Anda di halaman 1dari 11

Kegunaan Radio Isotop Di Bidang Kedokteran

Abad 20 ditandai dengan perkembangan yang menakjubkan di bidang ilmu dan teknologi,
termasuk disiplin ilmu dan teknologi kedokteran serta kesehatan. Terobosan penting dalam bidang
ilmu dan teknologi ini memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam diagnosis dan terapi
berbagai penyakit termasuk penyakit-penyakit yang menjadi lebih penting secara epidemologis
sebagai konsekuensi logis dari pembangunan di segala bidang yang telah meningkatkan kondisi
sosial ekonomi masyarakat.
Dengan ditemukannya radioisotop buatan maka radioisotop alam tidak lagi digunakan.
Radioisotop buatan yang banyak dipakai pada masa awal perkembangan kedokteran nuklir adalah
I-131. Perkembangan ilmu kedokteran nuklir yang sangat pesat tersebut dimungkinkan berkat
dukungan dari perkembangan teknologi.
Dewasa ini, aplikasi teknik nuklir dalam bidang kesehatan telah memberikan sumbangan
yang sangat berharga dalam menegakkan diagnosis maupun terapi berbagai jenis penyakit.
Berdasarkan penjabaran di atas, maka penulis tertarik dengan masalah pemanfaatan Radioisotop
dalam Bidang Kedokteran besrta aplikasi Nuklir dalam kedokteran. Oleh karena itu penulis
mengambil suatu judul makalah yang sekiranya penting dan sangat jarang untuk dibahas yaitu :
“Pemanfaatan Radioisotop Di Bidang Kedokteran”.
2.1 Radioisotop sebagai Perunut
Radioisotop dapat digunakan untuk radioterapi, seperti larutan iodium-131 (Na131l) untuk
terapi kelainan tiroid dan fosfor-32 (Na2H32PO4) yang merupakan radioisotop andalan dalam
terapi polisitemia vera dan leukemia. Selain, itu radioisotop juga dapat digunakan untuk
radiodiagnosis seperti teknesium-99m (Na99mTcO4) untuk diagnosis fungsi dan anatomis organ
tubuh, sedangkan studi sirkulasi dan kehilangan darah dapat dilakukan dengan radioisotop krom-
51 (Na251CrO4).
Penggunaan radioisotop dapat dibagi kedalam penggunaan sebagai sumber radiasi.
Radioisotop dapat digunakan sebagai sumber sinar, sebagai pengganti sumber lain seperti sumber
sinar –X. Unsur radioaktif dalam bidang kedokteran dipakai sebagai perunut dalam mendiagnosa
penyakit dan sebagai sumber radiasi dalam pengobatan.
a. Diagnosa Penyakit
Salah satu kegunaan radioisotop yaitu sebagai perunut, karena perpindahannya dapat
diikuti berdasarkan sinar radiasi yang dipancarkan. Apabila seseorang yang menderita penyakit
dalam atau memiliki kelainan didalam tubuhnya, tetapi belum diketahui jenis dan letak
penyakitnya, maka digunakan radioisotop sebagai pendiagnosis. Diagnosis dilakukan dengan cara
menyuntikkan radioisotop kedalam tubuh pasien melalui pembuluh darah vena, sehingga
radioisotop akan mengalir bersama darah dan berkumpul pada bagian tubuh pasien yang sakit.
Dengan menggunakan alat detektor, maka bagian yang sakit pada tubuh dapat ditemukan.
Zat radioaktif yang dimasukan kedalam tubuh dapat diikuti jalannya dengan dengan alat
pencacah sehingga bagian tubuh yang rusak atau sakit dapat diketahui. Instrumentasi yntuk
mengukur radiasi yaitu pencacah skintilasi yang ditemukan oleh Ben Casen dan Fred Bryan pada
tahun 1948.
24
1. Na (dalam bentuk larutan NaCl) dimasukan kedalam darah untuk mengetahui ketidaklancaran
aliran darah, atau ketidaknormalan kerja jantung. Radioisotop Natrium-24 dapat digunakan untuk
mengikuti peredaran darah dalam tubuh anusia. Larutan komponen Na-24 dan Cl yang stabil
disuntikan kedalam darah melalui pembuluh dibagian tubuh tertentu, misalnya kaki. NaCl akan
mengikuti aliran darah dan diikuti dengan mendeteksi sinar gamma yang dipancarkan isotop Na
tersebut sehingga dapat diketahui apabila terjadi pengendapan pada pembuluh darah.
3
2. He (dalam H2O) dipakai untuk menghitung volume cairan dalam tubuh
131
3. I untuk mengetahui penyakit hipertiorid, yaitu kerja kelenjar gondok yang melewati batas.
Dalam keadaan normal pengambilan iodium oleh kelenjar gondok selama 24 jam adalah sekitar 0-
15%, sedangkan pada penderita hipertiroid dapat mencapai 50%
59
4. Fe (dalam senyawa besi) dipakai untuk mengetahui kecepatan pembentukan sel darah bagi yang
kurang darah, yaitu memeriksa 59Fe dalam Hb darah, karena Fe adalah salah satu unsur pembentuk
Hb. Radioisotop Fe dapat digunakan untuk mengukur laju pembentukn sel darah merah dalam
tubuh dan unutk menentukan apakah besi dalam makanan dapat digunakan dengan baik dalam
tubuh.
32
5. P (dalam senyawa posfat) dipakai untuk mengetahui letak tumor diotak, karena senyawa posfat
akan masuk ke otak. Sel-sel tumor otak aktif membelah diri dan memerlukan posfat yang banyak,
sehingga 32P akan menumpuk ditempat itu
6. 45Ca (dalam senyawa karbonat) dipakai untuk mengetahui kanker tulang, karena pada daerah itu
akan memupuk 45Ca lebih banyak dibanding daerah lain.
b. Pengobatan
Radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop pada umumnya memiliki daya tembus lebih
besar daripada cahaya tampak. Daya tembus cahaya bergantung pada 3 faktor yaitu jenis radiasi,
energi radiasi dan bahan yang dilalui oleh radiasi. Radiasi radioisotop dapat menimbulkan
pengaruh positif dan negatif.
Zat radioaktif digunakan untuk pengobatan karena energi sinar radioaktif mempunyai efek
tertentu. Sel kanker ganas lebih peka terhadap radiasi daripada sel yang sehat, sehingga sel kanker
ganas dapat dibunuh dengan menggunakan dosis radiasi yang tepat (agar tidak mempengaruhi sel
sehat yang terdapat pada jaringan).
1. Co-60 (pemancar gamma) digunakan untuk membunuh kanker. Penyembuhan dilakukan dari
luar dengan penyinaran radiasi radioisotop Co-60 yang difokuskan pada bagian tubuh yang
terserang kanker. Sejak lama diketahui bahwa radiasi dari radium dapat dipakai untuk pengobatan
kanker. Oleh karena radium sangat mahal maka kini dipakai isotop yang lain seperti Co-60. Oleh
karena radiasi dapat mematikan sel kanker dan sel yang sehat maka diperlukan teknik tertentu
sehingga tempat disekeliling kanker mendapat radiasi seminimal mungkain. Selain itu, sinar
gamma yang dihasilkan oleh Co-60 dapat pula digunakan unttuk membunuh kuman pada proses
sterilisasi alat-alat kedokteran. Co-60 menghasilkan sinar beta yang dapat membunuh sel kanker
dan mengobati penyakit hipertiroid.
2. Sinar beta dari 32P telah dipakai untuk menyembuhkan penyakit polycythemia yaitu sel darah
merah berlebihan.
3. As-74 (pemancar positron), digunakan untuk mendeteksi letak kanker otak.
4. Mensterilkan bahan obat seperti bubuk antibiotik, saleb mata dan talk, serta alat kedokteran
seperti peralatan operasi dan pembalut. Sterilisasi dengan radiasi radioaktif memberikan hasil jauh
lebih baik dan terjamin daripada sterilisasi dengan cara lama. Radiasi gamma dapat membunuh
organisme hidup termasuk bakteri. Cara lama untuk mensterilkan benda yaitu dengan pemanasan
dalam air memdidih. Beberapa zat seperti penicilin tidak tahan panas. Penicilin yang sudah
dikemas diradiasi agar steril demikian juga alat-alat suntuk dan lain-lain disterilkan dengan cara
ini.
2.2 Radioisotop Sebagai Sumber Radiasi
a. Sterilisasi Radiasi
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat digunakan
untuk sterilisasi alat-alat kedokteran. Steritisasi dengan cara radiasi mempunyai beberapa
keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan bahan kimia), yaitu:
1. Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan .
2. Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
3. Karena dikemas dulu baru disetrilkan maka alat tersebut tidak mungkin tercemar bakteri lagi
sampai kemasan terbuka. Berbeda dengan cara konvensional, yaitu disterilkan dulu baru dikemas,
maka dalam proses pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit penyakit.
b. Terapi Tumor atau Kanker.
Berbagai jenis tumor atau kanker dapat diterapi dengan radiasi. Sebenarnya, baik sel normal
maupun sel kanker dapat dirusak oleh radiasi tetapi sel kanker atau tumor ternyata lebih sensitif
(lebih mudah rusak). Oleh karena itu, sel kanker atau tumor dapat dimatikan dengan mengarahkan
radiasi secara tepat pada sel-sel kanker tersebut.
2.3 Aplikasi Nuklir dan Radioisotop dalam Kedokteran

a. Kedokteran Nuklir
Ilmu Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi
terbuka berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan, untuk mempelajari perubahan fisiologi,
anatomi dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian
kedokteran.
Bidang kedokteran dapat dibedakan menjadi 2 macam : Ë Radiologi, yaitu aplikasi teknologi
nuklir dalam bidang kedokteran yang memanfaatkan sumber radiasi tertutup (sealed source)
ataupun sumber radiasi yang dibangkitkan dengan bantuan peralatan, misalnya penggunaan jarum
berupa sumber radiasi Co60, Ra226, sinar-X dan linear accelerator (linac). Ë Kedokteran nuklir,
yaitu aplikasi teknologi nuklir dalam bidang kedokteran yang memanfaatkan sumber radiasi
terbuka (unsealed source), misalnya penggunaan sumber radioaktif I131, P32, Tc99m, dan lain
sebagainya
Pada kedokteran Nuklir, radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (studi invivo)
maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine da
sebagainya, yang diambil dari tubuh pasien yang lebih dikenal sebagai studi in-vitro (dalam gelas
percobaan).
Pada studi in-vivo, setelah radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut
atau suntikan atau dihirup lewat hidung dan sebagainya maka informasi yang dapat diperoleh dari
pasien dapat berupa:
1. Citra atau gambar dari organ atau bagian tubuh pasien yang dapat diperoleh dengan bantuan
peralatan yang disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik imaging.
2. Kurva-kurva kinetika radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu dan angka-angka
yang menggambarkan akumulasi radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu disamping
citra atau gambar yang diperoleh dengan kamera gamma atau kamera positron.
3. Radioaktivitas yang terdapat dalam contoh bahan biologis (darah, urine dsb) yang diambil dari
tubuh pasien, dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan pada detektor radiasi (teknik non-
imaging).
b. Pemanfaatan Teknik Nuklir di Luar Kedokteran Nuklir
Di luar kedokteran nuklir, teknik nuklir masih banyak memberikan sumbangan yang besar bagi
kedokteran serta kesehatan, misalnya:
1. Teknik Pengaktivan Neutro
Teknik nuklir ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan mineral tubuh terutama
untuk unsur-unsur yang terdapat dalam tubuh dengan jumlah yang sangat kecil
(Co,Cr,F,Fe,Mn,Se,Si,V,Zn dsb) sehingga sulit ditentukan dengan metoda konvensional.
Kelebihan teknik ini terletak pada sifatnya yang tidak merusak dan kepekaannya sangat tinggi. Di
sini contoh bahan biologik yang akan idperiksa ditembaki dengan neutron.
2. Penentuan Kerapatan Tulang dengan Bone Densitometer
Pengukuran kerapatan tulang dilakukan dengan cara menyinari tulang dengan radiasi
gamma atau sinar-x. Berdasarkan banyaknya radiasi gamma atau sinar-x yang diserap oleh tulang
yang diperiksa maka dapat ditentukan konsentrasi mineral kalsium dalam tulang. Perhitungan
dilakukan oleh komputer yang dipasang pada alat bone densitometer tersebut. Teknik ini
bermanfaat untuk membantu mendiagnosis osteoporosis yang sering menyerang wanita pada usia
menopause (mati haid) sehingga menyebabkan tulang muda patah.
3. Three Dimensional Conformal Radiotheraphy (3D-CRT)
Terapi Radiasi dengan menggunakan sumber radiasi tertutup atau pesawat pembangkit
radiasi telah lama dikenal untuk pengobatan penyakit kanker. Perkembangan teknik elektronika
maju dan peralatan komputer canggih dalam dua dekade ini telah membawa perkembangan pesat
dalam teknologi radioterapi. Dengan menggunakan pesawat pemercepat partikel generasi terakhir
telah dimungkinkan untuk melakukan radioterapi kanker dengan sangat presisi dan tingkat
keselamatan yang tinggi melalui kemampuannya yang sangat selektif untuk membatasi bentuk
jaringan tumor yang akan dikenai radiasi, memformulasikan serta memberikan paparan radiasi
dengan dosis yang tepat pada target.
Dengan memanfaatkan teknologi 3D-CRT ini sejak tahun 1985 telah berkembang metoda
pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya (gamma knife).
Dengan teknik ini kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional
menjadi dapat diatasi dengan baik oleh pisau gamma ini, bahkan tanpa perlu membuka kulit pasien
dan yang terpenting tanpa merusak jaringan di luar target.
4. Sterilisasi Alat Kedokteran
Alat/bahan yang digunakan di bidang kedokteran pada umumnya harus steril. Banyak di
antaranya yang tidak tahan terhadap panas, sehingga tidak bisa disterilkan dengan uap air panas
atau dipanaskan. Demikian pula sterilisasi dengan gas etilen oksida atau bahan kimia lain dapat
menimbulkan residu yang membahayakan kesehatan. Satu-satunya jalan adalah sterilisasi dengan
radiasi, dengan sinar gamma dan Co-60 yang dapat memberikan hasil yang memuaskan. Sterilisasi
dengan cara tersebut sangat efektif, bersih dan praktis, serta biayanya sangat murah. Untuk
transpiantasi jaringan biologi seperti tulang dan urat, serta amnion chorion untuk luka bakar, juga
disterilkan dengan radiasi.
5. Radioisotop untuk Brakiterapi dan Teleterapi
Henry Bacquerel penemu radioaktivitas telah membuka cakrawala nuklir untuk kesehatan.
Kalau Wilhelm Rontgen, menemukan sinar-x ketika gambar jari dan cincin istrinya ada pada film.
Maka Marie Currie mendapatkan hadiah Nobel atas penemuannya Radium dan Polonium dan
dengan itu pulalah sampai dengan 1960-an Radium telah digunakan untuk kesehatan hampir
mencapai 1000 Ci. Tentunya ini sebuah jumlah yang cukup besar untuk kondisi saat itu.
Masyarakat kedokteran menggunakan radioisotop Radium ini untuk pengobatan kanker, dan
dikenal dengan Brakiterapi. Meskipun kemudian banyak ditemukan radiosiotop yang lebih
menjanjikan untuk brakiterapi, sehingga Radium sudah tidak direkomendasikan lagi.
Selain untuk Brakiterapi, radisotop Cs-137 dan Co-60 juga dimanfaatkan untuk Teleterapi,
meskipun belakangan ini teleterapi dengan menggunakan radioisotop Cs-137 sudah tidak
direkomendasikan lagi untuk digunakan. Meskipun pada dekade belakangan ini jumlah pesawat
teleterapi Co-60 mulai menurun digantikan dengan akselerator medik . Radioisotop tersebut selain
digunakan untuk brakiterapi dan teleterapi, saat ini juga telah banyak digunakan untuk keperluan
Gamma Knife, sebagai suatu cara lain pengobatan kanker yang berlokasi di kepala.
Teleterapi adalah perlakuan radiasi dengan sumber radiasi tidak secara langsung
berhubungan dengan tumor. Sumber radiasi pemancar gamma seperti Co-60 pemakaiannya cukup
luas, karena tidak memerlukan pengamatan yang rumit dan hampir merupakan pemancar gamma
yang ideal. Sumber ini banyak digunakan dalam pengobatan kanker/tumor, dengan jalan
penyinaran tumor secara langsung dengan dosis yang dapat mematikan sel tumor, yang disebut
dosis letal. Kerusakan terjadi karena proses eksitasi dan ionisasi atom atau molekul. Pada
teleterapi, penetapan dosis radiasi sangat penting, dapat berarti antara hidup dan mati. Masalah
dosimetri ini ditangani secara sangat ketat di bawah pengawasan Badan Internasional WHO dan
IAEA bekerjasama dengan laboratorium-laboratorium standar nasional.
6. Pengobatan Leukimia
Penemuan Rutherford memberikan jalan pada munculnya teknologi pemercepat
radioisotop, sehingga J Lawrence dapat menggunakan Siklotron Berkeley dapat memproduksi P-
32, yang merupakan radioisotop artifisial pertama yang digunakan untuk pengobatan leukimia.
Sekitar 1939, I-128 diproduksi pertama kalinya dengan menggunakan Siklotron, namun dengan
keterbatasan pendeknya waktu paro, maka I-131 dengan waktu paro 8 hari diproduksi.
Perkembangan teknologi Siklotron untuk kesehatan menjadi penting setelah beberapa produksi
radioisotop dengan waktu paro pendek mulai dimanfaatkan dan sebagai dasar utama PET (Positron
Emission Tomography).

3.1 KESIMPULAN
Zat radioaktif dan radioisotop berperan besar dalam ilmu kedokteran yaitu untuk
mendeteksi berbagai penyakit, diagnosa penyakit yang penting antara lain tumor ganas. Kemajuan
teknologi dengan ditemukannya zat radioaktif dan radioisotop memudahkan aktifitas manusia
dalam berbagai bidang kehidupan.
Dewasa ini penggunaan radioisotop di bidang kedokteran sangat luas, sejalan dengan
pesatnya perkembangan bioteknologi, serta didukung pula oleh perkembangan instrumentasi
nuklir. Selain itu, radiasi yang dipancarkan oleh suatu radioisotop, sehingga penggunaan
radioisotop sebagai tracer atau perunut, sangat bermanfaat dalam studi metabolisme, serta teknik
pelacakan dan penatahan berbagai organ tubuh.
Dapat dikemukakan bahwa teknik nuklir sangat berperan dalam penanggulangan berbagai
masalah kesehatan manusia. Yang terpenting adalah kemajuan-kemajuan baik di bidang diagnosis
maupun terapi haruslah ditujukan untuk keselamatan, kemudahan, kesembuhan dan kenyamanan
pasien. Dengan kemajuan iptek di bidang instrumentasi nuklir, bioteknologi dan produksi isotop
umur pendek yang menguntungkan ditinjau dan segi medik dan pendeteksian/pengukuran;
diharapkan bahwa harapan hidup yang lebih nyaman dan panjang bagi mereka yang terkena
penyakit dapat tercapai.

RADIOAKTIF DALAM BIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

Radiasi adalah pencemaran/pengeluaran dan perambatan energi


menembus ruang atau sebuah substansi dalam bentuk gelombang atau
partikel. Partikel radiasi terdiri dari atom atau subatom dimana mempunyai
masa bergerak, menyebar dengan kecepatan tinggi menggunakan energi
kinetik. Beberapa contoh dari partikel radiasi
adalah elektron, beta, alpha, photon, dan neutron.
Sumber radiasi dapat terjadi secara alamiah maupun buatan. Sumber radiasi alamiah
contohnya radiasi dari sinar kosmis, radiasi dari unsur-unsur kimia yang terdapat pada lapisan
kerak bumi, radiasi yang terjadi pada atmosfer akibat terjadinya pergeseran lintasan perputaran
bola bumi. Sedangkan sumber radiasi buatan contohnya radiasi sinar x, radiasi sinar beta, radiasi
sinar alpha, dan radiasi sinar gamma.

Radioisotop adalah suatu unsur radioaktif yang memancarkan sinar radioaktif. Radioaktif
mempunyai peranan penting dalam melengkapi kebutuhan manusia di berbagai bidang. Salah
satunya di bidang kedokteran dan kesehatan. Penggunaan radioisotop di bidang kesehatan untuk
keperluan radiodiagnostik dan radioterapi dalam kedokteran nuklir. Teknik nulkir dengan
menggunakan radioisotop di bidang kedokteran nuklir dimulai pada tahun 1930-an sebagai wujud
dari perkembangan ilmu dan teknologi. Sedangkan di Indonesia dimulai pada tahun 1967 tidak
lama setelah peresmian reaktor nuklir di Bandung.

Ilmu kedokteran nuklir merupakan salah satu ilmu cabang kedokteran yang memanfaatkan sumber
radiasi terbuka dari disintegrasi inti radioaktif buatan untuk tujuan diagnostik melalui pemantauan
proses fisiologi dan biokimia.

Dewasa ini, aplikasi tenaga nuklir dalam bidang kesehatan telah memberikan sumbangan yang
sangat berharga dalam menegakkan diagnostik maupun terapi berbagai jenis penyakit. Berbagai
disiplin ilmu kedokteran seperti ilmu penyakit dalam, ilmu penyakit saraf, ilmu penyakit jantung,
dan sebagainya telah mengambil manfaat dari tehnik nuklir. Sehingga pada kesempatan kali ini
akan dipaparkan tentang peranan radioaktif, mekanisme kerja dan dampak yang ditimbulkannya
dalam bidang kedokteran dan kesehatan.

II. PEMBAHASAN
A. Peranan Radioaktif dalam Bidang Kesehatan dan Kedokteran
Bidang kesehatan dan kedokteran merupakan bidang terbesar yang menggunakan senyawa
bertanda radioaktif. Hampir dari 80% dari penggunaan zat radioaktif terletak di bidang ini. Dengan
isotop radioaktif telah dapat diselidiki dan dipelajari proses fisiologi, biokimia, patologi dan
farmakologi berbagai macam obat.

Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran, sebetulnya telah dimulai semenjak tahun 1936
pada waktu John Lawrence et. al. Menggunakan fosfor-32 untuk terapi. Walaupun dimulai untuk
terapi, tetapi penggunaan radioisotop selanjutnya hampir 90% ditujukan untuk diagnosis, dan
sebagian besar telah dalam bentuk senyawa bertanda.

Cabang ilmu kedokteran yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik pendek, seperti sinar x
disebut radiologi. Radiologi dimanfaatkan untuk menunjang diagnosis penyakit. Dalam dunia
kedokteran nuklir, prinsip radiologi dimanfaatkan dengan memakai isotop radio aktif yang
disuntikkan ke dalam tubuh. Kemudian, isotop tersebut ditangkap oleh detektor di luar tubuh
sehingga diperoleh gambaran yang menunjukan distribusinya di dalam tubuh. Sebagai contoh
untuk mengetahui letak penyempitan pembuluh darah, digunakan radioisotop natrium. Kemudian
jejak radioaktif tersebut dirunut dengan menggunakan pencacah Geiger. Letak penyempitan
pembuluh darah ditunjukan dengan terhentinya aliran natrium.

Selain digunakan untuk mendiagnosis penyakit, radioisotop juga digunakan untuk terapi radiasi.
Terapi radiasi adalah cara pengobatan dengan memakai radiasi. Terapi seperti ini biasanya
digunakan dalam pengobatan kanker. Pemberian terapi dapat menyembuhkan, mengurangi gejala,
atau mencegah penyebaran kanker, bergantung pada jenis dan stadium kanker.

1. Radiodiagnostik
Radiodiagnostik adalah kegiatan penunjang diagnostik menggunakan perangkat radiasi
sinar pengion (sinar x), untuk melihat fungsi tubuh secara anatomi. Ahli dalam bidang ini dikenal
sebagai radiolog. Salah satu contoh radiodiagnostik adalah rontgen. Radiodiagnostik dilakukan
sebelum melakukan radioterapi.

2. Radioterapi
Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel kanker
sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini
menggunakan sumber radiasi tertutup pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas
elektron.

Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh radiasi ini. Radiasi akan merusak
sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun pembelahan sel-sel kanker akan terhambat.
Sekitar 50 – 60% penderita kanker memerlukan radioterapi. Tujuan radioterapi adalah untuk
pengobatan secara radikal, yaitu untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak
nyaman akibat kanker, selain itu juga bertujuan untuk mengurangi resiko kekambuhan dari kanker.
Dosis dari radiasi ditentukan dari ukuran, luasnya, tipe, dan stadium tumor bersamaan dengan
responnya terhadap radio terapi.
Terdapat dua teknik dalam radioterapi yaitu teleterapi (sumber eksternal) dan brakiterapi
(sumber internal). Pada tindakan teleterapi, posisi sumber radiasi gamma energi tinggi yang
berasal dari Cobalt-60 yang disimpan dalam kontainer metal yang tebal pada alat, dapat diatur
sedemikian rupa sehingga kanker dapat diradiasi dari berbagai arah yang ditujukan setepat
mungkin pada jaringan tumor. Tumor ganas dikenai radiasi yang sangat kuat secara berulang-ulang
menggunakan teknik fraksinasi (dosis terbagi atas perkali pemberian dari total dosis yang harus
diterima oleh pasien) selama jangka waktu beberapa minggu. Radioterapi diberikan setiap hari dari
berbagai arah secara tepat pada kanker. Dengan demikian kanker akan menerima radiasi yang
bersilang dengan dosis tinggi sementara jaringan normal dan sehat di sekitar lokasi kanker hanya
akan menerima dosis yang lebih rendah dengan tingkat kerusakan yang dapat ditoleransi tubuh
dan berangsur pulih.
Radioterapi dapat pula dilakukan dengan menggunakan sumber radiasi terbuka yang
diposisikan sedekat mungkin dengan kanker, dikenal sebagai tindakan brakiterapi. Sumber radiasi
terbuka yang umum digunakan antara lain I-125, Ra-226, yang dikemas dalam bentuk jarum, biji
sebesar beras, atau kawat dan dapat diletakkan dalam rongga tubuh (intracavitary) seperti kanker
serviks, kanker paru, dan kanker esopagus, dalam organ/jaringan (interstisial) seperti kanker
prostat, kanker kepala dan leher, kanker payudara, atau dalam lumen (intraluminal).

Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut:


1. Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi, baik dengan atau tanpa
dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti pembedahan dan kemoterapi.
2. Mengontrol : Jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan, radioterapi berguna untuk
mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan membuat sel kanker menjadi lebih kecil dan berhenti
menyebar.
3. Mengurangi gejala : Selain untuk mengontrol kanker, radioterapi dapat mengurangi gejala yang
biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa nyeri dan juga membuat hidup penderita lebih
nyaman.
4. Membantu pengobatan lainnya : terutama post operasi dan kemoterapi yang sering disebut sebagai
“adjuvant therapy” atau terapi tambahan dengan tujuan agar terapi bedah dan kemoterapi yang
diberikan lebih efektif.

B. Manfaat Radioisotop dalam Bidang Kesehatan dan Kedokteran


Banyak radioisotop yang digunakan dalam bidang kesehatan dan kedokteran dan masing-
masing radioisotop tersebut memiliki manfaat yang berbeda, antara lain:
1. I-131 Terapi penyembuhan kanker Tiroid, mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati dan
otak.
2. Pu-238 energi listrik dari alat pacu jantung.
3. Tc-99 & Ti-201 Mendeteksi kerusakan jantung.
4. Na-24 Mendeteksi gangguan peredaran darah.
5. Xe-133 Mendeteksi Penyakit paru-paru.
6. P-32 Penyakit mata, tumor dan hati.
7. Fe-59 Mempelajari pembentukan sel darah merah.
8. Cr-51 Mendeteksi kerusakan limpa.
9. Se-75 Mendeteksi kerusakan Pankreas.
10. Tc-99 Mendeteksi kerusakan tulang dan paru-paru.
11. Ga-67 Memeriksa kerusakan getah bening.
12. C-14 Mendeteksi diabetes dan anemia.
13. Co-60 Membunuh sel-sel kanker.

C. Mekanisme kerja
1. Radiodiagnostik
I-131 digunakan sebagai terapi pengobatan untuk kondisi tiroid yang over aktif atau kita
sebut hipertiroid. I-131 ini sendiri adalah suatu isotop yang terbuat dari iodin yang selalu
memancarkan sinar radiasi. Jika I-131 ini dimasukkan kedalam tubuh dalam dosis yang kecil,
maka I-131 ini akan masuk ke dalam pembuluh darah traktus gastrointestinalis. I-131 dan akan
melewati kelenjar tiroid yang kemudian akan menghancurkan sel-sel glandula tersebut. Hal ini
akan memperlambat aktifitas dari kelenjar tiroid dan dalam beberapa kasus dapat merubah kondisi
tiroid.

2. Radioterapi
Bila jaringan terkena radiasi penyinaran, maka jaringan akan menyerap energi radiasi dan
akan menimbulkan ionisasi atom-atom. Ionisasi tersebut dapat menimbulkan perubahan kimia dan
biokimia yang pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan biologik. Kerusakan sel yang terjadi
dapat berupa kerusakan kromosom, mutasi, perlambatan pembelahan sel dan kehilangan
kemampuan untuk berproduksi.
Radiasi pengion adalah berkas pancaran energi atau partikel yang bila mengenai sebuah atom
akan menyebabkan terpentalnya elektron keluar dari orbit elektron tersebut. Pancaran energi dapat
berupa gelombang elektromagnetik, yang dapat berupa sinar gamma dan sinar X. Pancaran partikel
dapat berupa pancaran elektron (sinar beta) atau pancaran partikel netron, alfa, proton.
Dengan pemberian setiap terapi, maka akan semakin banyak sel-sel kanker yang mati dan
tumor akan mengecil. Sel-sel yang mati akan hancur, dibawa oleh darah dan diekskresi keluar dari
tubuh. Sebagian besar sel-sel sehat akan bisa pulih kembai dari pengaruh radiasi. Tetapi
bagaimanapun juga, kerusakan yang terjadi pada sel-sel sehat merupakan penyebab terjadinya efek
samping radiasi.

D. Efek radioaktif bidang kesehatan dan kedokteran


Efek samping radioterapi bervariasi pada tiap pasien. Secara umum efek samping tersebut
tergantung dari dosis terapi, target organ dan keadaan umum pasien. Beberapa efek samping
berupa kelelahan, reaksi kulit (kering, memerah, nyeri, perubahan warna dan ulserasi), penurunan
sel-sel darah, kehilangan nafsu makan, diare, mual dan muntah bisa terjadi pada setiap pengobatan
radioterapi. Kebotakan bisa terjadi tetapi hanya pada area yang terkena radioterapi. Radiasi tidak
menyebabkan kehilangan rambut yang total. Pasien yang menjalani radiasi eksternal tidak bersifat
radioaktif setelah pengobatan sehingga tidak berbahaya bagi orang di sekitarnya. Efek samping
umumnya terjadi pada minggu ketiga atau keempat dari pengobatan dan hilang dua minggu setelah
pengobatan selesai.

Efek radiasi pada sistem, organ atau jaringan:


1. Darah dan Sumsum Tulang Merah
Darah putih merupakan komponen seluler darah yang tercepat mengalami perubahan akibat
radiasi. Efek pada jaringan ini berupa penurunan jumlah sel. KompOnen seluler darah yang lain (
butir pembeku dan darah merah ) menyusun setelah sel darah putih. Sumsum tulang merah yang
mendapat dosis tidak terlalu tinggi masih dapat memproduksi sel-sel darah merah, sedang pada
dosis yang cukup tinggi akan terjadi kerusakan permanen yang berakhir dengan kematian ( dosis
lethal 3 – 5 sv). Akibat penekanan aktivitas sumsum tulang maka orang yang terkena radiasi akan
menderita kecenderungan pendarahan dan infeksi, anemia dan kekurangan hemoglobinefek
stokastik pada penyinaran sumsum tulang adalah leukemia dan kanker sel darah merah.
2. Saluran Pencernaan Makanan
Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala mual, muntah, gangguan
pencernaan dan penyerapan makanan serta diare. kemudian dapat timbul karena dehidrasi akibat
muntah dan diare yang parah. Efek stokastik yang dapat timbul berupa kanker pada epithel saluran
pencernaan.
3. Organ Reproduksi
Efek somatik non stokastok pada organ reproduksi adalah sterilitas, sedangkan efek genetik
(pewarisan) terjadi karena mutasi gen atau kromosom pada sel kelamin.
4. Sistem Syaraf
Sistem syaraf termasuk tahan radiasi. Kematian karena kerusakan sistem syaraf terjadi pada
dosis puluhan sievert.
5. Mata
Lensa mata peka terhadap radiasi. Katarak merupakan efek somatik non stokastik yang masa
tenangnya lama (bisa bertahun-tahun).
6. Kulit
Efek somatik non stokastik pada kulit bervariasi dengan besarnya dosis, mulai dengan
kemerahan sampai luka bakar dan kematian jaringan. efek somatik stokastik pada kulit adalah
kanker kulit.
7. Tulang
Bagian tulang yang peka terhadap radiasi adalah sumsum tulang dan selaput dalam serta luar
pada tulang. kerusakan pada tulang biasanya terjadi karena penimbunan stontium-90 atau radium-
226 dalam tulang. Efek somatik stokastik berupa kanker pada sel epithel selaput tulang.
8. Kelenjar Gondok
Kelenjar gondok berfungsi mengatur metabolisme umum melalui hormon tiroxin yang
dihasilkannya. Kelenjar ini relatif tahan terhadap penyinaran luar namun mudah rusak karena
kontaminasi internal oleh yodium radioaktif.
9. Paru-paru
Paru-paru pada umumnya menderita kerusakan akibat penyinaran dari gas, uap atau partikel
dalam bentuk aerosol yang bersifat radioaktif yang terhirup melalui pernafasan.