Anda di halaman 1dari 120

ANALISIS PERAN PENDAMPING DALAM PROGRAM

KELUARGA HARAPAN (PKH) PADA SUKU DINAS


SOSIAL JAKARTA UTARA

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar
Sarjana Sosial Islam

Oleh

Ahmad Rokhoul Alamin


106054002030

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M
PERAN PENDAMPING DALAM PROGRAM KELUARGA
HARAPAN (PKH) PADA SUKU DINAS SOSIAL
JAKARTA UTARA

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Untuk Memenuhi Syarat Meraih
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)
Pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh:

Ahmad Rokhoul Alamin


106054002030

Di bawah bimbingan

Dr. Suparto,M.Ed.,MA
NIP. 150288052

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH
JAKARTA
2010 M / 1431 H 
ABSTRAK

Ahmad Rokhoul Alamin


ANALISIS PERAN PENDAMPING DALAM PROGRAM KELUARGA
HARAPAN (PKH) PADA SUKU DINAS SOSIAL JAKARTA UTARA

Kemiskinan dan kebodohan menjadikan Indonesia negara yang sedang


mencari berbagai solusi bagi gerbang pencerahan. Karena kebutuhan masyarakat
akan sandang, pangan, dan juga papan tak lepas dari kewajiban negara untuk
memenuhinya. Untuk hal ini, negara harus bersedia membuka berbagai peluang
(kerja, program pengetasan kemiskinan, dll). Jika tidak terpenuhi, maka Indonesia
menyimpan berbagai potensi penyakit sosial (patologi sosial) yang akan
berdampak pada negara anarksis (colapse). Dengan demikian, kehadiran pihak
ketiga menjadi sangat penting untuk menjadi penengah antara pemerintah dan
masyarakat dalam menyampaikan komunikasi yang berimbang dalam kaitannya
terhadap pengembangan negara bangsa dan masyarakat. Penting artinya
pemerintah menyiapkan pendamping bagi masyarakat (miskin) yang berperan
dalam membangun kemakmuran masyarakat.
Tujuan dari penelitian ini adalah; untuk mengetahui peran pendamping
dalam program pengembangan dan pengentasan kemiskinan masyarakat melalui
Program Keluarga Harapan (PKH). Mendapatkan satu pola pemberdayaan
masyarakat yang tepat melalui pendampingan. Tujuan lain adalah untuk
mengetahui harapan pendamping dan masyarakat pada pemerintah dalam program
perlindungan sosial. Selain itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui tindakan
atau sikap masyarakat dalam menerima indikator kerja pendamping PKH.
Metodologi penelitian karya ilmiah ini menggunakan pendekatan
kualitatif. Dimana pendekatan kualitatif menurut Taylor yang dikutip oleh Lexsi J.
Moleong, adalah “prosedur sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata, tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati.” 1
Hasil penelitian yang penulis temukan terkait dengan Peran pendamping
masyarakat melalui program PKH adalah peran seseorang yang menjadikan
dirinya sebagai mediator, fasilitator, pendidik, pemungkin, sekaligus sebagai
perwakilan bagi masyarakat yang mengupayakan agar masyarakat sebagai
anggota/peserta PKH berdaya dalam membangun hidup mereka (problem) secara
mandiri. Selain menjadi “agen perubahan” yang mengorganisasi kelompok
masyarakat, pendamping harus pula melaksanakan tugas teknis, seperti;
melakukan analisis sosial, mengelola dinamika kelompok (masyarakat), menjalin
relasi, bernegosiasi, berkomunikasi, memberi konsultasi, dan mencari serta
mengatur sumber dana.
Dengan demikian, Analisis Peran Pendamping (Masyarakat) Dalam
Program Keluarga Harapan (PKH) adalah untuk mengupayakan agar masyarakat
memiliki keberdayaan diri dalam mambangun, mengembangkan, dan membina
kehidupannya secara responsif (tanggung jawab) terhadap problem sosial apa pun
yang tengah mereka hadapi.

1
Lexsi.J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung; PT. Remaja Rosda Karya
2001) Cet. Ke-15 h.3 
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’aalamiin, puji syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT


yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Peran
Pendamping Dalam Program Keluarga Harapan (PKH) Pada Suku Dinas Sosial
Jakarta Utara”

Kelancaran pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi ini tidak terlepas

dari arahan, bimbingan, dorongan, dan bantuan dari beberapa pihak. Oleh karena

itu dengan ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan

yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta, Dr.Arief Subhan, MA

2. Bapak Dr Suparto,M.ED.,MA dosen Pembimbing yang selalu bersedia

meluangkan waktunya untuk membimbing, mengarahkan, dan memberikan

masukan kepada penulis.

3. Ibu Wati Nilam Sari, M.Si serta Bpk Hudri,MA selaku Ketua Jurusan

Pengembangan masyarakat Islam dan Sekretaris Jurusan, yang senantiasa

mendoa’kan dan selalu memotivasi penulis.

4. Dan kepada seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi beserta Staf

Administrasi yang telah membantu dan memberikan masukan kepada penulis.

5. Rasa terima kasih yang sangat besar penulis sampaikan kepada kedua orang

tua tercinta ayahanda H. Muhamad Toha dan ibunda Hj.Cicih beserta kakanda

Abdul Kholil dan ketiga adik tersayang saya Badru tamam, Fitriyatullailah,

dan Mar’atusholihah. Terima kasih atas do’a yang tulus dan motivasinya yang

  i
tak pernah berhenti mengalir yang penulis dapatkan setiap harinya. Semoga

berkah dan karunia Allah senantiasa melimpahi kita, Amien.

6. Kakanda Apen Makese, kawan-kawan La-Hila dan Fera yang senantiasa

memberikan bantuan secara moril maupun materil.

7. Kepada Mas Krisno Sutanto selaku pendamping Kelurahan Koja, Bang

Abdurrahman, Bapak Agus dan Staff UPPKH yang tidak saya sebutkan satu

persatu namanya. Terimakasih atas dukungan semangatnya dan berterima

kasih sudah banyak meluangkan banyak waktu untuk memberikan penjelasan

mengenai judul skripsi ini.

8. Ibu-ibu peserta PKH yang senantiasa diberiakan ketabahan dan kesabaran

dalam menjalankan kehidupan, penulis sangat berterimakasih atas waktu ibu-

ibu berikan, yang sudah mengambil waktu masak dan waktu tidurnya. Semoga

ibu-ibu sekalian selalu dalam lindungan Allah SWT amien...

9. Sahabat-sahabatku Ari Kurniawan, Hidmatullah, Siti Rohmah, Nurul Hikmah,

Ida, Fy, Ika, Roy, M. Kahfi dan kawan-kawan PMI angkatan 2005, 2006-

2007 dan angkatan selanjutnya, yang tidak dapat disebutkan satu persatunya

yang selalu mewarnai hari-hari sepanjang perkuliahan berlagsung, terimakasih

yah semuanya.

10. Terima kasih kepada pegawai Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, pegawai Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, dan perpustakaan Kakanda Apen makese.

  ii
11. Last but not least, terima kasih untuk diriku yang berhasil mengalahkan

bagian diriku yang lain, melawan kemalasan serta teman-temannya. Penulis

menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana layaknya,

baik dari segi bahasa maupun materi yang tertuang di dalamnya. Besar

harapan penulis skripsi ini dapat berguna untuk menambah wawasan baru dan

membuka cakrawala yang lebih luas bagi pembaca sekalian. Amien...

Jakarta, 28 September 2010 M

Penulis

  iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah............................................................. 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah......................................... 10

1. Perumusan Masalah ............................................................ 10

2. Pembatasan Masalah ............................................................ 10

C. Tujuan dan Manfaat/Kegunaan Penelitian ................................. 11

D. Tinjauan Pustaka ........................................................................ 12

E. Metodologi Penelitian ................................................................ 16

1. Bentuk dan Jenis Penelitian ................................................. 17

2. Jenis dan Sumber Data ......................................................... 17

3. Teknik Pemilihan Subjek dan Objek Penelitian ................. 17

4. Teknik Pengumpulan Data ................................................... 18

5. Lokasi Penelitian .................................................................. 20

6. Teknik Analisa Data............................................................. 21

7. Teknik Keabsahan Data ....................................................... 22

8. Penulisan Laporan ................................................................ 23

F. Sistematika Penulisan ................................................................ 23

  iv
BAB II LANDASAN TEORI

A. Peran........................................................................................... 25

1. Pengertian Peran .................................................................. 25

2. Tinjauan Sosiologis tentang Peranan ................................... 26

B. Pengertian Pekerja Sosial (Pendamping) .................................. 31

C. Pekerja Sosial dalam Pendampingan ......................................... 36

D. Sekilas Tentang Prorgram Keluarga Harapan (PKH) ................ 43

E. Tujuan PKH .............................................................................. 47

F. Komponen PKH ......................................................................... 49

G. Peran Pendamping dalam Program Keluarga Harapan (PKH) .. 51

BAB III GAMBARAN UMUM

A. Profil........................................................................................... 54

B. Tujuan PKH ............................................................................... 58

C. Sasaran Program Keluarga Harapan (PKH) ............................... 58

D. Kerangka Kelembagaan Tingkat Pusat dan Fungsinya .............. 61

E. Unit Pelaksana Program Keluargga Harapan (UUPKH) Pada

Tingkat Kabupaten Kota Jakarta Utara ...................................... 68

BAB IV ANALISIS TENTANG PERAN PENDAMPING DALAM

PROGRAM KELUARGA HARAPAN

A. Peran Pendamping dalam Program Keluarga Harapan (PKH)

Oleh Suku Dinas Sosial Jakarta Utara Di Kecamatan Koja,

Kelurahan Koja ......................................................................... 71

  v
1. Tahapan persiapan pendamping dalam Program Keluarga

Harapan (PKH)..................................................................... 71

2. Tugas Rutin ...........................................................................  72 

B. Harapan Pendamping dan Harapan Peserta (RTSM) dalam

Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) ....................... 79

C. Kesesuaian antara Harapan Pendamping dan Harapan Peserta

(RTSM) dalam Program Keluarga Harapan (PKH) Di

Kecamatan Koja, Kelurahan Koja Jakarta Utara ....................... 84

D. Kendala atau Hambatan Pendamping dalam Program PKH ...... 89

E. Solusi Dari Kendala Pendamping Program PKH ...................... 91

BAB V KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan ................................................................................ 95

B. Saran-Saran ................................................................................ 97

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 98

LAMPIRAN

  vi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berkembang di antara

negara-negara Asia lain pada umumnya. Jika dibandingkan dengan negara-negara

Eropa yang telah lebih dulu menggapai kemajuan (modern), maka negara-negara

Asia adalah negara yang bagian lain yang identik dengan kemiskinan. Berbagai

krisis yang melanda negara Asia Tenggara sejak tahun 1990-an hingga tahun

2000-an kawasan negara Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia, Singgapura,

Vietnam, Thailand) mengalami krisis yang multidimensional.

Sebagai negara besar, Indonesia tidak terlepas dengan berbagai krisis yang

melanda di hampir seluruh Asia, Khususnya Asia Tenggara. Menjadi sulit bagi

Indonesia untuk bergerak ke peradaban yang lebih maju (modern), dalam arti

mampu mensejahterakan negara-bangsa dan rakyatnya, kalau tidak dikatakan

terperosok tak sanggup bersaing dan bersanding dengan negara-negara setingkat

Asia (Jepang, Iran, India), atau salah satu dari mereka. Krisis multidimensi

menjadikan Indonesia berpotensi menetaskan bencana (patologi sosial), dinamika

dan problem sosial (gesekan antar etnis), kemiskinan, kebodohan (pendidikan),

kejahatan, kelaparan, dan tidak sehatnya dinamika kepemimpinan Indonesia

(politik)

Dengan berbagai problem dan konflik sosial tersebut, Indonesia seakan

sulit melepaskan diri dari lobang hitam tiada celah tanpa solusi untuk perbaikan

masa depan Indonesia yang lebih baik. Wajah Indonesia rusak, sebagian daerah

1
  2

ingin memisahkan diri mencari bentuk muka yang baru, koordinasi pusat dan

daerah stagnan, kabupaten bermunculan untuk menjadi provinsi tersendiri.

Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia, seakan

hanya ada dalam mimpi dan ilusi, negara kesejahteraan hanya wacana utopis yang

enak didiskusikan. Kepemimpinan Indonesia menjadi pertanyaan mendasar bagi

rakyat yang apatis dan semakin anarkis. Ekonomi negara menjadi lika-liku tak

berwujud pada hal-hal yang kongkrit dan spesifik, hingga akhirnya, sosial dan

agama akan menjadi arena pembenaran dalam melakukan kerusakan oleh

masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kemiskinan dan kebodohan menjadikan Indonesia satu negara yang

hendak mencari berbagai solusi yang pasti bagi gerbang pencerahan bangsa dan

negara. Menjadi negara nomor satu dalam soal korupsi dan kemiskinan, bukanlah

sebuah kebanggaan. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat akan sandang, pangan,

dan juga papan menjadi keharusan negara dan pemerintah untuk memenuhinya.

Untuk hal ini, negara harus bersedia membuka berbagai peluang (lapangan kerja,

program pengetasan kemiskinan, buta aksara) untuk menyediakan kebutuhan

rakyat Indonesia dalam satu lapangan yang dapat terjangkau (rakyat Indonesia

memenuhi kriteria pasar kerja) oleh masyarakat Indonesia. Kalau tidak, maka,

negara Indonesia akan menyimpan berbagai potensi penyakit sosial (patologi

sosial), jika demikian, Indonesia akan memiliki kemungkinan-kemungkinan

menjadi negara anarksis, atau colapse.

Kemiskinan pada dasarnya bukan hanya karena permasalahan ekonomi

belaka, tetapi kemiskinan merupakan permasalahan yang multidimensional. Ada

banyak faktor yang melatarbelakangi kemiskinan, dan perlu dicarikan perspektif

yang baru atau yang berbeda untuk melihat, menafsirkan, dan memaknai
  3

kemiskinan Indonesia. Kemiskinan yang multidimensional ini mencakup

kemiskinan dalam dimensi ekonomi, kemiskinan dalam dimensi sosial, politik,

dan budaya, kemiskinan dalam dimensi kesehatan, pendidikan, sejarah,

kemiskinan dalam dimensi sosio-politik (wacana), kemiskinan yang berdimensi

pendidikan, agama, budi pekerti, serta kemiskinan dalam dimensi perdamaian

dunia (hubungan bilateral atau diplomasi). 1

Isbandi Rukminto Adi dalam bukunya yang berjudul “Pemberdayaan,

Pengembangan Masyarakat Dan Intervensi Komunitas...” mengatakan bahwa

dalam proses pembangunan yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh dua

dimensi yaitu yang pertama dimensi makro yang menggambarkan bagaimana

institusi negara melalui kebijakan dan peraturan yang dibuatnya mempengaruhi

proses perubahan suatu masyarakat, sedangkan dimensi yang kedua adalah

dimensi mikro yaitu individu dan kelompok masyarakat mempengaruhi proses

pembangunan itu sendiri. 2

Sedangkan menurut Syaiful Arif, kemiskinan dapat digolongkan menjadi 2

(dua) kategori yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural 3 . Kemiskinan

kultural dipahami sebagai akibat dari adanya karakter budaya masyarakat dan etos

kerja yang lemah, sedangkan kemiskinan struktural bisa terjadi karena adanya

                                                            
1
Kemisikinan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi persoalan kemanusiaan
lainnya, contohnya, seperti keterbelakangan, kebodohan, ketelantaran, kematian dini. Problema
buta hurup, putus sekolah, anak jalanan, pekerja anak, perdagangan manusia (human trafficking)
tidak bisa dipisahkan dari masalah kemiskinan. Juga misalnya, Seseorang dikatakan miskin,
misalnya, kalau memiliki pendapatan rendah, rumah tidak layak huni, atau buta hurup. 
2
Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi
Komunitas (Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis), (Jakarta: Lembaga Penerbit
FEUI, 2003), Cet 1, h.1 
3
Misalnya, pada konsep mengenai kemiskinan kebudayaan dan kemiskinan struktural.
Yang pertama melihat budaya kemiskinan seperti malas, apatis, kurang berjiwa wiraswasta sebagai
penyebab seseorang miskin. Yang kedua menilai bahwa struktur sosial yang tidak adil, korup,
merasa rendah diri yang sudah mengakar sebagai penyebab kemiskinan. 
  4

struktur dan kebijakan pemerintah yang timpang, sebagai akibat dari terjadinya

ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat. 4

Dari dua pendapat di atas, antara Adi Isbandi Rukminto dan Syaiful Arif

dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa dalam membangun masyarakat Indonesia

agar mampu menggapai kesejahteraan dan pemberdayaan adalah dengan

melibatkan semua unsur yang ada dalam sebuah negara, masyarakat, dan

pemerintah. Pemerintah turut serta mempengaruhi perubahan sosial masyarakat

dengan landasan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (struktural-mikro).

Sedangkan disisi lain, masyarakat sebagai individu atau kelompok yang secara

langsung mempengaruhi perubahan itu sendiri memerlukan keterbukaan budaya

maupun peningkatan etos kerja yang selaras dan terarah (mikro-kultural).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional. Pada tahun 2007

jumlah penduduk miskin di Indoensia sebesar 37,7 juta atau 16,58% dari total

penduduk Indonesia yang tersebar diberbagai provinsi yang ada di Indonesia.

Diharapkan angka kemiskinan pada akhir 2009 dapat diturunkan menjadi 18,8 juta

atau 8,2% dari total penduduk. Dari data tersebut. Indonesia telah menelurkan

berbagai program untuk memberantas kemiskinan yang telah berurat-berakar di

Indonesia. Di anatarnya, Program Keluarga Harapan (PKH), Program

Pengentasan Kemiskinan (Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kredit Usaha Rakyat

(KUR), dll) telah menjadi momok yang seakan tidak tepat sasaran bagi rakyat.

Sementara menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jakarta, jumlah

penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di DKI

Jakarta pada bulan Maret 2009 sebesar 323,17 ribu (3,62 persen). Dibandingkan

                                                            
4
Syaiful Arif, Menolak Pembangunanisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), Cet. 1,
h. 289 
  5

dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2008 yang berjumlah 379.6 ribu (4,29

persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 56,45 ribu. Hal ini

disebabkan antara lain oleh; (a) Pada bulan Januari – Maret 2009 terjadi deflasi

sebesar 0,13 persen; (b) UMP di DKI Jakarta terjadi peningkatan dari 972.645

rupiah pada tahun 2008 menjadi 1.069.865 rupiah pada 2009; dan (c) Tingkat

ketepatan pembagian raskin kepada rumah tangga sasaran meningkat. 5

Garis Kemisknan (GK) tahun 2009 sebesar Rp. 316.936,- per kapita per

bulan lebih tinggi dibanding GK tahun 2008 yang sebesar Rp. 290.268,- per

kapita per bulan. Komposisi Garis Kemiskinan menunjukkan bahwa Garis

Kemiskinan Makanan sebesar Rp 204.248 (64,44 persen) dan Garis Kemiskinan

Non Makanan sebesar Rp. 112.688 (35,56 persen). 6

Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan seperti yang

digambarkan di atas, sekaligus pengembangan kebijakan di bidang perlindungan

sosial, Pemerintah Indonesia mulai tahun 2007 akan melaksanakan Program

Keluarga Harapan (PKH). PKH dikenal di negara lain dengan istilah Conditional

Cash Transfers 7 (CCT) atau bantuan tunai bersyarat. PKH bukan merupakan

kelanjutan program Subsidi Langsung Tunai yang diberikan dalam rangka

                                                            
5
Komodisi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah
beras, telur dan mie instan. Komoditi non makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis
Kemiskinan adalah biaya perumahan dan angkutan. (Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta
No. 26/07/31/TH XI , 1 Juli 2009, http://jakarta.bps.go.id/BRS/Sosial/Miskin09.pdf. diakses pada
tanggal 6 agustus 2010). 
6
Keadaan tahun 2009 dibanding dengan keadaan tahun 2008; a) Angka kemiskinan (P0)
turun 0,67 poin dari 4,29 persen menjadi 3,62 persen; b) Rata-rata kesenjangan pengeluaran
masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan (P1) menurun dari 0,72 menjadi 0,57;
c) Ketimpangan pengeluaran penduduk miskin (P2) semakin menyempit yaitu dari 0,19 menjadi
0,14. (Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 26/07/31/TH XI , 1 Juli 2009,
http://jakarta.bps.go.id/BRS/Sosial/Miskin09.pdf. diakses pada tanggal 6 agustus 2010). 
7
Pembayaran tunai yang bersifat kondisional (sesuai keadaan masyarakat) 
  6

membantu rumah tangga miskin mempertahankan daya belinya pada saat

pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM. 8

PKH lebih dimaksudkan pada upaya membangun sistem perlindungan

(keberdayaan 9 ) sosial kepada masyarakat miskin. Pelaksanaan di Indonesia

diharapakan akan membantu penduduk termiskin, bagian masyarakat yang paling

membutuhkan uluran tangan dari siapapun juga. Pelaksanaan PKH secara

berkesinambungan setidaknya hingga tahun 2015 akan mempercepat pencapaian

Tujuan Pembangunan Millenium 10 . Program PKH sebagai program uji coba di

tahun 2007 mempunyai sasaran mencakup 500.000 rumah tangga sangat miskin

(RTSM) yang tersebar di 7 provinsi (DKI Jakarta (Jakarta Utara): Jawa Timur,

Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sumatera

Barat).

Di dalam program PKH, ada kewajiban (conditionalities) yang harus

dilaksanakan oleh rumah tangga sangat miskin peserta PKH terkait dengan upaya

peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Kewajiban berkaitan dengan upaya

peningkatan status kesehatan Ibu hamil dan anak, serta tingkat pendidikan anak

dari keluarga rumah tangga sangat miskin. Kewajiban yang harus dilaksanakan

adalah:

1. Bagi ibu rumah tangga sangat miskin yang dalam keadaan hamil pada waktu

pendaftaran, diwajibkan untuk datang ke puskesmas dan mengikuti pelayanan

                                                            
8
Tim Penyusun, Pedoman Umum PKH Lintas Kementrian dan Lembaga, Pedoman
Umum PKH 2008, (Jakarta, Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial dan Direktorat Jenderal
Bantan dan Jaminan Sosial Departemen Sosial RI, 2008), h. 17. 
9
Keberdayaan yang dimaksud di sini adalah, kekuatan masyarakat yang ditumbuhkan
melalui kesadaran bahwa mereka memiliki pondasi dasar yang juga dapat mengubah hidup mereka
agar menjadi layak. Kesadaran masyarakat yang mampu membangun hidup mereka secara mandiri
tanpa meminta dan mengharapkan bantuan dari luar (orang lain). 
10
Lih. Halaman dan footnote pada bab II (h. 41-42) 
  7

pemeriksaan kesehatan ibu hamil sesuai dengan protokol Departemen

Kesehatan;

2. Bagi rumah tangga sangat miskin yang mempunyai anak usia 0-6 tahun, wajib

membawa anaknya ke puskesmas untuk mengikuti pelayanan kesehatan anak

sesuai protokol Departemen Kesehatan;

3. Bagi mereka yang mempunyai anak usia sekolah 7-15 tahun, wajib mengikuti

pendidikan dengan jumlah kehadiran minimal 85% serta memperoleh

pelayanan pendidikan sesuai dengan protokol Departemen Pendidikan

Nasional.

Program PKH, merupakan program yang berkesinambungan dengan

pendapat Adi Isbandi dan Syaiful Arif, dalam tingkat makro/struktural pemerintah

membangun masyarakat melalui program lintas sektor, yang dalam

pelaksanaannya melibatkan berbagai unsur Departemen Pemerintah (Menko

Kesra, Bappenas, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen

Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan Departemen Komunikasi dan

Informatika) serta partisipasi masyarakat. Pelaksanaan PKH juga didukung oleh

BPS dalam penyediaan data penerima dan PT Pos Indonesia untuk sistem

manajemen informasi pembayaran. 11

Namun demikian, menjadi sangat ironis bagi pemerintah apabila berbagai

program yang diimplementasikan ke dalam masyarakat berubah fungsi menjadi

sarana yang menjadikan masyarakat tambah terjebak ke jurang kemiskinan dan

penyakit sosial. Padahal, Peran dan fungsi Program Keluarga Harapan menjadi

sebuah jembatan bagi masyarakat yang mendapatkan dana anggaran (yang dikenai

                                                            
11
Pedoman Umum PKH, program keluarga harapan, (Direktorat Jaminan Kesejahteraan
Sosial dan Direktorat Jenderal Bantuan dan Jaminan Soail, Departemen Sosial RI, 2008), h. 4 
  8

program) sebagai sebuah gerbang besar yang terbuka bagi mereka untuk

peningkatan taraf hidup yang layak. PKH merupakan Dana Anggaran

Pemerintah 12 yang menjadi penopang, sarana, dan harapan bagi mereka untuk

bertahan serta mengendalikan hidup. Namun, di sisinya yang lain, program

pemerintah menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri dan lebih-lebih

pemerintah, karena berpeluang melemahkan semangat hidup masyarakat

(bergantung) serta dapat diselewengkan ke hal-hal yang negatif. Misalnya,

perjudian, gadai kartu, utang-piutang, dan lain sebagainya.

Dana Anggaran PKH disalah gunakan bukan menjadi harapan (tujuan)

Program Keluarga Harapan. Dana bantuan PKH menjadi hak sepenuhnya bagi

sasaran untuk merubah berbagai permasalahan hidup yang dialaminya, setelah

beralih ke tangan, jika (modal) untuk bermain judi atau digadaikan untuk membeli

kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang tidak berfungsi, iuran sekolah anak

terbengkalai, biaya makan sehari-hari dari hasil utang-piutang, menjadi sangat

tidak potensial dan efektif. Jika demikian, Program Keluarga Harapan tidak cukup

efektif apabila dijadikan sebagai sebuah solusi bagi masyarakat miskin perkotaan

karena soal pemerataan Dana Anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah

(semisal PKH, Kartu GAKIN, RASKIN), tidak merata di semua lini dan lingkup

masyarakat miskin.

Dari berbagai hal tersebut, menarik untuk diselami, dan akan muncul

berbagai pertanyaan, ada apa? Mengapa? Dan seterusnya. Berbagai problematika

sosial ini akan berujung pada pertanyaan yang mendasar, bagaimana peran
                                                            
12
Anggaran PKH yang dikeluarkan oleh pemerintah berasal dari APBN yakni Rp1 triliun
untuk setiap tahun, yang diperuntukkan bagi 500ribu ibu dari keluarga miskin, sedangkan sekitar
11,6 juta ibu keluarga miksin yang belum mendapat PKH, akan diupayakan pada tahun berikutnya.
Pemberian bantuan PKH akan berlangsung selama enam tahun (2007-2012) agar si ibu dari RTSM
mampu membiayai pemunuhan gizi balita atau menyekolahkan anak hingga lulus SD. 
  9

pendamping dalam proses pemberdayaan masyarakat miskin?. Jika dikerucutkan

menjadi sebuah permasalahan sosial, maka kemiskinan 13 Indonesia akan

bergantung pada peran dan fungsi pendamping dari berbagai program pemerintah

yang diberikan pada masyarakat. Jika hal demikian tidak berfungsi, dan peran

serta masyarakat tidak diindahkan, maka Indonesia akan sulit mendefinisikan

standar kehidupan yang normal (layak) bagi keseharian masyarakat. Banyak hal

yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan nyawa dan harta

masyarakat melalui program-programn kesejahteraannnya, namun banyak hal

pula yang diabaikan oleh pemerintah jika masyarakat tak sepenuhnya

mendapatkan apa yang menjadi hak mereka.

Secara pelan atau pun tergesa-gesa program pemerintah membantu

masyarakat tidak mampu (miskin) untuk dapat bertahan hidup, tetapi cepat atau

lambat pula, masyarakat akan menemui kebuntuan hidup, yang berujung pada

kematian apabila tidak dicarikan solusi kesejahteraan yang tepat dan berkelanjutan

bagi mereka, sehingga masyarakat mampu memberdayakan diri mereka sendiri.

Untuk itu, menjadi kewajiban bersama bagi setiap komponen pemerintah dan

masyarakat dalam bernegara untuk bersama-sama menyelami kemiskinan,

sehingga peran dan fungsi masing-masing (hak dan kewenangan) sebagai satu

gerbang untuk keluar dari kebodohan dan kemiskinan.

Dari berbagai permasalahan di atas, penulis ingin menuangkan

problematika kehidupan sosial dalam bernegara dan berbangsa ke dalam satu

                                                            
13
Selain masalah kemiskinan adalah juga terkait dengan permasalahan sumber daya alam
dan manusia, kemiskinan struktural, budaya, kreatifitas, disfungsi dan lain sebagainnya. Peran
pendamping menjadi penting adalah dikarenakan pendamping dapat menjadi penengah bagi
pemerintah dan masyarakat untuk menyampaikan komunikasi (keinginan keduanya) yang
berimbang dalam membangun tujuan negara bangsa dan masyarakat. 
  10

karya tulis yang berjudul: “Analisis Peran Pendamping dalam Program

Keluarga Harapan (PKH) pada Suku Dinas Sosial Jakarta Utara”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan masalah

Dalam pembahasan karya tulis ini, penulis ingin membatasi pembahasan

agar lebih terarah dan tidak meluas pada interpretasi yang tumpang tindih, maka

penulis hanya membatasinya pembahasan pada; “Analisis Peran Pendamping

dalam Program Keluarga Harapan (PKH) pada Suku Dinas Sosial Jakarta Utara”.

2. Perumusan masalah

Agar penulisan karya tulis ini menjadi terarah dan tidak meluas kepada

pembahasan lainnya, maka penulis merumuskan masalah ini sebagai berikut :

a. Bagaimana peran pendamping masyarakat melalui Program Keluarga

Harapan (PKH)?

b. Apakah harapan pendamping dan harapan peserta (RTSM) terhadap

Program Keluarga Harapan (PKH)?

c. Apakah kesesuaian antara harapan pendamping dengan harapan

peserta melalui program keluarga harapan (PKH)?

d. Apa kendala Pendamping yang muncul dalam Program PKH?

e. Apa solusi dari kendala pendamping Program PKH?


  11

C. Tujuan dan Manfaat/Kegunaan Penelitian

1. Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui peran pendamping dalam program pengentasan

kemiskinan melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

b. Untuk mengetahui bentuk-bentuk (kesesuaian) program pemberdayaan

masyarakat yang dilakukan oleh pendamping PKH.

c. Untuk mengetahui harapan-harapan para pendamping PKH dan harapan

peserta PKH dalam program perlindungan sosial dengan adanya

pendampingan masyarakat.

d. Untuk mengetahui tindakan atau sikap masyarakat dalam menerima

pendamping program keluarga harapan (PKH).

e. Sebagai acuan pemerintah dalam membuat program-program pelayanan

masyarakat miskin.

2. Manfaat Penelitian

Hasil studi ini diharapkan dapat berguna baik secara teoritis maupun

praktis. Secara teoritis studi ini dapat menambah cakrawala pengetahuan

bahwasanya permasalahan masyarakat miskin tidak akan pernah berbeda dari

zaman ke zaman, karena kehidupan sersifat dinamis.

Secara praktis kita dapat mengetahui dan merasakan akan segala

permasalahan masyarakat miskin selama ini, dengan adanya penelitian ini semata-

mata menjadikan tugas bagi para pengembang masyarakat untuk menyampaikan

aspirasi masyarakat miskin, sebagai fasilitator dan mediator bagi harapan akan

keberdayaan masyarakat miskin, dan diharapkan mampu memberikan masukan

bagi Instansi-Instansi lain mengenai potensi-potensi dan masalah-masalah yang


  12

ada dalam pemberdayaan masyarkat miskin. Khususnya lembaga-lembaga

(seperti; DEPSOS, UPPKH pusat dan UPPKH kabupaten kota) yang bersentuhan

langsung dengan kehidupan masyarakat miskin.

D. Tinjauan Pustaka

Untuk mendukung penelaahan yang lebih mendetail, penulis berusaha

melakukan kajian terhadap beberapa pustaka ataupun karya yang relevan dengan

topik penulisan karya ilmiah ini. Buku-buku dan karya ilmiah yang sebelumnya

pernah ditulis dan ditelusuri sebagai bahan perbandingan maupun rujukan dalam

penulisan karya ilmiah ini, yakni:

Sebuah penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Panji jurusan

Kesejahteraan Sosial (UI), dengan judul, Program Keluarga Harapan sebagai

Pilihan Kebijakan dalam Mengatasi Hambatan Akses Terhadap Pendidikan

Dasar. Study Kasus Penyelenggaraan Program Keluarga Harapan di Kecamatan

Cilincing Pada Tahun Pelaksanaan 2007-2009.

Panji mengatakan, PKH dapat berjalan sebagaimana mestinya, harus lebih

banyak pendamping yang diterjunkan, agar program berjalan seimbang dengan

keinginan pendamping dan masyarakat. Pada 2007-2008 terdapat 41 pendamping

dan pada 2009 dibutuhkan 47 pendamping pada masing-masing kelurahan. Posisi

pendamping ini di mata Panji, sangat vital untuk keberhasilan pelaksanaan PKH.

Panji menambahkan, bahwa fakta membuktikan program intervensi yang

menggelontorkan uang tunai kepada masyarakat berpotensi tidak efektif jika tidak

dibarengi pengawasan ketat.


  13

Menurutnya, karena bertugas mengawal program di lapangan, pendamping

harus benar-benar kapabel dan berintegritas moral tinggi. Terlebih dalam

menjalankan tugasnya mereka digaji oleh negara dengan besaran yang relatif

memadai. Pendamping yang direkrut dari masyarakat harus menjadi pengaman

aliran dana insentif sekaligus seorang kreator dan inovator untuk kemajuan RTSM

peserta PKH.

Dalam PKH ini, menurut Panji, bersifat multi sektoral. Bappeda, Dinas

STKT, Dinas Kesehatan, Disdik, Infokom, hingga Polres terlibat di dalamnya.

Bahkan untuk menyukseskan PKH dibangun pola kontrol berupa Sistem

Pengaduan Masyarakat (SPM) yang di Cilincing disebut UPPKH. UPPKH ini

berfungsi mengakomodir segala jenis pengaduan maupun penyelesaiannya yang

terkait dengan pelaksanaan KPH.

Kemudian artikel yang ditulis oleh Edi Suharto dengan judul;

Pendampingan Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsepsi Dan

Strategi. 14 Edi Suharto menjelaskan bahwa Pemberdayaan Masyarakat dapat

didefinisikan sebagai tindakan sosial dimana penduduk sebuah komunitas

mengorganisasikan diri dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk

memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan

kemampuan dan sumberdaya yang dimilikinya.

Masyarakat miskin seringkali merupakan kelompok yang tidak berdaya

baik karena hambatan internal dari dalam dirinya maupun tekanan eksternal dari

lingkungannya. Pendamping sosial kemudian hadir sebagai agen perubah yang

turut terlibat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi mereka.

                                                            
14
http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_32.htm. (diambil pada hari Rabu
Tanggal 17 Juli, jam 01.44. 2010). 
  14

Pendampingan sosial diartikan sebagai interaksi dinamis antara kelompok miskin

dan pekerja sosial untuk secara bersama-sama menghadapi beragam tantangan

seperti; (a) merancang program perbaikan kehidupan sosial ekonomi, (b)

memobilisasi sumber daya setempat (c) memecahkan masalah sosial, (d)

menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebutuhan, dan (e) menjalin

kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan dengan konteks pemberdayaan

masyarakat.

Di dalam artikel yang berjudul; Pendampingan Sosial Dalam

Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsepsi Dan Strategi 15 , Edi Suharto

mengacu pada Ife (1995), mengatakan bahwa peran pendamping umumnya

mencakup tiga peran utama, yaitu: fasilitator, pendidik, perwakilan masyarakat,

dan peran-peran teknis bagi masyarakat miskin yang didampinginya.

Tulisan yang kedua adalah Mengugat Peran Pendamping PNPM Mandiri,

sebuah artikel yang ditulis oleh Marjono (staf Bapermades Provinsi Jawa

Tengah) 16 . Ia mengatakan bahwa pemberdayaan berarti memampukan dan

memandirikan masyarakat dan desa. Upaya pemberdayaan masyarakat wajib

dipahami sebagai transformasi dari ketergantungan menuju kemandirian.

Kemandirian masyarakat bukan diindikasikan meningkatnya pendapatan

saja, tetapi seberapa jauh mereka mampu menguasai sumber-sumber ekonomi

baru. Sehingga tidak kesementaraan pendapatan meningkat, tetapi kepercayaan

hidup selanjutnya didapatkan kemandirian sosial ekonomi tersebut wajib

dipahami. Di sinilah, peran pendamping/fasilitator menyelenggarakan dialog

dengan masyarakat untuk menggali kebutuhan-kebutuhan nyata, menggali


                                                            
15
Ibid.  
16
http://www.kmwjateng.net/pemberdayaan/menggugat-peran-pendamping-pnpm-mp.
(diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Juli, jam 01.44. 2010). 
  15

sumber-sumber potensi yang tersedia, mendorong masyarakat untuk menemukan

spesifikasi masalah yang harus dipecahkan dan mengorganisir mereka untuk

mengambil tindakan yang tepat (Belle, 1976).

Marjono mengatakan lebih lanjut bahwa dengan metode pendampingan

masyarakat melalui program sarjana masuk desa (seperti PNPM-MP dan atau

P2KP), patut digerakkan kembali. Walaupun bukan program baru, karena

sebelumnya kita pernah mengenal BUTSI, SP3 (Depdikbud), SP2W (Bappenas),

TKPMP (Depnaker), FK (Depdagri), yang bertugas sebagai enabler

pembangunan, khususnya pengentasan kemiskinan yang selalu mengedepankan

pada kematangan sosial kultural Upaya-upaya pengentasan kemiskinan

semestinya dipahami sebagai transformasi dari ketergantungan menuju

kemandirian. Wujud kemandirian tercermin dari tingkat kepedulian dan partisipasi

atau memudarnya ketergantungan kepada pemerintah.

Berbeda dengan Edi Suharto dan Marjono, dalam penelitian karya ilmiah

ini, penulis melakukan penelitian dan pendekatan kualitatif yang ingin

mengungkapkan “Peran Pendamping dalam Program Keluarga Harapan (PKH)

Suku Dinas Sosial Jakarta Utara”. Penulis menilai bahwa tidak maksimalnya

proses pemberdayaan masyarakat diakibatkan oleh kurangnya peran dan fungsi

pendamping masyarakat dalam memetakan masyarakat miskin yang memerlukan

pemberdayaan, dan tumpang tindihnya program yang menjadi skala prioritas

maupun alternatif.

Penulis sependapat bila dikatakan Pendamping Sosial sebagai agen

perubah yang turut terlibat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi oleh

masyarakat miskin. Pendampingan sosial dengan demikian diartikan sebagai


  16

interaksi dinamis antara kelompok miskin dan pekerja sosial untuk secara

bersama-sama menghadapi beragam tantangan yang ada di dalam masyarakat.

Akan tetapi jika peran dan fungsi pendamping sosial tidak dapat memetakan atau

mempermudah jalinan komunikasi yang dinamis tersebut dengan masyarakat.

Program pengentasan kemiskinan akan tersendat, kalau tidak dikatakan sulit untuk

dijalankan. Dan untuk itu penulis mencoba melihat kenyataan yang tengah dijalani

oleh masyarakat (secara langsung) di lapangan. Penulis ingin mengkombinasikan

antara teori (wacana yang dibicarakan maupun ditulis oleh beberapa pemerhati

dan peneliti sebelumnya dan fakta (yang dirasakan oleh masyarakat) dari keadaan

masyarakat yang sebenarnya.

Di sinilah upaya penulis melihat bagaimana peran pendamping/fasilitator

dalam menyelenggarakan dialog (mendekati) dengan masyarakat, karena untuk

menggali kebutuhan-kebutuhan nyata, menggali sumber-sumber potensi yang

tersedia, mendorong masyarakat untuk menemukan spesifikasi masalah dan

mengorganisir mereka, harus diupayakan sebuah kumunikasi interaktif yang

mudah diterima dan dipahami secara bersama-sama, sehingga program

pemberdayaan dalam tingkat apapun, dapat mudah dijalankan.

E. Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Dimana

pendekatan kualitatif menurut Taylor yang dikutip oleh Lexsi J. Moleong, adalah

“prosedur sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriftip berupa kata-kata,

tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati.” 17

                                                            
17
Lexsi.J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung; PT. Remaja Rosda Karya
2001) Cet. Ke-15 h.3 
  17

Dengan demikian, penulis akan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu

berupaya menghimpun data, mengolah data dan menganalisa data secara kualitatif

dengan tujuan agar dapat memperoleh informasi yang mendalam tentang program

yang menjadi penelitian.

1. Bentuk dan Jenis Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yang

didukung oleh observasi dan wawancara sebagai pelengkap. Oleh karena itu,

dalam hal ini penulis mengadakan penelitian terhadap obyek penelitian yang ada

kaitannya dengan penulisan karya ilmiah ini.

2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif. 

pendekatan kualitatif menurut Taylor yang dikutip oleh Lexsi J. Moleong, adalah

“prosedur sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata,

tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati”. 18 Sedangkan

sumber data yang digunakan dalam penelitian ini. pertama, data primer yang

didapatkan dari kegiatan pendamping PKH. Wawancara pribadi terhadap pihak

yang berkepentingan sebanyak tiga (3) orang, seperti tokoh masyarakat, ibu

rumah tangga, pemuda, dan mahasiswa yang konsen terhadap persoalan

kemiskinan dan pemberdayaan. Kedua, data sekunder yang bersumber dari buku

pedoman PKH, makalah, artikel, paper, media massa (seperti surat kabar, majalah,

jurnal) dan media elektronik, seperti internet.

                                                            
18
Lexsi.J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung; PT. Remaja Rosda Karya
2001) Cet. Ke-15 h.3 
  18

3. Teknik Pemilihan Subjek dan Objek Penelitian

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, dalam memilih responden

ini dipilih secara sengaja, setelah membuat tipologi (ideal) individu dalam

masyarakat, yang penting disini bukan jumlah responden kasusunya, melainkan

potensi tiap kasus untuk memberi pemahaman teoritis yang lebih baik mengenai

aspek yang telah dipelajari.

Pilihan informan tergantung pada jenis informasi yang hendak

dikumpulkan, cara termudah mendapatkan informan adalah teknik “bola salju”.

Dalam teknik ini peneliti harus mengenal beberapa informan kunci dan meminta

memperkenalkannya kepada informan lain. 19

Berdasarkan konteks tersebut, maka penulis memilih responden sebagai

berikut: Suku Dinas sosial Jakarta Utara, koodinator UUPKH kabupaten kota,

Pendamping kelurahan Koja, Ketua Rt,Rw ataupun Lurah dan peserta program

keluarga harapan yang terdaftar sebagai peserta atau Rumah Tangga sangat

Miskin (RTSM).

Sedangkan yang menjadi obyek penelitian dalam skripsi ini adalah proses

tejadinya kinerja pendamping terhadap indikator kerja ketika melakukan

pendampingan di masyarakat. Dan melihat respon masyarakat dengan adanya

pendampingan masyarakat dalam sebuah program perlindungan sosial yaitu PKH.

4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data dari penelitian lapangan ini, penulis menggunakan

metode pengumpulan data berupa:

                                                            
19
MT. Felix Sitorus, Penelitian Kualitatif Suatu Perkenalan,(Bogor: Kelompok
Dokumentasi Ilmu Sosial, 1998,h. 50) 
  19

a. Observasi

Observasi yaitu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. 20 Yang

diteliti adalah pekerjaan sehari-hari yang dilakukan oleh peserta PKH, baik dalam

rumah ataupun di luar rumah. 21 Serta mengikuti kegiatan pendamping dalam

melakukan pendampingan atau pertemuan kelompok pada jadwal dan waktu yang

telah ditentukan oleh pendamping.

Dalam observasi ini penulis langsung mendatangi Kelurahan Tugu Utara,

guna memperoleh data yang konkrit tentang hal-hal yang menjadi obyek

penelitian ini, bahkan peneliti hingga mengikuti kegiatan responden dalam

melakukan kegiatan pertemuan kelompok dengan pendamping dan mengikuti

kegiatan pembayaran di kantor pos Koja, penulis ditemani pendamping mengikuti

kegiatan-kegiatan tersebut hingga selesai, mulai jam 10 hingga jam 17.00.

Yang diobservasi adalah kondisi sosial ekonomi RTSM, taraf pendidikan

anak-anak RTSM, status kesehatan dan gizi, akses dan kualitas pelayanan

pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi RTSM dan lain sebagainya. 22

                                                            
20
Cholid Narbuko, Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999),
h.70 
21
Misalnya, pendamping melakukan pemantauan terhadap keseharian (pekerjaan) yang
dilakukan oleh peserta/anggota baik yang berkaitan langsung dengan kegiatan Program Keluarga
Harapan (PKH) atau pun yang tidak terkait secara langsung langsung. Kebiasaan-kebiasaan
peserta/anggota dalam membina rumah tangga (keluarga), bertetangga (bersosialisasi), pola hidup
(mencari nafkah untuk kesejahteraan keluarga) dan lain-lain.  
22
Keinginan peserta/anggota hidup layak atau perubahan yang langsung dapat mereka
rasakan, keinginan ini diobservasi melalui pendekatan secara langsung, dialog (curhat) dari hati ke
hati, sehingga perasaan kekeluargaan dapat dirasakan oleh anggota dan pendamping. Adapun
keluhan, perasaan, dan keinginan peserta/anggota didiskusikan lebih lanjut oleh pendamping untuk
satu solusi yang selaras dengan Program Keluarga Harapan (PKH) dan kondisi peserta/anggota. 
  20

b. Interview

Interview atau wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu

untuk mendapatkan data yang kongkrit dari hasil beberapa pertanyaan yang

diajukan. Untuk mendapatkan data tersebut, pendamping dapat mewawancarai

seluruh peserta/anggota, dapat juga secara random (acak).

Namun demikian, peneliti mewawancarai tiga (3) orang peserta/anggota

(atau dari masyarakat lain untuk keseimbangan data/informasi) yang telah

ditentukan/dipilih berdasarkan kemampuan peserta/anggota dalam soal tanya

jawab, sehingga data/informasi yang dibutuhkan dapat memenuhi kebutuhan

interview.

Wawancara dilakukan pada peserta/anggota di tempat pelaksanaan

Program Keluarga Harapan (PKH). Wawancara dilakukan melalui dua pola. 1)

dari pejabat Kelurahan, kemudian ke tingkat RT/RW, tokoh masyarakat dan

agama, kemudian peserta/anggota (masyarakat) PKH; 2) dapat dimulai dari

tingkat masyarakat bawah hingga Pemerintah Kelurahan.

Wawancara digunakan untuk mengumpulkan pendapat, persepsi, perasaan,

pengetahuan dan pengalaman serta penginderaan seseorang (pendamping) dengan

tujuan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya.

c. Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah data-data yang tertulis yang mengandung

keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual. 23

Dalam dokumentasi, penulis mengumpulkan, membaca dan mempelajari berbagai

                                                            
23
Lexsi J. Moleong, Metodologi penelitian..., h.13 
  21

macam bentuk data tertulis yang ada di lapangan, serta data-data lain di

perpustakaan yang dapat dijadikan penguatan referensi data.

5. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Koja, Kelurahan Tugu Utara,

Jakarta Utara. Dengan alasan bahwa di kecamatan Koja adalah tempat penulis

melakukan praktikum, dengan demikian penulis telah mengetahui lokasi dan

kondisi sosial masyarakat Kelurahan Tugu Utara.

Selain itu, yang menjadi alasan lainnya adalah tingkat kehidupan sosial

masyarakat Kecamatan Koja yang semakin cepat mengalami pertumbuhan hingga

kepadatan penduduk menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. 24 Kepadatan dan

pertumbuhan penduduk tersebut meluas hingga ke Kelurahan Tugu Utara,

akibatnya penyakit dan penyimpangan sosial kerap terjadi di dalam keseharian

masyarakat Kecamatan Koja umumnya dan Kelurahan Tugu Utara pada

khususnya.

6. Teknik Analisa Data

Analisa data menurut Bogdan dan Biklen, yang dikutip oleh Lexy J.

Meleong adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dikelola,

mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting

dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan.

                                                            
24
Dampak dari urbanisasi, akibatnya perpindahan masyarakat Desa ke Kota tidak mampu
dihentikan dan percepatan pembangunan dengan alasan kemajuan serta modernisasi, sehingga
lahan (tanah, sawah, tempat tinggal, dll.) semakin menyempit. Akibat lain yang lebih besar adalah
kemiskinan, kejahatan, kematian, dan segala penyakit sosial lainnya. (Wawancara pribadi dengan
Bapak Krisno Sutanto, koordinator pendamping wilayah Kelurahan Tugu Utara). 
  22

Di pihak lain, Analisis data kualitatif (Seiddel, 1998), Prosesnya berjalan

sebagai berikut:

a. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi

kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri

b. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensistensiskan,

membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya

c. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai

makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan

membuat temuan-temuan umum. 25

7. Teknik Keabsahan Data

Untuk memeriksa keabsahan data ada empat kriteria yang digunakan yaitu:

Kriterium Keterlatihan, Kriterium kebergantungan, Kriterium kredibilitas /

kepercayaan, Kriterium kepastian.

Dalam hal ini peneliti menggunakan langkah-langkah kriteria sebagai

berikut, yaitu; Kriterium Kredibilitas/Kepercayaan

Fungsi kriterium kredibilitas adalah untuk melaksanakan inkuiri

sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuaannya dapat dicapai,

kemudian mempertunjukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan

jalan pembuktian oleh peneliti, pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.

Kriterium ini menggunakan dua teknik pemeriksaan: Pertama, ketekunan

pengamatan, dimaksudkan untuk menemukan cirri-ciri dan unsur-unsur dalam

situasi yang relevan dengan persoalan atau isu dalam penelitian ini dan kemudian

memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Kedua, teknik triangulasi yang

                                                            
25
W. Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002)
h. 248. 
  23

merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang

lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data

tersebut, teknik triangulasi yang banyak digunakan adalah pemeriksaan terhadap

sumber lainnya.

Hal itu dapat dicapai dengan jalan:

1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara,

misalnya untuk mengetahui pelaksanaan pendampingan masyarakat

melalui program keluarga harapan.

2) Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai

pendapat dan pandangan orang lain, misalnya dalam hal ini peneliti

membandingkan jawaban yang diberikan oleh narasumber (Staff

UPPKH) dengan jawaban dari para peserta program keluarga harapan.

Membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumen yang berkaitan

dengan masalah yang diajukan

8. Penulisan Laporan

Untuk penulisan dan penyusunan skripsi ini, penulis mengacu pada buku

Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan disertasi UIN Jakarta yang diterbitkan

oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance) UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta Cetakan II Tahun 2007.

F. Sistematika Penulisan

Di dalam penulisan karya ilmiah ini akan dibagi menjadi 5 (Lima) bab, dan

masing-masing bab akan dibagi menjadi sub bab sebagai berikut:


  24

BAB I: Pendahuluan, dalam bab ini dibahas latar belakang masalah,

pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,

metodologi penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II: Tinjauan Teoritis, dalam bab ini akan membahas landasan teori yang

berisikan tentang peraran (pengertian dan tinjauan sosiologi tentang

peraran), pengertian pekerja sosial, pekerja sosial dalam

pendampingan, sekilas tentang Program Keluarga Harapan (PKH),

Komponen PKH, peran pendamping dalam Program Keluarga Harapan

(PKH).

BAB III: Gambaran Umum, dalam bab ini akan digambarkan secara lengkap

tentang profil, tujuan, sasaran, struktur kelembagaan Program

Keluarga Harapan (PKH) fungsi serta tugas dan fungsinya.

BAB IV: Analisis Tentang Peran Pendamping dalam Program Keluarga

Harapan Oleh Suku Dinas Sosial Jakarta Utara. Terdiri dari peran

pendamping dan harapan peserta dalam program keluarga harapan, dan

kesesuaian antara harapan pendamping dan peserta dalam Program

Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Koja, Kelurahan Koja. Jakarta

utara. Kendala atau Hambatan Pendamping dalam Program PKH,

Solusi Dari Kendala Pendamping Program PKH.

BAB V: Penutup, Terdiri dari kesimpulan dan saran.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Peran

1. Pengertian Peran

Peran (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila

seorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka

dia menjalankan suatu peranan. 1

Peranan mencakup 3 (tiga) hal:

a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau

tempat seseorang dalam masyarakat.

b. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh

individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting

bagi struktur sosial masyarakat. 2

Pengertian peranan (dalam KBBI, 1998) adalah bagian dari tugas utama

yang harus dilaksanakan. Peranan menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan

tahun 2002, adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimilki oleh orang yang

berkedudukan di masyarakat. 3

Peranan menurut Enslikopedia ilmu-ilmu sosial adalah perilaku yang

diharapkan dalam kerangka posisi sosial tertentu. 4 Peranan menurut Enslikopedi

1
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2003) Cet. Ke -35, h. 243.
2
Ibid, h 244
3
Departemen pendidikan dan kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai pustaka, 1998), h. 667.
4
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 854.

25
26

ilmu-ilmu sosial adalah perilaku yang diharapkan dalam kerangka posisi sosial

tertentu. 5

Sedangkan Grass Massan dan A.W Eachern sebagaimana dikutip oleh

David Barry mendefinisikan peranan sebagai seperangkat harapan-harapan yang

dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. 6

2. Tinjauan Sosiologis tentang Peranan

Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-

pola pergaulan hidupnya. Hal itu sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa

yang dibuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang

dibicarakan oleh masyarakat kepadanya. Pentingnya peranan adalah, karena ia

mengatur perilaku seseorang. Peranan menyebabkan seseorang pada batas-batas

tertentu dapat meramalkan perbuatan-perbutan orang lain.

Orang yang bersangkutan akan dapat menyesuaikan perilaku sendiri

dengan perilaku orang-orang sekelompoknya. Hubungan-hubungan sosial yang

ada dalam masyarakat. Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku. Misalnya

norma kesopanan menghendaki agar seorang laki-laki bila berjalan bersama

wanita, harus berada dari sebelah luar. 7

Secara sosiologis peran pendamping adalah sebagai pembangun, yang

dijalankan berdasarkan atas prinsip demokrasi, akan selalu berorientasi kepada

proses (proses oriented) di mana semua lapisan masyarakat akan turut serta dalam

5
Adam Kuper, Jessika Kuper, Enslikopedia Ilmu-ilmu social, (Jakarta: PT Raja Garfindo
Persada ), h. 935
6
N.Grass W.S Massan dan A.W MC Eachern, Exploration Role Analiysis dalam David
Berry, Pokok-pokok Pikiran dalam sosiologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1995), Cet ke-3, h.
99
7
Soejono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar..., h. 243.
27

pembangunan, baik dalam kepeloporan, maupun pada keprakarsaan, sehingga

kebutuhan terasa (the felt-needs) maupun kebutuhan nyata (the real needs)

masyarakat terakomodasi dalam pembangunan.

Berbicara masalah pembangunan adalah berbicara suatu pandangan yang

lebih minoritas 8 yang berangkat dari asumsi bahwa kata ‘pembangunan’ itu

sendiri adalah sebuah discourse, suatu pendirian, atau suatu paham, bahkan

merupakan suatu ideology dan teori tertentu tentang perubahan sosial. Dalam

pandangan ini, konsep pembangunan sendiri bukanlah kata yang bersifat netral,

melainkan suatu “aliran” keyakinan ideologis dan teoretis serta praktik mengenai

perubahan sosial (Fakih, 2001). 9 Dengan demikian, pembangunan tidak diartikan

sebagai kata benda belaka, tetapi sebagai aliran dari suatu teori perubahan sosial.

Bersamaan dengan teori pembangunan terdapat juga teori-teori perubahan sosial

lainnya seperti sosalisme, dependendsi, ataupun teori lainnya.

David McClelland sering dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam

teori modernisasi. Jika teori pertumbuhan Rostow lebih merupakan teori ekonomi,

teori modernisasi McClelland berangkat dari perspektif psikologi sosial . Dalam

bukunya, The Achievement Motif in Ekonomic Growth, McClelland (1984)

memberikan dasar-dasar tentang psikologi dan sikap manusia, kaitannya dengan

8
Umumnya orang beranggapan bahwa pembangunan adalah kata benda netral yang
maksudnya adalah suatu kata yang digunakan untuk menjelaskan proses dan usaha untuk
meningkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya, infrastruktur masyarakat dan sebagainya.
Dengan demikian, pemahaman seperti itu, pembangunan disejajarkan dengan kata ‘perubahan
sosial’. Bagi penganut pandangan ini, konsep pembangunan adalah berdiri sendiri sehingga
membutuhkan keterangan lain, seperti, pembangunan model kapitalisme, pembangunan model,
sosialisme, ataupun pembangunan model Indonesia, dan seterusnya. Dalam pengertian seperti ini
teori pembangunan berarti teori social ekonomi yang sangat umum. Pandangan ini menguasai
hampir setiap diskursus mengenai perubahan sosial.
9
Sumber;http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/08/18/need-for-achievement-dan-
kemandirian-bangsa/; Need For Achievement Dan Kemandirian Bangsa, (diambil pada hari
Minggu tanggal 20 2010).
28

bagaimana perubahan sosial terjadi. Menceritakan sejarah manusia sejak awal

selalui ditandai dengan jatuh bangunnya suatu kebudayaan.

Pendekatan ini mencurahkan perhatiannya pada faktor-faktor nilai dan

norma yang berlaku dan dianut oleh masyarakat tradisional dan modern. Mazhab

ini berpendapat bahwa perubahan sosial pada tingkat Makro (masyarakat

ditentukan oleh adanya perubahan pada tingkat individu (mikro), seperti

perubahan dalam cara berfikir dan bersikap, norma dan sistem nilai (Tikson,

2005).

Dalam teori yang dikembangkan McClelland 10 tentang motivasi

berprestasi, pertanyaan yang ingin dijawabnya adalah bagaimana beberapa bangsa

tumbuh sangat pesat di bidang ekonomi sementara bangsa yang lain tidak.

Umumnya pertumbuhan ekonomi selalu dijelaskan karena faktor ‘ekternal’, tetapi

bagi McClelland lebih merupakan faktor ‘internal’ yakni nilai-nilai dan motivasi

yang mendorong untuk mengeksploitasi peluang, untuk meraih kesempatan.

Pendeknya dorongan internal untuk membentuk dan merubah nasib sendiri.

Pandangan lain didasarkan pada studi McClelland, Inkeles dan Smith (1961) 11

terhadap tesis Weber mengenai Etika Protestan dan pertumbuhan kapitalisme 12 .

10
Murodi dan Wati Nilamsari, Buku ajar, Sosiologi Pembangunan, (Jakarta: Fakultas
Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, 2007), h. 34.
11
Ibid, h. 35-36.
12
Selain dari tesis Weber teori McClelland didasarkan juga pada studinya yang
dilandaskan pada teori psikoanalisis Freued tentang mimpi. McClelland melakukan studi di
Amerika yang memfokuskan pada studi tentang motivasi dengan mencatat khayalan orang melalui
pengumpulan bentuk cerita dari sebuah gambar. Kesimpulannya bahwa khayalan ada kaitannya
dengan dorongan dan perilaku dalam kehidupan mereka, yang dinamakan the need for
achievement (N’ach) yakni nafsu untuk bekerja secara baik, bekerja tidak demi pengakuan sosial
atau gengsi, tetapi dorongan kerja demi memuaskan batin dari dalam. Bagi mereka yang
mempunyai dorongan N’ach yang tinggi akan bekerja lebih keras, belajar lebih giat, dan
sebagainya. Perhaian ditujukan pada oran yang mempunyai N’ach tinggi dan pengarunya dalam
masyarakat. Sumber; http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/08/18/need-for-achievement-dan-
kemandirian-bangsa/.
29

Dalam teori yang dikembangkan McClelland tentang motivasi berprestasi,

pertanyaan yang ingin dijawabnya adalah bagaimana beberapa bangsa tumbuh

sangat pesat di bidang ekonomi sementara bangsa yang lain tidak. Umumnya

pertumbuhan ekonomi selalu dijelaskan karena faktor ‘ekternal’, tetapi bagi

McClelland lebih merupakan faktor ‘internal’ yakni nilai-nilai dan motivasi yang

mendorong untuk mengeksploitasi peluang, untuk meraih kesempatan. Pendeknya

dorongan internal untuk membentuk dan merubah nasib sendiri. Pandangan lain

didasarkan pada studi McClelland, Inkeles dan Smith (1961) terhadap tesis Weber

mengenai Etika Protestan dan pertumbuhan kapitalisme. Berdasarkan tafsiran

McClelland atas tesis Max Weber, jika etika protestan menjadi pendorong

pertumbuhan kapitalisme di Barat, analog yang sama juga bisa untuk melihat

pertumbuhan ekonomi. Apa rahasia pikiran Weber atas Etika Protestan

menurutnya adalah the need for achievement (N’ach). Alasan mengapa dunia

ketiga terkebelakang menurutnya karena rendahnya need for achevement tersebut.

Sikap dan budaya manusia yang dianggap sebagai sumber masalah, yang pada

dasarnya adalah ciri-ciri watak dan motivasi masyarakat kapitalis. 13

13
McClelland tertarik pada analisis Max Weber tentang hubungan antara Protestanisme
dan Kapitalisme. Weber berpendapat bahwa ciri wiraswastawan protestan, Calvinisme tentang
takdir mendorong mereka untuk merasionalkan kehidupan yang ditujukan oleh Tuhan. Mereka
memiliki N’ach yang tinggi. Yang dimaksud Weber dengan semangat kapitalisme itu adalah
dorongan need for achievement yang tinggi. Jadi, N’ach sesungguhnya penyebab pertumbuhan
ekonomi di Barat, yang umumnya lahir dari keluarga yang dalam pendidikannya menekankan
pentingnya kemandirian. McClelland berpendapt bahwa N’ach selalu berkaitan dengan
pertumbuhan ekonomi. Dari studi itu, dia berpendapat adanya pengaruh dan akaitan antara
pertumbuhan ekonomi dan tinggi rendahnya motive yang lain yakni need for power (N’power) dan
need for affiliation (N’affiliation). McClelland menolak pandangan bahwa dorongan utama
wirasawatawan adalah profit motive. Baginya perilaku wiraswasta tidak semata sekedar cari uang,
melainkan dorongan achivement tadi. Satu yang paling penting adalah bahwa N’ach tidak
diturunkan. Namun ada bukti bahwa N’ach dibentuk pada awal pertumbuhan anak, yakni
tumbuhnya N’ach bergantung pada tingkat bagaimana kedua orang tua mengasuh anaknya.
Sumber; http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/08/18/need-for-achievement-dan-kemandirian-
bangsa/.
30

Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan masyarakat Indonesia

(pemerintah masa lalu) dapat dikatakan masih mengacu pada pembangunan yang

menitikberatkan pada Pembangunan ekonomi, termasuk dalam hal ini

pembangunan industri padat modal (capital intensive) yang diharapkan menjadi

jalan pintas untuk mencapai kemakmuran dan mengantarkan masyarakat

memasuki era modernisasi. Demikian pentingnya paradigma tersebut,

menyebabkan pembangunan ekonomi seolah-olah menjadi lembaga otonom yang

memiliki kekuatan untuk menyingkirkan faktor-faktor non ekonomi yang

dianggap menjadi penghambat pembangunan.

Dalam kenyataannya, pembangunan ekonomi yang diharapkan untuk

menciptakan kesejahteraan melalui proses trickle down effect, justru tidak terjadi.

Bahkan kesenjangan sosial ekonomi antara golongan kaya dan golongan miskin

semakin melebar. 14 Sebagai akibatnya, masyarakat semakin terpuruk dalam

situasi dan kondisi ketidakadilan. Hal ini kemudian memicu terjadinya konflik

sosial.

Pembangunan seharusnya merupakan suatu mobilitas sumberdaya manusia dan

sosial secara internal memiliki dasar-dasar yang kuat, dijunjung tinggi dan telah

memperoleh legitimasi dari masyarakat. Tanpa mengintegrasikan faktor-faktor

non ekonomi dalam pembangunan, akan menyebabkan timbulnya berbagai

14
faktor pendorong perubahan sosial dan pembangunan bukan karakteristik masyarakat
pada tingkat makro, tetapi karakterisitik masyarakat pada tingkat mikro. Dalam bukunya, The
Achievement Motif in Ekonomic Growth, McClelland (1984) memberikan dasar-dasar tentang
psikologi dan sikap manusia, kaitannya dengan bagaimana perubahan sosial terjadi. Menceritakan
sejarah manusia sejak awal selalu ditandai dengan jatuh bangunnya suatu kebudayaan.
Dalam perspektif sosial psikologis, perbedaan antara masyarakat tradisional dan modern
ditentukan oleh perbedaan norma dan nilai yang hidup di dalamnya. Mazhab ini percaya bahwa
transformasi sosial ekonomi dari struktur yang sederhana menjadi lebih kompleks, ditentukan oleh
perubahan yang terjadi dalam nilai-nilai, norma-norma dan sikap yang dipraktekkan oleh setiap
anggota masyarakat. Sumber; http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/08/18/need-for-
achievement-dan-kemandirian-bangsa/.
31

masalah, karena selayaknya pembangunan harus dilakukan dengan berbasis pada

masyarakat atau suatu pembangunan yang dilakukan oleh rakyat dari rakyat dan

untuk rakyat.

Dari beberapa penjelasan diatas, pembangunan, perubahan sosial serta

teori motivasi yang ditemui oleh McClelland adalah agar masyarakat memiliki

kemandirian diri untuk mampu memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya,

prestasi-diri, menolak ketertundukan atau bertekuk-lututan. Mandiri adalah

tuntutan kesetaraan. Mandiri adalah harga-diri, merubah sikap menghamba

(servile) dan rendah-diri. Ketika mandiri diangkat ke tingkat Bangsa dan Negara,

maka kemandirian adalah doktrin nasional, doktrin untuk merdeka dan berdaulat,

untuk mengutamakan kepentingan Nasional, yaitu kepentingan Rakyat, Bangsa

dan Negara. Kemandirian adalah sikap dan perilaku-bebas aktif dan diharapakan

mampu dilakukan oleh setiap masyarakat. 15

B. Pengertian Pekerja Sosial (Pendamping)

Pemberdayaan masyarakat dapat didefinisikan sebagai tindakan sosial

dimana penduduk sebuah komunitas mengorganisasikan diri dalam membuat

perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial atau

memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya yang

dimilikinya. Dalam kenyataannya, seringkali proses ini tidak muncul secara

otomatis, melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi masyarakat

setempat dengan pihak luar atau para pekerja sosial baik yang bekerja berdasarkan

15
Sumber; http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/08/18/need-for-achievement-dan-
kemandirian-bangsa/; Need For Achievement Dan Kemandirian Bangsa, (diambil pada hari
Minggu tanggal 20 2010).
32

dorongan karitatif maupun perspektif profesional. Para pekerja sosial ini berperan

sebagai pendamping sosial. 16

Unsur terpenting dalam meraih keberhasilan pengembangan masyarakat

disamping unsur modal alam, teknologi, kelembagaan, modal manusia adalah

unsur modal sosial seperti saling percaya sesama anggota masyarakat, empati

sosial, kohesi sosial, kepedulian sosial, dan kerjasama kolektif.. Karena itu

diperlukan penguatan modal sosial dan modal manusia atau sumberdaya manusia.

Saat ini di Indonesia telah berkembang satu sistem pemberdayaan masyarakat

sebagai pelaksana (pelaku) dengan nama pendamping sosial untuk melengkapi

pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sudah ada.

Proses sejarah lahirnya dan perkembangan dari lembaga swadaya

masyarakat (LSM) di bumi ini sebagaian besar inisiatornya adalah Pendamping

dari luar komunitas dampingan yang bertugas dan berfungsi melakukan aksi

kebudayaan dan upaya menemani rakyat atau komunitas melalui proses

transformasi sosial (pembaharuan) menuju cita-cita yang diharapkan bersama

(Visi).

Dilihat dari susunan katanya bahwa istilah Pendamping terdiri dari 2 (dua)

suku kata, yaitu: Pen (pe) dan damping. Suku kata Pen (Pe) mengartikan Individu,

orang yang sedang melakukan pekerjaan atau aktivitas tertentu. Suku kata

Damping mempunyai arti Sisi atau Samping terdekat, Mitra, Setara, Teman. Maka

dapat diterangkan bahwa makna Pendamping adalah 17 :

16
Sumber: http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190 (diambil
pada hari Rabu Tanggal 17 Juli, jam 01.44. 2010).
17
Sumber; http://hanjuang-mahardika.blogspot.com/2009/03/peran-pendamping-lsm-dan-
komunitas.html, (diambil pada hari Senin, Tanggal 11 Februari 2010, jam 23:35).
33

“Individu atau seseorang yang melakukan aktivitas menemani secara

dekat dan mempunyai kedudukan setara dengan yang ditemani.”

Prinsipnya antara yang ditemani dan yang menemani tak ada yang

dirugikan atau pun ketergantungan, merasa paling pintar dan bodoh. Intinya

bahwa harkat dan martabat setiap manusia adalah sama. Setiap manusia pasti

punya kelemahan dan kelebihan, pernah berhasil dan gagal. Di dunia ke-LSM-an

bahwa istilah Pendamping mulai dikenal sejak pertengahan 1980-an dari

‘penyempitan’ makna Community Organizer (CO). 18

Pergeseran istilah itu berawal dari istilah CO yang maknanya sulit

dimengerti oleh kalangan masyarakat bawah. Juga situasi politik saat itu, dalam

penggunaan istilah CO dirasa sangat tidak strategis karena dapat membuat ‘risi’

atau dianggap sebagai ‘gangguan’ pemerintah yang berkuasa. Meskipun tanpa

persetujuan ternyata lambat laun istilah CO jarang terdengar lagi dan mulai

dikenal dengan istilah populernya yaitu Pendamping.19

Pendamping dalam bahasa dalam bahasa Inggris berarti Colleague, juga

bisa ditafsirkan rekan, kolega, sahabat, sehingga maknanya sangat longgar.

Realita dalam masyarakat penggunaan istilah Pendamping lebih populer dan

mudah dimengerti tetapi makna yang terkandung tidak – belum tentu dipahami

oleh setiap orang.

Pendampingan sosial merupakan satu strategi yang sangat menentukan

keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Sesuai dengan prinsip pekerjaan

sosial, yakni “membantu orang agar mampu membantu dirinya sendiri”,

pemberdayaan masyarakat sangat memperhatikan pentingnya partisipasi

18
Ibid.
19
Ibid.
34

masyarakat yang kuat. Dalam konteks ini, peranan seorang pekerja sosial

seringkali diwujudkan dalam kapasitasnya sebagai pendamping, bukan sebagai

penyembuh atau pemecah masalah (problem solver) secara langsung. 20

Metode pendampingan diterapkan dalam mayoritas program LSM sesuai

dengan kondisi dan situasi kelompok sasaran yang dihadapi. Fungsi pendamping

sangat penting, terutama dalam membina dan mengarahkan kegiatan kelompok

sasaran. Penamping bertugas mengarahkan proses pembentukan dan

penyelenggaraan kelompok sebagai fasilitator (pemandu), komunikator

(penghubung), maupun sebagai dinamisator (penggerak).21

Pekerjaan sosial (pendampingan) di dalam pemberdayaan masyarakat

dapat digambarkan sebagai; 1) Seni, pekerjaan sosial sebagai seni memerlukan

keterampilan dalam praktek untuk memahami manusia dan membenatu agar

mempunyai kemampuan untuk menolong diri mereka sendiri. Yang diperlukan

dalam hal ini adalah keterampilan dalam pemahaman dan identifikasi masalah,

mengadakan dignosis, dan melakukan evaluasi, serta memberikan terapi-terapi

tertentu. Untuk melakukan hal ini pendamping memerlukan ilmu pengetahuan

yang memadai tentang pribadi, tingkah laku manusia, kondisi dan lingkungan

sosial di mana manusia hidup.

2). Sebagai ilmu, pekerjaan sosial sebagai ilmu memerlukan seperangkat

ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan lainnya yang relevan dalam upaya

pemecahan masalah. Dalam hal ini pemahaman masalah dan penggunaan metode

pemecahan masalah dilaksanakan secara objektif berdasarkan prinsip ilmu

20
Edi Suharto, Ph.D., Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat; Kajian Strategis
Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: PT Rafika Aditama, 2009),
h. 93.
21
Dr. Zubaedi, M.Ag., M.Pd., Wacana Pembangunan Alternatif; Ragam Perspektif
Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), h. 79.
35

pengetahuan, sehingga mampu memahami fakta-fakta dari setiap permasalahan,

dan dapat pula digunakan untuk mengembangkan prinsip maupun konsep dalam

praktek pekerjaan sosial. Dengan demikian pekerja sosial (pendamping)

menggunakan ilmu pengetahuan dan seni dalam arti ia menggunakan metode-

metode ilmiah dalam melaksanakan tugasnya secara profesional.

3) Sebagai profesi, pekerjaan sosial sebagai satu profesi harus memiliki

nilai-nilai dan kode etik karena pekerjaan sosial bukan hanya perlu syarat-syarat

profesi, akan tetapi yang lebih adalah pekerja sosial memiliki tanggung jawab

terhadap kepentingan masyarakat, terutama untuk mencapai tujuan sosial.

Sebagai satu profesi, pekerjaan sosial memiliki karakteristik tertentu, yang

membedakan pekerjaan sosial dengan profesi lainnya. Dunham menyatakan

bahwa ada beberapa karakteristik dari profesi pekerja sosial, yaitu22 :

1. Pekerjaan sosial merupakan kegiatan pemberian bantuan (helping

profession).

2. Dalam ranah sosial, pekerjaan sosial memiliki makna bahwa kegiatan

pekerjaan sosial adalah kegiatan nirbala (non profit) dalam artian

bahwa profesi ini lebih mementingkan service (dalam arti yang luas)

dibandingkan sekedar mencari keuntungan (profit) saja.

3. Kegiatan perantara (rujukan) agar warga masyarakat dapat

memanfaatkan semua sumber daya yang terdapat dalam masyarakat.

Pekerjaan sosial atau pendampingan merupakan profesi pertolongan yang

bertujuan untuk membantu individu, kelompok, dan masyarakat guna mencapai

tingkat kesejahteraan sosial, mental, dan psikis yang sebaik-baiknya.

22
Adi Isbandi Rukminto, Psikologi; Pekerjaan Sosial dan Ilmu kesejahteraan Sosial;
Dasar-dasar Pemikiran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), h. 14-15.
36

C. Pekerja Sosial dalam Pendampingan

Penguatan modal sosial 23 dapat dilakukan melalui pendidikan agama,

sosialisasi keluarga, teladan pemimpin, pemeliharaan dan pengembangan institusi

sosial, sosialisasi dan internalisasi pentingnya modal sosial, pengembangan

komunikasi informasi, dan mengakomodasi informasi melalui proses penyaringan

kemanfaatannya. Dalam prakteknya, pengembangan masyarakat membutuhkan

pendamping yang berfungsi sebagai seorang yang menganalisa permasalahan,

pembimbing kelompok, pelatih, inovator, penggerak, dan penghubung. Prinsip

bekerjanya adalah (1) kerja kelompok, (2) keberlanjutan, (3) keswadayaan, (4)

kesatuan khalayak sasaran, (5) penumbuhan saling percaya, (6) prinsip

pembelajaran bersinambung, dan (7) pertimbangan keragaman potensi khalayak

sasaran. 24

Pada saat melakukan pendampingan sosial ada beberapa peran pekerjaan

sosial (pendamping) dalam pembimbingan sosial. Mengacu pada Ife (1995), peran

pendamping umumnya mencakup tiga peran utama, yaitu: fasilitator, pendidik,

23
Modal sosial adalah suatu konsep dengan berbagai definisi yang saling terkait, yang
didasarkan pada nilai jaringan sosial. Sejak konsepnya dicetuskan, istilah "modal sosial" telah
digambarkan sebagai "sesuatu yang sangat manjur" [Portes, 1998:1] bagi semua masalah yang
menimpa komunitas dan masyarakat di masa kini (http://id.wikipedia.org/wiki/Modal_sosial,
diambil pada hari Minggu, tanggal 20 2010). Modal sosial adalah keterkaitan sosial yang
menjadikan seseorang mampu melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan
(Putnam dalam Narayan & Cassidy, 2001) atau “… totalitas sumber daya, aktual maupun virtual,
yang berkembang pada individu maupun satu kelompok karena memiliki jaringan dalam periode
tertentu atau hubungan yang informal yang saling membutuhkan dan menghormati. Putnam
(dalam Narayan & Cassidy, 2001) mendeskripsikan modal sosial sebagai keterkaitan sosial yang
menjadikan seseorang mampu melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Putnam (Mohan & Mohan, 2002) juga menegaskan bahwa modal sosial adalah bagian dari
kolektivitas, yaitu unsur-unsur dari kehidupan sosial: jejaring, norma, dan rasa percaya “trust”,
(http://suryanto.blog.unair.ac.id/2010/02/02/sekilas-modal-sosial-social-capital-apa-itu/, diambil
pada hari Minggu, tanggal 20 2010)
24
Sumber;http://ronawajah.wordpress.com/2009/12/01/pendampingan-dalam-
pengembangan-masyarakat/ (diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Februari 2010, jam 01.44).
37

perwakilan masyarakat, dan peran-peran teknis bagi masyarakat miskin yang

didampinginya. 25

1. Fasilitator

Merupakan peran yang berkaitan dengan pemberian motivasi, kesempatan,

dan dukungan bagi masyarakat. Beberapa tugas yang berkaitan dengan peran ini

antara lain menjadi model, melakukan mediasi dan negosiasi, memberi dukungan,

membangun konsensus bersama, serta melakukan pengorganisasian dan

pemanfaatan sumber.

Dalam literatur pekerjaan sosial, peranan “fasilitator” sering disebut

sebagai “pemungkin” (enabler). Keduanya bahkan sering dipertukarkan satu-sama

lain. Seperti dinyatakan Barker (1987) 26 memberi definisi pemungkin atau

fasilitator sebagai tanggungjawab untuk membantu klien menjadi mampu

menangani tekanan situasional atau transisional.

Strategi-strategi khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi:

pemberian harapan, pengurangan penolakan dan ambivalensi, pengakuan dan

pengaturan perasaan-perasaan, pengidentifikasian dan pendorongan kekuatan-

kekuatan personal dan asset-asset sosial, pemilahan masalah menjadi beberapa

bagian sehingga lebih mudah dipecahkan, dan pemeliharaan sebuah fokus pada

tujuan dan cara-cara pencapaiannya (Barker, 1987:49). 27

Pengertian ini didasari oleh visi pekerjaan sosial bahwa “setiap perubahan

terjadi pada dasarnya dikarenakan oleh adanya usaha-usaha klien sendiri, dan

25
Sumber: http://sunandars.blogspot.com/2009/02/peranan-pekerja-sosial-dalam_20.html
(diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Februari 2010, jam 01.44).
26
Sumber: http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_31.htm. Pendampingan
Sosial dalam Pengembangan Masyarakat. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Juli, jam 01.44.
2010).
27
Ibid.
38

peranan pekerja sosial adalah memfasilitasi atau memungkinkan klien mampu

melakukan perubahan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama (Parsons,

1994). 28

Parsons, Jorgensen dan Hernandez (1994:190-203) 29 memberikan

kerangka acuan mengenai tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial,

diantaranya; (1) Mendefinisikan keanggotaan atau siapa yang akan dilibatkan

dalam pelaksanaan kegiatan; (2) Mendefinisikan tujuan keterlibatan; (3)

Mendorong komunikasi dan relasi, serta menghargai pengalaman dan perbedaan-

perbedaan; (4) Memfasilitasi keterikatan dan kualitas sinergi sebuah sistem:

menemukan kesamaan dan perbedaan; (5) Memfasilitasi pendidikan: membangun

pengetahuan dan keterampilan; (6) Memberikan model atau contoh dan

memfasilitasi pemecahan masalah bersama: mendorong kegiatan kolektif; (7)

Mengidentifikasi masalah-masalah yang akan dipecahkan; (8) Memfasilitasi

penetapan tujuan; (9) Merancang solusi-solusi alternatif; (10) Mendorong

pelaksanaan tugas; (11) Memelihara relasi sistem; dan (12) Memecahkan

konflik. 30

2. Pendidik

Pendamping berperan aktif sebagai agen yang memberi masukan positif

dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagasan

dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya.

Membangkitkan kesadaran masyarakat, menyampaikan informasi, melakukan

28
Ibid.
29
Ibid.
30
Sumber: http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_31.htm. Pendampingan
Sosial dalam Pengembangan Masyarakat. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
39

konfrontasi, menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa tugas

yang berkaitan dengan peran pendidik.

3. Perwakilan masyarakat

Peran ini dilakukan dalam kaitannya dengan interaksi antara pendamping

dengan lembaga-lembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat

dampingannya. Pekerja sosial dapat bertugas mencari sumber-sumber, melakukan

pembelaan, menggunakan media, meningkatkan hubungan masyarakat, dan

membangun jaringan kerja. 31

4. Mediator

Pekerja sosial sering melakukan peran mediator dalam berbagai kegiatan

pertolongannya. Peran ini sangat penting dalam paradigma generalis. Peran

mediator diperlukan terutama pada saat terdapat perbedaan yang mencolok dan

mengarah pada konflik antara berbagai pihak. Lee dan Swenson (1986) 32

memberikan contoh bahwa pekerja sosial dapat memerankan sebagai “fungsi

kekuatan ketiga” untuk menjembatani antara anggota kelompok dan sistem

lingkungan yang menghambatnya.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam melakukan peran mediator

meliputi kontrak perilaku, negosiasi, pendamai pihak ketiga, serta berbagai

macam resolusi konflik. Dalam mediasi, upaya-upaya yang dilakukan pada

hakekatnya diarahkan untuk mencapai “solusi menang-menang” (win-win

solution). Hal ini berbeda dengan peran sebagai pembela dimana bantuan pekerja

31
Sumber: http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_32.htm., Pendampingan
Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsepsi Dan Strategi., (diambil pada hari
Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
32
Sumber: http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_31.htm. Pendampingan
Sosial dalam Pengembangan Masyarakat. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
40

sosial diarahkan untuk memenangkan kasus klien atau membantu klien

memenangkan dirinya sendiri.

Compton dan Galaway (1989: 511) 33 memberikan beberapa teknik dan

keterampilan yang dapat digunakan dalam melakukan peran mediator anatar lain;

(1) Mencari persamaan nilai dari pihak-pihak yang terlibat konflik; (2) Membantu

setiap pihak agar mengakui legitimasi kepentingan pihak lain; (3) Membantu

pihak-pihak yang bertikai dalam mengidentifikasi kepentingan bersama; (4)

Hindari situasi yang mengarah pada munculnya kondisi menang dan kalah; (5)

Berupaya untuk melokalisir konflik kedalam isu, waktu dan tempat yang spesifik;

(6) Membagi konflik kedalam beberapa isu; (7) Membantu pihak-pihak yang

bertikai untuk mengakui bahwa mereka lebih memiliki manfaat jika melanjutkan

sebuah hubungan ketimbang terlibat terus dalam konflik; (8) Memfasilitasi

komunikasi dengan cara mendukung mereka agar mau berbicara satu sama lain;

dan (9) Gunakan prosedur-prosedur persuasi. 34

5. Pembela

Dalam praktek PM, seringkali pekerja sosial harus berhadapan sistem

politik dalam rangka menjamin kebutuhan dan sumber yang diperlukan oleh klien

atau dalam melaksanakan tujuan-tujuan pendampingan sosial. Manakala

pelayanan dan sumber-sumber sulit dijangkau oleh klien, pekeja sosial haru

memainkan peranan sebagai pembela (advokat). Peran pembelaan atau advokasi

merupakan salah satu praktek pekerjaan sosial yang bersentuhan dengan kegiatan

politik. 35

33
Ibid.
34
Ibid.
35
Ibid.
41

Peran pembelaan dapat dibagi dua: advokasi kasus (case advocacy) dan

advokasi kausal (cause advocacy) (DuBois dan Miley, 1992; Parsons, Jorgensen

dan Hernandez, 1994). 36 Apabila pekerja sosial melakukan pembelaan atas nama

seorang klien secara individual, maka ia berperan sebagai pembela kasus.

Pembelaan kausal terjadi manakala klien yang dibela pekerja sosial bukanlah

individu melainkan sekelompok anggota masyarakat.

Rothblatt (1978) 37 memberikan beberapa model yang dapat dijadikan

acuan dalam melakukan peran pembela dalam PM adalah sebagai berikut; (1)

Keterbukaan (membiarkan berbagai pandangan untuk didengar); (2) Perwakilan

luas (mewakili semua pelaku yang memiliki kepentingan dalam pembuatan

keputusan); (3) Keadilan (memiliki sesuah sistem kesetaraan atau kesamaan

sehingga posisi-posisi yang berbeda dapat diketahui sebagai bahan perbandingan);

(4) Pengurangan permusuhan (mengembangkan sebuah keputusan yang mampu

mengurangi permusuhan dan keterasingan); (5) Informasi (menyajikan masing-

masing pandangan secara bersama dengan dukungan dokumen dan analisis); (6)

Pendukungan (mendukung patisipasi secara luas); dan (7) Kepekaan (mendorong

para pembuat keputusan untuk benar-benar mendengar, mempertimbangkan dan

peka terhadap minat-minat dan posisi-posisi orang lain). 38

6. Pelindung

Tanggungjawab pekerja sosial terhadap masyarakat didukung oleh hukum.

Hukum tersebut memberikan legitimasi kepada pekerja sosial untuk menjadi

36
Ibid.
37
Sumber: http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190;
Peranan Pekerja Sosial Dalam Pendampingan. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44.
2010).
38
Sumber: http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_31.htm. Pendampingan
Sosial dalam Pengembangan Masyarakat. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
42

pelindung (protector) terhadap orang-orang yang lemah dan rentan. Dalam

melakukan peran sebagai pelindung (guardian role), pekerja sosial bertindak

berdasarkan kepentingan korban, calon korban, dan populasi yang berisiko

lainnya. Peranan sebagai pelindung mencakup penerapan berbagai kemampuan

yang menyangkut: (a) kekuasaan, (b) pengaruh, (c) otoritas, dan (d) pengawasan

sosial.

Adapun demikian, prinsip-prinsip peran pelindung meliputi: (1)

Menentukan siapa klien pekerja sosial yang paling utama; (2) Menjamin bahwa

tindakan dilakukan sesuai dengan proses perlindungan; dan (3) Berkomunikasi

dengan semua pihak yang terpengaruh oleh tindakan sesuai dengan

tanggungjawab etis, legal dan rasional praktek pekerjaan sosial. 39

Dalam proses pendampingan sosial, ada dua pengetahuan dan

keterampilan yang harus dimiliki pekerja sosial:

1. Pengetahuan dan keterampilan melakukan asesmen kebutuhan masyarakat

(community needs assessment), yang meliputi: (a) jenis dan tipe kebutuhan,

(b) distribusi kebutuhan, (c) kebutuhan akan pelayanan, (d) pola-pola

penggunaan pelayanan, dan (e) hambatan-hambatan dalam menjangkau

pelayanan (lihat makalah penulis mengenai metode dan teknik pemetaan sosial

untuk mengetahu cara-cara mengidentifikasi masalah dan kebutuhan

masyarakat). 40

2. Pengetahuan dan keterampilan membangun konsorsium dan jaringan antar

organisasi. Kegiatan ini bertujuan untuk: 41 (a) memperjelas kebijakan-

39
Ibid.
40
Sumber: http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190; Peranan
Pekerja Sosial Dalam Pendampingan. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
41
Ibid.
43

kebijakan setiap lembaga, (b) mendefinisikan peranan lembaga-lembaga, (c)

mendefinisikan potensi dan hambatan setiap lembaga, (d) memilih metode

guna menentukan partisipasi setiap lembaga dalam memecahkan masalah

sosial masyarakat, (e) mengembangkan prosedur guna menghindari duplikasi

pelayanan, dan (f) mengembangkan prosedur guna mengidentifikasi dan

memenuhi kekurangan pelayanan sosial. 42

D. Sekilas Tentang Prorgram Keluarga Harapan (PKH)

Program Keluarga Harapan (PKH) 43 merupakan suatu program

penanggulangan kemiskinan. Kedudukan PKH merupakan bagian dari program-

program penanggulangan kemiskinan lainnya. PKH berada di bawah koordinasi

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK), baik di Pusat maupun di

daerah. Oleh sebab itu akan segera dibentuk Tim Pengendali PKH dalam TKPK

agar terjadi koordinasi dan sinergi yang baik. 44

Tahun 2010 Departemen Sosial menargetkan dapat memberikan bantuan

Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 90.000 Rumah Tangga Sangat Miskin

42
Edi Suharto, Ph.D., Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat; Kajian Strategis
Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: PT Rafika Aditama, 2009),
h. 103.
43
Program Keluarga Harapan adalah salah satu bentuk program yang dilakukan Depsos
dalam menangani kemiskinan di Indonesia. PKH berada di bawah koordinasi Tim Koordinasi
Penanggulangan Kemiskinan (TKPK), baik di Pusat maupun di daerah. Oleh sebab itu akan segera
dibentuk Tim Pengendali PKH dalam TKPK agar terjadi koordinasi dan sinergi yang baik. PKH
merupakan program lintas Kementerian dan Lembaga, karena aktor utamanya adalah dari Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen
Pendidikan Nasional, Departemen Agama, Departemen Komunikasi dan lnformatika, dan Badan
Pusat Statistik. Untuk mensukseskan program tersebut, maka dibantu oleh Tim Tenaga ahli PKH
dan konsultan World Bank. Dikemukakan, angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi,
karena menurut data BPS pada tahun 2005, ada sekitar 19,1 juta rumah tangga sasaran (RTS) yang
terdiri atas 3,9 juta sangat miskin, 8,2 juta miskin, dan tujuh juta hampir miskin. ''Fokus PKH
adalah 3,9 juta keluarga yang sangat miskin. (Kominfo Newsroom).
44
Artikel dari Kementerian Sosial RI - Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Mawas, Kerja
Selaras dan Kerja Tuntas. Lih. http://www.depsos.go.id dan
http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=404, (diambil pada hari
Senin, Tanggal 11 Februari 2010, jam 23:35).
44

(RTSM), dengan adanya penambahan lokasi di lima provinsi, 18 kabupaten/kota

dan 175 kecamatan. Lima provinsi tambahan itu di antaranya adalah Kepulauan

Riau, Kalimantan Tengah, Bali, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan tahun 2011

target sasarannya adalah 190.000 RTSM dengan penambahan lokasi di lima

provinsi dan 15 kabupaten/kota, yaitu di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa

Tengah, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. 45

Definisi (masyarakat) sangat miskin menurut PKH yang disesuaikan

dengan Undang-undang yang berlaku adalah rumah tangga yang kondisi

kehidupannya sangat kekurangan dan sebagian besar pengeluarannya digunakan

untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan pokok yang sangat sederhana,

biasanya tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk berobat ke tenaga medis

kecuali puskesmas atau fasilitas kesehatan yang di subsidi pemerinta, tidak

mampu membeli pakaian satu kali dalam setahun, biasannya tidak atau hanya

mampu menyekolahkan anak sampai jenjang pendidikan SLTP. 46

Dengan demikian, secara konseptual pekerjaan sosial memandang bahwa

kemiskinan merupakan persoalan-persoalan multidimensional, yang bermatra

ekonomi-sosial dan individual-struktural. Berdasarkan perspektif ini, ada tiga

kategori kemiskinan yang menjadi pusat perhatian pekerjaan sosial, yaitu: 47

1. Kelompok yang paling miskin (destitute) atau yang sering

didefinisikan sebagai fakir miskin. Kelompok ini secara absolut

memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan (umumnya tidak

45
Sumber; http://www.indonesia.com/mod.php?mod= publisher&op=viewarticle&cid
=11&artid=4687, (diambil pada hari minggu tanggal 20 juni 2010).
46
Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial, strategi penanganan
kemiskinan pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan kemampuan orang miskin dalam
menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas-tugas kehidupan dan
status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-wajah, maka intervensi pekerjaan sosial
senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi
yang dihadapinya.
47
http://buletinbisnis.wordpress.com/2007/07/02/juli-2007-pemerintah-luncurkan-program-
keluarga-harapan/, (di akses pada tanggal 06 agustus 2010).
45

memiliki sumber pendapatan sama sekali) serta tidak memiliki akses

terhadap berbagai pelayanan sosial.

2. Kelompok miskin (poor). Kelompok ini memiliki pendapatan dibawah

garis kemiskinan namun secara relatif memiliki akses terhadap

pelayanan sosial dasar (misalnya, masih memiliki sumber-sumber

finansial, memiliki pendidikan dasar atau tidak buta hurup).

3. Kelompok rentan (vulnerable group). Kelompok ini dapat

dikategorikan bebas dari kemesikinan, karena memiliki kehidupan

yang relatif lebih baik ketimbang kelompok destitute maupun miskin.

Namun sebenarnya kelompok yang sering disebut “near poor” (agak

miskin) ini masih rentan terhadap berbagai perubahan sosial di

sekitarnya. Mereka seringkali berpindah dari status “rentan” menjadi

“miskin” dan bahkan “destitute” bila terjadi krisis ekonomi dan tidak

mendapat pertolongan sosial.

PKH merupakan program lintas Kementerian dan Lembaga, karena aktor

utamanya adalah dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen

Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen

Agama, Departemen Komunikasi dan lnformatika, dan Badan Pusat Statistik.

Untuk mensukseskan program tersebut, maka dibantu oleh Tim Tenaga ahli PKH

dan konsultan World Bank.

Program Keluarga Harapan (PKH) sebenarnya telah dilaksanakan di

berbagai negara, khususnya negara-negara Amerika Latin dengan nama program

yang bervariasi. Namun secara konseptual, istilah aslinya adalah Conditional

Cash Transfers (CCT), yang diterjemahkan menjadi Bantuan Tunai Bersyarat.

Program ini "bukan" dimaksudkan sebagai kelanjutan program Subsidi Langsung

Tunai (SLT) yang diberikan dalam rangka membantu rumah tangga miskin
46

mempertahankan daya belinya pada saat pemerintah melakukan penyesuaian

harga BBM. PKH lebih dimaksudkan kepada upaya membangun sistem

perlindungan sosial kepada masyarakat miskin. 48

Sebagai bagian dari pembangunan sistem perlindungan sosial, Pemerintah

meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH). Program Keluarga Harapan

diberikan kepada mereka yang memenuhi kriteria Rumah Tangga Sangat Miskin

(RTSM) 49 yang melaksanakn kewajiban sesuai dengan ketentuan. Mislanya,

Rumah Tangga Sangat Miskin diberikan uang tunai dan diwajibkan untuk

memeriksakan anggota keluarganya ke PUSKESMAS dan atau menyekolahkan

anaknya dengan tingkat kehadiran sesuai ketentuan. Selain memperolah uang

tunai, Rumah Tangga Sangat Miskin akan menerima fasilitas pelayanan kesehatan

dan pendidikan.

Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program yang memberikan

bantuan tunai kepada RTSM jika mereka memenuhi persyaratan yang terkait

dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yaitu

pendidikan dan kesehatan 50 . Pengertian lain yang terdapat dalam buku Pedoman

Umum PKH 51 , yaitu: Program Keluarga Harapan adalah program yang

memberikan bantuan tunai kepada RTSM. Sebagai imbalanya RTSM diwajibkan

48
Ibid.
49
RTSM adalah singakatan dari Rumah Tangga Sangat Miskin. Definisinya adalah
Rumah Tangga yang kondisi kehidupannya sangat kekurangan dan sebagian besar pengeluarannya
digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan pokok yang sangat sederhana,
mengalami kesulitan berobat ke tenaga medis kecuali Puskesmas atau fasilitas kesehatan yang
disubsidi pemerintah, tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun, tidak atau hanya
menyekolahkan anak sampai jenjang pendidikan SLTP, (dalam Sekilas Mengenai Program
Keluarga Harapan [PKH], Keluarga Sehat Keluarga Berpendidikan).
50
Buku Kerja Pendamping, Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial dan Direktorat
Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial, (Jakarta: Departemen Sosial RI, 2008), h. 1.
51
Pedoman Umum PKH, Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial dan Direktorat
Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial, (Jakarta: Departemen Sosial RI, 2008), h. 25.
47

memenuhi persyaratan yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas

sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan.

Dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan masalah yang kompleks

yang memerlukan penanganan lintas sektoral, lintas profesional dan lintas

lembaga. Departemen Sosial merupakan salah satu lembaga pemerintah yang

telah lama aktif dalam program pengentasan kemiskinan. Dalam strateginya

Depsos berpijak pada teori dan pendekatan pekerjaan sosial. Strategi penanganan

kemiskinan dalam persepektif pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan

keberfungsian sosial si miskin (dalam arti individu dan kelompok) dalam

kaitannya dengan konteks lingkungan dan sistuasi sosial.

E. Tujuan PKH

Di dalam buku Pedoman Kerja Pendamping dijelaskan tentang tujuan

utama PKH adalah membantu mengurangi kemiskinan dengan cara meningkatkan

kualitas sumber daya manusia pada kelompok masyarakat sangat miskin. Tujuan

dalam jangka pendeknya bantuan ini adalah membantu mengurangi beban

pengeluaran RTSM.

Sedangkan tujuan untuk jangka panjang adalah dengan mensyaratkan

keluarga penerima untuk menyekolahkan anaknya, melakukan imunisasi balita,

memeriksakan kandungan bagi ibu hamil, dan perbaikan gizi, dengan harapan

akan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Sementara dijelaskan dalam buku Pedoman Umum PKH, tujuan yang

ingin dicapai memiliki perbedaan redaksi, walaupun sacara substansial memiliki

kesamaan dalam makna. Dikatakan bahwa tujuan utama dari PKH adalah untuk
48

mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama

pada kelompok masyarakat miskin. Tujuan tersebut sekaligus sebagai upaya

mempercepat pencapaian target MDGs 52 .

Ada delapan 53 yang menjadi target atau tujuan MDGs diantaranya, ialah;

1) penghapusan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim 54 ; 2) pecapaian

pendidikan dasar bagi semua atau yang disebut dengan pendidikan universal 55 ; 3)

mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 56 ; 4) mengurangi

tingkat kematian anak 57 ; 5) meningkatkan kesehatan ibu 58 ; 6) memerangi

HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya 59 ; 7) memastikan kelestarian lingkungan

hidup 60 ; dan 8) mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan 61 .

Dijelaskan, bahwa secara khusus tujuan PKH terdiri atas:

52
MDGs adalah singkatan dari Millenium Development Goals. salah satu prasyarat kunci
bagi tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium adalah penerapan prinsip-prinsip tata
pemerintahan yang baik, yang antara lain mencakup partisipasi masyarakat luas, transparansi dan
akuntabilitas serta efisiensi dari penyelenggaraan pemerintah.
53
Ahmad. Miftah, et.al., Belajar dari 10 provinsi, Upaya Pencapaian MDGs Melalui
Inisiatif Multi Pihak di Indonesia, (Jakarta: Kemitraan, 2009), h. 27-28.
54
Tujuan ini memiliki 2 (dua) target yaitu, (1) berupa penurunan proporsi penduduk
dengan pendapatan di bawah satu (1) dolar per hari menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015,
dan ke (2) menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan.
55
Pada tahun 2015 semua anak-anak, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan
pendidikan tidak lebih lambat dari tahun 2015.
56
Menghilangkan ketimpangan gender dalam pendidikan di tingkat dasar dan menengah
dan di semua jenjang pendidikan.
57
Targetnya menurunkan angka kematian balita sebesar dua-pertiganya antara tahun 1990
dan 2015.
58
Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya antara tahu 1990 dan 2 015.
59
Di dalamnya terdapat dua target, yakni, menghentikan persebaran dan mulai
menurunkan jumlah kasus HIV/AIDS pada tahun 2015, dan target lainnya adalah menghentikan
persebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru penyakit malaria serta penyakit-penyakit
menular lainnya pada tahun 2015.
60
Di dalamnya terdapat tiga target; 1) memadukan prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumberdaya yang
hilang; 2) menurunkan hingga separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses air minum
yang aman dan sanitasi dasar pada tahun 2015; 3) mencapai perbaikan yang berarti dalam
kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020.
61
Di dalamnya terdapat tujuh target; 1) mengembangkan perdagangan terbuka dan sistem
keuangan yang berbasis hukum, dapat diprediksi dan tidak diskriminatif; 2) membantu kebutuhan-
kebituhan khusus negara-negara yang paling terbelakang. Dalam hal ini termasuk pembebasan
tarif dan kuota untuk ekpor. Meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin, pembatalan
hutang bilateral resmi, dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara-negara yang
berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan, dan lain sebagainya.
49

1. Meningkatkan kondisi sosial ekonomi RTSM

2. Meningkatkan taraf pendidikan anak-anak RTSM

3. Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak

di bawah usia 6 tahun dari RTSM

4. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan,

khususnya bagi RTSM.

F. Komponen PKH

Dalam pengertian PKH jelas disebutkan bahwa komponen yang menjadi

fokus utama adalah bidang kesehatan dan pendidikan. Tujuan utama PKH

Kesehatan adalah meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di Indonesia,

khususnya bagi kelompok masyarakat sangat miskin, melalui pemberian insentif

untuk melakukan kunjungan kesehatan yang bersifat preventif (pencegahan, dan

bukan pengobatan). Saat ini, komponen Program Keluarga Harapan (PKH) hanya

difokuskan pada 2 (dua) sektor di atas, dengan alasan bahwa kedua sektor ini

merupakan inti peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pertanyaannya adalah

mengapa harus pendidikan dan kesehatan? 62

Jawaban dari alasan di atas adalah: karena rendahnya kemampuan

ekonomi masyarakat miskin menyebabkan buruknya kualitas gizi dan kesehatan

ibu dan anak balita. Selain itu juga menyebabkan munculnya anak-anak putus

sekolah akibat tidak adanya biaya untuk pendidikan. Bahkan, sebagian dari

mereka terpaksa harus bekerja keras membantu pendapatan ekonomi keluarga.

Peserta PKH merupakan penerima jasa kesehatan gratis yang disediakan oleh

62
Buku, Sekilas Mengenai Program Keluarga Harapan [PKH], Keluarga Sehat
Keluarga Berpendidikan, (Jakarta: Departemen Sosial RI, 2009), h. 12.
50

program Askeskin dan program lain yang diperuntukkan bagi orang tidak mampu.

Karenanya, kartu PKH bisa digunakan sebagai alat identitas untuk memperoleh

pelayanan tersebut.

Komponen pendidikan dalam PKH dikembangkan untuk meningkatkan

angka partisipasi pendidikan dasar wajib 9 tahun serta upaya mengurangi angka

pekerja anak pada keluarga yang sangat miskin. Anak penerima PKH Pendidikan

yang berusia 7-18 tahun dan belum menyelesaikan program pendidikan dasar 9

tahun harus mendaftarkan diri di sekolah formal atau non formal serta hadir

sekurang-kurangnya 85% waktu tatap muka. 63

Setiap anak peserta PKH berhak menerima bantuan selain PKH, baik itu

program nasional maupun lokal. Bantuan PKH BUKANLAH pengganti program-

program lainnya karenanya tidak cukup membantu pengeluaran lainnya seperti

seragam, buku dan sebagainya. PKH merupakan bantuan agar orang tua dapat

mengirim anak-anak ke sekolah.

Rendahnya tingkat pendidikan seorang kepala keluarga menyebabkan

penghasilan yang diperoleh juga rendah sehingga tidak mampu memenuhi

kebutuhan kesahatan dan pendidikan anak-anaknya. Sementara jika kesehatan ibu

hamil pada keluarga miskin tidak memadai maka kondisi kesehatan bayi yang

dilahirkan akan tidak memadai pula. Akibatnya pertumbuhan anak keluarga

miskin tidak memadai dan berdampak pada rendahnya kapasitas belajar anak.

Kondisi kemiskinan menyebabkan anak putus sekolah atau tidak

mengenyam bangku sekolah sama sekali, bahkan ada yang harus membantu

mencari nafkah. Akhirnya kualitas generasi penerus keluarga miskin senantiasa

63
Artikel dari Kementerian Sosial RI - Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Mawas, Kerja
Selaras dan Kerja Tuntas. (http://www.depsos.go.id dan
http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=404). diambil pada hari
Senin, Tanggal 11 Februari 2010, jam 23:35.
51

rendah dan terjerat pada lingkaran kemiskinan. Oleh karena itu upaya

menngkatkan kesehatan dan pendidikan rumah tangga sangat miskin harus terus

dilakukan. Sehingga dalam jangka panjang diharapakan bisa memperbaiki kualitas

sumber daya manusia.

G. Peran Pendamping 64 dalam Program Keluarga Harapan (PKH)

Membangun dan memberdayakan masyarakat melibatkan proses dan

tindakan sosial di mana penduduk sebuah komunitas mengorganisasikan diri

dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah

sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan

sumberdaya yang dimilikinya. Proses tersebut tidak muncul secara otomatis,

melainkan tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi masyarakat setempat

dengan pihak luar atau para pekerja sosial baik yang bekerja berdasarkan

dorongan karitatif maupun perpektif profesional.

Pendampingan sosial berpusat pada empat bidang tugas atau fungsi yang

dapat disingkat dalam akronim 4P, 65 yakni: Pemungkinan (enabling) atau

fasilitasi, dalam arti fungsi yang berkaitan dengan pemberian motivasi dan

kesempatan bagi masyarakat. Tugas pekerja sosial atau pendamping sosial yang

berkaitan dengan fungsi ini antara lain menjadi model (contoh), melakukan

mediasi dan negosiasi, membangun konsesnsus bersama, serta melakukan

manajemen sumber 66 .

64
Jumlah pendamping PKH untuk seluruh Kecamatan Koja, adalah enam (6) orang,
dengan masing-masing satu (1) orang untuk enam (6) kelurahan yang ada di Kecamatan Koja
Jakarta Utara.
65
Edi Suharto, Ph.D., Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat..., h. 95.
66
Pengertian manajemen di sini mencakup pengkoordinasian, pensistematiasian, dan
pengintegrasian bukan pengawasan (controlling) dan penunjukkan (directing), juga meliputi
pembimbingan, kepemimpinan, dan kolaborasi dengan pengguna atau penerima program PM.
Dengan demikian, tugas utama pekerja sosial dalam manajemen sumber adalah menghubungkan
klien dengan sumber-sumber sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri
klien maupun kapasitas pemecahan masalahanya, (Edi Suharto :2009:95).
52

Penguatan (empowering), Fungsi ini berkaitan dengan pendidikan 67 dan

pelatihan guna memperkuat kapasitas masyarakat (capacity building) 68 . Dalam

pendampingan sosial, pendidikan beranjak dari kapasitas orang yang belajar

(peserta didik). Pendidikan adalah bentuk kerja sama antara pekerja sosial

(sebagai guru dan pendamping) dengan klien (sebagai murid dan peserta didik).

Dan pengalam adalah inti “pelajaran pemberdayaan” 69 . Perlindungan (protecting),

fungsi ini berkaitan dengan interaksi antara pendamping dengan lembaga-lembaga

eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat dampingannya 70 , Dan

pendukungan (supporting) 71 .

Pendamping merupakan pihak kunci yang menjembatani penerima

manfaat dengan pihakpihak lain yang terlibat di tingkat kecamatan maupun

dengan program di tingkat kabupaten/kota. Tugas Pendamping termasuk

didalamnya melakukan sosialisasi, pengawasan dan mendampingi para penerima

manfaat dalam memenuhi komitmennya.

Dalam pelaksanaan PKH terdapat Tim Koordinasi yang membantu

kelancaran program di tingkat provinsi dan PT Pos yang bertugas menyampaikan

informasi berupa undangan pertemuan, perubahan data, pengaduan dan seterusnya

serta menyampaikan bantuan ke tangan penerima manfaat langsung. Selain tim

67
Menunjuk pada sebuah proses kegiatan, bukan hasil dari suatu kegiatan
68
Pendamping berperan aktif sebagai agen yang memberi masukan positif dan direktif
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya. Membangkitkan
kesadaran masyarakat, menyampaikan informasi, melakukan konfrontasi, menyelenggarakan
pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa tugas yang berkaitan dengan fungsi penguatan.
69
Edi Suharto, Ph.D., Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat..., h. 96.
70
Pekerja sosial dapat bertugas mencari sumber-sumber melakukan pembelaan,
menggunakan media, meningkatkan hubungan masyarakat, dan membangun jaringan kerja. Fungsi
perlindungan juga menyangkut tugas pekerja sosial sebagai konsultan, orang yang biasa diajak
berkonsultasi dalam proses pemecahan masalah.
71
Hal ini mengacu pada aplikasi keterampilan yang bersifat praktis yang dapat
mendukung terjadinya perubahan positif pada masyarakat. Pendamping dituntut tidak hanya
mampu menjadi manajer peubahan yang mengorganisasi kelompok, melainkan pula menjadi orang
yang mampu melaksanakan tugas-tugas teknik sesuai dengan ketrampilan dasar, seperti melakukan
analisis sosial, mengelola dinamika kelompok, menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi, dan
mencari serta mengatur sumber dana.
53

ini, juga terdapat lembaga lain di luar struktur yang berperan penting dalam

pelaksanaan kegiatan PKH, yaitu lembaga pelayanan kesehatan dan pelayanan

pendidikan di tiap kecamatan dimana PKH dilaksanakan.

Jumlah pendamping disesuaikan dengan jumlah peserta PKH yang

terdaftar di setiap kecamatan. Sebagai acuan, setiap pendamping mendampingi

kurang lebih 375 RTSM peserta PKH. Selanjutnya tiap-tiap 3-4 orang

pendamping akan dikelola oleh satu koordinator pendamping. Pendamping

menghabiskan sebagian besar waktunya dengan melakukan kegiatan di lapangan,

yaitu mengadakan pertemuan dengan Ketua Kelompok, berkunjung dan

berdiskusi dengan petugas pemberi pelayanan kesehatan, pendidikan, pemuka

daerah maupun dengan peserta itu sendiri. Pendamping juga bisa ditemui di

UPPKH Kabupaten/Kota, karena paling tidak sebulan sekali untuk menyampaikan

pembaharuan dan perkembangan yang terjadi di tingkat kecamatan. 72

Lokasi kantor pendamping sendiri terletak di UPPKH Kecamatan yang

berada di kantor camat, atau di kantor yang dekat dengan PT POS dan atau kantor

kecamatan di wilayah yang memiliki peserta PKH. Di sini pendamping

melakukan berbagai tugas utama lainnya, seperti: membuat laporan,

memperbaharui dan menyimpan formulir serta kegiatan rutin administrasi lainnya.

Secara kelembagaan, Pendamping melaporkan seluruh kegiatan dan

permasalahannya ke UPPKH Kabupaten/Kota. Pendamping memiliki tugas yang

sangat penting dalam pelaksanaan program.

72
Sumber;http://pkh.depsos.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id
=61&Itemid=79 (diambil pada hari senin tanggal 11 Februari 2010, jam 23:35).
BAB III

GAMBARAN UMUM PKH

A. Profil

Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus

pengembangan kebijakan di bidang perlindungan sosial, Pemerintah Indonesia

mulai tahun 2007 melaksanakan Program Keluarga Harapan (PKH). Program

serupa di negara lain dikenal dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT),

yang diterjemahkan menjadi Bantuan Tunai Bersyarat. Program ini "bukan"

dimaksudkan sebagai kelanjutan program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang

diberikan dalam rangka membantu rumah tangga miskin mempertahankan daya

belinya pada saat pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM. PKH lebih

dimaksudkan kepada upaya membangun sistem perlindungan sosial kepada

masyarakat miskin. 1

PKH merupakan program lintas Kementerian dan Lembaga, karena aktor

utamanya adalah dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen

Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen

Agama, Departemen Komunikasi dan lnformatika, dan Badan Pusat Statistik.

Untuk mensukseskan program tersebut, maka dibantu oleh Tim Tenaga ahli PKH

dan konsultan World Bank.

Menurut Akifah Elan-sary 2 , Direktur Jaminan Kesejahteraan Sosial

Departemen Sosjal (Depsos), PKH merupakan program terobosan untuk

1
Pedoman Umum PKH 2008..., h. 17.
2
Sumber;http://bataviase.co.id/content/program-keluarga-harapan-pkh-bantu-rtsm,
Program Keluarga Harapan (PKH) Bantu RTSM, (diambil pada hari Minggu, tanggal 20 juni
2010)

54
55

mempercepat pengurangan angka kemiskinan sekaligus sarana untuk

mengembangkan sistem jaminan sosial bagi masyarakat sangat miskin. PKH

merupakan program baru dan untuk pertama kalinya dilaksanakan di Indonesia

yang dilakukan secara terintegrasi, dan implementasinya melalui beberapa sektor

serta multi stakeholder.

Program Keluarga Harapan (PKH) diluncurkan Presiden SBY di

Gorontalo Juli 2007 3 . Pada tahap awal dilaksanakan di tujuh provinsi melibatkan

500.000 kepada rumah tangga yang sangat miskin (RTSM) 4 dengan definisi

rumah tangga yang kondisi kehidupannya sangat kekurangan dan sebagian

pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan pokok

yang sangat sederhana, biasannya tidak mampu untuk atau mengalami kesulitan

untuk berobat ke tenaga medis kecuali Puskesmas atau fasilitas kesehatan yang

disubsidi pemerintah, tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun,

biasanya tidak atau hanya mampu menyekolahkan anak sampai jenjang

pendidikan SLTP. 5

Pada tahap awal, ujicoba PKH dilaksanakan di tujuh provinsi, yaitu

Sumbar, Jabar, DKI Jakarta, Jatim, Sulut, Gorontalo dan NTT serta di 48

kabupaten/kota dan 337 kecamatan. Kemudian pada tahun 2008 dilakukan

pengembangan di enam provinsi, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera

3
PKH sendiri pertama kali diujicobakan pada tahun 2007. Rencananya akan diujicobakan
sampai tahun 2015. Namun ujicobanya bukan berupa ujicoba bantuan, tetapi ujicoba sistem
4
Program Keluarga Harapan (PKH) adalah suatu program yang memberikan bantuan
tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM), jika mereka memenuhi persyaratan yang
terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan
kesehatan. Bantuan terkait kesehatan berlaku bagi RTSM dengan anak di bawah 6 tahun dan/atau
ibu hamil/nifas. Besar bantuan ini tidak dihitung berdasarkan jumlah anak. Besar bantuan adalah
16% rata-rata pendapatan RTSM per tahun. Batas minimum dan maksimum adalah antara 15-25%
pendapatan rata-rata RTSM per tahun.
5
Sekilas Mengenai Program Keluarga Harapan (PKH), Keluarga Sehat, Keluarga
Keluarga Berpendidikan, (Program Keluarga Harapan, Meraih Keluarga Sejahtera, Unit Pelaksana
PKH Pusat [UPPKH], 2008-2009), h. 14
56

Utara, DI Yogyakarta, Banten, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan.

Sasaran penerima bantuan pada tahun 2007 sebanyak 400.000 RTSM, tahun 2008

sebanyak 620.755 RTSM, tahun 2009 sebanyak 720.000 RTSM, dan tahun 2010

ditargetkan 810.000 RTSM.

Besaran dana insentif bervariasi. Untuk satu RTSM yang memiliki satu

anak untuk keperluan sekolah di SD Rp 400.000,00/tahun, sedangkan SMP Rp

800.000,00/tahun. Untuk keperluan ibu hamil atau balita Rp 800 ribu/tahun. Di

samping itu pun terdapat dana pengurusan Rp 200.000,00/tahun yang diterima

masing-masing RTSM sasaran."Paling kecil setiap RTSM mendapatkan Rp

600.000,00 terbesar Rp 2,2 juta dalam setahun dan disalurkan setiap tiga bulan.

RTSM yang akan mendapatkan dana insentif harus memenuhi ketentuan saat

registrasi, yakni memiliki anak usia 6-15 tahun atau kurang dari 18 tahun namun

belum menyelesaikan pendidikan dasar, memiliki anak usia 0-6 tahun, atau

terdapat ibu yang sedang hamil. Untuk pemenuhan aspek pendidikan dan kesehtan

inilah dana insentif dikucurkan pemerintah. 6

Tujuh Provinsi 7 adalah: Gorontalo, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa

Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 2008,

ditambah lagi menjadi 13 provinsi. Enam tambahan itu adalah: Nanggroe Aceh

Darussalam, Sumatera Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Nusa

Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan. PKH sudah dilaksanakan di 72

kabupaten di 13 provinsi, dengan penerima 700 ribu RTSM pada tahun 2008.

6
Pikiran Rakyat, PKH untuk Kurangi Si Miskin, (Selasa, 26 Mei 2009, 02:00:00).
7
Pedoman Umum PKH 2008..., h. 40.
57

Anggarannya berasal dari APBN. Tahun 2007 dianggarkan Rp 1 triliun, 2008

meningkat menjadi Rp 1,1 triliun.8


RE K APITUL IS AS I DATA PE S E RTA PK H J AK ARTA UTARA

Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009

DATA  TAHAP  TAHAP  TAHAP  TAHAP  TAHAP  TAHAP  TAHAP  TAHAP  TAHAP 
NO NAMA WIL AYAH AWAL   I II III I II III I II III
PE S E R TA
Nov‐ Nov‐ Des ‐ Maret‐ Okt  ‐ 
Mar‐08 Mar‐08 Mei‐08 J uli‐09
07 08 08 09 09
I K E C . PE NJ ARINGAN       700    687    693    693    678    669    662    650    640    620
1 KE L. KAMAL MUAR A       184     182     184     184     179     178 171     170 168 161
2 KE L. KAPUK MUAR A        181     179     180     180     174     175 173     170 165 161
3 KE L. PE J AGALAN         80       80       80       80       80       78 78       73 74 71
4 KE L. PE NJ AR INGAN       228     219     222     222     218     213 213     211 207 203
5 KE L. PLUIT         27       27       27       27       27       25 27       26 26 24
II K E C . PADE MANGAN       752 723 723 709 679 678 640
1 KE L. PADE MANGAN BAR AT       402 387 387 377 358 356 338
2 KE L. PADE MANGAN TIMUR       213 208 208 205 202 205 188
3 KE L. ANC OL       137 128 128 127 119 117 114
III K E C . TANJ UNG PRIOK    1,942 1849 1847 1800 1753 1749 1673
1 KE L. S UNTE R  AGUNG       336 311 311 302 293 292 279
2 KE L. S UNTE R  J AY A       200 187 187 186 184 184 179
3 KE L. PAPANGGO       320 312 312 302 283 285 273
4 KE L. WAR AKAS       221 210 210 196 193 192 184
5 KE L. S UNGAI BAMBU       311 296 296 291 286 282 271
6 KE L. KE BON BAWANG       298 286 284 276 268 268 257
7 KE L. TANJ UNG PR IUK 256 247 247 247 246 246 230
IV K E C . K OJ A   1,824     1,771     1,796     1,796     1,752     1,698     1,682     1,616     1,612     1,542
1 KE L. R AWABADAK S E LATAN         89       88       89       89       86       86 86       85 85 83
2 KE L. TUGU S E LATAN       146     144     142     142     140     138 138     136 136 131
3 KE L. TUGU UTAR A       306     295     300     300     296     282 280     275 275 270
4 KE L. LAGOA       506     479     493     493     480     455 453     420 416 394
5 KE L. R AWABADAK UTAR A       282     279     279     279     267     267 258     250 250 231
6 KE L. KOJ A       495     486     493     493     483     470 467     450 450 433
V K E C . K E L APA GADING       438 410 410 395 371 368 325
1 KE L. KE LAPA GADING BAR AT       189 172 172 168 153 153 126
2 KE L. KE LAPA GADING TIMUR         67 63 63 60 59 59 54
3 KE L. PE GANGS AAN DUA       182 175 175 167 159 156 145
VI K E C . C IL INC ING   2,085     2,051     2,067     2,067     2,024     2,009     1,999     1,958     1,958     1,926
1 KE L. S UKAPUR A       179     175     176     176     168     165 165 156 157 149
2 KE L. R OR OTAN       145     142     143     143     140     139 136 134 134 133
3 KE L. MAR UNDA       262     260     261     261     256     256 253     251 251 246
4 KE L. C ILINC ING       190     187     188     188     176     175 176     172 172 170
5 KE L. S E MPE R  TIMUR       149     148     149     149     148     147 147     146 146 146
6 KE L. S E MPE R  BAR AT       191     187     189     189     186     181 179 177 177 172
7 KE L. KALIBAR U       969     952     961     961     950     946 943 922 921 910

TOTAL PE S E R TA PKH 2007   4,609     4,509     4,556     4,556     4,454     4,376     4,343     4,224     4,210     4,088

TOTAL PE S E R TA PKH 2008    3,132 2982 2980 2904 2803 2795 2638

TOTAL   PE S E R TA PK H J AK AR TA UTAR A    7,741 4,509


  4,556
  4,556
  7,436
  7,356
  7,247
  7,027
  7,005
  6,726
 

Sumber: Data Pembayaran Peserta Pkh Jakarta Utara Tahap Iii Ta.2009
8
Artikel dari Kementerian Sosial RI, Mari Kita Mengenal Program PKH,
http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=404, (diambil pada hari
Kamis, tanggal 10 Juni 2010).
58

B. Tujuan PKH

Tujuannya PKH adalah meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di

Indonesia, khususnya bagi kelompok sangat miskin. Melalui pemberian insentif

ini mereka mau melakukan kunjungan kesehatan yang bersifat preventif

(pencegahan), bukan pengobatan (kuratif). PKH juga bertujuan mengembangkan

dan meningkatkan angka partisipasi wajib belajar pendidikan dasar sembilan

tahun dan upaya mengurangi pekerja anak pada keluarga yang sangat miskin.

Secara khusus, tujuan PKH terdiri atas 9 :

1. Meningkatkan kondisi sosial ekonomi RTSM;

2. Meningkatkan taraf pendidikan anak-anak RTSM;

3. Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak

di bawah 6 tahun dari RTSM;

4. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan,

khususnya bagi RTSM.

C. Sasaran Program Keluarga Harapan (PKH)

Sasaran program ini adalah ibu rumah tangga dari keluarga yang terpilih,

mekanisme pemilihan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sesuai kriteria yang

ditetapkan, yakni Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) ibu hamil/nifas,

memiliki bayi hingga berusia 6 (enam) tahun dan anak sekolah hingga 18 tahun,

komponen ini berkaitan dengan pendidikan, namun belum menyelesaikan

pendidikan dasar, maka peserta RTSM tersebut dapat menjadi peserta PKH

apabila anak tersebut didaftarkan ke sekolah terdekat atau mengambil pendidikan

9
Ibid.
59

kesetaraan (Paket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/MTs, atau Pesantren

Salafiyah yang menyelenggarakan program Wajib Pendidikan Dasar 9 tahun)

dengan mengikuti ketentuan yang berlaku. 10

Anak di bawah satu tahun mendapat imunisasi lengkap gratis dan

ditimbang secara rutin setiap bulan. Bayi usia 6-11 bulan berhak mendapatkan

suplemen A dua kali setahun. Anak berusia 5-6 tahun berhak mendapatkan

pemantauan tumbuh kembang. Anak usia 6-15 tahun yang terdaftar di

SD/MI/SDLB dan SMP/MTs/SMPLB dengan kehadiran minimal 85% hari

sekolah dalam sebulan selama tahun ajaran berlangsung. Anak usia 15-18 tahun

namun belum menyelesaikan pendidikan dasar dapat menerima bantuan apabila

anak tersebut bersekolah atau mengikuti pendidikan kesetaraan yang berlaku. 11

Calon Penerima terpilih harus menandatangani persetujuan bahwa selama

mereka menerima bantuan, mereka akan (lihat Artikel dari Kementerian Sosial RI,

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Mawas, Kerja Selaras dan Kerja Tuntas, Mari

Kita Mengenal Program PKH, http://www.depsos.go.id atau

http://www.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=404): 12

1. Menyekolahkan anak 7-15 tahun serta anak usia 16-18 tahun namun

belum selesai pendidikan dasar 9 tahun wajib belajar;

2. Membawa anak usia 0-6 tahun ke fasilitas kesehatan sesuai dengan

prosedur kesehatan PKH bagi anak; dan

10
Pedoman Umum PKH 2008..., h. 32-33.
11
Buku Kerja Pendamping PKH, (Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial dan
Direktorat Jenderal Bantuan dan Jaminan Soail, Departemen Sosial RI, 2008), h. 6.
12
Ibid, h. 3.
60

3. Untuk ibu hamil, harus memeriksakan kesehatan diri dan janinnya ke

fasilitats kesehatan sesuai dengan prosedur kesehatan PKH bagi lbu

Hamil.

Besar bantuan tergantung dari kondisi masing-masing keluarga, jumlahnya

akan berubah dari waktu ke waktu, tergantung kepada kepatuhan keluarga

memenuhi kewajiban. Besarnya bantuan berkisar antara Rp 600.000 hingga Rp.

2.200.000 (lihat Artikel dari Kementerian Sosial RI) yang terdiri dari: (1) Bantuan

tetap sebesar Rp 200.000; (2) Bantuan pendidikan SD/MI Rp 400.000; (3)

Bantuan pendidikan SMP/MTs Rp 800.000; dan (4) Bantuan kesehatan untuk ibu

hamil/nifas, bayi dan atau balita sebesar Rp 800.000. 13

Bantuan di atas diberikan per tahun, kecuali bantuan tetap sebanyak

200.000 diberikan per 3 (tiga) bulan. Bantuan kesehatan dengan anak di bawah 6

tahun dan/atau ibu hamil/nifas. Besar bantuan tidak dihitung berdasarkan jumlah

anak. Besar bantuan adalah 16% rata-rata pendapatan RTSM per tahun. Batas

minimum dan maksimum adalah antara 15-25% pendapatan rata-rata RTSM per

tahun. 14

Bantuan tersebut akan dibayarkan empat kali dalam setahun 15 . Uang

bantuan tersebut dapat diambil di kantor pos terdekat dengan membawa kartu

anggota dan tidak dapat diwakilkan. Adapun pihak-pihak yang terkait dalam

13
Ibid, h. 4.
14
Ibid, h. 4-5.
15
Mekanisme pemilihan penerima bantuan adalah pendataan yang dilaksanakan oleh Biro
Pusat Statistik (BPS), kemudian data tersebut diserahkan ke Depsos. Kemudian data itu
disampaikan ke PT Pos Indonesia untuk dimasukkan dalam form validasi dan disampaikan ke Unit
Pelaksana Program Keluarga Harapan (UPPKH) Kabupaten/Kota. Setelah itu disampaikan ke staf
pendamping untuk dilaksanakan validasi melalui pertemuan awal antara pendamping dan RTSM.
Hasil validasi tersebut dientry oleh tenaga operator di UPPKH Kabupaten/Kota secara on line ke
UPPKH Pusat untuk ditentukan besaran jumlah bantuan yang harus dibayarkan. Setelah itu baru
disampaikan ke PT Pos Indonesia untuk pencetakan Kartu RTSM PKH dan dilakukan pembayaran
ke setiap RTSM. Satu bulan setelah pembayaran, akan dilakukan verifikasi. Bantuan diberikan
dalam 4 (empat tahap) per tiga bulan, .....? (Buku Pedoman PKH, 2008).
61

program tersebut adalah sebagai berikut.: PKH dilaksanakan oleh UPPKH Pusat,

UPPKH Kabupaten/Kota dan Pendamping PKH.

Adapun ketentuan dalam program keluarga harapan ini yang berhak

memerima uang bantuan ini dalam pengambilannya tersebut adalah wanita

dewasa RTSM (rumah tangga sangat miskin). Dipilihnya ibu/ wanita dewasa

yang RTSM yang mengasuh anak sebagai penerima bantuan dikarenakan

wanitalah yang biasannyasehari-hari mengurusi keperluan gizi dan kesehatan

anak-anak dan keluarga, serta mamastikan anak-anakke sekolah.

Jadi dengan memberikan bantuan tunai kepada wanita dalam rumah

tangga peserta PKH, diharapkan mereka bisa mengatur pemanfaatan dana dengan

sebaik-baiknyauntuk memenuhi kebutuhannya. Meski begitu, peran peran kepala

rumah tannga/ suami sangat penting dalam mendukung pengaturan pemanfaatan

dana bantuan.

D. Kerangka Kelembagaan Tingkat Pusat dan Fungsinya

Kelembagaan PKH terdiri dari lembaga terkait baik di tingkat pusat,

provinsi maupun kabupaten/kota, serta UPPKH yang dibentuk tingkat pusat,

kabupaten kota/kecamatan. Susunan tim pengendali program keluarga harapan

mempunyai tugas dan fungsi. Dasarnya adalah kerangka kelembagaan PKH dan

struktur organisasi yang memiliki garis komando dan garis koordinasi yang

seimbang (dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas).


62

1. Susunan Tim Pengendali 16

a. Pengarah,

Ketua : Mentri Koordinator Bidang Kesejahteraan Raktyat Selaku Ketua

Tim Koordinasi Penaggulangan Kemiskinan

b. Pelaksana,

Ketua : Deputi Bidang koordinasi Penaggulangan Kemiskinan

Kementrian Bidang Kesejahteraan Rakyat Selaku Secretariat

Tim Koordinasi Penaggulangan Kemiskinan

c. Teknis

Ketua : Direktur Perlindungan Dan Kesejahteraan Masyarakat

Kementrian Negara PPN/Bappenas

2. Tugas Dan Fungsi Tim Pengandali

a. Pengarah

Memberikan pengarahan kepada pelaksana baik materi yang

bersifat subtanstif maupun teknis guna keberhasilan pengendalian program

keluarga harapan.

b. Pelaksana

1) Merumuskan konsep kebijakan opersaional Koordinasi, perencanaan,

pelaksanaan dan pengendalian program keluarga harapan.

2) Menentukan kriteria dan daftar penerima program keluarga harapan

3) Melakukan sosialisasi program keluarga harapan keberbagai kalangan

di pemerintah dan masyarakat.

16
Pedoman Umum PKH 2008..., h. 64-65.
63

4) Melakuakn pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program

keluarga harapan serta melaporkan hasilnya kepada mentri koordinator

bidang kesra.

5) Menilai hasil manfaat dan dampak dari pelaksanaan program keluarga

harapan kepada terhadap pengurangan kemiskinan.

6) Mengusulkan pilihan-pilihan peningkatan efektifitas pelaksanaan

program keluarga harapan kepada pengarah.

7) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh mentri koordinator

bidang kesra

c. Teknis

Membantu tim pelaksana dalam melakukan tugas dan fungsinya

terutama dalam merumuskna kebijakan, desain, sosialisasi, pemantauan

dan evaluasi program keluarga harapan.

3. Tim Pengarah Pusat

Tim Teknis Pusat adalah Pejabat Esion I dari:

a. Kementrian PPN / Bappenas

b. Departemen Sosial

c. Departemen Kesehatan

d. Departemen Pendidikan

e. Departemen Keuangan

f. Departemen Agama

g. Departemen Komunikasi dan Informatika

h. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi

i. Departemen Dalam Negeri


64

j. Badan Pusat Statistik

4. Tugas dan Tanggung Jawab Tim Teknis Pusat adalah: 17

a. Memberikan pengarahan dan menyetujui desain dan rencana

pelaksanaan program

b. Memberikan pengarahan dan menyetujui mekenisme dan prosedur

pelaksanaan PKH

c. Mengkaji laporan perkembangan program setiap 6 bulan sekali

d. Mengkaji dan memberikan arahan tindak lanjut laporan audit

e. Mengkaji dan memberikan arahan tindak lanjut laporan evaluasi

f. Mengkaji dan menyetujui perubahan yang kiranya diperlukan dalam

pedoman umum PKH

g. Memecahkan berbagai masalah lintas sector yang telah teridentifikasi

oleh Tim Teknis Pusat

h. Meningkatkan kolaborasi antsr departemen dalam mencapai tujua PKH

i. Memberikan rekomendasi strategi pengembangan PKH baik kepada

pemerintah maupun legislatif

Tim Pengarah pusat mengadakan rapat koordinasi setidaknya 6 bulan

sekali. Ketua tim teknis pusat (Pejabat Eslon I). bersama-sama dengan anggota

tim pengarah pusat, berkewajiban memberikan laporan tertulis kepada Pemerintah

atas tugas dan tanggung jawab seperti tertulis disetiap 6(enam) bulan sekali.

5. Tim Koordonasi Teknis Pusat

Anggota Tim Teknis Pusat terdiri atas pejabat eselon 2 dan / atau eselon 3

yang ditunjuk dari kementrian dan diketuai oleh Direktur Jendral Bantuan dan

17
Ibid, h. 98.
65

Jaminan Sosial sekaligus sebagi Kuasa Pengguna Anggaran. Untuk pengelolaan

keuangan program, Pejabat Pembuat Komitmen adalah Direktur Jaminan

Kesejahteraan Sosial. 18

Tugas dan Tanggung jawab Tim Teknis Pusat adalah:

a. Mengkaji berbagai rencana operasional yang disiapkan oleh UPPKH

Pusat

b. Mengkoordinasikan berbagai kegiatan sektoral terkait agar tujauan dan

fungsi program dapat berjalan baik

c. Membentuk tim lintas sektor yang bertugas untuk menentukan peserta

PKH

d. Memonitor perkembangan [pelaksanaan program termasuk pengaduan

masyarakat dan penanganannya, dan mengajukan perbaikan apabila

diperlukan

e. Mengkaji laporan evaluasi yang akan dipresentasikan kepada Tim

Pengarah. 19

f. Mengkaji laporan audit yang akan dipresentasikan kepada Tim

Pengarah

Tim Koordinasi Teknis Pusat mengadakan rapat koordinasi setidaknya

setiap 3 bulan sekali. Ketua Tim Teknis Pusat, bersama-sama dengan anggota tim

teknis lainnya, berkewajiban memberikan laporan tertulis kepada tim Pengarah

Pusat setiap 3 bulan sekali.

Tim Koordinasi Teknis PKH pusat yang terdiri dari barbagai

kementrian/lembaga terkait dan bertanggung jawab sesuai dengan bidang

18
Ibid, h. 69.
19
Ibid, h. 70.
66

tugasnya (Bappenas untuk perencanaan dan evaluasi program, Departemen Sosial

untuk Pelaksanaan PKH,BPS untuk pendataan rumah tangga miskin, Depertemen

Komunikasi dan Informatika untuk Sosialisasi, seta Depertemen Pendidikan

Nasional dan Departemen kesehatan penyediaan layanan pendidikan dan

kesehatan). Dalam rangka koordinasi PKH dengan program-program

penanggulangn kemiskinan lainnya, PKH berada dibawah koordinasi tim

koordinasi penanggulangan kemiskinan(TKPK), baik dipusat maupun didaerah.

Untuk itu. TKPK membentuk tim pengendali PKH yang berfunfsi

mengkoordinasikan dan mensinergikan tujuan PKH dengan upaya percepatan

penanggulangan kemiskinan lainnya. Koordinasi PKH dengan TKPK daerah,

apabila telah dibentuk, diharapkan dapat mengikuti pola koordinasi yang

dilakukan di tinhkat Pusat.

6. Unit Pelaksanaan PKH Pusat (UPPKH-P)

Unit Pelaksana PKH Pusat adalah pelaksana program yang berada di

bawah kendali Direktorat Jendral Bantuan dan Jaminan Sosial, Departemen

Sosial.

7. Organisasi PKH Pusat (UPPKH-P)

Personil UPPKH Pusat terdiri atas pegawai Departemen Sosial RI, Tim

Assistensi, Tenaga Ahli, dan Praktisi/Narasumber yang ahli dibidangnya, serta

tenaga pendukung berupa tenaga operator computer dan tehnical support.

Tenaga Ahli PKH pada tahap awal membantu pembuatan desain PKH dan

pada tahap selanjutnya turut mengelola dan menjalankan PKH agar tejaga

kesinambungan program. Tenaga Ahli ini meliputi:

a. Koordinator Wilayah
67

b. Ahli Pendidikan

c. Ahli kesehatan

d. System analyst

e. Programmer

f. Analisa Data

g. Ahli Statistik

h. Payment Officer

i. Ahli Social Marketing

j. Ahli Bidang Monitoring

Tim Assistensi bertugas memback up kebutuahan tenaga ahli yang belum

tercover pada tahun berjalan. Praktisi/Nara Sunber bertugas memberikan

masukan mengenai keberlangsungan Program, menjalankan fungsi pemantauan

dan koordinasi dengan Tim UPPKH Pusat dan daerah.

Tenaga Operator bertugas mendukung pelaksanaan PKH, meliputi entry

data, menerima pengaduan, mengadakan pemuktahiran data dan hal lain yang

mendukung PKH. Technical Suport bertugas membantu jalannya proses sirkilasi

data (menjaga dan membantu memperbaiki jaringan listrik, telepon, internet

apabila bermasalah) dan pelaksanaan kerja UPPKH Pusat.

Kebutuhan Tim Assistensi, Tenaga Ahli, Praktisi/Narasumber, tenaga

operator maupun technical support pada tiap tahunnya bervariasi, tergantung pada

pelaksanaan program dan perkembangan besaran jumlah jangkauan wilayah

pelayanan dan jumlah RTSM.

Srtuktur Organisasi UPPKH Pusat, serta tugas dan tanggung jawabnya

secara rinci terdapat dalam Pedoman Operasional Kelembagaan.


68

8. Kelembagaan PKH Daerah

Tim Koordinasi PKH di tingkat daerah terdiri atas : (i) Tim Koordinasi

PKH provinsi dan (ii) Tim Koordinasi PKH Kabupaten/Kota. Pembahasan ini

membahas tugas-tugas dan tanggung jawab serta proses pembentukan tim

koordinasi PKH Daerah(provinsi dan kabupaten/kota).

9. Tim Koordinasi PKH Provinsi

Tujuan pembentukan Tim Kordinasi PKH Provinsi adalah untuk

memantua semua kegiatan PKH di tingkat Provinsi serta untuk memastikan

komotmen daerah terkait dengan PKH terpenuhi.

10. Tugas dan Tanggung Jawab

Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi PKH Provivsi secara umum

terdiri atas tugas melakukan:

a. Koordinasi persiapan provinsi untuk mendukung pelaksanaan PKH

b. Koordinasi rutin terhadap partisipasi provinsi dan kabupaten/kota

terkait dalam pelaksanaan PKH.

Secara lebih rinci dijelaskan dalam Pedoman Operasional Kelembangaan

PKH.

D. Unit Pelaksana Program Keluargga Harapan (UUPKH) Pada Tingkat

Kabupaten Kota Jakarta Utara.

1. Tentang UPPKH Kecamatan/Kota

Tim Koordinasi PKH tingkat Kabupaten/Kota dibentuk untuk memastikan

persiapan dan pemenuhan tanggung jawab Kabupaten/Kota terhadap pelaksanaan

PKH. UPPKH kecamatan merupakan kunci untuk mensuskseskan pelaksanaan


69

Program Keluarga Harapan dan akan menjadi saluran informasi terpenting antara

UPPKH kecamatan dengan UPPKH Pusat serta Tim Koordinasi Provinsi dan Tim

Koordinasi Kabupaten kota.

UPPKH daerah di bentuk dan di tetapkan oleh direktur Jendral Bantuan

dan Jaminan Sosial Departemen Sosial R.I, melalui proses pendaftaran dan seleksi

yang dilaksanakan di tingkat pusat. Clon personel UPPKH diusulkan oleh daerah

Kabupaten/Kota penerima PKH.

Kebutuhan personel UPPKH Kabupaten/Kota ditetapkan berdasrkan tugas

pokok dan tanggung jawab yang diemban oleh Unit ini. Susunan personel

UPPKH Kabupaten Kota di tetapkan oleh Direktur Jendral Bantuan dan Jaminan

Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia. Wilayah kerja personel UPPKH

Kabupaten/Kota meliputi seluruh Kecamatan PKH dalam satuan wilayah kerja di

tingkat Kabupaten /Kota.

Dalam pelaksanaan UPPKH Kabupaten/Kota ini tidak terlepas dari peran

serta UPPKH secara keseluruhan, untuk itu perlu di buat acuan dan tanggung

jawab dari masing masing petugas yang ada pada UPPKH Kabupaten/Kota yang

meliputi:

1. Ketua UPPKH Kabupaten/Kota (salah satu dari tim sekretariat

Koordinasi PKH Kabupaten/Kota).

2. Koordinator UPPKH Kabupaten/Kota (salah satu dari tenaga operator

yang terpilih pada pelatihan)

3. Administrasi

4. Data entry/operator Komputer (SIM-PKH)

5. Sistem Pengaduan Masyarakat.


70

2. Strtuktur UPPKH Kabupaten/Kota

Strtuktur Organisasi UPPKH Kabupaten Jakarta Utara

Ketua UPPKH Kab/Kota : Drs. H. Akmal Towe M,Si

Koordinator UPPKH Kab/Kota : Agus Cholida S,Komp

Petugas SPM : M. Fakhrijal S, Kom

ADM : Abd Rahman S,E

SIM PKH : Fadli Yaswir S,Kom

Petugas Data Entri* :----

Pendamping : Krisno Sutanto,A.MD

Keterangan :

1. Ketua UPPKH Kab/Kota (salah satu Sekretariat Koordinasi PKH

Kab/Kota).

2. Koordinatoor UPPKH Kab/Kota (salah satu tenaga operator yang

terpilih pada saat pelatihan).

3. Adminisrtasi

4. Data Entry/Operator Komputer (SIM-PKH)

5. Sistem Pengaduan Masyarakat (SPM)

6. Pendampingan peserta oleh para masing-masing pendamping.


BAB IV

ANALISIS TENTANG PERAN PENDAMPING DALAM PROGRAM

KELUARGA HARAPAN BAGI MASYARAKAT

A. Peran Pendamping dalam Program Keluarga Harapan (PKH) Oleh Suku

Dinas Sosial Jakarta Utara Di Kecamatan Koja, Kelurahan Koja

1. Tahapan persiapan pendamping dalam Program Keluarga Harapan

(PKH)

Pada akhir 1980-an, ada beberapa alasan pergeseran istilah Community

Organizer (CO) menjadi Pendamping, antara lain: (1) Banyak anggota komunitas

yang tak paham dengan istilah CO, sehingga dapat mempersulit diri dalam

melakukan Aksi; (2) Dikesankan – terkesan bahwa CO merupakan orang yang

dirasa lebih pandai dan serba tahu mengenai organisasi dari pada anggota

komunitas; (3) Beberapa pandangan – anggapan bahwa CO lebih menekankan

pada Visi; Misi; Tujuan dan Hasilnya (out put) yang sifatnya Politis. Padahal

situasi saat itu (zaman rezim Soeharto) banyak rakyat yang ‘phobi’ mendengar

dan melibatkan diri pada kegiatan yang berbau politik. 1

Dalam proses waktu ke waktu bahwa perubahan istilah itu juga turut

menggeser makna istilah Community Organizer yang sebenarnya merupakan

proses akhir Aksi yang dilakukan dengan penekanan pada Penguatan Rakyat,

yaitu terbentuknya Organisasi Rakyat yang kuat dan dilakukan melalui proses

Aksi sampai meningkat kesadarannya menjadi Pemberdayaan.

1
Peran; Pendamping, LSM, dan Komunitas, sumber; http://hanjuang-
mahardika.blogspot.com/2009/03/peran-pendamping-lsm-dan-komunitas.html, (diambil pada hari
Kamis, tanggal 10 Juni 2010).

71
72

Dalam upaya meningkatkan pemberdayaan tersebut Unit Pelaksana

Program Keluarga Harapan (UPPKH) melakukan tugas dan persiapan program

yang meliputi bidang pekerjaan yang sesuai dengan kerja dan kebutuhan

Pendamping. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum pembayaran pertama diberikan

kepada penerima manfaat. Menyelenggarakan pertemuan awal dengan seluruh

peserta PKH; Menginformasikan (sosialisasi) program kepada RTSM peserta

PKH dan mendukung sosialisasi kepada masyarakat umum; Mengelompkan

peserta kedalam kelompok yang teridiri atas 20-25 peserta PKH untuk

mempermudah tugas pendampingan.

Memfasilitasi pemilihan Ketua Kelompok ibu-ibu peserta PKH

(selanjutnya disebut Ketua Kelompok saja); Membantu peserta PKH dalam

mengisi Formulir Klarifikasi data dan menandatangani surat persetujuan serta

mengirim formulir terisi kepada UPPKH Kabupaten/Kota; Mengkoordinasikan

pelaksanaan kunjungan awal ke Puskesmas dan pendaftaran sekolah.

2. Tugas Rutin:

Menerima pemutakhiran data peserta PKH dan mengirimkan formulir

pemutakhiran data tersebut ke UPPKH Kabupaten/kota; Menerima pengaduan

dari Ketua Kelompok dan/atau peserta PKH serta dibawah koordinasi UPPKH

Kabupaten/Kota melakukan tindaklanjut atas pengaduan yang diterima (Lihat

Pedoman Operasional Sistem Pengaduan Masyarakat); Melakukan kunjungan

insidentil khususnya kepada peserta PKH yang tidak memenuhi komitmen;

Melakukan pertemuan dengan semua peserta setiap enam bulan untuk re-

sosialisasi (program dan kemajuan/perubahan dalam program); Melakukan


73

koordinasi dengan aparat setempat dan pemberi pelayanan pendidikan dan

kesehatan; Melakukan pertemuan bulanan dengan Ketua Kelompok; Melakukan

pertemuan bulanan dengan Pelayan Kesehatan dan Pendidikan di lokasi pelayanan

terkait; Melakukan pertemuan triwulan dan tiap semester dengan seluruh

pelaksana kegiatan: UPPKH Daerah, Pendamping, Pelayan Kesehatan dan

Pendidikan. Adapun beberapa kegiatan pokok yang harus dilakukan pendamping

PKH, yaitu:

a. Pertemuan Awal

Pertemuan awal merupakan kegiatan pendamping untuk

Menginformasikan (sosialisasi) program kepada RTSM peserta PKH dan

mendukung sosialisasi kepada masyarakat umum. Dalam pertemuan awal yang

dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2007 ini, bertempat di kantor Kecamatan

Koja, dalam rangka/kegiatan mengelompokan masing-masing peserta kedalam

kelompok yang teridiri atas 20-25 peserta PKH untuk mempermudahkan tugas

pendampingan. Dalam pemilihan kelompok peserta PKH pendampinglah yang

berhak menentukan siapa saja yang masuk dalam kelompok yang telah di tetapkan

oleh pendamping, hal tersebut diperkuat oleh Mas Krisno (Pendamping Kelurahan

Koja); 2

“Jadi untuk pemilihan ketua kelompok, saya sendiri aja yang


mengelompokkan bukan dari pihak siapa-siapa...terus.. dipilih ketua
kelompoknya...kenapa dibuat perkelompok, karena biar gampang untuk
masalah pendampingan dan untuk memepermudah pada saat
pembayaran di kantor pos...”.

2
Wawancara pribadi yang dilakukan di Kantor UPPKH pada hari Senin, jam 13.30,
tanggal 01 Februari 2010,
74

Selanjutnya dalam pertemuan awal ini, membantu peserta PKH dalam

mengisi Formulir Klarifikasi data dan menandatangani surat persetujuan serta

mengirim formulir terisi kepada UPPKH Kabupaten/Kota. Mengkoordinasikan

pelaksanaan kunjungan awal ke Puskesmas dan pendaftaran sekolah.

Dikarenakan pertemuan awal, maka pendamping harus mendampingi

dalam proses pengisian data kepeserrtaan Program Keluarga Harapa, adapun

formulir yang yang harus diisi adalah keterangan data anggota keluarga.

Hal tersebut juga dinyatakan oleh Mas Krsino (Pendamping Kelurahan

Koja); 3

“Wajar aja ya mas, kan gak semuanya ibu-ibu pada bisa baca
semua...jadi saya ikut dampingin sambil nerangin buat ngisi
formulirnya...padahal dah di ulang-ulang cara ngisi formulirnya...tapi
masih aja ada yang salah...trus, buat masalah kunjungan ke sekolah dan
puskesmas atau umah sakit, saya hanya mealporkan bahwa apabila ada
ibu-ibu yang datang untuk berobat atau periksa, trus dia menunjukkan
kartu PKH maka ibu tersebut tidak dipungut biaya sepeserpun....., karna
pihak puskesmas dan rumah sakit sudah tau kalo di Jakarta Utara
sedang mengadakan Program Keluarga Harapan, yaitu Program
Perlindungan Sosial....cape sih mas muter-muter ngusrusin ini itu....tapi
saya senang dengan pekerjaan ini....asik aja gak terlalu formal trus jadi
banyak sodara juga...”

Dapat disimpulkan bahwa peran pendamping dalam tahap pertemuan awal

ini sangat dibutuhkan, baik dalam penyampaian informasi dari dari Koordinator

Program ataupun menyampaikan informasi dari pihak-pihak yang bersangkutan

dengan Program Keluarga Harapan. Karena segala program yang berkaitan

dengan masyarakat, pendamping sangatlah dibutuhkan demi tercapainya visi dan

misi program tersebut.

3
Ibid.
75

b. Mendampingi proses pembayaran

Pada dasarnya pendamping tidak melakukan kegiatan apapun kecuali

pengamatan dan pengawasan selama proses pembayaran berlangsung. Namun

begitu, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh pendamping sebelum

kegiatan berjalan agar proses pembayaran berlangsung aman dan terkendali, yaitu:

a. Pergi ke Kantor Pos untuk meminta jadwal pembayaran dan mendata

penerima manfaat yang merupakan kelompok binaannya.

b. Menginformasikan Ketua Kelompok mengenai jadwal dan memastikan

bahwa pembayaran diterima oleh orang yang tepat pada waktu yang

telah ditentukan.

c. Berdiskusi Dalam Kelompok

Kegiatan yang tak kalah penting adalah menyusun agenda dan

mengadakan pertemuan dengan ketua kelompok ibu penerima untuk berdiskusi

dan menampung pengaduan, keluhan, perubahan status maupun menjawab

pertanyaan seputar program. Pada pertemuan ini juga dilakukan sosialisasi

informasi mengenai pentingnya pendidikan dan kesehatan ibu dan anak, tips

praktis dan murah bagi kesehatan keluarga serta pentingnya sanitasi dan nutrisi

untuk meningkatkan mutu keluarga.

d. Pendampingan Rutin

Selanjutnya, jadwal pendampingan dilakukan rutin dan ditetapkan selama

4 hari kerja (Senin sampai Kamis). Kegiatan yang dilakukan selama itu antara lain

melakukan kunjungan ke unit pelayanan kesehatan dan pendidikan, mengunjungi

keluarga untuk membantu mereka dalam proses mendaftarkan anak-anak ke

sekolah, mengurus akta lahir maupun memeriksa rutin ke puskesmas.


76

e. Berkunjung Ke Rumah Penerima Bantuan

Jika pada pertemuan ada peserta PKH yang tidak bisa datang karena alasan

tertentu seperti: lokasi yang sangat jauh dari tempat pertemuan, sibuk mengurus

anak, sakit, atau tidak mampu memenuhi komitmen dikarenakan alasan-alasan

tertentu, maka perlu dilakukan kunjungan ke rumah peserta tersebut untuk

memudahkan proses (lihat Buku Pedoman Pengaduan)

f. Memfasilitasi Proses Pengaduan

Pendamping menerima, menyelesaikan maupun meneruskan pengaduan

ke tingkat yang lebih tinggi sehingga dapat dicapai solusi yang mampu

meningkatkan mutu program.

g. Mengunjungi Penyedia Layanan

Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan vital keberlangsungan maupun

peningkatan mutu PKH. Pendamping memantau kelancaran dan kelayakan

kegiatan pelayanan, mengantisipasi permasalahan yang ada dalam program

sehingga bisa melakukan tindakan yang sifatnya mencegah kegagalan kelancaran

program ketimbang memperbaikinya.

h. Melakukan Konsolidasi

Pada hari Jum'at, para pendamping melakukan koordinasi dengan sesama

pendamping dan tim lain. Laporan dan tindak lanjut juga dianalisa dan

ditindaklanjuti pada hari ini agar terjadi peningkatan mutu program.

i. Meningkatkan Kapasitas Diri

Untuk meningkatkan mutu program dan mutu pendamping itu sendiri, juga

diadakan diskusi dan pertemuan rutin (minimal sebulan sekali) baik itu

antarkecamatan maupun didalam kecamatan sendiri sebagai upaya menampung


77

pelajaran berarti (lesson learned & best practices) yang bisa digunakan oleh

pendamping lain agar mempermudah pekerjaan dan menghadapi kasus-kasus

harian di lapangan.

j. Monitoring dan Evaluasi

Pengawasan pada anggota masyarakat pun dilakukan secara berkala.

Dengan demikian pengembangan pelaksanaan PKH di daerah lain akan dilakukan

jika hasil monitoring dan evaluasi mengindikasikan tanda-tanda positif terhadap

pencapaian tujuan. Oleh karenannya, monitoring dan evaluasi merupakan bagian

yang penting yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan PKH.

Monitoring PKH bertujuan untuk memantau pelaksanaan PKH pada sisi

masukan (inputs) dan luaran (outputs). Program monitoring ini akan

mengidentifikasi bebagai hal yang muncul dalam pelaksanaan PKH sehingga

memberi kesempatan kepada pelaksana program untuk melakukan perbaikan yang

diperlukan. Sedangkan evaluasi bertujuan untuk melihat hasil dan dampak

pelaksaan PKH. Kerangka fikir program monitoring dan evaluasi PKH adalah

sebagaimana digambarkan dibawah ini.

Bagan :
Kerangka Pikir Program Monitoring dan Evaluasi PKH

Sumber daya
Inputs (Fisik & Rp)

Monitoring
Produk yang
Outputs dihasilkan

Akses, penggunaan dan


Outcomes kepuuasan terhadap
produk
Evaluasi
Dampak terhadap
Impacts kesejahteraan

Sumber; Pedoman Umum Program Keluarga Harapan, 2009.


78

Adapun indikator monitoring dan evaluasi adalah sebagai berikut:

1. Indikator Monitoring

a. Komponen kesehatan

b. Komponen Pendidikan

c. Aspek Pembayaran

d. Aspek Administrasi

2. Indikator Evaluasi

a. Indikator hasil PKH

b. Indikator dampak PKH

Dengan demikian, dari beberapa faktor yang disebutkan di atas, maka

setiap individu yang melakukan usaha menuju perbaikan dan pengembangan

memerlukan penghargaan untuk menunjukkan bahwa upaya yang dilakukannya

dihargai. Penghargaan ini diharapkan dapat memicu kinerja yang lebih baik dan

memotivasi lingkungannya menghasilkan produktivitas yang sekurang-kurangnya

sama dengan yang telah diraihnya.

Sanksi adalah tindakan yang diberikan kepada seseorang sebagai akibat

dari perbuatan sengaja melanggar koridor aturan dan ketentuan yang telah dibuat

dan disepakati dalam sebuah lembaga. Sanksi diberikan agar yang bersangkutan

maupun orang yang mengetahuinya tidak mengulangi perbuatan yang merugikan

lembaga, lingkungannya maupun dirinya sendiri. lni juga merupakan alat

pembelajaran bagi yang lain untuk tidak melakukan perbuatan yang sama.
79

B. Harapan Pendamping dan Harapan Peserta (RTSM) dalam Pelaksanaan

Program Keluarga Harapan (PKH)

Hubungan Pendamping dan masyarakat dalam PKH merupakan sesuatu

yang tak dapat dipisahkan satu sama yang lainnya dalam proses transformasi

sosial. Keberadaan pendamping di dalam masyarakat selalu lahir untuk bersama-

sama mengarahkan situasi yang positif di saat masyarakat tertimpa masalah-

masalah yang membuat mereka menderita hidupnya. Peran dan tugas

pendamping, baik yang diterjunkan (dibentuk) langsung oleh pemerintah melalui

Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan (UPPKH) ataupun pendamping yang

hadir dari tengah masyarakat itu sendiri, karena ingin menjawab problem-problem

yang sedang muncul.

Hal ini dilakukan (maksudnya pendamping) sebagai stimulus

(sahabat/alat) agar masyarakat mampu membangun kehidupannya, selayaknya

manusia lain pada umumnya. Adapun kerja pendamping adalah sebagai individu-

individu yang mengarahkan masyarakat untuk mencari (sama-sama) solusi yang

tepat untuk keluar dari problem yang mereka hadapi. Sejalan dengan itu, Mas

Krisno Sutanto mengatakan;

“Bahwa masyarakat diharapkan merubah paradigma yang mereka miliki


atau pola pikir yang terus menunggu diberikan oleh orang lain baik itu
pemerintah atau orang-orang yang memang memiliki kebersihan hati
nurani untuk membantu...”.

Terlihat bahwa pendamping masyarakat mengedepankan nilai bahwa

manusia adalah subyek dari segenap proses dan aktifitas kehidupannya. Bahwa

manusia memiliki kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan dalam

proses pertolongan. Bahwa manusia memiliki dan/atau dapat menjangkau,


80

memanfaatkan, dan memobilisasi asset dan sumber-sumber yang ada di sekitar

dirinya.

Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Baker, Dubois dan Miley (1992) 4

menyatakan bahwa keberfungsian sosial berkaitan dengan kemampuan seseorang

dalam memenuhi kebutuhan dasar diri dan keluarganya, serta dalam memberikan

kontribusi positif bagi masyarakat. Pendekatan keberfungsian sosial dapat

menggambarkan karakteristik dan dinamika kemiskinan yang lebih realistis dan

komprehensif. Ia dapat menjelaskan bagaimana keluarga miskin merespon dan

mengatasi permasalahan sosial-ekonomi yang tekait dengan situasi

kemiskinannya. 5

Memang secara ideal hubungan antara Pendamping dan masyarakat di

dalam program PKH, adalah inisiator yang datang dari atas (pemerintah itu

sendiri) atas dasar tanggung jawab bersama dalam melakukan mensejahterakan

seluruh komponen masyarakat tidak hanya di bidang pendidikan dan kesehatan.

Nyatanya, kehidupan sehari-hari di Indonesia inisiator itu banyak datang dari

pendamping dari luar komunitas (outsider) dan jarang datang dari anggota

komunitas itu sendiri.

Kecuali komunitas yang wilayahnya hidup terjadi kasus atau masalah yang

sifatnya manifes (nampak) dan struktural. Misalnya, Penggusuran tanah, PHK

buruh, Intimidasi massal, biasanya komunitas tersebut meminta fasilitasi dan

advokasi pada pihak Perguruan Tinggi, Aktivis Mahasiswa, Lembaga Swadaya

4
Peranan Pekerja Sosial Dalam Pendampingan, sumber; http://fasilitator-
masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190 dan di dalam Edi Suharto, pendampingan
sosial dalam pengembangan masyarakat, http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_31.htm,
(diambil pada hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
5
Edi Suharto, dalam sebuah artikel, Pekerjaan Sosial Dan Paradigma Baru Kemiskinan.
Diambil dalam kumpulan data Tim Penelitian Kemiskinan Depsos RI.
81

Masyarakat atas dasar Kebutuhan bersama yang dirasa serta menimpa seluruh

anggota komunitas.

Dalam hal ini Mas Krisno Sutanto menambahkan harapannya kepada

anggota Program Keluarga Harapan (PKH);

“Kami sebagai pendamping, menginginkan masyarakat yang kami


dampingi atau anggota yang dibina memiliki usaha kelompok... atau
usaha bersamalah sebagai penopang lain, selain menunggu melulu
bantuan dari luar, sehingga anggota PKH mampu terus melanjutkan
hidup..., dan tidak menunggu harta karun yang didatangkan dari
langit...”.

Ungkapan di atas selaras dengan adagium pekerjaan sosial, yakni ‘to help

people to help themselves’, pendamping memandang orang miskin bukan sebagai

objek pasif yang hanya dicirikan oleh kondisi dan karakteristik kemiskinan.

Melainkan orang yang memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang

sering digunakannya dalam mengatasi berbagai permasalahan seputar

kemiskinannya.

Sebagaimana harapan di atas, diungkapakan juga oleh Ibu Khanifah di

kelurahan Koja, beliau mengatakan bahwa;

”Em...kalo ngerasa ada perbedaan, ya... ada banyak terbantu, mas...


salah satunya sekolah anak saya jadi gak terlalu kefikiran masalah
bayaran sekolahnya, karena ada usaha kelompok... trus buat beli sepatu,
ya kalo ada lebihnya saya beliin seragam sekolah yang udah agak kucel
mas...he..he.. trus anak juga tambah rajin aja sekolahnya... ya karna ada
mas Krisno yang ngontrol absen kehadiran sekolah anak saya... ya anak
juga takut kalo jarang masuk sekolah tar di putus lagi bantuannya... repot
lagi sayanya. Trus pendamping juga mengecek timbangan anak balita...
jadi ibu-ibu yang laen juga pada rajin periksa ke posyandu, puskesmas
juga... kalo jarang nimbang ama periksa kan ketauan dari kartunya, tar di
keluarin dari peserta PKH lagi...”

Inisiatif Pemerintah melahirkan Program Keluarga Harapan (PKH) serta

membentuk para pendamping tidak bisa dikatakan adanya intervensi karena


82

memandang masyarakat yang termasuk dalam kategori miskin (RTSM) adalah

masyarakat yang memiliki mental ketergantungan, kebodohan ataupun sering

melakukan kesalahan, berkaitan dengan kasus atau masalah yang manifes itu.

Terpenting, tindakan itu dimusyawarahkan dan di putuskan seluruh anggota serta

bukan inisiatif dari beberapa orang atau individu saja.

Dengan demikian inisiatif pemerintah mendatangkan para pendamping

adalah indikasi adanya kesadaran bahwa masyarakat dengan kemampuan diri

mereka sendiri, dengan tetap melalui arahan, pengawasan, dan kerja sama antar

masyarakat dan pendamping menandakan bahwa sudah ada dan berjalannya

mekanisme kerja di masyarakat (terutama di Kelurahan Koja).

Sering juga terjadi inisiatif datang dari pendamping ke dalam masyarakat

saat di suatu wilayah terjadi kasus seperti adanya ketidakadilan dan kemiskinan.

Misalnya, pendamping PKH Koja, membuat/mengumpulkan uang kas.

Diharapkan dengan inisiatif ini masyarakat menyadari bahwa mereka harus tidak

selalu membentuk satu usaha yang berawal dari diri pribadi mereka sendiri.

Pendamping sangat mengharapkan bahwa beban tersebut dapat dipikul bersama.

Hal ini, menurut Mas Krisno Sutanto telah sering dikatakan dan dihimbau

kepada masyarakat sebagai anggota Program Keluarga Harapan (PKH), dia

mengatakan;

“...Uang Kas itu diharapakan terkumpul untuk membantu keberlanjutan


program anggota itu sendiri (mis. dalam hal pelaksanaan diskusi dan
pertemuan), agar mereka dapat meringankan beban masing-masing yang
lainnya..., juga tidak memberatkan Ketua Kelompok seorang diri dalam
hal kegiatan semacam diskusi dan pertemuan yang dilakukan...”.

Dalam melakukan aksi-aksi menuju kehidupan yang lebih manusiawi.

UPPKH menganggap bahwa program pemberdayaan tidak bisa dilakukan tanpa


83

adanya strategi dan perencanaan yang jelas, semisal kebersamaan seperti yang

dijelaskan di atas. Manakala hasil perencanaan dapat terwujud menyangkut

banyak orang, tentunya harus melibatkan seluruh komponen masyarakat yang

ingin diberdayakan. Pada saat masyarakat masih dalam tingkat kesadaran

konformis (naif, pasrah, merasa dirinya tidak mampu, idiom banyak anak-banyak

rejeki). Maka dibutuhkan orang (pendamping) yang dapat memfasilitasi dan

memotivasi agar anggota masyarakat (secara individu) itu dapat meningkatkan

kesadaranya.

Proses untuk menuju masyarakat yang sejahtera tidak bisa hanya ditempuh

1 (satu) atau 2 (dua) tahun. Fakta yang sudah terjadi, bisa lebih dari 3 (tiga) atau 5

(lima) tahun. Kondisi itupun masih sering di “kotori” dengan munculnya konflik-

konflik yang sifatnya individual, atas dasar kecemburuan (jealous) antar anggota

masyarakat. Kesabaran dan ketelatenan dalam pendampingan masyarakat sangat

diperlukan, agar tercapainya masyarakat yang sadar diri, terpenuhinya kebutuhan,

sehat mental dan fisik (baik sosial maupun individu).

Untuk menumbuhkan rasa kebersamaan diantara pendamping dan anggota

PKH. Maka pendamping pun melakukan kunjungan langsung ke rumah atau ke

lokasi usaha anggota secara berkala sesuai dengan kebutuhan. Maksudnya apabila

dalam pembinaan ternyata anggota menjalankan ketentuan (semisal

diskusi/pertemuan) UPPKH dengan baik, maka kunjungan akan dilakukan agak

jarang. Akan tetapi apabila anggota menunjukan gejala tidak menjalankan

kesepakatan yang ditetapkan, maka frekuensi kunjungan pendamping

ditingkatkan.
84

Dalam rangka menjalin hubungan baik itu, pendamping minimal satu

bulan setelah realisasi program harus mengunjungi 6 anggota PKH. Kunjungan

selanjutnya tergantung pada kualitas partisipasi yang dilakukan oleh anggota.

Apabila terdapat kecenderungan yang memburuk, maka petugas UPPKH harus

sering mengunjungi anggota tersebut bersama pengurus dan anggota PKH lainnya

sebagai perwujudan pelaksanaan tanggung renteng.

Disamping kunjungan yang dilakukan sendiri. Pengawas maupun petugas

UPPKH dapat melakukan kunjungan ke anggota bersama relawan, aparatur

kelurahan atau tokoh-tokoh masyarakat lainnya, kunjungan tersebut betujuan:

a. Memberikan motivasi kepada anggota agar aktif dalam memanfaatkan

bantuan berupa uang melalui Program Keluarga Harapan.

b. Sebagai salah satu sarana monitoring partisipatif yang perlu ditumbuhkan

kepada warga.

C. Kesesuaian antara Harapan Pendamping dan Harapan Peserta (RTSM)

dalam Program Keluarga Harapan (PKH) Di Kecamatan Koja,

Kelurahan Koja Jakarta Utara

Hubungan Pendamping dan masyarakat dalam PKH merupakan sesuatu

yang tak dapat dipisahkan satu sama yang lainnya dalam proses transformasi

sosial. Keberadaan pendamping di dalam masyarakat selalu lahir untuk bersama-

sama mengarahkan situasi yang positif di saat masyarakat tertimpa masalah-

masalah yang membuat mereka menderita hidupnya. Peran dan tugas

pendamping, baik yang diterjunkan (dibentuk) langsung oleh pemerintah melalui

6
Memantau para peserta PKH untuk mengetahui perkembangan peserta dalam Program
Keluarga Harapan, dan dilakukan secara non-formal untuk mengali berbagai potensi, hambatan,
ancaman, kelemahan, dan kekuatan masyarakat yang menjadi peserta.
85

Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan (UPPKH) ataupun pendamping yang

hadir dari tengah masyarakat itu sendiri, karena ingin menjawab problem-problem

yang sedang muncul.

Tabel:
Pola hubungan pendamping UPPKH dan Peserta PKH

Ketua UPPKH
Kabupaten/kota

Koor. UPPKH
Kabupaten/kota

Petugas Petugas Petugas


SPM Administrasi SIM PKH

Petugas Data
Peserta
Entri
PKH

*Pedoman Umum Program Keluarga Harapan 2008

Secara ideal hubungan antara Pendamping dan masyarakat di dalam

program PKH, adalah inisiator yang datang dari pemerintah itu sendiri (yang

diwakili oleh Ketua dan koordinator UPPKH kabupaten/kota). Atas dasar

tanggung jawab bersama (oleh Sistem Pengaduan Masyarakat {SPM},

Administrator, dan Data Entry/Operator Komputer PKH) dalam melakukan

kegiatan untuk mensejahterakan seluruh komponen masyarakat. Pola hubungan

ini tidak hanya di bidang pendidikan dan kesehatan melainkan bidang-bidang

kehidupan masyarakat yang dapat terjangkau lainnya. Walau dalam kenyataannya,

bahwa kehidupan sehari-hari di Indonesia, inisiator lebih banyak datang dari


86

pendamping dari luar komunitas (outsider) dan jarang datang dari anggota

komunitas itu sendiri.

Upaya-upaya pengentasan kemiskinan semestinya dipahami sebagai

transformasi dari ketergantungan menuju kemandirian. Wujud kemandirian

tercermin dari tingkat kepedulian dan partisipasi atau memudarnya

ketergantungan kepada pemerintah. Pengertian ini bisa dipahami sebagai sikap

mental dan perilaku rasional, kompetitif dan menolak ketergantungan.

Gagalnya program pengentasan kemiskinan kita karena selama ini

program lebih bersifat bantuan sosial. Apakah program pengentasan kemiskinan

selama ini (hanya) sekadar “pelestari proyek” atau “pengamanan program”.

Nuansa itu yang selama ini terjadi, baik di tingkat ide, maupun implementasi di

lapangan. Sehingga tak mengherankan kerap timbul kecenderungan untuk sekadar

program terlaksana, dana terbagi habis, dan dana yang terbagi habis dimakan

masyarakat.

Kemandirian masyarakat bukan diindikasikan meningkatnya pendapatan

saja, tetapi seberapa jauh mereka mampu menguasai sumber-sumber ekonomi

baru. Sehingga pendapatan dapat meningkat dan berkelanjutan, tetapi kepercayaan

hidup selanjutnya didapatkan kemandirian sosial ekonomi tersebut wajib

dipahami. Di sinilah, peran pendamping/fasilitator menyelenggarakan dialog

dengan masyarakat untuk menggali kebutuhan-kebutuhan nyata, menggali

sumber-sumber potensi yang tersedia, mendorong masyarakat untuk menemukan

spesifikasi masalah yang harus dipecahkan dan mengorganisir mereka untuk

mengambil tindakan yang tepat (Belle, 1976) 7 .

7
Dalam artikel tulisan Marjono, staf Bapermades Provinsi Jawa Tengah,
http://www.kmwjateng.net/pemberdayaan/menggugat-peran-pendamping-pnpm-mp, (diambil pada
hari Rabu Tanggal 17, jam 01.44. 2010).
87

Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat makin menyadari bahwa

pertumbuhan ekonomi diupayakan melalui berbagai program tidak dengan

sendirinya dapat menyelesaikan permasalahan sosial ekonomi yang dihadapi. Kita

memerlukan suatu strategi atau arah baru kebijaksanaan pembangunan yang

memadukan pertumbuhan dan pemerataan. Strategi pada dasarnya mempunyai

tiga arah. Pertama, pemihakan dan pemberdayaaan masyarakat. Kedua,

pemantapan otonomi dan pendelegasian wewenang dalam pengelolaan

pembangunan di daerah yang mengembangkan peran serta masyarakat. Ketiga,

modernisasi melalui penajaman dan pemantapan arah perubahan struktur sosial

ekonomi dan budaya yang bersumber pada peran masyarakat lokal. 8

Pengembangan masyarakat local (Locality Sevelopment) menurut

Rothman (sebagaimana diulas Suharto, 2005:42) adalah pengembangan

masyarakat yang ditujukan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi

masyarakat melalui partisipasi aktif dan inisiatif anggota masyarakat itu sendiri.

Anggota masyarakat dipandang bukan sebagai sistem klien yang bermasalah

melainkan sebagai masyarakat yang unik dan memiliki potensi, hanya saja potensi

tersebut belum sepenuhnya dikembangkan. 9

Setelah melihat dari keinginan anggota PKH, yaitu agar program Rumah

Tangga Sangat Miskin (RTSM) terus dilakukan dan harus mampu memberikan

dampak bagi perbaikan maupun perubahan hidup yang lebih baik (layak) bagi

anggota masyarakat lain (menyebar ke masyarakat sekitar). Adapun jika

memperhatikan harapan anggota PKH dengan peranan yang dilakukan oleh Unit

8
Gunawan Sumodiningrat, Pemberdayaan Masyarakat & Jaring Pengaman Sosial (
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 130
9
Asep Usman Ismail (ed) dan Ismet Firdaus, Dkk. Pengamalan AlQur’an “Tentang
Pemberdayaan Dhua’fa” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dakwah Press, 2008) Cet. 1,
h. 73
88

Pelaksana (pendamping) Program Keluarga Harapan (UPPKH) sangat sesuai

(dibutuhkan).

Hal terkait dapat dibuktikan dengan peranan (tugas dan aktivitas)

pendamping PKH dengan harapan anggota PKH, adapun peranan (tugas/aktivitas

yang diharapkan anggota PKH) yang dilaksanakan oleh pendamping PKH melalui

program RTSM di Kelurahan Koja Jakarta Utara tersebut sebagai berikut:

a. Melakukan persiapan administrasi, yaitu dengan mempersiapkan; Pertama,

melapor pemerintah setempat (Ketua RT); Kedua, mensosialisasikan kepada

anggota masyarakat agar mereka tahu kegiatan yang akan dilaksanakan;

Ketiga, pembuatan papan nama, papan struktur, data masyarakat yang menjadi

anggota, data kepengurusan, buku absen anggota PKH, buku program

kegiatan, buku tamu, dan keperluan lainnya.

b. Edukasi – tekanan utama pada proses perubahan pola pikir (mind set) dan

peilaku (behavior) dari penerima informasi yang terjadi melalui proses

sosialisasi yang terus menerus dalam jangka waktu yang lebih panjang.

c. Membentuk kelompok bagi masing-masing anggota PKH.

d. Pembangunan infrastruktur dasar dan pemukiman diarahkan untuk

meningkatkan aksessibilitas masyarakat kepada pusat-pusat pelayanan,

mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan dan jasa lainnya, serta mewujudkan

tata lingkungan pemukiman yang asri, bersih dan sehat.

Karena itu, RTSM yang dilaksanakan melalui Program Keluarga Harapan

(PKH) merupakan suatu usaha berencana untuk memungkinkan partisipasi

individual dari masyarakat miskin dalam memecahkan berbagai masalah serta

adanya kesesuaian antara harapan UPPKH dan anggota masyarakat. Apa yang

dilakukan harus merupakan kegiatan yang berupa keseimbangan atau kesesuaian,


89

dimana masyarakat disiapkan oleh pendamping untuk mewujudkan tujuan

hidupnya agar lebih memiliki kemandirian. Dengan demikian para pendamping /

fasilitator tersebut berperan sebagai agen untuk membentuk masyarakat yang

didampingi agar menjadi pribadi yang dapat mencari solusinya sendiri-sendiri.

D. Kendala atau Hambatan Pendamping dalam Program PKH

Kendala yang dihadapi oleh pendamping adalah sulitnya peserta untuk

mengumpulkan data atau berkas formulir pemutakhiran 10 . Adapun kendala yang

lain yang dihadapi pendamping adalah peserta yang sesekali masih ditemukan

menggadaikan kartu PKH pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab (mis.

Rentenir), atau tetangga yang di pinjamkan uangnnya oleh pemilik kartu PKH

untuk dijadikan jaminan meminjam uang.

Diakui oleh koordinator pendamping PKH, Mas Krisno Sutanto, dari

sekian banyak RTSM peserta PKH selalu saja ada yang nakal. Dana PKH

disalurkan untuk kepentingan di luar peruntukannya, seperti membayar utang.

Terhadap kasus seperti ini pihaknya menegur agar mengganti atau mengadakan

lagi dana tersebut untuk kemudian dimanfaatkan untuk pendidikan anak-anaknya

atau pemeliharaan kesehatan ibu hamil.

Sebagaimana hasil wawancara yang diungkapkan oleh Mas Krisno Sutanto

sebagai pendamping PKH Kelurahan Koja.

“Ya…gak menutup kemungkinan kalau ada yang melakukan kesalahan,


ada juga yang nakal... karna hidup memiliki kekeliruan, dan untungnya
kekeliruan itu masih bisa di tangani oleh saya…mulai dari masalah

10
Pemutakhiran adalah berkas data peserta yang berisi data peserta sebelum atau sesudah
pembayaran uang PKH, dan data tersebut harus di kumpulkan oleh pendamping PKH pada
pertemuan yang dilakukan di rumah peserta atau di tempat tang telah disepkati oleh peserta dan
pendamping.
90

susahnya ngumpulin berkas formulir pemutakhiran data trus... ada aja


peserta yang menyalahgunakan kartu PKH sebagai jaminan untuk
meminjam uang dengan tetangga atau renteninir sekaipun, sebagaimana
yang telah dilakukan oleh ibu yang berinisial (SH) dengan alasan untuk
ongkos anak sekolah dan untuk membeli buku SKS…Dan yang saya
herankan ada laporan dan saya pernah memanggil ibu tersebut
dikarenakan menggunakan kartu PKH dijadikan taruhan barmain jud oleh
ibu-ibu peserta atau suami-suami mereka sendiri…tapi Al-hamdulillah
kasus ini belum pernah terjadi di kelurahan ini...”.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh ibu Hanifah salah satu peserta

Program PKH dalam beberapa kali proses wawancara yang dilakukan oleh

penulis; sebagai berikut;

“Banyak mas... ibu-ibu peserta yang menjual kartu bantuan pemerintah...


karena keadaan memaksa kali mas... ya, jika harus tunggu bantuan uang
bulan berikutnya... mungkin kami gak bisa hidup kali mas... kami
gadaikan dengan jaminan uang bantuan bulan depan bisa diganti lagi...
pinjamnya ke orang yang berada dan mau minjamin uangnya mas... ya,
kaya bos gitu mas yang banyak uang... ya, ren... rentenir mas...!”

Kebanyakan peserta PKH beranggapan bahwa uang bantuan pemerintah

sebagai bantuan yang memang berhak mereka gunakan untuk apapun sebagai

tanggung jawab pemerintah yang mengolah negara dan masyarakat Indonesia

seluruhnya. Kartu bantuan pemerintah melalui Program PKH tersebut akan

diambil (ditebus) kembali ketika pembayaran PKH dilaksanakan pada waktu yang

telah di tentukan oleh UPPKH (Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan).

Adapun kendala yang dihadapi oleh pendamping adalah: adanya

keterlambatan uang konpensasi (honor/tunjangan/pesangon/gaji). Dana

konpensasi yang terhambat tersebut menjadikan kekurangmaksimalan

pendamping dalam melakukan aktifitas dan kunjungan kerja ke lokasi-lokasi yang

menjadi tempat konsentrasi kegiatan di masing-masing kelurahan. Dengan

demikian, kendala ini menjadikan kinerja para pendamping berkurang (malas)


91

dalam hal mencari program kerja yang baru (yang disesuaikan dengan kebutuhan

peserta) bagi para peserta PKH.

Berbagai alasan tentunnya didasar pada otonomi daerah, sehingga banyak

kebijakan-kebijakan yang sifatnya paling penting didahulukan sehingga PKH ini

kurang disambut meriah oleh Pemerintah (di daerah-daerah tertentu). Persoalanya

bagaimanapun gencarnya sosialisi oleh Pendamping, tetap tidak berpengaruh pada

kebijakan pemerintah setempat.

Dengan demikian, keberhasilan atau Ujung Tombak Program Keluarga

Harapan ada dalam peranan pendamping dan Pemerintah Daerah. Dalam

menjalankan tugas tanpa pamrih mau berkorban demi masyarakat dan atas dasar

Ikhlas, siap menghadapi situasi dan kondisi lingkungan serta pendekatan lebih

intensif, akan memberikan Motivasi terhadap RTSM sehingga dalam jangka

panjang akan membawa dampak bagi generasi selanjutnya.

E. Solusi Dari Kendala Pendamping Program PKH

Dari hal diatas, salah satu permasalahan kesejahteraan sosial di Indonesia

yang senantiasa menuntut keterlibatan pekerjaan sosial dalam penanganannya

adalah masalah kemiskinan. Pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan

kemanusiaan yang fokus utamanya untuk membantu orang agar dapat membantu

dirinya sendiri. Dalam proses pertolongannya, pekerjaan sosial berpijak pada

nilai, pengetahuan dan keterampilan profesional yang mengedepankan prinsip

keberfungsian sosial.

Dan yang menjadi tujuan utama pemberian bantuan PKH adalah, agar

anak-anak dari keluarga miskin mendapat bantuan pertumbuhan sejak janin, balita
92

sampai bersekolah di SD-SMP, sehingga dapat menekan jumlah penduduk miskin

dan mendekatkan akses ke pelayanan kesehatan dan pendidikan. Dengan

demikian, konsep keberfungsian sosial harus dikedepankan sebagai solusi agar

persoalan kemiskinan dapat ditangulangi. Hingga pada intinya menunjuk pada

“kapabilitas” individu, keluarga atau masyarakat dalam menjalankan peran-peran

sosial di lingkungannya.

Konsepsi ini mengedepankan nilai bahwa masyarakat yang menjadi

peserta program PKH adalah subyek pembangunan; bahwa masyarakat/peserta

memiliki kapabilitas dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses

pertolongan, bahwa masyarakat/peserta memiliki dan/atau dapat menjangkau,

memanfaatkan, dan memobilisasi asset dan sumber-sumber yang ada di sekitar

dirinya.

Adapun solusi dari permasalahan yang ditemui oleh pendamping dalam

menangani masalah-masalah di atas yaitu, memberikan peringatan berupa

membuat surat pernyataan hitam di atas putih dengan kesepakatan pendamping

dan peserta (Peserta Program Keluarga Harapan) PKH. Dan tidak terlepas

dengan pekerja sosial adalah menjadi fasilitator bukan menekan masyarakat yang

memiliki masalah melainkan pendekatan secara kekeluargaan sebagaimana arti

dari pendamping itu adalahIndividu atau seseorang yang melakukan aktivitas

menemani secara dekat dan mempunyai kedudukan setara dengan yang ditemani.

Pendamping sosial dalam program PKH melihat bahwa kelompok sasaran

atau masyarakat dalam menangani kemiskinan mencakup tiga kelompok miskin

secara simultan. Dalam kaitan ini, maka seringkali orang mengklasifikasikan

kemiskinan berdasarkan “status” atau “profil” yang melekat padanya yang


93

kemudian disebut Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Gelandangan, pengemis, anak jalanan, suku terasing, jompo terlantar, penyandang

cacat (tubuh, mental, sosial).

Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial di atas, maka

strategi yang tepat sebagai solusi dalam penanganan kemiskinan harus terfokus

pada peningkatan kemampuan orang miskin (yang menjadi peserta) dalam

menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas-tugas

kehidupan dan status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-arti, maka

intervensi pendamping senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak

terpisah dari lingkungan dan situasi yang dihadapinya.

Pentinganya Peranan Pemerintah Daerah menjadi Ukuran Keberhasilan

Program Keluarga Harapan. Sejauhmana peranan pemerintah daerah selalu

menjadi persoalan di lapangan. Sulitnya berkoordinasi dan respon dari instansi

terkait begitu lambat dan mengabaikan yang menjadi kendala bagi pendamping

haruslah dapat diminimalisasi.

Dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan masalah yang kompleks

yang memerlukan penanganan lintas sektoral, lintas profesional dan lintas

lembaga sebagai solusi yang paling tepat. Departemen Sosial merupakan salah

satu lembaga pemerintah yang telah lama aktif dalam program pengentasan

kemiskinan. Dalam strateginya Depsos berpijak pada teori dan pendekatan

pekerjaan sosial. Strategi penanganan kemiskinan dalam persepektif pekerjaan

sosial terfokus pada peningkatan keberfungsian sosial si miskin (dalam arti

individu dan kelompok) dalam kaitannya dengan konteks lingkungan dan sistuasi

sosial.
BAB V

KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan

1. Peran pendamping masyarakat melalui Program Keluarga Harapan (PKH),

adalah peran seseorang yang menjadikan dirinya sebagai mediator,

fasilitator, pendidik, pemungkin, sekaligus sebagai perwakilan bagi

masyarakat yang mengupayakan agar masyarakat sebagai anggota/peserta

PKH bisa berdaya untuk membangun hidup mereka dari kemiskinan

(problem) hidup secara mandiri. Pendamping, juga dituntut tidak hanya

mampu menjadi “manajer perubahan” yang mengorganisasi kelompok

masyarakat, melainkan pula mampu melaksanakan tugas-tugas teknis

sesuai dengan berbagai keterampilan dasar, seperti; melakukan analisis

sosial, mengelola dinamika kelompok (masyarakat), menjalin relasi,

bernegosiasi, berkomunikasi, memberi konsultasi, dan mencari serta

mengatur sumber dana.

2. Harapan masyarakat terhadap PKH ini, yaitu agar selalu berinteraksi

(dibimbing dan dibina), Melakukan pembelaan, meningkatkan hubungan

masyarakat dan membangun jaringan kerja guna tercapainya keberlanjutan

Program Keluarga Harapan (PKH) bagi masyarakat miskin, sehingga

masyaraka mampu melepaskan diri dari bantuan orang lain atau pihak luar.

3. Memperhatikan hasil antara harapan dan Program Keluarga Harapan yang

dilaksanakan oleh UPPKH, maka program tersebut memiliki kesesuaian

antara harapan pemerintah atau pendamping dengan harapan masyarakat

95
96

setempat yang dijadikan (obyek) pelaksanaan Program Keluarga Harapan

(PKH), dan upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pendamping

PKH melalui RTSM dan program lain yang mendukung berjalan sewajar

dan semaksimal mungkin, dalam arti semaksimal mungkin yang dapat

dilakukan oleh pendamping PKH. Sehingga anggota masyarakat mampu

membangun hidup mereka serta keluarganya selaiknya orang lain.

4. Kesulitan bagi pendamping untuk mengumpulkan data atau berkas

formulir pemutakhiran. Disamping kesulitan lain yang ditemukan di

lapangan adalah, adanya peserta yang menyalahgunakan kartu bantuan

program PKH. Kendala atau kesulitan lain adalah alasan yang didasarkan

pada otonomi daerah, sehingga banyak kebijakan-kebijakan yang sifatnya

(dianggap) paling penting didahulukan sehingga PKH kurang disambut

oleh Pemerintah (di daerah-daerah tertentu).

5. Keberfungsian sosial menjadi solusi yang harus dihidupkan oleh

pendamping PKH dan pemerintah. Dengan demikian, keberfungsian sosial

menjadi strategi dan solusi dalam penanganan kemiskinan, yang harus

terfokus pada peningkatan kemampuan orang-orang miskin (yang menjadi

peserta program PKH). Di lain hal, intervensi pendamping senantiasa

melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan

dan situasi yang dihadapinya. Pentinganya Peranan Pemerintah Daerah

juga menjadi Ukuran Keberhasilan Program Keluarga Harapan.


97

B. Saran-Saran

Dalam hal ini penulis menyarankan agar peran pendamping PKH terhadap

pemberdayaan masyarakat melalui Program Keluarga Harapan dan RTSM perlu

ditingkatkan, yaitu dengan mempersiapkan pelaksana (pendamping) yang lebih

banyak (matang/inisiatif), sehingga pelaksanaan program dapat berjalan dengan

baik serta berkelanjutan.

Melihat harapan warga supaya diadakannya bimbingan dan binaan yang

tiada henti, maka anggota masyarakat yang termasuk dalam PKH diharapkan tetap

serius, semangat, cepat beradaptasi, serta meningkatkan peran aktifnya dalam

proses berjalannya program, diskusi maupun pertemuan lain yang sifatnya

mendukung.

Terakhir dari penulis, walaupun Program Keluarga Harapan (PKH) ini

telah sesuai dengan keinginan anggota masyarakat, tetap saja agar mereka

didorong agar lebih mampu memiliki wawasan yang lebih luas (merubah pola

pikir) untuk menambah kemandirian anggota masyarakat yang dikenai program.

Maka perlunya diadakan kembali program-program lainnya.

Keberhasilan Program Keluarga Harapan ada dalam peranan pendamping

dan Pemerintah Daerah. Pendamping, dalam menjalankan tugas, hendaknya tanpa

pamrih, mau berkorban demi masyarakat dan Ikhlas, baik dalam situasi dan

kondisi lingkungan apapun serta pendekatan yang lebih intensif.

Peranan pemerintah daerah selalu menjadi persoalan penting yang akan

memberikan Motivasi terhadap RTSM sehingga dalam jangka panjang akan

membawa dampak baik bagi generasi selanjutnya. Koordinasi dan respon dari

instansi terkait harus menjadi pertimbangan khusus.


DAFTAR PUSTAKA

Adi, Isbandi Rukminto, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan


Intervensi Komunitas (Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan
Praktis), (Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI, 2003), Cet 1.

Arif, Syaiful, Menolak Pembangunanisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000),


Cet. 1.

BPS/Badan Pusat Statistik dan Depsos/Departemen Sosial (2007), Penduduk


Fakir Miskin Indonesia 2007, Jakarta: BPS.

Buku Kerja Pendamping PKH, (Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial dan


Direktorat Jenderal Bantuan dan Jaminan Soail, Departemen Sosial RI,
2008).

Budiman. Arif, Toeri Pembangunan Dunia Ketiga. (Jakarta: Gramedia, 2000).

Departemen pendidikan dan kebudayaan, Kamus besar Bahasa Indonesia,


(Jakarta: Balai pustaka, 1998).

Grass, N., W.S Massan dan A.W MC Eachern, Exploration Role Analiysis dalam
David Berry, Pokok-pokok Pikiran dalam sosiologi, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada,1995), Cet ke-3.

Gulo, W., Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,


2002).

Firdaus, Ismet, et. al, Asep Usman Ismail (ed). Pengamalan AlQur’an “Tentang
Pemberdayaan Dhua’fa” (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Dakwah Press, 2008) Cet. 1.

Ife, Jim (1995), Community Development: Creating Community


Alternatives,Vision, Analysis and Practice, Longman, Australia.

Jabbar, Hasbiullah (ed). Keadilan, Pemberdayaan, dan Penanggulangan


Kemiskinan. Jakarta: Blantika, Cet ke 1, 2004

Kuper. Adam dan Jessika Kuper, Enslikopedia Ilmu-ilmu social, (Jakarta: PT


Raja Garfindo Persada).

Kuncoro. Mudrajad, Ph.D., 2004, Otonomi dan Pembangunan Daerah,


(Reformasi, Perencanaan, Strategi, dan Peluang. Jakarta: Erlangga.

98
  99

Machendrawaty, Nanih dan Ahmad Syafe’i, Agus. Pengembangan Masyarakat


Islam dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2001.

Miftah. Ahmad., et.al., Belajar dari 10 provinsi, Upaya Pencapaian MDGs


Melalui Inisiatif Multi Pihak di Indonesia, Jakarta: Kemitraan, 2009.

Modul Diklat Pelaksana UPPKH Daerah 2007

Moleong, Lexy. J., Metode Penelitian Kualitatif (Bandung; PT. Remaja Rosda
Karya 2001) Cet. Ke-15.

Murodi dan Wati Nilamsari, Buku ajar, Sosiologi Pembangunan, Jakarta: Fakultas
Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, 2007.

Mustopadidjaja A.R., 1999, “Format Bernegara Menuju Masyarakat Madani”,


dalam Administrasi Negara, Demokrasi dan Masyarakat Madani, Miftah
Thoha (penyunting), Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.

Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi


Aksara, 1999).

Pedoman Umum PKH, Program Keluarga Harapan, (Direktorat Jaminan


Kesejahteraan Sosial dan Direktorat Jenderal Bantuan dan Jaminan Soail,
Departemen Sosial RI, 2008).

Panduan Umum Program Keluarga Harapan

Pedoman Operasional UPPKH Pusat

Pedoman Operasional Kelembagaan PKH Daerah

Pedoman Operasional PKH Bagi Pemberi Pelayanan Kesehatan

Pedoman Operasional PKH Bagi pemberi Pelayanan Pendidikan

Pedoman Operasional Sistem Pengaduan Masyarakat Program Keluarga Harapan

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa


Indonesia, Jakarta:balai Pustaka, 2002.

Sumodiningrat. Gunawan, Pemberdayaan Masyarakat & Jaring Pengaman Sosial


( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999).

Sekilas Mengenai Program Keluarga Harapan (PKH), Keluarga Sehat, Keluarga


Keluarga Berpendidikan, (Program Keluarga Harapan, Meraih Keluarga
Sejahtera, Unit Pelaksana PKH Pusat [UPPKH], 2008-2009)
  100

Suharto, Edi, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, Kajian


Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (
Bandung : PT. Refika Aditama), Cet-1, 2005.

--------, Edi (1997), Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial:


Spektrum Pemikiran, Bandung: Lembaga Studi Pembangunan-STKS

--------, (2004), “Social Welfare Problems and Social Work in Indonesia: Trends
and Issues” (Masalah Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial di
Indonesia: Kecenderungan dan Isu), makalah yang disampaikan pada
International Seminar on Curriculum Development for Social Work
Education in Indonesia, Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, 2
Maret.

--------. dkk., (2004), Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah
Tangga Miskin di Indonesia, Bandung: STKSPress.

Soekanto, Soerjono,. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada, 2003) Cet. Ke -35

Tim Penyusun, Pedoman Umum PKH Lintas Kementrian dan Lembaga, Pedoman
Umum PKH 2008, (Jakarta, Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial dan
Direktorat Jenderal Bantan dan Jaminan Sosial Departemen Sosial RI,
2008).

-------- (2001b), “Menyoal Pembangunan Kesejahteraan Sosial”, Media Indonesia,


edisi 1 Maret.

Sumodiningrat, Gunawan. Pemberdayaan Masyarakat & Jaring Pengaman Sosial


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Sumaryadi, I. Nyoman. Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan


Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Citra Utama, 2005.

Sutrisno, Bambang. dkk, (ed). Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan


Ekonomi Kerakyatan dalam Akses Peran Serta Masyarakat, Lebih Jauh
Memahami Community Development, Jakarta: ICSD, 2003.

Zubaedi, Dr., M.Ag.,M.Pd., Wacana Pembangunan Alternatif, Jogjakarta: Ar-


Ruzz Media, 2007.
  101

Sumber Lain;

Berita Resmi Statistik Provinsi DKI Jakarta No. 26/07/31/TH XI , 1 Juli 2009,
http://jakarta.bps.go.id/BRS/Sosial/Miskin09.pdf. diakses pada tanggal 6
agustus 2010.

Pikiran Rakyat, PKH untuk Kurangi Si Miskin. (diambil pada hari Minggu,
tanggal 20 2010).

http://www.kmwjateng.net/pemberdayaan/menggugat-peran-pendamping-pnpm-
mp. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Juli, jam 01.44. 2010).

http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/08/18/need-for-achievement-dan-
kemandirian-bangsa/. Need For Achievement Dan Kemandirian Bangsa,
(diambil pada hari Minggu tanggal 20 2010).

http://hanjuang-mahardika.blogspot.com/2009/03/peran-pendamping-lsm-dan-
komunitas.html. (diambil pada hari Kamis, tanggal 10 Juni 2010).

http://pkh.depsos.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id
=61&Itemid=79. (diambil pada hari senin tanggal 11 Februari 2010, jam
23:35). (diambil pada hari Senin, Tanggal 11 Februari 2010, jam 23:35).

http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=7660&It
emid=821. (diambil pada hari minggu tanggal 20 juni 2010).

http://bataviase.co.id/content/program-keluarga-harapan-pkh-bantu-rtsm. (diambil
pada hari Minggu, tanggal 20 juni 2010)

http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_32.htm. Pendampingan Sosial


Dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin: Konsepsi Dan Strategi.
(diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Juli, jam 01.44. 2010).

http://ronawajah.wordpress.com/2009/12/01/pendampingan-dalam-
pengembangan-masyarakat/. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Februari
2010, jam 01.44).

http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_31.htm. Pendampingan Sosial


dalam Pengembangan Masyarakat. (diambil pada hari Rabu Tanggal 17
Juli, jam 01.44. 2010).

http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190. Peranan
Pekerja Sosial Dalam Pendampingan, (diambil pada hari Rabu Tanggal
17, jam 01.44. 2010).

http://suryanto.blog.unair.ac.id/2010/02/02/sekilas-modal-sosial-social-capital-
apa-itu/. (diambil pada hari Minggu, tanggal 20, 2010)
  102

http://sunandars.blogspot.com/2009/02/peranan-pekerja-sosial-dalam_20.html.
(diambil pada hari Rabu Tanggal 17 Februari 2010, jam 01.44).

http://buletinbisnis.wordpress.com/2007/07/02/juli-2007-pemerintah-luncurkan-
program-keluarga-harapan/. (di akses pada tanggal 06 agustus 2010).

http://id.wikipedia.org/wiki/Modal_sosial, (diambil pada hari Minggu, tanggal 20


2010).
PEDOMAN WAWANCARA
(Untuk Koordinator UPPKH dan Pendamping PKH)

A. Identitas pendamping/ koordinator

Nama:
1. Tempat tgl lahir:
2. Alamat:
3. Status Perkawinan:
a. Belum kawin
b. Sudah kawin
c. Serai hidup
d. Cerai mati
4. Daerah Asal
5. Tanggungan keluarga: a. suami b. istri
6. Jenjang pendidikan:
1. SD/Ibtidaiyah
2. SMP/ Tsanawiyah
3. SMU/ SMK Aliyah atau Pesantren
4. Akademi Islam/ Umum (Sarjana Muda/SO)
5. Universitas/ sintitut Islam/ Umum (Sarjana lengkap/ S1)
6. universitas/ institut Islam/ umum (S2)
7. Pendidikan Anak :
1.………….
2.………….
3.………….
4.………….
5.………….

B. Riwayat organisasi
Apakah aktif di organisasi
Berapa lama aktif di organisasi trsebut
Apa jabatan dalam organisasi tersebut
Apa manfaat yang dirasakan dalam organisasi

C. Riwayat pekerjaan
Sudah bekerja sebelumnya
Apa bidang pekerjaan yang di geluti
Apakah perbedaaan pekerjaan yang terdahulu dan sekarang

D. Pengalaman sebagai pekerja social


Apa motivasi untuk menjadi pendamping PKH atau Koordianator UPPKH
Bagaimana pengalaman menjadi Pendamping dan Koordinator UPPKH

E. Kegiatan Pendampingan
Pendekatan apa dan bagaimana untuk sosialisasi dengan masyarakat
Kegaiatan apa saja yang di lakukan dalam melakukan pendampingan
Kendaraan yang di gunakan pada pendampingan ke masayaraka
F. Evaluasi
Bagaimana evaluasi kegiatan Pendamping dan Koordinator UPPKH
Bagaimana evaluasi terhadap peserta program keluarga harapan (PKH)

G. Kendala dan Solusi


Apa kendala atau hambatan Pendamping dan Koordinator
Apa solusi dari Pendamping PKH dan Koordinator UPPKH
Apa harapan pendamping dan Koordinator UPPKH

H. Saran-saran/ usulan
Apa saran dan usulan pendamping dan Koordinator PKH agar program berjalan
dengan baik
PEDOMAN WAWANCARA
(Untuk Peserta Program keluarha Harapan PKH)

A. Identitas Peserta PKH

Nama:
1. Tempat tgl lahir:
2. Alamat:
3. Status Perkawinan:
a. Belum kawin
b. Sudah kawin
c. Serai hidup
d. Cerai mati
4. Daerah Asal
5. Tanggungan keluarga: a. suami b. istri
6. Jenjang pendidikan:
1. Sekolah Rakyat (SR)/SD/Ibtidaiyah
2. SMP/ Tsanawiyah
3. SMU/ SMK Aliyah atau Pesantren
4. .............

7. Pendidikan Anak :
1.………….
2.………….
3.………….
4.………….
5.………….
8. Riwayat Pekerjaan
Apa pekerjaan ibu
Apa pekerjaan suami
Sudah berapa lama bekerja di bidang ini

9. Harapan Peserta PKH


Apa harapan peserta PKH dengan Pendamping
Apa harapan peserta dengan Program PKH ini

10. Pengetahuan tentang Program PKH


Apa yang ibu ketahui mengenai Program PKH ini
Sejauhmana ibu meserasakan perbedaaan setelah dan sebelum adanya program ini
Merespon dengan baikkah dengan adanya program ini
Apa yang ibu ketahui tentang pendamping PKH

11. Usulan dan Saran


Apa harapan ibu dengan adanya Program PKH ini, apa saran untuk keberlanjutan dari
program PKH ini
Wawancara Mengenai PKH (Program Keluarga Harapan)

Nama: Ibu Khanifah


Usia: 35 tahun
Tempat: kelurahan Koja Jl. Sindang lorong RT 06/10 No: 93

Pertanyaan : Apa pekerjaan ibu atau bapak untuk membiayai kebutuhan sehari-hari?
Ya beginilah mas….dagang gado-gado lontong ja..kalo bapak mah kan dah tua
jadi gak tentu kerja apan…ya lumayanlah mas usaha kecil-kecilan kaya gini bisa
nambah uang ongkos anak sekolah ..daripada gak da kerjaan…
Pertanyaan : Apa yang ibu ketahui tentang program PKH ini?
Ni se ignet saya ya...tau betul sau salah ya, program ini program buat ngebantu
masyarakat miskin buat ngeringanin biaya ongkos sekolah anak, berobat anak-anak
ama keperluan sekolah anak, ya pokonya uangnya buat pendidikan anak ama untuk
ibu hamil dan balita.
Pertanyaan : Apa tanggapan ibu setelah adanya program PKH ini?
Ya kalo masalah duit sapa sih yang gak seneng,,,,ia kan,..ya ibu seneng banget
adanya program ini..ya jadinya saya gak banyak mikirin untuk biaya anak sekolah,
beliin pkeperluan sekolah. Ya sepatu, tasnya uang les kalo ada les dari
sekolahnya…emang kadang ada aja keperluan laen..tapi saya mah mikirin buat
keperluan anak sekolah ja dulu… bener mas saya ngerasa kebantu banget dah dapet
bantuan dari uang PKH ini….al-hamdulillah banget pemerentah masih mikirin
orang-orang kecil kaya kita gini…ya mudah-mudahan ja program ini lanjut
terus….ya kalo bias anak yang SMU juga dapet..he-he….kalo bisa biyar saya gak
banyak mikirin ongkos anak sekolah ama yang laen-laennya dah….
Pertanyaan : Selama ibu menjadi peserta program PKH apa ibu menemukan masalah yang
sampai membuat kesal atau marah, baik dari pembagian uang, pertemuan kelompok
oleh pendamping, atau pernah dipersulit dari pihak puskesmas atau rumah sakit
ketika ibu berobat?
Al-hamdullah mas… selama ibu ikut program ini, ibu gaka pernah dapet
masalah….semua bae-bae aja..yah paling-paling susah aja ngumpulin ibu-ibu kalo
disuruh ngumpul kelompok, gitu ja mas…kalo di kantor pos semuanya bae-bae
aja..trus mas krisnonya juga sopan, bae orangnya gak pernah marah-marah kalo
ibu-ibu pada ngambil uang PKH di kantor pos he-he….padahal mas kalo di kantor
pos tuh ibu-ibu pada desek-desekan pada dorong-dorongan mas….
Pertanyaan : apa da perbedaan yang ibu rasakan setelah adanya Program Keluarga harapan?
Em...kalo ngerasa ada perbedaan ya...ada banyak mas...salah satunya sekolah anak
saya jadi gak terlalu kefikiran masalah bayaran sekolah, trus buat beli sepatu ya
kalo ada lebihnya saya beliin seragam sekolah yang udah agak kucela
mas...he..he..trus anak juga tambah rajin aja sekolahnya..ya karna ada mas Krisno
yang ngontrol absen kehadiran sekolah anak saya...ya anak juga takut kalo jarang
masuk sekolah tar di putus lagi bantuannya...repot lagi sayanya. Trus pendamping
juga mengecek timbangan anak balita...jadi ibu-ibu yang laen juga pada rajin
periksa ke posyandu, puskesmas juga...kalo jarang nimbang ama periksa kan
ketauan dari kartunya, tar di keluarin dari peserta PKH lagi...
Pertanyaan : Apakah harapan ibu dengan adanya pendamping ?
Harapan ibu mah...jangan kapok kalo susah ngumpulin ibu-ibu...ya kalo bisa
program ini lanjut aja sampe anak SMA kan jadi gak banyak fikiran kalo sampe
SMA...kalo bisa he..he..ama ini, kalo ada pengumuman cepet-cepet di kabarin aja
takut mendadak malah repot nantinya....
Pertanyaan : Setelah pengambilan uang PKH di kantor pos uangnya siapa yang pegang?
Ya..saya mas yang pegang.. iya ibu yang pegang bukan bapaknya….ya paling
Cuma laporan ja ke bapak kalo duit dari PKH dapet segini pokonya uangnya
langsung saya jatah-jatahin buat anak sekolah, kan anak saya sekolah di swasta jadi
masih bayaran…ya udah duitnya buat bayaran anak sekolah, buat beli sepatu kalo
sepatunya dah pada jebol, lunasin buku-buku pelajarannya mas yang masih belom
dibayar…kalo bapaknya mah gak terlau ikut campur masalah uang PKH ini
yah..paling-paling Cuma laporan ja ma suami…
Pertanyaan : Anak ibu ada berapa dan apa ibu mengerti cara pembagian uang PKH?
Anak saya ada tiga 2 masih SD yang satu dah masuk SMP, ya ngarti lah…kan anak
SD dapetnya 400 kalo berdua jadi 800, tambah kakaknya yang SMP 1 orang, SMP
dapetnya 800 ama bantuan tetapnya 200, jadi ibu dapetnya 1.800.000, trus di bagi
tiga yam as kan pembayarannya setaun 3 kali jadi saya dapetnya setiap pembayaran
600.00 ribu mas…Al-hamdulillah mas…walaupun kurang tapi syukur ngerasa ada
yang bantuin ja…jadi ngurangin beban biaya.
R E K AP IT UL IS AS I DAT A P E S E R T A P K H J AK AR T A UT AR A

T ahun 2007 T ahun 2008 T ahun 2009

DAT A  T A HA P   T A HA P   T A HA P   T A HA P   T A HA P   T A HA P   T A HA P   T A HA P   T A HA P  
NO NAMA WIL AY AH AWAL   I II III I II III I II III
PE S E R T A
Nov‐ Nov‐ Des ‐ Maret‐ O kt  ‐ 
Mar‐08 Mar‐08 Mei‐08 J uli‐09
07 08 08 09 09
I K E C . P E NJ A R ING A N       700    687    693    693    678    669    662    650    640    620
1 K E L . K AMAL  MUAR A       184     182     184     184     179     178 171     170 168 161
2 K E L . K AP UK  MUAR A        181     179     180     180     174     175 173     170 165 161
3 K E L . P E J AG AL AN         80       80       80       80       80       78 78       73 74 71
4 K E L . P E NJ AR ING AN       228     219     222     222     218     213 213     211 207 203
5 K E L . P L UIT         27       27       27       27       27       25 27       26 26 24
II K E C . P A DE MA NG A N       752 723 723 709 679 678 640
1 K E L . P ADE MANG AN B AR AT       402 387 387 377 358 356 338
2 K E L . P ADE MANG AN T IMUR       213 208 208 205 202 205 188
3 K E L . ANC O L       137 128 128 127 119 117 114
III K E C . T A NJ UNG  P R IO K    1,942 1849 1847 1800 1753 1749 1673
1 K E L . S UNT E R  AG UNG       336 311 311 302 293 292 279
2 K E L . S UNT E R  J AY A       200 187 187 186 184 184 179
3 K E L . P AP ANG G O       320 312 312 302 283 285 273
4 K E L . W AR AK AS       221 210 210 196 193 192 184
5 K E L . S UNG AI B AMB U       311 296 296 291 286 282 271
6 K E L . K E B O N B AW ANG       298 286 284 276 268 268 257
7 K E L . T ANJ UNG  P R IUK 256 247 247 247 246 246 230
IV K E C . K O J A   1,824     1,771     1,796     1,796     1,752     1,698     1,682     1,616     1,612     1,542
1 K E L . R AW AB ADAK  S E L AT AN         89       88       89       89       86       86 86       85 85 83
2 K E L . T UG U S E L AT AN       146     144     142     142     140     138 138     136 136 131
3 K E L . T UG U UT AR A       306     295     300     300     296     282 280     275 275 270
4 K E L . L AG O A       506     479     493     493     480     455 453     420 416 394
5 K E L . R AW AB ADAK  UT AR A       282     279     279     279     267     267 258     250 250 231
6 K E L . K O J A       495     486     493     493     483     470 467     450 450 433
V K E C . K E L A P A  G A DING       438 410 410 395 371 368 325
1 K E L . K E L AP A G ADING  B AR AT       189 172 172 168 153 153 126
2 K E L . K E L AP A G ADING  T IMUR         67 63 63 60 59 59 54
3 K E L . P E G ANG S AAN DUA       182 175 175 167 159 156 145
VI K E C . C IL INC ING   2,085     2,051     2,067     2,067     2,024     2,009     1,999     1,958     1,958     1,926
1 K E L . S UK AP UR A       179     175     176     176     168     165 165 156 157 149
2 K E L . R O R O T AN       145     142     143     143     140     139 136 134 134 133
3 K E L . MAR UNDA       262     260     261     261     256     256 253     251 251 246
4 K E L . C IL INC ING       190     187     188     188     176     175 176     172 172 170
5 K E L . S E MP E R  T IMUR       149     148     149     149     148     147 147     146 146 146
6 K E L . S E MP E R  B AR AT       191     187     189     189     186     181 179 177 177 172
7 K E L . K AL IB AR U       969     952     961     961     950     946 943 922 921 910

T O T AL  P E S E R T A P K H 2007   4,609     4,509     4,556     4,556     4,454     4,376     4,343     4,224     4,210     4,088

T O T AL  P E S E R T A P K H 2008    3,132 2982 2980 2904 2803 2795 2638

T OT AL   P E S E R T A P K H J AK AR T A UT AR A    7,741 4,509


  4,556
  4,556
  7,436
  7,356
  7,247
  7,027
  7,005
  6,726
 
Lampiran
Wawancara Mengenai PKH (Program Keluarga Harapan)

Nama : Krisno Sutanto,A.MD


Jabatan : Pendamping PKH Kelurahan Koja
Usia :25 tahun
Tempat : Jl Jempea Lorong 21 No 17 Rt 002 Rw 007

Pertanyaan: Apakah mas pernah bekerja dalam bidang sosial sebelum menjadi pendamping
PKH?
ya...sampe saat ini saya masih aktif bekerja sebagai staff yayasan binaan bengkel kreatif
anak-anak jalanan, makanya saya berminat jadi pendamping masyarakat dalam program
ini..karena itu saya sudah merasa nyaman dengan pekerja lapangan yang sistem kerjanya
tidak seperti karyawan kantoran, yang jarus masuk pagi dan jam pulang sore, yang telat
sedikit bini saya masrah-marah....he..he..kan kalo kerja sosial kerjanya agak santai dan
tidak terlalu terikat dengan waktu ja min...jadi kita bisa ngerjain pekerjaan yang lain gito
loh...

Pertanyaan: Apakah pendapat mas Krisno tentang adanya program untuk menangani masalah
kemiskinan yang membutuhkan pendampingan ?
Kalo.. secara pribadi saya seneng banet ya…cecara orang miskin gak punya taring lah
ibartanya, jadi kita sebagai pendamping bisa menjadi taring sementara untuk
keberlangsungan mereka seperti masyarakat umummnya. Saya sangat mendukung sekali
dengan adanya program pemerintah dalam menangani masalah emiskinan dan ditambah
dengan adanya pendampingan untuk mereka-mereka yang tidak mampu. Saya merasa
pekerjaan ini dikerjainnya ikhlas dan ada rasa saling tanggung jawab, itu saya loh mas...gak
tau juga kalo pendamping yang laen...ya...makluk ja setiap orangkan beda-beda pendapat....

Pertanyaan: Kenapa mas Krisno berkiinginan bekerja sebagai pendamping PKH ?


Ya.... seperti yasng saya bilang…mendjadi pendamping bukan dijadikan pekerjaan yang
sangat beban buat kita…karena hidup juga kalo gak saling membantu percuma
juga…memang kalo kita mati kita bakal ngubur sendiri…gitu enaknya
bermasyarakat…kenapa saya suka dengan pekerjaan yang seperti ini semata-mata untuk
saling membantu dan saling menyayangi kaum yang lemah dan orang-orang yang tidak
mampu untuk melangkah sendiri...padahal saya kuliah bukan jurusan sosial tapi saya gak
malu untuk turun kepasar-pasar untuk melihat kegiatan peserta dan bahkan selayaknya ibu
kita sendiri..

Peranyaan : Apakah kesulitan yang mas Krisno temukan dilapangan ketika melakukan
pendampingan?
Dari selama saya menjadi pendamping PKH, saya paling-paling menemukan masalah yang
tidak jauh dari masalah penggadaian kartu PKH ama rentenir dan tetangga yang di
pinjemin uangnya…jadi saya harus memiliki loteransi juga dengan permsalahan ini mas…,
tapi bukan saya lantas hanya diem ja…tapi setaip ibu-ibu yang melakukan pelanggaran
seperti itu, orang yang bersangkutan akan saya panggil, dan apabila sudah beberapa kali
melakukan pelanggaran seperti itu saya akan buatkan surat perjanjian hitam di atas putih
atas pengetahuaan dua belah pihak. Kenapa saya bilang ada sikap toleransi! karena ketika
sesekali mereka melakukan kesalahan mereka beralasan, karena uang PKH yang
dibayarkan pada
( 3 ) tiga bulan sekali mas.., jadi disitulah alasan mereka untuk menjawab masalah ini.tapi
tetap saya memberikan tekanan bahwa kartu ini tidak bisa berpindah tangan. Kartu ini
milik pribadi yang harus di pegang dan dui butuhkan setiap dibuttuhkan, dan jangan sampe
penyalahgunaan kartu ataupun apapun itu.

Pertanyaan : Bagaimana proses mas krisno sebelum melakukan pendampingan ?


Sebagaimana yang ada di buku panduan pendampingan aja…tapi menurut saya yang saya
lakukan kalo pendampingan saya gak terlalu terpatok dengan buku panduan
pendamping..saya alami aja..sekiranya apa yang saya butuhkan saya pake..saya gak
nyaman ketika pas pendamingan saya pake cara-cara yang harus dari buku, terasa kaku aja,
malah gak lentur kalo melakukan pendampingan. Dan cara yang saya pake cara
kekeluargaan, saling mengerti keadaan dan saling mendukung. Dan kalo sudah terjalin
komunikasi yang baik, maka akan tersa tidak ada hijab antara pendamping dan peserta,
dengan seperti itu saya pun merasa enteng ja untuk mendampingi peserta bahkan ketika
tengah malam pun saya dampingi ketika memang benar-benar di butuhkan, seperti peserta
ada yang lahiran di rumah sakit trus di pesulit oleh pihak rumah sakit maka, saya pun harus
turun kesana…

Pertanyaan : Apakah harapan mas Krisno sebagai pendamping PKH (Program Keluarga
Harapan)?
Bahwa masyarakat diharapkan merubah paradigma yang mereka miliki atau pola pikir yang
terus menunggu diberikan oleh orang lain baik itu pemerintah atau orang-orang yang
memang memiliki kebersihan hati nurani untuk membantu...Kami sebagai pendamping,
menginginkan masyarakat yang kami dampingi atau anggota yang dibina memiliki usaha
kelompok... atau usaha bersamalah sebagai penopang lain, selain menunggu melulu
bantuan dari luar, sehingga anggota PKH mampu terus melanjutkan hidup..., dan tidak
menunggu harta karun yang didatangkan dari langit...”.

Pertanyaan: apa bentuk evaluasi yang dilakukan setelah mas melakukan pekerjan sebagai
pendamping?
Adapun bentuk evaluasi yang saya buat adalah semacam laporan kegiatan pendamping
yang akan di kumpulkan ke kantor (Unit Pelaksana Program keluarga Harapan) UPPKH.
Laporan ini berisi tentang apa saja kegiatan yang dialkukan selama pendampingan di
masyarakat, baik dari hambatan-hambatan selama pendampingan dan solusi yang di
kerjakan oleh pendamping. adapun laporan tersebut di kumpulkan oleh Koordinator PKH
dan di periksa hasil laporannya dan kemuian di kirim ke departemen sosial setelah
mendapat persetujuan dari kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara.