Anda di halaman 1dari 3

Berdasarkan UU No.

23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 32 menyatakan bahwa


upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, diantaranya adalah pencegahan dan
penyembuhan terhadap kecacingan.
Salah satu dari kelompok ini adalah kecacingan yang disebabkan oleh Soil transmitted
helminths (STH) . Soil transmitted helminths (STH) adalah cacing yang dalam siklus hidupnya
memerlukan tanah yang sesuai untuk berkembang menjadi bentuk infektif. Yang termasuk
golongan STH yang habitatnya pada usus manusia adalah Ascarislumbricoides, Hookworm
(Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), Trichuris trichiura (WHO, 2011).
Soil Transmitted Helminths (STH) menyebabkan lebih dari 1,5 miliar orang atau 24%
dari populasi dunia telah terinfeksi minimal oleh satu spesies STH serta menyebabkan masalah
kesehatan secara luas.Infeksi terbesar terjadi di sub - Sahara Afrika , Cina dan asia(WHO,2011).
Sekitar 807-1,121 juta dengan Ascaris, 604-795 juta dengan cacing cambuk dan sekitar 576-740
juta dengan cacing tambang(CDC, 2013). Sebagian besar penderita kecacingan tinggal di negara-
negara beriklim tropis seperti Indonesia. Prevalensi penyakit kecacingan di Indonesia tergolong
cukup tinggi, dengan jumlah penduduk 220.000.000 penduduk, prevalensi kecacingan 60% dan
jumlah rata-rata 6 ekor cacing per orang.
Sebagian besar yang terinfeksi cacing adalah anak-anak usia sekolah, terutama sekolah
dasar yaitu diperkirakan 21% dari jumlah penduduk, tetapi kecacingan dapat terjadi pada semua
kelompok usia. Banyak masyarakat menganggap bahwa cacingan hanya dapat terjadi pada anak-
anak sehingga obat cacing atau obat antihelmentik hanya perlu diminum oleh anak-anak.
Penyakit infeksi kecacingan merupakan salah satu penyakit yang banyak terjadi di masyarakat
namun kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Penyakit yang termasuk dalam
kelompok ini adalah penyakit yang tidak muncul dengan tiba-tiba, tetapi secara perlahan
menurunkan kesehatan manusia, menyebabkan kecacatan tetap, penurunan intelegensia anak,
dan kecacatan.
Kecacingan bersifat infeksi kronis yang lama-kelamaan dapat menurunkan kesehatan
penderitanya, karena cacing didalam tubuh menyerap darah dan nutrisi penderitanya. Sehingga
pada orang dewasa, kecacingan dapat menyebabkan menurunnya produktivitas. Selain itu dilihat
dari siklus hidupnya, larva dari cacing dapat menembus kulit, larva akan masuk ke kapiler darah
dan terbawa aliran darah ke jantung dan paru. Sehingga kecacingan selain gejala gastrointestinal
kecacingan dapat mempengaruhi organ jantung, paru dan hipertensi.
Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Betapa tidak,
hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer
kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar
25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum
adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia. Berdasarkan hasil pengukuran
tekanan darah, prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas tahun 2007 di
Indonesia adalah sebesar 31,7%. Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan
Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%).
Berdasarkan Undang Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
Secara global populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan. Populasi lansia di
Indonesia diprediksi meningkat lebih tinggi dari pada populasi lansia di dunia setelah tahun
2100.
Angka kesakitan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur derajat
kesehatan penduduk. Angka kesakitan tergolong sebagai indikator kesehatan negatif. Semakin
rendah angka kesakitan, menunjukkan derajat kesehatan penduduk yang semakin baik. Angka
kesakitan penduduk lansia tahun 2014 sebesar 25,05% arnya bahwa dari seap 100 orang lansia
terdapat 25 orang di antaranya mengalami sakit. Bila dilihat perkembangannya dari tahun 2005-
2014, derajat kesehatan penduduk lansia mengalami peningkatan yang ditandai dengan
menurunnya angka kesakitan
Dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses
penuaan sehingga penyakit tidak menular banyak muncul pada lanjut usia. Selain itu masalah
degeneratif menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular.
Hasil Riskesdas 2013, penyakit terbanyak pada lanjut usia adalah Penyakit Tidak Menular
(PTM) antara lain hipertensi, artritis, stroke, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan
Diabetes Mellitus (DM).
Berdasarkan latar belakang diatas telah diketahui bahwa kecacingan dapat terjadi pada
semua kelompok usia termasuk lansia tetapi sebagian besar masyarakat menganggap obat cacing
hanya perlu diminum oleh anak-anak. Infeksi kecacingan juga dapat menimbulkan masalah pada
pembuluh darah salah satunya hipertensi. Prevalensi hipertensi di Indonesia masih tinggi
terutama pada kelompok lanjut usia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang hubungan
pemberian obat antihelmentik dengan kadar tekanan darah pada kelompok usia diatas 50 tahun
didesa bukit jengkol, Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat pada tahun 2018.