Anda di halaman 1dari 4

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas

yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan
banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi
publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan
dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta.

Beberapa hari lalu surat kabar umum Tribun Pekanbaru mengambil tema ini untuk
diperbincangkan bersama warga kota. Saya membaca komentar masyarakat, baik di
media cetak maupun di halaman facebook surat kabar tersebut, dan menemukan hal-hal
menarik yang dapat diulas untuk memancing komentar lanjutan tentunya.

Pekanbaru, kota dengan luas lebih dari 600 Km2, hanya berbeda 50 km2 dari DKI
Jakarta. Menakjubkan. Saya langsung membayangkan jika Pekanbaru berkembang pesat
di tahun-tahun yang akan datang dan langsung merasa ngeri jika Pekanbaru menjelma
seperti Jakarta saat ini. Dengan karakter masyarakat yang rada susah senyum, tak
terbayangkan apa yang akan terjadi jika masalah ruwetnya kota Pekanbaru menyamai
ruwetnya kota Jakarta.

Namun saya lalu mengucap syukur. Pekanbaru bukan Jakarta. Pekanbaru masih memiliki
banyak kawasan terbuka hijau, walau sebenarnya lambat laun juga beralih fungsi
menjadi kawasan permukiman. Dan walaupun kawasan perkotaan Pekanbaru juga
makin padat, masih ada generasi muda yang mulai unjuk pendapat mengenai
kelangsungan hidup kota yang ditinggali lebih dari 800.000 penduduk ini.

Kembali kepada tema bahasan, yaitu kemacetan lalu lintas. Seperti yang saya baca,
tanggapan para tribuner (ungkapan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam interaksi
media tribun pekanbaru dengan masyarakat), usulan untuk mengatasi masalah ini
antara lain:
(1) penambahan luas jalan, baik dengan pembangunan jalan tol, jalan layang, ataupun
pelebaran badan jalan;
(2) desinsentif pengguna kendaraan motor pribadi, dengan cara peningkatan pajak
kendaraan, pengurangan pasokan bahan bakar hingga pada pembatasan kepemilikan
kendaraan pribadi untuk tiap keluarga;
(3) pelaksanaan peraturan, dengan cara penyediaan prasarana aturan berlalu lintas
(rambu), sosialisasi peraturan lalu lintas kepada masyarakat, dan penertiban oleh
aparatur yang bertugas;
(4) penyediaan alternatif alat transportasi masal seperti bus trans metro, kereta bawah
tanah, dan alat transportasi sungai.

Saya sangat mendukung rekan-rekan sesama penghuni Kota Pekanbaru yang telah
menyisihkan waktunya untuk memberi komentar di media massa. Tidak sekedar
komentar, namun usulan positif. Hal ini menunjukkan bahwa warga Kota Pekanbaru
telah sadar bahwa masalah lalu lintas butuh penanganan segera. Ketidaknyamanan
berkendaraan akan menimbulkan akibat yang tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental.
Kenapa? Karena kemacetan identik dengan peningkatan emosi pengendara yang akan
terbawa hingga tempat tujuan. Terbayang, bukan, jika seseorang yang hendak ke kantor
terjebak macet dan bersitegang dengan pengguna kendaraan lainnya? Bukannya
langsung bisa bekerja dengan semangat, orang tersebut harus menyisihkan waktu untuk
menenangkan pikiran dan emosi. Akibatnya kinerja pun mengalami penurunan. Selain
itu macet juga menyebabkan meningkatnya penggunaan bahan bakar untuk kendaraan
yang berakibat pada meningkatnya jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk
berkendaraan.

Dari seluruh usulan yang diajukan rekan sekalian, saya lebih cenderung setuju dengan
opsi keempat, yaitu menyediakan dan mengoptimalkan keberadaan kendaraan umum
masyarakat. Kenapa demikian? Karena dengan menggunakan kendaraan umum,
masyarakat akan mendapatkan beberapa keuntungan sekaligus. Keuntungan tersebut
antara lain:
(1) Tidak direpotkan dengan pemeliharaan kendaraan pribadi, mulai dari keharusan
mengisi bahan bakar, membersihkan dan menyervis kendaraan, hingga pengurusan
pajak kendaraan yang walau setahun sekali juga menyita 1-2 hari kerja.
(2) Tidak direpotkan dengan jas hujan (bagi pengendara kendaraan roda 2) dan
kerepotan mencari lokasi parkir yang strategis di masa-masa padat kendaraan.
(3) Lebih mengenal sesama penduduk kota karena duduk di kendaraan umum (apalagi
jika waktunya lama) tidak menutup kemungkinan melakukan percakapan ringan dengan
teman sebangku.
(4) Ikut memastikan bahwa uang yang kita serahkan pada negara dalam bentuk pajak
terbayarkan pada penyediaan sarana dan prasarana umum.

Untuk sementara mungkin baru empat keuntungan tersebut yang dapat saya sebutkan.
Namun tidak menutup kemungkinan ada keuntungan-keuntungan lain yang mungkin
diperoleh dengan memanfaatkan fasilitas umum di bidang transportasi.

Namun tentu saja, kondisi tersebut diatas juga tidak lepas dari penyediaan angkutan
umum yang memadai dan “sehat”. Kota Pekanbaru dengan luasan yang tidak kecil serta
terbagi menjadi dua kawasan perkotaan Utara (Rumbai) dan Selatan harus benar-benar
diperlengkapi dengan sistem transportasi masal yang handal dan nyaman. Dengan
demikian, lambat laun masyarakat tentunya akan lebih memilih angkutan umum dari
pada kendaraan pribadi, khususnya untuk aktivitas yang bersifat rutin. Dan jika
pemerintah sudah siap dengan infrastruktur transportasi masalnya, tak ada salahnya jika
kemudian memberlakukan pembatasan bahan bakar bagi kendaraan pribadi. Seperti
kata iklan yang santer ditayangkan di media televisi, HEMATTT!!!!

PENGHARGAAN Wahana Tata Nugraha (WTN) kepada Pemerintah Kota Pekanbaru


dengan penilaian bahwa Pekanbaru dinilai berhasil mengatur masyarakatnya untuk taat
dalam berlalu lintas, kontras dengan kondisi sebenarnya. Pelanggaran oleh pengguna
jalan tanpa ada pengawasan hampir setiap hari terjadi.

Fakta tersebut juga dibenarkan politisi PKB Kota Pekanbaru, Zaidir Albaiza yang menilai
masih banyak terjadi kesemrawutan lalu lintas di Kota Pekanbaru. Ia mencontohkan
kawasan sekitar pasar pagi Arengka atau dekat perempatan lampu merah Jalan
Soekarno-Hatta dan Jalan HR Soebrantas.

“Rambu tak boleh stop sudah dipasang, tapi yang parkir di badan jalan itu masih banyak.
Seharusnya itu tertata, karena itu termasuk gerbang Kota Pekanbaru,” ujar Zaidir.
Karena itu, anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru ini minta pihak-pihak terkait, seperti
Dinas Perhubungan (Dishub) bertindak tegas. Apalagi aksi saling serobot lampu merah
sudah menjadi pemandangan sehari-hari di sana.

Tak hanya di perempatan pasar pagi Arengka, di lampu merah Jalan Kaharudin Nasution
dan Jalan Pasir Putih juga hampir setiap hari pengguna jalan baik kendaraan roda dua
dan roda empat saling serobot meskipun dalam keadaan lampu menyala merah
pertanda tak boleh jalan. Kondisi seperti itu sudah berlangsung lama tanpa ada
pengawaan petugas dari kepolisian maupun dari Dishub.

Anggota Komisi IV, Muhammad Sabarudi juga mengamini bahwa penghargaan WTN
yang diterima Pemko Pekanbaru bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya. Namun
ia mencoba memahami, diperolehnya penghargaan WTN tersebut menunjukkan kondisi
lalu liantas di Kota Pekanbaru lebih baik dari kota-kota lainnya.

"Karena daerah lain lebih buruk, makanya Pekanbaru diberikan nilai tertinggi, itu kan
bisa saja," simpul Sabarudi.

Piala Penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) dari Presdiden RI diserahkan langsung
oleh Menteri Perhubungan RI EE Mangindaan kepada Wali Kota Pekanbaru Firdaus MT, ,
Kamis (3/10) saat pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Bidang Perhubungan Darat
seluruh Indonesia di Surabaya Jawa Timur. Kota Pekanbaru meraih nilai paling baik dan
tertinggi kategori Kota Besar dalam kinerja penyelenggraan sistim transportasi
perkotaan , menyisihkan Kota Surakarta, Denpasar, dan Balikpapan. Tahun lalu Pemko
Pekanbaru hanya mendapat Piagam Penghargaan, kali ini naik menjadi Piala
Penghargaan. *3 [foto: riaupos]