus-gdl-wahyusarig-5984-2-babii.pdf

6. Bagaimana ukuran gizi yang baik untuk anak umur 5 tahun ?

Penatalaksanaan Obesitas Anak


Menetapkan target penurunan berat badan

Yaitu berdasarkan umur anak: usia 2 – 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas
dan ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa
komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup dengan
mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi pada anak
usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk
menurunkan berat badan. Target penurunan berat badan sebesar 2,5 – 5 kg atau
dengan kecepatan 0,5 – 2 kg per bulan.5

 Pengaturan diet
Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan
RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pada
obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah
kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat
(IMT lebih dari 97 persentile) dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet
dengan kalori sangat rendah (very lowcalorie diet).

Hal yang perlu diperhatikan:


 Tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
 Diet dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-
30% dengan lemak jenuh kurang dari 10% dan protein
15-20% energi total serta kolesterol kurang dari 300 mg
per hari.
 Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia lebih dari 2
tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus:
(umur dalam tahun + 5) gram per hari.
 Pengaturan aktivitas fisik
Peningkatan aktivitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme.
Latihan fisik disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik
dan umurnya. Aktivitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang
menggunakan ketrampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam.
Dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama 20-30 menit per hari.
 Mengubah pola hidup/perilaku
Pada anak, diperlukan bantu peran serta orang tua sebagai komponen intervensi,
yaitu:

 Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan


makanan dan aktivitas fisik serta mencatat
perkembangannya.
 Mengontrol rangsangan untuk makan.
 Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan
jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi
makanan camilan.
 Memberikan penghargaan dan hukuman.
 Pengendalian diri, dengan menghindari makanan
berkalori tinggi yang pada umumnya lezat dan memilih
makanan berkalori rendah. 5
 Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan
guru.
Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli
gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam program diet,
mengubah perilaku makan dan aktivitas yang mendukung program diet.

http://www.medicinesia.com/kedokteran-klinis/obat/penatalaksanaan-obesitas/
7. Klasifikasi obesitas ?
Obesitas dapat dibagi menjadi beberapa derajat berdasarkan persen kelebihan lemak
(Misnadiarly, 2007). Antara lain :
a. Mild obesity
dikatakan mild obesity bila berat badan individu antara 20-30% di atas berat badan
ideal.
b. Moderate obesity
Apabila berat badan individu antara 30-60% di atas berat badan ideal.
c. Morbid
Penderita-penderita obesitas yang berat badannya 60% atau lebih di atas berat badan
ideal. Pada derajat ini risiko mengalami gangguan respirasi, gagal jantung, dan kematian
mendadak meningkat dengan tajam

Berdasarkan etiologinya obesitas di bagi menjadi 2 :

 Obesitas primer disebabkan faktor nutrisi dengn berbagai faktor yang dapat mempengarui
masukan makanan, yaitu masukan makanan berlebih dibandingkan dengan kebutuhan
energi yang diperlukan tubuh

 Obesitas sekunder disebabkan oleh adanya penyakit / kelainan kongenital


(mielodisplasia), endokrin(sindrom Chusing, sindrom Freulich, sindrom Mauriac,
Pseudoparatiroidisme) / kondisi lain ( sindrom Klinefer, sindrom Turner, Sindrom Down,
dll)
 Kopelman PG, Caterson ID, Dietz WH. Clinical obesity in adults and children 3rd ed.
UK: Blackwell Publishing, 2010.
 Obesitas primer:
disebabkan oleh factor nutrisi, dan berbagai factor yg mempengaruhi masukan makanan.
 Obesitas sekunder:
disebabkan karena kelainan congenital (sperti: syndrome kleinefelter, turner,down)
 Obesitas psikogenik :
karena kebiasaan makan 3 x sehari dan tiap makan harus penuh
 Obesitas neurogenik :
keadaan makan yang berlebihan dan menjadi gemuk menyebabkan kelebihan produksi insulin,
dimana menyebabkan penyimpanan lemak
 Obesitas karena faktor genetik :
gen dapat mengatur tingkat makanan dengan berbagai cara, yaitu
- kelainan genetik pusat makan untuk mengatur tingkat penyimpanan energi tinggi atau rendah
- kelainan faktor psikis secara herediter, baik untuk meningkatkan nafsu makan atau
menyebabkan orang tersebut makan sebagai mekanisme “pelepasan”.
 Obesitas karena kelebihan nutrisi pada masa kanak kanaklaju pembentukan sel lemak baru
terutama cepat pada beberapa tahun pertama kehidupan, dan semakin lama besar laju
penyimpanan lemak semakin besar pula jumlah sel lemak.
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Guyton & Hall, 1997, Hal. 1116 – 1117

Perbandingan lingkar perut dan lingkar paha & resiko ?


Lingkar perut laki-laki: 90 Wanita: 80

Klasifikasi Obesitas

1. Tipe obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh

 Obesitas tubuh bagian atas (upper body obesity)


Kegemukan tipe ini ditandai dengan penumpukan lemak yang berlebihan di bagian tubuh
sebelah atas, yaitu di sekitar dada, pundak, leher, dan muka hingga menyerupai buah apel.
Kegemukan tipe ini lebih banyak terjadi pada pria dan wanita yang sudah mengalami
menopouse. Lemak jenuh yang mengandung sel-sel besar banyak menumpuk pada tipe
android. Keadaan ini sejalan dengan penelitian Vague, peneliti dari Perancis, yang
mengemukakan bahwa tipe android ini potensial berisiko lebih tinggi terhadap serangan
penyakit yang berhubungan dengan metabolisme lemak dan glukosa seperti penyakit
gula, jantung koroner, stroke, pendarahan otak, dan tekanan darah tinggi. Selain itu,
kemungkinan untuk terserang kanker payudara enam kali lebih besar dibandingkan
dengan mereka yang mempunyai berat tubuh normal. Namun, penderita kegemukan tipe
ini masih memiliki segi yang menguntungkan, yaitu lebih mudah menurunkan berat tubuh
dibanding tipe ginoid. Proses penurunan tersebut dapat terlihat nyata bila diikuti dengan
diet dan olahraga yang tepat. Melihat hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
seorang pria kurus dengan perut gendut lebih berisiko dibandingkan dengan pria yang
lebih gemuk dengan perut lebih kecil. Obesitas abnominal (tubuh bagian atas) biasanya
terjadi pada pria. Hal ini tampak dari perut yang membuncit dan celana berada di bawah
pinggang. Obesitas abnominal sangat berbahaya karena di perut terletak organ-organ
tubuh sehingga lemak ikut dalam proses metabolisme.
 Obesitas tubuh bagian bawah (lower body obesity)
Tipe obesitas ini lebih banyak terjadi pada wanita sehingga sering disebut “gynoid
obesity”. Tipe obesitas ini berhubungan erat dengan gangguan menstruasi pada wanita.
Gemuk tipe ginoid ditandai dengan penimbunan lemak di bagian tubuh sebelah bawah,
yaitu sekitar perut, pinggul, paha, dan pantat. Kegemukan tipe ini banyak terjadi pada
wanita. Lemak penyebab kegemukan ini terdiri atas lemak tidak jenuh serta sel lemak
kecil dan lembek. Lemak dinyatakan tidak jenuh bila rantai karbon penyusun lemak
tersebut mempunyai ikatan rangkap. Dari segi kesehatan tipe ini lebih aman bila
dibandingkan dengan tipe android karena risiko kemungkinan terkena penyakit
degeneratif lebih kecil. Akan tetapi, lebih sukar menurunkan kelebihan berat tubuh pada
tipe ini karena lemak-lemak tersebut lebih sukar mengalami proses metabolisme.

2. Kegemukan menurut kondisi sel

Selain faktor distribusi lemak dalam tubuh, tipe kegemukan dapat dibedakan berdasarkan
kondisi sel pada setiap orang. Berdasarkan kondisi sel, kegemukan dapat dibagi menjadi
tiga tipe sebagai berikut.
 Tipe hiperlastik
Tipe hiperlastik merupakan kegemukan yang disebabkan oleh jumlah sel lemak lebih
banyak dibandingkan dengan kondisi normal. Akan tetapi, ukuran sel lemak tersebut
masih sesuai dengan ukuran sel yang normal. Kegemukan tipe hiperlastik biasanya terjadi
sejak masa anak-anak dan sulit untuk diturunkan ke berat badan normal. Bila terjadi
penurunan berat tubuh sifatnya hanya sementara dan kondisi tubuh akan mudah kembali
ke keadaan semula.

 Tipe hipertropik
Kegemukan yang termasuk dalam tipe ini mempunyai jumlah sel yang normal, tetapi
ukuran sel lebih besar dari ukuran normal. Kegemukan ini biasanya terjadi pada orang
dewasa dan relatif lebih mudah menurunkan berat tubuh dibanding tipe hiperlastik.
Namun, kegemukan tipe ini mempunyai risiko lebih mudah terserang penyakit gula dan
tekanan darah tinggi.

 Tipe hiperlastik-hipertropik
Pada kegemukan tipe ini jumlah maupun ukuran sel yang terdapat pada tubuh seseorang
melebihi ukuran normal. Proses kegemukan dimulai sejak masa anak-anak dan
berlangsung terus hingga dewasa. Mereka yang mengalami kegemukan tipe ini paling
sukar menurunkan berat tubuh. Dengan demikian, seseorang dengan tipe kegemukan
seperti ini paling mudah terserang berbagai penyakit degeneratif.

3. Kegemukan menurut umur


Kondisi gemuk tidak memandang umur seseorang, mulai dari bayi hingga tua dapat
mengalami kegemukan. Berdasarkan hal tersebut, penggolongan kegemukan dapat
dilakukan berdasarkan umur seseorang.
 Kegemukan saat bayi
Kegemukan pada masa bayi disebabkan kurangnya pengetahuan orang tua, terutama
tentang kebutuhan konsumsi makanan. Pihak orang tua harus paham benar akan waktu
dan menu yang tepat untuk memberi makan terhadap bayinya. Seorang bayi yang
menangis belum tentu merasa lapar, mungkin merasa sakit pada bagian tubuh tertentu
atau pakaiannya basah. Oleh karena itu, kurang tepat bila setiap bayi menangis selalu
diberi makan.
Kegemukan pada masa bayi perlu dihindari karena jumlah bayi yang menderita
kegemukan pada umur enam bulan pertama ternyata lebih dari sepertiganya menjadi
gemuk pada saat dewasa. Saat bayi berumur sampai dua tahun merupakan saat paling
mudah menimbun lemak. Namun, tidak berarti setelah umur tersebut menjadi bebas dari
kegemukan. Bayi gemuk belum tentu sehat, bahkan dapat berakibat negatif dan
membawa berbagai kesulitan seperti tingginya risiko kejang.

 Kegemukan saat anak-anak


Kegemukan pada masa anak-anak disebabkan oleh pola makan yang salah disertai
aktivitas fisik yang rendah. Aktivitas fisik sangat diperlukan dalam proses pembakaran
kelebihan lemak dalam tubuh. Namun, dengan adanya acara televisi yang memukau,
kemudahan-kemudahan transportasi, dan perkembangan teknologi membuat anak-anak
enggan melakukan kegiatan yang banyak mengeluarkan energi. Selain itu, siaran televisi
dan media massa umumnya memberikan informasi dalam bentuk iklan yang di antaranya
menawarkan produk-produk makanan yang berkadar kalori dan lemak tinggi. Iklan-iklan
tersebut sangat menarik sehingga banyak memengaruhi perilaku maupun pola makan
anak-anak.

 Kegemukan saat dewasa


Kegemukan sering terjadi pada masa dewasa karena lemak tubuh mulai menumpuk.
Umur 30 tahun merupakan umur saat seseorang mulai mantap dengan kariernya, ditandai
dengan tanggung jawab makin besar, ambisi tinggi, dan pekerjaan menumpuk. Pada
kondisi seperti itu, seseorang menjadi sering terlibat dalam pertemuan seperti makan
siang, makan malam bersama, pesta, dan rapat-rapat yang tidak luput dari soal makanan
lezat. Kesibukan-kesibukan tersebut menjadi penyebab kekurangan waktu untuk olahraga.
Oleh karena itu, bila kurang hati-hati dalam menjaga tubuh, perlahan-lahan kegemukan
mulai mengintai. Bila dibiarkan, pada umur 45-60 tahun sering menjadi kritis akibat
tubuh digerogoti penyakit seperti jantung koroner, diabetes, dan penyakit lainnya,
terutama pada orang-orang yang kegemukan.
Lemak tersimpan pada beberapa tempat dalam tubuh kita. Berdasarkan
letaknya, lemak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lemak subkutan dan
lemak visceral.
Lemak subkutan adalah lemak yang letaknya tepat di bawah kulit, dan biasanya
tampak dari luar tubuh, khususnya jika jumlahnya berlebihan. Letaknya
misalnya di paha, bokong, pinggang, dan juga lengan.
Sedangkan lemak visceral adalah lemak yang terletak lebih di dalam. Letaknya
dekat dengan organ-organ vital (jantung, hati, saluran pencernaan, paru-
paru, dll) di area dada, perut, dan juga panggul. Lemak visceral tidak
terdeteksi dari luar seperti halnya lemak subkutan dan lemak visceral
bisa langsung berhubungan dengan darah sehingga dapat menyebabkan
kerusakan jantung atau hati. (kerusakan hati karena dibawa darah yang
muaranya di vena Porta pada hati)

Banyak orang yang frustasi karena lemak yang terlihat di paha, bokong, dan pinggang.
Namun sebenarnya lemak yang tidak terlihat –lemak visceral– yang terletak di bagian
lebih dalam-lah yang bisa mendatangkan masalah lebih besar, bahkan pada orang
yang kurus.
Masalah kesehatan muncul ketika terlalu banyak lemak yang bertumpuk di area tersebut.
Kondisi tersebut sering dihubungkan dengan beberapa penyakit kronis seperti
diabetes tipe 2, penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan juga tekanan darah tinggi.
Pada orang yang kelebihan berat badan misalnya, tubuh bisa kehabisan tempat untuk
menyimpan lemak sehingga lemak akan tersimpan pada daerah yang lebih dalam
dekat dengan organ-organ tubuh seperti jantung dan hati. Saat obesitas semakin
meningkat, lemak akan memenuhi area tersebut, hingga akhirnya mengganggu kerja
organ tubuh, khususnya jantung.
Bahkan orang yang kurus pun bisa memiliki lemak visceral yang berlebihan, walaupun tidak
dapat terlihat secara kasat mata dari luar. Sebagian besar disebabkan karena aktifitas
atau gerak fisik yang kurang. Meskipun orang yang kurus tampak bisa menjaga berat
badannya tetap normal, mereka bisa saja memiliki level lemak visceral yang tidak
sehat jika terlalu jarang berolahraga. Oleh karena itu, gemuk atau kurus, tubuh harus
tetap aktif.
Sumber : http:/artikelkesehatan/mengontrol-mengatasi-lemak/

8. Apa saja komplikasi yang terjadi akibat overwight ?


- Diabetes Melitus

Bagimereka yang mengalamikegemukan di sekitarperut (abdominally


obese), salahsatumekanisme yang didugamenjadipredisposisi diabetestipe
2, adalahterjadinyapelepasanasam-asam lemak bebas secara cepat, yang
berasaldarisuatulemak visceral yang membesar. Proses
inimenerangkanterjadinyasirkulasitingkattinggidariasam-asamlemakbebas
di hatisehinggakemampuanhatiuntukmengikatdanmengekstrak insulin
daridarahmenjadiberkurang. Hal
inidapatmengakibatkanhiperinsulinemia.Akibatlainnyaadalahpeningkatangl
ukoneogenesis - dimanaglukosadarahmeningkat.

- Efekkeduadaripeningkatanasam-
asamlemakbebasadalahmenghambatpengambilanglukoseoleh sell otot,
dengandemikian, walalupunkadarinsulin meningkat,
namunglukosadarahtetap abnormal tinggi. Hal
inimenerangkansuaturesistensifisiologisterhadap insulin seperti yang
terdapatpada diabetes tipe 2.
-
Gagal jantung : Gagal jantung adalah pemberhentian sirkulasi
normal darah dikarenakan kegagalan dariventrikel jantung untuk
berkontraksi secara efektif pada saat systole. Akibat kekurangan
penyediaan darah, menyebabkan kematian sel dari kekurangan oksigen.
Cerebral hypoxia, atau kekurangan penyediaan oksigen ke otak,
menyebabkan korban kehilangan kesadaran danberhenti
bernafas dengan tiba-tiba.
- Stroke :

Seranganjantungdan stroke terutamadisebabkanolehaterosklerosis


(penumpukanlemak) padadindingarteripembuluhdarah yang
mensuplaijantungdanotak. Deposit lemak yang
bertumpukmenyebabkanterbentuknyalesi yang lama
kelamaanakanmembesardanmenebalsehinggamempersempitarteridan
menghambatalirandarah.
Akhirnyapembuluhdarahakanmengerasdanbersifatkuranglentur.
Gangguankardiovaskular yang
disebabkanaterosklerosisdikaitkandenganberkurangnyaalirandarahkare
najantungdanotaktidakmenerimasuplaidarah yang
cukup.Hambatanalirandarahselanjutnyadapatberakibatpada episode
kardiovaskular yang lebihseriustermasukseranganjantungdan stroke.
- Adanyasumbatandarahjugadapatmenyebabkanterjadinyarobekanjaring
an di arteri yang
kemudianakanmembengkakdandapatmenghambatseluruhpembuluhdar
ahsehinggamengakibatkanseranganjantungatau stroke.

- Hiperlipidemia
- Resiko kematian
- Hipertensi
Hal ini dapat dilihat dari terjadinya peningkatan prevalensi obesitas dari
tahun ke tahun tanpa adanya perubahan genetik, selain itu pada
beberapa populasi/ ras dengan genetik yang sama mempunyai angka
prevalensi yang sangat berbeda. Mereka berkesimpulan walaupun
faktor genetik berperan tetapi faktor lingkungan mempunyai andil yang
besar. Saat ini dugaan yang mendasari timbulnya hipertensi pada
obesitas adalah peningkatan volume plasma dan peningkatan curah
jantung yang terjadi pada obesitas berhubungan dengan
hiperinsulinemia, resistensi insulin dansleep apnea syndrome, akan
tetapi pada tahun-tahun terakhir ini terjadi pergeseran konsep, dimana
diduga terjadi perubahan neuro-hormonal yang mendasari kelainan ini.
I. Normal : kurang dari 120 / 80 mmHg
II. Prehipertensi : 120-139 / 80-89 mmHg
III. Hipertensi tk.I : 140-159 / 90-99 mmHg
IV. Hipertensi tk.II : diatas 160 / 100 mmHg
http://www.jantunghipertensi.com/hipertensi/65.html
forum.um.ac.id
- Kelainan Ortopedi : osteoatritis

Osteoartritis (OA,
dikenaljugasebagai artritisdegeneratif, penyakitdegeneratifsendi),
adalahkondisi di manasenditerasanyeriakibatinflamasiringan yang
timbulkarenagesekanujung-ujungtulangpenyusunsendi.

Padasendi, suatujaringantulangrawan yang


biasadisebutdengannamakartilagobiasanyamenutupujung-
ujungtulangpenyusunsendi. Suatulapisancairan yang
disebut cairansinovialterletak di antaratulang-
tulangtersebutdanbertindaksebagaibahan pelumas yang
mencegahujung-
ujungtulangtersebutbergesekandansalingmengikissatusama lain.

Padakondisikekurangan cairansinovial lapisankartilago yang


menutupujungtulangakanbergesekansatusama lain.
Gesekantersebutakanmembuatlapisantersebutsemakin tipis
danpadaakhirnyaakanmenimbulkan rasa nyeri.
Obesitas sentral lebih baik dari obesitas perifer??

9. Apa hormon yang mempengaruhi dari kasus ?


Pengaturan keseimbangan energy melalui 3 proses fisiologi pengendalian rasa
lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energy dan regulasi sekresi
hormon yang terlibat dalam pengaturan penyimpanan energymelalui
sinyalsinyal efferent yang berpusat di hipotalamus mendapatkan sinyal afferent
dari perifer
terutama dari jaringan adipose tetapi juga dari usus dan jaringan ototanabolik
(meningkatkan asupan makanan, menurunkan pengeluaran energi) dan
katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2
kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang.

Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan berhubungan


dengan distensi lambung dan gastrointestinal berperan CCK (kolesistenin)
Sinyal panjangmengatur penyimpanan dan kebutuhan energy berperan leptin
dan insulin

Apabila asuan energy yg banyak pd jaringan adiposepeningkatan leptin


merangsang anorexigenic center di hipotalamus menurunkan
NPYmenurunkan nafsu makan dan sebaliknya

Sedikitnya tujuh hormon yang disekresi oleh kelenjar endokrin berpengaruh


nyata terhadap pemakaian lemak. Beberapa efek hormonal penting pada
metabolisme lemak – selain kurangnya insulin,
Mungkin peningkatan paling dramastis yang terjadi dalam pemakaian lemak
adalah yang diamati selama kerja berat. Keadaan ini hampir seluruhnya disebabkan
oleh pelepasan epinefrin dan norepinefrin oleh medula adrenal selama kerja,
sebagai akibat perangsangan simpatis. Kedua hormon ini secara langsung
mengaktifkan trigliserida lipase peka-hormon yang terdapat dalam jumlah
berlebihan dalam sel lemak, dan hormon ini menyebabkan pemecahan trigliserida
yang sangat cepat dan mobilisasi asam lemak. Kadang-kadang konsentrasi asam
lemak bebas dalam darah seseorang yang sedang bekerja, meningkat sampai
delapan kali lipat, dan pemakaian asam lemak ini oleh otot untuk energi juga jadi
meningkat. Tipe stres lain yang mengaktifkan sistem saraf simpatis juga
meningkatkan mobilisasi asam lemak dan pemakaiannya dengan cara yang serupa.
Stres juga menyebabkan sejumlah besar kortikotropin dilepaskan oleh
kelenjar hipofisis anterior, dan hormon ini menyebabkan korteks adrenal
menyekresikan sejumlah glukokortikoid ekstra. Keduanya, kortikotropin dan
glukokortikoid, mengaktifkan trigliserida lipase peka-hormon seperti yang
diaktifkan oleh epinefrin dan norepinefrin atau lipase yang serupa.
Hormon pertumbuhan mempunyai pengaruh yang mirip, tetapi lebih lemah
dibandingkan kortikotropin dan glukokortikoid dalam mengaktifkan lipase peka-
hormon. Oleh karena itu, hormon pertumbuhan dapat juga memberikan efek
ketogenik yang ringan.
Hormon tiroid menyebabkan mobilisasi sel lemak yang cepat, yang diyakini
terjadi secara tidak langsung dari peningkatan keseluruhan kecapatan metabolisme
energi di semua sel tubuh dalam pengaruh hormon ini. Berkurangnya asetil Ko-A
dan zat perantara lainnya dari metabolisme lemak dan karbohidrat dalam sel,
merupakan rangsangan yang menyebabkan mobilisasi sel lemak.
Biokimia Harper

10.Apa yang menyebabkan terjadinya overweight dari kasus tersebut ?


Faktor Genetik .
Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua obesitas,
80% anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40%
dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.5
Hipotesis Barker menyatakan bahwa perubahan lingkungan nutrisi intrauterin menyebabkan
gangguan perkembangan organ-organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang
dikemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stress lingkungan merupakan predisposisi
timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari. Mekanisme kerentanan genetik terhadap obesitas
melalui efek pada resting metabolic rate, thermogenesis non exercise, kecepatan oksidasi lipid dan
kontrol nafsu makan yang jelek.10,11 Dengan demikian kerentanan terhadap obesitas ditentukan
secara genetik sedang lingkungan menentukan ekspresi fenotipe.

Faktor Lingkungan
1. Aktifitas fisik.
Aktifitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure, yaitu sekitar 20-50%
dari total energy expenditure. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara
aktifitas fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas fisik yang
rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar = 5 kg.10 Penelitian di
Jepang menunjukkan risiko obesitas yang rendah (OR:0,48) pada kelompok yang
mempunyai kebiasaan olah raga, sedang penelitian di Amerika menunjukkan penurunan
berat badan dengan jogging (OR: 0,57), aerobik (OR: 0,59), tetapi untuk olah raga tim
dan tenis tidak menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan. 8
Penelitian terhadap anak Amerika dengan tingkat sosial ekonomi yang sama
menunjukkan bahwa mereka yang nonton TV = 5 jam perhari mempunyai risiko obesitas
sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang nonton TV = 2 jam setiap harinya. 10
2. Faktor nutrisional.
Peranan faktor nutrisi dimulai sejak dalam kandungan dimana jumlah lemak tubuh dan
pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan dan lemak anak
dipengaruhi oleh : waktu pertama kali mendapat makanan padat, asupan tinggi kalori dari
karbohidrat dan lemak5 serta kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung
energi tinggi.3,5
Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi
lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar dibanding kelompok
dengan asupan rendah lemak dengan OR 1.7. Penelitian lain menunjukkan peningkatan
konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46 kali.8 Keadaan ini
disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy density lebih besar dan lebih
tidak mengenyangkan serta mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil dibandingkan
makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak juga
mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya
terjadi konsumsi yang berlebihan.10 Selain itu kapasitas penyimpanan makronutrien juga
menentukan keseimbangan energi. Protein mempunyai kapasitas penyimpanan sebagai
protein tubuh dalam jumlah terbatas dan metabolisme asam amino di regulasi dengan
ketat, sehingga bila intake protein berlebihan dapat dipastikan akan di oksidasi; sedang
karbohidrat mempunyai kapasitas penyimpanan dalam bentuk glikogen hanya dalam
jumlah kecil. Asupan dan oksidasi karbohidrat di regulasi sangat ketat dan cepat,
sehingga perubahan oksidasi karbohidrat mengakibatkan perubahan asupan karbohidrat.
Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan karbohidrat berlebihan, maka kelebihan
energi dari karbohidrat sekitar 60-80% disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak
mempunyai kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak tidak
diiringi peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan dalam
jaringan lemak.1
3. Faktor sosial ekonomi.
Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan
pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.5
Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya
hidup yang menjurus pada penurunan aktifitas fisik, seperti: ke sekolah dengan naik
kendaraan dan kurangnya aktifitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah yang
tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak lebih senang
bermain komputer / games, nonton TV atau video dibanding melakukan aktifitas fisik.
Selain itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan
berisiko menimbulkan obesitas

sumber : http://old.pediatrik.com/buletin/06224113652-048qwc.pdf

Hipotalamus Memiliki Pusat Makan dan Pusat Kenyang

Nukleus lateral hipotalamus berfungsi sebagai pusat makan : Kerusakan


hipotalamus lateral menyebabkan hilangnya nafsu makan, pengurusan dan
pelemahan tubuh (inasisi) yang progresif, suatu keadaan yang ditandai dengan
pengurangan berat badan yang nyata, kelemahan otot dan penurunan
metabolisme. Pusat ini beroperasi dengan membangkitkan dorongan motorik
untuk mencari makan.

Nukleus ventromedial hipotalamus berperan sebagai pusat kenyang :


Rangsangan listrik di daerah ini dapat menimbulkn rasa kenyang yang penuh,
bahkan dengan adanya makanan yang sangat menggiurkan. Kerusakan pada
nukleus ventromedial menyebabkan seseorang bisa makan dengan rakus dan
terus menerus sampai seseorang tersebut menjadi sangat gemuk

Nukleus paraventrikular sering kali menimbulkan proses makan yang


berlebihan

Nukleus dorsomedial biasanya menekan perilaku makan


Nukleus arkuata melepaskan berbagai hormon dari saluran pencernaan dan
jaringan adiposa berkumpul untuk mengatur asupan makanan dan
pengeluaran energi.

Guyton and Hall. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed. 11. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Bedanya OR siang dan malam ? hormon ?

11. Mengapa jajanan manis dapat mempengaruhi dari overweight ?

Insulin Enzim HSL


Food Intake
Meningkat menurun

Lemak Lipolisis
Obesitas
tertimbun terhambat

Beta
Disimpan di Salah oksidase Reesterifikasi
subkutan satunya di tidak bisa tidak terjadi
dalam energi diafragma mencerna
pasif dan thorak asam lemak

Mengurangi Volume Tidak Lemas saat


Ekspirasi Paru2, karena terbentuk beraktivitas
paru2 terhimpit lemak ATP

Dispneu
Deevort