Anda di halaman 1dari 91

UNIVERSITAS TARUMANAGARA

FAKULTAS EKONOMI

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DI RESTORAN KEDAI


SOEMATRA

Danny Sanjaya (12550378)

Dicky Djajadi (125150379)

Gian Sebastian (125150371)

Kelas LY

Diajukan Guna Melengkapi Syarat Dalam Menyelesaikan

Tugas Akhir Sebelum Ujian Akhir Semester

Jalan Tanjung Duren Raya No 1, Jakarta Barat

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
kasih karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas akhir bertemakan “Perancangan
Sistem Informasi Akuntansi di Restoran Kedai Soematra” ini dengan baik tanpa
hambatan dan kesulitan yang berarti. Kami juga mengucapkan terima kasih pada Ibu Dr.
Julisar, S.E., M.M., Ak, CA. selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Sistem Informasi
Akuntansi 1 Universitas Tarumanagara yang telah memberikan tugas akhir ini kepada
kami.

Kami berharap tugas akhir ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta
memberi pengetahuan mengenai perancangan sistem informasi akuntansi yang
diaplikasikan pada suatu organisasi untuk memperoleh akurasi, ketepatan, dan kecepatan
dalam mengolah data – data yang diperoleh suatu organisasi. Namun, tiada gading yang
tak retak, kami juga menyadari bahwa di dalam tugas akhir ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik, saran dan masukan
demi perbaikan dan meningkatkan kualitas dari makalah yang telah kami buat,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Akhir kata, semoga tugas akhir ini dapat dimengerti bagi pembaca, agar laporan
yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.

Jakarta, 15 Mei 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

KATA PENGANTAR............................................................................................ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................iii

DAFTAR TABEL.................................................................................................vi

DAFTAR GAMBAR............................................................................................vii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................1

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Perancangan

2.1.2 Sistem Informasi Akuntansi


2.1.2.1 Sistem
2.1.2.2 Sistem Informasi
2.1.2.3 Sistem Informasi Akuntansi

2.1.3 Fungsi Sistem Informasi Akuntansi

2.1.4 Subsistem Sistem Informasi Akuntansi

2.1.5 Struktur Organisasi

iii
2.1.5.1 Pendalaman Prinsip Organisasi

2.1.5.2 Hubungan Organisasi dengan Sistem Informasi


Akuntansi

2.1.6 Siklus Transaksi

2.1.6.1 Siklus Pengeluaran

2.1.6.2 Siklus Konversi

2.1.6.3 Siklus Pendapatan

2.1.7 Teknik Dokumentasi

2.1.7.1 Diagram Alir

2.1.7.2 Dokumen Flowchart

2.1.8 Sistem Berbasis Komputer

2.1.9 Fraud

2.1.9.1 Definisi Fraud

2.1.9.2 Ciri - ciri Fraud


2.1.9.3 Jenis Fraud
2.1.9.4 Penyebab Terjadinya Fraud
2.1.9.5 Skema Fraud
2.1.9.6 Pelaku Fraud
2.1.9.7 Peringatan Fraud

2.1.10 Pengendalian Internal

2.1.10.1 Tujuan Pengendalian Internal

2.1.10.2 Eksposur atas Kelemahan Pengendalian Internal


2.1.10.3 Lapisan Pengendalian Internal
2.1.10.4 Komponen Pengendalian Internal

iv
2.1.10.5 Isu Kontrol dari Aktivitas Pengendalian Internal

2.1.11 Siklus Pengembangan Sistem Informasi Akuntansi

2.1.11.1 Tahap Perencanaan Sistem

1.1.11.2 Kegagalan Pengembangan Sistem

2.2 Kerangka Pemikiran

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Profil Perusahaan

3.2 Analisa Struktur Organisasi

3.2.1 Struktur Organisasi Lama

3.2.2 Deskripsi Pekerjaan Struktur Organisasi Lama

3.2.3 Analisa Terhadap Struktur Organisasi Lama

3.2.4 Struktur Organisasi Baru

3.2.5 Deskripsi Pekerjaan atas Struktur Organisasi Baru

3.3 Siklus Transaksi

3.3.1 Siklus Penerimaan


3.3.1.1 Prosedur
3.3.1.2 Analisa Prosedur Siklus Penerimaan
3.3.1.3 Diagram Alir atas Siklus Penerimaan
3.3.1.4 Flowchart atas Siklus Penerimaan
3.3.1.5 Rancangan Ulang Flowchart atas Siklus
Penerimaan
3.3.2 Siklus Pengeluaran
3.3.2.1 Prosedur
3.3.2.2 Analisa Prosedur Siklus Pengeluaran

v
3.3.2.3 Diagram Alir atas Siklus Pengeluaran
3.3.2.4 Flowchart atas Siklus Pengeluaran
3.3.2.5 Rancangan Ulang Flowchart atas Siklus
Pengeluaran

3.4 Rancangan Dokumen

3.4.1 Nota

3.4.2 Nota Tagihan Sisa Pembayaran

3.4.3 Surat Verifikasi Penerimaan Barang

3.4.4 Surat Permintaan Pembelian

3.4.5 Surat Pesanan Pembelian

3.4.6 Surat Laporan Penerimaan

3.4.7 Voucher Pengeluaran Kas

3.4.8 Kartu Stok Persediaan

3.5 Analisa atas Fraud

3.5.1 Kasus Fraud

3.5.2 Analisis atas Kasus Fraud

3.5.3 Rekomendasi untuk Penanganan Fraud

3.6 Pembahasan

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data yang dijadikan sampel penelitian.................................................12


Tabel 4.2 Hasil Uji Statistik Deskriptif ................................................................13
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas .............................................................................14
Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi ..........................................................................15
Tabel 4.6 Hasil Analisis Regresi Sederhana .........................................................16
Tabel 4.7 Hasil Analisis Korelasi Sederhana.........................................................17
Tabel 4.8 Hasil Uji Koefisien Determinasi ..........................................................18
Tabel 4.9 Hasil Uji t ..............................................................................................18
Tabel 4.10 Hasil Uji F ..........................................................................................19

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1...............................................................................................................4

viii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat dari hari ke hari
yang tentu akan mempengaruhi banyak aspek, salah satunya ialah aspek ekonomi
dan bisnis. Semakin tingginya tingkat persaingan dalam pasar menuntut sebuah
usaha agar tetap dapat bertahan dalam situasi pasar tersebut. Dimana salah satu
aspek yang dapat menentukan keberlangsungan hidup dari suatu usaha ialah
mengenai kemampuan perusahaan dalam mengolah data – data yang dimilikinya
agar menjadi informasi yang berguna untuk perusahaan. Dalam hal ini,
perusahaan dituntut untuk dapat mendapatkan informasi yang berkualitas tinggi
yang diukur dari tingkat akurasi, ketepatan waktu, dan revelansinya. Maka dari itu,
diperlukan sistem informasi yang baik, dan sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan
bisnis yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Semakin baik kualitas suatu
sistem informasi, maka dapat tercapainya efisiensi, efektivitas, dan dapat
meminimalisir berbagai kesalahan yang dapat terjadi, sehingga informasi yang
diperoleh akan menjadi berkualitas dan semakin bermanfaat dalam melakukan
pengambilan keputusan dalam perusahaan.

Objek dari penulisan tugas akhir ini ialah sistem informasi akuntansi
Restoran Kedai Soematra. Kedai Soematra merupakan salah satu restoran yang
bergerak dalam bidang usaha kuliner daerah Sumatra, khususnya kuliner Medan.
Restoran ini masih menerapkan sistem yang manual, dimana tidak diberikan unsur
komputerisasi sama sekali dalam seluruh aktivitas operasional perusahaan.

Definisi sederhana yang diterjemahkan bebas dari James A Hall,


menjelaskan sistem ialah sekelompok atau lebih komponen atau subsistem yang
berhubungan untuk melayani tujuan umum. (Hall, 2013). Dimana definisi tersebut
sejalan dengan pendapat Marshall B. Romney dan Paul J. Steinbart (2012) yang

1
menyatakan bahwa sistem ialah suatu rangkaian dari dua atau lebih komponen
yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.

Definisi akuntansi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah teori dan
praktik perakunan, termasuk tanggung jawab, prinsip, standar, kelaziman
(kebiasaan), dan semua kegiatannya; seni pencatatan dan pengikhtisaran transaksi
keuangan dan penafsiran akibat suatu transaksi terhadap suatu kesatuan ekonomi.

Sistem informasi didefinisikan oleh James O’Brien (2005) sebagai suatu


kombinasi teratur apapun dari orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan
komputer, jaringan komunikasi, dan basis data yang mengumpulkan, mengubah,
dan menyebarkan informasi di dalam suatu bentuk organisasi.

Sistem informasi akuntansi didefinisikan oleh Mark G. Simkin, Jacob M.


Rose, dan Carolyn S. Norman (2012) sebagai kumpulan data dan prosedur yang
menciptakan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk


memperoleh keluaran sistem informasi akuntansi yang baik tentu harus
mengandung perhitungan biaya, dan informasi keuangan perusahaan kepada
manajemen secara tepat waktu, akurat, dan dapat dipercaya, dimana informasi
tersebut harus diperoleh dari kegiatan perusahaan yang dikelolah dengan baik
guna meminimalisir seluruh kesalahan, dan dapat berjalan efektif dan efisien.

Kegiatan operasional dari restoran ini ialah setiap hari, sehingga


kebutuhan akan data yang akurat dan cepat tentu menjadi sebuah keharusan yang
harus diperoleh pihak manajer guna pengambilan keputusan dan mempertahankan
kelangsungan bisnisnya. Oleh karena itu, seluruh siklus akuntansu perusahaan
harus dilaksanakan dengan cara yang efektif dan efisien, agar dapat
meminimalisir kesalahan, meningkatkan kualitas keputusan manajemen, dan
meningkatkan kualitas atas pengendalian internal untuk menghindari terjadinya
fraud.

2
Pada Restoran Kedai Soematra mengalami ketiadaan penggunaan
komputer dalam menjalankan sistem informasi akuntansi, sehingga sistem
informasi akuntansi yang dikelola dengan cara yang manual, dimana pelayan juga
merangkap menjadi kasir, tidak ada pencatatan dalam bentuk apapun selama
transaksi terjadi, dan seluruh pembuatan laporan dilakukan secara manual.
Padahal, Restoran Kedai Soematra memiliki pergerakan pelanggan yang sangat
cepat, sehingga sistem informasi akan penjualan dan persediaan sangatlah vital
dan akan berdampak besar dalam kelangsungan hidup perusahaan di masa depan.
Maka dibutuhkanlah sistem informasi akuntansi yang sesuai dengan perusahaan
untuk memenuhi kebutuhan perusahaan akan informasi yang cepat, tepat waktu,
dan akurat untuk membantu perusahaan dalam menjalankan kegiatan
operasionalnya, dan mencapai tujuan dari perusahaan.

Atas uraian di atas, maka penulis ingin melakukan perancangan dan


mendesain sistem informasi akuntansi yang terdapat dalam Restoran Kedai
Soematra, dan menjadikannya sebagai bahan penulisan dalam tugas akhir ini.

1.2 Rumusan Masalah

Bertitik tolak pada subbab sebelumnya, dapat dirumuskan masalah sebagai


berikut:

1. Bagaimana sistem informasi akuntansi yang selama ini telah diterapkan


oleh Restoran Kedai Soematra?
2. Bagaimana rancangan sistem informasi akuntansi yang sesuai untuk
diterapkan oleh Restoran Kedai Soematra?
3. Apa saja fraud yang telah terjadi dalam Restoran Kedai Soematra ketika
sistem informasi akuntansi yang saat ini diterapkan tengah dijalankan?
4. Apa implikasi dari yang fraud yang timbul dalam Restoran Kedai
Soematra?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang ditulis sebelumnya, maka karya tulis ini

3
bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui sistem informasi akuntansi yang selama ini telah diterapkan
oleh Restoran Kedai Soematra.
2. Untuk merancang sistem informasi akuntansi yang sebaiknya diterapkan oleh
Restoran Kedai Soematra.
3. Untuk melakukan identifikasi atas seluruh kelemahan pengendalian internal
berserta isu – isu kontrol yang terjadi dalam Restoran Kedai Soematra.
4. Untuk memberikan saran atas kelemahan pengendalian internal kepada Restoran
Kedai Soematra.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan tugas akhir ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penulisan tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan


kontribusi literatur tentang penerapan sistem informasi akuntansi untuk
mendukung kegiatan operasi perusahaan dengan mengambil objek
penulisan pada Restoran Kedai Soematra.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi penyusun, dengan penulisan tugas akhir ini diharapkan penulis
dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dan agar penulis dapat
memahami aplikasi dari teori yang didapatkan pada dunia bisnis
sesungguhnya.
b. Bagi perusahaan, dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan sebagai bahan pertimbangan mengenai sistem
informasi akuntansi yang sudah ada dalam perusahaan.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Perancangan

Menurut Oxford: Advanced Learner’s Dictionary, perancangan


didefinisikan sebagai menetapkan bagaimana sesuatu akan terlihat, bekerja,
dan sebagainya, terutama untuk menggambarkan perencanaan atau
pembuatan model, atau pembuatan, perencanaan, dan memaksudkan
sesuatu untuk tujuan tertentu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perancangan ialah proses,


cara, dan perbuatan merancang. Sedangkan menurut Webster’s New
Word Dictionary, perancangan ialah penciptaan, penggambaran, dan
pensketsaan atas suatu rencana.

2.1.2 Sistem Informasi Akuntansi

2.1.2.1 Sistem

Menurut James A. Hall (2013), sistem ialah sekelompok


atau lebih komponen atau subsistem yang berhubungan untuk
melayani tujuan umum.

Menurut Marshall B. Romney dan Paul John. Steinbart


(2012) yang menyatakan bahwa sistem ialah suatu rangkaian dari
dua atau lebih komponen yang berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan.

Menurut Hanif Al Fatta (2007), sistem ialah sekumpulan


objek – objek yang saling berelasi dan berinteraksi serta hubungan

5
antar objek bisa dilihat sebagai satu kesatuan dirancang untuk
mencapai satu tujuan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem ialah


perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga
membentuk suatu totalitas.

Maka, dapat disimpulkan bahwa dalam suatu sistem akan


memiliki lebih dari 1 komponen (multiple components), terdapat
keterkaitan satu sama lain (relatedness), terdapat hubungan erat
antar subsistem dengan sistem (system versus subsystem), dan
terdapat tujuan yang ingin dicapai oleh sistem (purpose).

2.1.2.2 Sistem Informasi

Menurut James A. Hall (2013), sistem informasi adalah


serangkaian prosedur formal dimana data dikumpulkan,diproses
menjadi informasi dan didistribusikan ke para pengguna.

Menurut James O’Brien (2005), sistem informasi adalah


suatu kombinasi teratur apapun dari orang, perangkat keras,
perangkat lunak, jaringan komputer, jaringan komunikasi, dan
basis data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan
informasi di dalam suatu bentuk organisasi.

Menurut Gary B. Shelly, Misty E. Vermaat (2011), sistem


informasi ialah kumpulan dari perangkat keras, perangkat lunak,
orang, dan prosedur yang bekerja sama untuk menghasilkan
informasi yang berkualitas.
Maka, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi ialah
prosedur yang yang mengandung orang, perangkat keras,
perangkat lunak untuk memproses data menjadi informasi yang
berkualitas.
2.1.2.3 Sistem Informasi Akuntansi

6
Menurut James A. Hall (2013), sistem informasi akuntansi
ialah bagian yang khusus dari sistem informasi yang memproses
transaksi finansial atau transaksi keuangan.
Menurut Mark G. Simkin, Jacob M. Rose, dan Carolyn S.
Norman (2012), sistem informasi akuntansi ialah kumpulan data
dan prosedur yang menciptakan informasi yang dibutuhkan oleh
penggunanya.
Menurut Marshall B. Romney dan Paul J. Steinbart (2012),
sistem informasi akuntansi ialah kegiatan mengumpulkan,
memproses, menyimpan, dan melaporkan data dan informasi.
Maka, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi
ialah sistem yang mengumpulkan, memproses, dan melaporkan
data berupa transaksi finansial menjadi informasi yang berguna.
2.1.3 Fungsi Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Marshall B. Romney dan Paul J. Steinbart (2012), fungsi


dari sistem informasi akuntansi ialah:

1. Mengumpulkan dan menyimpan data dari organisasi. Data yang


dikumpulkan dan disimpan ialah aktivitas – aktivitas organisasi,
sumber daya yang dipengaruhi oleh aktivitas tersebut, dan dimana data
tersebut untuk digunakan para pihak yang terlibat dalam aktivitas
tersebut dapat meninjau ulang hal yang telah terjadi.
2. Mengubah data menjadi informasi. Informasi yang diperoleh berguna
untuk pengawasan, pengambilan keputusan, dan perencanaan ke
depannya.
3. Menyediakan pengendalian yang memadai untuk perlindungan atas
aktiva dan data yang dimiliki oleh perusahaan.

2.1.4 Subsistem Sistem Informasi Akuntansi

Subsistem sistem informasi akuntansi memproses berbagai


transaksi keuangan dan transaksi nonkeuangan yang secara langsung

7
mempengaruhi pemrosesan transaksi keuangan. (Hall, 2013). Sistem
informasi akuntansi terdiri atas tiga subsistem, yakni:

1. Sistem pemrosesan transaksi, yakni yang medukung operasi bisnis


harian melalui berbagai dokumen serta pesan untuk para pengguna di
seluruh perusahaan.
2. Sistem buku besar/pelaporan keuangan, yakni yang menghasilkan
laporan keuangan, seperti laporan laba rugi, neraca, arus kas,
pengembalian pajak, serta berbagai laporan lainnya yang diisyaratkan
oleh hukum.
3. Sistem pelaporan manajemen, yakni yang menyediakan pihak
manajemen internal berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta
informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti
anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggungjawaban.

2.1.5 Struktur Organisasi

2.1.5.1 Pendalaman Prinsip Organisasi

Menurut Hendro Lukman dan I Cenik Ardana (2016),


terdapat beberapa hal mengenai pendalaman atas prinsip organisasi,
antara lain:

1. Perumusan tujuan
Orang membentuk organisasi karena mempunyai tujuan
yang sama yang ingin dicapai. Tujuan tersebut bisa berupa fisik
(jasmani) maupun rohani. Setiap organisasi harus merumuskan
tujuannya secara jelas karena tujuan tersebut selanjutnya akan
menjadi acuan dalam penetapan persyaratan anggota,bentuk
organisasi, pembentukan struktur organisasi, pembagian tugas dan
sebagainya. Biasanya perumusan tujuan organisasi sama dengan
perumusan visi dan misi organisasi.
2. Departemenisasi

8
Departemenisasi merupakan suatu proses untuk
menetapkan pembagian tugas,sedanagkan istilah departemen
dipakai untuk menunjukan unit – unit (departemen, bagian, divisi,
dan seksi), hasil dari suatu proses departemenisasi). Prinsip
pembagian tugas atau lebih sering disebut prinsip departemenisasi
dalam organisasi dimaksudkan sebagai suatu proses
penggabungan/ pengelompokan tugas-tugas dan jenis-jenis
pekerjaan dengan cara yang logis sehingga terbentuk satuan-satuan
kerja yang selanjutnya dibagi antara angota-anggota organisasi.
Tujuan dari satuan kerja ini harus dirumuskan secara jelas, namun
yang harus diperhatikan adalah bahwa tujuan masing-masing
satuan kerja tersebut harus dalam kerangka pencapaian tujuan
organisasi secara keseluruhan. Masing - masing satuan kerja
tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri apalagi memiliki
tujuan yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya dan
dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.
3. Wewenang
Pengertian wewenang dalam organisasi berarti kekuasaan,
atau hak seseorang manajer untuk melaksanakan tindakan yang
diperlukan dalam merealisasikan tujuan organisasi. Wewenang
selalu diikuti oleh tanggung jawab. Tanggung jawab adalah
kewajiban dari manajer yang memperoleh wewenang untuk
mempertanggungjawabkan segala tindakan yang telah diambilnya
sesuai dengan wewenang yang dimilikinya. Pelimpahan wewenang
berarti penyerahan sebagian wewenang untuk bertindak kepada
orang lain, umumnya bawahannya. Pelimpahan wewenang ini
diperlukan dalam organisasi karena tidak mungkin semua
pekerjaan dilaksanakan oleh satu orang saja. Ada beberapa jenis
wewenang di dalam organisasi. Jenis wewnang ini umumnya
dikenal antara garis wewenang (line authority),wewnang

9
fungsional (functional authority), dan wewenang staf (staf
authority).
a) Wewenang garis adalah wewenang yang dimiliki seseorang
yang mempunyai wewnang untuk memerintah secara
langsung beberapa orang bawahannya,sedangkan seorang
bawahan hanya bertanggung jawab kepada seorang atasan
langsung
b) Wewenang fungsional adlaah wewenang seorang pejabat
pada satuan kerja (departemen) yang satu kepada pejabat
pada satuan kerja yang lain sesuai dengan fungsi yang
dimilikinya
c) Wewenang staf adalah wewnang yang dimiliki seorang
pejabat dalam bentuk pemberian nasihat/saran kepada
pejabat lini. Wewenang staf hanya sebatas pemberian saran
dan ia tidak dapat memberikan perintah langsung kepada
pejabat lini
4. Rentang Kendali
Rentang kendali adalah banyak sedikitnya jumlah bawahan
langsung yang dapat dikendalikan oleh seorang atasan.Jumlah
bawahan langsung adalah pejabat,staf,atau satuan kerja setingkat di
bawah atasan yang bersangkutan. Banyak sedikitnya jumlah
bawahan langsung yang dapat dikendalikan akan menentukan
curam/datarnya tingkatan dalam struktur organisasi.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi
Konsep sentralisasi dan desentralisasi berkaitan dengan
derajat pelimpahan wewenang yang diberikan oleh pemimpin pusat
kepada pemimpin di bawahnya. Jika sebagian besar kewenangan
masih di pegang oleh pemimpin pusat berarti organisasi menganut
prinsip sentralisasi sedangkan jika kewenangan secara relatif
sebagian besar telah didelegasikan kepada pemimpin di bawahnya
maka organisasi menganut prinsip desentralisasi.

10
6. Pedoman(Deskripsi) Tugas
Pedoman tugas merupakan pedoman tertulis yang berisi
uraian mengenai wewenang,tugas dan tanggung jawab seorang
pejabat pada setiap satuan kerja dari keselurahan unit-unit
organisasi. Pedoman kerja perlu dibuat secara tertulis supaya
setiap pejabat memahami secara jelas apa yang harus
dikerjakan,apa wewnangnya dan seberapa luas tanggung
jawabnya.
2.1.5.2 Hubungan Organisasi dengan Sistem Informasi
Akuntansi

Pentingnya perancangan sistem informasi akuntansi untuk


memahami konsep organisasi, antara lain:

1. Organisasi dan akuntansi pertanggungjawaban


Peranan sistem informasi akuntansi dapat ditingkatkan bila
mampu memberi informasi berkualitas kepada manager/pimpinan
unit-unit kerja dalam organisasi dalam merumuskan rencana dan
target. Dalam hal ini, perlu adanya pemahaman akan konsep:
1. Struktur organisasi.
2. Identifikasi satuan-satuan kerja.
3. Kejelasan uraian tugas dan wewenang tiap satuan kerja.
4. Pemahaman tujuan dan ukuran kinerja tiap satuan kerja.
5. Pemahaman jalur komunikasi (vertikal dan horizontal).
6. Organisasi dan Pemahaman Bagan Alur Dokumentasi.
Seorang analis sistem informasi akuntansi bertugas untuk
merancang prosedur transaksi dan bagan alur dokumen yang
melibatkan lebih dari satu satuan kerja.
2. Sistem Informasi Akuntansi dan Struktur Pengendalian Intern
Sistem informasi akuntansi harus mengandung struktur
pengendalian intern yang efektif, yaitu melibatkan komitmen
pimpinan puncak serta internal cek antar unit organisasi:

11
3. Sistem Informasi Akuntansi dan Sistem Otorisasi Transaksi
Agar informasi dapat diandalkan, maka perlu adanya
verifikasi transaksi yang berkaitan dengan kelengkapan, otorisasi,
dan kecermatan data.
4. Alur Informasi dan Struktur Organisasi
Alur komunikasi dalam suatu organisasi terbagi menjadi
internal dan eksternal, dan diuraikan kembali menjadi:
1. Internal, ada 2 yaitu:
1. Dari atas ke bawah berupa perintah anggaran dan instruksi.
2. Dari bawah ke atas berupa informasi laporan (performance
report).
2. Eksternal, ada 2 yaitu:
1. Pada posisi bawah yaitu karena hubungan kerja normal
yang mendukung pekerjaan sehari-hari, seperti dengan
pemasok dan pelanggan.
2. Pada posisi atas yaitu hubungan dengan para pemangku
kepentingan (stakeholders) yang seperti pemegang saham,
pemerintah, dan sebagainya.

2.1.6 Siklus Transaksi

Terdapat tiga siklus transaksi yang memproses sebagai besar


aktivitas ekonomi perusahan, yaitu siklus pengeluaran,siklus konversi, dan
siklus pendapatan. Ketiga siklus tersebut terdapat pada berbagai jenis binis
yang ada seperti bisnis yang mencari laba ataupun nirlaba.

12
Gambar 2. 1 Hubungan antara siklus-siklus transaksi

2.1.6.1 Siklus Pengeluaran

Aktivitas bisnis ini dimulai dengan perolehan bahan baku,


properti, dan tenaga kerja melalui pertukaran dengan kas. Gambar
2.1 menunjukan arus kas dari perusahaan ke berbagai penyedia
sumber daya. Pengeluaran kas aktual dilakukan pada saat yang
sama dengan penerimaan barang atau jasa. Jadi, dari perspektif
sistem, transaksi ini memiliki dua bagian: komponen fisik(akuisisi
barang) dan komponen keuangan(pengeluaran kas ke pemasok).
Setiap komponen diproses oleh sebuah subsistem yang berbeda
dalam siklus tersebut. Setiap komponen diproses oleh sebuah
subsistem yang berbeda dalam siklus tersebut. Subsistem-
subsistem utama dari siklus pengeluaran dijelaskan sebagai berikut:
1. Sistem pembelian / utang, dimana sistem ini mengenali
kebutuhan untuk membeli persediaan fisik (bahan baku) dan
melakukan pemesanan ke pemasok ketika barang diterima.
Sistem pembelian mencatat peristiwa tersebut dengan
menambah persediaan dan membuat akun utang untuk dibayar
pada tanggal yang ditetapkan.

13
2. Sistem pengeluaran kas, yakni dimana ketika kewajiban yang
dibuat oleh sistem pembelian jatuh tempo, sistem pengelauran
kas mengotorisasi pembayaran, mengeluarkan dana ke
pemasok, dan mencatat transaksi dengan mengurangi kas dan
akun utang
3. Sistem penggajian, dimana mengumpulkan data pemakaian
tenaga kerja dari setiap karywan, menghitung gaji, dan
mengeluarkan cek pembayaran kepada karywan.
4. Sistem aktiva tetap, dimana perusahaan memproses transaksi
yang berkaitan dengan akuisisi, pemeliharaan, dan penghentian
aktiva tetap. Hal ini relatif permanen dan sering kali secara
kolektif mewakili investasi keuangan terbesar yang dilakukan
perusahaan. Contoh aktiva tetap seperti tanah, gedung, mesin,
dan lain lain.

2.1.6.2 Siklus Konversi

Terdiri atas dua subsistem utama : sistem produksi dan


sistem akuntasi biaya.
Sistem produksi melibatkan perencanaan, penjadwalan, dan
pengendalian produk fisik melalui proses produksi. Hal ini
termasuk menetapkan kebutuhan bahan baku,otorisasi kerja yang
harus dilakukan dan pelepasan bahan baku ke produksi, serita
mengarahkan pergerakan barang dalam berbagai tahap.
Sistem akuntansi biaya memantau arus informasi biaya
yang berkaitan dengan produksi. Informasi yang dihasilkan oleh
sistem ini digunakan untuk penilaian persediaan,penganggaran,
pengendalian biaya, pelaporan kinerja, dan keputusan manajemen,
seperti “membuat atau membeli”.

2.1.6.3 Siklus Pendapatan

14
Perusahaan menjual barang ke pelanggan melalui siklus
pendapatan, yang melibatkan pemrosesan penjualan tunai,
penjualan kredit, dan penerimaan kas setelah penjualan kredit.
Transaksi siklus pendapatan juga memiliki komponen fisik dan
keuangan, yang diproses secara terpisah. Berikut adalah subsistem
dari siklus pendapatan:
1. Pemrosesan pesanan penjualan : mayoritas penjualan bisnis
dilakukan secara kredit dan melibatkan tugas-tugas seperti
penyiapan pesanan penjualan, pemberian kredit, pengiriman
produk kepada pelanggan, penagihan pelanggan, dan
pencatatan transaksi dalam akun-akun (piutang, persediaan,
pengeluaran, dan penjualan).
2. Penerimaan kas : untuk penjualan kredit, ada periode waktu
antara penjualan dan penerimaan kas. Pemrosesan penerimaan
kas meliputi penagihan kas,penyimpanan kas di bank, dan
pencatatan peristiwa-peristiwa ini dalam akun (piutang dan
kas).

2.1.7 Teknik Dokumentasi

2.1.7.1 Diagram Alir

Tahap awal dalam perancangan sistem informasi yang


menggambarkan arus data yang terjadi dalam sistem yang
dimaksud sampai menghasilkan informasi dari sistem yang
dimaksud. Data flow diagram atau diagram alir bersifat manual dan
berbasis komputer.
Ciri-ciri diagram alir:
1. Menggunakan simbol unutk menggambarkan proses, arus data,
dan entitas dalam suatu system.
2. Menggambarkan logical elements dari system.
3. Tidak menggambarkan physical system.

15
2.1.7.2 Dokumen Flowchart

Langkah rinci yang dibuat berdasarkan diagram alir. Satu


diagram alir dapat terdiri dari satu atau lebih dari dokumen
flowchart. Dokumen flowchart berisikan langkah rinci dari
prosedur yang dilakukan secara manual dan diproses secara manual.
Ciri-ciri documen flowcharts:
1. Mengilustrasikan hubungan antar proses dalam suatu sistem.
2. Lebih rinci daripada dokumen flowchart.
3. Menggambarkan pemisahan dari fungsi dalam suatu system.

2.1.8 Sistem Berbasis Komputer

Menurut Hendro Lukman dan I Cenik Ardana (2016), sistem


berbasis komputer merupakan suatu jaringan elektronik yang
mengintegrasikan komponen – komponen perangkat keras (hardware),
perangkat lunak (software), perangkat komunikasi (communication
devices), dan tenaga manusia profesional (brainware) untuk melakukan
tugas:

1. Merekam data,
2. Menyimpan data dan informasi,
3. Memproses data menjadi informasi, dan
4. Mengkomunikasikan informasi kepada pihak – pihak tertentu.

2.1.9 Fraud

2.1.9.1 Definisi Fraud

Menurut CIMA (Chartered Institute of Management


Accountants) dalam “Fraud Risk Management: A Guide to Good
Practice” mendefinisikan fraud sebagai suatu tindakan disengaja
yang dilakukan seseorang yang pada dasarnya adalah

16
menggunaakan penipuan dan kecurangan untuk mendapatkan
keuntungan pribadi dan menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

Menurut Webster’s New Word Dictionary, fraud adalah


suatu pembohongan atau penipuan (deception) yang dilakukan
demi kepentingan pribadi.

Menurut IFAC (International Federation of Accountants)


dalam “International Standards of Auditing 240 – The Auditor’s
Responsibility to Consider Fraud in an Audit of Financial
Statement” mendefinisikan fraud sebagai tindakan yang disengaja
oleh anggota manajemen perusahaan, pihak yang berperan dalam
governance perusahaan, karyawan, atau pihak ketiga yang
melakukan pembohongan atau penipuan untuk memperoleh
keuntungan secara tidak adil atau illegal.
Menurut Jerry J. Weygandt, Paul D. Kiemel, dan Donald E.
Kieso (2016), fraud ialah tindakan tidak jujur dari karyawan yang
bertujuan untuk keuntungan pribadinya dengan mengorbankan
harta pihak pemberi kerja.
Maka, dapat disimpulkan bahwa fraud ialah tindakan tidak
jujur/ penipuan/ kebohongan yang dilakukan oleh pihak tertentu
dalam organisasi untuk memperoleh keuntungan secara illegal.
2.1.9.2 Ciri - ciri Fraud
Fraud memiliki ciri – ciri khusus agar suatu tindakan dapat
dikategorikan sebagai fraud. Dalam hal ini ada beberapa pendapat
mengenai ciri – ciri dari fraud.
Menurut IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia) dalam “Standar
Audit Seksi 316 : Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit
Laporan Keuangan” (2001) menjelaskan bahwa fraud adalah
sebagai:

17
1. Salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan
keuangan, yaitu salah saji atau penghilangan secara sengaja
jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk
mengelabuhi pemakai laporan keuangan.
2. Salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap
aktiva berkaitan dengan pencurian aktivitas entitas yang
berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai prinsip
akuntansi Indonesia.

Menurut Hall A. James (2013), berdasarkan hukum perdata,


fraud harus memenuhi 5 kondisi yaitu:

1. Penyajian yang salah, yakni ada pernyataan yang salah atau ada
fakta yang tidak diungkapkan.
2. Fakta yang material, yakni fakta merupakan faktor yang
substansial dalam mendorong seseorang untuk bertindak.
3. Niat, yakni adanya niat untuk menipu atau mengetahui bahwa
suatu pernyataan adalah salah.
4. Keyakinan yang dapat dijustifikasi, yakni kesalahan penyajian
tersebut merupakan faktor substansial tempat pihak yang
dirugikan bergantung.
5. Kerusakan atau kerugian, yakni kecurangan yang dilakukan
menyebabkan kerugian atau kerusakan bagi korban penipuan.
2.1.9.3 Jenis Fraud

Menurut Hall A. James (2013), fraud berdasarkan


pelakunya dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Fraud karyawan (Employee Fraud)


Dilakukan oleh karyawan nonmanajemen, didesain untuk
secara langsung mengonversi kas atau keuntungan lainnya untuk
kepentingan karyawan (kepentingan pribadi). Melibatkan 3 tahap:
1. Mencuri sesuatu yang berharga.

18
2. Mengonversi harta tersebut menjadi sesuatu yang bisa
digunakan (cash).
3. Menyembunyikan kejahatan tersebut agar tidak terdeteksi.
2. Fraud management (Management Fraud)
Biasanya merupakan penipuan kinerja, tidak secara
langsung melibatkan pencurian aktiva. Biasanya lebih sulit untuk
dilacak. Contohnya yaitu kecurangan dalam bentuk salah saji
laporan keuangan yaitu dengan melambungkan pendapatan atau
menurunkan pendapatan,, atau penipuan data keuangan dan
laporan internal agar mendapatkan promosi atau menghindari
punishment atas kinerja buruk.
Menurut R. Grinaker dalam “Discussion Response to a
Look at the Record on Audit Detection of Management Fraud”
(1980), Management fraud memiliki 3 karakteristik khusus, yaitu:
1. Penipuan dilakukan pada tingkat manajemen atas, dimana
berhubungan dengan pengendalian internal.
2. Penipuan biasanya melibatkan penggunaan laporan keuangan
untuk membuat ilustrasi bahwa suatu entitas lebih sehat dan
lebih baik daripada sesungguhnya (window dressing).
3. Penipuan melibatkan penyalahgunaan aktiva, disebarkan dalam
transaksi yang rumit dan melibatkan pihak ketiga.
2.1.9.4 Penyebab Terjadinya Fraud

Menurut IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) dalam “Standar


Audit Seksi 316 : Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit
Laporan Keuangan” (2001), penyebab terjadinya fraud ialah:

1. Suatu tekanan atau suatu dorongan untuk melakukan


kecurangan,
2. Suatu peluang yang dirasakan ada untuk melaksanakan
kecurangan.

19
Meskipun tekanan dan peluang khusus untuk terjadinya
kecurangan dalam laporan keuangan dapat berbeda dari

kecurangan melalui perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva,


dua kondisi tersebut biasanya terjadi di kedua tipe kecurangan
tersebut. Sebagai contoh, kecurangan dalam pelaporan keuangan
dapat dilakukan karena manajemen berada di bawah tekanan untuk
mencapai target laba yang tidak realistik. Perlakuan tidak
semestinya terhadap aktiva dapat dilakukan karena individu yang
terlibat hidup di luar batas kemampuannya. Peluang dirasakan ada
jika seorang individu yakin bahwa ia dapat menghindari
pengendalian internal.

Gambar 2.2 Fraud Triangle

Menurut CIMA (Chartered Institute of Management


Accountants) dalam “Fraud Risk Management: A Guide to Good
Practice”, penyebab fraud digambarkan dalam fraud triangle
seperti pada gambar 2.2, yakni:

1. Pressure adalah dorongan/motivasi yang menyebabkan


seseorang melakukan fraud,. Pada umumnya yang mendorong
terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi
banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan. Contoh:
hutang atau tagihan yang menumpuk, kebutuhan mendadak

20
seperti: anak sakit, gaya hidup mewah (borjuis),
ketergantungan narkoba, dan sebagainya.

2. Opportunity adalah peluang atau kesempatan yang


memungkinkan dan mendukung terjadinya fraud. Biasanya
disebabkan karena internal control suatu organisasi yang
lemah, peraturan yang kurang jelas/ ambigu (grey area),
kurangnya pengawasan, dan/atau terjadinya penyalahgunaan
wewenang. Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity
merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk
diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control
dan upaya deteksi dini terhadap fraud.

3. Rationalization: Pelaku mencari pembenaran atas tindakan


yangdilakukannya, atau pelaku yang merasa bahwa tindakan
yang sudah dilakukannya benar, padahal kenyataannya tidak
benar. Biasanya mereka akan mencari pembenaran dari
tindakannya karena takut dan malu apabila tindakannya
diketahui atau tertangkap.misalnya:

- Bahwasanya tindakannya dilakukan untuk kepentingan dan


keuntungan perusahaan (necessary).

- Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya


berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan
sekarang, seperti: posisi, gaji, promosi, dll.( ‘I deserved it’
atau ‘I was mistreated).

- Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat


besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian
sedikit dari keuntungan tersebut (large enough to absorb the
impact).

2.1.9.5 Skema Fraud

21
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)
membagi fraud berdasarkan 3 kelompok berikut ini:

1. Fraud terhadap aset (Asset Misappropriation)


Penyalahgunaan aset perusahaan/ lembaga, baik hal itu
terjadi akibat dicuri ataupun digunakan untuk keperluan pribadi
tanpa izin dari perusahaan. Terdapat 2 bentuk fraud terhadap aset,
yaitu:
- Cash Misappropriation, yakni penyelewengan terhadap aset
berupa kas.
Terdiri dari:
a) Theft on Cash on Hand, yakni pengambilan uang yang
sudah adda di perusahaan secara langsung.
b) Theft of Cash Receipt, yakni pengambilan uang atas
penerimaan dan pemasukan ke perusahaan. Contoh:
Skimming, yaitu penjarahan sebelum uang secara fisik
masuk ke perusahaan (lapping).
c) Fraudulent Disbursement, yakni kecurangan kas
berkenaan dengan pelaporan keuangan, contohnya:
1) Billing Schemes, yakni menggunakan proses billing
atau pembebanan tagihan.
2) Payroll Schemes, yakni pembayaran gaji.
3) Expense Reimbursement Schemes, yakni
pembayaran kembali biaya-biaya, contoh: biaya
perjalanan.
4) Check Tampering, yakni pemalsuan cek.
5) Register Disbursement, yakni pengeluaran cash
yang sudah masuk ke cash register.
- Non Cash Misappropriation, yakni penyelewengan terhadap
aset berupa non kas.
Terdiri dari:

22
a) Misuse, yakni penyalahgunaan pemakaian barang,
contoh: pemakaian mobil kantor untuk liburan keluarga,
menggunakan telepon kantor untuk keperluan pribadi.
b) Larceny, yakni pencurian atau pengambilan barang
perusahaan.
2. Fraud terhadap Laporan Keuangan (Fraudulent Statement)
Tindakan yang dilakukan pejabat/eksekutif suatu
perusahaan untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya
dengan melakukan rekayasa keuangan dalam penyajian laporan
keuangan untuk memperoleh keuantungan, biasa disebut dengan
window dressing.
Cara yang dilakukan:
- Menyajikan asset atau pendapatan lebih tinggi dari yang
sebenarnya (asset/revenue overstatement), bentuknya:
a) Timing Difference, yakni mencatat waktu transaksi
lebih awal dengan waktu transaksi sebenarnya.
b) Fictious Revenue, yakni menciptakan pendapatan yang
sebenarnya tidak ada (fiktif).
c) Cancelled Liabilities/Expenses, yakni menyembunyikan
dan menghilangkan kewajiban dan beban perusahaan
agar laporan keuangan terlihat bagus.
d) Improper Disclosure, yakni tidak melakukan
pengungkapan atas laporan keuangan secara cukup
untuk menyembunyikan kecurangan.
e) Improper Asset Valuation, yakni melakukan penilaian
yang tidak wajar terhadap aset perusahaan.
- Menyajikan asset atau pendapatan lebih rendah dari yang
sebenarntya (asset/revenue understatement), bentuknya:
a) Timing Difference, yakni mencatat waktu transaksi
lebih awal dengan waktu transaksi sebenarnya.

23
b) Understated Revenues, yakni mencatat nilai pendapatan
lebih rendah.
c) Overstated Liabilities/Expenses, yakni mencatat utang
dan beban lebih tinggi dari sesungguhnya.
3. Korupsi (Corruption)
Tindakan fraud yang menyangkut kerjasama dengan pihak
lain. Fraud jenis ini seringkali tidak dapat dideteksi karena pihak
yang bekerjasama sama-sama menikmati keuntungan (simbiosis
mutualisme).
Terdiri dari:
- Konflik kepentingan (Conflict of Interest)
Adanya benturan dengan kepentingan ekonomi atau
kepentingan pribadi yang tersembunyi dalam suatu transaksi
yang berkaitan dengan perusahaan.
- Penyuapan (Bribery)
Suatu tindakan penyuapan yang bertujuan untuk
mempengaruhi tindakan/keputusan yang dibuat oleh karyawan.
- Pemerasan Ekonomi (Economic Extortion)
Tekanan atau pemaksaan yang dilakukan oleh pihak
tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.
- Gratifikasi Ilegal (Illegal Gratitutes)
Seperti halnya penyuapan, namun tidak dimaksudkan
untuk mempengaruhi keputusan yang akan dibuat, tetapi suatu
imbalan yang diberikan karena telah membuat keputusan yang
menguntungkan.
2.1.9.6 Pelaku Fraud

Menurut CIMA (Chartered Institute of Management


Accountants) dalam “Fraud Risk Management: A Guide to Good
Practice”, pelaku fraud termasuk ke dalam salah satu dari 3
kategori yaitu:

24
1. Pre-planned Fraudsters, yaitu pelaku yang telah merencanakan
sebelumnya, memang dari awal sudah berniat melakukan
kecurangan. Biasa dilakukan oleh pelaku jangka pendek (short-
term), seperti memakai kartu kredit curian, atau bisa juga
untuk pelaku jangka panjang (long term), seperti melakukan
skema pencucian uang yang kompleks.
2. Intermediate Fraudsters, yaitu pelaku fraud yang awalnya
memulai dengan jujur, namun karena adanya tekanan akhirnya
melakukan kecurangan. Tekanan yang dimaksud adalah seperti:
butuh untuk pengobatan anggota keluarga, tidak dipromosi
jabatan, atau saat sedang menghadapi kesulitan keuangan.
3. Slippery-Slope Fraudster, yaitu pelaku fraud yang tetap
melakukan kegiatan perdagangan walaupun mereka tidak
dalam posisi untuk membayar hutang-hutang mereka. Biasanya
fraud ini dilakukan oleh pedagang biasa atau pebisnis besar.
2.1.9.7 Peringatan Fraud

Menurut CIMA (Chartered Institute of Management


Accountants dalam “Corporate Fraud : Topic Gateway Series No.
57” (2009), menyebutkan bahwa peringatan atas terjadinya fraud
dapat digambarkan dalam kejadian yang spesifik, atau dikenal
sebagai red flags1 yang mengindikasikan kemungkinan terjadinya
fraud, yakni:

1. Terjadi perbedaan antara pendapatan dengan gaya hidup, yakni


biaya gaya hidup melebih dari pendapatannya.
2. Terdapat dokumen fotokopi pada tempat untuk dokumen asli.
3. Terlewatnya persetujuan dan tanda tangan untuk otorisasi.
4. Pencatatan akuntansi dengan akun yang janggal dan aneh.

1
Menurut IIA (The Institute of Internal Auditors), red flag ialah suatu keadaan yang tidak biasa,
dan janggal dari aktivitas normal. Ini adalah pertanda bahwa terdapat hal yang terjadi di luar
kebiasaan, dan mungkin membutuhkan investigasi tambahan.

25
5. Terjadi kesalahan yang jumlahnya relatif besar saat melakukan
login.
6. Penggunaan yang luas terhadap suspense accounts2.

2.1.10 Pengendalian Internal

Menurut Mark G. Simkin, Jacob M. Rose, dan Carolyn S. Norman


(2012), pengendalian internal ialah kebijakan, perencanaan, dan prosedur
yang diimplementasikan dari manajemen dalam suatu organisasi, untuk
menjaga aktiva organisasi, memastikan akurasi dan kelengkapan dalam
informasi keuangan, dan untuk mencapai tujuan bisnis.

Menurut Marshall B. Romney dan Paul J. Steinbart (2012),


pengendalian internal ialah sistem yang menyediakan keyakinan yang
wajar atas sebuah tujuan, seperti menjaga aktiva perusahaan, menjaga
pencatatan dan pelaporan akurat, menyediakan informasi yang akurat dan
dapat dipercaya, mempromosikan efisiensi, sesuai dengan hukum dan
regulasi yang berlaku, menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan
ketetapan yang berlaku, dan mendorong kepatuhan terhadap kebijakan
manajerial yang ditentukan.

Menurut AICPA (American Institute of Certified Public Auditor),


pengendalian internal ialah sebuah proses yang dipengaruhi oleh
perencanaan manajemen dan personil lainnya,dan yang dibebankan kepada
pemerintahan, dan dirancang untuk menyediakan keyakinan yang
ditetapkan mengenai tujuan atas pencapaian dalam laporan keuangan yang
dapat dipercaya.

2.1.10.1 Tujuan Pengendalian Internal

Tujuan dari dilakukannya pengendalian internal menurut


AICPA (American Institute of Certified Public Auditor) antara lain:

2
Menurut www.accountingcoach.com, suspense account ialah akun yang digunakan sementara
waktu ketika terdapat nama akun yang sulit untuk ditentukan ketika transaksi terjadi. Ketika akun
sudah ditentukan, maka suspense account akan dikeluarkan dari pencatatan.

26
1. Safeguard assets, yakni ketika pengendalian internal berjalan
dengan baik, maka akan menurunkan resiko atas kehilangan
aktiva perusahaan.
2. Ensure accuracy and reliability, yakni ketika pengendalian
internal berjalan dengan baik, maka dapat membantu
memastikan bahwa informasi akuntansi yang dilaporkan ialah
informasi yang akurat dan dapat dipercaya.
3. Promote efficiency, yakni pengendalian internal yang
dilakukan oleh perusahaan akan menghasilkan hasil dengan
penggunaan sumber daya yang optimal, yakni dengan
mengurangi kecurangan yang dapat terjadi.
4. Measure compliance, yakni ketika pengendalian internal
berjalan dengan baik, maka kegiatan operasi perusahaan yang
dijalankan akan sesuai dengan ketetapan atas regulasi dan
hukum yang berlaku.
2.1.10.6 Keterbatasan dari Pengendalian Internal

Menurut James A. Hall (2013), dalam pengendalian


internal terdapat pula limitasi atau keterbatasan dari pengendalian
internal, yakni:

1. The possibility of error, yakni sebaik - baiknya sistem


dirancang, pasti tetap ada kemungkinan terjadi kesalahan.
2. Circumvention, yakni anggota organisasi dapat mematahkan
sistem yang telah dirancang dengan berbuat kolusi3.
3. Management override, yakni pihak manajemen dapat
mengindahkan prosedur pengendalian dengan
memutarbalikkannya sendiri, atau dengan mengarahkan
bawahan untuk melakukannya.

3
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kolusi didefinisikan sebagai kerja sama rahasia untuk
maksud tidak terpuji; persekongkolan.

27
4. Changing controls, yakni perubahan kondisi dapat terjadi setiap
saat sehingga pengendalian yang ada menjadi tidak efektif.

Menurut Jerry J. Weygandt, Paul D. Kiemel, dan Donald E.


Kieso (2016), terdapat 3 kelemahan atas pengendalian internal,
yakni:

1. Biaya yang dikeluarkan atas pengendalian internal tidak boleh


melebihi dari perkiraan atas manfaat yang akan diberikan
kepada perusahaan.
2. Elemen manusia ialah faktor penting dalam setiap
pengendalian internal. Sistem sebaik apaun itu dapat menjadi
tidak efektif akibat kelelahan yang dialami karyawan,
kecerobohan, dan sikap acuh tak acuh. Salah satunya ialah
kolusi yang dapat secara drastis akan menurunkan keefektifan
dari sistem, dan menghapus secara langsung perlindungan atas
pemisahan tugas yang telah diterapkan.
3. Ukuran dari suatu bisnis juga menjadi beban tersendiri dalam
pengendalian internal. Semakin besar suatu bisnis, maka
pengendalian internal akan harus diperketat. Namun bisnis
yang terlalu kecil akan mempersulit pengendalian internal,
seperti sulitnya dilakukan pemisahan tugas dikarenakan jumlah
pegawai terlalu sedikit dan profitabilitas masih rendah sehingga
belum dapat menambah pegawai.
2.1.10.7 Eksposur atas Kelemahan Pengendalian Internal

Eksposur ialah kelemahan dan tidak adanya pengendalian.


Akibat dari munculnya eksposur ialah meningkatnya resiko
perusahaan akan kerugian finansial ataupun kerusakan dari
peristiwa yang tidak diinginkan. Suatu kelemahan dalam
pengendalian internal dapat mengekspos perusahaan pada satu atau
lebih dari jenis – jenis resiko sebagai berikut:

28
1. Destruction, yakni perusakan aktiva yang dimiliki perusahaan
(baik aktiva fisik ataupun aktiva informasi).
2. Theft, yakni pencurian atas aktiva perusahaan.
3. Corruption, dalam hal ini ialah korupsi dari informasi atau
sistem informasi.
4. Disruption, yakni kekacauan dalam sistem informasi
2.1.10.8 Lapisan Pengendalian Internal

Dalam lapisan pengendalian internal, terdapat 3 fungsi


pengendalian, yakni:

1. Pengendalian yang bersifat preventif, yakni bagian lapisan


pertama dari pengendalian internal. Tujuannya ialah mencegah
terlebih dahulu kemungkinan – kemungkinan atas kejadian
yang tidak diinginkan yang dapat terjadi sewaktu - waktu.
2. Pengendalian yang bersifat detektif, yakni bagian lapisan kedua
dari pengendalian internal. Apabila suatu pengendalian internal
sudah mulai “terlubangi” dengan kejadian yang tidak
diinginkan, maka langkah selanjutnya ialah memeriksa
kejadian apa yang telah terjadi yang menyebabkan lapisan
preventif dapat terhindar oleh kejadian tersebut.
3. Pengendalian yang bersifat korektif, yakni tindakan yang
diambil untuk menindaklanjuti pengaruh dari kesalahan yang
dideteksi pada lapisan sebelumnya, dimana akan dilakukan
perbaikan atas kesalahan yang telah terjadi.
2.1.10.9 Komponen Pengendalian Internal

Menurut COSO (The Committee of Sponsoring


Organizations of the Treadway Commission) dalam “Internal
Control – Integrated Framework” (2008), menyebutkan bahwa
terdapat 5 komponen utama dalam pengendalian internal, yakni:

29
1. A control environment, yakni tanggungjawab dari manajemen
atas untuk memperjelas bahwa organisasi menghargai integritas
dan tidak akan mentolerir segala tindakan yang melawan etika.
Komponen ini juga disebut sebagai “tone at the top”.
2. Risk assessment, yakni perusahaan harus mengidentifikasi dan
menganalisa berbagai faktor yang dapat menciptakan resiko
dalam bisnis, dan harus mengetahui bagaimana cara mengelola
resiko ini.
3. Control activities, yakni mengurangi terjadinya fraud,
manajemen harus menrancang kebijakan dan prosedur untuk
mengatasi resiko yang tengah dihadapi oleh perusahaan.
4. Information and communication, yakni sistem pengendalian
internal harus mengkomunikasikan seluruh informasi yang
bersangkutan, seperti mengkomunikasikan informasi kepada
pihak eksternal.
5. Monitoring, yakni sistem pengendalian internal harus
mengawasi secara periodik agar seluruh hal tercukupi.
Kekurangan yang signifikan perlu dilaporkan pada pihak
manajemen tingkat atas, seperti jajaran direktur.
2.1.10.10 Isu Kontrol dari Aktivitas Pengendalian
Internal

Terdapat 6 jenis isu kontrol dari kegiatan pengendalian,


yakni:

1. Otorisasi transaksi, yakni dimana memastikan bahwa seluruh


jenis transaksi yang bersifat material yang diproses oleh sistem
informasi perusahaan harus sah dan sesuai dengan tujuan
manajemen.
2. Pemisahan tugas, yakni suatu aktivitas dalam sistem
pengendalian internal yang berfokus pada penataan struktur
tugas kerja di antara para pekerja, sehingga satu pekerjaan

30
karyawan berfungsi sebagai pemeriksa pada aktivitas kerja
karyawan lainnya.
3. Supervisi, yakni kegiatan pengendalian internal yang
mengawasi secara kritis atas kinerja dari pegawai. Umumnya
bisa dijadikan sebagai kompensasi akibat sulitnya pemisahan
tugas.
4. Record akuntansi, yakni pencatatan atas setiap transaksi
keuangan haruslah menyediakan pula jejak audit yang baik.
5. Akses kontrol, yakni memastikan bahwa pihak yang
terotorisasi saja yang diperbolehkan mendapatkan akses atas
aktiva perusahaan.
6. Verifikasi independen, yakni pemeriksaan independen atau
tidak terikat terhadap sistem akuntansi untuk mengidentifikasi
kesalahan dan kesalahan representasi.

2.1.11 Siklus Pengembangan Sistem Informasi Akuntansi

2.1.11.1 Tahap Perencanaan Sistem

Menurut Hendro Lukman dan I Cenik Ardana (2016),


perencanaan dan pengembangan sistem informasi akuntansi
dikondisikan menjadi 2, yakni:

2. Mengembangkan sistem informasi akuntansi yang sudah ada.


3. Merancang dan mengembangkan sistem informasi akuntansi
baru.

Dalam pengembangan sistem informasi akuntansi, langkah


yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasikan kebutuhan informasi bagi manajemen.


2. Sesuaikan dengan visi, dan misi perusahaan.
3. Mengidentifikasi sistem informasi akuntansi yang berlaku saat
ini.

31
4. Mengevaluasi sistem informasi akuntansi yang berlaku saat ini.
5. Mengusulkan beberapa alternatif sistem informasi akuntansi
baru.
6. Menetapkan sistem informasi akuntansi dari alternatif baru.
3.1.11.2 Kegagalan Pengembangan Sistem

Menurut Hendro Lukman dan I Cenik Ardana (2016),


terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan dalam
pengembangan suatu sistem, antara lain:

1. Kurang keterlibatan pemakai (users)


Kegagalan sering terjadi karena tugas perancangan sistem
hanya dilakukan oleh mereka yang dianggap pakar (analis sistem,
programmer) tanpa melibatkan para pemakai informasi (khususnya
pimpinan puncak). Apa yang dihasilkan oleh sistem informasi
ternyata tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh para
pemakai informasi.
2. Kurangnya koordinasi antara akuntan manajemen (manajer
akuntansi suatu perusahaan) dengan para perancang sistem
(system analyst, programmer)

Sering terdapat kesenjangan dan perbedaan persepsi dan


pemahaman antara akuntan manajemen dengan perancangan sistem.
Akuntan lebih memahami disiplin ilmu akuntansi namun seringkali
kurang memahami latar belakang teknologi informasi (komputer
dan perangkat jaringannya), sebaliknya para perancang sistem
lebih menguasai teknologi informasinya namun kurang memahami
disiplin akuntansinya. Bila koordinasi antara akuntan dengan
perancang sistem kurang efektif, maka besar kemungkinan sistem
informasi yang dirancang juga kurang efektif.

3. Kurangnya komitmen (pendanaan) dari manajemen puncak

32
Sering terjadi bahwa para pimpinan puncak suatu
perusahaan pada awalnya secara menggebu-gebu mendukung
pengembangan suatu sistem informasi baru, namun pada saat para
perancang sistem mengemukakan usulan pendanaan untuk
mendukung sistem baru tersebut, semangat dan komitmennya
menjadi kendor, atau kalaupun masih mendukung, mereka ini
meminta pemotongan rencana biaya secara signifikan. Tanpa
dukungan dana yang memadai tentu saja sistem menjadi tidak
efektif.

4. Meneruskan proyek yang seharusnya sudah dibatalkan

Seringkali dijumpai para pengambil keputusan (pimpinan


puncak) terburu-buru membeli perangkat komputer tanpa melalui
suatu kajian dan tahapan siklus pengembangan yang seksama. Oleh
karena investasi sudah terlanjur diadakan maka kajian lebih lanjut
untuk kemungkinan aplikasi perangkat keras tersebut terkesan
dipaksakan. Akibatnya, banyak dijumpai bahwa perangkat keras
yang telah dibeli tersebut menjadi mubasir, atau aplikasi sistem
menjadi tidak optimal.

5. Kegagalan integrasi sistem

Pengembangan suatu sistem secara sebagian-sebagian, atau


pengembangan sistem oleh kelompok yang berbeda pada masing-
masing bagian/departemen bisa berakibat sistem secara
keseluruhan menjadi tidak terintegrasi dan dapat mengakibatkan
timbulnya inefisiensi. Contoh yang sederhana, misalnya
bagian/kelompok yang mengembangkan perangkat lunak buku
besar dibagian akuntansi (software general ledger) berbeda dengan
bagian/kelompok yang mengembangkan sistem administrasi
persediaan barang di gudang. Hal ini bisa berakibat tidak adanya
sinkronisasi dan integrasi yang menyangkut perangkat keras,

33
perangkat lunak (software), basis data, dan informasi yang
dihasilkan dari kedua sistem aplikasi tersebut.

6. Membeli aplikasi yang sudah jadi (package software)

Perusahaan (user) seringkali tergiur oleh penawaran


package software yang sudah jadi oleh perusahaan pemasok
(software supplier), apalagi perusahaan software tersebut dengan
meyakinkan menjanjikan dapat memodifikasi software tersebut
sesuai dengan kebutuhan perusahaan. pada kenyataannya
seringkali software tersebut tidak sepenuhnya dapat memenuhi
kebutuhan/sifat spesifik yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

2.2 Kerangka Pemikiran

Aktivitas operasional perusahaan yang digambarkan dalam suatu siklus


transaksi, dimana terdapat siklus pengeluaran, siklus konversi, dan siklus
pendapatan. Apabila terdapat gangguan pada salah satu bagian dari siklus
transaksi, maka tentu akan memberikan pengaruh pada kinerja perusahaan, dan
dapat menyebabkan terjadinya inefisiensi dan inefektivitas. Gangguan ini dapat
terjadi akibat munculnya fraud dalam perusahaan.

Fraud dapat terjadi apabila pengendalian internal perusahaan lemah, dan


memungkinkan untuk para pelaku fraud yang dikenal sebagai fraudster untuk
melakukan fraud. Adanya kesempatan dan niat untuk berbuat curang dari pelaku,
dan lemahnya moral dari pelaku, disertai dengan lemahnya pengendalian internal
membuat fraudster dapat menjalankan kecurangannya. Oleh karena itu, diperlukan
perancangan atas sistem informasi akuntansi, serta dilakukannya analisa – analisa
terhadap berbagai kelemahan atas pengendalian internal yang dimiliki oleh
perusahaan guna memperkuat pengendalian internal perusahaan, meminimalisir
segala bentuk kecurangan yang dapat dilakukan perusahaan.

Selain meminimalisir terjadinya fraud, manfaat lain dari perancangan


sistem informasi akuntansi ini juga bertujuan untuk menambah akurasi, kecepatan,

34
dan ketepatan waktu dari setiap data yang diperoleh, sehingga dapat menghasilkan
data yang berkualitas yang akan juga menghasilkan informasi yang berkualitas.
Sistem yang dilakukan secara manual tentu akan menghasilkan kualitas data dan
informasi yang lebih rendah ketimbang sistem terkomputerisasi yang memiliki
kecepatan, akurasi, dan ketepatan waktu yang lebih baik.

Perancangan sistem informasi akuntansi akan dimulai dari pembuatan


kembali struktur organisasi, penggambaran kembali siklus perusahaan dalam
bentuk data flow diagram dan flowchart, serta analisa atas berbagai kelemahan
pengendalian internal, isu kontrol, dan analisa atas fraud yang telah terjadi dalam
perusahaan.

35
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Profil Perusahaan

Kedai Soematra ialah suatu usaha berbentuk persekutuan yang bergerak


dalam bidang kuliner, dimana spesialis dalam kuliner dari Pulau Sumatra,
terutama untuk kuliner berasal dari Kota Medan, Sumatra Utara. Kedai Soematra
memfokuskan pada harga murah, namun enak dan sesuai dengan lidah masyarakat
perkotaan, maupun yang berasal dari daerah. Kedai Soematra beroperasi dari
pukul 07.00 sampai dengan pukul 17.00 setiap harinya. Lokasi dari Kedai
Soematra ialah Ruko Crystal 1, Jalan Gading Golf Boulevard No. 9, Gading
Serpong, Tangerang, Banten.

3.2 Analisa Struktur Organisasi

3.2.1 Struktur Organisasi Lama

Partner

Manager

Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian


Pembukuan dan Pergudangan dan Produksi
Penjualan Pembelian

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Restoran Kedai Soematra Lama

3.2.2 Deskripsi Pekerjaan Struktur Organisasi Lama

1. Partner

36
 Mengangkat dan pemberhentikan manajer dan
bawahannya.
 Menetapkan garis besar kegiatan persekutuan.
 Memberikan nasihat terhadap bawahannya.
 Menentukan besaran gaji dan upah terhadap
bawahannya.
 Melakukan keputusan yang bersifat strategis.
2. Manager
 Mengawasi jalannya perusahaan.
 Mewakili partner apabila partner berhalangan.
 Mengarahkan jajaran di bawahnya.
3. Kepala Bagian Pembukuan dan Penjualan
 Membuat pembukuan.
 Menerima pemesanan.
 Menerima uang dan memasukannya dalam laci kasir.
4. Kepala Bagian Pergudangan dan Pembelian
 Membeli bahan baku dari supplier.
 Menerima bahan baku yang telah sampai dari supplier.
 Mengambil bahan baku dari gudang untuk produksi.
5. Kepala Bagian Produksi
 Melakukan persiapan bahan baku untuk diolah menjadi
barang jadi.
 Memastikan barang jadi sesuai dengan standar yang ada.

3.2.3 Analisa Terhadap Struktur Organisasi Lama

Pada struktur organisasi yang lama, terjadi berbagai masalah yang


cukup serius mengenai isu – isu kontrol dalam aktivitas pengendalian fisik,
antara lain:

1. Pemisahan tugas

37
Pada struktur organisasi yang lama, banyak sekali tugas – tugas
yang digabungkan dalam 1 pihak yang sama, padahal seharusnya
dipisahkan satu sama lain. Dalam hal ini, restoran perlu melakukan
pemisahan tugas pada departemen – departemen yang ada, yakni:

 Bagian penjualan harus dipisahkan dari bagian pembukuan dan


bagian kasir. Ini dikarenakan pihak yang melakukan transaksi,
mengotorisasi, menyimpan harta, dan yang mencatat harta
harus dipisahkan, guna mencegah penyalahgunaan wewenang
yang memungkinkan sekali untuk terjadi fraud. Dalam hal ini,
pihak penjualan dan pembukuan dapat melakukan kecurangan
dengan melakukan korupsi, dan membuat pencatatan yang
tidak sesuai dengan fakta transaksi yang terjadi.
 Bagian pembelian harus dipisahkan dari bagian pergudangan,
dan bagian penerimaan. Ini dikarenakan pihak yang melakukan
transaksi pembelian, melakukan pengawasan atas persediaan,
dan yang melakukan penerimaan bahan baku harus dipisahkan.
Dalam hal ini, pihak pembelian dapat melakukan pembelian
fiktif, ataupun dapat menyalahgunakan wewenangnya untuk
melakukan korupsi atas pembelian bahan baku.
2. Verifikasi independen

Pada struktur organisasi lama, segala bentuk transaksi yang telah


terjadi dan tercatat tidak dilakukan verifikasi oleh pihak yang independen,
sehingga diperlukan pemeriksaan oleh internal auditor, dimana internal
auditor bertugas untuk melakukan pengawasan, pemeriksaan secara
berkala, membuat laporan audit untuk diberikan kepada pihak partner,
agar partner dapat memberikan keputusan atas hasil audit dari internal
auditor.

3. Supervisi

38
Manajer ialah selaku pengawas dari seluruh jalannya kegiatan
operasional restoran, dan yang bertanggung jawab atas segala hal yang
terjadi dalam perusahaan. Selain manajer, internal auditor juga ialah
selaku pegawas dan pemeriksa independen pula atas segala kegiatan yang
terjadi dalam restoran, dan memastikan bahwa kegiatan operasional
perusahaan telah berjalan dengan baik.

4. Pencatatan akuntansi

Pencatatan akuntansi yang dilakukan oleh restoran harus terpisah


dari penyimpan harta, dan pelaku transaksi, sehingga hasil pencatatan
akuntansi dapat dipercaya (reliabel), tepat waktu, dan dapat menghasilkan
laporan keuangan yang wajar.

5. Otorisasi transaksi

Segala transaksi yang melibatkan pengeluaran kas, jika perlu


dilakukan otorisasi oleh pihak partner, seperti pembelian bahan baku,
pembelian aset tetap, reparasi dan pemeliharaan aset tetap restoran.
Namun untuk pengeluaran yang kecil, dapat dibuatkan dana kas kecil yang
dibatasi jumlah penggunaannya guna mencegah penyalahgunaan kas
restoran, serta setiap penggunaan perlu disertakan dengan bukti transaksi.

6. Kontrol akses

Dilakukan pembatasan atas akses dari tiap pihak yang terdapat


pada restoran, guna menjaga keamanan dari aset, dan mencegah fraud
dapat terjadi melalui penekanan pada kesempatan yang dapat terjadi:

 Hanya pihak gudang yang diperbolehkan untuk melakukan


akses terhadap persediaan gudang.
 Hanya pihak penjualan yang berhak dalam menjalankan
transaksi penjualan.

39
 Hanya pihak kasir yang berhak dalam memegang kas
perusahaan, serta berhak untuk mengeluarkan dan memasukkan
kas sesuai ketentuan yang berlaku.
 Hanya pihak pembelian yang berhak untuk mengadakan
pembelian bahan baku, yang disertai dengan otorisasi oleh
pihak partner.
 Hanya pihak penerimaan yang berhak untuk menerima barang
dagang, dan memeriksanya sebelum barang dimasukan dalam
restoran.
 Hanya pihak produksi yang berhak atas menjalankan proses
produksi, sesuai ketentuan yang berlaku.
 Hanya pihak akuntansi yang berhak untuk melakukan
pencatatan atas setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan.

3.2.4 Struktur Organisasi Baru

Partner

Manager

Internal Auditor

Kepala Kepala Kepala Kepala Kepala Kepala Kepala


Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian
Akuntansi Kasir Gudang Pembelian Penjualan Produksi Penerimaan
n
Gambar 3.2 Struktur Organisasi Baru

3.2.5 Deskripsi Pekerjaan atas Struktur Organisasi Baru

1. Partner
 Mengangkat dan pemberhentikan manajer, internal
auditor, dan bawahannya.
 Menetapkan garis besar kegiatan persekutuan.

40
 Memberikan nasihat terhadap bawahannya.
 Menentukan besaran gaji dan upah terhadap
bawahannya.
 Melakukan keputusan yang bersifat strategis.
 Melakukan otorisasi atas transaksi yang terjadi dalam
perusahaan, bila diperlukan.
 Menetapkan sanksi dan penghargaan kepada pegawai
persekutuan.
 Menentukan keputusan atas hasil audit internal
perusahaan yang dilaporkan oleg internal auditor.
 Melakukan persetujuan atas setiap pengajuan yang
melibatkan pengeluaran kas, jika diperlukan.
2. Manager
 Mengawasi jalannya perusahaan.
 Mewakili partner apabila partner berhalangan.
 Mengarahkan jajaran di bawahnya.
 Membuat laporan kepada partner.
3. Internal Auditor
 Melakukan pengawasan atas seluruh jalannya kegiatan
operasional perusahaan.
 Memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional
berjalan dengan baik.
 Melakukan pemeriksaan secara berkala dan independen
atas segala kegiatan operasional perusahaan.
 Membuat laporan audit untuk diberikan kepada pihak
partner.
4. Kepala Bagian Akuntansi
 Melaksanakan pembukuan sesuai dengan setiap
transaksi yang terjadi.
 Menyusun laporan keuangan.

41
 Melakukan perhitungan atas harga pokok.
 Memastikan sistem dan prosedur akuntansi yang
dijalankan persekutuan telah diterapkan dengan benar.
5. Kepala Bagian Kasir
 Melakukan input atas setiap transaksi yang terjadi ke
sistem.
 Menyimpan seluruh bukti penjualan yang terjadi.
 Menyerahkan kopian bukti penjualan kepada pelanggan,
dan kepada pihak akuntansi.
 Melakukan penerimaan dan penyimpanan uang.
 Menjaga keamanan atas uang perusahaan.
6. Kepala Bagian Pergudangan
 Mengambil bahan baku dari gudang untuk produksi.
 Melakukan pencatatan dalam bentuk kartu stok atas
setiap mutasi bahan baku.
 Memeriksa kualitas dari bahan baku yang diterima.
 Melakukan perhitungan fisik secara berkala.
7. Kepala Bagian Pembelian
 Melakukan pembelian bahan baku sesuai kebutuhan
perusahaan.
 Melakukan seleksi dan memilih supplier bahan baku.
 Merencanakan pembelian bahan baku, dan keperluan
persekutuan lainnya.
8. Kepala Bagian Penjualan
 Melakukan pengawasan atas segala bentuk penjualan.
 Melakukan pengiriman atas pesanan pelanggan.
 Menerima pesanan dari pelanggan, dan melayani
pesanan pelanggan.
 Memperkenalkan produk baru terhadap pelanggan.
 Memastikan kepuasan dari pelanggan.

42
 Membina hubungan baik dengan pelanggan.
9. Kepala Bagian Produksi
 Melakukan persiapan bahan baku untuk diolah menjadi
barang jadi.
 Memastikan kualitas barang jadi sesuai dengan standar
yang ada.
 Melakukan perawatan atas aset tetap untuk produksi.
10. Kepala Bagian Penerimaan
 Melakukan penerimaan atas bahan baku dan barang
yang dipesan restoran.
 Melakukan pemeriksaan fisik dan perhitungan fisik
terhadap barang, sebelum barang masuk ke dalam
restoran.
 Membuat pelaporan atas barang apapun yang diterima
restoran.

3.3 Siklus Transaksi

3.3.1 Siklus Penerimaan

3.3.1.1 Prosedur

Berikut ini ialah prosedur penerimaan pesanan dalam siklus


penerimaan Restoran Kedai Soematra yang diterapkan saat ini:

1. Sebagian besar pesanan dilakukan secara tunai dikarenakan


pemesanan umumnya ialah makan di tempat (dine in), dan
dibawa pulang (take away), dan sebagian kecil pesanan
dilakukan dengan membayar uang muka terlebih dulu atas
pemesanan dengan jumlah banyak dan dikirim (delivery).
2. Seluruh pemesanan diterima oleh pihak pelayan, lalu atas
pesanan tersebut akan diinformasikan kepada pihak kasir untuk
ditagih pembayarannya kepada pelanggan.

43
3. Pihak kasir tidak menulis nota atas setiap penjualan yang
terjadi.
4. Harga jual didasarkan pada perkiraan semata tanpa perhitungan
atas biaya produksi yang jelas.
5. Pihak pelayan akan memeriksa ketersediaan masakan yang ada,
apabila sudah sisa sedikit, maka pihak pelayan akan langsung
memberitahukan kepada pihak produksi.
6. Pencatatan dilakukan sebelum jam tutup, dengan cara
melakukan perhitungan atas uang yang terima selama transaksi
yang terjadi pada hari tersebut. Pencatatan dilakukan hanya
memuktahirkan saldo kas saja, dikarenakan digunakan basis
kas.
7. Pesanan berstatus delivery akan diproses kurang lebih 3 jam
sebelum dikirimkan.
8. Terkadang pesanan mengalami keterlambatan dalam
pengiriman.
9. Pihak restoran terkadang meminta salah satu pegawainya untuk
mengirimkan pesanan kepada pelanggan, namun terkadang
menggunakan transportasi berbasis aplikasi untuk
pengirimannya.
10. Pengiriman dalam bentuk apapun tidak tercatat oleh pihak
restoran.

Berikut ini ialah prosedur penagihan dan penerimaan hasil


tagihan dalam siklus penerimaan Restoran Kedai Soematra yang
diterapkan saat ini:

1. Apabila penjualan dilakukan dengan pesanan berstatus makan


di tempat, dan dibawa pulang, maka pembayaran harus
dilakukan secara tunai.
2. Apabila penjualan dilakukan dengan cara delivery, maka pihak
pemesan wajib membayarkan 50% uang muka dari total

44
penjualan, sedangkan sisanya dibayarkan apabila sudah
dilakukan penjualan.
3. Penagihan atas penjualan berstatus delivery langsung dilakukan
pihak restoran setelah menyerahkan barang kepada pelanggan.
4. Penjualan dalam bentuk delivery tidak dibuatkan nota, kecuali
pihak pembeli meminta, dan nota tidak dibuat secara rangkap.
5. Pihak pembeli dapat melakukan pelunasan atas tagihan pesanan
berstatus delivery dengan cara transfer ke rekening restoran,
ataupun dengan cara membayar langsung kepada pihak
restoran dengan tunai secara langsung.
6. Setelah diterima bukti transfer, langsung dibuatkan pembukuan
penerimaan kas.
7. Pihak pelayan dapat menggantikan posisi pihak kasir apabila
pihak kasir tidak ada ditempat.
3.3.1.2 Analisa Prosedur Siklus Penerimaan

Dalam prosedur siklus penerimaan yang diterapkan oleh


pihak Restoran Kedai Soematra, terdapat beberapa prosedur yang
dapat menimbulkan permasalahan ke depannya. Sehingga, terdapat
prosedur – prosedur yang perlu dibenahi, antara lain:

Masalah Prosedur Rekomendasi


Terjadi kesalahan Pihak kasir tidak menulis Setiap penjualan yang
pencatatan penjualan,nilai nota atas setiap penjualan terjadi harus langsung
1 penjualan dapat lebih yang terjadi. dicatat dan di konfirmasi
ataupun kurang. kepada pembeli.
Harga jual yang Harga jual didasarkan Harus dibuat perhitungan
ditentukan belum tentu pada perkiraan semata yang jelas terhadap
memberikan keuntungan tanpa perhitungan atas seluruh biaya produksi,
2 sesuai dengan yang biaya produksi yang jelas. agar nantinya dapat
restoran inginkan atau memberikan keuntungan
bahkan dapat merugikan yang diinginkan.
pihak restoran.

45
Terkadang pesanan Pesanan berstatus Setiap pesanan berstatus
mengalami keterlambatan delivery akan diproses delivery perlu dilakukan
dalam pengiriman. kurang lebih 3 jam estimasi yang tepat atas
sebelum dikirimkan. waktu yang diperlukan
3 proses produksi, proses
pengemasan, dan proses
pengiriman.

Pencatatan akuntansi Pencatatan dilakukan Perlu dilakukan


menjadi kurang akurat, sebelum jam tutup, pencatatan dan dibuatkan
tidak tepat waktu, yang dengan cara melakukan bukti atas setiap transaksi
berpengaruh pada perhitungan atas uang yang terjadi, sehingga
4 penurunan kualitas data yang terima selama pencatatan dapat tepat
dan informasi yang transaksi yang terjadi waktu, akurat, dan dapat
dihasilkan atas pencatatan pada hari tersebut. dipercaya.
akuntansi.
Biaya pengiriman akan Pengiriman dalam bentuk Harus dibuatkan
sulit diketahui, apapun tidak tercatat oleh pencatatan atas
dikarenakan pengiriman pihak restoran. pengiriman, atau
dapat dilakukan oleh 2 dibuatkan bukti bahwa
pihak, yakni pihak terdapat pengiriman atas
5 restoran dan pihak luar, penjualan berstatus
yakni transportasi online. delivery.
Serta akan mempersulit
pemeriksaan apabila
terjadi kesalahan dalam
pengiriman.
Pelaporan keuangan akan Pencatatan dilakukan Harus mencatat
tidak sesuai dengan hanya memuktahirkan pencatatan akuntansi
prinsip akuntansi yang saldo kas saja, dengan menggunakan
berlaku, sehingga dapat dikarenakan digunakan basis akrual, agar dapat
dianggap menyesatkan. basis kas. sesuai dengan prinsip
Piutang tidak diakui saat pengakuan pendapatan.
sudah dilaksanakannya Sehingga, pelaporan
6
pekerjaan, namun belum keuangan akan sesuai
diterima pelunasannya. dengan prinsip akuntansi.
Sehingga diperlukan pula
pencatatan guna
memuktahirkan saldo
piutang usaha, dan
penjualan.
Tabel 3.1 Tabel Analisa Siklus Penerimaan : Prosedur Penerimaan Pesanan

46
Masalah Prosedur Rekomendasi
Adanya penjualan dalam Penjualan dalam bentuk Segala bentuk penjualan
bentuk delivery yang delivery tidak dibuatkan harus dibuat nota , baik
tidak tercatat dengan baik nota, kecuali pihak penjualan delivery
1 diakibatkan tidak ada pembeli meminta, dan maupun bukan delivery.
nota/nota yang dibuat nota tidak dibuat secara
tidak benar. rangkap.

Uang yang ada pada kasir Pihak pelayan dapat Pihak kasir harus selalu
dapat hilang diakibatkan menggantikan posisi
siap untuk menjaga kasir,
pihak pelayan pihak kasir apabila pihaktidak boleh ada
menggantikan posisi kasir tidak ada ditempat.penggantian posisi.
2
kasir. Karena tidak adanya
pengawasan atas keluar
dan masuknya uang pada
kasir.
Bukti transfer bisa saja Setelah diterima bukti Harus dilakukan
palsu, atau bisa saja uang transfer, langsung rekonsiliasi antara bukti
tidak masuk ke dalam dibuatkan pembukuan transfer dengan rekening
rekening, namun penerimaan kas. koran. Lalu setelah
dibuatkan pembukuan. dinyatakan bukti transfer
sah, maka bukti transfer
3 perlu diotorisasi oleh
perekonsiliasi (umumnya
dari pihak partner). Bukti
transfer yang sah dan
terotorisasi saja yang
boleh dibuatkan
pencatatan akuntansi.
Barang belum tentu Penagihan atas penjualan Pihak restoran harus
sampai pada pelanggan, berstatus delivery menerima konfirmasi
sehingga pelanggan bisa langsung dilakukan pihak berupa bukti yang telah
komplain apabila ditagih restoran setelah ditandatangan oleh
namun tidak menerima mengirimkan barang pelanggan atas
barang, dan barang kepada pelanggan. penerimaan barang dari
4 terkirim belum tentu pihak restoran, bahwa
sama dengan yang akan barang telah diterima, dan
ditagih oleh pelanggan, jumlah barang yang
sehingga penerimaan kas diterima sesuai dengan
dapat lebih atau kurang yang akan ditagih.
dari yang ditagih.
Tabel 3.2 Tabel Analisa Siklus Penerimaan : Prosedur Penerimaan Kas

47
3.3.1.3 Diagram Alir atas Siklus Penerimaan

Gambar 3.3 Diagram Alir Prosedur Penerimaan Pesanan

Gambar 3.4 Diagram Alir Prosedur Penerimaan Kas

48
3.3.1.4 Flowchart atas Siklus Penerimaan

Gambar 3.5 Flowchart Siklus Penerimaan : Prosedur Penerimaan Pesanan

Keterangan:

Menyiapkan Styrofoam = Menyiapkan order dengan wadah styrofoam.

Menyiapkan Piring = Menyiapkan order dengan wadah piring.

DP = Down Payment, pembayaran di muka.

49
OL = Online Transportation, angkutan masal berbasis online.

Gambar 3.6 Flowchart Siklus Penerimaan Kas : Prosedur Penagihan dan


Penerimaan Hasil Tagihan

3.3.1.5 Rancangan Ulang Flowchart atas Siklus Penerimaan

50
Gambar 3.7 Rancangan Baru Flowchart Siklus Penerimaan : Prosedur Penerimaan
Pesanan

51
Gambar 3.8 Rancangan Baru Flowchart Penerimaan : Prosedur Penagihan dan
Penerimaan Hasil Tagihan

Keterangan:

Akun AR = Akun Accounts Receivable, piutang dagang.

3.3.2 Siklus Pengeluaran

3.3.2.1 Prosedur

Berikut ini ialah prosedur permintaan pembelian,


pembelian, penerimaan barang, dan pembayaran atas pembelian
bahan baku dalam siklus pengeluaran Restoran Kedai Soematra
yang diterapkan saat ini:

1. Pembelian bahan baku dilakukan oleh pegawai perusahaan


tanpa supplier yang jelas.
2. Pembelian bahan baku dilakukan setiap 2 hari, dan permintaan
atas pembelian bahan baku tidak jelas, dikarenakan tidak ada
kartu stok untuk memberitahukan kondisi terakhir persediaan
gudang. Sehingga jumlah pembelian dan bahan baku yang
perlu dibeli berdasarkan perkiraan.

52
3. Partner akan memberikan uang secara langsung kepada pihak
pegawai untuk membeli bahan baku.
4. Nota atas pembelian bahan baku akan diberikan kepada pihak
partner untuk memberitahukan adanya pembelian.
5. Bahan baku yang telah dibeli boleh diambil oleh siapa saja
untuk dimasukan kepada gudang bersediaan.
6. Tidak terdapat pencatatan akuntansi atas pembelian, namun
hanya catatan kecil untuk mencatat segala bahan baku yang
dibeli.
3.3.2.2 Analisa Prosedur Siklus Pengeluaran

Dalam prosedur siklus pengeluaran yang diterapkan oleh


pihak Restoran Kedai Soematra, terdapat beberapa prosedur yang
dapat menimbulkan permasalahan ke depannya. Sehingga, terdapat
prosedur – prosedur yang perlu dibenahi, antara lain:

Masalah Prosedur Rekomendasi


Bahan baku yang dibeli Pembelian bahan baku Setiap bahan baku yang
memungkinkan dilakukan oleh pegawai dibeli harus lewat
kualitasnya tidak sesuai perusahaan tanpa supplier supplier yang jelas
dengan yang diinginkan yang jelas. dimana sudah disetujui
restoran. Bahan baku oleh pihak partner.
yang dibeli akan Partner harus menyetujui
cenderung memiliki harga permintaan pembelian
yang berbeda - beda, terlebih dahulu sebelum
yang menyebabkan dilakukan pembelian.
1 inkonsitensi harga pokok Pengeluaran kas harus
produksi. Pembelian bila melalui persetujuan
dilakukan oleh pegawai partner terlebih dahulu,
sendiri, maka akan dimana partner akan
memungkinkan terjadi merekonsiliasi jumlah
fraud, dimana terjadi barang yang diterima
kolusi, sehingga pegawai dengan dokumen pesanan
dapat pengambil pembelian, serta faktur
keuntungan atas yang ditagihkan.
pembelian bahan baku.

53
Memungkinkan bahan Permintaan atas Harus ada pembuatan
baku yang dibeli tidak pembelian bahan baku kartu stok yang dibuat
sedang dibutuhkan oleh tidak jelas, dikarenakan oleh bagian gudang, agar
restoran sehingga tidak ada kartu stok untuk persediaan bahan baku
menyebabkan bahan baku memberitahukan kondisi dapat tercatat dengan
tersebut tidak terpakai terakhir persediaan jelas sehingga setiap
dan menumpuk di bagian gudang. Sehingga jumlah bahan baku yang dibeli
gudang dan beberapa pembelian dan bahan adalah bahan baku yang
bahan baku yang tidak baku yang perlu dibeli sedang dibutuhkan
tahan lama menjadi rusak berdasarkan perkiraan. perusahaan. Kartu stok
dan tidak bisa dipakai yang ada wajib diotorisasi
lagi. Memungkinkan oleh pihak partner, tidak
bahan baku yang tidak boleh dicoret, dan hanya
2 dibeli, padahal persediaan boleh dikoreksi sekali,
sudah menipis dan sangat dengan bukti dan alasan
dibutuhkan. yang kuat, guna menjaga
kualitas data dan
informasi yang
terkandung dalam kartu
stok. Menetapkan titik
pemesanan kembali, guna
mengetahui pada level
persediaan berapakah
restoran perlu melakukan
pemesanan kembali.

Bahan baku yang dibeli Bahan baku yang telah Bahan baku yang telah
dapat hilang dan tidak dibeli boleh diambil oleh sampai harus dilakukan
sampai dalam gudang siapa saja untuk pemeriksaan dan diterima
persediaan dan juga dimasukan kepada oleh pihak penerimaan,
3
memungkinkan gudang persediaan. sebelum diberikan kepada
kualitasnya tidak sesuai pihak pergudangan untuk
dengan keinginan disimpan di dalam
restoran. gudang.
Memperburuk jejak audit Tidak terdapat pencatatan Setiap pembelian yang
yang ada, dikarenakan akuntansi atas pembelian, terjadi harus dibuatkan
jejak pembelian akan sulit namun hanya catatan bukti berupa dokumen,
dilacak, sehingga apabila kecil untuk mencatat dan dilakukan pencatatan
terjadi fraud, akan sulit segala bahan baku yang akuntansi agar seluruh
4 sekali untuk dideteksi. dibeli. pembelian dapat dicatat
Harga pokok produksi dengan baik.
akan sulit untuk
ditentukan, dikarenakan
ketiadaan pembukuan
atas harga bahan baku.

54
Tabel 3.3 Tabel Analisis Siklus Pengeluaran : Pembelian

3.3.2.3 Diagram Alir atas Siklus Pengeluaran

Gambar 3.9 Diagram Alir Siklus Pengeluaran : Pembelian Bahan Baku

Gambar 3.10 Diagram Alir Siklus Pengeluaran : Pengeluaran Kas

55
3.3.2.4 Flowchart atas Siklus Pengeluaran

Gambar 3.11 Flowchart Siklus Pengeluaran : Pembelian

3.3.2.5 Rancangan Ulang Flowchart atas Siklus Pengeluaran

56
Gambar 3.13 Rancangan Baru Flowchart Siklus Pengeluaran : Pembelian (Page 1)

57
Gambar 3.14 Rancangan Baru Flowchart Siklus Pengeluaran : Pembelian (Page 2)

Keterangan:

Akun AP = Akun Accounts Payable, akun hutang usaha.

3.4 Rancangan Dokumen

58
3.4.1 Nota

Gambar 3.15 Nota Lembar 1 untuk Pelanggan

Gambar 3.16 Nota Lembar 2 untuk Bagian Akuntansi

59
Gambar 3.16 Nota Lembar 3 untuk Arsip Kasir.

3.4.2 Nota Tagihan Sisa Pembayaran

Gambar 3.17 Nota Tagihan Sisa Pembayaran

60
3.4.3 Surat Verifikasi Penerimaan Barang

Gambar 3.18 Surat Verifikasi Penerimaan Barang

3.4.4 Surat Permintaan Pembelian

Gambar 3.19 Surat Permintaan Pembelian Lembar 1 untuk Pihak Pembelian

61
Gambar 3.20 Surat Permintaan Pembelian Lembar 2 untuk Arsip Pergudangan

3.4.5 Surat Pesanan Pembelian

Gambar 3.21 Surat Permintaan Pembelian Lembar 1 untuk Pemasok

62
Gambar 3.22 Surat Permintaan Pembelian Lembar 2 untuk Arsip Pemasok

Gambar 3.23 Surat Permintaan Pembelian Lembar 3 untuk Arsip Pembelian

63
Gambar 3.24 Surat Permintaan Pembelian Lembar 4 untuk Partner

Gambar 3.25 Surat Permintaan Pembelian Blind Copy untuk Arsip

3.4.6 Surat Laporan Penerimaan

64
Gambar 3.26 Surat Laporan Penerimaan Lembar 1 untuk Pemasok

Gambar 3.27 Surat Laporan Penerimaan Lembar 2 untuk Pihak Pembelian

65
Gambar 3.28 Surat Laporan Penerimaan Lembar 3 untuk Partner

Gambar 3.29 Surat Laporan Penerimaan Lembar 4 untuk Pihak Pergudangan

66
Gambar 3.30 Surat Laporan Penerimaan Lembar 5 untuk Arsip Penerimaan

3.4.7 Voucher Pengeluaran Kas

Gambar 3.31 Voucher Pengeluaran Kas

67
3.4.8 Kartu Stok Persediaan

Gambar 3.32 Kartu Stok Persediaan

3.5 Analisa atas Fraud

3.5.1 Kasus Fraud

Pada awal diresmikannya restoran, pemegang kunci atas kasir ialah


para pemilik atau partner saja, sedangkan pihak selain partner tidak
diperbolehkan untuk memegang kendali atas kasir. Ini dikarenakan kasir
masih menggunakan sistem manual. Diketahui penjualan apapun tidak
dibuatkan pencatatan, dan omzet diketahui setelah adanya perhitungan atas
hasil penjualan sebelum penutupan jam operasional restoran.

Setelah 6 bulan beroperasi, restoran semakin ramai dikunjungi oleh


pelanggan, sehingga kerja dari partner semakin sibuk, sehingga terkadang
melalaikan tugasnya untuk menjaga kendali atas kasir. Sehingga, manajer
pun memperbolehkan salah satu pegawai untuk merangkap menjadi kasir
tanpa pengawasan.

68
Seiring perjalanan waktu, dalam waktu yang relatif singkat, yakni
sekitar 2 minggu semenjak diberlakukan pegawai tersebut untuk
memegang kendali atas kasir, pegawai tersebut mulai mengalami
perubahan gaya hidup, dimana sebelumnya pegawai tersebut jarang sekali
membeli kebutuhan non primer di toko serba ada, seperti cemilan, menjadi
rutin dan sering membeli cemilan dan susu. Padahal gaji pokok untuk
pegawai, diperkirakan tidak cukup banyak untuk membeli kebutuhan
tersebut selain kebutuhan atas makanan pokok, air minum, biaya tempat
tinggal, biaya listrik, biaya air, dan biaya lain – lain, sehingga tidak begitu
memungkinkan untuk dilakukan gaya hidup yang boros. Selain itu, setelah
1 bulan berjalan, pegawai tersebut dapat mengganti telepon genggam
lamanya menjadi smartphone baru.

Perubahan gaya hidup dari pegawai tersebut diiringi dengan


penurunan atas omzet restoran, meskipun tidak ada penurunan atau adanya
pertambahan atas jumlah pelanggan sekali pun, dimana omzet dapat turun
hingga 10% ketimbang bulan lalu.

Setelah dilakukan pemecatan oleh pihak partner, omzet kembali


normal setelah pegawai tersebut tidak bekerja kembali, bahkan meningkat
hingga 15%. Dan setelah diselidiki, salah satu pihak pegawai mengetahui
fraud yang terjadi dilakukan oleh rekannya, namun enggan untuk
melakukan laporan kepada pihak partner atau pun manajer mengenai fraud
yang dilakukan oleh rekannya tersebut.

3.5.2 Analisis atas Kasus Fraud

Jenis Fraud : Fraud pegawai, dikarenakan fraud dilakukan oleh


pegawai dari restoran itu sendiri pada tingkat operasional, dimana
umumnya fraud berbentuk pencurian uang, tanpa sampai merubah laporan
keuangan secara sengaja.

69
Skema Fraud : Korupsi, konflik kepentingan, yakni terjadi ketika
manajer, karyawan, atau pun eksekutif memiliki kepentingan ekonomi
atau pribadi yang tidak diungkapkan dalam transaksi yang berdampak
negatif mempengaruhi perusahaan. Perbedaan antara konflik kepentingan
dan penipuan dalam bentuk korupsi lainnya ialah bahwa pelaku
mengerahkan pengaruh mereka karena keinginan dari mereka pribadi,
bukan karena disuap atau perintah.

Implikasi dari fraud : Terjadi penurunan atas omzet restoran meskipun


tidak ada penurunan atau adanya pertambahan atas jumlah pelanggan
sekalipun, dimana omzet dapat turun hingga 10% ketimbang bulan lalu.

3.5.3 Rekomendasi untuk Penanganan Fraud

1. Harus ada pemisahan tugas dimana seharusnya pihak restoran


menambah karyawan baru untuk memisahkan tugas pada bagian kasir ,
dimana ada karyawan yang menerima uang hasil penjualan dan ada
karyawan yang melakukan pencatatan atas uang hasil penjualan.
2. Harus ada kontrol akses dimana seharusnya manajer menerapkan
kontrol akses yang baik untuk memastikan hanya personel perusahaan
yang sah saja yang dapat memiliki akses terhadap kas pada kasir.
3. Harus ada pengawasan dari pihak restoran dimana dengan memasang
CCTV (Close Circuit Television) pada setiap sudut restoran khususnya
dekat dengan cashier yang dapat digunakan untuk menjaga kinerja dari
karyawan dan menjauhkan karyawan dari melakukan tindakan fraud,
kemudian dapat menjaga pelanggan dari berbagai tindakan kejahatan
seperti pencurian.
4. Harus ada pencatatan akuntansi dari pihak restoran, dimana seluruh
bentuk transaksi penjualan dan pembelian yang terjadi dalam
perusahaan harus dibuatkan pencatatan, bahkan kalau perlu dibuatkan
dokumen atas setiap transaksi. Apabila pencatatan dilakukan ketika
seluruh transaksi telah terjadi, maka salah satu akibatnya ialah data

70
atas pencatatan akuntansi menjadi tidak tepat waktu, dan berpotensi
sekali tidak akurat, dan akan berimbas pada kualitas data dan informasi
yang akan diperoleh restoran.

3.6 Pembahasan

Menurut CGMA (Chartered Global Management Accountant), dalam


salah satu publikasinya yang didukung oleh AICPA (American Institute of
Certified Public Auditor) dan CIMA (Chartered Institute of Management
Accountant), yakni Fraud Risk Management (2012), dikutip dari AICPA
Forensic and Valuation Services Trend Survey, didapati beberapa informasi
yang disajikan dalam pie-charts sebagai berikut:

Gambar 3.33 Jenis Fraud yang Sering Terjadi

Dalam grafik tersebut, dapat digambarkan bahwa salah satu jenis fraud
yang paling sering terjadi ialah permintaan pembayaran palsu dengan angka 25
persen, atau seperempat dari keseluruhan fraud yang sering terjadi. Pada posisi
kedua, terdapat fraud atas kartu kredit dan cek, dengan angka 21 persen. Pada
posisi ketiga, diduduki oleh pencurian oleh pihak pegawai, dengan angka 19
persen. Sedangkan posisi selanjutnya, didudukin oleh penyalahgunaan aktiva
sebesar 15 persen, skema penagihan sebesar 7 persen, penggajian sebesar 6
persen, menggelapkan uang tunai sebesar 4 persen, dan bentuk fraud lainnya
sebesar 3 persen.

71
Gambar 3.34 Pihak yang Paling Sering Melakukan Fraud

Dalam grafik ini, dapat digambarkan bahwa posisi pertama dari pelaku
fraud datang dari pihak operasional sebesar 29 persen. Posisi kedua diduduki
oleh pihak akuntansi dan keuangan bagian hutang dagang, dan pihak penjualan,
dengan angka 18 persen. Pada posisi ketiga, diduduki oleh pihak pemasaran, dan
pihak ketiga sebesar 8 persen. Dan sisanya ialah diduduki oleh pihak akuntansi
dan keuangan bagian penggajian sebesar 6 persen, departemen teknologi
informasi sebesar 4 persen, pihak akuntansi dan keuangan bagian penggajian
sebesar 2 persen, pihak akuntansi dan keuangan bagian pembelian 2 persen, dan
sisanya sebesar 5 persen.

Gambar 3.35 Tindakan Pencegahan Fraud

Dalam grafik ini, dapat digambarkan bahwa tindakan pencegahan fraud


didominasi oleh pengendalian internal secara umum, sebesar 16 persen. Pada

72
posisi kedua, diduduki oleh penyaringan pegawai baru, dan pembagian tanggung
jawab dengan angka 15 persen. Pada posisi ketiga, diduduki oleh pengawasan
yang tepat dengan angka 14 persen. Sedangkan sisanya diduduki oleh
pengendalian fisik, dan pengendalian berbasis komputer sebesar 12 persen, fungsi
dari audit internal sebesar 7 persen, penyaringan pegawai yang ada sekarang ini
sebesar 5 persen, program pendidikan anti-fraud sebsar 3 persen, dan lainnya
sebesar 1 persen.

Gambar 3.36 Tindakan Mendeteksi Fraud

Dalam grafik ini, digambarkan bahwa sebagian besar fraud dapat dideteksi
melalui pengendalian internal pada umumnya sebesar 24 persen. Pada posisi
kedua, fraud dapat terdeteksi oleh pengawasan yang tepat sebesar 22 persen.
Pada posisi ketiga, fraud dapat dideteksi oleh pengendalian fisik sebesar 17
persen. Sedangkan sisanya diduduki oleh pengendalian berbasis komputer
sebesar 16 persen, fungsi audit internal sebesar 11 persen, whistleblower sebesar
9 persen, dan lainnya sebesar 1 persen.

Apabila hasil survey tersebut dikaitkan dengan sistem informasi akuntansi


yang diterapkan oleh Restoran Kedai Soematra saat ini, salah satu jenis fraud
yang kerap terjadi ialah pencurian aktiva perusahaan oleh pihak operasional,
dimana ditandai dengan penurunan omzet perusahaan, sejalan dengan perubahan
gaya hidup pegawai yang tidak wajar, dimana dapat melebihi penghasilannya.

73
Dalam hal ini, terdapat berbagai kelemahan atas pencegahan fraud yang
dilakukan oleh perusahaan, yakni:

1. Pengendalian internal yang lemah, dimana:


 Lingkungan pengendalian
a. Struktur organisasi

Dalam struktur organisasi yang dijalankan dan diterapkan


oleh Restoran Kedai Soematra, tidak ada pemisahan tugas, dan
menyebabkan para pelaku fraud dapat menjalankan aksinya tanpa
diketahui oleh pihak manajemen secara langsung.

b. Mengevaluasi pengukuran kinerja

Ketiadaan evaluasi pengukuran kinerja oleh para pihak


manajer, atau pun partner membuat pegawai dapat melakukan hal
yang semena – mena, dan menurunkan kualitas pengendalian
internal.

c. Kebijakan manajemen

Kebijakan manajemen yang lemah, seperti


memperbolehkannya pegawai biasa menjaga kasir dan sekaligus
menjadi pelayan tanpa pengawasan, dan pembentukan jejak audit
yang jelas membuat pengendalian internal menjadi lemah.

 Penilaian resiko

Ketiadaan pembuatan laporan keuangan membuat tidak adanya


penilaian atas resiko yang terjadi dalam Restoran Kedai Soematra,
seperti munculnya pesaing baru, pertumbuhan yang signifikan, serta
munculnya produk baru.

 Komunikasi dan informasi

74
Kebijakan dalam sistem informasi akuntansi Restoran Kedai
Soematra secara tidak langsung menurunkan kualitas dari informasi yang
diproduksi, yakni:

a. Setiap arus transaksi tidak dibuatkan dokumen yang valid.


b. Penjualan tidak dicatat di saat periode terjadinya, melainnya
didasarkan pada perhitungan hasil penjualan yang tidak
dibandingkan dengan bukti transaksi, yang menurunkan akurasi
informasi.
 Pemantauan
a. Input transaksi tidak jelas, menyebabkan output yang
dihasilkan menjadi tidak jelas, dan menjadi tidak terjamin
akurasinya.
b. Tidak adanya internal auditor menyebabkan tidak adanya
pengujian dari pengendalian oleh pihak internal auditor.
 Aktivitas pengendalian
a. Pengendalian fisik
 Tidak terdapat otorisasi atas transaksi, menyebabkan
transaksi dapat dilakukan bebas, tanpa sepengetahuan
manajemen.
 Minimnya pemisahan tugas, sehingga pelaku fraud
dapat leluasa menjalankan aksinya.
 Pengawasan oleh pihak manajer lemah, sehingga fraud
terjadi dengan mudah.
 Pencatatan akuntansi yang buruk, menghasilkan
kualitas informasi yang buruk.
 Minimnya pembatasan akses kontrol, sehingga pihak
pegawai mana pun dapat mengakses hal yang bukan
menjadi haknya, seperti pelayan mengakses laci kasir.

75
 Tidak adanya pemeriksaan dan verifikasi independen
oleh auditor, ataupun buku besar dengan buku besar
pembantu.

Selain dilakukannya penerapan dan pengokohan sistem informasi


akuntansi yang baru, ada pun pihak manajemen perlu menjaga komitmen bahwa
jika pengendalian internal harus diterapkan dan diperketat selalu. Salah satu cara
memperketat pengendalian internal ialah pemakaian dokumen – dokumen yang
valid untuk setiap transaksi yang terjadi. Atas desain dari nota yang dijabarkan
sebelumnya, dapat dilakukan perhitungan atas kelayakan penggunaan dokumen
sebagai berikut:

Estimasi kebutuhan atas dokumen:

a. Nota Penjualan
- Rata – rata frekuensi transaksi harian 100 kali
- Harga nota penjualan Rp4.500 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 25 transaksi
- Jumlah kebutuhan buku (100/25) 4 buku
- Total sehari (Rp4.500×4 buku) Rp18.000
- Total sebulan (Rp18.000×29 hari) Rp522.000
b. Surat Verfikasi
- Rata – rata frekuensi transaksi bulanan 30 kali
- Harga surat verifikasi Rp4.000 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 25 transaksi
- Jumlah kebutuhan buku (30/25) 1,2 buku
- Total sebulan (Rp4.000×1,2 buku) Rp4.800
c. Tagihan sisa pembayaran
- Rata – rata frekuensi transaksi bulanan 30 kali
- Harga surat verifikasi Rp4.000 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 25 transaksi
- Jumlah kebutuhan buku (30/25) 1,2 buku

76
- Total sebulan (Rp4.000×1,2 buku) Rp4.800
d. Surat permintaan barang
- Titik pemesanan kembali 2 hari
- Jumlah pemesanan bahan baku sebulan 15 kali
- Harga surat permintaan barang Rp4.500 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 25 transaksi
- Jumlah kebutuhan buku (15/25) 0,6 buku
- Total sebulan (Rp4.500×0,6 buku) Rp2.700
e. Surat pesanan pembelian
- Jumlah pemesanan bahan baku sebulan 15 kali
- Harga surat pesanan pembelian Rp9.000 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 15 transaksi
- Total sebulan Rp9.000
f. Surat laporan penerimaan
- Jumlah pemesanan bahan baku sebulan 15 kali
- Harga surat laporan penerimaan Rp10.000 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 10 transaksi
- Jumlah kebutuhan buku (10/15) 2/3
- Total sebulan (Rp10.000×2/3 buku) Rp7.000
g. Voucher pengeluaran kas
- Kebutuhan pengeluaran kas per bulan 30 kali
- Harga voucher pengeluaran kas Rp4.500 per buku
- Kapasitas transaksi per buku 50 transaksi
- Jumlah kebutuhan buku (30/50) 0,6
- Total sebulan (Rp4.500×0,6 buku) Rp2.700
h. Kartu persediaan
- Kebutuhan kartu persediaan per bulan 40 kartu
- Harga kartu persediaan Rp10.000
- Kapasitas transaksi per buku 50 kartu
- Jumlah kebutuhan buku (40/50) 0,8
- Total sebulan (Rp10.000×0,8 buku) Rp8.000

77
Estimasi total biaya untuk dokumen = Rp561.000

Opportunity cost = Estimasi omzet sebulan × Estimasi penurunan omzet


akibat fraud × (1 – pajak4)

= Rp145.000.000 × 5% × (1 – 1%)

= Rp7.177.500

Estimasi enghematan kerugian akibat fraud atas implementasi penggunaan


dokumen = Rp 7.177.500 – Rp561.000

= Rp6.616.500

Berdasarkan perhitungan tersebut, estimasi total biaya untuk menggunakan


dokumen dalam setiap kegiatan perusahaan ialah kurang lebih Rp561.000 dan
estimasi penurunan omzet akibat fraud ialah sebesar Rp7.177.500. Maka,
Restoran Kedai Soematra sebaiknya mulai menggunakan dokumen dalam
menjalankan aktivitas operasionalnya, dimana perusahaan secara tidak langsung
dapat melakukan penghematan atas kerugian akibat fraud sebesar Rp6.616.500.
Sehingga, penggunaan dokumen sebagai bukti transaksi yang valid ialah layak
untuk diterapkan perusahaan. Dalam hal ini adalah aplikasi dari modifikasi asumsi
terhadap tujuan pengendalian internal, bahwa biaya untuk mencapai tujuan
pengendalian internal harus tidak lebih besar daripada manfaat yang diberikan.5

4
Pasal Pajak berlaku ialah PP 46, dimana tarif 1% yang bersifat final, dikarenakan memiliki
peredaran bruto setahun dibawah Rp4.800.000.000
5
Hall, James. 2013. Accounting Information System. South Western.

78
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

79
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Indonesia. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi


Keempat. Indonesia: Gramedia.

Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen. (2006). Managerial Accounting, Eighth


Edition. United States: South Western.

Donald E. Kieso, Paul D. Kimmel, Jerry J. Weygandt. (2012). Financial


Accounting, IFRS Edition, Second Edition. United States: John Wiley & Sons,
Inc.

Gary B. Shelly, Misty E.. (2010). Discovering Computers 2011: Living in a


Digital World, Shelly Cashman Series. United States: Cengage Learning.

Hall, James. (2013). Introduction to Accounting Information Systems. Eighth


Edition, International Edition. United States: South Western.

I Cenik Ardana, Hendro Lukman. (2016). Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta:


Salemba Empat.

Mark G. Simkin, Jacob M. Rose, Carolyn S. Norman. (2012). Core Concept of


Accounting Information System. Twelfth Edition. United States: John Wiley &
Sons, Inc.

Marshall B. Romney, Paul J. Steinbart. (2011). Accounting Information Systems,


Twelfth Edition. United States: Pearson.

O’Brien, James. (2011). Management Information System, Tenth Edition. United


States: McGrawHills.

Resmi, Siti. (2016). Perpajakan : Teori dan Kasus, Edisi 9, Buku 1. Jakarta:
Salemba Empat.

80
Susanto Salim, Debora. (2017). Modul Laboratorium Sistem Informasi Akuntansi
1, Edisi 21. Jakarta: Universitas Tarumanagara.

Joana Turnbull, dkk. (2010). Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current


English, Eighth Edition. United Kingdom: Oxford University Press.

American Institute of Certified Public Auditor. (2014). The Importance of Internal


Control in Financial Reporting and Safeguarding Plan Assets, dalam
https://www.aicpa.org/InterestAreas/EmployeeBenefitPlanAuditQuality/Resource
s/PlanAdvisories/DownloadableDocuments/Plan_AdvisoryInternalControl-
hires.pdf, diakses 17 April 2017.

American Institute of Certified Public Auditor. Consideration of Fraud in


Financial Statement Audit, dalam
https://www.aicpa.org/Research/Standards/AuditAttest/DownloadableDocuments/
AU-00316.pdf, diakses pada 2 Mei 2017.

Association of Certified Fraud Examiners. (2014). Report to the Nations on


Occupational Fraud and Abuse, dalam https://www.acfe.com/rttn/docs/2014-
report-to-nations.pdf, diakses 18 April 2017.

Chartered Global of Management Accountants. (2012). Fraud Risk Management,


dalam
http://www.cgma.org/Resources/Reports/DownloadabkeDocuments/fraudriskman
agement.pdf, diakses 9 Mei 2017.

Chartered Institute of Management Accountants. (2009). Fraud Risk Management:


A Guide to Good Practice, Second Edition, dalam
https://www.cimaglobal.com/documents/importeddocuments/cid_techguide_fraud
_risk_management_feb09.pdf, diakses 18 April 2017.

Chartered Institute of Management Accountants. (2009). Fraud Risk Management:


Corporate fraud: Topic Gateway Series No.57 , dalam
https://www.cimaglobal.com/documents/importeddocuments/cid_tg_corporate_fr
aud_may09.pdf, diakses 6 Mei 2017.

81
Ernst&Young. (2015). Asia-Pasific Fraud Survey 2015: Fraud and corruption-
driving away talent?, dalam http://www.ey.com/Publication/vwLUAssets/ey-
apac-fraud-survey-2015/%FILE/ey-apac-fraud-survey-2015.pdf, diakses pada 8
Mei 2017.

International Federation of Accountants. (2008). International Standards of


Auditing 240 – The Auditor’s Responsibility to Consider Fraud in an Audit of
Financial Statement, dalam http://www.ifac.org/system/files/downloads/a012-
2010-iaasb-handbook-isa-240.pdf, diakses 1 Mei 2017.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2011). Standar Audit Seksi 316 : Pertimbangan atas
Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan, dalam
https://alengwee.files.wordpress.com/2011/10/sa-seksi-316.pdf, diakses 2 Mei
2016.

PricewaterhouseCooper. (2016). Global Economic Crime Survey 2016 : PwC,


dalam https://www.pwc.com/gx/en/economic-crime-
survey/pdf/EconomicCrimeSurvey2016.pdf, diakses 13 Mei 2017.

82
LAMPIRAN

83