Anda di halaman 1dari 209

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/299207150

Transparansi Optik Lapisan Transparan


Komposit Nanopartikel ZnO/Carboxymethyl
Cellulose (CMC) pada Te....

Article · January 2014

CITATIONS READS

0 743

1 author:

Horasdia Saragih
Indonesia Adventist University
34 PUBLICATIONS 14 CITATIONS

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Horasdia Saragih on 21 March 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

PROSIDING
Seminar Kontribusi Fisika 2014
http://portal.fi.itb.ac.id/skf2014

ISBN : 978-602-19655-7-3

Editor : Fiki Taufik Akbar, Agus Suroso, Dwi Irwanto, Triati Dewi Kencana Wungu,
Syeilendra Pramuditya

© 2015

Penerbit :
Program Studi Magister Pengajaran Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha no. 10 Bandung

ISBN 978-602-19655-7-3 1
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

KOMITE ORGANISASI

Pelindung :
Prof. Dr.rer.nat. Umar Fauzi

Dewan Pengarah :
Dr. Widayani H.
Dr. Khairul Basar
Dr. Siti Nurul Khotimah

Ketua Panitia :
Dr. Agus Suroso

Sekretaris :
Dr.Eng. Dwi Irwanto

Bendahara :
Triati Dewi Kencana Wungu, Ph.D.

Web dan Publikasi :


Syeilenda Pramuditya, Ph.D.

Prosiding :
Fiki Taufik Akbar S. M.Si.

Logistik :
Irfan Dwi Aditya M.Si.
Indarta K. Aji M.Si.

Acara :
Wahyu Hidayat M.Si.
Sasfan A. Wella M.Si.
Getbogi Hikmawan M.Si.

Konsumsi :
Nuri Triati M.Si.

Dokumentasi :
Aghust Kurniawan S.Si.

ISBN 978-602-19655-7-3 2
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

FOTO DOKUMENTASI

ISBN 978-602-19655-7-3 3
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

KATA PENGANTAR

Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014) yang dilaksanakan pada 17 dan 18 November
2014 di Bandung merupakan kegiatan ilmiah yang terselenggara berkat dukungan dari Program
Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Seminar
ini merupakan wadah untuk bertukar pikiran bagi para peneliti, dosen, guru, dan mahasiswa Fisika
tentang berbagai aspek Fisika yang telah dipelajarinya.

Seminar ini menampilkan 4 pembicara kunci yang berasal dari Institut Teknologi Bandung
dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Lebih dari 90 peserta dari berbagai universitas
dan sekolah akan menyajikan hasil penelitian dan inovasinya di seminar ini. Partisipan dari berbagai
kalangan juga hadir di seminar ini. Topik-topik yang disampaikan cukup beragam, mulai dari fisika
teoretik, terapan, hingga pendidikan Fisika.

Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung
dan membantu terselenggaranya acara SKF 2014. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua.

Dr. Agus Suroso


Ketua SKF 2014

ISBN 978-602-19655-7-3 4
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

DAFTAR ISI

KOMITE ORGANISASI 2

FOTO DOKUMENTASI 3

KATA PENGANTAR 4

DAFTAR ISI 5

JADWAL ACARA SKF 2014 11

[PEMBICARA UTAMA]

PEMBANGUNAN EMU RADAR DI BUKITTINGGI, SUMATERA BARAT TERKAIT


DENGAN PENGEMBANGAN KAJIAN DINAMIKA VERTIKAL ATMOSFER INDONESIA
(KHUSUSNYA INVESTIGASI GELOMBANG KELVIN) 12

Eddy Hermawan, Aristyo Rahadian Wijaya, dan Siti Hairunnisa Norfahmi

STUDI KOMPUTASI ALIRAN SEBAGAI FUNGSI PERBEDAAN SUHU FLUIDA 16

Suprijadi, A. Ikhsan, R. R. Septiawan dan I. D. Aditya

KETENTUAN AGUNG DALAM ALAM SEMESTA 20

Suparno Satira

SPARSE SAMPLING AND RECONSTRUCTION OF FRACTIONAL BROWNIAN


MOTIONS SIGNALS 25

Andriyan B. Suksmono

[PEMBICARA SESI PARALEL]

SURVEY KONSEPSI MAHASISWA CALON GURU FISIKA PADA KONSEP MEDAN


LISTRIK MENGGUNAKAN FCCI BERBENTUK THREE TIER TEST 27

Achmad Samsudin, Andi Suhandi, Dadi Rusdiana, dan Ida Kaniawati

KAJIAN MEKANISME DIFUSI PADA SISTEM MIKROPHYSIOLOGI MODEL PADA


MONTE CARLO SIMULATOR CELL (MCELL) 31

Adita Sutresno, Moh. Faizal Fajri Al Amin, Idam Arif, Sparisoma Viridi, Freddy Haryanto

ISBN 978-602-19655-7-3 5
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

PERAGA INTRUSI AIR LAUT DI ESTUARI DALAM KONTEKS PENGAJARAN HUKUM


NEWTON DAN FLUIDA 35

Afni Kumala Wardani, Marati Husna, Ely Rismawati, Acep Purqon

HUKUM KETIGA NEWTON SEBAGAI AKIBAT KONSISTENSI PENSKALAAN, DAN


SUATU PERTIMBANGAN METAFISIKA 39

Aloysius Rusli

KONSEP REAKTOR NUKLIR MODULAR BERSPEKTRUM NEUTRON CEPAT DAN


BERMOBILITAS TINGGI DENGAN TEMPERATUR KERJA YANG TINGGI SERTA
PENDINGIN HELIUM 43

Andrew.I.Samosir dan Zaki Suud

PEMANFAATAN SENSOR WARNA BERDASARKAN WARNA DASAR RGB


MENGGUNAKAN LDR UNTUK MENENTUKAN NILAI MATA UANG 47

Asep Saefullah, Widya Rika Puspita, Leni Aziyus Fitri, Mairizwan, M. Sainal Abidin, Hendro

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION


(ATI) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIS SISWA SMP 51

Asep Simbolon, Louise M. Saija

POLA ANOMALI DATA TEMPORAL TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) IONOSFER


YANG BERHUBUNGAN DENGAN DUA GEMPA BESAR TERKINI DI INDONESIA 55

Asis Pattisahusiwa, The Houw Liong, dan Acep Purqon

MANAJEMEN DAN OTOMATISASI PENGONTROLAN PENGGUNAAN DAYA LISTRIK


SECARA MASAL MENGGUNAKAN JARINGAN ARDUINO UNO 59

Asis Pattisahusiwa, Delia Meldra, Yopy Mardiansyah, dan Hendro

STUDI AWAL PENGARUH TRANSMISI MULTILEAF COLLIMATOR (MLC)


TERHADAP PERHITUNGAN DOSIS PADA PRISM TPS SECARA SEDERHANA 63

Chairun Nisa, Freddy Haryanto

PENGENALAN METODE MAGNETIK SEBAGAI SURVEY AWAL PANAS BUMI


KEPADA SISWA SMA 67

Claudia M. M Maing, Suka P. Pandia, Cristi Ascika Sekeon dan Alamta Singarimbun 67

PENGENALAN METODE GEOLISTRIK DALAM EKSPLORASI POTENSI PANAS BUMI


UNTUK SISWA SMA 71

ISBN 978-602-19655-7-3 6
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Cristi Ascika Sekeon, Alamta Singarimbun, Suka Prayanta Pandia, dan Claudia Mariska Maing

RANCANGAN SENSOR PHOTODIODE UNTUK PENDETEKSI KEMIRINGAN 75

Desyana Olenka M, Imam Wijaya, Dian Ahmad Hapidin, Hendro

PENGAMATAN EFEK KACANG BRAZIL DUA DIMENSI DAN ANALISA TRANSFER


ENERGINYA DENGAN OPENCV YANG TELAH TERSTANDARKAN PROSEDURNYA 79

Dimas Praja Purwa Aji, Siti Nurul Khotimah, dan Sparisoma Viridi

DIAGNOSIS KESULITAN-KESULITAN SISWA DALAM KONSEP GERAK DAN GAYA 83

Duden Saepuzaman, Achmad Samsudin, Asep Dedy Sutrisno, Ida Kaniawati, dan Yusnim,

SIFAT ANTI BAKTERI MINYAK ATSIRI KULIT JERUK PURUT 87

Ester Ria Tuahmi Saragih, dan Untung Sudharmono

SENSOR PHOTODIODE SEBAGAI PENGUKUR MOLARITAS LARUTAN CUSO4.5H2O


BERBASIS ARDUINO MEGA 2560 91

Fauzia Puspa Lestari, Gina Hanifah Rahmi, Atut Reni Septiana, dan Hendro

PENGARUH FREKUENSI TERHADAP KECEPATAN ALIRAN (KONVEKSI) BUTIRAN


BED PADA FENOMENA EFEK KACANG BRAZIL PSEUDO-2D 95

Hari Anggit Cahyo W, Trise Nurul Ain, Yayan Prima Nugraha dan Sparisoma Viridi

ALAT EKSPERIMEN SEDERHANA DAN SIMULASI VBA - EXCEL PADA KONSEP


GERAK PARABOLA 99

Zulfikar Fahmi, Sari Sami Novita, Hari Anggit Cahyo Wibowo

ANALISIS MISKONSEPSI TOPIK USAHA DAN ENERGI SISWA KELAS XI SETELAH


PEMBELAJARAN KOOPERATIF MENGGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER 103

Hilda Aini Nugraha, Ida Kaniawati, Endi Suhendi

TRANSPARANSI OPTIK LAPISAN TRANSPARAN KOMPOSIT NANOPARTIKEL


ZNO/CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) PADA TEMPERATUR 200OC 107

Horasdia Saragih

SENSOR API BERBASIS ARDUINO SEBAGAI DETEKTOR DINI KEBAKARAN


AKIBAT HUBUNGAN PENDEK ARUS LISTRIK 111

Husnul Hamdi, Elfitra Desifatma, Kiswanto, Hendro

ISBN 978-602-19655-7-3 7
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

PENGAMATAN KEMAMPUAN PEMAIN FUTSAL DAN HASIL PERTANDINGANNYA:


ANALISA DAN MODEL 115

Sparisoma Viridi, Nuning Nuraini, dan Ikhlas

PENGUKURAN GAYABERAT RELATIF UNTUK PENDEFINISIAN REFERENSI


KETINGGIAN GEODESI DI KOTA SEMARANG 119

L. M. Sabri, Leni Sophia Heliani, T. Aris Sunantyo, Nurohmat Widjajanti, Supriyadi

EFEKTIVITAS EKSTRAK AIR DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA


(TENORE) STEENIS) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI 123

Marisca F. Rehatta dan Untung Sudharmono

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW TERHADAP PENGUASAAN


KONSEP MAHASISWA PADA PERKULIAHAN LISTRIK MAGNET TOPIK MUATAN
LISTRIK DAN HUKUM COULOMB 127

Muhamad Gina Nugraha, Duden Saepuzaman, dan David E.Tarigan

KAJIAN AWAL RANCANG BANGUN SISTEM PENGENDALI KECEPATAN COOLING


PAD BERBASIS ARDUINO 131

Muhammad Nasir, Ridwan Ramdani, Muhammad Sainal Abidin, dan Hendro

SISTEM SONAR TUNANETRA (SST) UNTUK MEMETAKAN LOKASI 135

Muhammad Zukir, Ismail Saleh, Yudiansyah Akbar, dan Hendro

PENGUKURAN GEOLISTRIK TAHANAN JENIS KONFIGURASI WENNER DI KAWAH


GUNUNGAPI PAPANDAYAN 139

Nilam Sari, Felicity Perfecta Azhar, Rahandika Febri Arivani, Yobi Aris Mauladi, Abdul Rozaq, dan
Nurhasan

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA


BERBANTUAN MAPLE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONCEPTUAL
UNDERSTANDING PROCEDURES (CUPS) DAN KOOPERATIF TIPE LEARNING
TOGETHER (LT) 143

Oriza Stepanus, dan Dr. Kartini Hutagaol

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM


ACHIEVEMENT DIVISION) BERBANTUAN SIMULASI KOMPUTER UNTUK
MEMINIMALISIR MISKONSEPSI SISWA 147

Rifa Syarifatul Wahidah, Iyon Suyana, dan Endi Suhendi

ISBN 978-602-19655-7-3 8
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

ANALISIS CAPAIAN KOMPETENSI GURU BIDANG STUDI FISIKA PADA


PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN TAHUN 2013 DI PROVINSI
MALUKU UTARA 151

Saprudin

SIMULASI TUMBUKAN BOLA BILLIARD DENGAN MACRO VISUAL BASIC 154

Sari Sami Novita

STUDI PENGGUNAAN ELECTRICAL CAPACITANCE VOLUME TOMOGRAPHY (ECVT)


BRAIN SCANNER UNTUK OBSERVASI AKTIVITAS OTAK MANUSIA 158

Siska A. Nirmala, Nita Handayani, Siti N. Khotimah, Freddy Haryanto, Warsito P. Taruno

INVESTIGASI DERAJAD POROSITAS DARI LAPISAN MESOPOROS ZNO DENGAN


DOPING AL (AZO) PADA BERBAGAI KADAR DOPAN MELALUI METODA
PENGUKURAN RESONANSI PLASMON PERMUKAAN 162

Siti Chalimah, Herman, Yono Hadi Pramono, Rahmat Hidayat

PEMBUATAN STROBOSKOP DENGAN MENGGUNAKAN LED ULTRABRIGHT


BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA328 UNTUK MENGHITUNG KECEPATAN
ROTASI BENDA 166

Sri Rahayu Alfitri Usna, Elsi Ariani, Ahmad Fauzi, Mairizwan, dan Hendro

PENGENALAN METODE GRAVITASI DALAM EKSPLORASI PANASBUMI KEPADA


SISWA – SISWA DI SMA NEGRI 2 NUBATUKAN KABUPATEN LEMBATA, NUSA
TENGGARA TIMUR 170

Suka P. Pandia, Alamta Singarimbun, Wahyu Srigutomo, Claudia M. Maing, Cristi Ascika Sekeon

PENGENALAN POLA PADA FLUKTUASI HARGA VARIAN CABAI DI KOTA


BANDUNG DENGAN METODE PROPAGASI BALIK JARINGAN SYARAF TIRUAN 174

Muhammad Yangki Sulaeman, Teja Kesuma, Sparisoma Viridi

KAJIAN SIFAT FISIS DAN MEKANIS PAPAN PARTIKEL SEKAM PADI


BERDASARKAN STANDAR SNI 03-2105-2006 178

Taufiq Al Farizi, dan Widayani

TEORI QUASISPESIES DAN PERSAMAAN REAKSI-DIFUSI 182

Trisna Utami, Fakhrul Rozi Ashadi, Siti Nurul Khotimah, Sparisoma Viridi

KAJIAN PERBANDINGAN MICRO-CT SKYSCAN 1173 DAN SEM DALAM


MENENTUKAN KOMPONEN PENYUSUN BATU KEMIH 186

ISBN 978-602-19655-7-3 9
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Vepy Asyana, Leni Aziyus F., dan Freddy Haryanto

IMPLEMENTASI ADXL335 UNTUK PENGUKURAN NILAI PERCEPATAN PADA


EKSPERIMEN KECEPATAN ALIRAN KONVEKSI EFEK KACANG BRAZIL 190

Yayan Prima Nugraha, Trise Nurul Ain, Hari Anggit Cahyo Wibowo, Sparisoma Viridi

CHALK HOLDER SEBAGAI ALAT UNTUK MEREDUKSI SISA PEMAKAIAN KAPUR


TULIS 194

Yulida Rachmawati, Gabriella Mega Puspitasari, dan Sparisoma Viridi

SIFAT ANTI BAKTERI KOMPOSIT NANOPARTIKEL ZNO/CARBOXYMETHYL


CELLULOSE (CMC) 198

Yunus Bonhard Nade dan Horasdia Saragih

PENGARUH UKURAN WADAH PADA SISTEM PENYIMPAN ENERGI TERMAL DARI


MINYAK KELAPA 202

Zulfikar Fahmi, Inge. M. Sutjahja, Surjamanto W.

ISBN 978-602-19655-7-3 10
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Jadwal Acara SKF 2014

Hari 1 ( 17 November 2014)


07.00-09.00 Registrasi
09-00-09.10 Pembukaan
09.10-09.20 Sambutan Ketua Panitia
09.20-09. 30 Sambutan Ketua Prodi Fisika

09.30-09.40 Sesi Foto Bersama


Pembicara Kunci- 1 :
Suparno Satira (KS-1)
09.30-10.30 “Keteraturan Agung dalam Alam Semesta (The
Golden Rules of the Universe)”
Pembicara Kunci- 2 :
Andriyan B. Suksmono (KS-2)
10.30-11.30 “Sparse Sampling and Reconstruction of Fractional Brownian
Motions Signals”

11.30-13.00 Istirahat Siang


13.00-15.00 Sesi Paralel 1
15.00-15.15 Coffee Break

15.00-17.15 Sesi Paralel 2

Hari 2 ( 18 November 2014)

07.30-09.15 Sesi Paralel 3

09.15-09.30 Coffee Break


Pembicara Kunci 3 :
Supriadi (KS-3)
09.45-10.45
“Peran Komputasi dalam Fisika untuk Menjelaskan Sifat
Perpindahan Panas pada Material”
Pembicara Kunci-4 :
Eddy Hermawan (KS-4)
“Rencana Pembangunan EMU (Equatorial Middle and
10.45-11.45 Upper) Radar di Bukittinggi, Sumatera Barat Terkait dengan
Pengembangan Kajian Dinamika Vertikal Atmosfer Indonesia”
11.45-13.00 Istirahat Siang
13.00-15.00 Sesi Paralel 4

15.00-15.15 Coffee Break

15.00-16.45 Sesi Paralel 5

ISBN 978-602-19655-7-3 11
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pembangunan EMU Radar di Bukittinggi, Sumatera Barat Terkait


dengan Pengembangan Kajian Dinamika Vertikal Atmosfer Indonesia
(Khususnya Investigasi Gelombang Kelvin)

Eddy Hermawan, Aristyo Rahadian Wijaya, dan Siti Hairunnisa Norfahmi

Abstrak

Indonesia telah ditetapkan badan meteorologi dunia (WMO, World Meteorological Organization) sebagai satu
dari tiga kawasan penting dunia dalam pemantauan perubahan iklim global. Ini dimungkinkan, kerena
kawasan ini dianggap unik, diapit dua Samudera dan dua Lautan besar (Asia-Australia) dan (Pasifik-Hindia).
Akibat dinamika atmosfer nya yang tergolong kompleks, maka dipandang perlu dilakukan satu sistem
pengamatan yang komprehensif dan terpadu. Satu diantaranya adalah akan dibangunnya EMU (Equatorial
Middle and Upper) Atmospheric Radar yang merupakan pengembangan dari EAR (Equatorial Atmospheric
Radar) yang sudah beroperasi sejak tahun 2001 hingga sekarang. Apa itu EMU, adakah kaitannya dengan
EAR, bagaimana sistem kerjanya, dan parameter apa saja yang dapat diturunkan, akan menjadi hal yang
sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Makalah ini berisi informasi (review) sebagian hasil-hasil yang telah
dicapai melalui EAR, dan juga rencana pembangunan EMU yang kesemuanya dirancang dengan resolusi
pengamatan yang relatif tinggi (high resolution). Satu diantara kajian dinamika vertikal atmosfer yang dibahas
dalam makalah ini adalah investigasi gelombang Kelvin yang ada di ”sekitar” lapisan tropopause yang ada di
Loka Pengamat Dirgantara LAPAN Kototabang, Bukittinggi, Sumatera Barat sebagai bagian penting didalam
mengkaji proses dinamika vertikal atmosfer Indonesia untuk skala pengamatan harian. Hal ini penting
dilakukan mengingat gelombang Kelvin dianggap sebagai pemicu utama terjadinya fenomena Madden-Julian
Oscillation (MJO). Dengan mengetahui sinyal terjadinya geombang Kelvin, maka akan mempermudah
pemahaman mekanisme terjadinya MJO. Ini terkait dengan akan datangnya fenomena curah hujan esktrim
yang diduga bakal terjadi sejak awal tahun 2015, terutama untuk kawasan barat Indonesia yang lokasinya
relatif dekat dengan Lautan Hindia. Studi ini merupakan penyempurnaan dari studi sebelumnya dengan
tingkat kebaharuan pada kajian perilaku gelombang Kelvin saat musim penghujan dan kemarau. Berbasis
hasil analisis data Equatorial Atmospheric Radar (EAR), khususnya angin zonal (B-T).

Kata-kata kunci: EMU, EAR, Angin Zonal, dan Gelombang Kelvin

Terkait dengan pemaparan penelitian di atas,


Pendahuluan
maka penulisan makalah ini disusun sebagai
Saat ini Lembaga Penerbangan dan berikut. Motivasi dasar mengapa penelitian ini
Antariksa Nasional (LAPAN) bekerjasama dilakukan, dijelaskan di bagian Pendahuluan,
dengan Research Institute for Sustainable konsep dasar gelombang Kelvin dijelaskan di
Humanosphere (RISH), Universitas Kyoto, bagian Teori dan hasilnya dibahas dalam bagian
Jepang sedang berupaya membangun satu Hasil dan Diskusi, sebelum akhirnya ditutup
radar raksasa (giant radar) dengan nama EMU dengan Kesimpulan.
(Equatorial Middle and Upper) Atmospheric
Radar. EMU merupakan pengembangan dari Teori
radar raksasa sebelumnya yang bernama EAR
(Equatorial Atmospheric Radar) yang sudah Gelombang Kelvin adalah gelombang
beroperasi sejak 2001. Diantara berbagai topik planeter atmosfer yang dibangkitkan oleh osilasi
riset yang telah dilakukan, satu satu yang pada pola pemanasan konvektif skala luas di
menarik untuk dianalisis lebih mendalam, yakni lapisan troposfer ekuatorial [1]. Ada dua tipe
perilaku gelombang Kelvin (Kelvin Wave). Ini Gelombang Kelvin yaitu coastal dan equatorial
memang bukan pertama kali dilakukan, namun [3,4]. Adapun gelombang Kelvin yang dimaksud
penyempurnaan dari Lubis, dkk [1] dan Ningrum dalam makalah ini adalah gelombang Kelvin
[2]. equaotorial, khususnya yang terjadi di atas
atmosfer Indonesia.

ISBN 978-602-19655-7-3 12
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gelombang Kelvin atmosfer merupakan data EAR yang kemudian diikuti dengan analisis
gelombang yang merambat ke arah timur dan spektral berbasis FFT.
mempunyai pertubasi (perambatan) angin zonal
(B-T) dan geopotensial yang bervariasi dalam
arah meridional mengikuti fungsi Gaussian yang
terpusat di ekuator. Gelombang Kelvin
merupakan gelombang yang non-dispersif,
sehingga diduga erat gelombang ini tidak
mengalami perubahan bentuk selama
perambatannya [5,6].

Gelombang Kelvin berbentuk simetris dengan


puncak berada di ekuator dan akan meluruh jika
menjauhi ekuator. Gelombang Kelvin yang
pertama kali ditemukan memiliki panjang
gelombang 20.000 km dan panjang gelombang
vertikalnya 6-10 km. Gelombang kelvin
berpropagasi ke timur (secara zonal) dan bawah
(secara vertikal) sedangkan secara meridional
tidak berpropagasi [7].

Dengan kata lain gelombang Kelvin memang


dominan dicirikan oleh perilaku angin zonal,
khususnya di “sekitar” lapisan tropopause.

Gelombang Kelvin dengan periode 15-20


harian pertama kali ditemukan oleh Wallace dan
Kousky pada tahun 1968 di Pasifik Barat. Dhaka
juga menemukan Gelombang Kelvin dengan
periode 7-16 harian di wilayah India (pada
8,5ºLU dan 77ºBT, 8,3ºLU dan 73ºBT, 11,7ºLU
dan 92,7ºBT) pada ketinggian 12-16 km
(troposfer atas) [8].

Hasil dan Diskusi


Berikut ditunjukkan hasil-hasil yang dicapai Gambar 1. Time-Height Section daripada angin
dimulai dari Time-Height Section daripada angin zonal (B-T) rata-rata harian selama tiga bulan
zonal (B-T) rata-rata harian selama tiga bulan (Januari-Februari-Maret) 2013 hasil observasi
(Januari-Februari-Maret) 2013 hasil observasi data EAR.

ISBN 978-602-19655-7-3 13
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 2. Analisis spektral yang dinyatakan dalam Power Spectral Density (PSP) kecepatan angin zonal
hasil observasi EAR masing-masing periode JFM (Januari-Februari-Maret), AMJ (April-Mei-Juni), dan JAS-
SON (Juli-Agustus-September-Oktober-November) 2013 mulai dari lapisan 15-19 km dpl.

Gambar 3. Sama dengan Gambar 1, dimana pada Gambar 3 terlihat lebih jelas perbedaan perilaku
gelombang Kelvin di saat bulan basah dan bulan kering, walau dengan waktu pengamatan yang berbeda
(Sumber: Ningrum) [2].
Gambar 1 menjelaskan tentang time-height musim basah (JM), dibandingkan musim-musim
section daripada angin zonal masing-masing lainnya, baik dissat musim transisi (AMJ)
periode JFM, AMJ, dan SON diantara lapisan 15 ataupun musim kemarau (SON).
hingga 19 km dpl. Pemilihan waktu ini
Hal ini dipertegas dengan hasil analisis
didasarkan atas adanya peningkatan nilai
spektral berbasis FFT (Fast Fourier Transform)
variance angin zonal selama satu tahun
yang menunjukkan adanya perbedaan yang
pengamatan selama tahun 2013. Dari gambar
cukup signifikan antara FFT periode JFM
tersebut, nampak jelas adanya perbedaan yang
dengan FFT periode AMJ dan SON, dengan nilai
cukup signifikan antara musim basah yang
osilasi dominan masing-masing sekitar 23, 8 dan
diwakili dengan JFM, transisi yang diwakili oleh
31 harian. Tidak hanya kepada besar kecil nilai
AMJ dan kemarau yang diwakili oleh SON.
FFT yang dihasilkannya, namun yang paling
Lapisan tropopause terjadi di “sekitar” lapisan penting adalah ketegasan atau kejelasannya.
17 km dpl, terlihat bahwa perilaku angin zonal di Walaupun dengan nilai FFT yang paling besar,
“sekitar” lapisan tropopause relatif lebih jelas namun dari segi pola FFT yang dihasilkannya,
terlihat pada bulan basah (JFM), dibandingkan ternyata FFT di saat periode JFM lah yang relatif
saat musim transisi (AMJ) dan juga musim paling jelas.
kemarau (SON).
Hasil analisis di atas, ternyata tidak jauh
Jika diasumsikan perilaku gelombang Kelvin berbeda dengan hasil yang diperoleh Ningrum
terkait erat dengan perilaku angin zonal di [2] yang digambarkan secara tegas di Gambar 3,
“sekitar” lapisan tropopause, maka beradasarkan walaupun dengan periode pengamatan yang
Gambar 1 di atas terlihat jelas bahwa perilaku berbeda. Hasil ini akan menjadi bagian penting
gelombang Kelvin nampak lebih jelas di saat dalam mengkaji dinamika MJO (Madden-Julian

ISBN 978-602-19655-7-3 14
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Oscillation) dimasa mendatang, terkait dugaan cyclones as revealed by a global


jika gelombang Kelvin pemicu utama terjadinya mesoscale model: The role of mixed
MJO di kawasan barat Indonesia [9]. Rossby-gravity waves. J. Geophys. Res.,
117, D13114, doi:10.1029/2012JD017450.
Kesimpulan
[8] Yang, G. Y, B. Hoskins, dan J. Slingo,
Hasil analisis di atas dapat disimpulkan 2003: Convectively coupled equatorial
bahwa perilaku gelombang Kelvin dapat terlihat waves: A new methodology for identifying
jelas menggunakan data angin zonal (B-T) yang wave structures in observational data. J.
diturunkan dari data EAR. Hasil analisis lanjut Atmos. Sci.,in press.
dapat juga disimpulkan bahwa gelombang [9] Zhang, G. J.,1996: Atmospheric
tersebut menjalar (berpropagasi) dari barat intraseasonal variability at the surface in the
menuju timur. Gelombang Kelvin tertangkap tropical Western Pacific ocean. J. Atmos.
jelas diantara lapisan 15-19 km di atas Sci., 53, 739-758.
permukaan laut (dpl). Gelombang Kelvin aktif
terlihat kuat dan jelas pada bulan Januari hingga
Maret (JFM) 2013 dengan osilasi dominan Eddy Hermawan*
sekitar 23 harian. Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, LAPAN,
Jln. Dr. Djundjunan No. 133, Bandung 40173
Ucapan terima kasih Email : eddy_lapan@yahoo.com
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Aristyo Rahadian Wijaya
Ketua Seminar Nasional Kontribusi Fisika (SKF) Geofisika dan Meteorologi, Fak. Ilmu Kebumian,
2014 dan jajarannya atas undangannya, ITB, Bandung
sehingga penulis diberi kesempatan untuk
berbagi ilmu dan pengalaman menganalisis Siti Hairunnisa Norfahmi
data-data yang ada di Loka LAPAN Kototabang, Geofisika dan Meteorologi, Fak. Ilmu Kebumian,
Bukittinggi, Sumatera Barat. ITB, Bandung
Referensi
[1] Lubis, S. W. dan Setiawan, Sonni. *Corresponding author
Identifikasi Gelombang Kelvin Atmosfer
Ekuatorial di Indonesia Berbasis Data
NCEP/NCAR Reanalysis I. Jurnal Fisika,
Himpunan Fisika Indonesia, Volume 10 -
No. 2 - Desember 2010.
[2] Ningrum, Widya. Skripsi: Analisis
Penjalaran Gelombang Kelvin Di Atas
Kototabang Berbasis Data EAR (Equatorial
Atmosphere Radar). Departemen Geofisika
dan Meteorologi, Institut Pertanian Bogor.
2009
[3] Holton, James R., 2004: An Introduction to
Dynamic Meteorology. Elsevier Academic
Press, Burlington, MA, pp. 394–400
[4] Kiladis, G. N., M. C. Wheeler, P. T. Haertel,
and P. E. Roundy, 2009: Convectively
coupled equatorial waves. Rev. Geophys.,
47, RG2003. (Comprehensive review of
equatorial waves)
[5] Matsuno, T., 1966: Quasi-geostrophic
motions in the equatorial area. J. Meteor.
Soc. Japan, 44, 25-43. (theoretical
solutions)
[6] Schreck, Carl J., John Molinari, Karen I.
Mohr, 2011: Attributing Tropical
Cyclogenesis to Equatorial Waves in the
Western North Pacific. J. Atmos. Sci., 68,
195–209. doi:10.1175/2010JAS3396.1
[7] Shen, B.-W., W.-K. Tao, Y.-L. Lin, dan A.
Laing, 2012: Genesis of twin tropical

ISBN 978-602-19655-7-3 15
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Studi Komputasi Aliran Sebagai Fungsi Perbedaan Suhu Fluida


Suprijadi, A. Ikhsan, R. R. Septiawan dan I. D. Aditya

Abstrak
Komputasi sebagai alat bantu dalam melakukan pemodelan, analisis dan pengolahan data eksperimen
dalam ilmu-ilmu sains sangatlah bermanfaat, apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi.
Banyak fenomena alam yang dapat diramalkan atau diprediksi dengan menggunakan metoda-metoda
komputasi yang sudah ada. Dalam makalah ini kami mencoba melakukan analisa dan memodelkan kasus-
kasus fisis di lingkungan sehari-hari. Dua pendekatan pemodelan yang akan dibahas pada makalah ini yaitu
simulasi berbasis grid, pada makalah ini akan digunakan finite element sebagai tools untuk melakukan
analisa sebaran panas dari pemanas (heat exchanger), sedangkan pendekatan metoda kedua adalah
dengan metoda berbasis partikel untuk menjelaskan aliran konveksi alami. Dari kedua metoda ini dapat
digambarkan perubahan-perubahan fisis yang perlu diamati, sehingga pemahaman aplikasi ilmu-ilmu fisika
dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat.
Kata-kata kunci: elemen hingga, komputasi suhu, metoda partikel

menggunakan studi kasus pada aliran konveksi


Pendahuluan alami dalam suatu sistem lingkaran tertutup.
Aliran fluida merupakan fenomena yang Dengan menggunakan sistem lingkaran ter-tutup,
menarik untuk dibahas dan banyak kita jumpai di dapat dipastikan tidak terjadi perubahan volume
lingkungan sehari-hari. Gerakan aliran air laut, partikel fluida yang terlibat dalam simulasi.
timbulnya angin darat, angin laut dan sebagainya
tidak terlepas dari pergerakan fluida. Untuk Metodologi
menjelaskan gejala tersebut banyak penelitian 2.1. Metode elemen hingga
dilakukan oleh para peneliti dengan menggunakan Metode elemen hingga merupakan metode
metoda eksperimen, kajian teori ataupun dengan numerik yang digunakan untuk memecahkan
menggunakan perhitungan yang dikenal sebagai
persamaan diferensial yang mengatur sistem
CFD (Computational Fluid Dynamic) [1].
(governing equation). Konsep dasar dari metode
Disisi lain, penyebab terjadinya aliran fluida ini adalah dengan membagi model matematis
pun menjadi kajian yang menarik. Sebagai contoh, menjadi komponen geometri sederhana. Respon
dalam kasus aliran konveksi alami, pengaruh
dari setiap elemen dapat dicari dari nilai fungsi
perbedaan suhu dipercaya sebagai penyebab
terjadinya aliran fluida. Simulasi untuk mengamati pada elemen-elemen lainnya melalui node yang
pengaruh suhu terhadap kecepatan aliran masih menghubungkan antar elemen. Sebagai contoh,
belum banyak dibahas. pada kasus perpindahan kalor, persamaan yang
Untuk melakukan simulasi, banyak metoda mengatur perpindahan kalor dinyatakan dalam
yang dapat digunakan untuk membahas CFD, persamaan
misalnya dengan meng-gunakan metoda berbasis  q q y qz  T
grid [2,3] ataupun menggunakan metoda berbasis   x     Q   c
 x y z  t
partikel. Dua metoda partikel yang terkenal adalah
metoda SPH (Smoothed Particle Hydrodynamics) dengan qx , q y , qz adalah komponen aliran panas
[4] dan metoda MPS (Moving Particle Semi-
implicit) [5]. per satuan luas, Q adalah besarnya kalor yang
dihasilkan per satuan volume,  adalah densitas,
Dari pengalaman penelitian kami sebe-lumnya
[6], pengaruh perbedaan suhu dalam simulasi c adalah kapasitas kalor, T sebagai suhu, dan t
fluida telah diujicobakan dalam percobaan adalah waktu. Dengan mensubstitusi
perubahan wujud fluida dari fasa padat (es) menggunakan persamaan Fourier, didapatkan
menjadi fasa cair (air), baik secara komputasi persamaan
maupun eksperimen.   T    T 
 k 
x  x  y  y 
k
Dalam makalah ini, penggunaan tools
komputasi untuk mempelajari perpindahan panas
antar material akan dibahas, dengan

ISBN 978-602-19655-7-3 16
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

  T  T dan densitas partikel j , f j adalah nilai medan


 k   Q  c
z  z  t f di partikel j , dan Wij adalah fungsi bobot
dengan k adalah konduktivitas termal dari bahan. diantara partikel i dan partikel j . Sedangkan
Dengan memberikan syarat batas untuk suhu, representasi dari gradien medan pada metode
aliran panas spesifik, dan kalor yang diberikan SPH dapat dituliskan sebagai berikut
dari luar, maka domain permasalahan dapat
dibagi menjadi sekumpulan node yang nilai
mj
fungsinya dapat direpresentasikan dalam bentuk i f i   f j iWij
persamaan matriks berikut j j
dengan  iWij adalah gradien dari fungsi bobot

T / x   N1 / x N 2 / x  Wij terhadap posisi partikel i .


   
T / y   N1 / y N 2 / y  T    B T 
 T / z   N / z N / z 
   1 2 
Simulasi perpindahan panas secara konduksi
pada tabung pemanas
dengan T  adalah vektor suhu di node, N  Sebagai uji komputasi perpindahan panas,
adalah matriks fungsi bentuk, dan  B adalah dalam model aliran tertutup ini, perpindahan
panas secara konduksi dimodelkan untuk melihat
matriks untuk interpolasi gradien suhu.
seberapa besar pengaruh jumlah lilitan pemanas
2.2. Persamaan Navier-Stokes pada distribusi suhu di dalam pipa. Model
Pergerakan fluida diatur oleh persamaan pemanas ini bisa digunakan sebagai sumber
Navier-Stokes yang terdiri dari persamaan panas pada model aliran alami fluida siklus
kontinuitas tertutup yang ditunjukkan pada Gambar 1.
D Gambar 2 menunjuk-kan ilustrasi model dari

Dt

   V  0  sistem pemanas. Jumlah lilitan elemen pemanas
dapat divariasikan hingga 7 lilitan pemanas. Pola
dengan  adalah densitas, t sebagai waktu, V distribusi suhu di dalam pipa akan dipelajari
D dengan menggunakan metoda elemen berhingga
adalah medan vektor kecepatan, dan adalah yang telah dijelaskan sebelumnya. Simulasi
Dt dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
operator turunan substansial. Selain persamaan Comsol 3.4. Kondisi umum dari sistem yang
kontinuitas, persamaan Navier-Stokes juga terdiri disimulasikan adalah, asumsi fluida akan mengalir
dari persamaan momentum untuk fluida inviscid dari arah bawah, sehingga di bagian ini temperatu
DV dijaga konstan sebesar suhu ruang. Pada bagian
     f atas, suhu akan mengikuti perubahan yang
Dt
diperoleh sebagai hasil konduksi termal dari
dengan f adalah gaya eksternal per unit massa. elemen pemanas.

2.3. Metode SPH


Metode SPH merupakan salah satu metode
yang populer digunakan dalam simulasi fluida.
Metode SPH berdasarkan pada interpolasi nilai
besaran fisis di suatu titik terhadap nilai besaran
fisis lainnya dalam domain. Representasi partikel
dari SPH dapat dinyatakan oleh
mj
fi   f jWij
j j
dengan fi adalah nilai medan f di partikel i , Gambar 1 Model siklus tertutup untuk simulasi
m j dan  j masing-masing adalah besar massa aliran alami fluida.

ISBN 978-602-19655-7-3 17
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 3 Sebaran panas di penampang tengah


tabung.

Gambar 2 Model tabung dengan sumber panas


berupa lilitan elemen pemanas dengan jumlah Simulasi konveksi alami
lilitan sebanyak 7 lilitan.
Fenomena aliran konveksi alami dapat
Dari hasil simulasi, kurva sebaran suhu pada diamati pada sebuah sistem siklus tertutup
tengah penampang tabung dapat dilihat pada dengan dinding adiabatik yang memiliki sumber
Gambar 3. Setiap kurva dengan warna yang kalor di kanan bawah dan penyerap kalor di sudut
berbeda menggambarkan kurva sebaran suhu kiri atas. Model dari sistem ini dapat dilihat pada
pada waktu yang berbeda. Pada kurva tersebut Gambar 1. Untuk mensimulasikan fenomena
dapat dilihat bahwa perubahan suhu menuju aliran konveksi alami ini digunakan metode
kestabilan dalam tabung berlangsung dalam partikel untuk memodelkan sistem tersebut. Fluida
selang waktu yang relatif cepat. Cuplikan gambar dalam siklus tertutup tersebut digantikan oleh
hasil simulasi tersebut dapat dilihat pada Gambar sekumpulan partikel yang masing-masing memiliki
4.

Gambar 4 Cuplikan hasil simulasi lilitan pemanas tabung pada (a) t  0 s , (b) t  4 s , dan (c)
t  10 s
properti fisis yang bisa berbeda satu sama lain. Beberapa cuplikan dari hasil simulasi aliran
Interaksi antar partikel dihitung menggunakan alami fluida dapat dilihat pada Gambar 5.
persamaan Navier-Stokes yang telah dibuat
dalam bentuk skema SPH. Interaksi antara
partikel dengan pemanas dan pendingin diatur
dengan menggunakan persamaan konduksi.

ISBN 978-602-19655-7-3 18
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

semakin tinggi suhu pemanas mengakibatkan


kelajuan setimbang aliran fluida dalam siklus
juga semakin cepat serta waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai kesetimbangan juga semakin
cepat.

Referensi
[1] J. F. Wendt, 1995, Computational Fluid
Dynamics, Springer-Verlag, New York, edisi
ke-2.
[2] Zhao et al., 1997, International Journal for
Numerical and Analytical Methods in
Geomechanics, v.21, pp. 863-881.
[3] C. F. Naa dan Suprijadi, 2009, Asian
Physics Symposium, pp. 453-458.
[4] Suprijadi, F. Faizal, C. F. Naa, dan A.
Trisnawan, 2013, Recent Development on
Computational Science, v.4, pp. 155-161.
[5] Suprijadi. M. R. A. Sentosa, P. Subekti, dan
S. Viridi, 2014, AIP Conference Proceeding,
v.1587, pp. 3.
[6] Suprijadi, F. Faizal, R. R. Septiawan, 2014,
Gambar 5 Cuplikan hasil simulasi aliran alami Journal of Modern Physics, vol. 5, pp. 112-
pada sirkulasi tertutup.
116.
Kurva kelajuan aliran fluida terhadap waktu
dapat dilihat pada Gambar 6. Dari kurva tersebut
dapat terlihat bahwa kelajuan aliran fluida akan Suprijadi*
menuju kesetimbangan setelah melewati waktu KK Fisika Teori Energi Tinggi dan Instrumentasi,
tertentu. Selain itu, dengan membuat suhu FMIPA, Institut Teknologi Bandung
pemanas lebih tinggi, maka kelajuan aliran fluida supri@fi.itb.ac.id
dalam siklus juga akan semakin tinggi, disertai
dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai A. Ikhsan
kesetim-bangan juga semakin cepat. Program Studi Magister Sains Komputasi,
Institut Teknologi Bandung

R. R. Septiawan
Program Studi Magister Sains Komputasi,
Institut Teknologi Bandung

I. D. Aditya
Program Studi Doktor Fisika,
Institut Teknologi Bandung

*Corresponding author

Gambar 6 Kurva kelajuan aliran fluida terhadap


waktu untuk beberapa suhu pemanas yang
berbeda.

Kesimpulan
Proses perpindahan panas antar material
telah berhasil dikembangkan dengan meng-
gunakan metode grid untuk perpindahan suhu
secara konduksi maupun metode partikel untuk
memodelkan fenomena aliran alami fluida dalam
siklus tertutup. Pada fenomena aliran alami,

ISBN 978-602-19655-7-3 19
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Ketentuan Agung dalam Alam Semesta

(The Golden Rules of the Universe)

Suparno Satira

Email: suparno@fi.itb.ac.id

Abstrak
Fisika mengungkap sifat dan perilaku segala sesuatu di alam, mulai dari ukuran terkecil, mikroskopik sampai
ke ukuran maha raksasa, makrokosmos. Sebagai ilmu pengetahuan tentang alam, Fisika mencoba
menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa dan bagaimana dari seluruh isi, sifat, perilaku, dan peristiwa
dari kebendaan yang terjadi di alam. Fisika menguak tabir dengan syarat batasnya (boundary condition),
sebab dan akibat suatu interaksi. Perilaku saling mempengaruhi, yang berlanjut dalam makna saling
memberi dan menerima menjadikan segala sesuatu yang berinteraksi berubah, terbentuk yang baru, atau
pemusnahan dari keberadaannya sehingga berakibat munculnya keanekaragaman. Saat ini, perumusan
dalam Fisika, seolah sebagai suatu bangunan yang memiliki beberapa kamar dengan sekat-sekat di antara
satu kamar dengan kamar lainnya. Tiap kamar memiliki aturan dan perumusan yang nyaris berbeda satu
dengan lainnya. Bangunan Fisika tersebut memiliki kamar mekanika, kamar kelistrikan, kamar kemagnitan,
selain masih terdapat pula lorong aturan gelombang mekanik dan gelombang elektromagnit. Bahkan
bangunan ini, apabila diperluas, masih memiliki ruang yang disebut : termodinamika, mekanika relativistik,
mekanika statistik dan mekanika kuantum. Penulis ingin mengajak para pembaca membangun kerangka fikir
yang dilandaskan pada suatu hipotesa bahwa, universe, sebagai satu bangunan dengan seluruh isinya
ditetapkan hanya memiliki satu aturan dengan perumusan yang unik. Sebutlah, aturan tersebut berlaku
untuk seluruh isi dari univers, dimanapun dan kapanpun. Aturan ini dapat disebut sebagai "Ketentuan
Agung" (Golden Rules) yang mengikat seluruh isi dari universe. Aturan ini diharapkan mampu membuka
sekat-sekat perumusan mekanika, listrik, magnit yang juga dapat menjembatani kesamaan sifat dari
gelombang mekanik dan gelombang listrik magnit.

kelistrikan, kamar kemagnitan, selain masih


Pendahuluan
terdapat pula lorong aturan gelombang mekanik
dan gelombang elektromagnit. Bahkan
Fisika mengungkap sifat dan perilaku bangunan ini, apabila diperluas, masih memiliki
segala sesuatu di alam, mulai dari ukuran ruang yang disebut :termodinamika, mekanika
terkecil, mikroskopik sampai ukuran maha
relativistik, mekanika statistik dan mekanika
raksasa, makrokosmos. Sebagai ilmu
kuantum.
pengetahuan alam dasar, Fisika mencoba
menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa
Penulis ingin mengajak para pembaca
dan bagaimana dari seluruh isi, sifat, perilaku,
membangun kerangka fikir yang dilandasi oleh
dan peristiwa dari kebendaan yang terjadi di
suatu hipotesa bahwa, univers, sebagai satu
alam. Fisika menguak tabir dengan syarat
bangunan dengan seluruh isinya ditetapkan
batasnya (boundary condition), sebab dan akibat
dalam satu aturan dengan perumusan yang unik.
suatu interaksi. Perilaku saling mempengaruhi,
Aturan tersebut berlaku untuk seluruh isi dari
yang berlanjut dalam makna saling memberi dan
univers, dimanapun dan kapanpun. Aturan ini
menerima menjadikan segala sesuatu yang
dapat disebut sebagai "Ketentuan Agung"
berinteraksi berubah, terbentuk yang baru, atau
(Golden Rules) yang mengikat seluruh isi dari
pemusnahan dari keberadaannya sehingga
univers. Aturan ini telah membuka sekat-sekat
berakibat munculnya keanekaragaman.
perumusan mekanika, listrik, magnit yang juga
dapat menjembatani kesamaan sifat dari
Saat ini, perumusan dalam Fisika,
gelombang mekanik dan gelombang listrik-
membawa kesan terhadap aturan di dalam alam magnit menjadi suatu aturan yang terpadu.
semesta (univers) sebagai suatu bangunan yang Aturan tunggal yang dalam perumusannya
memiliki beberapa kamar dengan sekat-sekat di
berlaku bagi mekanika , listrik, magnit
antara satu kamar dengan kamar lainnya. Tiap
seluruhnya.
kamar memiliki aturan dan perumusan yang
nyaris berbeda satu dengan lainnya. Bangunan
Ketentuan Agung dalam Fisika
Fisika tersebut memiliki kamar mekanika, kamar

ISBN 978-602-19655-7-3 20
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kerangka aturan agung dalam alam semesta membutuhkan yang berkekurangan atau tidak
dibangun dalam suatu deretan yang berlaku memiliki. Dengan demikian suatu pasangan
umum dan ajeg (consistence) serta menjadi pilar adalah gabungan dari komponen-komponennya
seluruh gejala di alam ini. Secara sederhana yang dibangun melalui suatu proses saling
deretan aturan tersebut diwujudkan dalam memberi dan saling meminta. Pasangan yang
urutan berikut : terbentuk tidak sekedar membangun ukuran yang
lebih besar dari masing-masing komponennya,
i. Keberadaan sifat yang berpasang –
akan tetapi pasangan memiliki jenis sifat yang
pasangan
lebih banyak, memiliki fungsi dan peran yang
ii. Sifat menimbulkan pengaruh dalam lebih besar dari masing-masing komponen.
dimensi ruang dan waktu
Elemen dasar yang berpasangan dari sudut
iii. Pengaruh ini membangun perilaku
pandang Fisika ditunjukkan oleh tabel 1
interaksi dalam bentuk saling pengaruh
– mempengaruhi
Tabel 1
iv. Interaksi menjadi sebab adanya
perubahan Diam Bergerak
Sifat Besara Medan Besaran Medan
v. Perubahan berujung pada pembentukan n
sesuatu yang baru atau pemusnahan Ruan Jarak Kedudu Translasi Ruang
yang telah ada dalam koridor g kan kartesian
kesetimbangan. Sudut Sudutp Rotasi Ruang
utar polar
Zat Massa Gravita Momentu Momentum
(m) si m (S)
Sifat dan nilai yang berpasangan (g) (p = mv)
Muatan Listrik Magnetik Magnet (B)
(q) (E) (µ = qv)
Segala sesuatu dikenal (diketahui) karena
sifat-sifatnya. Sifat yang dikenal tak pernah lepas
dari lingkungannya. Pada semua benda memiliki Sesuai dengan hipotesa dasar pembentukan
kesamaan sifat, tetapi sekaligus memiliki alam semesta berupa “Big bang” , maka sifat
perbedaan. Perbedaan sifat ada karena jenis paling dasar dalam Fisika adalah adanya ruang
yang jelas berbeda, seperti misalnya : kelistrikan dan waktu yang ditunjukkan oleh gerak. Sifat
dan massa, tinggi, panjang, warna, dan banyak gerak dalam bentuk pasangan adalah gerak
lagi. Selain itu, perbedaan juga tampil dalam nilai lurus (translasi) yang berpasangan dengan
(tingkatan) dari sifat yang bersangkutan. gerak berputar (rotasi). Tak mungkin terbentuk
Perbedaan tingkatan pada suatu sifat yang sama suatu wujud kalau hanya ada gerak translasi,
selalu dinyatakan dengan nilai, misal : yang satu demikian pula sebaliknya semua tak akan
nilainya 1,0 dan yang lain 2,5 ; atau berapapun. terbentuk (kolaps) apabila hanya ada gerak
Fisika menyebut suatu sifat sebagai suatu rotasi.
besaran. Pada suatu tingkatan selalu diperlukan
acuan nilai sebagai patokan terhadap tingkatan Selain jenis sifat ruang dan waktu, jenis sifat
nilai yang ada. lain yang menghadirkan bentuk pasangan
adalah materi (masa) dan listrik (muatan);
Perbedaan yang istimewa pada suatu sifat artinya sifat masa berpasangan dengan sifat
dari isi alam semesta ini adanya sifat berpasang- muatan listrik. Dalam keadaan bergerak
pasangan. Pasangan dalam pengertian dasar (kinetika) sifat masa memunculkan sifat baru
adalah komplemen (saling melengkapi, saling yang disebut momentum dan sifat listrik
mengisi, saling memerlukan). Pasangan dibentuk memunculkan sifat baru yang disebut sebagai
oleh dua mahluk atau lebih yang memiliki sifat sifat kemagnitan.
tertentu yang sama, namun masing-masing
memiliki sifat dan atau tingkatan lain yang tidak Dalam kenyataannya, yang umum dikenal
sama. Dengan demikian suatu pasangan bukanlah sifat atau besaran yang dimilikinya,
dibangun oleh dua entitas yang memiliki akan tetapi wujud atau nama dari mahluk yang
perbedaan satu sama lain, namun sekaligus bersangkutan. Sebagai contoh, dalam awal
diantara mereka memiliki kesamaan atau penciptaan antara lain :muncul jenis quark,
setidaknya memiliki kesepadanan. Masing- dengan sifat atau besaran berpasang-pasangan
masing elemen dari suatu pasangan saling dari nilai sifat masa, sifat muatan dan sifat spin.
membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya yang Kelompok lebih besar yang dibangun oleh quark
tidak punya atau kekurangan saja yang adalah lepton dan kelompok lainnya adalah
membutuhkan yang berkelebihan. Namun pada hadron. Pada kelompok hadron antara lain
hakekatnya yang berkelebihan juga

ISBN 978-602-19655-7-3 21
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

terdapat proton, dan netron. Pada kelompok


lepton ada elektron, muon, dan tau. Wujud
Dengan demikian perumusan masing-
gabungan dari kelompok hadron membangun inti
masing untuk keempat jenis medan adalah :
atom. Selanjutnya, inti dengan elektron terbentuk
atom, atom dengan atom membentuk molekul i. Medan gravitasi:
dan seterusnya. Sesuatu yang baru akan  m
terbentuk melalui proses yang dibangun oleh g  G 2 r̂
pasangan. r
ii. Medan listrik:
Melalui konsep ini semua permasalahan  q
fisika seperti :sifat-sifat, perilaku / gejala dan E  k 2 r̂
peristiwa dapat dirumuskan secara terpadu. r
iii. Medan momentum :
 
mv
Pengaruh (Medan) S   2 x r̂
r
Keberadaan sesuatu sifat akan iv. Medan magnet :
mempengaruhi ruang yang ditempatinya.  
qv
Dengan demikian akan muncul suatu besaran B  γ 2 x r̂
dalam dimensi ruang dan waktu yang dalam r
Fisika disebut sebagai Medan. Jenis medan di
dalam ruang sesuai dengan jenis sifat yang ada, dengan adalah vektor satuan arah radial.
dan dengan adanya sifat pasangan, berarti pula
terdapat pasangan-pasangan medan di dalam Sifat dan perilaku dari keempat medan
ruang tersebut . diatas sekaligus diperlihatkan melalui makna dari
Dewasa ini, gejala fisika dipandang masih belum bentuk perkalian antara besaran yang terlibat
terrumuskan dengan utuh. Unsur pelengkap dalam ruang ; yaitu perkalian antara sekalar dan
yang diajukan, dalam hal ini merupakan sifat vektor arah , serta vektor dengan vektor arah.
pasangan dari medan magnit. Suparno Selanjutnya berlaku untuk setiap jenis medan
berpendapat bahwa seharusnya momentum dalam ruang memiliki intensitas yang nilainya
dipandang juga sebagai besaran yang sudah dihitung melalui perumusan fluks, yaitu :
tentu menimbulkan medan di sekitarnya. Alasan  
yang melandasi kerangka teori ini adalah bahwa   . A (2)
dalam keadaan diam, sifat masa berpasangan
dengan sifat kelistrikan (muatan). Dalam Nilai fluks yang memiliki keterkaitan kuat dengan
keadaan bergerak, sifat kelistrikan memunculkan nilai medan sudah pasti akan sangat ditentukan
sifat kemagnitan, dengan demikian bentuk oleh nilai besaran sifat penyebabnya. Hubungan
kesetaraan sifat terhadap sifat diam, sepatutnya antara fluks dan nilai besaran sifatnya
sifat masa yang bergerak yang dinyatakan oleh ditunjukkan oleh perumusan :
sifat momentum, tentu juga akan memunculkan
medan momentum.
 ΨdA    (3)

Perumusan medan dinyatakan oleh : dengan A luas bidang yang “ditembus” oleh
medan, dan δ adalah tetapan yang menunjukkan
  nilai peran lingkungan ( “media” ) terhadap
  κ 2 r̂ (1)
r medan yang bersangkutan.
Dari kedua perumusan (1 dan 3) tentang medan
dengan ξ besaran yang menyatakan sifat dasar, dan fluks dalam ruang, selanjutnya akan
r adalah jarak dari besaran yang bersangkutan, diperoleh besaran yang menggambarkan nilai
dan κ adalah tetapan yang menyatakan nilai dari dari peran media dalam ruang terhadap medan
peran lingkungan terhadap medan yang bersangkutan, yaitu :
bersangkutan. Diketahui bahwa masing-masing i.  sebagai nilai dari peran sifat media
tetapan memiliki sebutan khusus yaitu : untuk
terhadap medan gravitasi. Nilainya dalam
medan gravitasi, dengan tetapan universal,
[N.m2/kg2], untuk medan listrik, ruang vakum adalah :
dengan tetapan Coulomb, [kg2/N.m2]
[N.m2/C2], untuk medan momentum, dengan ii.  sebagai nilai dari peran sifat media
tetapan Suparno , [N.s2/kg2], terhadap medan listrik. Nilainya dalam
dan untuk medan magnet, dengan tetapan Biot-
Savart, [N.s2/C2].

ISBN 978-602-19655-7-3 22
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

ruang vakum adalah : Interaksi antar besaran dalam ruang


berlangsung pada suatu jarak tertentu, dan ini
[C2/N.m2]
tidak terjadi secara spontan dalam ruang.
iii.  sebagai nilai dari peran sifat media Interaksi dari suatu titik terhadap titik lain terjadi
terhadap medan momentum. Nilainya dalam bentuk perambatan. Sudah barang tentu
dalam ruang vakum adalah : akan terlibat besaran waktu yang berkaitan
2 2
[N.s /kg ] dengan perambatan (propagasi) interaksi yang
bersangkutan. Perambatan interaksi antar
iv.  sebagai nilai dari peran sifat media besaran dalam ruang dikenal sebagai
terhadap medan magnet. Nilainya dalam gelombang. Sebagaimana telah diketahui dari
sifat dasarnya yang memiliki sifat pasangan,
ruang vakum adalah :
yaitu sifat masa dan sifat listrik; maka adalah
[N.s2/C2] sesuatu yang wajar pada perilaku gelombang
dikenal pula adanya dua jenis gelombang. Dua
sifat gelombang yang hadir dalam ruang dikenal
Gaya sebagai gelombang mekanik dan gelombang
elektromagnet.
Keberadaan suatu medan yang
Dengan memperhatikan sifat dan perilaku
menimbulkan pengaruh dalam ruang, pada
yang telah diuraikan diatas, khususnya
pembahasan yang umum dalam Fisika tingkat
dipandang dari sifat berpasangan, maka
dasar dipandang hanya berinteraksi dengan sifat
tentunya terdapat perumusan gelombang yang
yang sejenis saja. Sifat dan perilaku dari
berpasangan pula. Selama ini dikenal
interaksi menunjukkan penyetaraan antar
persamaan Maxwell yang menggambarkan
berbagai besaran dasar yang pada awalnya
perilaku gelombang; namun persamaan ini
memiliki keunikan masing-masing. Penyetaraan
merupakan perumusan dari sifat dan perilaku
ini dinyatakan dalam pengertian sebagai
gelombang elektromagnet. Untuk melengkapi
kesamaan besaran, yaitu Gaya (F) dengan
persamaan Maxwell bagi sifat dan perilaku
dimensi satuannya Newton (N). Dalam Fisika
gelombang mekanik, Suparno menyajikan
besaran interaksi dirumuskan sebagai berikut :
pelengkap persamaannya sebagaimana
  dituliskan dalam tabel 2.
F ' (4)
Persamaan Maxwell Persamaan Suparno
(Gelombang listrik (Gelombang mekanik)
Sebagai kelanjutan dan bentuk yang utuh dari magnet)
perumusan pada persamaan (1) diatas maka
dikenal 4 jenis gaya, yaitu : Gaya Gravitasi
   
( F  m g ), Gaya Listrik Statik , ( F  q E ),
  
Gaya Momentum, ( F  mv x S ), dan Gaya
  
Magnet, ( F  qv x B ). Perumusan ke empat
jenis gaya ini sekaligus pula memperlihatkan
perilaku masing-masingnya dalam bentuk
perkalian yang menggambarkan arah ruang
secara terpadu.
Perilaku gelombang elektromagnet
Secara umum dapat disebutkan bahwa
dihipotesakan memiliki sifat sama ke segala arah
suatu interaksi akan dapat menimbulkan
dalam kerangka inersial. Sifat itu ditetapkan
perubahan. Dalam pengertian perubahan
pada suatu kerangka yang bergerak dengan
senantiasa akan terkandung makna terjadinya
kecepatan cahaya. Nilai kecepatan cahaya yang
penambahan atau pengurangan suatu sifat yang
ditinjaunya. Dengan demikian, suatu gaya akan dinyatakan sebagai nilai 0 0 pada persamaan
memberikan perubahan pada keadaan, antara Maxwell. Dengan kerangka fikir yang sama nilai
lain pada perubahan gerak, perubahan bentuk,  00 pada persamaan Suparno memberikan
perubahan struktur, perubahan komposisi dan nilai tertentu yang ternyata adalah merupakan
lain sebagainya. Bentuk yang paling umum dan nilai kecepatan rambat gelombang bunyi.
terpadu dari perilaku perubahan adalah adanya Dengan demikian terdapat kesamaan sifat
pemberian atau penerimaan; pengurangan atau antara gelombang mekanik dan gelombang
penambahan suatu besaran; besaran yang elektromagnetik yang dipandu oleh tetapan
dipertukarkan tersebut adalah energi. berikut :

ISBN 978-602-19655-7-3 23
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

1
c  3  108 m s
0 0
1
v  331.5 m s
 00

Penutup
Ilmu Fisika yang dikembangkan dari
kerangka fikir dasar adanya sifat berpasangan
telah menuntun pada suatu konsep yang
terpadu. Keterpaduan dari kerangka fikir ini tidak
sekedar membuka sekat-sekat pembahasan
dalam ilmu fisika semata, yaitu bagian mekanika,
listrik, dan manet; akan tetapi lebih luas dari itu.
Dalam pembahasan Mekanika Statistika, sifat
partikel yang dirumuskan sebagai Bose –
Einstein serta Fermi – Dirac secara jelas
menyatakan perilaku pasangan ; demikian pula
dalam pembahasan Mekanika kuantum, adanya
sifat fungsi symetri yang ujungnya
menggambarkan perilaku spin yang
memperlihatkan adanya sifat pasangan.
Pengembangan makna-makna filosofis dari
konsep dasar ini secara umum tidak hanya
berlaku bagi ilmu Fisika saja. Sejarah telah
menunjukkan bahwa kerangka berfikir fisika
telah dapat mengembangkan berbagai ilmu,
setidaknya beberapa ilmu, termasuk diantaranya
ilmu social seperti : ilmu ekonomi, ilmu
komunikasi dan ilmu psikologi.
Referensi
[1] Suparno S , “Is the momentum create the
field ? “ ICMNS, Institut Teknologi
Bandung , Bandung , 2008
[2] Wikipedia contributors, “Standard Model”,
Wikipedia, The Free Encyclopedia, 22 June
2008, 13:46 UTC, oldid=220973654 (2008)
[date : 20080626].
http://en.wikipedia.org/wiki/Standard_Model
[3] “The standard model”, Stanford Linear
Accelerator Center (SLAC), Standford
University, 08/02/2007 02:26:24, (2007)
[diakses 20080626].
http://www2.slac.stanford.edu/vvc/theory/m
odel.html
[4] C. R. Nave, “Quarks”, Hyper Physics,
Georgia State University, (2005)
Particles/quark.html [diakses 20080626].
[5] http://hyperphysics.phyastr.gsu.edu/hbase/
Particles/quark.html
[6] Suparno Satira “ Fisika Dasar,
Pembahasan Terpadu “ Penerbit ITB ,
Bandung , 2012

Suparno Satira
Theoretical High Energy Physics and Instrumentation
Research Division
Institut Teknologi Bandung
suparno@fi.itb.ac.id

ISBN 978-602-19655-7-3 24
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sparse Sampling and Reconstruction of Fractional Brownian Motions


Signals

Andriyan B. Suksmono

Email : suksmono@stei.itb.ac.id

Abstract

FBm (Fractional Brownian Motion) signals are spatio-temporally nonstationary; which make them naturally
hard to predict. In this presentation, we propose CS (compressive sampling)-based methods to interpolate
the fBm signals when a few number of their random samples are given. First, we show that fBm signals are
compressible, i.e., their ordered-magnitude coefficients after a particular sparsity transform decays very
quickly. In particular, the direct relationship between their Hurst exponent and the sparsity is showed. Then,
CS-based algorithms are formulated to fully reconstruct the signals from their subsamples. Simulated one-
dimensional and two-dimensional fBm signals are used to evaluate the method and evaluate their
performances. Actual speech and financial signals are also used to demonstrate the capability of the
proposed method. At last, the effectiveness of the methods are demonstrated in interpolating two-
dimensional fBm representing turbulent atmospheric field that degrades ground-based telescope observation

ISBN 978-602-19655-7-3 25
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Referensi

[1] A.B. Suksmono, "Interpolation of PSF based on compressive sampling and its application in weak
lensing survey,” Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 443 (1), 919-926
[2] A.B. Suksmono, “Reconstruction of fractional Brownian motion signals from its sparse samples based
on compressive sampling,” Proc. ICEEI 2011.

Andriyan B. Suksmono
School of Electrical Engineering and Informatics,
Institut Teknologi Bandung,
suksmono@stei.itb.ac.id

ISBN 978-602-19655-7-3 26
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Survey Konsepsi Mahasiswa Calon Guru Fisika pada Konsep Medan


Listrik Menggunakan FCCI Berbentuk Three Tier Test

Achmad Samsudin, Andi Suhandi, Dadi Rusdiana, dan Ida Kaniawati

Email: achmadsamsudin@upi.edu

Abstrak
Penelitian survey dilatarbelakangi oleh banyaknya mahasiswa Pendidikan Fisika yang mengalami
miskonsepsi, konsepsi paralel, dan tidak paham konsep berdasarkan kajian di dunia internasional dan
Indonesia sejak tiga dekade terakhir. Untuk itu, peneliti ingin menyurvey konsepsi mahasiswa calon guru
terkait konsep medan listrik menggunakan Fields Conceptul Change Inventory (FCCI) dengan format Open
ended Three Tier Test. Penelitian survey dilakukan terhadap 33 mahasiswa calon guru Fisika. Survey
dilaksanakan pada semester Gasal Tahun Akademik 2014/2015 di salah satu Program Studi Pendidikan
Fisika, Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Jawa Barat. Berdasarkan survey tersebut
didapatkan data survey terhadap konsepsi mahasiswa Pendidikan Fisika untuk kriteria paham konsep,
konsepsi paralel, miskonsepsi, dan tidak paham konsep. Penelitian survey ini akan menjadi dasar pijakan
atau penelitian pendahuluan bagi peneliti untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lokasi penelitian yang
sama.
Kata-kata kunci: Survey, Konsepsi, Medan Listrik, FCCI, Three Tier Test
terhadap responden yang akan dijadikan subjek
Pendahuluan
penelitian berikutnya. Untuk menjawab isu
Sejak lama pengubahan konseptual tersebut, peneliti mengembangkan instrumen
(conceptual change) telah menjadi salah satu FCCI (Fields Conceptual Change Inventory)
domain penelitian yang paling krusial dalam berbentuk open ended three tier test (tes tiga
kajian Pendidikan Sains (Ilmu Pengetahuan level bentuk terbuka). Instrumen FCCI terdiri dari
Alam/IPA), lebih khususnya lagi Pendidikan dua konsep inti yaitu medan listrik dan medan
Fisika. Model conceptual change pertama yang magnet. Dalam artikel ini, peneliti memfokuskan
dikembangkan oleh G.J. Posner, dkk [1] telah pada instrumen FCCI untuk mendiagnosis
menjadi teori yang paling berpengaruh sejak konsepsi mahasiswa calon guru Fisika pada
awal bergulirnya penelitian tentang conceptual konsep medan listrik saja.
change sampai sekarang. Model pengubahan
Pengembangan instrumen FCCI didasarkan
konseptual ini mendeskripsikan bahwa belajar
pada pola (struktur) instrumen yang
sebagai hubungan antara pengetahuan yang
dikembangkan oleh O. Vatansever [5] yang
ada dengan pengetahuan baru yang mengarah
menyusun instrumen soal dengan bentuk three
pada empat kondisi yaitu: ketidakpuasan
tier test tipe semi open ended (bentuk semi
(dissatisfaction), kejelasan (intelligibility), hal
terbuka), sedangkan pengembangan masing-
yang masuk akal (plausibility), dan kesuksesan
masing tier (lapisan/level)-nya dikembangkan
(fruitfulness). Berbagai penelitian tentang
dan disusun pada tier satu dari beberapa tes
conceptual change yang melibatkan pendekatan
berstandar seperti pada Ref. [5]; Ref. [6]; Ref.
konflik kognitif di dalamnya sebagai basis model
[7]; dan Ref. [8]. Format instrumen FCCI bentuk
terus dikaji seperti Ref. [2]; Ref. [3]; dan Ref. [4].
open ended Three Tier Test disusun dalam tiga
Strategi konflik kognitif ini lebih menekankan
level (tingkatan) yaitu: tier pertama untuk soal
pada ketidakstabilan kepercayaan diri siswa
standar dalam bentuk pilihan ganda dengan lima
(destabilising student’s confidence) pada konsep
pilihan, tier kedua diberikan baris kosong untuk
tertentu melalui pengalaman yang bertolak
penjelasan dari pilihan jawaban di tier pertama,
belakang seperti kejadian yang berbeda
dan tier ketiga berisi tentang tingkat keyakinan
(discrepant event). Semua model dan
dari jawaban yang sudah dibubuhkan pada tier
pendekatan dalam pengubahan konseptual akan
pertama dan kedua untuk tingkatnya yaitu:
berjalan dengan efektif dan optimal manakala
sangat yakin, tidak yakin, dan tidak tahu.
peneliti melakukan diagnosis terlebih dahulu

ISBN 978-602-19655-7-3 27
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

konsep listrik lainnya. Contoh bentuk instrumen


FCCI nomor 5 yaitu:
Teori
Instrumen FCCI dikembangkan dengan 5. Sebuah muatan positif dapat diletakkan di
model 4D, yaitu: 1) defining, 2) planning, 3) satu titik pada dua posisi yang berbeda dalam
developing, dan 4) disseminating. Dalam fase sebuah daerah dengan medan listrik seragam,
defining, peneliti menyelidiki konsep yang akan seperti gambar di bawah.
dijadikan bahan instrumen soal melalui
penelitian studi kasus yang menyebarkan
sejumlah soal standar Ref. [5] dan dihasilkan
pengembangan konsep dalam instrumen FCCI
difokuskan pada konsep medan vektor (medan
listrik dan magnet). Pada fase kedua (planning),
peneliti melakukan persiapan dan perencanaan Gambar 2. Medan Listrik Sejajar
yang matang dalam menentukan subjek
Bagaimana perbandingan gaya listrik pada
penelitian dan mata kuliah yang diteliti.
muatan untuk posisi 1 dan 2?
Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan
cara analisis hasil studi awal (studi kasus) yang a. Gaya pada muatan lebih besar di posisi 1.
menyatakan bahwa Fisika Dasar II merupakan
mata kuliah yang sangat berpengaruh dalam b. Gaya pada muatan lebih besar di posisi 2.
menanamkan konsep Fisika bagi mahasiswa c. Gaya pada kedua posisi adalah nol.
calon guru khususnya semester tiga (3). Fase
pengembangan (developing) menjadi inti dari d. Gaya pada kedua posisi adalah sama tetapi
bentuk pengembangan FCCI ini, yaitu dipilih tidak nol.
bentuk three tier test yang dapat membantu e. Gaya pada kedua posisi memiliki besar yang
peneliti untuk mendiagnosis konsepsi sama tetapi arahnya berlawanan.
mahasiswa terkait konsep medan listrik sehingga
penelitian dapat berjalan dengan lancar serta Penjelasan:
didapatkan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk ………………………………………………………
menunjang analisis data berikutnya. Fase ………………………………………………………
terakhir (disseminating) dilakukan dan diberikan ………………………………………………………
pada mahasiswa yang sedang mengontrak mata
kuliah Fisika Dasar II pada kelas B di Tingkat keyakinan terhadap jawaban:
Departemen Pendidikan Fisika salah satu LPTK a) Sangat yakin b) Tidak yakin c) Tidak tahu
(Lembaga Pendidik dan Tenaga Pendidikan) di
Jawa Barat tahun akademik 2014/2015. Langkah Kriteria diagnosis konsepsi mahasiswa calon
pengembangan FCCI untuk penelitian lanjutan guru Fisika pada konsep medan listrik
dapat dilihat pada Gambar 1. menggunakan FCCI antara lain:
 Miskonsepsi (MIS): Tier I dan atau tier II
Pengembangan FCCI (Field Conceptual Change
Inventory) pada konsep medan vektor yang salah dan tingkat keyakinan sangat yakin
meliputi medan listrik dan medan magnet
 Paham Konsep (PK): Tier I dan tier II benar
dan tingkat keyakinan sangat yakin
Mahasiswa yang sedang mengontrak mata kuliah  Konsepsi Paralel (KP): Tier I dan atau tier
Fisika Dasar 2
II benar dan tingkat keyakinan tidak yakin
dan atau tidak tahu
Diagnosis konsepsi mahasiswa fisika pada konsep
medan listrik  Tidak Paham Konsep (TPK): Tier I dan tier
II salah dan tingkat keyakinan tidak tahu dan
atau tidak yakin.
Penelitian Lanjutan:
Remediasi mahasiswa calon guru fisika yang mengalami
miskonsepsi pada konsep medan vektor dengan menggunakan Metode
multimodus remedial teaching berbasis strategi konflik kognitif.
Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian kali ini yaitu metode survey. Metode
Gambar 1. Desain Rancangan Program survey dilakukan untuk mendapatkan profil hasil
Pengembangan FCCI dan Remedial Teaching diagnosis terhadap konsepsi mahasiswa calon
Instrumen FCCI pada konsep medan listrik guru Fisika yang berjumlah 33 mahasiswa.
terdiri dari 13 soal berbentuk open ended three Subjek penelitian survey diberikan tes FCCI
tier test yang kesemuanya mengacu kepada bentuk open ended three tier test dalam waktu
konsep inti medan listrik dan terkait dengan satu jam perkuliahan atau setara dengan 50

ISBN 978-602-19655-7-3 28
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

menit. Survey dilakukan sebelum mahasiswa 15%. Lebih lanjut mahasiswa yang mengalami
mempelajari konsep medan listrik pada mata miskonsepsi jauh lebih besar dibandingkan
kuliah Fisika Dasar II. mahasiswa yang memahami konsep medan
listrik yaitu 25%. Data ini menjadi “warning” yang
Hasil dan diskusi sangat kuat supaya perkuliahan Fisika Dasar II
menanamkan konsep yang mengarah pada
Data penelitian survey yang dilakukan yaitu konsepsi ilmiah (scientific conception) sesuai
hasil diagnosis berupa profil konsepsi
konsep para ahli Fisika seperti A. G. Sekercioglu
mahasiswa calon guru Fisika yang mengontrak & M. S. Kocakula [9] jelaskan. Padahal ahli
mata kuliah Fisika Dasar II tahun ajaran Fisika dan Pendidikan Fisika sudah sepakat,
2014/2015. Data kuantitatif yang diperoleh
ketika mempelajari konsep kelistrikan baik listrik
dinyatakan dalam persentase sedangkan data
statis maupun listrik dinamis membutuhkan
kualitatifnya diperoleh data terkait alasan
konsep medan listrik sebagai perwujudan
terhadap jawaban pada soal level pertama.
konsep kelistrikan itu sendiri. Kecil kemungkinan
Berikut ini adalah data profil konsepsi konsep kelistrikan dapat dipahami secara utuh
mahasiswa calon guru Fisika pada konsep (komprehensif), jika mahasiswa tidak memahami
medan listrik yang didiagnosis menggunakan
konsep medan listrik dengan baik. Sesuai
FCCI bentuk open ended three tier test seperti
dengan pendapat Serway Jewett [10] bahwa
Tabel 1.
konsep medan sangat dibutuhkan dalam
Tabel 1. Profil Konsepsi Mahasiswa Calon Guru menjelaskan konsep kelistrikan yang abstrak
Fisika. dan dapat menjembatani konsep kelistrikan
menjadi lebih kompak untuk dipahami dan
Potensi konsep medan listrik menjadi kajian yang
dijadikan bab khusus yang perlu penekanan
No.
Konsepsi Paham Tidak lebih mendalam dalam mempelajari konsep
Miskonsepsi
Paralel Konsep Paham kelistrikan itu sendiri. Dapat dianalogikan bahwa
batang tubuh konsep kelistrikan merupakan
1 10 4 10 6 konsep medan listrik itu sendiri.
Data kuantitatif pada Tabel 1 didukung oleh
2 7 3 13 7 data kualitatif yang dihasilkan dari respons
alasan terkait jawaban mahasiswa pada level I.
3 11 3 1 15 Contoh transkripsi hasil respons (alasan)
mahasiswa yang paling banyak terkait dengan
4 6 10 0 14 contoh soal nomor 5 dalam FCCI konsep medan
listrik adalah:
5 9 0 2 19
1. Gaya listrik dipengaruhi oleh besar kedua
6 18 1 3 8 muatan dan juga jarak antar keduannya.
Jadi tidak ada pengaruh dari medan magnet
7 4 11 4 11 selama partikel itu diam.
2. Karena mempunyai kesamaan tanda +
8 11 4 1 14
sehingga berlawanan arahnya.
9 4 9 3 14 3. Karena ada pengaruh dari gaya listrik di
posisi 1 (terdorong).
10 5 7 3 15
Berdasarkan contoh transkripsi hasil alasan
11 4 8 7 11 mahasiswa pada tier II dapat dijelaskan bahwa
untuk setiap soal akan mendapatkan macam
12 10 3 1 16 tanggapan alasan yang beragam dari 33
mahasiswa yang di-survey. Dari alasan yang
beragam tersebut, peneliti merangkumnya dan
13 1 12 2 15
dipilih 4 alternatif jawaban terbanyak yang setipe
untuk masing-masing soal. Langkah berikutnya
 100=25% 75=19% 60=15% 165=41% yaitu menyusun kembali alternatif alasan
mahasiswa tersebut dalam pilihan semi tertutup
Tabel 1 menunjukkan bahwa profil konsepsi untuk pengembangan instrumen FCCI
mahasiswa calon guru Fisika terkait konsep berikutnya. Struktur dan format FCCI yang
medan listrik sangat mengkhawatirkan. Hal ini sudah dikembangkan didapatkan bentuk dalam
disebabkan persentase mahasiswa yang tiga tier (level) dengan level II yang berubah dari
memahami konsep masih sangat sedikit sekitar alasan essay terbuka menjadi empat pilihan

ISBN 978-602-19655-7-3 29
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

alasan yang sudah disusun berdasarkan Sciences of Middle East Technical


jawaban mahasiswa sebelumnya dengan University, Turkey, 1999, p. 107
ditambahkan satu alternatif alasan terbukan [8] D.P. Maloney, T.L. O’Kuma, C.J.
dalam bentuk essay jika memungkinkan Hieggelke, A.V. Heuvelen, “Surveying
mahasiswa tidak memilih pilihan alasan yang students’ conceptual knowledge of
disediakan. electricity and magnetism”, Phys. Educ.
Res., Am. J. Phys. Suppl., 69 (7), s13-s23
Kesimpulan (2001)
[9] Bekele Gashe Dega, “Conceptual change
Berdasarkan analisis data, dapat diperoleh through cognitive perturbation using
kesimpulan bahwa hasil diagnosis konsepsi
simulations in electricity and magnetism: a
mahasiswa Fisika yang sedang mempelajari
case study in Ambo University, Ethiopia”,
konsep medan listrik menggunakan instrumen
Dissertation, University of South Africa,
FCCI bentuk open ended three tier test antara
South Africa, 2012, p. 1-221
lain mahasiswa yang: paham konsep sekitar [10] Rhett Allain, “Investigating the relationship
15%, mengalami miskonsepsi sekitar 25%, tidak between student difficulties with the
paham konsep 41%, dan mengalami konsepsi
concept of electric potential and the
paralel sekitar 19%.
concept of rate of change”, Dissertation,
The Graduate Faculty of North Carolina
Ucapan terima kasih State University, Raleigh, Nort Carolina
Penulis mengucapkan terima kasih kepada USA, 2001, p. 1-152
Drs. Saeful Karim, M.Si. dan Duden [11] A. G. Sekercioglu, & M. S. Kocakula,
Saepuzaman, M.Pd., M.Si. yang berkenan “Grade 10 students' misconception about
mengijinkan peneliti untuk mengobservasi impulse and momentum”, Journal of
perkuliahan Fisika Dasar II dan mengambil data Turkish Science Education, 5 (2), 47-59
pendahuluan. Penulis juga mengucapkan terima (2008)
kasih kepada Departemen Pendidikan Fisika [12] Serway Jewett, “Physics fos scientists and
FPMIPA dan Program Studi Pendidikan IPA engineers”, Penerbit Thomson Brooks/Cole,
Sekolah Pascasarjana UPI yang mengijinkan Califoronia, 2004, p. 706
peneliti melakukan penelitian Disertasi.

Referensi Achmad Samsudin*


Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana,
[3] G.J. Posner, K.A. Strike, P.W. Hewson, Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA,
and W. A. Gertzog, “Accommodation of a Universitas Pendidikan Indonesia
scientific conception: toward a theory of achmadsamsudin@upi.edu
conceptual change”, Science Education,
66, 221–227 (1982) Andi Suhandi
[4] M.S. Kocakulah and M. Kural, “Investigation Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana,
of conceptual change about double-slit Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA,
interference in secondary school physics”, Universitas Pendidikan Indonesia
International Journal of Environmental & andi_sh@upi.edu
Science Education 4 (4), 435-460 (2010)
[5] H.C. She and Y.W. Liao, “Bridging scientific Dadi Rusdiana
Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana,
reasoning and copceptual change through
Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA,
adaptive web-based learning”, Journal of Universitas Pendidikan Indonesia
Research in Science Teaching 47 (1), 91- dadirusdiana@yahoo.com
119 (2010)
[6] H. Kucukozer and S. Kocakulah, “Effect of Ida Kaniawati
simple electric circuits teaching on Program Studi Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana,
conceptual change in grade 9 physics Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA,
course”, Journal of Turkhis Science Universitas Pendidikan Indonesia
Education, 5 (1), (2008) ida_kania@yahoo.com
[7] O. Vatansever, “Effectiveness of conceptual
change instruction on overcome students’ *Corresponding author
misconceptions of electric field, electric
potential and electric Potential Energy at
tenth grade level”, Tesis Magister, The
Graduate School of Natural and Applied

ISBN 978-602-19655-7-3 30
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kajian Mekanisme Difusi pada sistem mikrophysiologi model pada


Monte Carlo Simulator Cell (MCell)
Adita Sutresno, Moh. Faizal Fajri Al Amin, Idam Arif, Sparisoma Viridi, Freddy Haryanto

Email: adita@s.itb.ac.id

Abstrak
Fungsi sebuah susunan saraf dapat dilihat pada skala yang berbeda, dan dapat dilakukan dengan
pendekatan komputasi mulai dari sistem organ sampai molekular, dari ukuran cm sampai angstroms. Pada
tingkat cellular dan subcellular signal dapat dimodelkan sesuai dengan kebutuhan dengan struktur yang
relistis. Pada studi ini telah dilakukan penelitian dengan mensimulasikan fungsi synapse mikrophysiologi
berbasis metode Monte Carlo dengan software Monte Carlo Cell (MCell). MCell merupakan software
berbasiskan metode Monte Carlo yang menerapkan hukum Fick untuk proses difusi, yang mana MCell
terbagi menjadi dua bagian yaitu pemodelan dan simulasi. Selain itu beberapa parameter yang terdapat
dalam MCell meliputi posisi molekul, panjang dari time-step, dan jumlah time-step iterasi. Dan yang menjadi
titik berat pada penelitian ini adalah parameter run-time untuk setiap simulasi yang dilakukan.

Dari hasil simulasi untuk bentuk kubus dengan dimensi 1x1x1 µm, jumlah molekul permukaan yang dapat
berfungsi sebagai protein receptor 100 molekul dan jumlah molekul volume yang merupakan jumlah molekul
yang akan didistribusikan lewat proses difusi terhadap molekul permukaan antara 1000-10.000 molekul,
menunjukkan pola yang seragam. Dimana waktu yang diperlukan untuk setengah jumlah molekul volume
mengalami difusi adalah 0.003659 detik dengan simpangan deviasi 0.000235 detik. Dan untuk simulasi
dengan ketebalan kubus yang berubah antara 0.1 – 1 µm dengan penambahan 0.1 µm, dan jumlah molekul
yang didistribusikan sama yaitu 10.000, menghasilkan fungsi untuk semua ketebalan adalah eksponensial.
Dan untuk perubahan ukuran dengan bentuk kubus, memberikan hubungan yang linear, bahwa semakin
panjang lintasan memberi pengaruh pada lama proses difusi juga semakin lama. Sedangkan untuk
perbandingan perubahan bentuk (kubus, silinder dan bola) dengan volume dan jumlah molekul yang sama,
menunjukkan bahwa untuk setengah jumlah molekul yang terdifusi bentuk bola menjadi bentuk yang paling
cepat proses difsinya diikuti silinder dan kubus.

Berdasarkan hasil dan hipotesa yang sudah diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah molekul yang
didifusikan tidak mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk proses difusi. Selain itu seluruh fungsi proses
difusi dengan bentuk kubus memenuhi permasaan eksponensial dan sesuai dengan persamaan difusi untuk
konsentrasi tinggi.

Kata-kata kunci: MCell, Synapse, Simulasi Sell

difusi pada membran-membran yang ada dalam


Pendahuluan tubuh [3], [4], [5].
Difusi adalah proses penting yang terjadi
dalam bagian mahkluk hidup terutama pada Pada penelitian ini merupakan studi awal
bagian sel. Dimana difusi adalah proses dalam mempelajari proses difusi dengan
perpindahan material seperti ion, atom atau simulasi MCell terutama di Indonesia. Fokus
molekul dari bagian yang berkonsentrasi lebih utama dalam simulasi adalah bentuk geometri
tinggi ke bagian yang berkonsentrasi lebih dasar yang terdiri dari kubus, silinder, dan bola
rendah [1]. Untuk mempelajari proses difusi (icosphere). Untuk parameter yang digunakan
pada bagian yang sangat kecil ukurannya, maka sebagai variasi simulasi meliputi perubahan
penggunaan sebuah simulasi akan sangat jumlah molekul untuk difusi pada geometri
membantu. Penelitian dengan menggunakan kubus, dimana jumlah molekul berubah dari
simulasi khususnya Monte Carlo Cell (MCell) 1000-10.000 molekul dengan penambahan tiap
walaupun baru dimulai pada tahun 1996 [2], 1000 molekul. Selain itu pada perubahan
namun hasil-hasil penelitian sudah banyak panjang kubus dari panjang 0,1-1 µm dan
terutama dalam mensimulasikan dalam proses diubah tiap 0,1 µm sebagai variasi perubahan
disimulasikan pada jumlah molekul 10.000. Dan

ISBN 978-602-19655-7-3 31
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

bagaimana disimulasikan pengaruh perubahan dalam bentuk lain yaitu   4Dt . Sehingga
geometri terhadap lama difusi, dengan
probability density function (pdf) dari posisi akhir
membandingkan bagaimana lama difusi untuk
kubus, silinder dan bola pada dimensi yang suatu molekul yang berdifusi secara matematis
dapat ditulis menjadi persamaan (3).
sama.

1 /2
Teori  (r , t )  e r
2
(3)
MCell adalah software beralgoritma Monte  d /2
 d

Carlo yang dikembangkan untuk


mensimulasikan proses yang terjadi pada sistem Untuk menentukan jarak radial dari difusi,
sel. Program MCell dikembangkan oleh National dibutuhkan variabel random dari x (jarak), θ arah
Resource for Biomedical Supercomputing, radial) dan φ (arah putar) [7], [8].
Pittsburgh University, dan merupakan software
open source yang dapat didapat di Hasil dan diskusi
http://www.mcell.cnl.salk.edu/ [5],[6]. Untuk Pemodelan yang dilakukan menggunakan
membuat geometri seperti yang diinginkan CellBlender berupa bentuk dasar geometri
MCell memanfaatkan software CellBlender pada meliputi kubus, silinder dan bola (icosphere).
add-on di MCell. Simulasi dengan MCell meliputi Dan simulasi yang dilakukan menggunakan
empat tahap, yaitu : 1. Mendisain permukaan MCell meliputi perubahan jumlah molekul yang
atau rekontruksi, 2. Visualisasi dan desain didifusikan pada geometri kubus yaitu untuk
model, 3. Simulasi, 4. Visualisasi dan analisa untuk jumlah molekul 1000-10.000 dengan
hasil. perubahan tiap 1000 molekul. Kemudian
Proses difusi yang disimulasikan dengan perubahan panjang dari kubus dengan jumlah
MCell merupakan persamaan dari perubahan molekul yang sama dan terakhir adalah simulasi
konsentrasi terhadap waktu atau lebih dikenal untuk ketiga bentuk geometri yang berbeda
sebagai hukum Fick kedua, dimana konsentrasi namun mempunyai ukuran dimensi yang sama.
molekul c(r,t) dapat bergerak secara acak dalam Adapun parameter yang digunakan untuk
arah 3-D dan dapat dituliskan secara matematis simulasi pada geometri kubus dengan
seperti terlihat pada persamaan (1). perubahan jumlah molekul, perubahan panjang
c kubus dengan jumlah molekul 10.000 dan
 D 2r c (1) dimensi untuk ketiga geometri yang berbeda
t dapat dilihat seperti pada tabel 1.
Dimana D adalah konstanta difusi dari suatu Tabel. 1. Parameter penelitian untuk mengetahui
molekul pada medium dan temperature tertentu. pengaruh jumlah molekul, perubahan dimensi
MCell merupakan metode Monte Carlo cepat dan perubahan geometri
(Fast Monte Carlo method) dimana proses
dipercepat dengan menggunakan distribusi yang Parameter Nilai Standar
dipakai sebagai acuan atau standar yaitu Iterasi 25000
menyimpan nilai-nilai tersebut pada memori Time step 1x10-5 s
sebagai fungsi look-up table kemudian Konstanta Difusi Molekul Volume 1 1x10-6 cm2 s-1
Konstanta Difusi Molekul Volume 2 1x10-6 cm2 s-1
menggunakan bilangan acak untuk mengetahui
Konstanta Difusi Molekul
setiap perpindahan dari molekul tersebut. Pada 0 cm2 s-1
Permukaan
proses simulasi untuk molekul tunggal, dimana Konstanta Laju Reaksi Molekul 1x108 M-1 s-1
molekul tersebut diletakkan pada koordinat Dimensi Bidang Cube,
1 x1x1 µm
(0,0,0) dengan waktu t = 0 dan berdifusi dengan Cylinder, Icosphere (x,y,z)
konstanta difusi D, dapat ditulis dalam Jumlah Molekul Volume 1000 - 10000
Jumlah Molekul Permukaan 100
persamaan matematis seperti persamaan (2).
Dari simulasi yang dilakukan didapat grafik
1
c(r , t ) d
e  r .r /4 Dt
(2) antara jumlah molekul terhadap waktu (dt)
(4 Dt ) 2 seperti terlihat pada gambar 1. Pada grafik
tersebut merupakan hasil normalisasi dari jumlah
molekul yang disimulasikan yaitu dari 1000-
Dimana d merupakan ukuran dimensi dari ruang 10.000 molekul yang sudah dinormalisasi,
difusi(2 untuk 2-D dan 3 untuk 3-D). Karena sehingga jumlah molekul yang didifusikan paling
konsentrasi dianggap simetris secara radial, tinggi pada nilai 1 dan terendah pada nilai 0.
maka r (jarak perpindahan molekul) dapat diganti Sedangkan waktu difusi pada axis x merupakan
menjadi r  r . Jarak difusi dapat dinyatakan perkalian antara iterasi dengan time step yang
merupakan lamanya proses difusi terjadi dalam

ISBN 978-602-19655-7-3 32
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

simulasi. Untuk nilai-nilai parameter seperti


konstanta difusi molekul volume 1, 2, dan
molekul permukaan, serta konstanta laju rekasi
merupakan parameter yang diperoleh pada
tutorial MCell, dan bukan merupakan nilai-nilai
yang didapat dari hasil eksperimen.

Gambar 2. Grafik ketebalan bidang terhadap


waktu yang terjadi pada saat terjadinya waktu
paruh proses difusi.
Hubungan linear memberi arti bahwa
semakin panjang kubus menjadikan volume
tempat molekul menjadi lebih besar dan
menyebabkan kerapatan dalam volume tersebut
Gambar 1. Grafik normalisasi perubahan jumlah menjadi kecil. Kondisi ini menyebabkan
molekul terhadap waktu dalam proses difusi konsentrasi menjadi menurun dan akibatkan
geometri kubus kecepatan difusi juga menurun, sehingga waktu
yang diperlukan untuk separuh jumlah molekul
Hasil simulasi menunjukkan bahwa mengalami proses difusi menjadi lebih lama,
perubahan jumlah molekul dari 1000 – 10.000 namun mempunyai hubungan linear. Dengan
tidak memberikan perubahan secara signifikan semakin menurunnya konsentrasi juga
dari proses difusi, hanya sedikit kelihatan menyebabkan pencapaian kondisi setimbang
perubahan mulai 0,005 – 0,015 dt sehingga juga semakin lama.
jumlah molekul yang didifusikan perlu lebih
banyak lagi untuk mengetahui perubahan yang Adapun hasil yang diperoleh untuk simulasi
terjadi. Namun demikian persamaan yang yang geometri yang berbeda antara kubus, silinder
dihasilkan dari simulasi untuk ke 10 variasi dan bola menunjukkan bahwa ketiga geometri
jumlah molekul adalah relatif sama yaitu tersebut memberikan hubungan yang linear,
semuanya merupakan fungsi eksponensial. seperti terlihat pada gambar 3.
Salah satu persaman yang dihasilkan dari
198.2t
jumlah molekul 9000 adalah y  9325.6e ,
dimana bentuk persamaan ini serupa dengan
persamaan (2).
Untuk hasil simulasi perubahan dimensi
kubus dimana kubus dirubah panjangnya dari
0,1 – 1 µm dengan perubahan tiap 0,1 µm
dengan mengambil jumlah molekul yang
didifusikan sebanyak 10.000 molekul terhadap
waktu memberikan hubungan yang linear seperti
nampak pada gambar 2. Dimana waktu yang
dimaksud adalah waktu yang diperlukan untuk
terjadinya proses difusi sampai separuh molekul
terdifusikan. Gambar 3. Grafik separuh waktu difusi molekul
terhadap waktu untuk perubahan geometri
volume icosphere 0.5236 µm 3, cylinder 0.7854
µm3, dan cube 1 µm3 dengan dimensi setiap
bidang 1 x1 x1 µm.
Dengan dimensi yang sama dari geometri
yang berbeda memberikan pengaruh waktu
difusi yang berbeda, hal ini disebabkan karena
tiap geometri yang berbeda mempunyai luas
permukaan yang berbeda. Dimana luas

ISBN 978-602-19655-7-3 33
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

permukaan memberi pengaruh pada luasan [6] R. A. Kerr, "Cellular Modeling with MCell,"
yang dilewati molekul untuk berdifusi, dan Howard Hughes Medical Institute, Ashburn,
dengan semakin luas permukaan interaksi 2007.
memberikan pengaruh pada semakin cepat [7] R. A. Kerr, M. T. Bartol, B. Kaminsky and
proses difusinya. Selain itu juga volume yang et.al, "Fast Monte Carlo Simulation Methods
berbeda menyebabkan konsentrasi yang for Biological Reaction-Diffusion System in
berbeda dan berakibat pada kecepatan difusi Solution and on Surface," SIAM J Sci
juga berbeda. Dari ketiga bentuk geometri Comput, vol. 30(6), no. October 13, p. 3126,
menunjukkan bahwa bola memberikan 2008.
kecepatan proses difusi paling cepat diikuti
dengan geometri silinder dan kubus. [8] E. D. Schutter, Computational Neuroscience
Realistic Modeling for Experimentalists,
Kesimpulan Antwerp: CRC Press, 2000.

Jumlah molekul yang sedikit menyebabkan Adita Sutresno*


perubahan konsentrasi pada proses difusi tidak Nuclear Physics and Biophysics Research Division
terlihat jelas untuk tiap perubahan jumlah Department of Physics, Institut Teknologi Bandung
molekul. Namun demikian persamaan hasil Department of Physics, Universitas Kristen Satya
simulasi hasil simulasi memberikan format yang Wacana
sama dengan persamaan difusi secara teoritik. adita@s.itb.ac.id
Selain itu simulasi untuk dimensi kubus memberi
hubungan linear antara penambahan panjang Moh. Faizal Fajri Al Amin
kubus terhadap lama proses difusi, dan Nuclear Physics and Biophysics Research Division
Department of Physics, Institut Teknologi Bandung
perubahan simulasi perubahan geometri (kubus, faizal.fajrie@gmail.com
silinder, bola) pada volume yang sama
memberikan hubungan linear terhadap proses Idam Arif
difusi. Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
Ucapan terima kasih Idam@fi.itb.ac.id
Penulis mengucapkan terima kasih untuk ITB
dan JICA atas dukungan pendanaan pada
Sparisoma Viridi
penelitian ini melalui Program Proyek
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Pengembagan ITB (III) 2014 dengan nomer SK Department of Physics, Institut Teknologi Bandung
1575/I1.C01/PL/2014. dudung@fi.itb.ac.id

Referensi Freddy Haryanto


Nuclear Physics and Biophysis Research Division
[1] I. Vakalis, "Diffusion in Biology: A
Department of Physics, Institut Teknologi Bandung
Mathematical Modeling Approach," W.M Keck freddy@fi.itb.ac.id
Foundation, Ohio, 2002.
[2] S. R. Joel , D. V. Helden, T. M. Bartol and et, *Corresponding author
al, "Miniature endplate current rise time < 100
micrometerfrom improved dual rcordings can
modeled with passive acetycholine diffusion
from a synaptic vesicle," Proc. Natl Acad. Sci,
vol. 93, no. June 1996, pp. 5747-5752, 1996.
[3] J. R. Stiles, I. V. Kovyazina, E. E. Salpeter
and M. M. Salpeter, "The Temperature
Sensitivity of Miniature Endplate Current Is
Mostly Governed by Channel Gating:
Evidence from Optimized Recordinga and
Monte Carlo Simulation," Biophysics Journal,
vol. 77, no. Agust 1999, pp. 117-1187, 1999.
[4] J. P. Dilger, "Monte Carlo Simulation of
Buffered Diffusion into and out of a Model
Synapse," Biophysical, pp. 959-967, 2010.
[5] J. P. Dilger, "Simulation of the kinetics of
Neuromuscular block: Implication for speed of
onset," Anesthesis & Analgesia, pp. 792-802,
2013.

ISBN 978-602-19655-7-3 34
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Peraga Intrusi Air Laut di Estuari dalam Konteks Pengajaran Hukum


Newton dan Fluida

Afni Kumala Wardani, Marati Husna, Ely Rismawati, Acep Purqon

Email: wardani.k.afni@gmail.com

Abstrak

Pemodelan proses intrusi air laut di estuari menunjukkan adanya pertukaran massa air laut dan air sungai.
Perbedaan kerapatan antara dense current (dalam percobaan ini ialah larutan garam) dan less dense
current (air tawar) menjadi gaya dorong internal yang menyebabkan kedua fluida bergerak dengan
kecepatan konstan. Sebagai sistem yang bergerak dengan kecepatan konstan maka dapat digunakan
sebagai kerangka acuan (kerangka inersia) yang memenuhi Hukum I Newton. Adanya kekekalan volume
antara dense current dan less dense current sebelum dan setelah sekat dibuka menunjukkan adanya hukum
kekekalan massa. Kekekalan massa pada fluida yang bergerak dengan kecepatan tetap menyebabkan tidak
ada perubahan momentum. Kekekalan momentum tersebut memenuhi Hukum II Newton. Saat sekat dibuka,
kedua fluida akan berinteraksi. Dense current dengan beda kerapatan yang lebih besar dibanding less
dense current akan bergerak sepanjang dasar tangki mendorong less dense current untuk mengisi
kekosongan tempat yang ditinggalkan oleh dense current. Dengan demikian dapat diamati bahwa kedua
fluida bergerak sepanjang tangki dengan arah yang berlawanan. Gaya dorong yang diberikan dense current
terhadap less dense current sama besar dan berlawanan arah terhadap gaya dorong oleh less dense
current terhadap dense current. Kedua gaya tersebut dapat ditinjau sebagai Hukum III Newton karena
bekerja pada dua benda yang berbeda. Dense current memiliki tekanan yang lebih besar dibandingkan less
dense current, sehingga fluida akan bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Hukum kekekalan
energi mekanik yang terjadi diakibatkan oleh perbedaan kerapatan kedua fluida. Penelitian ini mengunakan
tangki kanal air berukuran 200 cm x 10 cm dengan sekat tepat ditengah tangki bertujuan agar kedua fluida
memiliki volume yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan tak-berdimensi gravity current
sebesar 0,45 ± 0,03 dengan beda kerapatan dan tinggi awal permukaan merupakan dua faktor dinamik
penentu kecepatan. Berdasar penjelasan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menghubungkan konteks
fenomena intrusi air laut di estuari untuk memperkenalkan hukum I, II, dan III Newton, kekekalan momentum
dan kekekalan energi serta fluida statik dan dinamik dalam satu fenomena. Melalui penelitian ini diharapkan
dapat membuka paradigma dan wawasan dalam pengajaran fisika untuk membahas fenomena alam yang
rumit menggunakan teori-teori fisika yang sederhana.

Kata-kata kunci: intrusi air laut, hukum Newton, fluida

Pendahuluan
Proses intrusi air laut di estuari dipelajari di laboratorium sama dengan yang
merupakan sebuah fenomena alam bertemunya ditemui di alam (4,5).
air sungai dan air laut di estuari (perairan payau). Penelitian terdahulu menemukan bahwa
Karena perbedaan kerapatan antara kedua fluida gravity current bernilai konstan untuk larutan
maka saat keduanya bertemu tidak langsung garam (dense current) sebagai representasi dari
bercampur melainkan bergerak dengan air laut. Sehingga sebagai satu sistem, maka air
kecepatan tetap. Fenomena tersebut dimodelkan tawar (less dense current) representasi dari air
melalui percobaan gravity current dalam skala sungai juga bergerak dengan kecepatan tetap.
laboratorium. Percobaan gravity current Dengan mengetahui bahwa gravity current
menunjukkan bahwa intrusi air laut di estuari bergerak dengan kecepatan tetap (konstan) maka
bergerak dengan kecepatan tetap dan dapat dapat diberlakukan hukum-hukum dasar fisika.
digunakan sebagai contoh sistem yang bergerak Hukum-hukum dasar tersebut antara lain hukum I,
lurus beraturan (1). Gravity current sendiri II, dan III Newton, kekekalan momentum dan
merupakan sistem dua fluida dengan beda prinsip usaha-energi serta fluida statik dan
kerapatan yang merambat horizontal dengan dinamik. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini
kecepatan konstan (3). Hasil penelitian terdahulu bertujuan untuk menghubungkan konteks suatu
menunjukkan bahwa contoh gravity current yang fenomena intrusi air laut di estuari untuk

ISBN 978-602-19655-7-3 35
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

memperkenalkan hukum I, II, dan III Newton, dua perubahan variable yaitu beda kerapatan (∆𝜌)
kekekalan momentum dan kekekalan energi serta dan ketinggian awal permukaan fluida (𝐻). Data
fluida statik dan dinamik dalam satu fenomena. percobaan dapat dilihat pada Tabel 1.
Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat
membuka paradigma dan wawasan dalam Tabel 1. Hasil percobaan perambatan gravity
pembelajaran fisika untuk membahas fenomena current dalam skala laboratorium.
alam yang terlihat rumit sebenarnya dapat
∆𝜌⁄
dijelaskan melalui konsep-konsep dasar fisika Exp 𝜌0 𝐻 𝑇 𝑣′ 𝑣′′
𝑣
sederhana melalui konteks yang ada yaitu (%) cm (sekon) (cm/s) (cm/s)
dengan menekankan aspek story telling. 1 1,0 10,0 23,02 9,60 4,34 0,47
2 3,0 10,0 13,15 17,37 7,60 0,48
Eksperimen
3 5,0 10,0 9,90 21,54 10,10 0,46
Metode yang digunakan mengadopsi 4 1,0 10,0 23,86 10,19 4,35 0,43
metode Prastowo (2009)(3). Metode tersebut
5 3,0 10,0 13,00 17,17 7,64 0,46
terdiri dari dua tahapan, yaitu tahap persiapan
dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan berisi 6 5,0 10,0 10,24 22,02 10,13 0,46
pengaturan alat dan pembuatan larutan garam. 7 1,0 20,0 16,63 13,44 6,24 0,46
Alat-alat yang digunakan adalah tangki kanal air 8 3,0 20,0 9,57 24,21 10,84 0,45
dengan panjang 200 cm x 10 cm dimana
dipasang digital micrometer dengan ketelitian 0,1 9 5,0 20,0 7,19 30,87 14,42 0,47
Keterangan: 𝑇 adalah waktu tempuh, 𝑣′ adalah kecepatan
cm di kedua ujung tangki untuk mengukur tinggi aliran, 𝑣′′ adalah kecepatan terukur, dan 𝑣 adalah kecepatan
permukaan kedua fluida; hidrometer dengan tak-berdimensi
ketelitian 0,0001 gr/cm 3 pada suhu ruang untuk
mengukur kerapatan air tawar dan larutan garam Secara umum, dinamika perambatan
∆𝜌
dengan beda kerapatan kedua fluida ( ) sebesar gravity current dicirikan oleh besaran kecepatan
𝜌0
karakteristik yang direpresentasikan sebagai
1%,3%, dan 5% dengan kerapatan air tawar pada
besaran tak-berdimensi. Kecepatan tak-
suhu ruang percobaan di laboratorium sebesar
0,9978 gr/cm3; digital stopwatch dengan ketelitian berdimensi merupakan perbandingan kecepatan
0,01 s untuk mengukur waktu perambatan gravity terukur U dan kecepatan aliran (persamaan 1).
Kecepatan aliran fluida merepresentasikan
current. Kamera digital tipe DSLR dan kamera
perubahan posisi dua buah titik di dasar tangki
video beresolusi 14,2 mega piksel untuk merekam
gravity current selama percobaan berlangsung. berjarak 𝐻 dalam arah vertikal dan dipengaruhi
Sisi depan tangki dipasang kertas jejak berskala 5 oleh gravitasi tereduksi yang memberikan
x 5 cm2 bertujuan untuk memudahkan kontribusi penting pada gaya apung. Penurunan
pengamatan perambatan kepala gravity current secara rinci perumusan kecepatan tak-berdimensi
(Gambar 1). Sedangkan sekat dipasang tepat dapat dipelajari di Wardani, dkk (2013). Jadi,
ditengah tangki bertujuan agar kedua fluida
memiliki volume yang sama besar (Gambar 2). v U g 'H (1)
Pengamatan dilakukan setelah sekat
diambil yaitu mulai kepala gravity current Teori Benjamin meramalkan bahwa
terbentuk sempurna sekitar 25 cm dari posisi awal untuk gravity current yang merambat bebas tanpa
sekat diletakkan hingga menabrak dinding ujung hambatan dinamik, besaran kecepatan tak
tangki baik untuk air tawar (less dense current) berdimensi berkisar 0,5 (2). Sedangkan Prastowo
berwarna kuning dan larutan garam (dense (2009) melaporkan bahwa kecepatan rambat tak-
current) berwarna biru. Waktu perubahan posisi berdimensi gravity current adalah 0,48 ±0,02.
kepala gravity current selama merambat Hasil tersebut tidak berbeda jauh dari hasil
sepanjang dasar tangki tercatat sebagai time percobaan kecepatan tak-berdimensi dalam
series. Perambatan gravity current direkam percobaan ini (kolom 7) yang berharga tetap
dalam bentuk video untuk menganalisis konsep- untuk semua kasus sebesar 0,45 ± 0.03 dalam
konsep fisika yang berlaku dalam fenomena batas alat ukur yang digunakan. Kecepatan tak
tersebut. berdimensi graviy current bernilai kurang dari 0,5
menunjukkan bahwa ada sebagian energi
Hasil dan Pembahasan mekanik yang hilang karena turbulent dissipation
akibat proses mixing dan friksi sepanjang dasar
Dari percobaan didapatkan 9 seri tangki dan permukaan fluida dengan udara (3, 6).
percobaan dengan memanfaatkan dua buah Kecepatan terukur baik less dense
tangki kanal air masing-masing memiliki lebar 10 current maupun dense current bernilai tetap
cm (eksperimen 1-3) dan 20 cm (eksperimen 4-9). dibuktikan melalui perubahan posisi kepala
Dinamika perambatan gravity current diuji melalui

ISBN 978-602-19655-7-3 36
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

gravity current ditempuh dalam rentang waktu memiliki kecepatan tetap. Dengan demikian,
yang sama. Hasil tersebut dapat dilihat melalui kecepatan gravity current yang bernilai tetap
grafik linier pada Gambar 1. Penyebab kedua menunjukkan bahwa sistem dapat digunakan
fluida bergerak murni berasal dari gaya dorong sebagai kerangka acuan (kerangka inersia) yang
internal akibat perbedaan kerapatan antara kedua menjadi dasar keberlakuan hukum II dan III
fluida sehingga kedua fluida dapat bergerak Newton (Gambar 2).
dengan kecepatan tetap. Hukum II Newton menceritakan tentang
less dense current total gaya yang bekerja pada sistem merupakan
perubahan momentum yang dimiliki sistem.
Perubahan momentum yang terjadi saat sekat
110
100 belum dibuka dan setelah sekat dibuka
90 menunjukkan tidak ada perubahan massa dan
80 perubahan kecepatan. Karena telah diketahui
70
60 bahwa tangki tidak bocor sehingga tidak ada
50 massa fluida yang hilang serta kecepatan sistem
40
30 tetap. Dengan demikian, melalui perumusan (2)
20 didapatkan total gaya yang bekerja pada sistem
JARAK (CM)

10 adalah nol (∑ 𝐹 = 0). Artinya ada kesetimbangan


0
-10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 dinamis pada gravity current yang begerak
-20 dengan kecepatan konstan.
-30
-40
-50 dp dm dv
-60
-70  F  dt 
dt
vm
dt
0 (2)
-80
-90
-100 Hukum III Newton dalam kasus ini
-110
WAKTU KE-T (S) menceritakan adanya interaksi antara dua fluida
yang berbeda saat sekat diambil. Dense current
Gambar 1. Grafik perubahan posisi less dense dengan beda kerapatan yang lebih besar
dan dense current dengan beda kerapatan 3% dibandingkan dengan less dense current bergerak
terhadap waktu sepanjang dasar tangki mendorong less dense
current. Akibatnya dalam waktu yang bersamaan
less dense current bergerak mengisi kekosongan
tempat yang ditinggalkan oleh dense current.
Kemudian dapat diamati bahwa kedua fluida
bergerak sepanjang tangki dengan arah yang
berlawanan. Gaya dorong yang diberikan dense
current terhadap less dense current sama besar
dan berlawanan arah terhadap gaya dorong oleh
less dense current terhadap dense current.
Melalui persamaan (2), dapat diketahui
pula bahwa tidak ada perubahan momentum
sebelum sekat diambil dan setelah sekat diambil.
Sehingga momentum sistem bernilai konstan.
Artinya terjadi kekekalan momentum.
Sedangakan meninjau prinsip usaha-energi,
ketika sistem bergerak dengan kecepatan tetap
memang terjadi perpindahan kepala gravity
curren. Namun perlu ditekankan bahwa total gaya
yang bekerja pada sistem sama dengan nol
(∑ 𝐹 = 0) sehingga tidak ada usaha yang
Gambar 2. Foto perambatan gravity current dilakukan sistem (persamaan 3).
dengan beda kerapatan 3% & ketinggian 20 cm.
W  F s  0 (3)
Konsekuensi kecepatan konstan gravity
current adalah dapat dijelaskannya hukum-hukum Meninjau sistem sebagai fluida, maka
dasar fisika. Hukum pertama yang dibahas adalah larutan garam dengan kerapatan yang lebih
hukum tentang gerak yang dikenal sebagai besar pasti memiliki tekanan hidrostatis yang
hukum Newton. Dalam hukum I, Newton lebih besar dibandingkan air tawar dengan
membahas sifat diam benda, yaitu benda yang kerapatan yang lebih rendah. Sehingga fluida

ISBN 978-602-19655-7-3 37
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

akan mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan Penelitian Stranas No.037/SP2H/PL/


rendah. Konsep tersebut dipelajari sebagai fluida Dit.Litabmas/III/2012/7-3-2012. Tim peneliti
statik (persamaan 4). menyampaikan terimakasih kepada rekan kerja di
Laboratorium Sains Kebumian, Jurusan Fisika
P   gh (4) FMIPA Unesa.

Sedangkan meninjau dari hukum Referensi


kekekalan energi mekanik diketahui bahwa usaha
sistem sama dengan nol. Artinya perubahan [1]. A.K. Wardani IS, T.Prastowo, M.Anggaryani.
energi juga sama dengan nol dan terjadi Tinjauan Ulang Materi Ajar Gerak Lurus
kekekalan energy mekanik. Untuk memudahkan, Beraturan Melalui Percobaan Gravity Current
kita meninjau sebuah titik (Gambar 2), saat dalam Skala Laboratorium. Jurnal
sekat belum dibuka, titik berada pada larutan Pendidikan Fisika Indonesia. 2013;9:113-22.
garam (warna biru) dan masih diam artinya hanya [2]. P.F. Linden, B.M. Marino, L.P. Thomas.
ada energy potensial gravitasi. Namun setelah Lock-release inertial gravity currents over a
sekat diambil, titik berada di air tawar (warna thick porous layer. Journal of Fluid
kuning) dan muncul energi kinetik teramati melalui Mechanics. 2004;503: 299-319.Citing
kedua fluida yang bergerak. Fenomena yang unik Benjamin, T. B. 1968 Gravity currents and
ini dijelaskan dengan persamaan Bernaulli (5). related phenomena. J. Fluid Mech. 31, 209–
248.
1
 garam gh   airtawar gh   airtawar v '2 (5)
2 [3]. Prastowo T. On The Nature of Gravity
Current. Jurnal Matematika dan Sains
Kesimpulan 2009;14(3):76-80.
[4]. Beckers BC-RaJ-M. Introduction to
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat Geophysical Fluid Dynamics Physical and
disimpulkan bahwa kecepatan konstan pada Numerical Aspects. USA: Academic Press;
fenomena intrusi air laut di estuari yang 2009. 75-9 p.
dimodelkan dengan percobaan gravity current [5]. Ryan J.Lowe PFLaJWR. A Laboratory Study
memenuhi syarat sebagai kerangka inersia sesuai of The Velocity structure in an Intrusive
dengan hukum I Newton. Karena tidak ada Gravity Current. Journal Fluid Mechanics.
perubahan massa fuida dan kecepatan sistem 2002;456:33-48.
konstan, maka momentum sistem juga bernilai [6]. Trise Nurul Ain TP, Imam Sucahyo, Endah
konstan dan sesuai dengan hukum II Newton Rahmawati. Percobaan Gravity Current
∑ 𝐹 = 0, yang dikenal pula sebagai Untuk Mengembangkan Konsep Tekanan
kesetimbangan dinamis. Interaksi antara dua Hidrostatis Dan Dinamika Gerak Sistem Dua
fluida yang berbeda menunjukan adanya hukum Fluida. HFI Journal. 2014.
III Newton yang bekerja. Sedangkan melalui
prinsip usaha-energi didapatkan bahwa sistem
Afni Kumala Wardani*
tidak melakukan usaha meski ada perpindahan. Program Studi Magister Pengajaran Fisika
Konsep fluida statik menjelaskan bahwa larutan Institut Teknologi Bandung
garam dengan kerapatan lebih besar dibanding wardani.k.afni@gmail.com
air tawar memiliki tekanan hidrostatis yang lebih
besar. Akibatnya fluida akan mengalir dari Marati Husna
tekanan tinggi ke tekanan rendah. Dinamika fluida Program Studi Magister Pengajaran Fisika
memenuhi hukum kekekalan energi mekanik yang Institut Teknologi Bandung
dirumuskan oleh persamaan Bernaulli. maratihusna@gmail.com

Ucapan Terimakasih Ely Rismawati


Program Studi Magister Pengajaran Fisika
Peralatan percobaan dan tangki kanal air Institut Teknologi Bandung
ely_risma@yahoo.com
perambatan gravity current yang digunakan
dalam penelitian ini merupakan hibah Penelitian
Acep Purqon
Stranas Tahun Pertama dengan dana berasal dari
Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Institut Teknologi Bandung
Masyarakat (Litabmas), Direktorat Jenderal acep.purqon@gmail.com
Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
yang diberikan kepada tim peneliti melalui SP3

ISBN 978-602-19655-7-3 38
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Hukum Ketiga Newton sebagai Akibat Konsistensi Penskalaan, dan


Suatu Pertimbangan Metafisika
Aloysius Rusli

Email: arusli@unpar.ac.id

Abstrak
Hukum Ketiga Newton biasanya ditampilkan sebagai asumsi atau “hukum”, yang lalu menjadi titik tolak
perhitungan dalam soal-soal mekanika. Hukum ini dapat disebut asumsi, karena tiada jaminan bahwa hukum
ini akan terus bertahan di masa depan. Dalam bukunya pada tahun 1686, Philosophiae Naturalis Principia
Mathematica, Isaac Newton mengajukan penjelasan-pembenaran hukum ini dengan memanfaatkan Hukum
Pertama dan Keduanya tentang gerak. Makalah ini hendak menampilkan hukum ini sebagai suatu
konsekuensi asumsi lain, yaitu “penskalaan” (scalability). Penskalaan dapat dipandang sebagai asumsi yang
lebih mendasar, yaitu bahwa perilaku gerak benda-benda kecil maupun besar, dalam wilayah klasik-non-
kuantum, dapat dinyatakan dengan aturan yang sama, dalam hal ini “Hukum” Kedua Newton. Asumsi
penskalaan ini mulai termasuk wilayah metafisika, yaitu wilayah yang tidak membatasi diri pada hal yang
terukur seperti fisika, melainkan membuka diri untuk hal-hal yang tidak atau belum terukur tetapi yang masih
tetap dapat dianalisis dengan penalaran (rasio, reason), yang dapat bersifat interpretatif atau pemaknaan
(meaning). Contoh asumsi sejenis ini, tetapi sudah tergolong terukur-kuantitatif, misalnya asumsi “kekekalan
energi”. Penskalaan belum dapat dibuktikan kebenarannya secara terukur-kuantitatif, tetapi dapat dianggap
selaras dengan asumsi metafisika lain, yaitu kesederhanaan-kehematan-kekompakan-keindahan-
konsistensi sifat fisika jagad raya ini. Beberapa pertimbangan yang mendukung penggantian asumsi ini
ditawarkan.

Kata-kata kunci: Hukum Ketiga Newton, Penskalaan, Metafisika

Tampak bahwa pada saat yang ditunjukkan


Pendahuluan gambar ini, benda 1 yang bermuatan q1
Hukum Ketiga Newton biasanya dipandang (dianggap positif) akan menimbulkan medan
sebagai suatu aturan alam yang mutlak berlaku, magnet B di posisi benda 2, sehingga pada
yang tidak lagi memerlukan pembuktian. benda 2 timbul gaya Lorentz F2. Sebaliknya,
Setidaknya hal ini efektif untuk menghitung- pada saat itu, benda 1 tidak mengalami medan
meramalkan perilaku gerak benda-benda yang magnet oleh benda 2, sehingga tentu juga tidak
hanya berinteraksi dengan tumbukan, gesekan, akan mengalami gaya Lorentz. Maka jelas
dan/atau gaya gravitasi. Akan tetapi kalau ada bahwa Hukum III Newton tidak terpenuhi pada
muatan listrik pada benda-benda, akan timbul kasus ini.
medan listrik dan medan magnet, dan gaya Biasanya Hukum II Newton dianggap berlaku
Coulomb serta Lorentz. Ternyata lalu Hukum bagi benda kecil. Kalau kemudian ditinjau 2 atau
Ketiga Newton tidak terpenuhi, seperti lebih benda kecil, biasanya Hukum III Newton
ditunjukkan dengan soal latihan sederhana digunakan untuk menunjukkan bahwa himpunan
nomor 19 di akhir bab 11, di buku Fisika Dasar dua atau lebih benda juga menaati Hukum II
Francis Weston Sears jilid Electricity and Newton, dengan bantuan keberlakuan Hukum III
Magnetism [1], kalau momentum atau sifat Newton.
partikel medan-medan itu diabaikan:
Makalah ini hendak menampilkan cara
q1 1 pandang berbeda, yaitu bukannya
v1 mengasumsikan keberlakuan Hukum III Newton,
untuk menunjukkan keberlakuan Hukum II
v2 Newton bagi sistem dua benda, melainkan
F2 2 bahwa dapat digunakan asumsi 'Penskalaan'
tentang Hukum II Newton, untuk justru lalu
q2 XB

ISBN 978-602-19655-7-3 39
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

membuktikan kebenaran (atau diperlukannya) bukannya asumsi keberlakuan Hukum III


Hukum III Newton. Newton, melainkan dengan menggunakan
asumsi keberlakuan suatu ’Penskalaan’ dalam
Sesudah itu, dibahas argumentasi orisinal
alam ini, yaitu bahwa dalam kawasan
Newton untuk membenarkan Hukum III yang
makroskopik-klasik (ukuran > ~100 nanometer,
diperkenalkannya itu, dan juga konsep
yaitu di luar kawasan mekanika kuantum) benda
'Penskalaan'. Akhirnya juga dibahas
dan sistem benda menaati aturan alam yang
status keberlakuan suatu hukum alam ataupun
sama, baik untuk benda berukuran kecil sampai
asumsi fisika, untuk menunjukkan bahwa
ke benda yang berukuran amat sangat besar.
pertimbangan metafisika biasanya digunakan di
Asumsi ’Penskalaan’, ’scalability’, ini akan
situ. Definisi bagi ’metafisika’ yang digunakan
dibahas kewajarannya di bawah.
adalah [2], suatu pertimbangan yang didasarkan
pada suatu asumsi atau andaian atau hipotesis, Jika asumsi ini digunakan, maka keberlakuan
yang menaati konsistensi dengan data dan Hukum II Newton ditegaskan sebagai tentu
penalaran, tetapi yang tidak membatasi diri pada berlaku juga bagi sistem dua benda di atas, dan
hal-hal yang dapat diukur. Makalah ini ditutup kalau digunakan pula konsep titik pusat massa
dengan catatan, bahwa dengan demikian, hal (= posisi rata-rata sistem benda) dan turunannya
ihwal ilmu dan iman menjadi selaras atau berupa kecepatan tpm (titik pusat massa)
sejenis, yaitu karena keduanya didasarkan pada ataupun kecepatan rata-rata sistem, dan
asumsi yang sering bersifat metafisika, dengan percepatan tpm ataupun percepatan rata-rata
metafisika berdefinisi seperti tersebut di atas. sistem, maka dapat disimpulkan bahwa haruslah
Karena itu, patutlah gejala iman, seperti halnya jumlah kedua gaya internal fn itu bernilai nol. Hal
ilmu, ditelusuri asumsi maupun konsekuensinya, ini menyatakan bahwa asumsi ’Penskalaan’ itu
dan diteliti sejauh apa terdapat (atau tidak telah menghasilkan Hukum III Newton sebagai
terdapat) inkonsistensi antara ilmu dan iman, konsekuensi. Jadi sebenarnya tinggal memilih,
sama dengan upaya rutin dalam ilmu, yang terus apakah hendak mengakui Hukum III Newton
menerus mempertanyakan asumsi-asumsi yang sebagai aturan dasar alam, ataukah
digunakan, untuk makin mendekati apa yang mengakui ’Penskalaan’ sebagai suatu prinsip
disebut benar (= konsisten dengan data, realitas) yang dianut alam.
dalam jagad raya ini.
Konsep titik pusat massa
Cara pandang Newton
Tampak bahwa kedua cara pandang di atas
Cara yang biasa ditemui dalam buku-buku sama-sama bertumpu pada asumsi pula, yaitu
Fisika Dasar adalah sebagai berikut: asumsi keberlakuan konsep rata-rata dalam
alam, dalam hal ini posisi rata-rata massa
F1 F2
sistem,
m1 f1 m2 f2
Xtpm = Xrata-rata =  mn xn /  mn
Tinjaulah dua benda pada gambar di atas, yang
yang dengan konsep turunan (diferensiasi)
untuk sederhananya dianggap bergerak dalam 1
menghasilkan pula bentuk serupa bagi vtpm dan
dimensi saja. Kedua gaya itu mengalami gaya Fn
atpm.
dari luar sistem dua benda ini (’gaya eksternal
pada sistem’), misalnya gaya gravitasi, dsb, dan Dapat disimpulkan bahwa konsep rata-rata
juga gaya fn yang ditimbulkan oleh benda dalam alam ini merupakan konsep yang
pertama pada benda kedua, dan sebaliknya berperan penting, yang dapat menghasilkan
(pasangan gaya ’internal’ sistem). kesimpulan atau hipotesis bahwa sifat rata-rata
merupakan representasi absah bagi suatu
Newton kemudian menggunakan asumsi
himpunan benda. Kiranya kesimpulan ini bukan
bahwa Hukum III nya berlaku, sehingga jumlah
hanya tampak berlaku dalam fisika, melainkan
gaya internal fn itu berjumlah nol. Akibatnya,
juga tampak berlaku di lingkungan ilmu sosial,
dapat disimpulkan bahwa resultan kedua gaya
dan mungkin juga berlaku di lingkungan
eksternal Fn itu dapat ditulis = massa total kedua
pengetahuan lain seperti misalnya agama.
benda dalam sistem itu, dikalikan percepatan
rata-rata sistem itu. Maka dikatakan bahwa
Hukum II Newton juga berlaku bagi suatu sistem Pembenaran Newton bagi Hukum III Newton
benda, berkat keberlakuan Hukum III Newton itu. Dari terjemahan ke Bahasa Inggris modern
oleh S Chandrasekhar [3] bagi buku Principia
Cara pandang ’Penskalaan’ (nama lengkapnya: Philosophiae Naturalis
Prnicipia Mathematica) yang ditulis Isaac
Cara berbeda yang diajukan dengan makalah
Newton pada rentang tahun 1685-1686, dapat
ini adalah, bahwa pembahasan sistem benda di
dibaca scholium (artinya: komentar, interpretasi,
atas juga dapat dilakukan dengan menggunakan

ISBN 978-602-19655-7-3 40
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

bukti) yang ditulis Newton di halaman 32-33 [3] dengan ’Penskalaan’, yang diasumsikan oleh
bagi Hukum III itu sbb (agak dipersingkat): Karl Weissenberg sebagai juga berlaku dalam
Tinjaulah bola Bumi FI yang sedang diam, bidang reologi, walaupun dengan catatan-
karena dianggap tidak sedang mengalami gaya catatan kualitatif tertentu.
dari luarnya. Lalu tinjaulah potongannya EGF
Filosof dan rahib William (~tahun 1287–1347)
dan HKI:
dari desa Ockham di Inggris, terkenal karena
E H mengajukan suatu kesimpulan metafisis, yang
kemudian disebut sebagai “Ockham’s atau
Occam’s Razor” (“pisau Ockham”), bahwa kalau
F I ada beberapa interpretasi tentang suatu gejala,
maka yang biasanya lebih benar adalah
interpretasi yang lebih umum, sederhana, hemat,
G K kompak, indah, konsisten. [5]
Sekiranya EGF dan HKI saling tarik dengan Maka ajuan ’Penskalaan’ kiranya menjadi
gaya yang berbeda, misalnya HKI tertarik ke kiri cukup wajar pula.
dengan gaya lebih besar, tentulah bagian yang
terjepit di tengah mereka, EGKH, akan terdorong Hasil dan diskusi
ke kiri pula walaupun memang tertahan oleh
Dapat dikatakan bahwa sejumlah asumsi
gaya ke kanan oleh bagian EGF; akibatnya
tentang fisika ini, merupakan hipotesis yang
ketiga potong itu bersama akan bergerak
diharapkan benar, walaupun sulit diperiksa
dipercepat, menurut Hukum II, ke kiri. Tentulah
kebenaran dan keberlakuan serta rentang
ini tidak masuk akal, dan juga bertentangan
keberlakuannya, kecuali secara empiris sampai
dengan kenyataan Hukum I yang menegaskan
sejauh teramati sampai saat ini. Contoh lain
bahwa bola Bumi itu harusnya tetap diam seperti
adalah konsep / asumsi kekekalan energi,
semula. Kesimpulannya: kedua gaya tarik
konsep entropi, konsep momentum sudut, dsb.
tersebut sama besar, dan berlawanan arah.
Yang dialami adalah, bahwa asumsi-asumsi itu
Tampak bahwa pembenaran oleh Newton
selama ini berlaku, tanpa dapat dijamin bahwa
bersifat intuitif-kualitatif, dan menggunakan
keberlakuannya akan kekal.
Hukum I dan II nya. Maka argumentasi alternatif
berupa asumsi keberlaku-an ’Penskalaan’ yang Contoh lain pula adalah kalau dibandingkan
diajukan dalam makalah ini kiranya juga dapat pola ilmu dan pola iman. Dalam studi tentang ini
dipertimbangkan. [6] disimpulkan bahwa kedua pola ini serupa
pula, sama-sama berdasarkan data, penalaran,
Pertimbangan Metafisika dan konsistensi dengan realita. Perbedaannya
adalah, bahwa ilmu mensyaratkan pengukuran
Asumsi-asumsi tersebut di atas, kiranya
konkret, sedangkan iman seperti juga filsafat,
tampak merupakan asumsi yang terkadang agak
tidak dapat mensyaratkan pengukuran, jadi
sulit diukur, misalnya asumsi ’Penskalaan’ agak
bersifat metafisis, karena yang didalami bersifat
sulit diukur kebenaran dan keberlakuannya
non-material tetapi diasumsikan juga akan
dengan eksperimen. Sifat asumsi fisika ini dapat konsisten dengan kenyataan.
dikatakan tergolong dalam bidang non-fisika,
atau dalam bidang metafisika, yang definisinya
Kesimpulan
telah dikemukakan di awal makalah ini.
Dapat disimpulkan bahwa Hukum III Newton
Dalam statistika, juga dianut asumsi
merupakan suatu asumsi yang memang subur,
metafisis, bahwa kesimpulan dari suatu ujicoba
efektif dampaknya berupa konsistensi dengan
pada skala kecil, juga akan berlaku bagi
realita. Ajuan makalah ini, bahwa Hukum III ini
populasi, asalkan keadaannya serupa.
dapat juga dianggap sebagai suatu konsekuensi
Juga dalam teknologi dijumpai praktek- asumsi yang lebih luas, yaitu
praktek, bahwa sebelum melaksanakan suatu asumsi ’Penskalaan’, telah dicoba
proyek besar, mula-mula diujicobakan pilot diargumentasikan pembenarannya. Semoga
project berskala kecil, untuk melihat sejauh apa makalah ini dapat mengkontribusikan kesadaran
proses besar yang dirancang, dapat terealisasi tentang status metafisis asumsi atau hipotesis
pada skala yang lebih kecil. Asumsi metafisis dalam ilmu, termasuk fisika, dan juga dapat
yang tersirat adalah, bahwa perilaku pada skala menyadarkan bahwa iman yang merupakan
kecil, juga akan berlaku pada skala yang lebih fenomena yang amat meluas dan berpengaruh
besar. dalam masyarakat sedunia ini, juga merupakan
suatu ihwal metafisika yang cukup selaras
Skoglund [4] juga membahas dengan realita pula. Kalau begitu, kiranya dapat
konsep ’Similitude’ yang berintisari sama
juga diasumsikan bahwa ilmu dan iman dapat

ISBN 978-602-19655-7-3 41
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

saling melengkapi dan memperkaya khazanah


yang berlandaskan penalaran dan konsistensi,
dengan tetap dijaga otonomi metode kerja
masing-masing, yang sudah dapat cukup
mantap itu.

Ucapan terima kasih


Penulis mengucapkan terima kasih atas
dukungan finansial Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas
Katolik Parahyangan, yang memungkinkan studi
tentang ilmu dan iman, dan presentasi hal yang
juga mengait dengan hal itu, pada Seminar
Kontribusi Fisika 2014, 17-18 November 2014, di
Aula Barat Institut Teknologi Bandung.

Referensi
[1] Francis W Sears, "Electricity and
Magnetism", Addison-Wesley, Reading,
Massachusetts, 1972
[2] A Setyo Wibowo, “Heidegger: Melampaui
Metafisika”, BASIS tahun 63:9-10 (2014)
24-28
[3] S Chandrasekhar, “Newton’s Principia for
the Common Reader”, Clarendon Press,
Oxford, 1995
[4] V J Skoglund, “Similitude”, International
Textbook Co., Scranton, Pa, 1967; dalam
P U A Grossman, “The Role of Similitude in
Continuum Mechanics – One of Karl
Weissenberg’s conceptions viewed after a
quarter of a century”, dimuat dalam “Karl
Weissenberg – 80th Birthday Celebration
Essays”, John Harris (editor),
http://weissenberg.bsr.org.uk (20 November
2014)
[5] Roald Hoffmann, Vladimir I. Minkin, & Barry
K. Carpenter, “Ockham's Razor and
Chemistry”, HYLE — International Journal
for Philosophy of Chemistry, Vol. 3, pp. 3–
28, (1997), http://en.wikipedia.org/wiki/
Occam%27s razor (15 November 2014)
[6] A Rusli, “Dialog Ilmu dan Iman: Suatu
Pendekatan dan Cara Realisasinya –
Tahap 4”, Laporan Penelitian LPPM
Universitas Katolik Parahyangan (2014)

Aloysius Rusli
Jurusan Fisika,
Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS),
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung 40141
Email: arusli@unpar.ac.id

ISBN 978-602-19655-7-3 42
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Konsep Reaktor Nuklir Modular Berspektrum Neutron Cepat Dan


Bermobilitas Tinggi Dengan Temperatur Kerja Yang Tinggi Serta
Pendingin Helium
Andrew.I.Samosir dan Zaki Suud

Email: gus4ndrew@gmail.com

Abstrak

Kemajuan industri dan pertumbuhan penduduk dunia di abad ke-21 ini mengakibatkan pertumbuhan
permintaan energi yang eksponensial. Namun, biaya dan keramahan lingkungan dari pembangkit energy
konvensional saat ini juga masih terbilang buruk. Pembangkitan energi alternatif yang murah, massal, dan
ramah lingkungan adalah pembangkit energi tenaga nuklir. Permasalahan dari pembangkitan energi tenaga
nuklir saat ini adalah ukuran reaktor nuklir yang besar dan kompleks, Capital Investment (CI) yang besar,
serta utilitasnya yang terbatas. Solusinya adalah membuat reaktor nuklir bermoda Fast Breeder, bekerja
dengan tekanan dan suhu yang tinggi pada siklus termal Brayton untuk efisiensi termal yang lebih tinggi,
berdimensi kecil, dapat diangkut oleh moda transportasi seperti kereta api, dan memiliki desain modular. Kita
menggunakan SRAC untuk mensimulasikan reaktor modular berspektrum cepat dan berpendingin gas yang
beroperasi pada suhu tinggi untuk optimasi keluaran dan karakteristik inti reaktor, serta menggunakan
material ringan untuk mencapai massa reaktor yang lebih rendah. Hasil menunjukkan bahwa reaktor
tersebut dapat dibuat dengan masa isi ulang reaktor selama 15 tahun, dengan keluaran 220 MW termal atau
112.3233425 MW elektrik, dengan dimensi reaktor sebesar 3.9 meter untuk panjang dan lebar, serta 9.2
meter untuk tinggi reaktor, dan kandungan U-235 dalam bahan bakar sebesar 6.25 %, pada massa total
reaktor sebesar 293.23 ton.

Kata Kunci: Gas Cooled Nuclear Fast Reactor, Modular Nuclear Reactor, Mobile Reactor.

Pendahuluan termal 33%)


Rentang antar waktu 15 (tahun)
V.Dostal, A.K Rivai, dan M. Takahashi isi ulang bahan bakar
dalam A rail transportable lead-bismuth cooled Fuel Enrichment of Pu 11% internal, 13 %
reactor [2] mengajukan reaktor nuklir yang ekstrenal.
modular dan dapat diangkut secara mudah dan Bahan Bakar Plutonium Nitrida
utuh. Idenya, reaktor nuklir dapat dioperasikan Coolant Pb-Bi
seperti tabung gas LPG. Reaktor yang sudah Cladding dan Struktur SUS 430
habis bahan bakarnya dapat ditukar dengan Diameter 3//3.85
reaktor yang berbahan bakar baru. Atau reaktor Reaktor//Tinggi
yang rusak dapat ditukar dengan reaktor yang Reaktor (m)
baru, dan reaktor yang rusak dapat dibawa ke Suhu Input 350
bengkel untuk perbaikan. Suhu Output 366
Massa Reaktor 300 ton
Adapun karakteristik dan spesifikasi reaktor
yang dihasilkan sebagai berikut:
Namun, reaktor ini masih memiliki banyak
kelemahan. Antara lain, effisiensi konversi termal
Tabel 1. Karakteristik dan spesifikasi reaktor
yang rendah, coolant yang digunakan adalah
nuklir yang diajukan pada A rail transportable
logam cair Pb-Bi, fuel enrichment yang tinggi,
lead-bismuth cooled reactor.
serta utilitas yang terbatas. Adapun penelitian ini
bertujuan mengoptimasi desain di atas dengan
Karakteristik Spesifikasi menanggulangi kelemahan-kelemahan yang
Daya Termal (MWt) 50 ditemui.
Daya Elektrik (MWe) 15 (Siklus Rankine Teori
dengan efisiensi

ISBN 978-602-19655-7-3 43
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

MWth. Average Density Power yang didapatkan


Secara teoritis, effisiensi konversi termal adalah 35.8089 W/cc
dapat ditingkatkan dengan meningkatkan suhu Dimensi inti reaktor yang didapat adalah
keluaran reaktor. Untuk mencapai suhu tinggi panjang 3,6 m, lebar 3.6m, dan tinggi 5,2 m.
dan konversi termal dengan optimal, digunakan Adapun ketebalan reflektor atap dan alas
siklus Brayton dengan Coolant gas Helium, gas masing-masing 40 cm. Ketebalan shielding atap
mulia yang inert. Coolant ini digunakan karena dan alas masing-masing 100 cm. Ketebalan
memiliki cross section yang rendah, tahan reflektor samping 40 cm dan ketebalan shielding
irradiasi, serta fase yang tetap di segala tingkat samping 60 cm. Tinggi bahan bakar 120 cm dan
suhu kerja reaktor. lebarnya 80cm. Bentuk susunan dari mesh-mesh
Effisiensi konsumsi bahan bakar dapat tersebut sama seperti pada gambar 1 dan 2.
ditingkatkan dengan konsep Reaktor FBR.
Reaktor FBR memiliki rasio konversi energi yang 3 3 3 3 3 3 3 3 3
lebih tinggi untuk setiap gram bahan bakar nuklir 3 3 3 3 3 3 3 3 3
daripada reaktor biasa. Hal ini membantu 3 3 3 3 3 3 3 3 3
pengecilan fuel enrichment dan perpanjangan
2 2 2 2 2 2 3 3 3
waktu refueling reaktor.
Untuk reflektor digunakan Berillium. 2 2 2 2 2 2 3 3 3
Berillium memiliki massa jenis yang rendah 1 1 1 1 2 2 3 3 3
namun memiliki tingkat kekakuan yang tinggi [8], 1 1 1 1 2 2 3 3 3
membuat material ini dapat digunakan dalam 1 1 1 1 2 2 3 3 3
struktur bejana yang ringan. Berillium memiliki 1 1 1 1 2 2 3 3 3
tingkat neutron scattering [4], membuatnya
menjadi material yang dapat bekerja dengan Gambar 1. Gambar penampang 1/8 reaktor,
baik sebagai reflektor neutron. dengan ujung kiri bawah adalah pusat reaktor.
Untuk shielding digunakan Boron Karbida Mesh 1 adalah mesh bahan bakar, mesh 2
(B4C). Berillium memiliki massa jenis yang adalah reflektor, dan mesh 3 adalah shielding.
sangat rendah dan memiliki kekuatan dan
ketahanan material yang mendekati intan [9], 3 (shielding atap)
membuatnya sangat baik untuk menjadi bahan 2 (reflektor atap)
struktur bejana reaktor yang kuat dan ringan.
3 2 1 2 3
Ditambah dengan tingkat neutron absorption nya
(shieldi (reflekt (baha (reflekt (shieldi
yang sangat tinggi [4], material ini merupakan
ng or n or ng
material shielding yang ideal (ringan dan kuat).
sampin sampin bakar sampin sampin
Kemudian untuk material bejana reaktor
g) g) ) g) g)
nuklir umumnya digunakan baja, khususnya baja
2 (reflektor alas)
jenis SAE 316. Namun karena pertimbangan
3 (shielding alas)
penghematan massa, digunakan logam titanium.
Untuk bejana reaktor ini digunakan titanium
Grade 23 (Ti-6Al-4V ELI or Grade 5 ELI). Gambar 2. Gambar inti secara aksial. Mesh 1
Sistem komputasi yang digunakan untuk adalah mesh bahan bakar, mesh 2 adalah
simulasi konsep reaktor ini adalah SRAC. SRAC reflektor, dan mesh 3 adalah shielding.
adalah sistem simulasi neutronik pada reaktor
yang cukup komprehensif. Dilengkapi oleh 3.50E-03
U-
database JENDL yang sangat lengkap tentang 3.00E-03 235
berbagai jenis material dan penggunaan nya 2.50E-03 Pu-
yang sudah teruji [10], Adapun model kalkulasi 238
reaktor yang dilakukan dengan SRAC adalah 2.00E-03 Pu-
CITATION. 1.50E-03 239
Pu-
1.00E-03 240
Hasil dan Diskusi
5.00E-04 Pu-
Pada simulasi ini, hasil optimal simulasi 241
0.00E+00
teras didapatkan dengan enrichment 6.25% dan
0.00E+00 2.00E+03 4.00E+03 6.00E+03
suhu coolant pada 1000oC. Geometri yang
digunakan adalah Square cylinder divided by
concentric annuli, dengan jari-jari bahan bakar Grafik 1. Perubahan Berbagai Material Fisil dan
0.8 cm, jari-jari cladding 0,9 cm, dan panjang sisi non Fisil Terhadap Waktu (Absis x dalam satuan
cell 2 cm. Daya reaktor ditetapkan pada 220 hari, Absis y dalam satuan 1024 Partikel/cc)

ISBN 978-602-19655-7-3 44
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Densitas Neutron Arah Planar Kapasitas Elektrik 112.3233425 MWe


(Maksimum)
Kapasitas Termal 220.0101376 MWth
1.00E+12
Coolant Hellium
1.00E+08
Core outlet 1000 0C
1.00E+04 temperature

1.00E+00 Core input 350.0562 OC


0.00E+005.00E+011.00E+021.50E+022.00E+02 temperature
Siklus Brayton Cycle
Grafik 3. Perubahan Densitas Neutron Terhadap Termodinamika
Mesh Planar (Absis x merupakan mesh (dari
pusat ke tepi), absis y dalam satuan neutron/cc Fuel Material U235-U-238
dalam skala logaritmik)
Fuel Enrichment 6.25 %
Densitas Neutron Arah Aksial (Maksimum)
Rentang antar 15 tahun
1.00E+12 waktu isi ulang
Densitas
Neutron bahan bakar
1.00E+08
Arah
Aksial Bobot Reaktor 293.23 ton
1.00E+04
(Maksimu
m)
1.00E+00 Dapat dilihat bahwa reaktor hasil simulasi diatas
0.00E+00 1.00E+02 2.00E+02 3.00E+02 memiliki keunggulan sbb:
1. Reaktor ini lebih ringan dan lebih kecil
Grafik 4. Perubahan Densitas Neutron Terhadap dimensinya
Mesh Planar (Absis x merupakan mesh (dari 2. Efisiensi konversi energi yang tinggi
pusat ke tepi), absis y dalam satuan neutron/cc 3. Dapat bekerja dengan bahan bakar yang
dalam skala logaritmik) persentase fisilnya rendah.
4. Dapat digunakan pada berbagai mesin
Faktor Multiplikasi Neutron (K-Inf)
berbasis uap yang sudah dikenal
1.5 industri.
5. Memiliki Fuel Cycle yang lebih lama.
6. Dapat memproduksi Bahan Bakar Nuklir
1 baru (Pu-239 sebesar 5%)
Faktor
Multiplikasi 7. Limbah nuklir tak terdaur ulang yang
0.5 Neutron (K- dihasilkan sangat sedikit.
Inf) 8. Tahan lama akibat minimnya korosi
akibat coolant.
0 9. Keluaran daya reaktor jauh lebih besar.
0.00E+00 2.00E+03 4.00E+03 6.00E+03
Kesimpulan
Grafik 5. Perubahan Kinf Terhadap Waktu (Absis
x dalam satuan hari) Hasil simulasi menunjukkan feasibilitas desain
reaktor di atas dan memiliki karakteristik seperti
Tabel 2. Spesifikasi Reaktor hasil simulasi. pada tabel 1. Mobilitas dan multifungsi dari
reaktor ini, ditambah daya yang dihasilkan cukup
Jenis Reaktor High Temperature GCFR besar, serta rentang antar waktu isi ulang bahan
bakar yang cukup lama membuat reaktor ini
Dimensi Total Panjang 3.9 m, Lebar 3.9 ideal untuk menyediakan energi di daerah yang
grid-nya terpisah satu sama lain, dan dapat
m, Tinggi 9.3 m.
diangkut oleh kereta api.

ISBN 978-602-19655-7-3 45
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Ucapan Terima kasih


Zaki Su’ud
Penulis mengucapkan terima kasih atas
Nuclear Physics and Biophysis Research
Laboratorium Fisika Nuklir ITB atas dukungan
Division
fasilitas dan finansialnya pada penelitian ini.
Institut Teknologi Bandung
szaki@fi.itb.ac.id
Referensi
[1]. STATUS OF SMALL AND MEDIUM SIZED *Corresponding author
REACTOR DESIGNS. http://aris.iaea.org
[2]. Dostal, V. Rivai, A.K. Takahashi, M. A rail
transportable lead-bismuth cooled reactor.
Proceedings of the Second COE-INES
International Symposium.
[3]. D. Sapundjiev, et al. Liquid metal corrosion
of T91 and A316L materials in Pb–Bi
eutectic at temperatures 400–600 °C.
Corrosion Science Vol.48 March 2006
[4]. Duderstadt, E. 1982. Nuclear Reactor
Analysis. USA: Pergamon Press.
[5]. Status of Small dan Medium Sized
Reactors. September 2012. IAEA
[6]. Alan E. Waltar, Albert B. Reynolds. 1981.
Fast Breeder Reactors. USA: Pergamon
Press.
[7]. Ma, Benjamin. Nuclear Reactor Materials
and Applications. Van Nostrand Reinhold
Co, 1983
[8]. Jakubke, Hans-Dieter; Jeschkeit, Hans,
eds. (1994). Concise Encyclopedia
Chemistry. trans. rev. Eagleson, Mary.
Berlin: Walter de Gruyter.
[9]. Alan W. Weimer (1997). Carbide, Nitride
and Boride Materials Synthesis and
Processing. Chapman & Hall (London, New
York).
[10]. Okumura, et al. SRAC (Ver. 2002) The
comprehensive neutronics calculation code
system
[11]. Chattopadhyay, Somnath. Pressure
Vessels: Design and Practices. CRC Press
[12]. http://www.makeitfrom.com/material-
properties/
[13]. Integrity of Reactor Pressure Vessels in
Nuclear Power Plants: Assessment of
Irradiation Embrittlement Effects in Reactor
Pressure Vessel Steels. IAEA.

Andrew.I.Samosir*
Nuclear Physics and Biophysis Research
Division
Institut Teknologi Bandung
gus4ndrew@gmail.com

ISBN 978-602-19655-7-3 46
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pemanfaatan Sensor Warna Berdasarkan Warna Dasar RGB


Menggunakan LDR untuk Menentukan Nilai Mata Uang

Asep Saefullah, Widya Rika Puspita, Leni Aziyus Fitri, Mairizwan, M. Sainal Abidin, Hendro

Email : asep.eful14@ovi.com

Abstrak
Sensor cahaya berupa fotoresistor atau Light Dependent Resistor (LDR) dapat dipergunakan sebagai
sensor warna untuk mendeteksi nilai uang. LDR digunakan sebagai penangkap pantulan gelombang cahaya
Red, Gren, Blue (RGB) yang dipancarkan oleh Light Emitting Diode (LED). Semakin besar intensitas cahaya
yang ditangkap oleh LDR, semakin kecil nilai resistansi LDR. Besar kecilnya nilai resitansi LDR berpengaruh
pada besar kecilnya nilai tegangan keluaran. Hasil pembacaan sensor warna adalah berupa data tegangan
keluaran. Untuk setiap nilai uang, data tegangan keluaran dicatat dan dibuat bahasa pemrogramannya, dan
dikembalikan lagi dalam bentuk keluaran berupa besar nilai uang.
Kata-kata kunci: LDR, LED RGB, sensor warna, nilai uang.
sensor berupa nilai tegangan keluaran. Oleh
Pendahuluan karena itu, sensor warna menggunakan LDR
Setiap warna tersusun atas warna dasar. dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi nilai uang
Untuk cahaya, warna dasar penyusunnya adalah berdasarkan perbedaan tegangan keluaran dari
merah, hijau, dan biru atau lebih dikenal dengan kombinasi warna dasar RGB pada masing-
istilah Red, Gren, Blue (RGB) [1]. Alat masing nilai uang.
pendeteksi warna berdasarkan warna dasar
RGB dapat dibuat dengan memanfaatkan LED Teori
sebagai sumber cahaya dan LDR sebagai LED superbright RGB digunakan pada
penangkap pantulan cahaya yang dipancarkan rangkaian sensor warna sebagai alat yang dapat
LED [2]. Ulwi [2] menyimpulkan bahwa sensor memancarkan cahaya merah, hijau, dan biru
warna menggunakan LDR berfungsi dengan baik secara bergilir. Pada penelitian ini, LED
untuk mendeteksi warna. Ini berarti, LDR superbright RGB yang digunakan adalah LED
sebagai sensor cahaya dapat dipergunakan berdiameter 5 mm dengan 4 buah kaki. Kaki
sebagai sensor warna. LED terdiri dari red cathode (katoda merah),
Setiap mata uang memiliki corak warna common anode, green cathode (katoda hijau),
tertentu, termasuk mata uang rupiah. Masing- dan blue cathode (katoda biru) [5].
masing mata uang rupiah memiliki corak warna
yang berbeda. Ada yang memiliki corak warna
merah, biru, hijau, abu-abu, dan corak warna
lainnya (Gambar 1). Perbedaan corak warna
tersebut tentu dihasilkan dari perbedaan
kombinasi warna dasar RGB yang berbeda.

4
1
3
2

Gambar 2. LED superbright RGB 5 mm [5].

Cahaya yang dipancarkan LED akan


. mengalami pemantulan ketika cahaya tersebut
Gambar 1. Corak warna mata uang rupiah. mengenai objek berupa uang dan cahaya hasil
pemantulan akan ditangkap oleh LDR.
Perbedaan kombinasi warna dasar RGB pada LDR merupakan jenis resistor yang nilai
uang menyebabkan perbedaan hasil pembacaan resistansinya dapat berubah. Perubahan nilai

ISBN 978-602-19655-7-3 47
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

resistansi pada LDR tergantung dari bahan yang RLDR


digunakan serta kekuatan cahaya yang Vout  Vin . (1)
mengenai LDR. LDR terdiri dari sebuah piringan RLDR  R
bahan semikonduktor dengan dua buah Berdasarkan persamaan 1, semakin kecil
elektroda pada permukaannya (Tim elektronika, nilai resistansi pada LDR, semakin kecil pula
2013). Bahan yang paling umum untuk fabrikasi nilai tegangan keluaran. Sebaliknya, semakin
LDR adalah sulfide (I), kadmium (CdS), dan besar nilai resistansi pada LDR, semakin besar
selenide kadmium (CdSe) [4]. nilai tegangan keluaran. Nilai tegangan keluaran
akan berbeda-beda bergantung pada corak
Clear coating over
entire top surface
warna dasar RGB dari objek pemantul, yaitu
uang. Perbedaan nilai tegangan keluaran inilah
1st elektrode 2nd elektrode
yang dimanfaatkan untuk menentukan nilai
uang.
Arduino Uno dipergunakan menerjemahkan
cold weld
contacts
hasil pembacaan sensor berupa tegangan
Photoconductive
keluaran untuk setiap pecahan uang. Arduino
ceramic material over top
surface
memiliki semua yang dibutuhkan sebagai
mikrokontroller, cukup sambungkan arduino
wire terminals
dengan komputer menggunakan kabel Universal
Serial Bus (USB). Pada penelitian ini,
(a) (b) pengkondisian sinyal untuk pembacaan
Gambar 3. (a) Konstruksi LDR, dan (b) Simbol tegangan keluaran diatur dalam rentang 0
LDR [5]. sampai dengan 5 volt untuk setiap objek uang.

Besar kecilnya intensitas cahaya yang


terpantul bergantung pada warna dasar objek
pemantul, yaitu uang. Mata uang yang dominan
dengan warna dasar merah akan menghasilkan
nilai resistansi yang kecil jika dikenai cahaya
LED warna merah. Mata uang yang dominan
dengan warna dasar biru akan menghasilkan
nilai resistansi yang kecil jika dikenai cahaya
LED warna biru, begitupun untuk mata uang
yang dominan dengan warna dasar hijau.
Nilai resistansi LDR yang berubah-ubah akan
mempengaruhi nilai tegangan keluaran  Vout  .
Vout merupakan tegangan keluaran hasil
Gambar 5. Arduino ATmega 328.
pembagian antara tegangan pada LDR dengan
tegangan pada resistor (R). Arduino merupakan mikrokontroler dengan
basis ATmega 328. Alat ini memiliki 14 input
atau output digital pin, 6 input analog,
16 MHz ceramic resonator, sambungan USB,
𝐕𝐢𝐧 jack atau colokan power, header ICSP, dan
𝐑 sebuah tombol reset [2].
Penelitian ini menggunakan satu buah LDR,
empat buah potensiometer, dan satu buah LED
superbright RGB 5 mm, yang dirangkai
sedemikian menjadi sensor warna (Gambar 7).
𝐕𝐨𝐮𝐭 R1 , R 2 , dan R 3 merupakan potensiometer
𝐑𝐋𝐃𝐑
yang dihubungkan secara paralel.

Gambar 4. Rangkaian LDR [5].

Nilai Vout dapat dihitung dengan menggunakan


persamaan berikut

ISBN 978-602-19655-7-3 48
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

sampel. Hasil pemindaian berupa tulisan


“seratus ribu rupiah” pada layar komputer untuk
pemindaian uang pecahan seratus ribu.
Bertuliskan “lima ribu rupiah” untuk pemindaian
uang pecahan lima ribu, dan seterusnya.

Hasil dan diskusi


Pada penelitan ini, uang kertas yang
dipersiapkan terdiri dari uang kertas dengan
pecahan seratus ribu rupiah, lima puluh ribu
rupiah, dua puluh ribu rupiah, sepuluh ribu
rupiah, lima ribu rupiah, dua ribu rupiah, dan
seribu rupiah.
Dari hasil percobaan terhadap beberapa
uang kertas uji, diperoleh nilai tegangan
Gambar 6. Skematik rangkaian sensor warna. keluaran masing-masing warna dasar RGB
untuk beberapa uang kertas yang diuji.
Prinsip kerja dari sensor warna adalah LED Tabel 1. Tegangan keluaran setiap pecahan
memancarkan cahaya merah, hijau, dan biru uang.
secara bergilir pada objek pemantul berupa
uang. Cahaya hasil pemantulan akan ditangkap Nilai Tegangan (volt)
oleh LDR. Cahaya yang ditangkap LDR
kemudian diterjemahkan oleh arduino uno dalam Uang R G B
bentuk angka-angka bit tegangan keluaran untuk Rp. 100.000 2.96 2.00 2.47
masing-masing warna dasar merah, hijau, dan
biru yang ditampilkan pada serial monitor. Rp. 50.000 1.98 2.07 2.69
Angka-angka bit tegangan keluaran kemudian Rp. 20.000 1.67 1.70 2.07
dikonversi dalam bentuk angka-angka tegangan
Rp. 10.000 2.43 2.04 2.54
potensial.
Prosedur pemanfaatan sensor warna untuk Rp. 5.000 2.54 1.86 2.16
menentukan nilai uang dapat dilihat pada bagan Rp. 2.000 2.21 1.90 2.23
berikut.
Rp. 1.000 3.08 2.82 3.09
Sampel Uang Batas toleransi, 0.196

Dari hasil penelitian, pemanfaatan sensor


Pemindaian Mata Uang warna untuk menentukan nilai uang berfungsi
Menggunakan Sensor Warna cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan cukup
baiknya kinerja sensor warna ketika
dipergunakan untuk mendeteksi nilai uang
Pencatatan nilai Vout RGB, lainnya (diluar uang sampel percobaan).
Terdapat beberapa kendala yang
masing-masing sampel uang menyebabkan sensor warna bekerja kurang baik
sebagai pendeteksi nilai uang, diantaranya :
1. Terdapat mata uang yang memiliki corak
Pembuatan Bahasa warna sama, yaitu uang pecahan Rp.
Pemrograman / Koding 20.000,00 dan uang pecahan Rp. 1.000,00.
Hal ini menyebabkan hasil tegangan keluaran
untuk kedua nilai uang tersebut tidak jauh
Pembacaan Vout pada Serial berbeda yang berakibat pada sulitnya
penentuan nilai tegangan keluaran yang akan
Monitor dituliskan dalam bahasa pemrograman untuk
masing-masing nilai uang tersebut.
2. Kualitas warna dari uang yang mulai
Gambar 7. Bagan cara kerja alat.
memudar (uang lusuh, uang lucek). Hal ini
menyebabkan nilai tegangan keluaran RGB
Setelah melakukan pemindaian terhadap
berbeda antara uang baru dan uang lusuh,
sampel uang dan membuat bahasa
padahal memiliki nilai uang yang sama.
pemrogramannya, sensor warna kemudian
diujikan terhadap beberapa uang lain diluar

ISBN 978-602-19655-7-3 49
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

3. Corak warna yang berbeda pada satu nilai Hendro


uang menyebabkan sensor warna hanya High Energy Theory and Instrumentation
dapat dipergunakan untuk pemindaian pada Faculty of Mathematics and Natural Sciences
bagian tengah uang. Institut Teknologi Bandung
hendro@fi.itb.ac.id
Kesimpulan
Sensor warna berdasarkan warna dasar RGB *Corresponding author
menggunakan LDR dapat dimanfaatkan untuk
menentukan nilai mata uang. Dari hasil
pemindaian terhadap beberapa nilai mata uang,
sensor warna berfungsi dengan baik untuk
menentukan nilai uang.
Penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut
dengan keluaran berupa bunyi dari nilai uang.
Hal ini akan sangat bermanfaat bagi orang yang
memiliki keterbatasan dalam hal penglihatan
untuk mengetahui nilai uang.

Referensi
[1] Novianta, M A “Alat Pendeteksi Warna
Berdasarkan Warna Dasar Penyusun RGB
Dengan Sensor TCS230”, Prosiding
Seminar Nasional Teknoin, 14 November
2009, Yogyakarta, Indonesia.
[2] Ulwi, A S U, 2014. “Alat Sensor Warna
Digital Berbasis Mikrokontroler Arduino
ATMEGA 328”, Tugas RBL Sistem
Instrumentasi, Institut Teknologi Bandung.
[3] Malcolm Plant, Dr Jan Stuart. 1985.
Pengantar Ilmu Teknik Instrumentasi.
Jakarta: Gramedia.
[4] Jacob Fraden. 2003. Handbook of modern
sensors: physics, design, and application.
NewYork: Springer.
[5] Tim Elektronika Dasar. 2013. Petunjuk
Praktikum Elektronika Dasar 1. Jember:
Universitas Jember.
[6] LED-Tech.de Optoelectronics. www.led-
tech.de/en/5mm-LEDs_DB-4.pdf.
[7] Mairizwan, 2014. Pendeteksian Warna
Menggunakan LDR Berdasarkan Warna
Dasar (RGR). Tugas RBL Fisika
Komputasi, Institut Teknologi Bandung.

Asep Saefullah*,
Magisters’s Student
Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Institut Teknologi Bandung
asep.eful14@ovi.com

Widya Rika Puspita, Leni Aziyus Fitri, Mairizwan,


Muh. Sainal Abidin
Magisters’s Students
Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Institut Teknologi Bandung

ISBN 978-602-19655-7-3 50
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Implementasi Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI)


untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa SMP
(Suatu Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VIIIB SMP N 1 Cisarua)

Asep Simbolon, Louise M. Saija

Email : Simbolonasepgabriel98@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa SMP N 1 Cisarua, Bandung Barat. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut perlu
dilakukan suatu pembelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Aptitude Treatment
Interaction (ATI). Model pembelajran Aptitude Treatment Interaction (ATI) merupakan suatu konsep atau
pendekatan pembelajaran (treatment) yang efektif digunakan setiap individu berdasarkan pada level
kemampuan masing-masing. Subjek penelitian ini dilakukan terhadap kelas VIII-B SMP N 1 Cisarua yang
terdiri dari 44 orang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan tiga
siklus. Hasil penelitian dari ketiga siklus tersebut diperoleh sebagai berikut: nilai rata-rata pada siklus I
adalah 57 % dengan persentase kelulusan 27.3%, nilai rata-rata pada siklus kedua adalah 69% dengan
persentase kelulusan 54.5% dan nilai rata-rata pada siklus III adalah 83% dengan persentase kelulusan
81.8%. Berdasarkan hasil peningkatan yang diperoleh dari ketiga siklus bahwa perlu diberikan sebuah
treatment yang efektif sesuai level kemampuan masing-masing siswa untuk dapat mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah matematisnya. Maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
Aptitude Treatment Interaction (ATI) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa SMP.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI), Kemampuan Pemecahan Masalah
matematis

kesulitan dalam menjawab soal-soal matematika


Pendahuluan disebabkan oleh pembelajaran yang diperoleh
Matematika merupakan salah satu mata bersifat individual, satu arah dan berpusat pada
pelajaran yang penting di sekolah karena masuk guru (Saryantono, 2013)[3]. Lebih lanjut lagi,
dalam materi ujian nasional (UN). Matematika Wahyuni et al., (2013) melaporkan kemampuan
mempunyai beberapa indikator kemampuan pemecahan masalah matematis siswa tergolong
matematis salah satunya adalah kemampuan rendah karena kurangnya latihan soal-soal
pemecahan masalah matematis siswa. pemecahan masalah matematika yang bersifat
Kemampuan pemecahan masalah matematis non-rutin[4]. Aktivitas peserta didik yang minim
merupakan kemampuan matematis yang penting dalam pembelajaran membuat siswa menjadi
untuk dilatih karena dapat membentuk proses kurang aktif dan kurang merangsang semangat
berpikir kritis dan meningkatkan kreatifitas siswa belajar siswa di dalam kelas yang dapat
(Barry et al., 2010)[1]. Lebih lanjut, proses mengakibatkan prestasi belajar siswa kurang
berpikir kritis yang dilatih dapat membantu siswa optimal (Setiawan et al., 2014)[5].
dalam menyelesaikan masalah matematika
Hal tersebut ditemukan pada siswa kelas VIII-
dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan
B SMP N 1 Cisarua, Kab. Bandung Barat.
dengan Susanto (2013) memaparkan bahwa
Berdasarkan hasil obervasi dan wawancara
kemampuan pemecahan masalah matematis
kepada guru bidang studi matematika kelas VIII-
siswa dapat membuka proses berpikir daya
B bahwa didapati nilai kemampuan pemecahan
nalar, berpikir logis, sistematis, kitis dan
masalah matematis siswa tergolong rendah dan
kreatifitas siswa[2]. Akan tetapi, kemampuan
aktifitas siswa dalam proses pembelajaran
pemecahan masalah matematis siswa masih
kurang aktif. Berdasarkan uraian masalah di atas
tergolong kurang baik, karena siswa mengalami

ISBN 978-602-19655-7-3 51
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

maka penulis tertarik membuat penelitian masing siswa (tinggi, sedang, dan rendah), (3)
dengan judul “Implementasi Model memberikan treatment kepada setiap kelompok
Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (tinggi, sedang dan rendah) dalam
(ATI) untuk Meningkatkan Kemampuan pembelajaran, (4) siswa dalam kelompok tinggi
Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP”. akan diberikan treatment belajar mandiri (self
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini learning) dengan menggunakan modul-modul
adalah apakah terdapat peningkatan dan buku-buku yang relevan, (5) siswa dalam
kemampuan pemecahan masalah matematis kelompok sedang dan rendah akan diberikan
siswa dengan menggunakan model treatment dengan pembelajaran regular seperti
pembelajaran Aptitude Treatment Interaction biasanya dalam hal ini scientific learning, (6)
(ATI)? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk khusus siswa dalam kelompok rendah akan
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah diberikan special treatment berupa re-teaching
matematis siswa dengan menggunakan model dan tutorial.
pembelajaran Aptitude Treatment Interaction
Metode
(ATI).
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah
Teori
penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan
NCTM (2000) menjelaskan terdapat lima sebanyak 3 siklus. Setiap siklus akan dilakukan
indikator kemampuan matematis siswa yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan,
kemampuan komunikasi, penalaran, koneksi, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini
representasi dan pemacahan masalah[6]. Salah dilaksanakan di SMP N 1 Cisarua, Kab.
satu kemampuan matematis yang diukur dalam Bandung Barat. Subjek penelitian dalam
penelitian ini adalah kemampuan pemecahan penelitian ini adalah siswa kelas VIII-B sejumlah
masalah matematis siswa. Kemampuan 44 orang yang terdiri dari 23 orang siswa laki-laki
pemecahan masalah matematis siswa memiliki dan 21 orang siswa perempuan.
empat langkah-langkah dalam menyelesaikan
Intrumen penelitian yang dilakukan selama
masalah (Polya, 1985)[7] yaitu (1) memahami
pembelajaran adalah berupa (1) rencana
masalah, (2) merencanakan solusi, (3)
pelaksanaan pembelajaran (RPP), (2) lembar
melaksanakan rencana atau perhitungan, dan
kerja siswa (LKS), (3) tes kemampuan
(4) memeriksa kembali.
pemecahan masalah, dan (4) rubrik tes
Untuk meningkatkan Kemampuan kemampuan pemecahan masalah. Intrumen
pemecahan masalah matematis siswa dapat penelitian yang dilakukan melalui tahap diskusi
digunakan dengan penerapan model dan bimbingan bersama pembimbing penelitian.
pembelajaran yang mendorong aktivitas dan Prosedur penelitian yang dilakukan meliputi
menumbuhkan semangat belajar siswa dalam tahap persiapan, pelaksanaan, pengolahan data
menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah dan penarikan kesimpulan.
matematika. Penerapan model pembelajaran
Data hasil pembelajaran yang diperoleh
yang cocok dengan kemampuan masing-masing
setiap siklusnya akan dikumpulkan dan diolah.
siswa juga dapat mengoptimalkan prestasi
Untuk melakukan perhitungan data pada setiap
belajar (Syafruddin, 2005)[8]. Model
siklus (dalam hal ini 3 siklus) dilakukan dengan
pembelajaran yang memiliki ciri khas penerapan
menggunakan rumus Mean atau rata-rata
treatment sesuai dengan kemampuan masing-
(Sudjana, 2008)[9] berikut ini:
masing siswa adalah model pembelajaran
Aptitude Treatment Interaction (ATI).
Model pembelajaran Aptitude Treatment x
x i

Interaction (ATI) merupakan suatu pembelajaran n


dengan perlakuan (treatment) yang efektif Ket:
digunakan pada setiap individu yang memiliki x = Nilai rata-rata
kemampuan berbeda-beda, (Syafruddin, 2005).
Model pembelajaran Aptitude Treatment x i = Jumlah nilai seluruh subjek penelitian
Interaction (ATI) memiliki langkah-langkah yang
sesuai dengan kemampuan masing-masing n = Banyaknya subjek penelitian
siswa (Syafruddin, 2005) yaitu (1) melakukan
Untuk menghitung persentase nilai kelulusan
aptitude testing (tes kemampuan awal) untuk
dari setiap siklus (dalam hal ini 3 siklus) di atas
mengetahui kemampuan awal masing-masing
nilai KKM (sebesar 70%) akan dilakukan dengan
siswa atau kemampuan awal siswa juga dapat
menggunakan rumus berikut ini:
diperoleh dari data nilai-nilai siswa yang tersedia
pada guru bidang studi tersebut, (2) membagi
kelompok berdasarkan kemampuan masing-

ISBN 978-602-19655-7-3 52
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

yang diberikan. Peningkatan kemampuan


Banyaknya siswa lulus KKM pemecahan masalah matematis siswa dari siklus
P 100% I ke siklus II sebesar 12% sedangkan
Banyaknya Subjek Penelitian peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa dari siklus II ke siklus III
sebesar 14%, (2) Persentase kelulusan siswa
Ket:
dalam memecahkan masalah matematis juga
P = Persentase kelulusan
mengalami peningkatan sebesar 27,2% dari
siklus I ke siklus II dan sebesar 27,3% dari siklus
Hasil dan Diskusi II ke siklus III. Dengan demikian implementasi
model pembelajaran Aptitude Treatment
Hasil penelitian yang telah dilakukan
Interaction (ATI) mempunyai potensi yang baik
sebanyak 3 siklus dirangkumkan pada tabel1
dalam meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa.
Tabel 1. Rata-rata Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa Ucapan Terima Kasih

Std. Persentase Pada kesempatan ini penulis ingin


Siklus N Mean Deviasi Kelulusan mengucapkan terima kasih yang sebesar-
I 44 57% 1,5185 27,3% besarnya kepada orang-orang telah membantu
penulis melaksanakan penelitian ini dengan baik
II 44 69% 1,2241 54,5% antara lain seperti:
III 44 83% 1,1118 81,8%
1. Dr. Kartini Hutagaol yang telah memberikan
arahan-arahan dan dukungan moril kepada
Berdasarkan pada tabel 1 di atas bahwa nilai
penulis sehingga penulis dapat
rata-rata kemampuan pemecahan masalah
menyelesaikan penelitian ini dengan baik
matematis siswa pada siklus I sebesar 57%
dan tepat waktu.
dengan persentase kelulusan sebesar 27.3%
2. Sonya F. Tauran, M.Pd, yang telah
dan standar deviasi (simpangan baku) sebesar
memberikan masukan-masukan atas
1,51856. Sehingga dengan demikian nilai rata-
diskusi yang dilakukan untuk pelaksanaan
rata kemampuan pemecahan masalah
penelitian ini sehingga dapat berjalan
matematis siswa pada siklus I masih tergolong
dengan baik.
kurang baik dan masih beragam walaupun relatif
3. Mastha Hutajulu, M.Pd, yang telah
kecil.
memberikan motivasi, masukan dan
Nilai rata-rata kemampuan pemecahan dukungan moril dalam pelaksanaan
masalah matematis siswa pada siklus II sebesar penelitian ini sehingga penelitian dapat
69% dengan persentase kelulusan sebesar berjalan dengan sukses.
54,5% dan standar deviasi sebesar 1,2241. 4. Teman-teman kelas matematika angkatan
Sehingga dengan demikian nilai rata-rata 2011 yang telah memberikan semangat
kemampuan pemecahan masalah matematis dan motivasi kepada penulis selama
siswa pada siklus II tergolong cukup baik dan pelaksanaan penelitian sehingga dapat
mengalami peningkatan sebesar 12% dari siklus menyelesaikan karya tulis ini dengan baik.
I dan masih beragam walaupun relative kecil.
Referensi
Nilai rata-rata kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa pada siklus III sebesar [1] Barry et al., “Problem Based Learning in
83% dengan persentase kelulusan sebesar Metaverse”, Journal of Material Science,
81,8% dan standar deviasi sebesar 1,11187. (2010)
Sehingga dengan demikian nilai rata-rata
[2] Susanto, A, “Teori Belajar dan
kemampuan pemecahan masalah matematis
Pembelajaran di Sekolah Dasar”, Jakarta:
siswa pada siklus II tergolong tinggi dan
Kencana Prenada Media Group, (2013)
mengalami peningkatan sebesar 14% dari siklus
II dan masih beragam walaupun relatif kecil. [3] Saryantono, B, ”Meningkatkan Kemapuan
Pemecahan Masalah Matematika Siswa
Kesimpulan
Kelas X SMA Adiguna Bandar
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh
Lampung Melalui Model Pembelajaran
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Investigasi Kelompok”, Prosiding Semirata
(1) kemampuan pemecahan masalah matematis
FMIPA Univesitas Lampung, (2013)
siswa dengan menggunakan model
pembelajaran Aptitude Treatment Interaction [4] Wahyuni, D, et al., “Kemampuan
(ATI) mengalami peningkatan selama 3 siklus Pemecahan Masalah Matematis dan

ISBN 978-602-19655-7-3 53
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Beliefs Siswa Pada Pembelajaran Open-


Ended dan Konvensional”, Jurnal:
Edumatica Volume 03 Nomor 01, April
2013. ISSN: 2088-2157, (2013)
[5] Setiawan, D, et al., “Keefektifan PBL
Berbasis Nilai Karakter Berbantuan CD
Pembelajaran terhadap Kemampuan
Pemecahan Masalah Materi Segiempat
Kelas VII”, Unnes Journal of Mathematics
Education, ISSN: 2252- 6927, (2014)
[6] NCTM, “Principles and Standards for
School Mathematics”, [diakses 25 juli
2014), (2000)
[7] Polya, G, “How to Solve it. A new Aspect of
Mathematical Metods (2nd ed)”, Princeton,
New Jersey: Princeton University Press,
(1985)
[8] Syafruddin, N, “Model Pembelajaran yang
Memperhatikan Keragaman Individu
Siswa dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi”, Jakarta: Quantum Teaching,
(2005)
[9] Sudjana, N, “Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar”, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, (2008)

Asep Simbolon*
Program Studi Pendidikan Matematika
Universitas Advent Indonesia
simbolonasepgabriel98@yahoo.co.id

Louise M. Saija
Dosen Program Studi Pendidikan Matematika
Universitas Advent Indonesia
Louise_Saija@yahoo.com

ISBN 978-602-19655-7-3 54
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pola Anomali Data Temporal Total Electron Content (TEC) Ionosfer yang
Berhubungan dengan Dua Gempa Besar Terkini di Indonesia
Asis Pattisahusiwa, The Houw Liong, dan Acep Purqon

Email: asis@pattisahusiwa.com

Abstrak
Telah dilakukan penelitian mengenai deteksi anomali pada data temporal TEC yang berasosiasi dengan dua
gempa terkini di Indonesia yakni gempa Sumatera Selatan (101.37 o, -4.44o), 12 September 2007, M 8.5 dan
Sumatera Utara (93.063o, 2.327o), 11 April 2012, M 8.6 dengan menggunakan metode nu-SVR. Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa metode ini cukup akurat mengenali pola anomali yang berasal dari
aktivitas heliogeomagnetik dan gempa bumi. Dalam penelitian ini juga dianalisis pola distribusi anomali
sepanjang garis lintang relatif terhadap titik koordinat referensi. Dari hasil analisis tersebut diperoleh pola
yang sama dengan yang terdeteksi menjelang gempa Aceh, 26 Desember 2004. Walaupun demikian, pola-
pola ini perlu dibandingkan dengan pola anomali yang terdeteksi pada gempa lainnya. Dengan demikian
dapat diperoleh fitur yang lebih lengkap untuk proses klasifikasi dan prediksi gempa bumi.
Kata-kata kunci: Seismo-Ionospheric, pola anomali, nu-SVR, Total Electron Content

berada di titik GIM terdekat dengan pusat


Pendahuluan
gempa.
Dewasa ini telah banyak penelitian yang
membuktikan adanya keterkaitan antara aktivitas Penelitian ini difokuskan pada pendeteksian
gempa bumi dengan variabilitas parameter fisis anomali data temporal TEC yang muncul
di ionosfer. Penelitian-penelitian tersebut menjelang terjadinya gempa utam. Disamping
mencoba mencari anomali di ionosfer yang itu, diamati pula pola distribusi anomali
dapat dijadikan sebagai pratanda gempa bumi. sepanjang garis lintang yang terbentuk akibat
Beberapa diantaranya dapat dilihatnya misalnya adanya gangguan heliogeomagnetic, aktivitas
dalam penelitian yang dilakukan oleh Pulinets et gempa bumi, ataupun kesalahan prediksi oleh
al. [1], Akhoondzadeh [2], Zhu et al. [3], He et al. metode yang digunakan.
[4], dan Pulinets and Davidenko [5]. Menurut
Perevalova et al. [6], magnitud gempa minimum Data dan Metode
yang dapat mempengaruhi parameter fisis di
Berdasarkan data gempa yang diambil dari
ionosfer adalah sebesar 6,5. Namun, hasil yang
United States Geophysical Survey (USGS),
bertolakbelakang diperoleh oleh Afraimovich et
al. [7], dimana setelah menganalisis gempa diperoleh dua buah data gempa terbesar dan
Hector Mine menyimpulkan bahwa variabilitas terkini di Indonesia dalam kurun waktu 2003-
2013 sebagaimana ditunjukan pada tabel 1.
yang terjadi di ionosfer tidak berhubungan
dengan adanya aktivitas gempa bumi. Anomali Tabel 1. Data gempa besar terkini di Indonesia.
yang terjadi lebih berhubungan dengan waktu
lokal dan variabilitas di lapisan magnetosfer. Hal Waktu Lat Lon Mag Tempat
yang sama juga disimpulkan oleh Masci [8] 2007-09-12 -4.44 101.37 8.5 southern
setelah mempelajari kembali hasil penelitian Kon 11:10 UTC Sumatra
et al. [9]. Setelah meneliti gempa Wenchuan,
Pulinets et al. [10] menegaskan bahwa anomali 2012-04-11 2.327 93.063 8.6 off the
yang terjadi di ionosfer tidak diragukan lagi 08:38 UTC west
berasal dari aktivitas gempa bumi. Sedangkan coast of
Pattisahusiwa et al. [11] mendapati anomali yang northern
tidak berkaitan dengan aktivitas Sumatra
heliogeomagnetic dan terlokalisasi di sekitar Data Kp index dari Space Physics Data
episenter menjelang terjadinya gempa utama. Resource (SPIDR) digunakan sebagai
Anomali tersebut terdistribusi dalam rentang parameter untuk menentukan keadaan aktivitas
±7,5o relatif terhadap episenter sepanjang garis heliogeomagnetik. Perubahan pada nilai Kp
lintang dengan puncak amplitudo anomali

ISBN 978-602-19655-7-3 55
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

index ini mengindikasikan adanya peningkatan pada kedua sisi titik referensi. Pola anomali ini
atau penurunan aktivitas di luar bumi (khususnya jelas tidak memperlihatkan sifat terlokalisasi di
aktivitas matahari) yang mengganggu keadaan sekitar episenter gempa.
medan magnet bumi dan secara tidak langsung
Sedangkan pola anomali non-global secara
akan mengakibatkan perubahan pada lapisan
umum terdiri dari tiga buah pola sebagaimana
ionosfer. Gangguan yang diakibatkan oleh kedua
diperlihatkan pada gambar 4. Dari ketiga pola
aktivitas ini di lapisan ionosfer akan dianalisis
hanya pola pada gambar 4c yang
melalui anomali yang terdeteksi pada data TEC.
memperlihatkan sifat terlokalisasi. Pola
Data TEC sendiri diekstrak dari Global
terlokalisasi ini dapat diamati dari amplitudo
Ionospheric Map (GIM) dan disediakan oleh
gangguan dimana puncak maksimumnya
International GNSS Service Central Bureau
terletak pada titik terdekat dengan epicenter dan
(IGSCB). Data TEC dan Kp index selanjutnya
menurun seiring bertambahnya jarak dari pusat
dianalisis dengan menggunakan metode nu-
gempa. Pola ini serupa dengan distribusi
Support Vector Regression (nu-SVR). Untuk
anomali yang terdeteksi menjelang gempa Aceh
penjelasan detail mengenai metode nu-SVR
tahun 2004 [11].
dapat merujuk ke Schölkopf et al. [12] dan
Kromanis and Kripakaran [13]. Penelitian ini Terdapat beberapa jenis pola yang serupa
menggunakan library LIBSVM [14] dan dengan gambar 4a. Secara umum, pola
dijalankan dengan bantuan program Matlab gangguan meningkat kearah salah satu sisi dari
R2013a. episenter baik ke arah utara maupun ke arah
selatan. Sedangkan pola pada gambar 4b dapat
Metode pembelajaran yang dipakai dalam
juga terjadi hanya pada satu titik. Dengan
penelitian ini menggunakan usulan
demikian, khusus untuk pola tersebut dapat
Pattisahusiwa et al. [11]. Namun, anomali yang
dikategorikan sebagai anomali yang berasal dari
terdeteksi hanya akan dikategorikan dalam 2
kesalahan prediksi metode.
jenis yakni (1) anomali global sebagai efek
variabilitas di lapisan magnetosfer bumi akibat
perubahan aktivitas heliogeomagnetik, dan (2)
anomali non-global yang dapat diakibatkan baik
oleh aktivitas seismik maupun kesalahan
prediksi metode nu-SVR. Masing-masing jenis
anomali tersebut kemudian dianalisis pola
distribusinya sepanjang garis lintang yang
melalui titik koordinat referensi. Titik koordinat
referensi diambil sebagai jarak Euclidean
terdekat titik ekstrapolasi GIM ke episenter. Titik
koordinat referensi untuk gempa Sumatera
Selatan dan Sumatera Utara berturut-turut
adalah (100o, -5o) dan (95o, 2.5o).

Hasil dan diskusi (a)


Hasil prediksi metode terhadap data TEC
yang berkaitan dengan gempa Sumatera
Selatan tidak mendeteksi adanya anomali global
(gambar 1a). Hal ini diakibatkan oleh anomali-
anomali yang terdeteksi tersebut terjadi ketika
aktivitas heliogeomagnetic dalam keadaan quiet.
Walaupun nilai Kp index pada h-11, h-10, h-6,
dan h-5 menunjukan level moderat (gambar 1b),
namun tidak menyebabkan adanya variabilitas
yang signifikan pada data TEC. Sedangkan pada
gempa Sumatera Utara terdeteksi 1 buah
anomali global pada h-6 yang berasosiasi
dengan peningkatan aktivitas di lapisan
magnetosfer pada waktu tersebut.
Dari data anomali pada masing-masing (b)
gempa, selanjutnya dianalisis pola distribusi
anomali tersebut sepanjang garis lintang. Pada Gambar 1. (a) Anomali yang terdeteksi pada
pola distribusi anomali global (gambar 3), terlihat gempa Sumatera Selatan (data TEC (),
bahwa deltaY (amplitudo gangguan) meningkat anomali non-global ()); (b) Kp index

ISBN 978-602-19655-7-3 56
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

episenter. Dari data USGS, terdapat beberapa


gempa besar yang terjadi terutama menjelang
gempa bumi utama (main shock) Sumatera
Utara. Sehingga secara tidak langsung akan ikut
mempengaruhi hasil deteksi anomali.

(a)

(a)

(b)
Gambar 2. (a) Anomali yang terdeteksi pada
gempa Sumatera Utara (data TEC (), anomali
global (), anomali non-global ()); (b) Kp index

(b)

Gambar 3. Pola anomali global pada gempa


Sumatera Utara.
(c)
Pola anomali yang terdeteksi pada kedua Gambar 4. Pola anomali non-global yang
gempa ini perlu dianalisis lebih lanjut terkait terdeteksi menjelang gempa Sumatera Utara (a)
dengan efek gempa-gempa bumi lainnya yang h-0, (b) h-13, (c) h-4.
terjadi menjelang gempa utama disekitar

ISBN 978-602-19655-7-3 57
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kesimpulan [8] F. Masci, “The study of ionospheric


anomalies in japan area during 1998-2010
Metode nu-SVR cukup baik mendeteksi
by Kon et al.: An inaccurate claim of
variabilitas data TEC ionosfer akibat adanya
earthquake-related signatures?”, Journal of
gangguan baik yang berasal dari aktivitas
Asian Earth Science, 57, 1-5 (2012)
heliogeomagnetic maupun gempa bumi.
[9] S. Kon, M. Nishihashi, dan K. Hattori,
Variabilitas yang terjadi di ionosfer hanya akan
“Ionospheric anomalies possible associated
terdeteksi sebagai anomali jika terdapat
with M ≥ 6.0 earthquakes in the Japan area
pengaruh yang cukup signifikan pada data TEC.
during 1998-2010: case studies and
Pola-pola anomali yang terdeteksi ini selanjutnya
statistical study”, Journal of Asian Earth
dapat dilengkapi dengan meninjau gempa-
Sciences, 41(4), 410-420 (2011)
gempa yang lain sehingga dapat diekstrak pola
[10] S. A. Pulinets, V. D. Bondur, M. N. Tsidilina,
serupa untuk proses klasifikasi dan prediksi
dan M. V. Gaponova, “Verification of the
gempa bumi.
concept of seismoionospheric coupling
under quiet heliogeomagnetic conditions,
Referensi
using the wenchuan (china) earthquake of
[1] S. A. Pulinets, T. B. Gaivoronska, A. L. may 12, 2008, as an example”,
Contreras, dan L. Ciraolo, “Correlation Geomagnetism and Aeronomy, 50 (2), 231-
analysis technique revealing ionospheric 242 (2010)
precursors of earthquakes”, Natural [11] A. Pattisahusiwa, The Houw Liong, dan A.
Hazards and Earth System Sciences, 4 Purqon, “A method for separating seismo-
(5/6), 697-702 (2004) ionospheric tec outliers from
[2] M. Akhoondzadeh, “Support vector heliogeomagnetic disturbances by using
machines for tec seismo-ionospheric nu-svr”, In Proceedings of the International
anomalies detection”, Annales Conference on Mathematics and Natural
Geophysicae, 31, 173-186 (2013) Sciences (ICMNS), (2014), submitted.
[3] F. Zhu, Y. Wu, Y. Zhou, dan Y. Gao, [12] B. Schölkopf, A. J. Smola, R. C.
“Temporal and spatial distribution of gps-tec Williamson, dan P. L. Barlett, “New support
anomalies prior to the strong earthquakes”, vector algorithms”, Neural Computation, 12
Astrophysics and Space Science, 345 (2), (5), 1207-1245 (2000)
239-246 (2013) [13] R. Kromanis dan P. Kripakaran, “Support
[4] L. M. He, L. X. Wu, A. De Santis, S. J. Liu, vector regression for anomaly detection
dan Y. Yang, “Is there a one-to-one from measurement histories”, Advanced
correspondence between ionospheric Engineering Informatics, (2013)
anomalies and large earthquakes along [14] C. –C. Chang dan C. –J. Lin, “LIBSVM: A
longmenshan faults?” Annales library for support vector machines”, ACM
Geophysicae, 32, 187-196 (2014) Transaction on Intelligent Systems and
[5] S. Pulinets dan D. Davidenko, “Ionospheric Technology, 2 (2011), software available at
precursors of earthquakes and global http://www.csie.ntu.edu.tw/~cjlin/libsvm
electric circuit”, Advances in Space
Research, 53 (5), 709-723 (2014) Asis Pattisahusiwa*
[6] N. P. Perelova, V. A. Sankov, E. I. Jurusan Fisika
Astafyeva, dan S. Zhupityaeva, “Threshold Institut Teknologi Bandung
magnitude for ionospheric TEC response to asis@pattisahusiwa.com
earthquakes”, Journal of Atmospheric and
Solar-Terrestrial Physics, 108, 77-90 (2014) The Houw Liong
[7] E. L. Afraimovich, E. I. Astafieva, M. B. Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Institut Teknologi Bandung
Gokhberg, V. M. Lapshin, V. E.
Permyakova, G. M. Steblov, dan S. L.
Acep Purqon
Shalimov, “Variations of the total electron
Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
content in the ionosphere from GPS data Institut Teknologi Bandung
recorded during the Hector Mine
earthquake of October 16, 1999, *Corresponding author
California”, Russian Journal of Earth
Science, 6 (5), 339-354 (2004)

ISBN 978-602-19655-7-3 58
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Manajemen dan Otomatisasi Pengontrolan Penggunaan Daya Listrik


Secara Masal Menggunakan Jaringan Arduino Uno
Asis Pattisahusiwa, Delia Meldra, Yopy Mardiansyah, dan Hendro

Email: asis@pattisahusiwa.com

Abstrak
Tarif Dasar Listrik (TDL) yang terus berfluktuasi mengharuskan adanya manajemen penggunaan daya listrik
secara efektif. Penelitian-penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir mengusulkan pemanfaatan
sensor sebagai solusi otomatisasi penggunaan peralatan listrik. Masalah yang dihadapi kemudian adalah
adanya keterbatasan jumlah pin Arduino khususnya Arduino Uno dalam mengontrol rangkaian sensor dan
peralatan listrik yang digunakan. Sebagai solusinya, dalam penelitian ini diusulkan pemanfaatan jaringan
Arduino untuk manajemen dan otomatisasi pengontrolan daya listrik secara masal. Masing-masing ruangan
dikontrol oleh sebuah Arduino dan dihubungkan ke komputer yang bertindak sebagai server jaringan. Hasil
pembacaan sensor diteruskan oleh Arduino ke komputer untuk diolah dan dikembalikan lagi dalam bentuk
perintah untuk mematikan atau menghidupkan peralatan listrik dengan mengubah tegangan pada relay.
Rekaman penggunaan daya listrik masing-masing ruangan kemudian disimpan dalam database SQLite dan
dapat digunakan untuk evaluasi pemakaian daya listrik bulanan.
Kata-kata kunci: Rangkaian sensor, jaringan Arduino, data logger
yang dapat ditangani adalah sebanyak jumlah
Pendahuluan
pin Arduino. Arduino-Arduino tersebut
Tarif Dasar Listrik (TDL) yang terus dihubungkan ke sebuah komputer yang
berfluktuasi mengharuskan adanya manajemen bertindak sebagai server. Logika penanganan
penggunaan daya listrik yang efektif. Penelitian- peralatan listrik akan ditangani sepenuhnya oleh
penelitian yang dilakukan beberapa tahun server tersebut.
terakhir mengusulkan pemanfaatan sensor
sebagai solusi otomatisasi penggunaan Teori dan Eksperimen
peralatan listrik. Rahayu dan Thalib [1]
mengusulkan penggunaan sensor cahaya dan Salah satu physical computing platform yang
hujan dalam mengontrol penggunaan lampu, cukup digemari belakangan ini adalah Arduino
kipas, dan jendela. Amini dan Farabi [2] yang berbasis mikrokontroler dan bersifat open
menggunakan metode penjadwalan untuk source. Arduino dapat dipakai untuk menangani
otomatisasi penggunaan lampu. Sedangkan input dari berbagai jenis sensor maupun
Khoswanto et al. [3] mengontrol penggunaan AC mengontrol berbagai jenis peralatan listrik. Salah
dengan menggunakan sensor yang dapat satu kelebihan Arduino adalah dapat digunakan
menghitung jumlah orang yang masuk dan secara independen (standalone) ataupun
keluar ruangan. Adapun Oesnawi dan dikontrol melalui software yang dijalankan di
Hermawan [4] mengusulkan penggunaan sensor komputer [5].
dan jaringan Arduino yang terintegrasi secara
Skema rancang bangun sistem jaringan
nirkabel. Dari berbagai usulan tersebut, masih
terdapat beberapa kelemahan yakni (1) Arduino yang diusulkan dapat dilihat pada
walaupun jaringan Arduino yang diusulkan oleh gambar 1. Secara umum komponen-komponen
Oesnawi dan Hermawan [4] diklaim low cost, utama sistem ini terdiri dari (1) komputer yang
bertindak sebagai server dan dilengkapi dengan
namun pada kenyataannya masih membutuhkan
perangkat lunak untuk menangani jaringan
biaya yang cukup besar dikarenakan masing-
arduino, (2) Arduino sebagai pengontrol
masing peralatan listrik dikontrol oleh satu buah
Arduino; dan (2) logika yang ditangani langsung rangkaian sensor, (3) saklar sebagai input untuk
oleh Arduino akan cukup sulit untuk dimodifikasi menentukan apakah ruangan sedang dipakai
atau tidak. Penggunaan saklar ini identik dengan
dalam sistem yang cukup besar.
power lock system di hotel. (4) rangkaian sensor
Berdasarkan beberapa hal tersebut, kami misalnya Light Dependent Resistor (LDR),
mengusulkan penggunaan jaringan Arduino LM35, atau yang lainnya, (5) Rangkaian listrik
yang low cost, dimana satu buah Arduino yang akan dikontrol. Masing-masing rangkaian
digunakan untuk mengontrol beberapa buah listrik akan dikontrol melalui relay. Agar tidak
peralatan sekaligus. Maksimal peralatan listrik terjadi tumpang tindih data, masing-masing

ISBN 978-602-19655-7-3 59
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Arduino akan diberi identitas (ID) yang unik diteruskan oleh Arduino ke komputer untuk
melalui kode program yang tersimpan pada selanjutnya diolah.
memory Arduino. ID ini selanjutnya akan dipakai
untuk proses autentikasi ketika dihubungkan ke
server. Arduino yang telah diregistrasi kemudian
disimpan dalam database.

Gambar 3. Sequence diagram.

Gambar 1. Skema rangkaian dan jaringan


Arduino.
Dalam penelitian ini, skema relasi database
yang digunakan pada perangkat lunak dapat
dilihat pada gambar 2. Database terdiri dari tiga Gambar 4. Tampilan untuk menambahkan
buah tabel yakni tabel arduino, perangkat, dan arduino yang terkoneksi ke software.
rekap. Tabel arduino digunakan untuk
menyimpan data ID arduino. Sedangkan data
beban yang dikontrol disimpan dalam tabel
perangkat. Adapun tabel rekap digunakan untuk
menyimpan hasil rekapitulasi penggunaan beban
masing-masing ruangan.

Gambar 2. Entity relationship diagram (ERD)


database yang digunakan
Cara kerja sistem ini dapat dijelaskan melalui
sequence diagram sebagaimana tampak pada Gambar 5. Proses registrasi
gambar 3 berikut. Ketika Arduino dihubungkan Jika dibutuhkan untuk menghidupkan/mematikan
ke komputer (gambar 4), software akan meminta perangkat listrik, maka akan ditambahkan data
ID arduino dan dicek ke dalam database. Jika ID pemakaian beban tersebut ke dalam database.
belum terdaftar, maka Arduino tersebut harus Selanjutnya server akan mengirim command ke
diregistrasi dengan memasukan jumlah arduino untuk menghidupkan/mematikan
perangkat listrik yang ditangani (gambar 5). Jika perangkat listrik tersebut. Command tersebut
telah diregistrasi, software akan mengirim kemudian diinterpretasi oleh Arduino untuk
perintah untuk memulai proses pembacaan input memperoleh nilai port perangkat listrik yang
dari rangkaian sensor. Data sensor akan sesuai. Beberapa contoh hasil rekapitulasi
pemakaian beban listrik diperlihatkan pada

ISBN 978-602-19655-7-3 60
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

gambar 6. Data ini selanjutnya dapat digunakan lebih dari nilai intensitas cahaya maksimum di
untuk menghitung data pemakaian beban dalam ruangan ketika tidak ada cahaya
masing-masing ruangan per bulan untuk tambahan. Nilai maksimum ini dapat diperoleh
dijadikan sebagai bahan evaluasi. dari data intensitas cahaya yang diterima oleh
sensor ketika lampu dinyalakan pada malam
hari. Batasan nilai maksimum dapat bernilai lebih
tinggi disesuaikan dengan kondisi ruangan yang
dikontrol.
Selain itu terdapat beberapa hal yang dapat
dimodifikasi dari sistem ini, (1) sistem yang
dikontrol oleh server (komputer) memungkinkan
untuk dikontrol dari jauh melalui jaringan
internet. Pengontrolan jarak jauh ini dapat
melalui e-mail, messenger, sms, ataupun melalui
Gambar 6. Tampilan program utama.
web. Hal ini dimungkinkan dengan memodifikasi
software yang terdapat di server agar dapat
menangani protokol-protokol tersebut tanpa
Hasil dan diskusi harus mengubah kode program yang telah
dimasukan ke dalam memory arduino. (2) agar
Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem
dapat mengontrol ruangan yang letaknya jauh
yang dibangun bekerja dengan baik. Namun,
dari ruangan server, kabel USB yang digunakan
terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan
untuk menghubungkan Arduino dengan
ketika mengadopsi sistem ini. Pertama,
komputer dapat diganti dengan jaringan nirkabel.
rangkaian saklar pada gambar 1 akan
menghasilkan fluktuasi nilai potensial yang
Kesimpulan
diterima oleh Arduino terutama ketika saklar
dalam keadaan off. Terdapat dua metode untuk Sistem yang diusulkan telah berhasil
menangani fluktuasi ini, (1) saklar dihubungkan diimplementasikan dan menunjukan performa
dengan pin analog (dalam penelitian ini yang baik. Fleksibilitas sistem sebagai tujuan
digunakan pin A0). Saklar akan dianggap dalam utama penelitian ini memungkinkan sistem ini
keadaan on jika nilai potensial yang diterima dapat diadopsi ke dalam sistem yang lebih besar
bernilai 1023 dan sebaliknya akan dianggap dengan hanya memodifikasi software yang
dalam keadaan off. Hal ini dikarenakan ketika terdapat di server. Walaupun demikian, fluktuasi
saklar dalam keadaan off, nilai potensial yang tegangan input yang berasal dari saklar dapat
diterima akan berfluktuasi dalam rentang mengakibatkan kesalahan logika dalam
dibawah 1023. (2) Sumber tegangan VCC mengontrol penggunaan daya listrik. Oleh
diparalelkan dengan ground dan diserikan karena itu, disarankan untuk digantikan dengan
dengan pin A0. Dengan demikian, ketika saklar rangkaian sensor yang dapat mendeteksi
dalam keadaan off, nilai potensial yang diterima aktivitas di dalam ruangan.
oleh Arduino adalah nilai tegangan ground
sehingga tidak akan berfluktuasi. Solusi yang Ucapan terima kasih
lebih baik adalah dengan menggunakan sensor
gerak sebagai pengganti saklar tersebut. Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Aditya Rinaldi, Ngatiningsih, Sriati Wahyudi, dan
Kedua, dikarenakan posisi sensor LDR Mukhlizar atas kesediaannya meminjamkan
berada dalam ruangan, maka ketika intensitas di peralatan instrumentasi yang dibutuhkan dalam
dalam ruangan yang diterima oleh LDR kurang penelitian ini.
dari batas yang ditetapkan dan kemudian lampu
dinyalakan, intensitas yang diterima oleh LDR Referensi
otomatis akan naik seketika dan lampu akan
dinyalakan kembali. Hal ini tentu saja tidak [1] D. S. Rahayu and Farid Thalib, “Pemodelan
sesuai dengan yang diharapkan. Untuk sistem otomatisasi pada lampu, jendela,
mengatasi hal tersebut, diusulkan dua cara (1) dan kipas sirkulasi udara untuk tempat
dengan menggunakan sensor LDR yang lain tinggal berbasis mikrokontroler” (2011)
sebagai kontrol dan ditempatkan di ruangan [2] S. Amini and L. Farabi, “Penjadwalan dan
yang terpisah, dimana lampu hanya akan kendali lampu jarak jauh menggunakan
dimatikan jika nilai intensitas di dalam ruangan dfrduino uno dan yahoo messenger”,
lebih tinggi dari nilai intensitas kontrol atau (2) Seminar Nasional Sistem Informasi
lampu hanya akan dimatikan jika nilai sensor Indonesia, (2013)

ISBN 978-602-19655-7-3 61
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

[3] H. Khoswanto, F. Pasila, and W. E.


Cahyadi, “Sistem pengaturan AC otomatis”,
Jurnal Teknik Elektro, 3 (2), 73-78 (2003)
[4] E. Oesnawi and H. Hermawan,
“Perancangan sistem pengontrolan lampu
dan AC yang terintegrasi secara nirkabel
berbasis low cost and low power radio
frequency”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 3 (1),
(2014)
[5] “Getting started with arduino”, URI
http://arduino.cc/en/Guide/HomePage
[diakses 24 November 2014]

Asis Pattisahusiwa*
Institut Teknologi Bandung
asis@pattisahusiwa.com

Delia Meldra
Institut Teknologi Bandung
dmeldra@gmail.com

Yopy Mardiansyah
Institut Teknologi Bandung
yopymardiansyah2@gmail.com

Hendro
KK Fisika Material dan Elektronika
Institut Teknologi Bandung
hendro@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 62
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Studi Awal Pengaruh Transmisi Multileaf Collimator (MLC) Terhadap


Perhitungan Dosis Pada Prism TPS Secara Sederhana
Chairun Nisa, Freddy Haryanto

Email : Chairun.nisa_icha@yahoo.com

Abstrak
Tujuan utama radioterapi adalah penyinaran sebesar-besarnya pada volume target dan seminimal mungkin
radiasi yang diserap oleh jaringan sehat. Salah satu cara mencapai tujuan ini adalah dengan pembentukan
berkas radiasi yaitu dengan Multileaf Collimator (MLC). Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi
pengaruh transmisi terhadap perhitungan dosis pada Prism TPS secara sederhana. Transmisi MLC dapat
diinvestigasi dengan mengukur dosis di kedalaman d max saat daun MLC tertutup dengan field size 0.6 x 40
cm2 dan terbuka dengan field size 10 x 10 cm2 pada SSD 100 cm, selanjutnya dilakukan perbandingan
antara keduanya dan dilihat distribusi dosisnya pada grafik profil. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa
variasi pengambilan data yaitu variasi energi, variasi field size, variasi kedalaman profil dan variasi monitor
unit. Berdasarkan perhitungan dosis yang telah dilakukan menggunakan softwere Prism diperoleh bahwa
transmisi MLC pada Prism ditentukan oleh energi, field size, kedalaman profil dan jumlah monitor unit yang
diberikan.

Kata kunci: Multileaf Collimator, Transmisi


otomatis menggunakan sistem komputerisasi
Pendahuluan
dan saling bebas satu sama lain sehingga dapat
Kanker merupakan penyakit mematikan yang menghasilkan medan/ bidang dalam berbagai
disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan bentuk [4]. Perhitungan dosis MLC akan
tubuh yang tidak normal. Berdasarkan data mempengaruhi RTPS (Radiotherapy Treatment
Globocan, International Agency for Research on Planning System) salah satunya Prism sebagai
Cancer tahun 2012, terdapat 299.7 ribu kasus RTPS non komersial. Oleh karena itu perlu
kanker baru di Indonesia, dengan angka dilakukan investigasi transmisi MLC pada Prism.
kematian sebesar 194.5 ribu jiwa [1].
Peningkatan angka penderita kanker, membuat Eksperimen
metode pengobatan kanker pun terus
Simulasi investigasi transmisi dijalankan
berkembang, salah satunya adalah radioterapi.
dengan mesin Philips SL20 pada Prism TPS
Radioterapi merupakan pengobatan dengan
yang terdiri dari 40 pasang daun. Daun MLC
menggunakan radiasi pengion berenergi tinggi,
bergerak searah sumbu x. Pada penelitian ini
yaitu 6 - 24 MV.
dilakukan variasi energi, monitor unit, kedalaman
profil, dan variasi field size. Setiap variasi
Salah satu aspek dasar yang mempengaruhi
dilakukan perbandingan antara dosis pada saat
kualitas berkas radiasi yang digunakan dalam
daun MLC memblok berkas radiasi dan pada
treatment adalah teknik pembentukan field dan
saat daun MLC terbuka yang dilihat pada grafik
jumlah berkas yang digunakan. Keakuratan
profil dosis.
pembentukan field dari berkas yang disesuaikan
dengan bentuk target volume dibutuhkan untuk Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk
mengurangi volume jaringan sehat yang ikut menginvestigasi pengaruh transmisi secara
teradiasi. Selain itu, digunakan juga multiple sederhana dapat dilakukan dengan cara
beam atau berkas ganda sehingga dosis yang mengukur dosis pada kedalaman dmax dan SSD
diserap oleh jaringan sehat dapat dikurangi [2]. 100 cm. Field size yang digunakan adalah 10 x
Pada radioterapi konvensional, pembentukan 10 cm2. Dua penyinaran dilakukan yaitu pada
field dari beam diatur secara rectangular dengan saat bukaan lapangan 10 x 10 cm 2 yang
menggunakan berkas berupa single beam dari didefenisikan oleh MLC dan saat daun MLC
satu sampai empat arah dengan pengaturan ditutup sehingga dapat memblok berkas foton.
yang cukup sederhana [3]. Pembentukan field Transmisi yang melalui daun dapat diperkirakan
pada radioterapi konformal diatur dengan sebagai persentase [5]:
menggunakan Multileaf Collimator (MLC). MLC
adalah suatu komponen mekanik yang
T (%)  Dblocked
x100 %. (1)
terintegrasi dengan kepala Linear Accelerator
(Linac terdiri dari sejumlah blok kolimator D open

(lembaran) yang dapat dikendalikan secara

ISBN 978-602-19655-7-3 63
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Dimana dan merepresentasikan Secara umum posisi daun dalam keadaan


profil dosis yang melewati lapangan ketika diblok terbuka dan tertutup pada Prism dapat dilihat
dan dibuka. pada gambar 4 di bawah ini:

Desain water phantom yang digunakan


berdimensi 20 x 20 x 20 cm 3 seperti yang
ditunjukkan oleh gambar 1 di bawah ini:

Gambar 4. Desain field size pada Prism

Pada gambar di atas, dilakukan pengaturan


leaf MLC pada bagian kiri dan kanan portal
editor sehingga dapat membentuk field size
Gambar 1. Desain water phantom sesuai dengan yang diinginkan.

Kotak bergaris biru adalah salah satu slice water Hasil dan diskusi
phantom pada koordinat z=0. Dan y=1.5
Perhitungan dosis pada variasi energi foton
merupakan kedalaman pengamatan dosis dari dilakukan pada dua jenis energi foton yaitu 6
permukaan water phantom. Titik-titik biru pada
MV dan 18 MV. Grafik perbandingan antara
y= 1.5. Pada Prism dilakukan design contour
kedua energi saat MLC terbuka dapat dilihat
dengan bantuan penggunaan add point dengan
pada gambar 5 (a) dan pada saat MLC tertutup
titik-titik -10.10, 10.10, 10.-10, dan -10.-10.
pada gambar 5 (b) berikut :
Seperti yang ditunjukkan pada gambar 2 di
bawah ini:

Gambar 2. Desain water phantom pada Prism


(a) (b)
Titik pengamatan profil dosis searah sumbu x Gambar 5. Profil dosis energi 6 MV dan 18 MV
pada Prism dibuat sebanyak 41 titik pada z =0. (a) MLC terbuka (b) MLC tertutup
Pada jarak antara permukaan water phantom
dengan kedalaman 1.5 cm, titik yang dibuat dari Berdasarkan gambar 5 diatas, dapat dilihat
ujung kiri adalah x = -10 y = 8.5, sampai ujung bahwa pada kedalaman 1.5 cm di bawah
kanan x=10, y=8.5 dengan rentang 0.5. permukaan water phantom saat daun MLC
terbuka dengan field size 10 x 10 cm2 dan
Pada saat MLC tertutup digunakan field size tertutup dengan field size 0.6 x 10 cm2, foton
0.6x40 cm2 dan saat MLC terbuka field size yang dengan energi 6 MV mempunyai puncak dosis
digunakan adalah 10x10 cm 2. Rancangan desain yang lebih tinggi dari pada energi 18 MV. Hal ini
field size dapat dilihat pada gambar 3 di bawah menunjukkan bahwa ketika foton melewati
ini: sebuah materi, semakin lama energinya semakin
berkurang. Foton dengan energi tinggi tidak
diserap ditempat namun fluence energi
berkurang sesuai kedalaman. Pada energi 6 MV,
dosis sudah mencapai maksimum pada
kedalaman 1.5 sedangkan untuk energi 18 MV
pada kedalaman tersebut dosis belum mencapai
maksimum. Hal ini lah yang menyebabkan
puncak energi 6 MV lebih tinggi dari pada 18
Gambar 3. Rancangan desain field size MV.

ISBN 978-602-19655-7-3 64
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Transmisi yang diperoleh berdasarkan plot Tabel 2 Transmisi variasi field size.
titik pengamatan searah dengan gerak daun
dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini: x fs 5x5 fs 10x10 fs 15x15 fs 20x20
Tabel 1. Transmisi variasi energi -10 113.79 86.84 70.21 27.5
-5 113.79 26.61 2.64 2.59
Koordinat Transmisi Transmisi -4.5 113.79 4.12 2.64 2.59
Titik Amat (%) (%) -2 3.9 2.73 2.63 2.6
x y z 6 MV 18 MV 2 3.9 2.73 2.63 2.6
-10 1.5 0 86.84 52.5 4.5 113.79 4.12 2.64 2.59
-5 1.5 0 26.61 21.87 5 113.79 26.61 2.64 2.59
-5 1.5 0 4.12 5.13 10 113.79 86.84 70.21 27.5
-2 1.5 0 2.73 2.04
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa
2 1.5 0 2.73 2.04 semakin besar ukuran field size maka semakin
4.5 1.5 0 4.12 5.13 kecil transmisinya. Hal ini dikarenakan
5 1.5 0 26.61 21.87 perbandingan dosis saat MLC tertutup yang
sama untuk semua field size dengan dosis yang
10 1.5 0 86.84 52.5 berbanding lurus dengan pertambahan ukuran
field size.
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa
semakin besar energi maka akan semakin kecil Pada kasus variasi kedalaman profil,
transmisi yang dihasilkan. Hal ini disebabkan divariasikan kedalaman 0, 0.5, 1.5, dan 20 cm.
oleh energi tinggi mempunyai jangkauan Hasil perhitungan dosis pada variasi kedalaman
kedalaman yang lebih panjang dari energi profil dapat dilihat pada gambar 7 berikut:
rendah karena faktor built up. Sehingga
kontaminasi elektron menjadi tinggi dan
kedalaman maksimal bergeser ke arah yang
lebih dalam.

Perhitungan dosis pada variasi field size


dilakukan pada empat variasi saat MLC terbuka
yaitu 5 x 5 cm 2, 10 x 10 cm2, 15 x 15 cm2 dan
20 x 20 cm2. Sedangkan pada saat MLC tertutup
field size yang digunakan adalah sama untuk Gambar 7 Profil dosis variasi kedalaman
setiap variasi yaitu 0.6 x 40 cm 2. Hasil
perhitungan dosisnya dapat dilihat pada gambar Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat
6 di bawah ini: bahwa dari kedalaman 0 sampai 0.5 dosis
mengalami kenaikan dan mencapai maksimum
pada kedalaman 1.5 cm dan pada kedalaman 20
cm terjadi penurunan dosis. Hal ini sesuai
dengan teori bahwa energi 6 MV mencapai dosis
maksimal pada kedalaman 1.5 dan setelah itu
dosis mengalami penurunan seiring dengan
bertambahnya kedalaman. Adapun nilai
transmisi pada variasi y dan z=0 yang
Gambar 6 Profil dosis variasi field size didapatkan terlihat pada tabel 3 berikut:

Berdasarkan hasil perhitungan dosis pada


dan saat MLC tertutup, dapat dilihat bahwa laju
dosis pada beam axis akan meningkat seiring
dengan meningkatnya field size. Hal ini
dikarenakan semakin besar field size maka
kontribusi hamburan foton terhadap dosis
serapnya juga akan semakin besar. Adapun nilai
transmisi pada y=1.5 dan z=0 yang didapatkan
terlihat pada tabel 2 berikut:

ISBN 978-602-19655-7-3 65
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Tabel 3 Transmisi variasi kedalaman. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa
semakin besar monitor unit yang dihasilkan,
x 0 0.5 1.5 20 maka semakin kecil transmisinya. Hal ini
dikarenakan dosis pada saat MLC ditutup juga
-10 0 0 86.8 0 semakin besar.
-5 0 18.3 26.6 4
-4.5 0 3.42 41.2 3.8 Kesimpulan
-2 0 2.1 2.7 3.6 Transmisi MLC dipengaruhi oleh energi
foton, field size, kedalaman profil dan jumlah
2 0 2.1 2.7 3.6 monitor unit yang diberikan. Semakin tinggi
4.5 0 3.42 41.2 3.8 energi foton semakin kecil transmisi yang
5 0 18.3 26.6 4 dihasilkan. Semakin besar ukuran field size
semakin besar dosis yang diterima oleh water
10 0 0 86.8 0
phantom dan semakin kecil transmisi MLC. Jika
ukuran field size diperbesar dua kali lipat maka
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa, faktor transmisinya berkurang sebesar 23,68 %-
transmisi secara umum semakin besar hingga 68.33 % untuk bagian tepi water phantom dan
mencapai kedalaman 1.5 cm dan mengalami 30 %-47,6 % untuk bagian tengahnya. Transmisi
penurunan seiring dengan bertambahnya juga ditentukan oleh kedalaman profil dosis
kedalaman. Hal ini dikarenakan perbandingan dimana dosis meningkat sampai kedalaman 1.5
dosis saat MLC tertutup dan terbuka juga cm kemudian kembali menurun seiring dengan
mengalami fluktuasi yang sama. bertambahnya kedalaman. Dan semakin besar
monitor unit yang digunakan maka semakin kecil
Pada kasus selanjutnya dilakukan variasi transmisi MLC.
monitor unit yaitu 50 MU, 100 MU, 250 MU, 500
MU, 1000 MU. Hasil perhitungan dosis pada dua Ucapan terima kasih
diantara variasi monitor unit dapat dilihat pada
gambar 8 di bawah ini: Penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu termasuk
bantuan dana penelitian BOPTN FMIPA ITB.

Referensi
[1] World Health Organization (WHO).
Globocan Report about Cancer Statistic
in 2012
[2] AAPM Task Group 50. (2001). Basic
Gambar 8. Profil dosis variasi MU Application in Multileaf Collimator. USA:
Medical Physics Publishing.
Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa [3] Bucci, Kara. et.al. (2005). Advances in
semakin besar monitor unit yang diberikan maka Radiation Therapy: Conventional to 3D, to
semakin besar dosis yang bisa diserap pada IMRT, to 4D, and Beyond. USA: American
suatu kedalaman. Laju dosis untuk linear Cancer Society, Inc
accelerator adalah 1 cGy/MU. Adapun nilai [4] Khan, F.M. (2007). Treatment Planning in
transmisi pada variasi ini adalah sebagai Radiation Oncology. 2nd ed. Lippincot
berikut: Williams & Wilkins.
[5] García-Garduño.et.al. (2008). Radiation
Tabel 4 Transmisi variasi kedalaman transmission, leakage and beam penumbra
measurements of a micro-multileaf
x 50 MU 1000 MU collimator using GafChromic EBT film.
-10 89.47 86.7 Mexico: Journal Of Applied Clinical Medical
Physics
-5 27.41 26.76
-4.5 4.25 4.16 Chairun Nisa (Corresponding author)
-2 2.82 2.76 Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
2 2.82 2.76 Chairun.nisa_icha@yahoo.com
4.5 4.25 4.16
5 27.4 26.76 Freddy Haryanto
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
10 89.47 86.7 Institut Teknologi Bandung
freddy@fi.itb.ac.id

ISBN 978-602-19655-7-3 66
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengenalan Metode Magnetik Sebagai Survey Awal Panas Bumi Kepada


Siswa SMA

Claudia M. M Maing, Suka P. Pandia, Cristi Ascika Sekeon dan Alamta Singarimbun

Email: claudia.maing@yahoo.com

Abstrak
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran dalam lingkup MIPA yang merupakan ilmu yang penting untuk
dipelajari. Dalam Fisika dapat ditemukan keterkaitan konsep Fisika dengan beberapa disiplin ilmu lainnya. Di
bangku sekolah, Fisika menjadi salah satu pelajaran yang tidak disukai oleh para siswa, salah satu
penyebabnya adalah guru yang hanya mengajarkan rumus tanpa memberitahu aplikasi apa yang dapat kita
buat dengan konsep-konsep Fisika yang sudah dipelajari. Salah satu konsep Fisika yang dipelajari dan
dilihat aplikasinya adalah konsep tentang kemagnetan. Konsep tentang kemagnetan dapat digunakan dalam
survey panas bumi menggunakan metode magnetik. Metode magnetik merupakan salah satu metode dalam
bidang geoFisika yang sering digunakan dalam eksplorasi geofisik. Metode ini didasarkan pada perbedaan
tingkat magnetisasi suatu material karena induksi dari medan magnet bumi. Dalam metode magnetik ini
akan dilihat bagaimanakah nilai variasi medan magnetik di suatu lokasi, dimana variasi medan magnetik ini
diakibatkan karena terdapat struktur-struktur mineral pada batuan-batuan yang berada dekat dengan
permukaan tanah. Nilai medan magnetik ini diperoleh dengan pengukuran menggunakan alat yang disebut
Proton Precession Magnetometer. Dalam melakukan survey magnetik ini akan diperoleh data medan
magnet di beberapa titik lokasi yang kemudian dikoreksi dengan koreksi harian dan koreksi IGRF untuk
menghilangkan pengaruh-pengaruh regional. Setelah dilakukan koreksi maka akan diperoleh nilai anomali
medan magnet yang kemudian akan digunakan sebagai dasar dalam pendugaan struktur geologi bawah
permukaan untuk mengetahui anomali magnetik lokasi tersebut. Melalui pembahasan tentang metode
magnetik ini, diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman kepada siswa tentang manfaat dari
konsep-konsep Fisika yang dapat diaplikasikan.
Kata-kata kunci: metode magnetik, eksplorasi geofisika, anomali medan magnet
mineral pada batuan tersebut memiliki nilai
Pendahuluan
suseptibilitas yang berbeda-beda [1]. Melalui
Panas bumi merupakan sumber energi survey magnetik ini dapat diketahui struktur-
alternatif terbarukan yang saat ini sedang struktur mineral yang terkandung pada batuan
banyak dikembangkan pada beberapa wilayah di sehingga dapat melokalisir daerah anomali
Indonesia. Energi ini terdapat pada batuan- magnetik rendah, anomali magnetik rendah
batuan yang tersebar di bawah permukaan berkaitan dengan manifestasi panas bumi di
tanah. Negara Indonesia memiliki beberapa daerah tersebut [2]. Dalam pembelajaran
potensi energi panas bumi yang tersebar dari aplikasi dari konsep-konsep Fisika dalam
pulau Sumatera hingga Nusa Tenggara. hubungannya dengan potensi alam masih jarang
Beberapa wilayah di Indonesia telah dikemas menjadi suatu sajian materi yang bisa
memanfaatkan atau mengeksplorasi energi menarik minat siswa.
panas bumi sebagai pembangkit listrik. Suatu
Siswa menganggap Fisika merupakan
area lapangan panas bumi dianggap layak untuk
pelajaran yang hanya dipenuhi dengan rumus,
dijadikan sebagai pembangkit listrik, setelah
tanpa melihat adanya aplikasi nyata terhadap
melalui tahap-tahap penelitian dan pengkajian.
konsep serta rumus-rumus yang mereka pelajari.
Salah satu bidang keilmuan yang sering
Namun pada kenyataannya penerapan konsep-
mengkaji mengenai eksplorasi panas bumi
konsep Fisika banyak diaplikasikan dalam
adalah bidang geofisika. Dalam bidang geofisika,
kehidupan kita, salah satunya mencari daerah
metode magnetik sering digunakan sebagai
yang memiliki potesi panas bumi. Siswa lebih
survey awal. Metode ini didasarkan pada variasi
menyenangi yang dipelajarinya jika ada
nilai medan magnetik. Variasi medan magnet ini
kaitannya dengan apa yang sehari-hari dapat
diakibatkan karena terdapat struktur-struktur
mereka temui dan manfaatkan. Salah satu
mineral pada batuan-batuan yang berada dekat
upaya yang dilakukan adalah dengan
dengan permukaan tanah, dimana mineral-
memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan

ISBN 978-602-19655-7-3 67
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

  
konsep Fisika yang berhubungan dengan alam B  H  H'
yakni pendeteksian lokasi panas bumi 
menggunakan metode magnetik.  (1  4k emu ) H (5)

Teori  H .
Dalam penjelasan mengenai aplikasi metode  Magnetisme Batuan
magnetik untuk pendeteksian lokasi panas bumi,
ada konsep-konsep Fisika yang perlu diketahui Material-material yang ada di bumi,
oleh para siswa antara lain semuanya memiliki sifat magnetik. Setiap atom
berperilaku sebagai dipol hal ini disebabkan oleh
 Gaya Magnetik spin dari elektron dan juga karena lintasan orbit
Coulomb melakukan eksperimen dan elektron disekitar inti atom. Ditinjau dari sifat
menetapkan bahwa gaya antar ujung-ujung kemagnetannya pada umumnya terbagi dalam
sebuah magnet berbanding terbalik dengan kelompok-kelompok yaitu diamagnetisme,
kuadrat jarak pisahnya. Eksperimen Coulomb ini paramagnetisme, ferromagnetisme.
kemudian dikenal dengan Gaya magnetik yang  Medan Magnet Bumi

disimbolkan dengan F , yang dikenal dengan
Hukum Coulomb.
 1 p1 p 2
F rˆ (1)
 r2
 Medan Magnet

Medan magnet disimbolkan dengan H
dan didefenisikan sebagai gaya magnet per
satuan kuat kutub

 F p Gambar 1. Elemen medan magnet bumi [3]
H  12 rˆ (2)
p 2 r
Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh
 Intensitas Magnetisasi parameter fisis atau disebut juga elemen medan
magnet bumi. Parameter fisis tersebut meliputi
Sebuah benda yang diletakkan dalam daerah
deklinasi (D), inklinasi (I), intensitas horizontal
bermedan magnet akan termagnetisasi karena
(H) dan medan magnet total (E).
proses induksi. Intensitas magnetisasi
didefenisikan sebagai tingkat kemmapuan untuk Diperoleh hubungan
meyearahkan momen-momen dipol magnet.
F 2 = H 2 + Z 2 = X 2 + Y2 + Z 2 (6)
 m
2lp
M   rˆ . (3) dimana
V V H = F cos I; Z = F sin I; I = Z/H
 Suseptibilitas Magnetik X = H cos D; Y = H sin D; tan D = Y/X
Adanya variasi medan magnet yang terukur  Prinsip Kerja Proton Precession
disebabkan karena adanya sifat kemagnetan Magnetometer
pada batuan yang berbeda-beda. Besarnya
suseptibilits tergantung banyaknya mineral yang
bersifat magnetik dari batuan. Suseptibilitas
merupakan parameter dari batuan.
 
M  kH . (4)
 Induksi Magnetik

Induksi magnetik B adalah medan total Gambar 2. Cara kerja Proton Precession
termasuk efek magnetisasi. Suatu bahan yang Magnetometer [4]

ditepatkan dalam daerah bermedan magnet H
maka bahan tersebut akan menghasilkan medan Proton Precession Magnetometer terdiri dari
magnet sendiri. sebuat tabung silinder yang berisi dengan cairan
yang kaya atom hidrogen contohnya air. Tabung

ISBN 978-602-19655-7-3 68
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

ini dililiti dengan kumparan yang berfungsi untuk diberikan beberapa pertanyaan pendahuluan
menghasilkan medan magnet. Apabila tidak yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
dipengaruhi oleh medan magnet luar, maka minat siswa terhadap Fisika dan pengetahuan
medan magnet pada alat tersebut akan searah mereka tentang aplikasi dari konsep dan teori
dengan medan magnet bumi, namun apabila Fisika dalam kehidupan. Pertanyaan
ada pengaruh dari medan magnet luar, maka pendahuluan yang diajukan kepada siswa terdiri
akan searah dengan medan magnet baru dan dari 6 pertanyaan dimana pertanyaan tersebut
apabila dihilangkan medan magnet luar tersebut secara garis besar menanyakan mengenai
maka momen-momen magnetiknya kembali bagaimana tanggapan mereka mengenai Fisika:
searah dengan medan magnet bumi. Medan 1) apakah mereka menyenangi pelajaran Fisika,
magnet yang diukur oleh alat tersebut pada titik 2) apakah mereka sering merasa penasaran
pengamatan masih dipengaruhi oleh medan terhadap kejadian atau fenomena alam yang
magnet bumi dan juga medan magnet luar terjadi di sekitar mereka, 3) apakah Fisika
seperti pengaruh dari badai magnetik, oleh merupakan pelajaran yang sulit dan
karena itu perlu dilakukan beberapa koreksi membosankan, 4) apakah jurusan yang akan
terhadap data magnetik tersebut sebelum diolah dipilih setelah mereka lulus dari bangku SMA, 5)
lebih lanjut. apakah ada yang berniat untuk mengambil
jurusan Fisika, 6) apa sajakah penerapan dari
 Koreksi Data Magnetik
hukum-hukum Fisika dalam kehidupan manusia
Koreksi harian merupakan koreksi terhadap yang kalian ketahui.
penyimpangan data magnetik bumi untuk
Dari beberapa pertanyaan yang diajukan,
menghilangkan pengaruh dari medan magnet
jawaban dari para siswa beragam dan mayoritas
luar terhadap data pengukuran.
jawaban terhadap pertanyaan di atas 97% siswa
   menjawab Fisika adalah pelajaran yang sulit dan
H  H observasi  H harian. (7)
membosankan, dan dari 35 orang siswa tersebut
Koreksi IGRF merupakan koreksi terhadap hanya ada 1 siswa yang berminat untuk
data magnetik di lapangan terhadap medan melanjutkan pendidikan di jurusan Fisika.
magnet utama bumi, medan magnet luar dan Setelah dilakukan diskusi dengan para siswa
medan anomali. Koreksi IGRF dihitung dengan mereka menjelaskan bahwa mereka tidak
mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan mengetahui apa manfaat dari belajar Fisika,
magnet total yang telah dihitung koreksi mereka belajar Fisika hanya untuk mengejar
hariannya untuk setiap titik pengukuran. nilai. Setelah memperoleh nilai yang tinggi maka
    tidak ada hal lain yang mereka peroleh.
H  H observasi  H harian  H IGRF . (8) Walaupun banyak dari mereka yang tidak
senang dan merasa bahwa Fisika merupakan
 Pengolahan Data Menggunakan Metode pelajaran yang sulit, namun hal tersebut tidak
Poligon Talwani membuat para siswa menjadi tidak tertarik
dengan materi yang kami sampaikan.
Salah satu teknik interpretasi data magnetik
adalah dengan menggunakan metode poligon Penjelasan mengenai aplikasi metode
magnetik kepada para siswa mendapat
Talwani, yakni metode untuk meghitung
tanggapan yang baik, banyak pertanyaan-
besarnya anomali magnetik sebuah silinder pertanyaan yang mereka ajukan terkait dengan
poligon bersisi-n di bawah permukaan. apa yang telah dijelaskan. Mereka cukup tertarik
Digunakan Metode Talwani Forward Modeling karena yang disampaikan oleh kami adalah
2D (pemodelan ke depan), yaitu dengan terlebih aplikasi nyata dari konsep-konsep Fisika yang
dahulu membuat bentuk dua dimensi dari benda mereka pelajari, dalam hal ini metode magnetik
anomali di bawah permukaan berdasarkan yang ada kaitannya terhadap lingkungan yakni
mencari potensi panas bumi. Dalam
medan magnet pengamatan, medan magnet
pembelajaran Fisika hendaknya para siswa
teori (IGRF) dan medan magnet harian dan akan diajak terlebih dahulu untuk mengamati
diperoleh nilai anomalinya dengan perumusan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar
Talwani. model tersebut dianggap mewakili mereka barulah kemudian diajak untuk
kondisi bawah permukaan. memecahkan fenomena tersebut dengan
konsep-konsep Fisika dimana matematika akan
Hasil dan diskusi menjadi jembatan dalam pemecahan masalah
sehingga dapat dinyatakan secara kuantitatif
Dalam penelitian ini jumlah siswa yang tidak hanya sebatas pada kualitatif saja.
menjadi sampel berjumah 35 siswa. Sebelum
dijelaskan mengenai teori-teori magnetik dan Melalui kegiatan ini diharapkan dapat sedikit
aplikasinya, untuk menarik minat siswa memberi pemahaman kepada para siswa

ISBN 978-602-19655-7-3 69
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

mengenai Fisika bahwa mempelajari Fisika tidak


hanya menghafalkan rumus dan mencari rumus
mana yang cocok untuk menyelesaikan soal-
soal Fisika. Banyak manfaat dan aplikasi nyata
konsep-konsep Fisika yang bermanfaat dalam
menjelaskan fenomena-fenomena alam yang
terjadi di sekitar kita. Salah satu penerapan
konsep Fisika yakni dalam bidang kemagnetan
sebagai survey untuk memperoleh informasi
awal guna pemetaan struktur bawah permukaan
tanah pada daerah panas bumi.

Kesimpulan
Gambar 4. Foto saat penjelasan materi di
Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat dalm kelas XI IPA
bermanfaat bagi siswa dimana melalui kegiatan
ini dapat menambah wawasan para siswa Ucapan terima kasih
mengenai Fisika dan aplikasinya dalam
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
hubungannya dengan lingkungan sekitar
LPPM ITB yang telah membiayai penelitian ini
sehingga pola pikir siswa dapat berubah bahwa
dan terima kasih juga kepada pihak sekolah
belajar Fisika itu menarik selalu berhubungan
SMA Negri 2 Lembata dan pihak Universitas
dengan alam, banyak fenomena-fenomena alam
Katolik Widya Mandira Kupang yang telah
dapat dibahas dengan tinjauan konsep-onsep
mengijinkan tim untuk melakukan penelitian.
Fisika tidak hanya berhadapan dengan rumus-
rumus. Secara tidak langsung hal ini dapat
Referensi
menumbuhkan minat siswa untuk belajar Fisika
dan menumbuhkan berpikir kritis para siswa [1] Fernania, N., Maryanto, S., Rakhmanto F.
terhadap fenomena-fenomena Fisika yang Identifikasi Litologi PanasBumi Tiris
terjadi di sekitar mereka, serta meningkatkan Probolinggo Berdasarkan Metode
minat mereka untuk melanjutkan studi di bidang Magnetik.: Universitas Brawijaya Malang
Fisika. [2] Jannah, Nur., 2011. Interpretasi Data
Magnetik Menggunakan Metode Poligon
Berikut ini beberapa gambar kegiatan yang Talwani 2D (Studi Kasus Data
dilakukan di SMA Karangsambung): Institut Teknologi
Bandung
[3] Telford, W., Geldart, L.P., Sheriff, R.E.,
Keys,. A, 1996. Applied Geophysics. United
Kingdom: Cambridge University Press.
[4] Burger, H., Burger., D, 1992. Exploration
Geophysics of The Shallow Subsurface.
United states of America: Prentice Hall.

Claudia M.M Maing*


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
claudia.maing@yahoo.com

Gambar 3. Foto bersama kepala sekolah dan Suka Prayanta Pandia


siswa – siswa SMA Negeri 2 Lembata. Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
suka.pandia@gmail.com

Cristi Ascika Sekeon


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
cristi.sekeon@gmail.com

Alamta Singarimbun
Institut Teknologi Bandung
alamta@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 70
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengenalan Metode Geolistrik dalam Eksplorasi Potensi Panas Bumi


untuk Siswa SMA
Cristi Ascika Sekeon, Alamta Singarimbun, Suka Prayanta Pandia, dan Claudia Mariska Maing

Email: cristi_sekeon@students.itb.ac.id

Abstrak
Panas bumi adalah salah satu energi yang terbarui yang jumlahnya cukup besar di dunia, khususnya di
Indonesia, terdapat potensi energi 27.140 MW dimana yang diolah baru 4% dari total potensi energi yang
ada. Dengan banyaknya potensi energi panas bumi ini, belum dibarengi dengan jumlah sumber daya
manusia yang bisa mengeksplorasi panas bumi. Kebutuhan sumber daya manusia ini, dapat dipenuhi
dengan melakukan pembelajaran fisika yang senantiasa menghubungankan dengan kehidupan sehari-hari
khususnya geofisika yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Dalam geofisika dipelajari cara
eksplorasi panas bumi, diantaranya dengan metode geolistrik khususnya metode wenner yang digunakan
untuk melihat nilai tahanan jenis dari lapisan tanah dan dengan menginjeksikan arus ke permukaan bawah
bumi kemudian mengukur nilai beda potensial listrik dan arus listrik dan dicari nilai tahanan jenisnya.
Pengenalan metode geolistrik ini di sekolah menengah atas menarik untuk dilakukan karena sangat
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan dapat menarik minat siswa untuk mengekplorasi sumber
daya alam yang ada di sekitar lingkungan dimana siswa tinggal. Dari pengenalan metode ekplorasi panas
bumi sejak sekolah menengah diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang mau dan mampu
untuk melakukan eksplorasi panas bumi di Indonesia.
Kata-kata kunci: Panas bumi, metode geolistrik, metode wenner, tahanan jenis, pembelajaran fisika

hukum-hukum fisika dalam kehidupan sehari-


Pendahuluan
hari. Untuk itu dilakukan suatu kegiatan
Kebutuhan energi selalu menjadi topik memasyarakatkan fisika, khususnya metode
perbincangan yang menarik saat ini, salah geolistrik ini untuk menarik minat siswa atau
satunya kebutuhan energi listkrik. Di Indonesia, mahasiswa dalam mengelola potensi alam yang
energi listrik sebagian besar masih dihasilkan ada di Indonesia.
oleh energi fosil, yang merupakan sumber energi
Metode geolistrik adalah salah satu metode
yang tidak terbarui. Sejak 1 Juli 2014, terjadi
yang menggunakan sifat kelistrikan dari bumi.
kenaikan tarif dasar energi listrik di Indonesia
Dimana material penyusun bumi memiliki
karena meningkatnya harga minyak dunia, yang
perbedaan tahanan jenis dan konduktivitas.
merupakan bahan bakar dari sebagian besar
Pada prinsipnya, metode geolistrik ini
pembangkit listrik di Indonesia. [1] Indonesia
menggunakan nilai tahanan jenis bumi untuk
memiliki sumber panas bumi 27.140 MW tetapi
menentukan ada tidaknya reservoir panas bumi
baru 4% yang sudah dikelolah energinya.[2]
di suatu daerah.
Untuk itu panas bumi bisa dijadikan energi
alternatif dalam memenuhi kebutuhan listrik di
Teori
Indonesia. Potensi panas bumi di Indonesia
yang cukup banyak, haruslah disertai dengan Dalam kegiatan memasyarakatkan fisika
adanya sumber daya manusia yang memadai akan dijelaskan penerapan fisika dalam
juga. Geolistrik adalah salah satu metode dalam penentukan daerah potensi panas bumi dengan
geofisika yang merupakan salah satu bagian dari metode geolistrik tahanan jenis, sehingga perlu
penyelidikan estimasi panas bumi. Metode dijelaskan tentang metode geolistrik tahanan
geolistrik terbagi menjadi beberapa bagian juga, jenis ini. Metode geolistrik tahanan jenis muncul
dimana salah satunya adalah metode geolistrik karena material bumi dianggap memiliki sifat
tahanan jenis. Metode geolistrik tahanan jenis resistif seperti resistor yang berarti setiap
sangat berhubungan dengan fisika, khususnya material penyusun bumi memiliki kemampuan
dengan topik kelistrikan, sehingga metode yang berbeda dalam menghantarkan arus listrik.
geolistrik tahanan jenis dalam penentuan daerah Metode geolistrik tahanan jenis digunakan dalam
panas bumi dapat menjadi contoh penerapan

ISBN 978-602-19655-7-3 71
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

mencari reservoir panas bumi dan Chalcopyte 1.2 X 10-5 – 3 X 10-1


mengekplorasi air tanah.[3] Pyrite 2.9 X 10-5 – 1,5
Pyrrhotite 7.5 X 10-5 – 5 X 10-1
Metode geolistrik tahanan jenis dilakukan
Galena 3 X 10-5 – 3 X 10-2
dengan cara menginjeksikan arus listrik ke tanah
Sphalerite 1,5 X 107
melalui dua elektroda arus dan dua elektroda
Oxides
potensial yang pengukur perbedaan beda
Hematite 3,5 X 10-3 - 107
potensial. [4]
Limonite 103 - 107
Ada beberapa hukum yang mendasari Magnetite 5 X 10-5 – 5,7 X 10
metode geolistrik ini, yaitu Hukum Ohm, Teori Quartz 3 X 102 – 106
Potensial. Rock Salt 3 X 10 – 1013
Anthracite 10-3 – 2 X 105
Lignite 9 – 2 X 102
Hukum Ohm
Granite 3 X 102 – 106
Menurut Hukum Ohm [5]: Granite (weathered) 3 X 10 – 5 X102
V  IR (1) Syenite 102 –106
Diorite 104 – 105
Dimana V adalah beda potensial (Volt), I Gabbro 103 – 106
adalah arus listrik (Ampere) dan R adalah Basalt 10 – 1,3 X 106
hambatan (Ohm). Selain itu, diketahui nilai Schists (calcareus and 20 – 104
hambatan pada suatu penghantar, mica)
Schist (graphite) 10 – 102
L
R (2) Slates 6 X 102 – 4 X107
A Marble 102 – 2,5 X108
Consolidated shales 20 – 2 X103
Dengan L adalah panjang penghantar Conglomerates 2 X 103 – 104
(meter), A adalah luas penampang penghantar Sandstones 1 – 7,4 X108
(meter2),  adalah tahanan jenis (ohm meter). Limestones 5 X 10 – 107
Nilai tahanan jenis inilah yang akan menentukan Dolomite 3,5 X 102 – 5 X103
reservoir panas bumi. Marls 3 – 7 X10
Clays 1 – 102
Alluvium and sand 10 – 8 X102
Teori Potensial Moraine 10 – 5 X102
Jika dianggap medium yang akan dialiri arus Sherwood sandstone 100 – 400
listrik bersifat homogen, maka didapatkan [5] Soil (40% clay) 8
Soil (20% clay) 33
V 1 V2 (3) Top soil 250 – 1700
London clay 4 – 20
Dianggap tidak ada arus yang masuk dan Lias clay 10 – 15
keluar juga saat arus diinjeksikan ke dalam Boulder clay 15 – 35
bumi. Clay (very dry) 50 – 150
Mercia mudstone 20 – 60
Coal measures clay 50
Tahanan Jenis Middle coal measures >100
Chalk 50 – 150
Dalam menentukan ada tidaknya reservoir Coke 0,2 – 8
panas bumi di dalam tanah perlu diketahui nilai Gravel (dry) 1400
konduktivitas atau nilai tahanan jenis dari Gravel (saturated) 100
material penyusun tanah. Jika terdapat nilai Quaternary/Recent 50 – 100
tahanan jenis yang kecil, maka nilai sands
konduktivitas tanah tinggi. Selain itu, ada Ash 4
tidaknya reservoir panas bumi di dalam tanah Colliery spoil 10 – 20
terlihat dari nilai tahanan jenis yang kecil. Pulverised fuel ash 50 – 100
Laterite 800 – 1500
Lateritic soil 120 - 750
Tabel 1. Daftar tahanan jenis bahan penyusun Dry and sandy soil 80 - 1050
bumi [6] Sand clay /clayey sand 30 - 215
Material Tahanan jenis (ohm Sand and gravel 30 - 225
meter) Unsaturated landfill 30 -100

ISBN 978-602-19655-7-3 72
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Saturated landfill 15 -30 disekolah saja dan tidak banyak yang


Acid peat waters 100 mengetahui manfaat mengetahui fisika dalam
Acid mine waters 20 kehidupan sehari-hari. Untuk itu saat tim akan
Rainfall runoff 20 - 100 mempresentasikan tentang materi penentuan
Landfill runoff < 10 - 50 estimasi panas bumi di suatu daerah dengan
Glacier ice (temperate) 2 X 106 – 1,2 X108 fisika siswa cukup tertarik.
Glacier ice (polar) 5 X 104 – 3 X105
Setelah dilakukan presentasi tentang metode
Permafrost 103 – >104
geofisika yaitu geolistrik tahanan jenis dalam
menentukan daerah panas bumi, siswa dapat
melihat hubungan fisika yang dipelajari di
Konfigurasi Wenner sekolah, khususnya kelistrikan dapat digunakan
Dalam metode geolistrik tahanan jenis yang dalam mempelajari fenomena yang ada di
menggunakan elektroda dalam meninjeksikan sekitar lingkungan tempat tinggal siswa, terlebih
arus listrik ke bumi, diketahui beberapa di daerah Nusa Tenggara Timur yang diketahui
konfigurasi dalam penyusunan elektroda. Salah sebagai daerah potensi panas bumi. Siswa
satunya konfigurasi Wenner. terlihat tertarik dengan intensitas pertanyaan
yang cukup banyak.
Dokumentasi kegiatan – kegiatan tersebut
dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 7. Konfigurasi Wenner [5]

Dimana A dan B adalah posisi elektroda arus


injeksi sedangkan C dan D adalah posisi
elektroda yang akan mengukur beda potensial.
Untuk menentukan beda potensial digunakan

I  1 1   1 1 
V         (4) Gambar 2. Foto mempresentasikan metode
2  d1 d 2   d 3 d 4 
geolistrik di UNIKA WIdya

Kemudian untuk menentukan tahanan jenis Di SMA Negeri 2 Nubatukan juga dilakukan
digunakan persamaaan presentasi metode geofisika dalam
pembelajaran fisika.
2V  1 1   1 1 
        (5)
I  1
d d 2   3 d d 4 
Untuk konfigurasi wenner tahanan jenis
ditentukan dengan persamaan,
2aV
 (3)
I

Hasil dan diskusi


Dalam kegiatan memasyarakatkan fisika ini
terlihat bahwa sebagian besar siswa SMA tidak
menyenangi fisika. Berdasarkan tes awal
dengan pertanyaan, diketahui lebih dari 90%
menganggap fisika sulit dan membosankan.
Banyak yang menganggap fisika hanya dipelajari

ISBN 978-602-19655-7-3 73
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 3 Foto dengan siswa SMA Negeri 2 Lembata


Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT
Perusahaan Listrik Negara.
[2] Badan Geologi. 2012. Neraca Panas Bumi.
Diakses di:
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option
=com_content&view=article&id=1027&Itemi
d=642.
[3] Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E
dan Keys, D.A. (1990). Applied
nd
Geophysics, 2 edn. Cambridge:
Cambridge University Press
[4] Loke, M.H. 2000. Electrical Imaging
Surveys for Environmental and Engineering
Studies. Diakses di :
http://www.geo.mtu.edu/~ctyoung/LOKENO
TE.PDF .
Gambar 4. Foto bersama Dekan dan dosen di [5] Lowrie, Wiliam. 2002. Fundamental of
kampus Unwira. Geophysics. New York : Cambridge
University Press.
Kesimpulan [6] Reynolds, John M.. 1997. An Introduction to
Dari kegiatan yang dilakukan, diketahui applied and environmental geophysics.
bahwa kegiatan memasyarakatkan fisika melalui West Sussex : John Wiley & Sons Ltd.
pembelajaran fisika yang aplikatif seperti
memasyarakatkan metode geolistrik ini cukup
menarik siswa dan mahasiswa, terlihat dari
Cristi Ascika Sekeon*
respon mahasiswa dalam menanggapi
Magister Pengajaran Fisika
presentasi yang disampaikan. Sehingga Institut Teknologi Bandung
diharapkan suatu saat akan semakin banyak cristi_sekeon@students.itb.ac.id
sumber daya manusia yang kompeten dalam
mengolah sumber daya alam di Indonesia
terlebih panas bumi. Alamta Singarimbun
Institut Teknologi Bandung
Ucapan terima kasih alamta@fi.itb.ac.id

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Suka Prayanta Pandia*


LPPM ITB yang telah membiayai penelitian ini Magister Pengajaran Fisika
dan terima kasih juga kepada pihak Universitas Institut Teknologi Bandung
Katolik Widya Mandira Kupang dan pihak suka.pandia@gmail.com
sekolah SMA Negri 2 Lembata yang telah
mengijinkan tim untuk melakukan penelitian.
Claudia M.M Maing
Referensi Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
[1] Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Claudia.maing@yahoo.com
Daya Mineral Republik Indonesia Nomor
19. 2014. Perubahan Atas Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor 09 Tahun 2014 tentang Tarif *Corresponding author
Tenaga Listrik yang Disediakan oleh

ISBN 978-602-19655-7-3 74
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Rancangan Sensor Photodiode untuk Pendeteksi Kemiringan


Desyana Olenka M, Imam Wijaya, Dian Ahmad Hapidin, Hendro

email: robiah.wijaya239@gmail.com

Abstrak
Longsor merupakan salah satu bencana yang dapat mengancam kehidupan manusia, khususnya daerah
pegunungan. Untuk itu perlu adanya alat deteksi dini untuk memperingatkan penduduk didaerah rawan
lonsor. Berlandaskan permasalahan itu maka dibuat rancangan alat dengan memanfaatkan sensor
photodiode untuk mengukur kemiringan. Cara kerja sensor dengan meninjau kemiringan cairan didalam
tabung. Dengan kemiringan cairan berubah maka tebal dari bidang yang dilalui cahaya LED akan berubah
dan berbeda tiap kemiringanya. Perbedaan tersebut membuat intensitas cahaya yang terukur juga berbeda
dan menyebabkan tegangan berbeda. Dengan memplot data hasil percobaan maka diperoleh grafik
hubungan tegangan dan sudut θ. Persamaan yang diperoleh dari grafik tersebut kita gunakan untuk proses
linearisasi sensor.
Kata-kata kunci: Bencana Longsor, Photodiode,LED

Pendahuluan
Teori
Peristiwa geologi yang merupakan bencana
Sensor kemiringan
alam dan sering terjadi di wilayah Indonesia
adalah longsor. Longsor adalah suatu gerakan Terdapat berbagai macam sensor
tanah yang terjadi karena pergerakan masa kemiringan. Misalnya Force Balance Tilt sensor.
batuan atau tanah[1]. Bencana longsor dapat Biasa digunakan dalam mengukur kemiringan
dihindari. Salah satunya dengan mengetahui dan inclinometer. Prinsip nya sebuah pendulum
perubahan fisis kondisi tanah. Perubahan fisis terletak diantara detector. Saat permukaan
antara lain curah hujan, pergeseran tanah, strain mengalami kemiringan karena gaya
tanah dan kemiringan tanah/lereng[2]. grafitasi,posisi massa terderteksi oleh sensor
posisi.
Kemiringan Lereng merupakan ukuran
kemiringan lahan relative terhadap bidang datar PIVOT
yang secara umum dinyatakan dalam persen
derajat. Kecuraman lereng,panjang lereng dan Detector
bentuk lereng akan mempenga ruhi besarnya
erosi dan aliran permukaan. Klasifikasi suatu
bidang tanah termasuk datar apabila memiliki Pendulum LED
kemiringan 0-8%. Landai bila memilik kemiringan
>8-15 %. Termasuk agak curam bila kemiringan
nya >15-25%. Dan termasuk curam atau sangat
curam jika kemiringannya >25-45% atau lebih
gambar 1. Force balance tilt sensor
dari 45 %[3]. Kemiringan tanah dapat
mengindikasi kan terjaninya longsor, sehingga
perlu adanya suatu sensor yang dapat mengukur Contoh tipe sensor kemiringan yang lain adalah
kemiringan. Untuk itu dalam penelitian ini kami Sensor kemiringan elektrolit dan capacitiv
mencoba meman faatkan Photodiode dan LED memanfaatkan cairan elektrolit yang diletakkan
untuk sensor kemiringan. Sensor yang dibangun diantara elektroda positif dan elektroda negatif.
menggunakan prinsip perubahan resistansi Ketika elektroda terendam cairan merata sinyal
terhadap kemiringan bidang. Dengan rancangan output yang terukur sama. Ketika cairan diantara
alat yang sederhana dan effisien serta murah elektroda tidak seimbang dengan sudut rotasi
bertujuan agar dapat mengukur kemiringan maka tegangan output yang terukur berbeda dn
suatu bidang tanah. Serta pengembangan lebih mendeteksi kemiringan. Sedangkan untuk sesor
jauh lagi dapat dimanfaatkan sebagai sensor capasitifKetika geometri kapasitor berubah salah
pende teksi longsor satu kapasitansi turun dan salah satunya akan
naik. Keuntungan dari sensor ini kinerja

ISBN 978-602-19655-7-3 75
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

unggul.Tidak mudah berpengaruh perubahan mengeluarkan emisi cahaya. LED merupakan


suhu. Namun kekurangannya adalah biaya temuan lain setelah diode. Strukturnya sama
tinggi. dengan diode, tetapi belakangan ditemukan
bahwa elektron yang menerjang sambungan P-N
Photodiode juga melepaskan energy berupa energy panas
dan energy cahaya[4] . LED dengan cahaya
Photodiode adalah sensor cahaya semikon monokro matiknya memiliki keunggulan
duktor yang dapat mengubah besaran cahaya kekuatan yang besar dari cahaya putih ketika
menjadi besaran listrik. Sensor ini merupa- kan warna yang spesifik diperlukan. Tidak seperti
sebuah diode dengan sambungan p-n yang cahaya putih LED tidak membutuhkan lapisan
dipengaruhi cahaya tampak, ultra ungu sampai atau diffuser yang banyak mengabsorbsi cahaya
dengan sinar-x. Karena photodiode terbuat dari yang dikeluarkan. Cahaya LED mempunyai sifat
semikonduktor p-n junction maka cahaya yang warna tertentu,dan tersedia pada range warna
diserap oleh photodiode akan mengakibatkan yang lebar [4].
terjadinya pergeseran foton yang akan
menghasilkan pasangan electron-hole dikedua
sisi dari sambungan[4]. Ketika elektron-elektron
yang dihasilkan itu masuk ke pita konduksi maka
gambar 3. Simbol dan fisik LED
elektron-elektron itu akan mengalir kea rah
positif sumber tegangan sedangkan hole yang
LED yang digunakan untuk penerima sensor
dihasilkan mengalir ke arah negatif sumber
adalah dari jenis superbrigh 5mm. Kelebihannya
tegangan sehingga arus akan mengalir di dalam
adalah memiliki intensitas dan focus yang lebih
rangkaian.
baik daripada LED biasa. Sedangkan untuk
keperluan indicator digunakan LED kecil biasa
3mm.
gambar 2. Simbol photodiode
Rangkaian Sensor
Besarnya pasangan elektron ataupun hole yang
dihasilkan tergantung dari besarnya intensitas Pada rancangan sensor ini, sistem dirangkai
cahaya yang diserap oleh photodioda. Dengan sebagai berikut :
demikian perubahan intensitas cahaya yang
mengenai photodioda akan merubah resistansi
nya[5].Perubahan intensitas cahaya akibat
perbedaan panjang lintasan cahaya ketika
bidang miring digunakan untuk merubah
resistansi dari photodioda. Kemudian dengan
menggunakan rangkaian pembagi tegangan
sederhana, perubahan resistansi photodioda
dapat dikonversi menjadi perubahan tegangan.
Dengan demikian akan diperoleh tegangan
output sensor sebagai fungsi dari kemiringan.
gambar 4.Rangkaian sensor berbasis
Photodioda
Light-Emitting Diode (LED)
Hukum Lambert-Beer
Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan
LED (light-emitting diode) adalah semikonduktor
Sensor ini mengukur sudut kemiringan suatu
yang memancarkan cahaya monokromatik yang
permukaan dengan memanfaatkan peristiwa
tidak koheren ketika diberi tegangan maju.
absorbansi cahaya ketika melewati larutan.
Gejala ini termasuk bentuk elektroluminisensi.
Absorbandi adalah penyerapan 76egati dari
Warna yang dihasilkan bergantung dari bahan
foton ketika melewati bahan sehingga
semikonduktor yang dipakai, dan bisa juga
intensitasnya berkurang. Misalkan I0 adalah
ultraviolet dekat atau inframerah dekat.
intensitas awal cahaya sebelum melewati bahan
LED menyala jika diberikan tegangan yang
dan I adalah intensitas cahaya setelah melewati
cukup untuk memicu diode persambungan,
bahan, maka hubungan antara A (absorbansi)
biasanya nilainya adalah 1,5 V LED tersebut
dan kedua intensitas adalah:
juga harus dialiri arus listrik yang cukup untuk
menyalakan LED tersebut,biasanya sebesar
10mA. LED merupakan komponen yang dapat

ISBN 978-602-19655-7-3 76
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

I gambar 5. Skema alat


A  log10 (1)
I0 Sensor ini menggunakan larutan berwarna seba
Kemudian absorbansi dapat di nyatakan gai bahan penyerap intensitas cahaya yang
dalam hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert- melaluinya. Sumber cahaya yang digunakan
Beer menyatakan bahwa besarnya serapan (A) berasal dari LED Super Bright yang di tanam di
proporsional dengan besarnya konsentrasi (c) dasar sensor dan receiver cahaya nya adalah
dan lebar bahan penyerap (l) dari zat uji. Secara photodioda yang ditempatkan tepat di atas LED.
matematis Hukum Lambert-Beer dinyatakan Prinsip kerjanya sebagai berikut:
dengan persamaan

I0
A  log10   lc (2)
I
ε (epsilon) dalam persamaan ini disebut dengan
koefisien absorpsi molar. Dari persamaan (2)
maka intensitas ahir I dapat dinyatakan dengan
persamaan :
gambar 6. Prinsip kerja alat
I final  I 0 x10 lc (3)
Pada persamaan (3) kita menggunakan nilai dan Sinar monokromatik dari LED akan melewati
c konstan, karena larutan didalam tabung tidak larutan berwarna dan di terima oleh photodioda.
berubah, sehingga yang mempengaruhi Ketika bidang dalam keadaan miring, panjang
intensitas yang diterima oleh Photodiode hanya lintasan cahaya melewati larutan akan berubah.
ketebalan larutan yang ditembus oleh cahaya. Seperti pada gambar diatas, kemiringan sensor
akan menyebabkan panjang lintasan bahan lebih
kecil sehingga absorbansi nya lebih kecil.
Dengan demikian intensitas cahaya setelah
Metode melewati bahan akan berbeda bergantung
kemiringan sensor, dalam gambar diatas I2 > I1
Perancanangan Perangkat > I0.Perubahan intensitas cahaya akibat
Sensor terdiri dari silinder yang berisi cairan perbedaan panjang lintasan cahaya ketika
elektrolit setengah penuh. Kemudian di bidang miring digunakan untuk merubah
dalamnya dimasukkan elektroda . Jika di kedua resistansi dari photodioda. Kemudian dengan
elektroda terdapat beda potensial maka arus menggu nakan rangkaian pembagi tegangan
akan mengalir dari katoda (kutub positif) ke sederhana, perubahan resistansi photodioda
anoda (kutub 77egative). Elektroda yang dipakai dapat dikonversi menjadi perubahan tegangan.
dapat berupa konduktor dari logam, akantetapi Dengan demikian akan diperoleh tegangan
karena resistansi dari konduktor logam kecil, output sensor sebagai fungsi dari kemiringan.
maka dipilih bahan elektroda dari karbon
komposit yang memiliki resistansi cukup besar.
Karbon komposit adalah campuran dari karbon Hasil Karakterisasi
(arang) dengan tanah liat sehingga resistansinya
bergantung pada komposisi campurannya. Dari hasil eksperimen yang telah dilakukan
Karbon komposit dapat dijumpai pada kehidupan diperoleh fungsi transfer hubungan antara
sehari-hari , salah satunya yaitu di dalam pensil. tegangan dengan kemiringan sebagai berikut :
Sensor ini memanfaatkan sifat dari cairan yaitu
permukaannya selalu datar (horizontal)
bagaimanapun posisi wadahnya. Sensor yang
dibangun memanfaatkan perubahan panjang
bahan penyerap (l) untuk merubah intensitas
akhir (I). Berikut gambar skema dari sensor:

gambar 7.Grafik fitting dengan matlab

Dengan menggunakan Matlab dilakukan Fitting


terhadap grafik hubungan tegangan dan

ISBN 978-602-19655-7-3 77
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

kemiringan sehingga diperoleh persamaan perubahan kemiringan tinggi. Linierisasi


fungsi transfer sebagai berikut : mudah,dapat dilakukan dengan bantuan
software dan tahan terhadap suhu ekstrimum
karena tabung dibuat adiabatik.
  9.3 
2
 
V ( )  0.516e  233.4 
dengan
Kesimpulan
R  seq  0.98 (4)
Dari percobaan yang telah dilakukan. Ranca
Dari persamaan (4) dan gambar 5 diketahui ngan sensor yang memanfaatkan Photodiode
bahwa fungsi transfer untuk sensor ini tidaklah dan LED meski banyak kendala yang harus
linier, untuk itu perlu proses linierisasi dari fungsi diatasi, secara signifikan dapat mendeteksi
transfer tersebut. Proses linearisasi dilakukan kemiringan suatu permukaan. Untuk mendeteksi
dengan memplot hubungaantara Ln V dengan deformasi pada daerah rawan longsor perlu
α 2sehingga diperoleh : dilakukan penelitian lebih lanjut.

Referensi

[1] Pusat Bencana Aceh.Pengertian tanah


longsor.http://piba.tdmrc.org/content/penger
tian-tanah-longsor diakses tanggal 12
November 2014

gambar 8. Plot grafik data linier [2] Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi
Lahan dan Konservasi Tanah, 1986;
Dengan memfiting grafik diatas dengan mathlab http/KLASIFIKASI KEMIRINGAN
maka diperoleh persamaan : LERENG.htm diakses tanggal 12
November 2014
LnV ( 2 )  1.192 x105 2  0.661
[3] Anonim,PIMITS 11.Workshop Robotika
dengan R  seq  0.994 (5) PENS-IT2008.http://mfile.narotama.ac.id
diakses tanggal 12 November 2014
Karakteristik sensor ini sebagai berikut :
1. Tegangan in (Vin) adalah 6-12 V dengan arus [4] Photodiode and LDRhttp://elektronikadasar.
lebih web.id/instrument/konstruksi -dan-
2. Kecil dari 1 Ampere tipewattmeter/
3. Tegangan Output dari sensor 0.481-0.517 Volt
[5] Sapiie S., Nishino O., 1979, Pengukuran
4. Sudut Kemiringan maksimum 70 ° dan Alat-alat Ukur Listrik., Jakarta :
Pradnya Paramita.

Diskusi
Desyana Olenka Margaretta
Dari pengukuran tegangan keluaran (Vout) yang Institut Teknologi Bandung
telah dilakukan diperoleh beberapa noise yang retta.lenka@gmail.com
diakibatkan dari rancangan sensor yang telah
didesain. Kendala tersebut diantaranya Imam Wijaya*
pembuatan tabung yang kurang hitam sempurna Institut Teknologi Bandung
robiah.wijaya239@gmail.com
sehingga mengakibatkan adanya pemantulan
dari cahaya LED secara acak dan mengakibat
kan Intensitas yang diterima oleh Photodiode Dian Ahmad Hapidin
berubah-ubah. Oleh karena itu real sinyal output Institut Teknologi Bandung
dari tegangan keluaran selalu berubah-ubah. Hendro M.S
Untuk mengatasi hal itu perlu rancangan sensor Institut Teknologi Bandung
yang dinding permukaannya dibuat hitam hendro@fi.itb.ac.id
sempurna sehingga dapat menyerap cahaya
yang terpantul dari air. Rangkaian dari sensor
*Corresponding Author
sederhana dan murah. Sensitivitas terhadap

ISBN 978-602-19655-7-3 78
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengamatan Efek Kacang Brazil Dua Dimensi dan Analisa Transfer


Energinya dengan OpenCV yang telah Terstandarkan Prosedurnya
Dimas Praja Purwa Aji, Siti Nurul Khotimah, dan Sparisoma Viridi

Email: dmspraja2105@gmail.com

Abstrak
Efek Kacang Brasil (atau disingkat dengan EKB) 2-D, suatu fenomena di mana intruder yang pada awalnya
terletak di dalam dan terlingkupi oleh granular bed, akan perlahan bergerak naik ke atas, dapat diamati
menggunakan kamera dengan gambar tiap saatnya diolah menggunakan pustaka OpenCV yang
distandarkan prosedurnya sehingga dapat diperoleh posisi intruder tiap saatnya. Bed butiran dari bahan
ketumbar yang dianggap berbentuk bola dan intruder berbentuk cakram dengan diameter 3.75 cm, massa
intruder sekitar 3.97 g, partikel bed mengisi sekitar 60 % dari tinggi wadah (tinggi medium butiran ~ 12.7
cm). Teramati bahwa energi yang digunakan oleh intruder untuk naik ke atas yaitu dalam mengatasi energi
potensial sistem dan dari energi kinetik intruder sistem tersebut dihasilkan besarnya hanya sekitar 0.1 % dari
total energi yang diberikan dari vibrator.
Kata-kata kunci: Efek Kacang Brasil, Material Butiran, Transfer Energi

terdapat permasalahan dalam kebenaran proses


Pendahuluan
deteksinya dikarenakan belum begitu pahamnya
EKB merupakan fenomena pada material proses deteksi yang dilakukan oleh fungsi
butiran yang terjadi ketika terdapat campuran tersebut. Dikarenakan hal tersebut, makalah ini
dua atau lebih jenis butiran yang berbeda ukuran akan mencoba menjelaskan mengenai
diberi getaran, maka campuran butiran tersebut penyusunan prosedur percobaan EKB 2-D
akan memisah dengan butiran yang berukuran menggunakan Open CV agar dapat
lebih besar biasa disebut intruder yang pada memudahkan bagi yang ingin mengamati
awalnya terletak di dalam dan terlingkupi oleh percobaan EKB 2-D menggunakan Open CV ke
material butiran yang lebih kecil biasa disebut depannya.
granular bed, akan secara perlahan bergerak
naik ke atas [1]. Fenomena EKB tersebut Teori
disebabkan oleh beragam faktor, antara lain
Pendeteksian lingkaran dengan fungsi Hough
adalah karena adanya void filling dan konveksi
Circle Transform pada Open CV, bergantung
[2,3]. Intruder membutuhkan waktu untuk
pada deteksi tepi yang merupakan perbedaan
bergerak naik ke atas, waktu yang dibutuhkan
nilai skala warna dari gambar. Kemudian, dari
tersebut disebut dengan waktu apung. Lamanya
tepi yang terdeteksi tersebut digunakan
waktu apung akan bergantung pada rasio massa
perhitungan menggunakan persamaan lingkaran
jenis, jenis intruder dan partikel bed [4], gerakan
untuk mempertimbangkan tepi-tepi tersebut
udara di antara sela-sela partikel bed [5],
merupakan tepi dari sebuah lingkaran atau
kedalaman awal intruder dalam bed butiran [6],
bukan [11].
gesekan yang terjadi antara partikel bed dan
intruder [7], dan frekuensi vibrasi [8-10]. Pusat massa dari sistem dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan
Dalam percobaan untuk EKB 3-D, umumnya
lebih sulit dilakukan pengamatan terhadap posisi
rpm 
m rn n
, (1)
tiap saat dari intrudernya dibandingkan dengan
percobaan EKB 2-D. Oleh karena itu, percobaan m n

yang dilakukan kali ini merupakan percobaan


EKB 2-D. Salah satu cara yang dapat dilakukan di mana persamaan (1) menceritakan bahwa
untuk mengamati EKB 2-D tersebut adalah posisi pusat massa sistem r pm yang terdiri dari
menggunakan Open CV. Dalam percobaan yang
N jumlah obyek dalam sistem, merupakan
dilakukan menggunakan Open CV, intruder yang
penjumlahan total antara massa obyek ke-n atau
berbentuk lingkaran dideteksi dengan fungsi
deteksi lingkaran Hough Circle Transform. m n yang dikalikan posisi pusat massa obyek ke-
Namun, dalam prakteknya seringkali masih

ISBN 978-602-19655-7-3 79
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

n atau rn kemudian dibagi dengan jumlah total


massa obyek. Indeks n berjalan dari 1 sampai N.
Energi potensial sistem merupakan perkalian
antara massa sistem dengan percepatan
gravitasi dan ketinggian relatif pusat massa
sistem terhadap bumi. Dalam pergerakan
intruder untuk mencapai ke atas terdapat nilai
besaran energi kinetik intruder yang besarnya
merupakan setengah dari perkalian antara
massa intruder dan kecepatan gerak tiap
waktunya dikuadratkan.
Sedangkan energi yang dapat diberikan oleh
sumber getaran besarnya dapat ditentukan dari
persamaan

V2
E  Pt  t, (2)
R
Persamaan (2) menunjukan bahwa energi E dari
sumber getaran merupakan perkalian antara
daya P dan waktu t. Di mana daya P merupakan
tegangan listrik yang diberikan V dikuadratkan
dibagi dengan hambatan total sumber getaran R.

Prosedur Percobaan
Alur prosedur percobaan yang diajukan untuk
distandarisasikan dalam percobaan EKB 2-D
menggunakan Open CV digambarkan dalam
Gambar 1.

Hasil dan diskusi


Percobaan yang telah dilakukan
menggunakan bed butiran dari bahan ketumbar
yang dianggap berbentuk bola dan intruder
berbentuk cakram dengan diameter 3.75 cm, Gambar 1. Diagram alir prosedur percobaan
massa intruder sekitar 3.97 g, partikel bed yang digunakan dalam percobaan EKB 2-D
mengisi sekitar 60 % dari tinggi wadah menggunakan Open CV.
berukuran 21 × 14 × 0,4 cm (tinggi medium
butiran ~ 12.7 cm). Dengan menggunakan
prosedur percobaan dalam Gambar 1 akan
teramati seperti dalam Gambar 2(B) sedangkan
jika tanpa menggunakan prosedur percobaan
dalam Gambar 1 dapat teramati seperti dalam
Gambar 2(A)

Gambar 2. (A) Hasil deteksi lingkaran dengan


Open CV tanpa menggunakan prosedur
percobaan. (B) Hasil deteksi lingkaran dengan
Open CV dengan menggunakan prosedur
percobaan.

ISBN 978-602-19655-7-3 80
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Dari hasil deteksi lingkaran yang digunakan


dengan Open CV, didapatkan data posisi pusat
massa tiap saat dari intruder yang kemudian
dapat digunakan untuk menentukan posisi pusat
massa sistem menggunakan persamaan (1).
Dalam percobaan yang dilakukan adalah dalam
rentang frekuensi vibrasi 23-26 Hz dengan
kenaikan 0,5 Hz dan amplitudo sebesar 9,6 Vpp.

Gambar 5. Perubahan nilai energi kinetik


intruder tiap waktunya untuk berbagai frekuensi
getar 23-26 Hz dengan amplitudo tegangan
getar 9,6 Vpp.
Sedangkan nilai energi yang dapat diberikan
oleh sumber getaran dengan tegangan yang
diberikan sebesar 9,6 Vpp ditampilkan dalam
Gambar 6.
Gambar 3. Perubahan posisi pusat massa
sistem ypm terhadap xpm untuk berbagai frekuensi
getar 23-26 Hz dengan amplitudo tegangan
getar 9,6 Vpp.
Energi potensial sistem dari percobaan bisa
didapatkan menggunakan hasil ketinggian posisi
pusat massa sistem relatif terhadap bumi yang
dikalikan dengan massa sistem dan percepatan
gravitasi sebesar 9,78 m/s2.

Gambar 6. Kerja maksimum vibrator yang dapat


ditransfer ke dalam sistem granular tiap
waktunya untuk berbagai frekuensi getar 23-26
Hz dengan amplitudo tegangan getar 9,6 Vpp.
Dalam Gambar 2 dapat dilihat perbandingan
hasil antara percobaan yang menggunakan
prosedur percobaan dalam Gambar 1 dan yang
tidak. Pada gambar 2(A) terlihat lingkaran-
lingkaran selain intruder yang terdeteksi
menggunakan Open CV adalah akibat dari
pencahayaan yang kurang baik dan perbedaan
warna yang kurang tepat antara latar dan
Gambar 4. Perubahan nilai energi potensial intruder yang akan dideteksi, di mana dengan
gravitasi sistem tiap waktunya untuk berbagai menggunakan prosedur percobaan dalam
frekuensi getar 23-26 Hz dengan amplitudo Gambar 1 dapat dihilangkan pada bagian tahap
tegangan getar 9,6 Vpp. eksperimen berikut pengambilan data video
Kemudian, energi kinetik intruder untuk dengan mengatur pencahayaan dan latar yang
mencapai ke atas didapatkan dari percobaan digunakan. Selain itu, dapat juga dihilangkan
sebagaimana disajikan dalam Gambar 5. dengan menggunakan prosedur percobaan
dalam Gambar 1 dengan mengatur lingkaran
yang ditampilkan sebagai hasil dengan
memperhatikan kondisi dan membatasinya
secara fisis.
Dari Gambar 6, 5, dan 4 dapat dilihat bahwa
besarnya energi yang ditransfer dari sumber
getaran jauh lebih besar dibandingkan dengan
energi potensial sistem dan energi kinetik
intruder. Besarnya energi yang ditransfer dari
sumber getaran ke sistem untuk menaikkan

ISBN 978-602-19655-7-3 81
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

intruder hanya sekitar 0,06-0,28 % jika diamati [8] Rosyida, R., 2012, Eksperimen Efek
dari energi potensial sistem dan energi kinetik Kacang Brazil dengan Intruder Bola dan
intruder saja. Itu berarti, sisa energi yang Penentuan Viskositas Granular secara
diberikan oleh sumber getaran untuk menaikkan Numerik, (Tugas Akhir S1, Institut
intruder bisa saja diubah menjadi energi lain Teknologi Bandung, Indonesia)
seperti bunyi, panas ataupun energi kinetik yang [9] Novendia, C., 2013, Observasi Posisi Pusat
digunakan oleh granular bed namun besarnya Massa Intruder Cakram Tunggal dan
tersebut belum dapat ditentukan dalam Pemodelan Disipasi Energinya pada Kasus
percobaan ini. Efek Kacang Brazil Dua Dimensi, (Tugas
Akhir S1, Institut Teknologi Bandung,
Kesimpulan Indonesia)
[10] Persia, D. N., 2013, Pengamatan Waktu
Besar energi yang ditransfer dari sumber
Apung Efek Kacang Brazil Dua Dimensi
getaran ke sistem granular untuk menaikkan
dengan Intruder Tunggal Sebagai Fungsi
intruder dalam EKB 2-D hanya sekitar 0,1 % saja Frekuensi dan Amplitudo Vibrasi, (Tugas
yang menjadi energi kinetik maupun untuk Akhir S1, Institut Teknologi Bandung,
mengatasi energi potensial sistem. Prosedur
Indonesia)
percobaan yang digunakan sudah dapat
[11] Rhody, H., 2005, Lecture 10 : Hough Circle
memperlihatkan EKB 2-D dengan baik namun
Transform, (Slide Lecture, Rochester
dalam percobaan yang telah dilakukan belum
Institute of Technology). Diambil dari
dapat menentukan keseluruhan perubahan https://www.cis.rit.edu/class/simg782/lectur
energi yang ditransfer dari sumber getaran untuk es/lecture_10/lec782_05_10.pdf [diakses
menaikkan intruder dalam EKB 2-D.
pada 21 September 2014]
Ucapan terima kasih
Sosialisasi penelitian ini didukung oleh RIK Dimas Praja Purwa Aji*
ITB tahun 2014 dengan Nomor kontrak 914/AL- Nuclear Physics and Biophysis Research Division
J/DIPA/PN/SPK/2014. Institut Teknologi Bandung
dmspraja2105@gmail.com
Referensi
Siti Nurul Khotimah
[1] Rosato, A., Strandburg, K. J., Prinz, F. dan Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Swendsen, R. H., 1987, Why the Brazil Institut Teknologi Bandung
Nuts are on top: size segregation of nurul@fi.itb.ac.id
particulate matter by shaking, Physical
Review Letters, 58 (10), 1038-1040 Sparisoma Viridi
[2] Balista, J. A. F., Juanico, D. E. O., dan Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Saloma, C. A., 2010, The Brazilian Nut Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id
Effect by Void Filling : An Analytic Model,
Complexity 16 (5), 9-16
[3] Duran, J., Mazozi, T., Clement, E., dan *Corresponding author
Rajchenbach, J., 1994, Size segregation in
a two-dimensional sandpile: Convection
and arching effects, Physical Review E 50
(6), 5138-5141
[4] Möbius, M. E., Lauderdale, B. E., Nagel, S.
R. dan Jaeger, H. M., 2001, Brazil-Nut
Effect: Size Separation of Granular
Particles, Nature, 414 (6861), 270
[5] Naylor, M. A., Swift, M. R. dan King, P. J.,
2003, Air-Driven Brazil Nut Effect, Physical
Review E, 68 (1), 012301
[6] McCoy, B. J. dan Madras, G., 2006, Cluster
Kinetics Model of Particle Separation in
Vibrated Granular Media, Physical Review
E, 73 (1), 011301
[7] Ulrich, S., Schröter, M. dan Swinney H. L.,
2007, Influence of Friction on Granular
Segregation, Physical Review E, 76 (4),
042301

ISBN 978-602-19655-7-3 82
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Diagnosis Kesulitan-kesulitan Siswa dalam Konsep Gerak dan Gaya


(Sebuah Penelitian Survey)

Duden Saepuzaman, Achmad Samsudin, Asep Dedy Sutrisno, Ida Kaniawati, dan Yusnim,

Email: dsaepuzaman@upi.edu

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan konsep siswa terhadap materi hukum Gerak dan
Gaya pada saat siswa pelajari di kelas X yang menjadi konsep prasyarat di kelas XI untuk materi yang sama
dengan memperhitungkan efek gesekan. Penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk mendiagnosis
kesulitan belajar siswa dalam konsep Gerak dan Gaya. Alat pengumpul data yang digunakan berupa tes
diagnostik berbentuk uraian yang mencakup materi-materi essensial dalam mempelajari hukum Gerak dan
Gaya. Hasil tes menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam hal; 1) menggambar diagram gaya yang
bekerja pada benda, 2) menerapkan konsep umum untuk menyelesaiakan persoalan hukum Gerak dan
Gaya yang kondisinya berbeda dengan contoh yang biasa siswa terima di kelas ( misalnya gaya membentuk
sudut tertentu dengan perpindahan), dan 3) memproyeksikan gaya. Hasil angket menunjukkan
pembelajaran yang biasa siswa lakukan belum sepenuhnya memfasilitasi dalam penguasaan konsep.

Keywords: Diagnosis, kesulitan-kesulitan, konsep gerak dan gaya, survey

Pendahuluan Teori
Hakikat pembelajaran IPA adalah proses,
Pentingnya mengetahui kesulitan siswa ini
produk dan sikap. Oleh karena itu, pembelajaran
karena akan dijadikan pijakan oleh guru dalam
IPA di sekolah tidak hanya mementingkan
menentukan treatment yang tepat untuk
penguasaan fisika terhadap fakta konsep dan
mengatasinya. Pemahaman siswa terhadap
teori IPA (sebagai produk) tetapi yang lebih
suatu konsep sering disebut dengan istilah
penting adalah siswa mengerti proses
konsepsi. Beberapa alasan yang mendasari
bagaimana fakta dan teori-teori tersebut
pentingnya mengidentifikasi konsepsi siswa
ditemukan. Dengan kata lain siswa harus
diantaranya (a) konsepsi awal siswa sering tidak
mendapat pengalaman langsung dan
sesuai dengan konsepsi ilmiah para ilmuwan.
menemukan sendiri proses tersebut [1].
Konsepsi ini sering disebut sebagai konsepsi
Tetapi kadang siswa lebih memilih
awal siswa [2]. Hal ini mungkin disebabkan
menggunakan startegi berbasis rumus daripada
karena kurang lengkapnya informasi yang siswa
mengikuti proses pembelajaran ilmiah dalam
peroleh, (b) Konsepsi awal siswa dapat
membentuk pemahaman konsepnya. Hal ini
mempengaruhi, membantu dan mernghambat
berdampak pada konsep yang mereka peroleh
pemahaman konsep Fisika siswa bahkan dapat
kadang tidak bisa bertahan lama. Artinya
memunculkan sumber kesulitan baru [3].
konsistensi konsepsi ilmiah siswa masih kurang.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini
konsepsi awal siswa baik untuk konsep- adalah metode penelitian survey. Artinya dalam
konsepyang telah dipelajari (sebagai apersepsi) penelitian ini hanya meninjau kondisi yang ada di
ataupun terhadap materi yang akan diajarkan lapangan dan menggambarkan kondisinya tanpa
( konsepsi awal). Fakta di SMAN 6 Bandung memberikan treatment atau perlakuan
menunjukkan bahwa siswa kelas XI mengalami tertentu.Hasil penelitian ini menggambarkan
kesulitan dalam mempelajari hukum Newton. bagaiamana kemampuan siswa dalam
Padahal materi yang akan mereka pelajari memahami konsep gerak dan gaya yang telah
adalah konsep gerak dan gaya. Tambahannya mereka pelajari di kelas X.
untuk kelas XI adalah adanya pengaruh gesekan
yang tidak diabaikan. Tetapi untuk mengetahui Hasil dan diskusi
secara akurat bagian-bagian dari konsep mana
saja yang masih dirasa sulit oleh siswa. Untuk Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh
tujuan ini, maka perlu upaya untuk mendiagnosis beberapa hasil sebagai berikut.
kesulitan-kesulitan siswa. 1. Hampir seluruh siswa ( 89,47 %) dapat
menyelesaikan soal-soal yang terkait
penerapan hukum Newton untuk soal-soal

ISBN 978-602-19655-7-3 83
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

yang sifatnya umum dan sebelumnya sudah Kesalahan terbanyak ketika memproyeksi suatu
diajarkan oleh guru. Hal ini berdasarkan data gaya pada bidang x dan y. Untuk sistem benda
bahwa 34 dari 38 siswa menjawab benar soal ini, proyeksi berat itu ke sumbu x menjadi
nomor 1 dalam tes diagnostik. Soal nomor 1 (w sin α) dan ke sumbu y adalah (w cos α) ,
sebagai berikut. dengan α adalah sudut antara bidang miring
dengan lantai. Secara umum proyeksi yang
F benar digambarkan sebagai berikut.

A F

Balok A massanya 20 kg ditarik dengan gaya w sin α w cos α


mendatar F= 200N bidang datar licin seperti
w
gambar maka setelah 10 detik balok telah
berpindah sejauh… m
Ketika dilakukan wawancara pada guru dan Hal ini terjadi karena siswa belum sepenuhnya
siswa, memang untuk tipe soal seperti ini siswa mengerti dengan konsep proyeksi gaya.
sudah terbiasa dan guru pun biasa memberikan Wawancara nonformal dengan beberapa siswa,
soal-soal tipe seperti ini. Sehingga pengulangan mereka berpendapat bahwa setiap ada gaya
materi atau repetisi materi cukup berbekas pada yang tidak mendatar, maka harus diproyeksikan
kognitif siswa. Tetapi ada juga siswa tidak bisa ke sumbu x menjadi ( gaya x sin α) dan ke
menjawab soal ini karena lupa konsepnya. Untuk sumbu y menjadi ( gaya x cos α). Hal ini
kasus ini menunjukkan bahwa siswa tidak berdampak pada gaya dorong F pada gambar
paham dengan konsep gerak dan gaya, hanya diproyeksikan kembali padahal sebenarnya sdah
terkesan menghapal. dalam sumbu x.Karena penetuan sumbu
koordinat x adalah sejajar bidang miring.
2. Sebagian besar siswa masih mengalami Untuk mengurangi miskonsepsi ini, maka siswa
kesulitan dalam menggambarkan diagram harus benar-benar dilatihkan dan diberi
gaya yang bekerja pada benda, terutama pemahaman yang mendasar terkait prinsip
untuk benda yang berada pada bidang yang proyeksi. Salah satu alternatife dengan
tidak mendatar, misalnya bidang miring. pengenalan rumus phytagoras untuk segitiga
Hanya sekitar 19 dari 38 siswa yang bisa siku-siku, yang sudah mereka pelajari di
menjawab benar. Beberapa konsepsi yang matematika.
keliru yang dialami oleh siswa
3. Menerapkan konsep umum untuk
menyelesaiakan persoalan hukum Gerak dan
Gaya yang kondisinya berbeda dengan contoh
yang biasa siswa terima di kelas ( misalnya gaya
membentuk sudut tertentu dengan perpindahan.
Kesalahan paling dominan seperti ditunjukkan
gambar berikut. F

Gambarkan gaya-gaya yang bekerja pada


peti tersebut !

a. Gambarkan diagram gaya dengan tanda


panah yang merepresentasikan gaya
yang bekerja pada balok kayu tersebut
dan berikan label (nama) pada setiap
tanda panah yang digambarkan!
Gambarkan pula arah percepatannya
dengan tanda panah!

b. Balok kayu bermassa 5 kg, ditarik dengan


gaya sebesar 30 N, dengan membentuk

ISBN 978-602-19655-7-3 84
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

sudut sebesar 60º dari horizontal. agak berbeda dengan contoh soal yang biasa
Hitunglah besar percepatan yang dialami diberikan di kelas.
balok kayu jika gaya gesekan dengan Faktor lain yang mempengaruhi adanya
lantai sebesar 4 N
miskonsepsi ini adalah siswa kurang begitu
minat terhadap pelajaran fisika. Hal ini
Dalam menjawab bagian a) secara umum terungkap dari wawancara dengan siswa yang
banyak siswa yang menjawab benar, tetapi ada menyatakan bahwa mereka tidak menyukai
juga beberap siswa jawabannya keliru dalam pelajaran fisika karena sulit dan berat harus
memproyeksi gaya F dalam sumbu x menjadi F menghapal rumus-rumus.
sin θ dan dalam y menjadi F cos θ. Padahal
untuk kasus ini seharusnya dalam sumbu x
Sebagai upaya perbaikan hasil belajar, perlu
adalah F cos θ dan dalam sumbu y adalah F sin
θ. Siswa masih kesulitan dengan cara proyeksi, diupayakan solusi atau pembelajaran yang
sehingga semua kasus hamper dipandang sama benar-benar mampu mefasilitasi pemahaman
ketika gayanya tidak mendatar. konsep siswa dan mampu meningkatkan minat
Untuk bagian b), 55,53 % menjawab keliru, siswa terhadap fisika. Salah satu alternatif
secara umum kekeliruannya bisa digambarkan adalah pembelajaran yang berbasis CELS
sebagai berikut. (Combination Experiment Laboratory by
Simulation). CELS adalah metode
berekperimen (berpraktikum) yang memadukan
antara eksperimen yang bersifat inkuiri dengan
multimedia interaktif berbasis animasi, simulasi,
dan video sebagai pendahuluan dalam
memandu siswa SMA berekperimen di
laboratorium IPA SMA.
Bereksperimen sangat diperlukan dalam upaya
penanaman konsep pada siswa, sedangkan
multimedia , selain untuk meningkatkan minat
siswa pada fisika, tetapi untuk mengahadirkan
Dalam menerapkan hukum II Newton siswa fenomena /visualisasi atau kondisi yang
langsung saja memasukan nilai F yang memang tidak bias dihadirkan secara nyata.
diketahui, tanpa mempedulikan apakah gaya F
mana yang searah percepatan. Seharusnya Kesimpulan
hanya F searah sumbu x lah yang
Berdasarkan hasil pengilahan dan
mengahasilkan percepatan. Jadi seharusnya
pembahasan data dapat disimpulkan bahwa 1)
jawaban siswa : Siswa cukup bisa menyelesaiakan soal-soal
yang tipe soalnya pernah diajarkan oleh kelals 2)
menggambar diagram gaya yang bekerja pada
benda/ memproyeksikan gaya,dan 3)
menerapkan konsep umum untuk
menyelesaiakan persoalan hukum Gerak dan
Gaya yang kondisinya berbeda dengan contoh
yang biasa siswa terima di kelas ( misalnya gaya
membentuk sudut tertentu dengan
perpindahan).Selain karena pembelajaran yang
kurang menfasilitasi pemahaman konsep siswa,
Adanya miskonsepsi ini, bisa jadi karena minat siswa terhadp fisika masih kurang.
beberpa faktor. Diantaranya metode Pembelajaran yang berbasis CELS bisa
dijadikan sebagai alternative dalam upaya
pembelajaran yang biasa dilakukan kurang
memperbaiki hasil belajar siswa.
mampu memfasilitasi siswa untuk memahami
konsep gerak dan gaya. Siswa cenderung Referensi
hanya menghafal rumus-rumus hukum Newton.
Sehingga siswa kesulitan ketika harus [1] Depdiknas. Strategi pembelajaran MIPA.
menyelesaikan persoalan gaya yang sistemnya Jakarta, Direktorat Tenaga Kependidikan
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu

ISBN 978-602-19655-7-3 85
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pendidik Dan Tenaga Kependidikan


(2006)
[2] Suryadi, D. (2005). Improving the quality of
mathematics and science teaching for
primary and secondary education in
Indonesia. Paper presented in
International Seminar on Best Practices in
Science and Mathematics Teaching and
Learning organised by National Institute
for Educational Policy Research (NIER)
and the Asia Pacific program of
Educational Innovation for Development
(APEID) UNESCO. Bangkok, November
14-18, 2005.
[3] Hamalik, O. (2003). Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Bumi Aksara

Duden Saepuzaman*
Program Studi Pendidikan Fisika,
Universitas Pendidikan Indonesia
Email: dsaepuzaman@upi.edu

Achmad Samsudin
Program Studi Pendidikan Fisika,
Universitas Pendidikan Indonesia

Asep Dedy Sutrisno


Program Studi Pendidikan Fisika,
Universitas Pendidikan Indonesia

Ida Kaniawati
Program Studi Pendidikan Fisika,
Universitas Pendidikan Indonesia

Yusnim
SMAN 6 Bandung

*corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 86
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sifat Anti Bakteri Minyak Atsiri Kulit Jeruk Purut


Ester Ria Tuahmi Saragih, dan Untung Sudharmono

Email: Ester.saragih27@gmail.com

Abstrak
Buah jeruk purut (Citrus hystrix) sejak dulu kala sudah digunakan oleh masyarakat di Indonesia sebagai
rempah-rempah dan bermanfaat untuk mengobati penyakit. Bagian yang sering digunakan adalah buahnya
(air perasan maupun kulitnya) dengan salah satu manfaatnya digunakan untuk kulit yang bersisik serta
mengelupas atau luka agar tidak terjadi infeksi karena bakteri. Kulit yang bersisik dan mengelupas atau luka
merupakan salah satu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia Coli. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui sifat dari anti bakteri kulit jeruk purut (Citrus hystrix) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia
Coli secara in vitro. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen laboratorium secara Posttest-Only
Control Design yang akan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Advent
Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek anti bakteri dari kulit jeruk purut memiliki daya hambat
terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli yang diberikan perlakuan minyak atsiri. Jadi, dengan efek
anti bakteri minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan dengan cepat.
Kata-kata kunci: Anti bakteri, Minyak atsiri, Kulit jeruk purut, Escherichia Coli.

bakteri dari buah kulit jeruk lemon (Citrus Limon)


Pendahuluan
yang memberikan efek anti bakteri untuk
Buah jeruk purut (Citrus hystrix) sejak dulu menghasilkan obat terhadap mulut (karies gigi)
kala sudah digunakan oleh masyarakat di yang terinfeksi bakteri Streptococcus Mutan.
Indonesia sebagai rempah-rempah dan
bermanfaat untuk mengobati penyakit seperti: Kandungan yang terdapat pada kulit buah
influenza, panas dalam, kulit yang bersisik atau jeruk purut adalah saponin, tannin 1%, steroid
luka, berketombe. Di Indonesia tumbuhan jeruk triterpenoid, dan minyak atsiri yang mengandung
purut ini banyak ditanam masyarakat di sitrat 2-2,5% v/b (Kurniawati, 2010). Zat yang
pekarangan rumah mereka. Tetapi di lingkungan paling terbanyak terdapat di buah jeruk purut
masyarakat pedalaman mereka masih adalah minyak atsiri yang mempunyai efek
mempercayai khasiat dari buah jeruk purut ini sebagai anti bakteri. Berdasarkan hasil
dari pada obat-obatan. Namun sejauh ini sifat penelitian di atas bahwa minyak atsiri kulit jeruk
anti bakteri dari kulit buah tersebut belum purut berperan dalam menghambat
banyak diketahui oleh masyarakat karena pertumbuhan bakteri, maka peneliti tertarik untuk
dibuang dengan sia-sia. Oleh karena itu nilai melakukan penelitian dengan melakukan uji
ekonomi di pasar buah tersebut terbatas tanpa daya hambat kulit jeruk purut terhadap
adanya pengetahuan untuk mengolahnya. pertumbuhan bakteri Escherichia Coli secara in
Oliveira et al (2009) telah menguji kandungan vitro. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
minyak atsiri yang terdapat pada tanaman untuk mengetahui daya hambat ekstrak minyak
oregano (Origanum Vulgare) dan marjoram atsiri kulit jeruk purut (Citrus hystrix) terhadap
(Origanum Majorana L). Objek penelitian dengan pertumbuhan bakteri Escherichia Coli secara in
menggunakan bakteri Staphylococcus Aureus, vitro.
S. Koagulase Negatif, Enterobacter spp.,
Proteus spp., Acinetobacter spp., Klebsiella spp Metode
diisolasi dari pasien konjungtivitis. Devi et al
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
(2010) telah menguji kandungan minyak atsiri
mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Advent
pada cengkeh yang mempunyai efek anti
Indonesia pada bulan Oktober 2014. Penelitian
bakteri sebagai objek penelitian bakteri
ini menggunakan metode eksperimen
Salmonella typhi. Shagufta et al (2010) telah
laboratorium dengan desain Postest Only Group
menguji kandungan minyak atsiri sifat yang
Design. Variabel adalah minyak atsiri yang
mempunyai anti bakteri dari kunyit (Curcumae
diekstrak dari kulit jeruk purut dengan
Domesticae Rhizoma) sebagai objek penelitian 4
menggunakan berbagai konsentrasi yaitu: 0,012,
strain bakteri Subtilis, Basilus Macerans, Basilus
0,050, 0,075 dan bakteri Escherichia Coli. Alat
Licheniformis dan Azotobakter. Miyake dan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Hiramitsu (2011) telah mengisolasi sifat anti

ISBN 978-602-19655-7-3 87
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Inkubator, Timbangan digital, Evaporator,


ekstraktor, cotton bud, Alat tulis, buku catatan,
Mistar, kamera, Pisau, Talenan, penyaring,
Cawan petri, kompor gas, pengaduk, pinset,
kertas cakram, tabung reaksi. Bahan yang
digunakan adalah minyak atsiri kulit jeruk purut,
nutrien agar, biakan murni Escherichia Coli, S2
HCL/NAOH, air secukupnya, Akuades. Data dari
hasil penelitian ini diukur menggunakan mistar
dalam pengukurannya dari berbagai konsentrasi
untuk menentukan besar/luas dari hasil
penelitian tersebut.

Hasil dan diskusi

Gambar 2. Hasil uji daya hambat ekstrak


minyak atsiri kulit jeruk purut (Citrus hystrix)
S1 terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli.
Gambar 2. Menunjukkan hasil dari minyak
atsiri yang memiliki efek anti bakteri dengan
menggunakan konsentrasi 0,050 terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia Coli.
Perbedaan antara gambar 1 dan 2 bisa dilihat
dari pengukuran besar diameter yang lebih luas
dari konsentrasi yang berbeda diberikan pada
masing-masing pada reagen yang ditumbuhi
oleh bakteri Escherichia Coli.

Gambar 1. Hasil uji daya hambat ekstrak


minyak atsiri kulit jeruk purut (Citrus hystrix)
terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli. S3
Gambar 1. Menunjukkan hasil dari minyak
atsiri yang memiliki efek anti bakteri dengan
menggunakan konsentrasi 0,012 terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia Coli.
Selanjutnya diameternya diukur menggunakan
mistar untuk mengetahui luas dari efek
pemberian ekstrak minyak atsiri kulit jeruk purut.

Gambar 3. Hasil uji daya hambat ekstrak


minyak atsiri kulit jeruk purut (Citrus hystrix)
terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli.
Gambar 3. Menunjukkan hasil dari minyak
atsiri yang memiliki efek anti bakteri dengan
menggunakan konsentrasi 0,075 terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia Coli.
Perbedaan terlihat jelas dari besar diameter
yang diberikan dengan konsentrasi berbeda-

ISBN 978-602-19655-7-3 88
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

beda menunjukkan semakin tinggi kosentrasi Kesimpulan


membuat adanya efek anti bakteri yang lebih
efektif sehingga diameter semakin besar Suatu ekstrak berbahan alami yang telah
ditunjukkan dengan gambar 1 dengan berhasil diekstrak dan diteliti. Ekstrak minyak
konsentrasi 0,012 , gambar 2 dengan atsiri kulit jeruk purut yang dihasilkan memiliki
konsentrasi 0,050 , dan gambar 3 dengan efek anti bakteri yang sangat baik dan cepat
konsentrasi 0,075. Semakin besar diameter dari dalam menghambat pertumbuhan bakteri
masing-masing konsentrasi sudah dapat Escherichia Coli. Minyak atsiri kulit jeruk purut
menyimpulkan bahwa daya hambat yang diberikan pada reagen yang ditumbuhi
pertumbuhan bakterinya baik. bakteri Escherichia Coli memiliki diameter yang
berbeda-beda pada konsentrasi 0,012, 0,050,
Setelah dilakukan penelitian, hasil yang
dan 0,075 karena semakin tinggi kosentrasi
didapatkan menunjukkan bahwa ekstrak minyak
ekstrak minyak atsiri kulit jeruk purut yang
atsiri kulit jeruk purut sangat efektif dalam
diberikan semakin cepat terjadinya
menghambat pertumbuhan terhadap bakteri
penghambatan pertumbuhan bakteri Escherichia
Escherichia Coli, hal itu dapat dilihat dengan
Coli dan diameter juga semakin luas.
adanya lingkaran berwarna bening bebas
pertumbuhan bakteri disekitar kertas cakram
Ucapan terima kasih
pada reagen setelah dibiarkan selama 18-24
jam dengan suhu 37°C didalam inkubator dan Penulis mengucapkan terima kasih kepada
tidak terdapat pertumbuhan bakteri Escherichia dosen pembimbing atas bimbingannya untuk
Coli disekitar kertas cakram yang diberikan menyelesaikan penelitian ini, berterima kasih
ekstrak minyak atsiri kulit jeruk purut. kepada Dekan Fakultas MIPA atas dukungan
dalam peminjaman tempat penelitian pada
Penelitian uji daya hambat dari ekstra
penelitian ini dan teman-teman atas
minyak atsiri kulit jeruk purut terhadap
pertumbuhan bakteri Escherichia Coli dukungannya dalam memberikan dukungan
menunjukkan bahwa ekstrak minyak atsiri kulit keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini. Penulis
jeruk purut dengan konsentrasi 0,012, 0,050 dan juga berterima kasih kepada dosen Fakultas
MIPA atas diskusinya yang bermanfaat dalam
0,075 dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Escherichia Coli secara efektif. Hal ini penelitian dan penyelesaian paper ini.
menunjukkan karena adanya zat senyawa aktif
anti bakteri yang terdapat dalam kulit jeruk purut Referensi
yang mempunyai kandungan kimia yang [1] Sinaga, S. R., Subakir, S., & Wahyudi, F.
terdapat didalam minyak atsiri, diantaranya 2012. Uji Banding Efektivitas Perasan Jeruk
adalah fenol yang bersifat sebagai anti bakteri, Purut (Citrus Hystrix Dc) Dengan Zinc
yang mungkin dapat menghambat pertumbuhan Pyrithione 1% Terhadap Pertumbuhan
terhadap bakteri Escherichia Coli. Pityrosporum ovale Pada Penderita
Sifat anti bakteri yang dimiliki oleh zat fenol Berketombe (Doctoral dissertation, Fakultas
bekerja dengan cara mendenaturasikan protein Kedokteran).
dan merusak membran sitoplasma sel. [2] Kurniawati, N. 2010. Sehat & Cantik Alami
Ketidakstabilan yang terdapat pada dinding sel Berkat: Khasiat Bumbu Dapur. Bandung:
dan membran sitoplasma bakteri menyebabkan Tim Redaksi Qanita.
fungsi permeabilitas selektif, fungsi [3] Oliveira, J. L. T. M. D., Diniz, M. D. F. M.,
pengangkutan aktif, pengendalian susunan Lima, E. D. O., Souza, E. L. D., Trajano, V.
protein sel bakteri terganggu. Gangguan N., & Santos, B. H. C. 2009. Effectiveness
integritas sitoplasma berakibat pada lolosnya of Origanum vulgare L. and Origanum
makromolekul, dan ion dari sel. Sel bakteri majorana L. essential oils in inhibiting the
kehilangan bentuknya sehingga menjadi lisis. growth of bacterial strains isolated from the
Persenyawaan fenolat bersifat bakteriostatik patients with conjunctivitis. Brazilian
atau bakterisid tergantung dari konsentrasinya. Archives of Biology and Technology, 52(1),
45-50.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah [4] Devi, K. P., Nisha, S. A., Sakthivel, R., &
dilakukan bahwa didapatkan hipotesis dari Pandian, S. K. 2010. Eugenol (an essential
penelitian ini diterima karena terdapat daya oil of clove) acts as an antibacterial agent
hambat ekstrak minyak atsiri kulit jeruk purut against< i> Salmonella typhi</i> by
terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia Coli disrupting the cellular membrane. Journal of
yang sangat efektif pada saat pemberian dengan ethnopharmacology, 130(1), 107-115.
konsentrasi yang berbeda-beda yaitu: 0,012, [5] N, Shagufta., Jabeen, S., Ilyas, S.,
0,050 dan 0,075. Manzoor, F., Aslam, F., & Ali, A. (2010).
Antibacterial activity of Curcuma longa

ISBN 978-602-19655-7-3 89
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

varieties against different strains of


bacteria. Pak. J. Bot, 42(1), 455-462.
[6] Miyake, Y., & Hiramitsu, M. 2011. Isolation
and extraction of antimicrobial
substances against oral bacteria from
lemon peel. Journal of food science and
technology, 48(5), 635-639.
[7] Kurniawati, N. 2010. Sehat & Cantik Alami
Berkat: Khasiat Bumbu Dapur. Bandung:
Tim Redaksi Qanita.
[8] Razak, A., Djamal, A., & Revilla, G. 2013.
Uji Daya Hambat Air Perasan Buah Jeruk
Nipis (Citrus aurantifolia s.) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus
Aureus Secara In Vitro. Jurnal Kesehatan
Andalas, 2(1).

Ester Ria Tuahmi Saragih*


Faculty of Nursing
Universitas Advent Indonesia
Ester.saragih27@gmail.com

Untung Sudharmono
Faculty of Nursing
Universitas Advent Indonesia
Usudharmono@ymail.com

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 90
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sensor Photodiode sebagai Pengukur Molaritas Larutan CuSO4.5H2O


Berbasis Arduino MEGA 2560
Fauzia Puspa Lestari, Gina Hanifah Rahmi, Atut Reni Septiana, dan Hendro

Email: fauzia.lestari@s.itb.ac.id

Abstrak
Molaritas suatu larutan sangat penting diketahui karena memiliki pengaruh terhadap sifat fisisnya. Selain itu,
dalam berbagai kebutuhan, informasi molaritas suatu larutan harus diketahui untuk mendapatkan komposisi
senyawa yang sesuai. Nilai molaritas bisa diketahui dengan menghitung jumlah mol material terlarut dibagi
volume larutan. Namun, apabila terdapat suatu larutan yang ingin diketahui molaritasnya, cara perhitungan
nilai molaritas tersebut tidak dapat digunakan. Dengan menggunakan spektrometer, diketahui bahwa
molaritas larutan CuSO4.5H2O mempengaruhi intensitas sinar inframerah yang ditransmisikan oleh larutan
tersebut. Oleh karena itu dirancang sebuah alat ukur molaritas larutan CuSO 4.5H2O menggunakan sensor
photodiode. Berdasarkan prinsip ini, alat tidak dapat menggunakan kalibrasi yang sama untuk semua jenis
larutan. Pada penelitian ini kami menggunakan larutan CuSO4.5H2O. Larutan ini dipilih karena berwarna biru
sehingga dapat terlihat jelas oleh mata perbedaan molaritasnya. Sinar inframerah dengan intensitas tertentu
dilewatkan pada wadah yang berisi larutan CuSO4.5H2O. Intensitas sinar setelah melewati larutan diterima
oleh photodiode. Variasi nilai molaritas akan menghasilkan variasi nilai intensitas yang diterima photodiode
sehingga mengubah beda potensial pada photodiode. Dari hubungan kemolaran dan beda potensial ini
didapatkan fungsi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam penentuan nilai molaritas larutan
CuSO4.5H2O. Selanjutnya, digunakan mikrocontroller arduino Mega 2560 untuk menampilkan hasil
pengukuran di komputer.
Kata-kata kunci: Molaritas larutan CuSO4.5H2O, intensitas sinar infra merah, sensor photodiode, arduino
mega 2560, dan labview.
itu pada penelitian ini dibuat alat ukur molaritas
Pendahuluan
larutan CuSO4.5H2O menggunakan sensor
Molaritas menyatakan jumlah mol material photodiode berbasis Mikrokontoler Arduiono
terlarut dalam satu liter pelarut [1]. Nilai molaritas Mega 2560 dan LabView sebagai program
larutan sangat penting diketahui agar memiliki display.
komposisi yang tepat dalam reaksi. Molaritas
atau konsentrasi dapat dihitung menggunakan Metode Eksperimen
persamaan dibawah ini:
n
M  (1)
V
Persamaan (1) hanya bisa digunakan ketika
diketahui jumlah mol terlarut (n) dan volume
larutan (V) . Larutan CuSO4.5H2O memiliki
banyak manfaat yaitu sebagai herbisida,
fungisida dan pestisida, reagen analisis, dan Gambar 1. Blok diagram metode eksperimen
sintesis organik. Bila larutan CuSO4.5H2O yang
Secara umum, alur eksperimen yang
telah dibuat ingin diketahui molaritasnya maka
dilakukan sesuai dengan diagram pada Gambar
diperlukan alat yang dapat secara langsung
1. Mula-mula dilakukan uji spektrum intensitas
mengukur molaritas larutan tersebut.
inframerah yang melewati larutan dengan
Alat pengukur konsentrasi suatu larutan berbagai molaritas. Kemudian didesain
dapat dirancang dengan menggunakan sensor rangkaian alat yang mencakup sensor,
photodiode seperti yang telah dilakukan oleh pengkondisian sinyal, sistem interface dan
Nike [2] dan Sofi’i [3]. Alat tersebut display pada komputer. Kalibrasi dilakukan
menggunakan prinsip perubahan intensitas setelah rangkaian pengkodisian sinyal selesai.
transmisi suatu cahaya yang dilewatkan pada Dari hasil kalibrasi diperoleh fungsi transfer dari
larutan dengan konsentrasi tertentu. Oleh karena tegangan terhadap molaritas larutan yang diuji.

ISBN 978-602-19655-7-3 91
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Fungsi transfer tersebut digunakan untuk larutan CuSO4.5H2O dengan molaritas 0 hingga
menyempurnakan sistem tampilan pada 1 Molar. Fungsi transfer yang telah diperoleh
komputer seperti yang ditunjukkan pada gambar dimasukkan ke dalam program LabView untuk
2. menampilkan nilai molaritas larutan CuSO4.5H2O
pada komputer.

Hasil dan diskusi

Pengujian spektrum cahaya yang ditransmisikan


inframerah melalui larutan CuSO4.5H2O diuji
menggunakan spektrometer. Gambar 3.
menunjukkan spektrum cahaya inframerah yang
Gambar 2. Blok Diagram Rangkaian ditransmisikan setelah melewati larutan
Instrumentasi CuSO4.5H2O dengan berbagai molaritas. Dari
Gambar 4. terlihat bahwa larutan CuSO4.5H2O
dengan molaritas yang berbeda mempengaruhi
intensitas cahaya yang dilewatkan. Semakin
pekat konsentrasi larutan CuSO4.5H2O, semakin
kecil intensitas yang diteruskan.

Gambar 3. Rangkaian sensor dan pengolah


sinyal
Gambar 3. merupakan rangkaian
instrumentasi yang dibuat. L1 merupakan LED
inframerah sebagai sumber cahaya yang
dilewatkan pada larutan. Cahaya yang
ditransmisikan dideteksi oleh photodiode D1. Gambar 4. Hasil uji spektrum cahaya transmisi
Tegangan dari D1 diolah terlebih dahulu agar setelah melewati berbagai molaritas.
tegangan output sesuai dengan mikrokontroler
arduino.
U1, U2, dan U3 adalah Op-Amp LM741. U1
dirangkai sebagai buffer atau penyangga.
Fungsinya agar tegangan dari sensor tidak
mengalami jatuh tegangan akibat rangkaian
dibelakangnya. Besarnya penguatan U2 dapat
diubah dengan mengatur nilai hambatan resistor
variabel Z1. Output dari U2 diatur agar bernilai -1
Volt untuk larutan 1 Molar.
Input yang bisa diterima Arduino adalah 0
hingga 5 Volt. Sedangkan output dari U2 bernilai
negatif. Maka dari itu, dipasang penguat
inverting dengan penguatan 5 menggunakan U3.
Gambar 5. Rangkaian instrumentasi untuk
Semua sinyal yang diolah pada rangkaian ini mengukur molaritas larutan
merupakan tegangan DC. Sinyal AC yang
masuk merupakan noise yang harus dibuang. Gambar 5. menampilkan alat pengukur
Maka dari itu dipasang kapasitor C1, C2, dan C3 molaritas yang telah dibuat. Sampel larutan
sebagai bypass yang membuang sinyal AC ke dimasukkan ke dalam suatu wadah plastik yang
ground [4]. kemudian diletakan pada kotak hitam, kemudian
ditutup. Sensor photodiode dan sumber cahaya
Untuk mendapatkan fungsi transfer, inframerah telah dipasang berhadapan pada
dilakukan pengukuran tegangan output dari lokasi yang tetap pada kotak hitam tersebut.

ISBN 978-602-19655-7-3 92
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Terdapat dua buah port pada rangkaian arduino dan pin analog yang dihubungkan pada
tersebut yang harus dihubungkan pada arduino, rangkaian alat ukur molaritas.
yaitu pada pin +5V dan ground.
Sinyal keluaran dari rangkaian
dihubungkan pada salah satu pin analog input
pada arduino.
Hasil pengukuran tegangan output
larutan CuSO4.5H2O pada berbagai molaritas
ditunjukkan pada Gambar 6. Dari grafik pada
Gambar 6. dibagi menjadi tiga daerah linier
dengan fungsi transfer yang berbeda. Daerah
pertama berada pada molaritas 0-0.1M dengan
fungsi transfer M  17.5V  0.1 dan tingkat
kepercayaan 97%. Daerah kedua berada pada
molaritas 0.1-0.35M dengan fungsi transfer
M  0.05V  0.11 dan tingkat kepercayaan
93%. Daerah ketiga berada pada molaritas 0.4
hingga 1 molar dengan fungsi transfer Gambar 7. Display pengukuran molaritas larutan
M  0.86V  8.62 dan tingkat kepercayaan CuSO4.5H2O dengan LabView
83%.
Pada daerah I diperoleh grafik yang terlalu
tegak. Perbedaan besarnya tegangan pada
molaritas yang berbeda tidak terlalu besar. Hal
ini disebabkan intensitas cahaya yang diteruskan
larutan terlalu besar. Sebaliknya, pada daerah III
intensitas cahaya yang dilewatkan sangat kecil.
Daerah II merupakan rentang daerah
pengukuran yang ideal dengan error yang cukup
kecil yakni 7%.
Untuk membuat daerah I menjadi daerah
yang baik untuk pengukuran, intensitas
inframerah yang diberikan harus diperkecil
dengan cara memperbesar nilai hambatan R1.
Sedangkan untuk daerah III, hambatan R1 harus
diperkecil.

Gambar 6. Fungsi transfer molaritas terhadap


tegangan output. Gambar 8. Flowchart Program LabView untuk
Menampilkan Molaritas
Gambar 7. menunjukkan tampilan program
pengukuran larutan CuSO4.5H2O yang dibuat
menggunakan LabView 2011. Input yang harus Output yang ditampilkan yaitu tegangan
dimasukkan user adalah tipe arduino yang yang terukur arduino dan molaritas hasil
digunakan, port USB yang terhubung pada
perhitungan berdasarkan fungsi transfer.

ISBN 978-602-19655-7-3 93
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Ditampilkan pula ilustrasi warna larutan


berdasarkan molaritas.
Flowchart program yang digunakan untuk
membuat tampilan tersebut ditunjukkan pada
gambar 8.

Kesimpulan

Interval daerah kerja efektif dari alat ukur


molaritas larutan CuSO4.5H20 yang telah
dibuat berada pada rentang 0.1-0.4 M dengan
akurasi 93%.

Referensi

[1] Raymond Chang, “General Chemistry: The


Essential Concepts 3rd Edition”, Penerbit
McGraw-Hill, 2003
[2] Nike Ika Nuzula dan Endarko, “Perancangan
dan Pembuatan Alat Ukur Kekeruhan Air
Berbasis Mikrokotroler ATMega 8535” Jurnal
Sains dan Seni Pomits Vol. 2, No. 1, (2013)
1-5
[3] Imam Sofi’i, “Rancang Bangun Alat Ukur
Konsentrasi Tanah Halus Dalam Air”
AGRITECH, Vol. 30, No. 2. (2010)
[4] Catheleen Shmieh and Gordon McComb,
“Electronics for Dummies 2nd Edition” ,
Penerbit Willey Publishing, 2009

Fauzia Puspa Lestari*


Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
fauzia.lestari@s.itb.ac.id

Gina Hanifah Rahmi


Physics of Electronics Materials Division
Institut Teknologi Bandung

Atut Reni Septiana


Physics of Magnetism and Photonics Division
Institut Teknologi Bandung

Hendro
Theoretical High Energy Physics and Instrumentation
Division
Institut Teknologi Bandung

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 94
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengaruh Frekuensi Terhadap Kecepatan Aliran (Konveksi) Butiran Bed


pada Fenomena Efek Kacang Brazil Pseudo-2D
Hari Anggit Cahyo W, Trise Nurul Ain, Yayan Prima Nugraha dan Sparisoma Viridi

Email: anggitpm2013@gmail.com

Abstrak
Eksperimen fenomena Efek Kacang Brazil pseudo-2D berhasil dilakukan. Pada eksperimen ini digunakan
manik-manik sebagai granular bed dengan ukuran massa 0,0108 gram dan diameter 2,95 mm. Design box /
wadah granular bed pseudo-2D dibuat dengan menggunakan akrilik dengan spesifikasi p =21 cm, l =14 cm
dan t =0,4 cm (ketebalan celah wadah). Pengambilan data dilakukan dengan menentukan jarak yang
ditempuh satu buah granular bed dari satu posisi ke posisi yang lain kemudian dibagi dengan waktu
tempuhnya. Perpindahan yang dipilih adalah perpindahan sumbu y. Data kecepatan rata-rata granular bed
disajikan dalam grafik terhadap frekuensi. Berdasarkan data eksperimen nilai kecepatan granular bed
memiliki tren menurun seiring dengan bertambahnya frekuensi. Kecepatan granular bed kanan dan kiri
intruder tidak selalu sama dan mempengaruhi pergerakan intruder. Intruder akan cenderung bergerak
kearah granular bed yang lebih cepat, hal ini sesuai dengan prinsip Bernouli. Efek elektrostatik yang muncul
akibat gesekan antara manik-manik dan akrilik pada saat eksperimen dapat dihilangkan dengan metode
penguapan granular bed.
Kata-kata kunci: Efek Kacang Brazil, Konveksi, Granular Material, Pseudo-2D
Berdasarkan parameter tersebut didapatkan
Pendahuluan
hasil nilai kecepatan granular bed berbanding
lurus dengan nilai  .
Sengaja maupun tidak kita sering berinteraksi
dengan granular material seperti pasir, bubuk,
Eksperimen
biji-bijian dan lain-lain [1]. Sifat granular material
yang menarik untuk diamati, apabila diberikan
Eksperimen ini dibuat dengan desain pseudo-
getaran maka akan muncul beberapa fenomena
2D. Wadah granular bed dibuat dengan akrilik
diantaranya kompaksi [2-3], konveksi [4],
yang memiliki tebal 0,4 cm. Wadah dibuat
perkolasi [5]. Apabila beberapa jenis campuran
dengan ukuran panjang ( p =21 cm), lebar ( l =14
granular material yang berada dalam suatu
wadah diberikan getaran maka akan terjadi cm) dan t =0,4 cm (ketebalan celah wadah).
pemisahan campuran. Pemisahan ini akan tetap Granular bed yang digunakan adalah manik-
terjadi meskipun beberapa jenis granular manik dengan lebar diameter diameter 2,95 mm
material tersebut memiliki ukuran yang sama dan massa 0,0108 gram skema dan hasil
dan berbeda kerapatannya [6]. Fenomena ini pembuatan alat ditunjukkan pada gambar 1. dan
kemudian lazim disebut efek kacang brazil (EKB) gambar 2.
[7]. Sebagai penggetar digunakan speaker Curve
8 Ohm Model 30H120SRW38B ukuran 8 inch
Penelitian mengenai konveksi granular dengan daya maksimum 350 Watt dan untuk
pernah dilakukan dengan beberapa metode penguat sinyal digunakan Amplifier Eco model
diantaranya dengan menggunakan analisis video AB-22. Sinyal sinusoidal didapatkan dari aplikasi
dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) [6]. gratis generatosaur.1.0.0.2. Sedangkan untuk
Penelitian lain yang dilakukan [8] yaitu menentukan nilai tegangan peak to peak yang
menentukan hubungan kecepatan aliran masuk pada speaker digunakan osiloskop. Nilai
granular bed terhadap  , dimana nilai  tegangan peak to peak dibuat tetap 10 volt, hal
merupakan perbandingan percepatan yang ini dilakukan karena tinjauan utama dari
dialami oleh sistem terhadap percepatan eksperimen ini adalah pengaruh perubahan
gravitasi bumi. frekuensi terhadap kecepatan aliran granular
a bed.
 (1)
g

ISBN 978-602-19655-7-3 95
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

menolak antara manik-manik dengan akrilik.


Efek ini dapat mempengaruhi kecepatan aliran
granular bed [9]. Efek ini dapat dihilangkan
dengan cara memberikan uap air kepada
granular bed seperti ditunjukkan gambar 4.
Penguapan ini membuat granular bed
terbungkus oleh uap air sehingga perpindahan
elektron yang menjadi penyebab efek
elektrostatik tidak terjadi. Penguapan dalam
Gambar 1. Desain Percobaan Efek Kacang eksperimen ini dilakukan secara manual dengan
Brazil pseudo-2D. menempatkan granular bed dalam sebuah
penyaring kemudian meletakkannya diatas uap
air yang timbul dari air yang dipanaskan dengan
pemanas air.

Gambar 4. Skema Teknik Menghilangkan Efek


Elektrostatik.

Gambar 2. Alat eksperimen pengamatan aliran Hasil dan diskusi


konveksi pada efek kacang brazil pseudo-2D.
Hasil dari eksperimen ini berupa data
perpindahan granular bed pada arah sumbu-y
dan waktu tempuh dari perpindahan tersebut.
Eksperimen dilakukan dengan melakukan Masing-masing frekuensi ditentukan satu buah
variasi frekuensi dari 17-22. Pengambilan data granular bed di sebelah kanan intruder, satu
dilakukan dengan mengambil gambar dari posisi buah granular bed di sebelah kiri intruder dan
awal dan akhir dari granular bed yang diamat. pada intruder sendiri. Dengan menggunakan
Pengambilan posisi yang diukur adalah posisi persamaan (2) data hasil eksperimen dapat
granular bed pada sumbu vertikal seperti dibuat dalam bentuk tabel 1.
ditunjukkan pada gambar 3. Pengambilan
gambar menggunakan kamera digital Canon
Ixus 125 HS 16,1 MP. Kecepatan granular bed di
Tabel 1. Data kecepatan intruder dan granular
masing-masing frekuensi dihitung dengan
bed pada masing-masing frekuensi.
persamaan
Kecepatan Kecepatan
y  y1 Frekuensi
Kecepatan
Granular Granular
v 2 (2) Intruder
t (Hz)
(cm/s)
bed kiri bed kanan
(cm/s) (cm/s)
17 0.21164 0.493827 0.846561
18 0.104575 0.405229 0.901961
19 0.126263 0.542929 0.517677
20 0.035273 0.26455 0.146972
21 0.045351 0.249433 0.287226
22 0.018067 0.176152 0.176152
Gambar 3. Teknik pengambilan data posisi pada
granular bed yang dipilih. Untuk melihat pola kecenderungan
kecepatan granular bed terhadap frekuensi
Pada eksperimen penggunaan akrilik dan dapat dibuat grafik yang menunjukkan hubungan
manik-manik yang digetarkan ternyata tersebut, yaitu grafik kecepatan terhadap
menimbulkan efek elektrostatik. Sehingga efek frekuensi seperti ditunjukkan pada gambar 5.
ini membuat gaya tarik menarik atau tolak

ISBN 978-602-19655-7-3 96
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pada pengamatan eksperimen pergerakan


intruder ternyata tidak lurus vertikal akan tetapi
terkadang bergerak miring. Tingkat kemiringan
pergerakan intruder kemungkinan dipengaruhi
oleh besar kecepatan aliran granular bed.
Semakin cepat granular bed mengalir maka
semakin miring pergerakan intruder. Hal ini
memenuhi prinsip Bernoulli dimana suatu daerah
yang memiliki kecepatan tinggi akan memiliki
tekanan yang rendah. Sehingga daerah dengan
kecepatan tinggi akan membuat intruder
bergerak menuju tempat bertekanan rendah
tersebut.
Gambar 5. Grafik kecepatan aliran Bed terhadap
Frekuensi. Fenomena efek elektrostatik yang muncul
pada eksperimen dapat dihilangkan dengan
melakukan penguapan granular bed. Teknik
penguapan granular bed untuk menghilangkan
efek elektrostatik ini sangat efektif. Hal ini
dibuktikan dengan melakukan penggetaran terus
menerus maupun dengan jeda selama lebih dari
12 jam efek elektrostatik tetap tidak muncul. Hal
ini kemungkinan karena ukuran box akrilik yang
tipis sehingga meminimalisir celah yang dapat
membuat uap air keluar lagi.

Kesimpulan

Eksperimen ini menunjukkan bahwa


kecepatan granular bed dipengaruhi oleh
besarnya frekuensi yang diberikan pada
penggetar. Semakin besar frekuensi maka
kecepatan granular bed semakin kecil. Teknik
penghentian sementara penggetaran untuk
Gambar 6. Grafik kecepatan aliran Bed terhadap mendapatkan gambar posisi granular bed
 pada percobaan [8]. memberikan hasil yang sama dengan melakukan
perekaman terus menerus pergerakan granular
Berdasarkan gambar 5. dan gambar 6. hasil bed. Kecepatan granular bed di sebelah kanan
dari eksperimen ini memiliki pola grafik yang dan kiri intruder tidak selalu sama dan selalu
seakan-akan berkebalikan. Namun sebenarnya lebih besar dibandingkan kecepatan intruder.
mendapatkan hasil yang sama, hanya saja yang Kemiringan pergerakan intruder dipengaruhi oleh
menjadi parameter pada percobaan ini adalah besar kecepatan aliran granular bed pada
frekuensi sedangkan pada gambar 6. yang daerah kanan atau kiri intruder. Efek elektrostatik
menjadi parameter adalah  , artinya semakin yang timbul dapat dihilangkan dengan teknik
tinggi frekuensi nilai  semakin menurun penguapan granular bed.
sehingga kecepatan aliran butiran semakin
menurun pula. Berdasarkan hasil eksperimen ini Ucapan terima kasih
dapat dikatakan bahwa dengan teknik
penghentian sementara penggetaran untuk Penelitian ini didukung oleh RIK ITB tahun
mendapatkan gambar posisi granular bed 2014 dengan Nomor kontrak 914/AL-
dengan selang waktu tertentu dibandingkan J/DIPA/PN/SPK/2014.
apabila dilakukan perekaman secara terus
menerus mendapatkan hasil yang sama.
Sehingga untuk percobaan berikutnya dapat Referensi
dipilih teknik perekaman atau pengambilan
gambar dengan menghentikan penggetaran [1] Grossman, E. L., “Effects of container
untuk sementara waktu. Nilai  pada geometry on granular convection”, Physical
eksperimen ini memiliki peran yang cukup besar. Review, 56, 3 (1997)
Dikarenakan nilai  merupakan representasi [2] Philippe, P. Et al., Europhys. Lett. 60 677.
energi yang diberikan kepada granular bed. doi:10.1209/epl/i2002-00362-7

ISBN 978-602-19655-7-3 97
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

[3] Utami, Trisna dkk, “Tinjauan Penyusunan


Partikel Granular Berbentuk Cakram
Lingkaran di Bawah Vibrasi Vertikal”,
Prosiding SNIPS 2013. 277-279
[4] Tai, Shin-Chang., “The flow regime during
the crystallization state and convection
state on a vibrating granular bed”,
Advanced Powder Technology 20 (2009)
335–349
[5] Hong, Daniel. C et al., “Reverse Brazil Nut
Problem: Competition between Percolation
and Condensation”, Phys. Rev. Lett.86, 15
(2001)
[6] Knight, J. B et al., “Experimental study of
granular convection”, Phys. Rev. 54, 5
(1996)
[7] Rosato. A et al., ”Why the Brazil Nuts Are
on Top: Size Segregation of Particulate
Matter by Shaking”, Phys. Rev. Lett.58,
1038 (1987)
[8] Hsiau, Shu-San, et al., “Granular
convection cells in a vertical shaker“,
Advanced Powder Technol., Vol. 13, No. 2,
pp. 167–180 (2002)
[9] Rhodes, M et al., “The role of interstitial gas
in the Brazil Nut effect”, Granular Matter 5,
107–114c Springer-Verlag (2003)

Hari Anggit Cahyo W *


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
anggitpm2013@gmail.com

Trise Nurul Ain


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung

Yayan Prima Nugraha


Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika
Institut Teknologi Bandung

Sparisoma Viridi
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 98
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Alat Eksperimen Sederhana dan Simulasi VBA - Excel pada Konsep


Gerak Parabola
Zulfikar Fahmi, Sari Sami Novita, Hari Anggit Cahyo Wibowo

Email: zulfikarfahmi01@gmail.com

Abstrak
Pembelajaran fisika menekankan pentingnya eksperimen. Eksperimen dalam pembelajaran fisika adalah
bagian dari proses pencarian dan penemuan oleh siswa melalui metode ilmiah. Pentingnya eksperimen ini
tidak menjadikan pembelajaran fisika menyediakan eksperimen yang mencukupi. Proses pembelajaran fisika
yang sulit dan padat serta persiapan yang terbatas menjadi hambatan dalam proses eksperimen. Pada
makalah ini dirancang alat eksperimen sederhana pada gerak parabola menggunakan alat yang mudah
dicari di kelas. Alat eksperimen ini terdiri dari busur derajat kayu untuk papan, jangka kayu untuk papan,
penghisap timah, dan kelereng. Eksperimen gerak parabola dipilih karena eksperimen ini cukup sederhana
namun banyak terjadi kesulitan saat menganalisis. Analisis yang dilakukan pada eksperimen ini adalah
dengan memanfaatkan software video tracker. Masalah yang dihadapi dari eksperimen dan pemanfaatan
video tracker adalah proses perekaman jejak yang tidak tercakup sehingga untuk mendekatkan konsep
dibuat simulasi menggunakan Visual Basic. Simulasi dibuat secara numerik dan analitik sebagai
perbandingan dari lintasan yang direkam video tracker saat eksperimen. Hasil eksperimen yang dilakukan
adalah saat peluru ditembakkan tidak diketahui kecepatan awal peluru sehingga dilakukan perhitungan dan
didapatkan kecepatan awal kelereng saat ditembakkan adalah sebesar 4,65 m/s. Berdasarkan kecepatan
awal yang didapat, simulasi numerik dan analitik dijalankan. Kesimpulan dari pembuatan alat sederhana ini
adalah alat sederhana sudah sesuai dengan lintasan simulasi numerik dan analitik namun dengan
perbaikan.
Kata-kata kunci: Alat Eksperimen Sederhana, Simulasi, VBA - Excel, Gerak Parabola, Metode Euler

Harapannya, dengan membandingkan data pada


Pendahuluan
eksperimen dengan data simulasi kita bisa
Pembelajaran Fisika tidak terlepas dari menguji validitas hasil eksperimen.
eksperimen pembelajaran. Eksperimen adalah
salah satu cara ilmu dapat berkembang. Teori dan Metode
Sehingga di sekolah selayaknya dilakukan
Gerak parabola adalah gerak sebuah benda
eksperimen sebagai cara transfer ilmu di kelas.
melintasi lintasan parabola. Gerak parabola
Namun salah satu temuan yang didapat,
merupakan gerak yang memadukan kecepatan
ternyata eksperimen di SMP Negeri di
pada sumbu x (Gerak lurus beraturan) dan pada
Pekanbaru mengalami hambatan untuk
sumbu y (gerak lurus berubah beraturan).
melakukan eksperimen. Faktor yang
menghambat adalah fasilitas lab dan
kemampuan guru. Persepsi sebagian besar guru
IPA bahwa materi pelajaran cukup padat dan
praktikum sulit dilaksanakan menjadikan mereka
enggan melaksanakan praktikum. Kurangnya
peralatan, tidak tersedianya laboran, serta
pemakaian laboratorium bersama untuk banyak
kelas, merupakan salah satu penyebab Gambar 1. Lintasan gerak pada Gerak Parabola.
rendahnya intensitas praktikum dalam
pembelajaran IPA fisika di SMP Negeri Persamaan gerak parabola menurut hukum
Pekanbaru [1]. Newton adalah
Berdasarkan temuan diatas, maka dibuatlah x  0
alat eksperimen yang cukup mudah untuk dibuat (1)
serta mudah dicari sehingga tidak merepotkan.
y   g
Untuk menguji alat yang dibuat, dibuatlah Berdasarkan persamaan (1) diatas, didapatkan
simulasi pembelajaran mengenai gerak parabola solusi gerak parabola secara analitik
menggunakan excel dan Visual Basic Aplication.

ISBN 978-602-19655-7-3 99
Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

  
x  x 0  v 0 cos  t v x ( i 1)  v xi  a x h
(2).   
y  y 0  v 0 sin  t  12 gt 2 x ( i 1)  xi  v x h
  (4)
Simulasi dibuat menggunakan dua metode, v y ( i 1)  v yi  a y h
numerik dan analitik. Metode analitik adalah   
y ( i 1)  y i  v y h
acuan dari metode numerik dan eksperimen.
Semakin mendekati analitik, maka eksperimen Besar nilai h (lebar pias) adalah waktu yang
dan metode numerik bisa dianggap sudah baik. ditempuh partikel sampai mencapai tanah dibagi
Simulasi metode analitik dibangun dari dengan jumlah iterasi atau perulangan (n). Besar
koding perulangan perhitungan menggunakan n adalah sebanyak iterasi yang ingin dibuat.
solusi analitik persamaan (2). Perhitungan Setelah didapatkan persamaan numerik maka
dilakukan setiap 0.01 detik. Alur program dapat dibuat programnya dengan flowchart pada
dilihat pada flowchart Gambar 2 berikut. Gambar 3 berikut

.
Gambar 2. Flowchart simulasi analitik. Gambar 3. Flowchart simulasi numerik.
Simulasi metode numerik dibangun dari Metode eksperimen dimulai dengan merakit
persamaan euler dengan persamaan umumnya alat eksperimen dari alat yang mudah didapat.
adalah Alat eksperimen gerak parabola ini terbuat dari
busur derajat kayu, penggaris, jangka kayu, dan
ai 1  ai
 (3)
penghisap timah. Parabola yang digunakan
menggunakan kelereng. Semua alat tersebut
h
dirakit seperti pada Gambar 4.
dengan Φ adalah kemiringan atau gradien
fungsi dan h adalah lebar jarak atau pias. Pada
kasus ini, gradien fungsi kecepatan adalah
percepatan dan gradien fungsi perpindahan
adalah kecepatan, sehingga didapat persamaan
secara numerik sesuai dengan persamaan (4)
berikut

Gambar 4. Alat eksperimen gerak parabola.

ISBN 978-602-19655-7-3 100


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Eksperimen yang dilakukan adalah hubungan antara kecepatan sumbu – x dengan


menembakkan kelereng dari penghisap timah sudut tembak.
dengan acuan sudut dari busur derajat.
Berdasarkan Persamaan (1), kita cari
Pengukuran dilakukan dengan merekam lintasan
hubungan antara kecepatan sumbu – x terhadap
kelereng. Analisis dari perubahan posisi
menggunakan software “Video Tracker” untuk sudut cos α sehingga nantinya didapatkan besar
mengamati jejak lintasan dari kelereng yang vo. Hubungan dari besaran tersebut adalah
ditembakkan. Tampilan software “Video Tracker”
v x  v0 cos 
adalah sesuai dengan Gambar 5 berikut
sehingga didapat hubungan kemiringan adalah
besar kecepatan awal dari kelereng tersebut.

Gambar 5. Tampilan software “Video Tracker”


Data yang diambil dari eksperimen adalah Gambar 7. Grafik hubungan kecepatan kelereng
variasi sudut yang ditembakkan tiap sepuluh pada sumbu – x (cm/s) terhadap sudut tembak
derajat dengan variasi sudut antara 30° - 70°. cos α.
Jejak rekam diambil mulai dari kelereng
Berdasarkan perhitungan grafik didapat
ditembakkan sampai mencapai tanah atau
kecepatan awal sebesar 4,65 m/s sehingga
menumbuk dinding pada Gambar 6.
dapat dibuat simulasi secara analitik dan
numerik pada masing – masing lintasan menjadi
Hasil dan diskusi
Hasil eksperimen adalah berupa lintasan
yang dibuat dengan merekam jejak kelereng
menggunakan Tracker. Jejak rekam ini berupa
titik pada Gambar 6 berikut. Jejak tersebut
terekam sebagai posisi dengan membuat acuan
panjang dan posisi sumbu sebelumnya.

b
Gambar 6. Lintasan kelereng yang direkam
dengan program video tracker.
Penghisap timah tidak bisa menentukan
besar kecepatan awal sehingga hanya bisa
ditentukan secara tidak langsung melalui grafik

ISBN 978-602-19655-7-3 101


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

adalah penghisap timah dan kelereng ditentukan


dahulu nilai pasti kecepatan awal. Kemudian
dibuat alas sehingga pelontar lebih stabil saat
ditembakkan.
Simulasi numerik dibandingkan dengan
analitik sudah cukup mendekati. Simulasi
numerik dibuat dengan menggunakan 100 pias.
Lintasan numerik akan menyamai lintasan
analitik bila jumlah pias ditambah.
c
Kesimpulan
Alat eksperimen bekerja cukup baik namun
perlu diperbaiki sehingga didapat data yang lebih
baik. Simulasi yang dibuat secara analitik sudah
cukup mewakili gerak parabola. Simulasi secara
numerik sudah menunjukkan lintasan gerak
parabola dengan akurat.
Saran yang bisa digunakan untuk
menentukan kecepatan awal adalah dengan
mengukur terlebih dahulu kecepatan awal
d masing-masing penyedot timah sebelum
eksperimen supaya memudahkan dalam
pengukuran.

Referensi
[1] Yennita, Sukmawati, Mugi, dan Zulirfan,
“Hambatan pelaksanaan praktikum IPA
fisika yang dihadapi guru SMP Negeri di
kota Pekanbaru”, Jurusan PMIPA FKIP
Universitas Riau
[2] Sarwono, dkk , SMA dan MA Fisika 2
e Mudah dan Sederhana, Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Gambar 8. Grafik perbandingan lintasan 2009.
eksperimen (biru), numerik (kuning), dan analitik [3] B. Haryadi, Fisika untuk SMA/MA kelas XI,
(hijau) untuk sudut tembak 70 (a), 60 (b), 50 (c), Jakarta: Departemen Pendidikan dan
40 (d), dan 30 (e) derajat. Kebudayaan, 2009.
Berdasarkan Gambar 8a sampai dengan [4] G. Pangaribuan, Penggunaan VBA-Excel
Gambar 8e diatas, didapatkan lintasan parabola untuk program perhitungan, Jakarta: Elex
secara eksperimen terhadap lintasan numerik Media Komputindo, 2005.
dan analitik sudah cukup mendekati meskipun [5] A. Setyawan, Pengantar Metode Numerik,
belum sempurna. Yogyakarta: Andi Offset, 2006.

Program numerik yang dibuat bergantung Zulfikar Fahmi*


pada jumlah iterasi yang berhubungan dengan Magister Pengajaran Fisika
lebar pias. Jumlah iterasi (n) menunjukkan Institut Teknologi Bandung
seberapa banyak perhitungan dilakukan. Pada Zulfikarfahmi01@gmail.com
program berikut jumlah iterasi diberikan
sebanyak 100 buah. Iterasi dibuat banyak Sari Sami Novita
supaya hasil perhitungan bisa mendekati analitik Magister Pengajaran Fisika
sebaik mungkin. Institut Teknologi Bandung
sarisaminovita@gmail.com
Bila merujuk pada alat ukur yang dibuat,
maka eksperimen ini harus diperbaiki lagi. Hari Anggit Cahyo Wibowo
Permasalahan yang dimiliki adalah alat perekam Magister Pengajaran Fisika
kurang peka dalam mengamati sehingga Institut Teknologi Bandung
lintasannya sulit untuk direkam pada saat Anggitpm2013@gmail.com
eksperimen. Alat eksperimen sendiri juga bisa
diperbaiki menjadi lebih baik. Salah satunya *Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 102


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Analisis Miskonsepsi Topik Usaha dan Energi Siswa Kelas Xi Setelah


Pembelajaran Kooperatif Menggunakan Simulasi Komputer

Hilda Aini Nugraha, Ida Kaniawati, Endi Suhendi

Email : hilda_aini_nugraha.kuliah@yahoo.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui miskonsepsi yang dialami siswa pada konsep usaha dan energi
dan tingkat miskonsepsi siswa setelah setelah diterapkan pembelajaran kooperatif menggunkakan simulasi
komputer. Sejalan dengan tujuan tersebut, pada penelitian ini digunakan metode penelitian quasi
experiment. Penelitian ini dilakukan pada salah satu kelas XI IPA di salah satu SMAN Kota Bandung yang
dipilih berdasarkan purposive sampling. Alat pengumpul data miskonsepsi yang digunakan berupa tes
pilihan ganda berjumlah 15 soal yang disertai tingkat keyakinan menjawab atau Certainly of Response Index
(CRI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa cenderung mengalami miskonsepsi pada konsep usaha
positif dan usaha negatif, usaha total oleh gaya konservatif dan gaya non konservatif, serta hukum
konservasi energi mekanik. Rata-rata persentase miskonsepsi siswa pada topik usaha dan energi setelah
pembelajaran kooperatif menggunakan simulasi komputer sebesar 23,66%.

Kata Kunci : Miskonsepsi, Pembelajaran Kooperatif, Simulasi Komputer

Pendahuluan
Teori
Berdasarkan hasil penelitian tingkat
Miskonsepsi merupakan suatu konsep yang
miskonsepsi siswa pada mata pelajaran fisika
tidak sesuai dengan padangan ilmiah yang
cukup tinggi padahal salah satu tuntutan
dikemukakan para ahli. Faktor penyebab
terhadap siswa setelah pembelajaran fisika
miskonsepsi salah satunya adalah metode
adalah siswa diharapkan dapat menguasai
mengajar yang hanya berisi ceramah sehingga
konsep-konsep fisika yang sesuai dengan
salah satu cara mengatasi miskonsepsi adalah
pengertian ilmiah (DEPDIKNAS, 2007) [1].
guru menggunakan metode mengajar yang
Topik Usaha dan Energi merupakan salah satu
variatif dan memberi kesempatan siswa untuk
topik yang kompleks karena konsep-konsep di
megungkapkan miskonsepsinya[4].
dalamnya saling berkaitan, sehingga besar
Fisika mengandung banyak konsep abstrak.
kemungkinan adanya miskonsepsi pada topik ini.
Kehadiran multimedia pembelajaran berupa
Penelitian Khasanah (2010) di salah satu SMA
simulasi komputer dapat memperjelas konsep
menunjukkan tingkat miskonsepsi topik Usaha
abstrak sehingga dapat menekan tingkat
dan Energi mencapai 71,62% [2]. Penelitian
miskonsepsi. Dalam simulasi komputer itu, siswa
Sahrul Saehana dan Haeruddin (2006)
dapat memanipulasi, mengumpulkan, dan
menunjukkan bahwa dalam upaya meminimalisir
menganalisis data untuk selanjutnya menarik
miskonsepsi, pembelajaran kooperatif dengan
sebuah kesimpulan. Bila data yang ditemukan
simulasi komputer lebih baik dari pembelajaran
siswa pada simulasi berbeda dengan yang
kooperatif tanpa menggunakan simulasi
mereka pikirkan, siswa akan mengalami konflik
komputer [3].
dalam pikirannya. Konflik pemikiran yang
Terkait dengan studi literatur di atas, telah
berulang-ulang ini akan menghasilkan
dilakukan penelitian miskonsepsi topik usaha
perubahan konsep dalam diri siswa [4].
dan energi siswa kelas XI dengan menggunakan
Metode diskusi di antara teman sangat
teknik CRI setelah mereka melakukan
membantu siswa untuk mengembangkan dan
pembelajaran kooperatif menggunakan simulasi
memeriksa kembali konsep dan pengetahuan
komputer. Penelitian ini bertujuan untuk
yang telah mereka konstruksikan dengan
mengungkap miskonsepsi apa saja yang dialami
membandingkannya dengan konsep teman-
siswa pada topik usaha dan energi serta melihat
teman lain. Pembelajaran kooperatif
tingkat miskonsepsi tersebut.
menggunakan simulasi komputer dapat
memfasilitasi siswa untuk mengungkapkan

ISBN 978-602-19655-7-3 103


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

miskonsepsinya dan memperjelas konsep 60 50.75


abstrak yang menimbulkan miskonsepsi [4]. 50 %
Salah satu cara untuk mengidentifkasi 40 23.66
miskonsepsi adalah teknik Certainly of 16.13 %
30
Response Index (CRI). CRI biasanya %
20 9.46%
berdasarkan pada suatu skala, seperti skala 10
enam [5]. Pada penelitian ini digunakan skala 0
enam (0-5). 0 menunjukkan tingkat keyakinan
terendah (100% menebak), 5 menunjukkan
tingkat keyakinan tertinggi (100% yakin).
Jawaban siswa memiliki empat kemungkinan.
Dari keempat kemungkinan tersebut, salah
satunya menunjukkan miskonsepsi. Ketentuan Grafik 1. Persentase Masing-masing Kriteria
untuk setiap kemungkinan disajikan pada tabel Jawaban Data Tes
1.
Sejumlah 15 soal yang diujikan dikelompokkan
Tabel 1. Kombinasi CRI dan Jawaban Siswa ke dalam empat konsep yang miskonsepsi.
Rata-rata persentase untuk masing-masing
kelompok miskonsepsi disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Persentase Miskonsepsi Tiap


Konsep
No. Konsep Rata-rata
Soal Persentase
(%)
Metode
1, 7, Hukum
Penelitian ini menggunakan metode 20,97
11, 13, konservasi
penelitian quasi experiment dan desain
14, 15 energi mekanik
penelitian one-shot case study yang
Hubungan
menunjukkan adanya pemberian perlakuan pada
energi
suatu kelompok kemudian diuji satu kali untuk
potensial,
melihat dampak dari perlakuan yang telah 2, 8, 9,
energi kinetik, 18,71
diberikan [6]. Sampel penelitian adalah salah 10, 12
dan energi
satu kelas XI IPA di salah satu SMAN Kota
mekanik.
Bandung.
Alat pengumpul data kuantitatif yang Gaya
digunakan berupa tes pilihan ganda sebanyak konservatif dan
3, 4 30,64
15 soal untuk mengukur miskonsepsi yang gaya non
dilengkapi skala CRI. Alat pengumpul data konservatif
kualitatif yang digunakan adalah instrumen
Usaha positif
observasi keterlaksanaan pembelajaran dan 37,10
5, 6 dan usaha
angket penilaian siswa terhadap simulasi
negatif
komputer yang digunakan dan tanggapan siswa
terhadap pembelajaran kooperatif menggunakan
Soal nomor 1, 7, 11, 13, 14, dan 15 terkait
simulasi komputer.
konsep hukum konservasi energi mekanik. Soal
nomor 1 menjaring miskonsepsi siswa terkait
Hasil dan diskusi
pengaruh massa terhadap kelajuan benda yang
Data Tes jatuh bebas. Sebagian siswa yang miskonsepsi
Jawaban siswa saat tes dikelompokkan ke menganggap benda yang massanya lebih besar
dalam empat kriteria, yaitu paham konsep, lucky lebih cepat sampai ke tanah, sebagian yang lain
guess, miskonsepsi, dan tidak tahu konsep. berpendapat benda yang lebih ringan akan
Persentase jawaban siswa untuk masing-masing sampai ke tanah lebih dulu karena
kategori disajikan pada grafik 1. percepatannya lebih besar. Siswa yang
miskonsepsi dengan menganggap benda yang
massanya lebih besar lebih cepat sampai ke
tanah beralasan hal itu terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.
Soal 11 menampilkan kasus sebuah kereta
luncur yang akan melintasi beberapa ketinggian

ISBN 978-602-19655-7-3 104


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

yang berbeda. Soal 14 menampilkan kasus berkonsepsi suatu usaha positif jika
sebuah benda jatuh yang energi potensial perpindahannya ke kanan atau ke atas dan
awalnya sudah diketahui. Siswa ditanya energi usaha negatif jika perpindahannya ke kiri atau ke
mekanik di ketinggian tertentu bila pada sistem bawah. Siswa memang terbiasa dengan aturan
berlaku hukum konservasi energi mekanik. vektor yang menyatakan nilai positif jika
Miskonsepsi yang ditemukan adalah semakin bergerak ke kanan atau ke atas.
dekat suatu partikel ke permukaan bumi (energi
potensial berkurang) energi mekanik partikel Data Observasi
tersebut berkurang, baik sebesar perubahan Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif
energi potensial maupun sama dengan energi menggunakan simulasi komputer selama
potensial pada posisi tersebut, meskipun gaya penelitian mencapai 81,93% dan sesuai dengan
yang bekerja pada suatu partikel hanya gaya tahapan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
konservatif. Artinya, pembelajaran yang berlangsung
Soal 7, 13, dan 15 menjaring miskonsepsi memang pembelajaran kooperatif menggunakan
pengaruh lintasan terhadap usaha yang simulasi komputer.
dilakukan gaya konservatif pada sistem yang
memenuhi hukum konservasi energi mekanik. Data Angket
Siswa miskonsepsi dengan menganggap Data angket menunjukkan bahwa aspek
semakin sulit atau semakin panjang suatu efek pembelajaran dan desain teknis dinilai baik
lintasan untuk dilalui, usaha yang dilakukan oleh oleh siswa sedangkan aspek komunikasi dinilai
gaya konservatif semakin besar. Pada soal 7 cukup oleh siswa. Dengan rata-rata dari ketiga
siswa menganggap usaha yang dilakukan gaya aspek mencapai 81% yang diinterpretasikan
konservatif lebih besar pada lintasan yang lebih masuk kriteria baik maka dapat disimpulkan
curam. Pada soal 15 siswa menganggap usaha bahwa simulasi komputer yang digunakan sudah
yang dilakukan gaya konservatif lebih besar baik.
pada lintasan yang sudut elevasinya lebih besar. Terkait tanggapan siswa terhadap
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil pembelajaran kooperatif menggunkan simulasi
penelitian Singh (2003). Pada kasus dua benda komputer, sebagian besar (93,54%) siswa
jatuh, siswa fokus pada berat kedua objek. Pada menganggap penggunaan simulasi komputer
kasus peluru yang ditembakkan siswa terkecoh dalam pembelajaran sangat menyenangkan dan
dengan sudut elevasi masin-masng peluru. meminta pembelajaran serupa dilakukan pada
Pada kasus benda meluncur di berbagai bab lain. Namun beberapa siswa
lintasan, siswa terlalu fokus pada bentuk lintasan menganggapnya tidak menyenangkan dengan
[7]. alasan membosankan karena melihat tampilan
Soal 2, 8, 9, 10, dan 12 terkait konsep yang sama berulang-ulang. Mereka juga
hubungan energi potensial, energi kinetik, dan menganggap pembelajaran kooperatif
energi mekanik saat dipengaruhi maupun tidak menggunakan simulasi komputer menghabiskan
dipengaruhi oleh gaya non konservatif. Pada banyak waktu sehingga dapat mengurangi waktu
sistem yang dipengaruhi gaya non konservatif pembelajaran untuk materi lain.
siswa miskonsepsi dengan menganggap usaha
oleh gaya gesek tidak memengaruhi energi
kinetik suatu partikel, bahkan usaha oleh gaya Kesimpulan
gesek menambah energi kinetik partikel. 1. Rata-rata miskonsepsi pada konsep usaha
Soal 3 dan 4 menjaring miskonsepsi terkait positif dan usaha negatif mencapai 37,10%
usaha yang dilakukan oleh gaya konservatif dan yag meliputi konsepsi siswa bahwa usaha
gaya non konservatif. Siswa tertukar antara positif dan usaha negatif tergantung pada
keduanya. Siswa berkonsepsi usaha total oleh arah perpindahan partikel.
gaya non konservatif pada lintasan tertutup 2. Rata-rata miskonsepsi pada konsep gaya
adalah nol sedangkan usaha total oleh gaya konservatif dan gaya non konservatif
konservatif pada lintasan tertutup tidak nol. mencapai 30,64% yang meliputi konsepsi
Siswa mengalami miskonsepsi meskipun sudah siswa usaha total yang dilakukan oleh gaya
belajar bahwa usaha total oleh gaya konservatif, konservatif maupun gaya non konservatif
salah satunya gaya gravitasi bumi, untuk pada suatu lintasan tertutup tidak mungkin
menempuh lintasan tertutup adalah nol. Siswa sama dengan nol.
juga miskonsepsi dengan menganggap usaha 3. Rata-rata miskonsepsi pada konsep
oleh suatu gaya pada suatu partikel dipengaruhi hubungan energi potensial, energi kinetik,
usaha oleh gaya lain yang bekerja pada partikel dan energi mekanik mencapai 18,71% yang
tersebut. meliputi: energi potensial gravitasi suatu
Soal nomor 5 dan 6 menjaring miskonsepsi patikel di ketinggian sebelum jatuh lebih
usaha positif dan usaha negatif. Mereka kecil dari energi kinetik partikel saat
menumbuk tanah; energi mekanik suatu

ISBN 978-602-19655-7-3 105


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

partikel selalu berkurang jika energi idakaniawati@yahoo.com


potensial gravitasinya beerkurang; energi
kinetik bertambah selama benda bergerak Endi Suhendi
ke atas. Jurusan Pendidikan Fisika
4. Rata-rata miskonsepsi pada konsep hukum Universitas Pendidikan Indonesia
konservasi energi mekanik mencapai endis@upi.edu
20,97% yang meliputi: kelajuan partikel jatuh
bebas dipengaruhi massa partikel tersebut; *Corresponding author
usaha oleh gaya konservatif untuk
memindahkan suatu partikel dari suatu
ketinggian ke ketinggian tertentu dan energi
kinetik akhir partikel yang dipindahkan
tersebut tergantung pada bentuk lintasan.
5. Rata-rata persentase miskonsepsi siswa
pada topik usaha dan energi setelah
pembelajaran kooperatif tipe NHT
menggunakan simulasi komputer sebesar
23,66%.

Referensi
[1] DEPDIKNAS. (2007). Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan. Jakarta: DEPDIKNAS
[2] Khasanah, N. (2010). Penggunaan
Pendekatan Konflik Kognitif untuk
Remediasi Miskonsepsi Pembelajaran
Usaha dan Energi (Studi Kasus di MAN I
Madiun Kelas XI IPA Semester I Tahun
Ajaran 2008/2009). Tesis, Sekolah
Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret.
[3] Saehana & Haerudin. (2006).
Pengembangan Simulasi Komputer dalam
Model Pembelajaran Kooperatif untuk
Meminimalisir Miskonsepsi Fisika pada
Siswa SMA di Kota Palu. Prosiding
Pertemuan ilmiah XXV HFI Jateng & DIY,
hlm. 286-290.
[4] Suparno, P. (2010). Miskonsepsi &
Perubahan Konsep dalam Pendidikan
Fisika. Jakarta: Gramedia.
[5] Liliawati, W. (2009). Profil Miskonsepsi
IPBA di SMA dengan Menggunakan CRI
(Certainly of Response Index). Artikel HAI.
[6] Nasution, S. (2009). Metode Research
(Penenlitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.
[7] Singh, C & Schuun, C. (2009). Connecting
Three Pivotal Concepts in K-12 Science
State Standard and Maps of Conceptual
Growth to Research in Physics Education.
Journal of Physics Teacher Education
Online, 5 (2), hlm. 16-42.

Hilda Aini Nugraha*


Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
hilda_aini_nugraha.kuliah@yahoo.com

Ida Kaniawati
Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia

ISBN 978-602-19655-7-3 106


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Transparansi Optik Lapisan Transparan Komposit Nanopartikel


ZnO/Carboxymethyl Cellulose (CMC) pada Temperatur 200oC

Horasdia Saragih

Email: horas@unai.edu

Abstrak
Komposit nanopartikel ZnO/carboxymethyl Cellulose (CMC) yang bersifat transparan dan fleksibel telah
berhasil difabrikasi. Beragam konsentrasi kandungan nanopartikel ZnO, telah digunakan. Tujuan dibuatnya
komposit ini adalah untuk digunakan sebagai subtrat dan sekaligus sebagai dielektrik gerbang pada
pembuatan devais elektronika fleksibel dan transparan. Agar peran tersebut efektif maka stabilitas
transparansi optiknya pada temperatur yang tinggi (~ 150 oC) harus tinggi karena pemrosesan divais
elektronika umumnya sampai pada temperatur 150oC. Transparansi optik lapisan komposit nanopartikel
ZnO/CMC telah diukur pada temperatur sampai 200oC. Pengukuran telah dilakukan terhadap komposit
dengan kandungan nanopartikel ZnO yang beragam (4-19%). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
transparansi optik lapisan komposit sangat tinggi meskipun pada komposit telah dilakukan pemanasan
sampai pada temperatur 200oC selama 60 menit. Lapisan dengan konsentrasi nanopartikel ZnO dari 4-19%
menunjukkan transparansi optik di atas 80%.

Kata-kata kunci: Transparansi optik, komposit, nanopartikel ZnO/CMC.

tinggi dan memiliki stabilitas termal yang tinggi


Pendahuluan
pula. Sifat mekaniknya sangat baik. Oleh karena
Divais elektronika yang bersifat fleksibel dan itu CMC adalah suatu pilihan yang baik untuk
sekaligus transparan memberikan banyak dijadikan sebagai bahan dielektrik dan sekaligus
keuntungan [1]. Divais yang fleksibel mudah sebagai substrat pada pembuatan divais
perawatannya, mobilitasnya tinggi dan mudah elektronika fleksibel dan transparan.
pengemasannya. Bersifat transparan
Untuk lebih mengoptimalkan fungsinya
memberikan elegansi yang tinggi. Divais yang
sebagai suatu bahan dielektrik, suatu proses
fleksibel dapat digulung sehingga ruang
rekayasa terhadap dielektrisitasnya perlu
pengemasannya pun menjadi kecil. Dengan sifat
dilakukan. Namun proses ini diharapkan tidak
seperti itu divais elektronika fleksibel lebih efisien
mengurangi sifat transparansi optiknya.
dan efektif penggunaannya.
Umumnya cara yang dilakukan untuk
Saat ini divais elektronika yang kita miliki merekayasa dielektrik suatu material adalah
masih bersifat getas sehingga mudah pecah dengan mengkompositkannya dengan suatu
terutama ketika mengalami benturan. Oleh material logam oksida [2]. Pada penelitian ini hal
karena itu biaya perawatan dan mobilisasinya tersebut telah dilakukan. Material CMC telah
sangat tinggi sehingga mobilitasnya rendah. dikompositkan dengan nanopartikel ZnO. Ragam
Pengemasannya pun membutuhkan volume konsentrasi nanopartikel ZnO telah digunakan.
yang relatif besar dengan tingkat kehati-hatian Komposit yang dihasilkan dicetak dalam bentuk
yang tinggi. Secara keseluruhan menggunakan lapisan tipis. Setelah dikompositkan, perubahan
divais yang getas seperti itu menjadi tidak efisien karakteristiknya, seperti pengaruh pemanasan
dan efektif. dan pengaruh konsentrasi nanopartikel ZnO
yang dilibatkan terhadap sifat transparansi
Untuk tujuan menghasilkan divais elektronika
optiknya, telah diinvestigasi.
yang felksibel dan transparan sebagaimana
dimaksud di atas, penggunaan material berbasis Pada paper ini, proses fabrikasi komposit
cellulose yaitu carboxymethyl cellulose (CMC) nanopartikel ZnO/CMC dan karakteristik
sangat menjanjikan [2]. Material CMC memiliki transparansi optiknya sebagai pengaruh
fleksibilitas yang tinggi, transparansi optik yang pemanasan sampai pada temperatur 200oC

ISBN 978-602-19655-7-3 107


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

selama 60 menit dan pengaruh ragam Ketika campuran ketiga larutan telah
konsentrasi nanopartikel ZnO yang dilibatkan, diperoleh (dengan warna yang bening) dengan
diterangkan. masing-masing konsentrasinya, selanjutnya hasil
campuran ini dicetak dalam bentuk lapisan yang
Eksperimen tipis dengan cara menuangkannya secara
perlahan sehingga membentuk suatu lapisan
Komposit nanopartikel ZnO/CMC difabrikasi cair di atas suatu permukaan petri disk. Untuk
dengan menggunakan bahan: serbuk ZnCl2
menguapkan kandungan air yang terdapat di
(99,9%, Merck), serbuk NaOH (99%, Merck), dalam campuran larutan dan untuk
dan serbuk CMC (99%, Merck). Di-water (H2O)
menumbuhkan nanopartikel ZnO di dalam
dan ethanol (99%, Merck) digunakan sebagai
campuran sehingga terbentuk komposit
pelarut. Seluruh bahan-bahan ini digunakan
nanopartikel ZnO/CMC, lembaran cair tersebut
langsung tanpa dilakukan purifikasi tambahan.
selanjutnya dipanaskan dengan cara radiasi
Serbuk ZnCl2 dan serbuk NaOH dilarutkan ke pada temperatur 100oC selama 30 menit. Ketika
dalam pelarut ethanol pada konsentrasi masing- seluruh kandungan air telah menguap dari
masing: 10 mM dan 16 mM. Sementara serbuk lembaran cair tersebut, maka suatu lembaran
CMC dilarutkan ke dalam di-water pada tipis (lapisan) komposit nanopartikel ZnO/CMC
konsentrasi 2g/30mL. Proses pelarutan masing- yang fleksibel dan transparan, diperoleh.
masing bahan dilakukan di dalam suatu gelas
Beberapa teknik karakterisasi digunakan
beaker bervolume 250 mL dengan cara diaduk
untuk mempelajari sifat-sifat fisis lapisan
berbantuan magnetic stirrer. Proses pengadukan
komposit yang dihasilkan. UV-Vis
masing-masing larutan bahan terus dilakukan spectrophotometer BOECO S-26 digunakan
sampai diperoleh suatu larutan dengan warna
untuk mengkarakterisasi sifat absorbans optik
yang bening. lapisan komposit, UV-Vis spectrophotometer HP
Larutan ZnCl2 selanjutnya dicampur ke dalam 8452 Diode Array digunakan untuk
larutan CMC dengan cara meneteskannya mengkarakterisasi sifat transmitansnya dan
secara perlahan dan teratur. Ketika larutan ZnCl2 thermogravimetric (TGA) Shimadzu TGA 50
diteteskan ke dalam larutan CMC, larutan CMC analyzer digunakan untuk menginvestigasi sifat
secara terus menerus diaduk dengan termal lapisan.
berbantuan magnetic stirrer. Proses penetesan
dan proses pengadukan ini harus dikendalikan
sedemikian rupa sehingga gumpalan tidak terjadi Hasi dan Diskusi
pada hasil campuran larutan. Hasil campuran
Komposit nanopartikel ZnO/CMC dalam
larutan haruslah menunjukkan keadaan warna
bentuk lapisan tipis yang dihasilkan pada
yang bening.
penelitian ini ditunjukkan pada gambar 1. Secara
Setelah campuran larutan ZnCl2 dan larutan kasat mata lapisan yang dihasilkan sangat
CMC diperoleh, selanjutnya larutan NaOH transparan. Selain itu lapisan tersebut juga
dicampur ke dalamnya. Pencampuran juga sangat fleksibel.
dilakukan dengan cara diteteskan seiring
dilakukan pengadukan secara terus menerus
dengan berbantuan magnetic stirrer.
Sebagaimana dengan teknik sebelumnya,
proses pencampurannya harus dilakukan secara
hati-hati agar pada campuran tidak terjadi
pembentukan gumpalan. Hasil campuran ketiga
larutan ini haruslah juga menunjukkan keadaan
warna yang bening.
Untuk menghasilkan komposit dengan
konsentrasi nanopartikel ZnO yang berbeda-
beda, cara yang dilakukan adalah dengan
memvariasikan besar volume masing-masing
larutan yang akan dicampurkan. Pada penelitian
ini untuk memperoleh komposit dengan
konsentrasi nanopartikel ZnO sebesar 5%, 9%,
14% dan 19%, volume larutan ZnCl2, volume Gambar 1. Komposit nanopartikel ZnO/CMC
larutan NaOH dan volume larutan CMC yang dalam bentuk lapisan tipis. Lapisan sangat
dicampurkan masing-masing adalah 3 mL:3 fleksibel dan transparan.
mL:30 mL; 6 mL:6 mL:30 mL; 9 mL:9 mL:30 mL;
dan 12 mL:12 mL:30 mL.

ISBN 978-602-19655-7-3 108


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Respon absorbans optik lapisan komposit komposit dapat dihitung melalui persamaan 1
yang memiliki konsentrasi nanopartikel ZnO [3]:
yang berbeda-beda pada panjang gelombang
300-450 nm yang diukur dengan menggunakan
alat UV-Vis spectrophotometer Boeco S-26 10240, 72
Germany, ditunjukkan pada gambar 2. 0,3049  26, 23012 
 p  nm 
Konsentrasi nanopartikel ZnO yang terkandung r  nm   (1)
di dalam setiap lapisan diinvestigasi melalui 2483, 2
6,3829 
pengukuran persen berat menggunakan teknik  p  nm 
thermogravimetric (TGA) (gambar tidak
ditunjukkan) dengan alat Shimadzu TGA 50
dimana r adalah jari-jari rata-rata nanopartikel
Analyzer yang diperlengkapi dengan sel
ZnO dan p adalah panjang gelombang dimana
platinum. Dengan teknik pengolahan
puncak eksitonik terjadi.
sebagaimana diuraikan pada bagian eksperimen
di atas diperoleh lapisan komposit dengan
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan
ragam konsentrasi nanopartikel ZnO masing-
persamaan 1 di atas diperoleh bahwa rata-rata
masing: 5%, 9%, 14% dan 19%.
diameter nanopartikel ZnO yang tumbuh di
dalam seluruh lapisan adalah disekitar 3,62 nm.
Selanjutnya pengaruh pemanasan terhadap
sifat transparansi lapisan komposit, diinvestigasi.
Ke empat lapisan yang mengandung
nanopartikel ZnO: 5%, 9%, 14% dan 19%
dipanaskan sampai ke temparatur 200oC selama
60 menit. Setelah pemanasan dilakukan, respon
transmitans optik setiap lapisan diukur pada
rentang panjang gelombang 200-1100 nm
dengan menggunakan alat UV-Vis
spectrophotometer HP 8452 Diode Array.
Hasilnya ditunjukkan pada gambar 3.
Dari hasil yang diperoleh sebagaimana
diperlihatkan pada gambar 3, menunjukkan
bahwa transparansi optik seluruh lapisan pada
panjang gelombang 450-1100 nm berada di atas
80%. Dalam kasus ini transmitans lapisan tidak
Gambar 2. Absorbans optik lapisan komposit
mungkin dapat mencapai 100% karena indeks
nanopartikel ZnO/CMC dengan konsentrasi
bias lapisan berbeda atau lebih besar dari indeks
nanopartikel ZnO yang berbeda-beda.
bias udara. Oleh karena perbedaan indeks bias
Merujuk kepada hasil yang ditunjukkan pada ini maka terjadi peristiwa refleksi oleh
gambar 2 terlihat bahwa semakin besar permukaan lapisan ketika cahaya (gelombang
konsentrasi nanopartikel ZnO di dalam komposit, elektromagnetik) tepat saat akan memasukinya.
makin tinggi pula absorbans optiknya pada Hal ini ditunjukkan secara jelas melalui
panjang gelombang di bawah 350 nm (di daerah persamaan 2 dan 3 [4]:
spektrum ultraviolet). Sementara lapisan yang
tidak mengandung nanopartikel ZnO (hanya  nm  na 2
CMC), absorbansnya tidak berarti di rentang R (2)
spektrum tersebut. Hal ini adalah wajar sebagai  nm  na 2
konsekwensi dari hadirnya dan meningkatnya
konsentrasi nanopartikel ZnO di dalam lapisan T  %  1  R  100% (3)
komposit.
Dengan menggunakan respon absorbans di mana R adalah reflektans, T adalah
optik pada gambar 2, ukuran rata-rata diameter transmitans, na adalah indeks bias udara, dan nm
nanopartikel ZnO yang tumbuh di dalam adalah indeks bias material lapisan komposit.

ISBN 978-602-19655-7-3 109


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

memiliki sifat transparansi rata-rata di atas 80%


meskipun telah dipanaskan. Dari hasil yang
diperoleh ini menunjukkan bahwa komposit
nanopartikel ZnO/CMC memiliki potensi untuk
digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan dielektrik gerbang dan sekaligus
sebagai substrat pada pembuatan divais
elektronika yang transparan di masa mendatang
karena memiliki stabilitas termal yang sangat
baik.

Ucapan terima kasih


Penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada DP2M-DIKTI Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia atas
dukungan pendanaannya pada penelitian ini.

Gambar 3. Transmitans optik lapisan komposit


nanopartikel ZnO/CMC yang mengandung
nanopartikel ZnO: 5%, 9%, 14% dan 19% Referensi
setelah dipanaskan pada temperatur 200oC
[1] H. Koga, M. Nogi, N. Komoda, T.T. Nge, T.
selama 60 menit pada rentang panjang
Sugahara and K. Suganuma, ”Uniformly
gelombang 200-1100 nm.
connected conductive networks on
cellulose nanofiber paper for transparent
paper electronics”, NPG Asia Materials
Dari hasil yang diperoleh ini, seperti
6(e93), 1-8 (2014)
ditunjukkan pada gambar 3, bahwa pemanasan
[2] A.A. Galil, H.E. Ali, A. Atta, and M.R.
komposit sampai ke temperatur 200oC selama
Balboul, “Influence of nanostructured TiO2
60 menit tidak menjatuhkan transparansinya di
additives on some physical characteristics
bawah 80%. Artinya, persen transparansi ini
of carboxymethyl cellulose (CMC)”, Journal
masih sangat tinggi untuk suatu material
of Radiation Research and Applied
transparan. Dengan demikian pemanasan
Sciences 7, 36-43 (2014)
sampai ke temperatur 200oC dapat dilakukan
[3] P. Kumbhakar, D. Singh, C.S. Tiwary and
terhadap lapisan komposit pada saat
A.K. Mitra, “Chemical synthesis and visible
pengolahannya untuk menjadi suatu divais
photoluminescence amission from
elektronika, misalnya ketika lapisan logam
monodispersed ZnO nanoparticles”,
transparan dideposisi di atasnya yang umumnya
Chalcogenide Letters 5(12), 387-394
membutuhkan pemanasan di sekitar 150oC,
(2008).
tanpa kawatir merusak sifat transparansinya.
[4] M. Nogi, C. Kim, T. Sugahara, T. Inui, T.
Takahashi and K. Suganuma, “High thermal
Kesimpulan stability transparancy in cellulose nanofiber
Dari hasil penelitian ini suatu komposit paper”, Applied Physics Letters
nanopartikel ZnO/CMC telah diperoleh. 102(181911), 1-4 (2013)
Komposit yang dihasilkan bersifat fleksibel dan
transparan. Empat ragam konsentrasi
nanopartikel ZnO di dalam komposit, telah
dilibatkan. Komposit dengan keempat ragam Horasdia Saragih
konsentrasi nanopartikel ZnO ini telah diukur Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
sifat transparansinya setelah dipanaskan sampai Universitas Advent Indonesia
ke tempartur 200oC selama 60 menit. Dari hasil horas@unai.edu
pengukuran transmitansnya, lapisan komposit

ISBN 978-602-19655-7-3 110


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sensor Api Berbasis Arduino Sebagai Detektor Dini Kebakaran Akibat


Hubungan Pendek Arus Listrik
Husnul Hamdi, Elfitra Desifatma, Kiswanto, Hendro

Email: husnulhamdi25@gmail.com

Abstrak
Kebakaran merupakan salah satu kejadian yang seringkali terjadi dan sangat merugikan secara materi
bahkan menimbulkan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit. Mengacu pada data bencana dari Geospasial
Badan Nasional Penanggulangan Bencana, selama tiga tahun terakhir (2011,2012,dan 2013) terjadi sekitar
509 kasus kebakaran yang terjadi dengan jumlah korban meninggal dunia 39 orang dan puluhan ribu
kehilangan tempat tinggal. Kebakaran yang terjadi hampir 80% disebabkan oleh hubungan arus pendek
listrik. Oleh sebab itu, suatu sistem pencegahan dini terjadinya kebakaran sangat dibutuhkan. Hal ini
diupayakan agar saat terjadi hubungan arus pendek dan munculnya api dapat diketahui sedini mungkin
sehingga kebakaran dapat dicegah. Melalui Research Based Learning (RBL), dirancang suatu alat
pendeteksi kebakaran menggunakan sensor api (flame sensor) berbasis mikrokontroler Arduino. Detektor
kebakaran ini dipasang flame sensor kemudian akan mengirim data ke Arduino, Arduino memberikan sinyal
kebakaran yang dihubungkan ke alarm kebakaran berupa sound menggunakan buzzer.
Kata-kata kunci : Sensor Api, Detektor Kebakaran, dan Arduino
langsung. Detektor ini mampu mendeteksi api
Pendahuluan
bahkan dalam intensitas yang kecil seperti api
Hubungan arus pendek listrik merupakan yang dihasilkan oleh hubungan pendek arus
penyebab utama dari peristiwa kebakaran. listrik.
Peristiwa kebakaran ini menimbulkan banyak
Berbagai perkembangan detektor kebakaran
korban jiwa. Sepanjang tahun 2011, 2012, dan
yang sering digunakan adalah sensor pendeteksi
2013 jumlah korban meninggal dunia 39 orang
suhu ataupun asap dan sangat sedikit yang
dan puluhan ribu kehilangan tempat tinggal [1].
mengembangkan detektor kebakaran
Oleh sebab itu diperlukan adanya suatu
menggunakan sensor api. Oleh karena itu
pencegahan untuk mengatasi kebakaran ini.
penulis akan membahas detektor kebakaran
Beragam detektor sudah dirancang untuk
menggunakan sensor api berbasis
mencegah hal ini. Detektor kebakaran pertama
mikrokontroler Arduino. Dimana pada sensor api
berhasil dibuat di Amerika Serikat oleh Willian
telah terdapat modul sehingga penulis hanya
Channing pada tahun 1941 [2]. Selanjutnya
akan membahas karakterisasi alat.
perkembangan detektor kebakaran terus terjadi.
Umumnya detektor kebakaran yang sering
Teori
digunakan adalah berupa sensor suhu dan
sensor asap [3]. Fatimah, dkk telah melakukan Detektor api merupakan sensor yang
penelitian serupa dengan menggunakan sensor digunakan mendeteksi api. Detektor ini bereaksi
suhu LM35 [4], namun detektor ini hanya lebih cepat dari pada detektor asap atau panas.
mendeteksi perubahan suhu yang bisa berasal Detektor ini mampu mendeteksi api secara dini
dari lingkungan sekitar yang bukan dari api. sebelum api membesar dan terjadi kebakaran.
Penelitian lain dilakukan oleh Winarto Detektor ini dapat mendeteksi keberadaan sinar
menggunakan sensor suhu dan sensor asap infra merah yang dihasilkan oleh api, dimana
secara bersamaan [5]. Detektor ini hanya mampu mendeteksi panjang gelombang sekitar
bekerja apabila mendeteksi perubahan suhu dan 760 nm sampai dengan 1100 nm.
adanya asap, namun tidak mendeteksi adanya
api secara langsung. Sensor yang digunakan adalah Flame
sensor. Flame sensor merupakan alat instrumen
Berdasaarkan studi literatur yang dilakukan berupa sensor yang dapat mendeteksi nilai
dirancang suatu detektor menggunakan sensor intensitas dan frekuensi api dalam proses
api (Flame sensor). Sensor ini bekerja pada pembakaran. Flame sensor digunakan untuk
interval panjang gelombang tertentu yang mendeteksi api bukan panas.
merupakan panjang gelombang api sehingga
detektor mampu mendeteksi api secara

ISBN 978-602-19655-7-3 111


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 4. Buzzer
Diagram alir detektor ini adalah bentuk
Gambar 1. Spektrum panjang gelombang
diagram alir hubungan sensor api terhadap
Infrared [6]. peralatan keluaran berupa buzzer. Diagram alir
Sensor api dapat digunakan untuk sistem detektor dapat dilihat pada Gambar 5
mendeteksi api atau panjang gelombang 760 nm berikut
sampai dengan 1100 nm. Sensor ini mampu
beroperasi pada interval suhu -250 C sampai 850
C, dengan tegangan suplai 5 V dan interval
jarak deteksi 5 cm sampai dengan 100cm [7].

Gambar 2. Sensor api (flame sensor)


Pengolahan sinyal dari flame sensor ini
menggunakan mikrokontroler Arduino. Arduino
memiliki kelebihan dibandingkan mikrokontroler
biasa, seperti sudah terdapat loader sehingga Gambar 5. Diagram alir detektor api
bisa langsung di upload dari PC [8]. Pada proses pengambilan data dilakukan
beberapa kali pengukuran menggunaan detektor
kebakaran ini. Dengan asumsi sumber api yang
kecil, lilin menjadi sumber api yang digunakan
pada proses pengambilan data. Pada proses ini
dilakukan dengan memvariasikan jarak sumber
api dengan detektor mulai dari 5 cm – 130 cm.

Gambar 3. Arduino Uno R3


Pada detektor ini menggunakan keluaran berupa
suara menggunakan buzzer. Pada saat
terdeteksi adanya api buzzer akan
mengeluarkan bunyi alarm.
Gambar 6. Alat detektor api

ISBN 978-602-19655-7-3 112


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Tabel 1. Variasi tegangan terhadap jarak Berdasarkan data dari Spektrometer terlihat
No Jarak (cm) Tegangan (Volt)
bahwa panjang gelombang api berkisar antara
1 5 0,080 400 nm – 1100 nm. Dengan panjang gelombang
2 10 0,085 sebesar ini mampu ditangkap dan dideteksi oleh
3 15 0,095 sensor api sehingga adanya api yang sangat
4 20 0,100 kecil dapat diketahui demi mencegahnya
5 25 0,105
peristiwa kebakaran.
6 30 0,105
7 35 0,105
8 40 0,105 Kesimpulan
9 45 0,110
10 50 0,115 Detektor kebakaran menggunakan sensor api
11 55 0,115 efektif digunakan untuk mendeteksi adanya api
12 60 0,130 yang ditimbulkan akibat hubungan pendek arus
13 65 0,130 listrik. Api memancarkan gelombang dengan
14 70 0,130
rentang 400 nm – 1100 nm dan merupakan
15 75 0,135
16 80 0,140 interval panjang gelombang kerja dari sensor api
17 85 0,150 antara 760 nm – 1100 nm. Adanya api
18 90 0,155 menyebabkan tegangan keluaran dari detektor
19 95 0,205 api kecil dan tegangan keluaran menjadi besar
20 100 0,285 jika tidak ada api.
21 105 0,850
22 110 0,880 Untuk rencana pengembangan penelitian
23 115 0,920 kedepannya, detektor api ini bisa dihubungkan
24 120 0,970
25 125 1,270
dengan aktuator berupa kran solenoid yang
26 130 1,270 terhubung dengan tabung gas CO2 sehingga api
yang terdeteksi bisa secara otomatis
Dari tabel didapatkan bahwa tegangan dipadamkan. Detektor yang terintegrasi dengan
keluaran dari detektor api rendah, saat sistem operasi perangkat Android juga menjadi
mendeteksi api yaitu rentang 0,080 V sampai sebuah rencana pengembangan alat ini
0,285 V. Pada saat jarak sumber api diatas 100 kedepannya, sehingga adanya api yang
cm tegangan langsung naik menjadi 0,850. terdeteksi bisa langsung diketahui melalui
Kenaikan ini cukup drastis dibandingkan dengan perangkat Android.
kenaikan pada data sebelumnya. Tegangan
keluaran pada detektor api mengalami kenaikan Ucapan terima kasih
secara linear seiring bertambahnya jarak antara
detektor dengan sumber api. Buzzer sebagai Penulis mengucapkan terima kasih kepada
keluaran berbunyi saat sensor mendeteksi kepala dan asisten laboratorium optik Fisika ITB
adanya api dalam interval jarak 5 - 100 cm. Hal atas izinnya dalam pengambilan data
ini sesuai dengan karakterisasi dari sensor api. menggunakan Spektrometer. Ucapan terima
kasih juga diberikan kepada asisten laboratorium
Untuk mengukur panjang gelombang api Instrumentasi saudara Mairizwan dan M. Sainal
yang digunakan pada percobaan digunakan Abidin atas bantuan dan pinjaman alat-alatnya
spektrometer. Dari pengukuran diperoleh hasil dalam perakitan detektor api ini.
panjang gelombang api yang diperlihatkan pada
grafik berikut Referensi
[1] Badan Nasional Penanggulangan Bencana,
update 18 Oktober 2014 [diakses 20
Oktober 2014]
http://geospasial.bnpb.go.id/pantauanbenca
na/data/datakbmukim.php
[2] Kontributor Wikipedia,"Alarm", Wikipedia,
Ensiklopedi Bebas, 5 September 2014,
07:52 UTC [diakses 20 Oktober 2014].
[3] Boni Pahlanop Lapanporo,”Prototipe
Sistem Telemetri Berbasis Sensor Suhu
dan Sensor Asap untuk Pemantau
Kebakaran Lahan” POSITRON, Vol. I, No.
1 (2011), Hal. 43-49,ISSN : 2301-4970
[4] Fatimah, Kusnanto Mukti, Edi
Gambar 8. Interval Panjang Gelombang Api Prasetyo.2012.”Pendeteksi Kebakaran
dengan Spektrometer dengan Menggunakan

ISBN 978-602-19655-7-3 113


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sensor Suhu lm355”. Makalah Bengkel


Elektronika FMIPA Universitas Sebelas
Maret
[5] Adi Winarto,Budi Setyono, Wahyudi.
Makalah Seminar Tugas Akhir “Prototipe
Sistem Pemadam Kebakaran Berbasis PLC
dengan menggunakan Sensor Asap dan
Sensor Suhu” Universitas Diponegoro.
[6] http://ourn0tes.files.wordpress.com/2010/03
/about-infrared-image.jpg [diakses 22
november 2014]
[7] http://www.centralelectro.com/catalog.php?
action=show_custom&id=1372&cat
[diakses 11 November 2014]
[8] Helmi Guntoro, Yoyo Somantri, Erik
Haritman,”Rancangan Bangun Magnetic
Door Lock Menggunakan Keypad dan
Solenoid Berbasis Mikrokontroler Arduino
Uno”, Jurnal UPI ELECTRANS, VOL.12,
NO.1, MARET 2013 , 39- 48, ISSN 1412 –
3762

Husnul Hamdi*
Earth Physics and Complex System Division
Institut Teknologi Bandung
Husnulhamdi25@gmail.com

Elfitra Desifatma
Earth Physics and Complex System Division
Institut Teknologi Bandung
Elfitra10@gmail.com

Kiswanto
High Energy Theory and Instrumentation Division
Institut Teknologi Bandung
Physicman88@gmail.com

Hendro
High Energy Theory and Instrumentation Division
Institut Teknologi Bandung
hendro@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 114


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengamatan Kemampuan Pemain Futsal dan Hasil Pertandingannya:


Analisa dan Model
Sparisoma Viridi, Nuning Nuraini, dan Ikhlas

Email: ikhlasincas9@gmail.com

Abstrak
Model untuk mengaitkan antara hasil pertandingan futsal dengan kemampuan teknik para pemain futsal
disajikan dalam tulisan ini. Sumber data adalah adalah pertandingan antara Tim Futsal Putri ITB melawan
Tim Futsal Putri UPI C dan Tim Futsal Putri ITB melawan Tim Futsal Putri UNPAD. Masing- masing
pertandingan berlangsung selama 2 × 25 menit bersih untuk ITB melawan UPI C dan 2 x 20 menit bersih
untuk ITB melawan UNPAD, kedua pertandingan berlangsung dalam hari yang berbeda. Dalam
pertandingan yang diamati ini pemain yang ditandingkan masing-masing tim berjumlah lima pemain dan satu
diantaranya kiper. Pergantian pemain dapat dilakukan setiap saat dan jumlah pergantiannya tidak dibatasi.
Kemampuan individu pemain berada pada kelas kemampuan yang sama. Data durasi tiap pemain dalam
petandingan direkap-ulang dari hasil video yang merekam pertandingan. Dari pertandingan babak pertama
dan kedua didapat perbedaan skor akhir antara Tim Futsal Putri ITB melawan Tim Futsal Putri UPI C dan
Tim Futsal Putri ITB melawan Tim Futsal Putri UNPAD, sehingga untuk sementara dapat disimpulkan ada
pengaruh kemampuan teknik seorang pemain terhadap hasil pertandingan. Analisis ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana suatu tim dapat memenangkan permainan berdasarkan historis kemampuan teknik
tiap pemain yang dimainkan.
Kata-kata kunci: analisis pertandingan futsal, kemampuan historis pemain, model matematika

dribbling, shooting, dan passing, dalam


Pendahuluan
pertandingan futsal dengan melihat hasil skor
Futsal merupakan salah satu olahraga
pertandingan dan mencocokkannya ke dalam
permainan popularitasnya naik secara signifikan
beberapa tahun ini [1]. Dalam menganalisis suatu model Prediksi Gol dengan Pembobotan.
suatu pertandingan sebenarnya yang kita Bobot ketiga teknik tersebut kemudian akan
lakukan adalah memperhatikan kecenderungan ditentukan dalam model agar hasil pertandingan
tingkah dari obyek, dalam hal ini tim yang memiliki suatu nilai kecocokan tertentu terhadap
bertanding, selama pertandingan berlangsung model prediksi. Kemudian, kami telah melakukan
terhadap hasil akhir pertandingan, dalam hal ini pengamatan dalam dua pertandingan berbeda
tim yang bertanding. Dufour (1993) menyatakan
bahwa tujuan utama dalam analisis elemen antara Tim Putri ITB melawan UPI C dan Tim
teknik dalam pertandingan sepakbola adalah Putri ITB melawan UNPAD dan hasil
untuk menghubungkan elemen teknik permainan pertandingannya dianalisis dan dicocokkan
dengan skor pertandingan [2]. Menurut terhadap Model Prediksi Gol dengan
Schroeter dan Bauersfeld, suatu prestasi Pembobotan. Sehingga keluaran dari penelitian
ditentukan oleh faktor eksternal yang meliputi ini adalah bobot teknik dalam model dan berapa
sarana, prasarana, dan sistem pertandingan
besar kebenaran atau kecocokan prediksi
dan faktor internal yang meliputi kemampuan
teknik, pemahaman taktik, kemampuan fisik, menggunakan model dibandingkan dengan hasil
mental, dan psikologis atlet. Namun, dari faktor- sebenarnya.
faktor tersebut yang paling mudah diamati
adalah faktor teknik. Menurut FIFA dalam laman Teori
resminya, teknik dasar futsal antara lain
Model Prediksi Gol dengan Pembobotan
dribbling, shooting, passing, dan controlling.
adalah model yang menggunakan data nilai
Berdasarkan studi diatas, kami menganalisis kemampuan teknik dari historis pemain untuk
faktor teknik namun membatasinya hanya memprediksi apakah suatu tim dapat

ISBN 978-602-19655-7-3 115


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

memenangkan pertandingan dengan suatu dari yang terendah skala 0 sampai tertinggi skala
bobot teknik yang belum diketahui nilainya untuk 5. Kemudian sebelum gol terjadi kemampuan
kemudian model ini dicocokkan dengan hasil pemain yang berada dilapangan dijumlah dan
pertandingan sebenarnya. dikurangi jumlah kemampuan pemain lawan.
Terdapat dua tim futsal yang masing-masing Untuk pertandingan ITB melawan UPI skor
beranggotakan N1 dan N2 pemain. Setiap akhir 3-6, sedangkan ITB melawan UNPAD skor
pemain memiliki nilai kemampuan. Kemampuan akhir 0-4. Berikut ini adalah tabel hasil kedua
pertandingan.
setiap pemain dapat dibedakan antara passing
P, shooting S, dan dribbling D yang masing- Tabel 1. Hasil pertandingan ITB melawan UPI
masing diberi lambang Sp, Ss, dan Sd. Untuk tiap dan ITB melawan UNPAD
pemain i kemampuannya dihitung dengan cara

S
i
player
 c p S p  cd S d  cs S s
i i i (1) k 
sign S T
ITB ,k
 ST
UPI,k
 sign S T  ITB , k
 ST
UNPAD, k

1 1 -1
dengan cp , cd , cs adalah koefesien kemampuan 2 -1 -1
yang nilainya ternormalisasi 3 -1 -1
(2) 4 1 -1
c c c
p d s
1
5 -1
dan berlaku sama untuk seluruh pemain dan 6 1
kedua tim yang bertanding. 7 -1
8 -1
Bila saat suatu waktu t = tk gol tercipta maka nilai
9 -1
kemampuan tim menjadi
N i ,k
 S (7)
i
S Tim player
Tabel 2. Selisih Kemampuan Historis
i 1
sebelum gol ITB dan UPI
di mana Ni,k hanya melibatkan pemain yang ITB , k
 Sd
UPI, k
S
ITB ,k
Sp
UPI ,k ITB ,k
 Sc
UPI,k
S d p S c
bertanding dalam rentang waktu antara dua gol
-1 0 4
berurutan, yaitu pada saat tk-1 < t < tk. Prediksi 0 -1 5
gol ke k menggunakan untuk kedua tim, misal
0 2 0
tim A dan tim B
2 0 1
(8)
p S k
Tim A
k

, S Tim B  sign
k
S  S 
Tim A
k
Tim B
-3 -4 -1
 sign c S S  c S Sp  c S  Ss  -1 1 -1
Tim A,k Tim B ,k Tim A,k Tim B ,k Tim A,k Tim B ,k
d d d p p s s

-2 0 1
di mana nilai +1 berarti tim j unggul atas tim j+1, -2 -2 0
nilai -1 berarti sebaliknya, nilai 0 berarti seri. 0 2 -2
Fungsi sign(x) berarti
Tabel 2. Selisih Kemampuan Historis
 1, x  0, sebelum gol ITB dan UNPAD
 (5)
sign ( x)   0, x  0, S
ITB , k
 Sd
UNPAD, k
S
ITB , k
p
Sp
UNPAD, k
S
ITB , k
 Sc
UNPADI, k

  1,
d c

 x  0. 0 1 -1
-6 1 -6
Persentase kebenaran atau kecocokan model ini
adalah jumlah benar prediksi dibagi jumlah total
-4 1 -5
gol yang tercipta dalam pertandingan. -4 1 -6

Dari data diatas kemudian kami menentukan


Hasil dan diskusi bobot cp , cd ,dan cs agar sesuai dengan hasil
sebenarnya. Data diolah untuk mendapatkan
Bagian Pertandingan yang diamati adalah bobot teknik tersebut, dengan menggunakan
pertandingan antara Tim ITB melawan UPI C data pertandingan ITB melawan UPI, didapatkan
dan ITB melawan UNPAD. Kemampuan teknik bahwa persentase maksimum kecocokan atau
pemain didapat dari data historis lalu dipetakan kebenaran model prediksi dengan hasil

ISBN 978-602-19655-7-3 116


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

sebenarnya adalah sebesar 77.8 % yakni dari Kecocokan model prediksi dengan kedua
sembilan gol hanya tujuh yang sesuai prediksi. pertandingan memiliki perbedaan. Model ini
Dari persentase ini didapatkan kombinasi bobot terlihat menarik untuk pertandingan ITB
cp , cd ,dan cs yang beragam. Kombinasi tersebut melawan UPI karena walaupun menggunakan
dapat dilihat dalam grafik berikut. model prediksi, didalamnya masih terdapat
faktor keberuntungan untuk memprediksi
kemenangan karena kecocokannya hanya
77.8%. Sedangkan untuk pertandingan ITB
melawan UNPAD model ini dapat cocok dengan
menggunakan suatu kombinasi bobot tertentu.
Karena hasil yang berbeda ini, model belum
cocok untuk prediksi semua pertandingan.

Ucapan terima kasih


Penulis mengucapkan terima kasih atas
bantuan Lani Diana, Tim Futsal Putri ITB, Tim
Futsal Putri UPI C, dan Tim Futsal Putri UNPAD
dalam keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini.
Penulis juga berterima kasih kepada Ibu Nuning
Nuraini dan Bapak Sparisoma Viridi atas
dikusinya yang bermanfaat.
Gambar 1. ruang parameter model dengan
kecocokan 77.8%
Sedangkan untuk pertandingan antara ITB dan Referensi
UNPAD, dalam menentukan bobot agar prediksi [1] Ricardo Duarte, Nuno Batalha, Hugo
model cocok dengan hasil pertandingan Folgado and Jaime Sampaio. Effects of
didapatkan kombinasi bobot sehingga model Exercise Duration and Number of Players in
seratus persen cocok dengan hasil Heart RateResponses and Technical Skills
pertandingan. Kombinasi tersebut dapat dilihat During Futsal Small-sided Games. The
Open Sports Sciences Journal, 2009, 2, 37-
dalam grafik.
41
[2] Felipe Arruda Moura, Paulo Roberto
Pereira Santiago, Milton Shoiti Misuta,
ruang parameter [3] Ricardo Machado Leite de Barros, Sergio
x-axis : cp
y-axis : cd Augusto Cunha. Analysis of The Shots to
Goal Strategies of First Division Brazilian
Professional Soccer Teams. XXV ISBS
Symposium 2007, Ouro Preto – Brazil.
[4] Carlos Lago-Peñas, Ezequiel Rey and
Joaquín Lago-Ballesteros. The Influence of
Effective Playing Time on Physical
Demands of Elite Soccer Players. The
Open Sports Sciences Journal, 2012, 5,
188-192
[5] The Futsal Assosiation Fact Sheet.
Diunduh melalui google pada 22 septemer
2014.
[6] FIFA couching manual diunduh melalui
google pada 22 September 2014
Gambar 2. ruang parameter model dengan
kecocokan 100%

Kesimpulan

ISBN 978-602-19655-7-3 117


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sparisoma Viridi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id

Nuning Nuraini
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Teknologi Bandung

Ikhlas*
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Teknologi Bandung
Email : ikhlasincas9@gmail.com

*corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 118


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengukuran Gayaberat Relatif untuk Pendefinisian Referensi Ketinggian


Geodesi di Kota Semarang
L. M. Sabri, Leni Sophia Heliani, T. Aris Sunantyo, Nurohmat Widjajanti, Supriyadi

Email: laodesabri@gmail.com

Abstrak
Referensi ketinggian geodesi atau datum vertikal dibagi atas referensi berbasis Mean Sea Level (MSL) dan
referensi berbasis geoid. Permasalahan dalam pendefinisian datum vertikal berbasis MSL adalah sulitnya
mengumpulkan data yang tidak terputus dalam kurun waktu 18,6 tahun dan keharusan untuk melakukan
pengadaan titik-titik kontrol yang tersebar secara merata di seluruh wilayah. Pendefinisian referensi
ketinggian berbasis geoid lebih efektif dibanding MSL, karena geoid merupakan bidang yang dapat
memberikan informasi referensi ketinggian secara kontinyu di seluruh wilayah. Geoid merupakan salah satu
bidang ekuipotensial gayaberat yang didekati oleh kedudukan MSL. Geoid dimodelkan dengan
menggunakan data pengukuran gayaberat di permukaan bumi yang digabungkan dengan data topografi dan
data geoid global yang diperoleh dari satelit. Pada penelitian ini, gayaberat relatif diukur menggunakan
gravimeter relatif Scintrex CG-5 yang memiliki ketelitian 5 microgals. Pengukuran dilakukan di 98 lokasi
yang tersebar secara merata di Kota Semarang dan sekitarnya pada September hingga Oktober 2014. Data
hasil ukuran tersebut selanjutnya direduksi hingga mendapatkan data anomali gayaberat Free Air. Data lain
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data koefisien harmonic bola EGM2008 (Earth Gravitational
Model tahun 2008) dengan derajat 360 dan 2190, serta data topografi dari SRTM (Shuttle Radar
Topography Mission) dengan kerapatan 90 m.. Perhitungan dilakukan dengan teknik Remove-Compute-
Restore pada perangkat lunak Gravsoft. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa geoid yang terkontribusi
oleh Model Geopotensial Global dengan derajat 2190 memberikan hasil yang sedikit lebih akurat disbanding
relative saman waktu Mei 2012 hingga Oktober 2012 di Kota Semarang bagian bawah terjadi kenaikan
elevasi geoid sebesar 1 mm hingga 7 mm. Verifikasi pada titik uji independen didapat perbedaan rata-rata
terhadap geoid geometrik sebesar 0,386 m untuk model geoid lokal yang terkontribusi EGM2008 derajat 360
dan 0,372 m untuk model geoid lokal yang terkontribusi EGM2008 derajat 2190. Setelah dilakukan datum
shifting secara sederhana diperoleh selisih dengan geoid geometrik sebesar 0,079 m untuk model geoid
lokal yang terkontribusi EGM2008 derajat 360 dan 0,067 m untuk model geoid lokal yang terkontribusi
EGM2008 derajat 2190. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa ketelitian geoid gravimetrik yang
didapat pada penelitian ini cukup memadai untuk keperluan praktis, namun masih memerlukan peningkatan
akurasi jika digunakan untuk keperluan ilmiah.

Kata-kata kunci: Referensi ketinggian, Muka laut rata-rata, Gayaberat, Remove-Compute-Restore, Geoid

yang tidak konsisten, dan secara tidak langsung


Pendahuluan mempersulit upaya perapatan jaring kontrol
Pengukuran Referensi Ketinggian atau vertikal dan kegiatan survey pemetaan lainnya
Kerangka Vertikal Orde 1 dan Orde 2 di Pulau [Wolf, 2006].
Jawa dilakukan pada tahun 1980 hingga 1987 Penurunan tanah yang terjadi di Kota
yang terikat pada hasil estimasi Mean Sea Level Semarang menyebabkan perubahan elevasi dari
(MSL) di Tanjung Priok, Jakarta dan di Tanjung TTG, terutama di Kota Semarang bagian utara
Perak, Surabaya [1]. Referensi Ketinggian [2]. Kondisi ini mengakibatkan setiap kegiatan
direalisasikan dalam bentuk Tanda Tinggi survey pemetaan dan monitoring elevasi yang
Geodesi (TTG) yang tersebar dengan kerapatan menuntut ketelitian tinggi harus mengacu pada
tertentu agar memudahkan kegiatan-kegiatan TTG yang dianggap stabil, yaitu TTG449 yang
survey dan pemetaan. Banyak TTG di Pulau berada sekitar 25 km dari garis pantai.
Jawa telah hilang dan mengalami kerusakan Salah satu kelemahan pengukuran tinggi
yang disebabkan oleh aktivitas sosial ekonomi dengan sipat datar yang menjadikan metode ini
dan deformasi alami. Kerusakan titik ikat membutuhkan waktu pengukuran yang lama.
mengakibatkan pengukuran tinggi dari satu titik Kelemahan inilah yang dihilangkan oleh GNSS
kontrol ke titik kontrol lainnya menghasilkan nilai (Global Navigation Satellite System) yang

ISBN 978-602-19655-7-3 119


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

menawarkan kemudahan pengukuran di segala cos  sin . sin  ' cos. cos '. cos ' 
tempat yang terbuka (sky visibility) dan di (3)
segala cuaca [3]. Konversi tinggi geodetik yang
4) Menghitung fungsi Stokes
didapat dari GNSS menjadi tinggi orthometrik

S   
1
dilakukan dengan mengaplikasikan nilai undulasi  6. sin  1  5. cos
geoid yang diperoleh dari pengukuran gravity sin  2

atau gayaberat. Penelitian ini bertujuan untuk  2
meneliti bagaimana ketelitian dari pemodelan   
geoid sebagai referensi ketinggian geodesi di  3. cos . ln  sin  sin 2  (4)
 2 2
Kota Semarang dengan mengkombinasikan nilai
hasil pengukuran gayaberat relatif dengan model 5) Menghitung anomali potensial
g.S  .d

geopotensial global dengan koefisien harmonic R
T
bola berderajat 360 dan derajat 2190. 4.
(5)
Teori
6) Menghitung Undulasi grid ( N GRID ) dengan
Referensi ketinggian geodesi atau datum
vertikal dibagi atas referensi berbasis Mean Sea rumus Bruns
Level (MSL) dan referensi berbasis geoid [4]. T
N
Pengamatan pasang surut digunakan untuk 0
mendefinisikan muka laut rata-rata atau MSL. (6)
Adapun pengamatan gayaberat digunakan untuk 7) Mengembalikan efek massa (restore)
memodelkan geoid sebagai bidang ekuipotensial dengan memasukkan undulasi dari fungsi
yang berhimpit dengan MSL global. harmonik ke dalam perhitungan undulasi
Geoid digunakan di geodesi sebagai definitif
permukaan referensi untuk mengukur ketinggian L l
dan kedalaman [5]. Pada metode gravimetrik,
nilai undulasi geoid dihitung dari data gayaberat
N 1  ,    R.  P .cos .
l  2 m 0
lm

terestris yang dikombinasikan model


geopotensial global, serta efek dari topografi. Clm.cosm  Slm.sin m  (7)
Adapun pada metode geometrik, nilai undulasi N  N GRID  N1 (8)
geoid dihitung dari data ketinggian geodetik dari
pengukuran GNSS dengan ketinggian dari Hasil dan diskusi
pengukuran sipat datar (tinggi orthometrik).
Pengukuran gayaberat terestris dilakukan di
Geoid gravimetrik dimodelkan berdasarkan
98 lokasi pada 25 September 2014 hingga 2
nilai anomaly free air. Anomali free air adalah
Oktober 2014 dengan kerapatan dua hingga tiga
selisih gayaberat di bidang ekuipotensial fisik
kilometer yang mencakup seluruh wilayah
dengan bidang ekuipotensial geometrik atau
admisnistratif Kota Semarang, seperti tampak
teoritis. Nilai gayaberat di bidang ekuipotensial
pada Gambar 1. Jaring gayaberat diikatkan
fisik diperoleh dengan melakukan reduksi free
pada stasiun gayaberat di Gedung Geofisika
air, sementara nilai gayaberat di bidang
Universitas Diponegoro yang telah diukur
ekuipotensial teoritis dihitung menurut jenis
sebelumnya menggunakan gravimeter absolut
elliposoid referensi yang dipilih.
Scintrex A-10. Adapun sebagai titik untuk
Prosedur teknik remove-restore dalam
mengontrol drift alat adalah tugu KKOP 16 yang
penentuan geoid adalah sebagai berikut [6]:
terletak di Taman Gajah Mungkur Kota
1) Menghilangkan (remove) pengaruh anomali Semarang.
gayaberat dari model geopotensial global di
dalam anomali gayaberat terestris
L l
g 1  ,       P .cos l  1
l  2 m 0
lm

.Clm . cos m  S lm . sin m  (1)


g red  g OBS  g1
(2)
2) Gridding anomali gayaberat residu
menggunakan metode Krigging untuk
mendapatkan anomali gayaberat grid
( g GRID ) Gambar 8. Peta jaring pengukuran Gayaberat
relatif Kota Semarang dan sekitarnya
3) Menghitung jarak Stokes

ISBN 978-602-19655-7-3 120


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Model Geopotensial Global (MGG) yang


digunakan dalam penelitian ini adalah
EGM2008. Untuk melihat pengaruh derajat
polinomial MGG, maka penelitian ini
memodelkan kontribusi MGG dengan derajat
360 dan derajat 2190. Perhitungan.dilakukan
pada software Gravsoft untuk wilayah yang
dibatasi oleh 6,6 LS hingga 7,4 LS dan 110 BT
hingga 110,8 BT.
Secara visual, kontur geoid yang
diperoleh dari penggunaan EGM2008 derajat
360 dan 2190 relatif sama, seperti tampak pada Gambar 4. Peta selisih geoid terkontribusi
Gambar 2 dan Gambar 3. Perhitungan dengan EGM2008 dengan koefisien harmonik
menggunakan EGM2008 dengan polinom derajat 360 dan derajat 2190
derajat 2190 menghasilkan undulasi geoid Kota
Semarang yang berkisar antara 25.7 m hingga Akurasi geoid gravimetrik terkontribusi
26,4 meter di atas bidang ellipsoid referensi. MGG derajat 360 dan 2190, notasi Ngra360 dan
Berdasarkan Gambar 3 terlihat bahwa undulasi Ngra2190, diuji terhadap undulasi geoid
geoid di Kota Semarang di bagian atas lebih geometric (Ngeo). Pada Gambar 5 terlihat
besar daripada Kota Semarang bagian bawah. bahwa undulasi geoid gravimetric cenderung
bergradasi sesuai dengan gradasi elevasi dari
TTG449 hingga TTG446. Pada titik uji
independen, dijumpai selisih yang cukup besar
antara geoid gravimetric dan geoid geometric,
seperti tampak pada Gambar 6.

27.5
Undulasi (m)

27
26.5

Gambar 2. Peta geoid terkontribusi EGM2008 26


dengan koefisien harmonik derajat 360
KKOP 15
KKOP 28

KKOP 16
TTG 449

TTG 447

TTG 446
25.5

Titik Kontrol

Ngeo Ngra 360 Ngra 2190

Gambar 5. Perbandingan undulasi geoid


gravimetrik dan geoid geometrik pada titik
pengukuran gayaberat

27.5
27
Undulasi (m)

26.5
Gambar 3. Peta geoid terkontribusi EGM2008 26
dengan koefisien harmonik derajat 2190 25.5
25
24.5
DTK 371
DKTR 01

DTK 173
DTK 333
DTK 002
BM 3A
BM PDAM

MP 66

MP 17
DTK 19

Jika membandingkan Gambar 2 dan Gambar


3, maka perbedaan yang cukup signifikan
ditemui di daerah sekitar Gunung Ungaran yang
berada di sebelah selatan dari Kota Semarang.
Aplikasi polinom derajat 2190 mampu Titik Uji
memetakan undulasi geoid rinci di sekitar
Gunung Ungaran secara lebih rinci. Perbedaan Ngeo Ngra 360 Ngra 2190
undulasi geoid yang mengaplikasikan EGM2008
derajat 360 dan 2190 berkisar antara -5 cm Gambar 6. Perbandingan undulasi geoid
hingga 10 cm, seperti ditunjukkan oleh Gambar gravimetrik dan geoid geometrik pada titik uji
4. independent

ISBN 978-602-19655-7-3 121


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kemungkinan terjadi perbedaan antara muka 2) Datum shifting secara sederhana dengan
laut rata-rata Pulau Jawa dengan muka laut rata- mengaplikasikan nilai rerata selisih geoid
rata di Kota Semarang. Pada kasus ini, seluruh geometrik dan gravimetrik mampu
nilai undulasi gravimetric dikoreksi dengan nilai memperbaiki akurasi. Akurasi geoid
0.386 m untuk model terkontribusi EGM2008 geometrik rata-rata di titik uji independen
derajat 360 dan nilai 0.372 m untuk model menjadi 0,079 m untuk model geoid
terkontribusi EGM2008 derajat 2190. Proses terkontribusi EGM2008 derajat 360 dan
datum shifting yang dilakukan pada model geoid 0,067 m untuk derajat 2190.
gravimetric memberikan hasil yang lebih baik,
seperti pada Gambar 7 dan Gambar 8. Ucapan terima kasih
Terimakasih kepada LEMBAGA PENELITIAN
DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
26.8 UGM atas dukungan finansial melalui skema
26.7 PMDSU 2014. Terimakasih kepada Leni Sophia
26.6
Undulasi (m)

Heliani, ST., M.Sc. D.Sc dan Bagas


26.5 Triarahmadhana, ST., M.Eng atas segala
26.4
26.3 bantuannya yang tak ternilai
26.2
26.1 Referensi
26
25.9 [1] Sobar Sutisna, “Vertical Control Network in
Indonesia”, International Association of
KKOP 28

KKOP 15

KKOP 16
TTG 449

TTG 447

TTG 446

Geodesy Symposia Volume 124, p 34-37


(2002)
Titik Kontrol [2] Hasanuddin Z. Abidin, H. Andreas, I.
Gumilar, T.P. Sidiq, M. Gamal, D.
Murdohardono, Supriyadi, Y. Fukuda,
Ngeo Ngra 360 Ngra 2190 “Studying Land Subsidence in Semarang
(Indonesia) Using Geodetic Methods”,
Gambar 7. Perbandingan undulasi geoid Prosiding FIG Congress 2010 Facing the
gravimetrik setelah datum shifting dan geoid Challenges – Building the Capacity. 11-16
geometrik pada titik pengukuran gayaberat April 2010, Sydney, Australia
[3] Alfred Leick, “GPS Satellite Surveying”,
26.8 John Wiley & Sons Inc, 2004
26.6 [4] W. E. Featherstone, M. S. Filmer, S. J.
26.4
Undulasi (m)

26.2 Claessens, M. Kuhn, C. Hirt, J. F. Kirby,


26 “Regional geoid-model-based vertical
25.8 datums – some Australian perspectives”,
25.6
25.4 Journal of Geodetic Science, p. 370-376
25.2 (2012)
25 [5] Bernhard Hofmann-Wellenhof dan Helmut
24.8
Moritz. “Physical Geodesy”, Springer, 2005
DTK 371
DKTR 01

DTK 173
DTK 333
DTK 002
BM 3A
BM PDAM

MP 66

MP 17
DTK 19

[6] Fernando Sansò dan Michael G. Sideris,


“Geoid determination: Theory and Practice”.
Springer Journal, 311-316 (2013).
Titik Uji
L. M. Sabri*
Program Studi S3 Ilmu Teknik Geomatika
Ngeo Ngra 360 Ngra 2190 Program Pascasarjana Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada
Gambar 8. Perbandingan undulasi geoid laodesabri@gmail.com
gravimetrik setelah datum shifting dan geoid
geometrik pada titik uji independent Leni Sophia Heliani, T. Aris Sunantyo, Nurohmat
Widjajanti,
Kesimpulan Jurusan T. Geodesi – Universitas Gadjah Mada
1) Simpangan baku geoid di titik pengukuran Supriyadi
gayaberat untuk model geoid lokal yang Jurusan Fisika – Universitas Negeri Semarang
terkontribusi EGM2008 derajat 360 dan
derajat 2190 secara berturut-turut adalah ± *Corresponding author
0,227 m dan ± 0,229 m.

ISBN 978-602-19655-7-3 122


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Efektivitas Ekstrak Air Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore)


Steenis) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli
Marisca F. Rehatta dan Untung Sudharmono

Email: ikaino@ymail.com

Abstrak
Pemberian konsentrasi ekstak air daun binahong untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia Coli
(E-Coli) telah dilakukan. Zat aktif dalam daun binahong mampu memberikan efek penghambat terhadap
pertumbuhan bakteri E-Coli. Dalam penggunaannya, ekstrak air daun binahong diberikan dalam bentuk
serbuk dengan tiga konsentrasi yang berbeda (0,22g/2cc aquades; 0,47g/2cc aquades dan 0,89g/2cc
aquades). Besar diameter perluasan daerah perlakuan didapat dalam 1 hari perlakuan. Setelah 1 hari
perlakuan, terlihat perubahan diameter pada media agar daerah perlakuan. Dari pemberian ekstak air daun
binahong, ditemukan konsentrasi 0.47g/2cc aquades ekstrak air daun binahong mimiliki hasil yang baik Hasil
dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak air daun binahong memiliki efek antibakteri.
Kata-kata kunci: efektivitas, Ekstrak air daun binahong, bakteri Escherichia Coli (E-Coli)

Pendahuluan

Beragam tumbuh-tumbuhan di indonesia


mempunyai sifat antibakteri [1-3]. Salah satunya
daun binahong. Binahong adalah tumbuhan
dengan species Anredera cordifolia (Tenore)
Steenis yang mempunyai ciri khas yaitu daunnya
yang berbentuk jantung. Klasifikasi daun
binahong sebagai berikut: Kingdom plantae;
Superdivisi Spermatophyta; Divisi
Magnoliophyta; Kelas Magnoliopsida; Ordo
Caryophynales; Family Basellaceae; Genus
Anredera juss; Spesies Anredera cordifolia Gambar 1. Daun binahong
(Tenore) Steenis [4]. Binahong tumbuh subur di
Indonesia dan mudah didapat dengan harga Pada penelitian ini bakteri E-Coli telah
yang relatif murah. Keunggulan binahong adalah digunakan sebagai objek untuk menguji aktivitas
mudah diperbanyak secara vegetative dengan antibakteri dari daun binahong. Torez et al, 2010
akar rimpang. Dari akar rimpang tua yang menyatakan di United Stated kasus E-Coli
dipotong dan ditanam, binahong mulai tumbuh 2- mengakibatkan terjadinya penyakit Urinary Tract
3 pekan pasca tanam [4]. Binahong banyak Infections (UTI). 12-50% kasus E-Coli
digunakan sebagai tanaman hias, namun tanpa dikarenakan infeksi nasokomial dan 4% karena
disadari tanaman ini banyak mempunyai khasiat penyakit diare. Sebailknya, di negara-negara
untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit tropis 40% penyebab utama infeksi E-Coli
seperti, maag kronis, gagal ginjal, hipertensi, adalah diare [7]. Denpasar Indonesia, kasus
diabetes, dan lain sebagainya [5]. Dalam hal diare tahun 2008 tercatat 17.732 orang dan di
penggunaannya sebagai bahan herbal tahun 2009 sebanyak 16.349 orang [8]. Di
penyembuh berbagai jenis penyakit ini, peran Bandar Lampung tahun 2014 Sarah et al telah
daun binahong tidak terlepas dari sifatnya yang meneliti pencemaran sumber air bersih rumah
sangat efektif sebagai anti bakteri disamping tangga yang terkontaminasi bakteri koliform.
peran yang lainnya. Di lain pihak, masih juga 91.66% terkontaminasi oleh bakteri E-Coli [9].
secara tradisional, daun binahong sering Penyebaran infeksi oleh bakteri E-Coli dapat
digunakan masyarakat sebagai media menyebabkan terjadinya sindrom hemorrhagic
penyimpan ikan dan berbagai jenis makanan colitis dan Hemolitic Uremic Syndrome [10].
yang lain di berbagai daerah di Indonesia untuk
menghindari terjadinya pembusukan [6]. Berdasarkan tingginya kasus yang
disebabkan oleh bakteri E-Coli seperti yang telah
diuraikan diatas, maka dibutuhkan suatu zat

ISBN 978-602-19655-7-3 123


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

yang efektif untuk menghambat aktivitas bakteri Gambar 3. Hasil ekstraksi daun binahong dalam
E-Coli. bentuk serbuk.
Aktivitas antibakteri ekstrak air daun
Eksperimen
binahong diuji dengan metode difusi
Alat dan bahan yang digunakan dalam menggunakan suspensi bakteri E-Coli pada
penelitian ini adalah inkubator, kompor, panci, media agar. Cotton bud digunakan untuk
waterbath, gelas beaker, pinset, cawan petri, menyebarkan bakteri pada media setelah
kertas bulat, cutton but, kantong kain, baki dicelupkan ke dalam suspensi E-Coli. Bakteri
plastik, oven, batang pengaduk, penggaris, disebarkan dengan metode garis pada media
kamera, aquades, nutrient agar dan daun agar di petri dish steril. Kertas bulat direndam
binahong. Adapun daun binahong yang dan diaduk dengan batang pengaduk dalam
digunakan diperoleh dari Kampung Mokla, ragam cairan konsentrasi ekstrak air daun
Kelurahan Cihanjuang Rahayu, Kecamatan binahong dengan konsentrasi yang berbeda dan
Parongpong, Bandung. Ekstrak air daun di bagi dalam 3 kelompok di petri dish (Gambar
binahong yang di buat dalam penelitian ini 4 dan 5). Ekstrak air daun binahong pada media
berbentuk serbuk dan digunakan sebagai E-Coli diinkubasi dengan temperatur 37ºC
prekusor yang dilarutkan dalam aquades. selama 24 jam.

Gambar 4. Proses pengadukan konsentrasi.

Gambar 2. Bagan proses pembuatan ekstrak air


daun binahong.

ISBN 978-602-19655-7-3 124


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 5. Kertas bulat pada media agar yang Gambar 4. (S-1) Zona hambat antibakteri tidak
telah ditumbuhi bakteri E-Coli sebelum terbentuk pada ekstrak air daun binahong pada
diinkubasi. strain E-Coli dengan konsentrasi 0,22g/2cc
aquades dan kertas bulat telah ditumbuhi
Aktivitas antibakteri diuji dengan menggunakan
bakteri.
zona hambat E-Coli. Zona hambat merupakan
area persebaran dari pertumbuhan
mikroorganisme. Zona hambat diukur
menggunakan penggaris dalam skala milimeter
(mm).

Hasil dan diskusi


Aktivitas antibakteri dari eksrak air daun
binahong pada strain E-Coli sebagai media uji
diinvestigasi dengan menggunakan penggaris
untuk mengetahui zona hambatnya. Pada tabel
1 disajikan besar diameter zona hambat sebagai
hasil uji antibakteri dengan metode difusi.
Aktivitas antibakteri diketahui melalui
pengukuran zona hambat pada hasil
eksperimen. Hasil pengukuran menunjukkan
adanya perbedaan daya hambat dari ketiga
konsentrasi yang diberikan. Dari hasil Gambar 5. (S-2) Zona hambat antibakteri
pengukuran ditemukan zona hambat konsentrasi ekstrak air daun binahong pada strain E-Coli
0,47g/2cc aquades memiliki daya hambat yang dengan konsentrasi 0,47g/2cc aquades
kuat dibandingkan konsentasi 0,22g/2cc terbentuk dengan gambar bayangan lingkaran
aquades dan 0,89g/2cc aquades. Hal ini kecoklatan di luar kertas bulat yang berwana
menunjukkan bahwa konsentrasi 0,47g/2cc kehitaman.
aquades mempunyai sifat antibakteri yang baik
dikarenakan tingkat kelarutan antara serbuk
ekstrak air daun binahong 0,47g/2cc aquades
sangat merata sehingga menghasilkan
terbentuknya zona hambat seperti gambar.
Tabel 1. Hasil pengukuran zona hambat ekstrak
air daun binahong pada strain E-Coli.
Zona
Konsentrasi Hambat
(mm)
0,22g/2cc 0
0,47g/2cc 20
0,89g/2cc 10
Gambar 6. (S-3) Zona hambat antibakteri
ekstrak air daun binahong pada strain E-Coli
dengan konsentrasi 0,89g/2cc aquades
terbentuk dengan gambar bayangan lingkaran
kecoklatan di luar kertas bulat berwarna hitam.
Aktivitas antibakteri yang terjadi diduga
karena binahong mengandung zat antibakteri
seperti alkaloid, polifenol, flavonoid, asam
oleanolik dan saponin [5,6,10]. Salikin et al, 2014
melaporkan Alkaloid dalam binahong diduga
mampu sebagai antibakteri dengan mekanisme
mengganggu komponen penyusun peptidoglikan
pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel
tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan
kematian sel. Polifenol memiliki sifat antibakteri
dengan cara merusak dinding sel dari bakteri.

ISBN 978-602-19655-7-3 125


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Saponin dalam binahong mempunyai Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) Pada
kemampuan sebagai antiseptik dan pembersih Kulit Punggung Kelinci Yang Dibuat Infeksi
yang berfungsi membunuh dan mencegah Staphylococcus aureus”. Pharmacon Jurnal
pertumbuhan dari mikroorganisme Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 2 No. 2, Hal.
27-33.
Mekanisme antibakteri flavonoid berikatan
[4] Desriani, U. M. S. P., Bintang, M., Rivai, A.,
dengan protein melalui ikatan hydrogen
& Lisdiyanti, P. 2014. “Isolasi dan
sehingga mengakibatkan struktur protein
Karakterisasi Bakteri Endofit dari Tanaman
menjadi rusak, kestabilan dinding dan membran
Binahong dan Katepeng China”. Jurnal
sel terganggu dan akhirnya bakteri mengalami
Kesehatan Andalas, 3(2).
lilis [11]. Asam oleanolik termasuk triterpenoid
[5] Mardiana, L dan Tim Ketik Buku. 2013.
yang merupakan sumber antioksidan dari
“Daun Ajaib Tumpas Penyakit” cetakan 4.
tanaman binahong. Asam oleanolik berperan
Jakarta: Penebar Swadaya.
penting dalam mencegah masuknya racun ke
[6] Salikin, R. Q., Sarjito & Prayitno, S. B.
dalam sel dengan cara meningkatkan
2014. “Pengaruh Perendaman Ekstrak
pertahanan sel. Selain itu kandungan nitrit
Daun Binahong (Anredera Cordifolia)
oksida di asam oleanolik berfungsi sebagai
Terhadap Mortalitas Dan Histologi Hati Ikan
toksin untuk membunuh bakteri [5].
Mas (Cyprinus carpio) Yang Diinfeksi
Bakteri Aeromonas caviae”. Journal of
Kesimpulan
Aquaculture Management and Technology,
3(3), 43-50.
Penggunaan ekstrak air daun binahong [7] Torres, A. G., Hernàndez, M. MP. A.,
dalam bentuk serbuk sebagai antibakteri telah Laguna, Y. M. 2010. “Overview of
diuji pada strain E-Coli dengan metode difusi. Escherichia Coli”. Bentham Science
Pemberian tiga konsentrasi yang berbeda dari Publishers : 1-7.
ekstrak air daun binahong telah digunakan. Dari [8] Hendrayana, M. A., Putra Pinatih, K. J., &
hasil pengukuran zona hambat yang dilakukan Yelly, A. 2012. “Detection Of Bacteria
sebagai hasil aktivitas antibakteri menunjukkan Esherichia Coli Serotype O157 On Pork
konsentrasi 0,47g/2cc aquades ekstrak air daun From Pork Trader In Denpasar City”.
binahong mempunyai sifat antibakteri yang baik. Medicina, 43(1).
Hal ini menunjukkan daun binahong mempunyai [9] Sarah, R. E., Soleha, T. U., Apriliana, E., &
efek antibakteri. Warganegara, E. 2014. “Uji Most Probable
Number (MPN) Bakteri Koliform pada
Ucapan terima kasih Sumber Air Minum Rumah Tangga di
Kecamatan Sukabumi Bandar Lampung”.
Ucapan terima kasih ditujukkan kepada Majority, 3(6).
Universitas Advent Indonesia atas bantuan dana [10] Arisman. 2009. “Buku Ajar Ilmu Gizi
yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti Keracunan Makanan”. Jakarta: EGC.
seminar kontribusi fisika (SKF) 2014 sebagai [11] Rinawati, N. D. 2011. “Daya Antibakteri
pembicara. Serta kepada Prosiding Seminar Tumbuhan Majapahit (Crescentia cujete L.)
Kontribusi Fisika 2014 yang memberi Terhadap Bakteri Vibrio alginolyticus”.
kesempatan mempresentasikan hasil studi ini. Jurusan Biologi Institut Teknologi Sepuluh
November, Surabaya. 1-13 hlm.
Referensi
[1] Prataya N. S. Marpaung., Adeanne C. Marisca Franklyn Rehatta*
Wullur., dan Paulina V. Y. Yamlean. 2014. Faculty of Nursing
Universitas Advent Indonesia
“Uji Efektivitas Sediaan Salep Ekstrak Daun
ikaino@ymail.com
Miana (Coleus scutellarioides [L] Benth.)
Untuk Pengobatan Luka Yang Terinfeksi
Untung Sudharmono
Bakteri Staphylococcus Aureus Pada
Faculty of Nursing
Kelinci (Oryctolagus cuniculus)”. Universitas Advent Indonesia
PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi usudharmono@ymail.com
UNSRAT Vol. 3 No. 3, Hal. 170-175.
[2] Parwanto, M. L., Senjaya, H., & Edy, H. J. *Corresponding author
2013. “Formulasi Salep Antibakteri Ekstrak
Etanol Daun Tembelekan (Lantana camara
L)”. Pharmacon, 2(3).
[3] Olivia H. Naibaho., Paulina V. Y. Yamlean.,
Weny Wiyono. 2013.”Pengaruh Basis Salep
Terhadap Formulasi Sediaan Salep Ekstrak

ISBN 978-602-19655-7-3 126


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Penguasaan


Konsep Mahasiswa Pada Perkuliahan Listrik Magnet Topik Muatan
Listrik Dan Hukum Coulomb
Muhamad Gina Nugraha, Duden Saepuzaman, dan David E.Tarigan

Email: muhamadginanugraha@upi.edu

Abstrak
Dalam perkuliahan listrik magnet khususnya topik muatan listrik dan hukum Coulomb, proses pembelajaran
umumnya dilakukan dengan metode penyampaian informasi satu arah dari dosen kepada mahasiswa. Hal
ini membuat keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran sangat kurang yang mengakibatkan mahasiswa
kurang mengoptimalkan potensinya sehingga prestasi belajarnyapun tidak memuaskan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap penguasaan
konsep mahasiswa dan tanggapan mahasiswa terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Desain one
group pretest-postest digunakan untuk mengetahui perubahan penguasaan konsep mahasiswa yang
menjadi kelas penelitian. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan penguasaan konsep mahasiswa
dengan nilai gain yang dinormalisasi (n-gain) sebesar 0,57 dan tanggapan yang sangat positif dari
mahasiswa. Dari kuesioner dan angket, diketahui semua mahasiswa (100%) menyenangi pembelajaran
kooperatif jigsaw, mahasiswa termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan
terdorong untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan permasalahan terkait muatan listrik dan hukum Coulomb
yang dimunculkan dalam pembelajaran.

Kata-kata kunci: penguasaan konsep, kooperatif jigsaw, listrik magnet

tertentu sebagai tim ahli, dan kemudian


Pendahuluan
menyampaikan materinya masing-masing
Kegiatan utama dalam proses pendidikan di kepada teman-temannya yang mendapatkan
lembaga pendidikan formal adalah proses materi yang berbeda, sehingga satu sama lain
belajar mengajar [1]. Berhasil atau gagalnya saling melengkapi pengetahuan. Model
pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan
pada proses belajar dan mengajar yang dialami salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
peserta didik dan pendidik [2]. mendorong peserta didik aktif dan saling
membantu dalam menguasai materi pelajaran
Dalam perkuliahan listrik magnet,
untuk mencapai prestasi yang maksimal [3],
berdasarkan observasi yang telah dilakukan membantu peserta didik mengembangkan
diperoleh informasi, yaitu proses pembelajaran kemampuan berpikir dan pemecahan masalah,
didominasi dengan metode ceramah satu arah
memperkaya pengalaman dalam menyelesaikan
sehingga mahasiswa kurang terlibat dalam
permasalahan yang dikerjakan secara kelompok,
proses pembelajaran, ini diperkuat dengan isian
menjadi pebelajar otonom dan mandiri [4], serta
angket mahasiswa yang memberikan respon
dapat meningkatkan prestasi belajar dan melatih
negatif terhadap proses pembelajaran. Hal ini keterampilan berpikir kritis peserta didik [4], [5].
tentu saja berdampak pada prestasi belajar
mahasiswa, seperti yang terlihat dari hasil ujian
Teori
yang masih banyak di bawah nilai kriteria
ketuntasan minimum. Untuk mengatasi Pembelajaran kooperatif merupakan model
permasalahan tersebut, disepakati pembelajaran pembelajaran yang didalamnya terdapat kerja
akan dilakukan dengan menerapkan model sama kelompok peserta didik untuk mencapai
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Model tujuan bersama. Seperti yang diungkapkan oleh
pembelajaran ini memiliki kelebihan Johnson & Johnson (1994);
dibandingkan model kooperatif tipe lainnya,
“Cooperative learning adalah
diantaranya setiap peserta didik dituntut
mengelompokan peserta didik kedalam
pertanggung jawaban untuk menguasai materi

ISBN 978-602-19655-7-3 127


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

suatu kelompok kecil agar peserta didik Kelompok Kelompok


dapat bekerja sama dengan kemampuan awal ahli
maksimal yang mereka miliki dan
mempelajari satu sama lain dalam 1 2 1 1
kelompok tersebut” [6]. 3 4 1 1

Stahl (1994) menyatakan bahwa dengan 1 2 2 2


menggunakan model pembelajaran kooperatif, 3 4 2 2
memungkinkan peserta didik meraih
keberhasilan dalam belajar, disamping itu 1 2 3 3
pembelajaran kooperatif juga dapat melatih 3 4 3 3
peserta didik untuk memiliki keterampilan, baik
keterampilan berfikir (thinking skill) maupun 1 2 4 4
keterampilan sosial (social skill) seperti 3 4 4 4
keterampilan untuk mengemukakan pendapat,
menerima saran dan masukan dari orang lain,
bekerjasama, rasa setia kawan, dan mengurangi Gambar 1. Pengelompokkan mahasiswa dalam
timbulnya perilaku menyimpang dalam pembelajaran Jigsaw
kehidupan kelas [6]. Selanjutnya Sharan (1990)
mengemukakan bahwa peserta didik yang Subjek dalam penelitian ini adalah
belajar menggunakan metode kooperatif akan mahasiswa jurusan pendidikan Fisika yang
memiliki motivasi yang tinggi karena didorong mengontrak mata kuliah listrik magnet yaitu
dan didukung dari teman sebaya [6], sehingga sebanyak 42 mahasiswa, dengan desain
diharapkan dengan pembelajaran seperti ini penelitian one group pretes – postes.
peserta didik dapat lebih menguasai konsep- Tabel 1. Desain penelitian one group pretes –
konsep yang dipelajarinya. postes [7].
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw Pretest Treatment Postest
merupakan salah satu tipe pembelajaran T X T
kooperatif yang mendorong peserta didik aktif
dan saling membantu dalam menguasai materi Penguasaan konsep mahasiswa tentang
ajar untuk mencapai prestasi yang maksimal. Hukum Coulomb dan muatan listrik diperoleh
Pada kegiatan ini keterlibatan pendidik dalam dari hasil tes menggunakan instrumen tes essai
proses belajar mengajar semakin berkurang, yang telah divalidasi.
karena proses pembelajaran didominasi
kegiatan diskusi antara peserta didik. Langkah- Efektifitas model pembelajaran kooperatif tipe
langkah dalam proses pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam meningkatkan penguasaan
jigsaw yang dilakukan ialah pembentukan konsep diperoleh melalui analisis gain yang
kelompok belajar (kelompok awal), stimulasi dinormalisasi dari skor pretes dan postes
(rangsangan) dengan mengungkapkan dan menggunakan persamaan berikut [8]:
menunjukkan permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari, perumusan masalah, pembentukan
Tf  Ti
dan diskusi kelompok ahli yang berasal dari g (1)
perwakilan kelompok awal yang diberi tanggung SI - Ti
jawab untuk menguasai materi yang sama,
setelah diskusi kelompok ahli selesai masing- Dengan <g> menunjukkan perubahan skor yang
masing anggota kembali ke kelompok awal dan dinormalisasi, Tf menunjukkan skor postes, Ti
melakukan diskusi semua materi ajar, verifikasi menujukkan skor pretes, dan SI merupakan skor
hasil diskusi melalui presentasi perwakilan ideal/skor maksimum yang dapat dicapai.
kelompok, dan generalisasi berupa penguatan
Tanggapan siswa terhadap proses
dari pendidik.
pembelajaran diperoleh melalui angket dan
Pengelompokkan mahasiswa (sample kuesioner.
penelitian) dalam model pembelajaran Jigsaw
dideskripsikan pada gambar 1. Hasil dan diskusi
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,
diperoleh data penguasaan konsep mahasiswa
sebelum dan setelah diberi treatment serta
peningkatan penguasaan konsep seperti
ditunjukkan gambar 2.

ISBN 978-602-19655-7-3 128


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Tabel 3. Persentase angket tanggapan


mahasiswa terhadap pembelajaran
Pernyataan Ya (%) Tidak (%)
1 100 0
2 100 0
3 96 4
4 20 80
5 96 4
6 100 0
7 100 0
8 100 0
Keterangan pernyataan: 1). Saya menyukai
pembelajaran yang baru ini (kooperatif tipe
Gambar 2. Hasil tes penguasaan konsep jigsaw), 2). Saya senang jika pembelajaran
diawali dengan permasalahan dalam kehidupan
Berdasarkan gambar 2, terlihat bahwa
sehari-hari yang menuntut untuk dipecahkan, 3).
terdapat peningkatan penguasaan konsep Pembelajaran yang dilakukan memberikan
dengan rata-rata peningkatan 40,15. Untuk dorongan pada saya untuk belajar dan berpikir
mengetahui tingkat efektifitas model kritis, 4). Pembelajaran yang baru ini membuat
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, bisa dilihat
saya pusing dan stress, 5). Pembelajaran yang
dari nilai gain yang dinormalisasi seperti
baru ini memberi kesempatan kepada saya
ditunjukkan pada tabel 2. untuk menemukan sendiri konsep yang sedang
Tabel 2. n-gain hasil tes penguasaan konsep dipelajari, 6). Saya senang bekerja dan
berdiskusi dalam kelompok, 7). Diskusi
Rerata Rerata n-Gain kelompok ahli membantu saya memahami
pretes Postes konsep yang sedang dipelajari, dan 8). Diskusi
30,56 70,72 0,57 kelompok awal membuat pengetahuan,
Nilai gain penguasaan konsep yang telah pemahaman dan penguasaan konsep saya
dinormalisasi ialah sebesar 0,57, dan bertambah
berdasarkan pengkategorian yang dikemukakan Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa hampir
oleh Hake [8], nilai n-gain tersebut termasuk semua pernyataan ditanggapi dengan positif.
kategori sedang. Jadi, dapat dikatakan bahwa Tanggapan negatif muncul pada penyataan
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang telah nomor 4 yaitu sebanyak 20% mahasiswa
dilakukan cukup efektif untuk meningkatkan merasa tertekan dan stress dengan
penguasaan konsep mahasiswa pada materi pembelajaran yang dilakukan. Hasil penelusuran
ajar hukum Coulomb dan muatan listrik. terhadap alasan yang dikemukanan oleh
Dilihat dari skor penguasaan konsep setelah mahasiswa-mahasiswa tersebut, diperoleh
pembelajaran, pencapain penguasaan konsep informasi bahwa perasaan tertekan dan stress
mahasiswa berada pada skor 70,72. Hasil ini muncul bukan karena pembelajaran yang tidak
sudah melewati nilai ketuntasan minimum menyenangkan melainkan karena teknis
perkuliahan yang telah ditetapkan walaupun pelaksanaannya yaitu kurangnya waktu yang
belum bisa dikatakan memuaskan. Hal ini diberikan untuk menyelesaikan masalah yang
diprediksi terjadi karena mahasiswa belum diberikan. Pernyataan yang lain mendapatkan
terbiasa dengan pembelajaran kooperatif tipe pernyataan yang sangat positif, hal ini karena
jigsaw, sehingga perlu dilakukan pembelajaran proses pembelajaran yang dilakukan
serupa untuk materi ajar lainnya. Meskipun memberikan keleluasaan dan kesempatan bagi
demikian, dilihat dari angket dan kuesioner mahasiswa untuk saling berdiskusi,
tanggapan mahasiswa terhadap proses menyampaikan pendapatnya dan saling
pembelajaran, semua mahasiswa menyatakan menjelaskan materi ajar yang menjadi tanggung
menyenangi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, jawab masing-masing anggota kelompok.
seperti terlihat pada tabel 3. Dari kuesioner tanggapan mahasiswa
terhadap sikap pendidik (dosen) selama
pembelajaran dapat dilihat pada tabel 4.

ISBN 978-602-19655-7-3 129


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Tabel 4. Hasil kuesioner penilaian mahasiswa Ucapan terima kasih


terhadap pendidik (dosen) dan pembelajaran
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Aspek Penilaian Universitas Pendidikan Indonesia yang telah
yang dinilai (1 - 9) mendanai penelitian ini melalui skema penelitian
1 8,1 dosen muda nomor 189/UN.40.14/LT/2014.
2 8,2
Referensi
3 7,1
[1] Azizah, Bahriyatul. 2006. “Studi Komparasi
4 7,5
Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe
5 8,4 Jigsaw dan Metode Konvensional Pokok
6 7,8 Bahasan Jurnal Khusus sebagai Upaya
7 7,7 Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa
8 8,1 Kelas II MAN Suruh”. Skripsi. Semarang:
Rata-rata 7,8 FE Unnes
[2] Sagala, Syaiful. (2003). “Konsep dan
Keterangan aspek yang dinilai: 1). Makna Pembelajaran”. Bandung : Alfabeta
Pendekatan dan metode pembelajaran, 2). [3] Isjoni. (2009). “Pembelajaran Kooperatif
Media dan alat pembelajaran, 3). Sumber belajar Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi
(buku teks, referensi, lingkungan, masyarakat, Antar Peserta Didik”. Yogyakarta: Pustaka
media massa, dll), 4). Manajemen/ pengelolaan Belajar
kelas, 5). Antusiasme dan motivasi mengajar, 6). [4] Nursalam, La Ode. (2007). "Pengaruh
Penciptaan iklim belajar, 7). Pengembangan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
karakter mahasiswa (sikap dan perilaku yang Tipe Jigsaw Terhadap Peningkatan
baik), dan 8). Kemampuan berkomunikasi. Penguasaan Konsep dan Keterampilan
Rata-rata penilaian mahasiswa berdasarkan Berpikir Kritis Siswa Pada Konsep Listrik
tabel 4 ialah 7,8 dari rentang nilai 1 sampai 9. Dinamis”. Tesis pada PPs UPI Bandung:
Hal ini menunjukkan tanggapan yang positif tidak diterbitkan.
mahasiswa bukan hanya terhadap proses [5] Wardani, S. (2002). ”Pembelajaran
pembelajaran tetapi juga pada kegiatan dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui
aktivitas pendidik (dosen) selama pembelajaran, Model Kooperatif Tipe Jigsaw”. Tesis pada
seperti terlihat pada nomor 4, 5, 6, 7, dan 8. PPs UPI Bandung: tidak diterbitkan
Penilaian terbesar terdapat pada aspek no 5 [6] Isjoni. (2007). “Cooperative Learning
yaitu antusiasme dan motivasi mengajar, yang Efektivitas Pembelajaran Kelompok”.
berarti bahwa pendidik (dosen) pun merasa Bandung: Alfabeta
nyaman mengajar dengan menggunakan model [7] Fraenkel, J.R. dan N.E. Wallen. (1990).
kooperatif jigsaw. Penilaian terkecil terdapat “How to Design and Evaluate Reasearch in
pada aspek nomor 3 yaitu sumber belajar yang Education”. Washington, McGraw-Hill, Inc.
digunakan, hal ini terjadi karena selama [8] Hake, R. R. (1998). “Interactive
pembelajaran sumber belajar terbatas pada Engagement Methods In Introductory
buku yang biasa digunakan dalam perkuliahan Mechanics Courses”. Tersedia
ditambah beberapa hand out, sehingga http://www.physics.indiana.edu/~sdi/IEM-
kedepannya diperlukan akses yang lebih luas, 2b.pdf, accessed on [20 Mei 2014].
seperti akses internet atau berbagai ebook yang
relevan. Muhamad Gina Nugraha*
Departemen Pendidikan Fisika
Kesimpulan Universitas Pendidikan Indonesia
muhamadginanugraha@upi.edu
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw muhamadginanugraha@yahoo.com
cukup efektif untuk meningkatkan penguasaan
konsep mahasiswa pada pokok bahasan hukum Duden Saepuzaman*
Coulomb dan muatan listrik dengan nilai gain Departemen Pendidikan Fisika
ternormalisasi sebesar 0.57. Selain itu proses Universitas Pendidikan Indonesia
pembelajaran yang telah dilakukan dsaepuzaman@yahoo.com
mendapatkan tanggapan dan penilaian yang
sangat positif dari mahasiswa, terlihat dari David E. Tarigan*
semua mahasiswa menyatakan menyenangi Departemen Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
pembelajaran kooperatif jigsaw.
davidtarigan@upi.edu

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 130


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kajian Awal Rancang Bangun Sistem Pengendali Kecepatan Cooling


Pad Berbasis Arduino
Muhammad Nasir, Ridwan Ramdani, Muhammad Sainal Abidin, dan Hendro

Email: agamnashir@gmail.com

Abstrak
Telah dirancang suatu sistem cooling pad berbasis Arduino yang dapat diatur kecepatan putar kipasnya
sehingga penggunaan daya baterai notebook menjadi lebih efisien. Metode yang digunakan dalam paper ini
adalah kecepatan putar motor DC cooling pad dikontrol oleh sensor LM35 yang dihubungkan ke Arduino
sebagai sistem pengolah sinyal. Sensor LM35 digunakan sebagai sensor suhu notebook, sinyal PWM
berfungsi untuk mengontrol putaran kipas serta notebook digunakan untuk menampilkan kecepatan putar
kipas dan nilai PWM. Suhu notebook disensor oleh LM35 lalu diolah oleh Arduino sehingga menghasilkan
sinyal PWM. Sinyal PWM akan mengontrol kecepatan putar cooling pad yang digerakkan oleh motor DC
dengan menyalurkan tegangan masukan yang bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan
cooling pad dapat dikontrol sesuai suhu notebook sehingga penggunaan daya baterai notebook menjadi
lebih efisien. Perubahan suhu notebook direpresentasikan oleh perubahan tegangan berdasarkan lebar
pulsa PWM yang timbul. Penelitian ini masih merupakan kajian awal sehingga terbuka lebar kesempatan
untuk melakukan inovasi lebih jauh lagi.

Kata-kata kunci: Cooling Pad, Motor DC, Sinyal PWM, Sensor LM35, Arduino

banyak faktor seperti tegangan, beban dan lain-


Pendahuluan
lain. Proses pengendalian kecepatan ini
Panas yang berlebihan akibat pengoperasian diperoleh dengan perubahan tegangan atau arus
mesin dapat merusak komponen notebook. pada motor DC [3]. Pengaturan kecepatan
Cooling pad dipergunakan untuk menghantarkan putaran motor DC memegang peranan penting
udara dan membantu kipas notebook dalam dalam motor arus searah karena motor arus
mendinginkan suhu notebook tersebut. Cooling searah mempunyai karakteristik kopel yang
pad perlu dirancang sedemikian rupa dengan menguntungkan [4].
menitikberatkan pada proses mengendalikan
kecepatan putar cooling pad [1]. Permasalahan Cooling pad yang banyak ditemui sekarang
yang menarik untuk dikaji dari cooling pad ini memiliki kecepatan putar yang konstan dan
adalah bagaimana cara mengendalikan tinggi sehingga penggunakan daya baterai
kecepatan putarnya sesuai suhu notebook agar notebook menjadi tidak efisien. Penelitian ini
pemakaian daya baterai notebook menjadi lebih akan melakukan kajian awal pengontrolan
efisien. Salah satu cara mengendalikan kecepatan putar sistem cooling pad berdasarkan
kecepatan putar cooling pad ini adalah dengan temperatur notebook dengan menggunakan
menggunakan Arduino. Arduino merupakan Arduino. Sensor LM35 akan mengontrol
keluarga mikrokontroller yang terdiri atas tiga temperatur notebook yang kemudian diolah oleh
jenis yaitu Mega 2560, Uno, dan Nano [2]. Arduino untuk menghasilkan sinyal PWM. Sinyal
Dengan kit Arduino, kita bisa menulis program PWM akan mengontrol kecepatan putar cooling
untuk mengontrol suatu sistem dengan pad dalam bentuk perubahan tegangan.
membaca dan menulis sinyal analog/digital. Oleh
sebab itu diperlukan beberapa sensor analog Teori
terhubung ke Arduino untuk membaca sinyal
analog dan Analog Digital Converter (ADC) akan Sensor Suhu LM35
mengkonversi sinyal tersebut menjadi sinyal Sensor suhu LM35 adalah komponen
digital [3]. Motor DC adalah jenis motor yang elektronika yang berfungsi mengubah besaran
sering digunakan yang salah satu cara suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk
pengaturan kecepatan putarannya adalah tegangan. LM35 memiliki output berupa
dengan mengubah tegangan masukannya [4]. tegangan analog dan memiliki jangkauan
Kecepatan putar motor listrik dipengaruhi oleh pengukuran -550C hingga +1500C. Tegangan

ISBN 978-602-19655-7-3 131


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

outputnya adalah 10mV/0C yang berarti sensor Teknik PWM digunakan untuk menggerakkan
akan melakukan penginderaan setiap perubahan dan mengontrol kecepatan motor DC. Kontroler
suhu 10C akan menunjukkan tegangan 10 mV ini dimodelkan dalam model komputer [8].
[2]. Tegangan output dihubungkan dengan
Arduino dan akan diubah menjadi sinyal PWM.
Motor DC
Motor DC merupakan jenis motor yang
menggunakan tegangan searah sebagai sumber
tenaganya. Kecepatan motor DC dapat
dikendalikan dengan mengubah tegangan yang
diberikan. Motor DC modern sering dikendalikan
oleh sistem elektronika daya dengan
menghambat arus yang masuk ke motor dan Gambar 2. Tegangan Rata-Rata Sinyal PWM
mematikan siklus yang memiliki tegangan
rendah yang efektif [5]. Motor DC dapat diatur Metode
kecepatannya berdasarkan persamaan: [6]
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini
V  I a Ra yaitu cooling pad dengan kecepatan putar 2000-
N . (1) 6000 rpm, notebook Aspire One 10,1”, Arduino
k Uno ATmega328 5 volt, sensor suhu LM35,
kabel penghubung, kabel USB, resistor dan
Persamaan (1) menyatakan bahwa kecepatan transistor sebagai penguat tegangan.
putar motor (N) dipengaruhi oleh tegangan
terminal motor (V), arus jangkar (Ia), hambatan Perancangan alur kerja berawal dari
jangkar (Ra), konstanta k dan banyaknya fluks notebook dengan suhu tertentu dideteksi oleh
(Φ). Dalam kasus pengendalian kecepatan putar sensor suhu yang menghasilkan output
motor, tegangan terminal motor (V) merupakan tegangan DC. Kemudian tegangan ini diolah
variabel yang dapat diatur untuk menghasilkan oleh Arduino Uno yang hasilnya berupa sinyal
putaran yang diinginkan [6]. PWM dan sinyal PWM ini menjadi tegangan
input yang mengatur kecepatan putar cooling
Arduino
pad.
Arduino merupakan kit elektronik pengendali
mikro yang bersifat open source dan secara fisik
merupakan mikrokontroler. Arduino didesain Sensor Suhu Notebook
untuk dihubungkan dengan sensor yang akan
memberikan informasi keadaan obyek atau
lingkungan di sekitarnya dan mengolahnya untuk Arduino Uno Cooling Pad
menghasilkan suatu output [2]. Informasi lebih
lengkap tentang Arduino mikrokontroller dapat
dibaca di [7]. Arduino akan mengolah data suhu
notebook dan menghasilkan output dalam
bentuk sinyal PWM.

Gambar 3. Rancangan Sistem (atas) dan


Gambar 1. Board Arduino Uno Rancangan Rangkaian (bawah)
Sinyal PWM
Hasil dan diskusi
PWM (Pulse Width Modulation) adalah
sebuah cara memanipulasi lebar sinyal yang Setelah semua alat terpasang dengan benar
dinyatakan dengan pulsa dalam suatu perioda dan dihubungkan ke program Arduino, diamati
untuk mendapatkan tegangan rata-rata yang nilai ADC (suhu notebook) dan nilai sinyal PWM
berbeda. Sinyal PWM pada umumnya memiliki (tegangan) yang muncul di layar notebook.
amplitudo dan frekuensi dasar yang tetap,
namun memiliki lebar pulsa yang bervariasi [1].

ISBN 978-602-19655-7-3 132


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Hasil data pengamatan ditunjukkan pada diharapkan. Sehingga input temperatur dari
tabel berikut ini. panas notebook akan diubah menjadi output
tegangan yang digunakan untuk memutar
Tabel 1. Nilai ADC (suhu notebook) dan nilai
cooling pad. Sinyal PWM atau pulsa yang
sinyal PWM (Tegangan) yang dihasilkan
terbentuk akan bergantung kepada input dan
Arduino.
output tegangan yang dihasilkan, jika input
Nilai Nilai PWM temperatur bernilai kecil maka output tegangan
No yang dihasilkan juga akan kecil sehingga lebar
ADC (0C) (volt)
1 28,32 9 pulsa yang terbentuk juga kecil dan tegangan
2 33,20 24 yang dapat diloloskan akan semakin kecil. Ketika
input temperatur bernilai besar dan tegangan
3 27,83 6 output juga besar maka lebar pulsa akan
4 33,20 24 semakin besar dan tidak terlalu rapat sehingga
5 29,79 12 tegangan yang diloloskan akan lebih besar dan
6 28,81 9 kecepatan putar cooling pad juga akan semakin
7 35,16 30 cepat.
8 31,25 18 Pengaturan nilai tegangan dapat dilakukan
9 30,27 15 pada program dalam mikrokontroler Arduino,
10 26,86 3 dalam hal ini jika nilai input suhu 25oC setara
11 32,23 21 dengan nilai tegangan output 0 mV, dan jika nilai
input suhu 100oC maka akan setara dengan
12 22,95 -9
tegangan output 225 mV. Adapun pembagian
13 26,37 3
batas-batas untuk masing-masing nilai input
14 28,32 9 suhu dan output suhu itu dilakukan oleh
15 26,86 3 mikrokontroler yang ada pada Arduino.
16 31,74 18
17 36,13 33 Kesimpulan
18 28,81 9
Telah berhasil dibuat rancangan sebuah
19 30,76 15 sistem alat pengendali kecepatan putar cooling
20 32,71 21 pad berbasis Arduino sehingga penggunaan
21 35,64 30 daya notebook menjadi lebih efisien
22 29,79 12 dibandingkan dengan penggunaan cooling pad
23 28,81 9 pada keadaan tanpa sistem pengendali. Oleh
24 27,83 6 karena masih sebatas kajian awal, disarankan
25 35,16 30 untuk melakukan inovasi lebih jauh lagi sehingga
bisa dibuat cooling pad yang ekonomis dan
bekerja lebih optimal.

Ucapan terima kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dr. Hendro, MS selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan masukan dan arahan hingga
penelitian kajian awal ini bisa diwujudkan.

Referensi
[1] Ayuk Dwi Ningsih. “Perancangan Sistem
Pengendali Kecepatan Putar Cooling Pad
Menggunakan Logika Fuzzy Metode
Mamdani Berbasis Matlab”, Skripsi Sarjana,
Gambar 4. Grafik hubungan antara nilai ADC Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan
(temperatur notebook) terhadap nilai sinyal PWM Gunung Djati Bandung (2014)
(tegangan) yang dihasilkan Arduino. [2] Qasem Abu Al-Haija, Mashhoor Al
Berdasarkan gambar 4 terlihat bahwa Tarayrah, Hasan Al-Qadeeb, dan
hubungan antara temperatur dengan tegangan Abdulmohsen Al-Lwaimi. “A Tiny RSA
adalah berbanding lurus, jika temperatur Cryptosystem Based On Arduino
semakin besar maka tegangan juga akan Microcontroller Useful For Small Scale
semakin besar. Hal ini sesuai dengan hubungan Networks”, International Symposium On
antara temperatur dengan tegangan yang

ISBN 978-602-19655-7-3 133


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Emerging Inter-networks, Communication


and Mobility (2014) page 639-646
[3] Reetam Mondal, Arumay Mukhopadhyay,
dan Debdoot Basak. "Embedded System of
DC Motor Closed Loop Speed Control
based on 8051 Microcontroller", 1st
International Conference on Computational
Intelligence: Modeling Techniques and
Applications (CIMTA). 2013, page 840-848
[4] Muhammad Eirson Kaffi, "Pengatur
Kecepatan Putaran Motor DC dengan
Kendali Jarak Jauh", Skripsi Sarjana,
Universitas Negeri Jakarta.
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/DC_motor
[6] Bambang Sutopo dan Erwin, "Kendali Fuzi
Kecepatan Motor DC dengan Metoda
Chopper Berbasis Mikrokontroller 89C51",
Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada
[7] REUTERS. Aramco Says Cyberattack Was
Aimed at Production. Saudi Aramco
Company, December 9, 2012,
http://www.nytimes.com/2012/12/10/busine
ss/global/saudi-aramco-says-hackers-took-
aim-at-its-production.html
[8] Zeina Bitar, Samih Al Jabi dan Imad
Khamis, “Modeling and Simulation of Series
DC Motors in Electric Car”, The
International Conference on Technologies
and Materials for Renewable Energy,
Environment and Sustainability, 2014, page
460-470

Muhammad Nasir*
Program Studi Magister Fisika
Institut Teknologi Bandung
agamnashir@gmail.com

Ridwan Ramdani
Program Studi Magister Fisika
Institut Teknologi Bandung
ridwan@fst.uinsgd.ac.id

Muhammad Sainal Abidin


Program Studi Magister Fisika
Institut Teknologi Bandung
sainalxp2@gmail.com

Hendro
Program Studi Fisika
Institut Teknologi Bandung
hendro@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 134


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Sistem Sonar Tunanetra (SST) untuk Memetakan Lokasi

Muhammad Zukir, Ismail Saleh, Yudiansyah Akbar, dan Hendro

Email: zukir.m1@gmail.com

Abstrak

Dewasa ini cukup banyak masyarakat yang menderita cacat fisik. Salah satunya adalah mengalami
ketidakmampuan untuk melihat, yang sering dinamai dengan istilah tunanetra. Alat bantu yang umumnya di
gunakan sebagai alat bantu bagi para tunanetra adalah tongkat. Secara umum belum ada inovasi
terbarukan yang bisa mempermudah para tunanetra dalam bergerak. Penelitian ini bertujuan merancang
sebuah sistem baru yang dirancang khusus untuk para tunanetra yang diberi nama yaitu SST (Sistem Sonar
Tunanetra). SST di rancang menggunakan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak dari tempat para
tunanetra berada. Sensor ultrasonik adalah alat elektronika yang kemampuannya bisa mengubah dari energi
listrik menjadi energi mekanik dalam bentuk gelombang suara ultrasonik, melalui gelombang ultrasonik ini
para tunanetra bisa mendeteksi jarak di sekitarnya. Perangkat ini dilengkapi dengan mikrokontroler sebagai
prosesornya. Disamping itu, SST juga dilengkapi dengan buzzer yang akan berbunyi saat sensor
berdekatan dengan objek lain. Pengujian keakurantan perangkat SST dalam mengukur jarak dilakukan
dengan cara mencari error dari 2 jenis kondisi pengukuran. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata
error untuk semua pengukuran adalah 2,965 % Jadi, dapat disimpulkan bahwa perangkat ini cukup efektif
untuk digunakan oleh para penderita tunanetra.

Kata-kata kunci: SST, tunetra, buzzer, mitrokontroler

300 cm [2]. Sensor ini bekerja dengan cara


Pendahuluan mentransmisikan sinyal ultrasonik dengan
Cacat fisik adalah salah satu hal yang tidak frekuensi 40 kHz dan menerima pantulannya [2].
bisa dihindari oleh manusia. Salah satu cacat Prinsip kerja dari sensor PING seperti Gambar 1
fisik dari sekian banyak adalah tunanetra. di bawah ini,
Tunanetra menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tidak dapat
melihat atau buta [1]. Maka, penderita tunanetra
adalah orang yang memiliki ketidakmampuan
untuk melihat.
Pada umumnya penderita tunanetra
menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk
bergerak dan memetakan lokasi. Makalah ini
memperkenalkan solusi baru bagi penderita
tunanetra yaitu Sistem Sonar Tunanetra (SST). Gambar 1. Prinsip kerja sensor PING [3]
SST merupakan sebuah perangkat yang
Sensor PING akan memulai pengiriman
dirancang khusus menggunakan sensor
sinyal (gelombang ultrasonik) ketika
ultrasonik. Sensor ini akan berperan sebagai
mikrokontroller memberikan pulsa trigger (pulsa
sistem sonar untuk memetakan lokasi. Respon
high), maka sensor PING akan mulai
dari sensor ini berupa bunyi yang menggunakan
memancarkan gelombang ultrasonik. Diagram
buzzer sebagai sumbernya. Pengujian tingkat
waktu modul PING terlihat pada Gambar 2
keefektifan perangkat SST dilakukan dengan
dibawah ini,
melihat besar error pengukuran terhadap dua
kondisi yaitu dengan pembatas dinding dan
pembatas berupa orang.

Teori
Sensor ultrasonik PING paralaks mampu
mendeteksi objek dari rentang jarak 3 cm hingga

ISBN 978-602-19655-7-3 135


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Hasil dan diskusi


Pengujian kelayakan alat ini dilakukan
dengan cara menghitung error dari perangkat
SST. Percobaan pertama yaitu dengan
melakukan error dengan pembatas berupa
dinding dan kondisi kedua dilakukan dengan
pembatas adalah manusia. Maka hasil dari
percobaan ini diperoleh sebagai berikut,
Tabel 1. Data yang diperoleh dari sensor PING
Gambar 2. Diagram waktu modul PING [3] dengan pembatas dinding.
Pulsa high dari mikrokontroller akan Jarak Jarak (PING) (cm) error
rata-
diberikan selama selama 5 µs dan gelombang No.
Meteran rata
1 2 3 4 5 %
ultrasonik akan dipancarkan selama 200 µs. (cm)

Sinyal ini akan merambat di udara dengan 1 300 296 295 296 295 296 295,6 1,47

kecepatan berkisar 344,4 m/s. Jika sinyal ini 2 290 285 285 285 285 285 285 1,72
mengenai sebuah objek maka ia akan
3 280 276 275 275 275 275 275,2 1,71
dipantulkan kembali ke sensor PING. Selama
proses menunggu pantulan, PING akan terus 4 270 265 265 265 265 265 265 1,85

mentransmisikan sinyal ultrasonik, namun ketika 5 260 255 255 255 255 255 255 1,92
sinyal pantul diterima, maka PING akan berhenti 6 250 246 246 246 246 246 246 1,6
mentransmisikan pulsa (low). Sehingga lebar
7 240 235 235 235 235 235 235 2,08
pulsa tersebut bisa mewakili jarak antara sensor
PING dengan objek yang tengah dideteksi. 8 230 226 226 226 226 226 226 1,74
Dengan cara mengkonversi lebar pulsa ini maka 9 220 216 217 217 217 218 217 1,36
jarak sebenarnya akan diperoleh. Perhitungan
10 210 205 206 205 205 206 205,4 2,19
untuk mencari jarak sebenarnya adalah,
11 200 196 196 196 196 196 196 2

Lebar Pulsa * 0.0344 (cm) (1) 12 190 186 186 186 186 186 186 2,11
Jarak 
2 13 180 176 176 176 176 176 176 2,22

Persamaan (1) menjelaskan bahwa jarak yang 14 170 166 166 166 166 166 166 2,35
diperoleh hanya ditentukan oleh lebar pulsa dan 15 160 157 156 157 157 157 156,8 2
kecepatan penjalaran.
16 150 147 147 147 147 147 147 2
SST adalah perangkat yang memanfaatkan
17 140 137 137 137 137 137 137 2,14
prinsip kerja dari sensor PING sebagai alat
18 130 127 127 127 127 127 127 2,31
bantu bagi tunanetra. SST dipasang pada
sarung tangan sehingga dengan mengarahkan 19 120 117 117 117 117 117 117 2,5
tangan kesuatu objek dalam rentang jarak 20 110 108 107 108 107 107 107,4 2,36
tertentu buzzer akan mengeluarkan bunyi
21 100 97 97 97 97 97 97 3
sebagai bentuk sistem sonar. Keefekrifan dari
perangkat SST diuji dengan cara menentukan 22 90 87 88 87 88 88 87,6 2,67

error alat yang dirumuskan melalui persamaan 23 80 77 78 77 77 77 77,2 3,5


(2),
24 70 68 68 67 68 68 67,8 3,14

Data Perhitungan  Data Sebenanrnya (2) 25 60 58 58 58 58 58 58 3,33


error 
2 26 50 49 48 48 48 48 48,2 3,6

Pengujian error ini dilakukan terhadap dua 27 40 38 39 39 39 39 38,8 3

jenis kondisi, pertama yaitu pembatas berupa 28 30 29 28 29 29 29 28,8 4


dinding dan yang kedua adalah pembatas
29 20 19 18 18 18 18 18,2 9
berupa orang. Pengukuran untuk masing-masing
kondisi dilakukan untuk 30 buah data, untuk 30 10 9 9 9 9 9 9 10

masing-masing data dilakukan 5 kali rata-rata 2,83


pengukuran, sehingga diperoleh jumlah data
total yang diperoleh 300 buah data. Semua data Tabel 1 di atas memperlihatkan hasil
ini akan diolah sehingga didapatkan error rata- pengukuran terhadap variasi jarak dengan
rata. Semakin kecil error rata-rata maka alat pembatas dinding, disini terlihat bahwa error
akan dinilai semakin efektif, begitupun yang di hasilkan cukup kecil yaitu 2,83%.
sebaliknya.

ISBN 978-602-19655-7-3 136


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Tabel 2. Data yang diperoleh dari sensor PING pengukuran menggunakan meteran terlihat pada
dengan pembatas orang Gambar 1 dan Gambar 2 di bawah ini,
Jarak Jarak (PING) (cm) error Pengujian terhadap dinding
rata- 300
No.
Meteran rata data sebenarnya
1 2 3 4 5 % data pengukuran
(cm)
250
1 300 297 298 297 296 297 297 1

pengukuran sebenarnya
2 290 289 288 286 287 286 287,2 0,97 200

3 280 277 278 276 276 278 277 1,07


150

4 270 264 265 266 265 266 265,2 1,78


100
5 260 257 256 256 257 257 256,6 1,31

6 250 247 246 246 247 247 246,6 1,36 50

7 240 236 239 235 236 235 236,2 1,58


0
0 5 10 15 20 25 30
8 230 225 224 225 225 226 225 2,17 pengukuran alat

9 220 215 215 215 215 214 214,8 2,36


Gambar 3. Plot grafik antara data
10 210 209 210 212 211 206 209,6 0,19 menggunakan sensor PING dengan data asli
terhadap dinding
11 200 194 196 195 197 197 195,8 2,1
Pengujian terhadap orang
12 190 186 186 185 186 186 185,8 2,21 300
data sebenarnya
13 180 177 178 176 176 178 177 1,67 data pengukuran
250

14 170 166 166 167 167 168 166,8 1,88


pengukuran sebenarnya

200
15 160 158 158 157 157 158 157,6 1,5

16 150 149 146 149 148 146 147,6 1,6 150

17 140 136 135 138 138 139 137,2 2


100
18 130 128 127 129 128 128 128 1,54

50
19 120 118 120 119 119 119 119 0,83

20 110 108 110 109 107 107 108,2 1,64 0


0 5 10 15 20 25 30
pengukuran alat
21 100 96 97 98 104 98 98,6 1,4

22 90 86 87 90 88 85 87,2 3,11 Gambar 1. Plot grafik antara data


23 80 77 79 74 75 82 77,4 3,25
menggunakan sensor PING dengan data asli
terhadap orang.
24 70 67 67 68 68 68 67,6 3,43
Berdasarkan Gambar 3 dan Gambar 4 terlihat
25 60 56 56 56 56 56 56 6,67
bahwa selisih dari data ekperimen dengan
26 50 47 47 48 47 47 47,2 5,6 sebenarnya sangat kecil. Sehingga kedua grafik
terlihat saling berhimpitan. Kedua Grafik ini
27 40 37 37 39 37 37 37,4 6,5
mampu merepresentasikan keefektifan yang
28 30 27 27 26 29 27 27,2 9,33 cukup baik dari sensor PING.
29 20 19 18 18 17 17 17,8 11 Untuk error rata-rata dari kedua pengukuran
30 10 9 9 9 9 8 8,8 12
bisa didapatkan berdasarkan Tabel 3 dibawah
ini,
rata-rata 3,1
Tabel 3. Rata-rata error sensor PING

Tabel 2 di atas memperlihatkan hasil Dinding (error) (%) Orang (error) (%) Rata-rata Error (%)
pengukuran terhadap variasi jarak dengan
pembatas orang. Terlihat bahwa error yang di 2,83 3,1 2,965

hasilkan cukup kecil yaitu 3,1%. Ini menunjukkan


bahwa pengukuran dengan menggunakan Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa rata-rata
sensor PING parallaks cukup akurat dalam dari error untuk semua pengukuran adalah
mendefinisikan jarak. 2,965 %. Error yang cukup rendah dibandingkan
dengan standar error yang diizinkan.
Perbandingan data yang diperoleh dari
pengukuran menggunakan sensor PING dengan

ISBN 978-602-19655-7-3 137


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kesimpulan
Telah dibuat perangkat Sistem Sonar
Tunanetra (SST) sebagai alat bantu memetakan
lokasi. Perangkat ini memiliki nilai error rata-rata
semua pengukuran adalah 2,965 %, sehingg
cukup efektif untuk digunakan oleh para
penderita tunanetra

Ucapan terima kasih


Penulis mengucapkan terima kasih Bapak
Hendro atas bimbingannya, sehingga penulis
bisa menyelesaikan kegiatan ilmiah ini.

Referensi
[1] Gifson, Albert., dan Slamet. Sistem
Pemantau Ruang Jarak Jauh Dengan
Sensor Passive Infrared Berbasis
Mikrokontroler AT89S52,Teknik Elektro
Universitas Budi Luhur, Telkomnika Vol.7,
hlm 201-206, 2009.
[2] “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)”
http://kbbi.web.id/ [accessed 23 November
2014.
[3] Parallax. PING)))™ Ultrasonic Distance
Sensor (#28015 ) V1.3, hlm. 1-13,
California: Parallax, 2006.
[4] Tim Digiware. PING)))™ Ultrasonic Range
Finder, Application Note, hlm 1-4, 2011.

Ismail Saleh
Physics Instrumentation Division
Institut Teknologi Bandung
mustakimrahmat1991@gmail.com

Muhammad Zukir
Earth Physics and Complex System Division
Institut Teknologi Bandung
Zukir.m1@gmail.com

Yudiansyah Akbar
Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
Yudiansyahakbar1@gmail.com

ISBN 978-602-19655-7-3 138


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengukuran Geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Wenner Di Kawah


Gunungapi Papandayan
Nilam Sari, Felicity Perfecta Azhar, Rahandika Febri Arivani, Yobi Aris Mauladi, Abdul Rozaq, dan
Nurhasan

Program Studi Pengajaran Fisika, Institut Teknologi Bandung

Email: nilamsari229@gmail.com

Abstrak
Telah dilakukan pengukuran geolistrik tahanan jenis dengan menggunakan konfigurasi Wenner di kawah
baru gunungapi Papandayan, Garut, Jawa Barat. Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui nilai
tahanan jenis dari kawah baru gunungapi Papandayan. Instrumen yang digunakan adalah GeoRes
Multichannel. Pengukuran dilakukan terhadap 3 lintasan, dimana lintasan 1 dan 2 panjangnya 150 m
sedangkan lintasan 3 panjangnya 450 m dan jarak antar elektroda adalah 10 m. Parameter yang diukur
adalah kuat arus listrik (I), beda potensial (v) dan spasi elektroda sedangkan parameter yang dihitung adalah
tahanan jenis (ρ), dan kedalaman (h). Data yang diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan merupakan
nilai tahanan jenis semu kemudian diolah menggunakan software Res2dinv dengan inversi Least Square
untuk mendapatkan nilai tahanan jenis yang sebenarnya. Dari pengukuran yang telah dilakukan, diperoleh
nilai tahanan jenis dari kawah baru gunungapi Papandayan bersifat konsisten dimana semakin bertambah
kedalaman, nilai tahanan jenis yang diperoleh.semakin besar.
Kata-kata kunci: geolistrik, tahanan jenis, konfigurasi Wenner, gunungapi Papandayan, Res2dinv

Pendahuluan Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan,


maka penulis melakukan pengukuran geolistrik
Pengukuran geolistrik tahanan jenis telah tahanan jenis konfigurasi Wenner di kawah baru
banyak dilakukan. Beberapa diantaranya adalah gunungapi Papandayan untuk mengetahui
Teguh Setiawan [1] yang telah melakukan sebaran nilai resistivitas di sekitar area kawah
penelitian dengan metode geolistrik tahanan baru tersebut.
jenis di daerah Porong, Sidoarjo untuk
mendapatkan bidang patahan. Dari hasil Teori dan Metode
penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa
terdapat patahan dangkal akibat adanya Jika bumi diasumsikan bersifat sebagai
amblesan lumpur Sidoarjo dimana kondisi medium homogen yang memiliki harga tahanan
kestabilan tanah/kekuatan batuan di daerah jenis ρ diinjeksikan arus sebesar I, maka arus
penelitian sangat rendah dengan jenis penyusun akan mengalir secara radial seperti terlihat pada
tanah/batuannya adalah kerikil, pasir, lempung Gambar 1:
dan serpih. Lean Wijaya [2] melakukan
pengukuran Geolistrik di wilayah Ngringo,
Karanganyar untuk mengidentifikasi pencemaran
air tanah. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu
nilai persebaran pencemaran air tanah di desa
Ngringo tidak merata, pencemaran terjadi akibat
rembesan pencemaran dari sungai pada daerah
dengan radius kurang dari 1 km dari sungai. Elvi
Novia S [3] telah melakukan pengukuran
geolistrik tahanan jenis menggunakan
konfigurasi Wenner di kampus air tawar
Universitas Negeri Padang (UNP) dimana dari Gambar 1. Distribusi Arus pada Bumi sebagai
hasil penelitian diperoleh jenis batuan pada Medium Homogen [4]
keempat lintasan pengukuran diperkirakan
Groundwater, Clay, Sandstones, Alluvium dan Arus di permukaan bumi mengalir ke segala
Sands. arah dan membuat permukaan seperti bola.

ISBN 978-602-19655-7-3 139


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Udara yang memiliki tahanan jenis yang sangat elektroda sama panjang seperti terlihat pada
besar (tak hingga) mengakibatkan arus tidak Gambar 2.
mengalir ke udara, Apabila dilihat dari
permukaan bumi distribusi arusnya setengah
bola.
Kelistrikan batuan merupakan respon yang
diberikan oleh batuan apabila arus dialirkan
kepadanya. Respon yang diberikan itu
sebanding dengan harga tahanan jenis yang
dimiliki oleh batuan tersebut. Tahanan jenis Gambar 2. Rangkaian elektroda pada
merupakan derajat kemudahan atau kesulitan konfigurasi Wenner. [5]
suatu material dalam menghantarkan arus listrik.
Berdasarkan kemampuannya dalam Dalam hal ini elektroda-elektroda, baik arus
menghantarkan arus listrik, material maupun potensial diletakkan secara simetris
dikelompokkan menjadi tiga yaitu: konduktor, terhadap titik sounding. Jarak antar elektroda
semikonduktor dan isolator. Batuan adalah arus tiga kali jarak antar elektroda potensial. Jadi
material yang mempunyai daya hantar listrik dan jika jarak masing-masing potensial terhadap titik
harga tahanan jenis tertentu. sounding adalah a/2 maka jarak masing-masing
elektroda arus terhadap titik sounding adalah
Tabel 1. Tahanan Jenis Batuan Sedimen [4] 3a/2.
Batuan Tahanan Jenis Keunggulan Metode Geolistrik tahanan jenis
(Ωm) konfigurasi Wenner diantaranya adalah resolusi
Consolidated shales 20 - 2×103 vertikalnya bagus, sensitif terhadap perubahan
(serpihan gabungan) lateral pada daerah yang inhomogenitasnya
Argillites 10 - 8×102 tinggi dan sering digunakan untuk interpretasi.
Konglomerat 2×103 – 104 Konfigurasi Wenner memiliki sinyal terkuat
Batu pasir 1 – 6,4×108 karena faktor geometrinya paling sederhana
Batu gamping 50 – 107 diantara konfigurasi lain dan mempermudah
Dolomite pengukuran di lapangan karena arus yang
Unconsolidated wet 3,5×102 - 5×103 digunakan untuk konfigurasi Wenner lebih kecil.
clay (lempung basah Kelemahan dari konfigurasi Wenner adalah
tidak gabungan) 20 tingkat penetrasinya lebih dangkal dibandingkan
Marls 3 – 70 dengan konfigurasi lain. Adapun rumusan
Lempung 1 – 100 tahanan jenis semu material bawah permukaan
Alluvium dan pasir 10 – 800 bumi untuk konfigurasi Wenner adalah
Oil sands 4 – 800
V
 a  2a
I .
Metoda geolistrik merupakan metoda
geofisika yang digunakan untuk mengetahui Penelitian dilakukan pada tanggal 18 dan 19
kondisi atau struktur geologi di bawah Oktober 2014 di kawah baru gunungapi
permukaan bumi dengan cara mempelajari sifat Papandayan. Jumlah lintasan pengukuran
aliran listrik di dalam bumi. Metoda geolistrik adalah 3 lintasan dengan panjang lintasan 1 dan
tahanan jenis mempelajari sifat tahanan jenis 2 adalah 150 m sedangkan panjang lintasan 3
listrik pada lapisan batuan di bawah permukaan adalah 450 m dan jarak antar elektroda adalah
bumi. 10 m. Instrumen yang digunakan adalah
GeoRes Multichannel. Parameter yang diukur
Metoda ini menggunakan dua elektroda arus adalah kuat arus listrik (I), beda potensial (v) dan
dan dua elektroda potensial. Arus listrik dialirkan spasi elektroda sedangkan parameter yang
ke bawah permukaan bumi melalui dua dihitung adalah tahanan jenis (ρ), dan
elektroda arus, kemudian beda potensial listrik kedalaman (h).
yang terjadi diukur melalui dua elektroda
potensial. Tahanan jenis batuan di bawah
permukaan bumi dapat dihitung dari hasil
pengukuran arus dan beda potensial listrik
tersebut.
Konfigurasi Wenner merupakan salah satu
konfigurasi yang sering digunakan dalam
eksplorasi geolistrik dengan susunan jarak antar

ISBN 978-602-19655-7-3 140


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 3. Kawah Baru Gunungapi Pengukuran yang dilakukan pada Lintasan 2


Papandayan, Garut, Jabar. merupakan pengukuran dengan panjang lintasan
150 m dan spasi elektroda 10 m. Gambar 5
menunjukkan hasil pengolahan data Lintasan 2
Adapun prosedur penelitian ini adalah: menggunakan software Res2dinv dengan inversi
Least Square.
1. menentukan lintasan pengukuran yang
akan dilakukan pada daerah
pengukuran,
2. menentukan spasi atau jarak antar
elektroda yang akan dibuat pada
lintasan pengukuran,
3. mengukur lintasan pengukuran sesuai
dengan panjang lintasan dan spasi atau
jarak antar elektroda yang telah
ditentukan, Gambar 5. Penampang Model 2D Lintasan 2 (18
4. memasang elektroda pada setiap spasi Oktober 2014)
elektroda yang telah ditentukan,
5. menghubungkan kabel elektroda pada Hasil yang diperoleh pada lintasan 2 terdapat
lintasan, keanehan, dimana semakin bertambah
6. memastikan kondisi aki terisi maksimal, kedalaman, nilai resistivitasnya semakin kecil.
7. menghubungkan aki dengan GeoRes, Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5, pada
8. mengaktifkan GeoRes, lapisan atas (0-10 m) dan panjang lintasan 85-
9. memasukkan input data seperti: nama 115 m, nilai resistivitas yang diperoleh cukup
file, jenis pengukuran, lokasi tinggi yaitu 172 Ωm sedangkan pada lapisan
pengukuran, tanggal pengukuran, jenis terbawah yang bisa terdeteksi, nilai
konfigurasi, panjang dan spasi lintasan, resistivitasnya sangat kecil yaitu 0.587 Ωm.
10. melakukan pengukuran,
11. data yang diperoleh langsung tersimpan 3. Lintasan 3 (19 Oktober 2014)
pada GeoRes. Pengukuran di Lintasan 3 merupakan
pengukuran dengan lintasan terpanjang yaitu
Hasil dan diskusi 450 m dengan spasi antar elektroda 10 m.
1. Lintasan 1 (18 Oktober 2014) Gambar 6 menunjukkan hasil pengolahan data
Lintasan 3 menggunakan software Res2dinv
Pengukuran di Lintasan 1 merupakan
dengan inversi Least Square.
pengukuran dengan panjang lintasan 150 m dan
spasi elektroda 10 m. Gambar 4 menunjukkan
hasil pengolahan data Lintasan 1 menggunakan
software Res2dinv dengan inversi Least Square.

Gambar 4. Penampang Model 2D Lintasan 1 (18


Oktober 2014)

Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa


terdapat 5 lapisan kedalaman yaitu: 0-2.5 m, 2.5-
7.5m, 7.5-12.75m, 12.75-18.52m, dan 18.52-
24.88m. Nilai resistivitas yang diperoleh pada
lintasan 1 bersifat konsisten dimana semakin
bertambah kedalaman maka semakin tinggi nilai
resistivitas yang didapatkan.
2. Lintasan 2 (18 Oktober 2014)

ISBN 978-602-19655-7-3 141


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Gambar 6. Penampang Model 2D Lintasan 3 (19 ke-15 Teknologi dan Keselamatan PLTN
Oktober 2014) serta Fasilitas Nuklir, 17 Oktober 2009,
Surakarta, Indonesia, pp. 234-240
Gambar 6 merupakan hasil penampang 2D [3] Elvi Novia S, “Identifikasi Jenis Batuan
untuk lintasan 3. Dari hasil yang diperoleh dapat Menggunakan Metoda Geolistrik Tahanan
dilihat bahwa nilai resistivitas pada lintasan 3 Jenis Konfigurasi Wenner di Universitas
bersifat konsisten, yakni semakin bertambah Negeri Padang Kampus Air Tawar”, Skripsi
kedalaman maka nilai resistivitas yang diperoleh Sarjana, Universitas Negeri Padang,
semakin besar. Untuk line 2 pada lintasan 3, Indonesia, 2012, p. 62
pada elektroda kedelapan dan kesembilan, nilai [4] W.M Telford, L.P Geldart, dan R.E
resistivitas yang diperoleh cukup kecil yaitu Sheriff,”Applied Geophysics”, Penerbit
0.0243 Ωm yang ditandai dengan warna biru. Cambridge University Press, New York,
Hal ini dikarenakan di lapangan, elektroda Edisi Kedua, 2004, p. 535
kedelapan dan kesembilan tersebut dipasang [5] Philip Kearey, Michael Brooks, dan Ian Hill,
pada jurang yang dialiri oleh air sedangkan nilai “An Introduction to Geophysical
resistivitas air sangat kecil, sehingga nilai Eksploration”, Penerbit Blackwell Science,
resistivitas yang didapatkan cocok dengan London, Edisi Ketiga, 2002, p. 186
keadaan di lapangan. [6] Loke. M.H,”Electrical Imaging Surveys for
Environmental and Engineering Studies A
Kesimpulan Practical Guide to 2-D and 3-D Surveys”,
Minden Height, 11700 Penang Malaysia,
Nilai resistivitas/tahanan jenis yang diperoleh 1999, p.12
pada setiap lintasan bersifat konsisten dimana [7] Reynold, J.M,”An Introduction to Applied
semakin bertambah kedalaman, semakin besar and Environmental Geophysics”, Penerbit
nilai resistivitas yang diperoleh (kecuali pada John Geophysics in Hidrogeological and
lintasan 2). Lapisan atas tiap-tiap lintasan Wiley and sons Ltd, 1997, p. 422-425
pengukuran memiliki nilai resistivitas yang
rendah (tanahnya merupakan tanah pasir,
lempung), hal ini didukung oleh tabel nilai
tahanan jenis untuk berbagai macam batuan,
dimana nilai resistivitas batuan pasir (1-100 Ωm).
lapisan-lapisan atas tersebut memiliki nilai Nilam Sari*
resistivitas yang rendah disebabkan lapisan Program Studi Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
tersebut diduga berasal dari letusan kawah
nilamsari229@gmail.com
gunungapi Papandayan pada tahun 2002.
Sedangkan lapisan bawah lintasan pengukuran
Felicity Perfecta Azhar
mempunyai nilai resistivitas yang tinggi, diduga Program Studi Fisika
berasal dari letusan sebelum tahun 2002 Institut Teknologi Bandung
roro.felicity@students.itb.ac.id
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rahandika Febri Arivani
Program Studi Fisika
teman-teman di program studi pengajaran fisika
Institut Teknologi Bandung
yang telah memberikan ilmu, semangat dan rahandika@students.itb.ac.id
diskusi yang bermanfaat. Penulis juga berterima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu Yobi Aris Mauladi
dalam penyelesaian paper ini. Program Studi Fisika
Institut Teknologi Bandung
Referensi Yobi.aris@yahoo.com
[1] Teguh Setiawan dan Widya
Utama,”Interpretasi Bawah Permukaan Abdul Rozaq
Program Studi Fisika
Daerah Porong Sidoarjo Dengan Metode Institut Teknologi Bandung
Geolistrik Tahanan Jenis untuk ragilepaksaji@gmail.com
Mendapatkan Bidang Patahan”, Journal,
Laboratorium Geofisika Jurusan Fisika Nurhasan
FMIPA ITS Surabaya Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
[2] Lean Wijaya, Budi Legowo, dan Ari Institut Teknologi Bandung
Handono Ramelan,”Identifikasi nurhasan@fi.itb.ac.id
Pencemaran Air Tanah dengan Metode
Geolistrik di Wilayah Ngringo Jaten *Corresponding author
Karanganyar”, Prosiding Seminar Nasional

ISBN 978-602-19655-7-3 142


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa


Berbantuan Maple Melalui Model Pembelajaran Conceptual
Understanding Procedures (CUPs) Dan Kooperatif Tipe Learning
Together (LT)
Oriza Stepanus, dan Dr. Kartini Hutagaol

Email: stevanusoriza@yahoo.com

Abstrak

Penelitian yang dilakukan pada makalah ini adalah penelitian komparatif studi, dengan sampel penelitian
yang diambil adalah dua kelas/kelompok dari kelas XI SMAN 1 Parongpong, Bandung Barat. Pada
Kelompok 1 mendapat perlakuan dengan model pembelajaran CUPs (Conceptual Understanding
Procedures) berbantuan Maple, dan Kelompok 2 mendapat perlakuan dengan model pembelajaran LT
(Learning Togehter) berbantuan Maple. Dengan materi ajar irisan kerucut. Tujuan penelitian ini adalah untuk
melihat perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMA dari dua perlakuan
yang berbeda yaitu, CUPs dan LT terhadap satu kemampuan tersebut di atas, dimana kedua model tersebut
berbantuan Maple. Instrumen yang digunakan adalah soal kemampuan pemahaman konsep berbentuk soal
uraian. Analisis data dengan uji beda dua rata-rata dan/atau statistik Mann-Whitney pada tingkat signifikansi
α = 0,05 diperoleh bahwa model pembelajaran CUPs (Conceptual Understanding Procedures) berbantuan
Maple menghasilkan peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa lebih baik
dibandingkan dengan model pembelajaran LT (Learning Together) berbantuan Maple. Mengacu kepada
hasil ini, disimpulkan bahwa model pembelajaran CUPs (Conceptual Understanding Procedures) berbantuan
Maple lebih efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa
dibanding dengan model pembelajaran LT (Learning Together) berbantuan Maple.

Kata-kata Kunci : Model Pembelajaran CUPs, Model Pembelajaran LT, Maple, Pemahaman Konsep.

menjadi modal dalam belajar matematika karena


Pendahuluan
didalamnya terdapat suatu pola berfikir yang
Pendidikan merupakan usaha sadar dan teratur. Oleh sebab itu pemahaman konsep
terencana untuk mewujudkan suasana matematis siswa perlu dilatih dan ditingkatkan.
belajar dan proses pembelajaran agar peserta Disisi lain pembelajaran masih banyak yang
didik secara aktif mengembangkan potensi menggunakan model konvensional, teacher
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual center dan menggunakan papan tulis saja.
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, Padahal berdasarkan Peraturan Menteri
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan Pendidikan Nasional Nomor 65 Tahun 2013
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa tentang Standar Proses Pendidikan untuk
dan negara [1]. Dalam menempuh proses Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, salah
pendidikan, salah satu mata pelajaran yang satu dari 14 prinsip yang digunakan adalah
harus dijejaki dalam proses pendidikan tersebut pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi
adalah matematika. Matematika adalah The untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
Queen of Science. Oleh sebab itu matematika, pembelajaran (butir ke-13). Maka diperlukan
mendasari ilmu pengetahuan dan teknologi. sebuah media pembelajaran berbasis ICT untuk
Misalnya fisika, kimia, ilmu ekonomi dan ilmu mendukung proses belajar fisika untuk
terapan serta dalam bidang teknologi [2]. Namun meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar.
fakta melaporkan bahwa kemampuan siswa Solusi yang ditawarkan adalah dua model
Indonesia dalam bidang matematika masih pembelajar berikut dan sebuah software
rendah, seperti hasil penelitian yang dilaporkan interaktif, Maple.
oleh Kurniawati et. al., yaitu skor Indonesia Dalam makalah ini telah dilakukan dua
dalam ranah kognitif untuk memecahkan soal perlakuan yang berbeda untuk melihat
pemahaman adalah 11% [3]. Seharusnya peningkatan yang terjadi. Perlakuan pertama
pemahaman (pemahaman konsep) matematis adalah dengan model pembelajaran Conceptual

ISBN 978-602-19655-7-3 143


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Understanding Procedures (CUPs) berbantuan Penelitian ini adalah penelitian komparatif


Maple, sedangkan perlakuan kedua dengan studi, dengan sampel penelitian yang diambil
menggunakan Kooperatif Tipe Learning secara acak (random purposive sampling).
Together (LT) berbantuan Maple. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1
Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Teori Sebagai sampel penelitiannya siswa kelas XI.
Pada dasarnya baik CUPs maupun LT Dari sampel tersebut dipilih dua kelas sebagai
merupakan suatu model belajar secara kelompok 1 dan kelompok 2. Sebagai kelompok
berkelompok (cooperative learning). Dengan 1 adalah XI MIA 2, sedangkan kelompok 2
belajar secara berkelompok maka adalah XI MIA 1. Untuk Kelompok 1 adalah
memungkinkan timbulnya persepsi yang positif kelompok yang mendapat perlakuan dengan
tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk model pembelajaran CUPs (Conceptual
mencapai keberhasilan belajar berdasarkan Understanding Procedures) berbantuan Maple,
kemampuan dirinya secara individu dan andil sedangkan Kelompok 2 adalah kelompok yang
dari anggota kelompok lain selama belajar mendapat perlakuan dengan model
bersama dalam kelompok. Berikut ini akan pembelajaran LT (Learning Togehter)
dijabarkan mengenai model pembelajaran berbantuan Maple. Dengan materi ajar irisan
CUPs, LT dan sebuah software yaitu Maple kerucut. Berikut ini merupakan halaman kerja
sebagai alat/media belajar. Maple dan contoh penggunaan tools Slider
Model pembelajaran Conceptual dalam proses pembelajaran:
Understanding Procedures (CUPs) adalah
prosedur pengajaran yang dirancang untuk
membantu mengembangkan pemahaman
konsep siswa pada suatu pokok bahasan
tertentu. Dan membangun pendekatan kepada
keyakinan bahwa siswa membangun
pemahaman mereka sendiri terhadap suatu
konsep [1]. Dalam CUPs terdapat tiga tahap
belajar, yaitu tahap individu, triplet, dan seluruh
kelas. Dalam tahap triple setiap siswa belajar
secara berkelompok, tiap kelompok terdiri dari 3
orang. Apabila jumlah siswa dikelas tidak bisa
dibagi 3 maka lebih baik satu kelompok terdiri
dari 4 orang.
Model pembelajaran Learning Together (LT)
adalah model pembelajaran secara berkelompok Gambar 1.
(kooperatif) yang beranggotakan 4-6 orang, Halaman Kerja Maple
dimana dalam pembagian anggota kelompok
tersebut harus memperhatikan keheterogenan.
Dari proses pembelajaran secara kelompok
diharapkan siswa dapat membangun
pemahaman konsep dengan baik. Proses
membangun konsep terjadi karena masalah
yang ditemukan saat diskusi berlangsung.
Maple adalah suatu perangkat lunak yang
dipasang pada komputer (sistem komputer
aljabar) yang mampu memberikan solusi dalam
bentuk numerik atau simbolik. Maple diciptakan
oleh Wateloo Maple Software (WMS) yang cikal
bakalnya berasal dari para peneliti dari
University of Wateloo, Canada, di tahun 1988. Di
dalam Maple terdapat simbol, sintak, dan
semantik mirip seperti bahasa pemrograman.
Maple mampu menyajikan Pemrosesan simbolik
dan visualisasi. Visualisasi persamaan Gambar 2.
matematika dapat disajikan dalam berbagai Tools Slider
variasi grafik simulasi modeling, bahkan animasi
[4].
Tools Slider digunakan dengan cara
menggeser nilai yang terdapat di panel A sampai
Metode Penelitian

ISBN 978-602-19655-7-3 144


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

F untuk menentukan fokus, bentuk irisan dan


lain-lain.
Dalam penelitian ini dilakukan pre-tes dan
post-tes untuk melihat peningkatan yang dicapai.
Instrumen yang digunakan adalah soal
kemampuan pemahaman konsep berbentuk soal
uraian. Analisis data dengan uji beda dua rata-
rata dan/atau statistik uji-t pada tingkat
signifikansi α = 0,005.
Adapun yang menjadi hipotesa dalam
penelitian ini adalah : “Tidak terdapat perbedaan
peningkatan kemampuan pemahaman konsep
matematis antara siswa yang memperoleh Gambar 3,
model pembelajaran Conceptual Understanding Gain kelompok 1
Procedures (CUPs) berbantuan Maple dan siswa
yang memperoleh model pembelajaran
kooperatif tipe Learning Together (LT)
berbantuan Maple”

Hasil dan Diskusi


Setelah dilakukan treatment terhadap dua
kelompok tersebut maka diperoleh data mentah
yang harus diolah, dianalisis dan ditarik
kesimpulannya.

Berikut adalah data hasil analisanya melalui


gain ternormalisasi:
Tabel 1. Analisis Gain Ternormalisasi
(CUPs Berbantuan Maple)
Keterangan Gain
Number of sample 30 Gambar 4,
Mean 0.8964 Gain kelompok 2
Median 0.8933
Setelah mengetahui gambaran keadaan data
Std. Deviation 0.0489 dari masing-masing kelompok melalui gain
Variance 0.0020 ternormalisasinya, maka dilanjutkan dengan uji
Skewness 0.1200 normalitas. Hasil analisa dari uji normalitas
Kurtosis -0.7090 ditampilkan dalam tabel berikut:
Maximum 0.8048 Tabel 3.
Minimum 0.9750 Hasil Uji Normalitas
Kolmogorov- Shapiro-Wilk
Tabel 2. Analisis Gain Ternormalisasi
Smirnov
(LT Berbantuan Maple)
Kelom Statis df Sig. Statis df Sig.
Keterangan Posttest
pok tic tic
Number of sample 29 Model 0.110 30 0.20 0.956 30 0.24
Mean 0.6339 CUPs
Median 0.7111 with
Std. Deviation 0.2695 Maple
Variance 0.0730 Model 0.238 29 0.00 0.838 29 0.00
LT
Skewness -0.9150 with
Kurtosis -0.5940 Maple
Maximum 0.1041 Dari data yang ditunjukkan pada tabel di atas
Minimum 0.9318 diambil hasil luaran (output) dari Shapiro-Wilk
karena memiliki kekuatan/keakuratan yang lebih
Berikut ini adalah histogram untuk gain baik daripada Kolmogorov-Smirnov [5]. Hasil
ternormalisasi dari kedua kelompok: signifikansi dari gain ternormalisasi kelompok
dengan model pembelajaran Conceptual
Understanding Procedures (CUPs) berbantuan

ISBN 978-602-19655-7-3 145


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Maple sebesar 0.240 sedangkan gain dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran
ternormalisasi kelompok dengan model matematika untuk meningkatkan pemahaman
pembelajaran kooperatif tipe Learning Together konsep.
(LT) berbantuan Maple sebesar 0.000. Uji
normalitas dengan H0 : berdistribusi normal, Ucapan terima kasih
ditolak apabila signifikansi ≤ 0.005 dan tidak
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
ditolak apabila signifikansi ≥ 0.05.
Universitas Advent Indonesia yang telah
Signifikansi data dari kelompok pertama
(CUPs berbantuan Maple) adalah ≥ 0.05 yang memberikan dana kepada penulis, serta dosen
berarti H0 tidak ditolak, artinya data berasal dari pembimbing atas masukan dan saran yang
bermanfaat.
populasi yang berdistribusi normal. Sedangkan
signifikansi data dari kelompok kedua (LT
berbantuan Maple) adalah ≤ 0.05 yang berarti H 0 Referensi
ditolak, artinya data berasal dari populasi yang [1] UU RI. Nomor 20 Tahun 2003. Sistem
berdistribusi tidak normal. Karena salah satu Pendidikan Nasional
kelompok berdistribsi tidak normal maka [2] Oriza Stepanus, Yuni Astuti dan Horasdia
langsung dilakukan uji beda dua rata-data Saragih, “Penerapan Model Pembelajaran
dengan uji statistik non parametrik Mann- Conceptual Understanding Procedures
Whithey (tanpa melalui uji homogenitas). (CUPs) Berbantuan Maple Untuk
Berikut adalah tabel uji Mann-Whitney: Meningkatkan Kemampuan Penalaran
Matematis Siswa SMA”, Prosiding
Tabel 4. Simposium Nasional Invasi Pembelajaran
Uji-t Mann-Witney dan Sains 2014, 20-21 Juni, Bandung,
Indonesia, pp. 229
[3] Kurniawati, E. 2013. Pengaruh Penerapan
Pembelajaran Modifikasi Conceptual
Understanding Procedures (M-CUPs)
Terhadap Peningkatan Kemampuan
Komunikasi Matematis Siswa SMP.
Jakarta. Tesis Program Pascasarjana
Jurusan Pendidikan Matematika.
Universitas Terbuka.
[4] Waterloo Maple Inc. 2001. Maple 7 Release
7.00 Version 7.00. Canada.
Untuk mengetahui signifikansi satu pihak kanan [5] Razali, N. M dan Wah, Y. B. (2011). Power
maka, signifikansi dua pihak (2-tailed) perlu comparisons of Shapiro-Wilk, Klomogorov-
Smirnov, Liliefors and Anderson-Darling
0.000 tests. Dalam Journal of Statistical Modeling
dibagi dua yaitu maka signifikansinya
2 and Analytics. Vol. 2 No. 1, 21-22, 2011.
adalah 0.000. Jika signifikansi 0.000
dibandingkan dengan   0,05 maka 0.000 Oriza Stepanus*
Faculty of Education, Mathematics Major
lebih kecil daripada 0.05 (0.000 < 0.05) sehingga
Universitas Advent Indonesia
hipotesa yang mengatakan bahwa tidak terdapat stevanusoriza@yahoo.com
perbedaan peningkatan kemampuan
pemahaman konsep matematis antara siswa Dr. Kartini Hutagaol
yang memperoleh model pembelajaran Faculty of Education, Mathematics Major
Conceptual Understanding Procedures (CUPs) Universitas Advent Indonesia
berbantuan Maple dan siswa yang memperoleh Kartinih_smant@yahoo.com
model pembelajaran kooperatif tipe Learning
Together (LT) berbantuan Maple ditolak. Artinya *Corresponding author
terdapat perbedaan peningkatan kemampuan
pemahaman konsep matematis siswa.

Kesimpulan
Dari hasil uji beda dua rata-rata ternyata
model pembelajaran CUPs berbantuan Maple
model CUPs berbantuan Maple lebih baik (lebih
efektif) daripada LT berbantuan Maple. Sehingga
model pembelajaran CUPs berbantuan Maple

ISBN 978-602-19655-7-3 146


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team


Achievement Division) Berbantuan Simulasi Komputer untuk
Meminimalisir Miskonsepsi Siswa
Rifa Syarifatul Wahidah, Iyon Suyana, dan Endi Suhendi

Email: rifasyarifah15@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan simulasi komputer dalam
meminimalisir miskonsepsi siswa pada konsep Hukum Newton. Melalui desain penelitian Nonequivalent
Control Group Pretest-Posttest Design, penelitian ini dilakukan pada sampel dua kelas yang homogen di
salah satu SMA Negeri Kota Bandung. Kelas eksperimen mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD
berbantuan simulasi komputer dan kelas kontrol mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD tanpa
bantuan simulasi komputer. Instrumen yang digunakan adalah tes diagnostik miskonsepsi dalam bentuk
three-tier test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuantitas miskonsepsi kelas eksperimen adalah 28,39%
(kategori rendah) dan kelas kontrol sebesar 39,31% (kategori sedang). Uji hipotesis penelitian ini
menggunakan uji Mann-Whitney dan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara
kuantitas miskonsepsi siswa kelas eksperimen dan kontrol. Hal ini terlihat dari signifikansi (0,001) yang lebih
kecil dari 0,05, sehingga H0 ditolak. Sedangkan hasil perhitungan effect size-nya adalah 0,94 (kategori
tinggi). Artinya, model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) berbantuan
simulasi komputer berkontribusi besar dalam meminimalisir miskonsepsi siswa pada konsep Hukum Newton.
Kata-kata kunci: STAD, simulasi komputer, miskonsepsi

pengertian ilmiah atau para pakar dalam bidang


Pendahuluan itu [1]. Adapun salah satu konsep fisika yang
Suparno (2013) menyebutkan bahwa dimana siswa sering mengalami miskonsepsi
miskonsepsi (konsep alternatif) yang terjadi adalah Hukum Newton. Gilbert dan Osborne
dalam bidang fisika meliputi banyak subbidang, menyatakan bahwa miskonsepsi dapat
diantaranya adalah mekanika, termodinamika, disebabkan oleh implementasi pembelajaran dan
optika, bunyi dan gelombang, listrik dan magnet, media yang kurang tepat. Berdasarkan hasil
serta fisika modern [1]. Hasil studi literatur studi pendahuluan, pembelajaran yang dilakukan
menunjukkan bahwa terjadi miskonsepsi masih pasif dan tidak ada interaksi antara siswa
sebesar 49,44% pada konsep mekanika [2], dengan media pembelajaran karena beberapa
41,76% pada konsep Hukum Newton [3], dan keterbatasan. Proses pembelajaran yang
34% pada konsep Hukum Newton [4]. Selain itu, dominan pasif tidak membantu siswa dalam
hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa mengurangi miskonsepsinya [6]. Padahal,
presentasi siswa yang mengalami miskonsepsi pembelajaran yang baik adalah pembelajaran
pada konsep Hukum Newton di salah satu SMA yang mempertimbangkan miskonsepsi siswa
Negeri Kota Bandung adalah 48,17% (kategori dan memberikan kesempatan kepada siswa
sedang). untuk mengonstruksi pemahamannya yang
salah menjadi pemahaman yang benar dan
Menurut Dahar (1989), konsep merupakan suatu sesuai dengan konsep para ilmuwan [7]. Salah
dasar untuk berpikir dan melakukan proses- satu solusi yang dapat digunakan untuk
proses mental yang lebih tinggi agar dapat menanggulangi miskonsepsi adalah penerapan
merumuskan prinsp-prinsip dan generalisasi- model pembelajaran kooperatif tipe STAD
generalisasi [5]. Namun faktanya, di lapangan (Student Team Achievement Division)
masih banyak siswa yang belum memahami berbantuan simulasi komputer.
konsep fisika dengan benar, bahkan beberapa
siswa mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi
merupakan konsep yang tidak sesuai dengan

ISBN 978-602-19655-7-3 147


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Teori dan Metode isian kosong (free response). Hal ini bertujuan
untuk mengetahui miskonsepsi baru yang tidak
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD
terdapat pada literatur sebelumnya. Pertanyaan
adalah salah satu paham konstruktivisme yang
keyakinan yang digunakan dalam penelitian ini
menekankan pada perubahan konsep siswa. Di
terdiri dari dua pilihan, yaitu “Yakin” dan “Tidak
dalamnya memungkinkan terjadi interaksi antara
Yakin”. Pengembangan pertanyaan keyakinan
siswa dengan siswa dan siswa dengan
pada instrumen tes ini mengacu kepada
narasumber. Artinya pembelajaran dilakukan
instrumen yang dikembangkan oleh Ali Eryilmaz
secara aktif. Selain itu, dengan adanya
[2,12].
tingkatan-tingkatan kelompok (divisi) di dalam
proses pembelajaran kooperatif tipe STAD, Analisis jawaban siswa dilakukan dengan
semua siswa termotivasi untuk mendapatkan mengacu pada ketentuan yang dikembangkan
tingkat terbaik dan lebih bertanggungjawab atas Kaltacki dan Didis [13].
ketercapaian pembelajaran dirinya dan teman
Tabel 1. Analisis Kombinasi Jawaban pada
sekelompoknya.
Three-Tier Test.
Selama proses pembelajaran, harus ada
Tingkat Tingkat Tingkat
interaksi langsung antara siswa dengan media Kategori
1 2 3
(selain dengan siswa lain dan narasumber) [8].
Dalam hal ini, penggunaan media simulasi Benar Benar Yakin Paham
komputer dapat membantu siswa dalam Konsep
mengonstruksi pemahamannya sendiri. Apabila Benar Benar Tidak
fenomena yang ditunjukkan simulasi komputer Yakin
sesuai dengan pengetahuan awal siswa, maka Benar Salah Tidak
simulasi dapat menguatkan pemahaman siswa. Yakin Tidak Paham
Sebaliknya, apabila fenomena yang ditunjukkan Salah Benar Tidak Konsep
tidak sesuai dengan pengetahuan awal siswa, Yakin
maka simulasi dapat memunculkan konflik Salah Salah Tidak
kognitif. Selain itu, media simulasi komputer Yakin
dapat digunakan sebagai sarana alternatif dalam Salah Benar Yakin Error
keterbatasan alat [9], kemudahan dan Benar Salah Yakin
Miskonsepsi
kepraktisan, dapat diulang, serta siswa dapat Salah Salah Yakin
memanipulasi parameter input sesuai dengan Sedangkan pengkategorian persentase
nilai yang diinginkan [10]. Dengan menggunakan mengacu pada Tabel 2 [14].
media pembelajaran, siswa mengalami
pembelajaran seara langsung dan akan sangat Tabel 2. Kategori Persentase
bermanfaat dalam konstruksi pemahaman siswa Persentase Kategori
[11].
0%-30% Rendah
Metode penelitian yang digunakan adalah 31%-60% Sedang
nonequivalent control group pre-test post-test 61%-100% Tinggi
design. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas
X MIA (Matematika Ilmu Alam) 5 dan X MIA Uji hipotesis yang dilakukan adalah uji Mann-
(Matematika Ilmu Alam) 6 dari populasi siswa di Whitney, dikarenakan sampel terdistribusi
salah satu SMA Negeri kota Bandung tahun normal namun homogenitas tidak terpenuhi [15].
pelajaran 2014/ 2015. Pre-test yang dilakukan Uji hipotesis ini bertujuan untuk melihat apakah
pada penelitian ini adalah bertujuan untuk perbedaan kuantitas miskonsepsi pada kelas
melihat homogenitas dari kedua kelas, sehingga eksperimen dan kontrol berbeda secara
soal yang diberikan bukan dalam bentuk three- signifikan atau tidak.
tier test, namun dalam bentuk soal biasa pada
Selain pengujian hipotesis, peneliti juga
umumnya.
melakukan perhitungan effect size. Tujuannya
Identifikasi miskonsepsi dilakukan dengan adalah untuk mengetahui seberapa besar
menggunakan tes diagnostik dalam bentuk kontribusi penerapan model kooperatif tipe
three-tier test seperti yang telah dikembangkan STAD berbantuan simulasi komputer dalam
oleh Hasan et.al [2,12]. Jumlah keseluruhan soal meminimalisir miskonsepsi siswa pada konsep
tes adalah 15 soal. Tes diagnostik ini terdiri dari Hukum Newton.
tiga tingkatan, yaitu pertanyaan biasa,
pertanyaan alasan, dan pertanyaan keyakinan Hasil dan diskusi
terhadap jawaban-jawaban yang telah dipilih
Hasil pretest uji homogenitas dari kelas
pada tingkatan sebelumnya. Pada pertanyaan
eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan
alasan, peneliti menyisipkan opsi lain berbentuk
bahwa kedua kelas adalah homogen. Dengan

ISBN 978-602-19655-7-3 148


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

demikian, kedua kelas dapat digunakan sebagai Berbeda dengan siswa di kelas kontrol yang
sample penelitian untuk mengetahui efek mengikuti pembelajaran hanya dengan
perlakuan terhadap kedua sampel. membaca buku, melihat gambar dari buku, dan
mengamati demonstrasi, kemudian berdiskusi.
Sedangkan, hasil analisis jawaban post-test
Kondisi demikian membuat siswa kurang tertarik
siswa dari kedua kelas ditunjukkan pada Tabel 3
sehingga proses diskusi terlihat monoton.
berikut.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan
Tabel 3. Presentase analisis kombinasi jawaban
menggunakan bantuan software SPSS versi 20.
siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Kategori pengujiannya adalah, jika signifikansi
PK TTK MIS perhitungan lebih kecil daripada 0,05, maka H0
Kelas E (%) ditolak dan H1 diterima. Begitupun sebaliknya.
(%) (%) (%)
Eksperimen 49,03 20,65 1,94 28,39 Hasil pengolahan uji Mann-Whitney ditampilkan
Kontrol 32,18 26,21 2,30 39,31 pada Tabel 4 di bawah ini.
Dimana, PK = paham konsep, TTK = tidak tahu Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis Mann-Whitney
konsep, E = error, dan MIS = miskonsepsi. Test Statisticsa
Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa persentase Nilai
penguasaan konsep kelas eksperimen lebih Mann-Whitney U 232,500
tinggi dibandingkan kelas kontrol. Sedangkan, Wilcoxon W 667,500
persentase miskonsepsi kelas eksperimen lebih Z -3,232
rendah daripada kelas kontrol.
,001
Asymp. Sig. (2-tailed)
Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan antara kuantitas Dari Tabel 4 di atas, dapat dilihat bahwa
miskonsepsi siswa kelas eksperimen dan kelas signifikansinya adalah 0,001. Nilai tersebut lebih
kontrol. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh kecil dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa
perbedaan treatment yang diberikan kepada H0 ditolak dan H1 diterima.
kedua kelas. Dengan demikian, pembelajaran
Untuk melihat seberapa besar kontribusi
kooperatif tipe STAD berbantuan simulasi
penerapan pembelajaran kooepratif tipe STAD
komputer dapat menjadi solusi dalam
berbantuan simulasi komputer, maka dilakukan
meminimalisir miskonsepsi siswa.
perhitungan effect size. Berdasarkan
Keberhasian tersebut dikarenakan, melalui perhitungan, didapatkan bahwa nilai d (effect
fenomena yang ditunjukkan oleh simulasi size) adalah 0,94. Nilai tersbut termasuk ke
komputer memungkinkan adanya dalam kategori tinggi.
ketidaksesuaian pengetahuan awal yang dimiliki
siswa dengan pengetahuan baru yang Kesimpulan
diterimanya sehingga terjadilah perubahan
konsep fisika siswa [10]. Ketidaksesuaian Penerapan pembelajaran kooperatif tipe
tersebut kemudian didiskusikan di dalam STAD berbantuan simulasi komputer dikatakan
berhasil dalam meminimalisir miskonsepsi siswa
kelompok untuk saling membantu dalam
pada Hukum Newton. Hal ini terlihat dari
memahami konsep. Dengan demikian, konflik
perbedaan kuantitas miskonsepsi siswa kelas
kognitif yang ditemui dapat menuju perubahan
eksperimen dan kelas kontrol setelah diberikan
konsep ke arah konsep yang benar.
treatment. Kuantitas miskonsepsi siswa kelas
Pengalaman belajar yang didapatkan secara eksperimen lebih kecil daripada kelas kontrol,
langsung akan sangat bermanfaat dalam dengan persentase miskonsepsi siswa secara
konstruksi pemahaman siswa [9]. Dalam hal ini, berturut-turut yaitu 28,39% (kategori rendah) dan
selama proses pembelajaran harus ada interaksi 39,31% (kategori sedang). Bahkan, hasil uji
langsung antara siswa dengan media (selain hipotesis menunjukkan bahwa H0 ditolak dan
dengan siswa lain dan narasumber) [8]. Dan di hasil perhitungan effect size menunjukkan nilai
dalam pembelajaran yang dilakukan siswa kelas 0,94 yang berada dalam kategori tinggi. Dengan
eksperimen, selain mengamati demonstrasi, demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan
menyatakan pendapat, dan presentasi, siswa model pembelajaran kooperatif tipe STAD
juga ikut berperan aktif dalam mengoperasikan berbantuan simulasi komputer berkontribusi
simulasi sehingga pemahaman yang diterima besar dalam meminimalisir miskonsepsi siswa
menjadi lebih baik. Siswa di kelas eksperimen pada Hukum Newton.
dapat memanipulasi parameter input sesuai
dengan nilai yang diinginkan, mengamati gerak
benda, menyimpulkan konsep dan
mengonstruksi pemahamannya sendiri [5].

ISBN 978-602-19655-7-3 149


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Ucapan terima kasih Prosiding Seminar Nasional Fisika 2012.


Palembang: Universitas Sriwijaya.
Ucapan terimakasih disampaikan kepada
[12] Eryilmaz, A. (2010). Development and
ketua jurusan pendidikan fisika beserta tim
Application of Three-Tier Heat and
penelitinya yang telah mendukung penelitian ini,
Temperature Test: Sample of Bachelor and
baik secara moril maupun materil.
Graduate Students, (40), hlm. 53-76.
[13] Kaltacki, D. & N. Didis. (2007). Identification
Referensi
of Pre-Service Physics Teachers’
[1] Suparno, P. (2013). Miskonsepsi Misconceptions on Gravity Concept: A
Perubahan Konsep Dalam Pendidikan study with a 3-Tier Misconception Test.
Fisika. Jakarta: PT Grasindo Anggota Ikapi. Turkey: Faculty of Education, Middle East
[2] Eryilmaz, A., H. Pesman. (2010). Technical University.
Development of a Three-Tier Test to [14] Suwarna, I. P. (2013). Analisis Miskonsepsi
Assess Misconceptions About Simple Siswa SMA Kelas X pada Mata Pelajaran
Electric Circuits, (103), hlm. 208-222. Fisika Melalui CRI (Certainly of Respnse
[3] Masril dan N. Asma. (2002). Pengungkapan Index) Termodifikasi. Jakarta: FITK UIN
Miskonsepsi Siswa menggunakan Force Syarif Hidayatulloh.
Concept Inventory and Certainly of [15] Susetyo, B. (2010). Statistika Untuk
Response Index. Jurnal HFI, hlm. 1-9. Analisis Data Penelitian. Bandung: PT
[4] Pertiwi, G.D.E. (2013). Penerapan Refika Aditama.
Pembelajaran Konflik Kogniti untuk
Mengurangi Miskonsepsi Hukum Newton
pada Siswa SMA. FPMIPA, Universitas Rifa Syarifatul Wahidah*
Pendidikan Indonesia, Bandung. Jurusan Pendidikan Fisika
[5] Kusumah, F. H. (2013). Diagnosis Universitas Pendidikan Indonesia
Miskonsepsi Siswa pada Materi Kalor rifasyarifah15@yahoo.com
Menggunakan Three-Tier Test. (Skripsi).
FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia, Iyon Suyana
Bandung. Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
[6] Purba, J. P. (2013). Pengembangan dan iyons@upi.edu
Implementasi Model Pembelajaran Sains
Menggunakan Pendekatan Pemecahan
Endi Suhendi
Masalah. (Disertasi). Universitas Jurusan Pendidikan Fisika
Pendidikan Indonesia, Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia
[7] Baser, M. (2006). Promotig Conceptual endis@upi.edu
Change Throung Active Learning Using
Open Source Software for Physics *Corresponding author
Simulations, 22(3), hlm.336-354.
[8] Rusman. (2012). Belajar dan Pembelajaran
Berbasis Komputer: mengembangkan
profesionalisme guru abad 21. Bandung:
Alfabeta.
[9] Siahaan, S. M. (2012). Penggunaan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Pembelajaran Fisika. Prosiding Seminar
Nasional Fisika 2012. Palembang:
Universitas Sriwijaya.
[10] Saehana, S. & Haeruddin. (2009).
Pengembangan Simulasi Komputer dalam
Model Pembelajaran Kooperatif untuk
Meminimalisir Miskonsepsi Fisika pada
Siswa SMA di Kota Palu. Prosiding
Pertemuan Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY.
Banten: Himpunan Fisika Indonesia.
[11] Sanjaya, W. (2010). Perencanaan dan
Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:
Kencana. Siahaan, S. M. (2012).
Penggunaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam Pembelajaran Fisika.

ISBN 978-602-19655-7-3 150


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Analisis Capaian Kompetensi Guru Bidang Studi Fisika pada


Pelaksanaan Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2013 di Provinsi
Maluku Utara
Saprudin

Email: Saprudin_unkhair@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan profil kompetensi guru
bidang studi fisika yang mengikuti sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2013 pada PSG Rayon 130
Universitas Khairun. Data-data dikumpulkan melalui studi dokumentasi yakni dokumen hasil UKA dan UTN
peserta PLPG bidang studi fisika. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil
analisis data disimpulkan bahwa; 1) profil kompetensi guru fisika sebelum mengikuti PLPG tahun 2013
dikategorikan rendah (25,6), 2) profil kompetensi guru fisika setelah mengikuti PLPG dikategorikan cukup
(55,0), 3) Secara umum terjadi peningkatan kompetensi guru bidang studi fisika setelah mengikuti PLPG
tahun 2013.
Kata-kata kunci: Sertifikasi, UKA, UTN

Terkait bidang studi fisika, jumlah peserta


Pendahuluan yang mengikuti sertifikasi pada Rayon 130
Sertifikasi merupakan proses pemberian Universitas Khairun tahun 2013 adalah
sertifikat pendidik kepada guru yang telah sebanyak 17 guru dengan rincian seperti pada
memenuhi persyaratan tertentu yakni memiliki Tabel 2.
kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani Tabel 2. Rekapitulasi Peserta Sertifikasi Guru
dan rohani serta memiliki kemampuan untuk Bidang Studi Fisika Kuota Tahun 2013
mewujudkan pendidikan nasional yang dibarengi
dengan peningkatan kesejahteraan yang layak No Kabupaten Jumlah
[1].
1 Kab. Halmahera Tengah 1
Tahun 2013, jumlah kuota peserta sertifikasi 2 Kab. Halmahera Barat 4
guru dalam jabatan pada Rayon 130 Universitas 3 Kab. Halmahera Timur 1
Khairun sebanyak 1609 peserta dengan rincian 4 Kab. Kepulauan Sula 2
seperti pada Tabel 1. 5 Kota Ternate 6
Tabel 1. Rekapitulasi Peserta Sertifikasi Guru 6 Kota Tidore Kepulauan 3
Kuota Tahun 2013 TOTAL 17
[2]
No Kabupaten Jumlah
Mulai tahun 2012 atau tahun keenam
1 Kab. Halmahera Tengah 91 sertifiksi guru dalam jabatan, dilaksanakan
2 Kab. Halmahera Barat 219 kebijakan yang cukup mendasar dalam
3 Kab. Halmahera Utara 198 penyelenggaraan sertifikasi guru yaitu Uji
4 Kab. Halmahera Selatan 237 Kompetesi Awal (UKA) sebagai persyaratan bagi
5 Kab. Halmahera Timur 91 guru yang sertifikasinya mengikuti pola PLPG.
6 Kab. Kepulauan Sula 267 Pada akhir PLPG dilakukan uji kompetensi yang
7 Kab. Morotai 65 meliputi uji tulis dan uji kinerja (ujian praktik).
8 Kota Ternate 300 Ujian tulis bertujuan untuk mengungkap
9 Kota Tidore Kepulauan 141 kompetensi profesional dan pedagogik,
TOTAL 1609 sedangkan ujian kinerja untuk mengungkap
[2] kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian,
dan sosial secara holistik [3].

ISBN 978-602-19655-7-3 151


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Dalam penelitian ini, uji kompetensi akhir Kompetensi guru merupakan seperangkat
yang dijadikan pembanding terhadap Uji pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang
Kompetensi Awal (UKA) adalah Ujian Tulis harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diwujudkan
Nasional (UTN) yang soal ujiannya oleh guru dalam melaksanakan tugas
dikembangkan secara nasional di bawah keprofesionalannya [4].
koordinasi KSG. Hasil uji kompetensi ini, dapat
Dalam UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun
dijadikan sebagai acuan untuk menganalisis
2005 tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 10
capaian kompetensi guru khususnya guru
disebutkan bahwa kompetensi adalah
bidang studi fisika.
seperangkat pengetahuan, keterampilan dan
Berdasarkan uraian di atas, maka sangat perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan
penting dilakukan analisis capaian kompetensi dikuasai oleh guru atau dosen dalam
guru di provinsi Maluku Utara sehingga dapat melaksanakan keprofesionalan” [5]. Dalam
ditelusuri secara akurat mengenai gambaran Undang-undang tersebut dinyatakan juga bahwa
kompetensi guru di Maluku Utara. Gambaran kompetensi guru meliputi kompetensi
tentang capaian komptensi tersebut, diharapkan kepribadian, pedagogik, professional dan
para pengambil kebijakan untuk memberikan kompetensi sosial.
tindakan yang akurat dalam meningkatkan mutu
dan kompetensi guru di Maluku Utara secara Metode
signifikan khususnya bagi guru bidang studi
Jenis penelitain ini merupakan penelitian
fisika.
deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh guru yang mengikuti PLPG pada
Teori
sertifikasi guru tahun 2013 di provinsi maluku
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 utara. Sedangkan sampel dalam penelitian ini
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang- adalah guru bidang studi fisika di provinsi
undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru Maluku Utara yang mengikuti PLPG pada
dan Dosen, Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 sertifikasi guru tahun 2013. Pengumpulan data
Tahun 2005 tentang Standar Nasional dilakukan dengan studi dokumentasi nilai UKA
Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah RI (Uji Kompetensi awal) dan UTN (Ujian Tulis
Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru Nasional). Teknik analisis data dilakukan secara
menyatakan guru adalah pendidik profesional. deskriptif kuantitatif.
Guru yang dimaksud meliputi guru kelas, guru
mata pelajaran, dan guru bimbingan dan Hasil dan diskusi
konseling atau konselor. Guru profesional
dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik Profil Kompetensi Guru Bidang Studi Fisika
Pada Pelaksanaan Sertifikasi Tahun 2013
yang relevan dengan mata pelajaran yang
diampu dan menguasai kompetensi Profil Kompetensi Guru bidang studi fisika
sebagaimana dituntut oleh Undang undang Guru sebelum dan sesudah mengikuti PLPG tahun
dan Dosen. Pengakuan guru sebagai pendidik 2013 pada Rayon 130 Universitas Khairun dapat
profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik ditunjukkan pada gambar 1.
yang diperoleh melalui suatu proses sistematik
yang disebut sertifikasi [3].
Sertifikasi bagi guru dalam jabatan sebagai
salah satu upaya peningkatan mutu guru
diharapkan dapat meningkatkan mutu
pendidikan pada satuan pendidikan formal
secara berkelanjutan. Guru dalam jabatan yang
telah memenuhi persyaratan dapat mengikuti
sertifikasi melalui: 1) Pemberian Sertifikat
Pendidik secara Langsung, 2) Portofolio, 3)
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru atau 4)
Pendidikan Profesi Guru [3].
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
merupakan salah satu pola dalam pelaksanaan Kategori : Sangat Rendah = 0 – 20, Rendah = 20 – 40,
sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2013 yang Cukup = 40 – 60, Baik = 60 – 80, Sangat Baik = 80-100
bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, Gambar 2. Profil Kompetensi Guru Bidang Studi
profesionalisme, dan menentukan kelulusan Fisika pada Pelaksanaan Sertifikasi Guru dalam
guru peserta sertifikasi [3]. Jabatan Tahun 2013 di Rayon 130 Unkhair

ISBN 978-602-19655-7-3 152


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Berdasarkan gambar 1, secara umum 2. Profil kompetensi guru bidang studi fisika di
kompetensi guru bidang studi Fisika sebelum Provinsi Maluku Utara sesudah mengikuti
mengikuti PLPG tahun 2013 dikategorikan PLPG pada sertifikasi guru dalam jabatan
rendah (25,6), sedangkan setelah mengikuti tahun 2013 dapat dikategorikan cukup
PLPG dikategorikan cukup (55,0). (55,0).
3. Secara umum terjadi peningkatan
Dampak PLPG tahun 2013 terhadap kompetensi guru bidang studi fisika pada
Peningkatan Kompetensi Guru Bidang Studi pelaksanaan PLPG tahun 2013.
Fisika di Provinsi Maluku Utara Peningkatan kompetensi tersebut dapat
dikategorikan sedang (N-gain = 0,39)
Kompetensi guru bidang studi Fisika di
provinsi Maluku Utara dapat ditelusuri dari skor
Ucapan terima kasih
UKA (Uji Kompetensi Awal) dan UTN (Ujian Tulis
Nasional). Untuk melihat besarnya peningkatan Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
kompetensi guru, kita dapat menentukan Ketua Rayon, Ketua Pelaksana dan juga Divisi
besarnya gain skor ternormalisasi (N-gain). Data PSG Rayon 130 Universitas Khairun.
Adapun untuk lebih jelasnya besarnya gain skor
ternormalisasi untuk setiap guru dapat dilihat Referensi
pada Tabel 3.
[1] Muslich M, Sertifikasi Guru Menuju
Tabel 3. Peningkatan Kompetensi Guru Fisika di Profesionalisme Pendidik, Jakarta, Bumi
Provinsi Maluku Utara Setelah Mengikuti PLPG Aksara, 2007
Tahun 2013 [2] PSG Rayon 130 Universitas Khairun,
Laporan Pelaksanaan Sertifikasi Guru
Guru UKA UTN N-gain Kategori dalam Jabatan Tahun 2013. PSG Rayon
G1 26,7 42,9 0,22 Rendah 130 Universitas Khairun, tidak diterbitkan
G2 20,0 61,4 0,52 Sedang [3] Kemdikbud, Badan Pengembangan
G3 28,3 50,0 0,30 Sedang Sumber Daya Manusia Pendidikan
G4 36,7 60,0 0,37 Sedang Kebudayaan dan Penjaminan Mutu
G5 26,7 60,0 0,45 Sedang pendidikan, SERTIFIKASI GURU DALAM
G6 26,7 61,4 0,47 Sedang JABATAN TAHUN 2013 (BUKU 4) Rambu-
G7 25,0 47,1 0,30 Sedang rambu Pelaksanaan Pendidikan dan
G8 26,7 62,9 0,49 Sedang Latihan Profesi Guru (PLPG), Kemdikbud.
G9 20,0 47,1 0,34 Sedang 2013
G10 25,0 54,3 0,39 Sedang [4] Sarimaya Farida, Sertifikasi Guru (Apa,
G11 26,7 61,4 0,47 Sedang Mengapa dan Bagaimana). Bandung,
G12 35,0 58,6 0,36 Sedang Yrama Widya, 2009
G13 23,3 58,6 0,46 Sedang [5] Sagala Syaiful. Kemampuan Profesional
G14 21,7 47,1 0,33 Sedang Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung,
G15 16,7 51,4 0,42 Sedang Alfabeta, 2009
G16 26,7 50,0 0,32 Sedang
G17 23,3 60,0 0,48 Sedang
Rerata 25,6 55,0 0,39 Sedang
Saprudin *
Berdasarkan tabel 3, dapat ditunjukkan Divisi Data PSG Rayon 130
bahwa adanya PLPG tahun 2013 dapat Universitas Khairun
meningkatkan kompetensi guru bidang studi Saprudin_unkhair@yahoo.com
fisika di provinsi Maluku utara. Besarnya
peningkatan kompetensi guru fisika setelah
mengikuti PLPG tahun 2013 dapat dikategorikan
sedang (N-gain = 0,39). *Corresponding author

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis


data, maka dapat disimpulkan sebagai berikut;
1. Profil kompetensi guru bidang studi fisika di
Provinsi Maluku Utara sebelum mengikuti
PLPG pada sertifikasi guru dalam jabatan
tahun 2013 dapat dikategorikan rendah
(25,6).

ISBN 978-602-19655-7-3 153


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Simulasi Tumbukan Bola Billiard dengan Macro Visual Basic

Sari Sami Novita

Email: sarisaminovita@gmail.com

Abstrak
Banyak yang beranggapan bahwa fisika merupakan ilmu yang hanya membahas tentang rumus dan
persamaan yang rumit. Padahal jika kita melihat sekitar, banyak konsep fisika yang dapat kita temukan
dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan konsep-konsep tersebut dapat menciptakan suatu fenomena menarik
ataupun dapat digunakan untuk mempermudah aktivitas manusia. Salah satunya dalam permainan bola
billiard. Konsep tumbukan dapat kita temui pada permainan ini. Dengan menganggap tumbukan yang terjadi
bersifat lenting sempurna kita dapat membuat pengaturan tertentu agar bola billiard dapat masuk ke salah
satu lubang yang terdapat pada sisi meja. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk membuat simulasi
tumbukan bola billiard dengan menggunakan Macro Visual Basic Microsoft Excel yang diawali dengan
penyusunan materi tentang tumbukan. Kedua, membuat tampilan program yang terdiri dari CommandButton
dan Textbox serta menuliskan program pada jendela prosedur Macro Visual Basic untuk mengaktifkan
perintah yang ingin dilakukan. Media animasi tumbukan ini dapat memberikan simulasi gerak dan pantulan
bola pada dinding meja billiard sesuai dengan pengaturan kecepatan dan posisi awal bola sehingga kita
dapat mengetahui posisi dan kecepatan berapa agar bola dapat memasuki lubang pada meja.
Kata-kata kunci: Bola Billiard, Macro Visual Basic, Microsoft Excel, Simulasi

dibuat dengan menggunakan Macro Visual Basic


Pendahuluan yang terdapat pada Microsoft Excel. Dengan
Fisika sangat erat kaitannya dengan simulasi ini diharapkan dapat membantu guru
kehidupan manusia sehari-hari. Berbagai konsep dalam menjelaskan aplikasi konsep fisika dalam
fisika dapat dengan mudah ditemukan pada kehidupan sehari-hari.
suatu kejadian. Namun kejadian tersebut kadang
bukanlah kejadian yang dapat dibawa ke dalam Teori dan Metode
kelas sebagai bahan pembelajaran fisika. Guru Metode yang dilakukan dalam pembuatan
hanya dapat mendeskripsikan kejadian tersebut program simulasi tumbukan bola billiard diawali
kepada siswa dan untuk menunjang dengan penyusunan konsep fisika yang
pemahaman siswa, guru memerlukan suatu berkaitan dengan simulasi. Konsep fisika yang
media yang digunakan sebagai media dapat ditemukan pada simulasi adalah
pembelajaran, salah satunya pemanfaatan tumbukan, dan gerak lurus beraturan.
media pembelajaran berbasis komputer.
Pada setiap jenis tumbukan berlaku hukum
Dari berbagai kondisi dan potensi yang ada, kekekalan momentum tetapi tidak selalu berlaku
pengembangan dan penerapan pembelajaran hukum kekekalan energi mekanik. Pada simulasi
berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ini tumbukan yang terjadi diasumsikan sebagai
merupakan salah satu upaya yang dapat tumbukan lenting sempurna (e = 1) dengan
dilakukan berkenaan dengan peningkatan kecepatan konstan.
kualitas pembelajaran di sekolah yaitu
mengembangkan sistem pembelajaran yang
berorientasi pada siswa (Children Center) dan
memfasilitasi kebutuhan siswa akan kebutuhan
yang menantang, aktif, kreatif, inovatif, efektif
dan menyenangkan [1]
Berdasarkan temuan tersebut, maka
dibuatlah suatu simulasi yang dapat mewakili
penerapan ilmu fisika dalam kejadian yang erat
dengan kehidupan sehari-hari. Kejadian yang
dijadikan simulasi adalah permainan bola billiard Gambar 1. Lintasan gerak bola billiard pada
yang menampilkan tumbukan antara bola billiard meja.
dengan dinding meja billiard. Simulasi tersebut

ISBN 978-602-19655-7-3 154


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Jika bola billiard bergerak dengan kecepatan sebanyak 1000 kali. Alur program pada simulasi
awal v0, maka proyeksi kecepatan bola billiard dapat dilihat pada flowchart Gambar 3.
dapat ditentukan dengan:
v0 x  v0 cos 
(1)
v0 y  v0 sin 
Dengan menggunakan hukum kekekalan
momentum linear diperoleh persamaan [2]:
m1v 1  m 2 v 2  m1v '1  m 2 v ' 2
v 2  v '2  0
m1v 1  m1v '1 (2).
v 1  v '1
v 0 v
Kecepatan akhir (v) pada persamaan (2)
kemudian diproyeksikan kembali menjadi v x dan
vy. Dengan menggunakan persamaan gerak
lurus beraturan dapat ditentukan jarak yang
ditempuh bola billiard, yaitu:
x= x0 + v x t
(3).
y = y0 + v y t
Tahap kedua yang dilakukan adalah
mendesain tampilan media dengan
menggunakan icon CommandButton dan
Textbox pada menu Developer yang terdapat
pada toolbar Excel. CommandButton berfungsi
sebagai tombol untuk mengaktifkan perintah,
sedangkan Textbox digunakan untuk
memasukkan input [3]. Penggunaan grafik juga
diperlukan untuk menampilkan lintasan gerak
bola pada meja. Tampilan media dapat dilihat
pada Gambar 2. Gambar 3. Flowchart simulasi
Metode analitik merupakan metode yang
paling memungkinkan karena banyaknya kondisi
yang harus di-input pada program. Input pada
program ini berupa posisi awal bola pada meja
CommandButton (x0,y0), kecepatan awal bola (v0), dan arah
kecepatan bola (teta). Sementara output
grafik program berupa nilai x dan y yang ditampilkan
melalui grafik.
Textbox

Gambar 2. Tampilan media Hasil dan diskusi

Tahap terakhir yang dilakukan adalah Hasil yang diperoleh dari simulasi adalah
memasukkan prosedur sebagai perintah untuk berupa gerakan bola biliiard melalui representasi
menggerakkan grafik yang merepresentasikan grafik yang dibuat dengan menggunakan
gerakan bola billiard pada meja. Prosedur prosedur perintah pada jendela Macro Visual
tersebut dimasukkan pada jendela Macro Visual Basic Excel. Data yang dihasilkan berupa nilai x
Basic Excel. dan y selama perhitungan berlangsung. Nilai x
dan y ini dibatasi pada rentang 0≤x≤30 dan
Simulasi tumbukan dibuat menggunakan 0≤y≤25 agar ketika menyentuh tepi meja bola
metode analitik. Simulasi analitik pada program billiard terlihat seperti mengalami pantulan.
ini dibangun dengan menggunakan Pada peristiwa pantulan inilah terdapat konsep
persamaan (3). Perhitungan dilakukan setiap tumbukan lenting sempurna. Nilai 0 dan 25
0.01 detik sebanyak t. Sementara t diatur

ISBN 978-602-19655-7-3 155


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

merupakan batas minimum dan maksimum Berdasarkan Gambar 2 dan Gambar 4,


koordinat sumbu x. Sementara itu nilai 0 dan 35 terlihat tampilan meja pada media memiliki 6
merupakan batas minimum dan maksimum lubang pada keempat titik sudut dan di tengah
koordinat sumbu y. Hasil tampilan simulasi panjang meja. Seperti permainan bola billiard
setelah dijalankan dapat dilihat pada Gambar 4 yang sebenarnya, jika bola memasuki salah satu
sedangkan data nilai x dan y dapat dilihat pada lubang ini maka bola akan menghilang. Pada
Gambar 5. simulasi hal ini ditampilkan dengan
menambahkan beberapa kondisi pada prosedur
di jendela Macro Visual Basic Excel. Tampilan
media saat bola billiard memasuki lubang dapat
dilihat pada Gambar 6.

Gambar 4. Lintasan bola billiard setelah program


dijalankan.

Gambar 6. Tampilan lintasan bola billiard saat


memasuki salah satu lubang.
Bila membandingkan Gambar 4 dan
Gambar 1, dapat kita lakukan analisis terhadap
kecepatan bola selama program dijalankan. Saat
input v0 dimasukkan akan langsung
diproyeksikan menjadi v0x dan v0y sesuai dengan
persamaan (1). Proyeksi ini kemudian diproses
dengan menggunakan persamaan (3) sehingga
menghasilkan lintasan bola billiard. Saat bola
billiard mengalami pantulan, berlaku hukum
kekekalan momentum seperti pada
persamaan (2). Dengan v1 merupakan
kecepatan bola billiard sebelum menumbuk tepi
meja dan v1’ merupakan kecepatan bola billiard
setelah menumbuk tepi meja. Jika bola billiard
digerakkan dengan arah membentuk sudut
terhadap sumbu x (kita beri nama teta), maka
bola billiard akan menumbuk tepi meja dengan
besar teta yang sama terhadap sumbu x. Begitu
pula setelah bola billiard menumbuk tepi meja.
Hal ini berarti teta akan bernilai sama.

v0y
v0
v0x

vy
v
vx

Gambar 7. Analisis kecepatan awal dan akhir


bola billiard.
Jika tumbukan yang terjadi diasumsikan
lenting sempurna dan nilai teta pada setiap
keadaan adalah sama, maka kita dapat
Gambar 5. Data nilai x dan y dalam bentuk tabel.

ISBN 978-602-19655-7-3 156


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

memperoleh solusi untuk kecepatan akhir bola Wahyu Hidayat


billiard menjadi Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
v x  v0 x  v0 cos  wahid@fi.itb.ac.id

v y   v0 y  v0 sin 
*Corresponding author
Besar v yang sama pada simulasi dapat dilihat
dari kecepatan grafik yang relatif konstan.
Lintasan yang ditampilkan pada media
dibangun oleh titik-titik yang dibentuk grafik x-y.
Banyaknya perhitungan yang dilakukan (t)
mempengaruhi grafik tersebut. Semakin sedikit
perhitungan yang dilakukan maka semakin besar
jarak antar titik pada grafik lintasan. Sehingga
dari lintasan kita dapat membedakan besar
kecepatan bola billiard. Namun perhitungan yang
dilakukan juga berpengaruh terhadap kinerja
perangkat elektronik yang digunakan dalam
memproses perintah. Hal ini berkaitan dengan
penggunaan memory pada perangkat elektronik.
Semakin banyak perhitungan maka semakin
besar memory yang digunakan. Apabila
perhitungan terlalu besar maka dapat
menyebabkan perangkat elektronik menjadi tidak
bekerja (not responding).

Kesimpulan
Simulasi yang dibuat sudah cukup mewakili
gerak tumbukan bola dalam permainan billiard.
Media animasi tumbukan ini dapat memberikan
simulasi gerak dan pantulan bola pada dinding
meja billiard sesuai dengan pengaturan
kecepatan dan posisi awal bola sehingga kita
dapat mengetahui posisi dan kecepatan berapa
agar bola dapat memasuki lubang pada meja.

Referensi
[1] Rusman, “Belajar Dan Pembelajaran
Berbasis Komputer Mengembangkan
Profesionalisme Guru Abad 21”, Alfabeta,
Jakarta, 2012.
[2] D. Haliday, R. Resnick, and J.
Walker, ”Fisika”, Erlangga, Jakarta, Eedisi
ketiga, 1985.
[3] G. Pangaribuan, “Penggunaan VBA-Excel
untuk Program Perhitungan”, Elex Media
Komputindo, Jakarta, 2005.

Sari Sami Novita*


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
sarisaminovita@gmail.com

Siti Nurul Khotimah


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
nurul@fi.itb.ac.id

ISBN 978-602-19655-7-3 157


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Studi Penggunaan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT)


Brain Scanner untuk Observasi Aktivitas Otak Manusia
Siska A. Nirmala, Nita Handayani, Siti N. Khotimah, Freddy Haryanto, Warsito P. Taruno

Abstrak

Otak merupakan organ yang berfungsi mengontrol dan mengkoordinir seluruh aktivitas tubuh
manusia. Observasi aktivitas otak dilakukan dengan melakukan pencitraan otak. Teknologi pencitraan yang
banyak digunakan untuk observasi aktivitas otak antara lain Positron Emission Tomography (PET),
Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), dan Electroencephalography (EEG). Salah satu alternatif
teknik pencitraan yang aman, non-invasive dan low cost dan sedang dikembangkan saat ini adalah
Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Teknik pencitraan ini dapat mencitrakan objek secara
volumetrik (3D) dengan menggunakan sensor kapasitansi. Prinsip dasar ECVT adalah rekonstruksi distribusi
permitivitas dari sifat dielektrik dalam area yang ditinjau dengan memberikan medan listrik luar. Jika area
yang ditinjau adalah otak maka digunakan ECVT brain scanner yang telah berhasil digunakan untuk
mencitra aktivitas otak untuk respon motorik, visual, dan audio, serta deteksi abnormalitas otak seperti tumor
dan epilepsi. Distribusi permitivitas dari area yang ditinjau ini berdasarkan pada nilai kapasitansi pasangan
elektroda yang terletak pada sensor yang berbentuk helm. Algoritma yang digunakan untuk merekonstruksi
citra ECVT antara lain Linear Back Projection, Iterative Linear Back Projection (ILBP), dan Neural Network
Multicriterion Optimization Technique (NN-MOIRT). ECVT terdiri dari tiga perangkat utama, yaitu sensor
berbentuk helm, sistem akuisisi data, dan perangkat komputer. Tahap-tahap pengambilan data
menggunakan ECVT meliputi set up dan kalibrasi sensor, pengukuran pada kondisi baseline dan kondisi
dengan stimulus dan task (proses scanning) , dan rekonstruksi citra.
Kata kunci : ECVT, aktivitas otak, ECVT brain scanner

sedang dikembangkan adalah Electrical


Pendahuluan Capacitance Volume Tomography (ECVT), yang
Beberapa dekade terakhir, pencitraan merupakan pengembangan dari Electrical
aktivitas otak merupakan topik penelitian di Capacitance Tomography (ECT). Prinsip dasar
bidang neuroscience yang cukup banyak ECVT adalah rekonstruksi distribusi permitivitas
dilakukan. Terdapat cukup banyak teknik dalam area yang ditinjau. Distribusi permitivitas
pencitraan otak yang tengah berkembang saat ini berdasarkan pada nilai kapasitansi pasangan
ini. Beberapa diantaranya adalah Positron elektroda yang terletak pada sensor [5]. ECVT
Emission Tomography (PET), functional mampu mencitrakan tubuh manusia karena di
Magnetic Resonance Imaging (fMRI), dan dalam tubuh manusia terdapat sel-sel konduktif
Electroencephalography (EEG). Observasi (neuron) yang berfungsi untuk mengirimkan
aktivitas otak yang pernah dilakukan antara lain : informasi. Potensial yang muncul akibat aktivitas
studi fMRI tentang hubungan metabolisme otak otak akan memberikan pengaruh pada nilai
dan proses kognisi [1], aktivitas otak terhadap permitivitas di sekitar bagian yang aktif tersebut
respon audio menggunakan fMRI [2], observasi sehingga dapat dicitrakan dengan ECVT [4].
aktivitas otak manusia dan perilaku motorik Selanjutnya, ECVT untuk pencitraan otak
menggunakan EEG [3]. Setiap teknik pencitraan disebut ECVT brain scanner. Penulisan makalah
memiliki keunggulan dan kelebihan masing- ini bertujuan untuk mengkaji konsep dasar yang
masing. Citra EEG memiliki resolusi temporal digunakan dalam ECVT untuk brain scanner
yang baik namun resolusi spasial yang kurang pada pencitraan aktivitas otak dengan berbagai
baik. Citra fMRI dan PET memiliki resolusi stimulus. Kajian aktivitas otak yang ditinjau
spasial yang tinggi namun resolusi temporal antara lain ketika diberi respon visual, motorik,
yang kurang baik [4]. Penggabungan dua audio, bahasa, serta abnormalitas otak pada
modalitas pun dilakukan seperti fMRI-EEG untuk epilepsi dan tumor otak.
menghasilkan citra yang lebih berkualitas.
Kendala dalam menggunakan penggabungan Dasar Teori
dua modalitas ini adalah ketidakcocokan pada Sistem Saraf dan Otak Manusia
sinyal yang dihasilkan masing-masing modalitas Pada proses penginderaan dan respon,
Salah satu alternatif teknik pencitraan otak berperan sebagai penerima dan pengolah
yang aman, non-invasive, dan murah yang informasi. Pengantar informasi dari organ ke

ISBN 978-602-19655-7-3 158


otak dan sebaliknya, adalah jaringan saraf. Sel 1
saraf disebut juga neuron, terdiri dari badan Ci  
Vi   ( x, y, z ) ( x, y, z )dA , (2)
neuron, dendrit, dan akson. Badan neuron Ai
berfungsi sebagai pusat kontrol aktivitas dalam
saraf. Dendrit berfungsi menerima informasi
dengan Vi adalah perbedaan tegangan antara
yang datang dari neuron lainnya. Akson pasangan elektroda dan Ai merupakan area
merupakan suatu serabut panjang yang
berfungsi menghantarkan informasi ke neuron permukaan yang menutupi elektroda detektor.
lainnya. Sebagian akson diselimuti oleh Terlihat bahwa hubungan distribusi permitivitas
sejumlah lapisan myelin yang terbentuk dari sel dengan kapasitansi terukur Ci tidak linear. Untuk
schwann. Sel schwann berfungsi untuk menyelesaikan persamaan (2), digunakan teknik
melindungi sinyal listrik sepanjang neuron. linearisasi dengan menggunakan model
Ruang antara lapisan myelin disebut nodus
sensitivitas. Bentuk linear dan diskrit dari forward
Ranvier. Nodus Ranvier berfungsi untuk
meningkatkan potensial aksi yang berjalan problem ini kemudian ditulis dalam persamaan
sepanjang akson. Potensial aksi merupakan (3).[5]
salah satu cara neuron dalam menyalurkan C Mx1  S MxN GNx1 , (3)
informasi dalam satu sel neuron (interseluler).
Potensial aksi terbentuk ketika datangnya dengan C adalah data kapasitansi berdimensi M
stimulus menyebabkan berpindahnya ion-ion x 1, S adalah matriks sensitivitas berdimensi M x
pada neuron. Neuron terdiri dari berbagai ion, N, dan G adalah vektor citra (distribusi
terutama Na+ dan K+. Distribusi ion-ion ini tidak permitivitas) berdimensi N x 1. N dan M secara
sama, bergantung pada kebutuhan energi berurut adalah jumlah voxel dan kombinasi
pemompaan untuk memindahkan ion Na+ keluar pasangan elektroda.
sel dan K+ ke dalam sel. Dalam keadaan Inverse problem pada ECVT adalah
istirahat, beda potensial di dalam membran sel rekonstruksi citra dari data kapasitansi, yaitu
adalah -70 mV. Pada saat potensial aksi terjadi, mencari vektor citra G. Terdapat beberapa
potensial membran mengalami depolarisasi dari algoritma rekonstruksi citra yang pernah
potensial istirahatnya berubah menjadi +40 digunakan pada ECVT brain scanner, antara lain
mV.[6]. Linear Back Projection (LBP), Iterative Linear
Bagian otak yang teraktivasi akan memiliki Back Projection (ILBP), dan Neural Network
banyak neuron yang aktif berkomunikasi. Ketika Multicriterion Optimization Image Reconstruction
bagian tersebut diukur menggunakan ECVT, Technique (NN-MOIRT). Algoritma NN-MOIRT
sinyal-sinyal listrik yang mengalir dalam neuron menghasilkan citra yang paling baik adalah [5].
akan memberikan gangguan medan listrik pada
daerah tertentu, karena itulah dengan Sistem ECVT Brain Scanner
menganggap otak sebagai dielektrik ECVT Sistem ECVT brain scanner terdiri dari
mampu memonitor aktivitas yang terjadi dalam tiga perangkat utama, seperti yang ditunjukkan
otak [7]. oleh gambar 1, yaitu (a) komputer, (b) sensor
kapasitansi berupa helm, dan (c) Data
Prinsip Dasar ECVT Acquisition System (DAS). Sensor helm terdiri
Prinsip dasar ECVT pada dasarnya sama dari elektroda-elektroda yang dipasang pada
dengan ECT, yaitu mengumpulkan data dinding sensor. Pada suatu pengukuran,
kapasitansi dari elektroda yang dipasang pada pasangan elektroda dapat berfungsi sebagai
dinding di luar vessel (forward problem) dan transmitter (elektroda sumber) dan receiver
merekonstruksi citra dari data pengukuran (elektroda penerima). Pengukuran tersebut
kapasitansi (inverse problem) [5]. Persamaan diulang hingga semua elektroda secara
Poisson untuk potensial listrik ditulis dalam bergiliran menjadi elektroda sumber maupun
persamaan (1). elektroda detektor. Dengan demikian, jumlah
kombinasi pasangan elektroda M pada sensor
dapat dinyatakan dalam persamaan (5).
. ( x, y, z ) ( x, y, z )    ( x, y, z ), (1)
dengan  ( x, y, z ) adalah distribusi permitivitas, n( n  1)
M  , (4)
 ( x, y, z ) adalah distribusi potensial dari medan 2
listrik, dan  ( x, y , z ) adalah densitas muatan. dengan n adalah jumlah elektroda.
Nilai kapasitansi yang terukur Ci dari pasangan DAS digunakan untuk mengukur sinyal
sumber dan elektroda ke-i ditentukan dengan tegangan dan mengkonversinya menjadi data
kapasitansi. DAS mengatur tegangan input dan
mengintegrasikan persamaan Poisson.
mengukur output masing-masing pasangan
elektroda. Data yang diperoleh DAS kemudian

ISBN 978-602-19655-7-3 159


diolah komputer menjadi nilai permitivitas Pada gambar 3 ditunjukkan hasil pengukuran
sebelum dipetakan berdasarkan informasi aktivitas otak terhadap respon motorik berupa
spasial yang ada menjadi citra [4]. Gambar 1. gerakan tangan secara real (Executed
Movements-EM) dan gerakan tangan secara
imajinatif (Imaging Movements-IM). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa aktivitas otak
ketika subjek diberi task membayangkan lebih
tinggi daripada subjek diberi task menggerakkan
secara nyata. Hal ini terlihat pada grafik data
kapasitansi ternormalisasi (NCP) pada gambar 3
[4] dan hasil ini juga bersesuaian dengan hasil
studi menggunakan fMRI [2].
ECVT brain scanner (a) komputer, (b) sensor
helm, dan (c) DAS [4]

Tahap Pengambilan Data

Tahapan pengambilan data menggunakan


ECVT brain scanner dirangkum seperti pada
gambar 2. Sebelum digunakan, ECVT harus
dikalibrasi terlebih dahulu untuk mengecek
kestabilan DAS. Kalibrasi sensor dilakukan pada
dua kondisi, yaitu untuk mengukur batas atas
(  air  80 ) dan batas bawah (  udara  1) .
pengukuran. Tahapan berikutnya adalah
scanning otak pada subjek penelitian (pasien).
Scanning dapat dilakukan pada dua kondisi, Gambar 3. Grafik data kapasitansi ternormalisasi
yaitu kondisi relaks (tanpa stimulus) yang (NCP) aktivitas otak terhadap respon motorik [4]
disebut juga kondisi baseline, dan kondisi Observasi aktivitas otak terhadap respon
dengan pemberian stimulus (task). Durasi waktu visual menggunakan ECVT dilakukan pada tiga
scanning diatur sesuai kebutuhan. Setelah kondisi berbeda, yaitu kondisi baseline, kondisi
mendapatkan data kapasitansi terukur, dapat ketika diberi stimulus cahaya, dan kondisi ketika
dilakukan proses rekonstruksi citra dengan diberi stimulus cahaya dan sekumpulan ilustrasi
memilih algoritma yang sesuai. (task). Rata-rata nilai tegangan sensor untuk
kondisi baseline berada di bawah kondisi
set up dan kalibrasi pemberian stimulus dan task[8].
Studi aktivitas otak terhadap respon audio
juga dilakukan menggunakan ECVT. Respon
audio yang diberikan adalah musik klasik, pop,
Pengambilan data pada kondisi dan rock, seperti terlihat pada Gambar 4(a)
(proses scanning): bahwa nilai NCP ketika mendengarkan musik
1. baseline (tanpa stimulus) rock lebih tinggi daripada ketika mendengarkan
2. pemberian task dan stimulus musik lainnya. Sedangkan Gambar 4(b)
menunjukkan nilai NCP untuk otak kanan lebih
tinggi dari pada otak kiri. Hal ini menunjukkan
bahwa mendengarkan musik merupakan
Rekonstruksi citra
aktivitas otak kanan [8]
ECVT
Berikutnya, untuk observasi aktivitas otak
terhadap respon bahasa dilakukan dengan
memberikan task membaca buku selama 10
Gambar 2. Diagram alir tahap pengambilan data
ECVT Brain Scanner menit. Hasil penelitian menunjukkan terdapat
beberapa bagian otak yang aktif selama task
diberikan. Hal ini dikarenakan membaca
Diskusi
melibatkan respon neuronal yang kompleks
Observasi aktivitas yang telah dilakukan pada otak. [9]
menggunakan ECVT brain scanner antara lain Selain aktivitas otak pada berbagai respon
aktivitas otak terhadap respon audio [8], visual neuronal, ECVT brain scanner juga mampu
[7], motorik [4], dan Bahasa [9] serta mencitrakan abnormalitas otak, seperti epilepsi
abnormalitas otak pada pasien epilepsi [10] dan [10] dan tumor otak [11]. Hasil citra ECVT
tumor [11]

ISBN 978-602-19655-7-3 160


[2] Lotzel, M., et al., “fMRI of Cerebral Activation
During Imagined Hand Movements”,
Experimental Brain Research, Vol.117, Springer,
1997, p. 53
[3] S,Makeig.,et al., “Linking Brain, Mind, and
Behavior”, International Journal of
Psychophysiology (submitted Aug 10, 2008)
[4] W.P.Taruno, M.F.Ihsan, M.R.Baidillah, et al.,
“Electrical Capacitance Volume Tomography for
Human Brain Motion Activity Observation”,
Middle East Conference on Biomedical
bersesuaian dengan hasil citra MRI seperti yang Engineering (MECBME), February 17-20, 2014,
ditunjukkan pada Gambar 5. p. 147-150
Gambar 4. (a) Diagram batang nilai NCP untuk [5] W.P.Taruno, Q.Marashdeh, L.S.Fan. “Electrical
Capacitance Volume Tomography (ECVT)”,
musik klasik, pop, dan rock (b) Diagram batang IEEE Sensors Journal, 2007, p. 525–535
nilai NCP untuk belahan otak kiri dan otak kanan [6] Reece, J. et al., “Campbell Biology 9th ed”.,
[8] Benjamin Cummings, 2011
[7] M. Mahdi, “Observasi Aktivias Visual Otak
Manusia dengan Electrical Capacitance Volume
Tomography”, Tugas akhir pada Institut
Teknologi Bandung, 2013, (tidak diterbitkan)
[8] N. Handayani, et al., “Progress Report on Studies
of Human Brain Activity Using Electrical
Capacitance Volume Tomography (ECVT) Brain
Scanner” presented at: 14th Asia-Oceanic
Congress of Medical Physics & 12th South East
Asia Congress of Medical Physics
(AOCMP/SEACOMP 2014), November 2014
Gambar 5. Citra ECVT (kanan) dibandingkan [9] W.P.Taruno, et al., “4D Brain Activity Scanner
dengan citra MRI (kiri) pada kasus Using Electrical Capacitance Volume
epyndimoma[11] Tomography (ECVT)” IEEE 10th International
Symposium on Biomedical Imaging : From nano
Berdasarkan penelitian yang telah
to macro, San Francisco, April 7-11, 2014, p.
dilakukan, ECVT brain scanner telah mampu 1006-1009
mencitrakan berbagai aktivitas otak. Bagian otak [10] M. Arif, “Studi Distribusi Permitivitas Pada Citra
yang aktif akan memiliki banyak neuron yang ECVT Otak Pasien Epilepsi”, Tesis pada
aktif berkomunikasi, sehingga menghasilkan Universitas Indonesia, 2013, (tidak diterbitkan)
sinyal listrik yang tinggi. Sinyal-sinyal listrik [11] W.P.Taruno, M.R.Baidillah, et al., “Brain Tumor
dalam neuron ini memberikan gangguan medan Detection using Electrical Capacitance Volume
listrik luar dari piranti ECVT dan merubah nilai Tomography (ECVT)”, 6th annual International
distribusi permitivitas dari otak. Dengan IEEE EMBS Conference on Neural Engineering,
6-8 November 2013, p.743-746
menganggap otak sebagai dielektrik, ECVT
mampu mencitra aktivitas yang terjadi dalam
otak[4]. Siska Ayu Nirmala*
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Kesimpulan Institut Teknologi Bandung
ECVT brain scanner merupakan salah satu nirmala.siskaayu@gmail.com
teknologi neuroimaging terbaru yang sedang
dikembangkan untuk mengobservasi aktivitas Nita Handayani
otak dan mendeteksi abnormalitas otak. Aktivitas Nuclear Physics and Biophysis Research Division
otak yang pernah dicitra menggunakan ECVT Institut Teknologi Bandung
brain scanner antara lain aktivitas otak terhadap
respon motorik, visual, audio, bahasa, serta Siti Nurul Khotimah
abnormalitas otak pada pasien epilepsi dan Nuclear Physics and Biophysis Research Division
tumor otak. Hasil citranyapun menunjukkan Institut Teknologi Bandung
kesesuaian dengan hasil pencitraan dengan
modalitas lainnya, seperti MRI. Freddy Haryanto
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
Referensi
[1] Rizzolatti, et al., “Motor and Cognitive Functions Warsito Purwo Taruno
of The Ventral Premotorcortex”, Curr. Opin. Ctech Labs, PT Edwar Technology, Tangerang
Neurobiol. 12, 2002, p.149-154

ISBN 978-602-19655-7-3 161


Investigasi Derajad Porositas dari Lapisan Mesoporos ZnO dengan
Doping Al (AZO) pada Berbagai Kadar Dopan melalui Metoda
Pengukuran Resonansi Plasmon Permukaan
Siti Chalimah, Herman, Yono Hadi Pramono, Rahmat Hidayat

E-mail: chalim@physics.its.ac.id

Abstrak
Resonansi Plasmon Permukaan (Surface Plasmon Resonance), yang sering disingkat sebagai SPR, sangat
sensitif terhadap variasi permitivitas dari lapisan dielektriknya. Dalam makalah ini, kami melaporkan hasil
kajian untuk melihat apakah efek SPR tersebut dapat digunakan untuk membedakan derajad porositas dari
lapisan ZnO terdoping Al (AZO). Telah dilaporkan sebelumnya bahwa nano-morfologi dari lapisan AZO
sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dopan Al-nya. Lapisan AZO dibuat dari larutan prekursornya dengan
menggunakan spin coating, yang kemudian diberi perlakuan termal sampai suhu 500ºC. Kadar variasi dopan
Al dari sampel yang dibuat adalah 0, 0.5, 3 dan 5 wt%. Pengukuran spektrum SPR dari sampel tersebut
dilakukan dengan menggunakan sistem pengukuran SPR dengan elemen pengkopel berupa prisma. Hasil
pengukuran menunjukkan dip spektrum SPR atau kondisi resonansi yang bergantung pada variasi kadar
dopan Al-nya. Semakin besar kadar dopan Al, resonansi SPR-nya terjadi pada panjang gelombang yang
lebih kecil. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan semakin besar kadar dopan Al maka indeks bias
lapisan AZO menjadi semakin kecil, sebagai akibat membesarnya derajad porositas lapisan.

Kata kunci : AZO, ZnO, Resonansi Plasmon Permukaaan, Surface Plasmon Resonance (SPR)

dengan doping Al (AZO). Telah diketahui


Pendahuluan
sebelumnya bahwa lapisan AZO yang dibuat
Resonansi Plasmon Permukaaan (Surface dengan metoda sol-gel terbentuk dari partikel-
Plasmon Resonance), yang sering disingkat partikel berukuran nano yang saling bertumpuk,
sebagai SPR, merupakan fenomena gelombang dengan kehadiran rongga kosong di antaranya.
evanesen yang terjadi pada bidang batas Ukuran partikel tersebut sangat bergantung pada
dielektrik dan lapisan logam yang sangat tipis. kadar dopan, yang terjadi secara tidak langsung
Fenomena SPR pertama kali ditemukan oleh dengan mempengaruhi laju pertumbuhan
Wood tahun 1902 yang menemukan anomali partikel, menghasilkan nano-morfologi yang
ketika cahaya terpolarisasi dijatuhkan ke berbeda pada kadar dopan yang berbeda [3].
permukaan logam dengan struktur periodik Dalam penelitian ini kami menemukan bahwa dip
(grating) [1,2]. Meskipun fenomena tersebut spektrum SPR muncul pada panjang gelombang
telah dikenal sejak lama, pemanfaatan SPR baru yang berbeda bergantung pada kadar dopan Al
dikaji secara intensif dalam dua dasawarsa dalam lapisan AZO yang diukur, yang kemudian
terakhir terkait dengan berkembangnya bidang kami coba pahami dengan mengkaitkannya
interdisiplin nano-teknologi dan bio-teknologi. pada perbedaan tetapan indeks bias akibat
perbedaan derajad porositas. Untuk memastikan
Dalam bidang bio-teknologi, misalnya, kerap hal tersebut, kami membandingkan hasil
diperlukan perangkat yang mampu mendeteksi
eksperimen dengan perhitungan teoretiknya.
dan menentukan material-material dalam jumlah
yang sangat kecil. Peristiwa SPR menghasilkan
Teori Dasar
gelombang evanesen yang memiliki medan
listrik cahaya yang sangat kuat, sehingga dapat SPR adalah osilasi terkopel plasmon dan
menghasilkan efek serapan atau flourosensi gelombang elektromagnetik mode TM pada
yang sangat besar pada voluma yang sangat permukaan bidang batas antara dielektrik dan
kecil. lapisan logam yang sangat tipis, yang
menghasilkan gelombang evanesen dengan
Dalam makalah ini, kami melaporkan hasil
medan listrik yang sangat kuat. Hubungan kurva
penelitian kami yang mencoba menggunakan
dispersi, seperti diilustrasikan dalam Gambar 1,
efek SPR untuk mengkaji derajad porositas dari
menggambarkan bahwa gelombang SPR tidak
lapisan mesoporos oksida logam, seperti ZnO
bisa terbentuk dalam jika cahaya datang dalam

ISBN 978-602-19655-7-3 162


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

modus penjalaran gelombang bebas.


Pembangkitan atau eksitasi gelomabang SPR
harus dilakukan dengan bantuan elemen
pengkopel SPR seperti prisma atau grating.

ω
Pada metode pengkopel prisma, ada dua
konfigurasi yang digunakan, yaitu konfigurasi
Kretschmann dan konfigurasi Otto. Pada
konfigurasi Kretschmann, lapisan metal berada
di antara lapisan dielektrik dan prisma,
sedangkan pada konfigurasi Otto lapisan
dielektrik berada di antara lapisan metal dan kx
prisma. Dalam kedua konfigurasi tersebut, besar
dan posisi dip SPR sangat dipengaruhi oleh (b)
ketebalan lapisan dielektrik yang akan diukur itu. Gambar 1. (a) Konfigurasi Kretschmann [4]
Sementara efek ketebalan lapisan metal telah (b) Kurva dispersi dan kondisi resonansi yang
banyak dikaji, dimana ketebalan optimumnya bisa terjadi.
adalah sekitar 50 nm untuk lapisan emas. [4]
Efek lapisan dielektrik masih belum banyak dikaji
karena sering diasumsikan bahwa ketebalan
lapisan dielektrik tersebut lebih besar dari jarak Metodologi eksperimen
kedalaman gelombang Plasmon yang terbentuk. Lapisan emas dengan ketebalan 50 nm
Dari penyelesaian persamaan Maxwell dibuat dengan metode sputtering. Preparasi
didapatkan kondisi resonansi SPR, yakni: lapisan AZO dilakukan dengan metode sol-gel.
[3] Zinc acetate dihydrate ((Zn (CH3CO2)2).2H2O)
kx = ksp (1) 0.25 M dilarutkan dalam 2-Methoxyethanol
𝜔 dengan diethanolamine (DEA), sebagai larutan
dimana kx =
𝑐
√𝜀𝑝 sinθ3 (2)
prekursor. Larutan stok AlCl3 ditambahkan pada
𝜔 𝜀𝑚 𝜀𝑑 larutan prekursor tersebut dan diaduk dengan
dan ksp = √𝜀 (3) menggunakan magnetic stirrer selama 24 jam.
𝑐 𝑚 +𝜀𝑑

Alumunium-doped ZnO dengan variasi dopan


dengan m dan d masing-masing adalah 0, 0.5, 3, dan 5 wt% dideposisikan di atas
permitivitas lapisan metal dan permitivitas lapisan emas dengan kecepatan spin-coating
lapisan dielektriknya. Model semi-klasik untuk 500 rpm selama 30 detik. Lapisan tersebut
permitivitas diberikan oleh model Drude-Lorentz kemudian diberi perlakuan panas secara
dengan persamaan sebagai berikut: bertahap, yakni pada suhu 100ºC, 285ºC dan
500ºC.
𝜀𝑟 = 𝜀𝑟 (𝑓) (𝜔) + 𝜀𝑟 (𝑏) (𝜔) (4)
Pengukuran SPR dilakukan dengan set-up
𝜀𝑟 (𝑓) (𝜔) berasal dari elektron bebas dengan pengukuran SPR seperti dijelaskan dalam ref. 4
dan 5.
Ω𝑝 2
𝜀𝑟 (𝑓) (𝜔) = 1 − (5)
𝜔(𝜔−𝑖Γ0 )
Hasil dan Pembahasan
dimana Ω𝑝 = √𝑓0 𝜔𝑝 adalah frekuensi plasma Gambar 2(a) menunjukkan spektrum SPR dari
lapisan tipis emas dan Gambar 2(b)
yang terkait dengan transisi intraband, kekuatan
menunjukkan spektrum SPR dari lapisan emas
osilator (f0) dan konstanta redaman (Γ0).
yang dilapisi AZO 3 wt%. Dari hasil spektrum
𝜀𝑟 (𝑏) (𝜔) berasal dari elektron terikat dengan terlihat perbedaan dip resonansi pada berbagai
𝑓𝑗 𝜔𝑝 2 sudut datang, sesuai dengan kondisi resonansi
𝜀𝑟 (𝑏) (𝜔) = ∑𝑘𝑗=1 (6)
(𝜔𝑗 −𝜔2 )+𝑖𝜔Γ𝑗
2 yang diberikan opelh pers.(1). Posisi dip
bergeser ke panjang gelombang lebih pendek
dengan membesarnya sudut. Akan tetapi,
spektrum dalam Gambar 2(b) muncul pada
rentang panjang gelombang lebih besar. Hal
tersebut terjadi karena perbedaan permitivitas
dari lapisan udara dan permitivitas efektif dari
lapisan AZO, yang membentuk lapisan dielektrik
dalam konfigurasi Kretschmann seperti dalam
Gambar 1(a). Pada sudut datang tertentu,
(a) semakin besar permitivitas lapisan dielektriknya,

ISBN 978-602-19655-7-3 163


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

maka dip SPR akan muncul pada panjang Untuk memahami karakteristik pergeseran
gelombang yang lebih besar. Data perbedaan dip SPR ini, dari data spektrum SPR dibuatlah
dip resonansi spektrum diatas ditabulasikan kurva dispersi SPR seperti dalam Gambar 4.(a).
dalam Tabel I. Gambar tersebut menunjukkan perbedaan kurva
dispersi dari masing-masing sampel dengan
Data spektrum AZO 0, 0,5 dan 5 wt%
kadar dopan Alumunium yang berbeda. Masing-
menunjukkan sedikit perbedaan seperti
masing kurva dispersi tersebut ternyata dapat
ditunjukkan oleh Gambar 3. Data eksperimen
dicocokkan dengan kurva dispersi hasil
menunjukkan, pada sudut datang tertentu,
perhitungan teoritik yang diberikan oleh
semakin tinggi kadar dopan Alumunium, dip
persamaan (3), seperti yang terlihat dalam
resonansi semakin bergeser ke panjang
Gambar 4.(b). Dalam hal ini kita menganggap
gelombang yang lebih kecil.
bahwa permitivitas relatif (atau indeks bias
n=√𝜀𝑟 ) dari sampel-sampel tersebut tidak terlalu
120 berubah terhadap panjang gelombang pada
rentang pengukuran yang dilakukan, yaitu pada
100 rentang 400-800 nm. Kurva dispersi tersebut
menunjukkan bahwa permitivitas lapisan AZO
80 sedikit mengecil dengan meningkatnya kadar
reflectance

dopan Alumunium, seperti ditunjukkan oleh


60 45
o

o
Gambar 5. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa
48 karena lapisan yang terbentuk sangat tipis maka
40 52
o

o
overlapping antara lapisan dan gelombang SPR
55
20 o yang terbentuk sangatlah kecil, seperti
58
62
o diilustrasikan oleh inset dari Gambar 5. Oleh
0 karena itu, indeks bias efektif dari lapisan
400 500 600 700 800 900 1000 tersebut akan lebih kecil dari indeks bias AZO
wavelength (nm) yang sesungguhnya.
(a)
120

120 100
reflectance (%)

100 80

80 60
reflectance

emas
40 ZnO
60 45
o
AZO 0.5 wt%
48
o AZO 3 wt%
20
40 52
o AZO 5 wt %
o
55 0
20 58
o
400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900
62
o wavelength (nm)
0
400 500 600 700 800 900 1000 Gambar 3. Perbedaan dip SPR masing-masing
wavelength (nm) sampel pada sudut datang 52º.
(b) 15
4.0x10

Gambar 2. (a) Spektrum SPR dari


gelas/metal/uadara, dan (b) Spektrum SPR dari 3.5x10
15

gelas/metal/AZO (3 wt%).
15
Tabel I. Dip spektrum SPR pada Gambar 2(a) 3.0x10

dan (b). Air


15 AZO 0%
2.5x10
sudut metal/udara metal/AZO AZO 0.5%
AZO 5%
datang
15
45 596 784 2.0x10
6 7 7 7
5.0x10 1.0x10 1.5x10 2.0x10
48 541 657 k
x
52 520 610
55 504 585
(a)
58 489 570
62 487 560

ISBN 978-602-19655-7-3 164


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Referensi
51
[1] Schasfoort, R.B.M, and J.Tudos, Anna
014
4
(edited by), (2008), Handbook of Surface
Plasmon Resonance, University of Twente,
ω(1015.rad.s-1)
3
d    

Enscede, The Netherlands.


[2] Homola, J, (2006), Surface Plasmon
51

Resonance Based Sensor. Springer Series


012
2

on Sensor and Biosensor n. 04. Heidelberg


GmbH and Co. K, Springer-Verlag Berlin
1

[3] Aprilia, Annisa, (2013), Kajian Pengaruh


Konsentrasi Alumunium terhadad Sifat
0

Listrik dari Lapisan Interlayer Alumunium-


0
0

7
0 1 2 3 4
011

012

013

014
Doped ZnO (AZO) pada Karakterisrtik Sel
kx (107.m-1)
Surya Hibrida, Disertasi, Jurusan Fisika
)  (s irpk

FMIPA ITB.
)  ( psk

(b)
[4] Hendro, (2014), Kajian Efek Serapan Optik
dk

Gambar 4.(a) Kurva dispersi hasil pengukuran, Gelombang Evanescent Dalam Sistem
dan (b) Kurva dispersi untuk lapisan AZO 0.5 Spektroskopi SPR, Disertasi, Jurusan
wt% dan kurva dispersi hasil perhitungan Fisika FMIPA ITB.
teoretiknya. [5] Irmansyah, Ryan (2010), Kajian Sistem
Pengukuran Berbasis Surface Plasmon
Kesimpulan Resonance dan Pengembangannya untuk
Alat Ukur Indeks Bias Portable, Tugas
Hasil pengukuran SPR menunjukkan variasi
Akhir, Jurusan Fisika FMIPA, ITB,
karakteristik spektrum SPR dari lapisan AZO
bergantung pada kadar dopan Alumuniumnya. Bandung.
Variasi tersebut terkait dengan variasi indeks
bias efektif lapisan yang berubah terhadap kadar
dopan. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa Siti Chalimah*
semakin tinggi kadar dopannya maka derajad Laboratorium Optoelektronika dan
porositas AZO semakin besar, sehingga indeks Elektromagnetik Terapan, Jurusan Fisika,
bias efektifnya semakin mengecil. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam,
Ucapan terima kasih Institut Teknologi Sepuluh Nopember
chalim@physics.its.ac.id
Penelitian ini didukung oleh Program Riset dan
Herman
Inovasi ITB 2014.
Kelompok Keahlian Fisika Magnetik dan Fotonik,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam,
1.2
Institut Teknologi Bandung
1.0
Yono Hadi Pramono
0.8 indeks bias effektif AZO Laboratorium Optoelektronika dan
Elektromagnetik Terapan, Jurusan Fisika,
neff

0.6
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
0.4
gelombang SPR Alam,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
0.2 lapisan tipis
Rahmat Hidayat
0.0 Kelompok Keahlian Fisika Magnetik dan Fotonik,
0 1 2 3 4 5
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
kadar dopan Alumunium (wt%)
Alam,
Gambar 5. Grafik indeks bias efektif terhadap Institut Teknologi Bandung
kadar dopan Alumunium (dalam wt%). rahmat@fi.itb.ac.id

* Corresponding authors

ISBN 978-602-19655-7-3 165


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pembuatan Stroboskop dengan Menggunakan LED Ultrabright Berbasis


Mikrokontroler ATmega328 untuk Menghitung Kecepatan Rotasi Benda
Sri Rahayu Alfitri Usna, Elsi Ariani, Ahmad Fauzi, Mairizwan, dan Hendro

Abstrak
Telah dilakukan penelitian mengenai pembuatan stroboskop sebagai penghitung kecepatan rotasi dari suatu
benda dengan menggunakan mikrokontroler ATmega328. Stroboskop merupakan alat pengukur kecepatan
rotasi benda yang memanfaatkan ilusi optik, dimana benda yang bergerak cepat jadi seperti bergerak lambat
atau diam. Sumber cahaya yang digunakan pada stroboskop yaitu LED ultrabright dan benda yang akan
dihitung kecepatan rotasinya adalah kipas angin. Untuk mengetahui kecepatan putar dari kipas angin maka
frekuensi kedipan LED harus sama dengan frekuensi putar kipas. Kecepatan kedipan LED diatur oleh
ATmega328 melalui potensiometer linear. Hasil dari kecepatan kedipan LED disimpan sebagai flash per
minute (fpm). Saat LED dengan kecepatan beberapa fpm disorotkan ke kipas angin dan membuat kipas
angin yang awalnya bergerak cepat jadi terlihat berhenti maka dapat disimpulkan bahwa fpm LED telah
sama dengan round per minute (rpm) kipas angin.
Kata-kata kunci: stroboskop, LED ultrabright, ATmega 328

rotasi benda yang ditutup oleh suatu wadah.


Pendahuluan Namun, terdapat kekurangan dari takometer,
Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemui yaitu pada saat pengukuran benda yang berotasi
benda yang bergerak ataupun diam. Benda harus dihentikan terlebih dahulu. Adapun yang
bergerak artinya benda mengalami perubahan mempengaruhi kinerja takometer adalah
posisi. Menurut gerakannya ada benda yang koefisian gaya gesek antar permukaan, gaya
bergerak translasi (lurus) dan ada juga yang gravitasi, dan beberapa faktor lainnya.
bergerak rotasi (berputar). Kecepatan benda Selanjutnya alat pengukur kecepatan rotasi
yang bergerak translasi dapat ditentukan dengan yang biasa digunakan adalah optokopler [3].
mudah. Sedangkan untuk benda yang bergerak Optokopler merupakan piranti elektronik yang
rotasi lambat (masih bisa dilihat oleh panca bekerja berdasarkan cahaya yang dipancarkan.
indera) kecepatannya juga dapat ditentukan Optokopler terdiri dari dua bagian, yaitu
dengan mudah. Namun, jika gerak rotasinya transmitter yang berfungsi sebagai pemancar
sangat cepat maka kecepatannya menjadi sulit cahaya dan receiver yang berfungsi menerima
untuk dihitung. atau mendeteksi kehadiran cahaya. Pada
Di sekitar kita sering dijumpai benda yang aplikasinya optokopler memiliki kemampuan
bergerak rotasi. Contohnya: kipas angin, ban yang cukup teliti dalam menentukan kecepatan
kendaraan, penggiling cabai, kincir angin dan rotasi benda karena menggunakan prinsip optik.
lainnya. Benda-benda tersebut berputar dengan Kekurangannya adalah dimensi dari optokopler
kecepatan yang tinggi. Nilai kecepatan dari yang kecil sehingga hanya bisa mengukur
benda berputar merupakan suatu parameter kecepatan rotasi dari benda yang berdiameter
yang sering dibutuhkan untuk berbagai aplikasi. kecil seperti kepingan CD. Pengukuran
Keterbatasan dari penglihatan mata manusia menggunakan optokopler dilakukan dengan
membuat kecepatan benda yang berotasi sangat menempelkan benda yang akan diukur pada
sulit untuk dihitung. Oleh karena itu, dibutuhkan optokopler tersebut. Kinerja optokopler ini
sebuah alat atau sensor yang dapat mendeteksi dipengaruhi oleh getaran yang ditimbulkan oleh
kecepatan rotasi benda. benda tersebut.

Ada beberapa alat penghitung kecepatan Alat pengukur kecepatan rotasi benda lainnya
rotasi benda yang terdapat di pasaran, misalnya yang banyak dipasarkan adalah stroboskop.
takometer. Takometer merupakan alat untuk Stroboskop yaitu alat yang memungkinkan untuk
mengukur kecepatan rotasi benda. Alat ini mengamati benda yang berotasi dengan
langsung dihubungkan dengan benda yang ingin memanfaatkan ilusi optik [4]. Ilusi optik yang
diukur [1]. Hasil pengukurannya memungkinkan dimaksud adalah membuat benda bergerak
untuk diakses secara langsung [2]. Selain itu, cepat jadi terlihat seolah-olah melambat atau
juga bisa dipakai untuk mengukur kecepatan berhenti. Stroboskop merupakan alat pengukur

ISBN 978-602-19655-7-3 166


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

kecepatan yang lebih canggih dan tidak yang masuk pada analog input untuk
memerlukan kontak langsung dengan benda menentukan kecepatan kedipan dari LED.
yang akan dihitung kecepatan rotasinya[2].
Komponen pendukung lainnya yaitu resistor,
Sehingga dalam pengukuran tidak perlu
kapasitor, transistor, dioda dan IC7805 yang
menghentikan gerak rotasi benda tersebut [5].
dapat dilihat pada skema rangkaian gambar 1.
Berdasarkan ketiga alat pengukur kecepatan Untuk benda yang akan diukur kecepatan
rotasi benda yang disebutkan di atas maka putarannya digunakan kipas angin.
dapat disimpulkan bahwa yang paling effisien
adalah stroboskop. Hal ini disebabkan dalam
pengukuran tidak memerlukan kontak langsung
dengan benda yang akan diukur dan dapat
digunakan untuk mengukur kecepatan rotasi
benda yang berbeda-beda. Akan tetapi, untuk
stroboskop yang terdapat di pasaran saat ini,
harganya cukup mahal dan ukurannya besar.
Oleh sebab itu, penulis ingin merancang sebuah
stroboskop yang ukurannya lebih kecil dengan
harga yang lebih murah dan berkualitas tidak
kalah saing dengan stroboskop yang telah ada di
pasaran.

Eksperimen
Pada penelitian ini dibuat sebuah
stroboskop untuk menghitung kecepatan rotasi
benda. Adapun syarat benda yang dapat diukur
kecepatan rotasinya adalah benda yang berotasi
3600 dengan seluruh permukaannya telihat atau
tidak dihalangi oleh benda lainnya [5]. Berikutnya
kecepatan rotasinya konstan dan memiliki
bagian tertentu yang menjadi acuan dalam
pengukuran. Misalnya pada kipas angin yang
memiliki empat daun kipas, maka ditandai satu
daun kipas sebagai patokan dari pengukuran. Gambar 1. Skematik rangkaian stroboskop
Komponen yang digunakan dalam Cara kerja dari rangkaian ini adalah tiga
pembuatan stroboskop diantaranya LED. LED buah LED disusun paralel agar cahaya yang
yang digunakan sebanyak tiga buah sebagai dihasilkan lebih terang. LED dihubungan dengan
sumber cahaya stroboskop. LED merupakan ATmega328 yang berfungsi menerjemahkan
sejenis dioda semikonduktor yang memiliki PN perintah melalui potensiometer. Saat
junction. Warna atau panjang gelombang yang potensiometer diputar maka terjadi perubahan
dipancarakan sesuai dengan selisih pita energi tegangan yang masuk pada analog input,
bahan pembentuk PN junction [6]. LED yang perubahan nilai analog input ini akan
digunakan adalah LED jenis ultrabright dengan memerintahkan ATmega328 untuk mengatur
daya 3 watt dan tegangannya berkisar antara 3,8 frekuensi LED berkedip lebih tinggi atau lebih
V hingga 4,2 V. rendah.
Komponen berikutnya yaitu mikrokontroler Pada kipas angin, salah satu daun kipas
ATmega328. ATmega328 memiliki spesifikasi ditandai sebagai acuan gerakan kipas. Misalnya
tegangan operasi 5 V dan tegangan input yang salah satu daun ditempelkan sobekan kertas
direkomendasikan antara 7-12 V. ATmega328 kecil berwarna putih. Saat kipas angin berputar
terdiri dari 19 pin output dan input digital serta 6 sangat kencang maka akan sangat sulit
pin input analog. Flash memorinya mencapai 32 mendeteksi keberadaan kertas putih tersebut
KB dan kecepatan prosesnya mencapai 16 karena permukaannya terlihat sama pada semua
MIPS dengan clock 16 MHz [7]. ATmega328 sisi. Kemudian LED ultrabright dengan frekuensi
merupakan mikrokontroler yang terdapat pada tertentu disorotkan ke arah kipas angin. Maka
arduino. Pada penelitian ini ATmega328 kipas angin akan terihat seolah-olah melambat.
digunakan untuk mengontrol perintah kecepatan Ilustrasi dari gerakan kipas angin terhadap
kedipan LED serta menampilkannnya pada cahaya dari stroboskop ini dapat dilihat pada
display (LCD Karekter). Selanjutnya yaitu gambar 2.
potensiometer linear sebagai pembagi tegangan

ISBN 978-602-19655-7-3 167


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

tiga daun kipas ditandai dengan sobekan kertas


kecil berwarna putih sebagai acuan pengukuran.
Saat kipas angin dinyalakan maka daun kipas
yang ditandai tadi sudah tidak terlihat. Ketika
LED disorot ke kipas angin, kipas angin yang
sebelumnya bergerak sangat cepat terlihat
melambat. Ini menyatakan bahwa stroboskop
Gambar 2. Ilustrasi gerak benda yang berotasi yang dibuat dari LED ultrabright ini dapat
3000 RPM yang disorot dengan stroboskop [5]. menghasilkan ilusi optik.

Untuk memudahkan pengukuran maka


digunakan potensiometer agar menghasilkan
fpm tertinggi. Saat frekuensi fpm empat kali lebih
besar dari rpm kipas maka kertas putih yang
tadinya jadi patokan pengukuran akan terlihat
sebanyak empat buah dalam pengamatan mata.
Jika fpm nya terus diperkecil maka kertas putih
akan terlihat tiga hingga dua kali dalam satu
kedipan. Saat fpm sama dengan rpm maka
kertas putih akan terlihat satu buah dalam
pengamatan. Hal ini mengindikasikan satu kali
putaran kertas sama dengan satu kali kedipan
LED sehingga kertas yang dijadikan acuan yang
bergerak sangat cepat terlihat seolah-olah
berhenti atau berada ditempat yang sama. Saat
fpm terus diperkecil maka didapatkan lagi
sebuah kertas patokan berada ditempat yang
sama. Hal ini mengindikasikan bahwa kipas
angin bergerak dua kali atau tiga kali lebih cepat
dari kedipan LED. Untuk memudahkan observasi
maka sebuah kertas acuan yang pertama dilihat
setelah dua buah kertas sebelumnya terlihat
diam diambil sebagai nilai rpm sebenarnya.
Gamabar 4. Pengujian kecepatan rotasi benda
Jadi, frekuensi yang sama antara kedipan melalui stroboskop ultrabright..
LED dengan kecepatan kipas angin bisa
diketahui dengan ilusi optik yang ditunjukkan Selanjutnya dengan mengatur potensiometer,
oleh putaran kipas angin, yaitu kipas angin yang maka tegangan yang masuk ke LED akan
awalnya bergerak cepat menjadi terlihat terbagi dari 0-5 volt (0-1023 dalam angka
melambat dan berhenti. Jika frekuensi keduanya binner). Waktu hidup LED diatur selama 1 ms
sudah sama maka dapat disimpulkan bahwa dan untuk waktu padam inilah yang ditentukan
jumlah kedipan LED permenit (flash per minute, oleh besarnya tegangan masukan yang diatur
fpm) sama dengan kecepatan putaran kipas melalui potensiometer yang diprogram oleh
angin per menit (round per minute, rpm). ATmega328. Melalui pengaturan nilai tegangan
tertentu dari flash LED, maka daun kipas yang
Hasil yang dihitung melalui ATmega328
ditandai tadi terlihat diam pada satu tempat.
kemudian ditampilkan pada LCD. LCD Sehingga kipas angin secara keseluruhan
merupakan singkatan dari liquid crystal display
terlihat seolah-olah berhenti.
yang berfungsi sebagai monitor atau layar yang
dapat digunakan untuk menampilkan data. LCD
Hasil eksperimen ini dapat digambarkan
juga diprogram melalui ATmega328. Pada LCD
melalui grafik hubungan antara analog input
ditampilkan nilai dari kecepatan putar permenit
dengan perioda flash LED yang terlihat pada
(rpm).
gambar 5. Analog input merupakan nilai
pembagi tegangan yang dihasilkan oleh
Hasil dan diskusi potensiometer sedangkan perioda flash
merupakan waktu yang dibutuhkan untuk satu
Penelitian pembuatan stroboskop dengan kali gelombang (satu kali on dan satu kali off)
menggunakan LED ultrabright berbasis kedipan cahaya LED.
mikrokontroler ATmega328 untuk menghitung
kecepatan rotasi benda telah dilakukan.
Sebelum kipas angin dinyalakan, salah satu dari

ISBN 978-602-19655-7-3 168


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Ucapan terima kasih

Penelitian ini merupakan tugas akhir RBL


(Research Based Learning) pada mata kuliah
Sistem Instrumentasi Fisika (SIF) untuk Magister
Fisika ITB. Kami ucapkan terima kasih kepada
bapak Dr. Hendro, selaku dosen mata kuliah
SIF.

Referensi
[1] A.S. Moris, “Measurements and
Instrumentation principles 3rd Edition”
Butterworth-Heinemann, 2001.
[2] UNEP, "Pedoman Efisiensi Energi untuk
Gambar 5. Grafik hubungan tegangan Ao (volt)
Industri Asia",
dengan perioda (s)
www.energyefficiencyasia.org, 2006.
[3] Optocoupler
Gambar 5 menunjukkan hubungan linear
[4] F.V. Veen, “Hand Book of Stroboscopy”
antara analog input dengan perioda flash LED.
GenRad, 1977.
Dari grafik ditunjukkan bahwa perubahan
[5] Monarch Instrument 15 Columbiadrive
perioda flash bergantung pada nilai yang masuk
Amherst, NH 03031 USA,
pada tegangan input. Jika tegangan yang masuk
www.monarchinstrument.com, 2000
pada analog input sangat kecil atau mendekati
[6] J.H. Saputro, dkk., Analisa Penggunaan
nol maka perioda flash juga akan sangat kecil,
Lampu Led Pada Penerangan dalam
sehingga LED hidup dalam keadaan normal.
Rumah, Jurusan Teknik Elektro, Universitas
Jika nilai tegangan input dinaikkan maka perioda
Diponegoro, Semarang , Jurnal
flash juga ikut naik atau membesar sehingga
TRANSMISI, 15, (1), 2013, 20.
terjadilah perubahan kecepatan flash per menit
[7] Atmel Corporation. All rights reserved. /
(fpm) LED.
Rev.: 8271G–AVR–02/2013
Berdasarkan pengujian stroboskop
Sri rahayu alfitri usna*
terhadap kipas angin, pada tegangan Ao tertentu Kelompok keahlian Fisika Magnetik dan Fotonik
kipas angin yang awalnya berputar sangat cepat Institut Teknologi Bandung
terlihat seolah-olah berhenti (diam). Ketika srirahayu.alfitriusna@gmail.com
peristiwa ini terjadi, LCD menunjukkan nilai
kecepatan kipas anginnya mendekati 1363 rpm. Elsi Ariani
Dimana kecepatan kipas angin saat itu sama Kelompok keahlian Fisika bumi dan sistem kompleks
dengan kecepatan flash LED. Institut Teknologi Bandung
elsi.ariani@gmail.com
Kesimpulan
Ahmad Fauzi
Stroboskop sebagai alat penghitung Kelompok keahlian Fisika Material Elektronik
kecepatan objek berputar dengan sumber Institut Teknologi Bandung
cahaya LED ultrabright berbasis mikrokontroler Fwzy89@gmail.com
Atmega328 telah berhasil dibuat. Dari percobaan
yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa jika Mairizwan
frekuensi kedipan LED sama dengan frekuensi Kelompok keahlian Fisika instrumentasi dan Teoritik
putaran kipas angin, maka kipas angin yang Energi Tinggi
bergerak sangat cepat terlihat melambat dan Institut Teknologi Bandung
diam. Jika situasi ini terjadi maka dapat Mairizwan01@gmail.com
disimpulkan kecepatan kedipan LED sama
Hendro
dengan kecepatan putaran kipas angin. Dari Kelompok keahlian Fisika instrumentasi dan Teoritik
komponen-komponen penyusunnya maka dapat Energi Tinggi
dihasilkan stroboskop yang ukurannya lebih Institut Teknologi Bandung
kecil. Jika ditinjau dari biaya pembuatannya hendro@fi.itb.ac.id
maka dapat digolongkan cukup murah dibanding
dengan stroboskop yang ada dipasaran. *Corresponding author
Stroboskop dapat bekerja dengan baik dalam
menentukan kecepatan putar benda.

ISBN 978-602-19655-7-3 169


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengenalan Metode Gravitasi dalam Eksplorasi Panasbumi kepada


Siswa – Siswa di SMA Negri 2 Nubatukan Kabupaten Lembata, Nusa
Tenggara Timur
Suka P. Pandia, Alamta Singarimbun, Wahyu Srigutomo, Claudia M. Maing, Cristi Ascika Sekeon

Email: suka.pandia@gmail.com

Abstrak
Banyak siswa yang menganggap fisika adalah pelajaran yang rumit serta tidak menarik. Oleh karena itu
banyak siswa – siswa SMA yang tidak tertarik meneruskan pendidikan di bidang fisika. Padahal fisika itu
sendiri adalah ilmu yang sangat berperan dalam perkembangan teknologi dan prinsip – prinsip fisika banyak
digunakan dalam bidang – bidang lain seperti teknik dan eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk
memberikan wawasan bagi siswa – siswa di SMA mengenai penerapan ilmu fisika dalam eksplorasi. Metode
yang dipakai adalah metode gravitasi. Metode gravitasi didasarkan atas hukum gravitasi Newton yaitu gaya
tarik antara benda bermassa. Secara sederhana dapat disampaikan bahwa apabila suatu benda memiliki
kerapatan massa yang berbeda dengan daerah di sekitarnya, maka akan terjadi anomali gravitasi pada
daerah tersebut. Seminar tersebut akan dilakukan di SMA Negri 2 Nubatukan Kabupaten Lembata. Tujuan
setelah dilakukan seminar adalah meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran fisika.
Kata-kata kunci: Anomali gravitasi, eksplorasi, gravitasi Newton

Pendahuluan Teori

Daerah Lembata memiliki 3 gunung api aktif, Tujuan utama mempelajari secara
gunung-gunung api tersebut antara lain mendetail data gravitasi adalah untuk
Gunungapi Ilebatubara, Gunungapi Ile Werung menyediakan pemahaman yang lebih baik
dan Gunungapi Lewotolo. Gunung-gunung ini mengenai lapisan kerak bumi. Metode gravitasi
berpotensi menghasilkan bahan galian, misalnya relatif murah, non-invasive, metode yang tidak
emas di kecamatan Lebatukan, Buyasari, merusak dan yang telah diuji pada permukaan
Omesuri dan Atadei serta belerang di kecamatan bulan. Tujuan eksplorasi adalah
Ile Ape. Selain daerah-daerah ini, adapun untuk mengaitkan variasi dengan perbedaan
potensi dari kabupaten Lembata yag saat ini dalam distribusi kerapatan dan jenis
sedang dikembangkan oleh pemeritah daerah, batuan. Kunci keberhasilan metode gravitasi
yakni panas bumi. Selain itu terdapat pula bergantung pada perbedaan kerapatan massa
daerah yang memiliki potensi panas bumi di benda-benda yang menghasilkan perbedaan
daerah Atadei, yakni di desa Atakore. Pada pada medan gravitasi. 1
daerah ini terdapat sumber Gas Alam Karun
Watuwawer, dimana muncul uap-uap panas dari Beberapa penjelasan dapat dilihat pada
dalam tanah. Kondisi ini membuat masyarakat gambar di bawah ini
sekitar menggunakannya sebagai dapur alam.
Metode gravitasi adalah salah satu metode
yang menggunakan prinsip gaya tarik massa.
Massa suatu benda sangat erat kaitannya
dengan kerapatan massa dan volume benda
tersebut. Pada prinsipnya, apabila suatu daerah
di bawah permukaan tanah memiliki kerapatan
yang berbeda dengan daerah di sekitarnya,
maka nilai percepatan gravitasi yang terukur pun
akan berbeda. Metode ini juga pasif, artinya Gambar 1. Benda yang berada di bawah
tidak ada energi yang diberikan pada tanah permukaan tanah.
dalam pengambilan data.

ISBN 978-602-19655-7-3 170


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Hasil Pengukuran yang akan diperoleh ketika Koreksi – koreksi pada metode gravitasi
diletakkan gravimeter dapat dilihat pada gambar
Gravitimeter tidak langsung memberikan nilai
di bawah ini
gravitasi. Pembacaan alat harus dikalikan
dengan faktor kalibrasi alat untuk menghasilkan
nilai gravitasi pengamatan (gobs). Sebelum hasil
survei dapat diinterpretasikan dalam geologi,
data gravitasi harus dikoreksi dengan data-data
umum, misalnya permukaan laut (geoid),
tujuan untuk menghilangkan efek tersebut
hanyalah ketertarikan pada bidang deologi
secara tidak langsung. Proses koreksi dikenal
sebagai reduksi data gravitasi atau reduksi ke
geoid. Perbedaan antara gobs dengan hasil dari
International Gravity Formula/Geodetic
Reference System 67 untuk lokasi yang sama,
atau relatif terhadap stasion base local (misalnya
yang di geologi), disebut dengan anomali
gravitasi. Berbagai koreksi yang diterapkan
pada metode ini adalah instrumental drift,
earth tides, eotvos, lattitude, elevation, free-air
correction, bouger correction, terrain, isostatic.
Beberapa koreksi tersebut akan dijelaskan di
Gambar 2. Percepatan
beberapa titik di atas benda
gravitasi pada
bawah ini 2
Plot Data yang akan diperoleh dari Koreksi instrumental drift
pengukuran dapat dilihat pada gambar di bawah Pembacaan gravitimeter berubah (drift)
ini terhadap waktu sebagai akibat dari elastic
creep pada pegas, menghasilkan perubahan
nilai gravitasi yang jelas terhadap stasion.
Instrumental drift dapat ditentukan dengan
mudah dengan cara mengulangi pengukuran
pada stasion yang sama pada waktu yang
berbeda dalam satu hari, umumnya setiap 1-
2 jam.
Gambar 3. Plot data nilai percepatan gravitasi Perbedaan nilai hasil pengukuran secara
berturut-turut di plot untuk menghasilkan kurva
Gravity meter (Gravimeter) drift (gambar 5)
Metode untuk penentuan gravitasi relatif
adalah keseimbangan torsi seperti pada gambar
di bawah ini

Gambar 5. Kurva drift pada gravimeter


Koreksi tides
Sama seperti air di samudra merespon
tarikan gravitasi bulan dan juga oleh matahari,
sama seperti itu juga dengan bumi yang padat.
Earth tides memberikan peningkatan dalam
Gambar 4. Skematik kesetimbangan torsi gravitasi sampai tiga g.u. dengan periode
minimum sekitar 12 jam. Pengulangan
pengukuran pada stasion yang sama
memberikan estimasi koreksi untuk pengaruh

ISBN 978-602-19655-7-3 171


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

tidal pada interval singkat, sebagai tambahan g B  g obs   koreksi  g base


penentuan instrumental drift untuk sebuah
gravimeter (gambar 6). Metode Pengolahan Data Gravitasi
Hubbert (1948) menunjukkan bahwa tarikan
gravitasi pada sebuah benda dua dimensi (2-D)
dapat diekspresikan dalam bentuk integral garis
pada garis kelilingnya. Talwani et al (1959)
mengkaji kasus pada sebuah poligon dengan
jumlah sisi n dan membagi – bagi ke dalam
integral garis, masing-masing berkaitan dengan
sisi poligon tersebut.

Gambar 6. Penentuan instrumental drift


pada gravimeter

Koreksi terrain
Pengaruh topography pada g
diilustrasikan pada Gambar 7.

Gambar 8. Konvensi geometri digunakan


dalam ekspresi untuk komponen x dan
komponen y dari percepatan gravitasi pada titik
origin yang diakibatkan oleh sebuah poligon
dengan kerapatan  .

Hasil dan diskusi


Penelitian ini dilakukan terhadap 35 orang
siswa. Di awal penjelasan, diberikan beberapa
pertanyaan untuk mengetahui bagaimana
pendapat siswa terhadap mata pelajaran fisika.
Setelah setiap siswa memberikan jawaban,
terlihat bahwa sebagian besar siswa – siswa
SMA tidak menyenangi fisika. Selain itu juga
95% siswa tidak berminat untuk melanjutkan
pendidikan di bidang fisika.
Gambar 7. Pengaruh bukit dan lembah Dari data dilapangan juga ditemukan bahwa,
pada pengukuran gravitasi, menunjukkan hampir seluruhnya siswa tidak pernah
perlunya koreksi terrain. mendengar mengenai geofisika, serta metode
Anomali Bouguer gravitasi. Namun, ditemukan bahwa seluruh
siswa serius memperhatikan ketika peneliti
Tujuan utama reduksi data adalah anomaly beserta tim menjelaskan mengenai geofisika,
Bouguer, yang berkaitan hanya dengan variasi geotermal dan metode gravitasi.
lateral dalam kerapatan kerak bagian atas dan
yang merupakan paling interest untuk diterapkan Selama penjelasan tentang metode gravitasi,
geophysicists dan geologists. terlihat siswa antusias dan serius mendengarkan
penjelasan yang disampaikan. Selain itu, diakhir
Anomali Bouguer g B  adalah perbedaan pemaparan, ketika sesi diskusi dibuka, ternyata
antara nilai g obs  , setelah dikoreksi, dan
banyak siswa yang mengajukan pertanyaan dan
juga menyampaikan bahwa mereka tertarik
sebuah nilai pada suatu stasion base g base  , untuk mempelajari geofisika karena selama ini
artinya: daerah potensi panas bumi yang ada di daerah

ISBN 978-602-19655-7-3 172


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

mereka hanya mereka gunakan untuk kegiatan untuk belajar fisika dan melanjutkan pendidikan
sehari – hari seperti memasak ubi, pisang dan di bidang fisika.
lainnya.
Ucapan terima kasih
Dokumentasi kegiatan – kegiatan tersebut
dapat dilihat pada gambar di bawah ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada
LPPM ITB yang telah membiayai penelitian ini
dan terima kasih juga kepada pihak sekolah
SMA Negri 2 Lembata dan pihak Universitas
Katolik Widya Mandira Kupang yang telah
mengijinkan tim untuk melakukan penelitian.

Referensi
[1] Reynolds, M. 1997. An Introduction to
Applied and Enviromental Geophysics. New
York: John Wiley and Son
[2] Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E
dan Keys, D.A. (1990). Applied
nd
Geophysics, 2 edn. Cambridge:
Cambridge University Press

Suka Prayanta Pandia*


Gambar 9. Foto bersama kepala sekolah dan Magister Pengajaran Fisika
siswa – siswa SMA Negri 2 Lembata. Institut Teknologi Bandung
suka.pandia@gmail.com
Di universitas widya mandira juga dilakukan
seminar seperti ditunjukkan oleh gambar di Alamta Singarimbun
bawah ini Institut Teknologi Bandung
alamta@fi.itb.ac.id

Wahyu Srigutomo
Institut Teknologi Bandung
wahyu@fi.itb.ac.id

Claudia M.M Maing


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
Claudia.maing@yahoo.com

Cristi Ascika Sekeon


Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
cristi.sekeon@gmail.com

*Corresponding author

Gambar 10. Foto bersama Dekan dan dosen di


kampus Unwira.

Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh
bahwa kegiatan seperti ini sangat perlu
dilakukan bagi siswa – siswa sekolah menengah
sehingga mempunyai wawasan tambahan
mengenai fisika. Kegiatan seperti ini sebaiknya
dilakukan juga dalam bidang – bidang fisika lain
seperti material, nuklir, instrumen dan lainnya.
Dengan harapan ketika siswa mengetahui peran
fisika, maka akan meningkatkan minat mereka

ISBN 978-602-19655-7-3 173


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Pengenalan Pola pada Fluktuasi Harga Varian Cabai di Kota Bandung


dengan Metode Propagasi Balik Jaringan Syaraf Tiruan
Muhammad Yangki Sulaeman, Teja Kesuma, Sparisoma Viridi

Email: ysulaeman2010@gmail.com

Abstrak
Cabai merupakan jenis sayuran yang memiliki fluktuasi harga yang paling tinggi dibandingkan varian
sayuran lainnya di kota Bandung, Indonesia. Misalnya sepanjang bulan September-Oktober 2014,
simpangan baku dari harga Cabai Hijau dapat mencapai Rp 8.157 per kilogram (kg) dengan rata-rata harga
Rp 23.414 per kg. Terdapat 7 jenis cabai yang telah dikenal secara luas yaitu Cabai Hijau, Tanjung, TW,
Keriting Merah, Keriting Hijau, Rawit Domba, dan Rawit Hijau. Masing-masing jenis cabai tersebut memiliki
fluktuasi harga yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini, digunakan Jaringan Syaraf Tiruan (JST) untuk
menentukan kontribusi terhadap fluktuasi harga salah satu jenis cabai oleh keenam varian cabai lainnya.
Metode yang digunakan adalah Propagasi Balik dengan arsitektur terbaik 3 lapisan tersembunyi. Masing-
masing lapisan memiliki sejumlah 41, 38, dan 1 unit jaringan. Sebanyak 26 data digunakan untuk pelatihan
JST dan 1 data digunakan untuk pengujian. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa harga Cabai Keriting
Merah memiliki korelasi yang paling kuat terhadap varian harga cabai lainnya, dengan rentang kesalahan
pengujian JST sebesar 0,54%. Sebaliknya, harga Cabai Rawit Domba dan Rawit Hijau cenderung tidak
dipengaruhi varian harga cabai lainnya, dengan rentang kesalahan pengujian JST masing-masing sebesar
15,49% dan 15,37%.
Kata-kata kunci: cabai, fluktuasi harga, propagasi balik, Jaringan Syaraf Tiruan

Pendahuluan Propagasi Balik Jaringan Syaraf Tiruan

Naik turunnya (fluktuasi) harga cabai dapat Propagasi Balik Jaringan Saraf Tiruan (JST)
dilihat dari kenyataan yang berlangsung di merupakan suatu metode yang memproses
masyarakat. Secara umum, fluktuasi harga informasi dengan menirukan cara kerja otak
hanya berkisar diantara patokan harga yang manusia dalam menyelesaikan suatu masalah,
ditentukan oleh pemerintah. Fluktuasi harga yaitu dengan melakukan proses belajar melalui
cabai juga dipengaruhi oleh kualitas yang perubahan bobot sinapsis pada setiap lapisan
berkaitan dengan waktu dan tempat pemasaran. jaringan sarafnya[1]. JST dapat belajar dengan
Di kota Bandung, fluktuasi harga cabai sangat memberikan respon terhadap contoh kasus
dinamis dibandingkan harga varian sayuran spesik yang diberikan melalui suatu bimbingan
lainnya. Selain itu, tidak ada keseragaman harga (supervised learning)[2].
maupun fluktuasi harga dari setiap jenis cabai. Cara belajar JST dengan dibimbing berarti
Di dalam penelitian ini, dilakukan pasangan pola masukan-keluaran dari data
pengamatan terhadap fluktuasi harga dari setiap tersebut disediakan oleh pembimbing. JST
jenis cabai yaitu cabai Hijau, Tanjung, TW, diberikan referensi data masukan yang
Keriting Merah, Keriting Hijau, Rawit Domba dan disertakan data keluaran yang diharapkannya.
Rawit Hijau. Penulis mencoba untuk Salah satu aplikasinya adalah untuk mengenali
menentukan perbandingan pengaruh harga pola yang berbasis data masa lalu, kemudian
suatu jenis cabai oleh harga varian cabai lainnya digunakan untuk memprediksi keluaran data jika
melalui pengenalan pola fluktuasi harga masing- parameter masukannya berubah.
masing. Metode yang digunakan akan dijelaskan Arsitektur JST generasi pertama diajukan
dalam bagian Propagasi Balik Jaringan Syaraf oleh F. Rosenblatt pada tahun 1958[3].
Tiruan. Hasil pengamatan dan pelatihan JST Hubungan antara vektor input 𝒙 dan keluaran
akan dibicarakan dalam bagian Hasil dan fungsi jaringan 𝑓(𝒙; 𝒘, 𝜃)diberikan oleh
Diskusi. persamaan berikut:

ISBN 978-602-19655-7-3 174


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

(1) (4)
𝑓(𝒙; 𝒘, 𝜃) = ∑ 𝑤𝑖 𝑥𝑖 + 𝜃 𝐸 = ∑(𝑡𝑖 − 𝑦𝑖 )2
𝑖 𝑖

dimana {𝑤𝑖 } adalah matrix bobot dan θ adalah


Tahap pelatihan JST bersifat iteratif dengan
konstanta bias.
menggunakan metode optimasi untuk meng-
Dua atau lebih fungsi jaringan yang saling update bobot 𝒘. Salah satu metode optimasi
terhubung dapat membentuk sebuah Lapisan- yang dapat digunakan adalah metode
banyak Neuron (Multi-layer Perceptron). Pada Levenberg-Marquardt. Pertama, masukkan
umumnya, jaringan ini terdiri dari lapisan seluruh set data pelatihan, sehingga diperoleh
masukan, lapisan tersembunyi dan lapisan SSE total keluaran JST. Kemudian, update
keluaran (gambar 1). matriks bobot 𝒘(𝑡+1) = 𝒘𝑡 + ∆𝒘𝑡 . Hitung kembali
Formulasi pada lapisan tersembunyi SSE total dengan menggunakan bobot yang
diberikan oleh persamaan berikut: telah di-update. Jika SSE total yang diperoleh
lebih besar dari target error yang diharapkan,
(2) maka proses pelatihan tersebut kembali meng-
(1) (1) (1) (1) update matriks bobot. Proses pelatihan akan
ℎ𝑗 = 𝑔(1) (𝑓𝑗 ); 𝑓𝑗 = ∑ 𝑤𝑗,𝑙 𝑥𝑙 + 𝜃𝑙
berhenti jika telah memenuhi SSE total yang
𝑙
diharapkan.

Hasil dan diskusi


Sedangkan pada lapisan keluaran diberikan oleh
persamaan berikut: Pengamatan terhadap fluktuasi harga varian
cabai dilakukan mulai dari tanggal 16 September
(3) 2014 hingga 4 November 2014 di Pasar Induk
(2) (2) (2) (2)
𝑦𝑖 = 𝑔(2) (𝑓𝑖 ); 𝑓𝑖 = ∑ 𝑤𝑖,𝑗 ℎ𝑗 + 𝜃𝑖 Caringin, Kota Bandung. Hasil pengamatan
𝑗 diperoleh sebanyak 49 data yang ditampilkan
pada gambar 2, 3 dan 4.

dimana 𝑙, 𝑗, dan 𝑖 adalah index masing-masing


unit masukan, tersembunyi dan keluaran. 𝑔(1)
dan 𝑔(2) disebut fungsi aktivasi.

Gambar 2. Fluktuasi harga cabai Keriting Merah


dan Keriting Hijau.

Gambar 1. Lapisan-banyak neuron JST dengan


sejumlah 4 unit masukan, 5 unit tersembunyi dan
1 unit keluaran.
Di dalam metode Propagasi Balik, JST
diberikan set data pelatihan (masukan data
referensi beserta target data keluaran yang
diharapkan). Jika digunakan fungsi Sum Square
Error (SSE), maka error dari perbandingan
keluaran JST terhadap vektor target 𝒕 dapat
dihitung melalui persamaan berikut:
Gambar 3. Fluktuasi harga cabai Rawit Domba
dan Rawit Hijau.

ISBN 978-602-19655-7-3 175


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Tabel 2. Hasil pengujian JST.


JST Jenis Cabai Kesalahan Prediksi
1 Tanjung 2,54 %
2 TW 3,13 %
3 Keriting Merah 0,54 %
4 Keriting Hijau 2,1 %
5 Rawit Domba 15,49 %
Gambar 4. Fluktuasi harga cabai Tanjung, TW, 6 Rawit Hijau 15,37 %
dan Hijau. 7 Hijau 0,94 %

Pada tahap pelatihan JST, data pengamatan Persentase kesalahan prediksi dari tabel di
dari hari ke-1 sampai hari ke-26 digunakan atas merupakan representasi dari tingkat
sebagai data pelatihan. Keluaran yang keterkaitan pola fluktuasi harga dari jenis cabai
dihasilkan adalah 1 buah unit jaringan (1 x 26 tertentu berdasarkan fluktuasi harga varian cabai
data) yaitu harga salah satu jenis cabai. Dimana lainnya. Rentang kesalahan prediksi yang kecil
data masukan berupa 6 buah unit jaringan (6 x menunjukkan harga jenis cabai tertentu sangat
26 data) yang merupakan harga varian cabai dipengaruhi oleh harga varian cabai lainnya.
lainnya. Proses pelatihan berhenti ketika
perhitungan SSE antara target dan keluaran JST Perbedaan rentang kesalahan yang signifikan
ditentukan sebesar < 5%. ditemukan pada jenis Cabai Rawit Domba dan
Rawit Hijau. Dalam hal ini, terdapat faktor lain
Selanjutnya, arsitektur jaringan terbaik yang juga signifikan mempengaruhi fluktuasi
ditentukan melalui pengamatan terhadap harga Cabai Rawit daripada varian harga cabai
konsistensi dari hasil keluaran JST sebanyak 10 lainnya. Dimana kita dapat memprediksi harga
kali pelatihan. Tabel 1 merupakan hasil pelatihan cabai Tanjung, TW, Keriting Merah, Keriting
JST dengan menggunakan 3 lapisan Hijau, atau Hijau jika setiap harga varian cabai
tersembunyi. Masing-masing lapisan memiliki lainnya diketahui.
sejumlah 41, 38, dan 1 unit jaringan. Fungsi
aktivasi yang digunakan pada lapisan Pada umumnya, produksi cabai Rawit Domba
tersembunyi adalah tangential-sigmoid 𝑔(𝑥) = ataupun Rawit Hijau membutuhkan kriteria
𝑡𝑎𝑛ℎ(𝑥) dan lapisan keluaran adalah pure-linear lahan tertentu. Hal ini berbeda dengan produksi
𝑔(𝑥) = 𝑥, dengan konstanta bias sebesar 1. varian cabai lainnya. Cabai Rawit Hijau ditanam
di lahan kering. Sehingga, pada saat musim
kemarau tiba, cabai jenis ini akan gagal panen.
Tabel 1. Standar Deviasi dari hasil pelatihan Sebaliknya, cabai Rawit Domba dibudidayakan
JST. di lahan basah. Sehingga, pada saat musim
JST Jenis Cabai Standar Deviasi hujan tiba, cabai jenis ini yang akan gagal
panen. Maka, pada periode masa panen di
1 Tanjung 1,3844
musim-musim tertentu, harga salah satu jenis
2 TW 1,5278 cabai Rawit dapat melonjak.
3 Keriting Merah 0,9329
Oleh karena kedua komoditas cabai Rawit
4 Keriting Hijau 1,0858 tersebut sangat dipengaruhi cuaca, maka
5 Rawit Domba 0,4001 fluktuasi harganya sangat berbeda dari varian
6 Rawit Hijau 0,5152 cabai lainnya. Hal ini mengakibatkan harga cabai
7 Hijau 1,7699 Rawit cenderung tidak dipengaruhi oleh varian
harga cabai lainnya.
Sebaliknya, harga cabai Rawit dapat
Pada proses pengujian JST, digunakan data menentukan fluktuasi varian harga cabai lainnya.
pengamatan hari ke-27 berupa 1 unit target Hal ini disebabkan karena jika dilihat supply-
keluaran (1 x 1 data) berupa masing-masing demad yang ada, terutama cabai Tanjung dan
harga cabai dan 6 unit masukan (6 x 1 data) TW, selalu kelebihan stock ketika panen.
berupa harga varian cabai lainnya. Tabel 2 Misalnya ketika periode panen cabai Hijau,
merupakan hasil perbandingan keluaran JST Tanjung, TW, Keriting Merah dan Keriting Hijau
terhadap data target yang diharapkan. bertepatan dengan periode gagal panen jenis
cabai Rawit, maka harga cabai Rawit akan

ISBN 978-602-19655-7-3 176


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

melonjak naik diikuti oleh harga varian cabai


lainnya.

Kesimpulan
Harga Cabai Keriting Merah memiliki korelasi
yang paling kuat terhadap varian harga cabai
lainnya, dengan rentang kesalahan pengujian
JST sebesar 0,54%. Sebaliknya, harga Cabai
Rawit Domba dan Rawit Hijau cenderung tidak
dipengaruhi varian harga cabai lainnya, dengan
rentang kesalahan pengujian JST masing-
masing sebesar 15,49% dan 15,37%.

Ucapan terima kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak panitia dan penyelenggara seminar yang
telah memberikan kesempatan atas
keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ini. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada para
produsen dan distributor cabai di kota Bandung
atas diskusi yang bermanfaat.

Referensi
[1] Freeman J.A. dan Skapura D.M., “Neural
Networks Algorithms, Applications, and
Programming Techniques”, Addison-
Wesley Publishing Company, 1991
[2] Hagan M.T. dan Demuth H.B., “Neural
Network Design”, PWS Publishing
Company, 1996
[3] Graupe D., “Principles of Artificial Neural
Networks”, 2nd edition, World Scientific
Publishing Co Pte Ltd, 2007

Muhammad Yangki Sulaeman*


Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
ysulaeman2010@gmail.com

Teja Kesuma
i-Sprint Innovations Sdn Bhd, V-SQ @ PJ City Centre,
5-13A-01, Jalan Utara, 46200 Bandar Petaling Jaya,
Selangor, Malaysia
teja.kesuma@gmail.com

Sparisoma Viridi
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

ISBN 978-602-19655-7-3 177


Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2014 (SKF 2014)
17-18 November 2014, Bandung, Indonesia

Kajian Sifat Fisis dan Mekanis Papan Partikel Sekam Padi Berdasarkan
Standar SNI 03-2105-2006
Taufiq Al Farizi, dan Widayani

Email: ufiqfariz@gmail.com

Abstrak
Telah dilakukan pembuatan papan partikel sekam padi dengan perekat epoksi. Pembuatan papan partikel
melalui tahapan: pengahancuran sekam padi, pencampuran sekam padi dengan epoksi, pencetakan,
pemanasan, pemgkondisian dan pengerigan. Karakterisasi sifat fisis meliputi kerapatan, kadar air, daya
serap air, dan pengembangan tebal. Karakterisasi sifat mekanis meliputi, modulus patah, modulus elastisitas
dan kuat tarik. Hasil uji penelitian mengacu pada SNI 03-2105-2006, menunjukkan sifat fisis dan sifat
mekanis telah memenuhi standar, kecuali modulus elastisitas. Sifat fisis meliputi kerapatan berkisar antara
0,71 gam/cm3 - 0,81 gam/cm3, kadar air berkisar antara 2,89% - 5,79%, pengembangan tebal berkisar
anatar 7,29% - 17,28%. Sifat mekanis modulus patah telah memenuhi standar, berkisar antara 2256,16
kgf/cm2 - 5451,62 kgf/cm2. Sedangkan modulus elastisitas tidak memenuhi standar SNI 03-2105-2006,
karena masih di bawah 20400 kgf/cm2.
Kata-kata kunci: sekam padi, epoksi, sifat fisis, sifat mekanis

Pendahuluan Teori
Produksi kayu dari 2 tahun terakhir Papan partikel adalah produk kayu yang
mengalami penurunan, sedangkan produksi padi dihasilkan dari pengempaan panas dan atau
mengalami peningkatan [1]. Limbah pengolahan pengempaan dingin antara campuran partikel
padi yang pemanfaatanya perlu dikembangkan kayu atau bahan berlignoselulosa lainnya
salah satunya sebagai komposit. Penelitian yang dengan perekat organik yang dibuat dengan
telah dilakukan berkaitan dengan papan partikel cara pengempaan mendatar dengan dua