Anda di halaman 1dari 39

CASE REPORT

SUBARACHNOID BLOCK PADA PASIEN HERNIA INGUINALIS


LATERALIS DEKSTRA

Oleh :
Alvian Yuta Nugraha S,Ked J510145088

Faruq Muhammad S,Ked J510145109

PEMBIMBING :
dr. Cendra P., Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANASTESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
CASE REPORT
SUBARACHNOID BLOCK PADA PASIEN HERNIA INGUINALIS
LATERALIS DEKSTRA

Yang Diajukan Oleh :


Alvian Yuta Nugraha S,Ked J510145088
Faruq Muhammad S,Ked J510145109

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pada hari , 2015

Pembimbing :

dr. Cendra P., Sp.An (…………………………)

Kabag. Profesi Dokter

dr.Dona Dewi Nirlawati (......................................)

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANAESTESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

1
DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………......


Halaman Persetujuan ……………………………………………............ 1
Daftar Isi ………………………………………………………………... 2
Daftar Gambar ………………………………………………………….. 4
Bab I Pendahuluan…………………………………………….............. 5
Bab II Status Pasien…………………………………………….......... 7
Bab III Tinjauan Pustaka ........................................................................ 14
A. Persiapan pra Anestesi ................................................................ 14
B. Premedikasi Anestesi .................................................................. 16
C. Regional Anestesi (Spinal) ......................................................... 18
1. Definisi ………………..…………………………………… 18
2. Klasifikasi ………………………………………………… 18
3. Anestesi Spinal …………………………………………….. 18
4. Keuntungan dan Kerugian ………… ……..……………..... 19
5. Indikasi ………………..……………………….................... 21
6. Kontra Indikasi …………….......…………………………... 21
7. Anatomi …………………………….……………………… 22
8. Fisiologi Spinal Anestesi…………...……………………… 23
9. Perlengkapan Anestesi……......……..……………………... 26
10. Persiapan Pasien .………………………………….……….. 26
11. Obat Analgesia Lokal Untuk Spinal Anaesthesia ……….… 29
12. Teknik Anestesia …………....……………………………... 29
13. Kondisi Khusus Yang Perlu Diperhatikan ………………… 31
14. Komplikasi Pada Spinal Anestesi ........................................ 32
15. Penatalaksanaan komplikasi ………………………………. 32
16. Terapi Cairan ……………………………………………… 33
17. Pemulihan ............................................................................. 34
D. Hernia Inguinalis Lateralis.......................................................... 36
Bab IV Pembahasan …………………………………………………… 37

2
Bab V Kesimpulan……………………………………………………... 39
Daftar Pustaka

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Jenis jarum Spinocain


Gambar 2. Anatomi lapisan tulang belakang
Gambar 3. Posisi tulang belakang saat fleksi dan ekstensi
Gambar 4.Lokasi injeksi pada spinal anaesthesia
Gambar 5.Palpasi ruang intervertebralis
Gambar 6.Sudut injeksi pada spinal anaesthesia

4
BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang sangat


berperan dalam mewujudkan tugas profesi dokter karena dapat mengurangi nyeri
dan memberikan bantuan hidup. Kata anestesi berasal dari bahasa Yunani a =
tanpa dan aesthesis = rasa/sensasi yang berarti keadaan tanpa rasa sakit, dan
reanimasi berasal dari re = kembali dan animasi = gerak/hidup. Ilmu anestesi dan
reanimasi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk
“mematikan” rasa, baik rasa nyeri, takut, dan rasa tidak nyaman yang lain
sehingga pasien nyaman dan ilmu yang mempelajari tatalaksana unuk menjaga/
mempertahankan hidup dan kehidupan pasien selama mengalami “kematian”
akibat obat anestesi.(1) Sedangkan anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran
yang mendasari berbagai tindakan meliputi pemberian anestesi ataupun analgesi,
pengawasan keselamatan penderita yang mengalami pembedahan atau tindakan
lainnya, pemberian bantuan hidup dasar, perawatan intensif pasien gawat, terapi
inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun.(2)
Anestesi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu(1) :
(1) Anestesi lokal/regional, yaitu suatu tindakan menghilangkan nyeri lokal tanpa
disertai hilangnya kesadaran, dan
(2) Anestesi umum yaitu keadaan ketidaksadaran yang reversible yang disebabkan
oleh zat anestesi, disertai hilangnya sensasi sakit pada seluruh tubuh.
Sebagian besar operasi (70-75 %) dilakukan dengan anestesi umum, lainnya
dengan anestesi lokal / regional. Anestesi spinal merupakan salah satu macam
anestesi regional. Pungsi lumbal pertama kali dilakukan oleh Qunke pada tahun
1891. Anestesi spinal subarachnoid dicoba oleh Corning, dengan menganestesi
bagian bawah tubuh penderita dengan kokain secara injeksi columna spinal. Efek
anestesi tercapai setelah 20 menit, mungkin akibat difusi pada ruang epidural.
Indikasi penggunaan anestesi spinal salah satunya adalah tindakan pada daerah
abdominal bawah dan inguinal.(2,3)

5
Dalam pembedahan membutuhkan tindakan anestesi karena nyeri sangat
mungkin terjadi saat pembedahan berlangsung. Usaha penanggulangan nyeri
terutama nyeri akut akibat trauma atau bedah, dilakukan untuk memperpendek
fase akut/katabolitik pasca trauma atau bedah sehingga pasien segera memasuki
fase anabolik dan proses penyembuhan luka lebih cepat.(3)
Penatalaksanaan hernia inguinalis lateralis dekstra adalah tindakan bedah
berupa hernio repair. Pada pembedahan ini menggunakan teknik anestesi spinal
(subaraknoid). Tindakan ini melibatkan tungkai bawah, panggul, dan perineum.
Hernia pada dinding perut merupakan penyakit yang sering dijumpai dan
memerlukan tindakan bedah.(4)

6
BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama pasien : Tn. S
Umur : 83 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Bendosari, Sukoharjo
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Jawa
Tanggal masuk RS : 13 Januari 2016
No. rekam medik : 284xxx
Diagnosis Pre Operatif : Hernia Inguinalis Lateralis Dekstra
Macam Operasi : Hernia Repair
Macam Anestesi : Regional Anestesi dengan Teknik
Subarachnoid Block
Tanggal Operasi : 16 Januari 2016

II. PEMERIKSAAN PRA ANESTESI


1. Anamnesis
a. Keluhan Utama :
Benjolan di inguinal kanan.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik Bedah RSUD Sukoharjo
dengan keluhan terdapat benjolan di testis kanan sejak 7 bulan
yang lalu. benjolan tersebut hilang timbul. Benjolan muncul saat
pasien mengejan ataupun batuk. Jika benjolan muncul, pasien
merasakan rasa tidak nyaman di perut dan nyeri. Pasien mengaku
sering melakukan angkat-junjung barang berat.
c. Riwayat Penyakit Dahulu

7
 Riwayat hipertensi : disangkal
 Riwayat diabetes melitus : disangkal
 Riwayat asma : disangkal
 Riwayat alergi : disangkal
 Riwayat sakit jantung : disangkal
 Riwayat batuk lama : disangkal
d. Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat hipertensi : disangkal
 Riwayat diabetes mellitus : disangkal
 Riwayat asma : disangkal
 Riwayat alergi : disangkal
 Riwayat penyakit jantung : disangkal

2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
KU : Baik, GCS : E4 V5 M6
BB/TB : 60 Kg/158 cm
Gizi : Baik
b. Vital Sign
Tekanan darah : 140/70 mmHg
Nadi : 64 x/menit
RR : 18 x/menit
Suhu : 36,6C
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik(-/-) nafas
cuping hidung (-)
Leher : Retrraksi suprasternal (-/-), deviasi trakea (-), ↑JVP (-),
pembesaran kelenjar limfe (-/-)
Thorax :
1. Jantung :
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak.
 Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat.

8
 Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
 Auskultasi : bunyi jantung S I-II irama regular, bising
jantung (-)
2. Paru
 Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri
 Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri
 Perkusi : sonor/sonor
 Auskultasi: Suara dasar vesikuler (+/+), Suara tambahan (-
/-)
Abdomen :
 Inspeksi : Bentuk abdomen sejajar dengan dada, tidak ada
darm contour, tidak ada darm steifung, tidak ada luka bekas
operasi
 Auskultasi : BU (+) dalam batas normal.
 Palpasi : Nnyeri tekan (-), teraba benjolan di selangkangan
kanan.
Ekstremitas :
 Clubbing finger tidak ditemukan
 Tidak ditemukan edema
 Akral hangat (+/+)

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Tangggal : 12 Januari 2016
Pemeriksaan Hasil Rujukan Satuan
Hemoglobin 10.4 12.0 – 16.0 g/%
Hematokrit 32.9 37.0-47.0 Vol%
Leukosit 4.2 5-10 /mm3
Trombosit 308 150-300 mm3
Eritrosit 3.72 4.0-5.0 Juta/ul
MCV 88.4 82.0-92.0 Fl

9
MCH 28.0 27.0-31.0 Pg
MCHC 31.6 32.0-37.0 %
Neutrofil% 43.0 50.0-70.0 %
Limfosit% 31.5 25.0-40.0 %
Monosit% 9.90 3.0-9.0 %
Eosinofil% 14.20 05-5.0 %
Basofil% 1.40 0.0-1.0 %
PT 10.50 9.40-11.30 detikt
APTT 48.80 25.00-35.00 detik
Kreatinin 0.85 0.5-0.9 Mg/dl
Ureum 23.7 10-50 Mg/dl
Glukosa Sewaktu 122 70-150 Mg/dl
HbsAg Negatif Negatif

4. Kesimpulan
Seorang laki-laki usia 83 tahun dengan diagnosis hernia
inguinalis lateralis dekstra yang akan dilakukan tindakan operasi
hernio repair. Hasil laboratorium darah dalam batas normal.
Kegawatan Bedah : (+)
ASA : II

III. LAPORAN ANESTESI


1. Rencana Anestesi
a. Persiapan operasi
a) Persetujuan operasi tertulis
b) Puasa 8 jam pre operatif
c) Infus RL 30 tetes / menit
b. Jenis anestesi : Regional anestesi
c. Teknik Anestesi : Sub Arachnoid Block
d. Premedikasi : Ondancetron, ketorolac
e. Induksi : Lidodex dan fentanyl 0.05 mg

10
f. Monitoring : tanda vital selama anestesi setiap 5 menit,
cairan, perdarahan, ketenangan pasien dan tanda-tanda komplikasi
anestesi.
g. Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan

2. Tata Laksana Anestesi


a. Di Ruang Persiapan
a) Cek Persetujuan Operasi
b) Periksa tanda vital dan keadaan umum
c) Lama Puasa 8 jam
d) Cek obat-obatan dan alat anestesi
e) Infus Asering 30 tetes/menit
f) Injeksi Ondancetron IV
g) Injeksi ketorolac IV
h) Posisi terlentang
i) Katater : Terpasang
j) Preloading
10-20 ml/kg BB dalam waktu 10 menit atau 20 menit.
10 mlx60kg = 600 cc

b. Di Ruang Operasi
 Anestesi mulai : 09.15 Operasi mulai : 09.20
 Anestesi selesai : 09.55 Operasi selesai : 09.55
a) Jam 08.45 pasien masuk kamar operasi, manset dan monitor
dipasang, tekanan darah 140/70 mmHg, HR 87 x/menit,
Saturasi oksigen 98 %
b) Jam 09.15 mulai dilakukan anestesi spinal dengan prosedur
sebagai berikut :
1. Pasien diminta duduk dengan punggung flexi maksimal
2. Dilakukan tindakan antiseptis pada daerah kulit punggung
bagian bawah pasien dengan menggunakan iodine 1 %.

11
3. Menggunakan sarung tangan steril, pungsi lumbal
dilakukan menyuntikkan jarum spinal no.25 pada bidang
median dengan arah 10-30 derajat terhadap bidang
horizontal kearah cranial pada ruang antar vertebra lumbal
3-4.
4. Setelah jarum sampai di ruang subarachnoid yang ditandai
dengan menetesnya LCS, silet dicabut dan disuntikkan
Lidodex
5. Pasien dikembalikan pada posisi terlentang dan kepala
diekstensikan.
c) Jam 09.20 operasi dimulai, selama operasi dimonitor tanda
vital dan saturasi O2 tiap 5 menit.
d) Jam 9.55 Operasi selesai, pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan.
e) Monitoring Selama Anestesi
Jam Nadi TD Sp02
09.15 87 143/74 98%
09.20 77 140/74 98%
09.25 70 138/76 98%
09.30 72 138/68 98%
09.35 70 132/62 98%
09.40 64 135/64 98%
09.45 52 130/63 98%
09.50 60 135/66 98%
09.55 64 138/68 98%

c. Di Recovery Room
Pasien masuk Ruang RR pukul 10.00 dalam Posisi Supine
(terlentang), sadar penuh, dimonitoring tanda vital, infuse RL,
diberikan O2 3 liter/menit.

12
Sebelum dipindah ruangan harus dinilai bromage score8
 Gerakan bebas tungkai dan kaki bromage 0
 Mampu mengangkat kaki, tetapi tidak dapat menggerakkan
lutut bromage 1
 tidak mampu mengangkat tungkai bawah, tetapi dapat
menggerakkan lutut bromage 2
 tidak mampu menggerakkan kaki, lutut dan tungkai
bromage 3
Jam 10.30 pasien dipindah ke bangsal.
d. Intruksi pasca anestesi
a) Posisi supine dengan oksigen 3 L/ mnt
b) Kontrol vital sign, T < 100 mmHg infus dipercepat, beri efedrin
5ml
c) Bila muntah diberi ondancetron dan bila kesakitan diberi
analgetik.
d) Lain-lain
 Antibiotik sesuai Bedah
 Analgetik sesuai Bedah
 Puasa sampai dengan flatus
 Post operasi, cek Hb. Bila <10 mg/dl tranfusi sampai Hb ≥
10
 Kontrol balance cairan
 Monitor vital sign

13
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. REGIONAL ANESTESI (SPINAL)


1. Definisi
Anestesi regional adalah tindakan analgesia yang dilakukan
dengan cara menyuntikkan obat anestetika lokal pada lokasi serat saraf
yang menginervasi regio tertentu, yang menyebabkan hambatan konduksi
impuls aferen yang bersifat temporer.(3)
2. Klasifikasi
a. Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal,
epidural, dan kaudal. Tindakan ini sering dikerjakan.
b. Blok perifer (blok saraf), misalnya blok pleksus brakialis, aksiler,
analgesia regiona intravena, dan lainnya.(1)
3. Anestesi Spinal
Anestesi spinal atau disebut juga subarachnoid block adalah
teknik anestesi regional dengan menyuntikkan obat analgetik lokal ke
dalam ruang subarachnoid di daerah antara vertebrae L2-L3 / L3-4 (obat
lebih mudah menyebar ke kranial) atau L4-5 (obat lebh cenderung
berkumpul di kaudal). Indikasi penggunaan teknik anestesi spinal adalah
untuk pembedahan pada daerah abdominal bawah dan inguinal, anorektal
dan genitalia eksterna, serta ekstremitas inferior.(1,3)
Anastesi spinal dengan ukuran jarum (spinocan) 22-29 dengan
“Pencil point” atau “Quincke point”. insersi dilakukan dengan
menyuntikkan jarum sampai ujung jarum mencapai ruang subarachnoid
yanag ditandai dengan keluarnya cairan LCS.(1,3)

14
Gambar 1. Jenis Jarum Spinal
4. Keuntungan dan Kerugian
a. Keuntungan(7)
1) Murah
Dibandingkan dengan penggunaan gas dan obat anaesetesia lain,
biaya anastesi spinal dianggap lebih minimal.
2) Kepuasan pasien
Pasien lebih puas karena recovery time yang lebih cepat dan efek
samping yang lebih kecil.
3) Sistem respiratorik
Anaestesia spinal memberikan lebih sedikit efek pada sistem
respirasi bila dibandingkan General Anaesthesia. Respirasi bisa
spontan.
4) Manajemen Airway
Dikarenakan airway pasien tidak terganggu, lebih sedikit resiko
terjadinya obstruksi atau aspirasi dari isi lambung. Namun
keuntungan ini bisa hilang pada pemberian sedasi yang
berlebihan.
5) Pasien Diabetes Mellitus
Pada pasien yang sadar, akan lebih mudah melihat tanda
hipoglikemia.

15
6) Relaksasi otot
Spinal anaestesia memberikan efek relaksasi yang lebih baik
terutama pada abdomen inferior dan extremitas inferior.
7) Perdarahan
Perdarahan yang terjadi selama operasi lebih sedikit bila
dibandingkan dengan general anaesthesia. Hal ini diakibatkan
berkurangnya tekanan darah dan denyut jantung serta
meningkatnya drainase vena.
8) Sistem Pencernaan
Fungsi normal pencernaan kembali lebih cepat setelah operasi.
9) Koagulasi
Komplikasi post-operatif trombhosis vena dalam dan emboli paru
lebih sedikit pada spinal anaesthesia.
10) Observasi dan post op care nya lebih mudah
b. Kerugian.(7)
1) Memerlukan banyak latihan terlebih dulu dalam pelaksanaan
induksinya
2) Kadang sulit menentukan dural space dan mendapatkan LCS.
Hal ini bisa diakibatkan karena teknik yang kurang tepat.
3) Hipotensi bisa terjadi saat terjadi blok di vertebrae yang lebih
tinggi.
4) Beberapa pasien merasa kurang siap secara mental dan psikologis
saat harus bangun selama operasi. Hal ini hendaknya dijelaskan
dulu pada pasien sebelum induksi dilakukan.
5) Walaupun penggunaan obat anastesia jangka panjang telah
digunakan, spinal anaestesia kurang cocok bila diberikan pada
operasi dengan durasi lebih dari 2 jam. Bila operasi ternyata
memerlukan waktu lebih panjang, perlu dipertimbangkan untuk
menggunakan general anaestesi.
6) Secara teori, ada resiko infeksi ke subarachnoid dan
menyebabkan meningitis. Hal ini bisa diminimalisasi dengan

16
penggunaan alat yang steril dan teknik aseptik-antiseptik yang
baik.
7) Dapat mengakibatkan Post Dural Puncture Headeache (PDPH)
5. Indikasi
Anestesi spinal dapat digunakan pada hampir semua operasi
abdomen bagian bawah dan inguinal, anorektal dan genitalia eksterna, serta
ekstremitas inferior. Anestesi ini memberi relaksasi yang baik, tetapi lama
anestesi didapat dengan lidokain hanya sekitar 90 menit. Bila digunakan obat
lain misalnya bupivakain, sinkokain, atau tetrakain, maka lama operasi dapat
diperpanjang sampai 2-3 jam.(3)
6. Kontra Indikasi
a. Kontra indikasi absolut(1)
1) Pasien menolak
2) Infeksi pada tempat suntikan
3) Hipovolemia berat, syok
4) Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan
5) Tekanan intra kranial meninggi
6) Fasiltas resusitasi minim
7) Kurang pengalaman / tanpa didampingi konsultan anestesi.
b. Kontra indikasi relatif(1)
1) Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi)
2) Infeksi sekitar suntikan
3) Kelainan neurologis
4) Kelainan psikis
5) Bedah lama
6) Penyakit jantung
7) Hipovolemia ringan
8) Nyeri punggung kronis
7. Anatomi

17
Tulang punggung (kolumna vertebralis) terdiri dari 7 vertebra
servikal, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sakral menyatu
pada dewasa, dan 4-5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa.(1)
Prosesus spinosus C2 teraba langsung di bawah oksipital.
Prosesus spinosus C7 menonjol dan disebut sebagai vertebra prominens.
Garis lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan
memotong prosesus spinosus vertebra L4 atau antara L4-L5.(1)
Medula spinalis diperdarahi oleh a. Spinalis anterior dan a.
Spinalis posterior. (1)
Beberapa jaringan yang akan ditembus jarum spinal antara lain(1):
a. Kulit
b. Lemak subkutan
c. Ligamen Suprasinosus
d. Ligamen Interspinosus
e. Ligamentum flavum
f. Ruang epidural
g. Durameter
h. Ruang subaraknoid

Medula spinalis berada dalam kanalis spinalis dikelilingi oleh


cairan serebrospinalis, dibungkus meningen (durameter, lemak dan pleksus
venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi
L3, dan sakus duralis berakhir setinggi S2.(1)
Cairan serebrosipinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang
berasal dari pleksus arteria koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan
lateral. Cairan ini jernih tak berwarna mengisi ruang subaraknoid dengan
jumlah total 100-150 ml, sedangkan yang di punggung sekitar 25-45 ml.(1)

18
Gambar 2. Anatomi
8. Fisiologi Spinal Anaestesia
Cairan anaestesia lokal diinjeksikan ke ruang sub arachnoid
untuk memblok konduksi impuls saraf, terutama di sekitar area injeksi.
Ada tiga jenis saraf: sensorik, motorik, dan otonom. Saraf motorik
mengatur kontraksi otot, dan bila di blok maka otot akan paralisis. Saraf
sensoris menerima rangsangan seperti nyeri dan sentuhan ke medulla
spinalis yang kemudian diteruskan ke otak, dan saraf otonom mengatur
diameter pembuluh darah, denyut jantung, kontraksi usus dan fungsi –
fungsi yang tidak disadari.(1,3,7)
Secara umum, saraf otonom dan sensoris diblok terlebih dulu
baru saraf motorik. Hal ini akan menimbulkan beberapa efek, misal
vasodilatasi dan penurunan tekanan darah saat saraf otonom di blok dan
pasien mungkin bisa tetap merasakan sentuhan namun tidak merasakan
nyeri.(1,3,7)
Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa hal(1,3,7) :
a. Pasien harus tetap dalam kondisi cukup cairan sebelum diinjeksi
anaestesi lokal dan tetap terpasang infus intravena selama operasi. Hal

19
ini bisa membantu fisiologis tubuh selain vasokonstriksi saat
terjadinya hipotensi.
b. Sebaiknya tidak bertanya “dapatkah anda merasakan ini?” berkali kali
pada pasien karena dapat menyebabkan pasien gelisah. Kadang
beberapa sensasi seperti tekan dan gerak masih terasa walaupun nyeri
sudah tidak. Lebih etis kita mencubit kulit dengan lembut
menggunakan klem arteri kemudian bertanya apakah masih sakit. Bila
tidak operasi bisa dilakukan.
Efek spinal anastesi(1,2,3,7)
a. Efek kardiovaskular
Akibat dari blok simpatis : penurunan tekanan darah. Vasodilatasi
arteri dan vena sehingga terjadi hipotensi.pencegahan dengan
pemberian cairan (preloading) untuk mengurangi hipovolemi relatif
akibat vasodilatasi sebelum dilakukan spinal/epidural anastesi.
b. Efek respirasi
Hipoperfusi dari pusat nafas dibatang otak dapat terjadi respiratory
arrest. Bisa juga terjadi blok pada nervus Phrenicus sehingga
mengganggu gerakan diafragma dan otot perut yang dbutuhkan untuk
inspirasi dan ekspirasi.
c. Efek gastrointestinal
Mual dan muntah akibat blok neuroaksial sebesar 20% terjadi karena
hiperperistaltik GI oleh aktivitas parasimpatik vagal.
d. PDPH (Post Dural Puncture Headache)
Disebabkan karena kebocoran cairan serebrospinal akibat tindakan
perusakan jaringan spinal yang menyebabkan penurunan tekaknan
LCS.
Kondisi ini akan menyebabkan tarikan pada struktur intrakranial
yang sangat peka terhadap nyeri yaitu pembuluh dara, saraf, flak serebri,
dan meninges, dimana nyeri akan timbul setelah kehilangan LCS 20ml.
PDPH ditandai dengan nyeri kepala yang hebat, pandangan kabur dan
diplopia,mual dan penurunan tekanan darah.(1,2,3)

20
Pencegahan dan penanganan : gunakan jarum sekecil mungkin
(pencil point), hindari penusukan jarum yang berulang-ulang, tusukan
jarum dengan bevel sejajar dengan serabut longitudinal durameter, bila
sudah terjadi : tetap posisikan pasien dalam kondisi tidur, hidrasi dengan
cairan yang adekuat,mobilisasi seminimal mungkin, berikan
paracetamol.(1,2,3)
e. Transient Rdicular Iritation(Transient Neurologic Syndrom)
Kondisi ini ditandai dengan nyeri ada kedua tungkai yang menjalar
dari tulang belakang, disertai parestesi atau kesemutan yang dapat
berlangsung hingga 24-48 jam post anastesi. Hal ini banyak
dihubungkan dengan pangguanaan injeksi lidokain 5% hioerbarik
dosis tinggi pada subarachnoid yang memberi efek meurotoksik.
f. Cauda Equina Syndrom
Terjadi ketika cauda equina terluka atau tertekan. Tanda-tanda
meliputi disfungsi otonomis, perubahan pengosongan kandung kemih
dan usus besar, pengeluaran keringat yang abnormal, kontrol
temperatur yang tidak normal, dan kelemahan motorik. Penyebab
adalah trauma dan toksisitas. Ketika tidak terjadi infeksi yang
trumatik intraneural, diasumsikan bahwa obat yangdiinjeksi telah
memasuki LCS, bahan-bahan ini bisa menjadi kontaminan seperti
detergen atau antiseptik, atau bahan pengawet yang berlebihan.
Penggunaan obat-obat lokal anastesi yang tidak neurotoksik terhadap
cauda equina merupkan salah satu pencegahan terhadap sindroma
tersebut selain menghndari trauma pada cauda equina waktu
melakukan penusukan jarum spinal.
g. Retensi urin
Blokade sakral menyebabkan atonia vesikaurinaria sehinggal volume
urin didalam vesika urinaria jadi lebih anyak. Blokade simpatis eferan
(T5-L1) menyebabkan kenaikan tonus sfingter yang menghasilkan
retensi urin. Spinal anastesi menurunkan 5-10% filtrasi glomerulus,
perubahan ini sangat tampakpada pasien hipovolami. Retensi post

21
spinal anastesi mungkin secara moderat diperpanjang karena S2 dan
S3 berisi serabut-serabut otonomik kecil dan paralisisnya lebih lama
daripada serabut-serabut yang lebih besar. Kateter urin harus dipasang
bila anastesi atau analgesi dilakukan dalam waktu lama.(1,2,3)
9. Perlengkapan Anastesi
Perlengkapan yang harus disiapkan sebelum melakukan blok
epidural/spinal antara lain :(1,3)
a. Monitor standar :EKG, tekanan darah, pulse oksimetri
b. Obat dan alat resusitasi: oksigen, bagging, suction, set intubasi
c. Terpasang akses intravena untuk pemberian cairan dan obat-obatan
d. Sarung tangan, masker steril, kasa penutup steril
e. Perlengkapan desinfeksi dan duk steril
f. Obat anastesi lokal untuk injeksi epidural/spinal dan untuk infiltrasi
lokal kulit dan jaringan subkutan.
g. Obat tambahan untuk anastesi epidural seperti narkotik dsb, serta
NaCl 0,9%.
h. Jarum spinal 24-25 gauge dengan ujung pensil untu mengurangi
resiko PDPH.

10. Persiapan Pasien(1,2,3)


a. Pre-operatif visite
Pre operatif visite diperlukan untuk menganalisa keadaan umum
pasien, mengetahui kelainan-kelainan yang ada sebagai gambaran
komplikasi yang dapat terjadi. Juga memberikan informasi pada
pasien walaupun mungkin masih ada sensasi rasa tekan dan gerak saat
dianastesi, namun nyeri akan tidak terasa. Juga jelaskan bahwa akibat
anastesi kaki akan terasa lemas, berat dan sedikit parasthesia.
b. Pre-loading cairan.
Semua pasien spinal anaestesi harus diberikan cairan intravena
sebelum di anestesi. Jumlah cairan yang diperlukan bervariasi, sesuai
dengan umur dan lama operasi. Pada pasien muda yang sehat, untuk

22
operasi hernia perlu kurang lebih 1000 ml. Pasien tua yang sudah
tidak memiliki kemampuan vasodiatasi sebaik yang muda, serta
mungkin punya hipotensi mungkin perlu 1500ml untuk operasi yang
sama. Untuk operasi caesar perlu setidaknya 1500ml. cairan yang
digunakan bisa ringer lactate. Umumnya untuk dewasa 10-20ml/kg
BB selama 15 menit.
c. Penderita untuk operasi elektif dipuasakan setidaknya 6 jam
d. Premedikasi
Adalah tindakan yang penting disamping persiapan anastesi lainnya.
Maksud dan tujuan premedikasi adalah :
1) Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien karena menghilangkan
rasa cemas dan takut,menimbulkan sedasi, amnesia dan analgesi.
2) Mencegah muntah
3) Memudahkan induksi
4) Mengurangi dosis obat anastesi
5) Menceah terjadinyahipersekresi traktus respiratorius

Obat yang bisa digunakan adalah(5):


1) Sulfas atropin
Obat ini dapat mengurangi sekresi traktus respiratorius dan
merupakan obat pilihan utama untuk mengurangi efek bronkial
dan kardial yang berasal dari parasimpatis akibat rangsangan obat
anastesi atau tindakan operasi. Pada dosis klinik (0,4-0,6 mg)
akan menimbulkan bradikardi yang disebabkan perangsangan
nervus vagus.
2) Pethidin
Adalah derivat fenil disperidin, suatu obat sintetik dengan rumus
molekul yang berbeda denan morfin, tetapi mempunyai efek dan
efek samping yang sama dengan morfin.
Efek analgesi hampir sama dengan morfin, tetapi mula kerja dan
masa kerjanya lebih singkat. Efek sedasi, euforia, dan eksitasi

23
hampir sama dengan morfin tetapi pethidin dapat menyebabkan
kedutan dan tremor akibat rangsangan SSP. Pada sistem respirasi
akan mendepresi dan menekan reaksi pusat pernafasan terhadap
rangsangan CO2.obat ini juga menigkatkan kepekaan terhadap
alat keseimbangan sehingga menimbulkan muntah,pusing
terutama pada penderita rawat jalan, obat ini dapat mengatasi
kejang.
Pethidin biasa digunakan untuk nyeri berat atau pada penderita
dengan terapi inhibitor monoamin oksidase, karena tidak adanya
kemampuan untuk memetabolisme pethidin sehingga dapat
menyebabkan koma. Dosis pethidin untuk dewasa 1mg/kgBB
IM. Efek analgetik tercapai 15 menit, efek puncak 45-60 menit
durasinya 3-4 jam.
3) Diazepam
Merupakan obat hipnotik sedatif sebagai premedikasi untuk
menghilangkan rasa takut dan gelisah serta sebagai anti konvulsi
yang baik. Dapat mendepresi pusat pernafasan dan sirkulasi.
e. Pengaturan posisi pasien
Ada dua posisi pasien yang memungkinkan dilakukannya insersi
jarum/kateter epidural yaitu : posisi lateral dengan lutut ditekuk ke
dada, posisi lainnya adalah posisi duduk fleksi dimana pasien duduk
dipinggir troli dengan lutut diganjal bantal. Fleksi akan membantu
identifikasi prosesus spinosus dan memperlebar celah vertebra
sehingga dapat mempermudah akses k eruang epidural. Penentuan
posisi ini didasarkan pada kondisi pasien dan kenyamanan ahli
anastesi.(1,2,3)

24
Gambar 3. Posisi Tulang Belakang saat Fleksi (kiri) dan Ekstensi
(Kanan)
11. Obat Anastetik Lokal Untuk Spinal Anestesia
Ada 3 jenis obat sesuai dengan kondisi LCS yaitu : Hiperbarik
(lebih berat), Hipobarik (lebih ringan), dan isobarik (sama beratnya
dengan LCS).Cairan Hiperbarik cenderung menyebar ke bawah tingkat
injeksi, sementara isobarik tidak. Lebih mudah untuk memprediksi
penyebaran spinal anaestesia bila menggunakan jenis hiperbarik. Larutan
isobarik bisa juga diubah menjadi hiperbarik dengan menggunakan
tambahan dextrose.(1,2,5)
a. Bupivakaine
Obat ini berjenis hiperbarik 0,5%. Saat ini buvicaine merupakan salah
satu obat paling baik.. durasi bupivacain cukup panjang, umumnya
mencapai 2 -3 jam.
b. Lignocaine
Obat ini juga berjenis hiperbarik 5%. Durasi anastesi lidokain kurang
lebih 45-90 menit. Efek lidokain bisa diperpanjang dengan
menambahkan adrenalin 1:1000.
Lidocain multi-dose sebaiknya tidak digunakan intratekal karena
berpotensi menyebabkan kerusakan. Gunakan selalu ampul single.
c. Cinchocaine
Larutan hiperbarik 0,5 %, hampir seperti bupivacain.
d. Amethocaine

25
1% larutan ini bisa dicampur dengan dextrose,saline atau aquades
untuk injeksi.
e. Mepivacaine
Larutan hiperbarik 4%, mirip lignocaine.
12. Teknik Anastesi
Cara melakukan anestesi spinal:(1,2,3)
a. Perlu mengingatkan pasien tentang hilangnya kekuatan motorik dan
berkaitan keyakinan kalau paralisisnya hanya bersifat sementara.
b. Pasang infus, minimal 500ml cairan sudah masuk saat menginjeksi
obat anastesi lokal
c. Posisi lateral dekubitus adalah posisi yang rutin untuk mengambil
lumbal pungsi, tetapi bila kesulitan posisi duduk akan lebih mudah
untuk pungsi.
d. Inspeksi : “Garis Tuffier”, garis yang menghubungkan 2 titik tertinggi
krista iliaka kanan dan kiri akan memotong garis tengah punggung
setinggi L4-L5.

G
Gambar 4.Lokasi Injeksi pada Spinal Anaestesi

26
e. Palpasi : untuk mengenal ruangan antara 2 vertebra lumbalis

Gambar 5.Palpasi ruang intervertebrae


f. Pungsi lumbal hanya antara L2-L3, L3-L4, L4-L5, L5-S1
g. Setelah tindakan antiseptik daerah punggung pasien dan memakai
sarung tangan steril, pungsi lumbal dilakukan dengan penyuntikan
jarum lumbal no.22 lebih halus no.23, 25, 26 pada bidang median
dengan arah 10-30 derajat terhadap bidang horizontal ke arah cranial
pada ruang antar vertebra lumbalis yang sudah dipilih. Jarum lumbal
akan menembus berturut-turut beberapa ligame, yang terakhir
ditembus adalah durameter subarachnoid.

Gambar 6.Sudut injeksi pada tulang belakang


h. Setelah stilet dicabut, cairan LCS akan menetes keluar. Selanjutnya
disuntikan larutan obat analgetik lokal kedalam ruang subarachnoid.
Cabut jarum, tutup luka dengan kasa steril.

27
i. Monitor keadaan tekanan darah setiap 5 menit pada 20 menit pertama,
jika terjadi hipotensi diberikan oksigen nasal ephedrin IV 5mg, infus
500-1000 ml NaCl cukup untuk memperbaiki tekanan darah.
13. Kondisi Medis Khusus Yang Perlu Diperhatikan Pada Spinal
Anaestesi(2)
a. Pasien dengan Gangguan Pernafasan
Spinal blok rendah tidak memiliki efek pada sistem respirasi dan
cocok pada pasien dengan gangguan pernafasan kecuali dengan batuk
sering. Batuk sering menyebabkan ketidaknyamanan pada operator
dan asisten. Blok spinal tinggi bisa menyebabkan kelumpuhan otot
intercostalis.
b. Hipertensi
Hipertensi sebenarnya bukan merupakan kontraindikasi anastesi
spinal, namun sebaiknya dikontrol dulu sebelum dilakukan anestesi.
Pasien dengan hipertensi harus terus dipantau dan bila terjadi
hipotensi harus segera ditangani.
c. Sickle cell disease (anemia sel sabit)
Yang penting adalah pastikan pasien mendapatkan cukup oksigen,
cukup cairan dan jangan sampai terjadi hipotensi. Pertimbangkan
menghangankan cairan intravena dan pastikan pasien jangan sampai
hipotermi. Serta hindari penggunaan torniquet.
14. Komplikasi Pada Spinal Anestesi(1)
a. Hipotensi
Hipotensi disebabkan sympathectomy temporer, komponen blokade
midthoracic yang tidak dapat dihindari dan tidak diinginkan.
Berkurangnya venous return dan penurunan afterload menurunkan
maternal mean arterial pressure (MAP). Hal ini dapat disebabkan oleh
karena posisi terlentang terjadi kompresi parsial atau total vena kava
inferior dan aorta oleh masa uterus.
b. Blokade Spinal total

28
Penyebab tersering, oleh karena pemberian dosis agen analgesia jauh
melebihi toleransi. Hipotensi dan apneu cepat timbul dan harus segera
diatasi untuk mencegah henti jantung.
c. Sakit kepala spinal (Pasca pungsi)
Kebocoran cairan serebrospinal dari tempat pungsi meninges
dianggap merupakan faktor utama timbulnya sakit kepala. Dengan
tetap berbaring 24 jam pascaoperasi, nyeri kepala jelas membaik pada
hari ketiga dan menghilang pada hari kelima.
d. Disfungsi kandung kencing
Dengan anelgesi spinal, sensasi kandung kencing mungkin
dilumpuhkan dan pengosongan kandung kencing terganggu selama
beberapa jam setelah pembedahan.
e. Arakhnoiditis dan meningitis
15. Penatalaksanaan Komplikasi(2,7)
a. Hidrasi akut
Sebelum induksi harus dipasang infus intravena, dengan memberikan
cairan kristaloid sebanyak 1000 – 1500 ml tidak menimbulkan bahaya
overhidrasi. Dianjurkan pemberian cairan tidak mengandung
dekstrosa, karena infus dekstrosa 20 g/jam atau lebih sebelum
melahirkan menimbulkan hipoglikemia pada bayi 4 jam setelah
dilahirkan. Hal ini disebabkan pankreas bayi yang cukup umur akan
menaikkan produksi insulin sebagai reaksi atas glukosa yang melewati
sawar uri.
b. Pemberian Vasopressor
Pemberian efedrin, seringkali dipakai untuk pencegahan maupun
terapi hipotensi. Obat ini merupakan suatu simpatomimetik non
katekolamin dengan campuran aksi langsung dan tidak langsung.
Meningkatkan curah jantung, tekanan darah, dan nadi melalui
stimulasi adrenegik alfa dan beta, menimbulkan bronkhodilatasi
melalui stimulasi reseptor beta 2.
c. Pemberian oksigen

29
Apabila terjadi hipoventilasi baik oleh obat – obat narkotik, anestesi
umum maupun lokal, maka akan mudah terjadi hipoksemia yang berat.
Faktor – faktor yang menyebabkan hal ini, yaitu :
1) Turunnya FRC sehingga kemampuan paru – paru untuk
menyimpan O2 menurun.
2) Naiknya konsumsi oksigen.
3) Airway closure.
4) Turunnya cardiac output pada posisi supine.
16. Terapi Cairan(1,6)
Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus
mendekati jumlah dan komposisi cairan yang hilang. Terapi cairan
perioperatif bertujuan untuk(1,6):
a. Memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama
operasi.
b. Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang
diberikan.
Pemberian cairan operasi dibagi(1,6) :
a. Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan karena kurang makan, puasa, muntah,
penghisapan isi lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti
pada ileus obstriktif, perdarahan, luka bakar dan lain-lain. Kebutuhan
cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kg BB / jam. Setiap
kenaikan suhu 1o Celcius kebutuhan cairan bertambah 10-15 %.
b. Selama operasi
Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan
cairan pada dewasa untuk operasi :
1) Ringan = 2-4 ml/kgBB/jam.
2) Sedang = 4- 6 ml / kgBB/jam
3) Berat = 6-8 ml / kgBB/jam.
Bila terjadi perdarahan selama operasi, di mana perdarahan kurang dari
10 % EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3

30
kali volume darah yang hilang. Apabila perdarahan lebih dari 10 %
maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran
dengan dosis 1-2 kali darah yang hilang.
c. Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan
selama operasi ditambah kebutuhan sehari-hari pasien.
17. Pemulihan
Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi
dan anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery
room yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca anestesi. Ruang pulih
sadar merupakan batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal
atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian
pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang
disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya.(1,2,3)
Untuk memindahkan pasien dari ruang pulih sadar ke ruang
perawatan perlu dilakukan skoring tentang kondisi pasien setelah anestesi
dan pembedahan. Maka dilakukan penilaian dengan aldrete score dan
bromage score.(3,8)
Bromage Score

31
Aldrete Scoring System
Aldrete Score Jam ke Jam ke Jam ke Jam ke
1/ 15’ 2/15’ 3/15’ 4/15’
Aktivitas
Gerak ke 4 extremitas atas perintah 2
Gerak ke 2 extremitas atas perintah 1
Tidak respon 0
Respirasi
Bisa bernafas dalam dan batuk 2
Dispnoe, hipoventilasi 1
Apnoe 0
Sirkulasi
Perubahan sirkulasi <20% dari TD PreOP 2
Perubahan sirkulasi 20-50% dari TD PreOP 1
Perubahan sirkulasi > 50% dari TD PreOP 0
Kesadaran
Sadar Penuh 2
Dapat dibangunkan 1
Tidak respon 0
Warna kulit
Merah 2
Pucat 1
Sianotik 0
Aldrete skor >7  boleh pindah ke ruang perawatan.

32
B. HERNIA INGUINALIS LATERALIS
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga
melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan/
lokus minoris resistensi. Bagian-bagian hernia meliputi pintu hernia,
kantong hernia, leher hernia dan isi hernia. hernia inguinalis lebih sering
terjadi pada pria, sedangkan hernia femoralis sering ditemukan terjadi
pada wanita.(4)
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah prosesus vaginalis
yang terbuka, peninggian tekanan intra abdomen, dan kelemahan otot
dinding perut karena usia. Selain itu juga mudah terjadi pada individu
yang memiliki kelebihan berat badan, sering mengangkat benda berat, atau
mengedan.(4)
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya terapi untuk hernia.
prinsip dasar operasi meliputi herniotomy, hernio repair (hernioraphy), dan
hernioplasty. Pada herniotomy dilakukan pembebasan kantong hernia
sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada
perlengketan, kemudian direposisi ke kavum abdomen seperti semula.
Kantong hernia dijahit setinggi mungkin lalu dipotong. Pada hernioplasty
dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.(4)
Macam teknik operasi(4):
1). Ferguson
2). Bassini
3). Halsted
4). Mc Vay

33
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembedahan yang akan dilakukan yaitu berupa hernio repair


diperlukan tindakan anestesi untuk menghilangkan rasa nyeri yang ditimbulkan
akibat pembedahan tersebut. Sebelum anestesi dilakukan perlu dilakukan tindakan
pre anestesi.
Permasalahan pada kasus ini :
A. Permasalahan dari segi medik
Pada pasien ini kondisi medis pasien dalam batas normal, tidak
ditemukan penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi jalannya operasi dan
proses penyembuhan post operasi.
B. Permasalahan dari segi bedah
Perdarahan
C. Permasalahan dari segi Anestesi
Pada pasien dengan anastesi regional spinal dapat terjadi: Hipotensi,
Kejang, Hipoventilasi, Mual-muntah, Post operatif headache
Pada kasus ini, yang dilakukkan anestesi spinal, saat operasi terjadi
penurunan tekanan darah. Tekanan darah yang turun setelah anestesi spinal
biasanya sering terjadi. Jika tekanan darah sistolik turun di bawah 100 mmHg
atau terdapat gejala-gejala penurunan tekanan darah, maka harus cepat diatasi
untuk menghindari cedera ginjal, jantung dan otak, di antaranya dengan
memberikan oksigen dan menaikkan kecepatan tetesan infus. Selain itu dapat
diberikan injeksi efedrin HCl 5 mg IV.
Hipotensi terjadi karena :
1. Penurunan venous return ke jantung dan penurunan cardiac out put.
2. Penurunan resistensi perifer.
Penurunan venous return juga dapat menyebabkan bradikardi. Untuk
mengatasi bradikardi yang terjadi diberikan sulfas atropin 0,25 mg IV.
Anestesi spinal terutama yang tinggi dapat menyebabkan paralisis otot
pernapasan, abdominal, intercostal. Oleh karenanya, pasien dapat mengalami

34
kesulitan bernapas. Untuk mencegah hal tersebut, perlu pemberian oksigen
yang adekuat. Pada kasus ini disiapkan pemberian oksigen 3 lpm.
Terapi cairan
Perhitungan cairan pada kasus ini adalah (BB = 60 kg)
1. Defisit cairan karena puasa 8 jam = 2 X 60 X 8 = 960 cc
2. Kebutuhan cairan selama operasi dan karena trauma operasi besar selama
45 menit (0,75 jam) = kebutuhan dasar selama operasi + kebutuhan operasi
besar
= (2 X 60 X 0,75) + (6 X 60 X 0,75) = 90 + 270 = 360 cc
3. Perdarahan selama operasi 100 cc
EBV = 80 X 60 kg = 4800 cc.
Kehilangan darah = 500/4800 X 100% = 10,41 % dari EBV.
4. Jadi kebutuhan cairan total = 960 + 360 + 100 = 1420 cc
5. Jumlah cairan yang telah diberikan :
a. Pra anastesi : 500 cc
b. Saat operasi : 500 cc
Total cairan yang diberikan 1000 cc, kurang 420 cc, sehingga
pengawasan terhadap pemberian cairan masih diperlukan saat pasien berada di
bangsal ditambah kebutuhan cairan per hari selama 24 jam.
Setelah selesai operasi, kondisi pasien distabilkan dulu sebelum dipindah
ke bangsal. Perhatikan selalu tanda vital pasien. Setelah stabil, pasien dibawa
ke bangsal. Yang harus diperhatikan yaitu:
a. Pasien tidur terlentang dengan bantal tinggi selama minimal 12 jam
pasca operasi.
b. Jika pasien sadar penuh dan peristaltik (+) atau flatus (+) boleh
minum/makan sedikit-sedikit setelah operasi.
c. Kontrol vital sign setiap 1 jam.
d. O2 2 lpm.
e. Cairan infus RL 30 tpm.
f. Kontrol balance cairan.

35
BAB V
KESIMPULAN

Pada makalah ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi spinal pada


operasi hernio repair pada penderita laki-laki 83 tahun, status fisik ASA II, dengan
diagnosis hernia inguinalis lateralis dekstra. Dalam kasus ini selama operasi
berlangsung tidak ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari
tindakan operasinya. Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang
memerlukan penanganan serius. Secara umum pelaksanaan operasi dan
penanganan anestesi berlangsung dengan baik.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief, Said A., Kartini A. Suryadi, M. Ruswan Dachlan. 2001. Petunjuk


Praktis Anestesiologi. Jakarta: FKUI.
2. Muhiman, M. dkk. 1989. Anestesiologi. Jakarta: FKUI.
3. Mangku, Gde, Tjokorda Gde Agung Senapathi. 2010. Buku Ajar Ilmu
Anestesia dan Reanimasi. Jakarta: Indeks.
4. De Jong, Wim. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. EGC. Jakarta.
5. Gunawan Sulistia Gan. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta :
FKUI
6. Hartanto, W.W. 2007. Terapi Cairan dan Elektrolit Perioperatif. Bandung:
FK Unpad.
7. Lubis A.B., 2010. Agen Anestesi Lokal. Jakarta: Fakultas Kedokteran Yarsi.
8. Anonim. 2004. Bromage Scale.
http://www.frca.co.uk/article.aspx?articleid=100316
38