Anda di halaman 1dari 14

ORIENTASI POLITIS-TEOLOGIS GERAKAN SALAFI-JIHADI

Ahmad Musonnif

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung


Jl. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung Jawa Timur

Email: sonetless@gmail.com

Abstract
The case on defining and describing islamic movement becomes an
interesting discussion among the scholars. There are two
approaches in explaining the militant islamic movement. First,
using terms based on theology such as ‘salafi>’, ‘takfiri>’, and
‘jiha>di>’. Second, using terms based on political orientation
such as state-oriented, nation-oriented, Ummah-oriented, Morality-
oriented, sectarian. Identifying salafi as jihadi is improper since the
fact shows that the salafi is not in line with the jihadi movement,
whereas the jihadi movement is in contrast to the salafi doctrine.
Key Words: Salafi>, Jiha>di>, Takfiri>, Theologic,
Political Orientation.

Abstrak
Persoalan tentang bagaimana mendefinisikan dan mendeskripsikan
gerakan islamis menjadi diskusi menarik dianatar para pakar. Ada
dua pendekatan dalam menjelaskan gerakan militant Islam.
Pertama, dengan menggunakan term-term berbasis teologis seperti
‘salafi>’, ‘takfiri>’, dan ‘jiha>di>’. Yang kedua dengan
menggunakan term-term berdasarkan pilihan politik, seperti state-
oriented, nation-oriented, Ummah-oriented, Morality-oriented,
sectarian. Pengidentikan salafi dengan jihadi kurang tepat karena
didapati fakta bahwa ada kelompok salafi yang tidak sepakat
dengan gerakan jihadi, begitu pula ada kelompok jihadi yang tidak
menyukai doktrin salafi.
Kata Kunci: Salafi>, Jiha>di>, Takfiri>, teologis, pilihan
politik.

PENDAHULUAN
2 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

Permasalah utama dalam membahas tentang jihadi salafi adalah tentang


bagaimana merumuskan konsep yang menjelaskan gerakan para Islamis dan
bagaimana melabeli para aktor dan model-model gerakan mereka. Sejak tahun 80-
an para sarjana lebih cenderung mengadopsi konsep-konsep para penulis arab
sendiri dalam menjelaskan gerakan para Islamis tersebut. Term-term yang paling
sering digunakan dalam literatur akademik atau media massa untuk menjelaskan
tentang gerakan para islamis adalah jiha>di, takfiri, salafi, dan jiha>di-
salafi. Term-term ini dianggap paling tepat untuk menjelaskan gerakan Islamis,
tetapi pada saat yang sama literatur akademik sering kurang memadai dalam
menjelaskan definisi term-term tersebut dan terkadang tidak konsisten dalam
memakai term-term tersebut untuk melabeli suatu kelompok atau ideologi
tertentu.
Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan asal usul dan
definisi term-term seperti jihadi, salafi, dan takfiri serta hubungannya dengan pola
prilaku politik yang ditampilkan oleh kelompok-kelompok Islamis. Fokus analisa
ini adalah prilaku politik yang dengan mudah dilihat (observable) yaitu tindak
kekerasan (violence). Tujuan kajian ini adalah untuk menjawab dua persoalan
penting, pertama, sejauhmana peran politik dan agama dalam menentukan prilaku
para aktor Islamis. Kedua, apakah gerakan Islamis ini benar-benar berbeda dengan
fenomena gerakan politik dan keagamaan yang lain.1

Sistematika.
Pertama, melakukan review terhadap term-term arab seperti jihadi, salafi,
dan takfiri, yang sering digunakan dalam wacana akademis tentang islam radikal.
Kedua, menjelaskan problem yang terjadi ketika menggunakan term-term teologis
digunakan untuk menganalisa prilaku politik dan kekerasan politik. Ketiga,
memberikan alternatif pendekatan untuk mengklasififikasi para aktor Islamis
berdasarkan pilihan politik. Keempat, mendiskusikan implikasi dan keterbatasan
pendekatan tersebut di atas serta manfaat menggunakan tipologi yang berbasis
teologis dan pilihan politik. Kelima, perdebatan antar kelompok salafi-jihadi

1 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis or Revolusionaries? On Religion and Politics in the Study
of Militan Islam, dalam Roel Meijer (ed), Global Salafism:Islam New Religious Movement, (Husrt
& Company, London, 2009), h. 245.
Ahmad Musonnif, Orientasi... | 3

Term-term Berdasarkan Teologi.


Jihadi
Term jihadi atau jihadism paling sering digunakan dalam literatur akademis
dan media massa dalam menjelaskan gerakan radikal Islam. Kata ‘jihadi’ berasal
dari kata jihad yang berarti berjuang atau perang suci (struggle and holy war).
Jihadism mulai digunakan dalam wacana akdemis pada akhir tahun 90-an. Sejak
peristiwa 9 septermber, istilah ini mulai digunakan untuk membedakan gerakan
Islamis yang disertai kekerasan dengan gerakan Islamis yang progresif,
demokratis, dan anti kekerasan. Term jihadi sering diatributkan dengan kelompok
Islam militan, meskipun term jihadi tidak pernah digunakan untuk melabeli
kelompok syiah militan seperti hizbullah atau kelompok orang palestina seperti
hamas.
Istilah jihadi sering dipandang skeptis oleh kalangan umat Islam, karena
konsep jihadi yang sangat religius ini sering diidentikkan kekerasan yang
dilarang. Para akademis barat (dan juga muslim liberal) sering menjelaskan
kelompok Islam garis keras dengan istilah ini. Kelompok muslim konservatif
secara normatif memandang bahwa tidaklah adil jika term jihad dalam Islam
digunakan untuk mengaitkan Islam dengan terorisme. Di kalangan muslim sendiri
tidak menyebut kelompok muslim militan dengan ‘jihadi’, tetapi mereka memilih
untuk menggunakan istilah irhabiyyu>n (teroris), khawarij (sempalan),
munh}arifu>n (menyimpang), atau al-fi’ah al-d}allah (aliran sesat).2

Takfiri
Pada tahun 70an term takfiri mulai sering digunakan untuk melabeli
kelompok oposisi pemerintah di negara-negara Arab. Istilah takfir ini sering
digunakan pers yang pro pemerintah untuk menekan kelompok oposisi. Kekuatan
term takfiri berasal dari term ‘kafir’ yang memiliki implikasi religius untuk
menyatakan bahwa seorang muslim telah keluar dari agamanya. Dalam fikih
klasik takfir memiliki implikasi serius. Takfir hanya bisa dinyatakan oleh otoritas
keagamaan pada lingkungan tertentu. Tujuan utama dari takfir ini adalah untuk

2 Ibid, h. 245-246.
4 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

mencegah prilaku kekafiran agar tidak menyebar di kalangan umat Islam. Dalam
masyarakat muslim yang lebih luar kafir berarti pemberontakan atau ekstrimisme.
Dalam konteks politik modern istilah kafir sering digunakan suatu kelompok
muslim untuk mengucilkan kelompok muslim yang lain. Pada prakteknya takfir
digunakan dalam tiga macam situasi. Pertama, ketika kelompok oposisi ingin
menyatakan bahwa regim yang berkuasa tidak sah secara politik, maka kelompok
oposisi akan menuduh mereka kafir agar dapat melakukan tindak kekerasan
terhadap mereka.kedua, ketika perwakilan kelompok konservatif yang mayoritas
ingin menekan para pencetus pandangan keagamaan yang minoritas, seperti
kelompok intektual progresif.ketiga, ketiga sekelompok kecil muslim memandang
bahwa mayoritas muslim yang ada disekitar mereka rusak secara moral.
Kelompok ini akan mengasingkan diri dari dunia ramai dan tidak melakukan
tindak kekerasan.
Kata kafir merupakan label yang dialamatkan kepada sekelompok muslim
oleh kelompok muslim lain yang menjadi musuh mereka.istilah kafir ini
digunakan untuk menekan lawan politik. Padanan kata yang digunakan orang
barat untuk menekan lawan politik mereka adalah ‘teroris’.3

Salafi
Di antara istilah yang sering digunakan dalam wacana gerakan keagamaan
Islam kontemporer adalah ‘salafi’. Dalam komunitas Islamis, istilah salafi sering
dipertentangkan dengan istilah ‘kafir’, dalam arti bahwa tidak mungkin seseorang
menyebut dirinya kafir, dan kebanyakan mereka lebih suka menyebut dirinya
salafi. Persoalan yang muncul adalah tentang bagaimana istilah ‘salafi’ ini
muncul. Kelompok Islamis sering menggunakan istilah ini secara normatif,
sedangkan para peneliti memahami istilah ini sebagai sebuah label yang
deskriptif. Sangat sulit mendefinisikan term salafi ini, karena tulisan ini
membahas tentang gerakan Islamisme, maka akan lebih baik jika fokus pada
persoalan bagaimana istilah salafi ini berpengaruh kepada prilaku politik.
Kebanyakan literatur akademik menyatakan bahwa term salafi berasal dari
istilah al-salaf al-s}a>lih} (para pendahulu yang baik). Kelompok salafi ini

3 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis..., Ibid,. h. 246-248.


Ahmad Musonnif, Orientasi... | 5

percaya bahwa rujukan untuk berbuat dan berfikir hanya al-qur’an dan hadits saja.
Ada pemahaman umum bahwa salafi merupakan corak pemikiran dengan
pendekatan literalis dan kaku terhadap doktrin dan praktik keagamaan.
Istilah salafi sering digunakan kelompok muslim sunni konservatif untuk
menggambarkan dirinya sendiri. Banyak kelompok Islamis yang menggunakan
istilah ‘salafi’ sebagai nama kelompok mereka, seperti ‘al-jama>’ah al-
salafiyyah li> al-da’wah wa al-qita>l’ di Aljazair. Alasan digunakannya
istilah salafi ini adalah konotasinya kepada kemurnian doktrin yang akan
memperkuat legitimasi kelompok mereka secara keagamaan dan politik. Karena
itu istilah salafi sering dipahami sebagai alat legitimasi dari pada sebagai
penjelasan tentang program politik kelompok. Dalam beberapa kasus penyebutan
diri dengan salafi bertujuan untuk menunjukkan ‘keotentikan’.
Hal menarik yang perlu diperhatikan adalah bahwa orang-orang yang
dilabeli ‘salafi’ atau mengaku sebagai ‘salafi’ secara politik terpisah dalam
kelompok-kelompok berbeda. Bahkan di antara mereka, dalam beberapa kasus,
memiliki pandangan yang saling bertentangan. Ambillah contoh Abu Muhammad
al-Maqdisi, yang dikenal beraliran salafi, beroposisi dengan para ulama yang
mendukung penguasa saudi arabia yang juga dilabeli sebagai salafi. Karena itu
bisa dikatakan bahwa term ‘salafi’ tidak bisa dijadikan sebagai alat kategorisasi
secara politik, tetapi merupakan kategorisasi yang bersifat teologis.
Sebenarnya term ‘salafi’ dalam arti luas dapat dijelaskan sebagai
sekelompok intelektual tertentu atau seperangkat tradisi tertentu yang berlabel
salafi. Karena itu term salafi dapat merujuk Intelektual generasi awal yang dilabeli
salafi misalnya Ahmad bin Hanbal, Ibn Taymiyyah, Muhammad Ibn Abdul
Wahhab dan lainnya. Atau juga merujuk kepada tradisi yang menekankan kepada
praktik ritual atau prilaku moral tertentu.
Dalam konteks geografis, term salafi sering berkonotasi kepada pilihan
politik tertentu. Dalam konteks negara Kuwait misalnya ketika menyebut Istilah
salafi, maka itu merujuk kepada kelompok yang bukan dari Ikhwan al-Muslimun.
Demikian pula di Perancis, jika menyebut term salafi berarti merujuk kepada
kelompok selain Ikhwan dan Tabligh. Karena itu sangatlah problematik jika
mengatakan bahwa para aktor yang berlabel salafi dikatakan sebagai bagian dari
6 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

gerakan salafi transnasional (Global salafism). Karena masing-masing mereka


memiliki agenda dan strategi perjuangan yang berbeda-beda.4

Jiha>di>-Salafi>
Asal usul term ‘jiha>di>-salafi>’ tidaklah jelas. Hanya saja istilah ini
pernah disampaikan oleh Abu Muhammad al-Maqdisi pada tahun 90an. Meskipun
demikian, dalam wawancara pada tahun 2002, al-Maqdisi mengatakan bahwa,
kelompoknya tidak pernah menggunakan term ‘jiha>di>-salafi>’ sebagai
nama, tetapi term tersebut diatributkan oleh orang luar kepada kelompoknya. Ada
juga yang menyatakan bahwa Istilah ini muncul dari kelompok mujahid yang
bercorak wahabi di Afganistan yang dipimpin oleh Jamil al-Rahman pada akhir
tahun 80 an sampai awal tahun 90 an.
Menurut data tertulis term jiha>di>-salafi> mulai populer pada awal
tahun 90 an di London. Rujukan tertulis tentang ini adalah hasil wawancara
dengan Ayman al-Zawahiri yang dipublikasikan pada majalah al-Ans}a>r yang
berbasis di London tahun 1994. Dala literatur akademik term jiha>di>-salafi>
mulai digunakan dalam studi yang dilakukan oleh Gilles Kepel dan Kamil al-
Tawil tahun 1998. Term jiha>di>-salafi> mulai marak dibicarakan di barat
sejak tahun 2003 seiring terjadinya aksi teror yang disebut dilakukan oleh
‘salafiyah-jiha>diyah di Maroko.
Meskipun term jiha>di>-salafi> cukup populer, tetapi masih sulit untuk
menemukan karakteristik prilaku politik dan definisi yang tepat term tersebut.
Definisi jiha>di>-salafi> yang diberikan oleh aktor Islam radikal ataupun
peneliti dari luar, masih terkesan samar. Al-Maqdisi menggambarkan jiha>di>-
salafi> sebagai ‘aliran yang menyeru kepada tawhid melalui jihad. Sedangakan
wikipedia berbahasa arab menjelaskan bahwa jiha>di>-salafi> merupakan
panggilan jihad untuk mengubah sesuatu yang dianggap salah, keluar dari syariah,
dan mengganggu agama. Jihad merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang
tidak boleh dihindari.
Meskipun definisi jiha>di>-salafi> masih belum jelas, dalam literatur
akademik tentang Islam militan, banyak para akademisi yang menyatakan bahwa

4 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis... Ibid , h. 248-251.


Ahmad Musonnif, Orientasi... | 7

jiha>di>-salafi> memiliki tiga karakteristik yang bersifat politik. Pertama,


jiha>di>-salafi> merupakan kekompok yang dianggap lebih ekstrim dan
keras dari pada kelompok lain. Kedua, jiha>di>-salafi> diatributkan kepada
tradisi dan wacana keagamaan kelompok wahabi ketika dipertentangkan dengan
ideologi pragmatis dan wacana keagamaan Ikhwan al-muslimun yang dipimpin
oleh sayyid Qutb. Ketiga, jiha>di>-salafi> digambarkan sebagai kelopmpok
Islamis yang lebih internasionalis dan anti Barat dari pada kelompok lain.
Sebenarnya karakteristik yang tersebut di atas sulit dioperasionalkan dalam
menganalisa gerakan islamis. Untuk kekerasan dijadikan sebagai ukuran untuk
tipologi jiha>di>-salafi>, kita mendapati bahwa ada sekelompok orang yang
dilabeli jiha>di>-salafi> yang tidak sepakat dengan tindak kekerasan. Selain
itu tindak kekerasan juga dilakukan oleh kelompok islami yang tidak berlabel
jiha>di>-salafi>.
Untuk karakteristik yang kedua, sangatlah tidak tepat melakukan dikotomi
wahabi dan Ikhwan al-Muslimun. Para aktivis Ikhwan yang tewas sebagai syahid
seperti Marwan Hadid dan Abdullah Azzam digambarkan sebagai jiha>di>-
salafi>. Selain itu Sayyid Qutb dan Faraj mengutib Ibnu Taymiyyah dalam
tulisan mereka. Karakteristik yang ketiga juga problematik. Karena tidak semua
kelompok jihadi-salafi yang memiliki agenda anti Barat. Sebagian kelompok dari
mereka ada yang menjadikan penguasa lokal sebagai lawan, misalnya kelompok
jiha>di>-salafi> di al-Jazair.
Sebagai konsep teologis, term salafi> atau jiha>di>-salafi> memiliki
keterbatasan jika dijadikan sebagai pisau analisis untuk gerakan militas Islam.
Karena ketika memiliki atribut salafi atau jiha>di>-salafi> tidak memastikan
bahwa aktor memiliki kecenderungan untuk melakukan tindak kekerasan. Selain
itu term tersebut tidak bisa menjelaskan siapa lawan dari kelompok ini.5

Term-term berdasarkan pilihan politik


Ada sebuah pendekatan yang lebih tepat untuk menganalisis gerakan militan
Islam, yaitu kategorisasi berdasarkan pilihan politik dan prilaku politik.
Pendekatan model ini bukanlah hal baru. Tipologi berdasarlan pilihan politik yang

5 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis...Ibid , h. 251-257.


8 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

masih mentah telah digunakan oleh beberapa akademisi selama beberapa waktu.
Pada awal tahun 80 an Gilles Kepel menjelaskan adanya perbedaan karakteristik
politik antara kelompok Ikhwan al-Muslimun yang bersifat gradualis6, kelompok
Jamaat al-Muslimun yang bersifat isolasionis7, dan kelompok Islam Jihad Mesir
yang bersifat revolusioner8 dengan gaya bolshevik.9
Salah satu pendekatan yang cukup sistematis yang mencoba melakukan
tipologi berdasarkan pilihan politik disajikan oleh R.Hrair Dekmejian di mana
dalam bukunya dia membedakan antara kelompok islamis yang bercorak
‘gradualis-pragmatik10’, revolusioner, dan ‘mesianik11-puritan12’. Barry Rubin
membuat kategorisasi para aktor islamis menjadi, ‘revolusioner’, ‘liberasionis

6 Gradualisme adalah doktrin atau kebijakan bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap.
http://en.wikipedia.org/wiki/Gradualism, diakses: 15/01/2013

7 Isolasionism adalah doktrin atau kebijakan untuk tidak berhubungan dengan pihak luar.
http://en.wikipedia.org/wiki/Isolationism, diakses: 15/01/2013

8 Gerakan revolusioner adalah gerakan untuk mengubah struktur oraganisasi atau kekuasaan
dalam waktu sesingkat-singkatnya. http://en.wikipedia.org/wiki/Revolution, diakses:15/01/2013

9 Revolusi Bolshevik atau dikenal juga dengan Revolusi Oktober adalah revolusi yang dilakukan
oleh kelompok komunis Rusia yang dipimpin oleh Lenin. Setelah menguasai Petrograd, ibu kota
Rusia saat itu, mereka menggulingkan pemerintahan nasionalis yang dipimpin Alexander
Kerensky yang mulai memerintah sejak bulan Februari. Pemerintahan nasionalis ini diangkat
setelah Tsar Nikolas II dari Rusia turun takhta karena dianggap tidak kompeten.
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Oktober, diakses: 15/01/2013

10 Pragmatism dalam politik adalah kebijakan untuk bersikap fleksible dalam menentukan tujuan
kelompok atau partai karena disesuaikan dengan situasi yang ada.
http://wiki.answers.com/Q/What_is_an_pragmatic_political_party, diakses:15/01/2013

11 Messianism adalah doktrin tentang adanya juru selamat bagi suatu kominitas yang tertindas.
Dalam konteks politik messianims merupakan doktrin untuk melawan penguasa yang dianggap
menindas. by Yong-Bok Kim, “Messianic Politics: Toward a New Political Paradigm”,
http://www.religion-online.org/ showarticle. asp?title = 95 diakses:15/01/2013

12 Puritanisme, muncul di Inggris pada abad ke-16 dan 17 dari suatu kelompok keagamaan
kristen yang memperjuangkan "kemurnian" doktrin dan tata cara peribadatan, begitu juga
kesalehan perseorangan dan jemaat. Selanjutnya istilah ini digunakan bagi kelompok keagamaan
apapun yang memperjuangkan ‘kemurnian’ agama. http://id.wikipedia.org/wiki/Puritan
diakses:15/01/2013
Ahmad Musonnif, Orientasi... | 9

nasional13’, dan ‘reformis14’. Quintan Wiktorowicz membagi kelompok salafi


menjadi, ‘puris’, ‘politikos’ dan ‘jihadi’. Tipologi terkenal lainnya yang tidak jelas
pencetusnya membagi kelompok militan menjadi irredentis15 yang berjuang dalam
lingkup lokal seperti kelompok Hamas, revolusioner yang berjuang melawan
musuh yang dekat (near enemy) seperti kelompok Jihad Islam Mesir, dan Jihadi
Global yang melawan musuh jauh (far enemy) seperti al-Qaeda. Bagaimanapun
semua tipologi tersebut masih Problematik. Pertama karena tipologi tersebut
inkonsisten dan menyamakan antara kekerasan dan peperangan. Dan gerakan
separatis, dan menyamakan semua tujuan seperti kemerdekaan bangsa, perubahan
rezim, dan konservatisme masyarakat. Kedua, tipologi-tipologi tersebut di atas
tidak lengkap karena tidak menyinggung bentuk gerakan militan Islam yang
sangat mencolok seperti kekerasan sektarian.
Tipologi yang lebih tepat untuk digunakan sebagai pisau analisis terhadap
aktivitas para aktor islamis adalah tipologi alasan (rationale) gerakan, di mana
alasan tersebut yang menjadi penentu arah tujuan dan strategi politik. Berdasarkan
alasannya gerakan islamis dapat dibagi menjadi:
1. Alasan yang berorientasi kepada negara (state-oriented). Arah dan
starategi politiknya bertujuan mengubah organisasi sosial dan politik dalam
negara.
2. Alasan yang berorientasi kepada bangsa (nation-oriented). Arah dan
strategi politiknya bertujuan menguasai wilayah tertentu yang didominasi non-
muslim.
3. Alasan yang berorientasi kepada ummat (umma-oriented) Arah dan
strategi politiknya bertujuan melindungi negara Islam dari pengaruh non-
muslim.

13 Kelompok ini menekankan pentingnya semangat kebebasan dalam kehidupan bernegara.


http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_nationalism, diakses:15/01/2013

14 Reformisme adalah keyakinan bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap tidak jauh
berbeda dengan gradualisme. Reformisme muncul sebagai oposisi terhadap revolusionisme yang
berpandangan bahwa perubahan harus dilakukan dengan perebutan kekuasaan.
http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2094733-pengertian-reformisme/
diakses:15/01/2013

15 Irredentisme adalah doktrin bahwa wilayah yang secara kultural atau sosial terkait haruslah
dikuasai. Dalam kasus israel palestina. Pihak israel mengklaim bahwa wilayah palestina adalah
bagian dari wilayah mereka, demikian pula sebaliknya. http://en.wikipedia.org/wiki/Irredentism
10 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

4. Alasan yang berorientasi kepada moral (morality-oriented) Arah dan


strategi politiknya bertujuan mengarahkan prilaku umat Islam menjadi lebih
konservatif dan literalis.
5. Alasan yang berorientasi kepada sekte atau madzhab (sectarian) Arah dan
strategi politiknya bertujuan untuk meminimalisir pengaruh sekte atau madzab
lain yang menjadi pesaing.16
Dalam strategi perjuangannya kelompok-kelompok tersebut di atas terbagi
menjadi kelompok yang memilih jalur kekerasan dan non kekerasan. Tipologi
tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.17

Alasan Non kekerasan contoh Dengan Contoh


kekerasan
manifestasi Manifestasi
state- Reformisme Ikhwan al- Gerakan Group
oriented Muslimun, revolusi Islamique
wahabi saudi. masyarakat Armee,
Group
salafiste
pour la
Predication
et le
Combat,
Egyptian
Islamic
Jihad
nation- Nasionalisme Separatis Hamas,
oriented Laskar
eTayyiba,
mujahidin
Cechnya,
pasukan
Islam (Iraq)
Ummah- Pan-Islamisme Moslem Jihadi Klasik, Orang-orang
oriented World League Jihadi Global Arab di
Cechnya, Al-
Qaidah di
Arab.

16 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis.., h. 257-258.

17 Ibid, h. 259.
Ahmad Musonnif, Orientasi... | 11

Morality- Kesalehan Jama’iyyah Vigilantisme Hisba yang


oriented Tabligh, (main hakim tidak
Madkhali sendiri). terorganisir
Sectarian Fanatik Kekerasan Milisi Iraq,
madzhab antar sekte laskar e
Jangwi.

Bagaimanapun kategorisasi yang tersebut di atas bukanlah tipologi yang


ideal untuk gerakan kelompok militan islam. terkadang satu kelompok militant
islam memiliki beberapa agenda secara bersamaan. tetapi di antara mereka
memiliki prioritas-prioritas yang berbeda yang menyebabkan perbedaan mereka
dalam hal strategi dan bentuk perjuangan. Selain itu, orientasi masing-masing
kelompok atau mungkin individu dapat berubah seiring perkembangan waktu bias
saja satu kelompok berorientasi keumatan pada satu waktu dan pada waktu lain
berorientasi kepada kenegaraan.
Terkadang sekelompok gerakan Islam militan menggunakan bahasa tertentu
untuk menyebutkan prioritas politiknya, sehingga alasan (rasionale) gerakan
mereka mudah diidentifikasi. Misalnya ‘penegakan hukum Tuhan’ atau mungkin ‘
penegakan khilafah’ dan lain-lain.18
Tipologi berdasarkan pilihan politik setidaknya memiliki tiga kelebihan
dalam menganalisis gerakan militant Islam. Pertama, dapat mendeskripsikan
secara lebih jelas gerakan militant Islam dari pada tipologi yang berbasis term
teologis. Dengan tipologi berbasis pilihan politik seorag peneliti dapat lebih
mudah dalam memprediksi dan menjelaskan tindakan dan strategi perjuangan
kelompok mlitan Islam. Sebagai contoh gerakan jihad global dapat diprediksikan
akan lebih mentargetkan menyerang orang-orang barat dari pada penyerangan
terhadap pemerintah. Kedua, tipologi tersebut dapat menjelaskan penyebab
munculnya gerakan Islam militant. Misalnya tekanan ekonomi dan politik
terhadap minoritas muslim di Negara non-Islam dapat memunculkan gerakan
separatis di mana kelompok minoritas (muslim) ingin memisahkan diri secara
territorial. Ketiga, kategorisasi berdasarkan prilaku politik, dibandingkan
pendekatan teologis, dapat membantu untuk melakukan studi komparatif antara
gerakan Islamis dan non-Islamis (tidak berlatar belakang agama). Ini bukan

18 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis...Ibid, h. 260.


12 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

berarti mereduksi gerakan Islam dalam bingkai politik saja, tetapi hanya untuk
mencari persamaan (similaties) antara gerakan politis islamis dengan gerakan
politik yang lain.
Tipologi berdasarkan pilihan politik bukannya tanpa kritik. Ada anggapan
bahwa untuk menjelaskan fenomena gerakan kelompok militasn Islam adalah
dengan menggunakan sudut pandang kelompok itu sendiri. Pada satu sisi ini
benar, karena para peneliti barat biasanya mengabaikan kajian terhadapa wacana
kelompok islamis dan memiliki kecurigaan terhadap motivasi para aktor gerakan
islamis. Tanggapan untuk kritik ini adalah bahwa ilmu-ilmu sosial mengkaji
fenomena yang tampak dan dapat diamati. Mendefinisikan gerakan kelompok
islamis dengan perspektif mereka sendiri tidak akan memberikan gambaran yang
jelas terhadap fenomena gerakan militant Islam.
Kritik selanjutnya untuk tipologi berdasarkan pilihan politik adalah bahwa
tipologi ini tidak bisa menganalisa dinamika gerakan islamis yang terus
berkembang. Bagaimanapu seiring perkembangan situasi dan kondisi gerakan
kelompok Islamis ini akan mengalami perkembangan.
Selain kritikan tersebut diatas, tipologi berdasarkan pilihan politik juga
memiliki keterbatasan, yaitu bahwa tipologi ini tidak mampu menganalisa dimensi
teologis ideology gerakan Islamis dan dinamika latar belakang sosialnya. Dengan
menggunakan tipologi berdasarkan pilihan politik, seorang peneliti tidak akan bisa
melacak landasan teologis dan ideologis suatu gerakan islamis, serta latar
belakang sosial gerakan itu muncul.19

Perselisihan antar kelompok salafi


Di antara fenomena yang menarik dalam kajian gerakan islamis adalah
adanya perselisihan di antara kelompok gerakan salafi. Kelompok salafi ‘reformis’
melontarkan kritik terhadap kelompok salafi ‘jihadi’ yang menggunakan
kekerasan dalam perjuangannya. Kritik salafi ‘reformis’ ditujukan kepada
tindakan kelompok salafi>-jiha>di> yang melakukan pemusnahan terhadap
kelompok sipil muslim atau terhadap orang non muslim yang berada di wilayah

19 Thomas Hegghammer, Jihadi Salafis..Ibid, h. 262-263.


Ahmad Musonnif, Orientasi... | 13

muslim seperti yang difatwakan oleh Nasi al-Umar20 dari kelompok salafi
‘reformis’ yang kemudian dibatah oleh Abu Yahya al-Libi yang mendukung
gerakan jihad dalam arti perang melawan orang-orang kafir di manapun berada.21
Fenomena menarik lainnya adalah bahwa ada sebagian orang yang beraliran
jihadi tidak menyukai masuknya doktrin salafi yang cenderung mengkafirkan atau
mengggap madzhab lain menyimpang. Di antara tokoh jihadi yang menolak
doktrin salafi adalah salah seorang anggota al-Qaedah Abu Mus’ab al-Suri. Al-
Suri menggap bahwa jika doktrin salafi masuk ke dalam kelompok jihadi, maka
akan menjadikan gerakan jihadi menjadi marjinal, elitis dan akhirnya menemui
kegagalan dalam perjuangannya.22

KESIMPULAN
Dalam mendefinisikan gerakan salafi tidaklah mungkin dengan pendekatan
term-term berbasis teologis. Karena hal ini akan menyebabkan kerancuan.
Pendekatan dengan term-term teologis bersifat normatif dan hanya bersifat
apologis atau justifikasi dari kelompok-kelompok yang mengaku dirinya sebagai
salafi. Selain itu definisi yang akan dicapai bersifat eksistensialism. Karena itu
pendekatan dengan term-term berbasis pilihan politik menjadi pilihan yang
terbaik. Karena pendekatan ini bersifat deskriptif dan mampu menggambarkan
secara jelas fenomena gerakan salafi.
Sebenarnya pengidentikan doktrin salafi dengan gerakan jihadi kuranglah
tepat. Karena didapati fakta bahwa kelompok yang mengklaim sebagai kelompok
jihadi tidak menyetujui model perjuangan jihadi. Begitu pula ada pihak dari
kelompok jihadi yang tidak menyukai doktrin salafi.

DAFTAR PUSTAKA

20 Reven Paz, Debates within the Family, jihadi-Salafi Debates on Strategy, Takfir, Extremism,
Suicide Bombings, and the Sense of the Apocalyse, dalam Roel Meijer (ed), Global Salafism:Islam
New Religious Movement, (Husrt & Company, London, 2009), h. 245, 274.

21 Reven Paz, Debates, Ibid. h, 275.

22 Brynjar Lia, Destructive Doctrinians, Abu Mus’ab al-Suri’s Critique of the Salafis in the Jihadi
Current, dalam Roel Meijer (ed), Global Salafism:Islam New Religious Movement, (Husrt &
Company, London, 2009), h. 245 298-299.
14 | Kontemplasi, Volume 02 Nomor 01, Agustus 2014

Hegghammer, Thomas., Jihadi Salafis or Revolusionaries? On Religion and


Politics in the Study of Militan Islam, dalam Roel Meijer (ed), Global
Salafism:Islam New Religious Movement, (Husrt & Company, London,
2009)

Kim, Yong-Bok, “Messianic Politics: Toward a New Political Paradigm”,


http://www.religion-online.org/ showarticle. asp?title = 95 diakses:15/01/2013
Lia, Brynjar., Destructive Doctrinians, Abu Mus’ab al-Suri’s Critique of the
Salafis in the Jihadi Current, dalam Roel Meijer (ed), Global
Salafism:Islam New Religious Movement, (Husrt & Company, London,
2009)

Paz, Reven,. Debates within the Family, jihadi-Salafi Debates on Strategy, Takfir,
Extremism, Suicide Bombings, and the Sense of the Apocalyse, dalam
Roel Meijer (ed), Global Salafism:Islam New Religious Movement,
(Husrt & Company, London, 2009)

http://en.wikipedia.org/wiki/Gradualism, diakses: 15/01/2013


http://en.wikipedia.org/wiki/Isolationism, diakses: 15/01/2013
http://en.wikipedia.org/wiki/Revolution, diakses:15/01/2013
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Oktober, diakses: 15/01/2013
http://wiki.answers.com/Q/What_is_an_pragmatic_political_party, diakses:15/01/2013
http://id.wikipedia.org/wiki/Puritan diakses:15/01/2013
http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_nationalism, diakses:15/01/2013
http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2094733-pengertian-reformisme/
diakses:15/01/2013
http://en.wikipedia.org/wiki/Irredentism