Anda di halaman 1dari 18

- - 1

Hand Out
Perawatan Kesehatan Masyarakat

Demografi

H Suhari.,A Per Pen.,MM


Prodi D3 Keperawatan Universitas Jember
Jl Brigjen Katamso Telp 0334 882262 – 885920
LUMAJANG
- - 2

Pengertian dan Ukuran Dasar Demografi

1. Konsep Demografi
Demografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Kata “demografi” pertama kali diperkenalkan oleh seorang Belgia,
Achille Guillard, dalam bukunya “Elements De Statistique Humaine,
Ou demographie Comparee“. ( elemen of Human statistics or
Comparative Demography ) pada tahun 1855. Dia mengemukakan
demografi sebagai sejarah sosial dn alam tentang manusia atu
pengetahuan matematik tentang perubahan-perubahannya,
phisiknya, intelektualitasnya dan kondisi moralnya.
Kata Demografi berasal dari Yunani “demos” dan “grafein”.
Demos berarti rakyat atau penduduk dan grafein berarti tulisan. Jadi
demograi berarti tulisan tentang penduduk. Berbagai ahli demografi
kemudian membuat berbagai tulisan tentang demografi.
Philip M. Hauser dan Otis D. Duncan (1959) dalam edisinya
“The Study of Population” memberikan definisi bahwa demografi
mempelajari tentang jumlah, perseabaran teritorial, komposisi
penduduk, perubahan – perubahan dan sebab-sebab perubahan
tersebut.
Donald J. Boogue (1969) dalam bukunya “prinsipel of
Demography” memberikan definisi Demografi sebagai berikut :
“ Demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistik
dan matematik tentang jumlah, komposisi dan distribusi penduduk
serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5
komponen demogrfi yaitu kelahiran (fertilitas) kematian
(mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial”.
Dari beberapa definisi diatas disimpulkan bahwa demografi
adalah ilmu yang mempelajari tentang persoalan – persoalan dan
keadaan perubahan – perubahan penduduk yang berkaitan dengan
komponen – komponen kelahiran, kematian dan migrasi.
Seperti ilmu – ilmu lain, demografi bisa didefinisikan seacara
sempit atau luas. Dalam pengeritian sempit, demografi diartikan
sebagai demografi formal. Demografi formal ini berkaitan dengan
jumlah, persebaran, struktur dan perubahan penduduk. Jumlah
diartikan sebagai sekelompok unit atau orang dalam suatu populasi.
Persebaran merujuk pad susunan penduduk pada suatu daerah dan
waktu tertentu. Struktur diartikan sebagai persebaran penduduk
menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Sedangkan perubahan
penduduk dimaksudkan sebagai pertambahan atau pengurangan
jumlah penduduk secara keseluruhan atau sekelompok penduduk
( unit ).
Dalam pengertian “luas” demografi diartikan sebagai
demografi formal yang dikaitkan dengan berbagai karakteristik,
antara lain :
- Karakteristik etnik, misalnya ras kewarganegaraan, tanah
kelahiran, dan sebagainya.
- Karakteristik sosial , misalnya status perkawinan, status
keluarga, tempat kelahiran, kemampuan tulis/baca dan
pendidikan
- Karakteristik ekonomi, antara lain meliputi kegiatan
ekonomi, status kepegawaian, pekerjaan dan pendopatan.
- Karakteristik lainnya, seperti kesehatan, kecerdasan,
keturunan dan sebagainya.
- - 3
Demografi formal atau demogrfi dalam arti sempit dalam
bahasa disiplin ilmu disebut sebagai : Single Theoritical Discipline “.
Sedangkan dalam arti luas demografi dapat disebut sebagai “Inter
Disciplinary Sciences “.
2. Ukuran Dasar Demografi
Dalam melakukan analisa demografi dipaikai seabagi ukuran
statistik. Pada materi ini hanya akan dibahas 3 ukuran dasar
demografi yaitu : Rate, Ratio, dan Proporsi.
a. Rate ( tingkat ), adalah perbandingan antar kejadian –kejadian
demogrfi dalam suatu populasi pada periode tertentu.
Misalnya : tingkat kelahiran ( Birth rate ) adalah perbandingan
kejadian kelahiran hidup selama satu periode tertentu terhadap
julmah penduduk pada pertengahan tahun dalam periode
tersebut.
Contoh : - Kejadian kelahirah = 30
- Jumlah Penduduk = 1000
- Birth Rate = 30
1.000
b. Ratio, adalah angka yang menunjukkan hubungan satu sub
populsi dengan sub populasi lain dalam suatu sub populasi
dengan sub populasi lain dalam suatu populasi yang sama.
Misalnya : sex ratio yaitu angka yang menunjukkan jumlah
penduduk laki-laki per seratus wanita pada tempat yang sama
pada tahun tertentu.
Contoh : - Jumlah penduduk laki – laki Kab. A = 3.566.825
- Jumlah penduduk perempuan Kab. A = 3.8487.090
- Sex ratio = 3.566.825 / 3.487.090 x 100 = 102
c. Proporsi, adalah anka yang menunjukkan hubungan antara sub
populasi dengan keseluruhan populasi yang sama.
Misalnya : penduduk petni di desa A dibandingkan dengan jumlah
seluruh penduduk di desa A.
Contoh : - Jumlah penduduk desa A = 7.942.833
- Jumlah petani desa A = 3.566.825
- Proporsi petani desa A = 3.566.825
7.942.833
= 0,4491 atau 44,91 %

3. Sumber Data Demografi


Sumber utama data demografi adalah :
a. Sensus yaitu pencacahan penduduk secara lengkap pada suatu
wilayah dan waktu tertentu.
Contoh : sensus penduduk Indonesia thun 2000 dan 2004.
b. Survey yaitu pencacahan penduduk dengan menggunakan cara
sampling.
Contoh : surver penduduk antar Sensus ( SUPAS ) tahun 2001 dan
2005
c. Pegistrasi Vital
Yaitu pencatatan kejadian vitas tentang penduduk, seperti
kelahiran, kematian, kawin dan cerai.

Disamping 3 sumber pokok data kependudukan tersebut


diatas ada beberapa sumber kependudukan lain yang dimaksudkan
sebagai bahan penggarapan operasional pada masing-masing sektor
seperti catatan tentang PUS non PUS, kader, akseptor, jumlah
pemilih, anggota PKK dan sebagainya.

B. Komposisi Penduduk
1. Umur
- - 4
Dalam ilmu demografi, umur penduduk dipakai sebagai
indikator untuk mengetahui apakah penduduk yang ada pada suatu
wilayah tertentu (propinsi, kabupaten dan seterusnya) mempunyai
struktur umur muda atau umur tua. Suatu wilayah disebut
mempunyai struktur penduduk umur muda apabila sebagian besar
proporsi penduduk di wilayah tersebut mempunyai rata-rata umur
muda (misalnya rata-rata umur adlah 15 tahun ).
Untuk mengetahui struktur penduduk usia muda atau tua
dihitung median umurnya yang menggambarkan nilai tengah umur
penduduk ( separuh umur tua dan separuh umur muda ).
Contoh : median umur di Kabupaten Bogor adalah 18 tahun. Ini
berarti separuh penduduk kabupaten Bogor berusia dibawah 18
tahun atau usia muda.

2. Ratio Jenis Kelamin ( Sex Ratio )


Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin atau rasio
jenis kelamin penduduk ( sex rasio ) adalah perbandingan banyaknya
penduduk laki – laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada
suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam bentuk
banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan.
Cara penghitungannya :
M
SR  .k
F
SR = Sex Ratio
M = Male ( penduduk Laki – laki )
F = Female ( penduduk perempuan )
K = bilangan konstanta, biasanya 100/1000
Contoh : Penduduk suatu wilayah terdiri dari laki-laki 32.450 orang
dan penduduk perempuan 34.226 orang
32.450
SR  .100
34.226
SR = 94,81 dibulatkan menjadi 95
SR = berarti bahwa pada setiap 100 penduduk perempuan terdapat
95 penduduk laki – laki.

Khusus untuk ratio jenis kelamin pada waktu lahir ( sex ratio at
birth ) pada sebagian besar negara (termasuk Indonesia ) berkisar
antara 105 dan 106 bayi laki – laki per 100 bayi perempuan. Setelah
itu, angka ini bervariasi tergantung daripad pola kematian dan
migrasi penduduk laki-laki dan wanita pada negara tersebut.

3. Rasio Beban Ketergantungan ( Dependecy Ratio )


Rasio dari penduduk umur tidak produktif ( penduduk usia di
bawah 15 tahun dan diatas 64 tahun ) terhadap penduduk usia
produktif ( 15 – 64 tahun ) dalam suatu populasi yang sama. Negara
atau wilayah dengan tingkat kelahiran yang tinggi biasanya
mempunyai beban ketergantungan tinggi oleh karena bnyak proporsi
anak – anak pada negara atau wilayah tersebut.
Cara penghitungannya :

(P15  P 65 )
DR  x k
(P1564)
DR = Dependency Ratio
- - 5
P  15 = penduduk usia dibawah 15 tahun
P 65 + = penduduk usia 65 tahun keatas
P 15 – 64 = penduduk usia antara 15 s/d 64 tahun
K = bilangan konstan, biasanya 100

Contoh:
- Penduduk kecamtan A, usia  15 tahun : 11.114 orang
- Penduduk usia 65 tahun keatas : 6.583 orang
- Penduduk usia 15 – 65 tahun : 31.487 orang

(11 .114  6.583 )


DR  x 100
(31.487 )
DR = 56,2 %

Jadi beban ketergantungan di kecamatan A tersebut adalah


56. ini berarti setiap 100 orang yang bekerja, menanggung 56 orang
penduduk yang tidak bekerja.

4. Piramida Penduduk
a. Pengertian
Piramida penduduk adalah gambar yang menunjukkan
jumlah penduduk menurut komposisi umur dan jens kelamin.
Sampai saat ini dalam demografi secara umu dikenal ada 3 (tiga)
bentuk atau model piramida penduduk yaitu :

1) Piramida Ekspansif ( Expansive Pyramid )


Yaitu bentuk yang menggambarkan jumlah penduduk umur
muda yang sangat besar. Bentuk semacam ini terdapat pada
penduduk dengan tingkat kelahiran dan kematian sangat
tinggi, sebelum mereka mengadakan pengendalian terhadap
kelahiran maupaun kematian.
Contoh : Negara Indonesia berdasarkan sensus th 80an

2) Piramida Konstriktif (Constrictive Pyramid )


Yaitu bentuk yang menggambarkan jumlah penduduk umur
muda yang mengecil. Bentuk semacam ini terdapat pada
negara y ang telah mengalami penurunan tingkat kelahiran
dan kematian yang besar.
Contoh negara Amerika Serikat

3) Piramida Stasioner ( Stationary Pyramid )


Yaitu bentuk yang menggambarkan jumlah yang hampir sama
besarnya pada setiap kelompok umur. Baentuk semacm ini
terdapat pad negara yang tingkat kelahiran dan kematian yang
sama, dan sudah berlangsung dlam kurun waktu yang sangat
penjang.
Contoh : Swedia dan negara-negara Erop Barat lainnya.

b. Cara membuat piramida penduduk


- - 6
1) Sumbu vertikal untuk distribusi umur penduduk
2) Sumbu horisontal untuk jumlah penduduk
3) Dasar piramida dimulai pada umur muda ( 0-4 tahun )
semikin ke atas untuk umur yang lebih tua. Biasa juga disusun
atas dasar umur tunggal ( 1, 2, 3, dan seterusnya )
4) Puncak piramida untuk umur tua searing dibuat dengan
sistem “open interval “, misalnya untuk umru 75, 76, 77, 78
dan seterusnya cuup ditulikan 75 +
5) Bagian sebelah kiri untuk penduduk laki-laki dan sebelah
kanan untuk penduduk perempuan.
6) Besarnya balok diagram masing –masing kelompok umur
harus sama.
Komposisi penduduk kecamatan D berdasarkan kelompok umur
Dan jenis kelamin
Kelompok Penduduk Penduduk Jumlah Tiap Sex Keterangan
Umur Laki-laki Perempuan kelipatan Ratio
umru
thd julah
0 -4 9.606 9.492 19.098 18.61 101
5–9 9.525 9.236 18.761 18.29 103
10 – 14 7.535 7.026 14.561 14.19 104
15 – 19 4.587 4.478 9.065 8.83 102
20 – 24 3.722 3.814 7.536 7.34 97
25 – 29 2.944 3.012 5.956 5.80 97
30 -34 3.132 3.045 6.177 6.02 103
35 – 39 2.846 2.885 5.731 5.58 98
40 – 44 2.643 2775 5.418 5.28 95
45 – 49 1.785 1.698 3.483 3.39 105
50 – 54 1.425 1.311 2.736 2.66 108
55 – 59 1.007 1.083 2.090 2.03 92
60 – 64 946 1.002 1.948 1.89 94
65 – 69 37 40 77 0.07 92
70 – 74 12 5 17 0.01 240
75+ 8 7 15 0.01 114
Jumlah 51.760 50.909 102.669 100.00

Dari tabel komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur dan


jenis kelamin maka piramida penduduk kecamatan D tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut
Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin
yang digambarkan dalam bentuk piramida penduduk ( bisanya
dengan interval 5 tahun ) ini dimaksudkan untuk mengetahui
antara lain :
a. Jumlah penduduk laki – laki dan permpuan kelompok umur
tertentu
b. Jumlah balita
c. Jumlah penduduk wanita usia subur
d. Rasio jenis kelamin
e. Jumlah penduduk usia produktif dan konsumtif
Catatan : piramida penduduk dapat dibuat berdasarkan
prosentase (%) atau nilai mutlak ( absolut ) seperti
contoh tersebut diatas.

5. Kesalahan Pencatatan dan Pelaporan Umur


Melakukan pengumpulan data mengenai umur penduduk
merupakan hal yang sangat sulit oleh karena adanya kesalahan-
- - 7
kesalahan yang dilapokan. Beberapa tipe keslhan pelaporn umur
adlah :
a. Kesalahan dalam tabulasi umur
Kesalahan ini biasanya disebabkan oleh kesalahan pada waktu
melakukan pencacahan, yaitu :
- Kesalahan cakupan
- Kesalahan pencatatan umur yang disebutkan
- Kesalahan melaporkan umurnya (ditinggikan atau
direndahkan)
b. Kesalahan karena “digit” atau bilangan yang disenangi (digit
preference)
Biasanya seseorang lebih cenderung menyenangi angka-angka
tertentu pada saat melapokan umurnya. Angka tersebut adlah
angka 0 – 5.
Oleh karena itu, biasanya dalam menyajikan pelaporan umur
terlebih dahulu dilakukan perapihan (adjustment) dan dilakukan
penggolongan kelompok umur (misalnya 5 tahunan = 0-4, 5-9 ….
Dan seterusnya ).

C. Fertilitas
Fertilitas adalah penambahan jumlah anggota baru dari suatu
penduduk dikarenakan kelahiran. Beberapa fertilitas yang akan dibahas
adalah Crude Birth Rate (CBR), General Pertility Rates (GFR) Gross
Reproduction Rate (GRR), Net Reproduction Rate (NRR), dan Child
Women Ratio (CWR).

1. Tingkat Kelahiran Kasar / Crude Birth Rate (CBR)


CBR ( Crude Birth Rater ) atau tingkat kelahiran kasar adalah jumlah
bayi yang dilahirkan hidup setipa 1000 pendudu setiap tahun.
Cara penghitungannya adalah sebagai berikut :
B
CBR  xk
P
B = Banyaknya kelahiran hidup pada tahun tertentu
P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun tertentu
K = Bilangan konstanta, biasanya 1000
Contoh : penduduk desa A pada 1 Januari 1988 sebanyak 5.000 orang
dan pada 31 Desember 1988 sebanyak 5.400 orang. Apabila selam
tahun 1988 di desa A terdapat 200 kelahiran hidup, maka CBR didesa
tersebut adalah :
- Penduduk pertengahan tahun
5.000  5.400
 5.200 penduduk
2
200
- CBR  x 1.000  38,45 %
5.200
jadi rata-rata kelahiran di desa A adalah 38-39 orang per 1000
penduduk pertahun.

2. Tingkat General Fertility Rates (GFR)


General Fertility Rates (GFR) bisa juga disebut tingkat
fertilitas adalah jumlah anak yang dilahirkan hidup setiap 1000
wanita usia subur (15-49 thun ) pada tahun tertentu. Ukuran ini
dipandang lebih halus jika dibndingkan dengan CBR ( Crede Birth
Rate ) oleh karena tingkat kelahiran di hubungkan dengan wanita
usia melahirkan sehingga GFR dapat memberikan indikasi yang lebih
jelas terhadap perubahan tingkah laku fertilitas.
Cara penghitungan GFR adalah sebagai berikut :
- - 8
B
GFR  xk
Pf
B = Jumlah kelahiran hidup
Pf = Jumlah wanta usia reproduktif ( 15 – 49 tahun )
K = Bilangan konstanta, biasanya 1000
Contoh :
Di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2012 terjadi kelahiran
423.958 orang. Jumlah penduduk wanita usia 15 – 49 tahun
sebanyak 5.378.256 orang.
423.958
GFR  x 1000  78,8
5.3783256
ini berarti terdapat 79 kelahiran hidup per 1000 wanita usia 15 – 49
tahun di Kalimantan Tengah pad tahun 2012.

3. Tingkat Fertilitas kelompok umur / Age spesific Fertility Rate


( ASFR )
Angka kelahiran rata-rata menurut kelompok umur atau
Age specific fertility rate ( ASFR ) yaitu banyaknya kelahiran hidup
tiap 1000 wanita pada kelompok umur tertentu.
Cara penghitungannya :
B
ASFR  if x k
Pi
i = kelompok umur wanita ke i
interval umur (i) bisa 5 tahunan atu 1 ( satu ) tahun, biasanya
ditulis interval (15 – 19, 20 – 24, 25 – 29, …………., 45 – 49 )
b1 = banyak kelahiran hidup didalam kelompok umur i
selama satu tahun
P if = banyaknya wanita kelompok umur i
Pada pertengahan tahun.
K = bilangan konstanta, biasanya 1000
Contoh : banyaknya kelahiran dari 2.649 wanita kelompok umur 15 –
19 tahun selama satu tahun adalah 158
158
ASFR 15  19  x 1000  60
2.649
hal ini berari bahwa secara rata-rata terdapat 60 kelahiran hidup per
1000 wanita usia 15 – 19 tahun.

4. Tingkat fertilitas total / Total Fertility Rate


Tingkat Fertilatas Total ( TFR ) adalah salah satau ukuran
fertilitas yang sangat penting karena dapat menunjukkan rata-rata
jumlah anak yang dapat dilahirkan ol eh seorang wanita selam masa
reproduksinya.
Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate ( TFR ) dihitung
dengan sejumlah ASFR, dengan catatan bahwa umur dinyatakan
dalam satu tahun. Jika umur dikelompokkan ke dalam 5 tahunan
maka TFR dihitung sebagai berikut :
7
TFR  5   ASFR i
1l
dimana, ASFR = angka kehiran menuut kelompok umur
i = Kelompok umur 5 tahunan, dimulai dari 15 – 10
tahun
7 = Jumlah / banyaknya kelompok umru

contoh : perhitungan ASFR dan TFR di Propinsi Kalimantan Tengah


tahun 2010
Kelompok Penduduk Kelahiran ASFR
- - 9
umur wanita
Wanita
(1) (2) (3) (4)
15-19 2.649 138 58
20-24 2.080 418 200
25-29 2.008 504 250
30-34 1.634 496 303
35-39 1.512 180 119
40-44 1.101 72 65
45-49 669 7 10
Sumber : Data Fiktif
Jadi TFR Propinsi tersebut :
= 5 (59+200+250+303+119+65+10 )
5 x 1.006 = 5.030 perseribu wanita usia 15-49 tahun.
Atau TFR = 5.030 untuk tiap wanita 15-49 tahun
Ini berarti bahwa tiap wanita di Pripinsi Kalimantan Tengah
padatahun 2010 rata-rata mempunyai anak 5 orang anak diakhir
masa reproduksi.

5. Tingkat Reproduksi total / Groos Reporduction Rate ( GRR )


Tingkat Reproduksi Total atau Gross Reproduction Rate
( GRR ) adalah rata-rata anak wanita yang dapat dilahirkan oleh
seorang wanita (atau sekelompok wanita ). Selama hidupnya apabila
ia dapat melalui masa usia reproduksinya.
Ukuran ini sebenarnya mirip dengan TFR akan tetapi GRR
hanya menghitung anak wanita yang dilahirkan.
Cara penghitungannya :
7 f
GRR  5 ASFR
i l i

dimana, i = kelompok umur ke i


f
ASFR  age Specific Gertility Rate wanita pada kelompok umur
i
ke i
Contoh perhitungannya :
Umur ASFR ASFR x proposi
Ibu Lahir wanita (0,4916)
15-19 1.387 68,2
20-24 3.897 191,6
25-29 3.783 186,0
30-34 3.100 152,4
35-39 2.466 121,2
40-44 1.025 50,4
45-49 174 8,6
Sumber : data fiktif
7 f
GRR  5 ASFR =5 x 778,4=3.892
i l i

ini berarti di Kalimantan Selatan terdapat rata-rata 3,892


kelahira wanita per 1000 wanita usia subur.
Catatan : proporsi lahir wanita diperloeh dari
SRW
Rumus =
100  SRL
Dimana SRW = sex ratio lahir wanita
SRL = sex ratio lahir laki-laki

6. Tingkat Reproduksi Netto / Net Reproduction Rate ( NRR)


- - 10
Tingkat Reproduksi Nettof atau Net Reproduction Rate ( NRR )
adalah rata-rata wanita yang dapat dilahirkan oleh seorang wanita
( atau sekelompok wanita ) jika ia telah melewati mas reproduksinya
sesuai dengan ASFR yang ada dan telah memperhitungkan
kemungkinan kematian pada tahun tertentu.
Ukuran ini sama dengan GRR tetapi hasilnya selalau lebih kecil
karena memperhitungkan kemungkinan terjadinya kematian ibu
selama melampaui masa reproduksinya.
Cara penghitungannya :
7 f
5L
NRR   ASFR x i
i l i 0

dimana, NRR = Net Reproduction Rate


f
ASFR = Age Specific Fertility Tare Wanita pada kelompok
i
umur ke i
5 Li
= diambilkan dari tabel kematin (life table) yaitu
0
jumlah orang tahun yang dapat hidup (per 1
wanita ) pada kelompok umur tertentu, dimana i
adalah uur pada interval ke i.

NRR dapat diindetikkan degnan indikator “ Replace ment level


“ yaitu banyaknya wanita yang dapat menggantikan pada generasi
berikutnya. Misalnya : NRR = 2 ini berarti setiap 1 wanita akan
digantikan oleh 2 anak perempuan. Jadi jika NRR = 1, maka daerah
tersebut telah berada pda “Replacement Level”, artinya setiap ibu kan
digantikan oleh satu anak wanitanya pada generasi berikutnya.

7. Ratio Blita Terhadap WUS/ Child Women Ratio (CWR)


Ratio Balita terhadap Wanita Usia Subur atau Child Wamen
Ratio (CWR) merupakan sutu ukuran yng dipergunakan untuk
mengetahui rasio jumlah anak usia di bawah 5 tahun (balita)
terhadap wanta usia subur pada tahun tertentu. Ukuran ini dipakai
sebagai indikator fertilitas, khususnya jika tidak tersedia data yang
rinci tentang kelahiran.
Cara perhitungan :
C
CWR  f x k
P
C = Jumlah anak balita
Pf = Jumlah penduduk wanita usia 15-49 tahun
k = bilangan konstanta, biasanya 1000

contoh : Di Kabupaten Amanuban diketahui jumlah anak usia 0 – 4


tahun (balita) sebanyak 2.500 orang dan jumlah wanita usia
subur 15 – 49 tahun sebanyak 14.000 orang.`
2.500
Jadi CWR  x 1000  178
14.000

Artinya untuk setiap 1000 wanita usia subur di Kabupaten


Amanuban terdapat 178 anak balita. Jika
Berarti terjanid kemungkinan adanya penurunan tingkat fertilitas,
demikian pula sebaliknya.

D. Mortalitas
- - 11
Mortalitas adalah pengurangan jumlah anggota dari suatu
penduduk dikarenakan kematian. Ukuran-ukuran dasar untuk
mempelajari perubhan penduduk (berkurang) antara lain meliputi
tingkat kematian kasar, tingkat kematian menurut kelompok umur dan
sebagainya.

1. Tingkat Kematian Kasar / Crude Death Rate ( CDR )


CDR ( Crude Death Rate ) atau tingkat kematian kasar adalah
jumlah kematian pd tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk
pertengahan tahun.
Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut :
jumlah kematian pada tahun x
CDR  x 1000 atau
jumlah penduduk pertengahan tahun
D
CDR  xk
P

dimana D = Jumlah kematian pada tahun tertentu


P = Jumlah penduduk pertengahan tahun
K = bilangan konstanta, biasanya 1000

Contoh : Penduduk desa Sukamaju pada tanggal 1 Januari 2010


sebanyak 5.500 orang dan pada tanggal 31 Desember 2010 sebanyak
6.500 orang. Apabila terdapat 150 kematian di desa tersebut selama
tahun 2010, maka CDR di desa Sukamaju tersebut adalah
5.500  6.500
penduduk pertengahan tahun  x 1000  6.000
2
150
CDR  x 1000  25
6000

Jadi rata-rata kematian di desa Sukamaju tersebut adlah 25


orang per 1000 penduduk pertahun.

2. Tingkat Kematian Menurut Umur Kelompok Agae Specific Death


Rate (ASDR)
Tingkat kematian dapat diperoleh pad setiap kelompok umur
untuk dapt dilakukan perbandingan kematian pada kelompok umur
yang berbeda atu perub ahan kematian pada kelompok umur yang
sama pad waktu yang berbeda.
Perhitungannya :
D
ASDR  i x k
Pi

Di= kematian pada kelompok umur ke i


Pi = penduduk pada kelompok umur ke i
k = bilangan konstanta, biasanya 1000

contoh : Di Kecamatan Tulung Agung pada tahun 2010 terdapat


kematian pada kelompok umur 10-14 tahun sebanyak 100 orng.
Jumlah penduduk pada kelompok umur 10-14 tahun = 2.500
100
ASDR (10  14)  x 1.000  40
2.500

ini berarti pad thun 2010 di Kecamatan Tulung Agung terjadi


40 kematian per 1000 penduduk usia 10-14 tahun.

3. Tingkat Kematian Bayi / Infant Mortality Rate ( IMR)


- - 12
Tingkat kematian bayi / Infant Mortlity Rate ( IMR) merupakan
indikator yang sangat baik untuk mengukur status kesehatan
masyarakat pada suatu wilayah. IMR menunjukkan jumlah kematian
bayi usia dibawah satu tahun setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun
tertentu.
Perhitungan :
D ( 1tahun )
IMR  xk
B
D (  1 Tahun ) = Kematian bayi usia dibawah 1 tahun
B = Jumlah kelahiran hidup
K = bilangan konstanta, biasanya 1000
Contoh : Pada kecamatan Kupang Barat terdapat kematian bayi usia
dibawah 1 tahun sebanyak 199 anak. Pada tahun yang sama jumlah
kelahiran hidup 5.996 anak.
199
IMR  x 1000  33,2
5.996
Ini berarti terdapat 33 kematian bayi usia dibawah 1 tahun pada
setiap 1000 kelahiran hidup di Kecamatan Kupang Barat.

4. Tingkat Kematian Ibu / Maternal Mortality Rate ( MMR )


Tingkat kematian ibu melahirkan atau Maternal Mortality
Rate (MMR) adalah kematian ibu selama masa puerperal ( 0-40 hari
sesudah melahirkan 0 dibandingkan dengan jumlah kelahiran hidup
selama 1 tahun. Kematian ibu disini adalah yang disebabkan oleh
komplikasi kehamilan atau kelahiran.
Perhitungannya :
kematian ibu selama masa puerpueral
MMR  x 100.000 atau
jumlah kelahiran hidup

DM
IMR  xk
B
dimana, DM= kematian ibu (Mothers Death)
B = kelahiran hidup
K = bilangan konstanta, biasanya 100.000
(oleh karena kasusnya kecil)
Contoh : Jumlah kelahiran hidup di Kabupaten C tahun 2010
sebanyak 130.000. Ibu yang meninggal akibat melahirkan (saat
melahirkan 3 hari, seminggu, s/d 40 hari sesudah melahirkan)
sebanyak 54 orang.
54 orang
Jadi MMR = x 100.000  41,5
130.000
Artinya terdapat rata-rata 42 kematian ibu untuk setiap 100.000
kelahiran hidup.
5. Umur Harapan Hidup / Expectation of Life
Umur harapan hidup atau Expection of life adalah suatu estimasi dari
sejumlah umur rata-rata bagi seseorang hidup, didasarkan pada
kematian rata-rata umum tertentu pada tahun tertentu.
Umur harapan hidup adalah ukuran hipotesis dan juga merupakan
indikator dan kondisi kesehatan pada saat ini, jadi bukan merupakan
suatu rate.
Kecenderungan perubahan tingkat kematian pada masa mendatang
akan menambah harapan hidup seseorang bila bertambah umurnya.
Contoh :
Jika di wilayah A umur harapan hidup pada waktu lahir tahun 2012
adalah 60 tahun. Berarti bahwa setiap bayi yang dilahirkan pada
tahun 2012 akan mempunyai harapan hidup 60 tahun apabila pola
kematian tidak berubah.
- - 13

E. Migrasi
1. Pengertian
Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap
dari satu tempat ke tempat lain melampaui batas politik / negara
ataupun batas administrasi bagian dalam suatu negara.
Jadi migrasi dapat dikatakan sebagai perpindahan yang relatif
permanen dari suatu daerah ke daerah lain. Ada dua dimensi penting
yang perlu ditinjau dalam penelaahan migrasi, yaitu dimensi waktu
dan dimensi daerah. Untuk dimensi waktu, ukuran yang pasti tidak
ada karena sulit menentukan berapa lama seorang pindah tempat
tinggal untuk dapat dianggap sebagai seorang migran. Tapi biasanya
digunakan definisi yang ditentukan dalam sensus penduduk. Batasan
waktu migrasi dalam sensus penduduk th 2010 adalah 6 bulan.
Untuk dimensi daerah secara garis besar dibedakan :
- Perpindahan antar negara yaitu perpindahan penduduk dari satu
negara ke negara lain, yang disebut juga “Migrasi International”.
- Perpindahan yang terjadi dalam suatu negara, misalnya antar
propinsi, antar kota, atau kesatuan administrasi lainnya yang
dikenal dengan migrasi intern. Batasan unit wilayah bagi migrasi
di Indonesia menurut sensus 2010 adalah propinsi.

2. Jenis-jenis Migrasi dan Cara Perhitungannya.


a. Migrasi Masuk (In-migration) adalah masuknya penduduk ke
suatu daerah tempat tujuan (area of destination).
Cara menghitung angka migrasi masuk, adalah sebagai berikut :
Mi =
I
.k
P
25 org
10000
25/100.000 x 10000 : 4
4 org migrant masuk tiap 10000 penddk
Mi = angka migrasi masuk
I = jumlah migran yang masuk ke suatu daerah
P = penduduk pertengahan tahun
k = bilangan konstanta, biasanya 1000
Contoh : Mi = 25
Berarti ada 25 migran yang masuk per 1000 orang penduduk
setiap tahun.
Catatan : Migran adalah orang yang melakukan migrasi
b. Migrasi ke luar (out-migration) adalah perpindahan penduduk ke
luar dari suatu daerah asal (area of origin)
Cara perhitungan angka migrasi ke luar :
Mo =
O
.k
P

Mo= angka migrasi keluar


O = jumlah migran keluar dari suatu daerah
P = penduduk pertengahan tahun
k = bilangan konstanta, biasanya 1000
Contoh :
Mo = 15, berarti terjadi penduduk pindah ke luar daerah rata-rata
sebanyak 15 dari setiap 1000 penduduk, setiap tahun.
- - 14
c. Migrasi netto (Net-migration) adalah selisih antara migrasi masuk
dan migrasi ke luar. Apabila Mi > Mo, disebut migrasi neggot
positif, Mo > Mi, disebut migrasi netto negatif.
Perhitungannya :
I O Mn = Mi - Mo
Mn = .k Atau
P

Mn = angka migrasi neeto


O = jumlah migram keluar dari suatu daerah
I = jumlah migrm masuk ke suatu daerah
P = penduduk pertengahan tahun
k = bilangan konstanta, biasanya 1000
jadi net-migration ( migrasi netto) dari contoh pada butir a + b
diatas adalah : Mn = Mi – Mo = 25 – 15 = 10
pertambahan penduduk yang disebabkan oleh migrasi rata-rata
10 orang per 1000 penduduk per tahun.

F. Perubahan Penduduk
Perubahan penduduk biasanya disebbkan oleh tiga komponen
pokok demografi yang telah diuraikan sebelumnya yaitu kelahira
(fertilitas), kematian (mortalitas) dan migrasi (migration). Dalam modul
ini perubahan penduduk yang akan dibahas adalah : keseimbangan
penduduk, pertumbuhan penduduk, transisi demografi, dan penduduk
tamnpa pertumbuhan atau Zero Population Growth (ZPG).
1. Keseimbangan Penduduk
Ukuran dasar dalam menghitung perubahan penduduk dari waktu ke
waktu adalah melalui teknik perhitungan keseimbngan penduduk
( balancing equation ).
Cara penghitungannya :

Pt = Po + (B – D ) + ( Mi – Mo )

Keterangan :
Po. = jumlah penduduk awal ( tahun dasar )
Pt = jumlah penduduk pada waktu sesudahnya
B = Jumlah kelahiran diantara Po dan Pt
D = Jumlah kematian diantara Po dan Pt
Mi = Jumlah penduduk masuk diantara Po dan Pt
Mo = Julah penduduk keluar diantara Po dan Pt

Contoh : Jumlah penduduk Kecamatan Cisarua tahu 2010 adalah 1


juta orang. Antara tahun 2010 dan 2011 terjadi :
- Lahir 35.000 bayi
- Mati 15.000 orang
- Penduduk yang datang 10.000 orang
- Penduduk yang pindah 12.000
Berapa jumlah penduduk Kecamatan Cisarua pada tahun
2011 ?

Jawaban :
Pt = Po + (B-D) + (Mi – Mo)
Pt = 1.000.000 + (35.000-15.000)+(10.000-12.000)
Pt = 1.000.000 + 20.000 + (-2.000)
Pt = 1.018.000.
- - 15
Penduduk Kecamatan Cisarua pada tahun 1988 sebanyak
1.018.000. berdasarkan data tersebut maka telah terjadi perub ahan
penduduk dari tahun 1987 ke tahun 1988 sebesar = 1.018.000 –
1.000.000 = 18.000 penduduk.

2. Pertumbuhan Penduduk
Pada dasarnya pertumbuhan penduduk dibedakan atas 2
bagian pokok yaitu pertumbuhan alamaiah dan pertumbuhan secara
total.
a. Angka pertumbuhan alamiah
Angka petumbuhan alamiah (natural increase) adalah angka
pertumbuhan penduduk yang diakibatkan oleh perubahan
kelahiran dan kematian.
Cara penghitungan adalah sebagai berikut :
BD
r xk Atau r = CBR - CDR
P

Dimana : r = pertumbuhan penduduk alamiah


B = jumlah kelahiran
D = jumlah kematian
CBR =Crude Birt Rate
CDR = Crude Death Rate
P = Penduduk pertengahan tahun
k = bilangan kontanta, biasanya 100 ( dalam % )
contoh :
Keadaan Penduduk di Kecamatan C tahun 20109 / 2010
Penduduk Penduduk
Lahir Mati Masuk Ke luar
31 Des 86 31 Des 87
47.000 49.000 2.160 960 480 240

Berapa : 1) Pertambahan penduduk


2) Pertumbuhan p enduduk total ?
3) Jumlah penduduk 31 Desember 2011 ?

Jawaban :
Jumlah Penduduk pertengahan tahun =
47.000  49.000
 48.000
2

pertumbuhan penduduk alamiah


(lahir  mati )
1). r =  100%
penduduk
2.160  960
=  100%
48.000
1.200
=  100%
48.000
= 2,50% atau :
2.160
2).CBR=  1000  45 per 1000
48.000

960
CDR=  1000  20 per 1000
48.000
R = CBR – CDR
45  20
=  100%  2,5%
1.000
- - 16
Pertumbuhan penduduk alamiah = 2,5 % pertahun.

b. Angka Pertumbuhn Penduduk Total


Angka pertumbuhan penduduk total (growt rate) merupakan hsil
dari perubahan penduduk alamiah yang kemudian juga
memperhitungkan perubahan karena fakta migrasi.
Rumus perhitungan pertumbuhan penduduk total adalah sebagai
berikut:
r
 ( B  D )  ( I  O ) x k
atau
P
r = [(CBR-CDR)+(Mi-Mo)] x k

dimana :
r = petumbuhan penduduk total (growth rate)
B = jumlah kelahiran
D = jumlah kematian
I = jumlah migran masuk
O = jumlah migran keluar
P = jumlah penduduk pertengahan tahun
CBR = Crude Cirth Rate
CDR = Crude Death Rate
Mi = Jumlah migran masuk antara Po dan Pt (inmigration)
Mo = Jumlah migran keluar antara Po dan Pt (inmigration)
k = bilangan konstanta, biasanya 100 ( dalam % )
dari contoh tabel keadaan penduduk di Kecamatan C tahun 1986
dan 1987, maka perhitungan pertumbuhan penduduk total
(population increse). Kecamatan C tersebut dia atas adalah :
1). r =
(2.160  960)  (480  240)
= x 100%
48.000
1.200  240
= x 100%  3% atau
48.000
2.160
2). CBR = x 1000  45
48.000
960
CDR = x 1000  20
48.000
480
Mi = x 1000  10
48.000
240
Mo = x 1000  5
48.000

r = [ (CBR – CDR) = (Mi-Mo) ] 1000 x 100%


r = [ (45-20)+(10-5)] / 1000 x 100%
r = 3%

c. Angka pertumbuhan penduduk jika komponen demografi tidak


diketahui.
Apabila komponen demografi seperti tingkat mortalitas,
fertilitas dan migrasi tidak diketahui, dan hanya jumlah penduduk
yang diketahui maka cara menghitung angka pertumbuhan
penduduk dipakai rumus sebagai berikut :
1. Pertumbuhan Exponensial.
Pt
 e rt
Po

dimana :
- - 17
Pt = penduduk tahun ke t
Po = penduduk tahun dasar
t = tahun antara Pt dan Po
r = angka pertumbuhan penduduk
e = Bilangan logaritma ( e = 2,71828282….)
contoh : : penduduk tahun 2009 =47.000
: penduduk tahun 2010 = 49.000
Pt
maka  e rt
Po
49.000
 (2,7182828....) r (1)
47.000
r = 2,5 %
jadi pertumbuhan penduduk antara tahun 2009 dan 2010
adalah 25%.

2. Pertumbuhan Geometri
Pt
 (1  r ) t
Po
dimana :
dimana :
Pt = penduduk tahun ke t
Po = penduduk tahun dasar
t = tahun antara Pt dan Po
r = angka pertumbuhan penduduk
cara menghitungnya : r = 2,5 %
P 2011 = P 2010 + (r x P 2010)
= 48.000 + (2,5% x 48.000 )
= 48.000 + 1.200
P 2011 = 49.200
Jadi penduduk pada 31 Desember 2011 diperkirakan berjumlah
49.200 orang.

3. Transisi Demografi
Beberapa pendapat menyatakan bahwa pembangunan ekonomi suatu
negara dapat mempengaruhi tingkat rertilits mupun mortalitas suatu negara,
sesuai dengan “teori transisi demografi”. Teori ini menerangkan tentang
perubahan penduduk dari tingkat pertumbuhan yang stabil tinggi ( tingkat
kelahiran dn kematian yang tinggi ) ketingkat pertumbuhabn rendah ( tingkat
kelahiran dan kematian yang rendah). Peralihan keadaan demografis terssebut
biasanya dibagi menjadi 4 tingkat, seperti tergambar dibawah ini.

40
30
20
50 Tingkat kelahiran
10
I Tingkat kematian

II III IV Kematian
Tahap I : - tingkat kelahiran tinggi
- tingkat kematian tinggi
- pertumbuhan tinggi
Tahap II : - Tingkat kelahiran tinggi
- Tingkat Kematian mulai turun
- Pertumbuhan penduduk tinggi
Tahap III : - Tingkat kelahiran mulai turun
- Tingkat kematian terus turun
- - 18
- Pertumbuhan penduduk mulai rendah.
Tahap IV : - Tingkat kehairan rendah dan stabil
- Tingkat kematian rendah dan stabil
- Pertubuhan penduduk sangat rendah

4. Zero Population Growth


Penduduk tanpa pertumbuhan atau zero population growth ( ZPG )
adalah suatu keadaan dimana penmduduk tidak bertembah dan
berkurang.
Keseimbangan ini bisa terjadi bila :
a. Jumlah kelahiran sama banyak dengan jumlah kematian dan migrasi
netto adalah nol
b. Jumlah kelahiran melebihi kematian tetapi kelebihan tersebut
diimbangi oleh migrasi keluar.
c. Jumlah kematian melebihi jumlah kelahiran tetapi kekurangan
tersebut diimbangi oleh migras masuk.

Daftar Pustaka

Ida Bagoes Mantra.Phd.,Prof.Demografi Umum.Pustaka Pelajar,Jogjakarta .2000


Suasti, Yurni. 2006. Hand Out Mata Kuliah Demografi. Padang: UNP.
Sembiring, BK. 1985. Demografi. Jakarta: FPS IKIP Jakarta.
Barclay, George W. Teknik Analisa Kependudukan. Jakarta: Bina Aksara.
Lembaga Demografi FE UI, 2000. Dasar-Dasar Demografi. FE UI, Jakarta.