Anda di halaman 1dari 12

Penelitian

PEMEROLEHAN BAHASA ANAK:


KAJIAN ASPEK FONOLOGI PADA ANAK USIA 2 - 2,5 TAHUN
Prima Gusti Yanti
pgustiyanti@yahoo.com
FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta
Jl. Tanah Merdeka, Kp. Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur
Abstrak: Penelitian ini bertujuan memaparkan pemerolehan bahasa anak usia 2--2.5 tahun dari aspek
fonologi yang meliputi pemerolehan vokal, pemerolehan konsonan, dan faktor yang mempengaruhi
pemerolehan fonologi tersebut. Penelitian dilakukan di Jakarta pada bulan Agustus-Februari 2012. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data
diperoleh dari seorang anak yang bernama TPM. Data artikel ini dikumpulkan melalui observasi, catatan
harian, dan wawancara. Temuan dalam artikel ini memperlihatkan bahwa TPM telah menguasai fonem [a], [i],
[u], [e], [o], [∂], [є], dan [Ο]. Fonem vokal itu dikuasainya pada usia 2 tahun 1 bulan. Vokal pertama yang
dikuasainya adalah vokal [a], [i], dan [u], kemudian vokal depan [i], [e], [ε], lalu vokal belakang [u], [o], [ ‫]כ‬, dan
vokal tengah [∂],[a]. Bunyi vokal rangkap yang tidak bersifat diftong juga telah dikuasai pada usia 2 tahun 3
bulan, misalnya [au], [ai] dan [ue]. Akan tetapi, diftong asli [au] dan [ai] baru dikuasainya pada usia 2 tahun 6
bulan. Sementara itu, konsonan [p], [b], [t], [d], [s], [h], [c], [j], [m], [n], [ŋ], [l], [w], dan [y] dikuasainya dengan
baik. Konsonan [t], [s], [c], [j], dan [ŋ] sudah muncul, tetapi masih berfluktuasi dengan bunyi lain. Bunyi
hambat velar [g], [k] belum diucapkan secara tepat. Bunyi [k] baru dikuasai jika terletak pada tengah dan
akhir kata. Bunyi frikatif [f] dan [v] dan bunyi getar [r] belum muncul dan dikuasainya. TPM melakukan pola
substitusi untuk mengucapkan fonem-fonem yang belum dikuasainya, seperti fonem [f], [v], [z], dan
[x]. Munculnya berbagai variasi dalam pemerolehan fonologi TPM sebagian besar disebabkan oleh
belum sempurnanya alat ucap TPM. Penelitian masih terbuka untuk penelitian pemerolehan fonologi
lebih lanjut karena pemerolehan bahasa TPM belum mencapai puncak. Namun dapat juga meneliti
pemerolehan bahasa pada aspek bahasa lainnya.

Kata-kata Kunci: pemerolehan bahasa, aspek fonologi, vocal, konsonan

CHILD LANGUAGE ACQUISITION : THE PHONOLOGICAL STUDY


OF 2-2.5 YEARS OLD CHILDREN
Abstrak: This article aims to explain child language acquisition 2--2.5 years of age phonological aspects
which include the acquisition of vowels, consonants, and factors affecting the phonological acquisition. The
research was conducted in Jakarta from August 2011 through February 2012 .The method used in this
research was qualitative method with case study approach. Sources of data were obtained from TPM and
these data were collected during six months of observation, diaries, and interviews. The findings in this
article shows that TPM has mastered the phoneme [a], [i], [u], [e], [o], [∂], [є], and [Ο]. Vowel phonemes was
mastered at the age of 2 years and 1 month. The first vowel that it controls is a vowel [a], [i] and [u], then the
front vowel [i], [e], [ε], and then back vowel [u], [o], [ ‫]כ‬, and vowel [∂], [a]. Double vowel sound that is not a
diphthong also been mastered by the age of 2 years and 3 months, for example, [au], [ai] and [ue]. However,
the original diphthong [au] and [ai] recently mastered at age 2 years and 6 months. Meanwhile, the
consonant [p], [b], [t], [d], [s], [h], [c], [j], [m], [n], [ŋ], [l ], [w] and [y] mastered well. Consonant [t], [s], [c],
[j] and [ŋ] has appeared, but still fluctuates with another sound. The sound resistor velar [g] and [k] are not
pronounced properly. The sound [k] is mastered if located in the middle and end of words. Sound fricative
[f] and [v] and trill [r] has not yet emerged and mastered. TPM perform substitution pattern to pronounce
phonemes had not conquered, such as phonemes [f], [v], [z], and [x]. The appearance of a wide range of
variation in her phonological acquisition largely is caused by the incomplete of her speech organ. Research
is still open for further research the acquisition of phonology because language acquisition TPM has yet to
reach the Summit. But it can also examine language acquisition on aspects of other languages

Keywords: language acquisition, phonological aspects, vocal, consonants

Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016 131
Pemerolehan Bahasa Anak ...

PENDAHULUAN
Pemerolehan bahasa (language acquisition) tahapannya berlaku secara umum.
termasuk ke dalam ranah (domain) psikolinguistik, Kajian tentang pemerolehan bahasa
yaitu ilmu bahasa yang objeknya adalah mencakupi antara lain pemerolehan fonologi,
pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa, morfologi, sistaksis, dan semantik. Sebagai salah
perubahan bahasa, dan hal lain yang ada satu kajian pemerolehan bahasa, pemerolehan
hubungannnya dengan aspek-aspek tersebut. fonologi merupakan ranah penelitian yang penting
Pengetahuan bahasa bersangkut paut dengan karena dapat menentukan atau mempengaruhi teori-
masalah kognitif karena unsur bahasa yang diketahui teoiri linguistik. Kajian-kajian fonologi yang
dan dipahami sebenarnya berproses dalam otak. membahas kerumitan, keteraturan, dan keterbatasan
Pemakaian bahasa berkaitan dengan praktik sistem bunyi umumnya dapat menjadi penyokong
pengetahuan bahasa, yaitu apa yang kita ketahui kita dan penentu teori-teori linguistik yang dihasilkan oleh
kemukakan dalam bentuk pemakaian bahasa. pakarnya. Hal lain yang menjadikan ranah fonologi
Sebagai bidang yang termasuk ke dalam ini menarik untuk dikaji dalam pemerolehan bahasa
ranah psikolinguistik, pemerolehan bahasa akhir- kanak-kanak adalah karena pemunculan bunyi ini
akhir ini berkembang secara cepat. Hal ini bersifat genetik. Dengan kata lain, munculnya suatu
disebabkan oleh adanya perubahan pendangan bunyi tidak dapat diukur dengan tahun atau bulan
tentang pengajaran dan pembelajaran bahasa, serta kalender karena perkembangan biologi manusia
makin gencarnya konsep universal dalam tidak sama. Dengan demikian pemerolehan bahasa
pemerolehan bahasa. Pengajaran dan pembelajaran setiap anak pasti memiliki variasi. Berdasarkan
bahasa tidak hanya bertumpu pada pandangan uraian di atas tampaknya penelitian tentang
bahwa bahasa itu adalah seperangkat kebiasaan pemerolehan bahasa perlu dilakukan lebih banyak
sehingga penguasaannya harus melalui dan lebih mendalam.
pembentukan kebiasaan tersebut, tetapi juga pada Penelitian bahasa anak cukup banyak
pandangan yang mengatakan bahwa bahasa itu dilakukan peneliti lainnya, seperti penelitian
diperoleh melalui pembentukan hipotesis pemerolehan bahasa anak yang dilakukan oleh
berdasarkan masukan yang diterima pembelajar. Arfian Hikkmat Ramdan dari Pascasarjana Linguistik
Pemerolehan bahasa dapat berupa Universitas Pendidikan Indonesia. Penelitiannya
pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan terkait dengan pemerolehan aspek fonologis anak
bahasa kedua atau ketiga. Pemerolehan bahasa umur 3 tahun yang berinisial RA.Hasilnya bunyi
pertama terjadi apabila kanak-kanak yang sejak frikatif [s] dan bunyi afrikat [c], bunyi afrikat berat [j],
semula tanpa bahasa kemudian memperoleh bunyi nasal alveopalatal [n], dan bunyi getar [r] belum
bahasa. Pemerolehan bahasa kedua terjadi apabila dapat diucapkan sempurna. Bunyi diftong [a-u] dan
kanak-kanak atau orang dewasa yang telah [a-i] belum munculnya (https://www.
menguasai bahasa pertama (bahasa ibunya), academia.edu/8894228/).
kemudian belajar bahasa kedua secara formal dan Selain itu, penelitian Kurniawan dari
terencana. Pemerolehan bahasa pertama memiliki Universitas Mataram terhadap seorang anak
ciri kesinambungan dalam wujud suatu rangkaian berumur 2 tahun yang berinisial M diakses dari
kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata http://jlt-polinema.org/?p=843. Hasil penelitiannya
sederhana menuju gabungan kata yang rumit. menyatakan banyak bunyi bahasa M yang
Kemampuan kanak-kanak untuk menerima bahasa dilesapkan dan diubah. Selanjutnya penelitian Hakim
sejalan dengan perkembangan biologis tubuhnya, Usman yang meneliti putrinya berinisial ZR berumur
khususnya yang berkaitan dengan bagian-bagian 4 tahun, tetapi yang dikaji adalah aspek sintaksis
pengucapan. Itulah sebabnya perkembangan bahasa anak. Hasilnya bahwa dalam bertutur ZR sudah
kanak-kanak yang satu dengan yang lainnya juga mengenal dialog, perkembangan fonologinya sudah
berakhir, dan kalimat yang diujarkan ZR banyak
berbeda walaupun usianya sama. Hal yang manarik
berbentuk deklaratif (http://jlt-polinema.org/?p=848).
dalam perkembangan pemerolehan bahasa pada
kanak-kanak adalah kecepatan pemerolehannya Artikel ini membahas khususnya aspek
tidak sama, tetapi tahap- fonologi TPM, anak penulis sendiri, pada usia

132 Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016
Pemerolehan Bahasa Anak ...

2 tahun sampai dengan 2 tahun 6 bulan yang Pandangan pakar di atas memperlihatkan
mencakupi pemerolehan vokal dan konsonan. bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses
Usia tersebut berada pada masa periode kritis yang berlangsung di dalam otak seseorang,
(critical period) yang sangat penting dalam terutama kanak-kanak, ketika dia memperolah
pemerolehan bahasa, juga karena pada usia bahasa pertamanya atau bahasa ibunya;
tersebut TPM sangat aktif berbicara dan selalu sedangkan pembelajaran bahasa berkaitan
ingin tahu tentang sesuatu hal. dengan proses-proses yang terjadi pada waktu
Berdasarkan uraian di atas, artikel ini seseorang mempelajari bahasa kedua di
mendeskripsikan pemerolehan bahasa anak dilihat lingkungan formal yang telah terencana.
dari aspek fonologi atau sistem bunyi bahasa Pemerolehan bahasa pertama merupakan
Indonesia. Masalah tersebut dibatasi pada hal-hal pemerolehan bahasa yang terjadi apabila anak yang
berikut: (a) bagaimana pemerolehan vokal pada anak belum pernah belajar bahasa apapun sekarang baru
usia 2 tahun sampai dengan 2 tahun 6 bulan? mulai belajar bahasa untuk pertama kali (Klein, 1984:
(2) bagaimana pemerolehan konsonan pada anak 6). Ada dua proses yang terjadi ketika seorang
usia 2 tahun sampai dengan 2 tahun 6 bulan? kanak-kanak sedang memperoleh bahasa
(3) faktor apa yang mempengaruhi pemerolehan pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses
fonologi anak pada usia tersebut? performasi. Proses kompetensi merupakan proses
Istilah pemerolehan (acquisition) berbeda penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara
dengan pembelajaran (learning). Krashen (1983: 1-2) alamiah atau tanpa disadari. Proses kompetensi ini
mengatakan bahwa pemerolehan adalah proses menjadi syarat terjadinya proses performansi yang
ambang sadar yang identik dengan proses yang terdiri atas proses pemahaman dan proses
dilalui anak dalam memperoleh bahasa ibunya, penghasilan. Proses pemahaman melibatkan
pemeroleh bahasa biasanya tidak sadar bahwa ia kemampuan mengamati atau mempersepsi kata-kata
tengah memperoleh bahasa, tetapi ia hanya sadar atau kalimat yang didengar, sedangkan proses
bahwa ia tengah menggunakan bahasa untuk penghasilan melibatkan kemampuan mengeluarkan
komunikasi; sedangkan pembelajaran adalah proses atau mengahasilkan kata-kata atau kalimat.
sadar yang menghasilkan pengetahuan tentang Sementara itu, Mukalel ( 2003) menyebutkan
bahasa. Pendapat yang hampir sama disampaikan bahwa pemerolehan bahasa pertama adalah
Dardjowidjojo (2012: 225) yang mengatakan bahwa sekumpulan bahasa yang diperoleh anak sebelum
pemerolehan adalah proses penguasaan bahasa usia sekolah. Pemerolehan bahasa pertama bersifat
yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu spontan, jarang dirancang dan direncanakan (Brown,
dia belajar bahasa ibunya (native language), 2007). Pemerolehan bahasa pertama terjadi secara
sedangkan pembelajaran merupakan proses dari alamiah. Ia menganggap bahwa biasanya
orang yang belajar di dalam kelas dan diajar oleh pemerolehan bahasa pertama dikondisikan dengan
seorang guru. memperkokoh hal yang bersifat primer seperti
Sementara itu, Galinkoff (1983:22) kebutuhan untuk mengkomunikasikan keinginan dan
mengatakan bahwa ada dua pengertian yang perlu untuk membina hubungan afektif dengan orang tua.
dipahami tentang pemerolehan bahasa. Pengertian Jika dikaitkan dengan urutan pemerolehan,
pertama mengatakan bahwa pemerolehan bahasa pengenalan anak dengan bahasa dapat terjadi
mempunyai suatu permulaan yang tiba-tiba dan melalui interaksi dengan orang tua, anggota keluarga
mendadak, sedangkan pengertian kedua lainnya, teman-teman sebaya di rumah atau di
mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki sekolah. Ketiga interaksi yang terjadi di dalam
suatu permulaan yang gradual yang muncul dari pemerolehan bahasa pertama itu kebanyakan terjadi
prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif secara alamiah
pralinguistik. Pandangan yang tidak jauh berbeda Dalam proses pemerolehan dan pembelajaran
juga disampaikan Ellis (1985) yang mengatakan bahasa pertama pada anak, Hamied (1989: 24-30),
bahwa pemerolehan bahasa itu dilandasi oleh diilhami oleh Ellis, mengatakan bahwa usia, seks,
asumsi mengenai penguasaan bahasa yang bersifat kelas sosial, dan identitas etnis merupakan faktor
bertahap (gradable) dan terkait unsur mengetahui sosial yang sangat berpengaruh. Lebih jauh ia
(knowing). menganggap bahwa faktor yang berpengaruh dalam

Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016 133
Pemerolehan Bahasa Anak ...

proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa adalah antara bunyi oral dengan bunyi nasal ([p-b],
pertama selain faktor eksternal juga faktor internal. [m-n]) dan kemudian disusul oleh kontras antara
Faktor eksternal meliputi faktor sosial dan faktor bunyi bilabial dengan bunyi dental ([p], [t]). Sistem
masukan atau interaksi; sedangkan faktor internal kontras seperti ini dinamakan sistem konsonantal
mancakupi faktor transfer, unsur kognitif, dan minimal (minimal consonantal system). Lebih jauh
faktor semesta. Jacobson mengatakan bahwa hubungan antara
Dengan demikian dapat dipahami bahwa bunyi yang satu dengan bunyi yang lain bersifat
pemerolehan bahasa pertama adalah suatu universal.
proses bagaimana anak memperoleh kemampuan Dengan demikian tampak bahwa
bahasa ibunya secara alamiah sesuai dengan pemerolehan bunyi-bunyi bahasa itu berlangsung
perkembangan kognitif, interaksi sosial, dan secara berurutan. Vokal minimal akan diperoleh
perkembangan linguistik anak itu sendiri. lebih awal daripada vokal-vokal lainnya;
Pemerolehan fonologi merupakan salah satu sedangkan konsonan hambat akan diperoleh lebih
bagian dari pemerolehan bahasa. Oleh karena itu, awal daripada konsonan frikatif, dan konsonan
penelitian tentang pemerolehan fonologi tidak dapat frikatif akan diperoleh lebih awal daripada afrikatif.
dipisahkan dari kajian-kajian tentang pemerolehan Anak tidak mungkin dapat menguasai frikatif atau
bahasa yang lain (pemerolehan morfologi, sistaksis, afrikat sebelum mereka menguasai konsonan
dan semantik). Dale (1976:7) mengatakan bahwa hambat. Kontras antara bilabial [b] dengan dental
ada dua faktor yang dapat diikuti jika kita ingin [d] dikuasai lebih dahulu daripada antara bilabial
memahami perkembangan fonologi kanak-kanak. [b] dengan velar [g] atau dental [d] dengan velar
Pertama, kita dapat memusatkan perhatian pada [g]. Kontras antara bilabial-dental [b-d] dikuasai
sekumpulan bunyi-bunyi yang dipakai dan pada sebelum frikatif [v-s]; bunyi hambat dan frikatif [b-
perkembangan perlahan-lahan dari kumpulan bunyi- d-v-s] dikuasai sebelum alveo-falatal [ts-dэ]. Hal itu
bunyi. Kedua, kita dapat meneliti hubungan antara sejalan dengan apa yang disampaikan Ingram
produksi ucapan si anak (representasi fonetiknya) (1999) yang menyatakan bahwa konsonan
dengan kata yang coba diucapkan si anak. Untuk pertama yang dikuasai anak adalah [p], [t], [m], [n].
kepentingan itulah, kita dapat merekam apa yang Berdasarkan uraian di atas dapat
diucapkan si anak. Data yang diperoleh dari hasil disimpulkan bahwa pemerolehan bunyi bahasa
rekaman ditranskripsikan, kemudian diamati dan pada kanak-kanak berlangsung secara berurutan,
dianalisis secara empiris. Lebih jauh Dale (1976:9) yakni dari bunyi yang mudah ke bunyi yang sukar.
mengatakan bahwa jika seorang anak telah Dalam pemerolehan fonologi, khususnya
mengucapkan suatu kata dalam situasi komunikasi pemerolehan bunyi-bunyi, kanak-kanak mengikuti
tertentu dan dapat dipahami oleh lingkungannya, Kaidah Usaha Minimal (the Law of Least Efforts).
maka disimpulkan bahwa anak tersebut telah Untuk mengetahui mudah atau sukarnya suatu
menguasai bunyi bahasa tersebut. bunyi, dasar yang digunakan adalah cara
Sementara itu, Jakobson (1971: 8-20, dan artikulasinya dan jumlah fitur distingtif yang ada
dalam Dardjowidjojo, 2012) mengatakan bahwa pada masing-masing bunyi. Jika makin sukar
pemerolehan bahasa pada anak sejalan dengan artikulasi dan makin banyak fitur distingtifnya,
konsep universal pemerolehan fonologi. makin belakangan bunyi itu dikuasai.
Pemerolehan bunyi berjalan selaras dengan kodrat Kent dan Miolo (dalam Dardjowidjono,
bunyi itu sendiri dan diperoleh anak melalui suatu 2012:268) mengatakan bahwa melalui saluran
cara yang konsisten. Bunyi pertama yang dikuasai intrauterine anak telah terekspos pada bahasa ketika
anak adalah kontras bunyi vokal dan konsonan. dia masih janin. Kata-kata ibunya yang dia dengar
Dalam hal bunyi vokal terdapat tiga vokal utama masuk ke janin secara biologis. Kata-kata tersebut
yang muncul terlebih dahulu, yaitu [i], [u], dan [a]. mulai tertanam dan melekat pada anak sebelum dia
Sistem kontras seperti itu disebut sistem vokal dilahirkan. Itulah sebabnya ada anggapan bahwa
minimal (minimal vokalic system) dan terdapat dalam anak lebih dekat kepada ibunya darapada kepada
semua bahasa. Artinya, dalam bahasa mana pun ayahnya. Perkembangan bahasa anak yang dimulai
ketiga bunyi vokal tersebut pasti ada. Dalam hal sebelum dia dilahirkan itu sejalan dengan
bunyi konsonan kontras pertama yang muncul perkembangan pikiran, perasaan, sosial, dan lain-

134 Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016
Pemerolehan Bahasa Anak ...

lain. Oleh karena itu, bahasa anak pun telah pertama itu terjadi selama periode kritis (critical
memiliki fungsi komunikasi sebagaimana bahasa period), yaitu pada usia 2—12 tahun. Sehubungan
orang dewasa. Meskipun demikian, fungsi-sungsi dengan itu, ia menyusun kronologis perkembangan
bahasa itu masih sangat terbatas karena bahasa kanak-kanak. Pada usia 3 bulan, anak mulai
perkembangannya sangat bergantung pada mengenal suara manusia, ingatan sederhana
kemampuan kognitif, usia, dan lingkungan. mungkin sudah muncul, dan anak mulai tersenyum
Bahasa anak memiliki beberapa tahapan. dan membuat suar-suar yang belum teratur. Pada
Bahasa anak pada tahap maraban pertama usia 6 bulan anak sudah mulai bisa membedakan
(pralinguistik I) ditandai dengan mendekur, menangis, antara nada yang halus dan nada yang kasar, dan
atau menjerit. Tahap maraban kedua ditandai dengan sudah mulai membuat vokal a...a...a. Pada usia 9
letupan pola suku kata; tahap holofrastik (linguistik I) bulan, anak mulai bereaksi terhadap isyarat dan
ditandai dengan ucapan-ucapan yang merupakan frasa mulai mengucapkan bermacam-macam suara. Pada
atau kata-kata tertentu (biasanya pada anak usia 2 usia 12 bulan, anak bereaksi terhadap perintah dan
tahun). Tahap linguistik II ditandai dengan ucapan- gemar sekali membuat suara-suara. Pada usia 18
ucapan dua kata. Tahapan linguistik bulan, anak sudak mulai bisa mengikuti petunjuk,
III ditandai dengan perkembangan tata bahasa. kosakatanya sudah mencapai dua puluhan, dan
Tahap liguistik IV ditandai dengan tata bahasa komunikasi dengan menggunakan bahasa sudah
yang lebih rumit (menjelang dewasa). Sedangkan mulai tampak.
tahap kompetensi lengkap yang merupakan tahap Berdasarkan tahapan-tahapan pemerolehan
akhir masa-masa kanak-kanak ditandai dengan bahasa tersebut tampaknya anak usia 2 tahun
struktur sintaksis yang mendekati bahasa ibunya sampai dengan 2 tahun 6 bulan yang menjadi
(Tarigan, 1985:263-268). subjek penelitian ini berada pada tahap keempat,
Sementara itu, Mackey (dalam Fishman, yaitu tahap linguistik II.
1972) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini itu dicatat dan direkam. Data tersebut kemudian
adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi ditranskripsikan, lalu diamati dan dianalisis secara
kasus. Melalui metode kualitatif ini akan empiris. Selanjutnya data yang sudah diperoleh,
dideskripsikan pemerolehan dan perkembangan diklasifikasikan sesuai dengan masalah yang
fonologi TPM pada usia 2 tahun sampai dengan 2 menjadi fokus penelitian.
tahun 6 bulan. Desain penelitian yang digunakan Jika si anak telah mengucapkan suatu kata
adalah longitudinal, yaitu dengan cara mengikuti dalam situasi komunikasi tertentu dan dipahami
perkembangan bahasa TPM dari suatu titik maknanya oleh lawan bicaranya, disimpulkan bahwa
tertentu (2 tahun) sampai ke titik waktu yang lain si anak telah menguasai bunyi bahasa tersebut.
(2 tahun 6 bulan). Selanjutnya data yang sudah diperoleh,
Sumber data utama penelitian ini adalah TPM diklasifikasikan berdasarkan kelompok pemerolehan
pada usia 2 tahun sampai dengan 2 tahun 6 bulan fonologi dan dikaitkan dengan pandangan para ahli
dan sumber data pendukung adalah orang tua TPM. yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa
Data ini dikumpulkan selama enam bulan melalui mengikuti proses yang bertolak dari sesuatu yang
observasi, catatan harian, dan wawancara antara mudah menuju ke yang lebih sukar, sehingga setiap
TPM dengan ayah dan bundanya, Bibi, Uni, dan Om. anak pada dasarnya memperoleh elemen-elemen
Hasil observasi dan wawancara bahasa dengan mengikuti gradasi kesukaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada usia 2 tahun sampai dengan 2 tahun 6 seperti keluarga dari pihak ayahnya atau ibunya,
bulan ini TPM tumbuh menjadi gadis cilik yang sehat, tetangga, dan teman-teman seusianya. Selain itu,
baik fisik maupun mental. Dalam kesehariannya anak ini juga sering diajak ke tempat keluarga jika
selain berkomunikasi dengan orang tuanya, dia juga ada acara keluarga dan ke tempat bundanya
telah dapat berkomunikasi dengan orang lain, mengajar, sehingga masukan perkembangan

Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016 135
Pemerolehan Bahasa Anak ...

pemerolehan bahasanya cukup bervariasi. kata berikut.


Pemerolehan Vokal [e] [e-e] ‘he-he’
Bunyi-bunyi vokal yang muncul berdasarkan Bunyi vokal [o] muncul dan dilafalkan
pengamatan data yang diperoleh selama 6 bulan dengan jelas, baik yang terletak pada awal,
adalah sebagai berikut. tengah, maupun akhir kata. Bunyi vokal [o] di awal
Bunyi vokal [a] merupakan bunyi huruf muncul pada kata berikut.
pertama yang dikuasai TPM secara utuh. Bunyi [o] [om] ‘Om’ dan [oraη] ‘orang’
tersebut muncul dan dilafalkan dengan jelas, baik Bunyi vokal [o] di tengah kata muncul seperti pada
yang terletak pada awal, tengah, maupun pada kata berikut.
akhir kata. Bunyi vokal [a] di awal kata muncul [o] [bobok] ‘tidur’ dan [boneka] ‘boneka’
seperti pada kata berikut. Bunyi vokal [o] di akhir muncul pada kata berikut.
[a] [ada] ‘ada’ dan [Ayah] ‘Ayah’ Bunyi [o] [kado] ‘kado’
vokal [a] di tengah kata muncul seperti pada kata Bunyi vokal [∂ ] muncul dan dilafalkan dengan
berikut. baik. Data yang diperoleh hanya pada suku
[a] [mana] ‘mana’ dan [Tatak] ‘Kakak’ pertama, seperti
Bunyi vokal [a] di akhir muncul pada kata berikut. [∂ ] [b∂lum] ‘belum’
[a] [apa] ‘apa’ dan [tsuka] ‘suka’ Bunyi vokal Bunyi vokal [ε] muncul dan dilafalkan dengan baik.
[i] muncul dan dilafalkan dengan jelas, baik yang Data yang diperoleh hanya pada suku terakhir,
terletak pada awal, tengah, maupun akhir kata. seperti
Bunyi vokal [i] di awal kata muncul seperti pada [ε] [monεt] ‘monyet’
kata berikut. Bunyi vokal [‫ ]כ‬muncul dan dilafalkan dengan baik.
[i] [itu] ‘itu’ dan [indomalet] ‘indomaret’ Bunyi Data yang diperoleh hanya pada suku terakhir,
vokal [i] di tengah kata muncul seperti pada kata seperti
berikut. [ [ijο]‘hijau’
[i] [bibi] ‘Bibi’ dan [sendili] ‘sendiri’ Bunyi Bunyi vokal rangkap yang muncul adalah [au], [ai],
vokal [i] di akhir kata muncul seperti pada kata [ue], dan [ua]. Bunyi vokal rangkap [au] muncul
berikut. seperti pada kata berikut.
[i] [beli] ‘beli’ dan [pelgi] ‘pergi’ Bunyi [au] [tau] ‘tau’ dan [mau] ‘mau Bunyi vokal
vokal [u] muncul dan dilafalkan dengan jelas, baik rangkap [ai] muncul seperti pada kata berikut.
yang terletak pada awal, tengah, maupun akhir
kata. Bunyi vokal [u] di awal kata muncul seperti [ai] [naik] ‘naik’ dan [baik] ‘baik’
pada kata berikut. Bunyi vokal rangkap [ue] muncul seperti pada kata
[u] [uni] ‘uni’ berikut.
Bunyi vokal [u] di tengah kata muncul seperti pada [ue] [kue] ‘kue’
kata berikut. Bunyi vokal rangkap [ue] muncul seperti pada kata
[u] [butan] ‘bukan’ dan [buta] ‘buka’ berikut.
Bunyi vokal [u] di akhir muncul seperti pada [ua] [uaη] ‘uang’
kata berikut. Bunyi diftong yang muncul dilafalkan dengan vokal
[u] [itu] ‘itu’ dan [mau] ‘mau’ Bunyi vokal [e] adalah [au] dan [ai]. Bunyi diftong [au] muncul
muncul dan dilafalkan dengan jelas, baik yang seperti pada kata berikut.
terletak pada awal, tengah, maupun akhir kata. [au] [piso] ‘pisau’
Bunyi vokal [e] di awal kata muncul seperti pada Bunyi diftong [ai] muncul seperti pada kata
kata berikut. berikut.
[e] [enam] ‘enam’ dan [emang] [ai] [pake] ‘pake’
‘memang’ Berdasarkan uraian dan contoh data di atas
Bunyi vokal [e] di tengah kata muncul seperti pada dapat dikatakan bahwa TPM sudah menguasai
kata berikut. semua vonem vokal bahasa Indonesia. Vokal [a], [i],
[e] [boneka] ‘boneka’ dan [dedek] ‘dedek/ [u], [e], dan [o] dilafalkan dengan baik meskipun
adik’ terletak pada awal, tengah, atau akhir kata. Variasi
Bunyi vokal [e] di akhir kata muncul seperti pada alofonik untuk masing-masing bunyi sudah

136 Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016
Pemerolehan Bahasa Anak ...

ada, kecuali untuk [o] dan [e] yang merupakan wujud ‘Saudara’
diftong [au] dan [ai]. Semua vokal bahasa Indonesia Bunyi letupan dorso-velar [g] yang terletak di
tersebut sudah dikuasai TPM pada saat berumur 2 tengah dilafalkan dengan bunyi lamino-alviolar [d],
tahun 1 bulan. Vokal pertama yang dikuasainya tetapi jika bunyi terletak di awal dan akhir kata
adalah vokal minimal, yaitu [a], [i], dan [u] sesuai dilafalkan dengan baik seperti pada data berikut.
yang dijabarkan oleh Dardjowidjojo, kemudian [d] [om Adus] ‘om Agus’ dan [badus]
berkembang menguasai vokal depan [i], [e], [ε], vokal ‘bagus’
belakang [u], [o], [‫]כ‬, dan vokal tengah [∂],[a]. [g] [gajah] ‘gajah’
Tampaknya variasi alofonik yang tidak begitu kentara Bunyi letupan dorso-velar [k] yang berposisi di
dalam Bahasa Indonesia tidak menimbulkan masalah awal atau di tengah kata dilafalkan dengan bunyi
bagi TPM dalam melafalkan bunyi-bunyi vokal. Pada lamino-alveolar [t], tapi jika bunyi tersebut terletak di
usia 2 tahun 3 bulan TPM telah mengusai urutan akhir kata dilafalkan [k] seperti pada data berikut.
vokal yang tidak bersifat diftong seperti [a-i] pada [t] [temali] ‘kemari’ dan [tuda] ‘kuda’
baik. Deretan vokal [a-u] seperti pada bau, [e-a] [tue] ‘kue’ [buta] ‘buka’
seperti pada kecapaian, [i-a] seperti pada sialan, dan [matan] ‘makan’ dan [belataη]
[i-i] seperti pada diikat juga dikuasainya pada usia ‘belakang’
tersebut. Akan tetapi, diftong asli [au] dan [ai] seperti [k] [Tatak] ‘Kakak’
pada kalau dan sungai baru dikuasai TPM pada usia Pada usia 2 tahun 5 bulan bunyi [k] yang terletak
2 tahun 6 bulan; sedangkan diftong asli [ ‫כ‬i] yang di tengah sudah dilafalkan dengan benar, misalnya
jarang kita temukan belum muncul dalam pelafalan kakak dilafatkan [takak].
TPM. Bunyi afrikat palatal [c] jika terletak di awal
Pemerolehan Konsonan kata dilafalkan dengan tepat, tetapi jika bunyi
Pemerolehan bunyi kosonan TPM pada usia tersebut terletak di tengah dilafalkan dengan [t]
2 tahun 5 bulan ini tidak semudah dia memahami seperti data berikut.
pemerolehan bunyi vokal. [t] [cutup] ‘cukup’ dan [celita] ‘cerita’
Bunyi letupan bilabial [p] dan [b] dilafalkan [c] [kuting] ‘kucing’
dengan jelas, baik yang terdapat di awal, di tengah, Bunyi afrikat palatal [j] kadang-kadang dilafalkan
maupun di akhir kata seperti pada data berikut. dengan baik dan kadang-kadang dilafalkan
[p] [peldi] ‘pergi’ dan [dapat] ‘dapat’ hambat labiodental [d] seperti pada data berikut.
[b] [Bunda] ‘Bunda’ dan [bilu] ‘biru’ Bunyi [j] [juda] ‘juga’ dan [ijo] ‘hijau’
nasal bilabial [m] dan lamino-alviolar [d] [daηan] ‘jangan’
[n] dilafalkan dengan jelas, baik yang terdapat di Bunyi frikatif lamino-alviolar [s] kadang-kadang
awal, di tengah, maupun di akhir kata seperti pada dilafalkan dengan jelas dan kadang-kadang
data berikut. dilafalkan menjadi hambat labiodental [t], dan bunyi
[m] [mana] ‘ke mana’ dan [mau] ‘mau’, frikatif [z] dilafalkan [j] seperti pada data berikut.
[lumah] ‘rumah’ [s] [masih] ‘masih’ dan [tampus] ‘kampus’
[n] [boneta] ‘boneka’ dan [Bunda] ‘Bunda’ [t] [tsuka] ‘suka’ dan [tekolah]
Bunyi hampiran bilabial [w] dan lamino palatal [y] ‘sekolah’
dilafalkan dengan jelas, baik yang terdapat di [j] [Jali] ‘Rozali’
awal, di tengah, maupun di akhir kata seperti pada Bunyi frikatif glotal [h] muncul jika pada akhir kata
data berikut. seperti pada data berikut.
[w] [walna] ‘warna’ dan [awas] [h] [udah] ‘sudah’ dan [lumah] ‘rumah’
‘awas’ [melah] ‘merah’ dan [tuh] ‘tuh/itu’ [nih]
[y] [Ayah] ‘Ayah’ ‘nih/ini’
Bunyi letupan lamino-alveolar [t] dan [d] dilafalkan Bunyi frikatif glotal [h] tidak muncul jika pada awal
dengan jelas, baik yang terdapat di awal, di tengah, kata seperti pada data berikut.
maupun di akhir kata seperti pada data berikut. [itam] ‘hitam dan [ampil] ‘hampir’
[t] [telus] ‘terus’ dan [nanti] ‘nanti’ [abis] ‘habis’
[Adit] ‘Adit’ Bunyi nasal lamino-palatal [n?] dilafalkan menjadi
[d] [Dedek] ‘Dedek’ dan [Saudara] nasal lamino-alveolar [n] seperti pada data berikut.

Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016 137
Pemerolehan Bahasa Anak ...

[puna] ‘punya’ dan [nani] ‘nyanyi’ Bunyi Bunyi velar hambat berat (voice velar stop), [g],
nasal dorso-velar [ŋ] pada suku kata akhir masih sering diucapkan dengan [d], terutama jika
diucapkan dengan jelas seperti pada data berikut. muncul pada tengah seperti Adus ‘Om Agus’, tetapi
[ [waluŋ] ‘warung’ dan [kuniŋ] ‘kuning’ jika terletak di awal dilafalkan dengan [g] seperti
Bunyi getar [r] belum muncul. Oleh karena itu, gatal. Bunyi frikatif [s] pada awal kata masih sering
bunyi tersebut dilafalkan dengan bunyi sampingan diucapkan sebagai [t] atau [ts], tetapi pada akhir kata
atau lateral [l] seperti pada data berikut. dilafalkan dengan frikatif [s]. Pada usia 2 tahun 6
[balu] ‘baru’ dan [bilu] ‘biru’ bulan bunyi afrikatif ringan [c] telah dilafalkan dengan
[lumah]‘rumah’ baik seperti pada coba, dan menjelang usia
Pada usia 2 tahun sampai dengan 2 tahun 6 2 tahun 6 bulan bunyi-bunyi tersebut semakin jelas
bulan ini tampaknya ada konsonan yang telah dan dilafalkan dengan baik. Sampai usia 2 tahun 6
dikuasai TPM dengan baik dan dilafalkan dengan bulan ini tampaknya TPM belum dapat melafalkan
jelas; ada pula konsonan yang telah dikuasai tetapi gugus konsonan, kecuali [mb] dan [ηg] pada kata
masih berfluktuasi dengan bunyi lain dan bahkan ada mbak dan nggak. Gugus konsonan tersebut
bunyi yang sama sekali belum dikuasainya. semuanya dilafalkan dengan konsonan tunggal.
Meskipun demikian, dalam mengucapkan fonem- Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan
fonem tertentu hasil observasi memperlihatkan Fonologi
bahwa TPM sering melakukan pola substitusi. Pola Hasil observasi memperlihatkan munculnya
substitusi yang muncul adalah sebagai berikut. Getar berbagai variasi dalam pemerolehan fonologi
menjadi lateral, misalnya sebagian besar disebabkan oleh belum sempurnanya
[rumah] → [lumah] alat ucap TPM. Meskipun penulis telah mencoba
[lari] → [lali] memancing (reatrive) konsonan yang belum muncul
Alveopalatal nasal menjadi dental nasal, misalnya dalam pelafalannya, TPM tetap tidak mampu
[ñañi ] → [nani] mengucapkan konsonan tersebut. Hal itu tampaknya
[ñapu] → [napu] sejalan dengan pendapat Lenneberg yang
Velar hambat berat menjadi bilabial hambat, menyatakan bahwa perkembangan bahasa anak
misalnya mengikuti perkembangan biologis yang tidak dapat
[bagus] → [badus] ditawar-tawar. Seorang anak tidak dapat dipaksa
[gatal] → [datal] atau dipacu untuk mengujarkan sesuatu bila
Velar nasal pada awal dan tengah suku kata kemampuan biologisnya belum memungkinkan.
menjadi dental nasal, misalnya Sebaliknya, bila seorang anak secara biologis dapat
[buŋa] → [bunga] mengujarkan sesuatu, dia tidak dapat pula dicegah
[ŋumpet] → [numpet] untuk tidak melafalkannya.
Labiodental frikatif ringan pada awal suku kata Faktor lain yang berpengaruh dalam
menjadi bilabial hambat ringan, misalnya pemerolehan fonologi TPM adalah stimulus dari
[fanta] → [panta] keluarga atau lingkungan sekitarnya. Beberapa data
Dental frikatif ringan pada awal suku kata menjadi yang berhasil penulis peroleh memperlihatkan bunyi-
dental stop ringan atau dental frikatif ringan, bunyi tertentu muncul melalui peniruan (immitative
misalnya speech), seperti pelafalan diftong [au] dan [ai] pada
[sekolah] → [tetolah] kata kata kalau, kerbau, dan pakai yang belum
[susu] → [tsutsu] muncul dilafalkan TPM dengan [kebo], [kalo], dan
Berdasarkan uraian dan contoh data di atas [pake]. Tidak atau belum munculnya diftong-diftong
tampaknya TPM sudah menguasai bunyi konsonan ini tampaknya tidak saja disebabkan oleh kesulitan
[p], [b], [t], [d], [h], [m], [n], [l], [w], [y], [k], [s], [η] pada artikulasi, tetapi juga karena masukan yang diterima
umur 2 tahun 1 bulan. Bunyi [k], [s], [η] hanya TPM memang sering berupa monoftong. Penutur
dikuasai TPM jika terletak pada akhir kata. Pada usia disekitar TPM dalam kesehariannya memang
tersebut TPM belum menguasai bunyi velar hambat melafalkan bunyi-bunyi tersebut sebagai monoftong
ringan (voiceless velar stop), [k], jika terletak pada ([kebo], [kalo], dan [pake]) sehingga dapat dipahami
tengah dan akhir kata. Bunyi tersebut baru dikuasai jika TPM juga melafalkannya dengan bunyi-bunyi
TPM setelah berusia 2 tahun 5 bulan. monoftong pula.

138 Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016
Pemerolehan Bahasa Anak ...

Penguasaan bunyi-bunyi vokal dan konsonan Tabel 1. Penguasaan Bunyi Konsonan TPK
yang telah dicapai TPM pada usia 2 tahun sampai
dengan 2 tahun 6 bulan dapat dilihat pada bagan Cara
Daerah Artikulasi

vokal dan konsonan berikut. Fonem yang telah Artikulasi Labio- Alveo-
Bilabial Alveolar Velar Glotal
Dental Palatal
dikuasai ditulis dengan huruf biasa, yang masih Hambat P t (k) ?
berfluktuasi ditulis dengan huruf miring, dan yang b d (g)
Frikatif (f) s (x) H
belum dikuasai ditulis di dalam tanda kurung.
(v) (z)
Gambar 1 berikut adalah bagan vokal. Afrikatif c
j

Nasal M N (ñ)
Lateral L
Getar (r)
Semi Vokal W y

Bagan konsonan di atas memperlihatkan


bahwa fonem yang sudah dikuasai TPM dengan
baik adalah [p], [b], [t], [d], [s], [h], [c], [j], [m], [n],
[ŋ], [l], [w], dan [y]. Bunyi letupan bilabial [p] dan
[b], bunyi nasal bilabial [m] dan lamino-alviolar [n],
Gambar 1. Bagan vokal bunyi hampiran bilabial [w] dan lamino palatal [y],
dan bunyi letupan lamino-alveolar [t] dan [d]
Bagan pada gambar 1 di atas dilafalkan dengan jelas.
memperlihatkan bahwa TPM telah menguasai Konsonan yang sudah muncul tetapi masih
fonem [a], [i], [u], [e], [o], [∂], [є], dan [ο]. Semua berfluktuasi dengan bunyi lain adalah [t], [s], [c], [j],
fonem vokal Bahasa Indonesia itu dikuasai TPM dan [ŋ]. Jika bunyi frikatif lamino-alviolar [s] terletak
pada usia 2 tahun 1 bulan. Dengan demikian, pada akhir kata, diucapkan TPM dengan jelas. Akan
dapat dikatakan bahwa anak tersebut telah tetapi, jika bunyi tersebut terletak pada awal suku
menguasai fonem vokal dengan baik. Artinya, kata, sering diucapkan [t] atau [ts], misalnya [abis]
orang tidak akan kesukaran memahami vokal pada [habis] ‘habis. Bunyi afrikatif berat [j] ada juga
mana yang dimaksud TPM. Vokal pertama yang yang dilafalkan sebagai [d], misalnya [daηan] pada
dikuasainya adalah vokal minimal, yaitu [a], [i], [jangan] ‘jangan’. Bunyi hambat velar
dan [u], kemudian berkembang menguasai vokal [g] masih diucapkan sebagai hambat labiodental [d],
depan [i], [e], [ε], vokal belakang [u], [o], [‫]כ‬, dan dan hambat velar [k] dilafalkan dengan hambat
vokal tengah [∂], [a]. Bunyi vokal rangkap yang labiodental [t], misalnya [badus] pada [bagus]
tidak bersifat diftong juga telah dikuasai pada usia ‘bagus’, [tamal] pada [kamar] ‘kamar’. Bunyi velar
2 tahun 3 bulan, misalnya [au] pada [tau] ‘tau’ dan hambat ringan (voiceless velar stop), [k] baru
[ai] pada [baik] ‘baik’; [ue] pada [kue] ‘kue’. Akan dikuasai jika terletak pada tengah dan akhir kata
tetapi, diftong asli [au] dan [ai] baru dikuasai TPM pada berusia 2 tahun 5 bulan. Pada usia 2 tahun 5
pada usia 2 tahun 6 bulan; sedangkan diftong asli bulan bunyi afrikatif ringan [c] telah dilafalkan dengan
[‫כ‬i] yang jarang kita temukan belum muncul dalam baik seperti pada coba, dan menjelang usia 2 tahun 6
pelafalan TPM sehingga dilafalkan dengan [e], bulan bunyi-bunyi tersebut semakin jelas dan
misalnya [ai] pada ‘pakai’ dilafalkan [pake]. dilafalkan dengan baik. Bunyi frikatif [f] dan [v] belum
Penguasaan bunyi konsonan TPM muncul dan dikuasai TPM dengan baik sehingga
tampaknya tidak semudah penguasaan bunyi dilafalkan dengan [p] seperti [panta] pada [fanta]
vokal. Ada bunyi konsonan yang telah ‘fanta’ dan [pas] pada [vas] ‘vas bunga’.
dikuasainya; ada yang masih berfluktuasi dengan Bunyi frikatif [x] tidak ditemukan di dalam data
bunyi lain; dan bahkan ada bunyi (bunyi [r]) yang sehingga dinggap belum muncul. Bunyi getar [r]
belum pernah dapat dia ucapkan. Untuk lebih yang belum muncul dilafalkan dengan bunyi lateral
jelasnya, perhatikan Tabel 1 berikut. [l], misalnya [bilu] pada [biru] ‘biru’. Kemampuan
TPM melafalkan fonem [f], [v], [z], dan [x] belum

Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016 139
Pemerolehan Bahasa Anak ...

kelihatan karena karena frekuensi penggunaannya proximile), yaitu suatu bunyi diganti oleh bunyi lain
dalam bahasa Indonesia sangat terbatas. TPM yang secara fobetis berdekatan. Misalnya, bunyi
melakukan pola substitusi untuk mengucapkan getar menjadi lateral seperti [rumah] menjadi
fonem-fonem tertentu. Penggantian pola yang [lumah].
muncul mengukiti pola kedekatan fonetik
(phonetic

PENUTUP
Kesimpulan Pemerolehan fonologi TPM sangat
Secara umum pemerolehan fonologi TPM dipengaruhi (sejalan dengan) perkembangan
mengikuti urutan yang sifatnya universal sesuai biologisnya. Misalnya, karena kondisi alat ucap atau
posisi lidahnya masih terbatas (belum lengkap)
dengan teori pemerolehan bahasa. Konsep
sehingga ia belum menguasai bunyi getar [r]. Selain
universal Jakobson (dalam Dardjowijojo, 2012:
itu, pemerolehan fonologi juga dipengaruhi oleh
238) ditemukan dalam pemerolehan fonologi
stimulus dari keluarga atau lingkungan. Misalnya
TPM, baik dalam pemerolehan vokal maupun disftong [au] dan [ai] pada kata [kalau] dan [pakai]
konsonan. Dalam hal bunyi vokal terdapat tiga dilafalkan TPM dengan [kalo] dan [pake].
vokal utama yang muncul terlebih dahulu, yaitu [i], Saran
[u], dan [a]. Sistem kontras seperti ini disebut Berdasarkan kesimpulan tersebut, terdapat
sistem vokal minimal dan terdapat dalam semua beberapa saran. Pertama, pemerolehan bahasa
bahasa. Dalam hal konsonan, hambat dikuasai anak selain factor fisik juga ditentukan oleh stimulus
sebelum frikatif, dan frikatif dikuasai sebelum dari keluarga dan lingkungan. Oleh sebab itu, bagi
orang tua yang ingin pemerolehan bahasa anaknya
afrikat. Bunyi nasal dimulai dari nasal bilabial [m],
sesuai dengan perkembangan fisik, bahkan
kemudian diikuti nasal velar [n]. Pemerolehan
melampaui harus selalu diberi stimulus oleh orang
konsonan hambat dimulai dari bilabial ke alveolar,
tua dan lingkungan. Dengan demikian, pengaruh
kemudian ke velar. Bunyi lateral [l] sudah dikuasai, faktor eksternal berperan penting.
sedangkan bunyi getar [r] belum. Bunyi likuid yang Kedua, penelitian ini masih terbuka luas
berupa lateral [l] muncul terlebih dahulu setelah dilakukan oleh peneliti-peneliti lainnya, karena
bunyi hambat ringan, sedangkan bunyi [r] belum pemerolehan bahasa setiap anak memiliki
muncul karena diduga lebih sulit keunikan masing-masing. Selain itu, aspek
mengucapkannya. Hal itu memperlihatkan bahwa penelitian pemerolehan bahasa anak juga
dalam pemerolehan fonologi juga mengikuti beragam, yaitu dari aspek fonologi, sintaksis,
gradasi kesukaran fonologis. morfologis, semantic, dan lain-lain

DAFTAR PUSTAKA
Bomerman, Melissa.,& Lavinson, S. C. (2001). Flecher, Paul.,& Garmen, M. (1997). Language
Language acquisition and conceptual acquisition. New York: Cambridge University
development. New York: Cambridge University Press.
Prass. Galinkoff, R. M. (1983). The transition from
Brown, D.( 2007). Principles of learning and teaching. prelinguistik to linguistic communication.
New Jersey: Printice Hand Reagent. Millsdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum
Dale, P.S. (1976). Language development: Association Publishers.
Structure and fuction. New York. Holt, Hamied, F. A. (1989). Keterpelajar(i)an dalam
Rinehart, and Watson. konteks pemerolehan bahasa. Dalam
Dardjowidjojo, S. (2012). Psikolinguistik: PELLBA 2. Jakarta: Penerbit Kanisius.
Pengantar pemahaman bahasa manusia. Jakarta: Ingram. (1999). Phonological acquistion in the
Yayasan Obor Indonesia. development (ed.) United Kongdom:
Ellis, R. (1985). Understanding second language Psycology Press.
acquisition. London: Axford University Press.
Jacobson, R. (1971). Studies on child language and

140 Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016
Pemerolehan Bahasa Anak ...

aphasia. The Hauge: Mouton Publishers. Mukalel, J. C.( 2003). Psychology of language
Kent, R.D.,& Miolo, G. (1995). Phonetic abilities in learning. New Delhi: Discovery Publishing
the first year of life. Dalam Fletcher dan Mac House
Whinney 1995. Pinker, S. (2004). Language acquisition. http://www.
Klein. (1984). Learning to stress. Journal of Child scs.soton.ac.uk/-harnad/Papers/Py104/Pinke.
Language 11: 375-93/191. Indiana University. langaca.html.
Kurniawan. Studi kasus pemerolehan bahasa Ramdan, A. H. Pemerolehan fonologi umur 3
anak usia 2 tahun hasil pernikahan tahun. Diakses 14 Oktober 2016.
pasangan beda daerah: Kajian fonologi https://www. academia.edu/8894228/
(Fonetik Artikulatoris). Diakses tanggal 14 Tarigan, H. G. (1988). Pengajaran pemerolehan
Okteber 2016. http://jlt-polinema.org/?p=843 bahasa. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi,
Krashen, S.,& T. Terrell, (1983). The natural Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
approuch: Language acquistion in the Usman, H. (2016). Studi pemerolehan bahasa
classroom. Oxford: Pergemon. anak usia 4 tahun. Diakses 14 Oktober
2016. http:// jlt-polinema.org/?p=848
http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jiv/article/dow
nload/3660/2692/ pada tanggal 08
desember 2017 jam 12:43
Jurnal Ilmiah VISI PPTK PAUDNI - Vol. 11, No. 2, Desember 2016 141