Anda di halaman 1dari 27

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

POLIP NASI (J33.9)

Polip nasi merupakan suatu penyakit peradangan kronis


pada selaput lendir hidung dan sinus paranasal dan
1. Pengertian ( Definisi)
ditandai dengan peradangan mukosa dan massa
edematous yang bertangkai

a. Gejala utama :
 Hidung tersumbat
 Menurun/hilangnya daya peniciuman
 Suara sengau
b. Gejala tambahan:
 Rinore
 Post nasal drip
2. Anamnesis  Mengorok
 Sakit kepala
c. Gejala, factor risiko, jikaada:
 Curiga rinitis alergi (ICD 10: J30.3) disertai
dengan gejala ingus encer, bersin, hidung gatal
jika terpajan alergen.
d. Dapat disertai keluhan gangguan kualitas tidur (ICD
10:G.47.33), sesuai dengan skala mengantuk
Epworth (skorlebihdari 4)

a. Pemeriksaan rinoskopi anterior dapat ditemukan:


 Massa translusen pucat keabuan, licin, lunak,
mudah digerakkan, tidak nyeri tekan dan tidak
mudah berdarah, dapat bersifat soliter ataupun
3. Pemeriksaan Fisik multipel
 Dapat ditemukan sekret purulen jika telah
terjadi sinusitis
b. Pemeriksaan rinoskopi posterior dapat ditemukan:
 Massa memenuhi koana dan nasofaring jika
polip antrokoanal
 Massa yang meluas dan menggantung di
belakang palatum mole dan bisa terlihat pada
orofaring
c. Pemeriksaan endoskopi dapat ditemukan:
 Polip masih terbatas di meatus medius pada
grade 1
 Polip sudah keluar dari meatus media, bisa
mencapai konka inferior atau dinding medial
konka media tapi belum memenuhi rongga
hidung pada grade 1
 Polip yang masif/total, memenuhi kavum nasi
pada grade 3

a. Foto polos sinus paranasal dapat memperlihatkan


penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan
(air-fluid level) di dalam sinus. Pada polip
antrokoanal tampak gambaran radiolusens antara
atap nasofaring dan palatum mole. Pada foto sinus
paranasal tampak gambaran radioopak pada sinus
yang terkena.
b. CT scan sinus paranasal potongan koronalaksial soft
tissue settingpotongan 3 mm tanpa kontras
dilakukan jika:
 Kasus polip yang gagal diobati dengan terapi
4. Pemeriksaan medikamentosa
Penunjang  Ada komplikasi dari sinusitis
 Pada perencanaan tindakan bedah terutama
bedah endoskopi (Rujuk)
c. Pemeriksaan histopatologi dengan biopsi pada polip
hidung sebaiknya dilakukan terutama pada penderita
dengan umur diatas 40 tahun untuk menyingkirkan
keganasan.
d. Jika diperlukan pemeriksaan alergi: dapat dilakukan
tes cukit kulit dan pemeriksaane osinofil darah tepi
untuk menentukan tipe inflamasi dan diagnosis
faktor risiko rhinitis alergi
e. Jika diperlukan dilakukan pemeriksaan kultur
bakteri dan tes resistensi dari secret hidung
f. Bila terdapat kecurigaan komplikasi,konsultasi
kebidang terkait (mata/neurologi)
g. Bila terdapat tanda infeksi bakteri, dilakukan
pemeriksaan LED dan CRP
h. Untuk persiapan operasi:disesuaikan dengan PPK
Tindakan operasi yang dilakukan

a. Sesuai dengan kriteria Anamnesis


5. Kriteria Diagnosis b. Sesuai dengan kriteria Pemeriksaan fisik

6. Diagnosis Kerja Polip Nasi

a. Rinitisalergi (ICD 10: J30.4)


7. Diagnosis Banding
b. Rinitis vasomotor (ICD 10 : J30.0)

a. Non Pembedahan – Medikamentosa Maksimal:


 Cuci hidung dengan larutan garam fisiologis
(NaCl 0.9%)
 Kortikosteroid topikal dan sistemik
 Antibiotika pada kasus yang mengalami infeksi
oleh bakteri, pilihan golongan makrolid
8. Tata Laksana
 Antihistamin pada kasus yang disertai rinitis
alergi
 Antagonis leukotrien pada kasus polip nasi
yang tidak respon terhadap kortikosteroid
intranasal jangka panjang
 Desensitisasi aspirin pada pasien sensitive
terhadap aspirin
 Furosemid

b. Pembedahan Bedah Sinus Endoskopi / Polipektomi

c. Terapi selama 3 hari pascaoperasi :


 Antibiotika intra vena.
 Parasetamol atau NSAID intra vena
 Jika diperlukan metylprednisolon dosis tinggi
(3x125mg)
 Jika diperlukan pseudoefedrin HCL oral
 Jika diperlukan loratadin oral
 Jika diperlukan asam tranexamat intravena

 Penjelasan tentang rencana pengobatan dan operasi


9. Edukasi  Pencegahan inflamasi berulang dengan melakukan
penatalaksanaan factor risiko dan factor lingkungan.

Ad vitam :dubia ad bonam


10. Prognosis Ad sanationam :dubia ad bonam
Ad fungsionam :dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens -

12. Tingkat Rekomendasi -

13. Penelaah Kritis Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL

1. Kirtsreesakul V. Update on nasal polyps:


Etiopathogenesis. Special article. J Med Assoc Thai
2005; 88(12):1966-72.
2. Mc.Clay JE.Nasal Polyps.[cited 2006 Des 3].
Available from :www.emedicine.com.
3. Punagi AQ. Peranan sitokin pada polip hidung.
JMedika Nusantara2005;26(4):63-7.
4. Nizar NW, Mangunkusumo E. Polip sinonasal.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi kelima. Jakarta:
14. Kepustakaan FKUI; 2001. p. 96-8.
5. Haro JI, Gavioli F, Junior VM, Crespo CC.Clinical
aspects of patients with nasal polyposis. Original
Article. Int Arch Otorhinolaryngol 2009; 13(3):259-
63.
6. Buku Acuan. Modul. Polip hidung. Kolegium Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala dan Leher, 2008.
7. Lane AP, Kennedy DW. Sinusitis and polyposis. In:
James B, Snow Jr. Editors. Ballenger’s manual of
otorhinolaryngology head and neck surgery.
London: BC Decker Inc; 2002. p. 276-91.
8. Assanasen P, Naclerio RM. Medical and surgical
management of nasal polyps. Curr Opin
Otolaryngol Head Neck Surg 2001; 9:27–36.
9. Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C, Alobid
I, Baroody F, et al. European Position Paper on
Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012; 50(1):55-109

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

OTITIS MEDIA AKUT (H66.90)

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian


atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius,
1. Pengertian ( Definisi) antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang terjadi dalam
waktu kurang dari 3 minggu.

a. Stadium oklusi tuba


Telinga terasa penuh atau nyeri, pendengaran dapat
berkurang.
b. Stadium hiperemis
Nyeri telinga makin intens, demam, rewel dan
gelisah (pada bayi / anak), muntah, nafsu makan
hilang, anak biasanya sering memegang telinga yang
nyeri.
c. Stadium supurasi
Sama seperti stadium hiperemis
d. Stadium perforasi
Keluar sekret dari liang telinga
e. Stadium resolusi
2. Anamnesis
Setelah sekret keluar, intensitas keluhan berkurang
(suhu turun, nyeri mereda, bayi / anak lebih tenang.
Bila perforasipermanen, pendengaran dapat tetap
berkurang.

Faktor Risiko
a. Bayi dan anak
b. Infeksi saluran napas atas berulang
c. Menyusu dari botol dalam posisi berbaring telentang
d. Kelainan kongenital, misalnya: sumbing langit-
langit, sindrom Down,
e. Paparan asap rokok
f. Alergi
g. Suhu dapat meningkat
h. Otoskopi

Tabel Hasil otoskopi pada OMA

Stadium OMA Tampilan


Membran timpani suram, retraksi, dan
Stadium oklusi tuba refleks
cahayanya hilang
Stadium hiperemis Membran timpani hiperemis dan edema
Stadium supurasi Membran timpani menonjol ke arah luar
(bulging) berwarna kekuningan
3. Pemeriksaan Fisik
Stadium perforasi Perforasi membran timpani
Liang telinga luar basah atau dipenuhi
sekret

Stadium resolusi Membran timpani tetap perforasi atau utu


Sekret di liang telinga luar sudah berkurang
atau mengering

i. Tes penala
Dapat ditemukan tuli konduktif, yaitu: tes Rinne (-
) dan tes Schwabach memendek pada telinga yang
sakit, tes Weber terjadi lateralisasi ke telinga yang
sakit.

4. Pemeriksaan Audiometri nada murni, bila fasilitas tersedia


Penunjang
5. Kriteria Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Otitis media akut
6. Diagnosis Kerja

a. Otitis media serosa akut


7. Diagnosis Banding
b. Otitis eksterna

1. Pada stadium oklusi tuba, terapi bertujuan


membuka kembali tuba eustachius. Obat yang
diberikan adalah:
 Berikan tetes mata Tetrakain-HCl 2% sebanyak
1-2 tetes pada mata yang terkena benda asing.
 Gunakan kaca pembesar (lup) dalam
pengangkatan benda asing.
8. Tata Laksana
 Angkat benda asing dengan menggunakan lidi
kapas atau jarum suntik ukuran 23G.
 Arah pengambilan benda asing dilakukan dari
tengah ke tepi.
 Oleskan lidi kapas yang dibubuhkan Povidon
Iodin pada tempat bekas benda asing.

2. Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga:


 H2O2 3%, 3 kali sehari, 4 tetes di telinga yang
sakit, didiamkan selama 2 – 5 menit.
 Asam asetat 2%, 3 kali sehari, 4 tetes di telinga
yang sakit.
 Ofloxacin, 2 kali sehari, 5 – 10 tetes di telinga
yang sakit, selama maksimal 2 minggu

3. Oral Sistemik: antibiotik, antihistamin (bila


terdapat tanda-tanda alergi), dekongestan, analgetik
/ antipiretik

Tabel Daftar antibiotik untuk terapi OMA


Obat Dewasa Anak
Amoxicillin 3 x 500 25 – 50 mg/kgBB/hari, dibagi 3 dosis
mg/hari per Hari
selama 10-14
hari

Trimetoprim – 2 x 160 mg 8 – 20 mg TMP/kgBB/hari, dibagi 2


Sulfametoksazol TMP/hari dosis per hari

3 x 500 mg / 25 – 50 mg/kgBB/hari, dibagi 3


Amoxicillin – hari dosis per Hari
Asam Clavulanat

Erithromycin 4 x 500 25 – 50 mg/kgBB/hari, dibagi 4


dosis per
mg/hari Hari
a. Untuk bayi / anak, orang tua dianjurkan untuk
memberikan ASI minimal 6 bulan sampai 2 tahun.
4. Edukasi
b. Menghindarkan bayi / anak dari paparan asap
rokok.
1. Ad vitam : bonam
5. Prognosis 2. Ad functionam : bonam
3. Ad sanationam : bonam
6. Tingkat Evidens -
7. Tingkat Rekomendasi -
8. Penelaah Kritis Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL
1. Adam, GL. Boies LR. Higler, Boies. Buku Ajar
Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC. 1997.
2. Hafil, F., Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga
Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
9. Kepustakaan Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2007.
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and
Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill. 2003.
4. Revai, Krystal et al. Incidence of Acute Otitis
Media and Sinusitis Complicating Upper
Respiratory Tract Infection: The Effect of Age.
PEDIATRICS Vol. 119 No. 6 June 2007, pp.
e1408-e1412.2007. (Reyai, 2007)

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

Otitis externa (H60)/Abcess of external ear (Boll/Carbuncle/Furuncle) (H60.0)/Cellulitis


of external ear (auricle/ear canal) (H60.1)/Malignant otitis externa (H60.2)/Other infective
otitis externa (H60.3)/Diffuse otitis externa (H60.31)/Hemorrhagic otitis externa
(H60.32)/Swimmer’s ear (H60.33)/Other infective otitis externa (H60.39)
Radang liang telinga akut maupun kronis yang dapat
berupa sirkumskripta maupun difus yang disebabkan
1. Pengertian ( Definisi)
oleh infeksi bakteri.

1. Rasa nyeri yang hebat


2. Gangguan pendengaran
2. Anamnesis 3. Terdapat bisul di sepertiga liang telinga luar
4. Nyeri tekan tragus

1. Terdapat furunkel di kartilaginosa meatus


akustikus eksternus
2. Edema di liang telinga luar
3. Terdapat abses dengan suatu “mata”
4. Selulitis pada jaringan sekitar
3. Pemeriksaan Fisik
5. Liang telinga sangat sempit
6. KGB regional membesar dan nyeri tekan
7. Dengan atau tanpa pengeluaran sedikit sekret
berbau yang tidak mengandung lendir (musin)

4. Pemeriksaan Tidak Ada


Penunjang

1. Sesuai dengan kriteria anamnesis


5. Kriteria Diagnosis 2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik

Otitis externa (H60)/Abcess of external ear


(Boll/Carbuncle/Furuncle) (H60.0)/Cellulitis of external
ear (auricle/ear canal) (H60.1)/Malignant otitis externa
6. Diagnosis Kerja
(H60.2)/Other infective otitis externa (H60.3)/Diffuse
otitis externa (H60.31)/Hemorrhagic otitis externa
(H60.32)/Swimmer’s ear (H60.33)/Other infective otitis
externa (H60.39)
7. Diagnosis Banding Tidak ada

1. Na Diklofenak 2 x 50 g
2. Bacitracin - Polymixin B (Salep kulit)
8. Tata Laksana 3. Polymixin B, Neomycin, Hidrokortison (Tetes
telinga) 3 x 4 tetes
4. Membersihkan liang telinga
5. Drainase dengan jarum bila terbentuk abses
6. Memasukkan tampon yang mengandung
gentamycin dan betamethason/hidrokortison ke
liang telinga
a. Menjelaskan perjalanan Penyakit dan
komplikasi yang timbul.
b. Menjelaskan rencana pengobatan
7. Edukasi c. Menjaga kebersihan telinga
d. Menghindari kontak telinga yang sakit dengan
cairan dari luar selain obat.

Ad vitam : dubia ad bonam


8. Prognosis Ad sanationam : dubia ad bonam
Adfungsionam : dubia ad bonam
9. Tingkat Evidens IV
10. Tingkat Rekomendasi C

11. Penelaah Kritis Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL

a. Eradikasi infeksi telinga


12. Indikator (outcome) b. Hilangnya rasa nyeri
c. Pendengaran normal
1. Rusmarjono, Soepardi EA. Faringitis, Tonsilitis
dan Hipertrofi Adenoid. Dalam : Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, RestutiDwi R, editor.
Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2007: h.
13. Kepustakaan 58-59

2. Adams GL. Boies LR and Paparella MA :


Fundamentals Of Otorhinolanyngology.
WB.Saunders Co Asean ED, 1978, 6 th
Edition.hal : 78-80

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (H66.3)

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) ialah


peradangan kronik telinga tengah dengan perforasi
membran timpani dan keluarnya sekret dari telinga
1. Pengertian ( Definisi) tengah terus menerus atau hilang timbul. OMSK tanpa
kolesteatoma disebut OMSK benigna, sedangkan bila
disertai kolesteatoma disebut OMSK maligna

a. Ke kuar cairan telinga lebih dari 2 bulan


2. Anamnesis b. Gangguan pendengaran

a. Otore
b. Perforasi membran timpani
3. Pemeriksaan Fisik c. Bisa terdapat jaringan patologis di telinga tengah/
mastoid
d. Tuli konduktif
a. Audiometri nada murni
b. Foto Rontgen mastoid (bila direncanakan terapi
bedah)
4. Pemeriksaan
c. Pemeriksaan mikrobiologik sekret telinga.
Penunjang
Antibiotika lini pertama tidak harus menunggu
hasil pemeriksaan ini.

a. Sesuai dengan kriteria anamnesis


5. Kriteria Diagnosis b. Sesuai dengan krtiteria pemeriksaan

Otitis Media Supuratif kronik


6. Diagnosis Kerja

a. Otitis Eksterna Maligna


7. Diagnosis Banding b. Tumor ganas telinga tengah
a. Drainase sekret secara optimal

b. Antibiotika (Trimetroprim 80 mg + sulfometoksazol


8. Tata Laksana
400 mg 2 x 1 tab/ hari atau Amoksisilin clavulanat
500 mg 3 x 1 tab/ hari selama 5 hari sebagai lini
pertama, atau Siprofloksasin 500 mg 2 x 1 cap/ hari
atau oflofloksasin 2oo mg 2x 1 tab/ hari) selama 5
hari pada penderita lebih dari 8 tahun

c. Obat tetes telinga (oflofloksasin) 3 x 2 tetes/ hari


selama 5 hari, baik pada orang dewasa atau anak
berusia di atas 12 tahun.

d. Operatif, bila pengobatan medikamentosa selama 3


bulan tidak menyembuhkan atau bila bila terdapat
kolesteatoma yang tidak dapat dibersihkan
seluruhnya dari liang telinga

a. Menjaga kebersihan telinga


9. Edukasi b. Menghindari kontak telinga yang sakit dengan
cairan dari luar selain obat

Ad vitam : dubia ad bonam


10. Prognosis Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens IV
12. Tingkat Rekomendasi C
Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL
13. Penelaah Kritis

Pasien dengan Otitis Media Supuratif Kronik tindakan


mastoidektomi tanpa penyulit dirawat selama 5 hari
14. Indikator (outcome)
Target :
90% Pasien dengan tindakan mastoidektomi tanpa
penyulit dirawat selama 5 hari
1. Adam, GL. Boies LR. Higler, Boies. Buku Ajar
Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC. 1997.
2. Hafil, F., Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga
Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6.
15. Kepustakaan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2007.
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and
Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill. 2003.

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

SERUMEN PROP (H61.2)

Serumen adalah sekret kelenjar sebasea, kelenjar


seruminosa,epitel kulit yang terlepas dan partikel debu
yang terdapatpada bagian kartilaginosa liang telinga.
1. Pengertian ( Definisi)
Bila serumen ini berlebihan maka dapat membentuk
gumpalan yang menumpuk di liang telinga, dikenal
dengan serumen prop.
a. Keluhan pendengaran yang berkurang disertai rasa
penuh pada telinga.
b. Impaksi/gumpalan serumen yang menumpuk di
liang telinga menyebabkan rasa penuh dengan
penurunan pendengaran (tuli konduktif).
c. Terutama bila telinga masuk air (sewaktu mandi
atau berenang), serumen mengembang sehingga
menimbulkan rasa tertekan dan gangguan
pendengaran semakin dirasakan sangat
2. Anamnesis mengganggu.
d. Adanya vertigo atau tinitus. Rasa nyeri timbul
apabila serumen keras membatu dan menekan
dinding liang telinga.
e. Faktor Risiko
- Dermatitis kronik liang telinga luar
- Liang telinga sempit
- Produksi serumen banyak dan kering
- Adanya bendaasing di liang telinga
- Kebiasaan mengorek telinga
a. Otoskopi: dapat terlihat adanya obstruksi liang
telinga oleh material berwarna kuning kecoklatan
atau kehitaman. Konsistensi dari serumen dapat
3. Pemeriksaan Fisik
bervariasi.
b. Pada pemeriksaan penala dapat ditemukan tuli
konduktif akibat sumbatan serumen.

4. Pemeriksaan Tidak ada pemeriksaan penunjang yang khas


Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
5. Kriteria Diagnosis pemeriksaan fisik

Serumen Prop
6. Diagnosis Kerja

7. Diagnosis Banding Benda asing di liang telinga


a. Menghindari membersihkan telinga secara
berlebihan
b. Menghindari memasukkan air atau apapun
kedalam telinga
c. Tatalaksana farmakoterapi:
 Serumen yang lembek, dibersihkan dengan
kapas yang dililitkanpada pelilit kapas.
8. Tata Laksana
 Serumen yang keras dikeluarkan dengan
pengait atau kuret. Apabila dengan cara ini
serumen tidak dapat dikeluarkan, maka
serumen harus dilunakkan lebih dahulu
dengan tetes karbogliserin 10%selama 3
hari.
 Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong
kedalam liang telinga sehingga dikuatirkan
menimbulkan trauma pada membran timpani
sewaktu mengeluarkannya, dikeluarkan
dengan mengalirkan (irigasi)air hangat yang
suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh.

Indikasi untuk mengeluarkan serumen adalah sulit untuk


melakukan evaluasi membran timpani, otitis eksterna,
oklusiserumen danbagian dari terapi tuli konduktif.
Kontraindikasi dilakukannya irigasi adalah adanya
perforasi membran timpani. Bila terdapat keluhan
tinitus, serumen yang sangatkeras dan pasien yang tidak
kooperatif merupakan kontraindikasi dari suction.

1. Memberitahu pasien dan keluarga untuk tidak


mengorek telinga baik dengan cotton bud atau
lainnya.
2. Memberitahu keluarga dan pasien untuk
9. Edukasi
menghindari memasukkan air atau apapun ke
dalam telinga
3. Menganjurkanuntukmengeluarkanserumen 6-12
bulansekali
Ad vitam : ad bonam
10. Prognosis
Ad functionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam
11. Tingkat Evidens IV
12. Tingkat Rekomendasi A
Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL
13. Penelaah Kritis
-
14. Indikator (outcome)

1. Adam, GL. Boies LR. Higler, Boies. Buku Ajar


Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC. 1997.
2. Hafil, F., Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga
Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6.
15. Kepustakaan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2007.
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and
Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill. 2003.

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

TONSILITIS KRONIK (J35.01)

Tonsilitis Kronik adalah infeksi kronis pada tonsil yang


berulang lebih dari tiga kali setahun atau tonsil
1. Pengertian ( Definisi)
berukuran besar yang dapat mengakibatkan gangguan
menelan dan gangguan pernafasan.

a. Radang tenggorok berulang.

b. Rasa mengganjal di tenggorok.

c. Nyeri menelan.
2. Anamnesis
d. Napas dapat berbau.

e. Tidur mendengkur.

a. Permukaan Kripta Tonsil Melebar.

b. Detritus didapatkan pada eksaserbasi akut.


3. Pemeriksaan Fisik
c. Ukuran tonsil dapat membesar.

1. Persiapan operasi :

a. Pemeriksaan darah lengkap (ICD 9CM :


90.59)

b. PT dan APTT (ICD 9CM : 90.59).


4. Pemeriksaan
c. SGOT, SGPT (ICD 9CM : 90.59).
Penunjang
d. Ureum dan Creatinin darah (ICD 9CM :
90.59).

e. Gula darah sewaktu (ICD 9CM : 90.59).

f. Foto Thorax PA (ICD 9CM : 87.3).


g. Di atas 40 tahun Konsul SMF Jantung (EKG
ICD 9CM : 794.31)

h. Di Bawah 18 tahun Konsul SMF Kesehatan


Anak dan Remaja.

i. Delapan belas tahun ke atas konsul SMF


Penyakit Dalam.

j. Konsul SMF Anestesi.

2. Bila perlu Foto kepala tampak lateral (ICD 9CM


: 87.09)
3. Pasca operasi : Pemeriksaan Histopatologi
Jaringan Tonsil dan atau adenoid (ICD 9CM :
90.3).
4. Bila perlu Kultur Resistensi / Swab Tenggorok
(ICD 9CM : 795.39)

a. Sesuai dengan kriteria Anamnesis.


5. Kriteria Diagnosis
b. Sesuai dengan kriteria Pemeriksaan fisik.

Tonsilitis Kronik (ICD 10 : J35.0) / Tonsilitis Kronis


Hypertropi (ICD 10 : J35.1) / Adenoiditis Kronis
6. Diagnosis Kerja
Hypertropi (ICD 10 : J35.2) / Tonsilo Adenoiditis Kronis
Hypertropi (ICD 10 : J35.3)

7. Diagnosis Banding Tidak ada

a. Umum

 Perbaikan hygiene mulut, obat kumur atau


8. Tata Laksana obat hisap.

b. Simptomatik

 Obat Kumur yang mengandung desinfektan.

 Paracetamol ( dewasa 3 x 500mg, anak sesuai


berat badan)

c. Antibiotik :

 Amoksisilin clavulanat 50 - 100 mg / kg BB


/hari atau

 Eritomisin 25 - 50 mg / kg

d. Tonsilektomi (ICD 9CM : 28.2) pada :

 Tonsilitis Kronik (ICD 10 : J35.0)

 Tonsil Hipertropi (ICD 10 : J35.1)

e. Adenoidektomi (ICD 9CM : 28.6) pada :

Adenoid Hipertropi (ICD 10 : J35.2).

f. Tonsiloadenoidektomi (ICD 9CM : 28.3) pada :

Tonsil Hipertropi dengan Adenoid Hipertropi


(ICD 10 : J35.3).

a. Menjelaskan perjalanan Penyakit dan komplikasi


yang timbul.
b. Menjelaskan rencana pengobatan, operasi dan
komplikasinya.
9. Edukasi
c. Menganjurkan sikat gigi dan kumur – kumur
teratur.
d. Bila ada gigi yang bermasalah dianjurkan ke
dokter gigi.

Ad vitam : Dubia ad Bonam

10. Prognosis Ad sanationam : Dubia ad Bonam

Ad fungsionam : Dubia ad Bonam

11. Tingkat Evidens IV

12. Tingkat Rekomendasi C

13. Penelaah Kritis Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL

Pasien tonsilitis kronis sembuh dengan operasi


tonsilektomi tanpa komplikasi dalam waktu 3 hari
14. Indikator (outcome) perawatan
Target :
90% pasien tonsilitis kronis sembuh dengan operasi
tonsilektomi tanpa komplikasi dalam waktu 3 hari
perawatan

1. Rusmarjono, Soepardi EA. Faringitis, Tonsilitis


dan Hipertrofi Adenoid. Dalam : Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti Dwi R, editor.
Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2007:
h.223 – 5.
2. Adams GL. Boies LR and Paparella MA :
15. Kepustakaan Fundamentals Of Otorhinolanyngology.
WB.Saunders Co Asean ED, 1978, 5 th Edition.
3. Balleger JJ. Diseases Of The Nose, Throat, ear,
Head and Neck. 14 th edition. Philadelphia Lea
and Febiger 1991
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology head & neck
surgery. 9th ed. McGrawHill Medical. New York
1991:p 543.

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
RSU LUKAS BANGKALAN
2017
RS. LUKAS

SINUSITIS KRONIK (J32.9)

Sinusitis kronik adalah peradangan mukosa sinus


paranasal, berlangsung lebih dari tiga bulan, disebabkan
1. Pengertian ( Definisi)
oleh infeksi, alergi atau autoimun, dan dapat disertai
adanya polip

a. Pilek dan ingus kental


b. Hidung tersumbat.
c. Gangguan penghidu.
2. Anamnesis
d. Nyeri wajah daerah sinus.
e. Lendir mengalir ke tenggorok.

a. Sekret hidung kental dan keruh.


b. Nyeri tekan wajah daerah sinus.
c. Rongga hidung sempit dan pembengkakan /
3. Pemeriksaan Fisik
hipertrofi konka hidung.
d. Dapat ditemukan polip di rongga hidung.

1. Persiapan operasi :
a. Pemeriksaan darah lengkap (ICD 9CM :
90.59)
b. PT dan APTT (ICD 9CM : 90.59).
c. SGOT, SGPT (ICD 9CM : 90.59).
d. Ureum dan Creatinin darah (ICD 9CM :
90.59).
e. Gula darah sewaktu (ICD 9CM : 90.59).
f. Foto Thorax PA (ICD 9CM : 87.3).
4. Pemeriksaan
g. Di atas 40 tahun Konsul SMF Jantung (EKG
Penunjang
ICD 9CM : 794.31)
h. Di Bawah 18 tahun Konsul SMF Kesehatan
Anak dan Remaja.
i. Delapan belas tahun ke atas konsul SMF
Penyakit Dalam.
j. Konsul SMF Anestesi.
2. CT scan Sinus paranasal (ICD 9CM : 87.03)
3. Pasca operasi : Pemeriksaan Histopatologi
Jaringan polip (ICD 9CM : 90.3).
4. Bila perlu Kultur Resistensi sekret hidung (ICD
9CM : 90.3).

a. Sesuai kriteria anamnesis


5. Kriteria Diagnosis
b. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik

6. Diagnosis Kerja Sinusitis Kronik (ICD 10 : J32)

7. Diagnosis Banding Tidak ada

a. Medikamentosa
 Antibiotik : Amoksiclav 3 x 625 mg.
8. Tata Laksana  Analgetik : Asam mefenamat ( dewasa 3 x
500mg, anak sesuai berat badan)
 Dekongestan : Pseudoefedrin 2 x 60 mg
 Steroid oral : Methylprednisolon 4 mg dengan
dosis diturunkan tiap 3 hari, dimulai dengan
dosis 3 x 2 tablet
 Bila perlu Semprot hidung steroid : Fluticason
2 x 2 semprot
b. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF)
 Aspiration and lavage of nasal sinus (ICD
9CM : 22.02)
 Intranasal antrostomy (ICD 9CM : 22.2)
 Frontal sinusotomy dan sinusectomy (ICD
9CM : 22.4)
 Other nasal sinusectomy (ICD 9CM : 22.6)
 Turbinectomy (ICD 9CM 21.6)

a. Menjelaskan perjalanan Penyakit dan komplikasi


yang timbul.
b. Menjelaskan rencana pengobatan, operasi dan
9. Edukasi komplikasinya.
c. Bila ada gigi yang bermasalah dianjurkan ke
dokter gigi.

Ad vitam : Dubia ad Bonam


10. Prognosis
Ad sanationam : Dubia ad Bonam
Ad fungsionam : Dubia ad Bonam

11. Tingkat Evidens IV

12. Tingkat Rekomendasi C

13. Penelaah Kritis Dr.Endang Fitrih Mulyaningsih,Sp.THT-KL

Pasien tonsilitis kronis sembuh dengan operasi


tonsilektomi

Target :

1. 90% pasien tonsilitis kronis sembuh dengan


operasi tonsilektomi.
14. Indikator (outcome)
2. 10% pasien tonsilitis kronis tanpa tonsilektomi
terjadi eksaserbasi akut kurang dari 3 kali dalam
setahun

1. Rusmarjono, Soepardi EA. Faringitis, Tonsilitis dan


Hipertrofi Adenoid. Dalam : Soepardi EA, Iskandar
N, Bashiruddin J, Restuti Dwi R, editor. Buku ajar
15. Kepustakaan ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta 2007: h.223 – 5.
2. Adams GL. Boies LR and Paparella MA :
Fundamentals Of Otorhinolanyngology.
WB.Saunders Co Asean ED, 1978, 5 th Edition.

3. Balleger JJ. Diseases Of The Nose, Throat, ear,


Head and Neck. 14 th edition. Philadelphia Lea and
Febiger 1991

4. Lee KJ. Essential Otolaryngology head & neck


surgery. 9th ed. McGrawHill Medical. New York
1991:p 543.

DIKETAHUI OLEH DITINJAU OLEH DISAHKAN OLEH

NAMA Dr.Endang Fitrih Dr. Catur Budi Dr.CaesarArdianto,


Mulyaningsih,Sp.THT-KL Keswardiono,Sp.P M.Kes

JABATAN Dokter Spesialis THT Ketua Komite Medik Direktur

TANDA
TANGAN