Anda di halaman 1dari 9

PT.

TEMBAKAU DELI MEDICA


RUMAH SAKIT UMUM dr.G.L TOBING
PO.BOX : 4 Medan, Indonesia
Jln. Medan -Tanjung Morawa Km.15,5 Tanjung Morawa - 20362 Fax : (061) 7942909
Kabupaten Deli Serdang – Prov. Sumatera Utara Telp. : (061) 7944796
Email : pimpinan_rsgl@ptpn2.com
Indonesia

PERATURAN KEPALA RUMAH SAKIT

Nomor : TDM.RSG/ / / /2017

TENTANG KEBIJAKAN
HEALTH SAFETY ENVIRONMENT (HSE)
DI RUMAH SAKIT G.L TOBING

KEPALA RUMAH SAKIT G.L TOBING

Menimbang : 1. Bahwa manajemen Rumah Sakit Umum dr.G. L Tobing konsisten untuk
selalu meningkatkan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta
Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit.
2. Bahwa dalam rangka memberikan pelayanan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja serta Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit perlu
disusun suatu Kebijakan Health Safety Environment (HSE) serta
Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit;
3. Bahwa Kebijakan Health Safety Environment di Rumah Sakit G.L
Tobing dan fasilitas kesehatan lainnya ditetapkan dengan Surat
Keputusan Kepala Rumah Sakit..

1. Mengingat : 2. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.


3. UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
4. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
5. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
6. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
7. Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja tahun 2009 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
8. Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 54 Tahun 2015 tentang dan
kalibrasi alat Kesehatan.
9. Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 2306 tahun 2011 Tentang
Persyaratan Teknis Prasarana Instalasi Elektrikal Rumah Sakit.
10. Peraturan Pemerintah RI No.82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air
& Pengendalian Pencemaran Air.
11. Peraturan Pemerintah RI No. 27/2012 tentang Ijin Lingkungan.
12. Peraturan Pemerintah RI No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
13. PerMenKes 416/MENKES/Per/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas
Air Bersih.
14. Permenakertrans RI No.8/Men/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.
15. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014
Tentang Baku Mutu Air Limbah
16. PermenLH RI No. 14 tahun 2013 Tentang Simbol & Label LB3
17. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 50/MENLH/XI/1996
tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan
18. KepMen LH 58/1995 tentang Baku Mutu Limbah cair bagi Kegiatan
Rumah Sakit.
19. KepMen LH.50/MENLH/XI/1996 tentang Baku Mutu Kebauan.
20. Kepmenkes 1204 / Menkes / SK / X / 2004 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
21. Kepmenkes No. 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis
Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan.
22. Kepmenkes 432 / Menkes / SK / IV / 2007 tentang Pedoman
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di RS.
23. Kepmenkes 1087 / Menkes / SK / VII / 2010 tentang Standar
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Rumah Sakit.
24. Kepermenaker No. 5 / Men / 1996 tentang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
25. Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang
Merokok
26. Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor 24 Tahun 2008 Tentang
Pedomaan Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung.
27. Keputusan Mentri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000
Tentang Ketentuan Tehnis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran
pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
28. Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/ M /2008 Tentang
Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung
dan Lingkungan.

Menetapkan :
Pertama : Memberlakukan Kebijakan Health Safety Environment (HSE) Rumah
Sakit G.L Tobing, sebagaimana terlampir dalam Surat Keputusan ini.

Kedua : Agar seluruh pekerja dan mitra kerja Rumah Sakit Umum dr.G.L Tobing
melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan kebijakan yang berlaku.

Ketiga : Dengan berlakunya Peraturan ini maka Surat Keputusan Kepala Rumah
Sakit No/ / /….tentang Kebijakan Lindungan Lingkungan, Keselamatan
dan Kesehatan Kerja dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi.

Surat Keputusan ini berlaku mulai sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila
dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini, maka akan ditinjau
kembali untuk diperbaiki sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di :
Pada tanggal :
PT.TEMBAKAU DELI MEDICA
Rumah Sakit Umum dr.G.L Tobing

dr.Novi Fitriani
Kepala
Lampiran SK Rumah Sakit dr.G.L Tobing
TDM.RSG/ / / / /2017
Tanggal :

KEBIJAKAN
HEALTH SAFETY ENVIRONMENT (HSE)
RUMAH SAKIT G.L TOBING

1. HEALTH

a. KESELAMATAN DAN KESEHATAN PEGAWAI


- Pemeriksaan kesehatan awal (calon karyawan), pemeriksaan kesehatan berkala dan
pemeriksaaan kesehatan khusus.
- Pencegahan dan pengobatan penyakit umum.
- Memberi masukan pada manajemen atas penempatan kerja karyawan.
- Memberi masukan pada manajemen dalam pembuatan peraturan yang berhubungan
dengan kesehatan kerja.
- Memberikan usulan peningkatan kompetensi petugas layanan kesehatan.
- Membantu pengawasan terhadap perlengkapan / obat – obatan beserta prosedur yang
terkait dalam upaya pelayanan kesehatan karyawan.
- Pembinaan dan pengawasan terhadap kesehatan karyawan dan lingkungan kerja.
- Pengawasan dalam absensi kerja karena alasan kesehatan.
- Pembinaan dan pengawasan terhadap resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
- Membantu pengawasan terhadap penggunaan alat pelindung diri.
- Pembinaan dan pengawasan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja.

2. SAFETY

a. DISASTER PROGRAM
Dengan adanya bahaya potensial di rumah sakit dan akibat dari suatu Bencana, maka
dipandang perlu diterapkan langkah – langkah penanggulangan yang meliputi tiga aspek
yaitu :
- Aspek Pencegahan yaitu suatu upaya yang dilakukan untuk mencegah/ menghindari/
mengantisipasi hal – hal yang dapat menimbulkan terjadinya suatu bencana.
- Aspek Penanggulangan yaitu suatu upaya penanggulangan bencana yang terjadi
baik internal maupun ekternal dan usaha/ tindakan evakuasi/ penyelamatan jiwa dan
harta benda.
- Aspek Pengamanan yaitu suatu upaya tindakan pengamanan terhadap area/ lokasi
selama dan sesudah terjadinya bencana.

b. KEBAKARAN
a. Pencegahan dan pengendalian kebakaran.
b. Penyusunan buku pedoman Alur Komunikasi bila terjadi Kebakaran untuk lingkup
Rumah Sakit G.L Tobing.
c. Membuat jadwal / schedule Penyuluhan dan Pelatihan terutama pelatihan
penanggulangan kebakaran dan memonitor serta mengevakuasi pelaksanaannya.
d. Melakukan pemeriksaan sarana penanggulangan kebakaran secara berkala.

c. KEAMANAN PASIEN, PENGUNJUNG DAN PETUGAS


1. MENGADAKAN PENGATURAN

Mengadakan pengaturan dengan maksud menegakkan tata tertib yang berlaku


dilingkungan kerja khususnya yang menyangkut keamanan dan ketertiban atau tugas-
tugas lain yang diberikan oleh pimpinan Rumah Sakit G.L Tobing

2. MELAKSANAKAN PENJAGAAN
Melaksanakan penjagaan dengan maksud untuk mengurangi dan berusaha mencegah
bertemunya faktor-faktor korelatif niat jahat dengan kesempatan dengan cara
mengawasi masuk dan keluarnya orang atau barang dan mengawasi keadaan-keadaan
atau hal-hal yang mencurigakan disekitar tempat tugas.

3. MELAKUKAN PATROLI DAN PERONDAAN

Melakukan Patroli dan Perondaan bertujuan meniadakan kesempatan pada seseorang


untuk melakukan suatu tindakan pidana dan mencegah ataupun mengurangi niat
seseorang untuk melakukan gangguan-gangguan keamanan.

4. MELAKUKAN PENGAWALAN

Pengawalan atau tugas pengawalan adalah satu bentuk kegiatan fisik untuk
mengamankan orang maupun barang yang bergerak (dalam perjalanan) maupun yang
tidak bergerak (tersimpan).

5. MELAKUKAN PEMERIKSAAN DAN PENELITIAN KASUS INTERN

Maksud dari pemeriksaan dan penelitian kasus intern adalah suatu tugas yang
dilakukan apabila terjadi suatu kasus dilingkungan kerja yang manyangkut kepada
pasien, pengunjung dan petugas sebelum proses tindak lanjut kepada pihak
kepolisian.

d. SERTIFIKASI / KALIBRASI SARANA, PRASARANA & PERALATAN


- Terciptanya suatu kondisi seluruh sarana, prasarana dan peralatan yang siap pakai dan
aman bagi pekerja, pasien, pengunjung dan orang – orang disekitarnya.
- Menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh kondisi sarana dan peralatan yang tidak memenuhi persyaratan
keselamatan dan kesehatan kerja.
- Menghindari terjadinya kerugian – kerugian yang disebabkan terhentinya operasional
akibat dari kecelakaan kerja dan kerusakan sarana, peralatan.

3. ENVIRONMENT
A. PENYEHATAN RUANGAN & BANGUNAN TERMASUK PENCAHAYAAN,
SISTEM TATA UDARA DAN KEBISINGAN
a. Mengurangi terjadinya kegagalan operasional / break down sistem dibawah
10%.
b. Menjaga agar kondisi udara ruangan selalu memenuhi persyaratan kesehatan
(Permenkes 1204 / 2004).
c. Kandungan kuman per meter kubik udara antara 200 – 500 kuman untuk
ruangan rawat dan yang lainnya. Lantai per cm2 = 5 – 10 CFU/cm2.
d. Kandungan kuman per meter kubik udara dibawah 10 untuk ruangan operasi.
Lantai per cm2 = 0 – 5 CFU/cm2.
e. Mengupayakan kondisi ruang – ruang tertentu memenuhi persyaratan khusus
yang telah ditentukan.
f. Memastikan agar emisi yang dikeluarkan oleh mesin – mesin yang
beroperasional di RS dalam Batas Normal / Sesuai Dengan Baku Mutu yang
ditetapkan.

B. PENYEHATAN LINGKUNGAN KERJA


a. Terpeliharanya kebersihan ruangan dan bangunan Rumah Sakit G.L Tobing
sehingga terhindar dari sumber – sumber penularan penyakit.
b. Terpeliharanya peralatan dan sarana sanitasi dengan baik sehingga dapat berdaya
guna dan berhasil guna maksimal dalam menunjang kegiatan operasioanl Rumah
Sakit G.L Tobing.
c. Terlaksananya upaya pengelolaan makanan dan minuman serta air bersih dan
penanganan terhadap serangga dan binatang pengganggu sesuai ketentuan yang
telah ditetapkan.
d. Terciptanya suatu sistem pengamanan terhadap pasien dan pengunjung serta
karyawan dari kemungkinan bahaya radiasi.
e. Terciptanya kondisi Udara lingkungan kerja & udara ambient Mengacu pada
Menkes 1204/MENKES/ SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit & KepGub. Propinsi DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001 tentang
Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan di Propinsi
DKI Jakarta & Kep. 50/ MENLH/XI/1996 tentang Baku Tingkat Kebauan.

C. PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN


- Bahan Makanan Dan Minuman Jadi

Bahan makanan/ makanan jadi yang berasal dari instalasi gizi harus diperiksa
secara fisik dan secara periodik minimal satu bulan sekali, diambil sample untuk
konfirmasi dengan laboratorium agar tidak membahayakan kesehatan.
 Apabila menggunakan bahan tambahan seperti bahan pengawet, pewarna,
pemanis buatan dll, harus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
 Memeriksa tanggal kadaluarsa / expired date makanan.
- Penyimpanan Bahan Makanan Dan Makanan Jadi

 Tempat penyimpanan harus selalu terpellihara dalam keadaan bersih, terlindung


dari debu, bahan berbahaya, serangga dan hewan lainnya.
 Bahan makanan dan makanan jadi di simpan pada tempat terpisah.
 Makanan yang mudah busuk disimpan dalam suhu panas, diatas 56,5 0C atau
suhu ruangan kurang dari 40C untuk makanan yang disajikan diatas 6 jam
disimpan dalam suhu minus 50C sampai dengan 10C.

- Penyajian Makanan

 Cara penyajian harus terhindar dari pencemaran, ditutup / diwrapping tetapi


berventilasi yang dapat mengeluarkan uap air.
 Transportasi makanan jadi harus menggunakan wadah dan jalur tertentu,
sehingga terhindar dari pencemaran.
 Makanan jadi yang sudah menginap tidak boleh disajikan kepada pasien.
 Pekerja selalu menggunakan APD (celemek, topi, masker, dll).

- Tempat Pengolahan Makanan

 Sebelum dan sesudah kegiatan pengolahan harus selalu di bersihkan dengan


antiseptik.
 Asap dikeluarkan melalui cerobong yang dilengkapi cungkup asap, saringan
lemak yang dapat dibuka dan di bersihkan secara berkala.
 Intensitas pencahayaan harus tidak kurang dari 200 lux.
 Pengujian terhadap suhu, kelembaban, kebisingan dan air dilakukan setiap 6
bulan sekali.

- Penjamah Makanan

 Sebelum melakukan kegiatan, pekerja di area gizi & cathering harus diberikan
safety & health talk.
 Penjamah makanan harus sehat dan diperiksa kesehatannya pada awal bekerja
dan secara berkala minimal 2 kali setahun. Pemeriksaan yang dilakukan adalah
General Check Up dan rectal swab (usap dubur)
catatan : harus ada bukti MCU nya.
 Jenis kuman yang diperiksa adalah Salmonella typhus, virus kolera, E Coli
pathogen dan Shigella. Bila didapatkan positif untuk kuman – kuman tersebut,
maka harus diobati, dan sementara tidak diperbolehkan bekerja. Setiap karyawan
harus mempunyai buku kesehatan.
 Penjamah makanan tidak boleh menderita atau menjadi sumber penular
penyakit.
 Penjamah makanan harus memakai perlengkapan pelindung pengolahan
makanan (celemek, penutup rambut, penutup mulut dll).
 Selama melakukan pengolahan makanan harus terlindung dari kontak langsung
dengan tubuh (memakai sarung tangan, penjepit makanan, sendok, garpu, dll).
 Penjamah makanan selama bekerja dilarang merokok, makan dan mengunyah,
memakai perhiasan menggunakan peralatan yang bukan untuk keperluannya.
 Penjamah makanan di haruskan: selalu mencuci tangan sebelum bekerja dan
setelah keluar dari kamar kecil, selalu memakai pakaian kerja yang bersih.
 Usap tangan, kuku, kulit dan rambut setiap 6 bulan.

- Pemantauan cemaran makanan

 Dalam upaya memantau cemaran makanan, jasa boga wajib menyimpan paling
sedikit 1 unit contoh makanan lengkap yang disimpan di lemari es pada suhu 4 0C
selama paling sedikit 1x24 jam. Setelah itu makanan boleh dimusnahkan.
 Penyimpanan contoh menu harus dilengkapi dengan label.
 Pengujian bahan baru

- Pengujian makanan siap santap

 Setiap makanan yang akan disajikan harus diuji secara organoleptik dan biologis
untuk mengetahui cita rasa dan keamanannya. Catatan : Harus ada bukti secara
tertulis.

- Peralatan
 Peralatan dicuci segera setelah dipergunakan didisinfeksi dan dikeringkan.
 Peralatan yanng sudah bersih di simpan di tempat yang tidak lembab, tertutup/
terlindung dari pencemaran.
 Usap alat, harus diperiksa secara periodik di laboratorium.

D. PENYEHATAN AIR
- Melakukan Pengawasan Distribusi

 Air bersih dari sumber PAM / sumur bor ditampung ke dalam reservoir / ground
tank dan didistribusikan lewat pompa ke roof tank kemudian secara vertikal
didistribusikan ke setiap lantai.
 Ground tank berfungsi saat pemakaian rendah dan dapat melayani / mencukupi
saat pemakaian puncak dalam penggunaan selama 24 jam.
 Desinfektan untuk membasmi mikroorganisme selama pendistribusian
digunakan kaporit (CaCl2).

- Inspeksi Sanitasi

 Membuat peta / maping mulai dari ground tank sampai ke jaringan distribusi air
yang terdapat dalam bangunan rumah sakit.
 Melakukan pengawasan dan menentukan titik – titik rawan pada jaringan
distribusi yang diperkirakan air.
 Menentukan frekuensi sanitasi.
 Menentukan keran – keran terpilih dari setiap unit bangunan yang ada di rumah
sakit untuk pengambilan sample seperti di setiap pantry ruang perawatan, IGD,
ICU, OK, dapur, dll.

- Pengambilan Sample Dan Pemeriksaan (minimal 6 bulan sekali)


- Kegiatan Pengawasan Kualitas Air
- Pencatatan Dan Analisis
Dilakukan pencatatan kemudian dianalisa. Tolok ukur pengawasan kualitas air adalah
Keputusan Menteri Kesehatan No. 492/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air
Minum, Standar dari AAMI tahun 2008 tentang baku mutu standar air RO.

E. PENYEHATAN TEMPAT PENCUCIAN


- Lokasi Tempat Pencucian

Tempat pencucian harus mudah dijangkau oleh unit kegiatan lain yang memerlukannya
dan pelayanan pencucian umum harus jauh letaknya dari ruang perawatan pasien.
- Kondisi Fisik Ruangan
Lantai ruang pencucian umum harus terbuat dari beton/ plester yang kuat. Lantainya
harus rata, tidak licin, dengan kemiringan yang cukup.

- Pembuangan Air Kotor.


Pembuangan air kotor harus mempunyai saluran pembuangan air kotor yang dapat
mengalir dengan lancar.

- Sumber Air Bersih


Harus tersedia sumber air bersih, air panas dan saluran uap (steam) untuk keperluan
pencucian dengan lancar.

- Ruang Peniris Pengering


Harus mempunyai ruang peniris pengering apabila dibutuhkan untuk mengeringkan alat –
alat pencucian yang habis dipakai.

- Ruangan Laundry ( Pencucian umum )


Ruangan pencucian umum harus mempunyai persyaratan ruangan terpisah sesuai
kebutuhannya seperti:
 Ruang linen kotor yang terpisah
 Ruang linen bersih yang terpisah
 Ruang tempat penyimpanan trolley
 Kamar mandi tersendiri untuk pelaksana
 Mempunyai gudang penyimpanan chemical, ruang linen bersih dan gudang
penyimpanan linen baru.

- Route Linen Kotor


Alur dari route linen kotor dan linen bersih harus terpisah. Sehingga dengan pemisahan
pintu – pintu tersebut tidak akan terjadi kontaminasi silang.

- Kebersihan Ruangan
Keadaan ruang linen kotor dan ruang linen bersih harus selalu dalam keadaan bersih dan
rapi.

- Tempat Cuci Tangan


Harus tersedia tempat pencucian tangan yang mudah dijangkau, pekerja dapat sering
mencuci tangan dengan bahan antiseptik sehingga mencegah terkontaminasinya linen
bersih.
- Pemantauan Terhadap Chemical Yang Digunakan

F. PENANGANAN SAMPAH DAN LIMBAH

- LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT

Limbah padat rumah sakit dibagi menjadi 2 jenis yaitu:


Limbah Medis (Limbah Klinis / Infeksius, Benda Tajam, Limbah Citotoxic,
Limbah Radioaktif).
 Limbah Non Medis atau Domestik (Limbah Padat Kering dan Limbah Padat
Basah).
- Limbah Medis  limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan pelayanan medis baik
berupa penegakkan diagnosa maupun terapi. Adapun limbah medis terbagi:
 Limbah Tajam: ditempatkan pada wadah tahan tusukan dan diberi anti – septik
 Limbah Infeksius: dimasukkan kedalam kanting plastik warna kuning dengan
lambang infeksius
- Limbah Domestik  dimasukkan kedalam kantong plastik warna hitam
- Limbah Radioaktif dimasukkan kedalam kantong plastik warna ungu.
- Limbah Cair
Limbah cair dihasilkan dari berbagai kegiatan operasional RSGL, Sistem Pengolahan
Limbah Cair di Rumah Sakit G.L Tobing menggunakan sistem Extended Aeration &
lumpur aktif.

- Pemantauan Mutu Air Buangan

a. Setiap 3 bulan dilakukan pemeriksaan air limbah yang diambil dari Inlet dan Outlet
dan dibandingkan dengan standar baku mutu sesuai Pergub No. 122 Tahun 2005
tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik.
b. Setiap 1 bulan dilakukan pemeriksaan air limbah yang diambil dari Outlet dan
dibandingkan dengan standar baku mutu sesuai Kepmen LH No.
58/MENLH/12/1995. Pemeriksaan dilakukan oleh badan resmi dari pemerintah
(BPLHD) DKI Jakarta.
- Limbah Gas

 Untuk pembuangan limbah gas dari OK, pihak Rumah Sakit menggunakan sistem
perpipaan yang dialirkan kelantai paling atas guna menghindari pemajanan
terhadap penghuni gedung.
 Standar limbah gas (emisi) dari pengolahan pemusnah limbah padat medis dengan
incenerator mengacu pada Kepmen LH N0. 13/MENLH/3/1995 tentang Baku
Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak & Kep 03/BAPEDAL/09/1995 tentang Baku
Mutu Emisi Udara Untuk Incenerator.
 Standar untuk emisi genset mengacu pada Permen LH No. 21 Tahun 2008 tentang
baku mutu Emisi sumber tidak bergerak bagi PLTD yang menggunakan Bahan
bakar minyak
 Standar untuk emisi boiler mengacu pada Permen LH No. 07 Tahun 2007 tentang
baku mutu Emisi sumber tidak bergerak bagi ketel Uap yang menggunakan Bahan
bakar minyak

G. PENGENDALIAN SERANGGA DAN TIKUS


Langkah kegiatan dalam pengendalian serangga dan binatang pengganggu meliputi 4
kategori:
a. Pengendalian Secara Kimiawi
b. Pengendalian Secara Biologis
c. Pengendalian Secara Mekanika Dan Fisika
d. Pengendalian Secara Terpadu

H. STERILISASI / DESINFEKSI
Pemantauan/ Pengawasan di CSSD meliputi :
a. Pengawasan dan pemantauan kebersihan ruangan, dinding lantai dan permukan
lainnya di CSSD. Dilakukan pembersihan ruangan 2 kali sehari.
b. Pengawasan dan Pemantauan kebersihan udara di CSSD, bekerja sama dengan PIN
dan HSE. Dilakukan pemeriksaan mikrobiologi udara setiap 3 bulan sekali atau sesuai
permintaan.
c. Pengawasan dan Pemantauan kebersihan air di CSSD, bekerja sama dengan HSE.
Dilakukan pemeriksaan mikrobiologi air setiap 6 bulan sekali.

I. PERLINDUNGAN RADIASI
Pemakaian zat radioaktif dan atau sumber radiasi lainnya tersebut disamping
mengandung segi – segi positif bagi kehidupan juga dapat menimbulkan bahaya radiasi,
baik terhadap manusia maupun terhadap harta dan benda. Untuk mencapai suasana kerja
yang aman dan sehat serta untuk menghindarkan akibat – akibat buruk yang mungkin
terjadi terhadap para pekerja, penduduk dan lingkungan sekitarnya sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1217/Menkes/SK/XI/2001
Tentang Pedoman Pengamanan Dampak Radiasi.
Dosis Pajanan Yang Direkomendasikan Pada Pekerja Dan Masyarakat

N NILAI DOSIS
APLIKASI
O PEKERJA MASYARAKAT

1. Dosis efektif 20 mSv per tahun dirata – 1 mSv pertahun


ratakan selama periode 5 tahun
2. Dosis tara tahunan
a. Lensa mata 150 mSv
b. Kulit 500 mSv 15 mSv
c. Tangan dan kaki 500 mSv 50 mSv

J. UPAYA PENYULUHAN KESEHATAN LINGKUNGAN


- Eksplorasi tingkat pengetahuan pekerja dan pihak ketiga yang bekerja di RSGL.
- Mensosialisasikan program – program kesehatan lingkungan.
- Melakukan penyuluhan kepada pekerja, pihak ketiga, pasien & masyarakat.
- Memberikan informasi baik secara lisan maupun tertulis kepada setiap orang yang
berada dilingkungan Rumah Sakit.

K. PENGELOLAAN BAHAN DAN BARANG BERBAHAYA


- Mengetahui bentuk tunggal atau campuran dari jenis bahan dan barang berbahaya
yang digunakan di RS.
- Mampu menangani apabila terjadi tumpahan, kontaminasi dari bahan – bahan
tersebut.
- Mampu mengatasi setiap masalah yang timbul dari pengelolaan bahan dan barang
berbahaya tanpa menimbulkan efek samping.

PT TEMBAKAU DELI MEDICA


Rumah Sakit Umum dr.G.L Tobing

dr. Novi Fitriani


Kepala