Anda di halaman 1dari 32

PRESENTASI KASUS

Anestesi Umum pada Timpanomastoidektomi ec


Otitis Media Supuratif Kronis

DISUSUN OLEH :

Amanda Prahastianti K. 030.08.020

Tiara Rahmawati 030.08.240

Syarifah Zawani Bt Tuan S. 030.08.3070

PEMBIMBING :

dr. Nurgani, SpAn

KEPANITERAAN KLINIK SMF ANESTESI

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI

PERIODE 21 JANUARI 2013 – 22 FEBRUARI 2013


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME, karena atas
berkat, rahmat, dan anugerah-Nya, maka kasus yang berjudul “Aspirasi Pneumonia” ini
dapat diselesaikan.

Adapun penyusunan referat ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu tugas
kepaniteraan klinik Ilmu Anestesi RSUP Fatmawati periode 21 Januari 2013 – 22
Februari 2013.

Pada kesempatan ini pula penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. dr. Nurgani, SpAn selaku pembimbing dalam pembuatan referat ini.


2. Para konsulen, dokter, paramedik, dan seluruh staf di SMF Anastesi, serta semua
pihak yang turut serta membantu baik dalam penyusunan referat maupun
membimbing serta menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam penyelesaian
tugas ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Demikian referat ini dituliskan. Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi
siapapun yang membacanya. Penulis memohon maaf apabila pada penulisan masih
terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penulis menghimbau agar para pembaca dapat
memberikan saran dan kritik yang membangun dalam perbaikan referat ini.

Jakarta , 12 Februari 2013

Penulis

2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................................2

DAFTAR ISI ......................................................................................................................3

BAB I ILUSTRASI KASUS ..............................................................................................4

ANAMNESIS .....................................................................................................................4

Keadaan Intraoperasi (Catatan Anestesia) ....................... Error! Bookmark not defined.

BAB II ANALISA KASUS ...............................................................................................7

Analisa Intraoperasi ............................................................................................................7

BAB III TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................8

Trauma Kapitis ...................................................................................................................8

Syok Hipovolemik ............................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................26

3
BAB I

ILUSTRASI KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
No. RM : 01131558
Nama : An. Akhzan Umri W.
Umur : 18 tahun 5 bulan
Berat Badan : 55 kg
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Pondok Pesantren Nal Asriyah Nurul
Status pernikahan : Belum menikah
Penddkn terakhir : Tamat SLTP
Diagnosa : OMSK (Otitis Media Supuratif Kronis)
Jenis Pembedahan : Timpanomastoidektomi

Pasien merupakan pasien rawat jalan THT sejak 8 Januari 2012

2. ANAMNESIS

 Keluhan utama
Keluar cairan dari telinga kiri sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit
 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan keluhan keluar cairan
dari telinga kiri sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit. Telinga kiri dirasakan
nyeri dan pendengaran berkurang. Os mengaku pernah mengalami hal serupa ± 6
bulan yang lalu. Demam (-), batuk (-), pilek (-), telinga berdenging (-)
 Riwayat Penyakit Dahulu
- Keluhan yang sama sebelumnya (+)
- Asma (-)
- Hipertensi (-)
- Diabetes Melitus (-)
- penyakit jantung (-)
- alergi obat (-)
- riwayat operasi sebelumnya (+)  appendiktomi ± 8 bulan yang lalu
4
- riwayat TB (-)
 Riwayat Penyakit Keluarga
Asma (-), Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-), penyakit jantung (-)

3. KEADAAN OPERASI
a. Keadaan Intraoperasi 8 Januari 2013 (Catatan Anestesia)
Diagnosa Pre Op : Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)
Jenis Operasi : Timpanomastoidektomi
Lama Operasi : 08.45 – 11.50
Lama Anestesi : 08.15 – 12.00
Teknik : General Anestesi
Premedikasi : Fentanyl 150 mcg
Induksi : Propofol 200 mg
Relaksasi : Roculax 30 mg
Inhalasi : Isoflurane 1,5 %/L
Respirasi : Ventilator, VT 523 ml, RR 12x/mnt
Posisi : terlentang
Infus : Tangan kiri 22 G
Rumatan/Adjuvan : Ondancetron 4 mg, fentanyl 50 mcg, roculax 20 mg,
ketorolac 30 mg.

b. Keadaan Prabedah
Pemeriksaan fisik
• BB : 55 kg
• TD : 130/90 mmHg
• N : 80 x/mnt
• Napas : 18 x/menit
• Temp. : afebris
Pemeriksaan Laboratorium
• Hb : 14,3 g/dl
• Ht : 44 %
• Leukosit : 6.700 rb
• Trombosit : 356.000 rb
5
• GDS : 89 mg/dl
• Ureum : 21 mg/dl
• Kreatinin : 0,9 mg/dl
• Masa perdarahan : 1,5 menit
• Masa pembekuan : 4,0 menit

Monitoring Saat Operasi:

Jam Tekanan Darah (mmHg) Nadi (x/min)

08.15 100/50 80
08.30 98/50 78
08.45 105/60 68
09.00 100/48 60

09.15 100/50 63
09.30 100/48 58
09.45 100/50 60
10.00 98/48 58
10.15 90/45 60
10.30 98/48 65

10.45 98/50 65
11.00 108/52 82
11.15 108/52 85
11.30 98/45 75
11.45 88/40 80
12.00 85/45 60

c. Keadaan Akhir Pembedahan:


Tekanan Darah : 110 / 70 mmHg
Nadi : 82 x / menit
Muntah : (-)
Mual : (-)

6
Sianosis : (-)

Penilaian “ALDRETE SCORE”


Aktivitas Sirkulasi Pernafasan Kesadaran Warna kulit Total
Saat masuk
1 2 2 1 2 8
Ruang Pemulihan
Saat keluar
2 2 2 2 2 10
Ruang Pemulihan

4. BALANS CAIRAN

KEBUTUHAN CAIRAN
Jenis operasi : 6 cc/kg x 60 kg = 360 cc

Maintenance : (4x10) + (2x10) + (1x40) = 100 cc

Puasa : 6 x 100 cc = 600 cc

1 jam pertama : M + O + ½ P = 100 + 360 + 300 = 760 cc

1 jam kedua : M + O + ¼ P = 100 + 360 + 150 = 610 cc

1 jam ketiga : M + O + ¼ P = 100 + 360 + 150 = 610 cc

Setiap 1 jam selanjutnya : M + O = 460 cc

Intake cairan seharusnya selama operasi : 760 + 610 + 610 + 460 = 2440cc

Cairan masuk
Infus : Asering 500 ml x5 2500 ml
Voluven 500 ml x1 500 ml
HES 6% 500 ml x2 1000 ml
Nacl 500 ml x2 500 ml =
4500 ml

Cairan keluar

7
Urin : 1500 ml
Perdarahan :± 500 ml +
` 2000 ml

Balans : 4500 – 2000= + 2500 ml

5. RESUME
Pasien Tn. Akhzan, 18 tahun, Pasien datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan
keluhan keluar cairan dari telinga kiri sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit. Telinga kiri
dirasakan nyeri dan pendengaran berkurang. Os mengaku pernah mengalami hal serupa ± 6
bulan yang lalu. Demam (-), batuk (-), pilek (-), telinga berdenging (-). diagnosis pada pasien
ini adalah Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) dan akan dilakukan timpanomastoidektomi.
Pemeriksaan fisik pasien sebelum dilakukan operasi didapatkan BB pasien 55 kg, TD
130/90 mmHg, nadi 80 x/mnt, napas 18x/menit, suhu afebris. Dari pemeriksaan laboratorium
didapatkan Hb 14,3 g/dl, Ht 44 vol %, leukosit 6700/ul, trombosit 356 ribu/ul, GDS 89 mg/dl.
Lamanya tindakan anastesi dan operasi appendiktomi yang dialami pasien ± 3 jam 45
menit. Pasien menggunakan teknik general anestesi dengan premedikasi menggunakan
fentanyl 150 mcg, induksi menggunakan propofol 200 mg , dan relaksasi menggunakan
roculax 30 mg. Napas pasien dikendalikan oleh ventilator dengan volume tidal 523 ml dan
frekuensi napas 12x/menit. Pasien dioperasi dengan posisi terlentang, menggunakan infus
pada tangan kiri ukuran 22 G. Rumatan pasien menggunakan isoflurane 1,5%/ L. Pasien
menggunakan obat-obatan adjuvant berupa Ondancetron 4 mg, fentanyl 50 mcg, roculax 20
mg, dan ketorolac 30 mg.
Hemodinamik pasien ini selama operasi cenderung stabil dari awal hingga akhir??????????
Jenis operasi yang dialami pasien termasuk kedalam operasi sedang sehingga setelah
dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus kebutuhan cairan didapatkan hasil bahwa
kebutuhan cairan pasien yang harus dipenuhi selama operasi sebanyak 2440 cc. Cairan yang
masuk selama operasi sebanyak 4500 ml yang berasal dari cairan infus sebanyak 4500ml
(kristaloid 3000 ml, koloid 1500 ml). Cairan yang keluar selama operasi sebanyak 1500 ml (
urin 1500 ml, perdarahan ± 500 ml). Balans cairan pasien adalah +2500 ml (cairan masuk-
cairan yang keluar).

8
4
BAB II

ANALISA KASUS
Analisis Preoperasi

Pasien perempuan usia 46 tahun dengan BB 60 kg, datang dengan keluhan sakit
pada perut bagian kanan bawah sejak 2 minggu. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang didapatkan bahwa pasien mengalami appendicitis dan
dilakukan operasi tanggal 31 desember 2012. Pasien dilakukan operasi appendiktomi.
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien memiliki riwayat asma sejak kecil, pasien
tidak memiliki riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, TB, kejang. Kondisi fisik pasien
dinyatakan sebagai ASA IIE dengan adanya penyakit asma.
Salah satu cara untuk mencegah aspirasi pneumonia adalah penanganann pre
operasi. Sebaiknya pada saat preoperasi pasien diminta untuk melakukan puasa selama
minimal enam jam sebelum operasi. Hal ini tidak dapat dilakukan karena pasien datang
dalam keadaan cito. Dalam keadaan cito pasien tidak diminta puasa, dan secara tidak
langsung akan meningkatkan risiko regurgitasi dan aspirasi karena regurgitasi dan aspirasi
sangat tergantung pada dua factor yaitu keasaman dan volume isi lambung. Dengan tidak
puasa, tidak dapat menjamin volume isi lambung.

Pengosongan lambung untuk makanan padat pada orang dewasa sehat adalah enam
jam. Namun pada pasien ini tidak dapat dikatakan sehat. Pasien mengalami kelainan pada
saluran pencernaan yang akan mengganggu proses pengosongan lambung. dengan keadaan
pasien tidak kentut dan tidak buang air besar selama satu minggu, dapat dipastikan tekanan
dan volume intra gastrika meningkat. Selain itu secara klinis pasien mengeluh nyeri pada
perut yang merupakan salah satu sebab dari gangguan atau pemanjangan waktu
pengosongan lambung, yang berarti seharusnya dipuasakan lebih pajang, namun seperti
dikatakan diatas, pasien adalah pasien Cito yang tidak dapat menunggu puasa.

Pada persiapan pre operasi, sebaiknya diberikan obat-obat yang mengurangi


keasaman lambung, seperti penghambat H2 reseptor seperti ranitidine atau penghambat
pompa proton seperti omeprazole. Pada pasien ini preoperasi tidak diberikan obat-obat ini

5
karena awalnya tidak diperkirakan akan dilakukan bius umum. Pemberian ranitidine
dilakukan durante operasi.

Analisis Intraoperasi
Pada pasien ini dilakukan teknik regional anestesi dengan menggunankan marcain
20mg dan fentanyl 15mg. Lalu pada pukul 01.30 dilakukan perubahan teknik anestesi
dengan general anestesi karena didapatkan non vital jejunum. Pada pasien ini diberikan
premedikasi fentanyl 100mcg, propofol 200mg dan roculax 40mg sebagai induksi.1
Premedikasi yang diberikan adalah fentanyl 100 mcg. Dosis fentanyl untuk
premedikasi adalah 1-3 mcg/kgBB.2 Dosis yang diberikan sesuai. Fentanyl diberikan
sebagai analgetik narkotik.
Untuk relaksasi saat intubasi diberikan Roculax 40 mg. Rokuronium merupakan
relaksan otot skelet nondepolarisasi (intermediate acting), diberikan sebagai obat relaksasi
otot dengan kerja singkat. Relaksasi otot ini dimaksudkan untuk membuat relaksasi otot
selama berlangsungnya operasi, menghilangkan spasme laring dan refleks jalan napas atas
selama operasi, dan memudahkan pernapasan terkendali selama anestesi. Dosis
Rocuronium untuk intubasi adalah 0,8 mg/kgBB. Pemberian roculax sudah sesuai dengan
dosis. Lama aksi obat ini adalah 30-60 menit. Sehingga sebaiknya diberikan dosis
pemeliharaan 0,15 mg/kgBB setelah 30 – 60 menit.
Hemodinamik pasien ini selama operasi cenderung stabil pada awalnya lalu pada
saat dilakukan eksplorasi terhadap appendicitis ditemukan jejunum non vital, untuk itu
diputuskan untuk mengubah teknik anesthesia dari regional anestesi menjadi general
anestesi. Semua peralatan yang dibutuhkan untuk general anestesi dipersiapkan dengan
lengkap, lalu saat akan dilakukan intubasi terdapat kesulitan untuk memasukkan ETT ke
dalam trakea kemudian ETT dikeluarkan kembali dan tiba-tiba terdapat cairan berwarna
kehijauan keluar melalui mulut dan hidung dalam jumlah yang banyak. Karena saturasi
semakin menurun diputuskan untuk melakukan intubasi kembali kepada pasien ini. Pada
saat dilakukan intubasi yang kedua, terjadi aspirasi yang diakibatkan oleh masuknya cairan
lambung yang mengalami regurgitasi kedalam paru-paru pasien, sehingga terjadi henti
nafas dan henti jantung dan dilakukan resusitasi jantung paru.
Seharusnya untuk menangani pasien yang harus dilakukan operasi secara darurat
(cito) dengan puasa yang singkat, kita harus memikirkan resiko-resiko apa saja yang dapat

6
terjadi pada pasien tersebut terutama aspirasi yang dapat ditangani dengan melakukan
sellick maneuver yaitu dengan menekan bagian cricoids kearah atas belakang agar
esophagus tertekan sehingga cairan dari dalam lambung tidak keluar,selain itu Segera
setelah dicurigai terjadi regurgitasi, pasien harus diposisikan dalam posisi head-down agar
isi lambung keluar melalui mulut dan tidak masuk ke trachea.atau dengan memasang
nasogastrik tube sebelumnya untuk mengurangi isi lambung.
Pemberian cairan intraoperasi sebanyak 4500 cc, dengan komposisi Asering
2500cc, HES 6% 500cc, Voluven 1000cc, Nacl 500cc. Sementara cairan keluar sebanyak
1500 cc, dengan komposisi urin 1500 cc, perdarahan 500cc, dan sehingga didapatkan
balans cairan operasi +2500 cc.

7
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANESTESI UMUM (GENERAL ANESTESI)


Tindakan anestesi dilakukan dengan menghilangkan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Trias anestesi yaitu
hipnotik, analgesic, dan relaksasi.
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya kecelakaan
dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan kunjungan pasien
terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar.
Tujuan kunjungan pra anestesi adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi,
mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah dilakukan
premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya :
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan
2. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
3. Mengurangi mual dan muntah pasca bedah
4. Mengurangi isi cairan lambung
5. Membuat amnesia
6. Memperlancar induksi anestesi
7. Meminimalkan jumlah obat anestesi
8. Mengurangi reflek yang membahayakan
1. Obat Premedikasi
a. Sulfas atropin 0,25 mg : Antikolinergik
Atropin dapat mengurangi sekresi dan merupakan obat pilihan utama untuk
mengurangi efek bronchial dan kardial yang berasal dari perangsangan
parasimpatis, baik akibat obat atau anestesikum maupun tindakan lain dalam
operasi. Disamping itu efek lainnya adalah melemaskan tonus otot polos organ-
organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. Perlu diingat bahwa obat ini tidak
mencegah timbulnya laringospame yang berkaitan dengan anestesi umum.
Setelah penggunaan obat ini (golongan baladona) dalam dosis terapeutik ada
perasaan kering dirongga mulut dan penglihatan jadi kabur. Karena itu sebaiknya

8
obat ini tidak digunakan untuk anestesi regional atau lokal. Pemberiannya harus
hati-hati pada penderita dengan suhu diatas normal dan pada penderita dengan
penyakit jantung khususnya fibrilasi aurikuler.
Atropin tersedia dalam bentuk atropin sulfat dalam ampul 0,25 mg dan 0,50
mg. Diberikan secara suntikan subkutis, intramuscular atau intravena dengan dosis
0,5-1 mg untuk dewasa dan 0,015 mg/kgBB untuk anak-anak.

b. Hipnoz 2 mg (Midazolam) : obat penenang(transquilaizer)


Midazolam
Midazolam telah mendominasi menggantikan diazepam pada penggunaannya
sebagai medikasi preoperative dan sedasi sadar. Bahan-bahan psikokimia dari obat
itu berguna untuk kelarutannya dalam air dan metabolisme cepat. Sedangkan
dengan benzodiazepin lain, midazolam menghasilkan anxiolysis, sedasi, dan
amnesia. Ini 2 sampai 3 kali lebih poten daripada diazepam karena peningkatannya
pada reseptor benzodiazepun. Dosis biasa intramuskuler adalah 0,05-0,1 mg/kg dan
titrasi 1,0-2,5 mg pada intravena. Tidak ada iritasi atau phlebitis dengan injeksi
midazolam. Insidensi efek samping setelah masuknya obat rendah, meskipun
depresi ventilasi dan sedasi dapat lebih dari yang diharapkan, terutama pada pasien
tua atau ketika obat dikombinasikan dengan depresan system saraf pusat lain. Ada
onset yang cepat pada kerja dan absobrsi yang diperkirakan setelah injeksi
intramuskular midazolam daripada diazepam. Waktu onset setelah injeksi
intramuskuler 5-10 menit, dengan efek puncak muncul setelah 30-60 menit. Onset
setelah masuknya intravena sebesar 5 mg diperkirakan muncul setelah 1-2 menit.
Ditambahkan onset yang lebih cepat, penyembuhan lebih cepat muncul setelah
masuknya midazolam dibandingkan dengan diazepam. Hal ini mungkin sebagai
hasil kelarutan midazolam pada lemak dan distribusi yang cepat pada jaringan
perifer dan biotransformasi metabolic.
Atas alasan ini, midazolam biasanya diberikan dalam waktu 1 jam induksi.
Midazolam dimetabolisme dengan enzim mikrosomal hepatic untuk mencapai
metabolisme hidroksilasi yang inaktif. Reseptor H2 antagonis tidak mempengaruhi
metabolisme. Eliminasi waktu paruh midazolam kira-kira 1-4 jam dan dapat
memanjang pada orang tua. Percobaan menunjukkan fungsi mental biasanya

9
kembali ke normal dalam 4 jam masuknya obat. Setelah masuknya 5 mg, amnesia
berakhir dari 20-32 menit. Masuknya obat intramuskuler dapat menghasilkan
periode amnesia lebih panjang. Hilangnya ingatan dapat diakibatkan oleh
masuknya skolpolamin berkelanjutan. Obat-obatan midazolam membuat hal ini
ideal untuk prosedur yang pendek.
Efek sampingnya terjadi perubahan tekanan darah arteri, denyut nadi dan
pernafasan, umumnya hanya sedikit
Dosis premedikasi dewasa 0,07-0,10 mg/kgBB, disesuaikan dengan umur dan
keadaan pasien. Dosis lazim adalah 5 mg. pada orang tua dan pasien lemah
dosisnya 0,025-0,05 mg/kgBB.

Antiemetik
c. Cedantron 4 mg (Ondansentrone)
Suatu antagonis reseptor serotonin 5 – HT 3 selektif. Baik untuk pencegahan dan
pengobatan mual, muntah pasca bedah. Efek samping berupa ipotensi, bronkospasme,
konstipasi dan sesak nafas. Dosis dewasa 2-4 mg.
d. Antagonis Receptor Histamin
Antagonis reseptor H2
Cimetidin, Ranitidin, Famotidin and Nizatidin mengurangi sekresi asam gaster. Mereka
memblok kemampuan histamine untuk menginduksi sekresi asam gaster dengan
konsentrasi ion hydrogen yang tinggi. Oleh karena itu antagonis reseptor histamin
meningkatkan pH gaster. Antagonisme dari reseptor histamine terjadi dalam cara yang
selektif dan kompetitif. Penting untuk mengingat bahwa obat-obatan ini tidak dapat
diperkirakan tergantung dari volume gaster. Dibanding dengan premedikasi, mereka relatif
memiliki efek samping yang lebih sedikit. Karena efek sampingnya yang relatif sedikit dan
karena banyak pasien elektif memiliki resiko aspirasi pneumonitis, beberapa
anesthesiologists menyarankan penggunaan antagonis reseptor H2.
Regimen dosis mulitipel dapat lebih efektif dalam meningkatkan pH gaster dibanding
dosis tunggal sebelum operasi pada hari operasi. Antagonis H2 juga dapat diberikan pada
pasien alergi.
Ranitidin 50 mg

10
Ranitidin lebih poten,spesifik, dan kerja lebih lama dibanding cimetidin. Dosis
oaral biasanya 50-200 mg. Ranitidin 50-100 mg yang diberikan parenteral,akan
menurunkan pH cairan gaster dalam 1 jam. Sama efektifnya dengan cimetidin dalam
mengurangi jumlah pasien yang memiliki resiko aspirasi gaster dan memiliki sedikit efek
samping terhadap kardiovaskular dan SSP. Efek dari ranitidine berlangsung sampai 9 jam.
Oleh karena itu, ranitidine lebih superior dari cimetidin pada prosedur jangka panjang
dalam mengurangi resiko aspirasi pneumonitis selama keadaan bahaya dari anestesi dan
extubasi trakea.

OBAT INDUKSI
1. RECOFOL 80 mg (Profofol)
Propofol adalah obat anestesi intravena yang bekerja cepat dengan karakter
recovery anestesi yang cepat tanpa rasa pusing dan mual-mual. Profofol merupakan cairan
emulsi minyak-air yang berwarna putih yang bersifat isotonik dengan kepekatan 1%
(1ml=10 mg) dan mudah larut dalam lemak. Profopol menghambat transmisi neuron yang
dihantarkan oleh GABA. Propofol adalah obat anestesi umum yang bekerja cepat yang efek
kerjanya dicapai dalam waktu 30 detik.
Dosis induksi 1-2 mg/kgBB. Dosis rumatan 500ug/kgBB/menit infuse. Dosis sedasi
25-100ug/kgBB/menit infuse. Pada pasien yang berumur diatas 55 tahun dosis untuk induksi
maupun maintanance anestesi itu lebih kecil dari dosis yang diberikan untuk pasien dewasa
dibawah umur 55 tahun. Cara pemberian bisa secara suntikan bolus intravena atau secara
kontinu melalui infus, namun kecepatan pemberian harus lebih lambat daripada cara
pemberian pada oranag dewasa di bawah umur 55 tahun. Pada pasien dengan ASA III-IV
dosisnya lebih rendah dan kecepatan tetesan juga lebih lambat
2. PETIDIN
Petidin ( meperidin, demerol) adalah zat sintetik yang formulanya sangat berbeda
dengan morfin, tetapi mempunyai efek klinik dan efek samping yang mendekati sama.
Secara kimia petidin adalah etil-1metil-fenilpiperidin-4-karboksilat.3
Farmakodinamik

11
Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor m (mu).
Seperti halnya morfin, meperidin (petidin) menimbulkan efek analgesia, sedasi, euforia,
depresi nafas dan efek sentral lainnya. Waktu paruh petidin adalah 5 jam. Efektivitasnya
lebih rendah dibanding morfin, tetapi leih tinggi dari kodein. Durasi analgesinya pada
penggunaan klinis 3-5 jam. Dibandingkan dengan morfin, meperidin lebih efektif terhadap
nyeri neuropatik.
Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut :
1. Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.
2. Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam
meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin adalah metabolit yang masih
aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah
berkurang 50%. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam urin.
3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan
takikardia.
4. Seperti morpin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih
ringan.
5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada
hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa. Morfin
tidak.
6. Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.
Farmakokinetik
Absorbsi meperidin setelah cara pemberian apapun berlangsung baik. Akan tetapi
kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM. Kadar puncak dalam plasma
biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang dicapai antar individu sangat bervariasi.
Setelah pemberian meperidin IV, kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2
jam pertama, kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. Kurang lebih 60% meperidin
dalam plasma terikat protein. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Pada manusia
meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian
mengalami konyugasi. Meperidin dalam bentuk utuh sangat sedikit ditemukan dalam urin.
Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N-
demitilasi.

12
Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan metabolik otak, dan
tekanan intra kranial. Berbeda dengan morfin, petidin tidak menunda persalinan, akan
tetapi dapat masuk ke fetus dan menimbulkan depresi respirasi pada kelahiran.

Indikasi
Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada beberapa keadaan
klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada
morfin. Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai
obat preanestetik, untuk menimbulkan analgesia obstetrik dibandingkan dengan morfin,
meperidin kurang karena menyebabkan depresi nafas pada janin.
Dosis dan sediaan
Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml,
50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Sebagian besar pasien tertolong
dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.
Efek samping
Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing,
berkeringat, euforia, mulut kering, mual-muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan,
palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi.
3. ATRACURIUM Tracrium 20 mg : nondepolarisasi
Pelumpuh otot nondepolarisasi (inhibitor kompetitif, takikurare) berikatan dengan
reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak menyebabkan depolarisasi, hanya menghalangi
asetilkolin menempatinya, sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja.
Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasinya selama 20-45
menit dan dapat meningkat menjadi 2 kali lipat pada suhu 250 C, kecepatan efek kerjanya
1-2 menit.
Penawar pelumpuh otot atau antikolinesterase bekerja pada sambungan saraf-otot
mencegah asetilkolin-esterase bekerja, sehingga asetilkolin dapat bekerja.
Antikolinesterase yang paling sring digunakan ialah neostigmin dengan dosis (0,04-0,08
mg/kgBB) atau obat antikolinergik lainnya. Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik
menyebabkan hipersalivasi, keringatan, bradikardia, kejang bronkus, hipermotilitas usus
dan pandangan kabur, sehingga pemberiannya harus disertai obat vagolitik seperti atropin

13
dosis 0,01-0,02 mg/kgBB atau glikopirolat 0,005-0,01 mg/kgBB sampai 0,2-0,3 mg/kgBB
pada dewasa.
MAINTAINANCE
a. N2O
N2O (gas gelak, nitrous oxide, dinitrogen monoksida) diperoleh dengan memanaskan
ammonium nitrat sampai 240°C (NH4 NO3 à 2H2O + N2O)
N2O dalam ruangan berbentuk gas tak berwarna, bau manis, tak iritasi, tak
terbakar, dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian anestesi dengan N2O harus disertai
O2 minimal 25%. Gas ini bersifat anestesik lemah, tetapi analgesinya kuat, sehingga sering
digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang
digunakan sendirian, tetapi dikombinasi dengan salah satu anestesi lain seperti halotan dan
sebaagainya. Pada akhir anestesi setelah N2O dihentikan, maka N2O akan cepat keluar
mengisi alveoli, sehingga terjadi pengenceran O2 dan terjadilah hipoksia difusi. Untuk
menghindari terjadinya hipoksia difusi, berikan O2 100% selama 5-10 menit.
Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N2O : O2 yaitu
60% : 40%, 70% : 30%. Dosis untuk mendapatkan efek analgesik digunakan dengan
perbandingan 20% : 80%, untuk induksi 80% : 20%, dan pemeliharaan 70% : 30%. N2O
sangat berbahaya bila digunakan pada pasien pneumothorak, pneumomediastinum,
obstruksi, emboli udara dan timpanoplasti.
b. Halothane (Fluothane)
B. Obat Anestetik inhalasi
1. Halothan/fluothan
Halothane adalah obat anestesi inhalasi berbentuk cairan bening tak berwarana yang
mudah menguap dan berbau harum. Pemberian halothane sebaiknya bersama dengan
oksigen atau nitrous okside 70%-oksigen dan sebaiknya menggunakan vaporizer yang
khusus dikalibrasi untuk halothane agar konsentrasi uap dihasilkan itu akurat dan mudah
dikendalikan. Pada nafas spontan rumatan anestesi sekitar 1-2 vol% dan pada nafas kendali
sekitar 0,5-1 vol % yang tentunya disesuaikan dengan respon klinis pasien. Kelebihan
dosis menyebabkan depresi pernafasan, menurunnya tonus simpatis, terjadi hipotensi,
bradikardia, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi miokard dan inhibisi refleks
baroreseptor. Paska pemberian halothane sering menyebabkan pasien menggigil

14
Sifat
 Tidak berwarna, mudah menguap
 Tidak mudah terbakar/meledak
 Berbau harum tetapi mudah terurai cahaya

Efek:
 Tidak merangsang traktus respiratorius
 Depresi nafas Þ stadium analgetik
 Menghambat salivasi
 Nadi cepat, ekskresi airmata
 Hipnotik kuat, analgetik kurang baik, relaksasi cukup
 Mencegah terjadinya spasme laring dan bronchus
 Depresi otot jantung Þ aritmia (sensitisasi terhadap epinefrin)
 Depresi otot polos pembuluh darah Þ vasodilatasi Þ hipotensi
 Vasodilatasi pembuluh darah otak
 Sensitisasi jantung terhadap katekolamin
 Meningkatkan aktivitas vagal vagal refleks
 Pemberian berulang (1-3 bulan) kerusakan hepar (immune-mediated hepatitis)
 Menghambat kontraksi otot rahim
 Absorbsi & ekskresi obat oleh paru, sebagian kecil dimetabolisme tubuh
 Dapat digunakan sebagai obat induksi dan obat maintenance

Keuntungan
 Cepat tidur
 Tidak merangsang saluran napas
 Salivasi tidak banyak
 Bronkhodilator obat pilihan untuk asma bronkhiale
 Waktu pemulihan cepat (1 jam post anestesi)
 Kadang tidak mual & tidak muntah, penderita sadar dalam kondisi yang enak

Kerugian

15
 Overdosis
 Perlu obat tambahan selama anestesi
 Hipotensi karena depresi miokard & vasodilatasi
 Aritmia jantung
 Sifat analgetik ringan
 Cukup mahal
 Dosis dapat kurang sesuai akibat penyusutan

Halothane adalah obat anestesi inhalasi berbentuk cairan bening tak berwarana yang
mudah menguap dan berbau harum. Pemberian halothane sebaiknya bersama dengan
oksigen atau nitrous okside 70%-oksigen dan sebaiknya menggunakan vaporizer yang
khusus dikalibrasi untuk halothane agar konsentrasi uap dihasilkan itu akurat dan mudah
dikendalikan. Pada nafas spontan rumatan anestesi sekitar 1-2 vol% dan pada nafas kendali
sekitar 0,5-1 vol % yang tentunya disesuaikan dengan respon klinis pasien. Kelebihan
dosis menyebabkan depresi pernafasan, menurunnya tonus simpatis, terjadi hipotensi,
bradikardia, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi miokard dan inhibisi refleks
baroreseptor. Paska pemberian halothane sering menyebabkan pasien menggigil
INTUBASI
Setelah dilakukan induksi anestesia yaitu tindakan untuk membuat pasien dari
sadar menjadi tidak sadar, maka memungkinkan dimulainya anestesia dan pembedahan.
Induksi dapat dilakukan secara intrvena, intramuskular, inhalasi dan rektal. Sebelum
dilakukan induksi sebaiknya disiapkan terlebih dahulu peralatan dan obat-obatan yang
diperlukan. Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS:
S = Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope
T = Tubes Pipa trakea. Usia <>5 tahun dengan balon
(cuffed)
A = Airway Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring) yang
digunakan untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menymbat
jalan napas
T = Tape Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut
I = Intro Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah dimasukkan
C = Connec Penyambung pipa dan perlatan anestesia

16
S = Suction Penyedot lendir dan ludah
Tujuan dilakukannya tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan
saluran trakheobronchial, mempertahankan jalan nafas agar tetap paten, mencegah aspirasi,
serta mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. Pada
dasarnya, tujuan intubasi endotrakheal (Anonim, 1986) :
a. Mempermudah pemberian anestesia.
b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran
pernafasan.
c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak sadar,
lambung penuh dan tidak ada refleks batuk).
d. Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial.
e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
f. Mengatasi obstruksi laring akut.
g. Obat.

Indikasi bagi pelaksanaan intubasi endotrakheal menurut Gisele tahun 2002 antara
lain :
a. Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat (karena menurunnya tekanan oksigen arteri dan
lain-lain) yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian suplai oksigen melalui masker
nasal.
b. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan karbondioksida di
arteri.
c. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekret pulmonal atau sebagai bronchial
toilet.
d. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau pasien
dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi.
Menurut Gisele, 2002 ada beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasi
endotrakheal antara lain :
a. Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau obstruksi yang tidak memungkinkan untuk
dilakukannya intubasi. Tindakan yang harus dilakukan adalah cricothyrotomy pada
beberapa kasus.

17
b. Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical,
sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi.
Kesukaran yang sering dijumpai dalam intubasi endotrakheal (Mansjoer Arif et.al., 2000)
biasanya dijumpai pada pasien-pasien dengan :
a. Otot-otot leher yang pendek dengan gigi geligi yang lengkap.
b. Recoding lower jaw dengan angulus mandibula yang tumpul. Jarak antara mental
symphisis dengan lower alveolar margin yang melebar memerlukan depresi rahang
bawah yang lebih lebar selama intubasi.
c. Mulut yang panjang dan sempit dengan arcus palatum yang tinggi.
Gigi incisium atas yang menonjol (rabbit teeth).
d. Kesukaran membuka rahang, seperti multiple arthritis yang menyerang sendi
temporomandibuler, spondilitis servical spine.
e. Abnormalitas pada servical spine termasuk achondroplasia karena fleksi kepala pada
leher di sendi atlantooccipital.
f. Kontraktur jaringan leher sebagai akibat combusio yang menyebabkan fleksi leher.
Dalam melakukan suatu tindakan intubasi, perlu diikuti beberapa prosedur yang telah
ditetapkan antara lain :
a. Persiapan. Pasien sebaiknya diposisikan dalam posisi tidur terlentang, oksiput diganjal
dengan menggunakan alas kepala (bisa menggunakan bantal yang cukup keras atau
botol infus 1 gram), sehingga kepala dalam keadaan ekstensi serta trakhea dan
laringoskop berada dalam satu garis lurus.
b. Oksigenasi. Setelah dilakukan anestesi dan diberikan pelumpuh otot, lakukan
oksigenasi dengan pemberian oksigen 100% minimal dilakukan selama 2 menit.
Sungkup muka dipegang dengan tangan kiri dan balon dengan tangan kanan.
c. Laringoskop. Mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop
dipegang dengan tangan kiri. Daun laringoskop dimasukkan dari sudut kiri dan
lapangan pandang akan terbuka. Daun laringoskop didorong ke dalam rongga mulut.
Gagang diangkat dengan lengan kiri dan akan terlihat uvula, faring serta epiglotis.
Ekstensi kepala dipertahankan dengan tangan kanan. Epiglotis diangkat sehingga
tampak aritenoid dan pita suara yang tampak keputihan berbentuk huruf V.
d. Pemasangan pipa endotrakheal. Pipa dimasukkan dengan tangan kanan melalui sudut
kanan mulut sampai balon pipa tepat melewati pita suara. Bila perlu, sebelum

18
memasukkan pipa asisten diminta untuk menekan laring ke posterior sehingga pita
suara akan dapat tampak dengan jelas. Bila mengganggu, stilet dapat dicabut. Ventilasi
atau oksigenasi diberikan dengan tangan kanan memompa balon dan tangan kiri
memfiksasi. Balon pipa dikembangkan dan daun laringoskop dikeluarkan selanjutnya
pipa difiksasi dengan plester.
e. Mengontrol letak pipa. Dada dipastikan mengembang saat diberikan ventilasi. Sewaktu
ventilasi, dilakukan auskultasi dada dengan stetoskop, diharapkan suara nafas kanan
dan kiri sama. Bila dada ditekan terasa ada aliran udara di pipa endotrakheal. Bila
terjadi intubasi endotrakheal akan terdapat tanda-tanda berupa suara nafas kanan
berbeda dengan suara nafas kiri, kadang-kadang timbul suara wheezing, sekret lebih
banyak dan tahanan jalan nafas terasa lebih berat. Jika ada ventilasi ke satu sisi seperti
ini, pipa ditarik sedikit sampai ventilasi kedua paru sama. Sedangkan bila terjadi
intubasi ke daerah esofagus maka daerah epigastrum atau gaster akan mengembang,
terdengar suara saat ventilasi (dengan stetoskop), kadang-kadang keluar cairan
lambung, dan makin lama pasien akan nampak semakin membiru. Untuk hal tersebut
pipa dicabut dan intubasi dilakukan kembali setelah diberikan oksigenasi yang cukup.
f. Ventilasi.

Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan nyeri secara sentral disertai hilangnya
kesadaran yang bersifat reversible. Anestesi umum adalah tindakan yang menimbulkan
keadaan tidak sadar selama prosedur medis dilakukan, sehingga pasien tidak merasakan
atau mengingat sesuatu yang terjadi. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari hipnotik,
analgesia, dan relaksasi. Dalam anestesi umum, pasien akan mengalami keadaan tidak
sadar dan hilangnya refleks pelindung yang dihasilkan dari satu atau lebih agen anestesi
umum.

Anestesi umum menggunakan agen intravena, inhalasi, intramuskular dan per


rektal. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa anestesi umum mungkin tidak selalu
menjadi pilihan terbaik, tergantung pada keadaan pasien, lokal atau
anestesi regional mungkin lebih tepat. Penyedia anestesi bertanggung jawab untuk menilai

19
semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang
optimal. Keuntungan anestesi umum :

-Mengurangi kesadaran pasien intraoperatif


-Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama
-Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi
-Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi local
-Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga
-Dapat diberikan dengan cepat
-Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang
Kekurangan anestesi umum :
-Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien
-Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah, sakit
tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan memerlukan masa untuk fungsi mental yang
normal
-Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua) agen anestesi
umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan, hiperkarbia,
asidosismetabolik, dan hiperkalemia.
Indikasi anestesi umum :

-Infant dan anak usia muda

-Dewasa yang memilih anestesi umum

-Pembedahan luas

-Penderita sakit mental

-Pembedahan lama

-Pembedahan dimana anestesi local tidak praktis atau tidak memuaskan

-Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi local

-Penderita dengan pengobatan antikoagulan

20
Hal yang harus diperhatikan dalam anestesi umum adalah hilagnya upaya
mempertahankan diri dari pasien. Pasien akan kehilangan reflex reflex nya termasuk reflex
batuk yang berfungsi untuk mencegah adanya aspirasi. Selain kehilangan reflex,
penggunaan musce relaxan pada anestesi umum dapat menyebabkan tidak adekuatnya
sphincter pada lambung yang bisa menyebabkan adanya aspirasi yang berisiko
menyebabkan aspirasi. Untuk mencegah hal ini, pasien yang akan dilakukan anestesi
umum harus dipuasakan untuk mengosongkan lambung dan mencegah adanya regurgitasi
dan aspirasi, karena aspirasi adalah penyebab morbiditas yang cukup tinggi dalam anestesi

Perubahan patofisiologi dari aspirasi pneumonia tergantung dari komposisi zat teraspirasi.
Aspirasi cairan asam dapat menyebabkan atelektasis, edema paru, dan kehilangan
surfactant. Aspirasi berupa partikel dapat menyebabkan obstruksi jalan napas kecil dan
necrosis alveolar. Granuloma dapat ditemukan sekitar makanan atau partikel antacid.
Perubahan fisiologi paling awal yang mengikuti aspirasi intrapulmonal adalah hypoxi,
edema paru, hipertensi paru dan hypercapnea.

Wheezing, Ronki, takikardi, dan takipneu adalah tanda tanda fisik yang sering muncul.
Penurunan penyesuaian paru dapat menyebabkan susahnya ventilasi. Hipotensi
menandakan perpindahan cairan secara signifikan kedalam alveoli dan dihubungkan
dengan cedera paru massif. Foto thorax terkadang tidak menunjukan infiltrate difus
bilateral selama beberapa ham setelah kejadian. Pemeriksaan AGD memperlihatkan
hipoksemia, hipercapnia dan asidosis respiratoris. (lange)

Ada beberapa factor yang menjadi factor predisposisi dari aspirasi pneumonitis :

1) Isi lambung
Pasien memiliki risiko pneumonitis aspirasi bila volume minimal gaster adalah
0.4ml/kg dan ph isi gaster kurang dari 2.5. namun tidak semua pasien dengan
volume lebih dari 0.4 ml/kg pasti mengalami pneumonia.

2) Lower Esophageal Sphincter


LES membentuk batas antara perut dan esophagus. Penurunan dari tekanan LES
adalah penyebab utama pada pasien GERD yang sedang dalam masa anestesi atau
penyakit lain. Namun tekanan dari LES bukanlah satusatunya factor yang

21
menyebabkan reflux isi lambung. Hal yang lebih mempengaruhi adalah tekanan
barier, yaitu hasil pengurangan antara tekanan LES dan tekanan intra gastrica.
Pasien dalam keadaan teranestesi akan mengalami penurunan dari tekanan LES
yang dapat menyebabkan reglux gastrophageal karena penurunan tekanan barier.
Secara umum obat-obat antiemetik, cholinergik, succinylcholine, dan antasida
meningkatkan tekanan LES. Tekanan LES berkurang bila mengkonsumsi obat
anticholinergic, thiopental, opioid, and obat inhalasi; jadi atracurium, vecuronium,
ranitidine, and cimetidine tidak memiliki efek terhadap tekanan LES (27).

3) Upper Esophageal Sphincter


Muskulus Cricopharyngeus berfungsi sebagai Upper Eosophagus Sphicter
fungsional. Ini adalah satu dari dua otot konstriktor inferior dari faring. Pada pasien
yang sadar dan sehat, UES memantu mencegah aspirasi dengan menyegel
eosophagus bagian atas dari hypopharynx. Dan beberapa sumber menyatakan
fungsi ini akan terganggu pada saat tidur. (31).

Namun dari penelitian menyatakan bahwa kebanyakan teknik anestesi, kecuali


ketamine, cenderung mengurangi tonus UES dan meningkatkan kemungkinan
terjadi regurgitasi zat dari esophagus masuk ke hypopharinx. Selain itu, pasien
yang meneria obat penghambat neuromuscular memiliki risiko aspirasi karena
pengurangan tonus UES dan gangguan menelan. Factor lain seperti anestesi, tipe
pembedahan, dan usia pasien juga mempengaruhi risiko terjadi komplikasi paru
post operasi.

4) Reflex pertahanan jalan napas.


Ada empat refleks yang menjaga jalan napas dari aspirasi. Refleks refleks tersebut
antara lain :
- Apnea dengan spasme laring. Pada saat refleks ini teraktivasi, akan terjadi
penutupan pita suara palsu dan sejati. Bila spasme laring berlangsung lama, pita
suara palsu akan melemas dan pita suara aseli tetap konstriksi
- Batuk, suatu usaha ekspirasi paksa yang didahului oleh peridoe isnpirasi yang
singkat. Pita suara palsu membuka lebih lebar pada ekspirasi daripada inspirasi

22
- Ekspirasi. ini adalah refleks ekpirasi paksa tanpa didahului dengan inspirasi.
Pembukaan glitis secara tiba-tiba diikuti oleh pentupan dari pita suara palsu.
- Panting spasmodik. Reflek ini mencakup nafas dangkal dengan kecepatan 60
kali per menit selama kurang dari 10detik. Glottis terbuka dan tertutup secara
cepa

Dari hasil penelitaian pada dua puluh dua pasien yang diinduksi dengan propofol
dan dimasukan 0.2 ml air ke muka saring sekitar pita suara, ditemukan bahawa
refleks ekspirasi adalah refleks pertama yang teraktifasi. Peningkatan dosis
fentanyl secara progresif menurunkan insiden dari refleks ekspirasi, panting
spasmodic, dan batuk, namun spasme laring tidak dapat dihilangkan sama sekali.

23
KESIMPULAN

24
DAFTAR PUSTAKA

1) Ng A, Smith G. Gastroesophageal Reflux and Aspiration of Gastric Contents in


Anesthetic Practice. A&A August 2001. Available at http://www.anesthesia-
analgesia.org/content/93/2/494/T1.expansion.html accessed on january 10th 2013
2) Murray JM, Mikhael MS, Morgan GE. Clinical Anestesiology, 4th Edition. 2007.
McGraw Hills.
3) Ismail ZIA, Vanner RG. Regurgitation and aspiration of gastric contents during
general anaesthesia using the laryngeal mask airway. Anaesth 1996; 6: 325–8.

4) Rabey PG, Murphy PJ, Langton JA, et al. Effect of the laryngeal mask airway on
lower oesophageal sphincter pressure in patients during general anaesthesia. Br J
Anaesth 1992; 69: 346–8.

25
.

DAFTAR PUSTAKA

 Mardjono mahar, Sidharta priguna. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke 9. Dian


Rakyat. 2003. Bab VIII Mekanisme trauma susunan saraf. Hal 248-63.
 Buku Pedoman SPM dan SPO NEUROLOGI. PERDOSSI. Bab IX Neurotrauma.
Hal 147-58.
 Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses penyakit.Vol 2.
Edisi 6. Jakarta: EGC, 2006. Hal : 1167-1171
 Underwood. Patologi umum dan sistemik. Vol 2. Edisi 2. Jakarta: EGC, 2000. Hal :
859-860
 Leksana, E. Terapi Cairan dan Elektrolit. 2004. Semarang. FK Undip

 Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Clinical Anesthesiology. Ed.4. New York:
McGraw Hill; 2006.

26
27