Anda di halaman 1dari 64

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 3
BAB II TATA CARA PENYUSUNAN RIP.................................................................................................... 11
2.1. Tahapan / Prosedur Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan ............................................... 11
2.2. Penyusunan Dokumen Studi Rencana Induk Pelabuhan ...................................................... 16
2.3. Sistematika PenulisanStudi Rencana Induk Pelabuhan ........................................................ 29
BAB III PROSEDUR PENETAPAN RIP ...................................................................................................... 38
BAB IV PERHITUNGAN KEBUTUHAN FASILITAS DARATAN DAN PERAIRAN .......................................... 45
BAB V PENUTUP .................................................................................................................................... 48
LAMPIRAN ................................................................................................. Error! Bookmark not defned.

Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 2


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam sistem transportasi, pelabuhan merupakan suatu simpul dari
mata rantai kelancaran muatan angkutan laut dan darat, yang
selanjutnya berfungsi sebagai kegiatan peralihan antar moda
transportasi.

Berdasarkan Tatanan Kepelabuhanan Nasional, hierarki pelabuhan


di Indonesia terdiri atas pelabuhan utama, pelabuhan pengumpul,
pelabuhan pengumpan regional, dan pelabuhan pengumpan lokal.
Pengembangan pelabuhan secara nasional telah diwujudkan dalam
sebuah Rencana Induk Pelabuhan Nasional merupakan dokumen
penting yang memuat kebijakan kepelabuhanan secara nasional,
sebagai pedoman bagi pembangunan, pengoperasian dan
pengembangan pelabuhan dan sekaligus juga sebagai acuan dalam
penyusunan Rencana Induk pada masing-masing pelabuhan.

Perencanaan pengembangan pelabuhan secara nasional melalui


Rencana Induk Pelabuhan Nasional harus didukung oleh sistem
perencanaan pelabuhan melalui Rencana Induk Pelabuhan.
Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2008 tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun
2009 tentang Kepelabuhanan, bahwa setiap pelabuhan wajib
memiliki Rencana Induk Pelabuhan, yang merupakan pengaturan
ruang pelabuhan berupa peruntukan rencana tata guna tanah dan
perairan di Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan
Kepentingan pelabuhan.
Perencanaan pelabuhan berdasarkan Rencana Induk Pelabuhan
menjadi dasar bagi pembangunan dan pengembangan pelabuhan
pada jangka pendek, menengah dan panjang. Hal tersebut menjadi
indikator penting bahwa pelabuhan harus dikembangkan sesuai
kebutuhan dan terintegrasi dengan rencana pengembangan wilayah,
serta hierarkinya, mengingat pelabuhan merupakan bagian dari
rantai logistik nasional dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari perkembangan suatu wilayah.

Sesuai dengan Tatanan Kepelabuhanan Nasional dalam Rencana


Induk Pelabuhan Nasional terdapat sebanyak 1240
pelabuhan/terminal di Indonesia, namun sampai dengan juknis ini
diterbitkan baru 32 rencana induk yang telah ditetapkan oleh
Menteri Perhubungan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah
masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan konsep
Rencana Induk Pelabuhan baik dari segi penyajian, maupun materi di
dalam rencana induk itu sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan suatu petunjuk teknis untuk


menyamakan persepsi tentang bagaimana menyusun sebuah
Rencana Induk Pelabuhan yang tepat dan memenuhi standar dari
segi perencanaan, teknis, lingkungan, dan keselamatan pelayaran,
serta sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Petunjuk teknis ini diharapkan akan memberi pengetahuan bagi


penyelenggara pelabuhan dan stakeholders lainnya mengenai
materi dan substansi Rencana Induk Pelabuhan serta memberikan
panduan dalam menyusun Rencana Induk Pelabuhan.
1.2 Dasar Hukum
Dasar hukum penyusunan Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana
Induk Pelabuhan adalah sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Pedoman
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Kenavigasian;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan
di Perairan sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 22 Tahun 2011;
g. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang
Perlindungan Lingkungan Maritim;
h. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan
dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2013;
i. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan,
Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi,
Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2013;
j. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 54 Tahun 2002
tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut;
k. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 2006
tentang Pedoman dan Proses Perencanaan di Lingkungan
Departemen Perhubungan;
l. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan dengan Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor PM. 68 Tahun 2013;
m. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 62 Tahun 2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara
Pelabuhan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor PM 44 Tahun 2011;
n. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 63 Tahun 2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelabuhan Batam;
o. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 25 Tahun 2011
tentang Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP);
p. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 51 Tahun 2011
tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk Kepentingan
Sendiri;
q. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 52 Tahun 2011
tentang Pengerukan dan Reklamasi;
r. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 53 Tahun. 2011
tentang Pemanduan;
s. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 68 Tahun 2011
tentang Alur pelayaran di Laut;
t. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 34 Tahun 2012
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran Utama;
u. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 35 Tahun 2012
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Otoritas Pelabuhan
Utama;
v. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun 2012
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan;
w. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 58 Tahun 2013
tentang Penanggulangan Pencemaran di Perairan dan Pelabuhan;
x. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP. 414 Tahun 2013
tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup Petunjuk Teknis ini mencakup seluruh kegiatan yang


dilakukan dalam penyusunan Rencana Induk Pelabuhan. Penerapan
penyusunan Rencana Induk Pelabuhan disesuaikan dengan kondisi
eksisting di masing-masing pelabuhan, dan direncanakan sesuai
dengan kebutuhan dan hierarki pelabuhan tersebut.
1.4 Maksud dan Tujuan
Maksud dari disusunnya Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan adalah sebagai panduan bagi penyelenggara pelabuhan
dan setiap pemangku kepentingan (stakeholder) dalam menyusun
Rencana Induk Pelabuhan. Sedangkan tujuan dari penyusunan
petunjuk teknis ini untuk meningkatkan kualitas Rencana Induk
Pelabuhan agar memenuhi standar perencanaan, teknis, dan
keselamatan pelayaran.

1.5 Ketentuan Umum

Dalam Keputusan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan :


1. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau
perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan
pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan
sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang
dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat
berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan
dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan
serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda
transportasi.

2. Kepelabuhanan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan


pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran,
keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang
dan/atau barang, keselamatan dan keamanan berlayar, tempat
perpindahan intra-dan/atau barang, keselamatan dan
keamanan berlayar, tempat perpindahan intra-dan/atau
antarmoda serta mendorong perekonomian nasional dan
daerah dengan tetap memperhatikan tata ruang wilayah.
3. Alur Pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar,
dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan
selamat untuk dilayari.

4. Pelabuhan Utama adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya


melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri dan
internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri dan
internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal
tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan
penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi.
5. Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya
melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat
angkutan laut dalam negeri, dalam jumlah menengah, dan
sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta
angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan
antarprovinsi.

6. Pelabuhan Pengumpan adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya


melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat
angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan
pengumpan bagi pelabuhan utama, dan pelabuhan pengumpul,
dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang,
serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan
dalam provinsi.
7. Unit Penyelenggara Pelabuhan adalah lembaga pemerintah di
pelabuhan sebagai otoritas yang melaksanakan fungsi
pengaturan, pengendalian, pengawasan kegiatan
kepelabuhanan untuk pelabuhan yang belum diusahakan
secara komersial.
8. Otoritas Pelabuhan adalah lembaga pemerintah di pelabuhan
yang mempunyai tugas melaksanakan pengaturan,
pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan pada
pelabuhan yang diusahakan secara komersial.
9. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan adalah
lembaga pemerintah di pelabuhan yang mempunyai tugas
melaksanakan pengawasan, dan penegakan hukum di bidang
keselamatan dan keamanan pelayaran, koordinasi kegiatan
pemerintahan di pelabuhan serta pengaturan, pengendalian
dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan pada pelabuhan
yang diusahakan secara komersial.

10. Badan Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
Milik Daerah, atau badan hukum Indonesia yang khusus
didirikan untuk pelayaran.
11. Badan Usaha Pelabuhan adalah Badan Usaha yang kegiatan
usahanya khusus di bidang pengusahaan terminal dan fasilitas
pelabuhan lainnya.
12. Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) adalah wilayah perairan dan
daratan pada pelabuhan atau terminal khusus yang digunakan
secara langsung untuk kegiatan pelabuhan.
13. Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) adalah perairan di
sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang
dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran.
14. Tatanan Kepelabuhanan Nasional adalah suatu sistem
Kepelabuhanan yang memuat peran, fungsi, jenis, hierarki
pelabuhan, rencana Induk Pelabuhan Nasional, dan lokasi
pelabuhan serta keterpaduan intra-dan antarmoda serta
keterpaduan dengan sektor lainnya.
15. Rencana Induk Pelabuhan Nasional adalah pedoman dalam
penetapan lokasi, pembangunan, pengoperasian,
pengembangan pelabuhan, dan penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan.
16. Rencana Induk Pelabuhan adalah pengaturan ruang pelabuhan
berupa peruntukan rencana tataguna tanah dan perairan di
daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan
pelabuhan.
17. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan
ruang udara termasuk ruang didalam bumi sebagai satu
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup dan
melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
18. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.

19. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata


ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang.
20. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis
beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya
ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek
fungsional.
21. Trafk adalah arus lalu-lintas moda angkutan darat dan laut
termasuk pergerakan muatannya di kawasan pelabuhan.
BAB II
TATA CARA PENYUSUNAN RIP

2.1. Tahapan / Prosedur Penyusunan Rencana Induk


Pelabuhan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang


Pelayaran dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan, yang menyatakan bahwa setiap pelabuhan wajib
memiliki Rencana Induk Pelabuhan yang disusun oleh penyelenggara
pelabuhan.
Penyelenggara Pelabuhan dalam menyusun Studi Rencana Induk
Pelabuhan dapat menggunakan dana yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) maupun stakeholder terkait yang pengelolaan
berada di Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah maupun Investor.
Tahapan / prosedur penyusunan Rencana Induk Pelabuhan dapat
dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Tahapan / prosedur penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
melalui dana APBN, dan;
b. Tahapan / prosedur penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
melalui APBD maupun instansi terkait.
2.1.1 Tahapan / Prosedur Penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan melalui dana APBN

SURAT PENGAJUAN
PENYUSUNAN RENCANA INDUK
UPP / KSOP / OP

usulan akan DIREKTUR JENDERAL


ditampung dan
PERHUBUNGAN LAUT
diajukan kembali pada
tahun anggaran

KRITERIA EVALUASI :
PENGUSULAN PROGRAM 1. KETERSEDIAAN
ANGGARAN
TIDAK DIREKTORAT PELABUHAN 2. BELUM ADANYA
DAN PENGERUKAN STUDI
3. HIERARKI
4. KEADAAN KAHAR
SURAT PEMBERITAHUAN
YA
PENYUSUNAN RENCANA INDUK
Kepada KUPP / KSOP / OP / PEMDA /
INSTANSI TERKAIT LAINNYA
PROSES
PENYUSUNAN KONTRAK
KONSULTAN

LAPORAN DOKUMEN
SURVEY LOKASI
PENDAHULUAN
PRESENTASI KONSULTAN
SOSIALISASI AWAL
LAPORAN DOKUMEN /DISKUSI/FGD
ANTARA OP/KSOP/UPP/PEMDA/
PRESENTASI KONSULTAN PEMERINTAH PUSAT
INSTANSI TERKAIT
LAPORAN DOKUMEN
SEMI RAMPUNG
PRESENTASI KONSULTAN

LAPORAN DOKUMEN
RAMPUNG

PENYAMPAIAN DOKUMEN RENCANA INDUK


KEPADA PENYELENGGARA PELABUHAN

Gambar 2. 1 Skema Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Umum melalui dana APBN
Penyelenggara pelabuhan sebagai penyusun Rencana Induk
Pelabuhan dapat mengajukan surat pengajuan penyusunan Rencana
Induk Pelabuhan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut Cq.
Direktur Pelabuhan dan Pengerukan.
Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan akan mengusulkan program
penyusunan Rencana Induk Pelabuhan tersebut berdasarkan surat
pengajuan tersebut. Hasil evaluasi akan disampaikan kepada unit
Penyelenggara Pelabuhan (UPP) / Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan (KSOP) / Otoritas Pelabuhan (OP) / Pemerintah Daerah/
Instansi terkait melalui surat pemberitahuan penyusunan Rencana
Induk Pelabuhan.

Selanjutnya, Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan akan


berkoordinasi dengan Penyelenggara Pelabuhan/Pemerintah
Daerah/stakeholder terkait untuk proses penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan.
2.1.2 Tahapan / Prosedur Penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan melalui dana non APBN

SURAT PEMBERITAHUAN PENYUSUNAN


STUDI RENCANA INDUK PELABUHAN
Pemerintah Daerah / Instansi Terkait

DIREKTUR JENDERAL
PERHUBUNGAN LAUT
Cq. DIREKTUR PELABUHAN
DAN PENGERUKAN

EVALUASI KRITERIA EVALUASI :


1. ADA/TIDAK DALAM
RIPN/TKN
TIDAK DIREKTORAT PELABUHAN
2. HIERARKI DALAM
DAN PENGERUKAN
RIPN/TKN
3. ADA/TIDAK STUDI RIP
DALAM 5 TAHUN
YA TERAKHIR
SURAT PEMBERITAHUAN
4. KEADAAN KAHAR
Kepada Pemerintah Daerah /
Instansi Terkait PROSES
PENYUSUNAN
LAPORAN DOKUMEN PENDAHULUAN PRESENTASI KONSULTAN
SURVEY LOKASI LAPORAN DOKUMEN
ANTARA
SOSIALISASI AWAL PRESENTASI KONSULTAN
DAN DISKUSI
UPP/KSOP/OP/PEMDA/
LAPORAN DOKUMEN
PEMERINTAH PUSAT SEMI RAMPUNG
INSTANSI TERKAIT PRESENTASI KONSULTAN
PEMERINTAH PUSAT
LAPORAN DOKUMEN UPP/KSOP
RAMPUNG PEMERINTAH DAERAH
INSTANSI TERKAIT

PENYAMPAIAN DOKUMEN RENCANA INDUK


KEPADA PENYELENGGARA PELABUHAN

Gambar 2. 2 Skema Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Umum melalui dana non APBN
Pemerintah Daerah / Instansi Terkait sebagai penyusun Rencana
Induk Pelabuhan menyampaikan surat pemberitahuan penyusunan
studi Rencana Induk Pelabuhan kepada Direktur Jenderal
Perhubungan Laut Cq. Direktur Pelabuhan dan Pengerukan.

Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan akan menyampaikan Surat


Pemberitahuan Penyusunan Studi Rencana Induk Pelabuhan kepada
Pemerintah Daerah / Instansi Terkait berdasarkan hasil evaluasi.
Kriteria Evaluasi Penyusunan Studi Rencana Induk Pelabuhan adalah
sebagai berikut:

1. Ada / tidaknya lokasi pelabuhan di dalam Rencana Induk


Pelabuhan Nasional (RIPN) / Tatanan Kepelabuhan Nasional (TKN);
2. Hierarki Pelabuhan dalam RIPN / TKN;
3. Ada / tidaknya studi Rencana Induk Pelabuhan dalam 5 (lima)
tahun terakhir;
4. Keadaan Kahar (seperti bencana alam, perubahan administrasi,
dll).
Selanjutnya, Pemerintah Daerah / Instansi terkait akan berkoordinasi
dengan Penyelenggara Pelabuhan dan Pemerintah Pusat untuk
proses penyusunan Rencana Induk Pelabuhan.
Tahapan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan dilaporkan secara
berkala sebagaimana ketentuan berikut:

a. Laporan Dokumen Pendahuluan, menyajikan kajian data awal,


data sekunder, metodologi pelaksanaan, rencana kerja
penyusunan studi Rencana Induk Pelabuhan;
b. Laporan Dokumen Antara, merupakan rancangan Dokumen
Kompilasi Data dan Analisis Prediksi yang menyajikan kajian data
primer berupa hasil wawancara dengan stakeholder terkait,
analisis data, dan kajian rancangan rencana pembangunan dan
pengembangan studi Rencana Induk Pelabuhan;
c. Laporan Dokumen Semi Rampung, merupakan rancangan
Dokumen Rencana Pembangunan dan Pengembangan yang
menyajikan kajian rencana pembangunan dan pengembangan,
serta rancangan Ringkasan Eksekutif (Executve Summary) yang
merupakan ringkasan komprehensif dari studi Rencana Induk
Pelabuhan;
d. Laporan Dokumen Rampung, menyajikan Dokumen Kompilasi
Data dan Analisis Prediksi, Dokumen Rencana Pembangunan dan
Pengembangan, serta Ringkasan Eksekutif (Executive Summary).
Dokumen Studi Rencana Induk Pelabuhan akan diserahkan kepada
Penyelenggara Pelabuhan untuk selanjutnya dapat dilanjutkan untuk
proses penetapannya sesuai dengan hierarki pelabuhan.

2.2. Penyusunan Dokumen Studi Rencana Induk Pelabuhan

Studi Rencana Induk Pelabuhan disusun melalui beberapa tahapan


yaitu : menginventarisasi data yang dibutuhkan (data sekunder)
melalui studi literatur, melakukan survey lapangan, menganalisis
data yang telah dikumpulkan dan menyusun rancangan kebutuhan
pembangunan dan pengembangan pelabuhan.

Dalam penyusunan Studi Rencana Induk Pelabuhan dibutuhkan


metodologi penyusunan yang efektif dan tepat sasaran guna
mendapat hasil yang diharapkan. Studi Rencana Induk Pelabuhan
dimaksud disusun dalam beberapa tahapan seperti bagan berikut ini:
P ENGUMPULA yang dibutuhkan dalam
N kegiatan analisis
P N DATA
ditujukan
02
persiapan survey, kajian
literatur, dan 01 untuk
ANALISIS
pengenalan awal memperoleh data
wilayah pelabuhan sekunder
maupun primer
RENCANA
PENGEMBANGAN
ERSIAPA ditujukan
untuk menyusun
pentahapan
ditujukan
untuk 03 pengembangan dan
0
menghasilkan besaran penzonasian baik
kebutuhan
daratan
pengembangan di
maupun
wilayah daratan dan
peraira
perairan
n
Gambar 2. 3 Tahapan dalam Penyusunan Studi RIP

Dalam Tahap Persiapan, harus dipahami mengenai kondisi4


awal
pelabuhan dengan mencari informasi-informasi untuk
pengenalan wilayah pelabuhan, mempelajari literatur yang
mendukung kemudian dilakukan identifkasi terhadap data yang
dibutuhkan, metode survey yang akan dilakukan dan materi
wawancara kepada pihak-pihak terkait.
Dalam Tahap Pengumpulan Data, seluruh data sekunder
diinventarisasi dan dilakukan wawancara dengan instansi terkait
untuk mendapatkan masukan terkait rencana pengembangan
wilayah maupun pelabuhan. Selain inventarisasi data sekunder,
survey lapangan juga dilakukan untuk memperoleh data primer dan
informasi kondisi aktual lapangan. Keseluruhan data yang diperoleh
baik melalui wawancara maupun survey dikumpulkan dan disusun
dalam kompilasi data.
Tahap Analisis merupakan tahapan kajian/penelaahan data dan
perhitungan terhadap besaran kebutuhan pengembangan ruang
daratan maupun perairan. Analisis dilakukan dengan membuat
proyeksi data sampai dengan 20 (dua puluh) tahun ke depan.
Tahap terakhir adalah Tahap Rencana Pengembangan, hasil
kajian/penelaahan data serta hasil perhitungan dirumuskan dalam
tahap pengembangan yang dibagi dalam tiga pentahapan yaitu :
jangka pendek (5 tahun), menengah (10 tahun) dan panjang (20
tahun). Dalam tahap ini, juga direncanakan penzonasian wilayah
daratan dan perairan untuk tiap jangka waktu pengembangan.

2.2.1. Inventarisasi Data Awal dan Data Sekunder

Dalam proses pengumpulan data awal dan sekunder, dikumpulkan


data pendukung seperti berikut ini:
a. Kebijakan Pemerintah terkait Rencana Tata Guna Lahan dan
Prasarana Fisik Wilayah yang ada, meliputi:
1) Rencana Induk Pelabuhan Nasional / Tatanan Kepelabuhanan
Nasional;
2) Tatanan Transportasi Nasional (Tatranas), Tatanan Transportasi
Wilayah (Tatrawil) dan Tatanan Transportasi Lokal (Tatralok);
3) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi dan
Kabupaten/Kota;
4) Jaringan prasarana transportasi dan rencana
pengembangannya (jika telah ada);
5) Informasi mengenai daerah-daerah yang termasuk MP3EI,
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Pengembangan
Ekonomi Terpadu (KAPET) serta Kawasan strategis
pembangunan nasional lainnya sesuai rencana Pemerintah
Pusat;
6) Informasi mengenai daerah khusus, daerah tertinggal, dan
pulau terluar;
7) Informasi mengenai daerah rawan bencana.
b. Data Sosial Ekonomi Wilayah, meliputi:
1) Kependudukan (jumlah, kepadatan, sebaran dan laju
pertumbuhan);
2) Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Daerah;
3) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB);
4) Ekspor dan Impor;
5) Profil Potensi Investasi dan Pengembangan Industri di Daerah;
6) Potensi Komoditas Unggulan dan Pariwisata;
7) Kondisi Sosial Ekonomi dan lingkungan masyarakat setempat.

c. Fisiograf, Topograf, dan Meteorologi


1) Peta pada lokasi dan kawasan di sekitar rencana
pelabuhan;
2) Peta tata guna lahan di sekitar lokasi rencana pelabuhan;
3) Data status kepemilikan lahan di lokasi rencana pelabuhan;
4) Data meteorologi dan klimatologi (suhu udara, kelembaban,
arah angin dan kecepatan angin, curah hujan, gempa);
5) Informasi mengenai daerah konservasi.

d. Dokumen/hasil studi terkait


1) Hasil studi atau perencanaan pengembangan pelabuhan yang
terkait;
2) Hasil studi atau rencana pihak-pihak swasta/investor terhadap
area tertentu di kawasan pelabuhan;
3) Hasil studi atau perencanaan sektor-sektor lain yang terkait
dengan rencana pembangunan pelabuhan.

e. Kondisi eksisting fasilitas pelabuhan


1) Data Fasilitas Pelabuhan;
2) Layout Eksisting Pelabuhan;
3) Data kondisi Alur Pelayaran;
4) Data Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP);
5) Data Sarana Telekomunikasi Pelayaran.
f. Data operasional pelabuhan
Merupakan data historis mengenai kondisi/karakteristik jasa
angkutan laut yang diperlukan untuk analisis kebutuhan
pembangunan/pengembangan fasilitas pelabuhan, yang
meliputi:
1) Jumlah kunjungan kapal (ship call);
2) Volume pergerakan barang (bongkar, muat, ekspor, dan
impor);
3) Jumlah pergerakan penumpang;
4) Rute/jaringan pelayaran;
5) Tipe/jenis kapal yang beroperasi.

2.2.2. Wawancara/kuesioner dengan instansi terkait


Wawancara/Kuisioner bertujuan untuk mendapat masukan dari
stakeholder terkait, yaitu:
a. BAPPEDA, untuk mendapatkan informasi mengenai kebijakan
pengembangan wilayah di sekitar kawasan perencanaan
pelabuhan dalam kaitannya dengan perencanaan wilayah makro;
b. Dinas Perhubungan, untuk mendapatkan gambaran arah
kebijakan pengembangan sektor perhubungan terutamanya
perhubungan laut terkait dengan rencana pengembangan
kawasan pesisir di wilayah perencanaan serta rencana-rencana /
permasalahan menyangkut pengembangan sektor perhubungan
atau transportasi;
c. Dinas Lingkungan Hidup, untuk mendapatkan informasi mengenai
kondisi lingkungan di sekitar pelabuhan beserta faktor-faktor yang
dapat mencemarkan lingkungan;
d. Dinas Pekerjaan Umum;
e. Operator Sarana Angkutan Laut untuk memperoleh data
operasional pelabuhan;
f. Masyarakat sekitar pelabuhan;
g. Pengguna Jasa Pelabuhan;
h. Pihak-pihak terkait lainnya.
Jenis wawancara/kuesioner yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Wawancara Pendahuluan
Wawancara dilakukan terhadap Kepala Dinas (Perhubungan,
Bappeda) setempat guna mengidentifkasi wilayah yang digunakan
untuk transportasi, pusat pergerakan, dan rencana
pengembangan transportasi. Hasil dari wawancara ini digunakan
sebagai analisis awal untuk survey berikutnya.

b. Survey Karakteristik Lingkungan


Kuesioner diisi oleh masyarakat sekitar pelabuhan dengan tujuan
mengetahui karakteristik masyarakat di sekitar pelabuhan dan
yang menjadi pengguna transportasi laut, seperti kondisi fsik,
ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.

c. Observasi Simpul Transportasi Laut


Mendapatkan data primer mengenai kondisi dan karakteristik
transportasi laut yang meliputi : kondisi pelabuhan, jaringan
transportasi laut, zona asal dan tujuan barang / penumpang, jenis
dan ukuran kapal, serta hambatan-hambatan.

d. Wawancara Simpul Transportasi Laut


Mendapatkan data mengenai simpul transportasi seperti :
pelabuhan, bandara, dan terminal yang meliputi : kapasitas,
fasilitas, rute, kegiatan operasional, kondisi fsik, dll. Hal ini untuk
mengetahui potensi perpindahan moda transportasi.

e. Karakteristik Laut
Mendapatkan informasi mengenai karakteristik wilayah perairan.
Contoh form wawancara/kuesioner dapat dilihat pada Lampiran 1
2.2.3. Survey Lapangan

Survey Lapangan dimaksudkan untuk memperoleh data primer


beserta kondisi faktual yang ada di lapangan. Survey Lapangan yang
dilakukan meliputi survey-survey berikut:

a. Survey Topografi
Pengukuran Topografi seluas ±10,0 Ha (atau disesuaikan dengan
kondisi pelabuhan) dilakukan pada lokasi dan sekitar rencana
pelabuhan serta bertujuan untuk mendapatkan peta situasi
wilayah daratan pada lokasi rencana pembangunan pelabuhan.
Topografi mencakup batas-batas luar wilayah pelabuhan dan
pemetaan terhadap fasilitas-fasilitas eksisting di dalam wilayah
pelabuhan.

b. Survey Bathimetri
Pengukuran Bathimetri seluas ±30,0 Ha (atau disesuaikan dengan
kondisi pelabuhan) dilakukan pada lokasi dan sekitar pelabuhan
dan bertujuan untuk mendapatkan peta situasi wilayah perairan
pada lokasi rencana pembangunan pelabuhan. Survey bathimetri
mencakup kerapatan, kedalaman yang diukur sampai batas dari
alur pelayaran masuk.

c. Survey Hidrooseanografi
1) Pengamatan pasang surut
a) Maksud pengamatan pergerakan pasang surut adalah
untuk menentukan kedudukan air tertinggi, duduk tengah
dan air terendah yang dicapai maupun kedudukan LWS;
b) Pengamatan/pencatatan pergerakan muka air dilakukan
minimum selama 15 hari terus menerus menggunakan alat
pencatat otomatis.

2) Pengukuran Arus
Pengalaman kecepatan dan arah arus dilakukan minimal pada
2 (dua) lokasi;
d. Survey Permintaan Jasa Angkutan Laut
Survey lapangan untuk permintaan jasa angkutan laut dilakukan
bila tidak tersedia data operasional yang memadai untuk dijadikan
bahan analisis kebutuhan pembangunan/pengembangan fasilitas
pelabuhan. Survey ini berupa pengumpulan data yang meliputi:
1) Jumlah kunjungan kapal (ship call);
2) Jumlah pergerakan penumpang;
3) Volume pergerakan barang;
4) Rute/jaringan dan status pelayaran;
5) Tipe/jenis kapal yang beroperasi.

e. Identifkasi Dampak Lingkungan Hidup


Identifkasi dampak lingkungan hidup merupakan identifkasi awal
kemungkinan timbulnya dampak pada lokasi pelabuhan dan
sekitarnya akibat penyelenggaraan operasi pelayaran, yang
meliputi:
1) pencemaran udara dan air akibat pengoperasian kapal laut;
2) dampak terhadap fora dan fauna;
3) dampak terhadap sosial, ekonomi dan budaya;
4) kesehatan masyarakat; dan
5) pengendalian limbah padat dan cair; dan
6) rekomendasi jenis studi lingkungan yang harus dilakukan.

2.2.4. Analisis Data

Analisis mendalam/terinci perencanaan pembangunan pelabuhan


harus meliputi kelima aspek perencanaan pembangunan pelabuhan,
yaitu:

a. Analisis Teknis
1) Kajian hidro-oseanograf dalam pembuatan dan penetapan
arah arus dan gelombang di lokasi rencana pelabuhan untuk
penetapan arah/posisi dermaga;
2) Kajian alur dan kawasan keselamatan pelayaran (turning
basin area);
3) Evaluasi jenis fasilitas pelabuhan yang dibutuhkan sampai
dengan rencana pembangunan tahap akhir (ultmate phase);
4) Analisis prakiraan kebutuhan lahan sampai dengan
rencana pembangunan pelabuhan tahap akhir;
5) Evaluasi kondisi fisik dan daya dukung lahan di lokasi rencana
pelabuhan;
6) Ketersediaan utilitas;
7) Evaluasi topografs permukaan lahan rencana lokasi
pelabuhan;
8) Keterpaduan rencana pengembangan/pembangunan
pelabuhan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan
Kabupaten/Kota setempat;
9) Kondisi dan ketersediaan lahan;
10) Potensi pendangkalan;
11) Kendala pelaksanaan konstruksi;
12) Ketersediaan akses/jalan masuk;
13) Kajian terhadap kendala kondisi alam yang menjadi batasan
dalam pengembangan pelabuhan.
b. Analisis Operasional
1) kajian jenis dan ukuran kapal yang diperkirakan akan
beroperasi di pelabuhan;
2) kajian pengaruh gelombang terhadap operasi pelabuhan;
3) kajian alur dan kawasan pelabuhan bila ada pelabuhan lain
disekitarnya;
4) kajian pengaturan operasi pelabuhan;
5) kajian dukungan peralatan SBNP.

c. Analisis Prakiraan Permintaan Jasa Angkutan Laut


Analisa Prakiraan Permintaan Jasa Angkutan Laut merupakan
tahap pengolahan data lalu lintas angkutan laut sebagai dasar
evaluasi terhadap kapasitas fasilitas eksisting dan perencanaan
kebutuhan pengembangan fasilitas pelabuhan sampai dengan
tahun target perencanaan, dengan memperhatikan program
pemerintah dalam rangka mewujudkan Sistem Transportasi
Nasional dan kebijakan/strategi pengembangan wilayah serta
potensi ekonomi daerah setempat, yang mencakup:
1) Analisis prakiraan permintaan jasa angkutan laut (20 tahun
kedepan) di wilayah perencanaan (Provinsi/Kabupaten
setempat), meliputi:
a) Prakiraan jumlah pergerakan kapal tahunan.
b) Prakiraan jumlah pergerakan penumpang tahunan.
c) Prakiraan volume barang tahunan.
d) Prakiraan jaringan/route pelayaran masa mendatang.
e) Prakiraan waktu pengoperasian jenis kapal dimasa
mendatang.
2) Analisis Asal Tujuan Lalu Lintas Kapal (Origin Destinaton
Analysis)
3) Analisis Pergantian Antar Moda Angkutan (Modal Split Analysis)

d. Analisis Kebutuhan Pengembangan


Rencana pengembangan fasilitas pelabuhan juga harus mengacu
pada kebijakan pembangunan, arahan tata ruang dan analisis
prakiraan permintaan jasa angkutan laut tersebut, dan
selanjutnyaharus menyusun konsep pengembangan pelabuhan
yang diwujudkan dalam target kemampuan layanan pelabuhan,
tahapan pengembangan, dan tahapan pelaksanaan
pembangunannya.

Analisis kebutuhan jenis fasilitas pelabuhan dan kebutuhan lahan


harus berdasarkan padahierarki pelabuhan yang ada dalam
Rencana Induk Pelabuhan Nasional. Analisis kebutuhan jenis
fasilitas pelabuhan meliputi:
1) Kebutuhan fasilitas wilayah perairan;
2) Kebutuhan fasilitas wilayah daratan;
3) Kebutuhan sarana bantu navigasi pelayaran;
4) Kebutuhan fasilitas penunjang;
5) Kebutuhan utilitas seperti listrik, telepon, sistem penerangan,
sistem drainase, air bersih, sewage treatment, fuel supply, dan
jaringan jalan.

e. Analisis Kebutuhan Biaya dan Tahapan Pembangunan


Analisis kebutuhan biaya pembangunan merupakan perhitungan
biaya pembangunan pelabuhan yang dibuat secara rinci
disesuaikan dengan pentahapan pembangunan fasilitas pelabuhan
yang optimal berdasarkan standar satuan harga terakhir pada saat
pelaksanaan pekerjaan pembuatan rencana induk pelabuhan yang
ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat dan atau satuan
harga pasar yang berlaku setelah memperhatikan hasil analisa
ekonomi dan fnansial serta kemampuan pendanaan.
Tahapan pelaksanaan pembangunan merupakan pedoman
pembangunan fasilitas pelabuhan yang berdasarkan skala
prioritas serta kemampuan pendanaan sesuai hasil analisa
kebutuhan biaya.

2.2.5. Rancangan Rencana Pembangunan dan Pengembangan

Kebutuhan ruang dihitung dengan mempertimbangkan kebutuhan


fasilitas pelabuhan sesuai dengan hierarkinya dalam Rencana Induk
Pelabuhan Nasional / Tatanan Kepelabuhanan Nasional dan
ketersediaan area.

a. Perencanaan Kebutuhan Ruang Daratan


Rencana peruntukan wilayah daratan untuk Rencana Induk
Pelabuhan disusun berdasarkan kriteria kebutuhan yang terdiri
dari dari fasilitas pokok dan fasilitas penunjang.
Gambar 2. 5 Dermaga di Pelabuhan Banten, 2014 Gambar 2. 4 Gudang di Pelabuhan Marunda, 2014

1) Fasilitas Pokok, meliputi:


a) Dermaga;
b) gudang lini 1;
c) lapangan penumpukan lini 1;
d) terminal penumpang;
e) terminal peti kemas;
f) terminal curah cair;
g) terminal curah kering;
h) terminal ro-ro;
i) car terminal;
j) terminal multipurpose;
k) terminal daratan (dryport)
l) fasilitas penampungan dan pengolahan limbah;
m) fasilitas bunker;
n) fasilitas pemadam kebakaran;
o) fasilitas gudang untuk Bahan/Barang Berbahaya dan
Beracun (B3); dan
p) fasilitas pemeliharaan dan perbaikan peralatan dan Sarana
Bantu Navigasi-Pelayaran (SBNP);
q) fasilitas pokok lainnya sesuai perkembangan teknologi.

2) Fasilitas Penunjang, meliputi:


a) kawasan perkantoran;
b) fasilitas pos dan telekomunikasi;
c) fasilitas pariwisata dan perhotelan;
d) instalasi air bersih, listrik, dan telekomunikasi;
e) jaringan jalan dan rel kereta api;
f) jaringan air limbah, drainase, dan sampah;
g) areal pengembangan pelabuhan;
h) tempat tunggu kendaraan bermotor;
i) kawasan perdagangan;
j) kawasan industri; dan
k) fasilitas umum lainnya antara lain tempat peribadatan,
taman, tempat rekreasi, olah raga, jalur hijau dan
kesehatan.

b. Perencanaan Kebutuhan Ruang Perairan


Rencana peruntukan wilayah perairan untuk Rencana Induk
Pelabuhan disusun berdasarkan kriteria kebutuhan yang terdiri
dari
1) Fasilitas pokok meliputi:
a) alur-pelayaran;
b) perairan tempat labuh;
c) kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar dan olah gerak
kapal;
d) perairan tempat alih muat kapal;
e) perairan untuk kapal yang mengangkut Bahan/Barang
Berbahaya dan Beracun (B3);
f) perairan untuk kegiatan karantina;
g) perairan alur penghubung intra-pelabuhan;
h) perairan pandu; dan
i) perairan untuk kapal pemerintah;
j) terminal terapung.

2) Fasilitas Penunjang meliputi:


a) perairan untuk pengembangan pelabuhan jangka panjang;
b) perairan untuk fasilitas pembangunan dan pemeliharaan
kapal;
c) perairan tempat uji coba kapal (percobaan berlayar);
d) perairan tempat kapal mati;
e) perairan untuk keperluan darurat; dan
f) perairan untuk kegiatan kepariwisataan dan perhotelan.

Dalam Rencana Pembangunan dan Pengembangan tidak hanya


mencakup perencanaan besaran kebutuhan fasilitas pelabuhan
tetapi juga perencanaan penzonasian wiayah daratan dan
perairan dalam setiap pentahapan pengembangan. Tahapan
pengembangan pelabuhan dibagi dalam 3 (tiga) tahapan yaitu:
a) Jangka pendek (0 s.d. 5 tahun);
b) Jangka menengah (0 s.d. 10 tahun);
c) Jangka panjang ( 0 s.d. 20 tahun).

2.3. Sistematika Penulisan Studi Rencana Induk Pelabuhan

Studi Rencana Induk Pelabuhan terdiri dari 3 (tiga) dokumen yang


harus diserahkan secara lengkap, yaitu :

a. Dokumen Kompilasi Data dan Analisis Prediksi (format A4),


b. Dokumen Rencana Pembangunan dan Pengembangan (format
A4);
c. Ringkasan Eksekutif (Executve Summary)(format A3).

2.3.1. Dokumen Kompilasi Data dan Analisis Prediksi

Dokumen Kompilasi Data dan Analisis Prediksi merupakan hasil:


a. Pengumpulan data dan fakta lapangan baik yang diperoleh dari
studi literatur, wawancara/kuesioner dan survey lapangan,
termasuk kondisi eksisting fasilitas pelabuhan;
b. analisis data meliputi analisis teknis, operasional, perkiraan
permintaan jasa angkutan laut, analisis awal kebutuhan
pengembangan, biaya dan pentahapan pembangunan serta
identifkasi permasalahan lingkungan.
2.3.2. Dokumen Rencana Pembangunan dan Pengembangan
Dokumen ini menuangkan hasil analisis kebutuhan fasilitas
pelabuhan kedalam rencana pentahapan pembangunan dan
pengembangan pelabuhan untuk jangka pendek (5 tahun), jangka
menengah (10 tahun) dan jangka panjang (20 tahun). Rencana
pengembangan juga dituangkan dalam peta /layout dan diberi warna
yang berbeda untuk setiap pentahapan. Dalam dokumen ini disusun
pengaturan zonasi daratan dan perairan serta rancangan DLKr/DLKp
dalam bentuk peta berdasarkan perhitungan kebutuhan fasilitas
perairan.

2.3.3. Ringkasan Eksekutif (Executve Summary)


Ringkasan Eksekutif merupakan ringkasan komprehensif dari
dokumen kompilasi data dan analisa prediksi, dan dokumen rencana
pembangunan dan pengembangan yang dilengkapi dengan peta-peta
pendukung. Ringkasan Eksekutif menjadi lampiran dalam Surat
Keputusan Penetapan Rencana Induk Pelabuhan. Ringkasan Eksekutif
dicetak pada kertas A3 dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
a. Halaman Sampul (Cover)
b. Dafar Isi
c. Dafar Gambar
d. Dafar Tabel
e. Pendahuluan yang berisi:
1) Dasar Hukum, menjelaskan landasan hukum dalam
penyusunan RIP dan hierarki pelabuhan tersebut dalam
Tatanan Kepelabuhanan Nasional;
2) Latar Belakang, menjelaskan kebutuhan akan penyusunan RIP
dalam operasional pelabuhan dan dasar untuk melakukan
pengembangan pelabuhan tersebut;
3) Maksud dan Tujuan, berisi narasi maksud dan tujuan
penyusunan RIP di lokasi pelabuhan tersebut.
f. Gambaran Umum dan Kebijakan Pengembangan Wilayah
Berisi gambaran umum mengenai wilayah dimana pelabuhan
berada, termasuk lokasi pelabuhan secara administratif, kondisi
kependudukan dan perekonomian wilayah, serta potensi
komoditas yang ada di wilayah perencanaan.
Selain itu, dalam bab ini juga diuraikan kesesuaian rencana lokasi
pelabuhan dengan kebijakan pengembangan daerah setempat
yang meliputi:
1) Rencana Induk Pelabuhan Nasional / Tatanan Kepelabuhanan
Nasional;
2) Tatanan Transportasi Wilayah (Tatrawil);
3) Tatanan Transportasi Lokal (Tatralok);
4) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi;
5) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota;
6) Jaringan prasarana transportasi dan rencana
pengembangannya;
7) Kebijakan pengembangan wilayah lainnya.

g. Kondisi Eksisting Pelabuhan


Data eksisting yang disampaikan meliputi:
1) data fasilitas pelabuhan dan peralatan bongkat muat;
2) data operasional pelabuhan dalam 5 (lima) tahun terakhir;
3) kondisi alur pelayaran;
4) cakupan wilayah yang dilayani (daerah hinterland);
5) komoditas utama pada daerah hinterland;
6) layout eksisting pelabuhan;
7) jaringan transportasi yang menjadi akses dari dan ke
pelabuhan.

Selain itu, diuraikan mengenai kondisi alam dan hal-hal yang


menjadi kendala dalam pengembangan pelabuhan untuk
memberi gambaran yang jelas mengenai fakta-fakta yang ada
di lapangan. Disampaikan layout pelabuhan eksisting dan
peta-peta pendukung seperti peta sebaran pelabuhan sekitar.

Contoh penyajian data fasilitas pelabuhan dituangkan dalam tabel


berikut:
Tabel 2. 1 Contoh Penyajian Fasilitas Eksisting Pelabuhan

No. Fasilitas Pelabuhan Satuan Dimensi Kondisi Keterangan


1. Fasilitas Pokok
a. Dermaga m2 70 x 6 80% APBN

2 Fasilitas Penunjang
a. Kantor m2 20 x 20 90% APBD

Data trafk pelabuhan yang disampaikan adalah data dalam 5


(lima) tahun terakhir mencakup:
a. jumlah Kunjungan kapal (ship call)
Jumlah kunjungan kapal yang disajikan dan dibagi ke dalam
jenis dan bobot kapal.

b. jumlah volume Bongkar muat barang (peti kemas, curah


kering, curah cair,general cargo/barang umum)
Data volume bongkar muat yang disajikan dan dibagi menurut
jenis barang dan dipisahkan antara barang yang dibongkar
dengan barang yang dimuat.

c. jumlah naik turun Penumpang


Data penumpang yang disajikan adalah penumpang yang
menggunakan kapal laut. Data penumpang yang
menggunakan kapal ferry/penyebrangan agar tidak
dimasukkan ke dalam data.
Tabel 2. 2 Contoh Penyajian Data Volume Barang dan Penumpang

Tahun Jumlah Muatan Barang Jumlah Penumpang Jumlah Pet Kemas


Muat Bongkar Total Turun Naik Total Muat Bongkar Total
Muatan Penumpang Pet
Kemas
(ton) (ton) (ton) (orang) (orang) (orang) (TEU) (TEU) (TEU)
1999 702 29.225 29.927 10.403 8.026 18.429 0 0 0
2000 835 145 980 7.074 5.137 12.211 0 0 0
2001 208 2.230 2.438 12.107 7.544 19.651 671 400 1.071
2002 69 2.505 2.574 8.039 6.227 14.266 1.355 1.382 2.737

Tabel 2. 3 Contoh Penyajian Data Kunjungan Kapal

Kunjungan Kapal
Total Kunjungan
Tahun Kapal Barang Kapal Penumpang Kapal Pet Kemas
Kapal
(kali) (GT) (kali) (GT) (kali) (GT) (kali) (GT)
1999 24 35.677 51 768.553 - - 75 804.230
2000 18 18.355 45 609.042 - - 63 627.397
2001 19 12.672 64 932.840 8 23.318 91 968.830
2002 * 13 8.713 56 817.420 14 41.918 83 868.051

2002 * 13 8.713 56 817.420 14 41.918 83 868.051

h. Analisa dan Prediksi


Bab ini menjelaskan hasil analisis dari data yang diperoleh baik
melalui pengamatan di lapangan maupun data sekunder yang
telah tersedia. Data trafik kunjungan kapal, bongkar muat barang,
naik turun penumpang di pelabuhan diproyeksikan dalam kurun
waktu 20 (dua puluh) tahun ke depan untuk didapatkan
perhitungan kebutuhan rencana pengembangan pelabuhan
wilayah daratan dan perairan.

Metode proyeksi yang digunakan dalam analisis disesuaikan


dengan data yang didapatkan. Khusus untuk pelabuhan baru yang
sama sekali belum mempunyai data trafk, maka proyeksi dapat
dilakukan dengan cara asumsi persentase komoditi yang akan
diangkut melalui pelabuhan. Selain itu, dapat dilakukan uji
korelasi pertumbuhan volume barang dengan kondisi
kependudukan atau perekonomian wilayah sekitar. Jika
pelabuhan tersebut merupakan pengembangan dari pelabuhan
eksisting yang sudah ada, maka proyeksi barang dapat dilakukan
dengan membagi persentase berdasarkan jenis dan volume
barang dari data pelabuhan induk.
Beberapa metode proyeksi yang dapat diterapkan untuk
memperkirakan trafk di pelabuhan antara lain:
1) Model Trend Analysis
Peramalan dengan metode ini merupakan metode sederhana
yang biasa dilakukan. Dasar dari metode ini adalah data
historis dari aspek yang ditinjau, sedangkan analisis dilakukan
dengan memperhatikan kecenderungan perkembangan data
yang ada dengan menganggap data tersebut yang
menentukan variasi lalu lintas akan terus menunjukkan
hubungan-hubungan yang serupa pada masa depan. Bentuk-
bentuk Model Trend Analysis yang lazim digunakan:
a) Metode Regresi Linear (kurva garis lurus);
b) Metode Persamaan Eksponensial;
c) Metode Modifkasi Eksponensial.

2) Market Analysis Method


Metode ini telah menjadi teknik yang banyak dipakai untuk
memperkirakan permintaan tingkat lokal, dan kegunaan yang
paling umum adalah dalam penentuan bagian kegiatan lalu
lintas tertentu. Data historis dipelajari untuk menetapkan
rasio dari lalu lintas atau pelabuhan terhadap lalu lintas secara
makro, dan kecenderungan dipastikan.

Dari sumber-sumber asal ditetapkan tingkat- tingkat kegiatan


nasional yang diproyeksikan, kemudian nilai-nilai tersebut
dibagikan kepada pelabuhan berdasarkan kecenderungan-
kecenderungan yang diamati dan yang diproyeksikan.

Metode-metode ini terutama berguna dalam penerapan


dimana dapat diperlihatkan bahwa bagian pasar adalah
parameter yang tetap, stabil atau dapat diramalkan.

Metode proyeksi untuk memperkirakan kunjungan kapal


dapat dilakukan dengan berdasarkan volume barang dan
ukuran kapal rencana. Kunjungan kapal tidak dapat
diproyeksikan berdasarkan trend data sebelumnya, karena
bergantung pada volume barang dan ukuran kapal yang akan
digunakan pada setiap tahapan pengembangan.

i. Rencana Pembangunan dan Pengembangan

Dalam Rencana Pembangunan dan Pengembangan harus


mencakup materi berikut:

1) Kebutuhan pengembangan wilayah daratan dan perairan


Rencana kebutuhan pengembangan meliputi fasilitas pokok
dan penunjang yang diperoleh berdasarkan perhitungan
sesuai dengan hasil proyeksi yang telah dilakukan
sebelumnya. Kebutuhan pengembangan untuk wilayah
daratan disusun berdasarkan pentahapan pengembangan
yaitu jangka pendek (5 tahun), jangka menengah (10 Tahun)
dan jangka panjang (20 tahun) sedangkan untuk kebutuhan
pengembangan wilayah perairan direncanakan hanya untuk
pentahapan jangka panjang.
Contoh matriks kebutuhan pengembangan wilayah daratan
dan perairan dapat dilihat pada Lampiran 5 dan 6.
2) Justifkasi rencana pengembangan
Rekapitulasi kebutuhan rencana pengembangan dilengkapi
dengan narasi pendukung sebagai justifkasi pengembangan
pelabuhan tersebut. Dijelaskan alasan dibutuhkan
pengembangan pada wilayah dimaksud dan skema
pengembangannya.

3) Peta Rencana Pengembangan wilayah daratan dan perairan


a) Peta atau layout rencana pengembangan disajikan dalam
satu halaman terpisah untuk masing-masing pentahapan
dengan skala menyesuaikan agar gambar jelas terbaca, dan
dilengkapi dengan legenda peta serta koordinat geografis;
b) Peta zonasi daratan harus dapat menggambarkan dengan
jelas semua zonasi dan fasilitas daratan per tahapan. Untuk
satu tahapan pengembangan, semua area pengembangan
dibuat dalam warna yang sama, namun pada tahapan
pengembangan berikutnya areal yang akan dikembangkan
dibuat dalam pewarnaan yang berbeda. Contoh Format
Peta Rencana dapat dilihat pada Lampiran7;

c) Peta zonasi perairan harus dapat menggambarkan dengan


jelas semua zonasi yang dibutuhkan, termasuk lokasi
dermaga. Zonasi perairan tidak memerlukan pentahapan;
d) Jika dalam satu pelabuhan terdapat beberapa terminal,
maka peta rencana pengembangan disajikan juga untuk
setiap terminal. Contoh dapat dilihat dalam lampiran 8.

4) Rencana Fasilitas penunjang keselamatan pelayaran (SBNP)


Untuk menunjang keselamatan pelayaran dalam operasional
pelabuhan dibutuhkan fasilitas penunjang keselamtan
pelayaran, salah satunya Sarana Bantu Navigasi Pelayaran
(SBNP) dan Sarana Telekomunikasi Pelayaran. Oleh karena itu,
dibutuhkan rencana kebutuhan jenis dan jumlah SBNP beserta
penempatan SBNP tersebut dalam suatu peta yang dilengkapi
dengan koordinat termasuk rencana kebutuhan fasilitas
telekomunikasi pelayaran.

5) Rancangan Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan


Kepentingan pelabuhan (DLKr/DLKp)
Kebutuhan kapasitas ruang yang digunakan secara langsung
untuk kegiatan pelabuhan diwujudkan dalam suatu usulan
Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) pelabuhan sementara kebutuhan
untuk area pengembangan serta area untuk menjamin
keselamatan pelayaran diwujudkan secara terpadu dalam suatu
usulan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) pelabuhan. Dalam
Rencana Induk Pelabuhan, termasuk di dalamnya rancangan
untuk wilayah DLKr daratan dan perairan, serta rancangan
wilayah DLKp. Rancangan tersebut harus dilengkapi dengan peta
yang dilengkapi dengan koordinat.

j. Identifkasi Awal Dampak Lingkungan


• Identifkasi permasalahan/dampak lingkungan yang
ditimbulkan;
• Arahan jenis-jenis penanganan lingkungan pada tahap
prakonstruksi, konstruksi dan operasi pelabuhan;
• Rekomendasi untuk melakukan kajian analisis dampak
lingkungan yang harus dilakukan.
BAB III PROSEDUR
PENETAPAN RIP

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang


Pelayaran bahwa Rencana Induk Pelabuhan disusun oleh
penyelenggara pelabuhan dengan berpedoman pada :

a) Rencana Induk Pelabuhan Nasional / Tatanan Kepelabuhanan


Nasional;
b) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
c) Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;
d) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
e) Keserasian dan Keseimbangan dengan kegiatan lain terkait di
lokasi pelabuhan;
f) Kelayakan teknis, ekonomis, dan lingkungan; dan
g) Keamanan dan keselamatan lalu lintas kapal.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009


tentang Kepelabuhanan, prosedur penetapan Rencana Induk
Pelabuhan dapat dibedakan sesuai dengan hierarki pelabuhan dan
kewenangan penetapannya, sebagai berikut :

a) Menteri untuk pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul;


b) Gubernur untuk pelabuhan pengumpan regional; atau
c) Bupati/Walikota untuk pelabuhan pengumpan lokal.
3.1 Prosedur Penetapan Rencana Induk Pelabuhan
Utama/Pengumpul
SURAT PERMOHONAN PENETAPAN
PENYELENGGARA PELABUHAN (UTAMA/PENGUMPUL) REKOMENDASI
GUBERNUR/BUPATI
/WALIKOTA
PERBAIKAN DOKUMEN
(MAKS 2 BLN) MENTERI PERHUBUNGAN
Cq. DIREKTUR JENDERAL
PENYELENGGARA PERHUBUNGAN LAUT
PELABUHAN

EVALUASI DOKUMEN RENCANA


TIDAK INDUK PELABUHAN
DIREKTUR JENDERAL
PERHUBUNGAN LAUT

YA
PERBAIKAN

EVALUASI DOKUMEN RENCANA


INDUK PELABUHAN
TIDAK
MENTERI PERHUBUNGAN
Cq. SEKRETARIS JENDERAL

YA

PENETAPAN
MENTERI PERHUBUNGAN

LEGALISASI (DILEMBAR NEGARAKAN)


KEMENKUMHAM

PUBLIKASI
DISAMPAIKAN KEPADA PENYELENGGARA
PELABUHAN
WEBSITE KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

Gambar 3. 1 Skema Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Utama/Pengumpul


Penyelenggara Pelabuhan mengajukan permohonan penetapan
Rencana Induk Pelabuhan kepada Menteri Perhubungan Cq.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dengan melampirkan:
a) rekomendasi dari Gubernur dan Bupati/Walikota mengenai
kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota;
b) hasil kajian rencana induk pelabuhan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut akan melakukan evaluasi


dokumen Rencana Induk Pelabuhan. Dari hasil evaluasi tersebut,
dokumen Rencana Induk Pelabuhan yang perlu dilakukan perbaikan
akan diberikan batas waktu perbaikan sampai dengan 2 (dua) bulan
dari tanggal diterbitkannya surat Direktur Pelabuhan dan Pengerukan
kepada Penyelenggara Pelabuhan tentang penyampaian perbaikan
dokumen Rencana Induk Pelabuhan.

Dokumen Rencana Induk Pelabuhan dimaksud adalah dokumen


Ringkasan Eksekutif (Executve Summary) yang berisikan ringkasan
komprehensif dari hasil kajian rencana induk pelabuhan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut akan menyiapkan Rancangan


Peraturan Menteri Perhubungan (RPM) tentang penetapan Rencana
Induk Pelabuhan dan dokumen Rencana Induk Pelabuhan untuk
menjadi lampiran surat usulan penetapan Rencana Induk Pelabuhan
oleh Menteri Perhubungan.

Menteri Perhubungan Cq. Sekretaris Jenderal akan mengevaluasi


RPM dan dokumen Rencana Induk Pelabuhan dimaksud untuk proses
penetapannya oleh Menteri Perhubungan.

Setelah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan, selanjutnya Rencana


Induk Pelabuhan dimaksud akan disampaikan kepada Penyelenggara
Pelabuhan sebagai aset barang tak berwujud dan dipublikasikan di
website Kementerian Perhubungan.
3.2 Prosedur Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpan
Regional

SURAT PERMOHONAN PENETAPAN


PENYELENGGARA PELABUHAN (PENGUMPAN REGIONAL) REKOMENDASI
BUPATI/WALIKOTA
PERTIMBANGAN TEKNIS DJPL

GUBERNUR

PERBAIKAN

EVALUASI PERMOHONAN
PENETAPAN RENCANA
TIDAK
INDUK PELABUHAN
PEMERINTAH PROVINSI

YA

PENETAPAN

GUBERNUR

DISAMPAIKAN KEPADA
PENYELENGGARA PELABUHAN

DISAMPAIKAN KEPADA
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
Cq. DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

Gambar 3. 2 Skema Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpan Regional

Penyelenggara Pelabuhan mengajukan permohonan penetapan


Rencana Induk Pelabuhan kepada Gubernur dengan melampirkan:
a) rekomendasi dari bupati/walikota mengenai kesesuaian tata
ruang wilayah kabupaten/kota;
b) pertimbangan teknis dari Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut;
c) hasil kajian rencana induk pelabuhan.
Pemerintah Provinsi akan mengevaluasi dokumen Rencana Induk
Pelabuhan. Dari hasil evaluasi tersebut, Penyelenggara Pelabuhan
harus menyampaikan perbaikan dokumen Rencana Induk Pelabuhan
dimaksud.

Dokumen Rencana Induk Pelabuhan dimaksud adalah dokumen


Ringkasan Eksekutif (Executve Summary) yang berisikan ringkasan
komprehensif dari hasil kajian rencana induk pelabuhan.

Rencana Induk Pelabuhan akan ditetapkan oleh Gubernur dan


diserahkan kepada Penyelenggara Pelabuhan sebagai aset barang tak
berwujud. Penyelenggara Pelabuhan menyampaikan Rencana Induk
Pelabuhan yang sudah ditetapkan oleh Gubernur kepada Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut Cq. Direktorat Pelabuhan dan
Pengerukan.
3.3 Prosedur Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpan Lokal

SURAT PERMOHONAN PENETAPAN


PENYELENGGARA PELABUHAN (PENGUMPAN LOKAL)
PERSETUJUAN TEKNIS DJPL

BUPATI / WALIKOTA

PERBAIKAN

EVALUASI PERMOHONAN
TIDAK PENETAPAN RENCANA
INDUK PELABUHAN
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA

YA

PENETAPAN

BUPATI/WALIKOTA

DISAMPAIKAN KEPADA
PENYELENGGARA PELABUHAN

DISAMPAIKAN KEPADA
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
Cq. DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
DAN GUBERNUR

Gambar 3. 3 Skema Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Pengumpan Lokal

Penyelenggara Pelabuhan mengajukan permohonan penetapan


Rencana Induk Pelabuhan kepada Bupati/Walikota dengan
melampirkan pertimbangan teknis dari Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut dan hasil kajian rencana induk pelabuhan.

Pemerintah Kabupaten/Kota akan mengevaluasi dokumen Rencana


Induk Pelabuhan. Dari hasil evaluasi tersebut, Penyelenggara
Pelabuhan harus menyampaikan perbaikan dokumen Rencana Induk
Pelabuhan dimaksud.
Dokumen Rencana Induk Pelabuhan dimaksud adalah dokumen
Ringkasan Eksekutif (Executve Summary) yang berisikan ringkasan
komprehensif dari hasil kajian rencana induk pelabuhan.

Rencana Induk Pelabuhan akan ditetapkan oleh Bupati/Walikota dan


diserahkan kepada Penyelenggara Pelabuhan sebagai aset barang tak
berwujud. Penyelenggara Pelabuhan menyampaikan rencana induk
pelabuhan yang telah ditetapkan kepada Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Cq. Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan dan
kepada Gubernur.
BAB IV
PERHITUNGAN KEBUTUHAN FASILITAS DARATAN DAN PERAIRAN

A. Fasilitas Daratan
1. Panjang Dermaga

Keterangan
n : jumlah tambatan
L : panjang dermaga yang terdiri dari n tambatan

2. Ruang tunggu penumpang

3. Luas kantor pelabuhan


4. Luas gudang dan lapangan penumpukan

Keterangan:
2
A : luas gudang (m )
T : Throughput per tahun (muatan yang lewat tiap tahun, ton)
TrT : transit time/dwelling time (waktu transit, hari)
Sf : Strorage factor (rata-rata volume untuk setiap satuan berat komoditi, m3/ton;
misalkan tip 1 m3 muatan mempunyai berat 1,5 ton; berarti Sf =
1/1,5=0,6667)
Sth : Stacking height (tinggi tumpukan muatan, m)
BS : Broken Sewage of Cargo (volume ruang yang hilang diantara tumpukan
muatan dan ruangan yang diperlukan untuk lalu lintas alat pengangkut seperti
fortklift atau peralatan lain untuk menyortir, menumpuk dan memindahkan
muatan, %)
365 : Jumlah hari dalam satu tahun

B. Fasilitas Perairan
1. Areal tempat berlabuh.
Areal tempat berlabuh dihitung untuk masing-masing jenis kapal dan kegiatan
yang dilayani di pelabuhan. Perhitungan kebutuhan area labuh akan
tergantung pada dimensi kapal yang direncanakan, estimasi rata-rata jumlah
kapal yang menunggu di area labuh, dan ketersediaan lahan perairan untuk
lokasi labuh kapal. Estimasi jumlah kapal yang menunggu dapat dihitung
dengan menggunakan pendekatan metode antrian, model simulasi, dan lain-
lain.
AREAL R = L + 6D + 30 METER
TEMPAT R : Jari-jari areal untuk labuh per kapal
BERLABUH L : Panjang kapal yang berlabuh
D : Kedalaman air
Luas areal berlabuh = jumlah kapal x  x R2
2. Areal alih muat kapal (masuk rumus)
Areal alih muat kapal harus dihitung untuk pelabuhan yang membutuhkan
kegiatan alih muat antar kapal dan memiliki perairan yang memungkinkan
kegiatan alih muat antar kapal. Kebutuhan ruang alih muat kapal dihitung
dengan menggunakan rumus :
AREAL R = L + 6D + 30 METER
ALIH MUAT R : Jari-jari areal untuk labuh per kapal
KAPAL L : Panjang kapal yang berlabuh
D : Kedalaman air
Luas areal Alih Muat Kapal = jumlah kapal x
 x R2

3. Areal tempat sandar kapal (masuk rumus)


AREAL A = 1,8L x 1,5L
TEMPAT SANDAR A : luas perairan untuk tempat sandar kapal per 1
KAPAL kapal
L : Panjang kapal

Luas Areal Tempat Sandar Kapal = jumlah kapal x A


4. Areal kolam putar (masuk rumus)
AREAL D = 2L
KOLAM PUTAR D : diameter areal kolam putar
L : Panjang kapal maksimum
Luas areal Kolam Putar = jumlah kapal x ( x
D2)/4

5. Areal keperluan keadaan darurat.


AREAL Faktor yang perlu diperhatikan adalah
KEPERLUAN kecelakaan kapal, kebakaran kapal, kapal
KEADAAN kandas dan lain-lain. Salvage area
DARURAT diperkirakan luasnya 50% dari luas areal
pindah labuh kapal.

6. Alur Pelayaran.
AREAL ALUR A = WxL
PELAYARAN DARI W = 9B + 30 Meter
DAN KE PELABUHAN A : Luas areal laut
W : Lebar alur
L : Panjang alur (draft kapal d > 1,1D)
Full draft kapal
B : Lebar kapal maksimum

7. Areal pindah labuh kapal (masukkan rumus).


Areal pindah labuh kapal harus dihitung pada pelabuhan yang membutuhkan
kegiatan pindah labuh kapal dan memiliki perairan yang memungkinkan.
AREAL R = L + 6D + 30 METER
PINDAH LABUH R : Jari-jari areal untuk pindah labuh
KAPAL L : kapal
D : Panjang kapal maksimum
Kedalaman air
Luas areal Pindah Labuh kapal = jumlah
kapal x A

8. Areal percobaan berlayar (masukkan rumus)


Areal percobaan berlayar harus dihitung pada pelabuhan yang memiliki
fasilitas dok untuk perbaikan/pembangunan kapal baru dan memiliki perairan
yang memungkinkan untuk kegiatan percobaan berlayar.
AREAL Faktor yang perlu diperhatikan adalah
PERCOBAAN ukuran kapal rencana
BERLAYAR

9. Areal fasilitas pembangunan dan pemeliharaan.


AREAL
FASILITAS Faktor yang perlu diperhatikan adalah
PEMBANGUNAN DAN ukuran kapal maksimum yang
PEMELIHARAAN dibangun atau diperbaiki
BAB V
PENUTUP

Petunjuk Teknis ini merupakan pedoman/panduan dalam


penyusunan Rencana Induk Pelabuhan yang ditetapkan berdasarkan
peraturan yang berlaku untuk dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan
penuh tanggung jawab.

Petunjuk Teknis ini dapat ditinjau ulang dan dilakukan


penyempurnaan untuk keperluan penyusunan, penetapan dan tinjau
ulang Rencana Induk Pelabuhan.

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

CAPT. BOBBY R. MAMAHIT


Pembina Utama (IV/e)
NIP. 19560912 198503 1 002
CONTOH FORM SURVEY DAN WAWANCARA

Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 49


Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 50
Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 51
CONTOH COVER EXECUTIVE SUMMARY

Contoh Cover Rencana Induk Pelabuhan Anggrek

Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 52


CONTOH TABEL FASILITAS EKSISITNG

Fasilitas yang Ada Ukuran Keterangan


Total Area Daratan 1.25 Ha.
Dermaga 120 m x 12 m Struktur beton dengan pondasi tiang pancang baja,
dibangun tahun 1997, kedalaman minimum -9 m LWS
Trestel 42 m x 6 m Struktur beton dengan pondasi tiang pancang baja
Causeway 28 m x 9 m 2 buah, konstruksi batu bulat
Talud 320 m’ Bagian atas merupakan campuran batu dan beton
Kantor Pelabuhan 16 m x 10 m Kondisi baik
Rumah Dinas 15 m x 5 m Kondisi baik
Terminal penumpang 30 m x 25 m Kondisi baik
Gudang 30 m x 20 m Kondisi baik
Pos Jaga 3mx3m Kondisi baik
Lapangan Peti Kemas 3300 m2 Kondisi baik
Lapangan Penumpukan 1500 m2 Kondisi baik
Jalan Width = 6 m, Kondisi baik
length = 200 m
Area Parkir 1200 m2 Aspal, kondisi baik
Rumah Generator 6mx6m Kondisi baik
Bak Air 50 m3/jam PDAM, akan diganti dengan bak air kapasitas 600 m3/jam
Pagar 320 m BRC
Sarana Bantu Navigasi Satu Lampu Pelabuhan, satu Light Buoy, empat Light
Pelayaran House
Tenaga Listrik 55 KVA PLN
Telepon PT Telkom
SRP/ Stasiun Radio SSB
Sumber :Rencana Induk Pelabuhan Anggrek Tahun 2006

Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 53


CONTOH TABEL REKAP TAHAPAN PENGEMBANGAN
Fasilitas Satuan Eksisting 2005 2010 2020
Terminal Multipurpose
1 Total Panjang Dermaga m 120 x 12 210 x 12 210 x 12 300 x 12
2 Penambahan Trestel m 42 x 6 2 x 63 x 10 - 63 x 10
3 Penambahan Area Reklamasi m2 29,850 - 17500
4 Penambahan Lapangan Peti Kemas m2 3500 26,250 - 17,500
5 Penambahan CFS m2 1,200 - 1,200
6 Pengadaan Fork-Lif kapasitas 5 ton nos 5 - 3
7 Pengadaan Fork-Lif kapasitas 30 ton nos 8 1 1
8 Penambahan Pagar m 540 275 -
9 Penambahan Gerbang nos 2 - -
10 Penambahan Jalan m 70 - -
11 Kantor m2 160 160 160 160
Terminal Barang Curah
1 Total Panjang Dermaga m 200 200 200
2 Penambahan Trestel m 63 x 10 - -
3 Penambahan Area Reklamasi m2 18,060 20,250 -
4 Penambahan Lapangan Barang Curah (Jagung) m2 1500 14,570 16,650 -
5 Penambahan Area Muat untuk Truk m2 975 1,200 -
6 Pengadaan Ship Loader (1,000 ton/jam) nos 1 - 1
7 Penambahan Silo nos 36 48 72
8 Penambahan Fasilitas Pengeringan Jagung (2,500 bph) nos 4 3 3
9 Penambahan Konveyer m 1,775 585 735
10 Penambahan Pagar m 300 230 -
11 Penambahan Gerbang nos 4 - -
12 Timbangan Truk nos 3 - -
13 Penambahan Jalan m 100 - -
14 Kantor Terminal Dermaga Barang Curah m2 1,600 - -
15 Ruang Perawatan Peralatan m2 684 - 360
16 Ruang Kontrol Utama m2 384 - 384
17 Ruang Kontrol m2 144 - 144
Sumber :Rencana Induk Pelabuhan Anggrek Tahun 2006

CONTOH TABEL ZONASI PERAIRAN


No Nama Areal Luas (Ha)

1 Areal Labuh Kapal Barang 12


2 Areal Labuh Kapal Penumpang 18
3 Areal Alih Muat Kapal 8.5
4 Kolam Putar 32.25
5 Areal Sandar 32.25

6 Daerah Darurat dan cadangan 328.8

Jumlah Luasan Minimum 431.8


Sumber :Rencana Induk Pelabuhan Anggrek Tahun 200
CONTOH LAYOUT PENGEMBANGAN JANGKA PENDEK

Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 55


CONTOH LAYOUT PENGEMBANGAN JANGKA MENENGAH
CONTOH LAYOUT PENGEMBANGAN JANGKA PANJANG
CONTOH RENCANA ZONASI PERAIRAN DAN RANCANGAN DLKR DAN DLKP
CONTOH USULAN PENYUSUNAN RIP

Nomor : (nama tempat), (Tanggal-Bulan-Tahun)


Klasifikasi :
Lampiran :
Perihal : Usulan Penyusunan Rencana Kepada:
Induk Pelabuhan (nama Pelabuhan)
Yth. Direktur Jenderal Perhubungan Laut
Cq. Direktur Pelabuhan dan Pengerukan

di
JAKARTA

1. Menunjuk Peraturan Pemerintah RI Nomor 61 Tahun 2009 tentang


Kepelabuhanan bahwa setiap pelabuhan wajib memiliki Rencana Induk
Pelabuhan, dengan ini disampaikan bahwa sampai saat ini Pelabuhan
(nama Pelabuhan), Kabupaten (nama Kabupaten) Provinsi (nama
Provinsi) belum memiliki Rencana Induk Pelabuhan.

2. Berkenaan dengan butir 1 (satu) tersebut di atas, dengan hormat


diusulkan agar kegiatan studi penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
(nama Pelabuhan) dapat ditampung / dimasukkan dalam program
kegiatan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun Anggaran (tahun
anggaran)

3. Demikian disampaikan untuk proses lebih lanjut, atas perhatian dan


kerjasamanya diucapkan terima kasih.

PENYELENGGARA PELABUHAN (nama


Pelabuhan)

…………………………………….
Tembusan: .
 Sekretaris Direktorat Jenderal Pangkat (Gol)
Perhubungan Laut. NIP. ………………………………

Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan 59


CONTOH PERMOHONAN REKOMENDASI

Nomor : (nama tempat), (Tanggal-Bulan-Tahun)


Klasifikasi :
Lampiran :
Perihal : Permohonan Rekomendasi Rencana Kepada:
Induk Pelabuhan (nama Pelabuhan)
Yth. Gubernur/Walikota/Bupati
(nama Provinsi/Kota/Kabupaten)
di
TEMPAT

1. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran


pasal 73 ayat (1) bahwa setiap pelabuhan wajib memiliki Rencana Induk
Pelabuhan, dan pada pasal 76 disebutkan pula bahwa penetapan
Rencana Induk Pelabuhan harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota.

2. Pelabuhan (nama Pelabuhan) sesuai dengan hierarki peran dan


fungsi dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 414 Tahun
2013 tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional
adalah pelabuhan (Utama/Pengumpul/Pengumpan Regional) yang
penetapannya oleh (Menteri Perhubungan/Gubernur).

3. Rencana Induk Pelabuhan (nama Pelabuhan) dipergunakan sebagai


acuan dalam pelaksanaan program pembangunan dan pengembangan
pelabuhan sebagai salah satu sarana penunjang perekonomian di
Kabupaten/Kota khususnya dan Provinsi pada umumnya.

4. Berkenaan dengan butir-butir tersebut di atas, mohon kiranya (bapak/ibu)


(Gubernur, Bupati/Walikota) dapat memberikan rekomendasi kesesuaian
Rencana Induk Pelabuhan (nama Pelabuhan) dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah (Provinsi/Kota/Kabupaten).

5. Demikian disampaikan sebagai bahan pertimbangan, atas perkenan


(Bapak/Ibu) (Gubernur/Bupati/Walikota) diucapkan terima kasih.

PENYELENGGARA PELABUHAN (nama


Pelabuhan)

Tembusan: …………………………………….
1. Direktur Jenderal Perhubungan Laut .
Kementerian Perhubungan; Pangkat (Gol)
2. Direktur Pelabuhan dan Pengerukan, NIP. ………………………………
Ditjen Hubla.
CONTOH REKOMENDASI DARI PEMERINTAH DAERAH UNTUK PENETAPAN
RIP UTAMA/PENGUMPUL

Nomor : (nama tempat), (Tanggal-Bulan-Tahun)


Klasifikasi :
Lampiran :
Perihal : Rekomendasi Rencana Kepada:
Induk Pelabuhan (nama pelabuhan)
Yth. MENTERI PERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA
di
TEMPAT

1. Menindaklanjuti surat Kepala Kantor (Otoritas


Pelabuhan/Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan/Unit Penyelenggara
Pelabuhan) (lokasi pelabuhan) Nomor (nomor surat) tanggal (tanggal
surat) tentang (perihal surat), dengan hormat dapat kami sampaikan
sebagai berikut:
a. Rencana Induk Pelabuhan (lokasi pelabuhan) diperlukan untuk
mendukung pengembangan Pelabuhan (lokasi pelabuhan) sebagai
salah satu sarana penunjang perekonomian di Kabupaten/Kota
(nama Kabupaten/Kota) khususnya dan Provinsi (nama Provinsi)
pada umumnya;
b. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor (nomor perda) Tanggal
(tanggal perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(Provinsi/Kota/Kabupaten), dapat disampaikan bahwa Pemerintah
(Provinsi/Kota/Kabupaten) telah menetapkan lokasi Pelabuhan
(nama Pelabuhan) berada pada peruntukan kawasan pelabuhan;
2. Sesuai dengan butir 1 (satu) di atas, Pemerintah
(Provinsi/Kota/Kabupaten) memberikan rekomendasi kesesuaian
Rencana Tata Ruang Wilayah (Provinsi/Walikota/Kabupaten) untuk
Rencana Induk Pelabuhan (nama Pelabuhan).
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka pada prinsipnya Pemerintah
(Provinsi/Walikota/Kabupaten) mendukung penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan (nama Pelabuhan).
4. Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan
terima kasih.

GUBERNUR/WALIKOTA/BUPATI

Tembusan: ……………………………………. .
1. Direktur Jenderal Perhubungan Laut,
Kementerian Perhubungan;
2. Direktur Pelabuhan dan Pengerukan,
Ditjen Hubla;
3. Kepala Kantor (Otoritas
Pelabuhan/Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan/Unit Penyelenggara
Pelabuhan.
CONTOH REKOMENDASI DARI PEMERINTAH DAERAH PROVINSI UNTUK
PENETAPAN RIP PENGUMPAN REGIONAL

Nomor : (nama tempat), (Tanggal-Bulan-Tahun)


Klasifikasi :
Lampiran :
Perihal : Rekomendasi Rencana Kepada:
Induk Pelabuhan (nama pelabuhan)
Yth. GUBERNUR (nama Provinsi)

di
TEMPAT

1. Menindaklanjuti surat Kepala Kantor (Kesyahbandaran dan Otoritas


Pelabuhan/Unit Penyelenggara Pelabuhan) (lokasi pelabuhan) Nomor
(nomor surat) tanggal (tanggal surat) tentang (perihal surat), dengan
hormat dapat kami sampaikan sebagai berikut:
c. Rencana Induk Pelabuhan (lokasi pelabuhan) diperlukan untuk
mendukung pengembangan Pelabuhan (lokasi pelabuhan) sebagai
salah satu sarana penunjang perekonomian di Kabupaten/Kota
(nama Kabupaten/Kota) Provinsi (nama Provinsi);
d. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor (nomor perda) Tanggal
(tanggal perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(Kota/Kabupaten), dapat disampaikan bahwa Pemerintah
(Kota/Kabupaten) telah menetapkan lokasi Pelabuhan (nama
Pelabuhan) berada pada peruntukan kawasan pelabuhan;
2. Sesuai dengan butir 1 (satu) di atas, Pemerintah memberikan
rekomendasi kesesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah
(Walikota/Kabupaten) untuk Rencana Induk Pelabuhan (nama
Pelabuhan).
3. Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka pada prinsipnya Pemerintah
(Walikota/Kabupaten) mendukung penyusunan Rencana Induk
Pelabuhan (nama Pelabuhan).
4. Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan
terima kasih.

WALIKOTA/BUPATI

……………………………………. .
Tembusan:
1. Menteri Perhubungan RI;
2. Direktur Jenderal Perhubungan Laut,
Kementerian Perhubungan;
3. Direktur Pelabuhan dan Pengerukan,
Ditjen Hubla;
4. Kepala Kantor (Otoritas
Pelabuhan/Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan/Unit Penyelenggara
Pelabuhan.