Anda di halaman 1dari 22

4.

Keputusan Investasi Modal


Investasi Modal digunakan untuk menjelaskan rencana manajer untuk mengeluarkan dana
dalam jumlah besar untuk membiayai proyek-proyek yang memilliki implikasi jangka
panjang. Investasi tidak hanya mencakup penanaman dana, tetapi pembelian barang dagangan
dan peralatan merupakan investasi. Dalam hal ini, manajer harus secara hati-hati memilih
proyek yang menjanjikan kembailan masa mendatang yang paling besar. Kepiawaian para
manajer untuk membuat keputusan investasi modal merupakan faktor yang paling penting
yang berpengaruh terhadapa perusahaan dalam jangka panjang.
Perencanaan Investasi
Jenis-jenis Keputusan Investasi Modal
Jenis-jenis keputusan investasi modal adalah:
1. Keputusan pengurangan biaya
2. Keputusan pelunasan pabrik dan fasilitas penggudangan
3. Keputusan pemilihan mesin
4. Keputusan untuk membeli atau menyewa
5. Keputusan penggantian peralatan
Keputusan investasi modal dapat dibagi menjadi 2 kelompok:
1. Keputusan penyaringan (Screening decision)
Adalah jenis keputusan yang berkaitan dengan apakah usulan proyek investasi memenuhi
standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Keputusan pemilihan (Preference decision)
Adalah jenis keputusan yang berkaitan dengan pemilihan beberapa alternative usulan proyek
investasi.
Nilai Waktu Uang
Dalam pembuatan keputusan investasi modal, perlu digunakan teknik atau pendekatan
yang mengakui nilai waktu uang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa nilai satu rupiah
pada hari ini lebih besar dibanding dengan nilai satu rupiah pada tahun yang akan datang.
Kondisi ini juga berlaku dalam pemilihan alternative proyek investasi.
Teknik investasi modal yang mengakui kedua karakteristik investasi bisnis adalah
teknik yang melibatkan arus kas yang didiskontokan(discounted cash flow), yaitu arus kas
yang dinilai kembali menurut kesetaraan waktu. Dengan penilaian kembali tesebut, angka-
angka rupiah dapat diperbandingkan satu sama lain dan perusahaan dapat pula mengetahui
apakah sebuah usulan proyek investasi memenuhi standar (criteria) minimum yang telah
ditetapkan atau tidak.
Ada dua pendekatan dalam pendiskontoan arus kas, yaitu:
1. Metode Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value/NPV)
Dengan metode NPV, penilaian sebuah usulan investasi dilakukan dengan prosedur
sebagai berikut:
· Seluruh arus kas masuk yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi dinilai tunaikan.
· Seluruh arus kas keluar selama umur proyek juga dinilaitunaikan.
· Nilai tunai arus kas masuk dijumlahkan dan nilai tunai arus kas keluar juga dijumlahkan.
· Bandingkan nilai uang tunai arus kas masuk dan jumlah nilai tunai arus kas keluar.
Selisih antara kedua angka disebut dengan net present value. Angka ini digunakan
untuk membuat keputusan menerima atau menolak sebuah usulan investasi. Jika nilai tunai
arus kas masuk lebih besar dari jumlah nilai tunai arus kas keluar, maka usulan investasi
tersebut diterima, demikian pula sebalikanya, jika jumlah nilai tunai arus kas masuk lebih
kecil dibanding jumlah nilai tunai arus kas keluar, maka usulan investasi ditolak.
Mengapa analisis menekankan pada arus kas? Alasan utamanya adalah bahwa laba
akuntansi dihitung berdasarkan konsep accrual yang mengabaikan timing arus masuk dan
arus keluar kas. Meskipun informasi laba bersih sangat bermanfaat bagi keperluan lain,
namun informasi laba bersih tidak digunakan dalam analisis pendiskontoan arus kas. Dengan
demikian, manajer dapat mengabaikan informasi laba bersih dan lebih berkonsetrasi pada
upaya mengidentifikasi arus kas yang berhubungan dengan sebuah proyek investasi.
Jenis-jenis arus kas, antara lain:
1. Arus kas keluar, merupakan investasi awal (termasuk biaya instalasi), kenaikan modal
kerja, reparasi dan pemeliharaan, dan kenaikkan biaya operasi.
2. Arus kas masuk, merupakan kenaikkan pendapatan, penurunan biaya, nilai sisa/residu, dan
pembebasan modal kerja.
Pemulihan investasi awal. Ketika menghitung nilai tunai sebuah proyek, depresiasi tidak
dikurangkan , karena:
1) Depresiasi merupakan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas saat ini.
2) Metode pendiskontoan arus kas secara otomatis memberikan kembalian investasi awal,
sehingga pengurang depresiasi tidak diperukan.
Penyederhanaan asumsi. Dalam menggunakan metode arus kas yang didiskontokan,
minimum ada dua asumsi yang disederhanakan, yaitu:
1. Seluruh arus kas selain investasi awal dianggap terjadi pada akhir tahun.
2. Seluruh arus kas yang dihasilkan oleh sebuah proyek investasi segera diinvestasikan
kembali.
Pemilihan tingkat bunga (discount rate). Untuk menggunakan metode NPV, kita harus
memilih tingkat kembalian untuk pendiskontoan arus kas menjadi nilai tunai. Tingkat
kembalian yang digunakan dalam perhitungan biasanya merupakan tingkat bunga umum
yang berlaku di pasar. Umunya mengacu pada biaya modal (cost of capital) perusahaan.
Biaya modal adalah rata-rata tingkat kembalian yang harus dibayarkan oleh perusahaan
kepada kreditur jangka panjang dan para pemegang saham untuk pengguna modal
mereka. Yang dimaksud dengan modal terdiri dari modal asing (utang) dan modal sendiri
(modal saham).
2. Metode Tingkat Kembalian Internal (Internal Rate Of Return/IIR)
The time-adjusted rate of return (TARR) atau internal rate of return (IIR) adaah
tingkat bunga yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi selama umur proyek tersebut.
Tingkat bunga ini sering disebut dengan hasil (yield) sebuah proyek investasi. IIR dihitung
dengan mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai tunai arus kas keluar dan nilai tunai
arus kas masuk sebuah proyek. Dengan kata lain, IIR adalah tingkat bunga yang
menghasilkan angka NPV sama dengan nol. Jadi IIR merupakan true interest yield yang
dijanjikan olh sebuah proyek investasi.
Penggunaan angka Intenal Rate of Return
Tingkat kembalian minimum adalah tingkat kembalian yang diharapkan dari sebuah
proyek investasi. Apabila angka IIR lebih besar atau sama dengan tingkat kembalian
minimum yang diharapkan, maka usulan sebuah proyek dapat diterima. Jika angka IIR lebih
kecil dari tingkat kembalian minimum, maka usulan investasi ditolak. Angka yang dijadikan
patokan dasar untuk menetapkan tingkat kemalian minimum adalah biaya modal (cost of
capital).
Biaya modal (cost of capital) sebagai alat penyaring usulan investasi. Jika perusahaan
menggunakan metode IIR, biaya modal digunakan sebagai tarif penghambat (hurdle rate)
yang harus dilewati oleh sebuah proyek investasi agar usulan proyek itu diterima.
Jika perusahaan menggunakan metode NPV, maka biaya modal dipakai sebagai
tingkat bunga (discount rate) guna menghitung NPV untuk usulan proyek investasi.
Perbandingan Antara Metode NPV dan Metode IIR
1. Metode NPV lebih mudah digunakan
2. Asumsi yang dibangun dalam metode IIR memunculkan pertanyaan.
Yang menyebabkan perbedaan antara metode NPV dengan metode IIR adalah (1)
metode NPV menganggap bahwa arus masuk kas akan diinvestasikan kembali pada tingakat
kembalian tertentu, sedangkan metode IIR tingkat kembaliannya sama dengan IIR, (2) NPV
mengukur kemampulabaan dalam angka absolute, sedangkan IIR mengukurnya dalam angka
relative (%).
Capital Rationing
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam melakukan
kajian dan pemilihan proyek-proyek dengan kendala dana untuk menghasilkan nilai
maksimum bagi perusahaan disebut capital rationing, yaitu merupakan pendekatan dalam
pemilihan berbagai alternative proyek investasi apabila perusahaan memiliki dana terbatas.
Dalam pendekatan ini, nilai perusahaan dimaksimumkan dengan memilih kombinasi proyek
yang merayap dana yang tersedia dan memaksimumkan jumlah NPV.
Proyek independen dan investasi parsial. Untuk memilih proyek investasi yang
memaksimumkan jumlah NPV dapat digunakan indeks NPV apabila 2 kondisi ini terpenuhi,
yaitu: (1) proyek investasi yang dianalisis bukan proyek yang saling meniadakan (mutually
exclusive), dan (2) dimungkinkan investasi parsial. Indeks NPV dapat dihitung dengan
membagi NPV dengan investasi awal.
Indeks NPV = NPV/Investasi awal
Investasi yang dapat dipecah (divisible investment), artinya investasi dapat dilakukan
untuk sebagian saja, sedangkan investasi yang tidak dapat dipecah (indivisible investment),
artinya nilai investasinya harus 100%.
Jika dana yang dimiliki oleh perudahaan tidak terbatas jumlahnya, maka proyek yang
menghasilkan NPV tertinggilah yang akan dipilih dari proyek-proyek yang saling
meniadakan. Namun jika dana yang tersedia terbatas, maka criteria NPV tidak dapat lagi
digunakan karena pemilihan beberapa proyek akan mempengaruhi ketersediaan dana untuk
proyek-proyek lainnya.
Pendekatan Lain Dalam Analisis Investasi Modal
Metode-metode untuk menganalisis investasi modal antara lain:
1. Metode Periode Kembalian Investasi (Payback Method)
Periode kembalian investasi adalah waktu yang diberikan oleh sebuah proyek
investasi untuk menutup investasi mula-mula dengan penerimaan kas yang dihasilkan oleh
investasi tersebut. Metode periode kembalian investasi memusatkan perhatiannya pada
rentang waktu tersebut. Anggapan dasar metode ini adalah semakin cepat waktu yang
diperlukan oleh sebuah proyek investasi untuk menutup investasi awal, semakin baik proyek
investasi tersebut. Untuk menghitung periode kembalian investasi dapat menggunakan rumus
berikut:
Periode Kembalian = Investasi Awal/Arus Kas Masuk Bersih Tahunan
Kelebihan metode periode kembalian investasi:
 Membantu manajer mengidentifikasi manakah diantara proposal yang “akan
dipertimbangkan” untuk dievaluasi lebih lanjut dengan menggunakan metode-metode
yang lebih akurat.
 Bermanfaat bagi perusahaan yang baru yang kondisinya kekurangan kas.
 Bermanfaat bagi industri yang produknya cepat usang.
2. Metode Tingkat Kembalian Sederhana (Simple Rate Of Return Method)
Metode ini merupakan metode yang tidak melibatkan pendiskontoan arus kas masuk,
namun lebih memfokuskan pada laba bersih akuntansi.
Postaudit Terhadap Proyek Investasi Terpilih
Postaudit sebuah proyek investasi yang terpilih merupakan tindak lanjut setelah
sebuah usulan proyek investasi dipilih dan diterapkan. Tujuannya adalah untuk mengetahui
apakah kinerja proyek investasi yang diharapkan benar-benar dapat dicapai, selain itu untuk
menilai apakah data dan informasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan membuat
keputusan mau memilih alternative proyek investasi cukup akurat dan menggambarkan
kondisi sesugguhnya.
Investasi Modal di Lingkungan Industri Maju
Di lingkungan industri maju, investasi jangka panjang umumnya berhubunga dengan
otomasi (komputerisasi) pabrik. Sebelum komitmen terhadap otomasi dilakukan, sebuah
perusahaan seharusnya meningkatkan efisiensi penggunaan teknologi yang sekarang dipakai.
Berbagai manfaat dapat diperoleh dari perencanaan rancangan ulang da penyederhanaan
proses manufaktur yang dilakukan sekarang.
Jika manfaat dari perencanaan ulang dan penyederhanaan telah dicapai, barulah dapat
dilihat secara jelas apakah otomasi dapat menghasikan tambahan biaya. Lingkungan
manufaktur baru menghendaki bahwa perhatian sekarang lebih diarahkan pada input yang
digunakan dalam model pendiskontoan arus kas.
Investasi dalam system manufaktur biasanya lebih mudah diidentifikasi, karena
hamper semua investasi digunakan untuk pembelian peralatan produksi. Estimasi arus kas
operasi dari investasi dalam peralatan standar umumnya bersandar pada manfaat wujud yang
dapat diidentifikasikan secara jelas, seperti peghematan biaya tenaga kerja. Di lingkungan
manufaktur baru, manfaat tak berwujud dan manfaat tidak langsung nilainya sangat material
dan penting bagi kelayakan sebuah proyek.

5. Pelaporan Segmen, Evaluasi Pusat Investasi, Penetapan Harga Transfer

Desentralisasi (decentralization) adalah pratek pendelegasian wewenang pengambilan


keputusan kepada jenjang yang lebih rendah. Pengambilan keputusan terdesentralisasi
(decentralized decision making) memperkenankan manajer pada jenjang yang lebih rendah
untuk membuat dan mengimplementasikan keputusan-keputusan penting yang berkaitan
dengan wilayah pertanggungjawaban mereka.

Alasan melakukan desentralisasi adalah:

1. Mengumpulkan dan Menggunakan Informasi Local. Dalam menjalankan usaha


mungkin saja manajen pusat tidak mengetahui kondisi local sehingga dibutuhkan
informasi local dalam mengendalikan usaha. Kadangkala informasi yang diteima
sangat berlebihan sehingga dibutuhkan orang yang ahli dalam bidangnya untuk
mengendalikan.
2. Fokus Manajemen Pusat. Dengan mendesentralisasi keputusan-keputusan operasional,
manajemen pusat bebas untuk menangani perumusan perencanaan dan pengambilan
keputusan strategis.
3. Melatih dan Memotivasi Para Manajer. Organisasi selalu membutuhakn manajer yang
terlatih untuk menggantikan posisi manajer jenjang lebih tinggi yang keluar.
Kesempatan seperti itu juga memungkinkan manajer puncak mengevaluasi kapabilitas
para manajer lokalnya. Manajer yang menghasilkan keputusan terbaik adalah manajer
yang boleh dipromosikan.
4. Meningkatkan Daya Saing. Perusahaan-perusahaan besar sekarang menemukan
bahwa mereka tidak mampu mempertahankan suatu divisi yang tidak berdaya saing.
Salah satu cara terbaik untuk lebih meningkatkan kinerja sebuah divisi atau pabrik
adalah dengan memperkenalkan lebih jauh kepada kekuatan-kekuatan pasar.

Desentralisasi biasanya diwujudkan melalui pembentukan unit-unit atau divisi.


Pengorganisasian divisi-divisi sebagai pusat pertanggungjawaban menciptakan kesempatan
pengendalian divisi melalui penggunaan akuntansi pertanggungjawaban.

Cara pembagian unit-unit atau divisi tersebut adalah :


a. Pembagian berdasarkan barang dan jasa yang diproduksi. Contoh, divisi Pepsi, Coke
dan lain-lain.
b. Pembagian menurut garis geografis. Misalnya, UAL, Inc. (induk perusahaan United
Airline) memiliki sejumlah divisi regional Asia/Pasifik, Eropa, Amerika Latin,
Amerika Utara, dan Karibia.
c. Pembagian berdasarkan jenis pertanggungjawaban yang diberikan kepada manajer
divisi. Pusat pertanggungjawaban terdiri dari pusat investasi, pusat laba, pusat
pendapatan dan pusat biaya.

Ukuran kinerja yang paling lazim digunakan bagi suatu pusat investasi adalah pengembalian
investasi (return on investasi-ROI) dengan menggunakan rumus:

ROI = Laba operasi / Aktiva operasi rata-rata

ATAU

ROI = Margin x perputaran = (Laba operasi/Penjualan) x (Penjualan /Aktiva operasi rata-


rata).

Keterangan :

- Laba Operasi ( operating income ) adalah laba yang dihasilkan sebelum bunga dan pajak

- Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan untuk menghasilkan
laba operasi.

- Margin adalah rasio dari operasi terhadap penjualan.

- Perputaran (turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi pendapatan
penjualan dengan aktiva operasi rata-rata.

Laba residu (economic value added-EVA) adalah laba operasional setelah pajak dikurangi
dengan total biaya modal tahunan. Jika EVA positif berarti perusahaan manambah kekayaan,
jika negative berarti perusahaan menyia-nyiakan modal. EVA juga menghasilkan tingkat
pengembalian seperti ROI karena menghubungkan penghasilan bersih (pengembalian)
dengan modal yang dipakai. Intinya EVA penekanannya pada pendapatan bersih operasi
dengan biaya actual dari modal.

EVA = Laba operasional setelah pajak – (Biaya tertimbang rata-rata atas modal x Total modal
terpakai)
EVA digunakan untuk menganalisa apakah suatu proyek individual itu diterima atau ditolak.
Selain itu sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu mendorong jenis
perilaku yang benar dari berbagai divisi dengan menunjukan bahwa penekanan semata-mata
pada pendapatan operasional tidaklah mencukupi. Alasan yang menggarisbawahi adalah EVA
mengandalkan biaya modal yang sebenarnya.

Yang dimaksudkan dengan harga transfer (transfer price) adalah nilai atau harga internal antar
divisi dalam suatu perusahaan. Divisi yang menerima dianggap sebagai pembeli dan divisi
yang mengirim dianggap sebagai penjual. Dampak dari harga transfer terhadap divisi antara
lain :

1. Dampak Terhadap Ukuran Kinerja Divisi.

Harga yang dikenakan untuk barang yang ditransfer mempengaruhi biaya divisi pembeli dan
pendapatan divisi penjual. Artinya, laba kedua divisi tersebut sebagaiman juga evaluasi dan
kompensasi para manajer mereka, dipengaruhi oleh harga transfer.

2. Dampak terhadap Keuntungan Perusahaan.

Meskipun harga transfer actual tidak mempengaruhi perusahaan sebagai kesatuan, penetapan
harga transfer ternyata mampu mempengaruhi tingkat laba yang dihasilkan oleh perusahaan
dengan dua cara yaitu jika ia mempengaruhi perilaku divisi dan ia mempengaruhi pajak
pengahsilan. Divisi-divisi, yang bertindak secara independent, mungkin menetapkan harga
transfer yang memaksimalkan laba devisi tetapi menimbulkan pengaruh sebaliknya bagi laba
perusahaan secara keseluruhan.

3. Dampak terhadap Otonomi.

Karena keputusan penetapan harga transfer dapat mempenearuhi profitabilitas perusahaan


secara keseluruhan, manajemen puncak sering tergoda untuk mencapuri dan mendikte harga
transfer yang mereka inginkan.

Sistem penetapan harga transfer harus mampu memenuhi tiga unsur : (1) evaluasi kinerja
yang akurat yaitu berati bahwa tidak satupun manajer divisi akan memperoleh manfaat atas
beban manajer divisi lain. (2) Kesesuaian tujuan berarti bahwa manajer divisi memilih
tindakan-tindakan yang memaksimalkan keuntungan perusahaan secara keseluruhan. (3)
Otonomi divisi berarti bahwa manajemen pusat tidak boleh mencapuri kemandirian manajer
divisi dalam membuat keputusan. Masalah penetapan harga transfer adalah berkaitan dengan
upaya menciptakan system yang secara simultan memenuhi ketiga sasaran di atas. Pedoman
penetapan harga transfer:

1. Pendekatan Biaya Kesempatan.

Pendekatan ini dengan cara mengidentifikasikan harga terendah yang mau diterima oleh
penjual dan harga tertinggi yang mau dibayar oleh pembeli. Harga tersebut ditetapkan bagi
masing-masing divisi sebagai berikut:

- Harga transfer minimum (minimum tfransfer price) adalah harga transfer yang akan
membuat keadaan divisi penjual tidak lebih buruk apabila barang dijual kepada divisi internal
daripada dijual kepada pihak luar. Hal ini disebut batas bawah (floor) dari jangkauan
penawaran

- Harga transfer maksimum (maximum transfer price) adalah harga transfer yang akan
membuat keadaan divisi pembeli tidak lebih buruk apabila input dibeli dari divisi internal
daripada dibeli dari pihak luar. Hal ini disebut batas atas (ceiling) dari jangkauan penawaran

2. Pendekatan Harga Pasar.

Apabila terdapat pasar luar dengan persaingan sempurna untuk produk yang ditransfer, maka
harga transfer yang sesuai adalah harga pasar.

3. Pendekatan Harga Transfer yang Dinegosiasikan.

Kelemahan harga transfer yang dinegosiasikan : (1) Manajer divisi yang menguasai informasi
khusus mungkin mengambil keuntungan dari manajer dicisi lainnya. (2) Ukuran-ukuran
kinerja mungkin terganggu oleh ketrampilan negosiasi dari para manajer. (3) Negosiasi dapat
menghabiskan waktu dan sumber daya yang besar. Keunggulan harga transfer yang
dinegosiasikan adalah harga transfer yang dinegosiasikan menawarkan harapan untuk
melengkapi ketiga criteria kesesuaian tujuan, otonomi dan akurasi evaluasi kinerja.

4. Pendekatan Harga Transfer berdasarkan Biaya.

Tiga bentuk penetapan harga berdasarkan biaya :


(1) Biaya penuh; biaya penuh meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan
biaya overhead variable dan sebagai biaya overhead tetap.

(2) Biaya penuh ditambah mark-up.

(3) Biaya variable ditambah biaya tetap.

6. Pengukuran, Pelaporan, dan Pengendalian Biaya Kualitas

Tujuan Dan Manfaat Pengukuran Produktivitas

Suatu organisasi perusahaan perlu mengetahui pada tingkat produktivitas mana perusahaan itu
beroperasi, yang bertujuan agar perusahaan itu dapat meningkatkan daya saing dari produk yang
dihasilkannya di pasar global yang amat kompetitif.

Menurut Vincent yang diterjemahkan oleh Sukoco (2000:24-25) dalam bukunya Manajemen
Produktivitas Total terdapat beberapa manfaat pengukuran produktivitas dalam suatu organisasi
perusahaan, antara lain:

1. Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya, agar dapat meningkatkan
produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumber-sumber daya itu.

2. Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien melalui
pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan kembali
dengan cara memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari sudut produktivitas.

4. Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat dimodifikasi kembali


berdasarkan informasi pengukuran tingkat produktivitas sekarang.

5. Pengukuran produktivitas perusahaan akan menjadi informasi yang bermanfaat dalam


membandingkan tingkat produktivitas di antara organisasi perusahaan dalam industri sejenis serta
bermanfaat pula untuk informasi produktivitas industri pada skala nasional maupun global.

6. Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat menjadi informasi
yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan dari perusahaan itu.
7. Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif berupa upaya-
upaya peningkatan produktivitas terus menerus (continuous productivity improvement).

8. Pengukuran produktivitas terus menerus akan memberikan informasi yang bermanfaat


untuk menentukan dan mengevaluasi kecenderungan perkembangan produktivitas perusahaan
dari waktu ke waktu.

9. Pengukuran produktivitas akan memberikan informasi yang bermanfaat dalam


mengevaluasi perkembangan dan efektifitas dari perbaikan terus menerus yang dilakukan dalam
perusahaan itu.

10. Aktivitas perundingan bisnis (kegiatan tawar menawar) secara kolektif dapat diselesaikan
secara rasional, apabila telah tersedia ukuran-ukuran produktivitas.

Dengan adanya pengukuran peroduktivitas di perusahaan dapat memberi manfaat bagi


perusahaan yaitu dapat membandingkannya dengan produktivitas standar yang telah ditetapkan
manajemen, mengukur tingkat perbaikan produktivitas dari waktu ke waktu, dan membandingkan
dengan produktivitas industri sejenis yang menghasilkan produk serupa.

PENGUKURAN PRODUKTIVITAS PARSIAL

Pengukuran produktivitas (productivity measurement) adalah penilaian kuantitatif atas perubahan


produktivitas.Tujuan pengukuran ini adalah menilai apakah efisiensi produktif telah meningkat
atau menurun. Pengukuran produktifitas actual memungkinkan manajer untuk menilai,
memantau, dan mengendalikan perubahan.Pengukuran prospektif melihat ke masa depan, dan
berguna sebagai input bagi pengambilan keputusan strategis.Secara khusus, pengukuran
prospektif memungkinkan para manajer untuk membandingkan manfaat relative dari berbagai
kombinasi input, pemilihan input, dan bauran input yang memberikan manfaat
terbesar.Pengukuran produktivitas dapat dikembangkan untuk setiap input secara terpisah atau
seluruh input secara bersama-sama.Pengukuran produktivitas untuk satu input pada suatu waktu
disebut pengukuran produktivitas parsial (partial productivity measurement).

DEFINISI PENGUKURAN PRODUKTIVITAS PARSIAL

Produktivitas dari satu input tunggal biasanya diukur dengan menghitung rasio output terhadap
input.

RASIO PRODUKTIVITAS = Output/input


Karena hanya produktivitas dari satu input yang sedang diukur, Ukuran itu disebut pengukuran
produktivitas parsial.Jika output dan input diukur dalam kuantitas fisik, maka kita memperoleh
ukuran produktivitas operasional (Operational productivity measure).Jika output dinyatakan
dalam dolar, Maka kita memperoleh ukuran produktivitas keuangan (financial productivity
measure).

Sebagai contoh, Pada tahun 2007 , Pabrik Ladd Lighting memproduksi 120.000 lampu hias dan
menggunakan 40.000 jam tenaga kerja.Rasio produktivitas tenaga kerja adalah tiga lampu hias
per jam (120.000/40.000). Hal tersebut adalah ukuran operasional karena unit-unit dinyatakan
dalam bentuk fisik.Jika harga jual untuk setiap lampu hias adalah $50 dan biaya tenaga kerja
adalah $12 per jam , maka output dan input dapat dinyatakan dalam dolar.Rasio produktivitas
tenaga kerja yang dinyatakan dalam bentuk keuangan adalah $12,50 dari pendapatan perdolar
biaya tenaga kerja ($6.000.000/$480.000)

UKURAN-UKURAN PARSIAL DAN PENGUKURAN PERUBAHAN EFISIENSI


PRODUKTIF

Rasio produktivitas tenaga kerja sebesar tiga mesin perjam adalah ukuran produktivitas Ladd
Lighting pada tahun 2007. Rasio tersebut menunjukkan sedikit informasi mengenai efisiensi
produktif atau apakah produktivitas perusahaan telah meningkat atau menurun. Namun, laporan
mengenai peningkatan atau penurunan efisiensi produktivitas juga dapat dibuat melalui
pengukuran perubahan dalam produktivitas.

Untuk mengukur perubahan dalam produktivitas,ukuran produktivitas yang actual berjalan


dibandingkan dengan ukuran produktivitas periode sebelumnya.Periode sebelumnya ini disebut
periode dasar (base period) dan menjadi acuan atau standar bagi pengukuran perubahan efisiensi
produktif. Periode sebelumnya dapat ditentukan secara bebas.Misalnya , tahun
sebelumnya,minggu sebelumnya,bahkan periode dimana batch produk terakhir diproduksi.Untuk
evaluasi strategis,periode dasar yang biasanya dipilih adalah tahun sebelumnya.Untuk
pengendalian operasional, periode dasar cenderung mendekati periode berjalan seperti batch
produk terakhir atau minggu sebelumnya.

Sebagai ilustrasi ,anggaplah tahun 2007 adalah periode dasar dan standar produktivitas tenaga
kerja adalah tiga mesin per jam. Selanjutnya, anggaplah pada akhir tahun 2007,Ladd Lighting
memutuskan untuk mencoba prosedur baru untuk memproduksi dan merakit mesin dengan
harapan prosedur baru itu akan menggunakan tenaga kerja lebih sedikit.Pada tahun 2008, terdapat
150.000 mesin yang diproduksi dengan menggunakan 37.500 jam tenaga kerja.Rasio
produktivitas tenaga kerja untuk tahun 2008 adalah empt mesin per jam
(150.000/37.500).Perubahan dalam produktivitas adalah kenaikan satu unit per jam (dari tiga unit
pada tahun 2007 menjadi empat unit pada tahun 2008).Perubahan yang terjadi merupakan
penngkatan yang signifikan dalam produktivitas tenaga kerja dan menjadi bukti keefektifan
prosedur baru tersebut.

 Keunggulan Produktivitas Parsial

Ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memfokuskan perhatiannya pada penggunaan input
tertentu.Penggunaan ukuran parsial memiliki keunggulan, yaitu mudah diinterpretasikan oleh
semua pihak di dalam perusahaan sehingga ukuran tersebut mudah digunakan untuk menilai
kinerja produktivitas dari karyawan operasional.

Tenaga kerja misalnya, dapat dihubungkan dengan unit yang diproduksi per jam atau unit yang
diproduksi per pon (0,5 kilogram) bahan.Jadi , ukuran operasional parsial menyediakan umpan
balik yang dapat berhubungan dengan dan dipahami oleh karyawan operasional.

 Kelemahan Ukuran Parsial

Ukuran Parsial yang digunakan secara terpisah dapat menyesatkan . Penurunan Produktivitas
suatu input mungkin diperlukan untuk meningkatkan produktivitas yang lainnya . Trade-off
seperti itu diperlukan jika biaya secara keseluruhannya turun , tetapi pengaruh tersebut akan
hilang jika digunakan ukuran parsial masing –masing . Misalnya , Mengubah proses agar tenaga
kerja langsung menggunakan lebih sedikit waktu untuk merakit sebuah prooduk mungkin akan
meningkatkan sisa bahan baku dan limbah produksi , sementara output totalnya tidak berubah.
Dalam hal ini , produktivitas tenaga kerja meningkat, tetapi produktivitas pengguna bahan baku
menurun. Jika kenaikan biaya sisa bahan baku dan limbah produksi melebihi penghematan dari
pengurangan tenaga kerja, maka produktivitas secara keseluruhan menurun .

Dua Kesimpulan pemting dapat ditarik dari contoh tersebut , Pertama, Kemungkinan Terjadi
trade-off menyebabkan perlu adanya ukuran produktivitas total untuk menilai kelebihan berbagai
keputusan produktivitas dari seluruh input-lah, manajer mampu membuat kesimpulan secara
akurat mengenai kinerja produktivitas secara keseluruhan. Kedua , karena ada kemungkinan
terjadi trade-off , ukuran produktivitas total harus mempertimbangkan konsekuensi keuangan
agregat sehingga haruslah dalam bentuk sebuah ukuran keuangan .
Pengukuran Produktivitas Total

Pengkuran Produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total (total
productivity measurement). Dalam praktiknya, mengukur pengaruh dari seluruh input mungkin
tidak diperlukan . Perusahaan hanya mengukur produktivitas dari faktor-faktor yang dianggap
indikator relevan bagi keberhasilan dan kinerja perusahaan. Jadi , dalam istilah praktis ,
pengukuran produktivitas total dapat didefinisikan sebagai pemfokusan perhatian pada beberapa
input yang menunjukkan keberhasilan perusahaan secara total. Pendekatan multifaktor yang
umum disarankan dalam literatur produktivitas (tetapi jarang ditemukan di dalam praktis ) adalah
menggunakan indeksi produktivitas agregat . Indeksi agregat bersifat komplek, sulit
diinterprestasikan , dan belum diterima secara umum . Dua pendekatan yang telah memperoleh
beberapa pengakuan adalah pengukuran profil (profile measurement) dan pengukuran
produktivitas yang berkaitan dengan laba (profit-linked productivity measurement).

Tujuan Dan Manfaat Pengukuran Produktivitas

Suatu organisasi perusahaan perlu mengetahui pada tingkat produktivitas mana perusahaan itu
beroperasi, yang bertujuan agar perusahaan itu dapat meningkatkan daya saing dari produk yang
dihasilkannya di pasar global yang amat kompetitif.

Menurut Vincent yang diterjemahkan oleh Sukoco (2000:24-25) dalam bukunya Manajemen
Produktivitas Total terdapat beberapa manfaat pengukuran produktivitas dalam suatu organisasi
perusahaan, antara lain:

 Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya, agar dapat meningkatkan
produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumber-sumber daya itu.

 Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien melalui
pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.

 Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan kembali
dengan cara memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari sudut produktivitas.

 Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat dimodifikasi kembali


berdasarkan informasi pengukuran tingkat produktivitas sekarang.
 Pengukuran produktivitas perusahaan akan menjadi informasi yang bermanfaat dalam
membandingkan tingkat produktivitas di antara organisasi perusahaan dalam industri sejenis serta
bermanfaat pula untuk informasi produktivitas industri pada skala nasional maupun global.

 Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat menjadi informasi
yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan dari perusahaan itu.

 Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif berupa upaya-


upaya peningkatan produktivitas terus menerus (continuous productivity improvement).

 Pengukuran produktivitas terus menerus akan memberikan informasi yang bermanfaat


untuk menentukan dan mengevaluasi kecenderungan perkembangan produktivitas perusahaan
dari waktu ke waktu.

 Pengukuran produktivitas akan memberikan informasi yang bermanfaat dalam


mengevaluasi perkembangan dan efektifitas dari perbaikan terus menerus yang dilakukan dalam
perusahaan itu.

 Aktivitas perundingan bisnis (kegiatan tawar menawar) secara kolektif dapat diselesaikan
secara rasional, apabila telah tersedia ukuran-ukuran produktivitas.

Dengan adanya pengukuran peroduktivitas di perusahaan dapat memberi manfaat bagi


perusahaan yaitu dapat membandingkannya dengan produktivitas standar yang telah ditetapkan
manajemen, mengukur tingkat perbaikan produktivitas dari waktu ke waktu, dan membandingkan
dengan produktivitas industri sejenis yang menghasilkan produk serupa.

Pengukuran Profil Produktivitas

Pembuatan sebuah produk melibatkan beberapa input utama, seperti tenaga kerja, bahan, modal
dan energi. Pengukuran profil menyediakan serangkaian atau sebuah vektor ukuran operasional
parsial yang berbeda dan terpisah. Profil dapat dibandimgkan dari waktu ke waktu untuk
memberikan infromasi mengenai perubahan produktivitas . Untuk mengilustrasikan pendekatan
ini, kita hanya akan menggunakan dua input : tenaga kerja dan bahan . Sebagai ilustrasi, bisa
dilihat kembali contoh ladd Lighting. Seperti sebelumnya, Ladd menerpakan proses produksi dan
perakitan baru pada tahun 2008.
Berikut data untuk tahun 2007 dan 2008 .

2007 2008

Jumlah mesin yang diproduksi 120.000 150.000

Jam tenaga kerja yang digunakan 40.000 37,500

Bahan yang digunakan (dalam satuan pon) 1.200.000 1.428.571

Profil tahun 2007 adalah (3.0.100), dan profil tahun 2008 adalah (4.0.105). Dengan
membandingkan profil kedua tahun tersebut , dapat dilihat bahwa produktivitas tenaga kerja dan
bahan meningkat (dari 3 menjad 4 untuk tenaga kerja dan dari 0.100 menjadi 0,105 untuk bahan).
Perbandingan profil ini menyediakan cukup infromasi sehingga manajer dapat menyimpulkan
proses perakitan baru secara nyata telas memperbaiki produktivitas secara keseluruhan. Akan
tetapi , nilai peningkatan produktivitas ini tidak diungkapkan oleh rasio- rasio.

Analisis profil dapat menyediakan pengetahuan tentang perubahan produktivitas yang bermanfaat
bagi manajer. Namun, membandingkan berbagai profil produktivitas tidak selalu mengungkapkan
sifat dari keseluruhan perubahan efisensi produktif . Pada beberapa kasus, analisis profil tidak
mampu memberikan indikasi yang jelas mengenai apakah perubahan produktivitas membawa
hasil yang baik atau buruk.

Pengukuran Produktivitas yang Berkaitan dengan Laba

Menilai pengaruh perubahan produktivitas terhadap laba berjalan merupakan salah satu cara
menilai perubahan produktivitas . Laba berubah dari periode dasar ke periode berjalan. Sebagai
perubahan laba tersebut disebabkan oleh perubahan produktivitas. Pengukuran produktivitas yang
berkaitan dengan laba.

Dengan menilai pengaruh perubahan produktivitas terhadap laba periode berjalan, manajer akan
terbantu dalam mengetahui manfaat ekonomis dari perubahan produktivitas . Untuk periode
berjalan, hitunglah biaya input yang seharusnya digunakan dalam keadaan tanpa adanya
perubahan produktivitas dan bandingkan biaya tersebut dengan biaya input aktual yang
digunakan .
Untuk mengaplikasikan aturan ini , input yang seharusnya digunakan selama periode berjalan
dalam keadaan tanpa perubahan produktivitas harus dihitung terlebih dahulu .Misalkan,PQ
Adalah jumlah input tanpa perubahan produktivitas. Untuk Mengetahui PQ pada suatu input
tertentu,bagilah ouput periode berjalan dengan rasio produktivitas input periode dasar.

PQ = Output periode berjalan/Rasio produktivitas periode dasar

Untuk mengilustrasikan aplikasi aturan keterikatan dengan laba (profit linked rule), contoh Ladd
Lighting dengan trade-off input kembali digunakan. Untuk data tersebut,diperlukan tambahan
infromasi biaya.

Berikut data Ladd Lighting yang telah dikembangkan.

Rasio Produktivitas Parsial

Profil 2007 Profil 2008

Rasio Produktivitas Tenga Kerja 3,000 4,000

Rasio Produktivitas Bahan Baku 0,100 0.088

Tenaga kerja : 120.000/40.00 : bahan baku : 120.000/1.200.000

Tenaga Kerja : 150.000/37.500 : bahan baku : 150.000/1.700.000

Akhirnya, pengaruh produktivitas terhadap laba dihitung dengan mengurangkan total biaya
berjalan dari total biaya PQ.

Pengaruh terkait dengan laba = Total biaya PQ – Total biaya periode berjalan

= $5.100.000 – $5.550.000

= $450.0000 penurunan laba

Perhitungan pengaruh terkait dengan laba diiktisarkan pada Tampilan 15-13. Ringkasan pada
tampilan 15-13 mengungkapkan pengaruh bersih perubahan proses tidak menguntungkan. Laba
turun sebesar $450.000 karena perubahan produktivitas. Perhatikan juga bahwa pengaruh
produktivitas yang terkait dengan laba dapat dihitung untuk satu jenis input. Peningkatan
produktivitas tenaga kerja menghasilkan kenaikan laba sebesar $150.000 namun, penurunan
produktivitas bahan mengakibatkan penurunan laba sebesar $600.000. Sebagian besar penurunan
laba ini disebabkan oleh meningkatknya pemakaian bahan-ternyata limbah,sisa bahan baku, dan
unit cacat jauh lebih banyak pada proses yang baru. Jadi, ukuran terkait dengan laba
memperlihatkan pengaruh pengukuran parsial maupun pengaruh pengukuran total. Ukuran
produktivitas total terkait dengan laba merupakan penjumlahan dari setiap ukuran parsial. Sifat
ini membuat ukuran terkait dengan laba ideal untuk menilai tarde-off. Gambaran yang jauh lebih
jelas mengenai pengaruh perubahan produktivitas dapat terlihat. Jika limbah dan sisa bahan baku
tidak dapat dikendalikan dengan lebih baik, maka perusahaan seharusnya kembalike proses
perakitan yang lama.

Tentu saja, ada kemungkinan bahwa pengaruh pembelajaran dari proses baru tersebut belum
dilakukan secara menyeluruh dan perbaikan lebih lanjut pada produktivitas tenaga kerja dapat
terjadi. Jika tenaga kerja semakin efisien dalam proses baru,maka penggunaan bahan mungkin
juga menurun.

(1) (2) (3) (4) (2)

Input PQ PQ x P AQ AQ x P (PQ

Tenaga kerja 50.000 $ 600.000 37.500 $ 450.000 $1

Bahan baku 1.500.000 4.500.000 1.700.000 5.100.000 (60

Total $5.100.000

Tenaga kerja 150.000/3 bahan baku 150.000/0,10

Komponen Pemulihan Harga

Ukuran terkait dengan laba menghitung jumlah perubahan laba dari periode dasar ke periode
berjalan sebagai akibat perubahan produktivitas. Jumlah tersebut umumnya tidak akan sama
dengan total perubahan laba antara dua periode. Selisih antara perubahan laba total dan
perubahan produktivitas terkait dengan laba disebut komponen pemulihan harga (price-revocery
component). Komponen ini adalah perubahan pendapatan dikurangi perubahan biayainput dengan
asumsi tidak ada perubahan produktivitas. Oleh karena itu, komponen pemulihan harga mengukur
kemampuan perubahan pendapatan untuk menutupi perubahan biaya input dengan asumsi tidak
ada perubahan produktivitas.

Untuk menghitung komponen pemulihan harga,pertama,kita perlu menghitung perubahan laba


setiap periode.

2008 2007 Selisih


Pendapatana $7.200.000 $6.000.000 $1.200.000

Biaya inputb 5.550.000 2.840.000 2.710.000

Laba $1.650.000 $3.160.000 $(1.510.000)

a $48 x 150.000; $50 x 120.000

b($12 x 37.500) + ($3 x 1.700.000); ($11x 40.000) + ($2 x1.200.000)

Pemulihan harga = Perubahan laba – Perubahan produktivitas terkait dengan laba

= ( $1.510.000 ) – ( $450.000 )

= ( $1.060.000 )

Kenaikan pendapatan tidak akan cukup untuk menutupi kenaikan biaya input. Penurunan
produktivitas hanya akan memperburuk masalah pemulihan harga. Meskipun demikian,
perhatikan bahwa kenaikan produktivitas dapat digunakan untuk mengimbangi kerugian
pemulihan harga.

Kualitas dan Produktivitas

Peningkatan kualitas dapat meningkatkan produktivitas dan juga sebaliknya. Sebagai contoh, jika
pengerjaan ulang berkurang karena menurunnya unit produk cacat, maka lebih sedikit tenaga
kerja dan bahan yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama. Penurunan jumlah unit
cacat memperbaiki kualitas, sedangkan pengurangan jumlah input yang digunakan meningkatkan
produktivitas.

Karena sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan
untuk memproduksi dan menjual output perusahaan, peningkatan kualitas akan meningkatkan
produktivitas. Jadi, peningkatan kualitas secara umum akan tercermin pada ukuran-ukuran
produktivitas. Namun, ada juga cara-cara lain untuk meningkatkan produktivitas. Sebuah
perusahaan mungkin saja memproduksi barang dengan sedikit atau tanpa cacat, tetapi masih
menjalankan proses yang tidak efisien.

Sebagai contoh, ada barang yanbg melewati dua proses yang masing-masing membutuhkan
waktu lima menit (anggaplah barang tersebut diproduksitanpa cacat) Jadi, untuk memproduksi
satu unit dibutuhkan waktu 10 menit untuk melalui kedua proses tersebut. Saat ini, jumlah yang
diproduksi dalam tiap batch produksi adalah 1.200 unit. Proses 1 memproduksi 1.200 unit.
Selanjutnya, batch produksi tersebut dipindahkan waktu 6.000 menit atau 100 jam.Total waktu
yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 1.200 unit adalah 200 jam (100 jam untuk setiap proses)
ditambah waktu pengiriman dari proses 1 ke proses 2, anggaplah 15 menit.

Dengan mendesain ulang proses manufaktur,efisiensi dapat diperbaiki. Misalkan,lokasi proses 2


berada cukup dekat dengan lokasi proses 1 sehingga segera setelah satu unit diselesaikan pada
proses 1,unit tersebut langsung dimasukkan ke proses 2. Dengan cara ini, proses 1 atau 2 dapat
berjalan secara bersamaan. Proses 2 tidak lagi perlu menunggu sampai selesainya produksi 1.200
unit ditambah dengan waktu pengiriman sebelum ia dapat mulai beroperasi. Sekarang,total waktu
untuk memproduksi 1.200 unit menjadi 6.000 menit ditambah waktu menunggu pengiriman unit
pertama ( 5 menit ). Jadi,waktu produksi 1.200 unit telah berkurang dari 200 jam 15 menit
menjadi 100 jam 5 menit. Hasilnya adalah lebih banyak output yang dapat diproduksi dengan
lebih sedikit input (dalam hal ini,waktu).

Insentif Pembagian Keuntungan

Insentif Pembagian Keuntungan ( gainsharing ) adalah pemberian insentif uang tunai bagi
seluruh tenaga kerja perusahaan yang menjadi kunci pencapaian kualitas dan produktivitas.
Sebagai contoh, suatu perusahaan memiliki target untuk mengurangi jumlah unit cacat hingga 10
persen selama kuartal berikutnya pada pabrik tertentu. Jika tujuan tersebut tercapai, perusahaan
memperkirakan akan terjadi penghematan sebesar $1.000.000 ( dengan menghindari hal-hal
seperti pengerjaan ulang dan perbaikan di masa garansi). Pembagian keuntungan memberikan
insentif dengan menawarkan bonus kepada pegawai sesuai dengan persentase penghematan
biaya, misalnya 20 persen.

Yang paling penting, program peningkatan produktivitas yang berhasil itu ditandai dengan adanya
andil yang luas dari keuangan dan tunjangan-tunjangan lain diseluruh organisasi. Setiap
pembayaran kepada perorangan harus ditentukan oleh andilnya bagi produktivitas, sedangkan
kenaikan pembayaran harus dianugerahkan teruatama berdasarkan hasil produktivitas.

Untuk menjadi seorang motivator yang efektif pemberian bonus haruslah dihubungkan secara
langsung dengan tujuan pencapaian malalui cara yang sederhana mungkin, sehingga penerima
segera dapat mengetahui berapa rupiah yag dia peroleh dari upayanya. Bentuk pemberian bonus
yang berorientasi pada penampilan adalah proyek pemberian bonus, dimana hasil kerja yang baik
segera diberi hadiah dengan bonus yang sesuai. Hal tersebut lebih aktif dibandingkan menunggu
berapa bulan tanpa pemberitahuan yang nyata sampai saat pemberian bonus diakhir tahun ketika
suasana “semua menrima” akan membuang semua pengaruh motivasi selama tahun berjalan.

Penghargaan serta penggunaan motivator yang tepat akan menimbulkan suasana kondutif atau
berakibat kepada produktivitas yang lebih tinggi. Semua itu mencakup sistem pemberian insentif
dan usaha-usaha manambah kepuasab kerja melalui sarana yang beraneka macam.

Contohnya, Ford Motor Company telah mengusulkan untuk memeriksa program kompensasinya
untuk 5.000 eksekutif puncak,menerapkan program kompensasi yang baru yang menggantikan
struktur bonus yang digerakkan oleh laba dengan ukuran-ukuran berbasis kinerja seperti kualitas
produk keseluruhan. Jumlah bonus dapat bertambah atau berkurang bergantung pada seberapa
baik target produktivitas dan kualitas dapat dipenuhi.Sun Microsystems memberikan contoh
lainnya.14 Bonus terikat pada loyalitas pelanggan dan indeks kualitas pelanggan. Sun
Microsystems telah membuktikan ukuran kualitas seperti keterlambatan pengiriman dan
kerusakan peranti lunak telah menurun secara bertahap,sementara ukuran loyalitas pelanggan
meningkat.Rencana pembayaran per kinerja yang memungkinkan para pegawai untuk berbagai
keuntungan tampaknya menciptakan minta dan komitmen tambahan. Menariknya, rencana
pembagian keuntungan ini sepenuhnya saling melengkapi, bahkan mungkin penting untuk sistem
pengukuran terpadu seperti Balanced Scorecard yang dibahas pada Bab 17.

Keputusan Para Manajer

1. Etika dan Manajemen Biaya Kualitas

Pihak manajemen Medrad Inc.,sebuah produsen perlengkapan medis yang dapat meningkatkan
proses imaging tubuh manusia, telah mengidentifikasi lima sasaran yang menjadi panduan
pengambilan keputusan di semua tingkat. Salah satu dari berbagai sararan ini adalah peningkatan
kualitas dan produktivitas. Dalam sebuah sesi perencanaan strategi, pihak manajemen perusahaan
tersebut menetapkan target satu tahun dan lima tahun untuk tujuan tertentu yang berkaitan dengan
tiap tujuan, termasuk tujuan perbaikan kualitas dan produktivitas. Medrad telah mencapai
berbagai target tersebut secara konsisten. Selain itu, pencapaian berbagai target ini dilakukan
dalam industri yangsangat banyak diatur oleh pemerintah. Kemajuan tersebut dicapai dalam
kerangka kerja hukum dan etika. Medrad telah memiliki sebuah Kode Etik yang menetapkan
berbagai perilaku beretika untuk semua transaksi dan interaksi yang terjadi dalam perusahaan
tersebut. Pelatihan mengenai kode etik tersebut adalah bagian dari orientasi karyawan baru.
Pelatihan ini dilanjutkan dengan Code of Conduct Challenge triwulanan yang dikirim melalui e-
mail kepada semua karyawan.Medrard juga memiliki sebuah hotline etika anonim, sebuah komite
etika bisnis,dan sebuah dewan penasihat hukum.

2. Ringkasan Tujuan Belajar

1. Mengidentifikasi dan mendeskripsikan empat jenis biaya kualitas.

Ada dua jenis kualitas, yaitu kualitas desain dan kualitas kesesuaian ( conformance ).

Kualitas desain merujuk pada perbedaan kualitas yang terdapat pada produk dengan fungsi serupa
tetapi berbeda spesifikasi. Kualitas kesesuaian, di lain pihak, merujuk pada kesesuaian spesifikasi
yang disyaratkan oleh produk. Biaya kualitas timbul ketika produk gagal memenuhi spesifikasi
desainnya ( sehingga berkaitan dengan kualitas kesesuaiannya ) Biaya kualitas dibagi menjadi
empat kategori: biaya pencegahan, biaya penilaian,biaya kegagalan internal, dan biaya kegagalan
eksternal. Biaya pencegahan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mencegah dihasilkannya
kualitas yang buruk. Biaya penilaian adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendeteksi
adanya kualitas yang buruk. Biaya kegagalan internal adalah biaya-biaya yang dikeluarkan
karena produk gagal memenuhi persyaratannya dan kegagalan ini diketahui sebelum dilakukan
penjualan kepihak luar. Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi karena produk gagal
memenuhi persyaratannya setelah terjadinya penjualan kepada pihak luar.

a. Menyusun sebuah laporan biaya kualitas dan membedakan antara pandangan konvensional
tentang tingkat kualitas yang dapat diterima dan pandangan yang didasarkan pada pengendalian
kualitas total.

b. Menjelaskan mengapa informasi biaya kualitas dibutuhkan dan menunjukkan bagaimana


informasi tersebut digunakan.

c. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan produktivitas dan menghitung dampak perubahan
produktivitas atau laba.