Anda di halaman 1dari 15

Fototerapi pada Anak : Pertimbangan dan Indikasi

Abstrak: Fototerapi bersifat aman dan dapat menjadi terapi yang efektif pada berbagai
penyakit kulit anak. Pertimbangan khusus dalam penggunaan modalitas terapi ini pada
anak-anak meliputi pasien, keluarga serta faktor fasilitas dengan perhatian yang
tinggi terhadap pertimbangan keamanan dan tolerabilitas terapi. Meskipun fototerapi
telah dianggap efektif pada berbagai penyakit kulit yang mengenai populasi anak-anak,
seperti psoriasis, dermatitis atopik, pitiriasis likenoides, kutaneus T-sel limfoma dan
vitiligo, diperlukan penelitian tambahan pada penyakit-penyakit lain dimana fototerapi
telah menjajikan.

Pendahuluan
Fototerapi dapat ditoleransi dengan baik dan merupakan pengobatan yang efektif
untuk berbagai penyakit kulit pada anak-anak, bagaimanapun juga, diperlukan
pertimbangan khusus saat menggunakan terapi jenis ini, terutama pada anak-anak
dengan usia muda. Pada jurnal ini, dijelaskan pedoman tentang cara mengevaluasi dan
memilih calon pasien anak serta risiko-risiko yang berhubungan. Jurnal ini juga
menjelaskan tentang indikasi pemberian fototerapi pada anak dengan penyakit-penyakit
kulit, seperti psoriasis, dermatitis atopik, likenoid pitiriasis, kutaneus T-sel limfoma dan
vitiligo. Diskusi pada jurnal ini memfokuskan pada fototerapi dengan efikasi berbasis
bukti. Pembaca harus ingat bahwa data yang menunjukkan keamanan dan efikasi dari
fototerapi pada anak-anak masih terbatas, menegaskan bahwa masih diperlukannya
penelitian lebih lanjut.

Pertimbangan khusus penggunaan fototerapi pada anak


Evaluasi pada bayi baru lahir
Fototerapi pada populasi anak-anak paling sering digunakan dalam terapi pada
keadaan hiperbirubinemia tidak terkonjugasi pada bayi-bayi kurang dan cukup bulan.
Evaluasi pada bayi baru lahir dengan peningkatan bilirubin, di luar dari kontribusi jurnal
ini tetapi sumber yag tersedia dapat berfungsi sebagai refrensi.1,2

Evaluasi pada anak-anak dan remaja

1
Menentukan calon pasien anak-anak yang akan diterapi dengan fototerapi
merupakan proses multifaktorial dan harus melibatkan baik pasien maupun orang tua
pasien.
Evaluasi harus diawali dengan anamnesis tentang gejala dari penyakit,
pengobatan yang sebelumnya gagal dan efeknya pada kualitas hidup. Dokter harus
menanyakan tentang lama waktu di sekolah, aktivitas setelah pulang sekolah, pekerjaan
orang tua dan alat transportasi yang digunakan karena hal-hal tersebut membantu dalam
menentukan pilihan pengobatan yang tersedia.
Usia inisiasi tergantung dari jenis fototerapi dan berdasarkan atas kebijaksanaan
konvensional daripada data sesuai dengan pedoman. Karena psoralen yang
ditambahkan dengan ultraviolet A (PUVA) dapat menginduksi terjadinya katarak dan
menyebabkan lensa mata menjadi lebih permeabel pada anak-anak dengan usia yang
lebih muda, oral PUVA merupakan kontraindikasi yang relatif pada anak-anak yang
berusia kurang dari 12 tahun. Anak-anak usia sekolah merupakan usia yang disarankan
untuk memulai terapi UVB tetapi pada pasien dengan usianya yang lebih muda maka
perlu pertimbangan lebih. Perkembangan tumbuh kembang dan watak, emosi dari anak-
anak harus dinilai, termasuk kecemasan anak akan perpisahan, ketakutan pada ruangan
yang tertutup dan kemampuan anak untuk tetap tenang, diam selama menjalani
pengobatan.
Kontraindikasi absolut pada fototerapi yaitu penyakit-penyakit yang didapat atau
diturunkan, yang akan bertambah berat jika terkena sinar ultraviolet seperti lupus
eritematosus, dermatomiositis, xeroderma pigmentosum, porfiria dan sindrom nevus sel
basal.
Riwayat menderita polymorphous light eruption akan mengharuskan
peningkatan secara bertahap pada dosis fototerapi tetapi tidak menjadi kontraindikasi
absolut untuk pemberian fototerapi. Pengobatan yang sedang dikonsumsi harus
ditanyakan untuk menilai obat-obat yang dapat menyebabkan fotosensitivitas, pada
anak-anak biasanya obat-obatan antimikroba, antidepressan, dan antikonvulsan.
Pengobatan yang dikonsumsi dapat merupakan kontraindikasi terhadap fototerapi tetapi
dapat dipertimbangkan penurunan dosis fototerapi. Riwayat keluarga yang menderita
kanker kulit harus ditanyakankan meskipun hal tersebut tidak selalu menjadi
kontraindikasi.

2
Pemeriksaan fisik yang biasa dilakukan pada anak-anak sama dengan evaluasi
warna kulit pada orang dewasa menurut Fitzpatriks dan juga dilakukan penilaian luas
tubuh. Dokumentasi dengan menggunakan kamera dan pencatatan lokasi serta ukuran
nevus pada rekam medis dapat berguna jika nantinya keluarga pasien ingin menilai
adanya perubahan pada lesi nevus selama pemberian fototerapi.
Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium yang spesifik, meskipun adanya
anjuran pemeriksaan antibodi antinuklear sebelum memulai fototerapi pada pasien
dengan penyakit autoimun, seperti vitiligo, sebagai skrining untuk keadaan-keadaan
yang berhubungan dengan fotosenstivitas seperti lupus eritematous yang sebelumnya
tidak terdiagnosis.3 Anamnesis yang terperinci mengenai timbulnya dermatitis yang
tidak diharapkan setelah terpapar sinar matahari dan ketidakmampuan untuk
menoleransi sinar matahari dalam dosis kecil seharusnya cukup untuk kebanyakan
pasien.

Risiko yang terkait


Fototerapi sebagai manejemen dari ikterik neonatus telah digunakan pada jutaan
bayi sejak lebih dari 30 tahun. Efek samping yang langsung timbul meliputi erupsi
eritema, loose stool, hipotermia dan dehidrasi. Mata bayi harus ditutupi untuk
menyingkirkan paparan sinar fototerapi, karena penelitian pada hewan coba
menemukan bahwa degenerasi retina dapat terjadi jika terpapar selama 24 jam secara
terus menerus. Efek samping lain yang dapat langsung terjadi adalah “bronze baby
syndrome”, dimana kulit, serum, dan urin bayi berwarna hitam, abu-abu kecoklatan
pada sebagian bayi dengan ikterik kolestiasis. Keadaan ini biasanya menghilang secara
perlahan-lahan tanpa sekuele dalam waktu beberapa minggu setelah penghentian
fototerapi. Purpura dan erupsi bulosa telah dijumpai pada bayi dengan ikterik bulosa
yang berat atau porfiria kongenital.2
Terdapat penelitian yang menentang pernyataan bahwa neonatal blue light
phototheraphy (NBLP) akan meningkatkan risiko terjadinya nevus melanositik pada
anak-anak dan orang dewasa. Sebuah penelitian di Perancis mengevaluasi jumlah nevus
pada anak usia 9 tahun menemukan bahwa NBLP tidak memiliki peranan utama.6
Penelitian lain menyatakan bahwa NBLP menyebabkan peningkatan prevalensi dari lesi
kutaneus melanositik secara signifikan, termasuk penelitian ganda mengenai

3
perbandingan pasien yang mendapatkan terapi NBLP dengan yang tidak
menendapatkan terapi NBLP.7-9 Tidak terdapat data yang menyatakan risiko terjadinya
melanoma pada populasi ini. Sebuah tulisan kontroversial yang ditujukan kepada
editor, yang dipublikasikan di divisi anak-anak pada tahun 2007, mengemukakan bahwa
NBLP dapat meningkatkan risiko perkembangan nevus displasia, tetapi metodelogi dan
hasil pada penelitian tersebut telah dikritik.10 Penelitian tambahan diperlukan untuk
untuk menetapkan risiko jangka panjang yang mungkin terjadi.
Risiko jangka pendek pada fototerapi UVB meliputi eritema, lepuh dan xerosis
yang disertai dengan rasa gatal, erupsi fotosensitif dan infeksi herpes simpleks yang
berulang. Kecemasan yang terprovokasi juga merupakan salah satu risiko yang dapat
terjadi dan harus didiskusikan.11 Risiko jangka panjang meliputi photo-aging dan
karsinogenesis kutaneus. Potensiasi karsinogenis pada anak-anak masih belum jelas.
Terdapat satu laporan kasus yang bermakna tentang melanoma in situ pada anak
perempuan berusia 11 tahun dengan psoriasis yang mendapatkan narrow band
ultraviolet (NBUVB) selama 11 bulan, bagaimanapun juga akhirnya disimpulkan
sebagai nevus Spitz.12 Terdapat beberapa penelitian pada populasi orang dewasa tidak
mendeteksi hubungan antara fototerapi dengan kanker kulit non melanoma atau
melanoma.13,14 NBUVB mungkin memiliki risiko yang lebih kecil meskipun NBUVB
saat ini masih merupakan terapi baru dan efek jangka panjang masih belum dapat
ditentukan. Karena belum adanya data yang mencukupi, berat badan harus dicantumkan
karena adanya risiko kanker kulit pada anak-anak karena mungkin pasien akan
mendapatkan terapi UVB dalam waktu tahunan dan mungkin dilanjutkan dengan
pemberian imunosupressan.
Profil keamanan pada UVA lebih mengkhawatirkan. Psoralen oral sendiri dapat
menyebabkan mual dan muntah. Terdapat kekhawatirkan UVA dapat menyebabkan
hepatotoksisitas tetapi pada penelitian berskala besar menyatakan bahwa tidak terdapat
temuan laboratorium yang signifikan.15,16 Efek samping jangka pendek dari pemberian
psoralen ditambah dengan UVA meliputi eritema, bengkak dan dapat terbentuk lepuh.
Karena UVA dapat menyebabkan katarak dan lensa mata lebih permeabel pada anak-
anak, oral PUVA merupakan kontraindikasi pada anak-anak yang berusia kurang dari
12 tahun. Photoaging jangka panjang meliputi perubahan pigmen, rhytides, xerosis,
kerusakan aktinik dan PUVA lentiginosis.16 Fotokarsinogenesis merupakan

4
kekhawatiran utama, dimana peningkatan risiko kanker kulit non melanoma telah
dilaporkan pada anak-anak dengan psoriasis yang mendapatkan terapi PUVA.17 Risiko
terjadinya melanoma masih tetap menjadi kontroversi. Berdasarkan pada efek profil
tersebut, PUVA pada umumnya diberikan pada anak-anak dengan psoriasis
palmoplantar yang refrakter dibarengi dengan pemberian topikal dibandingkan dengan
psoralen sistemik.

Strategi terapi di klinik


Dengan orientasi dan dukungan yang seksama, anak-anak biasanya memberikan
hasil program terapi yang memuaskan pada fototerapi yang diberikan di klinik.
Orientasi mengenai ruangan fototerapi dan proses fototerapi sebelum dilakukannya sesi
1 dari pemberian fototerapi, diberikan pada pasien dan keluarganya, hal ini berdasarkan
pada efektifitas, keamanan dan kenyamanan dari fototerapi. Pasien dan orang tuanya
harus memiliki kesempatan untuk berada di dalam ruangan fototerapi dan mengetahui
cara keluar dari ruangan jika diperlukan. Selama masa orientasi, keluarga pasien harus
diingatkan untuk memberi tahu staf atau melapor ke bagian farmasi tentang pengobatan
terbaru yang sedang dikonsumsi, seperti antimikroba, yang baru mulai dikomsumsi
pasien pada saat memulai fototerapi untuk menghindari terjadinya reaksi foto
sensitivitas selama menjalani terapi. Jika selama terapi pasien akan menggunakan
pakaian, menyimpannya di klinik fototerapi merupakan cara termudah untuk
memastikan bahwa pasien akan selalu menggunakan pakaian yang sama, hal ini
bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya luka bakar pada kulit baru terpapar. Jika
pasien tidak memerlukan terapi pada wajah maka wajahnya harus ditutup selama terapi
berlangsung. Terdapat berbagai alat penutup wajah yang tersedia, hal ini bergantung
dengan standard pada klinik dan tingkat kenyamanan pasien.
Bekerja sama dengan orang tua untuk membantu anak-anak dalam menentukan
jadwal fototerapi akan menghasilkan sesi pengobatan yang optimal. Selama terapi,
orang tua dapat berada di luar ruangan atau pintu ruangan dapat dibuka sedikit sehingga
orang tua dapat menggenggam tangan anaknya selama terapi berlangsung. Pasien boleh
ditemani oleh orang tuanya di dalam ruangan fototerapi dengan tujuan nantinya pasien
tidak perlu ditemani lagi oleh orang tuanya.

5
Fototerapi untuk pasien anak-anak dapat menyulitkan karena anak-anak suka
melakukan tanning di dalam ruangan, ini merupakan kegiatan yang sedang marak
dilakukan oleh para remaja. Pada tahun 2011, sebanyak 13,3% pelajar sekolah
menengah umum di Amerika Serikat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan
kegiatan tanning dan terjadi peningkatan prevalensi menjadi 29,3% pada wanita non-
Hispanik.18 Beberapa remaja mungkin telah menyadari bahwa tanning dalam ruangan
memperbaiki kondisi kulit mereka. Remaja yang melakukan tanning dan menjalani
fototerapi, akan terpapar sinar ultraviolet dalam jumlah yang tidak diketahui dan
memiliki peningkatan faktor risiko terjadinya efek samping seperti iritasi, eritema dan
luka bakar. Menanyakan dan menurunkan kebiasaan tanning, walaupun tanning hanya
dilakukan pada keadaan-keadaan tertentu seperti saat akan mendatangi acara perpisahan
sekolah, merupakan alasan para remaja harus dipertimbangkan sebagai intake dan
orientasi pada remaja untuk melakukan fototerapi.

Strategi terapi di rumah


Fototerapi yang diberikan di luar klinik, baik dengan paparan alami sinar
matahari atau dengan alat fototerapi yang dapat digunakan di rumah, merupakan
alternatif pada pasien anak-anak dengan jadwal dan watak yang menghalangi
kedatangan mereka ke klinik dan terapi fototerapi yang dilakukan pada ruangan.
Paparan alami sinar matahari juga merupakan alternatif pada biaya, selama
musim gugur dan musim panas untuk anggota keluarga yang dapat membatasi paparan
sinar matahari pada anak-anaknya. Paparan sinar matahari tanpa perlindungan pada
daerah yang terpapar selama 10 sampai 15 menit pada tengah hari dapat memperbaiki
kondisi-kondisi fotosensitivitas seperti psoriasis ringan sampai sedang, vitiligo dan
dermatitis atopik. Paparan pada siang hari biasanya tidak dapat dilakukan pada anak-
anak dengan usia yang lebih tua selama masa sekolah tetapi paparan alami sinar
matahari pada musim panas memberikan kesempatan jeda dalam menghadiri sesi
foterapi di klinik. Orang tua harus membatasi paparan sinar matahari untuk menghindari
terbakar sinar matahari dan iritasi, serta harus mengaplikasikan tabir surya dan pakaian
pelindung sinar matahari jika anak sudah terpapar matahari selama 10 sampai 15 menit
tanpa perlindungan. Psoralens topikal tanpa bukti ilmiah, telah digunakan bersaaman
dengan paparan alami sinar matahari sebagai terapi pada pasien anak-anak dengan

6
vitiligo tetapi penggunaannya harus hati-hati karena efeknya sebagai agen
fotosensitivitas.
Pada anak-anak yang berpotensi memerlukan fototerapi dalam jangka waktu
panjang, maka fototerapi dengan menggunakan alat, yang dapat dilakukan di rumah
merupakan pilihan terapi yang lain. Banyak alat foteterapi NBUVB yang dapat
diletakkan di rumah memiliki panel yang terbuka, mungkin kurang menakutkan
dibandingkan ruangan fototerapi di klinik. Anak-anak juga lebih nyaman menerima
fototerapi di lingkungan rumahnya. Alat fototerapi yang dapat diletakkan di rumah
biasanya memerlukan sesi yang lebih lama, dengan aliran radiasi yang lebih rendah dan
pemantauan yang ketat untuk menghindari penyalahgunaan. Alat fototerapi di rumah
memerlukan follow up dengan dokter yang meresepkan fototerapi untuk menetukan
terapi tambahan, biasanya dalam satuan 25 sampai 75 sesi.

Indikasi umum fototerapi pada anak-anak

Psoriasis

Modalitas NBUVB, broadband UVB (BBUVB),


PUVA
Bukti yang mendukung Beberapa penelitian retrospektif dengan
jumlah sampel yang besar
Indikasi Berpontesi sebagai terapi lini pertama
pada pasien dengan ruam yang luas,
terutama pada pasien psoriasis gutata atau
pada penyakit dengan plak yang tipis

Fototerapi merupakan pengobatan yang efektif pada pasien anak-anak dengan


psoriasis (tabel 1). NBUVB (311-313 nm) yang paling sering diteliti dan diresepkan
karena relatif memiliki nilai yang positif pada profil keamanan, efikasi dan cara
pemberiannya mudah. Pada peneliatian terbaru dan penelitian dengan jumlah sampel
terbanyak, 88 pasien anak-anak dengan psoriasis dengan rerata usia 12 ± 4 tahun
mendapatkan terapi NBUVB selama 3,1 ± 2,26 bulan dengan dosis kumulatif rata-rata

7
46,5 J/cm2. Hasilnya, sebanyak 92% anak-anak yang mendapatkan terapi dengan
NBUVB mendapatkan perbaikan lebih dari 75% dengan nilai clearance penuh
sebanyak 51%.12 Hasil ini sama seperti penelitian kohort retrospektif yang sebelumnya
telah dilakukan (Tabel 1).

Modalitas terapi lain termasuk broadband UVB (BBUVB, 290-320 nm) dan
UVA (320-400 nm) dengan psoralen topikal atau sistemik. Pada sebuah penelitian
dengan sampel 30 pasien psoriasis (rerata berumur 11 ± 3,6 tahun) diterapi dengan
BBUVB (angka rata-rata yang mendapatkan pengobatan 28,8 ± 13,3), sebanyak 93,3%
partisipan mendapatkan perbaikan lebih dari 75%. Tujuh pasien psoriasis berbentuk
plak atau psoriasis gutata diterapi dengan PUVA dan sebanyak 83% megalami
perbaikan lebih dari 75% setelah mendapatkan terapi PUVA sebanyak 28 kali.
Regimen fototerapi yang meliputi terapi tambahan seperti terapi topikal lain dan
agen sistemik lain telah diteliti dengan hasil yang berbeda-beda. Agen topikal memiliki
efikasi pada pasien yang mendapatkan fototerapi, termasuk emolien berbahan dasar
serum (contohnya minyak mineral), kortikosteroid topikal, analog vitamin D (harus
diaplikasikan setelah fototerapi), tar batubara atau topikal retinoid23,25-27; meskipun
asam salisat topikal dapat menurunkan efikasi fototerapi.26 Retinoid sistemik telah
dilaporkan dapat meningkatkan efikasi dari terapi UV sedangkan metotreksat harus
dipakai secara hati-hati karena dapat meningkatkan risiko terjadinya fotosensitivitas.26,28
Tidak terdapat konsesus yang menentukan tentang fototerapi pada skema
pengobatan pasien anak-anak dengan psoriasis. Pada umumnya, fototerapi harus

8
dipertimbangkan pada pasien yang lebih tua, pada pasien-pasien dengan keterlibatan
yang difus atau pada pasien yang memiliki kontraindikasi dengan terapi sistemik. 29,30
Fototerapi juga dinyatakan lebih efektif dalam mengobati psoriasis gutata dan penyakit
dengan plak yang tipis.30 Dapat juga dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama pada
pasien dengan lesi yang difus atau lesi yang melemahkan.
Kesimpulannya NBUVB, BBUVB dan PUVA merupakan terapi yang efektif
pada pasien anak-anak dengan psoriasis. Meskipun terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi pilihan dokter dalam menentukan modalitas terapi, kami menyarankan
NBUVB sebagai regimen yang dianjurkan karena relatif memiliki profil keamanan dan
efikasi yang positif serta mudah cara pemberiannya.

Dermatitis Atopik

Modalitas NBUVB, BBUVB, PUVA, UVA


Bukti yang mendukung Randomized Control Trial yang multipel
Indikasi Terapi lini kedua setelah pemberian
terapi topikal secara maksimal ±
siklosporin oral

Fototerapi harus dipertimbangkan sebagai terapi lini kedua pada pasien anak-
anak dengan atopik dermatitis yang sedang sampai dengan berat. Terdapat pernyataan
terbaru dari American Academy of Dermatology yang menyatakan bahwa baik UVA
maupun UVB dapat ditoleransi dengan baik dan merupakan terapi yang efektif pada
dermatitis atopik anak, baik sebagai monoterapi maupun sebagai terapi kombinasi
dengan emolien dan steroid topikal.31 Fototerapi paling baik dipertimbangkan saat
pemberian terapi topikal sudah diberikan maksimal dan dapat diberikan secara
terjadwal, berselang dari waktu ke waktu atau secara terus-menerus sebagai terapi
pemeliharaan untuk pasien dengan penyakit yang refrakter.32 Sebuah tinjauan terbaru
menunjukkan posisi fototerapi pada tingkatan terapi, serupa dengan terapi sistemik
seperti metotreksat, azatioprin dan mikofenolat mofetil setelah pemberian siklosporin
oral. Fototerapi mungkin paling baik diberikan sebagai terapi tambahan yang potensial
pada anak-anak dengan yang lebih tua, terutama dengan penyakit yang kronis, seperti

9
penyakit likenoid.33
Terdapat bukti kuat yang mendukung efikasi fototerapi pada anak-anak dengan
dermatitis atopik. Pada umumnya NBUVB merupakan modalitas terapi yang dianjurkan
sebagai terapi dari dermatitis atopik pada pasien anak-anak. Sebuah penelitian
randomized controlled trial yang multipel, dengan 905 sampel dimana usia reratanya
adalah 32 tahun (usia antara dari 8-83 tahun), menyimpulkan bahwa fototerapi NBUVB
dan UVA1 paling baik ditoleransi dan merupakan modalitas yang paling efektif untuk
pasien dermatitis atopik.34 Dalam sebuah penelitian kohort prospektif pada anak-anak
berusia 3 sampai 16 tahun dengan dermatitis atopik sedang sampai berat, dilakukan
evaluasi terhadap efikasi terapi dengan NBUVB. Semua pasien sudah mendapatkan
terapi topikal yang optimal dan ditawarkan untuk melakukan fototerapi. Sebanyak 29
pasien yang mendapatkan fototerapi mengalami penurunan sebesar 61% nilai rata-rata
dari Six Area, Six Sign Atopic Dermatitis (SASSAD) dibandingkan dengan 26 pasien
yang menunda fototerapi, hanya mengalami penurunan sebanyak 6%. Selain itu, rata-
rata luas permukaan tubuh yang terlibat pada akhir pengobatan adalah 11% untuk
kelompok NBUVB dibandingkan dengan kelompok yang tidak terpajan sebesar 36%.
Subjektif dan skor kualitas hidup menunjukkan perbedaan yang signifikan antar
penelitian pada akhir pengobatan (P < 0,5). Angka subjektif secara signifikan tetap lebih
rendah dibandingkan dengan penelitian kohort pada pasien-pasien yang tidak
mendapatkan fototerapi, 3 dan 6 bulan setelah pengobatan.35

Pitiriasis likenoides

Modalitas NBUVB

Bukti yang mendukung Beberapa laporan kasus yang jumlahnya


sedikit

Indikasi Terapi lini pertama, terutama pada


pitiriasis likenoides yang kronis dan pada
penyakit dengan plak yang tipis

10
Pitiriasis likenoides (PL) baik yang akut (pitiriasis likenoides et varioformis
akuta; PLEVA) dan yang kronis (pitiriasis likenoides kronis; PLC) merupakan kondisi
inflamasi pada kulit yang biasanya sulit untuk diobati. Karena penyakit ini jarang
ditemukan, bukti yang mendukung efikasi fototerapi pada anak-anak dengan
PLEVA/PLC terbatas hanya pada beberapa laporan kasus. Tinjauan dari 5 pasien PL (2
dengan PLEVA dan 3 dengan PLC) yang diterapi dengan NBUVB, kelima pasien
tersebut mengalami remisi komplit setelah rata-rata menjalani 21 sesi fototerapi (antara
13-40 sesi) sesuai dengan rata-rata lama terapi yaitu 4 bulan (antara 2-8 bulan). Dengan
dosis rata-rata yang diberikan adalah 21 J/cm2 (antara 15-32 J/cm2). Saat dilakukan visit
untuk memfollow up pasien, remisi dari penyakit pada setiap pasien masih bertahan
sampai bulan ke-3 dan ke-6.36
Dokter yang memikirkan pengobatan menggunakan fototerapi pada pasien anak-
anak dengan PL, harus mempertimbangkan laporan tingginya angka kekambuhan dan
perbedaan morfologi antara PLEVA dengan PLC. Pada tahun 1990 terdapat penelitian
yang menyatakan bahwa sebanyak 89 pasien melaporkan terapi dengan UVB efektif
dalam meredakan gejala dan mengkontrol erupsi; meskipun penulis menyatakan bahwa
fototerapi tidak mengubah perjalanan penyakit, karena tingginya angka kekambuhan
dari penyakit ini.37 Pada penelitian tahun 2015, pengobatan dengan fototerapi yang
dilakukan secara terus menerus mungkin diperlukan untuk melawan kekambuhan dari
penyakit, rencana pengobatan dibatasi oleh permintaan pengobatan yang praktis dan
masalah keamanan penggunaan fototerapi dalam jangka panjang.38 Akhirnya, penelitian
retrospektif menyatakan bahwa anak-anak dengan PLC memiliki respon yang baik
dengan fototerapi dibandingkan pada PLEVA, hal ini mungkin dipengaruhi oleh
ketidakmampuan terapi UV untuk berpenetrasi karena lesi pada PLEVA relatif lebih
tebal.
Belum terdapat bukti dari keuntungan fototerapi sebagai terapi tambahan pada
terapi sistemik, seperti kortikosteroid, antibiotik dan antihistamin. Sebuah penelitian
dari 70 pasien dengan rerata usia 25 ± 18 tahun (antara 2-80 tahun) yang diobati dengan
fototerapi, membandingkan efikasi klinis dari fototerapi NBUVB, terapi sistemik serta
kombinasi antara NBUVB dan terapi sistemik pada pengobatan PL. Berdasarkan pada
90% pasien yang sudah mengalami clearance komplit dari hasil penelitian kohort
hanya dengan terapi NBUVB, dinyatakan bahwa monoterapi menggunakan NBUVB

11
efektif dan dapat ditoleransi dengan baik dalam mengeliminasi kebutuhan terapi
sistemik; 81,1% pasien yang diterapi dengan NBUVB tidak mengalami kekambuhan
penyakit selama 20 minggu dan hasilnya berlaku pada semua kelompok umur termasuk
pada anak-anak.39
Tidak terdapat konsesus yang sudah ditetapkan dalam menentukan posisi
fototerapi dalam tingkatan penatalaksanaan PL. Meskipun NBUVB, mungkin
dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama pada PL yang generalisata atau PL yang
rekuren dan sebagai terapi lini kedua pada PL terlokalisir yang gagal dengan terapi
steroid topikal atau antimikroba, penelitian tahun 2007 dengan 124 pasien anak-anak PL
di pusat akademik, dilaporkan bahwa hanya 11 orang yang diberikan fototerapi setelah
gagal dengan pengobatan lain.36,40 Peneliti menemukan kesulitan dalam pemberian
fototerapi dan ketidakpastian efek samping dalam pemberian foto terapi dalam jangka
panjang, karena faktor-faktor yang membatasi penggunaan fototerapi. Peneliti lain
memperhatikan adanya perbaikan setelah pemberian fototerapi yang relatif singkat pada
PL dibandingkan pada penyakit lain, menurunkan risiko timbulnya keganasan.41 Pada
semua terapi karena keefektifitasan dan tolerabilitasnya, NBUVB harus
dipertimbangkan pemberiaannya bersamaan dengan antimikroba oral sebagai terapi lini
pertama yang potensial pada anak-anak dengan PL, terutama pada tipe PLC.

Kutaneus T-sel limfoma

Modalitas NBUVB, oral UVA, PUVA topikal

Bukti yang mendukung Beberapa penelitian retrospektif dengan


jumlah sampel yang menengah

Indikasi Terapi lini pertama pada stage I MF,


terutama tipe hipopigmentasi

Penelitian retrospektif terbaru menetapkan baik PUVA dan NBUVB sebagai


terapi yang efektif untuk stadium I kutaneus T-sel limfoma pada pasien anak-anak,
dimana NBUVB lebih dianjurkan karena pemberiannya mudah.

12
Fototerapi telah digunakan pada 28 pasien dengan usia retara antara 11,6 ± 3,9
tahun. Semua pasien stadium I (IA = 10, IB = 17, tidak jelas = 1) dengan rata-rata
follow up setelah didiagnosis 43 bulan (antara 6-274 bulan). NBUVB digunakan
pertama kali sebagai terapi lini pertama pada 18 pasien dan PUVA digunakan pada 8
pasien. Remisi komplit atau sebagian telah diobservasi pada 19 pasien diantara 22
pasien (58%) yang mendapat terapi dengan NBUVB, setelah diterapi selama rerata 4
bulan (antara 4-29 bulan). Pemberian fototerapi tambahan diperlukan pada 4 sampai 8
pasien (50%) memberikan hasil yang memuaskan pada terapi dengan PUVA selama
rerata 45,5 bulan (antara 30-80 bulan). Tidak dijumpai perkembangan penyakit selama
follow up (rerata 43 bulan).41 Hasil ini sesuai dengan penilitian sebelumnya yang
menemukan efektifitas fototerapi serta kemampuannya dalam menurunkan kekambuhan
penyakit. Pada akhirnya, penelitian lain menyarankan fototerapi dapat sangat efektif
pada pasien dengan lesi hipopigmentasi.42
Bukti yang terbatas mengindikasikan PUVA topikal efektif pada stadium awal
kutaneus sel-T limfoma. Laporan kasus pada tahun 2002 dari 3 pasien anak-anak yang
diterapi dengan PUVA topikal mendapatkan respon komplit sebanyak 100% dengan
efek samping yang baik.43 Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menetukan efikasi
dari modalitas terapi ini.

Vitiligo

Modalitas NBUVB, kombinasi UVA1 dan UVB,


eximer laser, PUVA topikal

Bukti yang mendukung Beberapa penelitian retrospektif dengan


sampel yang besar

Indikasi Terapi lini kedua setelah pengobatan


topikal yang optimal, dipertimbangkan
sebagai terapi lini pertama pada penyakit
yang difus

13
Fototerapi NBUVB, targeted phototherapy yang mengkombinasi UVA1 dan
UVB, fototerapi dengan lampu eximer 308 nm dan PUVA topikal telah digunakan
secara efektif untuk mengobati anak-anak dengan vitiligo.
NBUVB merupakan modalitas yang paling banyak dipelajari pada anak-anak
dengan vitiligo dengan beberapa penelitian retrospektif. Yang terbaru, tahun 2015
sebanyak 71 pasien yang berusia 5 sampai 15 tahun dengan tipe kulit IV sampai VI
telah diterapi dengan berbagai modalitas tersebut, terdapat 74% yang memberikan
respon yang baik dengan UVB (14/19), 67% dengan kombinasi UVB dan UVA1
(26/39), 54% dengan laser eximer (10/19) dan 53% dengan PUVA topikal yang
“dilukis” (13/24).
Meskipun terapi vitiligo pada anak-anak biasanya ditunda, khususnya pada anak
dengan tipe kulit yang lebih rendah, terapi pada anak-anak dengan vitiligo harus dimulai
pada awal proses penyakit karena akan memberikan yang respon lebih baik.45 Karena
terapi ini diberikan pada anak-anak maka terdapat beberapa kelompok yang
menyarankan penghentian terapi setelah 6 bulan jika tidak terdapat perbaikan, untuk
membatasi semua efek samping yang dapat timbul dan mengurangi risiko terjadinya
keganasan.46 Pemberian bersamaan dengan takrolimus 0,1% dapat meningkatkan respon
pada fototerapi.47 Kortikosteroid topikal juga memberikan efek terapi yang sinergis dan
menguntungkan, dimana pemberian bersamaan dengan kalsipotriol tidak efektif.48
Penelitian tahun 2014 menyarankan fototerapi pada anak-anak dengan vitiligo
yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi topikal dan pada anak-anak dengan
keterlibatan permukaan tubuh yang luas atau dengan keparahan penyakit yang
meningkat. Excimer UVB direkomendasikan pada anak-anak dengan keterlibatan
permukaan tubuh yang terbatas tetapi sudah resisten terhadap terapi NBUVB yang
diberikan secara generalisata atau pada area tertentu yang memerlukan dosis lebih
tinggi.49 PUVA topikal harus dipertimbangkan untuk plak terlokalisir yang resisten
dimana tidak respon terhadap terapi lain. Tahun 2015, akhirnya terdapat penelitian
retrospektif dengan 159 pasien vitiligo segmental berusia 1 sampai 62 tahun yang
diterapi dengan kombinasi laser excimer 308 nm, takrolimus topikal dan kortikosteroid
jangka pendek memberikan hasil, dimana minimal sebanyak 75% mengalami
repigmentasi pada 50,3% pasien setelah terapi rata-rata selama 12.1 bulan.50 Hasil ini
menyarankan bahwa terapi kombinasi mungkin merupakan pendekatan yang efektif

14
pada pasien-pasien yang sulit diobati, pada penyakit yang refrakter.

Keadaan lain

Keadaaan lain dimana pasien anak-anak berhasil diterapi dengan fototerapi


adalah pada scleroderma terlokalisir, morfea, prurigo nodular, histiositik sel Langerhans
dan cutaneus graft vs host disease (GVHD) meskipun evaluasi efikasi pada keadaan-
keadaan ini terbatas karena kurangnya pelaporan kasus.24,51,52
Fototerapi juga telah digunakan untuk mengurangi gejala pada kulit dari
beberapa erupsi yang disebabkan oleh sensitivitas terhadap cahaya seperti fotoporfiria
eritropoetik dan polymorphic light eruption. Fotoprofilaksis telah dilaporkan
meningkatkan toleransi paparan sinar matahari berikutnya pada pasien-pasien yang
mendapatkan terapi tersebu dan fototerapi dapat dipertimbangkan sebagai
fotoprofilaksis pada keadaan dermatologi lain, yang diketahui disebabkan oleh
sensitivitas terhadap cahaya.
Pada akhirnya, fototerapi ditemukan tidak selalu berguna pada semua penyakit
kulit pada anak-anak, seperti pada yang telah dicobakan. Dua penelitian retrospektif
menemukan bahwa respon terhadap pemberian PUVA topikal dan oral tidak lebih baik
dibandingkan dengan remisi spontan pada pasien alopesia areata yang diobati dengan
PUVA topical dan oral.54,55 Karena tingginya angka kekambuhan, kurangnya penelitian
randomized controlled trial dan meningkatnya risiko dari keganasan pada kulit dengan
terapi PUVA, sebuah tinjauan terbaru yang mengulas tentang pilihan pengobatan pada
alopesia areata menganggap bahwa terapi ini kurang disarankan.56

Kesimpulan

Literatur terbaru menyarankan bahwa anak-anak dapat diobati secara aman dan
efektif dengan berbagai bentuk fototerapi untuk kondisi tertentu, seperti psoriasis,
dermatitis atopic dan vitiligo, meskipun diperlukan penelitian prospektif untuk
mengetahui risiko jangka panjang dari terapi ini, terutama pada anak-anak.

15