Anda di halaman 1dari 20

SISTEM NEUROBEHAVIOR 1

“EPILEPSI PADA ANAK”

Oleh :
Kelompok III

Fauzia Sofiana (00117044)


Heri Supriyanto (00117038)
Risdayanti Siregar (00117039)
Ratnasari Sri M. N (00117021)
Sulastry Pandensolang (00117047)

Kelas : B
Dosen Pembimbing: Ns. Rachmawaty M Noer. S, Kep. M.

STIKES AWAL BROS BATAM


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK
2017/2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai
penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena
itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya
mengalami kejang demam.
Epilepsi merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak.
Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 oC)
yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi
saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 2002; 229).
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 5 bulan sampai
4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang
demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal
tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat
dibandingkan laki-laki. (ME. Sumijati, 2000;72-73).
Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan
sel-sel otak kurang menyenangkan di kemudian hari, terutama adanya cacat baik secara
fisik, mental atau sosial yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. (Iskandar
Wahidiyah, 2001 : 858) .
Epilepsi merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera.
Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari
cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga
perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta
mampu memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi
aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan
serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual.
Prioritas asuhan keperawatan pada Epilepsi adalah : Mencegah/mengendalikan aktivitas
kejang, melindungi pasien dari trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga
diri yang positif, memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis
dan kebutuhan penanganannya. (I Made Kariasa, 2000; 262).

1.2. Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Untuk menegetahui Asuhan Keperawatan pada kasus Epilepsi di Ruang Perawatan
Anak.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian yaitu mengumpulkan data subyektif dan data
obyektif pada pasien dengan Epilepsi.
b. Mampu menganalisa data yang diperoleh
c. Mampu merumuskan diagnosa Keperawatan pada pasien dengan Epilepsi
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang
ditentukan.
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

1.3. Rumusan Masalah


1.3.1. Hasil analisis ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi dan pengetahuan khususnya
untuk pasien Epilepsi dan keluarganya sehingga diharapkan agar keluarga dapat lebih
meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda dan gejala yang terjadi.
1.3.2. Hasil analisis ini diharapkan sebagai bahan masukan, acuan dan pertimbangan bagi
profesi keperawatan untuk lebih meningkatkan edukasi dalam menangani pasien
Epilepsi pada saat memberikan pengobatan.
BAB II
TUJUAN TEORITIS

2.1. Konsep Dasar


2.1.1.Definisi
Epilepsi secara konseptual didefinisikan sebagai kelainan otak ditandai dengan
predisposisi yang bertahan lama menghasilkan serangan epilepsi. Kejang epilepsi adalah
Terjadinya gejala tanda dan / atau gejala dua sampai tidak normal aktivitas neuronal
berlebihan atau sinkron di otak. Memfasilitasi aplikasi praktis epilepsi sebagai istilah
diagnostik, Liga Internasional Melawan Epilepsi (ILAE) berhasil menemukan definisi
operasional epilepsi pada tahun 2014 (Tabel 1). Mungkin paling membantu
mengkonseptualisasikannya. epilepsi bukan sebagai kondisi tunggal tapi sebagai
kelompok. Kondi epilepsi mencerminkan pengakuan bahwa, penyebab dasar serangan
epilepsi keduanya bervariasi dan banyak, dan bahwa manifestasi klinis abnormal.
(Symonds & Zuberi, 2015)

Tabel 1 Liga Internasional Melawan Operasi Epilepsi definisi epilepsi 2014.


Penyakit otak yang didefinisikan oleh salah satu dari berikut ini syarat-syarat:
1. Setidaknya dua serangan wasrovrov atau reflex yang terjadi >24 jam terpisah.
2. Perampasan yang tidak beralasan atau bekas dan kemungkinannya kejang lebih
lanjut mirip dengan risiko kekambuhan umum (pada paling sedikit 60%) setelah
dua serangan tak beralasan, terjadi di atas 10 tahun ke depan.
3. Diagnosis sindrom epilepsi.

Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang


akibatlepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel. Epilepsi
adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam
serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-
sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi . (Symonds & Zuberi,
2015)

Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-
ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron
otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik.

Sindrom epilepsi adalah bentuk klasifikasi epilepsi berupa sekumpulan tanda dan
gejala yang muncul bersamaan dalam suatu serangan epilepsi. Klasifikasi sindrom
epilepsi ini diperkenalkan oleh International League Against Epilepsy (ILAE) pada tahun
1989, yang disusun berdasarkan usia/onset saat terjadi kejang, tipe kejang, status
neurologis, faktor pencetus, gejala dan tanda fisik maupun mental, riwayat keluarga,
gambaran EEG, prognosis serta respon terhadap pengobatan. (Vera, Dewi, & Nursiah,
2014)
2.1.2.Etiologi

Penyebab spesifik dari epilepsi sebagai berikut :

 Kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti ibu


menelan obat-obat tertentu yang dapat merusak otak janin, mengalami infeksi,
minum alcohol, atau mengalami cidera.
 Kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang mengalir ke
otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan.
 Cidera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak
 Tumor otak merupakan penyebab epilepsi yang tidak umum terutama pada anak-
anak.
 Penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak
 Radang atau infeksi pada otak dan selaput otak
 Penyakit keturunan seperti fenilketonuria (fku), sclerosis tuberose dan
neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang.
 Kecendrungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena
ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normal diturunkan pada anak

Epilepsi Primer (Idiopatik) hingga kini tidak ditemukan penyebabnya, tidak


ditemukan kelainan pada jaringan otak diduga bahwa terdapat kelainan atau gangguan
keseimbangan zat kimiawi dan sel-sel saraf pada area jaringan otak yang abnormal.
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik). Sering terjadi
pada:

a. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum


b. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
c. Keracunan CO, intoksikasi obat/alcohol
d. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
e. Tumor Otak
f. Kelainan pembuluh darah(Tarwoto, 2007)

Epilepsi Sekunder (Simtomatik) Epilepsi yang diketahui penyebabnya atau akibat


adanya kelainan pada jaringan otak. Kelainan ini dapat disebabkan karena dibawa sejak
lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan otak pada waktu lahir atau pada
masa perkembangan anak, cedera kepala (termasuk cedera selama atau sebelum kelahiran),
gangguan metabolisme dan nutrisi (misalnya hipoglikemi, fenilketonuria (PKU), defisiensi
vitamin B6), faktor-faktor toksik (putus alkohol, uremia), ensefalitis, anoksia, gangguan
sirkulasi, dan neoplasma.

Penyebab step / childhood epilepsi / epilepsi anak-anak:

a. fever / panas (these are called febrile seizures)


b. genetic causes
c. head injury / luka di kepala.
d. infections of the brain and its coverings
e. lack of oxygen to the brain/ kekurangan oksigen, terutama saat proses kelahiran.
f. hydrocephalus/pembesaran ukuran kepala (excess water in the brain cavities)
g. disorders of brain development / gangguan perkembangan otak.

2.1.3.Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari epilepsi dibagi berdasarkan klasifikasi dari epilepsi, yaitu :

1. Kejang parsial
Lesi yang terdapat pada kejang parsial berasal dari sebagian kecil dari otak atau
satu hemisfer serebrum. Kejang terjadi pada satu sisi atau satu bagian tubuh dan
kesadaran penderita umumnya masih baik.

a. Kejang parsial sederhana


Gejala yang timbul berupa kejang motorik fokal, femnomena halusina torik,
psikoilusi, atau emosional kompleks. Pada kejang parsial sederhana, kesadaran
penderita masih baik.
b. Kejang parsial kompleks
Gejala bervariasi dan hampir sama dengan kejang parsial sederhana, tetapi yang
paling khas terjadi adalah penurunan kesadaran dan otomatisme.
2. Kejang umum
Lesi yang terdapat pada kejang umum berasal dari sebagian besar dari otak atau
kedua hemisfer serebrum. Kejang terjadi pada seluruh bagian tubuh dan kesadaran
penderita umumnya menurun.
a. Kejang Absans
Hilangnya kesadaran sessat (beberapa detik) dan mendadak disertai amnesia.
Serangan tersebut tanpa disertai peringatan seperti aura atau halusinasi, sehingga
sering tidak terdeteksi.
b. Kejang Atonik
Hilangnya tonus mendadak dan biasanya total pada otot anggota badan, leher, dan
badan. Durasi kejang bisa sangat singkat atau lebih lama.
c. Kejang Mioklonik
Ditandai dengan kontraksi otot bilateral simetris yang cepat dan singkat. Kejang
yang terjadi dapat tunggal atau berulang.
d. Kejang Tonik-Klonik
Klonik Sering disebut dengan kejang grand mal. Kesadaran hilang dengan cepat
dan total disertai kontraksi menetap dan masif di seluruh otot. Mata mengalami
deviasi ke atas. Fase tonik berlangsung 10 - 20 detik dan diikuti oleh fase klonik
yang berlangsung sekitar 30 detik. Selama fase tonik, tampak jelas fenomena
otonom yang terjadi seperti dilatasi pupil, pengeluaran air liur, dan peningkatan
denyut jantung.
e. Kejang Klonik
Gejala yang terjadi hampir sama dengan kejang mioklonik, tetapi kejang yang
terjadi berlangsung lebih lama, biasanya sampai 2 menit.
f. Kejang Tonik
Ditandai dengan kaku dan tegang pada otot. Penderita sering mengalami jatuh
akibat hilangnya keseimbangan,

2.1.4.Patofisiologi
Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan

pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-juta neuron. Pada

hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik saraf yang

berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps.

Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine dan

norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-

amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam

sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik saraf di otak yang

dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui

sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga

seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi).

Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan

menyebar kebagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya

kesadaran.

Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat

merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan

menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat

manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran. (Hidayat,2009)


Pathway

Durasi pendek Durasi pendek


< 15 menit < 15 menit

Hiperkapni Hipoksemia Denyut jantung meningkat

Kerusakan Neuron otak


Demam Meningkat

Takikardi Gangguan saraf otonom


Dx : tidak efektif
termoregulasi
peningkatan suhu Dx : jalan nafas tidak efektif

Dispnea O2 Menurun

Gangguan keseimbangan membran sel neuron Kebutuhan O2 Meningkat

Disfusi Na+& K+ Berlebilahan Kesadaran menurun

Pelepasan muatan listrik semakin meluas ke Dx : gangguan perfusi jaringan


seluruh sel maupun membran sel disekitarnya
dengan bantuan neorotransiter

Dx : Resiko Cidera
Kejang

Parsial Umum

Sederhana Komplek Mioklonik tonik Atonik

klonik Tonik-klonik
2.1.5.Komplikasi
2.1.6.Pemeriksaan Penunjang
1. Elektroensefalografi (EEG).
Pemeriksaan EEG tidak sepenuhnya mendukung ataupun menyingkirkan
diagnosis epilepsi, kurang lebih 5% pasien tanpa epilepsi mempunyai kelainan EEG
berupa aktivitas epilepsi pada rekaman EEG, dan hanya 50% pasien dengan epilepsi
memiliki aktivitas epileptiform pada rekaman EEG pertamanya11. EEG sangat
berperan dalam menegakkan diagnosis epilepsi dan memberikan informasi berkaitan
dengan sindrom epilepsi, serta dalam menentukan lokasi atau fokus kejang
khususnya pada kasus-kasus kejang fokal15-17. Prosedur standar yang digunakan
pada pemeriksaan EEG adalah rekaman EEG saat tidur (sleep deprivation), pada
kondisi hiperventilasi dan stimulasi fotik, dimana ketiga keadaan tersebut dapat
mendeteksi aktivitas epileptiform. Selain ketiga prosedur standar diatas dikenal pula
rekaman Video-EEG dan ambulatory EEG, yang dapat memperlihatkan aktivitas
elektrik pada otak selama kejang berlangsung11,15-17.
2. MRI
MRI merupakan pemeriksaan pencitraan yang sangat penting pada kasus-
kasus epilepsi karena MRI dapat memperlihatkan struktur otak dengan sensitivitas
yang tinggi. Gambaran yang dihasilkan oleh MRI dapat digunakan untuk
membedakan kelainan pada otak, seperti gangguan perkembangan otak (sklerosis
hipokampus, disgenesis kortikal), tumor otak, kelainan pembuluh darah otak
(hemangioma kavernosa) serta abnormalitas lainnya18.Meskipun MRI memiliki
banyak keunggulan, pemeriksaan dengan MRI tidak dilakukan pada semua jenis
epilepsi.MRI tidak dianjurkan pada sindrom epilepsi dengan kejang umum karena
jenis epilepsi ini biasanya bukan disebabkan oleh gangguan struktural. Demikian juga
halnya dengan BETCS, karena BETCS tidak disebabkan oleh gangguan pada otak18.
3. CT Scane
Walaupun CT Scan sering memberikan hasil yang normal pada kebanyakan
kasus epilepsi, CT Scan merupakan pemeriksaan penunjang yang cukup penting
karena dapat menunjukkan kelainan pada otak seperti atrofi jaringan otak, jaringan
parut, tumor dan kelainan pada pembuluh darah otak19. (Vera, Dewi, & Nursiah,
2014)

2.2. Asuhan Keperawatan


2.2.1. Pengkajian
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, tangal pengkajian, No register,
tanggal rawat dan penanggung jawab dan perawat mengumbpulkan informasi informasi
tentang riwayat kejang pasien. Pasien ditanyakan tentang faktor atau kejadian yang
dapat menimbulkan kejang. Asupan alkohol dicatat. Efek epilepsi pada gaya hidup
dikaji:
a. ada keterbatasan yang ditimbulkan oleh gangguan kejang

b. pasien mempunyai program rekreasi atau Kontak sosial

c. pengalaman kerja

d. Mekanisme koping yang digunakan

e. Obsevasi dan pengkajian selama dan setelah kejang akan membantu dalam

mengindentifikasi tipe kejang dan penatalaksanaannya.

1. Selama serangan :

a. ada kehilangan kesadaran atau pingsan.

b. ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.

c. pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.


d. disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik, kejang tonik-

klonik, kejang mioklonik, kejang atonik.

e. pasien menggigit lidah.

f. mulut berbuih.

g. ada inkontinen urin.

h. bibir atau muka berubah warna.

i. mata atau kepala menyimpang pada satu posisi.

j. Berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah pada satu sisi

atau keduanya.

k. ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam, kurang tidur,

keadaan emosional.

l. penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai dengan

gangguan kesadaran, kejang-kejang.

m. Apakah pernah menderita cedera otak, operasi otak.

n. Apakah makan obat-obat tertentu.

o. ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

2. Sesudah serangan

a. pasien : letargi , bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan bicara

b. ada perubahan dalam gerakan.

c. Sesudah serangan pasien masih ingat yang terjadi sebelum, selama dan sesudah

serangan.

d. terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernapasan atau frekuensi denyut jantung.

e. Evaluasi kemungkinan terjadi cedera selama kejang.

3. Riwayat sebelum serangan

a. ada gangguan tingkah laku, emosi.

b. disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar.

c. ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik, olfaktorik maupun

visual.

4. Riwayat Penyakit

a. Sejak kapan serangan terjadi.


b. Padausiaberapaseranganpertama.

c. Frekuensi serangan.

5. Riwayat kesehatan

a. Riwayat keluarga dengan kejang.

b. Riwayat kejang demam.

c. Tumor intrakranial.

d. Trauma kepala terbuka, stroke.

6 Riwayat kejang

a. Berapa sering terjadi kejang

b. Gambaran kejang seperti apa

c. sebelum kejang ada tanda-tanda awal

d. yang dilakuakn pasien setelah kejang

7. Riwayat penggunaan obat

a. Nama obat yang dipakai

b. Dosis obat

c. Berapa kali penggunaan obat

8. Pemeriksaan fisik

a. Tingkat kesadaran

b. Abnormal posisi mata

c. Perubahan pupil

d. Garakan motorik

e. Tingkah laku setelah kejang

f. Apnea

g. Cyanosis

h. Saliva banyak

9. Psikososial

a. Usia

b. Jenis kelamin

c. Pekerjaan

d. Peran dalam keluarga

e. Strategi koping yang digunakan


f. Gaya hidup dan dukungan yang ada

10. Pengetahuan pasien dan keluarga

a. Kondisi penyakit dan pengobatan

b. Kondisi kronik

c. Kemampuan membaca dan belajar.

(Utopias,2008)

2.2.2.Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea,
peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.
2. Termogulasi tidak efektif : Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolik, proses
infeksi
3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama
kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol (
gangguan keseimbangan )
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang
pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.
(Rencana Asuhan Keperawatan :262-268)
2.2.3.Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di
endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.
Tujuan : Setelah dilakukan askep 3x24 Jam masalah bersihan jalan nafas tidak
efektif tidak terjadi dan teratasi.
Kriteria hasil : nafas normal ( 25 – 30 x/menit ), tidak tejadi aspirasi, tidak ada
dispnea, tidak ada penumpukan sekret.
INTERVENSI RASIONAL

1. Anjurkan klien untuk 1. Menurunkan resiko aspirasi atau


mengosongkan mulut dari masuknya sesuatu benda asing kedalam
benda/zat tertentu tirah baring

2. Letakkan klien dalam posisi 2. Meningkatkan aliran (drainase), sekret,


miring dan pada permukaan mencegah lidah jatuh dan menyumbat
datar jalan nafas

3. Tanggalkan pakaian klien 3. Untuk memudahkan usaha klien dalam


pada daerah leher atau dada bernafas dan ekspansi dada
dan abdomen
4. Mengeluarkan mukus yang berlebihan
4. Melakukan penghisapan menurunkan resiko aspirasi atau afeksia
sesuai indikasi
5. Membantu pemenuhi kebutuhan oksigen
adar tetap adekuat.
5. Berikan oksigen sesuai
program terai

2. Termogulasi tidak efektif : Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolik,


proses infeksi
Tujuan : Setelah dilakukan askep 3x24 Jam, masalah termogulasi tidak efektif
teratasi.
Kriterua hasil : Demam berkurang, suhu normal 36,5 – 37,5 ̊ C , Nadi dan RR
normal, tidak ada perubahan warna kulit
INTERVENSI RASIONAL

1. Kaji faktor-faktor terjadinya 1. Mengetahui penyebab terjadinya


peningkatan suhu peningkatan suhu tubuh karena penambahan
pakaian / selimut dapat menghambat
penurunan suhu.

2. Observasi tanda – tanda vital 2. Pemantauan tanda vital yang teratur dapat
menentukan perkembangan keperawatan
selanjutnya.

3. Proses konduksi / perpindahan panas dengan


3. Ajarkan keluarga cara memberikan
suatu bahan perantara.
kompres dibagian kepala / ketiak

4. Proses hilangnya panas akan terhalangi oleh


4. Anjurkan untuk menggunakan pakaian
pakaian tebal dan tidak dapat menyerap
tipis yang terbuat dari kain katun
keringat.

5. Berikan ekstra cairan dengan 5. Kebutuhan cairan meningkat karena


menganjurkan klien banyak minum penguapan tubuh yang meningkat.

3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif


selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang
yang terkontrol ( gangguan keseimbangan ).
Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 3x24 Jam masalah resiko terhadap cidera
teratasi dan tidak terjadi.
Kriteria Hasil : tidak terjadi cidera fisik pada klien, klien dalam kondisi aman,
tidak ada memar dan tidak ada resiko terjatuh.

INERVENSI RASIONAL

1. Identifikasi faktor lingkungan 1. Dengan menjauhkan barang-barang


yang memungkinkan resiko disekitarnya dapat membahayakan
terjadinya cidera saat terjadinya kejang
2. Pasang penghalang ditempat 2. Penjagaan untuk keamanan, untuk
tidur mencegah terjadinya cidera pada
klien

3. Letakkan klien ditempat tidur 3. Area yang rendah dan datar dapat
yang rendah & datar mencegah terjadinya cidera pada
klien

4. Lidah berpotensi tergigit saat


4. Siapkan kain lunak untuk
kejang karena saat kejang biasanya
mencegah terjadinya tergigitnya
lidah menjulur kedepan
lidah saat kejang

5. Mengurangi aktivitas kejang yang


5. Berikan obat anti kejang
berkepanjangan yang dapat
mengurangi suplai oksigen

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan


kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.
Tujuan : Setelah dilakukan askep 1x24 Jam masalah kurang pengetahuan mengenai
kondisi dan aturan pengobatan teratasi.
Kriteria hasil : Mampu mengungkapkan pemahaman tentang gangguan dan
berbagai rangsangan yang telah diberikan, mulai merubah perilaku, mentaati
peraturan obat yang diresepkan.

INTERVENSI RASIONAL
1. Jelaskan mengenai prognosis 1. Memberikan kesempatan untuk
penyakit dan perlunya mengklarifikasi kesalahan persepsi
pengobatan & keadaan penyakit yang ada

2. Pengetahuan yang diberikan


2. Berikan informasi yang adekuat mampu menurunkan resiko dari
tentang prognosis penyakit dan efek bahay satu penyakit & cara
tentang interaksi obat yang menanganinya
potensial
3. Kebutuhan terpeutik dapat
berubah sehingga mempersiapkan
3. Tekankan perlunya untuk
kemungkinan yang akan terjadi
melakukan evaluasi yang
teratur/melakukan pemeriksaan
laboratorium sesuai indikasi
4. Aktivitas yang sedang & teratur
dapat membantu
4. Diskusikan manfaat kesalahan menurunkan/mengendalikan
umum yang baik, seperti diet faktor presdiposisi
yang adekuat & istirahat cukup

2.2.4.Implementasi Kepeawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan
kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan
kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

2.2.5.Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data
subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan
sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari
identifikasi dan analisa masalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162).
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1. Pengkajian
3.2.Diagnosa Keerawatan
3.3.Intervensi Keperawatan
3.4.Implementasi Keperawatan
3.5.Evaluasi Keperawatan
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan epilepsi didapatkan kesimpulan
sebagai berikut:
1. Pengkajian

Pengkajian terpenting dari Epilepsi adalah melakukan anamnese selengkap mungkin serta

pemeriksaan fisik untuk menetukan penyebab kejang terjadi. Apabila dari anamnese dan

pemeriksaan fisik masih sulit menentukan penyebab Epilepsi maka dilakukan pemeriksaan

penunjang. Dan setelah dilakukan pemeriksaan penunjang EEG maka didaatkan hasil yang

menunjukkan hasil EEG abnormal dan menyatakan An.B mengalami Epelepsi

2. Analisa dan Sintesa Data

Pada tahap analisa data dan sintesa data dalam kasus nyata penulis hanya menemukan

4 diagnosa keperawatan, yaitu :

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di

endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

b. Termogulasi tidak efektif : peningkatan suhu berhubungan dengan peningkatan

metabolik, proses infeksi

c. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif

selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang

terkontrol ( gangguan keseimbangan )

d. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan

kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.

3. Diagnosa / Masalah Keperawatan

Masalah/diagnosa keperawatan yang muncul akibat dari kejang demam adalah

potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi, Ketidakefektifan

bersihan jalan nafas , Resiko terhadap cidera, kurangnya pengetahuan keluarga tentang

penyakit berhubungan dengan keterbatasan informasi.


4. Perencanaan

Pada tahap perencanaan dalam kasus nyata ada beberapa langkah tindakan yang

ditambahkan penulis selain yang terdapat dalam tinjauan pustaka sesuai kebutuhan klien

saat itu.

5. Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan dalam kasus nyata tidak menemui kesulitan karena sikap

keluarga yang kooperatif dan sarana dan prasarana yang memadai.

6. Evaluasi

Evaluasi merupakan kunci keberhasilan dari proses keperawatan, terdiri atas

tinjauan laporan pasien dan pengkajian kembali keadaan pasien. Dengan evaluasi akan

membantu perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien yang dapat berubah-ubah.

4.2. Saran
4.2.1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Meningkatkan pengetahuan keluarga dengan cara membuat tool-tool evaluasi
perkembangan pasien di rumah, yang harus diisi oleh keluarga. Membekali keluarga
pasien yang terdekat untuk dapat memahami, mengenali, dan bertindak secara efektif
mengenai permasalahan-permasalah yang dialami pasien.
4.2.2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Institusi pendidikan dan pelayanan harus lebih aktif dalam meningkatkan kualitas
asuhan keperawatan pada pasien Epilepsi dengan selalu mengikuti perkembangan
evidence based.
4.2.3. Bagi Institusi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan untuk lebih meningkatkan pemberian informasi dan
konseling terkait penyakit Epilepsi dan pengobatannya pada keluarga pasien agar
keluarga dapat lebih memotivasi pasien dalam menjalani program pengobatan secara
baik.
4.2.4. Bagi Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait penyakit Epilepsi sehingga apabila
terdapat keluarga yang mengalami Epilepsi, keluarga dapat memotivasi anggota
keluarganya yang sedang menjalani program pengobatan.
Daftar Pustaka

Symonds, J. D., & Zuberi, S. M. (2015). Update on diagnosis and managemen of childhood epilepsies.
Journal de Pediatria , 1-11.

Vera, R., Dewi, M. A., & Nursiah. (2014). Sindrom Epilepsi Pada Anak. Journal Epilepsy , 74.