Anda di halaman 1dari 8

MODUL PERKULIAHAN

PERENC.
GEOMETRIK JALAN
( 3sks)

Modul Standar untuk


digunakan dalam
Perkuliahan di Universitas
Mercu Buana

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh


Teknik Sipil MK 11020 Dr. Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng

01
Abstract Kompetensi
Pengertian umum klasifikasi jalan, Mahasiswa dapat mengerti dasar hukum
alinemen horizontal, kelandaian , Pentahapan pembangunan
maksimum, lengkung horizontal.

Pengertian tentang klasifikasi jalan


dan alinement horizontal.

“Klasifikasi Jalan”

1.1. Klasifikasi menurut fungsi jalan

Klasifikasi menurut fungsi jalan terbagi atas:


1. Jalan Arteri: Jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak
jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara effisien,
2. Jalan Kolektor: Jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan cirri-ciri
perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk
dibatasi,
3. Jalan Lokal: Jalan yang melayani angkutan setempat dengan cirri-ciri perjalanan
jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

1.2. Klasifikasi menurut kelas jalan

Fungsi Kelas Muatan Sumbu Terberat,


MST (ton)
Arteri I >10
II 10
III A 8
Kolektor III A 8
III B

1.3. Satuan Mobil Penumpang

No Jenis Kendaraan Datar/Perbukitan Pegunungan

‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning


2 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng
1. Sedan, Jeep, Station Wagon 1,0 1,0
2. Pick-Up, Bus Kecil, Truck Kecil 1,2-2,4 1,9-3,5
3. Bus , Truck Besar 1,2-5,0 2,2-6,0

1.4. Volume Lalu lintas Rencana

Volume Lalu Lintas Harian Rencana (VLHR) adalah prakiraan volume lalu lintas harian pada
akhir tahun rencana lalu lintas dinyatakan dalam SMP/hari
Volume Jam Rencana (VJR) adalah prakiraan volume lalu lintas pada jam sibuk tahun
rencana lalu lintas, dinyatakan dalam SMP/jam.

K
VJR  VLHR 
F
dimana:
K: factor K adalah volume lalu lintas jam sibuk
F: factor F adalah factor variasi tingkat lalu lintas per seperempat jam dalam satu jam.

VLHR FAKTOR - K FAKTOR - F


> 50.000 4–6 0,9 – 1
30.000-50.000 6–8 0,8 – 1
10.000-30.000 6–8 0,8 – 1
5.000-10.000 8 – 10 0,6 - 0,8
1.000-5.000 10 – 12 0,6 – 0,8
< 1.000 12 - 16 < 0,6

1.5. Kecepatan Rencana

Fungsi Kecepatan Rencana


VR (km/jam)

Datar Bukit Pegunungan


Arteri 70 - 120 60 - 80 40 - 70
Koletor 60 - 90 50 - 60 30 - 50
Lokal 40 - 70 30 - 50 20 - 30

1.6. Bagian- bagian Jalan

Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA) dibatasi oleh:


1. Lebar antara batas ambang pengaman konstruksi jalan dikedua sisi jalan
2. Tinggi 5 meter diatas permukaan perkerasan pada sumbu jalan,

‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning


3 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng
3. Kedalaman ruang bebas 1,5 meter dibawah muka jalan.

Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA) dibatasi oleh:


1. Jalan Arteri minimum 20 meter
2. Jalan Kolektor minimum 15 meter
3. Jalan Lokal minimum 10 meter
DAWASJA didaerah tikungan ditentukan oleh jarak pandangan bebas.

1.7. Penampang Melintang

Penampang melintang dapat dilihat pada Penentuan Lebar Jalur dan Bahu Jalan, gambar
berikut ini:

1.8. Lajur

Untuk keperluan drainase permukaan, lajur lalu lintas pada alinemen lurus memerlukan
kemiringan melintang normal sebagai berikut:
 2 – 3 % untuk perkerasan aspal dan perkerasan beton;
 4 – 5 % untuk perkerasan kerikil.

Fungsi Kelas Lebar Lajur Ideal


(m)
Arteri I 3,75
II, III A 3,50
Kolektor III A, III B 3,00
Lokal III C 3,00

1.9. Bahu Jalan

 Kemiringan bahu jalan normal antara 3 – 5 %


 Lebar bahu jalan dapat dilihat Tabel II.7

1.10. Median

 Jalan 2 arah dengan 4 jalur atau lebih perlu dilengkapi median.

‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning


4 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng
 Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,25 – 0,50 meter dan
pemisah jalur ditetapkan sebagai berikut:

Bentuk median Lebar minimum (m)


Median ditinggikan 2,0
Median direndahkan 7,0

1.11. Jarak Pandang

1.11.1. Jarak Pandangan Henti


 Jarak padangan henti diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi
adalah 105 cm dan tinggi halangan 15 cm diukur dari permukaan jalan
 Jarak pandangan henti dalah satuan meter dapat dihitung dengan rumus:
2
 VR 
 
VR  3,6 
Jh  T.
3,6 2gf

dimana:
VR = kecepatan rencana
T = waktu tanggap, ditetapkan 2,5 detik
g = percepatan grafitasi, ditetapkan 9,8 m/det2
f = koefisien gesek memanjang perkerasan jalan aspal, ditetapkan 0,35 – 0,55

Persamaan disederhanakan menjadi:


2
V
J h  0,694VR  0,004 R
f

Jarak Pandang Henti (Jh) minimum


VR, km/jam 120 100 80 60 50 40 30 20
Jh minimum (m) 250 175 120 75 55 40 27 16

1.11.2. Jarak Pandang Mendahului


 Jarak pandang mendahului diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata
pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halahan adalah 105 cm
 Jarak pandang mendahului dalam satuan meter ditentukan sebagai berikut:

J d  d1  d 2  d 3  d 4

‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning


5 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng
dimana:
d1 = jarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m)
d2 = jarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan kembali ke lajur semula
(m)
d3 = jarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang dating dari arah
berlawanan setelah proses mendahului selesai (m)
d4 = jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang dating dari arah berlawanan, yang
besarnya diambil sama dengan 2/3 d2 (m).

Panjang Jarak Pandangan Mendahului


VR 120 100 80 60 50 40 30 20
(km/jam)
Jd (m) 800 670 550 350 250 200 150 100

‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning


6 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng
‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning
7 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng
‘13 Perenc.Geometrik Jala Pusat Bahan Ajar dan eLearning
8 http://www.mercubuana.ac.id
Dr,Ir. Nunung W, Pg.Dipl.Eng