Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK “ M “USIA 11 BULAN DENGAN GED


DI RUANG ANAK RS MUHAMMADIYAH GRESIK

OLEH :
ANDITA MARIYOHANA RAHMAWATI
NIM. 06. 02. 02. 0052

PRODI DIII KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
LAMONGAN
2009
LANDASAN TEORI
GE ( GASTROENTERITIS )

I. DEFINISI
 Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan / tanpa darah atau lendir
dalam tinja ( Sudaryat, 2005 : 1)
 Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari
3 kali pada anak , konsistensi feces encer , dapat berwarna hijau atau dapat pula
bercampur lendir dan darah atau lendir saja. ( Ngastiyah, 1997 : 143)

II. ETIOLOGI
a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus
untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
b. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( toksin ) pada dindiing usus akan terjadi peningkatan
sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjunya timbul diare karena
terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Ganguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan dapat menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. sebaliknya bila peristaltik usus menurun
akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula .
d. Faktor Infeksi
 Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang
merupakan Penyebab utama diare pada anak.
 Infeksi parenteral : Infeksi diluar alat pencernaan makanan .
keadaan
Ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur
dibawah 2th
e. Faktor Makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

III.PATOFISIOLOGI
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik, akan terjadi :
a. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan
keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipoglikemia)
b. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah)
c. Hipoglikemia
d. Gangguan sirkulasi darah

IV. MANIFESTASI KLINIK


a. Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat
b. Nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare
c. Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah
d. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan
empedu
e. Anus dan daerah sekitar sering lelet karena sering defekasi dan tinja makin
lama makin makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang bercampur
dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.
f. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan
karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan
elektrolit
g. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai
nampak yaitu ; berat badan menurun, turgor berkurang, ubun-ubun besar menjadi
cekung (pada bayi), selaput lendir, bibir dan mulut serta kulit tampak kering

V. PERILAKU YANG DAPAT MENINGKATKAN RESIKO TERJADINYA DIARE


a. Tidak memberi ASI secara menyeluruh umur 4-6 bulan pertama, setelah
kehidupan
b. Menggunakan botol susu
c. Menyimpan makanan pada suhu kamar
d. Air minum tercampur dengan bakteri / tinja
e. Tidak mencuci tangan setelah BAB

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang
dan berat. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonok
dan hipertonik. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehungga dapat terjadi
rentetan hipovolemik. Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehungga dapat
terjadi rentetan hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi meningkat, nadi cepat
dan kecil, tekanan darah menurun, pasien sangat lemah, kesadaran menurun, (apatis,
samnoien, kadang sampai soporokomateus)

Kehilangan Cairan Menurut Derajat Dehidrasi


Pada Anak Di Bawah 2 Tahun

Derajat dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah


Ringan 50 100 25 175
Sedang 75 100 25 200
Berat 125 200 25 300

Kehilangan Cairan Menurut Derajat Dehidrasi


Pada Anak berumur 2-5 Tahun

Derajat dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah


Ringan 30 80 25 135
Sedang 50 85 25 155
Berat 80 85 25 185

Kehilangan Cairan Pada Dehidrasi Berat


Menurut Berat Badan Dan Umur

Berat Badan (Kg) Umur PWL NWL LWL Jumlah


0–3 0 – 1 Th 150 125 25 300
3 – 10 1 – 2 Th 125 100 25 250
10 – 15 2 – 5 Th 100 80 25 205
15 – 25 5 – 10 Th 80 25 25 130

VI. KOMPLIKASI
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, hipertonik)
b. Renjatan hipovolemik
c. Hipokalemia (dengan gejala meteorisme, hipotoni otot, lemah, gradikardi,
perubahan elektrokardiogram
d. Hipoglikemia
e. Intoleransi sekunder akibat kerusakan Villimukosa usus dan defisiensi enzim
lactose
f. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik
g. Mainutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik)

VII. PENATALAKSANAAN
Dasar pengobatan diare adalah :
a. Pemberian cairan (jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya)
b. Dretetik (cara pemberian makan)
c. Obat-obatan

A. Pemberian Cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan
keadaan umum
.1 Cairan peroral
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral berupa
cairan yang berisikan NaCl dan NaHCO3, KCl dan glukosa
.2 Cairan Parenteral
Cara memberikan cairan :
.a Belum ada dehidrasi
Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi
.b Dehidrasi ringan
- 1 jam pertama : 25-50 ml / kg BB per oral (intragastrik)
- Selanjutnya : 125 ml / kgBB / hari ad libitum
.c Dehidrasi berat
 Untuk anak umur 1 bulan- 2 Tahun BB 3-10 Kg
- 1 jam pertama 40 ml / kg BB / jam =10 tts / kg / BB / mnt (set infus
berukuran 1 ml = 15 tts) atau 13 tts / kg BB / mnt (set infus berukuran 1
ml = 20 tts)
- 7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam : 3 tts / kg BB/mnt (set infus 1
ml = 15 tts) atau 4 tts / kg BB / mnt (set infus 1 ml = 20 tts
- 16 jam berikutnya = 125 ml / kg BB Oralit per oral atau intragastrik
Bila anak tidak mau minum, teruskan Dg aa intervena 2 tts / kg BB /
mnt (set infus 1 ml = 15 tts) atau 3 tts / kgBB /mnt (set infus 1 ml = 20
tts)
 Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan BB10-15 Kg
- 1 jam pertama 30 tts / kg BB / jam atau 8 tts / kg BB / mnt (1 ml = 15
tts) atau 10 tts / kg BB / mnt (1 ml = 20 tts)
- 7 jam berikutnya 10 ml / kg BB / jam atau 3 tts / kg BB/mnt (1 ml = 15
tts) atau 4 tts / kg BB / mnt (1 ml < 20 tts)
- 16 jam berikutnya = 125 ml / kg BB Oralit per oral atau intragastrik
Bila anak tidak mau minum, dapat diteruskan dengan Dg aa intervena 2
tts / kg BB / mnt (1 ml = 15 tts) atau 3 tts / kgBB /mnt (1 ml = 20 tts)
 Untuk anak lebih dari 5 – 10 Tahun dengan BB 15 – 25 kg
- 1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tts / kg BB / mnt (1 ml = 15
tts) atau 7 tts / kg BB / mnt (1 ml = 20 tts)
- 7 jam berikutnya 10 ml / kg BB / jam atau 2,5 tts / kg BB/mnt (1 ml =
15 tts) atau 3 tts / kg BB / mnt (1 ml =20 tts)
- 16 jam berikutnya = 105 ml / kg BB Oralit per oral atau Bila anak tidak
mau minum, diberikan Dg aa intervena 1 tts / kg BB / mnt (1 ml = 15
tts) atau 1,5 tts / kgBB /mnt (1 ml = 20 tts)
 Untuk Bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2-3 Kg
Kebutuhan cairan 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml / kg BB /24 jam jenis
cairan : Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 % + 1 bagian NaHO3 1,5 %)
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml / Kg / BB / mnt (1ml = 15 tts) 8 tts / kg
BB / Mnt (1ml = 20 tts)
20 jam berikutnya 150 ml / Kg BB / 20 jam atau 20 tts / kg BB / mnt (1ml =
15 tts) atau 2,5 tts / KgBB/mnt (1 ml = 20 tts)
 Untuk Bayi berat badan Lahir Rendah dengan BB < 2 Kg
Kebutuhan cairan 250 ml / Kg BB / 24 jam, Jenis cairan : cairan 4 : 1 (4
bagian glukosa 10% +1 bagian NaHCO3 1,5 %). Kecepatan cairan sama
dengan pada bayi baru lahir

B. Pengobatan Dietetik
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan berat badan < 7 Kg jenis
makanan :
- Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung lactosa rendah dengan
asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron atau sejenis lainnya)
- Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak
mau minum susu karena di rumah tidak biasa
- Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemuka. Misalnya susu
yang tidak mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang atau
tidak jenuh.
Cara memberikannya :
Hari 1 setelah rehidrasi segera diberikan makanan per oral. Bila diberi ASI atau
susu Formula tetapi diare masih sering, supaya diberikan oralit selang-seling
dengan ASI, misalnya 2 kali ASI / susu khusus, 1 kali oralit
Hari ke 2 sampai 4 : ASI / susu formula rendah laktosa penuh.
Hari ke 5 bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu atau makanan
biasa, disesuaikan dengan umur bayi dan berat badannya
C. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan
atau tanpa muntah, dengancairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau
karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras dsb)
- Obat anti sekresi
Aserol dosis 25 mg / tahun dengan dosis minuman 30 mg
Kloropomazin dosis 0,5 -1 mg / kgBB/ hari
- Obat spasmolitik dan lain-lain. Umumnya obat spasmolitik seperti papaverin,
ekstrak beladona, opium loperamid tidak digunakan untuk mengatasi diare akut
lagi. Obat pengeras tinja seperti Kaolin, pektin, charcoal, tabanol tidak ada
manfaatnya untuk mengatasi diare
- Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas. Bila
penyebabnya Kolera diberikan tetrasikrin 25 – 30 mg / Kg BB / hari

VIII. PROGNOSIS PENYAKIT

Iritasi usus oleh suatu patogen mempengaruhi lapisan mukosa usus, sehingga terjadi
peningkatan produk-produk sekretonik, termasuk mukus, iritasi oleh mikroba juga
mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan mobilitas. Peningkatan mobilitas
menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk
penyerapan zat-zat tersebut di colon berkurang. Individu yang, mengalami diare berat
dapat meninggal akibat syok hipovolemik dan kelainan elektrolit
IX. PATOFISIOLOGI

Makanan

Tercemar infeksi Malabsorbsi Makanan beracun


psikologis

Masuk NGT Takanan Osmotik n Toksin tidak diserap Suhu


tubuh

Berkembang biak drs elektrolit out Hiperperistaltik Gamgguan


rasa
Nyaman
(nyeri)

Merusak Vill usus isi rongga usus kemampuan usus


Serap makanan

Hipersekresi air merangsang usus Respok


kalinergik
dan elektrolit untuk mengeluarkan

diare nutrisi kurang dari


kebutuhan

output berlebih cemas (Ortu)

bersifat asam Ketidakseimbangan (devisit)


cairan dan elektrolit masuk RS

iritasi kulit asidosis hospitalisasi

Gangguan integritas Kematian


kulit
KONSEP ASKEP

I. PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien / Biodata


Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, asal suku bangsa,
nama orang tua, pekerjaan orang tua.
2. Keluhan Utama
Pada umumnya anak MRS dengan keluhan buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi
dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi Feces encer, dapat berwarna hijau, /
bercampur lendir / darah. Keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah nafsu makan
menurun, suhu tubuh meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan
kesadaran
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit sebelumnya
Meliputi pengkajian riwayat prenaral, natal dan post natal, hospitalisasi dan
pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, imunisasi, status gizi lebih,
baik, kurang atau buruk), psikososial, interaksi dll
5. Riwayat kesehatan Keluarga
Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan persepsi keluarga tentang penyakit
keluarga
6. Riwayat Tumbuh Kembang
Menanyakan pertumbuhan tentang motorik kasar, motorik halus, kemampuan bahasa,
ketrampilan dan kemandirian untuk mengetahui tumbuh kembangnya dalam batas
normal
7. Pola kebiasaan Pemeliharaan kesehatan
a. Pola makan dan minum
Nafsu makan berkurang, output yang terus meningkat menyebabkan penurunan
berat badan pasien
b. Pola aktivitas
Akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah
c. Pola istirahat dan tidur
Akan terganggu karena karena sering BAB, suhu tubuh meningkat
d. Pola eliminasi
BAK : sedikit / jarang
BAB : Lebih dari 4 kali konsistensi feces encer, dapat berwarna hijau atau
dapat
bercampur lendir dan darah
e. Pola Hygiene
Mandi dan cuci rambut dilakukan ditempat tidur dengan diseka menggunakan air
hangat, ganti pakaian sesudah diseka atau kotor
8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
- Baik, sadar (tanpa dehidrasi)
- Gelisah, rewel(dehidrasi ringan, atau sedang)
- Lesu, lunglai, atau tidak sadar (dehidrasi berat)
b. Kulit
Dilakukan pemeriksaan turgor yaitu dengan cara mencabut daerah perut
menggunakan kedua ujung jari
Turgor < 2 detik : diare tanpa dehidrasi
Turgor 2 detik : diare dengan dehidrasi ringan / sedang
Turgor > 2 detik : diare dengan dehidrasi berat
c. Kepala
Anak yang berusia dibawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi, ubun-ubun besar
biasanya cekung
d. Mata
Tanpa dehidrasi kelopak mata normal
Dehidrasi ringan/sedang kelopak mata cekung
e. Mulut dan Lidah
Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan / sedang)
Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)
f. Abdomen
Distensi, kram dan bising usus yang meningkat
g. Anus
Apakah ada iritasi pada kulitnya
h. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Tinja
Makroskopik dan Mikroskopik, PH dan kadar gula jika diduga ada intoleransi
gula (sugar intolerance) biakan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji
resistensi terhadap berbagai antibiotika (pada diare persisten)
- Pemeriksaaan Darah
Darah periver lengkap analisa gas darah untuk mengetahui Faal ginjal
- Radiologi
Mungkin ditemukan broncho pneumonia

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit


berhubungan dengan output berlebihan
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan gangguan absorbsi atau penurunan penyerapan makanan
3. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
dehidrasi
4. Resiko tinggi gangguan integritas kulit
berhubungan dengan BAB yang berlebihan

III. INTERVENSI

- Diagnosa I
Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output berlebihan
Tujuan : diharapkan terjadi keseimbangan cairan dan elektrolit
Rencana Tindakan :
1. Pantau input dan output
R/ ketidakseimbangan cairan terus menerus, menunjukkan terjadinya dehidrasi dan
perlunya penggantian cairan
2. Timbang BB
R/ Pengukuran sensitif terhadap fluktuasi keseimbangan cairan
3. Pantau TTV
R/ menunjukkan keadekuatan volume sirkulasi
4. Kaji turgor kulit dan kelembapan mukosa
R/ Indikator tak langsung dari status dehidrasi / derajat kekurangan
5. Pastokan kesukaan minuman pasien dan atur
jadwal masukan cairan 24 jam
R/ menghilangkan haus dan ketidaknyamanan membran mukosa dan
menambahkan penggunaan parenteral
6. Dorong masukan cairan adekuat (misal
2000ml / 24 jam)
R/ dapat mencegah terjadinya dehidrasi lebih lanjut
7. Kaji tanda Klinis dehidrasi
R/ deteksi dini intervensi dapat mencegah ketidakseimbangan cairan
8. Kolaborasi dengan tim medis tentang
rehidrasi
R/ dehidrasi dapat teratasi
- Diagnosa II
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Tujuan : diare dapat berkurang sampai dengan teratasi, kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Rencana Tindakan
1. Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori
R/ memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan / defisiensi
2. Timbang BB tiap hari dan bandingkan dengan BB penerimaan
R/ observasi kebutuhan nutrisi dan perbaikan BB (BB meningkat)
3. Status nutrisi secara kontinyu, selama perawatan setiap hari
R/ memberikan kesempatan mengobservasi penyimpangan dari normal
4. Berikan makan sedikit tapi, 3-4 sendok tiap jam
R/ Buruknya toleransi terhadap makan banyak mungkin berhubungan dengan
peningkatan tekanan intra abdomin / asites
5. Dokumentasikan masukan oral selama 24 jam, riwayat makanan, jumlah
kalori dengan tepat
R/ mengidentifikasi keseimbangan antara perkiraan kebutuhan nutrisi dan masukan
aktual
6. Berikan larutan nutrisi pada ketepatan yang dianjurkan melalui alat kontrol
infus sesuai Kebutuhan. Atur ketepatan pemberian per jam sesuai anjuran
R/ ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan kebutuhan kalori dan
protein
Ketepatan pemberian nutrisi akan menjamin penggunaan tepat, efek samping lebih
sedikit
7. Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai pemberian jenis makanan, penyajian
tekstur
R/ Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
- Diagnoas III
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
Rencana Tindakan:
1. Jelaskan kepada keluarga tentang kondisi anaknya
R/ informasi yang jelas mengurangi kekhawatiran keluarga
2. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab panas
R/ keluarga mengetahui keadaan anaknya dan memberikan kerjasama dalam
pemberian asuhan
3. Beri kompresdingin pada daerah tekuk kepala, lipatan paha dan lipatan ketiak,
R/ menurunkan panas dengan cara konduksi
4. Anjrkan kepada keluarga untuk mengganti baju pasien dengan pakaian yang tipis
dan menyerap keringat
R/ memberikan rasa nyaman dan mencegah peningkatan suhu tubuh
5. Pantau TTV
R/ mengetahui keadaan umum pasien dan deteksi dini masalah lain
6. Kaji semua sistem (misal kulit, pernafasan, gastrointestinal) terhadap tanda dan
gejala infeksi secara kontinyu
R/ pengenalan dini dan intervensi segera dapat mencegah progresi pada situasi
yang lebih serius
7. Tingkatkan istirahat adekuat
R/ membatasi keletihan
8. Anjurkan pada keluarga untuk sering memberikan minum pada anak
Mengganti cairan tubuh yang hilang
9. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antipiretik
- Diagnosa IV
Resiko tinggi gangguan integritas kuirt berhubungan dengan BAB yang berlebihan
Tujuan : tidak terjadi iritasi pada daerah kuli (Anus)
Rencana Tindakan
1. Jelaskan penyebab gangguan iritasi disekitar
anus
R/ informasi yang jelas mengurangi kekhhawatiran keluarga
2. jelaskan cara mengatasi iritasi disekitar anus
R/ pencegahan terjadinya iritasi lebih lanjut
3. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk
dan menepuk kulit yang kering
R/ membantu mencegah trauma kulit
4. Anjurkan pasien untuk menghindari krim
kulit apapun, salep dan bedak kecuali diizinkan oleh dokter
R/ dapat meningkatkan iritasi / reaksi secara nyata
ASUHAN KEPERAWATAN
Pada Anak “M” usia 11 bulan dengan GED
Di Ruang Anak RS Muhammadiyah Gresik

I. PENGKAJIAN
Tanggal : 05 Januari 2009 Pukul : 09.00 WIB
Tanggal MRS : 04 januari 2009 Pukul : 20.30 WIB
No. Reg : 16.36.99.09

A. Anamnesa
1. Biodata
Nama Pasien : An “M”
Usia : 11 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : anak kandung
Anak ke : 1 (satu)
Identitas Orang tua
Nama Ayah : Tn “I” Nama Ibu : Ny. “T”
Umur : 29 Tahun Umur : 25 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : swasta
Suku Bangsa : Jawa / Indonesia Suku bangsa : Jawa / Indonesia
Alamat : Ds. Suci RT 4/2 Manyar Alamat : Ds. Suci RT 4/2
Manyar
Gresik Gresik
2. Keluhan Utama
MRS : Ibu menyatakan anaknya mencret ± 5 x / hari dan muntaj tiap minum
Pengkajian ibu mengatakan anaknya mencret 2x dan muntah tiap minum susu
3. Riwayat Keluhan Utama
a. Ibu mengatakan anaknya mencret sehari ± 5 xsejak tanggal 4 -1 – 2009.
Upaya yang dilakukan, ibu langsung membawa ke RSMG dan oleh dokter
dianjurkan untuk MRS. Pada saat pengkajian ibu mengatakan anaknya mencret
3x masih berupa cairan dan ampas. Dan muntah 2x setiap minum susu
b. Faktor Pencetus
Ibu mengatakan tidak mengetahui apa penyebab dari anaknya diare. Karena
anaknya hanya minum ASI dan makan nasi tim seperti biasa, dan pemberian
susu formula
c. Upaya Mengurangi
Ibu mengatakan saat anaknya mencret pertama kali ibu langsung membawa ke
RS Muhammadiyah Gresik
d. Keluhan lain
Ibu mengatakan selain mencret, anaknya juga batuk
4. Riwayat Penyakit Yang Lalu
a. Penyakit waktu kecil : batuk, pilek dan panas
b. Pernah dirawat dirumah sakit : tidak pernah
c. Obat-obatan yang digunakan : sirup obat batuk dan penurun panas
d. Tindakan Operasi : tidak pernah
e. Alergi : tidak ada
f. Imunisasi : BLG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis
5. Riwayat Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular
(hepatitis, TBC), menurun (DM) dan menahun (jantung, hipertensi)
Genogram

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Klien

: Tinggal dalam satu keluaraga

6. Riwayat Tumbuh Kembang


a. Keadaan Waktu Lahir
Ibu mengatakan persalinan dengan VE ditolong oleh dokter, lahir langsung
menangis. Berat badan lahir 3450 gram, usia kehamilan 9 bulan
b. Keadaan sekarang
BB sebelum sakit : 8,6 Kg
BB sekarang : 8,0 Kg
c. Fungsi Motorik Kasar
Ibu mengatakan anaknya sudah bisa mengambil atau berusaha meraih mainan
yang ada didekatnya
d. Fungsi Motorik halus
Ibu mengatakan anaknya sudah dapat memberi salam
e. Ketrampilan dan Kepandaian
Ibu mengatakan anaknya sudah dapat mengoceh-oceh, menirukan bicara orang
yang disekitarnya
f. Keadaan mental dan emosi
Ibu mengatakan anaknya rewel selama di rumah sakit
7. Pola Kebiasaan Pemeliharaan Kesehatan
a. Pola makan dan minum
Di rumah : - Makan : Ibu mengatakan anaknya makan ± 3 x / hari
dengan porsi
nasi tim
- Minum : Ibu mengatakan anaknya minum ASI dan susu
formula
- Pantang makan dan minum : Ibu mengatakan tidak ada
pantangan makan dan minum untuk anaknya
Dirumah sakit : - Makan : Ibu mengatakan selama sakit nafsu makan menurun
jenis
makanan sesuai dengan yang disediakan
- Minum : Ibu mengatakan anaknya minum susu formula,
kadang
muntah
b. Pola istirahat dan tidur
Di rumah : Ibu mengatakan anaknya sering tidur ±10 – 11 jam
Di RS : Ibu mengatakan anaknya sering rewel, tidur hanya sebentar (7-
8 jam)
c. Pola Aktivitas
Dirumah : Anak bermain dengan ibunya
Di RS : Anak hanya bermain di atas tempat tidur dengan ibunya
d. Pola Eliminasi
Di rumah : BAB ± 1x / hari warna kuning, konsistensi lunak
BAK ± 8x / hari warna kekuningan, jernih, tidak nyeri
Di RS : BAB ± 4-5 x / hari konsistensi encer warna kuning, sedikit
ampas
BAK ± 6 x / hari warna kekuningan, jernih, tidak nyeri
e. Pola Kebersihan Diri
Di rumah : Mandi 2x / hari , cucui rambut 3x/minggu, ganti pakaian 2x /
hari
Di RS : Seka, 2x / hari dengan air hangat, belum cucui rambut, ganti
pakaian setiap selesasi atau bila kotor.

B. Pemeriksaan Fisik
a. Umum
Keadan umum : lemah, kesadaran cm, tampak rewel, batuk, terpasang infus
pada tanga kanan kaen 3B
TTV : 5 : 368 o C N : 120 x/mnt RR : 36
x/mnt
b. Khusus
Kepala : Warna rambut hitam, destribusi merata, tidak ada berjalan abnormal,
tidak ada ketombe, UUB tidak cekung
Wajah : Lemas, tidk pucat, tidak adem
Mata : Semetris, kelopak mata cekung, konrungtiva merah muda, sklera putih
terdapat gambaran halus pembulu darah
Hidung : Tidak terdapat pernafasan cuping hidung, tidak terdapat stanoser,
mukosa lembab, tidak ada sekret, tidak dan polip
Mulut : Mukosa bibir kering, warna mera merah muda,lidah tidak bersiag,
tidak ada stomatitis, tidak ada pembesaran tonsil
Telingah : Simetris, avrikula terbentuk, membran timpane putih mengkilap, tidak
ada serumer, tidak ada benjolan abnormal
Leher : Tidak ad pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada
pembesarankelenjar tiroid, tidak terdapat bendungan vera jugularis
Dada : Gerakan dada simetri, tidak ada tarikan intercoste, terdapat ronkht,
bunyi jantung I dan II normal
Perut : Tidak terdapat resi, himpertimpani, besing usus 25 x/mnt, torgor 3
detik
Anus : Tidak terdapat iritasi pada anus
Ekstremitas : atas : kiri : Simetris, kuku tidak eyanosis, akral sedikit dengan tidak
odem, tidak ada keterbatasan gerak.
Kanan : Simetris, kuku tidak eyanosis, akral agak dingin, tidak odem, tidak ada
keterbatasan gerak, terpasang infus kaen 3 B 800 cc / 24 jam
Ekstremitas : bawah : Simetris, akral hangat, kuku merah muda, gerakan kaki
bebas.

C. Pemeriksaan Penunjang
 Data Psikososial
Perilaku non variabel : anak tampak lemah
Keadaan emosi : anak rewel
Hubungan dengan orang tua : anak hanya dekat dengan orang tua
 Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal : 5 – 1 – 2009
- HB : 12,9 gr %
- Lekosit : 16,4 . 103 /ul
- PCV : 36,7 %
- Trombosit : 218 . 103 /ul
- Eusin
2, 6 %
Baso + Mono
- Stap
34,0 %
- Segmen
- Lympho : 63,4 %
- Widal : B (-)
: A (1/100)
: H (-)
: O (-)
 Feses
Konsistensi : Lembek, kuning, bau khas
Sisa makanan :+1
Lemak :+1
Baktur :+2

D. Obat-obatan
- Infus kaen 3B 800 cc / 24 jam
- Amoxsan 3 x 300 mg
- Tomit 3 x 1 amp 10 mg
- L – bio 1x1
ANALISIS DATA

NO DATA PENYEBAB MASALAH


1. Ds = Ibu mengatakan anaknya mencret ± 5x cair dan Out put yang berlebihan Gangguan
sedikit ampas mulai tanggal 4-1-2009 sampai keseimbangan cairan
sekarang (siang ini) anak mencret 3x dan masih cair
dan sedikit ampas dan muntah 2x
Do =- KU = lemah
- TTV = 5 =
8 x x
36 c N= 120 / mnt RR = 36 /mnt
- Akral agak dingin
- Mata = kelopak mata cekung
- Mulut = bibir kering
- Perut = turgor kembali 3 detik
- Intake / 6 jam
Minum = 180 cc
Makan = 20 cc
Cara infus = 200 cc
400 cc
- Out put / 6 jam
BAB = 300 cc
BAK = 70 cc
Muntah = 220 cc
590 cc
- Balance cairan
Intake = 400 cc
Out put = 590 cc
- 190 cc
- Hasil lab = feces  bakteri = + 2
2. Anoreksia Gangguan pemenuhan
1 nutrisi
Ds = ibu mengatakan soal diare nafsu makan minum
4
porsi BK yang di sediakan
Do = -KU = lemah
- TTv = 5 = 36 8 c , N 120 x / mnt RR = 36 x
/mnt
- Konjungtiva = merah muda ( tidak anemis )
- BB sebelum sakit = 8,6 kg
- Abdomen = hipertempani ( kembung ) turgur
kembali 3 detik, bising usus 25 x / mnt.
- Muntah 2x
1
- Makan porsi Bk
4
umur (bulan)  9
- BB normal =
2
11  9
=
2
= 10 kg
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output


berlebihan
2. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia

IV. INTERVENSI

Tgl Dignosa Intervensi Rencana Tindakan Rasional


5/1 ‘09 Gangguan Tujuan : setelah dilakukan 1. Lakukan R/ menciptakan hubungan
ketidakseimbangan tindakan keperawatan pendekatan terapieutik saling percaya
cairan dan elektrolit
selama 1 x 24 jam R/Informasi yang jelas
berhubungan dengandiharapkan kebutuhan 2. Jelaskan tentang mengurangi kekhawatiran
output berlebihan cairan terpenuh, dengan keadaan pasien keluarga
kriteria, hasil : R/mengetahui derajat
- 3. Pantau tanda dan dehidrasi
Ku : baru gejala dehidrasi R/ Deteksi dini adanya
- 4. Observasi TTV penyakit lainnya
Tidak terdapat tanda-tanda R/ asupan nutrisi dan
dehidrasi 5. Anjurkan ibu untuk cairan
- untuk tetap memberikan R/ menambah intake
Turgor kulit baik ASI cairan untuk mencegah
- 6. Beri cairan oral dehidrasi
Mata tidak cowong baik PASI atau cairan R/dehidrasi dapat teratasi
- elektrolit
Bibir tidak kering 7. Kolaborasi R/ mengetahui dehidrasi
- dengan tim medis infus
Kesadaran baru dan tidak pemberian obat anti
rewel diare
- 8. Pantau cairan
BAB dalam batas normal infus
yaitu < 3x / hari dengan
konsistensi lembek
Gangguan - R/ menciptakan hubungan
pemenuhan nutrisi TTV dalam batas normal saling percaya
berhubngan dengan S : 365 - 375 oC R/ Informasi yang jelas
anoreksia N : 100-120 x / menit 1. Lakukan pendekatan mengurangi kekhawatiran
RR : 20 – 60 x x / mnt terapieutik R/ kebutuhan nutrisi dapat
terpenuhi
Tujuan : setelah dilakukan 2. Jelaskan tentang R/ menumbuh sikap
Asuhan kebidanan 5 x 24 keadaan klien kooperatif kepada petugas
jam diharapkan kebutuhan R/ menjamin intake
nutrisi dapat terpenuhi 3. Pantau masukan nutrisi makanan konstan dan
dengan kriteria hasil : 4. jelaskan pentingnya sesuai kebutuhan
- makan pada keluarga
Ku : baru R/ memenuhi kebutuhan
- 5. Anjurkan ibu untuk nutrisi
BB naik / tidak turun memberi makan anaknya
- sedikit tapi sering dan
Nafsu makan meningkat dihabiskan
- 6. Kolaborasi dengan ahli R/ mengurangi mual
Bising usus normal gizi mengenai pemberian
(15 – 35 x / menit) jenis makanannya
penyajian dan tekstur
7. Anjurkan ibu untuk
memberikan susu hangat
V. IMPLEMENTASI

Tgl Diagnosa Jam Implementasi


5/1 ‘09 Gangguan 10.00  Melakukan pendekatan
ketidakseimbangan terapeutik dengan pasien dan keluarga
cairan dan elektrolit 10.05  Menjelaskan tentang
berhubungan dengan keadaan klien
output berlebihan 10.10 Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan
11.00  Memantau tanda dan
11.30 gejala dehidrasi
11.45  Melakukan obsevasi TTV
11.50  Memberikan rehidrasi
11.55 oral (minum) tiap 2 jam
 Melakukan injeksi
Amuxan 300 mg IV
Gangguan pemenuhan 10.05
 Melakukan injeksi tumit
nutrisi berhubungan
1 mg IV
dengan Anoreksia 10.15
 Memantau cairan infus
10.20
(tetesan/input)
10.25

10.30  Menjelaskan tentang


11.40 keadaan klien
11.50  Keluarga mengerti
11.55 dengan penjelasan yang diberikan
 Memantau masukan
6/1 ‘09 Gangguan pemenuhan 09.00 nutrisi (makan, minum)
nutrisi berhubungan 09.05  Menjelaskan pentingnya
dengan anoreksia 09.10 makanan (nutrisi) pada keluarga
10.30  Menganjurkan untuk
memberi makan klien sedikit tapi sering dan dihabiskan
11.40 minimal ½ porsi
11.55  menganjurkan ibu untuk
memberikan ASI
 Memberikan makan pada
Gangguan 09.00 klien dengan diit BK
ketidakseimbangan  Memberikan obat per oral
cairan dan elektrolit 09.05 L-Bro 1 bungkus
berhubungan dengan 09.10  Menganjrkan ibu untuk
output berlebihan 10.0 memberikan susu hangat untuk mengurangi mual
11.00  Menjelaskan tentang
11.30 keadaan pasien
 Memantau masukan
nutrisi
 Menjelaskan pada
keluarga pentingnya nutrisi (makanan)
 Menganjurkan keluarga
untuk memberikan makanan sedikit tapi sering dan
dihabiskan minimal ½ porsi
 Memberikan makan pada
klien dengan jenis makanan BK
 Memberikan obat per oral
L – 610 1 bungkus

 Menjelaskan tentang
keadaan pasien
Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan
 Memantau tanda dan
gejala dehidrasi
 Melakukan Obsevasi
TTV
 Memberikan rehidrasi
oral (minum) tiap 2 jam
 Melakukan injeksi
Amoxan 300 mg IV
 Membantu cairan infus
(tetesan / input)

VI. EVALUASI

Tgl Diagnosa Jam Soap


5/1 ‘09 Gangguan 15.00 S : Ibu mengatakan anaknya masih mencret 3 x / hari dengan
ketidakseimbangan dan konsistensi cair disertai sedikit ampas dan sudah tidak muntah
elektrolit berhubungan lagi
dengan output O : Ku : Lemah
berlebihan  Turgor kulit kembali 3 detik
 Mata cowong
 Bibir kering kesadaran : anak rewel
 UUB : datar
 BAB : 3 x / hari konsistensi cair disertai ampas
 TTV : 5 : 362 oC N : 120 x /menit
A = masalah belum teratasi
P = Intervensi dilanjutkan 3,4,5,6,7
Gangguan pemenuhan 15.00 S : Ibu mengatakan anaknya masih susah makan
nutrisi berhubungan O : ku : lemah
dengan anoreksia
 BB : 8 Kg
 Nafsu makan turun
 Bising usus 25 x / menit
A = masalah belum teratasi
P = Intervensi dilanjutkan 3,5,6

6/1 ‘09 Gangguan 14.00 S : Ibu mengatakan anaknya BAB 2x sedikit cair dan tidak
ketidakseimbangan muntah lagi
cairan dan elektrolit O : ku : baik
berhubungan dengan  Turgor kembali 2 detik
output berlebihan  Mata tidak cowong
 Bibir kering
 kesadaran : anak rewel
 UUB : datar
 BAB : 2 x / hari sedikit cair
 TTV : 5 : 364 oC N : 120 x /menit RR : 40 x /
menit
A = masalah teratasi sebagian
P = Intervensi dilanjutkan 3,4,5,6,7

Gangguan pemenuhan 14.00 S : Ibu mengatakan anaknya sudah mau makan  ½ porsi
nutrisi berhubungan dan minum pagi
dengan anoreksia O : ku : baik
 BB : 8 Kg
 Bising usus 25 x / menit
 Hipersimpani
 Nafsu makan meningkat
A = masalah teratasi sebagian
P = Intervensi dilanjutkan 3,5,6
7/1 ‘09 Gangguan 07.00 S : Ibu mengatakan anaknya sudah mau makan banyak, habis ¾
ketidakseimbangan porsi dan minum PASI
cairan dan elektrolit O : KU : Gark
berhubungan dengan BB : 8,0 kg.
output berlebihan Nafsu makan meningkat
Bersing usus : 25 x/mnt
A = masalah teratasi
P = rencana tindakan dihentikan, pasien boleh KRS