Anda di halaman 1dari 1

1 Abstraksi Kemilau emas memancar saat Zhu membentangkan benang

emas di sudut kain pelepai. Sinar perak jarum di tangannya


menyulam satu kehidupan tajam yang menusuk. Udara Danau
Menjukut berbau bunga kopi, bertiup perlahan memasuki rongga
hati, dan menghempas dada Zhu pada barisan awan di langit
menuju ke arah lau, ke arah pantai, ke arah teluk Tanjung Cina.
Di sanalah Sulaiman, lelaki yang telah menebas separuh
umurnya, telah terkubur dan pergi.

2 Orientasi Kegembiraan separuh umur, dan kesedihan pada ujung


hidupnya, menciptakan runcing jari-jari Zhu pandai menari.
Menari dan bernyanyi di atas hamparan kain sulaman. Menyerut
seluruh jiwa yang sedih, yang gembira, yang mabuk, dan putus
asa. Lautan asmara, nyanyian cinta, kerinduan perih, dan pujian
kepada tanah tempat lelakinya terkubur. Ia menyeru di atas
sehelai kain pelepai, menggambar pola-pola yang rumit, dan
membayangkan seluruh dirinya masuk. Menjadi naga yang
menggerakkan seluruh gelombang tanah, bukit, gunung-gunung,
menjadi liukan benang-benang emas dan rajutan benang-benang
perak yang berkelit dan berkelindan dalam gulungan warna
aroma ombak, hijau daun, putih awan.
Resolusi Zhu Ni Xia, perempuan matang yang kini telah memilih
takdirnya. Pada malam ketika barang singgah dibandar, ia
menitipkan pesan untuk ayahnya.

“Aku telah menemukan lelaki,Ayah! Dan aku jatuh cinta


kepadanya. Datanglah segera untuk menjadi wali putrimu
tercinta.”

Ada purnama, ada cahaya, tapi ada lautan yang mengirimkan


badai.

“Sampaikan pada Sulaiman, aku bersedia menjadi istrinya,”


begitu ia meminta kepada Nyiwar, dan begitulah Nyiwar
mengatakan pada Sulaiman. Lalu bulan berganti.

Ketika madu tumpah dilautan, ketika ia telah resmi memanggil


Ibu kepada Nyiwar, dan begitulah Nyiwar –perempuan lembut
sekokoh karang-dan ia resmi memanggil Abang kepada suami;
angin ibukota tiba-tiba mengirimkan badai lebih besar pada
parasnya yang jelita.