Anda di halaman 1dari 17

PENELITIAN MADRASAH PADA SETTING SOSIAL KHUSUS

Pengaruh Gerakan Radikalisme Darul Islam-Negara Islam Indonesia (DI-NII) pada


masa dewasa ini di Kabupaten Garut-Jawa Barat

Peneliti : Dr. Khamami Zadda

Penulis : Zulhadi Gojali, S. Pd.

Profesi penulis : Mahasiswa

Email : zulhadigojali@gmail.com

Sumber : Penelitian Madrasah Pada Setting Sosial Khusus, gerakan

Radikalisme

Document type : Artikel

Subjek pembahasan : Radikalisme, madrasah, Darul Islam

Wilayah : Garut, Jawa Barat, Indonesia

ISSN (Paper) : 2224-5766

ISSN (Online) : 2225-0484

Tahun : 2017

ABSTRAK

Setiap Negara pasti mempunyai sejarah kelam tentang penjajah yang berdampak
merugikan dan mengancam keberlangsungan hidup setiap masyarakat yang terjajah
sebelum terjadinya pembebasan dengan kemerdekaan. Dan kemerdekaan bukan berate
menyelesaikan masalah terhadap suatu bangsa tapi menimbulkan berbagai macam
pandangan untuk terbentuknya suatu Negara. Seperti halnya di Indonesia yang telah
terjadi pemberontakan karena perbedaan pandangan politik dalam suatu Negara. Yang
di pelopori oleh SM Kartosoerjo yang ingin menjadikan Negara ini sebagai Darul Islam
(DI) atau Negara Islam Indonesia (NII).

Berkenaan dengan permasalahan diatas. Maka, penelitian ini bertujuan untuk


mengungkap keberlangsungan gerakan radikalisme dalam hal ini gerakan DI untuk
melanjutkan kembali pemberontakan pada masa ini. Dan meninjau sejauh mana peran
Madrasah dalam meredam gerakan yang telah terjadi di daerah yang dulu berbasis DI
atau sebagai keturunan dari DI-NII.

Keyword : DI-NII, Radikalisme, Garut, Madrasah, Ponpes Cipari, Ponpes

Nurul Huda Olan

PENGANTAR

Kalau berbicara sejarah, tentulah Indonesia memiliki beragam sejarah dari jaman pra
kemerdekaan sampai paska kemerdekaan. Setiap proses perubahan ketahap yang lebih
baik selalu diwarnai dengan pertikaian. Bahkan, sampai terjadi pembunuhan secara
masal. Konfik yang timbul merupakan dampak dari subjektifisme kelompok yang
menginginkan kesejahteraan hidup berdasarkan ideology yang diyakininya.

Setelah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno sebagai presiden
dan Moch. Hatta sebagai Wakil Presiden pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan
Pancasila sebagai Ideologi Negara dan demokrasi sebagai hokum Negara. Ternyata, tida
semua bangsa Indonesia bersuka-cita pada saat itu. Tetapi, ada kelompok masyarakat
yang tidak sepaham dengan pembentukan Negara nasional itu.

Berawal dari ketidak sepahaman itu. Maka timbullah kekecewaan yang tidak bisa
dibendung lagi. Maka, pada tahun 1948 lahirlah sebuah gerakan pemberontakan yang di
plopori oleh tokoh nasionalis radikal yang bernama Sekarmadji Maridjan Kartosoeirjo
(1905-1962) yang disebut dengan gerakan pemberontakan Darul Islam (DI) yang ingin
menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam Indonesia (NII).

S. M. Kartosoewirjo juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar Asia.
Ia membuat tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa
(termasuk Sultan Solo) yang bekerja sama dengan Belanda. Dalam artikelnya nampak
pandangan politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan agar kaum buruh bangkit untuk
memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa memelas. Ia juga sering mengkritik
pihak nasionalis lewat artikelnya1.

Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam
Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo
kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Di PSII ia
menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum, anak seorang tokoh PSII di
Malangbong. Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran
Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII).

Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan
oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak
mengenal kompromi. Menurutnya, PSII harus menolak segala bentuk kerja sama
dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala
tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap
Al-Qur’an. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun berbagai rintangan
menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari tokoh
nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial2.

Mohamad Iskandar menulis, Kartosoewirjo mengajukan grasi kepada Presiden


Soekarno. Namun permohonan itu ditolak oleh presiden, sehingga putusan itu pun
ditetapkan untuk dilaksanakan.3 Sarjono putra kandung Kartosoewirjo membantah dan
menyatakan bahwa bapak tidak pernah mengajukan grasi. Soekarno mengungkapkan,
menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah satu pekerjaan yang memberi

1 Chaidar, Al. 1999. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S. M.


Kartosoewirjo. Jakarta. Darul Falah

2 Dengel, Holk H., 1995. Darul Islam dan S. M. Kartosoewirjo. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.

3 Mohammad Iskandar, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Penghujung Perjalanan,


pengantar dalam Fadli Zon, h. 24.
kesenangan kepadaku. Sungguhpun demikian, seorang pemimpin harus bertindak tanpa
memikirkan betapapun pahit kenyataan yang dihadapi.4

Kemudian pada tahun 1948 terjadi perjanjian Renvile dimana kekuasaan RI lebih
dipersempit lagi hanya Yogyakarta. Akhirnya, semua pasukan TNI dan keluarganya
hijrah ke Jawa Tengah. Tetapi kemudian Belanda pun menguasai Yogyakarta dan
Soekarno-Hatta ditangkap tanggal 19 Desember 1948. Kartosoewirjo langsung
mengumumkan “Jihad Fisabilillah”, dan menyatakan bahwa NII diumumkan dalam
kondisi darurat perang pada tanggal 21 Desember 1948.5

Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa


Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan, Aceh
dan Kalimantan6.Untuk melindungi kereta api, Kavaleri Kodam VI Siliwangi (sekarang
Kodam III) mengawal kereta api dengan panzer tak bermesin yang didorong oleh
lokomotif uap D-52 buatan Krupp Jerman Barat. Panzer tersebut berisi anggota TNI
yang siap dengan senjata mereka. Bila ada pertempuran antara TNI dan DI/TII di depan,
maka kereta api harus berhenti di halte terdekat. Pemberontakan bersenjata yang selama
13 tahun itu telah menghalangi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ribuan ibu-ibu
menjadi janda dan ribuan anak-anak menjadi yatim-piatu. Diperkirakan 13.000 rakyat
Sunda, anggota organisasi keamanan desa (OKD) serta tentara gugur. Anggota DI/TII
yang tewas tak diketahui dengan tepat7.

4 Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, edisi revisi (Jakarta: Media
Presindo, 2012), h. 328.

5 Lihat Penumpasan Pemberontakan DI/TII S.M. Kartosoewirjo Di Jawa Barat (Bandung:


Dinas Sejarah, TNI AD, 1982), h. 66. Lihat juga Fadli Zon, Op. Cit., h. 12.

6 Robert Cribb. 2000. Historical Atlas of Indonesia. Halaman 162

7 "History of Railways in Indonesia". keretapi.tripod.com. Diakses tanggal 28 November 2017.


Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi
terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dinyatakan sebagai organisasi
ilegal oleh pemerintah Indonesia8.

Ada juga pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh
bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" di bawah pimpinan Imam
Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953.

Daud Beureuh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa
Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai
Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai
seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama
dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh bisa memperoleh pengikut. Daud Beureuh
juga berhasil mempengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah
Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan anak-buahnya dapat
mengusai sebagian daerah Aceh.

Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan
keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar,
Daud Beureuh meneruskan pemberontakannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir
Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan
Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar
Muda, Kolonel Jendral Makarawong.9

Ideology tentang pemberontakan DI sudah barang tentu tidak akan mati bersama tokoh
pelopor pemberontakan. Tentulah dengan kurun waktu sekitar dua sampai tiga

8 "Q&A: Indonesia’s Terrorism Expert on the Country’s Homegrown Jihadis". world.time.com.


26 Agustus 2013. Diakses tanggal 28 November 2017.

9 "Keterangan Pemerintah tentang peristiwa Daud Beureuh : [diutjapkan dalam rapat pleno
terbuka Dewan Perwakilan Rakjat Republik Indonesia tanggal 28 Oktober 1953] ; Djawaban
Pemerintah [atas pemandangan umum Dewan Perwakilan Rakjat mengenai keterangan
Pemerintah] tentang peristiwa Daud Beureuh : [diutjapkan oleh Perdana Menteri dalam rapat
pleno terbuka Dewan Perwakilan Rakjat tanggal 2 Nopember 1953] / [Ali Sastroamidjojo]"
(PDF). 1953
desawarsa sudah melekat pada pengikut-pengikutnya yang sejatinya adalah orang-orang
yang mewarisi ideology tentang pemberontakan DI.

Dari tahun 1950 sampai tahun 1962 pangkalan-pangkalan terpenting Darul Islam di
keresidenan priangan yang meliputi kabupaten Bandung, Sumedang, Garut,
Tasikmalaya, Ciamis dan ada juga di Bogor perbatasan Indramayu di pesisir pantai
utara10. Merupakan gerakan sosial yang cemerlang karena melibatkan orang-orang dari
berbagai kabupaten di priangan. Dan yang menjadi pusat konflik yaitu di kabupaten
Garut.

Berkanaan dengan peristiwa sejarah diatas. Maka perlu ada penelitian yang khusus
membahas tentang eksistensi penerus atau keturunan dari pengikut DI dalam berbagai
aspek dari kehidupan dalam masyarakat. Baik pendidikan, ekonomi, organisasi
kemasyarakatan, politik dan lain sebagainya. Untuk pertanyaannya adalah apakah
mereka meneruskan paham tentang DI?, apakah mereka bermetamorposis dari DI?,
apakah mereka berevolusi? (tidak meneruskan/berubah jadi nasionalis), ataupun mereka
hanya memandang itu hanyalah sejarah yang hanya bisa dikenang dan tidak untuk
diulang?. Jawaban atas pertanyaan akan dijawab pada pembahasan berikutnya.

PENELITIAN DAN OBSERVASI LAPANGAN

Pada tanggal 21 April 2017 Dr. Khamami Zadda datang dari Jakarta menggunakan
kendaraan bis umum sekitar jam 19.30. Beliau adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta yang di beri tugas oleh KEMENAG untuk meneliti terkait Madrasah yang ada
di Kabupaten Garut.

Setelah beristirahat sejenak, beliau langsung menuturkan maksud kedatangannya ke


Garut secara terperinci yang berkenaan dengan permasalahan yang telah saya
sampaikan dalam pengantar diatas.

Lebih spesifik lagi beliau menuturkan bahwa Kabupaten Garut mempunyai sejarah
yang patut untuk diteliti dimasa sekarang, sebagai penelitian madrasah pada setting
sosial khusus yang dalam hal ini adalah sepak terjang pendidikan formal dalam naungan

10 Jackson D. Karl, Kewibawaan Tradisional, Islam dan pemberontakan, Jakarta 1990, hal. 22
KEMENAG dalam meredam ideology gerakan sosial radikal Darul Islam (DI) yang
pernah memberontak pada Negara Republik Indonesia (1948-1962 M).

Adapun tujuan yang akan di capai oleh beliau diantaranya : 1. Menggali data tententang
latar belakang filisofi kehadiran madrasah dalam, masyarakat khusus, 2. Menggali data
tentang tokoh pendirinya, mulai dari visi dan misi dan misi mendirikan madrasah
hingga kiprahnya dalam kontek agama dan masyarakat (kehidupan sosial), 3. Menggali
data factor-faktor sosiologis apa sehingga madrasah dalam masyarakat khusus ini tetap
eksis dan melayani pendidikan begitu fleksibel, dan 4. Menggali model pembelajaran
dan layanan yang dilakukan oleh madrasah dalam masyarakat khusus sehingga dapat
ditemukan nilai pembedanya dengan madrasah mainstream.

Berkenaan dengan hal diatas, karena beliau tidak begitu tahu letak geografis kabupaten
Garut secara keseluruhan. Maka, saya selaku pribumi ditunjuk untuk mendampingi
beliau untuk menjalankan penelitian tersebut.

Dalam pertemuan perdana itu. Kami menyusun rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan hari esok. Sebelumnya, mendiskusikan madrasah yang teridentifikasi
didirikan oleh salah seorang keturunan DI. Meski, hanya perkiraan karena sangat susah
untuk menelusuri perorangan. Namun, setelah melakukan penelusuran yang cukup
panjang. Akhirnya, kami mendapatkan kabar bahwa ada salah satu pesantren yang
mendirikan madrasah formal dan terindikasi bahwa pendirinya adalah keturunan dari DI
yang sekarang berkedudukan sebagai ketua yayasan didaerahnya. Dan di sepakatilah
untuk mencoba mengunjungi pesantren yang mendirikan madrasah formal tersebut.

Keesokan harinya tanggal 22 April 2017. Kami berangkat menuju tujuan yang telah
disepakati semalam. Yaitu madrasah yang terindikasi didirikan oleh keturunan DI.
Dalam hal ini pesantren yang kami tuju adalah Pesantren Nurul Falah Kampung Olan,
Desa Cigedug, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Yang mendirikan MTs dan MA
Nurul Falah. Warga disana biasa menyebut Pesantren Nurul Falah Olan.

Madrasah yang berada didalam pesantren Nurul Falah ini awal mulanya meyakinkan
kami untuk menjadikanya sebagai objek penelitian yang mengindikasikan bahwa
didirikan oleh keturunan DI. Selain itu, letak geografis yang memperkuat keyakinan
kami yaitu tepat di lereng gunung Cikurai. Karena, para pemberontak DI itu mendirikan
kemah-kemah di Puncak Gunung yang tidak berpenduduk diseluruh daerah priangan 11.
Jadi, tidak menutup kemungkinan di puncak gunung Cikurai itu adalah dulunya tempat
berkemah para pemberontak DI.

Dan dari sumber yang terpercaya bahwa pendiri pesantren adalah keturunan DI yang
tidak lain dan tidak bukan informasi itu didapat dari salahsatu pengurus MUI kabupaten
Garut. Serta dibenarkan oleh pengurus dari organisasi jaringan pesantren di Kabupaten
Garut.

Perjalanan yang memakan waktu 2 jam dari Kec. Garut Kota. Akhirnya sampai juga di
PonPes Nurul Falah Olan. Saat dalam perjalanan yang semakin meyakinkan kita untuk
meneliti adalah letak geografis Kp. Olan yang begitu jauh dari jalan raya, serta
perjalanan yang terus mendaki dan setelah sampai ternyata Kp. Olan adalah kampung
yang terpisah dari kampung-kampung sekitarnya.

Singkat cerita, kami langsung memulai penelitian dengan menggunakan metode


wawancara. Kebetulan pada kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan pesantren, kepala
sekolah MI, dan kepala MTs.

Wawancara pertama adalah mengenai sejarah masyarakat Kp. Olan sebelum mendirikan
Pesantren. Dan yang menuturkan adalah Pimpinan PonPes Nurul Falah. Bahwa,
masyarakat yang ada di Kampung Olan keseluruhan adalah warga pendatang dari
berbagai daerah di Kabupaten Garut. Malah pimpinan PonPes sendiri bukan asli orang
sekitar Kp. Olan tapi di daerah Garut Selatan Kec. Pameungpeuk yang kemudian
menikah dengan orang Olan yaitu istrinya. Pada mulanya masyarakat Kp. Olan
bersepakat untuk mendirikan Masjid sebagai tempat ibadah dan berkumpul dalam
pengajian. Setelah mesjid berdiri, karena Kp. Olan ini jauh dari pusat pendidikan yang
memadai. Maka, tokoh yang ada di Kp. Olan bersepakat untuk mendirikan Madrasah
Dinniyah sebagai pusat pendidikan keagamaan setempat. Setelah itu baru mendirikan
PonPes sebagai Pondok Swadaya Masyarakat. Dengan bergulirnya waktu ke waktu,

11 Lihat Jackson D. Karl, Kewibawaan Tradisional, Islam dan Pemberontakan, Jakarta, Tahun
1990 hl. 22
PonPes Olan semakin berkembang dan berdatanganlah para santri dari berbagai daerah
sekitar Kp. Olan yang bermukim di Ponpes.

Tahun 1996 mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai pendidikan formal di Kp.
Olan. Karena mendapatkan bantuan dari DAK. Setelah itu mendirikan Madrasah
Tsanawiyah (MTs) pada tahun 2004 dan Madrasah Aliyah (MA) pada tahun 2008.

Motivasi mendirikan madrasah adalah untuk mencerdaskan masa depan bangsa dan
untuk tujuan dakwah islam sebagai pendidikan ruhani warga setempat dan sekitarnya.

Secara singkat hasil pertemuan kami di Kp. Olan adalah :

1. Pimpinan yayasan Nurul Falah bukan asli kelahiran kp. Olan,

2. Mayoritas penduduk adalah pendatang yang mengisi tanah kosong di kp. Olan,

3. Istri dari Pimpinan yayasan adalah Asli sebagai turunan dari SI (Serikat Islam),

4. Kurikulum yang dipakai di madrash-madrasah yang ada di yayasan Nurul Falah


jelas-jelas memakai Kurikulum yang dikeluarkan oleh Kemenag,

5. Masyarakat pada masa sekarang lebih heterogen dalam memilih praktik


ubudiyah, karena tokoh masyarakat tidak mengekang dan membebaskan
masyarakat untuk bermadzhab,

6. Mayoritas mata pencarian penduduk di kp. Olan adalah sebagai buruh tani,
karena tanah perkebunan di sekitar kp. Olan adalah pemilik penduduk diluar kp.
Olan,

7. Partai politik yang didukung oleh penduduk kp. Olan terbilang beragam dan
terkadang tidak menentu, dan

8. Kitab-kitab yang diajarkan di PonPes Nurul Falah Olan tergolong Syafi’iyah


(Safinatun Najah, Tijan, Sulam Taufik, Talim Mutaalim dll).
Dari kesaksian pimpinan pesantren bahwa mereka jelas bukan keturunan DI dan tidak
meneruskan paham tentang pemberontakan, hanya saja istri dari pimpinan pesantren
adalah keturunan dari SI yang bukan termasuk pada gerombolan pemberontak. Dan
belum ada upaya khusus untuk meredam pemahaman pemberontakan terhadap Negara
dan juga agama yang dalam hal ini dalam pendidikan formal di madrasah. Tapi dalam
kegiatan ekstrakulikuler ada kegiatan Bela Negara dan Pramuka yang katanya akan
mewakili untuk meredam dan mencintai Negara Republik Indonesia dalam pendidikan
di Madrasah.

Dan akhirnya, setelah melakukan wawancara yang begitu panjang. Kamipun


mengakhiri dan berpamitan untuk meninggalkan Yayasan Nurul Falah di kp. Olan.
Dengan membawa pertanyaan yang sekaligus membuat penasaran yang begitu
menggunung. Karena sepintas kenyataan yang kami lalui tidak terindikasi adanya hasil
yang memuaskan dari wawancara tersebut. Maka, kamipun bertekat untuk memproses
data yang telah didapat pada tahap analisis yang mungkin butuh penafsiran dan
penguatan dari berbagai sumber sekunder yang memahami sepak terjang keturunan DI
di kabupaten Garut.

Saat diperjalanan pulang, selepas menunaikan shalat Ashar. Kamipun bersepakat untuk
pergi ke Kp. Cipari Ds. Sukarasa Kec. Pangatikan, tepatnya di PonPes Cipari. Yang
mana dalam sejarah Kp. Cipari adalah salah satu daerah yang paling sering diserang
oleh pemberontak DI12. Disana ada pendidikan formal yaitu MA Cipari dan MTs Cipari.
Tetapi waktu sudah semakin senja dan tak mungkin untuk mengunjungi Madrasah.
Maka, memutuskan untuk menemui tokoh masyarakat yang tahu secara umun sejarah
pergerakan masyarakat dalam menghadapi pemberontakan DI dan tahu tentang keadaan
masyarakat pada masa sekarang.

Kp. Cipari adalah salah satu kampong yang berada di Desa Sukarasa. Tetangga
kampung diantaranya kp. Babakan loa, kp. Sukarasa, kp. Sukamulya, kp. Babakan
Cipari, kp. Cidewa dan kp. Ciluar. Diapit oleh gunung Sadakeling dan Gunung
Talagabodas. Yang mana Gunung Sadakeling adalah tempat kemah pemberontak DI dan

12 Horikosi, Hiroko, Kyai dan Perubahan Sosial, diterjemahkan oleh Himpunan


Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), thn 1987
juga dibalik gunung Sadakeling adalah kecamatan Malangbong. Yaitu, tempat cikal
bakal pemberontakan DI. Juga pimpinan DI sebelum terjadi pemberontakan adalah
tamu rutin di PonPes Cipari tersebut.13

Setelah melalui perjalanan selama satu jam setengah. Akhirnya kami sampai di Ponpes
Cipari. Tepat dihadapan kami Mesjid Cipari yang bernama Mesjid As-Syura, besar dan
berarsitektur gereja yang sangat unik dan berwibawa. Bukti peralihan zaman klasik ke
modern. Bukti kemajuan peradaban agama dan perkembangan intelektual Islam. Saksi
sejarah perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan pada masanya.

Kamipun langsung bertanya pada penduduk yang sedang berkumpul disekitar mesjid
untuk bertemu tokoh masyarakat. Lalu kami diarahkan pada seorang tokoh sebagai
pengurus yayasan dan pengurus DKM yang berprofesi sebagai hakim di Kantor Urusan
Agama (KUA) Pusat di Jakarta.

Sampailah kami di kediaman beliau yang sederhana. Tanpa menyia-nyiakan waktu,


kamipun langsung melaksanakan wawancara menyangkut sejarah kp. Cipari dan sepak
terjang pemberontakan yang terjadi pada masa pemberontakan DI. Sekaligus keadaan
masyarakat masa sekarang ditinjau dari perspektif sosial, ekonomi, pendidikan dan
spiritual.

Beliau menuturkan bahwa kp. Cipari adalah salah satu kampong yang mendapatkan
serangan yang sangat berat, kira-kira sebanyak 52 kali diserang oleh pasukan DI.
Karena sering kali pemberontak dihalau oleh masyarakat Cipari yang ingin
mempertahankan keyakinannya. Dengan didukung oleh tokoh karismatik yang menjadi
tumpuan masyarakat dalam hal agama dan pengetahuan. Kyai Yusuf Tauziri (wafat
1982) adalah tokoh karismatik pergerakan sosial membela tanah air Indonesia.

Kartosoewirjo berteman dekat dengan kyai Yusuf Tauziri sebelum pemberontakan.


Malah, Karto sudah dianggap keluarga di Cipari. Baik oleh tokoh-tokoh Cipari maupun
masyarakat Cipari dan sekitarnya. Beliau juga menuturkan bahwa ketika Karto ingin

13 Horikosi, Hiroko, Kyai dan Perubahan Sosial, diterjemahkan oleh Himpunan Pengembangan
Pesantren dan Masyarakat (P3M), thn 1987, hl. 22
pulang ke istrinya di Malangbong suka dikasih bekal dari Cipari. Hampir 20 tahun
Karto hidup dilingkungan Cipari. Dengan tanpa disangka-sangka akan terjadi
pemberontakan yang dipelopori oleh Kartosoewirjo. Dan perbedaan pahamlah yang
menjadi permusuhan antara kedua belah pihak. Karena Karto meminta dukungan pada
Kyai Yusuf Tauziri yang ditolak sambil diberikan wejangan namun tak dihiraukan.

Secara singkat hasil wawancara dari pertemuan senja itu diantaranya :

1. Kampung Cipari adalah penduduk daerah yang melawan terhadap


pemberontakan DI-TII,

2. KH. Yusuf Tauziri adalah tokoh karismatik yang mempelopori pergerakan


masyarakat terhadap perubahan sosial,

3. Masyarakat yang berjiwa pejuang yang diwariskan secara turun-temurun sampai


masa sekarang,

4. Dalam sejarah kp. Cipari yang terbelah ideology namun zaman sekarang utuh
kembali tanpa membeda-bedakan dengan mengingat peristiwa pada sejarah,

5. Masyarakat yang dulu mayoritas peternak dan pembudidaya ikan sekarang lebih
beragam dari mulai pedagang, petani, peternak, PNS, karyawan swasta,
pendidik, politisi dll,

6. Pendidikan terakhir masyarakat mayoritas tingkat MA,

7. Madzhab ubudiah mayoritas PERSIS,

8. Partai politik mayoritas PPP (Partai Persatuan Pembangunan),

Adzan magrib pun berkumandang. Kamipun mengakhiri wawancara dan langsung


berpamitan untuk menunaikan shalat magrib berjamaah di Mesjid As-Syura Cipari.
Dengan penuh rasa takjub dari penuturan cerita tentang sejarah Cipari pada masa
pemberontakan. Dengan kekangan, telor, baku tembak, darah bergelimpangan, kolam
ikan berbau anyir darah dari korban perang dan malam yang mencekam dengan
ganasnya para pemberontak menyerang penduduk yang berlindung di Mesjid karena
rumah mereka sudah dilalap api rata dengan tanah yang menyeret kami pada
kebanggaan dan kengerian yang berujung duka. Tak bisa membayangkan bagaimana
rasanya dalam keadaan seperti itu.

Keesokan harinya, yaitu tanggal 23 April 2017 kamipun berangkat menuju kp. Cipari
untuk mewawancarai kepala sekolah MA Cipari. Tidak jauh berbeda dengan penuturan
narasumber kemarin mengenai sejarah Cipari pada masa pemberontakan hanya saja
pembahasan wawancara lebih ditekankan pada kontek zaman sekarang. Baik dari upaya
madrasah dalam meredam paham pemberontakan dan juga keadaan masyarakat.
Apakah ada upaya khusus dari madrasah dalam meredam ideology masyarakat yang
dahulu terpecah belah? Dan apakah ada kelompok masyarakat yang membeda-bedakan
karena berbagai permasalahan masa lalu?

Secara singkat inti dari wawancara bersama Kepala Sekolah MA Cipari diantaranya :

1. MA Cipari berkurikulum sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh


Kementrian Agama,

2. MA Cipari menerima siswa dan siswi yang mau bermukim di pesantren Cipari
yang lebih menekankan pada pembelajaran Al-Quran, baik Tahfidz maupun
Tilawah,

3. Gedung sekolah MA Cipari dulunya direncanakan untuk Institut Perguruan


Tinggi Agama.

4. Upaya yang dilakukan dalam meredam lahirnya kembali ideology DI adalah


dengan selalu diingatkan setiap upacara bendera di Sekolah akan rasa
nasionalisme dan patriotism serta mengenang perjuangan para pahlawan,

5. Masyarakat Cipari dan sekitarnya pada masa sekarang sudah tidak mengingat-
ingat kembali tragedi masa lalu. Mereka hidup berdampingan, saling gotong
royong, menghargai satu sama lain, rukun, damai dan sejahtera.
6. Semangat perjuangan masyarakat Cipari masih berkobar turun-temurun dalam
membela tanah air Indonesia sampai pada saat sekarang.

Setelah mewawancarai Kepala Sekolah MA Cipari kamipun berangkat untuk menemui


Kepala Sekolah MTs Cipari. Kebetulan beliau tidak lagi ada di Sekolah maka kamipun
berangkat menuju kediamannya di Daerah Pangatikan. Singkat cerita, kamipun
langsung mewawancarai Kepala Sekolah MTs Cipari dengan intisari dari hasil
wawancara diantaranya :

1. MTs Cipari memakai Kurikulum yang sesuai dengan ketentuan dari Kementrian
Agama,

2. Belum ada upaya yang khusus dalam meredam ideology pemberontakan.


Kerena, tidak terasa sama sekali keadaan masyarakat yang mengindikasi
pemberontakan. Meskipun setiap penduduk tahu tentang sejarah yang dialami
Cipari pada masa pemberontakan tapi mereka hidup rukun seakan tidak pernah
terjadi masalah sedikitpun dalam masa lalu.

Setelah melakukan wawancara singkat perihal sejarah Cipari dan MTs Cipari. Kamipun
merasa cukup untuk memperoleh informasi. Bersegeralah kami untuk berpamitan dan
pulang ke Garut Kota. Karena hari sudah semakin senja dan mendung seakan hujan
akan turun dan membasahi daerah bekas pemberontakan itu menyerang penduduk
cipari. Dengan membawa tugas untuk mengelola data-data yang telah kami dapatkan
dari berbagai tempat seakan tak menyulutkan semangat untuk menganalisa dan
menginterpretasikan data-data serta dibandingkan dengan data-data dari narasumber
lain.

PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara, ada dua tempat yang penelitian yang berbeda. Baik secara
geografi maupun demografi masyarakat. Yang akan kami bahas di pertama adalah
PonPes Nurul Falah Olan. Yang bertempat di Kampung Olan Desa Cigedug Kecamatan
Cikajang Garut.
Setelah kami mengeksplorasi data-data yang di temukan dilapangan dan mendapati
narasumber yang berkopetensi terpercaya. Maka, ada suatu kajian yang harus kita
lewati dalam membandingkan pemahaman yang telah kita dapati. Meskipun kepala
yayasan Nurul Falah secara tegas mengatakan bahwa mereka bukan keturunan DI.
Bahkan sesekali beliau mengatakan bahwa tidak tahu sejarah pemberontakan DI baik
segara lisan maupun tulisan. Beliau berkata bahwa kabar sejarah tentang
pemberontakan DI baru ia dengar setelah kedatangan kami kesana.

Maka, dari hasil analisis dan kajian dari sumber yang lain dapat diambil kesimpulan
bahwa pimpinan Yayasan Nurul Falah menyembunyi-menyembunyikan identitas yang
sebenarnya. Mungkin ada beberapa alasan yang membuat beliau begitu. Dan secara
garis besar bisa dikatakan bahwa Yayasan Nurul Falah adalah lembaga yang didirikan
oleh keturunan DI yang berubah ataupun bertaubat untuk kembali lagi bersama Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya PonPes Cipari yang mendirikan pendidikan formal setingkat MA dan MTs
sudah jelas mereka melawan pemberontakan pada zamannya, dan untuk kontek
sekarang mereka sering kali mengingatkan masyarakat dan juga para pelajar dan guru-
guru pengajar untuk senantiasa mengenang para pahlawan yang berjuang
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

KESIMPULAN

Paham ideology dari pemberontakan yang atas namakan Islam dalam sejarah masih
membekas pada hati-hati setiap keturunan anggota Pemberontakan DI. Namun, mereka
berevolusi dan memodifikasi paham-paham radikal mereka. Sampai pada masa
sekarang. Keturunan DI masuk pada berbagai kalangan dari masyarakat. Ada sebagai
politisi, pendidik, aktifis dan lain sebagainya. Mereka menyatu bersama masyarakat
tanpa menyangkut pautkan sejarah yang telah terjadi dimasa-masa silam.

Sejarah biarlah jadi kenangan dan pembelajaran. Agar setiap orang yang tahu dan
paham tentang makna yang terkandung dalam sejarah bisa mengambil hikmahnya.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa setiap keturunan DI baik yang mendirikan
pendidikan formal atau tidak sudah tidak menjalankan indikasi terselubung untuk
memberontak pada Negara Republik Indonesia, apalagi untuk menyebarkan paham
radikalisme dan membentuk kemiliteran seperti yang telah terjadi pada sejarah. Mereka
menjalankan undang-undang Republik Indonesia, patuh terhadap hokum-hukum
Indonesia dan mengamalkan pancasila.

DAFTAR PUSTAKA
Al. Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S. M.
Kartosoewirjo. Jakarta. Darul Falah. 1999.

Holk H. Dengel, Darul Islam dan S. M. Kartosoewirjo. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
1995.

Cribb Robert. Historical Atlas of Indonesia. 2000.

Iskandar Mohammad, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Penghujung Perjalanan,


pengantar dalam Fadli Zon,

Adams Cindy, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, edisi revisi (Jakarta:
Media Presindo, 2012)

Penumpasan Pemberontakan DI/TII S.M. Kartosoewirjo Di Jawa Barat (Bandung:


Dinas Sejarah, TNI AD, 1982), h. 66. Lihat juga Fadli Zon, Op. Cit.

"History of Railways in Indonesia". keretapi.tripod.com. Diakses tanggal 28 November


2017.

"Q&A: Indonesia’s Terrorism Expert on the Country’s Homegrown Jihadis".


world.time.com. 26 Agustus 2013. Diakses tanggal 28 November 2017.

"Keterangan Pemerintah tentang peristiwa Daud Beureuh : [diutjapkan dalam rapat


pleno terbuka Dewan Perwakilan Rakjat Republik Indonesia tanggal 28 Oktober
1953] ; Djawaban Pemerintah [atas pemandangan umum Dewan Perwakilan
Rakjat mengenai keterangan Pemerintah] tentang peristiwa Daud Beureuh :
[diutjapkan oleh Perdana Menteri dalam rapat pleno terbuka Dewan Perwakilan
Rakjat tanggal 2 Nopember 1953] / [Ali Sastroamidjojo]" (PDF). 1953

Hiroko Horikosi, Kyai dan Perubahan Sosial, diterjemahkan oleh Himpunan


Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), thn 1987

Karl D. Jackson, Kewibawaan Tradisional, Islam dan pemberontakan, Jakarta 1990