Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes adalah salah satu penyakit yang underdiagnosed. Sekitar 30% penderita
diabetes sering tidak menyadari penyakitnya dan pada saat diagnosis ditegakkan, sekitar
25% sudah menderita komplikasi mikrovaskular. Rata-rata keterlambatan sejak onset
hingga diagnosis ditegakkan diperkirakan sekitar 7 tahun; oleh karena itu identifikasi
diabetes harus dilakukan lebih awal dengan cara yang lebih efisien.
Pemeriksaan Hemoglobin A1c (HbA1c) dipertimbangkan sebagai pemeriksaan untuk
skrining dan diagnosis diabetes. Manfaat HbA1c selama ini lebih banyak dikenal untuk
menilai kualitas pengendalian glikemik jangka panjang dan menilai efektivitas terapi,
namun beberapa studi terbaru mendukung pemanfaatan HbA1c yang lebih luas, bukan
hanya untuk pemantauan, tetapi juga bermanfaat dalam diagnosis ataupun skrining
diabetes melitus tipe 2.
Hemoglobin A1c pertama kali ditemukan pada tahun 1960-an melalui suatu proses
elektroforesis hemoglobin. Pada tahun 1962, Huisman dan Dozy melaporkan peningkatan
salah satu fraksi minor hemoglobin pada 4 pasien diabetes. Lima tahun kemudian, Rahbar
kembali menemukan fraksi tersebut pada 2 orang penderita diabetes yang menjalani
skrining karena hemoglobin yang abnormal. Pada tahun 1968 dilaporkan adanya suatu
komponen hemoglobin diabetes pada pasien diabetes tidak terkontrol. Tak lama
kemudian ditemukan bahwa komponen diabetes tersebut memiliki karakteristik
kromatografi yang sama dengan HbA1c, yaitu suatu komponen hemoglobin minor yang
digambarkan oleh Schnek dan Schroeder pada tahun 1961. Penggunaan HA1c untuk
pemantauan derajat kontrol metabolisme glukosa pasien diabetes pertama kali diajukan
pada tahun 1976, kemudian diadopsi ke dalam praktek klinik pada tahun 1990-an oleh
Diabetes Control and Complication Trial (DCCT) dan the United Kingdom Prospective
Diabetes Study (UKPDS) sebagai alat monitoring derajat kontrol diabetes mellitus.
Komite ahli dari the American Diabetes Association (ADA) dan the European
Association for the Study of Diabetes (EASD) kemudian merekomendasikan penggunaan
HbA1c untuk diagnosis diabetes melitus, dan pada tahun 2010 ADA memasukkan HbA1c
ke dalam kriteria diagnosis diabetes.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari HbA1C?
2. Apa fungsi dari pemeriksaan HbA1C?
3. Bagaimana cara pemeriksaan HbA1C?
4. Apa saja faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan HbA1C?
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan HbA1C?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari HbA1C
2. Untuk mengetahui fungsi dari pemeriksaan HbA1C
3. Untuk mengetahui bagaimana cara pemeriksaan HbA1C
4. Untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan HbA1C
5. Untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan dari pemeriksaan HbA1C?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hemoglobin A1c (HbA1c)


Hemoglobin pada manusia terdiri dari HbA1, HbA2, HbF( fetus). Hemoglobin A
(HbA) terdiri atas 91 sampai 95 % dari jumlah hemoglobin total. Molekul glukosa
berikatan dengan HbA1 yang merupakan bagian dari hemoglobin A. Proses pengikatan
ini disebut glikosilasi atau hemoglobin terglikosilasi atau hemoglobin A. Dalam proses
ini terdapat ikatan antara glukosa dan hemoglobin. Hba1c Pada Pasien Diabetes Melitus
Hemoglobin adalah komponen dari sel darah merah yang berfungsi sebagai transport
oksigen.
2.2 Glikolisasi Hemoglobin pada Penyandang DM
Pada penyandang DM, glikolisasi hemoglobin meningkat secara proporsional dengan
kadar rata-rata glukosa darah selama 120 hari terakhir, bila kadar glukosa darah berada
dalam kisaran normal selama 120 hari terakhir, maka hasil hemoglobin A1c akan
menunjukkan nilai normal. Hasil pemeriksaan hemoglobin A1c merupakan pemeriksaan
tunggal yang sangat akurat untuk menilai status glikemik jangka panjang dan berguna
pada semua tipe penyandang DM. Pemeriksaan ini bermanfaat bagi pasien yang
membutuhkan kendali glikemik (Soewondo P, 2004). Pembentukan HbA1c terjadi
dengan lambat yaitu selama 120 hari, yang merupakan rentang hidup sel darah merah.
HbA1 terdiri atas tiga molekul, HbA1a, HbA1b dan HbA1c sebesar 70 %, HbA1c dalam
bentuk 70% terglikosilasi (mengabsorbsi glukosa). Jumlah hemoglobin yang
terglikolisasi bergantung pada 7 jumlah glukosa yang tersedia. Jika kadar glukosa darah
meningkat selama waktu yang lama, sel darah merah akan tersaturasi dengan glukosa
menghasilkan glikohemoglobin (Kee JL, 2003). Kadar HbA1c merupakan kontrol
glukosa jangka panjang, menggambarkan kondisi 8-12 minggu sebelumnya, karena
paruh waktu eritrosit 120 hari (Kee JL, 2003), karena mencerminkan keadaan glikemik
selama 2-3 bulan maka pemeriksaan HbA1c dianjurkan dilakukan setiap 3 bulan (Darwis
Y, 2005, Soegondo S, 2004). Peningkatan kadar HbA1c > 8% mengindikasikan DM
yang tidak terkendali dan beresiko tinggi untuk menjadikan komplikasi jangka panjang
seperti nefropati, retinopati, atau kardiopati, sedangkan penurunan 1% dari HbA1c akan
menurunkan komplikasi sebesar 35% (Soewondo P, 2004). Pemeriksaan HbA1c
dianjurkan untuk dilakukan secara rutin pada pasien DM Pemeriksaan pertama untuk

3
mengetahui keadaan glikemik pada tahap awal penanganan, pemeriksaan selanjutnya
merupakan pemantauan terhadap keberhasilan pengendalian (Kee JL, 2003)

2.3 Metoda Pemeriksaan


1. Sampel: darah vena dengan antikoagulan (EDTA, heparin, oksalat)
2. Pengambilan sampel, untuk pemeriksaan HbA1c pada penderita DM biasa dilakukan
bersamaan dengan pengambilan sampel pemeriksaan glukosa
3. Metoda pemeriksaan yang dipakai ;
A. Metode Kromatografi Pertukaran Ion (Ion Exchange Chromatography)
Prinsip dari metode ini adalah titik isoelektrik HbA1c lebih rendah dan lebih
cepat bermigrasi dibandingkan komponen Hb lainnya. Apabila menggunakan metode
ini harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom, kekuatan ion dan pH dari
buffer (Widijanti dan Ratulangi, 2011). Kelemahan dari metode ini adalah adanya
interferensi variabel dari hemoglobinopati, HbF dan carbamylated Hb (HbC) yang
bisa memberikan hasil negatif palsu. Keuntungan metode ini adalah dapat memeriksa
kromatogram Hb varian dengan tingkat presisi yang tinggi (Harefa, 2011).

B. Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography)


Metode ini memiliki prinsip yang sama dengan Ion Exchange
Chromatography, bisa diotomatisasi serta memiliki akurasi dan presisi yang baik
sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi untuk
pemeriksaan kadar HbA1c (Widijanti dan Ratulangi, 2011).

C. Metode Agar Gel Elektroforesis


Metode ini memiliki hasil yang berkorelasi dengan baik dengan HPLC tetapi
presisinya kurang dibandingkan HPLC. HbF memberikan hasil positif palsu tetapi
kekuatan ion, pH, suhu, HbS dan HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini
(Widijanti dan Ratulangi, 2011).

D. Metode Immunoassay (EIA)


Prinsip dari metode ini adalah ikatan yang terjadi antara antibodi dengan
glukosa dan antara asam amino-4 dengan 10 N-terminal rantai β. Kelemahan dari
metode ini adalah dipengaruhi oleh gangguan hemoglobinopati dengan asam amino
lengkap pada sisi yang berikatan dan beberapa gangguan yang berasal dari HbF

4
(Harefa, 2011) sehingga metode ini hanya mampu mengukur HbA1c dan tidak dapat
mengukur HbA1c yang labil maupun HbA1A dan HbA1B (Widijanti dan Ratulangi,
2011). Keuntungan dari metode ini adalahtidak dipengaruhi oleh HbE dan HbD
maupun carbamylated Hb, relatif lebih mudah diimplementasikan pada berbagai
format yang berbeda dan memiliki presisi yang baik (Harefa, 2011).

E. Metode Affinity Chromatography


Prinsip dari metode ini adalah glukosa yang terikat pada asam m-
aminofenilboronat. Kelemahan dari metode ini adalah bukan hanya mengukur glikasi
valin pada N-terminal rantai β tetapi juha glikasi rantai β pada bagian lain dan glikasi
rantai α sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi daripada dengan
metode HPLC (Harefa, 2011). Keuntungan metode ini adalah non-glycated
hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1c tidak mengganggu penetuan hemoglobin
glikasi, tidak dipengaruhi suhu, presisi baik, HbF, HbS dan HbC hanya sedikit
mempengaruhi metode ini (Widijanti dan Ratulangi, 2011).

F. Metode Analisis Kimiawi dengan Kolorimetri


Metode ini memerlukan waktu inkubasi yang lama yaitu sekitar 2 jam tetapi
keuntungannya lebih spesifik karena tidak dipengaruhi oleh -glycosylated ataupun
glycosylated labil. Kerugiannya adalah waktu lama, sampel besar dan satuan
pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi yaitu mmol/L (Widijanti dan Ratulangi,
2011).
G. Metode Spektrofotometri
Prinsip dari metode ini adalah penghilangan fraksi labil dari hemoglobin
dengan cara haemolysate kemudian ditambahkan agen penukar ion kationik kemudian
dibaca dengan instrument spektrofotometer pada panjang gelombang 415 nm
(Fortress, 2000).

5
2.4 Kondisi yang Menyebabkan Pemeriksaan Kadar Hba1c Akan Terganggu dan
Tidak Akurat

Ada beberapa kondisi dimana pemeriksaan kadar HbA1c akan sangat terganggu
dan tidak akurat, misalnya :
1. Specimen ikterik (kadar bilirubin > 5.0 mg/dl), Warna kekuningan pada serum
akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh yang menandakan terjadinya gangguan
fungsi dari hepar( Widmann, 2004)
2. Specimen hemolisis
Pada destruksi Eritrosit , membran sel pecah sehingga Hb keluar dari sel,
hemolisis menunjukkan destruksi eritrosit yang terlalu cepat , baik kelainan
intrinsik maupun proses ektrinsik terhadap eritrosit dan serum berwarna merah
atau kemerahan (Widmann, 2004).
1. Penurunan sel darah merah (Anemia, talasemia, kehilangan darah jangka
panjang) akan menurunkan kadar HbA1c palsu Anemia didefenisikan sebagai
berkurangnya kadar Hb darah, penurunan kadar Hb biasanya disertai penurunan
Eritrosit dan Hematokrit ( Kee JL, 2003)

2.5 Prosedur Pemeriksaan HbA1c


A. Metode : HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
B. Prinsip : Hemoglobin akan dipisah menjadi fraksi-fraksi berdasarkan muatan
ionnya

Prinsip HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

6
C. Metoda kerja
 Masukkan 1,5 mL diluent solution ke dalam tabung sampel
 Tambahkan 5µL darah EDTA
 Homogenisasi
 Letakkan dalam rak analisis
 Masukkan ke dalam alat HPLC
D. Interpretasi Hasil
 Dalam bentuk gelombang kurva
 Gelombang HbA1c berwarna hitam
 Nilai dalam persentase (%) dan mmol/mol

Interpretasi Hasil HbA1c metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

E. Nilai rujukan
Kadar HbA1c

Non Diabetik 4-6%

Diabetik
Kontrol baik < 7%

Kontrol sedang 7-10%

Kontrol buruk > 10%

7
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemeriksaan HbA1c dianjurkan untuk dilakukan secara rutin pada pasien DM


Pemeriksaan pertama untuk mengetahui keadaan glikemik pada tahap awal penanganan,
pemeriksaan selanjutnya merupakan pemantauan terhadap keberhasilan pengendalian.
Metoda pemeriksaan yang dipakai ;

 Metode Spektrofotometri
 Metode Analisis Kimiawi dengan Kolorimetri
 Metode Affinity Chromatography
 Metode Immunoassay (EIA)
 Metode Agar Gel Elektroforesis
 Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
 Metode Kromatografi Pertukaran Ion (Ion Exchange Chromatography)

8
DAFTAR PUSTAKA

http://aulanni.lecture.ub.ac.id/files/2012/04/dr.Nidia-Suriani-Gangguan-metabolisme-
KH-pada-DM1.pdf diunduh pada 04 Maret 2015 17:02

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37913/4/Chapter%20II.pdi diunduh
pada 04 Maret 2015 17:15

Lehninger, Albert L. 1994. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta: Erlangga

Nogrady, Thomas. 1992. Kimia Medisinal Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB