Anda di halaman 1dari 20

Statement of Authorship

Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa RMK terlampir adalah murni
hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yangsaya gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/ belum pernah disajikan/ digunakan sebagai bahan untuk rmk pada mata
ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwasaya menggunakannya.

Saya memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Kuliah :AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Judul RMK : “Otonomi Daerah & Pemilihan Langsung Kepala


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxDaerah”

Tanggal : 20 Desember 2017

Dosen : Julita, SE, M.Si, Ak, CA

Nama : Suci Aulia Riska

Nim : 1502115865

Pekanbaru , 14 Desember 2017

Suci Aulia Riska


(1502115865)

1
BAB 11

OTONOMI DAERAH

11.1.1. Konsep Otonomi Daerah

Rondinelli dalam CHEMA dan Rondonelli (1983) mendefinisikan desentralisasi


sebagai perpindahan kewenangan atau pembagian kekuasaan dalam perencanaan
pemerintahan, manajemen, dan pengambilan keputusan dari tingkat nasional ke tingkat
daerah. Desentralisasi dimaknai sebagai kepemilikan kekuasaan untuk menentukan nasib
sendiri dan mengelolanya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Konsep desentralisasi dan kekuasaan yang dikemukakan oleh B.S. Smith (1985)
yakni sebagai pola hubungan kekuasaan diberbagai tingkat Pemerintahan. Dengan kata lain
salah satu makna yang melekat dalam otonomi daerah adalah pembagian kekuasaan diantara
berbagai level Pemerintahan.

Otonomi Daerah dan Konsep Desentralisasi

Konsep desentralisasi di Indonesia tidak pernah merujuk pada perspektif


desentralisasi politik, tetapi lebih pada perspektif desentralisasi administrasi. Kebijakan
desentralisasi di Indonesia ditujukan untuk mempercepat proses domokratisasi di tingkat
lokal. Namun kenyataannya, kewenangan kedaerah sangat di batasi dan pada saat yang sama
pengendalian pemerintah pusat atas pemerintah daerah juga dipertahankan sangat ketat.

Administrative decentralization, mendefinisikan desentralisasi sebagai penyerahan


wewenang (bukan kekuasaan) dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Tujuan
utama kebijakan desentralisasi di titikberatkan untuk menciptakan efisiensidan efektifitas
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Akibatnya, aplikasi kebijakan
desentralisasi di Indonesia selama ini telah terpisah dari agenda demokratisasi.

Reformulasi Desentralisasi

Permasalahan hubungan kekuasaan/daerah tidak dapat diselesaikan hanya dengan


pendekatan administrasi, tetapi juga dengan penyelesaian secara politik. Artikulasi
pelaksanaan otonomi daerah merupakan “Kewajiban” bukan “Hak”. Reformulasi konsep
desentralisasi itu sendiri dari administratif decentralization menuju political decentralization.

Pada tataran perundang-undangan, salah satu implikasinya adalah peninjauan


kembali pemberlakuan UU No. 22 dan 23 Tahun 1999. Dua produk perundang-undangan ini
diwarnai ide dasar perspektif desentralisasi administrasi. Lebih jauh, amandemen pasal 18
UUD 1945 juga perlu dilakukan.

Pada tingkat operasional, implikasi reformasi konsep desentralisasi alternatif kedua


tersebut tidak sampai pada peninjauan kembali UU No.22 dan 25 Tahun 1999, namun lebih

2
pada metode pelaksanaannya. Dimasa mendatang, peran utama dalam menentukan jumlah
maupun ruang lingkup wewenang harus sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Otonomi Daerah : Pembagian Kekuasaan Antara Pusat dan Daerah

Pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dilakukan


berdasarkan prinsip negara kesatuan dengan semangat federalisme. Otonomi daerah yang
diserahkan bersifat luas, nyata, dan bertanggung jawab. Luas, kewenangan residu justru
berada di pusat; nyata, kewenangan yang diselenggaraan itu menyangkut kebutuhan untuk
bertahan dan berkembang disuatu daerah; dan bertanggung jawab, kewenangan yang
diserahkan itu harus diselenggarakan dalam konteks tujuan otomoni daerah.

Kewenangan yang ditangani Pemerintah Provinsi mencakup kewenangan


desentralisasi dan dekonsentrasi. Sementara itu, kewenangan yang diserahkan kepada Daerah
Otonom Provinsi mencakup:

a. Kewenangan yang bersifat lintas kabupaten dan kota, seperti kewenangan dalam
bidang pekerjaan umum, perhubungan, kehutanan, dan perkebunan;
b. Kewenangan pemerintahan lainnya, yaitu perencanaan dan pengendalian
pembangunan regional secara makro, pelatihan bidang alokasi sumber daya manusia
potensial, penelitian yang mencakup wilayah provinsi, dan lain-lain;
c. Kewenangan kelautan, seperti eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan
kekayaan laut, dan lain-lain.
d. Kewenangan yang tidak atau belum dapat ditangani daerah kabupaten atau kota akan
diserahkan ke Pemerintahan Provinsi.

Kriteria yang digunakan dalam menentukan jenis kewenangan yang diserahkan


kepada daerah otonom provinsi lebih didasarkan kepada kriteria efisiensi daripada kriteria
polotik. Jenis kewenangan yang dipandang lebih efisien akan diselenggarakan pemerintahan
provinsi, dengan pengecualian daerah istimewa dan otonomi khusus.

11.1.2. Dasar Hukum Pelaksanaan Otonomi Daerah

Amandemen UUD 1945 menjadi acuan konstitusi dalam penetapan konsep dasar
tentang kebijakan otonomi kepada daerah-daerah. Hal itu terlihat jelas dalam aturan
mengenai Pemerintahan Daerah sebagaimana dalam Undang-undang berikut:

1. UU No.1 Tahun 1945 - menitikberatkan pada dekonsentrasi;


2. UU No.22 Tahun 1948 - mulai menitikberatkan pada desentralisasi, terdapat
dualisme peran kepala daerah;
3. UU No. 1 Tahun 1957 – masih bersifat dualisme;
4. Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 – lebih menekankan pada dekonsentrasi;

3
5. UU No.18 Tahun 1965 – menitikberatkan pada desentralisasi dengan memberikan
otonomi yang seluas-luasnya pada daerah, dekonsentrasi hanya sebagai pelengkap
saja;
6. UU No.5 Tahun 1974 – pembangunan menjadi isu sentral dibanding politik;
7. UU No.22 Tahun 1999 – pemerintah daerah sebagai titik sentral dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan;
8. UU No.32 Tahun 2004 (revisi UU No.22 Tahun 1999);
9. UU No.33 Tahun 2004 (revisi UU No.25 Tahun 1999).

11.1.3. Asas-Asas Otonomi Daerah

Yang mana terdiri dari :

1. Asas Desentralisasi, adalah penyerahan wewenang Pemerintahan oleh Pemerintah


kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;

2. Asas Dekonsentrasi, adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur


sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di Daerah;

3. Tugas pembantuan, adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa serta
dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu;

4. Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

11.1.4. Ruang Lingkup Otonomi Daerah

Pembagian Kewenangan

Secara umum dibagi menjadi tiga:

1. Kewenangan daerah, dapat digolongkan menjadi tiga:

a) Kewenangan maksimum: seluruh bidang pemerintahan kecuali keewnangan dalam


bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta
kewenangan bidang lain.

b) Kewenangan minim um: pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan,


pertanian, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan,
koperasi, dan tenaga kerja.

c) Kewenangan lainnya:

1) Mengelola Sumber daya Nasional dan kelestarian lingkungan diwilayah lainnya;

2) Kewenangan diwilayah laut: eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan lainnya;

4
3) Kepegawaian daerah: kewenangan untuk melakukan pengangkatan, pemindahan,
pemberhentian, dan lainnya.

2. Kewenangan Provinsi, meliputi:

a) Kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas batas kabupaten dan kota,
serta kewenangan dalam pemerintahan tertentu lainnya;

b) Kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh daerah kabupaten atau
daerah kota;

c) Kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku


wakil pemerintah;

d) Kewenangan provinsi sebagai daerah otonom, secara lebih rinci diatur dalam PP No.25
Tahun 2000 yang dikenal dengan 20 kewenangan.

3. Kewenangan Pemerintah (Pusat)

a) Kewenangan umum : Politik dalam Negeri, Pertahanan keamanan, peradilan, moneter


dan fiskal;

b) Kewenangan lainnya: menyangkut kebijakan perencanaan nasional dan pengendalian


pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, dan lainnya.

Legislatif

Beberapa hal penting menyangkut Perda dalam UU No.22 Tahun 1999 sebelum
direvisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004, antara lain:

1. Kepala Daerah menetapkan Perda atas persetujuan DPRD dalam rangka


penyelenggaraan otonomi daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-
undangan yang labih tinggi;

2. Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan


daerah lain, dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;

3. Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tertentu tentang pembebanan biaya paksaan
penegakan hukum;

4. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 bulan atau
denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,00 dengan atau tidak merampas barang tertentu
untuk daerah kecuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.

Keuangan Daerah

5
Masalah yang sangat penting dalam kerangka otonomisasi daerah adalah
menyangkut pembagian atau perimbangan pusat atau daerah. Otonomi yang diberikan kepada
daerah meliputi empat aspek utama, yaitu: otonomi politik, otonomi hukum, otonomi
ekonomi, dan otonomi budaya. Pemerintah bertindak sebagai integrator dan stabilizer.

11.1.5. Implikasi Otonomi Daerah Terhadap Politik, Hukum, Dan Ekonomi

Jika proses ekonomi berjalan dengan baik, maka diharapkan akan berimplikasi
secara positif baik dibidang politik, hukum, dan ekonomi, sosial budaya. Antisipasi
pelaksanaan otonomi daeerah memerlukan berbagai kesiapan, seperti:

 Perencanaan pembangunan daerah yang terarah, termasuk perencanaan dan


penyusunan APBD.
 Perlu kesiapan SDM aparatur Pemda. Ini merupakan hal yang sangat mendesak
karena menjadi unsur penting atas keberhasilan otonomi daerah
 Selain kesiapan SDM aparatur birokrasi daerah, peningkatan kualitas SDM didaerah
juga akan menunjang percepatan pembangunan ekonomi daerah.
 Peran DPRD dalam pelaksanaan otonomi daerah sangat penting. DPRD berwewenang
mengawasi berbagai proyek pembangunan dan keuangan daerah melalui APBN yang
telah disetujui oleh DPRD.

Beberapa indikator ekonomi atas keberhasilan suatu daerah dalam melaksanakan


otonomi daerah adalah:

 Terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) riel.


 Terjadinya kecenderungan peningkatan investasi asing (PMA) maupun domestik
(PMDN).
 Kecenderungan semakin berkembang prospek bisnis/usaha di daerah.
 Adanya kecenderungan meningkatnya kreatifitas Pemda dan masyarakat.

Beberapa indikator politik dan pelayanan publik yang dapat dipakai untuk
menentukan daerah otonom agar dapat melaksanakan desentralisasi adalah:

1. Daerah dapat melaksanakan fungsi-fungsinya dengan semakin efesien dan efektif.

2. Aspirasi masyarakat selalu dapat diserao, diolah, dan ditindaklanjuti.

3. Penerapan dan penegakkan hukum dapat diwujudkan.

4. Pelayanan masyarakat sesuai standar.

5. Ketentraman, ketertiban umum, perasaan aman, damai.

6. Kebutuhan dasar masyarakat seperti pangan, papan, sandang, pendidikan, kesehatan,


keahlian dapat dijamin terpenuhinya.

Kendala-kendala

Beberapa kendala utama antara lain:

6
1. Belum memadai dan belum mantapnya kelembagaan didaerah.

2. Masih terbatasnya ketersediaan dana pembangunan.

3. Masih terbatasnya ketesediaan sarana dan prasarana dasar di beberapa daerah.

4. Tidak meratanya ketersediaan sumber daya alam dibeberapa daerah.

5. Kendala investasi (modal).

11.2. PERKEMBANGAN OTONOMI DAERAH DI INDONESIA

11.2.1. Overview Pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia

Rezim Orde Baru menggunakan paradigma kekuasaan yang “satu terpusat dan
seragam’ dalam tiga wujud berikut. Pertama, sentralisasi kekuasaan pada pusat, Eksekutif,
dan Presiden merupakan prakondisi bagi stabilitas politik, sedangkan stabilitas merupakan
condition qua non bagi kesuksesan pembangunan nasional. Kedua, pembantukan budaya
nasional oleh Negara sebagai pengganti budaya lokal (penyeragaman budaya) merupakan
prakondisi bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Dan ketiga, sentralisasi redistribusi kekayaan
nasional akan menjamin pemerataan dan keadilan sosial.otonomi daerah yang seluas-luasnya
dalam bidang politik, ekonomi dan budaya dipandang sebagai sumber disintegrasi nasional.

11.2.2. Masalah Kelembagaan Daerah Akibat Pelaksanaan UU No.22/1999

Beberapa point permasalahan kelembagaan yang terkait dengan ketentuan-ketentuan


dalam UU No 22/1999 dan aktulisasinya dilapangan akan kita bahas. Pertama. Implikasi
penggabungan Kantor Wilayah (Kanwil) dan Dinas Propinsi, serta kantor departemen
(Kandep) kedalam kondisi ciri khas peningkatan jumlah pegawai daerah dan “pengangguran”
dalam jajaran pejabat tinggi. Jadi, pemekaran struktur organisasi Pemda yang gemuk
merupakan solusi.

Kedua hubungan kelembagaan antara eksekutif dan legislatif bersifat kemitraan


sejajar, seperti “jauh bara dan api”, alias penuh ketimpangan. Dekonstruksi terhadap UU No
5/1974, dimana eksekutif memiliki kekuasaan yang powerfull, menciptakan pendulum
kekuasaan daerah beralih secara total ke piha legislatif. Akibatnya, eksekutif menjadi sangat
lemah.

Ketiga, menurut pasal 4 (2) UU No. 22/1999, daerah otonom nonhierarkis antara
propinsi dengan kabupaten/kota, berimplikasi menyusutnya pengaruh propinsi terhadap
kabupaten/kota.

Masalah Dinas Daerah

Beberapa elit politik lokal, sebagai “raja-raja kecil”, menikmati pesta-pora


kemeriahan otonom daerah. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2003,

7
yaitu PP tentang pedoman Organisasi Perangkat daerah, ketentuan pembatasan jumlah
perangkat daerah harus dilaksanakan.

Masalah Hubungan Kelembagaan Eksekutif -legislatif

Ditelisik pada UU No. 22/1999 sebelum direvisi menjadi UU No.32/2004, pola


hubungan antara eksekutif (pemerintah Daerah) dan legislatif (DPRD) adalah kemitraan dan
bersifat sejajar. Semangat dasar yang termuat dalam teks-teks peraturan merupakan idealitas
(kesemestian) dan bukan mencerminkan gambaran kondisi yang sebenarnya..

Hubungan Propinsi Dengan Kabupaten/Kota

Persoalan hubungan antara propinsi dengan kabupaten/kota merupakan salah satu


permasalahan krusial sepanjang pelaksaan otonomi daerah.dalam UU No.22 tahun 1999
sebelum direvisi kemudian menjadi UU No. 32 tahun 2004 terdapat tiga pola daerah otonom,
yaitu propinsi, Kabupaten dan kota.

Setidaknya, terdapat tiga pertimbangan utama meletakkan gubernur sebagai wakil


pusat, yakni: pertama, dalam rangka memelihara hubungan hubungan yang serasi
antardaerah, serta antara pusat dan daerah dalam kerangka NKRI; kedua, untuk
menyelenggaraan otonomi daerah yang bersifat lintas batas daerah kabupaten dan daerah
kota, serta melaksanakan kewenangan otonomi daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh
daerah kabupaten dan daerah kota; ketiga, untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan
tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi.

11.2.3. Revisi UU No 22 Dan UU No 25/1999 Menjadi UU No 32 Dan UU No 33/2004

Otonomisasi tidak saja berarti melaksanakan demokrasi, tetapi juga mendorong


berkembangnya prakarsa sendiri untuk mengambil keputusan mengenai kepentingan
masyarakat setempat. Dengan berkembangnya prakarsa sendiri, demokrasi, yaitu
pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat, tidak saja menentukan nasibnya sendiri, melainkan
juga memperbaiki nasibnya sendiri (Moh. Hatta: 1957)

11.3. Dalam UU No 22/1999, penyelenggaraan fungsi pemerintahan tidak dilakukan


secara desentralisasi penuh, tetapi atas asas dekonsentrasi maupun tugas pembantuan.
Sebagai daerah otonom, propinsi memiliki kewenangan dalam menyelenggarakan fungsi
pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/kota.

Pokok-pokok pikiran strategis yang mendasari lahirnya UU No 22 tahun 1999 yang


kemudian direvisi menjadi UU No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, belum
mencerminkan pengaturan yang tegas mengenai kewenangan diantara tingkatan
pemerintahan, yang terkait dengan desentralisasi, dekonsentrasi maupun tugas pembantuan.

Dalam UU no 32 Tahun 2004, Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan


pemerintahan oleh Pemerintah Dearah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara

8
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. (Pasal 1 ayat 2)

Pembinaan dalam konteks otonomi daerah adalah upaya yang dilakukan oleh
pemerintah pusat untuk memfasilitasi proses penyelenggaraan otonomi. Yaitu pemberdayaan
daerah otonom melalui pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi.
Beberapa isu penting dalam pelaksanaan otonomi daerah.

EVALUASI OTONOMI DAERAH

11.3.2. Dinamika Hubungan Antara Kepala Daerah Dengan DPRD

11.3.3. Aspek Pengawasan Dan Pembinaan

Permasalahan yang perlu dijawab dalam bidang pengawasan dan pembinaan adalah:

1) Bagaimana mekanisme pengawasan dan pembinaan dan pemerintah pusat terhadap


pemerintah daerah?

2) Bagaimana peran Departemen dalam Negeri (DDN) atau departemen lainnya


melakukan pemantauan terhadap kinerja pemerintah daerah dalam menjalankan
kewenangannya menyediakan pelayanan publik yang efektif dan efisien?

11.3.4. Birokrasi Era Otonomi Daerah

Birokrasi adalah sustu badan administratif tentang pejabat yang di angkat dengan
ciri-ciri sebagai berikut:

o Para anggota staf secara pribadi bebas, hanya menjalankan tugas-tugas impersonal di
jabatan mereka.
o Ada hirarki jabatan yang jelas.
o Fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas.
o Para pejabat diangkat berdasarkan kontrak.
o Dipilih berdasarkan kualifikasi profesional, idealnya berdasarkan suatu diploma
(ijazah) yang diperoleh melalui ujian.
o Memiliki gaji dan hak-hak pensiun. Gaji menurut kedudukan dalam hirarki.
o Pos jabatan adalah lapangan kerjanya sendiri atau lapangan kerja pokoknya.
o Terdapat suatu struktur karier, dan promosi dimungkinkan berdasarkan senioritas
maupun keahlian (merit)serta menurut pertimbangan unggulan.
o SDM yang sesuai dengan posnya maupun sumber-sumber yang tersedia di pos
tersebut.
o Tunduk pada sistem disipliner dan kontrol yang seragam.

11.3.5.Desentralisasi Fiskal Dan Pelayanan Publik

Tujuan program otonomi daerah adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi dan


pembangunan daerah, mengurangi kesenjangan antardaerah, dan meningkatkan kualitas
pelayanan publik agar lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan, potensi maupun

9
karakteristik di daerah masing-masing yang dapat ditempuh melalui peningkatan hak dan
tanggung jawab pemerintah daerah untuk mengelola rumah tangganya sendiri.

11.4. TANTANGAN DAN PELUANG OTONOMI DAERAH KE DEPAN

Dalam menanggapi persoalan disintegrasi bangsa, perubahan mendasar pada


lingkungan internal dan eksternal perlu dipahami. Pola pikir yang kaku dan cenderung
mensakralkan simbol tertentu mencerminkan resistensi terhadap tuntutan terhadap perubahan.

Pada tingkat rendah, otonomi mengacu pada individu sebagai perwujudan dari free
will yang melekat pada diri-diri manusia sebagai salah satu anugerah paling berharga dari
Sang Pencipta . Individu yang otonom inilah yang membentuk komunitas yang otonom dan
akhirnya bangsa yang mandiri dan tunggal.

11.4.1. Menghadapi Persaingan Global

Beberapa prasyarat dibutuhkan untuk menyiapkan daerah-daerah menjadi pelaku aktif


di kancah pasar global:

A. Terjaminnya pergerakan bebas dari seluruh faktor produksi, barang dan jasa di dalam
wilayah indonesia
B. Proses politik yang juga menjamin keotonomian masyarakat lokal dalam menentukan
dan memperjuangkan aspirasi melalui partisipasi
C. Tegaknya good governance, baik di pusat maupun di daerah, sehingga otonomi
daerah tidak menciptakan bentuk-bentuk KKN baru.
D. Keterbukaan daerah untuk bekerja sama dengan daerah-daerah lain tetangganya
E. Fleksibilitas sistem insentif.
F. Peran pemerintah daerah lebih sebagai regulator yang bertujuan untuk melindungi
kelompok minoritas dan lemah serta menjamin harmoni dengan alam sekitar

11.4.2. Otonomi Adalah Hakikat Federalisme

Otonomi yang hakiki hanya memiliki pijakan yang kuat dalam kerangka negara
federal. Keotonomian daerah memungkinkan daerah mengeksploitasikan keunikannya
semaksimal mungkin, sehingga keunggulan komparatif dan bahkan bisa menjadi keunggulan
absolut muncul di dalam kancah persaingan global.

Tugas pemerintah dalam hal ini adalah pengembangan daerah yang belum mampu
memenuhi prasyarat minimum untuk bisa berdiri sendiri. Dengan begitu, globalisasi akan
memberi dampak dampak yang lebih merata dengan expansion of wealth, bukan konsentrasi
kejayaan.

11.4.3. Federalisme Atau Disintegrasi

Penolakan atas federalisme disebabkan oleh dua faktor: pertama, federlisme


bertentangan dengan UUD 1945 dan semangat para pendiri negara, sehingga mengingkari
jiwa proklamasi. Kedua, ketidaktahuan atau paling tidak kerancuan atas konsep federalisme
dan beberapa istilah seperti ekonomi penuh atau otonomi yang seluas-luasnya.

10
11
BAB 12

PEMILIHAN LANGSUNG KEPALA DAERAH

A. TEORI PEMILIHAN UMUM

Pemilihan Umum (Pemilu) adalah suatu proses di mana para pemilih memilih orang-
orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Para memilih dalam pemilu juga disebut
konstituen. Di masa kampanye para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-
programnya kepada para konstituen tersebut.

Pendahuluan Teori dan Nilai-Nilai Demokrasi

Demokrasi merupakan sebuah sistem nilai dan sistem politik yang telah teruji dan
diakui sebagai yang paling realitis dan rasional untuk mewujudkan tatanan sosial, ekonomi,
dan politik yang adil, egaliter dan manusiawi . Pemahaman mengenai demokrasi diterapkan
dan kehidupan demokrasi diwujudkan tergantung pada bagaimana interpretasi terhadap
kehidupan demokrasi .

Sebagai perbandingan, demokrasi menurut Larry Diamond mengacu pada sebuah


system pemerintahan yang memenuhi 3 syarat esensial yaitu :

1. Adanya kompetisi yang berarti dan eksesif diantar individu-individu dan kelompok-
kelompok yang terorganisasi untuk memperebutkan posisi-posisi efektif dalam pemerintahan
yang di lakukan secara teratur dan tanpa paksaan atau tekanan.

2. Adanya tingkat inklusivitas partisipasi politik yang tinggi dalam rekrumen pemimpin dan
penentuan berbagai kebijakan, sehingga, melalui pemilihan umum yang teratur dan jujur, dan
tidak ada seorang pun atau kelompok tidak ikut serta.

3. Adanya tingkat kebebasan sipil dan politik seperti kebebasab berekspresi, kebebasan Pers,
dan kebebasan berorganisasi yang memadai untuk memastikan adanya partisipasi publik.

b. Beberapa Konsep Mengenai Demokrasi

Istilah demokrasi yang menurut arti kata yang berarti rakyat berkuasa atau
“government or rule by the people” (kata Yunani demos berarti rakyat, kraktor atau kratein
berarti kekuasaan atau berkuasa). Ada dua kelompok aliran pemikiran yang penting, yaitu
demokrasi konstitusional dan demokrasi yang pada hakikat nya berdasarkan dirinya atas
komunisme. Kedua aliran demokrasi.itu awalnya berasal dari Eropa. Tetapi setelah perang
dunia kedua didukung oleh beberapa Negara seperti Asia yaitu India, Pakistan, Filipina, dan
Indonesia.

Demokrasi yang dianut indoinesia, demokrasi berdasarkan Pancasila, masih dalam


tahap perkembangan. Beberapa nilai pokok dari demokrasi konstitusional cukup jelas tersirat
dalam UUD 1945, di sebutkan secara eksplisit dua prinsip yang menjiwai naskah itu dan
dicantukan dalam penjelasan mengenai sistem Negara yaitu :

12
o Indonesia adalah Negara yang berdasarkan hokum,bukan berdasarkan kekuasaan
belaka
o Sistem konstitusional pemerintah yang berdasarkan sisitem konstitusi, tidak bersifat
absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas )

c. Sejarah Perkembangan Demokrasi

Pada awalnya pertumbuhan demokrasi telah mencakum beberapa azas dan nilai yang
diwariskan dari masa yang lampau asas dan nilai tersebut, yaitu gagasan mengenai demokrasi
dari kebudayaan yunani kuno dan gagasan mengenai kebebasan agama, dihasilkan oleh aliran
demokrasi dan serta perang-perang agama yang menyusulkannya.

Sistem demokrasi yang terdapat di negara-negara (city-state) Yunani Kuno (abad ke-
6 sampai abad ke-3 sebelum Masehi) merupakan demokrasi langsung yaitu bentuk
pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara
langsung oleh seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas. Sifat
langsung dari demokrasi Yunani dapat diselenggarakan secara efektif dalam kondisi yang
sederhana, wilayahnya terbatas (negara terdiri dari kota dan daerah sekitarnya) serta jumlah
penduduk sedikit (300.000 penduduk dalam suatu negara-kota).

12.2 Perkembangan Demokrasi Di Asia: Pakistan Dan Indonesia

Sesudah berakhirnya Perang Dunia II muncul beberapa negara di Asia dan Afrika.
Negara-negara baru itu banyak berbeda satu sama lain baik mengenai kebudayaannya,
keadaan geografisnya, maupun perkembangan sejarahnya. Pada hakikatnya semua negara itu
menghadapi satu persoalan yang sama, yaitu bagaimana mengubah suatu masyarakat agraris
yang banyak ciri-ciri tradisional, susunan masyarakat berlapis serta tingkat ekonominya
rendah, menjadi suatu negara yang modern yang tingkat ekonominya lebih tinggi sesuai
dengan rising expectations dari rakyatnya.

Jadi diperlukan suatu sistem politik yang stabil serta dinamis, aparatur administrasi
yang efisien, serta aparatur yang efektif. Pendek kata, persoalan yang dihadapi oleh negara-
negara baru berkisar pada masalah nation building dan pembangunan ekonomi secara
serentak.

12.3 Pemilihan Umum di Indonesia

Indonesia telah memasuki babak baru dalam perjalanan kenegaraannya, di mana hal
ini dapat dilihat dari acara demokrasi terbesar yaitu Pemilihan Umum 2004. Dalam pemilu
Umum 2004 ini, Indonesia memakai sistem campuran, yaitu

1. Sistem proporsional terbuka untuk calon anggota

2. Sistem distrik untuk daerah pemilihan (walaupun bukan sistem distrik murni) Pada saat ini
Indonesia sedang memasuki masa pra transisi demokrasi, yaitu menuju ke suatu negara

13
demokrasi modern dan setelah negara modern, merumuskan kembali kedaulatannya menjadi
suatu yang sangat penting.

Dalam menerapkan kedaulatan ke dalam negara, kedaulatan tersebut akan


dipraktikkan dalam kekuasaan lembag-lembaga negara yang mendapat mandat. Menurut
Montesqieu, kekuasaan di dalam negara dibagi menjadi 3 kekuasaan, yaitu :

 Kekuasaan Legislatif
 Kekuasaan Eksekutif
 Kekuasaan Yudikatif

Pemilihan umum adalah cara untuk menentukan siapa yang akan menjalankan
kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif, sehingga pemilu sebagai cara untuk
menentukan bagaimana pelaksanaan kedaulatan rakyat dilaksanakan. Sangat diharapkan
dengan perpindahan kekuasaan, situasi dan kondisi negara akan bertambah baik sehingga
sistem demokratis dapat berjalan.

12.3.1 Dasar Hukum Pemilihan Umum di Indonesia

Pemilu diselenggarakan dengan tujuan untuk memilih wakil rakyat dan wakil
daerah, serta untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat, dan memperoleh
dukungan rakyat dalam mewujudkan tujuan nasional sebagaimana diamanatkan Undang-
Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.

Demikian tersurat jelas dalam penjelasan Undang-Undang No.12 tahun 2003 tentang
Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. UU Pemilu harus membentuk badan pengawas pemilu
yang disebut Panitia Pengawas Pemilihan Umum. UU pemilu menetapkan tugas dan
wewenang pengawas pemilu, yakni :

a. Mengawasi semua tahapan penyelenggaraan pemilu


b. Menerima laporan penyelanggaraan peraturan perundang-undangan pemilu
c. Menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan pemilu
d. Meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada institusi yang
berwenang.

Proses Pemilihan Umum di Indonesia-2004

Pemilu di tahun 2004 adalah pemilu yang menerapkan sistem proporsional terbuka
dan sistem distrik, dan juga sistem baru dalam Pemilihan Umum yang pernah dilalui oleh
sejarah Pemilihan Umum di Indonesia, yaitu Sistem Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
secara langsung merupakan sistem pemilihan Umum terbaru yang ada di Indonesia, ini
merupakan amanat dari perubahan ke-empat Undang-undang Dasar 1945, terutama pasal 6A.
Undang-undang yang menjelaskan tentang tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
secara langsung adalah UU No.23 tahun 2003

Tahapan Pemilu

14
Dalam pemilu 2004, terutama dalam kaitannya dengan pemilihan calon legislatif terbagi atas
9 tahapan, yaitu :

a. Pendaftaran Pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan


b. Pendaftaran, penelitian, dan penetapan peserta pemilu yang terdiri dari Partai Politik
untuk pemilihan anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan
perseorangan untuk pemilihan anggota DPD.
c. Penetapan daerah pemilihan dan jumlah kursi untuk setiap daerah pemilihan anggota
DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
d. Pencalonan anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
e. Kampanye Pemilu
f. Pemungutan dan penghitungan suara, yang terdiri atas pemungutan suara dan
penghitungan suara di TPS dan TPSLN serta rakapitulasi hasil perhitungan suara di
PPS, PPK, PPLN, KPU Kabupaten/Kota, KPU Provinsi, dan KPU
g. Penetapan hasil-hasil Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota.
h. Penetapan perolehan kursi dan calon terpilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan
DPRD Kabupaten/Kota.
i. Pengucapan janji/sumpah keanggotaan : DPR, DPD, DPRD, Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota.

Lembaga Pengawas Pemilu

Dalam UU No.12 tahun 2003, pasal 120 dinyatakan bahwa untuk melakukan
pengawasan Pemilu, dibentuk Panitia Pengawasan Pemilu, Panitia Pengawas Pemilu
Provinsi, Paniian Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, dan Panitia Pengawas Pemilu
Kecamatan.

Pengawas Pemilu mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut :

1. Mengawasi semua tahapan penyelengaraan Pemilu.

2. Menerima laporan penganggaran Pemilu

3. Menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan Pemilu

4. Meneruskan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan pada instansi yang
berwenang.

Mekanisme Pengawasan

Dalam mealakukan kegiatannya mengawasi pemilu, Panwas Pemilu membagi


kegiatan utamanya dalam 3 bidang, yaitu :

1. Pengawasan

2. Penerimaan dan tindak lanjut laporan

15
3. Penyelesaian sengketa

Ketiga bidang tersebut mempunyai fungsinya masing-masing tetapi saling terkait


dalam menangani pelanggaran yang terjadi dalam Pemilu 2004.

Pengawasan

Pengawasan Pemilu dilakukan terhadap semua tahapan Pemilu. Pengawasan Pemilu


akan dilakukan secara aktif dengan cara :

1. Memilih satu atau beberapa tahapan

2. Melakukan pengawasan acak

3. Meminta informasi Dalam Pengawsan Pemilu

Dalam pengawasan, pelanggaran Pemilu dapat berupa :

1. Tindak pidana Pemilu

2. Palanggaran Administratif

Dalam melakukan wewenangnya, Panwas Pemilu untuk mengawasi Pemilu. Batasan


kewenangan dari Panwas Pemilu adalah :

A. Memberikan sanksi
B. Menghentikan atau menunda kampanye
C. Menjadwal ulang atau memerintahkan Pemilu ulang
D. Mengharuskan saksi-saksi, wartawan dan partai yang dilaporkan untuk menghadiri
pertemuan dalam rangka member penjelasan.
E. Melakukan penyelidikan yang mendalam, yang merupakan fungsi dari kepolisian.

Penerimaan dan Tindak Lanjut Laporan

Bagian Penerimaan dan Tindak Lanjut Laporan merupakan bagian dari Panwas
Pemilu yang menerima laporan, membuat kajian laporan, dan menilai apakah perlu
ditindaklanjuti atau tidak. Para pihak yang melapor sesuai dengan hak dan kewajiban masing-
masing bedasarkan undang-undang adalah :

1. Satu atau beberapa warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih

2. Pemantau Pemilu

3. Peserta Pemilu.

Dan laporan tersebut bisa disampaikan secara lisan/tertulis yang berisi:

1. Nama dan alamat pelapor

2. Waktu dan tempat kejadian perkara

16
3. Nama dan alamat pelanggar

4. Nama dan alamat saksi-saksi

5. Uraian kejadian.

Laporan disampaikan kepada Pengawas Pemilu sesuai dengan tingkatannya masing-


masing. Dan, cara pelaporannya dapat melalui media/sarana berikut ini :

1. Surat

2. E-mail

3. SMS

4. MMS

5. Faksimili

6. Telepon

7. Handy Talkie ; atau kunjungan pribadi (secara lisan) ).

Dalam mengevaluasi laporan/keberatan, anggota Panwas Pemilu harus melakukan


pencarian fakta awal secara aktif untuk menyaring laporan tersebut dengan cara:

1. Mengevaluasi laporan untuk kecukupan, kajelasan dan ketepatan informasi dan;

2. Meminta pelapor dan saksi-saksi untuk datang dan memberikan penjelasan, bila
diperlukan.

3. Memberikan kesempatan kepada terlapor atau partai yang dilaporkan untuk memberikan
jawaban.

Mekanisme akhir dari laporan tergantung dari hasil tindak lanjut laporan. Jika
laporan perlu ditindaklanjuti, maka akan ada 2 jenis, yaitu yang mengandung unsure pidana
dan yang merupakan pelanggaran administratif. Jadi ada dua jenis laporan yang harus
ditindaklanjuti, yaitu :

1. Laporan yang mengandung unsur pidana akan diteruskan kepada penyidik yaitu Kepolisian
Republik Indonesia.

2. Laporan yang merupakan pelanggaran administrative diteruskan kepada KPU sesuai


dengan tingkatannya.

Bidang penyelesaian sengketa adalah bidang yang menyelesaikan sengketa antara 2


pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya :

1. Perbedaan penafsiran antara para pihak

2. Suatu ketidaksepakatan tertentu

17
Pihak-pihak yang dapat terlibat dalam sengkea Pemilu adalah :

1. Penyelenggara Pemilu

2. Partai Pemilu peserta Pemilu

3. Peserta Pemilu perseorangan untuk pemilihan anggota DPD

4. Anggota dan/atau pengurus partai politik peserta Pemilu

5. Warga negara yang mempunyai hak pilih

6. Pemantauan Pemilu.

Sengketa pemilu dapat diselesaikan dengan jalan alternatif,diluar pengadilan seperti:

1. Memfasilitasi komunikasi, pengertian, keinginan, dan kemampuan dari pihak-pihak yang


bersengketa untuk menyelesaikan sengketa oleh mereka sendiri.

2. Mengajukan alternatif atau rekomendasi

3. Keputusan

Berdasarkan Proses Penyelesaian Sengketa Pemilu, maka sengketa Pemilu dapat


dibagi kedalam 3 tahap, yaitu :

1. Tahap pertama : penyelesaian sengketa melalui jalur musyawarah dan mufakat

2. Tahap kedua : Penyelesaian sengketa melalui alternatif dan Pengawas Pemilu

3. Tahap ketiga : Pengawas pemilu mengeluarkan Keputusan Final dan Mengikat

Dalam proses pengawasan Pemilu, kendala yang dihadapi sangatlah beragam.,


sebagai berikut:

1. Permasalahan dana

2. Permasalahan SDM

3. Karakteristik dan kondisi geografis masyarakat Inonesia

4. Tingkat pendidikan pemilih dan kesadaran masyarakat

12.3.4 Dasar hukum pelaksanaan Pemilihan Langsung Kepala Daerah di Indonesia

Dasar hukumnya yakni UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 76,
78, dan 79.

Point dan tahapan pilkada adalah:

18
1. Dilaksanakan oleh KPUD yang bertanggungjawab pada DPRD

2. Dilaksanakan secara langsung

3. Pemda dilibatkan dalam membantu pendistribusian alat kelengkapan

4. Terbuka kemungkinan bagi calon independen/nonparpol untuk maju melalui


parpol/gabungan parpol

5. Proses penyaringan bakal calon di masing-masing parpol/gabungan parpol dilaksanakan


secara terbuka.

6. Kampanye dilaksanakan dengan ketentuan seperti pilpres langsung. Penyelenggara


kampanye pilkada diwajibkan menggelar debat public mengenai visi-misi antar kandidat

7. Sumbangan pihak ketiga dibatasi maksimal Rp50juta (pribadi) dan maksimal Rp350juta
(badan hukum)

8. Pemegang ditentukan berdasar jumlah suara separo plus satu.

9. Sengketa pemilu diputus oleh MA, tidak seperti pilpres yang diputus oleh MK.

19
Daftar Pustaka

Bastian,Indra .2010.Akuntansi Sektor Publik Suatu Pengantar.Ed 3.Jakarta:Erlangga.

20