Anda di halaman 1dari 70

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN EFUSI PLEURA

OLEH KELOMPOK 3 :

1. Siti Triastuti
2. Siti Nurhaeni
3. Suprapto
4. Umdatul Hasanah
5. Yasmin Sungkar
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
kasih karunia-nya .Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya yang telah ditentukan.Makalah ini penulis susun untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan pada pasien dengan efusi pleura.

Penulis meyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak


kekurangan. Oleh karena itu , penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna perbaikan makalah selanjutnya .Akhirnya penulis menyampaikan
terimakasih dan berharap semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna bagi
pembaca.

Bekasi , 05 November 17

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................


DAFTAR ISI ..........................................................................................................
BAB 1 ...................................................................................................................
PENDAHULUAN...................................................................................................
A. Latar Belakang .................................................................................................
B. Rumusan Masalah ..........................................................................................
C. Tujuan ..............................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS ..............................................................................
A. Definisi Efusi Pleura .........................................................................................
B. Etiologi Efusi Pleura .........................................................................................
C. Manifestasi Klinik .............................................................................................
D. Evaluasi Diagnostik..........................................................................................
E. Patofisiologi / patoflow .....................................................................................
F. Penatalaksanaan medis dan keperawatan ......................................................
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ....................................................................
A. Kasus
B. Pengkajian .......................................................................................................
C. Diagnosa ..........................................................................................................
D. Rencana Asuhan Keperawatan .......................................................................
E. Evaluasi ...........................................................................................................
BAB IV PENUTUP ................................................................................................
A. Kesimpulan ......................................................................................................
B. Saran ...............................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Efusi pleura adalah penimbunan cairan di dalam rongga pleura akibat
transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Menurut WHO
(2008), Efusi Pleura merupakan suatu gejala penyakit yang dapat mengancam
jiwa penderitanya.
Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit akan tetapi merupakan suatu
tanda adanya penyakit. Secara normal, ruang pleura mengandung sejumlah kecil
cairan (5 – 20 ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan
pleura bergerak tanpa adanya gesekan antara kedua pleura saat bernafas.
Penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan efusi pleura adalah tubercolusis,
infeksi paru nontubercolusis, sirosis hati, gagal jantung kongesif.
Secara geografis penyakit ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi
problema utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk
Indonesia. Di negara-negara industri, diperkirakan terdapat 320 kasus Efusi
Pleura per 100.000 orang. Amerika serikat melaporkan 1,3 juta orang setiap
tahunnya menderita Efusi Pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung
kongestif dan pneumonia bakteri. Sementara di Negara berkembang seperti
Indonesia, diakibatkan oleh infeksi tubercolusis.
Pleura seringkali mengalami pathogenesis seperti terjadinya efusi cairan,
misalnyahidrotoraks dan pleuritis eksudativa karena infeksi, hemotoraks bila
rongga pleura berisidarah, kilotoraks (cairan limfe), piotoraks atau empiema
thoracis bila berisi nanah, pneumotoraks bila berisi udara (Somantri,
2009).Penyebab dari kelainan patologi pada rongga pleura bermacam-macam,
terutamakarena infeksi tuberculosis atau non tuberculosis, keganasan, trauma
dan lain-lain. Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang menganggu
system pernapasan. Efusi pleura bukanlah diagnosis dari suatu penyakit,
melainkan hanya merupakan gejala atau komplikasidari suatu penyakit. Efusi
pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihandirongga pleura,
jika kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya
(Muttaqin,2008).Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus
efusi pleura di seluruhdunia cukup tinggi menduduki urutan ketiga setelah kanker
paru, sekitar 10-15 juta dengan100-250 ribu kematian tiap tahunnya. Efusi pleura
suatu disase entity dan merupakan suatugejala penyakit yang serius yang dapat
mengancam jiwa penderita. Tingkat kegawatan padaefusi pleura ditentukan oleh
jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan paru .Efusi
pleura menempati urutan ke empat distribus 10 penyakit terbanyik setelah kanker
paru yaitu dengan jumlah 76 dari 808 orang dengan prevalensi 9,14% (Alsagaf,
2010)Berdasarkan data yang dilaporkan Depatemen Kesehatan tahun 2006
menyebutkan diIndonesia kasus efusi pleura 2,7 % dari penyakit infeksi saluran
napas dengan Case FatalityRate (CFR) 1, Sedangkan Sulawesi Selatan
dilaporkan kejadian efusi pleura 16 % dari penderita infeksi saluran
napas.Tingginya kasus efusi pleura disebabkan keterlambatan penderita untuk
memeriksakan kesehatan sejak dini sehingga menghambat aktifitas sehari hari
dan kematian akibat efusi pleura masih sering ditemukan.4,5. (Irwadi, Sulina,
Hardjoeno, 2009)Oleh karena ada peningkatan jumlah penderita maka menjadi
masalah kusus untuk kita semua, terutama bagi dunia keperawatan karena efusi
pleura masih menjadi masalahkesehatan yang tinggi, sehingga masalah
kesehatan ini harus segera ditangani dengan serius

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit efusi pleura?

C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan
keperawatan secara komperehensif terhadap klien dengan efusi pleura
b. Tujuan Khusus
1. Mampu mendeskripsikan pengertian efusi pleura , etiologi , manifestasi
klinik patofiologi / patoflow dan penatalaksanaan dari efusi pleura
2. Mampu menjelaskan tentang pengkajian ,diagnosa keperawatan serta
perencanaan pada pasien efusi pleura
3. Mampu dan dapat menggambarkan tentang aplikasi kasus asuhan
keperawatan pada klien dengan efusi pleura
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi

Efusi Pleura adalah suatu keadaan ketika rongga pleura dipenuhi oleh

cairan (terjadi penumpukan cairan dalam rongga pleura) (Somantri, 2009).

Menurut Smeltzer dan Bare efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam

rongga pleura yang terletak diantara permukaanviseral dan parietal, adalah

proses penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanyamerupakan

penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Definisi lain dari efusi

pleuramerupakan suatu kelainan yang mengganggu system pernapasan.

Efusi pleura bukanlah diagnosis daris suatu penyakit, melainkan hanya

merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit (Muttaqin,2008).Jadi

efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam rongga pleura yang terletak

diantara permukaan visceral, perietal, adalah proses penyakit primer yang

yang jarang terjaditetapi biasanya menurunkan penyakit sekunder terhadap

penyakit lain.

Fisiologi pleura

Pleura merupakan membran tipis yang terdiri atas dua lapisan yang berbeda

yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan pleura ini bersatu

pada hillus paru.Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara kedua pleura

ini, yaitu sebagai berikut(somantri, 2009)

1. Pleura viseralis

Bagian permukaan luarnya terdiri atas selapis sel mesotelial yang

tipis(tebalnya tidak lebih dari 30µm), diantara celah-celah sel ini terdapat
beberapa sellimfosit. Terdapat endopleura yang berisi fibrosit histiosit

dibawah sel mesotelial.Struktur lapisan tengah memiliki jaringan kolagen

dan serat-serat elestik, sedangkanlapisan terbawah terdapat jaringan

intertisial subpleura yang sangat banyak mengandung pembuluh darah

kapiler dari arteri pulmonalis dan brakialis serta kelenjer getah bening.

Keseluruhan jaringan pleura viseralis ini menempel dengan kuat pada

jaringan parenkim paru

2. Pleura parietalis

Lapisan pleura parietalis merupakan jaringan yang paling tebal dan terdiri

atassel-sel mesotelial serta ja serta jaringan ikat (jaringan kolagen den

serat-serat elastik). Dalam jaringan ikat terdapat pembuluh kapiler dari

arteri interkostalis dan mamaria interna ,

kelenjer getah bening, banyak reseptor saraf sensorik yang peka terhadap

nyeri.Ditempat ini juga terdapat perbedaan temperatur. Sistem persarafan

berasal dari nervusinterkostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan

dermatom dada.Cairan pleura diproduksi oleh pleura parietalis dan

diabsorbsi oleh pleuraviseralis. Cairan terbentuk dari filtrasi plasma

melalui endotel kapiler dan direabsobsioleh pembuluh limfe dan pleura

venule pleura.Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga yang

kosong antara kedua pleura tersebut, karena biasanya di tempat ini hanya

terdapat sedikit (10-20 cc) cairanyang merupakan lapisan tipis serosa dan

selalu bergerak secara teratur. Cairan yangsedikit ini merupakan pelumas

antara kedua pleura tersebut bergeser satu sama lain.Dalam keadaan

patologis rongga antara kedua pleura ini dapat terisi dengan beberapaliter

cairan atau udara.Diketahui bahwa cairan masuk kedalam rongga melalui


parietalis danselanjutnya keluar lagi dalam jumlah yang sama melalui

membran pleura viseralismelalui sistem limfatik dan vaskular. Pergerakan

dari pleura parietal dengan pleuraviseralis dapat terjadi karena adanya

perbedaan tekanan hidrostatik dan tekananosmotik koloid plasma. Cairan

terbanyak direabsorbsi oleh sistem limfatik dan hanyasebagian kecil

direabsorbsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan

penyerapan cairan pada pleura viseralis adalah terdapatnya banyak

mikrofili disekitar sel-sel mesotelial.B.

B. Etiologi Efusi Pleura : (Mansjoer, 1999)

1) Transudat

Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah

transudat.Transudat terjadi apabila terjadi ketidakseimbangan antara tekanan

kapiler hidrostatik dan koloid osmotic, sehingga terbentuknya cairan pada

satu sisi pleura melebihi reabsorbsinyaoleh pleura lainnya.


Biasanya hal ini terjadi pada:

1. Meningkatnya tekanan kapiler sistemik


2. Meningkatnya tekanan kapiler pulmem
3. Menurunnya tekanan koloid osmotic dalam pleura
4. Menurunnya tekanan intra pleura
2) Eksudat
Eksudat merupakan cairan yang berbentuk melalui membrane kapiler
yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi
dibandingkan proteintransudat. Bila terjadi proses peradangan maka
permeabilitas kapiler pembuluh darah pleurameningkat sehingga
selmesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran
cairan kedalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling
seringadalah mikrobakterium tuberculosis dan dikenal sebagai pleuritis
eksudativa tuberkulosa.Protein yang terdapat dalam cairan pleura
kebanyakan berasal dari saluran getah bening ini(misalnya pada pleuritis
tuberculosis) akan menyebabkan peningkatan konsentrasi proteincairan
pleura, sehingga menimbulkan eksudat.
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi
transudat,eksudat dan hemoragi (Muttaqin, 2008):
1) Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal
jantungkiri) sindoroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis),
sindroma venakava sperior, tumor dan sindroma Meigs.
2) Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia, tumor, infark paru,
radiasi,dan penyakit kolagen.
3) Efusi hemoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark
paru,tuberkulosis dan kanker paru.
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi:
 unilateral : . Efusi unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik
dengan penyakit penyebabnya
 bilateral : efusi bilateral ditemukan pada penyakit kegagalan jantung
kongestif, sindromnefrotik, asites, infark paru, lupus aritematosus
sistemis, tumor dan TB.Penyakit
C. Manifestasi Klinik (Brunner & Suddarth, 2000)
Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang
terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada
(biasanya bersifattajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau
bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama
sekali.Tanda dan gejala yang mungkin ditemukan:
a) Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena
pergesekan ,setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang,bila cairan
banyak penderita akan sesak
b) batuk kadang berdarah, demam, menggigil
c) pernafasan yang cepat
d) Lemas progresif disertai penurunan BB
e) Asites , Dipsnea
f) Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi
penumpukan cairan pleural yang signifikan
g) Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan
berlainan,karena cairan akan berpindah tempat .bagian yang sakit akan
kurang bergerak dalam pernafasan melemah ( raba dan vocal )pada
perkusi didapati daerah pekak,dalam keadaan duduk permukaan cairan
membentuk gariis melengkung ( garis ellis damoiseu)
h) Didapati segitiga gerland ,yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani
dibagian garis ellis domiseu.segitiga grocco-Rochfusz yaitu daerah pekak
karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain,pada auskultasi darah
ini didapati vasikules melemah dengan ronchi
i) Pada permukaan dan akhir terdengar krepitasi pleura

D. Evaluasi Diagnostik ( mutaqqin ,2008 )


a) Pemeriksaan Radiologi

b) Biopsi pleura
Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura melalui
biopsi jalur perkutaneus. Biopsy ini dilakukan untuk mengetahui adanya
sel- sel ganas atau kuman- kuman penyakit (biasanya kasus
pleurisy tuberculosa dan tumor pleura)
c) Pengukuran fungsi paru (spirometri)
Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio udara resudial ke kapasitas
total paru, dan penyakit pleural pada tuberculosis kronis tahap
lanjut.Kapasitas total paru adalah volume maksimal pengembangan paru-
paru dengan usaha inspirasi yang sebesar- besarnya kira- kira 5800 ml.
(Syaifuddin,2009)
d) Pemeriksaan laboratorium
Memeriksa cairan pleura agar dapat menunjang intervensi lanjutan.
Analisacairan pleura dapat dinilai untuk mendeteksi kemungkinan
penyebab dari efusi pleura. Pemeriksaan cairan pleura hasil
thorakosentesis secara makroskopis biasanya dapat berupa cairan
hemoragi, eksudat, dan transudat
 Haemorragic pleural effusion, biasanya terjadi pada klien
denganadanya keganasan paru atau akibat infark paru terutama
disebabkan tuberculosis.
 Yellow exudates pleural effusion, terutama terjadi pada keadaan
gagal jantung kongestif, sindrom nefrotik, hipoalbuminemia, dan
perikarditis konstriktif
 Clear transudate pleural effusion, sering terjadi pada klien dengan
keganasan ekstrapulmoner.

Pemeriksaan darahPada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan


jumlah leukosit yangsedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke
kiri. Jumlah limfosit masih dibwah normal. Laju endap darah mulai
meningkat. Jika penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal,
dan jumlah limfosit masih tinggi.Laju endap darah mulai turun ke arah
normal lagi. Bisa juga didapatkananemia ringan dengan gambaran
normokron dan normositer, gama globulin meningkat dan kadar natrium
darah menurun.
e) Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting, karena dengan ditemukannnya
kuman BA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Kriteria BTA
positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA
pada satu sediaan.
E. Patoflow

Gagal jantung kiri Karsinoma


TB PARU
Gagal ginjal Mediastinum
Pneumonia
Gagal fungsi hati Karsinoma paru

Atelektasis Peningkatan tekanan


Peningkatan permeabilitas
hidrostatik dipembuluh
inflamasi
darah kapiler

Tekanan osmotic
Ketidakseimbangan jumlah
koloid menurun
produksi cairan dengan
Tekanan negative absorbsi yang bisa dilakuakan
intrapleura pleura viseralis

Peningkatan
permeabilitas kapiler

Akumulasi / penimbunan
cairan di kavum pleura
Gangguan ventilasi ( perkembangan paru tidak optimal )
,gangguan difusi ,distribusi dan transportasi oksigen

Sistem Sistem Sistem Sistem Respon


pernafasan syaraf pusat pencernaan muskulosklel psikososial
. tal

Penurunan Penurunan Sesak nafas


Pa O2 menurun suplai Metabolisme suplai
oksigen ke meningkat oksigen ke Tindakan
PCO2 meningkat
otak jaringan invasif
Sesak nafas

Peningkatan produksi
sekret
Kebutuhan Peningkatan
Kopong tidak
Hipoxia serebral energi metabolism
efektif
meningkat anaerob

 Pola nafas tidak Peningkatan


Resiko Sesak nafas produksi
efektif
gangguan fungsi asam laktat kecemasan
 Bersihan Jalan
cerebral
nafas tidak efektif
 Pertukaran gas

Gangguan
Kelemahan
pemenuhan
fisik umum
nutrisi

Intoleransi
aktifitas
F. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan (Brunner & Suddarth, 2000)
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyabab yang mendasari
untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan rasa
tidak nyamanserta dispnea. Pengobatan spesifik diarahkan pada penyebab
yang mendasari.
1. Torasentesis, ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan
pengosongancairan. Indikasi untuk melakukan torakosentesis adalah: (1)
menghilangkansesak napas yang disebabkan oleh akumulasi cairan
dalam rongga pleura, (2) bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak
efektif atau gagal, (3) bilaterjadi reakumulasi cairan

2. Selang dada dan drainase water - seal


mungkin diperlukan untuk pneumotoraks (kadang merupakan akibat
torasentesis berulang).
WSD (Water Seal Drainase)
adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara
dan cairan melalui selang dada.Indikasi :
 Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus.
 Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca
bedah thorak
 Efusi pleura
 Empiema Karen penyakit paru serius dan kondisi inflamasi
Tujuan pemasangan WSD:

1) Untuk mengeluarkan udara, caiaran atau darah rongga pleura.


2) Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura.
3) Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian.
4) Untuk mencegah reflex drainase kembali kedalam rongga dada.
Tempat pemasangan WSD:
 Apical
Letak selang pada interkosta III mid klavikulaDimasukkan secara antero
lateral Fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
 Basal
Letak selang pada interkostal V-V1 atau interkostal VIII-IX mid aksiller
Fungsi: untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura

Jenis WSD:
 Sistem 1 botol :sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan
pada pasien dengan simple pneumotoraks.
 System dua botol pada system ini botol pertama
mengumpulkancairan/drainase dan botol kedua adalah botol waterseal.
 System tiga botol , botol penghisap control ditambahkan kesistem dua
botol.sistem tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah
penghisapan.
Komplikasi pemasangan WSD:.
 Komplikasi primer: perdarahan, edema paru, tension pneumotoraks,
atrialaritmia
 Komplikasi sekunder: infeksi, emfiema

3. Obat dimasukkan kedalam ruang pleural untuk mengobliterasi ruang


pleura dan mencegah penumpukan cairan lebih lanjut.
4. Modalitas pengobatan lainnya: Radiasi dinding dada, operasi pleurektomi
danterapi diuretic.
Intervensi Keperawatan
a. Terapkan regimen obat-obat nya.
a) Siapkan dan posisikan pasien untuk torasentesis.
b) Berikan dukungan sepanjang prosedur.
b. Bantu pasien dalam peredaan nyeri nya.
a) Bantu pasien untuk mencari posisi yang paling sedikit nyerinya
b) Berikan obat nyeri sesuai yang diharuskan dan kebutuhan
c. Pantau drainase selang dada dan system water-seal,catet jumlah
drainase pada interval yang diharuskan
d. Lakukan asuhan keperawatan yang berhubungan dengan penyebab
yang mendasari efusi pleural
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Kasus
Tn .M usia 50 tahun dirawat diruang penyakit dalam dengan diagnosa medis
efusi pleura ec.TBC.Pasien masuk RS dengan keluhan : sesak nafas yang
memberat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit ,batuk tidak sembuh-
sembuh,lemah , nafsu makan menurun dan keringat dimalam hari.Nyeri bila
bernafas serta demam bila malam hari
Dari hasil pengkajian didapatkan 1 tahun yang lalu klien pernah mendapat
pengobatan TBC ,tetapi setelah 3 bulan pengobatan ia tidak lagi minum obat
karena sudah tidak batuk lagi,riwayat merokok sejak 30 tahun yang lalu 12
batang/hari
Pemeriksaan fisik :
Frekuensi nafas : 26x/mnt , Nadi : 86x/mnt , TD : 110/76 mmhg , BB saat ini
54kg ,Tb : 165 cm ( terjadi penurunan BB 6kg selama sakit ) Pengembangan
dada tampak asimetris dengan paru kanan tertinggal ,taktil fremitus kanan <
kiri,resonan pada paru kiri dan lobus superior paru kanan serta pekak pada
lobus media dan inferior kanan. Auskultasi pada lapang paru kiri vasikuler
,sedangkan lapang paru kanan menurun sampai tidak terdengar,pasien
tampak pucat , tidak ada cyanosis ,CRT 2 detik ,akral hangat,konjungtiva
anemis,sklera tidak ikterik dan tidak ada nyeri dada
Hasil pemeriksaan sputum SPS ++ , radiologi thorax didapatkan fibrous infiltrat
dan cavitis pada paru kanan,tampak bayangan perselubungan homogen pada
2/3 paru kanan dan sudut costophrenius kanan tampak tumpul.
Hb : 8,8 g/dl , Ht : 28% Leukosit : 6,8 ribu/mm3 , Trombosit : 351 ribu/mm3 ,
LED : 110mm ,analisa cairan punksi pleura : produksi 400cc berwarna kuning
,protein total 6,9g/dl , protein cairan pleura LDH serum : 926.134 ,kesan :
eksudat
Pasien terpasang oksigen 3L/mnt dan IVFD Nacl 0,9% per 12 jam
B. Pengkajian
Data Subyektif :
Tn M mengeluh mual ,batuk tetapi dahak sulit dikeluarkan dan
Kadang sesak , nafsu makan menurun , keringat dimalam hari
Demam dimalam hari dan nyeri bila bernafas,batuk tidak sembuh-sembuh
Data Obyektif :
Td: 110/76mmhg ,Nadi : 86x/mnt , Rr : 26x/mnt
Pengembangan dada tampak asimetris dengan paru kanan tertinggal ,taktil
fremitus kanan < kiri,resonan pada paru kiri dan lobus superior paru kanan
serta pekak pada lobus media dan inferior kanan.
Auskultasi pada lapang paru kiri vasikuler ,sedangkan lapang paru kanan
menurun sampai tidak terdengar
Pasien sesak nafas yang memberat, tampak pucat , tidak ada cyanosis ,CRT
2 detik ,akral hangat,konjungtiva anemis,sklera tidak ikterik dan tidak ada nyeri
dada

C. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah Keperawatan
1 DS: Os Penumpukan cairan Bersihan jalan nafas tidak
mengeluh batuk dirongga pleura efektif
dan dahak sulit
dikeluarkan Tekanan intrapleural
DO:
 Lapang paru Efusi pleura
kiri vasikuler
,lapang paru Ekspansi paru menurun
kanan dan asimetris gerakan
menurun paru
tidak
terdengar Peningkatan produksi
 Dada tampak sekret
asimetris
dengan paru Bersihan jalan nafas
tidak efektif
kanan
tertinggal
 resonan
pada paru
kiri dan lobus
superior paru
kanan serta
pekak pada
lobus media
dan inferior
kanan
2 DS : Tn M Penumpukan cairan Pola nafas tidak efektif
mengeluh sesak dirongga pleura
nafas yang
memberat ,batuk Tekanan intrapleural
dan dahak sulit
dikeluarkan Efusi pleura
DO:
 Lapang paru Ekspansi paru menurun
kiri vasikuler dan asimetris gerakan
,lapang paru paru
kanan Pertukaran O2 dialveoli
menurun menurun
tidak dipsnue
terdengar
 Dada tampak Pola nafas tidak efektif
asimetris
dengan paru
kanan
tertinggal
3 DS : Tn M Penumpukan cairan Gangguan pertukaran gas
mengeluh sesak dirongga pleura
nafas yang
memberat ,batuk Tekanan intrapleural
dan dahak sulit
dikeluarkan Efusi pleura
DO:
 Lapang paru Penurunan ekspansi
kiri vasikuler paru sekunder
,lapang paru
kanan Kerusakan membran
menurun alveolar – kapiler
tidak
terdengar Pa O2 menurun
PCO2 meningkat
 Dada tampak
asimetris
Gangguan pertukaran
dengan paru gas
kanan
tertinggal
4 DS: Tn M Penumpukan cairan
mengeluh nyeri dirongga pleura Nyeri
bila bernafas
DO : Tekanan intrapleural
 Lapang paru
kiri vasikuler Efusi pleura
,lapang paru
kanan Pemasangan drainase
menurun (wsd)
tidak
terdengar Pengeluaran dan zat-
 Dada tampak zatvasoaktif(bradikinin,s
asimetris erofinin)
dengan paru
merangsang ujung ujung
kanan saraf bebas
tertinggal
 Pasien pucat
Nyeri
5 DS:Tn.M Penumpukan cairan
mengeluh mual , dirongga pleura Ketidakseimbangan
Nafsu makan Tekanan intrapleural nutrisi
menurun
DO: Efusi pleura
 Tb : 165 cm (
terjadi Metabolisme meningkat
penurunan
BB 6kg
Kebutuhan energi
selama sakit
meningkat
)
 Pucat sesak nafas sekunder

penekanan struktur
abdomen

penurunan nafsu
makan

Ketidakseimbangan
nutrisi

D. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan
ekspansi paru ,kerusakan membran alveolar –kapiler
4. Nyeri akut berhubungan dengan proses tindakan drainase
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan peningkatan metabolisme tubuh ,penurunan nafsu makan ,akibat
sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen

E. Rencana Asuhan Keperawatan


N Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kreteria Hasil Intervensi
O
1 Bersihan jalan nafas tidak efektif NOC : NIC
b.d menurunnya ekspansi paru  Respiratory status : Airway suction

sekunder terhadap penumpukan ventilation  Pastikan kebutuhan oral

cairan dalam rongga  Respiratory status: / dan racheal suctioning


Airway patency  Auskultasi suara nafas
pleuraBersihan jalan nafas tidak
Kreteria hasil : sebelum dan sesudah
efektif berhubungn
 Mendemontrasikan suctioning
batuk efektif dan suara  Informasikan pada klien
nafas yang bersih ,tidak dan keluarga tentang
ada sianosis dan suctioning
dyspneu ( mampu  Minta klien nafas dalam
mengeluarkan sputum sebelum suction
,mampu bernafas dilakukan
dengan mudah,tidak  Berikan O2 dengan
ada pursed lips) menggunakan nasal
 Menunjukan jalan nafas  Anjurkan pasien untuk
yang paten ( klien tidak istirahat dan nafas
merasa tercekik ,irama dalam
nafas ,frekuensi  Monitor status oksigen
pernafasan dalam pasien
rentan normal,tidak ada  Posisikan pasien untuk
suara nafas abnormal memaksimalkan
ventilasi
2 Pola nafas tidak efektif b.d Noc: Nic:
penurunan ekspansi paru  Respiratory status : Airway management
ventilation
sekunder terhadap penumpukan  Respiratory status :  Buka jalan nafas
cairan dalam rongga pleura airway patency ,gunakan teknik chin lif
 Vital sign status atau jaw trust bila perlu
Kreteria hasil  Posisikan pasien untuk
 Mendemontrasikan memaksimalkan
batuk efektif dan suara ventilasi
nafas yang bersih ,tidak  Lakukan fisiotherapi
ada sianosis dan dada jika perlu
dyspneu ( mampu  Keluarka sekret dengan
mengeluarkan sputum batuk atau suction
,mampu bernafas  Auskultasi suara nafas
dengan mudah,tidak ,catat adanya suara
ada pursed lips tambahan
 Menunjukan jalan nafas Oksigen therapi
yang paten ( klien tidak  Bersihkan mulut,hidung
merasa tercekik ,irama dan sekret
nafas ,frekuensi  Pertahankan jalan nafas
pernafasan dalam pasien
rentan normal,tidak ada  Observasi adanya tanda
suara nafas abnormal –tanda hipoventilasi
 Tanda tanda vital dalam  Monitor adanya
rentang normal ( kecemasan pasien
tekanan darah,nadi dan terhadap oksigenisasi
pernafasan ) Vital sign monitoring
 Monitor TTV ( td,n
,sh,rr)
 Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
 Monitor frekuensi dan
irama pernafasan
 Monitor suara paru
3 Gangguan pertukaran gas Noc: Nic :
berhubungan dengan penurunan Respiratory status : Gas Airway management

kemampuan ekspansi paru exchange  Buka jalan nafas


Respiratory status : ,gunakan teknik chin lif
ventilaton atau jaw trust bila perlu
,kerusakan membran alveolar – Vital sign status  Posisikan pasien untuk
kapiler Kreteria hasil : memaksimalkan
 Mendemontrasikan ventilasi
peningkatan ventilasi  Lakukan fisiotherapi
dan oksigenisasi yang dada jika perlu
adekuat  Atur intake untuk cairan
 Memelihara kebersihan mngoptimalkan
paru-paru dan bebas keseimbangan
dari tanda tanda  Monitor respirasi dan
distress pernafasan status O2
 Mendemontrasikan Respiratori monitoring
batuk efektif dan suara  Monitor kedalaman
nafas yang bersih ,tidak ,irama dan usaha
ada sianosis dan respirasi
dyspneu ( mampu  Monitor suara nafas (
mengeluarkan sputum bradipnue ,takipneu,
,mampu bernafas kussmaul, hiperventilasi
dengan mudah,tidak ,cheyne stokes)
ada pursed lips
 Tanda –tanda vital
dalam batas normal
4 Nyeri akut berhubungan dengan Noc Nic
proses tindakan drainase Pain lavel  Lakukan pengkajian
Pain control nyeri secara
Comford lavel komprehensif termasuk
Kreteria hasil : lokasi,karakteristuk,dura
 Mampu mengontrol si,frekuensi ,kualitas
nyeri ( tahu penyebab dan faktor predisposisi
nyeri )  Gunakan kominikasi
 Melaporkan bahwa nyeri therapeutik untuk
berkurang dengan mengetahui
menggunakan pengalaman nyeri
manajement nyeri pasien
 Mampu mengenali nyeri  Bantu pasien dan
( skala nyeri ,intensitas keluarga untuk mencari
,frekuensi ,dan tanda dan menemukan
tanda nyeri dukungan
 Menyatakan rasa  Kontrol lingkungan yang
nyaman setelah nyeri dapat mempengaruhi
berkurang nyeri : suhu ruangan
,pencahayaan dan
kebisingan
 Berika analgetik untuk
mengurangi nyeri
5 Ketidakseimbangan nutrisi NOC NIC
kurang dari kebutuhan tubuh  Nutritional status  Kaji adanya alergi

berhubungan dengan  Nutritional status : food makanan

peningkatan metabolisme tubuh and fluid intake  Anjurkan pasien untuk

,penurunan nafsu makan ,akibat  Nutritional status : meningkatkan intake Fe


nutrient intake  Anjurkan pasien untuk
sesak nafas sekunder terhadap
 Weight control meningkatkan protein
penekanan struktur abdomen
Kreteria hasil: dan vitamin
 Adanya peningkatan  Monitor adanya
berat badan sesuai penurunan berat badab
denga tujuan  Jadwalkan pengobatan
 Berat badan sesuai dan tindakan
dengan tinggi badan  Monitor turgor kulit
 Tidak ada tanda –tanda  Monitor mual dan
malnutrisi muntah
 Menunjukan  Monitor kalori dan intake
peningkatan fungsi nutrisi
pengecapan dan  Catat adanya edema
menelan .hiperemik,hipertonik
 Tidak terjadi penurunan papila lidah dan cavitas
berat badab yang berarti oral

F. Evaluasi
Tahap evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
Keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa ,rencana tindakan
dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai ( nursalam 2001 : 63 )
Catatan perkembangan merupakan perkembangan tentang keadaan
klien yang didasarkan pada setiap masalah yang ditemui pada kllien
.modifikasi rencana dan tindakan mengikuti perkembangan klien ,pada teknik
ini catatan perkembangan dapat menggunakan SOAP
S : Data Subyektif
Perkembangan keadaan klien didasarkan pada apa yang dirasakan
Dikeluhkan dan dikemukanan pasien

O : Data Obyektif

Perkembangan yang bisa diamati dan di ukur oleh perawat atau tim
kesehatan lain.

A : Analisis

Kedua jenis data tersebut baik subyektif maupun data obyektif

Dianalisis apakah berkembang kearah perbaikan atau kemunduran .

Hasil analisis dapat menguraikan sampai dimana masalah yang

Dapat diatasi atau adakah perkembngan masalah baru yang dapat

Menimbulkan diagnosa keperawatan baru

P : Perencanaan

Rencana penanganan klien dalam hal ini dapat didasrkan pada hasil

Analisi diatas yang berisi melanjutkan rencana sebelumnya ,apabila

Keadaan atau masalah klien belum teratasi dan membuat rencana

Baru bila rencana awal tidak efektif


BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Efusi Pleura adalah suatu keadaan ketika rongga pleura dipenuhi oleh cairan
(terjadi penumpukan cairan dalam rongga pleura) (Somantri, 2009). Menurut
(Smeltzer dan Bare) efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam rongga
pleura yang terletak diantara permukaanviseral dan parietal, adalah proses
penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanyamerupakan penyakit
sekunder terhadap penyakit lain. Definisi lain dari efusi pleuramerupakan suatu
kelainan yang mengganggu system pernapasan Tanda dan gejala yang
mungkin ditemukan:Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit
karena pergesekan ,setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang,bila cairan
banyak penderita akan sesak batuk kadang berdarah, demam,
menggigil,pernafasan yang cepat,Lemas progresif disertai penurunan
BB,Asites , Dipsnea,Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi
jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan

B. SARAN
Diharapkan mahasiswa / i S1 Keperawatan STIKES Abdi Nusantara dapat
mengetahui ,memahami dan mengaplikasika cara melakukan pengkajian
,menetapkan diagnosa keperawatan ,menyususn perencanaan dan
mengimplentasikannya serta melakukan evaluasi pada klien dengan diagnosa
efusi pleura
RECOMMENDED

Anhy Marten Efusi Pleura.docx 2


1. Definisi    Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan
visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi…

Askep Efusi
Askep Efusi Pleura Ditulis pada September 21, 2011 ASUHAN KEPERAWATAN EFUSI PLEURA a.
TINJAUAN FISIOLOGIS Pleura adalah membran yang melapisi paru. Pleura ada 2 macam yaitu…

ASkep Efusi
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN EFUSI PLEURA DI RUANG ANGGREK 1 RSUD Dr.
MOEWARDI SURAKARTA A. PENGKAJIAN Tanggal masuk Tanggal pengkajian No. Register Diagnosa
medis…

ASKEP EFUSI PLEURA SEMINARprint.docx


KONSEP DASAR A. Pengertian Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses
penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit…

Askep pernapasan efusi pleura


1. 1ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Pengertian Efusi Pleura adalah adanya
cairan dalam kavum pleura Etiologi 1. Hambatan reabsorbsi cairan dari