Anda di halaman 1dari 74

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan keperawatan merupakan salah satu faktor yang berperan

dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan,

khususnya bagi klien dengan gangguan sistem musculoskeletal. Trauma pada

system musculoskeletal sangat bervariasi mulai yang sederhana sampai yang

kompleks dengan kerusakan jaringan lunak disekitarnya. Angka kejadian trauma

pada system musculoskeletal berkaitan dengan penurunan perkembangan jaringan

tulang sehingga terjadi fraktur.). Trauma merupakan suatu keadaan dimana

seseorang menggalami suatu cedera oleh salah satu sebab. Pengyebab utam

trauma adalah kecelakaan lalu lintas dan industri, yang bisa juga menyebabkan

fraktur (Lukman, Nurna Ningsi, 2009

Menurut catatan medical rekort RS. Bhayangkara Makassar bahwa

pada tahun 2009, jumlah penderita yang mengalami gannguan pada system

musculoskeletal seperti farktur yang di rawat di RS. Bhayangkara Makassar pada

tahun 2009 sebanyak 227 penderita, pada tahun 2010 sebanyak 267 orang dan

pada tahun 2011 sebanyak 397 orang . berdasarkan data tersebut maka penulis

mengangkat kasus dengan judul : Asuhan Keperawatan pada Klien Tn “I” dengan

gangguan system Musculoskeletal: Post Operasi Fraktur Humerus dengan

tindakan (pemasangan gips) di ruang perawatan Elang kamar 13 RS. Bhayangkara

Makassar.

1
B. Tujuan

1. Tujuan umum:

Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang

pelaksaanaan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai

pendokumentasian yang terjadi pada Klien dengan gangguan system

Musculoskeletal: fraktur humerus dengan tindakan (pemasangan gips).

2. Tujuan khusus:

Tujuan khusus yang akan dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini

untuk mendapatkan gambaran dalam:

a. Memperoleh pengalaman nyata dalam pengkajian, analisa dan

perumusan diagnose.

b. Memperoleh diagnose keperawatan yang muncul pada klien

dengan gangguan pada system musculoskeletal:post operasi fraktur

humerus dengan tindakan (pemasangan gips) di runag perawatan

Elang kamar 13 RS. Bhayangkara Makassar.

c. Memperoleh pengalaman nyata dalam menetapkan perencanaan

keperawatan yang terjadi pada klien dengan gangguan pada system

musculoskeletal: post operasi fraktur humerus dengan tindakan

(pemasangan gips) di ruang Perawatan Elang kamar 13 RS.

Bhayangkara Makassar.

d. Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan perencanaan

asuhan keperawatan yang terjadi pada klien dengan gangguan

2
system musculoskeletal : post operasi fraktur humerus di ruang

perawatan Elang kamar 13 RS. Bhayangkara Makassar.

e. Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan evaluasi

asuhan keperawatan yang terjadi pada klien dengan gannguan

system musculoskeletal:post operasi fraktur humerus dengan

tindakan (pemasangan gips) di ruang perawatan Elang kamar 13

RS. Bhayangkaran Makassar.

C. Manfaat penulisan

1. Akademik

a. Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan dalam meningkatkan

pengetahuan mahasiswa tentang asuhan keperawatan klien dengan

gangguan system musculoskeletal: post operasi farktur humerus

dengan tindakan (pemasangan gips) di rungan perawatan Elang kamar

13 RS. Bhayangkara Makassar.

b. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa di institusi kesehatan khususnya

pada diploma III.

2. Rumah sakit

a. Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit khususnyan didalam usaha

meningkatkan pelayanan perawatan dalam pengembangan kwlitas

asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system

musculoskeletal: post operasi fraktur humerus dengan tindakan

(pemasangan gips) di ruang perawatan elang kamar 13 RS.

Bhayangkara Makassar.

3
b. Dapat menjadikan masukan bagi perawat bagi perawat dalam

menetapkan dan meningkatkan kwalitas asuhan keperawatan

khususnya bagi klien yang menggalami gangguan system

musculoskeletal: post operasi dengan tindakan (pemasangan gips)

fraktur di ruang perawatan Elang kamar 13 RS. Bhayangkara

Makassar.

3. Klien dan keluarga

a. Agar klien dan keluarga mendapatkan pengalaman nyata tentang cara

dan tekhnik pencegahan, perawatan dan pengobatan yang terjadi pada

klien dengan gangguan system musculoskeletal: post operasi fraktur

humerus dengan tindakan (pemasangan gips) di ruang perawatan Elang

kamar 13 RS. Bhayangkara Makassar.

b. Agar keluarga memahami dan mengetahui cara yang baik dan benar

dalam perawatan dan pencegaha suatu penyakit.

4. Penulis.

a. Sebagai bahan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis

dalam mengklasifikasikan ilmu yang telah di dapatkan selama

pendidikan.

b. Hasil penulisan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis untuk

menambah pengetahuan dan keterampilan dalam menangani klien

dengan gangguan system musculoskeletal ; post operasi fraktur

humerus dengan tindakan (pemasangan gips) di ruang perawatan Elang

kamar 13 RS Bhayangkar Makassar.

4
D. Metode penulisan

Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan pada klien gangguan

system musculoskeletal: Post Operasi Fraktur humerus dengan tindakan

(pemasangan gips) di ruang perawatan elang kamar 13 RS. Bhayangkara

Makassar. Adapun metodologi yang digunakan dalam penulisan laporan ini

adalah:

1. Tempat

Ruang perawatan elang RS. Bhayangkara Makassar.

2. Pada bulan januari 2011

3. Teknik pengumpulan data

Dalam system penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan

metode yaitu:

a. Studi kepustakaan

Mempelajari literature yang berhubungan atau yang berkaitan

dengan karya tulis ilmiah tentang asuhan keperawatan pada klien

dengan gangguan system musculoskeletal: post Operasi fraktur

humerus dengan tindakan (pemasangan orif) di ruang perawatan

Elang kamar 13 RS. Bhayangkara Makassar.

b. Studi kasus

Pendekatan yang digunakan dalam studi kasus adalah proses

keperawatan yang komprehensif meliputi: pengkajian,

perencanaan, implementasi dan evaluasi sedangkan untuk

5
menghimpun data dan mengkaji dengan menggunakan tehnik

adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Tanya jawab untuk memperoleh dan riwayat kesehatan yang

akurat, antara tenaga kesehatan dan keluarga klien maupun

dengan klien sendiri.

2. Pengkajian fisik

Tekhnik yang digunakan dalam pengkajian ada 4 yaitu:

a. Observasi atau inspeksi yaitu memperoleh data dengan

melihat secara langsung untuk mendeteksi tanda-tanda vital

yang berhubungan dengan status fisik.

b. Palpasi, dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau

rabaan untuk mengetahui ciri-ciri organ.

c. Perkusi, adalah metode pemeriksaan dengan cara untuk

menentukan batas-batas organ atau bagian tubuh dengan

cara merasakan variasi yang ditimbulkan akibat adanya

gerakan yang diberikan kebawah jaringan dengan perkusi

kita dapat membedakan apa yang ada di bawah jaringan

(udara, cair, dan zat padat).

d. Auskultasi, merupakan metode pengkajian yang

menggunakan stetoskop untuk memperjelas pendengaran

(bunyi jantung, paru-paru, usus, serta mengukur tekanan

darah dan denyut nadi).

6
3. Study dokumentasi.

Melihat dan membaca langsung menbaca status klien di ruang

perawatan Elang badan pengelolah RS umum Bhayangkara

Makassar pada klien dengan gangguan system muculoskeletal:

post operasi fraktur humerus dengan tindakan (pemasangan

gips) di ruang perawatan Elang kamar 13 RS.Bhayangkara

Makassar.

E. Sistematika penulisan.

Adapun sistematika penulisan karya tulis ilmiah ini dibagi dalam lima bab

dimana setiap bab akan diuraikan kedalam sub-sub dengan susunan

sebagai berikut:

BAB I : pendahuluan

Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, mamfaat

penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II : tinjauan teoritis

Tinjauan teoritis meliuputi konsep dasar medic yang meliputi

pengertian, anatomo fisiologi, etiologi, insiden, patofisiologi,

manifestasi klinik, proses penyembuhan tulang, komplikasi,

penatalaksanaan fraktur, test diasnogtik, dan konsep dasar

perawatan meliputi: pengkajian dampak KDM, diagnose,

perencanaan dan evaluasi.

BAB III : Tinjauan kasus menguraikan laporan asuhan keperawatan mulia

dari pengkajian, pengumpulan data, pengelompokkan data,

7
analisa data, diagnose keperawatan yang muncul, rencana

tindakan, piñata laksanaan tindakan, serta evaluasi tindakan

(SOAP)

BAB IV : Pembahasan.

Pembahasan menguraikan mengenai kesenjangan antara teori

dan praktek yang ada. Dalam praktek serta pemecahan

masalahnya (pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi,

implementasi dan evaluasi).

BAB V ; penutup.

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran penulis.

DAFTAR PUSTAKA.

8
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

Fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang yang dapat

disebabkan oleh dorongan langsung pada tulang, kondisi patologi, kontraksi

otot yang sangat kuat dan secara tiba-tiba atau dorongan secara tidak

langsung (pengantar ilmu keperawatan anak, A. Azis Alimul Hidayat. 2005

hal 141).

. Fraktur adalah terputusnya kontiniutas tulang, retak atau patahnya

tulang yang utuh yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga

fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma. (Lukman, Nurna Ningsi,

2009).

2. Anatomi dan Fisiologi

a. Pengertian tulang

Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang disusun dari tiga sel:

osteoblas, osteosoit, dan osteoklas membangun tulang membentuk

kolagen tipe satu dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan

tulang osteoid melalui suatu proses yang disebut asifikasi.(Syilfia A.

Priver, 2005).

9
b. Fungsi tulang

1. Fungsi tulang secara umum

a. Formasi kerangka: tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk

menentukan bentuk dan ukuran tubuh, tulang-tulang menyokong

struktur tubuh yang lain.

b. Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang

bergerak dan tidak bergerak tergantung pada kebutuhan

fungsional, sendi yang bergerak menghasilkan bermacam-macam

pergerakan.

c. Perlekatan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk

tempat melekatnya otot, tendon dan ligamentum untuk

melaksanakan pekerjaannya.

d. Sebagai pengungkit: untuk bermacam-macam aktivitas selama

pergerakan.

e. Menyokong berat badan: memelihara sikap tegak tubuh manusia

dan menahan gaya tekanan yang terjadi pada tulang, dapat menjadi

kaku dan lentur.

f. proteksi: tulang rongga yang mengandung dan melindungi struktur

yang halus seperti otak, medulla.

g. Hemopoesis: sumsum tulang tempat pembentukan sel darah,

terjadinya pembentukan sel darah merah sebagian besar pada

sumsum tulang belakang.

10
h. Fungsi immunologi: lomfosit ‘B’ dan makrofag dibentuk dalam

system retikuleondotel sumsum tulang. Limposit B diubah

menjadi sel-sel plasma membentuk antibody guna keperluan

kekebalan kimiawi sedangkan makrofag berfungsi sebagai

fagositotik.

i. Penyimpanan kalsium: tulang mengandung 97% kalsium yang

terdapat dalam bentuk baik dan dalam bentuk anorganik maupun

garam-garam terutama kalsium posfat sebagian besar posfat

disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila

dibutuhkan.

2. Fungsi tulang secara khusus

a. Sinus-sinus paranasalis dapat menimbulkan nada pada suara

b. Email gigi dikhususkan untuk memotong, menggigit dan

menggilas makanan, email merupakan struktur yang terkuat dari

tubuh manusia.

c. Panggul wanita khususnya untuk memudahkan proses kehamilan (

anatomi, fisiologi untuk mahasiswa keperawatan Syaifuddin, 2006

hal 67-68).

c. Klasifikasi tulang

1. Tulang panjang ( femur, humerus, tibia dan fibula) terdiri dari dua

bagian batang dan bagian ujung tulang pipa ini bekerja sebagai alat

ungkit dari tubuh dan kemungkinan bergerak.

11
2. Tulang pendek (karplas) bentuk tidak teratur, sebagian besar

terbuat dari jaringan tulang jarang karena diperkuat sifat yang

ringan padat dan tipis.

3. Tulang ceper (tulang tengkorak) terdiri dari tulang padat dengan

lapisan luar adalah tulang cacellous.

4. Tulang tidak beraturan vertebratae (sama dengan tulang pendek)

5. Tulang sesamoid. Tulang terkecil, terpendek sekitar tulang

persendian dan didukung oleh tendon dan jaringan vaksial

misalnya patella (cap lutut).

3. Etiologi

Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cidera, seperti

kecelakaan mobil, olah raga atau terjatuh secara garis besarnya

penyebab fraktur dibagi menjadi tiga yaitu :

a. Kekerasan atau trauma langsung

Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik

terjadinya kekerasan,fraktur demikian sering brsifat fraktur terbuka

dengan garis patah melintas atau miring.

b. Kekerasan atau trauma tidak langsung.

Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat

yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan, yang patah biasanya

adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vector

kekerasan

c. Trauma ringan.

12
Trauma karena tulang itu sendiri sudah rapuh (fraktur patologik).

4. Pembagian patah tulang

Ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur yang utama adalah :

a. Incomplete: fraktur yang hanya melibatkan bagian bagian potongan

menyilang tulang, salah satu sisi patah dan yang lain hanya

bengtkok (greenstick).

b. Complete : Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang

dari tulang, dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.

c. Tertutup : fraktur tidak meluas melewati kulit.

d. Terbuka : fraktur tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana

potensial untuk menjadi infeksi.

e. Patologis : fraktur tedapat pada penyakit tulang (seperti penyakit

kanker, osteoporosis), dengan tak ada trauma atau hanya minimal.

13
(doenges,M.E, dkk, Edisi 3 hal, 761, 2001).

Berikut ini adalah berbagai jenis fraktur :

a. Grreanstick ; fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi

lain membengkak.

b. Tranversal ; fraktur sepanjang garis tengan tulang

c. Oblik ; fraktur membentuk sudutdengan garis tengah tulang ( lebih

tidak stabil disbanding tranversal)

d. Spiral : fraktur memuntir seputar batang tulang.

e. Komunitif : fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa

fragmen.

f. Fraktur dengan patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada

tulang tengkorak dan tulang wajah)

g. Kompresi : fraktur dimana tulang menggalami kompresi (terjadi

pada tulang belakang)

h. Avulse : tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada

perlekatannya.

i. Epofisial : fraktur melalui epifisis.

j. Impaksi : fraktur dimana fragmen tulang terdorong kefragmen

tulang lainnya.

14
avulsion
comminuted displaced greenstick

impacted interarticular
longitudinal oblique

pathologic spiral stress transverse

15
5. Insiden

Insiden fraktur dapat diatasi dengan baik apabila dilakukan tindakan

segera, kesembuhan pada penderita fraktur, pada penderita fraktur

dipengaruhi oleh keadaan fraktur, pemenuhan nutrisi yang baik,

adanya perawatan yang baik dan adanya kondisi psikologis yang baik

dari penderita fraktur itu sendiri. Pada sebagian besar penderita fraktur

ditemukan adanya respon cemas yang akhirnya berdampak pada

adanya konsep diri yang akan mempengaruhi proses keperawatan,

proses pemenuhan nutrisi karena sebagian penderita yang cemas

kurang memiliki nafsu makan dan kurang responsive terhadap

pengobatan yang akhirnya sangat mempengaruhi proses penyembuhan.

Respon cemas yang terjadi pada individu yang menggalami fraktur

dipengaruhi oleh karakteristik, yakni umur, pendidikan, jenis kelamin,

pekerjaan, (Bhecker 2009).

Hasil survey tim kesehatan depkes RI (2005) mendapatkan kelompok

dibawah 30 tahun cenderung menunjukan respon cemas yang lebih

berat dibandingkan kelompok umur diatasnya, biasanya pada

kelompok umur > 30 tahun telah membentuk mekanisme koping yang

baik, kelompok individu dengan jenis kelamin perempuan cenderung

lebih cemas dibandingkan kelompok individu laki-lak, hal ini terkait

dengan penampilan yang biasanya lebih identik dengan individu

perempuan adanya kejadian fraktur tentunya akan mempengaruhi

16
konsep dirinya. Pada kelompok individu yang tidak bekerja, karena

kondisi fraktur tentunya akan mempengaruhi pekerjaanya.

6. Patofisiolog

Jaringan Tulang Primer Jaringan tulang ini berupa anyaman,

sehingga disebut sebagai woven bone. Merupakan komponen muda yang

tersusun dari serat kolagen yang tidak teratur pada osteoid. Woven bone

terbentuk pada saat osteoblast membentuk osteoid secara cepat seperti

pada pembentukan tulang bayi dan pada dewasa ketika terjadi

pembentukan susunan tulang baru akibat keadaan patologis. Selain tidak

teraturnya serabut-serabut kolagen, terdapat ciri lain untuk jaringan tulang

primer, yaitu sedikitnya kandungan garam mineral sehingga mudah

ditembus oleh sinar-X dan lebih banyak jumlah osteosit kalau

dibandingkan dengan jaringan tulang sekunder. Jaringan tulang primer

akhirnya akan mengalami remodeling menjadi tulang sekunder (lamellar

bone) yang secara fisik lebih kuat dan resilien. Karena itu pada tulang

orang dewasa yang sehat itu hanya terdapat lamella saja. Jaringan Tulang

Sekunder Jenis ini biasa terdapat pada kerangka orang dewasa. Dikenal

juga sebagai lamellar bone karena jaringan tulang sekunder terdiri dari

ikatan paralel kolagen yang tersusun dalam lembaran-lembaran lamella.

(materi kuliah anatomi umum, 2007 )

17
7. Manifestasi klinik

Manifestasi klinik dari fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,

deformitas,pemendekan ekstremitas,krepitasi, pembengkakan local, dan

perubahan warna.

a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang

dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk

bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar

fragmen tulang

b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan

cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar

biasa).Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai

menyebabkan deformitas ekstremitas yang diketahui dengan

membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ekstremitas tak

dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot.

18
bergantung pada intergritas tulang tempat melengketnya otot.

a. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya

cidera karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah

tempat fraktur. Frakmen sering saling melingkupi satu sama lain

sampai 2,5 cm sampai 5 cm.

b. Saat ekstre,itas diperiksa dengan tangan teraba adanya derik tulang

dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara frakmen

satu dengan yang lain.

c. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi

sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

Tanda ini bias baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah

terjadi cedera.

d. Krepitus dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat

pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain.

7. Tes Diagnostik

a. Hasil laboritarium

Tidak ada tes laboratorium yang khusus untuk pasien dengan

fraktur, yang perlu diketahui HB, hemotokrit sering rendah

disebabkan pendarahan. Laju endap darah meningkat bila

kerusakan jaringan lunak sangat luas.

b. Hasil radiografik

Pemeriksaan ronseng: menentukan lokasi (luasnya fraktur atau

trauma) sken tulang, tomogram, CT, scan/MRI: memperlihatkan

19
fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan

jaringan lunak.

8. Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu

10 tahun ini, traksi dan espca castin atau cast breacing mempunyai

banyak kerugian dalam hal memerlukan masa berbaring dan

rehabilitasi yang lama, meskipun merupakan penatalaksanaan non

inpasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu, tindakan ini tidak

banyak dilakukan pada orang dewasa.(www.Cermin Dunia

Kedokteran.com)

Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur

dapat diimobilisasi dengan salah satu dari empat cara berikut ini:

a. Traksi : adalah menggunakan kekuatan penarikan pada bagian

tubuh. Ini dapat dicapai dengan memberikan beban yang cukup

untuk mengatasi penarikan otot.

b. Gips : adalah balutan ketat yang digunakan untuk mengimobilisasi

bagian tertentu.

c. Fiksasi internal : kedua ujung tulang yang patah dikembalikan pada

posisi asalnya dan difiksasi dan dengan plat dan skrup diikat

dengan kawat.

20
B. Proses Keperawatan

Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau

metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap

yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Pengkajian

a. Pengumpulan data

1). Anamnese

a). Identitas klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa

yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi,

golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.

b).Keluhan utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah

rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan

lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap

tentang rasa nyeri klien digunakan :

(1) Provoking Incident : apakah ada peristiwa yang menjadi

yang menjadi faktor presipitasi nyeri.

(2) Quality of Pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau

digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau

menusuk.

21
(3) Region : radation, rellef : apakah rasa sakit bisa reda, apakah

rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit

terjadi.

(4) Severoity (Scale) of Pain : seberapa jauh rasa nyeri yang

dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien

menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi

kemampuan fungsinya.

(5) Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah

bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

b) Riwayat penyakit sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan

sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat

rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi

terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan

kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena.

Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya

kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain.

c) Riwayat penyakit dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab

fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan

menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang

dan penyakit pagel’s yang menyebabkan fraktur patologis yang

sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes

22
dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis

akut maupun kronik dan juga diabetes menghambar proses

penyembuhan tulang.

d) Riwayat penyakit keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit

tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya

fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada

beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung

diturunkan secara genetik.

e) Riwayat psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang

dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat

serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya

baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.

f) Pola-pola fungsi kesehatan

(1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan

terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani

penatalaksanaan kesehatan untuk membantu

penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga

meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat

steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,

23
pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu

keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga

atau tidak.

(2) Pola nutrisi dan metabolisme

Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi

melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat

besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses

penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien

bisa membantu menentukan penyebab masalah

muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari

nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein

dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan

faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama

pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat

degenerasi dan mobilitas klien.

(3) Pola eliminasi

Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan

pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga

dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada

pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri

dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.

Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan, atau tidak.

24
(4) Pola tidur dan istirahat

Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan

gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan

kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian

dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,

kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat

tidur.

(5) Pola aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka

sama bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan

kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal

ini yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien

terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk

pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding

pekerjaan yang lain.

(6) Pola hubungan dan peran

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan

dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat

inap.

(7) Pola persepsi dan konsep diri

Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul

ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas,

25
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara

optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah

(gangguan body image).

(8) Pola sensori dan kognitif

Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama

pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain

tidak timbul gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri

akibat fraktur.

(9) Pola reproduksi seksual

Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa

melakukan hubungan seksual karena harus menjalani

rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang

dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji sattus

perkawinanya termasuk jumlah anak, lama

perkawinannya.

(10) Pola penanggulangan stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang

keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada

diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang

ditempuh klien bisa tidak efektif.

(11) Pola tata nilai dan keyakinan

26
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan

kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan

konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan

keterbatasan gerak klien.

b. Pemeriksan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, BB, TTV (TD, nadi, suhu,

pernapasan). Menurut Donges ME. dkk pada pasien yang mengalami

fraktur adalah sebagai berikut :

1) Aktivitas/Istirahat

Gejala : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang

terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi

secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri).

Sirkulasi :

Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons

terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan

darah).

Takikardia (respons stress, hipovolemia)

penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang

cedera : pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian

yang terkena.

2) Neurosensori

27
Gejala : Hilang gerakan/sensori, spasme otot Kesemutan

Tanda : Deformitas lokal: angulasi abnormal, pemendekan,

rotasi, krepitasi (bunyi berjerit), spasme otot, terlihat

kelemahan/hilang fungsi. Angitasi (mungkin

berhubungan dengan nyeri) ansietas atau trauma lain.

3) Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin

terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang ; dapat

berkurang pada mobilisasi) ; tak ada nyeri akibat

kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi).

4) Keamanan

Tanda : Laserasi kulit, ovulasi jaringan, perdarahan, perubahan

warna.Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara

bertahap atau tiba-tiba).

2. Diagnosa Keperawatan

Merupakan pernyataan yang menjelaskan status kesehatan baik

aktual maupun potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam

mengindentifikasi dan mengsintesa data klinis dan menentukan intervensi

keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan atau mencegah masalah

kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya.

28
Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang

diambil dari pengkajian keperawatan, menjelaskan status kesehatan,

masalah aktual, resiko, maupun potensial yang dapat diproritaskan.

Adapun diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan

fraktur antara lain :

a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fargmen tulang,

edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau immobilisasi,

stress, ansietas.

b. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan

kehilangan integritas tulang (fraktur).

c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan

dengan penurunan atau interupsi aliran darah, hepovolemia.

d. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas berhubungan dengan perubahan

aliran darah, perubahan membran alveolar atau kapiler.

e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan

neuromuskuler, nyeri/ketidaknyamanan, terapi restriktif, immobilisasi

tungkai.

f. Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan cedera tusuk,

fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat,

sekrup.

g. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya

pertahanan primer, prosedur invasif, intraksi tulang.

29
h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurang terpanjang atau mengingat,

salah interpretasi informasi atau tidak mengenal sumber informasi.

3. Rencana keperawatan

Setelah diagnosa ditegakkan, maka langkah selanjutnya adalah

menyusun rencana keperawatan untuk meminimalisir masalah tersebut.

Adapun rencana keperawatan untuk masing-masing diagnosa antara lain :

a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,


edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau immobilisasi, stres
dan ansietas. Kemungkinan dibuktiakan oleh :
1. Keluhan nyeri
2. Ditraksi fokus pada diri sendiri atau fokus menyempit dan wajah
menunjukkan nyeri
3. Perilaku berhati-hati melindungi, perubahan tonus otot, dan respon
otnomik.

Tujuan: menyatakan nyeri hilang


Kriteri :
1. Menunjukan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktifitas
atau istirahat dengan tepat.
2. Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas
terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual
Intervensi dan Rasional

INTERVENSI RASIONAL

1. pertahankan mobilisasi bagian 1. Menghilangkan nyeri dan


yang sakit dengan tirah baring,
mencegah kesalahan posisi
gips, pembebet atau traksi

30
(rujuk ke DK: trauma, resiko tulang atau tegangan jaringan
tinggi).
yang cidera
2. hindari penggunaan seprei atau
2. Menghilangkan aliran balik
bantal plastic dibawah
vena, menurunkan edema dan
ekstremitas dalam gips
nyeri.
3. tinggikan penutup tempat tidur,
3. Dapat menigkatkan ketidak
pertahankan linean terbuka
nyamanan karena penyumbatan
pada ibu jari kaki
produksi panas dalam gips yang
4. evaluasi keluhan nyeri atau
kering
ketidak nyamanan, perhatikan
4. Mempengaruhi pilihan
lokasi dan karakteristik
keefektifan intervensi, tingkat
termasuk intensitas (skala 0-10)
ansietas dapat mempengaruhi
5. beri obat sebelum perawatan
persepsi atau reaksi terhadap
aktifitas
nyeri

5. Memungkinkan pasien untuk

siap secara mental untuk

aktifitas juga untuk

berpartisipasi dalam

mengontrol tingkat ketidak

nyamanan.

31
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka

(neuromoskuler), nyeri atau ketidaknyamanan, terapi restriktif, hemobilisasi

tungkai.

Kemungkinan dibuktikan:

1. Ketidakmampuan untuk bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik,

dilakukan pembatasan.

2. Menolak untuk bergerak, keterbatasan rentang gerak.

3. Penurunan kekuatan control otak.

Tujuan: meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling

tinggi yang mungkin mempertahankan posisi fungsional.

Kriteria:

1. Meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompasasi

bagian tubuh.

2. Ketika menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.

INTERVENSI RASIONAL

1. Kaji derajat imobilisasi yang 2..Pasien mungkin dibatasi oleh

dihasilkan oleh pandangan diri/persepsi diri

cidera/pengobatan perhatikan tentang keterbatasan fisik actual,

persepsi pasien terhadap memerlukan informasi/intervensi

imobilisasi untuk meningkatkan kemajuan

kesehatan

32
2. Dorongan partisipasi pada

aktivitas terapeutik/rekreasi 3. Memberikan kesempatan

pertahankan rangsangan untuk mengeluarkan energi,

rangsangan lingkungan contoh, memfokuskan kembali

radio, TV, Koran, barang milik perhatian, menigkatkan rasa

pribadi/lukisan, jam, kalender, control diri/harga diri, dan

kunjungan keluarga/teman. membantu menurunkan isolasi

social.

3. Instruksikan pasien untuk 4. Menigkatkan aliran darah

bantu dalam rentang gerak ke otot dan tulang untuk

pasien/aktif pada ekstremitas meningkatkan tonus otot,

yang sakit dan yang tidak sakit. mempertahankan gerak sendi,

mencegah kontraktur/atrofi

dan resopsi kalsium karena

tidak digunakanmenekuk

sendi atau menggerakkan


4. Dorong pengguna latihan
tungkai dan membantu
isometric mulai dengan
mempertahankan kekuatan
tungkai yang tak sakit
dan masa otot.

1. Berguna dalam

mempertahankan posisi

fungsional ekstremitas,

Kontraksi otot isomik

33
5. Berikan papan pada kaki, bebat tanpa tangan/kaki, dan

pergelangan, gulungan mencegah komplikasi

trokantrer/tangan yang sesuai. (contoh kontratur/tangan

jatuh)

c. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehilangan

integritas tulang. (fraktur).

Tujuan : mempertahankan stabilitas dna posisi fraktur

Criteria :

1. Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi

fraktur.

2. Menunjukkan pembentukan kalus atau mulai penyatuan fraktur dengan

tepat

Intervensi keperawatan

INTERVENSI RASIONAL

1. Pertahankan tirah baring/ektremitas 1. Meningkatkan stabilitas,

sesuai indikasi, berikan sokongan menurunkan kemungkinan

sendi diatas dan dibawah fraktur bila gangguan posisi

bergerak/membalik. penyembuhan.

2. Letakkan papan dibawah tempat

tidur atau tempatkan pasien pada 2. Tempat tidur lembut atau

34
tempat tidur ortopedik. lentur dapat membuat

deformasi gips yang masih

basah, mematahkan gips yang

sudah kering atau

mempengaruhi tarikan traksi.

3. Sokong fraktur dengan 3. Mencegah gerakan yang tidak

bantal/gulungan selimut. perlu dan perubahan posisi.

Pertahankan posisi netral pada Posisi yang tepat dari bantal

bagian yang sakit dengan bantal juga mencegah tekanan

pasir, pembebat, gulungan trokanter deformitas pada gips yang

dan papan tulis. kering.

4. Evaluasi pembebat ekstremitas 4. Pembebat koaptasi (contoh

terhadap resolusi edema. jepitan jones-sugar) mungkin

Pertahankan posisi/integritas traksi digunakan untuk memberiakan

imobilisasi fraktur dimana

pembengkakan jaringan

berlebihan. Seiring dengan

berkurangnya edema,

penilaian kembali pembelat

atau penggunaan gips plaster

mungkin diperlukan untuk

mempertahankan kesejajaran

fraktur.

35
5. Pertahankan posisi/integritas traksi 5. Traksi memungkinkan tarikan

(contoh buck, Dunlop, pearson, pada aksis panjang fraktur

russel) tulang dan mengatasi tegangan

otot/pemendekan untuk

memudahkan

posisi/penyatuan. (pen, kawat,

jepitan) memungkinkan

penggunaan, berat lebih besar

untuk penarikan traksi dari

pada digunakan untuk jaringan

kulit

d. Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan tidak kuatnya pertahanan

primer, prosedur invasive dan interaksi tulang.

Hal yang diharapkan /criteria evaluasi:

1. Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.

2. Bebas drainase perulen, internal atau demam

INTERVENSI RASIONAL

1. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi 1. Pen atau kawat tidak harus

atau robekan kontinuitas dimasukkan melalui kulit yang

terinfeksi, kemerahan atau

abrasi.

36
2. Kaji sisi penyakit kulit perhatikan 2. Dapat mengidentifikasi

peningkatan nyeri atau rasa terbakar, timbilnya infeksi local/nekrosis

adanya oedema, eritema jaringan yang dapat

drainase/bau tidak enak. menimbulkan osteomelitis.

3. Instruksi pasien untuk tidak 3. Meminimalkan kesempatan

menyentuh sisi insersi. untuk kontaminasi

4. Observasi luka untuk pembentukan 4. Tanda perkiraan infeksi gas

bula, krepitasi, perubahan warna gangrene.

kulit kecoklatan, bau drainase yang

tidak enak/asam.

5. Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan

gerakan dengan edema local/eritema 5. Dapat mengindikasi terjadinya

ekstremitas cedera. osteomelitis

d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur

terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat dan sekrup.

Kemungkinan dibuktikan oleh:

1. Keluhan gatal, nyeri, kebas, tekanan pada area yang sakit atau

area sekitar.

2. Gangguan permukaan kulit, invasi struktur tubuh, destruksi

lapisan kulit atau jaringan.

37
Tujuan: menyatakan ketidaknyamanan

Criteria:

1. Menunjukkan perilaku atau teknik untuk mencegah

kerusakan kulit atau memudahkan penyembuhan sesuai

indikasi.

2. Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu atau

penyembuhan lesi terjadi.

INTERVENSI RASIONAL

1. Kaji kulit untuk luka terbuka, 1. Memberikan informasi tentang

benda asing, kemerahan, sirkulasi kulit dan masalah yang

pendarahan, perubahan mungkin disebabkan oleh alat

warna, kelabu dan memutih. dan/atau pembentukan edema

yang membutuhkan intervensi

medic lanjut.

2. Mesase kulit dan penonjolan 2. Menurunkan tekanan pada area

tulang yang peka dan resiko

abrasi/kerusakan kulit.

3. Ubah posisi dengan sering 3. Posisi yang tak tepat dapat

menyebabkan cidera

kulit/kerusakan.

4. Memberikan gips tetap kering,


4. Pertahankan tempat tidur
dan area bersih. Catatan : terlalu
kering dan bebas kerutan

38
banyak bedak dapat membuat

lengket bila kontak dengan

air/keringat.

5. Tindakan keperawatan.

Merupakan langkah pelaksanaan rencana tindakan keperawatan

dalam pelaksanaan ini perlu diketahui berbagai hal seperti perlindungan

diri perawat, bahaya fisik dan perlindungan pada klien, tekhnik

komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang

hak-hak dari klien dan perkembangan klien. Jenis tindakan keperawatan

ada dua yaitu, tindakan mandiri atau independent dan tindakan kolaborasi

atau interdependen.

(A.Azis Alimul Hidyat,2009)

Implementasi rencana keperawatan disesuaikan dengan intervensi yang

tercantum pada rencana keperwatan dengan menetapkan waktu

pelaksanaan implementasi dan respon klien.

6. Evaluasi

Merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan

melakukan identifikasi sejauh mana tujuan rencana keperawatnan tercapai

atau tidak. Pada evaluasi ada dua kegiatan yang dilakukan yaitu,

mengevaluasi selama proses keperawatan berlangsung atau menilai dari

respon klien pada saat memberiakan tindakan disebut evaluasi proses

39
(evaluasi formatik) dan mengevaluasi target tujuan yang diharapkan

disebut evaluasi tujuan (evaluasi sumatik), evaluasi membuktikan apakah

tujuan tercapai atau tidak tercapai (Azis.Alimul Hidayat. 2009

40
BAB III

TINJAUAN KASUS

Di bawah penulis menguraikan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan

pada klien Tn ” I ” dengan gangguan system musculoskeletal : fraktur humerus

dengan tindakan (pemasangan gips) diruang perawatan elang kamar 13 RS

Bhayangkara Makassar . Pada kasus ini di tetapkan tentang proses asuhan

keperwatan klien di dalam menentukan masalah keperawatan yang ada.

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode wawancara dan

pengamatan,pemeriksaan fisik yang sabagai sumber utama adalah klien, keluarga

klien serta tim kesehatan lainnya yang ada hubungannya dengan kasus yang di

bahas. Adapun hasil pengkajian sebagai berikut :

A. PENGKAJIAN

1. BIODATA

a. identias klien

1. nama klien : Tn “ I “

2. usia : 30 tahun

3. jenis kelamin : laki-laki

4. agama : islam

e. suku / bangsa : bugis / Indonesia

41
5. status : sudah kawin

6. pekerjaan : wiraswasta

7. alamat : jln.skarda

8. diagnose medic : fraktur humerus

b. identitas penanggung jawab

1. nama : Ny “ B “

2. alamat : jln . skarda

3. hubungan dengan klien: istri

4. usia : 28 tahun

2. KELUHAN UTAMA

a. keluhan utama : nyeri pada tangan kanan

b. riwayat keluhan utama :

P (povocativ) : kecelakaan lalu lintas, klien mengendarai motor ditabrak


oleh mobil dari belakang klien terjatuh lalu digilas oleh
mobil lain.

Q ( quality) : nyeri di rasakan berkurang apabila klien beristirahat dan


tidak menggerakkan tubuhnya.

R (region) : system musculoskeletal

S (scale) : 5 (nyeri sedang bertambah apabila klien sering bergerak)

T (trainin) : nyeri dirasakan terutama pada malam hari.

42
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Sebelumnya leher tekadang menderita flu maupaun sakit kepala yang

segera sembuh dengan obat-obatnya yang di beli sendiri di apotik. Klien tdak

pernah di rawat RS, dan tidak pernah mengalami pembedahan, klien tidak

memilki riwayat alergi terhadap obat-obatan / minuman, makanan/ zat kien

perkok aktif selama lebih dari 10 tahun.

4. Riwayat Kesehatan Masalalu

a. Genogram 3 generasi.

64 49 49
54

50 48

24
30 28

Keterangan :

: Laki – laki. : Perempuan

….. : Tinggal serumah. : Klien

: Meninggal. : Garis keturunan

: Garis perkawinan.

43
Genogram I : Kakek dan nenek klien dari pihak ayah meninggal karena faktor

usia

Genogram II : ayah dan ibu klien sehat.

Genogram III : Klien anak tunggal yang menderita fraktur

b. Riwayat Psikososial.

a. Pola Konsep Diri : klien tahu tentang apa yang dialaminya dan

berharap cepat sembuh.

b. Pola kognitif : klien mampu mengingat kejadian kecelakaanya dan

mampu menjawab pertanyaan dengan baik.

c. Pola koping : klien menerimah keadaan yang dialaminya dan berdoa

pada tuhan untuk segera menyembuhkan penyakitnya.

d. Pola interaksi : klien dapat berinteraksi dengan baik pada perawat,

keluargadan pasien.

c. Vital signis

 TD : 140/90

 Nadi : 88x/i

 Suhu : 37%

 Pernapasan : 24x/i

d. Pemeriksaan fisik

 Tinggi badan : 160 cm

 Berat badan : 60kg

e. Keadaan umum

44
Klien tanpak lemah, ekspresi wajah meringis saat tangan kanan

digerakkan, terpasang infuse RL 20 tetes/i. klien tanpak pucat dan cemas

klien tanpak terpasang verban pada tangan kanan.

g. system pernapasan.

1) Hidung.

a) Inspeksi : Hidung simestris kiri dan kanan, tidak ada pernafasan

cuping hidung, tidak ada secret, polip, dan epistaksis.

b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.

2) Leher.

a) Inspeksi : Tidak nampak adanya pembesaran kelenjar tyroid dan

kelenjar limfe.

b) Palpasi : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid, dan

tidak ada nyeri tekan.

3) Dada.

a) Inspeksi : Bentuk dada simestris kiri dan kanan

- Gerakan dada mengikuti pernafasan dan tidak

terdapat retraksi.

- Tidak terdapat alat bantu pernafasan.

b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.

c) Perkusi : Bunyi resonan pada area paru.

d) Auskultasi : Bunyi vesikuler.

g. Sistem Cardiovaskuler.

1) Inspeksi : Konjungtiva tidak anemia, bibir tidak sinosis.

45
2) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan vena konjugularis.

3) Perkusi : Bunyi jantung pekak

4) Auskultasi : bunyi jantung 1 (lub) terdengar pada ICS 5 klavikula

kiri karena menutupnya katup mitral dan trikuspidalis. Bunyi jantung

II (dup) terdengar pada ICS 2 midklavikula kiri dan kanan karena

menutupnya katup aorta dan pulmonaris.

h. Sistem Pencernaan.

1) Bibir dan Sklera.

Inspeksi : Bibir kering, sklera tidak ikterus.

2) Mulut.

Inspeksi : Tidak ada stomatitis

Jumlah gigi 28

Kemampuan menelan baik.

3) Gaster.

Palpasi : Tidak kembung.

Tidak ada nyeri tekan.

4) Abdomen.

Inspeksi : Abdomen bentuk datar.

Simetris kiri dan kanan.

Pergerakan mengikuti irama nafas.

46
Warna kulit sawo matang.

Palpasi : Tidak teraba adanya massa benjolan.

Tidak ada nyeri tekan pada abdomen.

Perkusi : Bunyi tympani.

Auskultasi : Peristaltik 15x/menit

I. Sistem Indera.

1) Mata.

Inspeksi : Bulu mata simetris kiri dan kanan. Konjungtiva tidak

anemi.

Sklera tidak ikterus.

Lapang Pandang : Klien mampu melihat kesegala arah.

VisuS : Klien mampu melihat dengan jarak 6 meter

2) Hidung.

Inspeksi : Penciuman baik.

Lubang hidung simetris kiri dan kanan.

Tidak ada polip, secret dan episteksis.

3) Telinga.

Inspeksi : Keadaan daun telinga simetris kiri dan kanan

Kanal auditoris bersih dan tidak terdapat serumen.

47
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.

J. Sistem Syaraf.

1) Fungsi Cerebral.

a) Status mental : Orientasi baik, klien mampu mengingat

kejadian di masa lalu, klien mampu berhitung

dan mampu menggunakan bahasa Indonesia

dengan baik.

b) Kesadaran : Eyes : 4

Motorik : 6

Verbal : 5

c) Bicara : Klien mampu berbicara dengan baik

2) Fungsi cranial

a. Nervus I (Olfaktorius) : Klien mampu membedakan bau balsam

dengan bau minyak kayu putih

b. Nervus II (Optikus) : Klien mampu melihat dengan jarak 6 meter

c. Nervus III, IV, VI (Okulomotorik, Toklearis, Abdusen).

Pupil isochor, dan klien mampu menggerakkan bola matanya ke

samping kiri kanan dan ke atas dan ke bawah.

d. Nervus V (Trigeminus) :Klien mampu mengatupkan rahang dan

mampu menggerakkan gerahamnya ke kiri dan ke kanan.

48
e. Nervus VII (Fasialis) :

Sensorik : Klien mampu membedakan rasa pahit dan manis.

Motorik : Klien mampu mengerutkan dahi dan mampu tersenyum.

f. Nervus VIII (Akustikus) : Klien mampu mendengar dengan baik,

dengan jarum jam tangan pada telinga kiri dan kanan.

g. Nervus IX, X (Gelosofaringeus, Vagus).

Saat klien dirangsang dengan spatel, klien merasa ingin muntah.

h. Nervus XI (Aksesoris) : Klien tidak mampu menggerakkan

kepalanya (menoleh) keren adanya luka yang sudah di verband

pada daerah pariental kiri.

i. Nervus X (Hipoglosus) : Klien mampu menggerakkan lidahnya

dengan baik dan dapat menjularkan lidahnya ke depan dengan lurus.

k. Fungsi Motorik.

1) Kekuatan otot : 5 5

1 5

Extremitas bawah dan extremitas atas kiri mampu melakukan tahanan

kecuali fraktur humerus terbuka.

2) Massa otot : Tidak ada kelainan (otot tidak atropi/hipertropi).

l. Fungsi Sensorik.

49
Fungsi sensorik baik, dapat merasakan sakit bila dicubit, dapat

merasakan bila disentuh.

m. Fungsi Cerebellum.

1) Keseimbangan : klien mampu berjalan.

2) Koordinasi : Klien mampu menunjukkan anggota badannya yang

diperintahkan.

n. Refleks.

Refleks Bisep (+) : Terjadi kontraksi otot dengan gerakan fleksi saat diberi

stimulasi kecuali fraktur humerus distal terbuka.

Refleks Trisep (+) : Terjadi kontraksi otot dengan gerakan fleksi saat

diberi stimulus kecuali fraktur humerus distal terbuka.

Patella (+) : Ekstensi pada saat diberi stimulus.

Babinsky (-) : Ekstensi ibu jari, jari-jari yang lain fleksi.

o. Sistem Muskuloskeletal.

1) Kepala : Bentuk kepala mesochepal

2) Pelvis : Gaya jalan baik

3) Lutut : Tidak ada pembengkakan dan kaku.

4. Tangan : Terdapat luka robek pada tangan kanan.

5. Kaki : Tidak ada pembengkakan, gaya gerak baik.

p. System integument.

1) Rambut : berwarna hitam dan tidak mudah dicabut.

50
2) Kulit : warna sawo matang, tanpak luka robek pada tangan lengan

kanan.

3) Kuku :

Inspeksi : warna merah mudah, tidak ada sianosis.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

q. System endokrin.

1) Inspeksi : tidak tanpak adanya pembesaran kelenjar tiroid.

2) Palpasi : tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid.

r. System perkemihan.

1) Tidak ada oedem palpebra dan oedem anasarka.

2) Tidak ada nocturia ataupun disurya

3) Tidak ada nyeri tekan pada vesika urinaria

s. Sistem Reproduksi.

( Tidak dapat dikaji klien menolak).

t. Sistem Imun.

Tidak ada riwayat alergi terhadap cuaca, makanan, minuman, obat–

obatan, debu ataupun bulu binatang.

5. Aktivitas Sehari-Hari

No Jenis Kegiatan Sebelum sakit Saat sakit

1 Nutrisi:

Selera makan Baik Tidak ada

51
Frekuensi 3x sehari 3 x/hari

Menu makan Nasi,lauk, sayur Nasi, lauk, sayur

Porsi makan Dihabiskan 1 porsi hanya 1-2sendok

2 Cairan:

Jenis Air putih, susu, teh Air putih, cairan RL

Jumlah
8- 9 gelas/ hari 5- 6 gelas/ hari

Eliminasi BAB:
3

Tempat pembuangan
Wc pispot

Frekuensi
1 x/hari 1 x/ 2 hari

Konsistensi
Setengah padat Setengah padat

Eliminasi BAK

Tempat pembuangan
Wc perkateter

Frekuensi
5-6 x/hari 2-3x/ hari

Warna
Kuning Kuning

Istirahat/tidur:
4

Siang
Tidak pernah 13.00-14.00

Malam
22.00- 06.00 23.00- 24.00

52
5 Personal hygiene:

Mandi 2 x/hari Belumpernah

Cuci rambut 4 x/minggu Belum pernah

Gunting kuku 1 x/minggu Belum pernah

Gosok gigi 2 x/hari 2 x/hari

6 Aktivitas/mobilitas fisik

Kegiatan sehari-hari. Mandiri Dibantu

7 Rokok/ alkohol dan obat- Merokok Tidak

obatan

5. Pemeriksaan penunjang

laboratorium tanggal 03 januari 2011

Pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan

WBC 8,0 4,0-10,0 103/ul

RBC 4,14 4,00-6,00 106/ul

HGB 11,09 12,0-16,0 g/dl

HCT 34,9 37,0-48,0 %

53
MCV 84,3 80 – 97 FL

MCH 26,6 26 – 35,5 PJ

MCHC 31,59 31,5 – 35,0 g/dl

6. Therapy

Cefriaxone 1gram/12 jam/IV

Ranitidine 1 ampl/8 jam

Ketorolac 1 ampl/8 jam

7. Ro fhoto

Foto lengan

Kesan: fraktur humerus (+)

B. DATA FOKUS

Data objektif Data subjektif

1. Nampak terpasang verban elastic 1. klien menggatakan nyeri apabila ber

pada lengan kanan. aktivitas.

2. ADL klien dilayani di tempat tidur. 2.. klien menggatakan nyeri yang

3. klien Nampak terbaring di tempat dirasakan hilang timbul.

tidur. 3. klien menggatakan biasa dibantu

4. fraktur lengan kanan. oleh keluarganya apabila

5. ekspresi wajah meringis beraktivitas.

54
6. klien nanpak cemas. 4. klien menggatakan tidak dapat

7. kekuatan otot 5 5 bergerak secara leluasa.

1 5 5. klien menggatakan cemas dengan

8. TTV : TD : 140/90 penyakitnya.

N : 88x/i 6. skala nyeri 5 (sedang)

P : 22X/I

S : 37° C.

9. klien sering bertanya-tanya tentang

penyakitnya.

C. ANALISA DATA.

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 DS: Fraktur humerus Nyeri


 Skala nyeri 5 (sedang)
 Klien menggatakan Terputusnya kontinuitas
nyeri hilang timbul. jaringan
DO:
 Ekspresi wajah Suplai o2 ke jaringan
meringis menurun.
 TTV:
TD : 140/90 mmHg. Merangsang pengeluaran
N : 88x/menit. zat-zat bradikin,
S : 37° C. histamine dan
prostaglandin.

Syaraf-syaraf
afferent/nociceptor

Hipatalamus

Cortex cerebri

55
Dipersepsikan sebagai
nyeri

DS:
2  Klien mengatakan nyeri
apabila beraktivitas Kelemahan fisik Hambatan
 Klien menggatakan mobilitas
dibantu bila beraktifitas. Keterbatasan gerak fisik
 Klien menggatakan
tidak biasa bergerak
secara leluasa. Gangguan aktivitas

DO:
 Klien tanpak terbaring
di tempat tidur
 ADL klien di tempat
tidur

DS:
 Klien menggatakan
cemas dengan
3. keadaanya.
Terjadi perubahan status Kecemasan
DO : kesehatan
 Klien menggatakan
cemas dengan Klien selalu bertanya-
penyakitnya tanya tentang
penyakitnya
 TTV :
TD : 120/88 mmHg
Informasi yang diberikan
N : 88X/i
tidak akurat
P : 24X/i
S : 37° C
Kurang pengetahuan

Stress meningkat

Kecemasan

56
C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI

KEPERAWATAN

1. Nyeri berhubungan dengan Nyeri teratasi 1. kaji tingkat nyeri

terputusnya kontinitas jaringan dengan criteria. yang dirasakan

tulang. a. nyeri klien.

DS : berkurang 2. observasi TTV.

 Skala nyeri 5 (sedang) dengan skala 3. ajarkan dan

 Klien menggatakan nyeri nyeri dari 5 anjurkan klien untuk

hilang timbul. (sedang) ke 3 tekhnik relaksasi

. DO : (ringan) bila nyeri timbul

.  Ekspresi wajah meringis. b. ekspresi wajah seperti nafas dalam.

 TTV : tanpak tenang. 4. berikan posisi yang

TD : 120/80mmHg nyaman.

N : 88X/i 5. kalaborasi

P : 22X/i pemberian obat

S : 37° C analgetic.

Hambatan 1. kaji tingkat

Hambatan mobilitas fisik b/d mobilitas fisik kemampuan

kelemahan fisik b/d fraktur aktivitas klien.

DS: humerus terbuka 2. libatkan klien/

teratasi dengan keluarga dalam

57
 Klien menggatakan nyeri criteria. tindakan terapi/

bila beraktifitas.  Klien dapat pengobatan.

 Klien menggatakan dibantu melakukan 3. bantu klien/ libatkan

dalam beraktivitas ADL nya keluarga dalam

 Klien menggatakan tidak secara melakukan latihan

2 dapat bergerak secara mandiri. ROM.

leluasa. 4. observasi kemajuan

DO: klien dalam

 Klien tanpak terbaring di beraktivitas.

tempat tidur.

 ADL di tempat tidur


1. kaji tingkat

Kecemasan b/d kecemasan klien.

Kecemasan b/d perubahan kurangnya 2. berikan dorongan

status kesehatan pengetahuan kepada klien untuk

DS: tentang penyakit mengespresikan

 Klien mengatakn cemas yang dialaminya perasaanya.

dengan keadaannya. teratasi dengan 3. berikan penjelasan

DO: criteria, tentang penyakit

 Klien tahu yang dialaminya.


 Klien sering bertanya-tanya
tentang
tentang penyakitnya.
penyakit
 Klien tanpak cemas.
3. yang

58
 TTV : TD : 120/80 mmHg dialaminya.

N : 88x/i

P : 22x/i

S : 37° C

F. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN.

Hari/tgl DX Jam Implementasi dan hasil

Senin 1. I6.00 1. mengkaji tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien

03-1-2011 Hasil : klien mengatakan masih terasa nyeri dengan

skala 5 (sedang).

P 1. Mengobservasi tanda-tanda vital:

Hasil : TD : 140/90 mmHg

N : 88X/i

P : 22x/i

S : 37° C

2. Memberikan posisi yang nyaman.

Hasil : klien dalan posisi baring.

59
3. Mengajarkan dan menganjurkan klien untuk tekhnik

relaksasi bila nyeri timbul seperti nafas dalam.

4. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik

asammefenamat 1 tablet

Hasil : asammemenamat 1 tablet

1. mengkaji tingkat kemampuan aktivitas klien

2. 16.15 Hasil : klien tidak mampu melakukan aktivitasnya

sendiri

2. melibatkan klien/keluarga dalam setiap tahap

tindakan

Hasil : klien tanpak kooperatif.

3. mengobservasi perkembangan kemajuan klien

dalam beraktivitas.

Hasil : klien mampu duduk sendiri.

1. mengkaji tingkat kecemasan klien.

3. 16.25 Hasil : klien tidak terlalu cemas (sedang)

2. memberikan dorongan kepada klien untuk

mengepresikan perasaanya.

Hasil : klien mengungkapkan perasaanya.

3. memberikan penjelasan tentang penyakitnya.

Hasil : klien mengerti tentang penyakitnya.

60
1. mengkaji tingkat nyeri klien.

selasa 1 09.00 Hasil : nyeri yang dirasakan klien sedang.

04-1-2011 2. mengajarkan dan menganjurkan klien untuk tekhnik

relasasi seperti nafas dalam.

Hasil : klien mengerti dan melakukannya.

3. penatalaksanaan pemberian obat antibiotic

ciprofloxacin.

Hasil : ciprofloxacin 1 gr/12 jam/IV.

1. Mengkaji tengkat aktivitas klien.

2. 09.15 Hasil : klien dibantu untuk beraktifitas.

2. Melibatkan klien/keluarga dalam setiap tindakan

terapi/pengobatan.

Hasil : klien tanpak kooperatif.

3. Mengobservasi perkembangan dan kemajuan klien

dalam ber aktivitas.

Hasil : Klien mampu duduk di tempa tidur

1. Mengkaji tingkat kecemasan klien.

3 09.35 Hasil : cemas yang dirasakan sedang.

2. Mengobservasi tanda-tanda vital.

Hasil : TD : 120/80 mmHg

61
N : 88x/i

P : 22x/i

S : : 37° C

3. Memberikan dorongan kepada klien untuk

mengepresikan perasaanya.

Hasil : klien mengungkapkan perasaanya.

G. TINDAKAN KEPERAWATAN.

DX jam Evaluasi dan SOAP

1 S : - klien menggatakan nyeri pada lengan kanan.

- klien menggatakan nyeri hilang timbul.

- klien menggatakan nyeri yang dirasakan sedang

- skala nyeri 5 (sedang)

O : - ekspresi wajah meringis.

- ttv : TD : 140/90 mmHg

N : 88X/i

P : 22x/i

S : 36° c

A : masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervensi.

1. Kaji tingkat nyeri.

2. Observasi tanda-tanda vital

62
3. Berikan posisi yang nyaman.

4. Ajarkan tekhnik relaksasi.

5. Penatalaksanaan obat anlgetik.

2.

S : - klien menggatakan nyeri bila beraktivitas.

- klien menggatakan susah untuk bergerak secara leluasa

- klien menggatakan nyeri yang dirasakan hilang timbul.

O : - tanpak terpasang verban elastic pada lengan kanan

- ADL klien di bantu

A : masalah belum teratasi.

P : lanjutkan intervensi.

1. Kaji tingkat kemampuan aktivitas klien.

2. Observasi perkembangan/kemajuan klien dalam

beraktivitas.

3. Bantu klien dalam melakukan ADL nya.

4. Libatkan keluarga klien dalam setiap tindakan

terapi/pengobatan.

S : klien menggatakan cemas dengan keadaannya

O : - klien sering sering bertanya-tanya tentang penyakitnya

3. - Klien tanpak cemas.

A : masalah belum teratasi.

P : lanjutkan intervensi.

1. Kaji tingkat kecemasan klien.

63
2. Observasi tanda-tanda vital.

3. Berikan dorongan kepada klien untuk mengepresikan

perasaanya.

4. Memberikan support kepada klien.

5. Anjurkan klien untuk melakukan pendekatan spiritual

6. Berikan penjelasan klien tentang penyakitnya.

S : - klien mengatan nyeri pada lengan kanan.

- klien menggatakan nyeri hilang timbul.

- klien menggatakan skala nyeri sedang.

- skala nyeri 5 (sedang)

O : - ekspresi wajah meringis

1. - TTV : TD : 140/90 mmHg

N : 88x/i

P : 22x/i

S : 36° C

A : masalah belum teratasi.

P : lanjutkan intervensi.

1. Kaji tingkat nyeri.

2. Observasi TTV

3. Berikan posisi yang nyaman.

4. Ajarkan tekhnik relaksasi.

5. Penatalaksanaan pemberian obat analgetik.

S : - klien menggatakan nyeri bila beraktivitas.

64
- klien menggatakan tidak leluasa bergerak

O : - tanpak terpasang verban elastic pada lengan kanan.

- klien tanpak dibantu melakukan aktivitas.

A : masalah belum teratasi.

2. P : lanjutkan intevensi

1. Kaji tingkat kemampuan aktivitas klien.

2. Observasi perkembangan/kemajuan klien dalam

beraktivitas.

3. Libatkan keluarga klien dalam setiap tindakan

terapi/pengobatan.

S : klien menggatakan cemas dengan keadaan penyakitnya

O : - klien selalu bertanya tentang penyakitnya.

- klien tanpak cemas.

A : masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervensi.

3. 1. Kaji tingkat kecemasan klien.

2. Observasi TTV.

3. Berikan dorongan klien untuk mengungkapkan

perasaanya.

4. Berikan support kepada klien.

5. Anjurkan klien untuk selalu pendekatan spiritual.

6. Berikan penjelasan kepada klien tentang penyakitnya.

65
BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam praktek keperawatan profesional terhadap klien Fraktur humerus

dengan tindakan (pemasangan gips) di ruang perawatan Elang kamar 13 RS.

Bhayangkara Makasar, pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan secara

sistematis melalui pemikiran yang matang dengan menerapkan teori dari beberapa

disiplin ilmu pengetahuan dihubungkan dengan kebutuhan manusia melalui tahap

proses keperawatan yaitu pengkajian, perencanaan, catatan tindakan dan evaluasi.

Berikut ini akan membahas perbedaan yang terjadi antara teori dan kasus yang

didapat dari asuhan keperawatan pada klien TN “I”.

A. Pengkajian

Dari hasil pengkajian ditemukan adanya kesenjangan antara teori

dengan kasus, pada teori dijelaskan terjadi gangguan beberapa dari sistem

tubuh seperti sistem sirkulasi, neurosensori, nyeri/kenyamanan, keamanan,

serta aktifitas/ istirahat, sedangkan pada kasus mendapatkan 3 gangguan

sistem tubuh yaitu gangguan aktifitas, nyeri/kenyamanan dan keamanan.

Berdasarkan data hasil pengkajian yang dilakukan Tn “I” maka data yang

ditemukan pada kasus adalah klien mengatakan nyeri pada daerah lengan

kanan atas, nyeri yang dikeluhkan oleh klien adalah hilang timbul dengan

skala nyeri sedang, sifat nyeri yang dikeluhkan seperti ditusuk-tusuk dan

waktu timbulnya

66
timbulnya nyeri setiap kali klien beraktifitas dan merupakan

pencetus timbulnya nyeri dan faktor yang memperingan adalah bila klien tidak

beraktifitas, sedangkan gejala klinik yang ditemukan pada teori adalah nyeri

akibat kerusakan jaringan dan perubahan struktur dan pergerakan bagian-

bagian fraktur, bengkak, diformitase atau perubahan bentuk krepitasi yang

dapat didengar bila fraktur digerakkan, ecimosis atau perdarahan subkutan,

berkurangnya sensasi yang dapat terjadi karena gangguan saraf dimana saraf

itu dapat terjepit atau terputusnya oleh fragmen tulang, syok yang dapat

disebabkan karena kehilangan darah dan rasa nyeri hebat.

Dari data di atas didapatkan kesenjangan antara teori dan kasus

dimana pada hal ini disebabkan karena kondisi klien dalam merespon terhadap

suatu penyakit yang berbeda.

B. Diagnosa Keperawatan

Pada tinjauan teori didapatkan 8 diagnosa keperawatan untuk kasus

fraktur yaitu :

1. Nyeri berhubungan dengan fraktur

2. Resiko terjadinya infeksi sekunder berhubungan dengan luka yang masih

basah.

3. Gangguan mobilitas fisik/aktivitas berhubungan dengan fraktur

4. Gangguan pemenuhan ADL personal hygiene berhubungan dengan

kurangnya kemampuan merawat diri

67
5. Resiko terjadinya gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya

pengembangan paru oleh imobilisasi

6. Resiko terjadinya trauma tambahan berhubungan dengan terputusnya

integritas tulang

7. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sirkulasi pada

daerah tertekan

8. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi, tentang

penyakitnya.

Sedangkan menurut tinjauan kasus didapaikan 3 diagnosa yaitu :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontiunitas

jaringan.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik

3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status klien.

Dengan melihat kesenjangan antara teori dengan kasus terdapat 5 diagnosa yang

ada pada teori tidak ada pada kasus.

1. Resiko terjadinya infeksi sekunder b/d luka yang masih basah, diagnose ini

tidak diangkat sebab luka klien tidak tanpak adanya tanda-tanda infeksi.

2. kuranganya kemampuan merawat diri. Diagnose ini tidak diangkat karena

keluarga klien membantu klien menjaga kebersihannya.

3. Resiko terjadi trauma tambahan b/d terputusnya kontiunitas tulang. Diagnose

ini tidak diangakat karena klien banyak melakukan gerak.

68
4. Gangguan integritas kulit b/d penurunan sirkulasi pada daerah tertekan.

Diagnose ini tidak diangkat karena keluarga klien rajin merawat daerah yang

tertekan.

5. Resiko terjadi gangguan pertukaran gas b/d kurangnya pengembangan paru

oleh imobilisasi. Diagnose ini tidak diangkat karena pada waktu pengkajian

pernapasan klien masih norman 22x/i.

D. perencanaan

pada tahap perencanaan penulis merencanakan tindakan keperawatan sesuai

dengan permasalahan yang dialami oleh klien sebagai berikut :

1. gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan.

a. tujuan : nyeri berkurang/teratasi.

b. Perencanaan tindakan sebagai berikut :

1) Kaji tingkat nyeri.

2) Observasi tanda-tanda vital.

3) Beri posisi yang nyaman.

4) Ajarkan posisi yang nyaman.

5) Penatalaksaan pemberian obat analgetik.

2. Gangguan mobilitas fisik b/d keterbatasan gerak.

a. Tujuan : klien mampu beraktivitas.

b. perencanaan tindakan sebagai berikut.

69
1) observasi perkenbangan/kemajuan klien dalam beraktivitas.

2) Bantu klien dalam melakukan ADL nya.

3) Libatkan klien dalam setiap tindakan terapi pengobatan.

3. kecemasan b/d perubahan status kesehatan klien.

a. tujuan : kecemasan klien berkurang/teratasil.

b. perencanaan tindakan sebagai berikut :

1).kaji tingkat kecemasan klien.

2). observasi TTV.

3).Berikan dorongan kepada klien untuk mengekspresikan

perasaannya.

4. ) Berikan support kepada klien.

5). anjurkan klien untuk selalu melakukan pendekatan spiritual.

6). berikan penjelasan klien tentang penyakitnya.

E. Implementasi.

Pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien

merupakan rangkaian dari seluruh rencana tindakan yang dibuat sebelumnya.

Dalam melaksanakan tindakan tersebut meliputi tindaka mandiri, pendidikan

kesehatan dan kalaborasi.

Tindakan keperawatan yang penulis lakukan yaitu :

1. diagnose I.

nyeri pelaksanaan yang diberikan yaitu : mengkaji tingkat nyeri,

mengobservasi TTV, memberikan posisi yang nyaman, mengajarkan

tekhnik relaksasi dan distraksi, penatalaksanaan pemberian obat analgetik.

70
2. Diagnose II.

Gangguan mobilitas fisik yang diberikan yaitu : mengkaji tingkat

kemampuan beraktivitas, mengobservasi perkembangan/kemajuan dalam

beraktifitas, melibatkan keluarga klien dalam setiap tindakan terapi

pengobatan, melibatkan keluarga dalam pemenuhan ADL.

3. Diagnose III.

Cemas pelaksanaan yang diberikan : mengkaji tingkat kecemasan klien,

mengobservasi tanda-tanda vital, memberikan dorongan kepada klien

untuk mengespresikan perasaannya, member support, menganjurkan klien

untuk selalu beribadah.

F. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan

yang mana meliputi pencapaian tujuan keperawatan:

1. Pada pelaksanaan evaluasi ada 3 diagnosa yang belum terastasi yaitu :

a. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan.

Tidak teratasi karena klien masih mengeluh nyeri, klien tanpak

meringis.

b. Gangguan mobilitas fisik b/d keterbatasan gerak, hal ini dilihat dari

data bahwa klien tidak mampu beraktivitas tanpa bantuan keluarganya

c. Kecemasan b/d perubahan status kesehatan klien. Hal ini dapat dilihat

karena klien minta pulang padahal kondisinya yang masih memerlukan

keperawatan.

71
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dari hasil pengkajian ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan

kasus, pada teori dijelaskan terjadi gangguan beberapa dari sistem tubuh

seperti sistem sirkulasi, neurosensori, nyeri/kenyamanan, keamanan, serta

aktifitas/ istirahat, sedangkan pada kasus mendapatkan 3 gangguan sistem

tubuh yaitu gangguan aktifitas, nyeri/kenyamanan dan kecemasan.

2. Penyusunan rencana tindakan keperawatan dilakukan bedasarkan

pengkajian yang didapat dari klien dan dilakukan secara bio-psikososial

spiritual sehingga rencana tindakan yang diambil bisa lebih efisien dan

efektif.

3. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan pada klien post operasi

fraktur humerus terbuka dilakukan sesuai dengan masalah yang muncul

pada diagnosa keperawatan.

4. Evaluasi dilakukan meliputi SOAP dan didukung oleh peran keluarga

secara fisik, serta psikologis amat berpengaruh pada kelancaran proses

keperawatan pada klien karena dapat memberikan rasa nyaman dan aman.

72
B. saran.

1. Dalam melakukan pengkajian keperawatan ada baiknya melakukan

pendekatan interpersonal terlebih dahulu dengan klien sehingga proses

pengkajian dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

2. Dalam menyusun rencana keperawatan pada klien fraktur humerus

terbuka harus dilakukan sesuai dengan diagnosa yang muncul.

3. Diharapkan dalam melakukan tindakan keperawatan harus sesuai dengan

kebutuhan klien serta memperhatikan fasilitas yang ada.

4. Diharapkan perlunya pendokumentasian evaluasi SOAP agar semua

tindakan yang telah dilakukan bisa terlihat dengan jelas.

5. Diharapkan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien post

operasi fraktur humerus terbuka dilakukan dengan berfokus pada proses

kepeawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana

keperawatan, catatan tindakan dan evaluasi keperawatan.

6. Di dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien

post operasi Fraktur humerus terbuka dilakukan secara cermat dan teliti

sesuai dengan data yang telah didapatkan.

73
74