Anda di halaman 1dari 21

MATA KULIAH FORMULASI BAHAN ALAM

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR

MAKALAH FORMULASI BAHAN ALAM

Formula Sediaan Sirup Ekstrak Temulawak

OLEH :

KELOMPOK V (LIMA)

Kastina Selviana (14.031.014.089)

Aisyah (14.031.014.137)

Suci Yuliana (14.031.014.108)

Nur Ainun (16.031.014.160)

A. Sitti Nurul Nitza U.A (16.031.014.180)

Ilma Yuliani (17.031.014.210)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR

MAKASSAR

2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas ke hadirat Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-

Nya sehingga makalah yang berjudul “Formula sediaan sirup ekstrak temulawak “

ini, dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Dan terima kasih kepada dosen dan

pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga

makalah ini dapat bermanfaat sebagai salah satu acuan atau petunjuk bagi pembaca.

Kami akui makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu

kritik dan saran yang bersifat membangun, penulis sangat harapkan demi

kesempurnaan makalah ini.

Makassar, Desember 2017

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar...............................................................................................

Daftar Isi........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang..........................................................................................

B. Tujuan Penelitian………………………………………………………..

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Larutan…………………….……….….……….......................................

B. Uraian Tanaman……………………..……...............................................

C. Ekstrak.………….………………………………………………….……

BAB III METODOLOGI PERCOBAAAN

A. Alat dan Bahan..........................................................................................

B. Cara Kerja……………………………………………………………….

BAB IV FORMULA

A. Formula Sediaan Sirup Ekstrak Temulawak…………………………….

B. Alasan Penggunaan Bahan……………………………………………….

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nafsu makan merupakan keadaan yang mendorong seseorang untuk memuaskan

keinginannya untuk makan selain rasa lapar (Guyton,1990). Gangguan nafsu makan

sendiri merupakan gangguan klinis yang penting namun sering kali diabaikan (Grilo dan

Mitchell, 2010). Nafsu makan berkurang ketika keinginan untuk makan tidak sebanyak

kondisi sebelumnya, atau disebabkan oleh suatu penyakit atau kelainan tertentu.

Berkurangnya nafsu makan diyakini sebagai faktor utama terjadinya kurang gizi dan

dapat berdampak pada penurunan berat badan yang tidak disengaja (Vorvick, 2010)

Penggunaan obat tradisional dalam upaya mempertahankan kesehatan masyarakat

telah banyak kita ketahui. Pengetahuan tentang khasiat dan penggunaan obat-obat

tradisional yang berkembang dimasyarakat hanya didasarkan pada pengalaman empiris

yang biasanya diwariskan secara turun temurun dan belum teruji secara ilmiah, dengan

demikian perlu dilakukan pengujian lebih lanjut sehingga nantinya obat tradisional

tersebut dapat digunakan dengan aman dan efektif.

Temulawak sudah dikenal secara luas dapat meningkatkan nafsu makan, temulawak

merupakan salah satu komposisi dari jamu cekok yang secara turun temurun telah

dipercaya memiliki efek meningkatkan nafsu makan (Limananti danTriratnawati, 2003).

kandungan kurkumin dalam temulawak dapat berfungsi meningkatkan nafsu makan.

Beberapa efek terapi telah diperlihatkan pada jurnal Turmericand Curcumin : Biological

Actions and Medicinal Applications. Berdasarkan jurnal tersebut terdapat pernyataan

dimana fungsi dari curcumin yang dapat meningkatkan nafsu makan melalui fungsinya

sebagai karminativum (antiflatulent).


Penelitian yang dilakukan oleh Ardhiani (2005) tentang pengaruh pemberian ekstrak

rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan temu hitam (Curcuma aeruginosa)

terhadap peningkatan berat badan tikus putih jantan galur wistar adalah pada ekstrak

temulawak dan ekstrak temu hitam dosis 140 mg/KgBB dan 560 mg/Kg BB selama 30

hari dapat memacu kenaikan berat badan tikus.

Sediaan penambah nafsu makan berbahan dasar temulawak sudah relatif banyak di

pasaran, Sirup merupakan bentuk sediaan yang cocok untuk semua kalangan baik dewasa

maupun anak-anak karena mudah ditelan dan waktu absorpsi sediaan sirup lebih cepat

dibandingkan sediaan lainnya.

B. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui formulasi sediaan sirup dari bahan alam menggunakan zat aktif

ekstrak temulawak sebagai penambah nafsu makan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Larutan

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, larutan adalah sediaan cair yang

mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut, misalnya :

terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut

yang saling bercampur.

Larutan oral yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral,

mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma,

pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran cosolven-air. Contoh

sediaan larutan oral yaitu sirup, potiones (obat minum).

Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atau

tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat. Sirup obat dalam perdagangan terdiri dari

gabungan beberapa komponen penyusun seperti sukrosa, air murni, bahan pemberi rasa

atau pencerah, bahan pewarna, bahan terapeutik, dan bahan-bahan lain yang diperlukan

maupun diinginkan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sirup obat

adalah kelarutan dan kestabilan bahan di dalam air (Ansel,1989).

Keuntungan sediaan sirup adalah sesuai untuk pasien yang susah menelan obat

dengan sediaan padat. Contohnya: anak–anak, lanjut usia, dapat menarik keinginan pasien

untuk minum obat, karena rasanya yang enak dan baunya yang sedap. Sehingga anak–

anak tidak takut untuk minum obat. Sesuai untuk bahan obat yang bersifat higroskopis.

Merupakan campuran yang homogen. Dosis dapat diubah-ubah pembuatannya.

Mempunyai rasa manis. Obat lebih mudah diabsopsi dalam tubuh (Ansel,1989).
Kerugian sediaan sirup adalah Tidak semua obat bentuk sediaan sirup ada di

pasaran, Sediaan sirup jarang yang isinya zat tunggal, pada umumnya campuran atau

kombinasi beberapa zat berkhasiat yang kadang-kadang sebetulnya tidak dibutuhkan oleh

pasien tersebut, tidak bias untuk sediaan yang sukar larut dalam air (biasanya dibuat

suspensi atau eliksir) eliksir kurang disukai oleh dokter anak karena mengandung alkohol,

suspense stabilitasnya lebih rendah tergantung formulasi dan suspending agent yang

digunakan, tidak bisa untuk bahan obat yang berbentuk minyak (minyak/oil biasanya

dibentuk emulsi yang mana stabilitas emulsi juga lebih rendah, tidak sesuai untuk bahan

obat yang tidak stabil, harga relatif mahal karena memerlukan khusus dan kemasan yang

khusus pula (Ansel,1989).

B. Uraian Tanaman

1. Klasifikasi tanaman temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb)

Divisio : Spermatophyta

SubDivisio : Angiospermae

Classis : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Species : Curcuma xanthorriza Roxb

NamaDaerah : Temulawak (Van Steenis, 1947)

Temulawak tumbuh diseluruh pulau Jawa, tumbuh liar dibawah naungan di

hutan jati, di tanah yang kering dan dipadang alang–alang, ditanam atau tumbuh liar

ditegalan, tumbuh pada ketinggian tempat 5m sampai 1500 m diatas permukaan laut.
Nama daerah

Penyebutan nama tanaman temulawak dibeberapa daerah antara lain:

temulawak (Sumatra), koneng gede (Sunda), temulawak (Jawa), temolabak (Madura),

dan temulawak (Indonesia) (Anonim, 1979).

2. Deskripsi Tanaman

1) Batang

Batang temulawak termasuk tanaman tahunan yang tumbuh merumpun. Tanaman

ini berbatang semu dan habitusnya dapat mencapai ketinggian 2 – 2,5 meter. Tiap rumpun

tanaman terdiri atas beberapa tanaman (anakan), dan tiap tanaman memiliki 2–9 helai

daun.

2) Daun

Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Lamina daun dan

seluruh ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang daun sekitar 50–55 cm, lebarnya +18 cm,

dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara

teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan garis – garis coklat.

Habitus tanaman dapat mencapai lebar 30 – 90 cm, dengan jumlah anakan perumpun

antara 3–9 anak.

3) Bunga

Bunga tanaman temulawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara

bergantian yang keluar dari rimpangnya (tipe erantha), atau dari samping batang semunya

setelah tanaman cukup dewasa. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga

kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna ungu. Panjang tangkai bunga +3 cm dan

rangkaian bunga (inflorescentia) mencapai 1,5 cm. Dalam satu ketiak terdapat 3-4 bunga.
4) Rimpang

Rimpang induc temulawak bentuknya bulat seperti telur, dan berukuran besar,

sedangkan rimpang cabang terdapat pada bagian samping yang bentuknya memanjang.

Tiap tanaman memiliki rimpang cabang antara 3–4 buah. Warna rimpang cabang

umumnya lebih muda dari pada rimpang induk.

Warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua adalah kuning kotor atau

coklat kemerahan. Warna daging rimpang adalah kuning atau oranye tua, dengan cita

rasanya amat pahit,atau coklat kemerahan berbau tajam, serta keharumannya sedang.

Rimpang terbentuk dalam tanah pada kedalaman +16 cm. Tiap rumpun tanaman temu

lawak umumnya memiliki enam buah rimpang tua dan lima buah rimpang muda.

5) Akar

Akar Sistem perakaran tanaman temulawak termasuk akar serabut. Akar-akarnya

melekat dan keluar dari rimpang induk. Panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak

beraturan.

3. Kandungan Kimia

Rimpang temulawak mengandung kurkumin, xanthorizol kurkuminoid, minyak

atsiri dengan komponen α-kurkumen, germakran, ar-turmeron, β-atlantanton, d-kamfor

(Anonim, 2010). Fraksi pati merupakan kandungan terbesar, jumlah bervariasi antara 29-

30% tergantung dari ketinggian tempat tumbuh, makin tinggi tempat tumbuh maka kadar

patinya semakin rendah dan kadar minyak atsirinya semakin tinggi. Pati temulawak

terdiri dari abu, protein, lemak, karbohidrat, seratkasar, kurkuminoid, kalium, natrium,

kalsium, magnesium, besi, mangan, dan cadmium. Fraksi kurkuminoid memiliki aroma

khas, tidak toksik, terdiri dari kurkumin yang mempunyai aktivitas anti radang dan

demetoksi kurkumin (Dalimartha, 2006).


Kandungan temulawak yaitu minyak atsiri (6-10%) terdiri dari begamoten,

germakren B, kurserenon, dan germakron serta warna kuning difeuloilmetana yaitu

kurkumin (1-3%) dan demetoksi kurkumin (Dalimartha, 2006).

4. Kandungan Zat Aktif

Kurkuminoid rimpang temulawak adalah suatu zat yang terdiri dari campuran

komponen senyawa yang bernama kurkumin, demetoksikurkumin, dan

bisdemetoksikurkumin.

Kurkuminoid mempunyai warna kuning atau kuning jingga, berbentuk serbuk

dengan rasa sedikit pahit, larut dalam aseton, alkohol, asam asetat glasial, dan alkali

hidroksida. Kurkuminoid tidak larut dalam air dan dietileter, mempunyai aroma khas dan

tidak bersifat toksik. Kandungan kurkuminoid dalam temulawak sebesar 1-2%.

kandungan kurkumin dalam temulawak dapat berfungsi meningkatkan nafsu

melalui fungsinya sebagai karminativum (antiflatulent). kurkuminoid juga dapat

memperbaiki kelainan pada kantung empedu dengan memperlancar pengeluaran cairan

empedu dan pankreas, sehingga terjadi peningkatan aktivitas pencernaan. Penggunaan

ekstrak rimpang temulawak akan mempercepat pengosongan lambung sehingga akan

menambah nafsu makan (Anonimus, 2007).

5. Penelitian tentang temulawak terkait dengan peningkatan nafsu makan

Dari segi ilmiah, temulawak dapat merangsang sekresi empedu lebih banyak,

sehingga mampu merangsang nafsu makan (Puspitojati dan Santoso, 2012). Kandungan

minyak astiri dalam temulawak dapat menyebabkan peningkatan nafsu makan karena

memiliki sifat koleretik yang mampu mempercepat sekresi empedu sehingga dapat

mempercepat pengosongan lambung, mempercepat pencernaan dan absorpsi lemak di

usus yang kemudian akan mensekresi berbagai hormon yang mampu meregulasi

peningkatan nafsu makan (Ozaki dan Liang, 1988).


Penelitian terdahulu membuktikan bahwa Minyak atsiri temulawak dapat

meningkatkan nafsu makan tikus (Awalin,1996; Ardhiani, 2005; dan Ulfah, 2010).

Namun bukan hanya minyak astiri saja yang dapat meningkatkan nafsu makan,

kandungan kurkumin dalam temulawak juga dapat berfungsi meningkatkan nafsu makan.

Beberapa efek terapi telah diperlihatkan pada jurnal Turmeric and Curcumin : Biological

Actions and Medicinal Applications.

Berdasarkan jurnal tersebut terdapat pernyataan dimana fungsi dari curcumin

yang katanya dapat juga meningkatkan nafsu makan melalui fungsinya sebagai

karminativum (antiflatulent). Sebagai penambah nafsu makan, kurkuminoid juga dapat

memperbaiki kelainan pada kantung empedu dengan memperlancar pengeluaran cairan

empedu dan pankreas, sehingga terjadi peningkatan aktivitas pencernaan.

Penggunaan ekstrak rimpang temulawak akan mempercepat pengosongan lambung

sehingga akan menambah nafsu makan (Anonimus, 2007).

Menurut Anonim (2010), kurkuminoid temulawak dapat menurunkan kadar

kolesterol total dan trigliserida darah, serta dapat menaikkan kadar asam empedu darah

kelinci dalam keadaan hiperlipidemia. Minyak atsiri temulawak yang telah dijenuhkan

dapat menghambat penyerapan glukosa dalam usus halus tikus dan penyerapan ini

bersifat reversibel. Campuran kurkuminoid dan minyak atsiri menghambat penyerapan

glukosa pada mencit, dan ikatan keduanya bersifat reversibel.

Cairan infus temulawak yang diberikan pada dosis rendah berulang kali akan

mempercepat kerja usus halus. Namun sebaliknya pada dosis yang lebih besar akan

menghambat atau menghentikan kerja usus halus hewan uji (Sudarsono et al, 1996).

6. Manfaat temulawak

Rimpang temulawak mengandung zat kuning kurkumin, minyak atsiri, pati,

protein, lemak, selulosa dan mineral, diantara komponen tersebut yang paling banyak
kegunaannya adalah pati, kurkuminoid dan minyak atsiri (Afifah, E, 2003). Manfaat dari

rimpang tanaman ini adalah mengatasi jerawat, anti radang, anti keracunan empedu,

mencegah penyakit ginjal, mencegah sembelit, menambah nafsu makan, mengatasi sakit

cangkrang, menyembuhkan cacar air, menyembuhkan sariawan, meningkatkan produksi

ASI, mengatasi asma, mengatasi penyakit limfa, mengatasi sakit pinggang,

menyembuhkan sakit kepala dan masuk angin (Suparni, I dan Ari, W, 2012). Dari hasil

penelitian, temulawak dapat merangsang sekresi empedu lebih banyak, sehingga mampu

merangsang nafsu makan (Puspitojati dan Santoso, 2012).

C. Ekstrak

Ekstrak merupakan sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,

kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan serbuk yang tersisa

diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Departemen

Kesehatan Republik Indonesia,1995). Berdasarkan sifatnya, ekstrak dapat dibedakan

menjadi beberapa macam, yaitu ekstrak encer (extractum tenue), ekstak kental

(extractum spissum), ekstrak kering (extractum siccum), dan ekstrak cair (extractum

liquidum). Ekstrak encer dapat dituang karena memiliki kandungan pelarut atau air yang

relative tinggi. Ekstrak kental memiliki kandungan air 30%, dalam keadaan dingin, dan

tidak dapat dituang. Ekstrak kering memiliki kandungan air kurang dari 5% dan

konsitensi yang kering sedangkan ekstrak cair diartikan sebagai ekstrak yang dibuat

sedemikian rupa sehingga satu bagian simplisia sesuai dengan dua bagian (terkadang juga

satu bagian) ekstrak cair (Voigt,1984).

D. Ekstraksi

Ekstraksi merupakan proses pemisahan dua zat atau lebih dengan pelarut yang

tidak saling campur, baik itu dari zat cair ke zat cair atau zat padat ke zat cair (Harbone,
1987). Ekstraksi biasanya dilakukan untuk mengisolasi suatu senyawa alam dari

jaringan asli tumbuh-tumbuhan yang sudah dikeringkan (Kusnaeni, 2008).

Untuk memperoleh ekstrak kental perlu dilakukan penguapan pelarut, yang dapat

dilakukan dengan alat vaccum rotary evaporator. Mekanisme kerja alat tersebut

berdasarkan pada prinsip destilasi serta penurunan tekanan pada labu alas bulat dan

pemutaran labu alas bulat pada kecepatan tertentu, hingga menyebabkan pelarut menguap

lebih cepat di bawah titik didihnya. Bagian lain dari alat ini adalah evaporator yang

berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan pelarut dari cair menjadi uap. Evaporator

memiliki 3 bagian yakni penukar panas, bagian evaporasi (tempat yang mana cairan

mendidih lalu menguap) dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan

ke dalam condenser agar mengalami kondesasi atau pendinginan. Pada system

pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan pendingin

yang menguap dengan cepat (Anonim, 2013). Keuntungan penguapan dengan vaccum

rotary evaporator adalah senyawa yang larut pada pelarut tidak ikut menguap dan tidak

rusak akibat pemanasan pada suhu tinggi.

Menurut Departemen Kesehatan RI (2006), ekstraksi adalah proses penarikan

kandungan kimia yang dapat larut dari suatu serbuk simplisia, sehingga terpisah dari

bahan yang tidak dapat larut. Beberapa metode yang banyak digunakan untuk ekstraksi

bahan alam antara lain:

1. Maserasi

Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia menggunakan pelarut dengan

beberapa kali pengadukan pada suhu ruangan. Prosedurnya dilakukan dengan merendam

simplisia dalam pelarut yang sesuai dalam wadah tertutup. Pengadukan dilakukan dapat

meningkatkan kecepatan ekstraksi. Kelemahan dari maserasi adalah prosesnya

membutuhkan waktu yang cukup lama. Ekstraksi secara menyeluruh juga dapat
menghabiskan sejumlah besar volume pelarut yang dapat berpotensi hilangnya metabolit.

Beberapa senyawa juga tidak terekstraksi secara efisien jika kurang terlarut pada suhu

kamar (27oC). Ekstraksi secara maserasi dilakukan pada suhu kamar (27oC), sehingga

tidak menyebabkan degradasi metabolit yang tidak tahan panas (Departemen Kesehatan

RI, 2006).

2. Perkolasi

Perkolasi merupakan proses mengekstraksi senyawa terlarut dari jaringan selular

simplisia dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan

pada suhu ruangan. Perkolasi cukup sesuai, baik untuk ekstraksi pendahuluan maupun

dalam jumlah besar (Departemen Kesehatan RI, 2006).

3. Soxhlet

Metode ekstraksi soxhlet adalah metode ekstraksi dengan prinsip pemanasan dan

perendaman sampel. Hal itu menyebabkan terjadinya pemecahan dinding dan membran

sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel. Dengan demikian, metabolit

sekunder yang ada di dalam sitoplasma akan terlarut ke dalam pelarut organik. Larutan

itu kemudian menguap ke atas dan melewati pendingin udara yang akan mengembunkan

uap tersebut menjadi tetesan yang akan terkumpul kembali. Bila larutan melewati batas

lubang pipa samping soxhlet maka akan terjadi sirkulasi. Sirkulasi yang berulang itulah

yang menghasilkan ekstrak yang baik (Departemen Kesehatan RI, 2006).

4. Refluks

Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan.

Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat yang

dilengkapi dengan alat pendingin tegak, lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari

akan menguap, uap tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali
menyari zat aktif dalam simplisia tersebut. Ekstraksi ini biasanya dilakukan 3 kali dan

setiap kali diekstraksi selama 4 jam (Departemen Kesehatan RI, 2006).

5. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada suhu yang

lebih tinggi dari suhu ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada suhu 40-50oC

(Departemen Kesehatan RI, 2006).

6. Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada suhu penangas air (bejana infus

tercelup dalam penangas air mendidih), suhu terukur (96-98oC) selama waktu tertentu

(15-20 menit) (Departemen Kesehatan RI, 2006).

7. Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan suhu sampai titik didih air,

yaitu pada suhu 90-100oC selama 30 menit (Departemen Kesehatan RI, 2006).
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

1. Alat yang digunakan

Adapun alat yang digunakan yaitu Ayakan mesh 60, Beker gelas, Botol coklat,

Erlenmeyer, Blender, Penutup (karet atau plastik), Pisau, Gelas Ukur, Kertas saring,

Vacuum evaporator, Timbangan analitik dan tissue

2. Bahan yang digunakan

Adapun bahan yang digunakan yaitu ekstrak temulawak, Etanol 96% , Aquadest,

Na Benzoat, Sukrosa, essens jeruk.

B. Cara Kerja

1. Pembuatan ekstrak temulawak

Simplisia temulawak dibuat serbuk kemudian diayak dengan ayakan mesh 60 dan

ditimbang sebanyak 500 gram. Serbuk dibagi 10 bagian, masing-masing bagian sebanyak

50 gram dilarutkan dengan ethanol 96% sebanyak 350 ml dalam botol coklat 1000 ml

kemudian ditutup, dibiarkan selama 5 hari dan dilakukan pengadukan 3 kali setiap

harinya. Selanjutnya disaring, ampas diremaserasi selama satu hari supaya penarikan

ekstraksi lebih sempurna. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan pada

vacuum evaporator dan diuapkan di waterbath sehingga diperoleh ekstrak kental

2. Pembuatan Sirup

C. Standarisasi senyawa Kurkumin

Analisis Kadar kurkumin Temulawak Menggunakan High Performance Liquid

Chromatography (HPLC) (Jayaprakasha et al. 2002). Persiapan injeksi HPLC dilakukan

dengan menyiapkan larutan standar kurkuminoid dalam etanol dengan beberapa


konsentrasi yaitu 0.25, 0.5, 0.75, dan 1 ppm. Selanjutnya semua larutan standar disaring

menggunakan filter 0.2 μm. Kurva kalibrasi dibuat dengan menghubungkan konsentrasi

kurkuminoid standar dengan luar area. Preparasi contoh dilakukan pada ekstrak kental

temulawak. Sebanyak 500 mg ekstrak di larutkan dalam 10 mL etanol. Selanjutnya

larutan stok diencerkan dengan beberapa kali pengenceran untuk mendapatkan luas

kurva yang masuk deret standar. Kemudian semua contoh disaring menggunakan filter

0.2 μm. Selanjutnya contoh siap diinjeksi. Sistem elusi dilakukan dengan fase gradien

dengan laju alir 1 mL/menit, suhu dijaga pada suhu kamar dan volume injeksi sebanyak

20 μL. Detektor yang digunakan adalah uv-vis dengan panjang gelombang 425 nm.

1. Analisis kadar air

Penentuan kadar air dilakukan dengan metode pengeringan pada oven 1050C

sehingga diperoleh bobot tetap. Cawan porselin dikeringkan dalam oven 1050C selama 3

jam, kemudian ditempatkan dalam desikator selama 1 jam. Setelah ditimbang, cawan

ditambahkan sampel dan dioven 105oC selama 3 jam. Setelah itu ditempatkan dalam

desikator selama 1 jam, Bobot cawan dan sampel ditimbang. Analisis dilakukan 4 kali

ulangan untuk masing-masing sampel

2. Analisis kadar abu

Penentuan kadar abu dengan menghilangkan bahan-bahan organik yang

dilakukan melalui pengabuan pada suhu tinggi antara 600 - 650°C di dalam suatu tanur

tahan panas. Cawan porselin dikeringkan dalam oven 1050C selama 3 jam, kemudian

ditempatkan dalam desikator selama 1 jam. Setelah ditimbang cawan ditambahkan

sampel hasil preparasi. Cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam tanur listrik 650 oC

selama 18-24 jam. Sampel yang telah jadi abu kemudian ditempatkan dalam desikator

selama 1 jam. Bobot cawan dan abu ditimbang. Analisis kadar abu dilakukan sebanyak 4

kali ulangan.
BAB IV

FORMULA

A. Formula Sediaan Sirup Ekstrak Temulawak

Serbuk simplisia temulawak mg

Sukrosa 65%

Na Benzoat 0,5%

Essens jeruk 0,005%

Aquadest ad 100%

B. Alasan Penggunaan bahan

1. Serbuk simplisia ekstrak temulawak (Zat aktif)

Zat aktif adalah yang berkhasiat yang dapat memberikan efek teraupetik. Bahan

aktif Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) yang dapat berkhasiat sebagai penambah

nafsu makan dan stimulant Khasiat lainnya fungi static pada berbagai jenis jamur dan

bakteriostatik pada mikroba.

2. Sukrosa (Pemanis)

Pemanis merupakan zat tambahan dalam suatu sirup, pemanis ditambahkan untuk

memberikan rasa manis pada sirup. Sukrosa secara luas digunakan sebagai eksipien

dalam formulasi produk farmasetik, kosmetik, dan produk makanan untuk menjaga

kelembaban, penambah elastisitas, pemanis, bahan pengisi tablet dan kapsul. Dalam

preparasi sediaan cair sukrosa digunakan pembawa dalam formulasi bebas gula.

Konsentrasi sukrosa dalam sediaan sirup adalah 50 dan 65 % , akan tetapi umumnya

antara 60 dan 65%.


3. Natrium Benzoat (Pengawet)

Pengawet ditambahkan pada sediaan sirup agar tidak ditumbuhi mikroba

sehingga sirup tahan lama dan bisa di pakai berulang- ulang. Natrium benzoat digunakan

terutama sebagai pengawet antimikroba untuk produk kosmetik, makanan, atau sediaan

obat. Penggunaan Natrium benzoat 0,02% - 0,5% untuk sediaan oral, 0,5% untuk sediaan

parenteral, dan 0,1% - 0,5% dalam sediaan kosmetik.

4. Essens Jeruk (pengaroma)

Sifat fisik temulawak yang memilki aroma yang tajam serta rasa yang pahit

memungkinkan pemberian rasa buah-buahan terutama pasien anak-anak agar dapat

menghilangkan rasa pahit. Bahan pengaroma yang beredar merupakan campuran

pengaroma atau imitasi. Pengaroma yang biasa digunakan adalah essens jeruk dengan

konsentrasi 0,005 ml (Parrot : 178)

5. Aquadest (Pelarut)

Pelarut adalah cairan yang dapat melarutkan zat aktif atau biasa disebut sebagai

zat pebawa. Contoh pelarut adalah air, gliserol, propilenglikol, etanol, eter, dll.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Temulawak. Jakarta: Badan Pengawasan Obat Dan Makanan

Deputi Bidang Pengawasan Obat tradisional, Kosmetik dan Asli Indonesia

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi ketiga, 591, Departemen Kesehatan

Republik Indonesia : Jakarta

Anonimous, 2007. Petunjuk Pemupukan. PT Agro Media : Jakarta Selatan.

Hal 32-33

Ansel, H. C,. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Diterjemahkan oleh

Farida Ibrahim, Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608,

700. UI Press : Jakarta

Awalin, N,.1996. Minyak Atsiri Rimpang Temulawak, Pengaruhnya terhadap

Kenaikan Berat Badan Tikus Putih Jantan dan Analisis Kandungan

Kimianya, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada :

Yogyakarta

Afifah, E,. dan Tim Lentera. 2003. Khasiat dan Manfaat Temulawak Rimpang

Penyembuh Aneka Penyakit> Agromedia Pustaka : Jakarta

Carlos M. Grilo and James E. Mitchell (Eds) (2010) The treatment of eating

disorders: A clinical handbook. The Guildford Press: New York


Dalimartha, S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 5. Pustaka

Bunda : Jakarta

Guyton, A. C. 1990. Buku ajaran fisiologi kedokteran Edisi 5, Bagian I.

EGC : Jakarta

Puspitojati, E., dan Santoso, H. 2012. Optimasi Fermentasi pada Pembuatan

Ekstrak Temulawak sebagai Bahan Baku Es Krim. Jurnal ilmu-ilmu

pertanian volume 16, No. 2, Desember 2012. Surakarta: Jurusan Pertanian.

Limananti. A, I dan Triratnawati, A. 2003. Ramuan jamu Cekok sebagai

Penyembuh Nafsu Makan. Suatu Kajian Etnomedisin. Makara kesehatan.

UGM : Yogyakarta

Sudarsono, et al. 1996. Tumbuhan Obat. Pusat Penelitian Obat Tradisional UGM :

Yogyakarta

Ozaki, Y. & Liang, O.B,. 1988. Cholagogic Action the Essential oils Obtain from

Curcuma xanthorrhiza Roxb,.Shoyalu zasshi,. 24(4),257-263

Voigt. 1984. Buku ajar Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani Noeroto

S,. UGM Press : Yogyakarta