Anda di halaman 1dari 20

STUDI PENGARUH ROAD PROFILE TERHADAP EFISIENSI KERJA ALAT

MUAT DAN ANGKUT PADA TAMBANG EMAS GRASBERG


PT. FREEPORT INDONESIA, PAPUA

PROPOSAL
PENELITIAN TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa


Jurusan Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya

OLEH :

WAGIMAN HADI SAPUTRA


03023120050

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
2006
IDENTITAS DAN PENGESAHAN USULAN PENELITIAN
TUGAS AKHIR MAHASISWA

1. Judul : Studi Pengaruh Road Profile Terhadap Efisiensi Kerja Alat Muat
Dan Angkut Pada Tambang Emas Grasberg PT. Freeport
Indonesia, Papua

2. Pengusul :
a. Nama : Wagiman Hadi Saputra
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. NIM : 03023120050
d. Semester : IX (Sembilan)
e. Fakultas/Jurusan : Teknik/Pertambangan
f. Institusi : Universitas Sriwijaya

3. Lokasi Penelitian : Tambang Emas Grasberg PT Freeport Indonesia,


Papua

Inderalaya, September 2006


Pengusul,

Wagiman Hadi Saputra


NIM. 03023120050

Menyetujui Pembimbing Proposal,


Ketua Jurusan Teknik Pertambangan

Ir. Abu Amat Hak, MSc.IE Ir. Effendi Kadir, MT.


NIP. 130 779 470 NIP. 131 395 555

a.n. Pimpinan Perusahaan,

…………………………………………
NIP.
A. JUDUL

Studi Pengaruh Road Profile Terhadap Efisiensi Kerja Alat Muat Dan Angkut

Pada Tambang Emas Grasberg PT. Freeport Indonesia, Papua

B. BIDANG ILMU

TEKNIK PERTAMBANGAN

C. PENDAHULUAN

PT. Freeport Indonesia berlokasi di Tembaga Pura, Papua di daerah

pegunungan Jaya Wijaya dan bergerak dalam usaha penambangan bijih

emas. PT. Freeeport Indonesia sendiri beroperasi dibawah perusahaan

Freeport McMoRan Copper and Gold.

Dalam kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. Freeport

Indonesia ini, khususnya pada tambang terbuka, perusahaan ini selalu

berusaha mencari cara dalam meningkatkan produktivitas sehingga kegiatan

penambangan dapat berjalan efektif dan efisien. Salah satu usaha yang

dimaksud adalah merencanakan sistem pengangkutan yang baik berdasarkan

literatur-literatur dan pengalaman yang dihasilkan dari suatu pekerjaan.

Sistem pengangkutan yang dimaksud disini adalah kondisi jalan angkut

produksi, yang terdiri atas geometri jalan, pembebanan jalan, dan kondisi

permukaan jalan. Baiknya kondisi jalan produksi akan mempertinggi nilai

effisiensi kerja alat dan tingkat keamanan dari alat angkut terutama dump

truck, sehingga target produksi yang optimal sesuai dengan yang diharapkan

dapat tercapai.
D. PERUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang akan dibahas adalah mengevaluasi kondisi jalan

produksi yang aman sehingga transportasi dari alat angkut dapat bekerja

seoptimal mungkin sesuai dengan target yang diharapkan PT. Freeport

Indonesia.

E. MANFAAT HASIL PENELITIAN


Manfaat dari penelitian ini adalah memperoleh informasi secara detil

tentang produktivitas sistem pengangkutan waste dan ore pada lokasi

penambangan PT.Freeport Indonesia yang dipengaruhi oleh beberapa faktor

dalam usaha untuk mencapai target produksi yang optimal.

F. TINJAUAN PUSTAKA

Produksi dari alat berat dan alat angkut adalah kemampuan yang paling

optimum yang dapat dicapai oleh alat-alat tersebut dengan memperhitungkan

faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik faktor alam, faktor manusia,

maupun faktor peralatan.

1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat

Dengan analisa beban dan tenaga dari alat yang digunakan, maka

akan dapat diketahui tingkat kemampuan dan kecepatan bekerja yang

optimal dari alat tersebut untuk kondisi pekerjaan tertentu, dimana tahap-

tahap analisa tersebut adalah

 Menentukan beban total kendaraan

 Memeriksa traction kritis mesin untuk menenntukan tenaga tarik yang

digunakan.
 Memmbangdingkan beban terhadap tenaga tarik yang dapat

digunakan dan memilih gigi operasi tertinggi yang dapat digunakan

untuk melakukan pekerjaan.

Dalam menentukan analisa beban dan tenaga pada saat melakukan

operasi pemindahan tanah mekanis, faktor-faktor yang mempengaruhi

antara lain :

a. Tahanan Gali (Digging Resistance)

Yakni tahanan yang dialami oleh alat gali pada watu melakukan

penggalian tanah. Tahanan ini disebabkan oleh :

 Gesekan antara alat gali dan tanah. Pada umumnya semakin besar

kelembaban dan kekasaran butiran tanah, semakin besar pula

gesekan yang terjadi.

 Kekerasan tanah yang umumnya bersifat menahan masuknya alat

gali ke dalam tanah.

 Kekerasan (roughness) dan ukuran butiran tanah.

 Adanya adhesi antara tanah dan alat gali dan kohesi antar butr-

butiran tanah itu sendiri.

 Berat jenis tanah. Hal ini terutama sangat berpengaruh terhadap

alat gali yang juga berfungsi sebagai alat muat.

b. Rolling Resistance (RR)

Rolling Resistance (RR) atau tahan gulir atau tahan gelinding

merupakan tahanan terhadap roda yang menggelinding akibat adanya

gesekan antara roda dengan permukaan tanah yang arahnya selalu

melawan gerakan roda kendaraan.


Besarnya tergantung keadaan permukaan tanah yang dilewati

(kekerasan dan kehalusan), roda alat berat dan berat kendaraan

tersebut. Secara teoritis tahanan gelinding dapat ditentukan dengan

persamaan berikut :

RR = W . r (lb/ton)

Dimana :

W = berat kendaraan

R = koefisien tahanan gelinding

Faktor-faktor yang mempengaruhi Rolling Resistance adalah :

 Keadaan jalan

Yaitu kekerasan dan kehalusan permukaan tanah, semakin keras dan

halus jalan tersebut semakin kecil Roliing Resistancenya. Macamnya

tanah atau material yang digunakan untuk membuat jalan tidak terlalu

berpengaruh.

 Keadaan roda

Bagian kendaraan yang bersentuhan dengan jalan, untuk ban karet

yang berpengaruh adalah ukuran ban. Sedangkan untuk track yang

banyak berpengaruh adalah keadaan jalan.

Pada kondisi tertentu besarnya Rolling Resistance untuk bermacam-

macam keadaan jalan denagn roda ban karet dapat dilihat pada tabel,

besarnya RR dinyatakan dalam pounds (lb) dari tractive pull yang

diperlukan untuk menggerakan tiap gross ton berat kendaraan dan

isinya.
ANGKA RATA-RATA TAHANAN GELINDING
PADA BERBAGAI KONDISI JALAN

Kondisi Jalan RR untuk Ban Karet (lb/ton)


Jalan keras dan licin 40
Jalan yang diaspal 45 – 60
Jalan keras dengan permukaan
45 – 70
terpelihara baik
Jalan yang sedang diperbaiki dan
85 – 100
terpelihara
Jalan yang kurang terpelihara 85 – 100
Jalan berlumpur dan tidak terpelihara 165 – 210
Jalan berpasir dan berkerikil 240 – 275
Jalan berlumpur dan sangat lunak 290 - 370
Sumber : Partanto Prodjosumarto, 1993

c. Tahanan kemiringan (Grade resistance)

Grade Resistance (GR) adalah besarnya gaya berat yang melawan

atau membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang

dilaluinya. Pengaruh kemiringan terhadap harga GR adalah naik untuk

kemiringan positif (memperbesar tractive effort atau Rimpull) dan

menurun untuk kemiringan negatif (memperkecil Rimpull). Besarnya

pengaruh kemiringan jalan terhadap grade resistance dapat dilihat

pada tabel.

KEMIRINGAN JALAN DAN TAHANAN KEMIRINGAN

KEMIRINGAN GR KEMIRINGAN GR
(%) (lb/ton) (%) (lb/ton)
1 20 12 238.4
2 40 13 257.8
3 60 14 277.4
4 80 15 296.6
5 100 20 392.3
6 119.8 25 485.2
7 139.8 30 574.7
8 159.2 35 660.6
9 179.2 40 742.8
10 199 45 820.8
11 218 50 894.4
Sumber : Partanto Prodjosumarto, 1993

Besarnya nilai grade ini tergantung pada :


 Kemiringan
Merupakan perbedaan ketinggian jalan yang dilalui oleh alat berat,
besarnya kemiringan jalan yang dilalui oleh alat dinyatakan dalam
persen (%).
 Berat muatan d an kendaraan itu sendiri
Berat kendaraan dan muatannya dinyatakan dalam satuan gross
ton.Eugene P. Pfleider dalam bukunya “Surface Mining” terdapat
hubungan antara grade jalan yang direkomendasikan dengan
kecepatan dari Dump Truck pada tabel dibawah ini.

HUBUNGAN ANTARA GRADE DENGAN KECEPATAN

Grade Negatif (%) Kecepatan (mmph)


0–6 30 -35
7–8 21 – 25
9 – 10 17 – 20
11 – 12 13 – 16
> 12 < 13
Sumber : Partanto Prodjosumarto, 1993

d. Coeficient of Traction
Coeffition of Traction (CT) adalah suatu faktor yang menunjukkan
berapa bagian dari seluruh berat kendaraan itu pada ban atau track
yang dapat dipakai untuk menarik atau mendorong kendaraan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya tarik adalah :
 Keadaan ban
 Diperhitungkan mengenai macam dan bentuk kembangan ban
tersebut. Untuk “crawler track tergantung dari keadaan dan bentuk
“tracknya”.
 Berat beban yang diterima ban
Yaitu berat kendaraan yang diterima oleh roda penggeraknya.

COEFFICIENT OF TRACTION UNTUK BERBAGAI KONDISI JALAN

KONDISI JALAN BAN KARET (%)


Jalan kering dan keras 80 –100
Jalan tanah liat kering 50 – 70
Jalan tanah liat basah 40 – 50
Jalan berpasir basah dan berkerikir 30 – 40
Jalan berpasir kering yang terpisah / 20 – 30
terpencar
Sumber : Partanto Prodjosumarto, 1993

e. Rimpull (RP)

Rimpull (RP) atau tractive pull atau tractive effort atau draw bar pull

adalah besarnya kekuatan tarik (pulling force) yang dapat diberikan

oleh mesin atau suatu alat kepada permukaan roda atau ban

penggeraknya yang menyentuh permukaan jalur jalan. Bila CT cukup

tinggi untuk menghindari terjadinya selip, maka RP maksimum adalah

fungsi dari horse power (tenaga mesin) dan Versnelling (gear ratio)

antara mesin dan roda-rodanya. Tetapi jika selip, maka RP maksimum

akan sama dengan besarnya tenaga pada roda penggerak dikalikan

CT. Besarnya harga Rimpull ini dapat dihitung dengan rumus berikut :

HPkendaraan .375.Efisiensi Mekanis (%)


Rimpull (lb ) 
Kecepa tan( mph)

dimana : RP = rimpull (lb)


HP = tenaga mesin

375 = angka konversi

Apabila RP tiap segmen jalan angkut diketahui maka waktu tempuh

alat angkut dapat dihitung dengan rumus :

Jarak ( feet )
Wangkut (menit ) 
Kecepa tan (mph).88

f. Percepatan

Percepatan adalah waktu yang diperlukan kendaraan untuk

mempercepat kendaraan dengan memakai kelebihan Rimpull yang

tidak dipergunakan untuk menggerakkan kendaraan pada jalur

tertentu. Lamanya waktu yang diperlukan untuk mempercepat

kendaraan tergantung dari beberapa faktor, yaitu :

 Berat kendaraan, semakin berat kendaraan semakin lama waktu

yang dibutuhkan untuk mempercepat kendaraan.

 Kelebihan Rimpull yang ada, semakin besar Rimpull yang

berlebihan semakin cepat kendaraan itu dipercepat.

 Gradeability (kemiringan jalan)

g. Ketinggian daerah dari permukaan laut

Perubahan kadar oksigen dalam udara akan berpengaruh terhadap

horse power mesin dari suatu alat yang beroperasi pada suatu daerah

dengan ketinggian tertentu. Makin tinggi suatu daerah kerja semakin

berkurang prosentase oksigen, maka tenaga alat yang tersedia makin

berkurang (harus dikoreksi) untuk kenaikan 1000 m yang kedua.


Besarnya penurunan tenaga tergantung dari sistem pengisapan udara

dari segi mesin pada alat tersebut.

h. Faktor efisiensi

Nilai keberhasilan suatu pekerjaan sangat sulit ditentukan secara tepat

karena mencakup beberapa faktor seperti faktor manusia, mesin dan

kondisi kerja. Nilai keberhasilan dari suatu pekerjaan dipengaruhi oleh

effisiensi waktu, effisiensi kerja atau kesediaan alat untuk dioperasikan

dan effisiensi operator.

i. Faktor Pengembangan (Swell Factor)

Swell Factor (faktor pengembangan ) material merupakan

perbandingan antara material dalam keadaan insitu (belum digali =

BCM) dengan material dalam keadaan loose (setelah digali = LCM).

Besarnya swell factor dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

VUndisturbed
Swell factor  .100%
Vloose

j. Berat Isi Material

Berat isi material yang akan digali, dimuat, dan diangkut oleh alat-alat

mekanis dapat mempengaruhi :

 Kecepatan kendaraan dengan HP mesin yang dimilikinya.

 Kemampuan kendaraan untuk mengatasi tahanan kemiringan dan

tahanan gulir dari jalur jalan yang dilaluinya.

 Membatasi volume material yang dapat diangkut.

2. Produksi Alat Mekanis


Untuk memperkirakan produksi alat-alat berat dan alat-alat angkut secara

teoritis dengan cara dikalikan dengan faktor koreksi, begitu juga untuk

memperoleh kemampuan produksi secara nyata juga dikalikan dengan

faktor koreksi, hal ini bertujuan untuk mengetahui kesalahan yang terjadi

akibat beberapa faktor efisiensi waktu, efisiensi kerja atau kesediaan alat

untuk dioperasikan dan efisiensi operator.

Dapat digunakan rumus-rumus sebagai berikut :

 Dump Truck

Dump truk digunakan untuk mengangkut material dari pengupasan


sampai ke penimbunan. Produktifitas alat angkut dapat dihitung
dengan rumus :

A  60
Qn   Fk
Ct

dimana :
Q = kemampuan alat angkut ( ton / jam)

A = kapasitas vessel (ton)

Ct = cycle time (menit)

Fk = faktor koreksi

 Electric Shovel

Electric Shovel (alat gali muat) berfungsi sebagai alat gali sekaligus

memuat ore hasil peledakan ke Dump Truck. Produksi alat gali muat

dapat dihitung dengan rumus :

A  60
Qn   Fk
Ct

Fk = Fk1 x Fk2 x Fk3


dimana :

Q = kemampuan alat gali-muat ( ton / jam)

A = kapasitas bucket (ton)

Ct = cycle time (menit)

Fk = faktor koreksi

Fk1 = Efisiensi mekanis

Fk2 = Efisiensi kerja

Fk3 = Faktor pengisian bucket

3. Geometri Jalan Produksi

Geometri jalan merupakan bagian dari perencanaan yang di titik beratkan

pada perencanaan bentuk fisik sehingga dapat memenuhi fungsi dasar

jalan yaitu memberikan pelayanan yang optimum pada arus lalu lintas

yang beroperasi di atasnya, karenanya tujuan dari perencanaan geometrik

jalan adalah menghasilkan infrastruktur yang aman, efisiensi pelayanan

arus lalu lintas dan memaksimalkan rasio tingkat penggunaan/biaya

pelaksanaan. Ruang, bentuk dan ukuran jalan dikatakan baik, jika dapat

memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemakai jalan.

a. Lebar Jalan

Lebar jalan produksi penting ditentukan untuk kelancaran dan

keberhasilan operasi pengangkutan. Perhitungan mengenai lebar jalan

disesuaikan dengan kebutuhan yaitu dapat untuk satu jalur, dua jalur

atau lebih.

 Lebar jalan pada keadaan lurus


Penentuan lebar jalan minimum untuk jalan lurus didasarkan pada

rule of thumb yang dikemukakan oleh AASHTO Manual Rural

Highway Design (1990), seperti yang terlihat pada gambar yaitu :


Lm  n  Wt   n  1 1  Wt
2

dimana :
Lm = lebar jalan minimum (m)

n = jumlah jalur

Wt = lebar alat angkut (m)

% %

½ Wt Wt ½ Wt Wt ½ Wt

Lm

LEBAR JALAN PADA KEADAAN LURUS


(Partanto Prodjosumarto, 1993)

 Lebar jalan pada belokan

Penentuan lebar jalan pada saat Dump Truck membelok berbeda

dengan keadaan jalan lurus, karena pada belokan terjadi pelebaran

jalan yang sangat tergantung dari jari-jari tikungan, sudut

tikungan dan kecepatan rencana. Pelebaran jalan ini dapat dihitung

dengan rumus sebagai berikut :

W  n U  Fa  Fb  Z   C

C  Z  0,5U  Fa  Fb 
dimana :

W = lebar jalan angkut pada tikungan (m)

n = Jumlah jalur

Fa = lebar juntai (over hang) depan (m)

Fb = lebar juntai (over hang) belakang (m)

U = Lebar jejak roda (center to center tyre) (m)

C = Jarak antara dua Dump Truck yang akan bersimpangan

Z = Jarak sisi luar Dump Truck ketepi jalan (m)

Fa
U Fb

Fa W
U

Fb

LEBAR JALAN TIKUNGAN


(Coal Age Operating Handbook Of Surface Mining)

 Superelevasi (kemiringan jalan pada tikungan)

Komponen berat kendaraan untuk mengimbangi gaya sentrifugal

diperoleh dengan membuat kemiringan melintang jalan.

Kemiringan melintang jalan pada lengkungan horizontal yang

bertujuan untuk memperoleh komponen berat kendaraan guna

mengimbangi gaya sentrifugal biasanya disebut superelevasi.


Semakin besar superelevasi semakin besar pula komponen berat

kendaraan yang diperoleh.

Superelevasi maksimum yang dapat dipergunakan pada suatu

jalan raya dibatasi oleh beberapa keadaan, seperti keadaan cuaca,

keadaan medan, keadaan lingkungan dan komposisi jenis

kendaraan. Rumus umum untuk superelevasi adalah :

V2 181913.53 emaks  f maks 


 emaks  f maks   atau Dmaks  6)
127Rmin V2

dimana :

emaks = superelevasi maksimum pada tikungan jalan (m/m)

f maks = koefisien gesekan samping maksimum (Tabel III.5)

V = kecepatan rencana (km/jam)

Rmin = radius lengkung minimum tikungan jalan (m)

Dmaks = derajat lengkung maksimum tikungan jalan (0)

Hubungan antara R dan D berbanding terbalik, artinya semakin

besar R semakin kecil D dan semakin tumpul lengkung horizontal

rencana. Sebaliknya semakin kecil R semakin besar D dan semakin

tajam lengkung horizontal yang direncanakan. Berdasarkan

pertimbangan peningkatan jalan di kemudian hari sebaiknya

dihindarkan merencanakan alingemen horizontal jalan

menggunakan radius minimum yang menghasilkan derajat

lengkung tajam tersebut. Di samping sukar untuk menyesuaikan

diri dengan peningkatan jalan juga menimbulkan rasa tidak


nyaman pada operator yang bergerak dengan kecepatan lebih

tinggi dari kecepatan rencana.

b. Kemiringan Jalan Produksi

Grade (kemiringan) jalan produksi merupakan salah satu faktor

penting yang harus diamati secara detail dalam evaluasi teknis jalan

produksi. Hal ini disebabkan karena kemiringan jalan produksi

berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut, baik dalam

mengatasi tanjakan maupun melakukan pengereman.

Berdasarkan kemiringan suatu jalan biasanya dinyatakan dalam

persentase, kemiringan 1 % adalah kemiringan permukaan yang

menanjak atau menurun 1 meter atau 1 feet secara vertikal dalam

jarak horizontal 100 meter atau 100 feet. Grade (kemiringan) dihitung

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

h
Grade     100% 8)

x

dimana :
h = beda tinggi antara dua titik yang diukur (m)

x = jarak datar antara dua titik yang diukur (m)

A
x
PERHITUNGAN KEMIRINGAN JALAN
(Partanto Prodjosumarto,1993)

c. Jarak pandang aman (safe sight distance)

Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh pengemudi

(operator) untuk melihat ke depan secara bebas pada suatu tikungan

horizontal dan vertikal. Ketinggian mata pengemudi berkisar antara

4.00 m - 4.90 m, sedangkan tinggi penghalang yang dapat

menimbulkan kerusakan bila terjadi tabrakan yaitu berkisar antara

0.15 m – 0.20 m di atas permukaan jalan angkut. Jarak pandang yang

aman adalah minimal sama dengan jarak berhenti.

G. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi jalan

produksi terhadap pencapaian target produksi alat angkut di lokasi

penambangan PT. Freeport Indonesia.

H. METODE PENELITIAN
a. Studi literatur untuk mempelajari teori-teori, rumusan-rumusan dan data-

data yang berhubungan.

b. Pengamatan di lapangan dengan pengambilan data-data berupa :

1) Data primer

Secara umum membutuhkan data-data :

a) Geometri Jalan Angkut Produksi

b) Spesifikasi Alat muat dan Angkut


c) Menentukan data ukuran jalan dan membagi jalan kedalam

beberapa segmen berdasarkan perbedaan elevasi yaitu dari

Loading Point penambangan dan dumping point.

d) Mengamati waktu tempuh alat muat, baik ketika membawa

muatan ataupun ketika kembali dalam keadaan kosong pada

setiap segmen yang telah ditentukan.

2) Data sekunder

Data-data lain yang mendukung yang diambil dari literatur-literatur

yang berhubungan dengan penelitian.

I. JADWAL PELAKSANAAN

Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan,

yaitu pada tanggal 15 Januari 2007 – 15 Maret 2007, dengan jadwal

pelaksanaan sebagai berikut :

Waktu Pelaksanaan
No Kegiatan Minggu Ke -
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Orientasi Lapangan
Pengumpulan Referensi
2.
dan Data
3. Pengolahan Data
Konsultasi
4.
dan Bimbingan
Penyusunan dan
5. Pengumpulan Draft
Laporan

J. DAFTAR PUSTAKA

1. Prodjosumarto Partanto, Ir. 1993, “Jalan Angkut Tambang”, Jurusan


Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung.

2. Prodjosumarto Partanto, Ir. 1993, “Pemindahan Tanah Mekanis”, Jurusan


Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung.

3. Buchari Erika, Ir, MSc, 1996, “Design Geometris Jalan”, Jurusan Teknik
Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya.

4. _______, 2002, “Road Design Course Catalog”, Diklat PT. Tambang Batubara
Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

5. Pfleider,P.E, 1968, “Surface Mining” (Exploitation – Unit Operations Haulage And


Transportation), section 9, AIME, New York.