Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MATERNITAS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes HANG TUAH PEKANBARU
T.A 2017/2018

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Materi : Preeklamsi
Pokok bahasan : Tanda dan gejala dan Pencegahan preeklamsi
Hari/Tanggal : Jum’at, 09 februari 2018
Waktu pertemuan : 08.00 – 08.30 / 30 menit
Tempat : Puskesmas Harapan Raya
Sasaran : Peserta yang berkunjung di Puskesmas
Harapan Raya

A. Latar belakang

Pre eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria pada

umur kehamilan lebih dari 20 minggu atau segera setelah persalinan dan

gangguan multisistem pada kehamilan yang dikarakteristikkan disfungsi

endotelial, peningkatan tekanan darah karena vasokonstriksi, proteinuria akibat

kegagalan glomerolus, dan udema akibat peningkatan permeabilitas vaskuler

(Fauziyah, 2012). Pre eklamsia atau toksemia preeklantik (pre eclamtic toxaemia,

PET) adalah penyebab utama mortalitas dan morbiditas ibu dan janin. Pre

eklamsia dapat timbul pada masa antenatal, intrapartum, dan postnatal. Pre

eklamsia dapat terjadi dengan tanda-tanda hipertensi dan proteinuria yang baru

muncul di trimester kedua kehamilan yang selalu pulih di periode postnatal

(Robson, 2012). Eklamsia adalah suatu penyakit yang pada umumnya terjadi pada

wanita hamil atau nifas dengan tanda-tanda pre-eklamsia yang disertai kejang-

kejang, kelainan akut pada ibu hamil yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain.

1
Sectio cesarea adalah pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada

dinding abdomen dan uterus. Pembedahan Cesarea profesional yang pertama

dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1827. Sebelum tahun 1800 sectio

cesarea jarang dikerjakan dan biasanya fatal. Di London dan Edinburg pada tahun

1877, dari 35 pembedahan cesarea terdapat 33 kematian ibu. 2 Menjelang tahun

1877 sudah dilaksanakan 71 kali pembedahan cesarea di Amerika Serikat. Angka

mortalitasnya 52 persen yang terutama disebabkan oleh infeksi dan perdarahan

(Oxorn, dkk., 2010). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkankan bahwa pre

eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria pada umur

kehamilan lebih dari 20 minggu dan dapat timbul pada masa antenatal,

intrapartum, dan postnatal. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)

2007 menunjukkan bahwa secara nasional Angka Kematian Ibu di Indonesia

adalah 228/100.000 kelahiran hidup, yang disebabkan oleh perdarahan 28%,

eklampsia 12%, abortus 13%, sepsis 15%, partus lama 18%, dan penyebab

lainnya 2%.Angka ini masih jauh dari target tujuan pembangunan milenium

(Millenium Development Goals/MDGs), yakni hanya 102/100.000 kelahiran

tahun 2015 (Depkes RI, 2010).

B. Tujuan

1. Tujuan umum :

Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta dapat mengetahui

tentang konsep penyakit preeklamsi.

2. Tujuan khusus :

Setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit, peserta diharapkan:

2
a. Mampu memahami dan mengetahui definisi preeklamsi

b. Mampu memahami dan mengetahui klasifikasi preeklamsi

c. Mampu memahami dan mengetahui etiologi preeklamsi

d. Mampu memahami dan mengetahui tanda dan gejala preeklamsi

e. Mampu memahami dan mengetahui faktor resiko preeklamsi

f. Mampu memahami dan mengetahui komplikasi preeklamsi

g. Mampu memahami dan mengetahui pencegahan preeklamsi

h. Mampu memahami dan mengetahui penatalaksanaan preeklamsi

C. Metoda

1. Ceramah

2. Tanya jawab

D. Media

1. Infocus

2. Leptop

3. Power point

4. Leaflet

E. Waktu dan Tempat

Waktu : Jam 08.00 – 08.30 / 30 menit

Tempat : Puskesmas Harapan Raya

F. Pengorganisasian

1. Leader : Riski Nopriandi

2. Co. Leader : Gustin Nur Isnaini

3. Fasilitator 1 : Bella Nanda Avista

3
4. Fasilitator 2 : Sri Wahyuni

5. Observer 1 : Nirma Zetri

6. Observer 2 : Syarifah Maisyaroh

G. UraianTugas

1. Leader

a) Mengatur jalannya selama acara berlangsung

b) Membuka acara

c) Memperkenalkan mahasiswa

d) Menjelaskan tujuan dan topik yang disampaikan

e) Menjelaskan kontrak dan waktu presentasi

f) Mengatur jalannya diskusi

g) Menyajikan isi materi yang sudah disiapkan

h) Menjawab pertanyaan audience

2. Co. Leader

a) Mengatur jalannya selama acara beralangsung

b) Membuka acara

c) Memperkenalkan mahasiswa

d) Menjelaskan tujuan dan topik yang disampaikan

e) Menjelaskan kontrak dan waktu presentasi

f) Mengatur jalannya diskusi

g) Menggantikan tugas leader jika tidak ditempat

3. Fasilitator

a) Memberikan motivasi kepada audience untuk aktif

4
b) Memfasilitasi audience untuk berinteraksi/ bertanya

c) Memfasilitasi selama kegiatan berlangsung

4. Observer

a) Mencatat jalannya acara dan hasil acara dan pertanhaan audience

b) Mengobservasi jalannya penyuluhan

c) Mengamati penyuluhan kesehatan

d) Mencatat hasil pelaksanaan penyuluhan kesehatan

e) Membuat laporan hasil penyuluhan yang telah dilaksanakan.

5
H. Setting Tempat

= Peserta

= Fasilitator

= Leader

= Co-Leader

= Observer

6
= Infocus

7
I. Kegiatan Penyuluhan

No. Waktu Kegitan Penyuluhan Kegiatan Peserta

1. 5 Menit Persiapan : Ruangan, alat-alat,

a. Menyiapkanruangan. dan peserta

b. Menyiapkanalat. sudahsiap.

c. Menyiapkanpeserta.

2. 5 Menit Pembukaan :

a. Moderator memberikan salam a. Peserta

menjawab salam

b. Moderator/ co-leader b. Peserta

memperkenalkan anggota penyuluh mendengarkan

dan

c. Moderator menjelaskan topik memperhatikan

penyuluhan c. Peserta

mendengarkan

d. Moderator menjelaskan tujuan dan

penyuluhan memperhatikan

d. Peserta

e. Moderator membuat kontrak waktu mendengarkan

dan

memperhatikan

e. Peserta

mendengarkan

8
dan

memperhatikan

3. 20Menit Kegiatan :

a. Menggali pengetahuan peserta a. Peserta

tentangpengertian, penyebab, tanda mengemukakan

dan gejala, pencegahan, serta pendapat

penatalaksanaan pre-eklamsi

b. Memberi reinforcement positif b. Peserta terlihat

bersemangat

c. Menjelaskan tentang konsep pre- c. Peserta

eklamsi mendengarkan

dan

memperhatikan

d. Mempersilahkan peserta untuk d. Peserta

bertanya mengajukan

pertanyaan

e. Menjawab pertanyaan peserta e. Peserta

mendengarkan

dan

memperhatikan

f. Peserta
f. Mengevaluasi pengetahuan peserta
mengemukakan
mengenai materi yang telah
pendapat

9
disampaikan. g. Peserta terlihat

g. Memberikan reinforcement poitif bersemangat

4. 5 Menit Penutup :

a. Menyimpulkan hasil diskusi a. Peserta

mendengarkan

dan

memperhatikan

b. Mengucapkan salam. b. Peserta

menjawab

salam.

c. Merapikan alat dan tempat c. Alat dan tempat

penyuluhan. penyuluhan

sudah rapi

J. Materi Penyuluhan

1. Definisi Preeklamsi

Preeklampsia adalah sindrom klinis pada masa kehamilan (setelah kehamilan

20 minggu) yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah (>140/90 mmHg)

dan proteinuria (0,3 gram/hari) pada wanita yang tekanan darahnya normal pada

usia kehamilan sebelum 20 minggu. Preeklampsia merupakan penyakit sistemik

yang tidak hanya ditandai oleh hipertensi, tetapi juga disertai peningkatan

resistensi pembuluh darah, disfungsi endotel difus, proteinuria, dan koagulopati.

10
Pada 20% wanita preeklampsia berat didapatkan sindrom HELLP (Hemolysis,

Elevated Liver Enzyme, Low Platelet Count) yang ditandai dengan hemolisis,

peningkatan enzim hepar, trombositopenia akibat kelainan hepar dan sistem

koagulasi. Angka kejadian sindrom HELLP ini sekitar 1 dari 1000 kehamilan.

Sekitar 20% sindrom HELLP mengalami koagulasi intravaskuler diseminata,

yang memper buruk prognosis baik ibu maupun bayi. Eklampsia merupakan jenis

preeklampsia berat yang ditandai dengan adanya kejang, terjadi pada 3% dari

seluruh kasus preeklampsia. Kerusakan otak pada eklampsia disebabkan oleh

edema serebri. Perubahan substansia alba yang terjadi menyerupai ensefalopati

hipertensi. Komplikasi serebrovaskuler, seperti stroke dan perdarahan serebri,

merupakan penyebab kematian terbesar pada eklampsia (Podymow, 2013).

2. Klasifikasi Preeklamsi berdasarkan tanda dan gejala

Menurut American College of Obstetrics and Gynecology, diagnosis dibuat

jika tekanan darah >140/90 mmHg pada dua kali pengukuran disertai proteinuria

>300 mg/ hari. Edema, yang merupakan gambaran klasik preeklampsia, tidak lagi

digunakan sebagai dasar diagnosis karena sensitivitas maupun spesifi sitasnya

rendah. Pada 20% kasus tidak ditemukan proteinuria ataupun hipertensi.

Pemeriksaan laboratorium, seperti tes fungsi hepar, pemeriksaan protein urin, dan

kreatinin serum dapat membantu mengetahui derajat kerusakan target organ,

tetapi tidak ada yang spesifik untuk diagnosis preeclampsia (Powe, 2011).

a. Pre-eklamsi Ringan

Pre-eklamsi dengan tekanan darah sistolik/diastolic lebih dari 140/90

mmHg dan Proteinuria lebih 300 mg / 24 jam.

11
b. Pre-eklamsi Berat

Pre-eklamsia dengan tekanan darah sistolik lebih dari ≥ 160 mmHg

dan tekanan darah diastolic ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5

gr / 24 jam (Manuaba, 2008)

3. Etiologi Preeklamsi

Penyebab preeclampsia menurut Podymow (2013), tidak diketahui secara

pasti. Diketahui ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian

preeklampsia (Tabel 1)

Tabel 1. Faktor risiko preeklamsia

• Nullipara
• Multiparietas
• Riwayat keluarga preeclampsia
• Hipertensi kronis
• Diabetes mellitus
• Penyakit ginjal
• Riwayat preeklampsia onset dini pada kehamilan sebelumnya (<34 minggu)
• Riwayat sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low platelet)
• Obesitas
• Mola hidatidosa

4. Komplikasi preeklamsi

Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi

lainnya adalah :

1. Berkurangnya aliran darah menuju plasenta

Preeklamsia akan mempengaruhi pembuluh arteri yang membawa

darah menuju plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah,

maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga

pertumbuhan janin melambat atau lahir dengan berat kurang.

12
2. Lepasnya plasenta

Preeklamsia meningkatkan risiko lepasnya plasenta dari dinding rahim

sebelum lahir, sehingga terjadi pendarahan dan dapat mengancam bayi

maupun ibunya.

3. Sindrom-HELLP

HELLP adalah singkatan dari Hemolyssi (perusakan sel darah merah),

Elevated liver enzym dan low platelet count (meningkatnya kadar

enzim dalam hati dan rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan

darah). Gejalanya, pening dan muntah, sakit kepala serta nyeri perut

atas.

4. Eklamsia

Jika preklamsia tidak terkontrol, maka akan terjadi eklamsia. Eklamsia

dapat mengakibatkan kerusakan permanen organ tubuh ibu, seperti

otak, hati atau ginjal. Eklamsia berat menyebabkan ibu mengalami

koma, kerusakan otak bahkan berujung pada kematian janin maupun

ibunya (Manuaba, 2008)

5. Pencegahan Pre-eklamsi

Pencegahan terbaik preeklampsia/eklampsia adalah dengan memantau

tekanan darah ibu hamil. Padukan pola makan berkadar lemak rendah dan

perbanyak suplai kalsium, vitamin C dan A serta hindari stres. Selain bedrest, ibu

hamil juga perlu banyak minum untuk menurunkan tekanan darah dan kadar

proteinuria, sesuai petunjuk dokter. Lalu, untuk mengurangi pembengkakan,

sebaiknya ibu hamil mengurangi garam dan beristirahat dengan kaki diangkat ke

13
atas (Indiarti, 2009). Bila sejak awal kehamilan tekanan darah ibu hamil sudah

tinggi, berarti ibu hamil harus berhati-hati dengan pola makanannya. Ibu hamil

harus mengurangi makanan yang asin dan bergaram seperti ikan asin, ebi,

makanan kaleng, maupun makanan olahan lain yang menggunakan garam tinggi.

Bila tekanan darah meningkat, istirahatlah sampai turun kembali. Lakukan

relaksasi secukupnya, karena relaksasi dapat menurunkan tekanan darah tinggi

(Indiarti, 2009). Upaya pencegahan preeklampsia/eklampsia sudah lama

dilakukan dan telah banyak penelitian dilakukan untuk menilai manfaat berbagai

kelompok bahan-bahan non-farmakologi dan bahan farmakologi seperti: diet

rendah garam, vitamin C, toxopheral (vit E), beta caroten, minyak ikan (eicosapen

tanoic acid), zink, magnesium, diuretik, anti hipertensi, aspirin dosis rendah, dan

kalsium untuk mencegah terjadinya preeklampsia dan eklampsia (Haryono, 2008).

Menurut Indiarti (2009), pembengkakan tidak selalu identik dengan gejala

preeklampsia, sebab kondisi yang sering disebut odema ini juga bisa terjadi pada

ibu hamil, terutama di bagian tangan dan kaki. Destiana (2010), menambahkan

upaya untuk mencegah preeklampsia/ eklampsia di antaranya rajin memeriksakan

kandungan (ANC) secara teratur sehingga dapat dideteksi sejak dini ada tidaknya

preeklampsia/eklampsia pada ibu hamil. Pemeriksaan pada ibu hamil di antaranya

tes urin untuk mendeteksi kemungkinan adanya preeklampsia/eklampsia dan

mengukur tekanan darah untuk mendeteksi adanya preeklampsia/eklampsia.

6. Penatalaksanaan Pre-eklamsi

Terdapat perbedaan manajemen hipertensi pada kehamilan dan di luar

kehamilan. Kebanyakan kasus hipertensi di luar ke hamilan merupakan hipertensi

14
esensial yang bersifat kronis. Terapi hipertensi di luar kehamilan ditujukan untuk

mencegah komplikasi jangka panjang, seperti stroke dan infark miokard,

sedangkan hipertensi pada kehamilan biasanya kembali normal saat post-partum,

sehingga terapi tidak ditujukan untuk pencegahan komplikasi jangka panjang.

Preeklampsia berisiko menjadi eklampsia, sehingga diperlukan penurunan tekanan

darah yang cepat pada preeklampsia berat. Selain itu, preeklampsia melibatkan

komplikasi multisistem dan disfungsi endotel, meliputi kecenderungan

protrombotik, penurunan volume intravaskuler, dan peningkatan permeabilitas

(Myrtha, 2015).

Preeklampsia onset dini (< 34 minggu) memerlukan penggunaan obat

antihipertensi secara hati-hati; selain itu, diperlukan tirah baring dan monitoring

baik terhadap ibu maupun bayi. Pasien preeklampsia biasanya sudah mengalami

deplesi volume intravaskuler, sehingga lebih rentan terhadap penurunan tekanan

darah yang terlalu cepat; hipotensi dan penurunan aliran uteroplasenta perlu

diperhatikan karena iskemi plasenta merupakan hal pokok dalam patofi siologi

preeklampsia. Selain itu, menurunkan tekanan darah tidak mengatasi proses

primernya. Tujuan utama terapi antihipertensi adalah untuk mengurangi risiko

ibu, yang meliputi abrupsi plasenta, hipertensi urgensi yang memerlukan rawat

inap, dan kerusakan organ target (komplikasi serebrovaskuler dan

kardiovaskuler). Risiko kerusakan organ target meningkat jika kenaikan tekanan

darah terjadi tiba-tiba pada wanita yang sebelumnya normotensi.

Tekanan darah >170/110 mmHg merusak endotel secara langsung. Pada

tekanan darah 180-190/120-130 mmHg terjadi kegagalan autoregulasi serebral

15
yang meningkatkan risiko perdarahan serebral. Selain itu, risiko abrupsi plasenta

dan asfi ksia juga meningkat. Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat dan

mendadak dapat menurunkan perfusi uteroplasenta, sehingga dapat menyebabkan

hipoksia janin. Target tekanan darah adalah sekitar 140/90 mmHg.7 Obat

Antihipertensi

a. Hipertensi ringan-sedang. Keuntungan dan risiko terapi antihi pertensi

pada hipertensi ringan-sedang (tekanan darah sistolik 140-169 mmHg

dan tekanan darah diastolik 90-109 mmHg) masih kontroversial.

Guideline European Society of Hypertension (ESH) / European

Society of Cardiology (ESC) terbaru merekomendasi kan pemberian

terapi jika tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg

pada wanita dengan:

- Hipertensi gestasional (dengan atau tanpa proteinuria)

- Hipertensi kronis superimposed hipertensi gestasional

- Hipertensi dengan kerusakan target organ subklinis atau adanya gejala

selama masa kehamilan.

b. Hipertensi berat ESC merekomendasikan jika tekanan darah sistolik

>170 mmHg atau diastolik >110 mmHg pada wanita hamil diklasifi

kasikan sebagai emergensi dan merupakan indikasi rawat inap. Terapi

farmakologis dengan labetalol intravena, metildopa oral, atau nifedipin

sebaiknya segera diberikan. Obat pilihan untuk preeklampsia dengan

edema paru adalah nitrogliserin (gliseril trinitrat), infus intravena

dengan dosis 5 μg/menit dan ditingkatkan bertahap tiap 3-5 menit

16
hingga dosis maksimal 100 μg/menit.17,18 Furosemid intravena dapat

digunakan untuk venodilatasi dan diuresis (20-40 mg bolus intravena

selama 2 menit), dapat diulang 40-60 mg setelah 30 menit jika respons

diuresis kurang adekuat. Morfin intravena 2-3 mg dapat diberikan

untuk venodilator dan ansiolitik. Edema paru berat memerlu kan

ventilasi mekanik. Magnesium Sulfat Magnesium sulfat mempunyai

efek antikejang dan vasodilator. Magnesium sulfat merupakan agen

pencegahan eklampsia paling efektif, dan obat lini pertama untuk

terapi kejang pada eklampsia. Selain itu, direkomendasikan untuk profi

laksis eklampsia pada wanita dengan preeklampsia berat. Konseling

dan Follow Up Pascapersalinan Hipertensi sering menetap pasca-

persalinan pada pasien dengan hipertensi antenatal atau preeklampsia.

Tekanan darah sering tidak stabil pada beberapa hari postpartum.

Tujuan terapi adalah untuk mencegah terjadinya hipertensi berat. Obat

antihipertensi antenatal sebaiknya diberikan kembali post-partum dan

dapat dihentikan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah

tekanan darah normal. Jika tekanan darah sebelum konsepsi normal,

tekanan darah biasanya normal kembali dalam 2-8 minggu. Hipertensi

yang menetap setelah 12 minggu postpartum mungkin menunjukkan

hipertensi kronis yang tidak terdiagnosis atau adanya hipertensi

sekunder.

Evaluasi post-partum perlu dilakukan pada pasien preeklampsia onset dini,

preeklampsia berat atau rekuren, atau pada pasien dengan proteinuria yang

17
menetap; perlu dipikirkan kemungkinan penyakit ginjal, hipertensi sekunder,

dan trombofi lia (misalnya sindrom antibodi antifosfolipid). Wanita yang

mengalami hipertensi gestasional mempunyai risiko lebih tinggi untuk

mengalami hipertensi di kemudian hari. Setelah follow up selama 7 tahun

pada 223 wanita yang mengalami eklampsia, didapatkan bahwa risiko paling

tinggi adalah pada wanita yang mengalami hipertensi pada usia kehamilan

sebelum 30 minggu. Wanita dengan hipertensi gestasional juga mengalami

resistensi insulin lebih tinggi. Wanita preeklampsia memiliki risiko penyakit

kardiovaskuler lebih tinggi bahkan hingga bertahun-tahun pascapersalinan,

serta mempunyai risiko lebih besar terjadinya disfungsi dan hipertrofi

ventrikel kiri asimptomatik dalam 1-2 tahun pasca-persalinan. Risiko

kematian karena penyakit kardio-serebrovaskuler juga dua kali lebih besar

pada wanita dengan riwayat preeklampsia. Wanita dengan riwayat

preeklampsia onset sebelum 34 minggu atau preeklampsia yang disertai

persalinan preterm mempunyai risiko kematian karena penyakit

kardiovaskuler 4-8 kali lebih besar dibandingkan wanita dengan kehamilan

normal. Mekanismenya masih belum diketahui pasti, tetapi disfungsi endotel

yang berkaitan erat dengan proses aterosklerosis menetap selama bertahun-

tahun setelah kejadian preeklampsia. Tiga bulan hingga paling tidak tiga

tahun pasca-persalinan masih di dapat kan gangguan dilatasi endotel. Wanita

dengan riwayat preeklampsia juga dilaporkan lebih sensitif terhadap

angiotensin II dan garam. Penanda aktivasi endotel, meliputi vascular cell

adhesion molecule-1 dan intercellular adhesion molecule-1 kadarnya lebih

18
tinggi hingga >15 tahun pasca-persalinan. Adanya diabetes melitus, hipertensi

kronis, dan penyakit ginjal sebelum kehamilan dapat meningkatkan risiko

preeklampsia. Obat antihipertensi larut lemak konsentrasinya dapat lebih

tinggi di air susu ibu (ASI). Paparan neonatus pada penggunaan obat

metildopa, labetalol, captopril, dan nifedipin rendah, sehingga obat-obat ini

dianggap aman diberikan selama menyusui. Diuretik juga didapatkan pada

konsentrasi rendah, tetapi dapat mengurangi produksi ASI.3 Metildopa

sebaiknya dihindari pascapersalinan karena dapat menyebabkan depresi

pasca-melahirkan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Myrtha, R. (2015). Penatalaksanaan Tekanan Darah pada Preeklamsia. Jurnal


CDK-227/vol.42.no4.
Podymow T, August P. Hypertension in pregnancy. In: Black HR, Elliott WJ, eds.
Hypertension: A companion to Braunwald’s heart disease. 2nd ed.
Philadelphia: Elsevier Saunders; 2013:327– 35.
Powe CE, Levine RJ, Karumanchi SA. Preeclampsia, a disease of the maternal
endothelium: The role of antiangiogenic factors and implications for later
cardiovascular disease. Circulation 2011;123:2856-69.
Savaj S, Vaziri ND. An overview of recent advances in pathogenesis and
diagnosis of preeclampsia. Iran J Kidney Dis. 2012;6(5):334-8.

20