Anda di halaman 1dari 1

dampak bioflok

Dampak negatif limbah budidaya terhadap lingkungan tanpa mengurangi produktivitas dapat
dikurangi dengan sistem zero exchange water sehingga dapat mengurangi resiko pencemaran
limbah budidaya udang ke perairan umum. Namun pergantian air yang terbatas dan kepadatan
tinggi berpotensi menaikan resiko akumulasi bahan organik dari pakan yang tidak termakan dan sisa
metabolisme yang menghasilkan terbentuknya senyawa residu bernama amonia pada wadah
budidaya. Amonia yang beracun semakin bertambah di media namun masih dapat diserap oleh
fitoplankton. Akan tetapi, fitoplankton tidak mampu menggunakan massa lumpur padat di dasar
kolam. Seiring waktu, ketika fitoplankton terlalu padat akan terjadi kematian massal fitoplankton
sehingga tidak mampu mengurangi limbah beracun bahkan fitoplankton menambah konsentrasi
limbah yang berakibat fatal untuk kelangsungan hidup udang.

Klaim ramah lingkungan teknologi bioflok masih terbatas pada berkurangnya dampak lingkungan
perairan, seperti pencemaran bahan organik, penyebaran patogen dan efesiensi penggunaan lahan
serta air, sementara input energi, kebutuhan bahan dan peralatan juga berpotensi menyumbang
potensi penurunan kualitas lingkungan global. Dalam budidaya intensif, pemberian pakan dan teknik
pemeliharaan kualitas air dengan sistem tertutup dan pergantian air terbatas, membuka peluang
penggunaan energi tinggi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Selain itu,
teknologi bioflok hanya berkonsentrasi pada konversi TAN (total ammonia nitrogen) menjadi nitrit,
tetapi tidak memperhitungkan konsumsi O2 yang dibutuhkan untuk proses aerobik oleh bakteri
dalam proses mengubah nitrit menjadi nitrat. Teknik bioflok dapat menyebabkan masalah
lingkungan lain yang berkaitan dengan akumulasi nitrat.