Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN SUPRAVENTRIKULAR TAKIKARDI

Disusun Oleh :

1. Feina Revi koyong


2. Gelen
3. Heni Charolin
4. I Komang Wahyu W

AKADEMI KEPERAWATAN DIRGAHAYU

SAMARINDA

2018
1. Definisi
Supraventrikular takikardi (SVT) adalah satu jenis takidisritmia yang
ditandai dengan perubahan laju jantung yang mendadak bertambah
cepat menjadi berkisar antara 150 kali/menit sampai 250
kali/menit. Kelainan pada SVT mencakup komponen sistem
konduksi dan terjadi dibagian atas bundel HIS. Pada
kebanyakan SVT mempunyai kompleks QRS normal

2. Epidemiologi
Insiden SVT sekitar 1-3 per 1000 orang . Dalam sebuah studi
berbasis populasi, prevalensi SVT adalah 2,25 kasus per 1000
orang dengan kejadian 35 kasus per 1 00.000 orang/tahun.
AVNRT (Atrioventricular nodal re -entry tachycardia) lebih
sering terjadi pada pasien yang berusia menengah atau lebih
tua, sementara remaja lebih cenderung memiliki SVT dimediasi
oleh jalur aksesori. 2 Dalam sebuah studi berbasis populas i,
resiko SVT dua kali lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.
Prevalensi SVT meningkat dengan usia. AVNRT terlihat lebih
sering pada orang yang tengah baya atau lebih tua, sementara
remaja biasanya memiliki SVT dari jalur aksesori

3. Klasifikasi
Terdapat 3 jenis SVT yang sering ditemukan :
a. Takikardi atrium primer (takikardi atrial ektopik)
Terdapat sekitar 10% dari semua kasus SVT, tetapi SVT
jenis ini sukar untuk diobati. Takikardi ini jarang
menimbulkan gejala akut. Biasanya ditemukan jika pasie n
melakukan pemeriksaan rutin atau karena ada gagal
jantung akibat aritmia yang lama. Pada takikardi atrium
primer tampak adanya gelombang p yang agak berbeda
dengan gelombang p pada waktu irama sinus tanpa disertai
pemanjangan interval PR. Pada pemeriksaa n
elektrofisiologi intrakardiak tidak didapatkan jaras
abnormal.

b. Atrioventricular re-entry tachycardia (AVRT)


Pada AVRT pada sindrom W olf Parkinson W hite (W PW)
jenis orthodromic, konduksi antegrad terjadi pada jaras his
purkinje (slow conduction) sedangka n konduksi retrograd
terjadi pada jaras tambahan (fast conduction). Kelainan
yang tampak pada EKG adalah takikardi dengan kompleks
QRS yang sempit dengan gelombang p yang timbul segera
setelah kompleks QRS dan terbalik. Pada jenis yang
antidromic, konduksi antegrad terjadi pada jaras tambahan
sedangkan retrograd terjadi pada jaras his -purkinje.
Kelainan pada EKG tampak adalah takikardi dengan
kompleks QRS yang lebar dengan gelombang p yang
terbalik dan timbul pada jarak yang lebih jauh setelah
kompleks QRS.

c. Atrioventricular nodal re -entry tachycardia (AVNRT)


Pada jenis AVNRT, reentry terjadi di dalam nodus AV.
Sirkuit tertutup pada jenis ini merupakan sirkuit fungsional.
Jika konduksi antegrad terjadi pada sisi lambat (slow limb)
dan konduksi retrograd terjadi pada sisi yang cepat (fast
limb), jenis ini disebut juga jenis typical (slow -fast) atau
orthodromic. Kelainan pada EKG yang tampak adalah
takikardi dengan kompleks QRS sempit dengan gelombang
P yang timbul segera setelah kompleks QRS tersebut dan
terbalik atau terkadang tidak tampak karena gelombang p
tersebut terbenam di dalam kompleks QRS. Jika konduksi
antegrad terjadi pada sisi cepat dan konduksi retrograd
terjadi pada sisi lambat, jenis ini disebut dengan atypical
(fast-slow) atau antidromic. Kelainan yang tampak pada
ekg adalah kelainan dengan kompleks QRS sempit dan
gelombang p terbalik dan timbul pada jarak yang cukup
jauh setelah kompleks QRS.

4. Etiologi
SVT dipicu oleh mekanisme reentry. Hal ini dapat disebabkan
oleh denyut atrium prematur atau denyut ektopik ventrikel.
Pemicu lainnya termasuk hipertiroidisme dan stimulan,
termasuk kafein, obat-obatan, dan alkohol.
SVT diamati tidak hanya pada orang sehat, melainkan juga
terjadi pada pasien dengan infark miokard sebelumnya,
prolaps katup mitral, penyakit jantung rematik, perikarditis,
pneumonia, penyakit paru-paru kronis, dan keracunan alkohol
saat ini. Toksisitas digoxin juga dapat dikaitkan dengan SVT.

5. Manifestasi Klinis
Karena keparahan gejala tergantung pada adanya penyakit
jantung struktural dan cadangan hemodinamik pasien, individu
dengan SVT mungkin hadir dengan gejala ringan atau keluhan
cardiopulmonary yang parah. Gejala yang muncul SVT dan
tingkat frekuensi sebagai berikut :
a. Palpitasi
b. Dizziness
c. Sesak napas
d. Sinkop
e. Nyeri dada
f. Kelelahan
g. Diaforesis
h. Mual
i. Denyut jantung 150-250x/m

Palpitasi dan dizziness adalah gejala yang paling umum


dilaporkan oleh pasien dengan SVT. Sesak nafas mungkin
menjadi sekunder untuk detak jantung yang cepat, dan sering
menghilang dengan penghentian takikardia. SVT Persistent
dapat menyebabkan tachycardia-induced cardiomyopathy.
Pasien yang hemodinamik tidak stabil harus segera disadarkan
dengan kardioversi. Elektrokardiogram ( EKG ) harus dilakukan
sesegera mungkin. Banyak pasien dengan episode sering SVT
cenderung menghindari kegiatan seperti berolahraga dan
mengemudi karena episode masa lalu syncope.

6. Patofisiologi
Gangguan irama jantung secara elektrofisiologi disebabkan
oleh gangguan pembentukan rangsang, gangguan konduksi
rangsang dan gangguan pembentukan serta penghantaran
rangsang.
a. Gangguan pembentukan rangsang
Gangguan ini dapat terjadi secara aktif atau pasif. Bila
gangguan rangsang terbentuk secara aktif diluar urutan
jaras hantaran normal, seringkali menimbulkan gangguan
irama ektopik dan bila dibentuk secara pasif sering
menimbulkan escape rhytm (irama pengganti).
1. Irama ektopik timbul karena pembentukan rangsangan
ektopik secara aktif dan fenomena reentry.
2. Escape beat (denyut pengganti) ditimbulkan bila
rangsang normal tidak atau belum sampai waktu tertentu
dari irama normal, sehingga bagian jantung yang belu m
atau tidak mendapat rangsang itu bekerja secara
otomatis untuk mengeluarkan rangsangan intrinsik yang
memacu jantung berkontraksi.
3. Active ectopic firing terjadi pada keadaan dimana
terdapat kenaikan kecepatan automasi pembentukan
rangsang pada sebagian o tot jantung yang melebihi
keadaan normal.
4. Reentry terjadi bila pada sebagian otot jantung terjadi
blokade unidirectional (blokade terhadap rangsang dalam
arah antegrad) dimana rangsang dari arah lain masuk
kembali secara retrograd melalui bagian yang menga lami
blokade tadi setelah masa refrakternya dilampaui.
Keadaan ini menimbulkan rangsang baru secara ektopik.
Bila reentry terjadi secara cepat dan berulang -ulang,
atau tidak teratur (pada beberapa tempat), maka dapat
menimbulkan keadaan takikardi ektopik atau fibrilasi.

b. Gangguan konduksi
Kelainan irama jantung dapat disebabkan oleh hambatan
pada hantaran (konduksi) aliran yang disebut blokade.
Hambatan tersebut mengakibatkan tidak adanya aliran
rangsang yang sampai ke bagian miokard yang seharusnya
menerima rangsang untuk dimulainya kontra ksi. Blokade ini
dapat terjadi pada tiap bagian sistem hantaran rangsang
mulai dari nodus SA atrium, nodus AV, jaras HIS, dan
cabang-cabang jaras kanan kiri sampai pada percabangan
purkinje dalam miokard.

c. Gangguan pembentukan dan konduksi rangsang


Gangguan irama jantung dapat terjadi sebagai akibat
gangguan pembentukan rangsang bersama gangguan
hantaran rangsang.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada pasien dengan nyeri dada, pasien dengan faktor risiko
untuk infark miokard, dan pasien yang dinyatakan tidak
stabil dan hadir dengan gagal jantung, hipotensi, atau
edema paru harus dilakukan evaluasi enzim jantung. Pasien
muda tanpa cacat jantung struktural memiliki risiko yang
sangat rendah infark miokard .Tes laboratorium lainnya
adalah sebagai berikut :
1. Kadar elektrolit
Harus diperiksa karena kelainan elektrolit dapat
berkontribusi SVT( SVT paroxysmal )
2. Hitung darah lengkap
Untuk membantu menilai apakah anemia berkontribusi
terhadap takikardi atau iskemia
3. Tingkat Digoxin
Untuk pasien yang mengkonsumsi digoxin, karena SVT
adalah salah satu dari banyak disritmia yang dapat
disebabkan oleh tingkat supratherapeutic obat ini
b. Elektrokardiografi (EKG)
Presentasi EKG pada pasien dengan SVT biasanya terdapat
QRS kompleks yang sempit (QRS interval ku rang daru
120msec), tetapi beberapa kasus dapat dijumpa QRS
kompleks yang lebar jika berhubungan dengan pre existing
or rate related bundle branch block . Pada kompleks QRS
yang lebar lebih baik kita mengasumsikan takikardi berasal
dari ventrikel sampai dapat dibuktikan. Setelah kembali
keirama sinus rhytm ke 12 lead EKG harus diperhatikal ada
atau tidaknya gelombang delta ( slurred upstroke at the
onset of QRS complex ), yang mengindikasi adanya jalur
tambahan (accessory pathway). Adapun bukti adanya
preexcitation dapat minimal jika jalur tambahan terletak jauh
dari nodus sinus atau jika jalur tambahan “ concealed”. Pada
pasien ambulatori dengan SVT sering (dua atau lebih
perbulan), rekaman EKG lanjutan sampai 7 hari dapat
berguna untuk dokumentasi aritmia.
Gambaran EKG sesuai dengan tipe SVT :
4. Atrioventricular re-entry tachycardia (AVRT)
 Bentuk yang paling sering
 Sirkuit reentry melibatkan nodus AV
 Gelombang p retrogard dapat melibatkan tertanam
(burried within) atau hanya setelah kompleks QRS
pada takikardi
5. Atrioventricular nodal re-entry tachycardia (AVRT)
 Bentuk kedua yang paling sering
 Sirkuit reentry melibatkan jalur tambahan
 Beberapa jalur disebut concealed pathway, hanya
berkonduksi dengan arah retrogard.
 Jalur yang berkonduksi dengan arah antegrad
menunjukkan preexcitation pada EKG (Wolf -Parkinson
White Syndrome).
The P wave of the atrial ectopic beat is visible as a distortion of the T wave of
the preceding beat (solid arrow). Retrograde P waves are visible immediately
after the QRScomplex (dotted arrows). This tachycardia may be due to
atrioventricular re-entrant tachycardia with a concealed pathway, or
atrioventricular node re-entry. This patient did not elect to undergo an
electrophysiology study and ablation therapy, and is not on
maintenancemedical therapy.

c. Rontgen thorax
Rontgen thorax untuk menilai adanya ed ema paru dan
kardiomegali. Infeksi seperti pneumonia, yang dalam kasus -kasus
tertentu yang terkait dengan SVT, juga dapat dikonfirmasi dengan
temuan dari metode ini pencitraan.
d. Ekokardiografi
Dipertimbangkan pada pasien untuk memeriksa adanya gangguan
struktural jantung walaupun hal ini jarang ditemukan. Kebanyakan
pasien normal.
e. Electrophysiological testing
Untuk mengidentifikasi mekanisme aritmia, tetapi pemeriksaan ini
dilakukan apabila ablasi kateter dipertimbangkan.
8. Penatalaksanaan

Pasien dengan atrial fibrilasi preexcited tidak boleh diberikan secara


intravena AV nodal agent blocker, seperti adenosin, beta - blocker,
calcium channel blockers, dan digoxin. Sebaliknya, jika pasien
hemodinamik stabil, procainamide intravena harus dibe rikan. Jika
pasien tidak stabil, kardioversi arus searah harus dilakukan.

Sebagian besar pasien yang datang dengan SVT yang memiliki


AVNRT atau AVRT. Aritmia bergantung pada AV nodal konduksi dan
karena itu dapat diakhiri oleh transiently memblokir konduk si ini.
Kardioversi listrik
Kardioversi listrik adalah metode yang paling efektif untuk
memulihkan irama sinus. Kardioversi Synchronized mulai 50J dapat
digunakan segera pada pasien yang hipotensi, memiliki edema paru,
mengalami nyeri dada dengan iskemia, atau sebaliknya tidak stabil.
Jika fibrilasi atrium ada selama lebih dari 24 -48 jam, menunda
kardioversi sampai pasien telah cukup antikoagulan untuk mencegah
komplikasi tromboemboli.

Short term pharmacological


Ketika SVT tidak diakhiri oleh manuver vaga l, manajemen jangka
pendek melibatkan adenosine dan Ca channel blocker. Adenosine
adalah obat short-acting yang berhasil menterminasi takikardi pada
90 % kasus takikardia karena AVNRT atau AVRT. Dosis adenosine
yang diberikan 6-12 mg secara IV. Efek sampin g khas adenosin
termasuk pembilasan, nyeri dada, dan dizziness. Efek ini bersifat
sementara karena adenosin memiliki waktu paruh yang sangat
pendek 10-20 detik .

Alternatif lain untuk pengobatan akut SVT adalah Ca channel


blocker, seperti verapamil dan d iltiazem, serta beta blocker seperti
metoprolol atau esmolol. Verapamil adalah Ca channel blocker yang
juga memiliki sifat memblokir AV. Ia memiliki waktu paruh lebih
panjang dari adenosin dan dapat membantu untuk mempertahankan
irama sinus setelah penghen tian SVT. Hal ini juga menguntungkan
untuk mengendalikan laju ventrikel pada pasien dengan takiaritmia
atrial. Dosis Verapamil yang diberikan 5 -10 mg IV atau diltiazem
0,25 – 0,35 mg/kgbb IV. Keduanya diberikan saat adenosine dan
manufer vagal gagal.
Long term pharmacological
Pilihan terapi jangka panjang untuk pasien dengan SVT tergantung
pada jenis takiaritmia yang terjadi dan frekuensi dan durasi episode,
serta gejala dan risiko yang terkait dengan aritmia (misalnya, gagal
jantung, kematian mendadak). Mengevaluasi pasien secara
individual, dan pengobatan menyesuaikan terapi terbaik untuk
takiaritmia tertentu.

Pasien dengan SVT awalnya mungkin diobati dengan Ca channel


blocker, digoxin, serta beta -blocker. Kelas IA, IC, atau agen
antiarrhythmic III jarang digunakan karena keberhasilan
Radiofrequency ablation

9. Pengkajian
a. Anamnesis
Dalam menganamesis pasien dengan SVT, klinisi harus
mengetahui durasi dan frekuensi episode SVT, onset,
penyakit jantung sebelumnya, dan hal -hal yang dapat memicu
terjadinya SVT (alkohol, kafein, pergerakan yang tiba -tiba,
stress emosional, kelelahan, dan pengobatan). Gambaran ini
dapat membedakan SVT dengan takiaritmia lainnya. SVT
memiliki onset dan terminasi palpitasi yang tiba -tiba,
sedangkan sinus takikardi memiliki onset yang mengalami
percepatan ataupun perlambatan secara bertahap. Dengan
adanya gejala yang khas pada anamnesis yaitu onset yang
tiba-tiba, cepat, palpitasi yang reguler, dapat ditegakkan
diagnosis SVT tanpa dibutuhkannya pemeriksaan EKG
berulang. Adapun pasien yang mengalami onset SVT yang
tidak tiba-tiba sering kali mengalami misdiagno sis dengan
gangguan panik.
Karena keparahan gejala SVT tergantung pada adanya
gangguan pada struktur janung atau hemodinamik dari
pasien, pasien dengan SVT dapat memiliki gejala
kardiopulmoner ringan atau berat. Palpitasi dengan
dizziness merupakan gejala yang paling sering dijumpai
pada pasien SVT. Nyeri dada dapat dijumpai sekunder
terhadap nadi yang cepat dan biasanya berkurang setelah
terminasi dari takikardi.

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik umumnya terbatas pada kardiovaskular
dan respirasi. Pasien sering merasa terganggu dan mungkin
takikardi satu-satunya yang dijumpai pada pasien sehat dan
memiliki hemodinamik yang baik. Sedangkan pada pasien
yang memiliki gangguan hemodinamik dapat dijumpai
takipneu dan hipotensi, crackles dapat dijumpai pada
auskultasi sekunder terhadap gagal jantung, S3 dapat
dijumpai dan pulsasi vena jugularis dapat terlihat. Pada
pemeriksaan fisik pada saat episode dapat menunjukkan
frog sign (penonjolan vena jugularis, gelombang yang timbul
akibat kontraksi atrium terhadap katup trikuspid yang
tertutup).
10. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a. Penurunan curah jantung
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam,
diharapkan curah jantung klien efektif
Indikator :
a. Tanda vital normal
b. Dapat mentolerir aktivitas, tidak ada kelelahan
c. Tidak ada edema paru, perifer dan asites
d. Tidak terjadi penuruan kesadaran
e. Akral hangat, crt< 2 detik
Intervensi :
a. Monitor tanda vital, aktivitas klien, pernafasan,
kelelahan, sesak nafas, suara nafas, pola nafas, balance
cairan, respon pasien terhadap pengobatan aritmia,
irama jantung dan bunyi jantung, sianosis perifer,
bradikardi dan peningkatan sistolik.
b. Evaluasi adanya nyeri dada
c. Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan
d. Anjurkan untuk menurunkan stress
e. Jelaskan pada pasien tujuan dari pemberian oksigen
f. Kelola pemberian obat antiaritmia, inotropik dan vasodilator untuk
mempertahankan kontraktilitas jantung

b. ketidakefektifan pola nafas bd kelelahan, suplai o2 tidak mencukupi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam,
diharapkan pola nafas klien efektif.
Indikator :
a. tanda vital normal
b. menunjukan jalan nafas paten (tidak sesak, irama nafas,
frekuensi, pola nafas normal
c. tidak ada pursed lip, mampu mengeluarkan sputum,
dapat bernafas mudah, tidak menggunakan otot bantu
nafas,tidak sianosis, suara nafas vesikuler

Intervensi

a. Monitor RR, irama, kedalaman dan usaha bernafas, pergerakan


dada, lihat kesimetrisan, menggunakan otot bantu pernafasan dan
retraksi otot intercostae dan supracalavicular, dyspnue, sianosis,
auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan seperti
wheezing, status O2, observasi adanya hipoventilasi
b. Pantau serangan , karakteristik dan batuk.
c. Dorong mengeluarkan sputum/skret pada saat batuk.
d. Beri posisi semi fowler
e. Buka jalan nafas dengan head tlit chin lift, jaw trust
f. Pasang mayo dan suction bila perlu
g. Beri pelembab udara
h. Kolaborasi pemberian bronkodilator

c. Nyeri akut berhubungan dengan suplai O2 yang tidak mencukupi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam,
diharapkan pola nafas klien efektif.
Kriteria Hasil:
a. Melaporkan nyeri berkurang, tanda vital normal
b. Wajah tampak rileks
c. Dapat melakukan nafas dalam
d. Dapat mengenali serangan nyeri

Intervensi

a. Kaji nyeri meliputi lokasi, karakteristik, serangan, durasi, kualitas,


frekuensi.
b. Monitor tanda-tanda vital selama nyeri.
c. Observasi isyarat nonverbal adanya ketidaknyaman terutama
yang tidak dapat diungkapkan.
d. Hilangkan faktor-faktor presipitasi penyebab nyeri (kelelahan,
kurang pengetahuan)
e. Ajarkan teknik nonfarmakologi (Ex: kompres hangat, Pijat leher
dan punggung belakang, nafas dalam.
f. Anjurkan untuk tidur/istirahat untuk meredakan nyeri.
g. Kaji perubahan tingkat nyeri pada klien sesudah dan sebelum
intervensi.
h. Kolaborasi pemberian analgesik jika kualitas nyeri intens sesuai
indikasi
DAFTAR PUSTAKA

1. Olgin, Jeffrey E., Douglas P. Zipes. Tachyarrhythmias. Braunwald’s Heart


Disease. A Texbook of Cardiovascular Medicine Ninth Edition. Page: 863-99.
2. Wang, Paul J dan N.A. Mark Estes II. Supraventricular Tachycardia. Website
http://circ.ahajournals.org/content/106/25/206 Accessed October 16, 2013
3. Delacretaz, Etienne. Supraventricular Tachycardia. Website
http://www/nejm.org/doi/full/10/1056/NEJMep051145 Accessed October 16,
2013
4. Medi, Carolin. Jonathan M Kalman, dan Saul B Freedman. Supraventricular
Tachycardia. Website
http://www.mia.com.au/public/issue/190_05_020309/med107_27_fm.html
Accessed October 16, 2013
5. Gugneja, Monika. Paroxysmal Supraventricular Tachycardia. Website
http://emedicine.medscape.com/article/156670-overview Accessed October
16, 2013