Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

HIDRAMNION

DISUSUN OLEH :

Rut Elisabeth

1261050205

Pembimbing :

dr. Ahmad Feriyanto, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN

PERIODE 02 OKTOBER – 09 DESEMBER 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN


INDONESIA

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Bab I

Pendahuluan……………………………………………………….3

Bab II Tinjauan Pustaka

A. Definisi
hidramnion………………………………………… ……5

B. Epidemiologi hidramnion …………………………… . .6

C. Etiologi
hidramnion…………………………………………..……7

D. Patofisiologi hidramnion………………………………. 9

E. Klasifikasi hidramnion……………………………… .. .17

F. Gejala klinis hidramnion………………………………. 18

G. Diagnosis hidramnion……………………………………14

H. Tatalaksana hidramnion………………………………...20

Bab III Kesimpulan………………………………………………. 27

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul
“HIDRAMNION”. Selama menyelesaikan referat ini, banyak pihak yang
membantu penulis. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada:

1. dr. Ahmad Feriyanto Sp.OG, selaku pembimbing referat.

2. Segenap staf pembimbing Ilmu Kebidanan dan kandungan di RSUD


Cibinong

3. Rekan-rekan kepaniteraan klinik Ilmu Kebidanan dan kandungan


Kedokteran Universitas Kristen Indonesia yang telah membantu penulis
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan referat ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan referat ini masih jauh dari sempurna,
mengingat keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh
karena itu, diharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan penulisan referat ini. Dengan ini penulis mengucapkan terima
kasih.

Cibinong, November 2017

3
BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan merupakan hasil konsepsi antara ovum dengan sperma yang telah

matang dan mengalami perkembangan. Lama kehamilan berlangsung sampai

persalinan aterm sekitar 280 hari sampai 300 hari. Kehamilan dibagi menjadi

tiga triwulan, triwulan pertama 0-12 minggu, triwulan kedua 12-28 minggu,

dan triwulan ketiga 28-40 minggu.1

Hidramnion pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar

di negara berkembang termasuk Indonesia. Cairan ketuban paling banyak

dihasilkan oleh proses urinasi atau produksi air seni janin. Janin minum air

ketuban dalam jumlah yang seimbang dengan air seni yang dihasilkannya.

Volume cairan amnion adalah suatu prediktor yang penting untuk menilai

kesejahteraan janin yang berlanjut melewati minggu ke-40 kehamilan, dimana

cairan amnion telah berkurang secara bertahap sejak umur kehamilan 37

minggu. Jumlah cairan amnion juga dpat memprediksi bagaimana toleransi

fetus terhadap proses persalinan.2

Menurut WHO angka kejadian hidramnion berkisar 1,1-2,8% dari

seluruh kehamilan disebabkan oleh komplikasi pada kehamilan dan persalinan

dan 8-18% dengan kelainan janin. Sampai sekarang penyebab hidramnion

masih belum jelas, banyak kasus hidramnion berhubungan dengan kelainan

janin. Multigravida lebih sering daripada primigravida. Walaupun 2/3 dari

kasus bersifat idiopatik, 1/3 lainnya terjadi pada anomali janin,diabetes pada

ibu atau gestasi multijanin.

4
Oleh karena angka kejadian hidramnion ibu dan janin yang cukup tinggi

maka ibu hamil yang kelebihan air ketuban lebih sering dipantau sehingga

dapat diambil sikap untuk melakukan observasi dan penanganan yang tepat.3

5
BAB II

TI NJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Polihidramnion didefinisikan sebagai peningkatan volume cairan

amnion secara patologis dan berhubungan dengan meningkatnya angka

kesakitan dan kematian perinatal. Polihidramnion atau disebut juga dengan

hidramnion adalah keadaan dimana air ketuban melebihi 2.000 ml.

Sedangkan kalau di USG jika Amniotic Fluid Index (AFI) >20 atau lebih.

Secara fisiologis terdapat keseimbangan dinamis antara produksi dan

reabsorbsi cairan amnion. Kadar Cairan dipengaruhi oleh urin fetus dan

produksi cairan paru-paru janin. Cairan amnion di reabsorbsi melalui janin

menelan,absorbsi intramembran dan intravaskular.3

Gambar 2.1: Polihidramnion

6
B. Epidemiologi

Cairan amnion yang berlebihan didapatkan pada sekitar 1% kehamilan.

Terjadinya kasus polihidramnion ini berkisar 1:62-754 persalinan.

Multigravida lebih sering daripada primigravida. Penyebabnya adanya

kelainan pada bayi seperti anencepali, spina bifida, sumbatan saluran

makanan bayi, tumor di leher bayi, kelainan plasenta adanya tumor pada

plasenta, kehamilan kembar, penyakit ibu seperti diabetes, kelainan ginjal

dan jantung, eritroblastosis fetalis, gemelli terutama monozigot.3,2

C. Etiologi

Penyakit yang mendasari hanya ditemukan dalam 17% kasus

hidrambion ringan sedangkan pada kasus hidramnion sedang hingga berat

dapat dideteksi sebanyak 91% penyakit yang mendasarinya.

1) Malformasi fetus dan anomaly genetic (8-45%)

2) Maternal diabetes mellitus (5-26%)

3) Multigravida (8-10%)

4) Anemia pada fetus (1-11%)

5) Penyebab lainnya seperti : Infeksi virus, syndrome barter,kelainan

neuromuscular,maternal hypercalcemia

Penyebab hidramnion belum jelas, secara teori hidramnion bisa terjadi

karena:

a. Produksi air ketuban bertambah

7
Diduga menghasilkan air ketuban ialah epitel amnion, tetapi air

ketuban dapat juga bertambah karena cairan lain. Masuk kedalam

rongga amnion, misalnya air kencing anak atau cairan otak anensefal.

b. Pengaliran air ketuban terganggu

Terganggunya pengaliran cairan ketuban terjadi jika anak tidak

menelan, seperti pada atresia esophagus, anensefal, tumor-tumor

plasenta. Pada anencephalus dan spina bifida bahwa hidramnion terjadi

karena transudasi cairan dari selaput otak dan selaput sumsum tulang

belakang. Selain itu, anak anencephi tidak menelan dan pertukaran air

terganggu karena pusatnya kurang sempurna hingga anak ini kencing

berlebihan. Pada atresia esophogus hidramnion terjadi karena anak

tidak menenlan. Pada gameli mungkin disebabkan karena salah satu

janin pada kehamilan satu telur jantungnya lebih kuat dan oleh karena

itu juga menghasilkan banyak air kencing. Mungkin juga karena

luasnya amnion lebih besar pada kehamilan kembar. Pada hidramnion

sering ditemukan plasenta besar.4

c. Kelainan pada ibu

Seperti pada penyakit DM, penyakit jantung, preeklamsi, nefritis,

malnutrisi, dan kelainan hipofisis. Terjadinya hidramnion pada ibu

pengidap diabetes yang biasanya muncul pada trimester ketiga

kehamilan, tetep belum dapat dijelaskan. Satu penjelasan yang paling

mungkin, yakni bahwa kadar glukosa dalam darah ibu yang tinggi,

menyebabkan kadar dalam darah janin juga tinggi, kemudian memicu

janin berkemih lebih banyak, sehingga menimbulkan hidramnion.4

8
Hidramnion sering kita dapati bersamaan dengan gemelli atau hamil

ganda (12,5%), hidrops foetalis (hipoplasia paru sehingga inspirasi

paru menurun), diabetes mellitus, dan toksemia gravidarum.3

d. Idiopatik (65%) kekurangan Prolactin Reseptor Binding sehingga

menjadi hidramnion kronis.11

Gambar 2.2 Patofisiologi Polihidramnion

D. Patofisiologi Hidramnion

Pada awal kehamilan, rongga amnion terisi oleh cairan

yang komposisinya sangat mirip dengan cairan ekstra sel. Selama

paruh pertama kehamilan, pemindahan air dan molekul kecil

lainnya berlangsung tidak saja melalui amnion tetapi juga

menembus kulit janin. Selama trimester kedua, janin mulai

berkemih, menelan dan menghirup cairan amnion. Proses-proses

ini hampir pasti secara mengatur pengendalian volume cairan

9
amnion. Walaupun pada kasus hidramnion epitel amnion sering

dianggap sebagai penyebab utama cairan amnion belum pernah

ditemukan adanya perubahan histologi pada amnion atau

perubahan kimiawi pada cairan amnion.

Cairan amnion dapat berasal dari sebagai berikut :

1) Urin janin

Urin fetus merupakan sumber utama cairan amnion

pada trimester kedua kehamilan. Urine pertama kali

memasuki ruang amnion pada minggu ke 8-11 gestasi,

namun derajat pembentukan, urine meningkat secara

bertahap hingga trimester akhir masa gestasi. Produksi

urine per kilogram berat badan meningkat dari sekitar

110ml/kg tiap 24 jam pada minggu ke 25 hingga sekitar

190ml/kg tiap 24 jam pada minggu ke 39. Pada kehamilan

aterm, kecepatan aliran urine fetus diperkirakan rata-rata

600ml/hari.

2) Saluran pernafasan janin

Selama bertahun-tahun ada pandangan yang

diterima secara luas bahwa cairan amnion memasuki paru-

paru janin melalui trakea dan diabsorbsi oleh kapiler di

alveoli. Tapi setelah tahun 1960, sejumlah penelitian

menemukan hal yang berbeda. Penelitian pada janin

kambing yang mendekati cukup bulan menunjukkan bahwa

10
terdapat aliran keluar dari paruparu sebesar 200-400 ml/hari

dan aliran ini berkaitan dengan 10% berat badan/hari yang

dirangsang oleh transpor aktif ion klorida melewati lapisan

epitel paru yang masih berkembang. Pembuktian hal ini

dengan teknik eksperimental intrauterine dilakukan ligasi

pada trakea janin akan menyebabkan distensi yang

abnormal dari paru-paru janin. Hal ini menguatkan bukti

bahwa dalam jumlah relatif besar cairan mengalir keluar

dari paru-paru janin manusia selama kehamilan normal,

walaupun jumlahnya belum dapat diukur. Meskipun begitu

jelas bahwa cairan paru janin mengalir keluar, namun

kontribusi relatif dari cairan paru ke cairan amnion tidak

jelas.

Penelitian awal pada hewan menunjukkan bahwa

cairan paru-paru yang terdapat di trakea biasanya tertelan

dulu sebelum memasuki ruang amnion. Dalam penelitian

pada fetus kambing, dimana aliran dan komposisi cairan

paru diukur dengan mempergunakan kateter, ditemukan

rata-rata 50 % cairan disekresikan ke kantung amnion,

sisanya terdapat di trakea.2

3) Kulit janin

Sebagian volume cairan amnion dapat berasal dari

transportasi air di seluruh kulit janin yang sangat permeable

selama trimester pertama kehamilan, setidaknya sampai

11
keratinisasi kulit terjadi yaitu sekitar minggu ke 22-25.

Terdapat bukti bahwa laju metabolisme dan kehilangan air

transepidermal lebih besar pada bayi lahir premature

dibandingkan bayi lahir aterm.

4) Sumber lain

Telah diketahui bahwa volume air yang signifikan

telah berpindah antara cairan amnion dan pembuluh vena

janin di tali pusat. Tapi, dengan luas permukaan yang kecil

dan ketebalan yang besar kebanyakan membrane dilewati

dengan cara transfer, sehingga perpindahan volume yang

signifikan terjadi. Lokasi dan perpindahan air dan solut

adalah dipermukaan janin dari plasenta, disana lempeng

korionik mempunyai permukaan yang luas dan kaya akan

suplai darah.

Akhirnya, sekresi dari hidung dan mulut harus

diperhatikan. Produksi saliva yang banyak pada bayi baru

lahir dianggap sama dengan produksi fetus, dan studi

eksperimental pada sapi menemukan kira-kira 25 ml/hari

cairan dikeluarkan dari kepala janin.

Sedangkan pembuangan cairan amnion dapat melalui mekanisme

sebagai berikut :

1) Janin Menelan

12
Janin mulai menelan pada usia gestasi yang sama

dengan saat urine pertama kali memasuki ruang amnion,

yaitu sekitar minggu ke 12-28 minggu. Diperkirakan bahwa

volume cairan amnion yang ditelan janin pada gestasi akhir

rata-rata 210-760 ml/hari. Volume harian ini tidak

mencakup jumlah cairan yang berada di dalam paru-paru

yang ditelan sebelum memasuki ruang amnion.

Seiring dengan meningkatnya berat badan janin,

volume cairan yang ditelan juga meningkat dari 100

ml/kg/hari pada awal trimester ketiga sampai 500

ml/kg/hari saat aterm. Volume harian ini tidak mencakup

jumlah cairan yang berada di dalam paru-paru yang ditelan

sebelum memasuki ruang amnion. Penelitian menunjukkan

bahwa fetus menelan sebelum aktifitas bernafas dan

tertekan atau hilang pada saat onset persalinan.

2) Selaput amnion

Baru-baru ini telah ditemukan bahwa pergerakan

cepat baik air dan zat terlarut di dalamnya, terjadi antara

cairan amnion dan darah janin dalam plasenta melalui

membrane amnion; ini disebut sebagai jalur intramembran.

Pergerakan air dan zat terlarut antara cairan amnion dan

darah maternal di dalam dinding uterus disebut pertukaran

melalui jalur transmembran. Transfer zat terlarut melewati

13
membran amnion secara pasif merupakan sumber cairan

amnion yang paling mungkin pada awal kehamilan.

Amnion dan korion menyediakan permukaan yang luas

untuk terjadinya transfer potensial dari cairan dan zat

terlarut dan karenanya terjadi regulasi penting dari cairan

amnion.

Disimpulkan jumlah cairan masuk dan cairan keluar

sekitar 200-500 ml/hr pindah dari rongga amnion melintasi

selaput amnion saat usia kehamilan lanjut. Pengukuran pada

sapi hamil lanjut, mendukung konsep bahwa 200-500 ml/hr

dari cairan amnion diserap oleh darah fetus pada bagian

permukaan fetus dari plasenta. Aliran dan volume

intramembran ini juga diserap oleh permukaaan fetal dari

pasenta pada manusia. Penyerapan intramembran ini

berperan dalam pengeluaran protein. Ini sejalan dengan

penelitian terbaru pada binatang yang menggambarkan

pengeluaran cepat albumin intramembran. Perkiraan

kuantitatif mendapatkan bahwa 10 ml/hari melewati rute

transmembran dan diserap oleh uterus pada kehamilan

lanjut pada sapi ketika osmolalitas amniotik normal.

Tetapi, penurunan volume cairan ketuban setelah

kematian janin menunjukkan bahwa pengetahuan kita

tentang cairan transmembran masih jauh dari lengkap.Studi

14
ekperimental mendapatkan bahwa membran janin dapat

abnormal ketika volume cairan ketuban turun diluar nilai

normal. Lapisan sel epitelial amnion tebalnya setengahnya

pada kehamilan dengan oligohidramnion, sebaliknya

ketebalan bertambah pada polihidramnion.

Daya dorong bagi kedua perpindahan cairan

intramembranous dan transmembranos terjadi karena cairan

amnion normal mempunyai osmolalitas lebih rendah dari

darah janin atau ibu setelah terbentuk kulit janin. Studi

eksperimental menggambarkan bahwa penyerapan

intramembranous bervariasi pada rentang osmolalitas yang

besar dari gradient osmotik amnion dan darah janin. Tetapi,

pada pada gradien osmotik normal, hanya 35 % dari

perpindahan intramembranous tergantung dengan gradian

osmosis, sehingga mekanisme non pasif lain berpengaruh

pada penyerapan intramembranous. Ini sesuai dengan

observasi bahwa albumin yang ditandai secara cepat

berpindah dari cairan amnion ke darah janin pada sapi

hamil, dan tidak ada perpindahan baik dari darah janin ke

cairan amnion.

Karena permukaan yang luas dari korioamnion,

seringkali dianggap bahwa membrane ini dilewati air dalam

jumlah yang banyak. Tidak mengejutkan bahwa

15
permeabilitas membran menjadi regulator volume cairan

ketuban yang penting. Walaupun permeabilitas membran

sangat penting, hanya sedikit informasi yang diketahui

tentang karakteristik filtrasi dan permeabilitas membran dan

hubungannya dengan dinamika cairan amnion karena

kurangnya penelitian dan terkadang interpretasi yang

berbeda.

Karena dalam keadaan normal janin menelan cairan

amnion, diperkirakan bahwa mekanisme ini adalah salah satu cara

pengaturan volume cairan ketuban. Teori ini dibenarkan dengan

kenyataan bahwa hidramnion hampir selalu terjadi apabila janin

tidak dapat menelan, seperti pada kasus atresia oesofagus. Proses

menelan ini jelas bukan satu-satunya mekanisme untuk mencegah

hidramnion.7

Pada kasus anensefalus dan spina bifida, faktor etiologinya

mungkin adalah meningkatnya transudasi dari meningen yang

terpajan ke dalam rongga amnion.Penjelasan lain yang mungkin

pada anensefalus, apabila tidak terjadi gangguan menelan, adalah

peningkatan berkemih akibat stimulasi pusat-pusat di serebrospinal

yang tidak terlindung atau berkurang nya efek antidiuretik akibat

gangguan sekresi arginin vasopressin.

Pada hidramnion yang terjadi pada kehamilan kembar

monozigot,diajukan hipotesis bahwa salah satu janin merampas

16
sebagian besar sirkulasi bersama dan mengalami hipertrofi jantung,

yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan keluaran urin.

Hidramnion yang agak sering terjadi pada diabetes ibu

selama trimester ketiga masih belum dapat diterangkan. Salah satu

penjelasannya adalah bahwa hiperglikemia ibu menyebabkan

hiperglikemia janin yang menimbulkan diuresis osmotic yang

menyebabkan poliuria pada janin.2

E. Klasifikasi Hidramnion

Hidramnion dapat digolongkan menjadi 2 macam menurut waktu, yaitu:

a) Hidramnion akut: Penambahan air ketuban terjadi dalam beberapa

hari, biasanya terjadi pada kehamilan muda pada bulan ke-5 atau

ke-6 dan biasanya jumlah cairan dapat mencapai 2-3 liter.2

b) Hidramnion kronis: Pertambahan air ketuban terjadi selama

perlahan- lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya

terjadi pada kehamilan hidramnion kronis adalah 0,5-1%. Ini

merupakan bentuk yang paling umum.

Komposisi dari air ketuban pada hidramnion, menurut penyidikan, serupa

saja dengan air ketuban yang normal.1

Hidramnion dapat digolongkan menjadi 3 macam menurut hasil USG

a. Mild hydramnions (hidramnion ringan): Bila kantung amnion

mencapai 8-11 cm dalam dimensi vertikal. Insiden sebesar 80% dari

semua kasus yang terjadi.

17
b. Moderate hydramnions (hidramnion sedang): Bila kantung amnion

mencapai 12-15 cm dalamnya. Insiden sebesar 15%.

c. Severe hydramnions (hidramnion berat): Bila janin ditemukan

berenang dengan bebas dalam kantung amnion yang mencapai 16 cm

atau lebih besar. Insidenya sebesar 5%.2

Klasifikasi hidramnion tergantung dari penyebabnya, paling sering

adalah kelainan pada janinnya sendiri, khusus nya pada sistem saraf pusat

dan saluran pencernaan. Contohnya, pada kasus annensefali (tidak

terbentuk kepala) dan atresia esophagus (krongkongan buntu), setengah

kasusnya di sertai dengan hidramnion. Kelainan pada janinnya sendiri

ditemukan pada hampir setengah kasus hidramnion sedang dan berat.

Pada umumnya, semakin berat derajat hidramnion, maka semakin

tinggi angka kematian janin atau bayi. Meskipun melalui USG tampak

bahwa janinnya sehat, hal ini tidak dapat dijadikan jaminan, karena

tingginya kelainan janin dan kromosom pada kasus ini. Kematian

meningkat akibat persalinan bayi prematur dan pertumbuhan janin

terhambat. Penyebab lainnya adalah kelainan darah, kesulitan persalinan

pada bayi besar dari ibu yang diabetes, tali pusat menumbung dan lepasnya

plasenta sebelum bayi lahir. Komplikasi yang paling sering dialami ibu

adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya, rahim tidak dapat

berkontraksi dengan baik dan pendarahan setelah melahirkan. Kelainan

letak janin dan interprensi bedah merupakan hal yang umum dijumpai.3

F. Gejala Klinis

18
Gejala-gejala disebabkan oleh tekanan oleh uterus yang sangat besar pada

alat sekitarnya maka timbul :

1. Sesak napas (terdesaknya dinding diafragma)

2. Edema labia, vulva, dan dinding perut (terganggunya pembuluh darah

dan limfe ).

3. Regangan dinding rahim sendiri menimbulkan nyeri dan hipertonik.

Gejala-gejala lebih menonjol pada hidramnion yang akut.

4. Bunyi jantung sulit terdengar.

5. Ureter : oliguria

G. Faktor Predisposisi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hidramnion, antara lain:

a. Penyakit jantung

b. Nefritis

c. Edema umum

d. Anomali kongenital (pada anak), seperti anensefali, spina bifida,

atresia esofagus, hidrosefalus, struma blocking oesophagus.

Dalam hal ini terjadi karena:

1. Tidak ada stimulasi dari otak dan spina

2. Excressive urinary secretion

3. Tidak berfungsinya pusat menelan dan haus

4. Transudasi langsung dari cairan meningeal ke dalam amnion

19
e. Simpul tali pusat

f. Diabetes mellitus

g. Gemelli uniovulair

h. Malnutrisi

i. Penyakit kelenjar hipofisis

j. Pada hidramnion biasanya plasenta lebih besar dan lebih berat dari

biasa, karena itu transudasi menjadi lebih banyak, dan timbul

hidramnion.3

H. Diagnosis

Diagnosis hidramnion dapat ditegakkan melalui beberapa cara yaitu :

1. Anamnesis

a. Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa

b. Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak

c. Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat

keluhan-keluhan yang disebabkan karena tekanan pada organ

terutama pada diafragma, seperti sesak (dispnoe), nyeri ulu hati.

d. Nyeri perut karena tereganganya uterus yang menyebabkan mual

dan muntah

e. Edema pada tungkai, vulva dan dinding perut

f. Pada proses akut dan perut besar sekali, bisa syok, berkeringat

dingin, sesak.

2. Inspeksi

20
a. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut berkilat,

retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar

b. Jika akut, ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah

membawa kandunganya.

3. Palpasi

a. Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding

perut, vulva dan tungkai

b. Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya

c. Bagian janin sukar dikenali

d. Kalau pada letak kepala, kepala janin dapat diraba maka

balotement jelas sekali

e. Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat

terjadi kesalahan-kesalahan letak janin

4. Auskultasi

Denyut jantung janin sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali.

5. Rontgen foto abdomen

a. Nampak bayangan terselubung kabut, karena banyaknya cairan

kadang bayangan janin tidak jelas

b. Foto rontgen pada hidramnion berguna untuk diagnostik dan untuk

menentukan etiologi, seperti anomali kongenital (anensefali atau

gemeli)

21
6. Pemeriksaan dalam, selaput ketuban teraba tegang dan menonjol

walaupun diluar his.3

7. Pemeriksaan TORCH atau genetik karyotipe

8. USG: tujuan untuk menentukan

- Menentukan Jumlah cairan ketuban: diameter vertikal dan

transfersal terjauh antara dinding rongga amnion dengan badan

janin.

<1 cm : oligohidramnion

>2 - <8 cm : normal

>8 cm : hidramnion

8 – 11 : ringan

12 – 15 cm : sedang

>16 cm : berat

Amino Fluid Index (AFI) normal : 5-25 cm

Indeks cairan amnion (Amniotic fluid index, AFI) dihitung dengan

membagi uterus hamil menjadi empat kuadran dan meletakkan transduser di perut

ibu sepanjang sumbu longitudinal. Dilakukan pengukuran garis tengah vertical

kantong cairan amnion yang paling besar di masing-masing kuadran dengan

transduser diletakkan tegak lurus terhadap lantai. Hasil pengukuran di jumlah dan

dicatat sebagai AFI. Nilai normal AFI untuk kehamilan normal dari 16 hingga 42

minggu. Indeks cairan amnion cukup andal untuk menentukan normal atau

meningkatnya cairan amnion, tetapi kurang akurat untuk menentukan

22
oligohidroamnion. Beberapa faktor mungkin memengaruhi indeks cairan amnion,

termasuk ketinggoan dan pembetasan cairan ibu atau dehidrasi.

- Melihat adanya malformasi dan gemelli dan usia gestasi.

-
Anenchepalus: lingkaran kepala bagian posterior (-)11

Gambar 2.3 Gambaran Amniotic Fluid

2. Diagnosis Banding

Bila seorang ibu datang dengan perut yang lebih besar dari kehamilan

yang seharusnya, kemungkinan :

1. Hidramnion

2. Gemelli

3. Asites

4. Kista ovarii atau mioma uteri

5. Hidrops fetalis

6. Kehamilan beserta tumor

3. Penatalaksanaan

23
Terapi hidramnion dibagi dalam tiga fase:

1. Waktu hamil

a. Hidramnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi

dan berikan terapi simptomatis

b. Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan, harus

dirawat dirumah sakit untuk istirahat sempurna. Berikan diet

rendah garam. Obat-obatan yang dipakai adalah sedative dan obat

duresisi. Bila sesak hebat sekali disertai sianosis dan perut tegang,

lakukan pungsi abdominal pada bawah umbilikus. Dalam satu hari

dikeluarkan 500cc perjam sampai keluhan berkurang. Jika cairan

dikeluarkan dikhawatirkan terjadi his dan solutio placenta, apalagi

bila anak belum viable maka pungsi harus dihentikan. Komplikasi

pungsi dapat berupa:

- Timbul his

- Trauma pada janin

- Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan

- Infeksi serta syok bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah,

umpamanya janin mengenai placenta.3,6

24
Gambar 2.4 Amniosintesis

2. Waktu bersalin

a. Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita

menunggu

b. Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka lakukan

pungsi transvaginal (amniosintesis) melalui serviks bila sudah

ada pembukaan. Dengan memakai jarum pungsi tusuklah ketuban

pada beberapa tempat, lalu air ketuban akan keluar pelan-

pelan

c. Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba pecah, maka

untuk menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras,

masukan tinju kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama

supaya air ketuban keluar pelan-pelan, Maksud semua ini

adalah supaya tidak terjadi solutio placenta, syok karena tiba-

tiba perut menjadi kosong atau perdarahan post partum karena

atonia uteri.

d. Dalam persalinan hindari penggunaan oksitosin untuk mencegah

emboli air ketuban3

Prostaglandin syntesa inhybitor (indometasin)

Dosis 2,2-3 mg/kgbb (oral /suppos) terbagi dalam 4 dosis pada

kehamilan 24 -34 mgg selama 2 -11 mgg. Cara kerjanya dengan

meningkatkan resistensi vaskular paru dan konstriksi duktus

arteriosus sehingga tekanan ventrikel kanan meningkat dan terjadi

25
reabsorbsi cairan dalam paru-paru meningkat juga. Menurunkan

produksi urin janin di perifer (antagonis ADH dengan cara memblok

stimulus cAMP) dan di sentral (meningkatkan sintesis ADH). 3

4. Prognosis

Pada Ibu :

1. Pada ibu seperti solusio plasenta (HAP), atonia uteri (HPP),

perdarahan post partum, disfungsi uterus ( persalinan memanjang),

hipertensi, ketuban pecah dini, retensio plasenta, syok, insufisiensi

plasenta, emboli cairan ketuban dan kesalahan-kesalahan letak janin

menyebabkan partus jadi lama. Sehingga terjadi peningkatan insiden

seksio sesar.

2. Pada janin

Prognosanya agak buruk (mortalitas kurang lebih 50%) terutama

karena Kongenital anomali, prematuritas Komplikasi karena kesalahan

letak anak, yaitu pada letak lintang atau tali pusat menumbung,

eritroblastosis, diabetes mellitus dan solution placenta jika ketuban pecah

tiba-tiba sehingga terjadi peningkatan angka kematian perinatal.6

26
BAB III

KESIMPULAN

Polihidramnion atau hidramnion adalah suatu keadaan dimana jumlah air

ketuban melebihi 2.000 cc atau Amniotic Fluid Index (AFI)>20 atau lebih.

Penyebab hidramnion belum jelas, secara teori hidramnion bisa terjadi karena

Produksi air ketuban bertambah, Pengaliran air ketuban terganggu seperti

multigravida lebih sering daripada primigravida, kelainan pada bayi seperti

atresia eshofagus, anencepali, spina bifida, sumbatan saluran makanan bayi,

tumor dileher bayi, kelainan plasenta adanya tumor pada plasenta, kehamilan

kembar, penyakit ibu seperti diabetes, kelainan ginjal dan jantung,

eriroblastosis fetalis, gemelli terutama monozigot. Dapat terjadi hidramnion

akut atau kronis. Hidramnion kronis merupakan bentuk paling umum.

Gejala klinis berupa gejala-gejala yang disebabkan oleh tekanan oleh

uterus yang sangat besar pada alat sekitarnya seperti, Sesak napas., Edema

labia,vulva,dan dinding perut, Regangan dinding rahim sendiri menimbulkan

nyeri. Gejala-gejala lebih menonjol pada hidramnion yang akut, Bunyi

jantung sulit terdengar. Untuk penatalaksanaan tergantung dari kondisi ibu

apakah saat sedang hamil, waktu persalinan atau post partus. Dapat diberikan

Pg syntesa inhibitor (indometasin) Dosis 2,2-3 mg/kgbb (oral /suppos) terbagi

dalam 4 dosis pada kehamilan 24 -34 mgg selama 2 -11 mgg. Prognosisnya

pada ibu dan janin buruk (mortalitas ±50% ).

27
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. Hacker and mooree. Essensial Obstetric and Gynaecologi .2/e. Philadelpia:

WB saunders company, 1992.

2. Cunningham FG, MacDonald PC, Leveno KJ, Gillstrap LC. Williams

Obstetrics. 21ed. Connecticut: Appleton and Lange, 2001

3. Mochtar R. Sinopsis obstetrik, Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2004

4. Brian S Carter, MD, FAAP. Pediatric Polyhydramnios. Available at URL:

http://emedicine. medscape.com/article/ 975821, accessed on November

2017.

5. Mayo Clinic Staff. Polyhydramnios. Available at URL: http://www.

mayoclinic.com/health/polyhydramnios, accessed on November 2017.

6. Polyhydramnios. http://www.patient.co.uk/doctor/Polyhydramnios.htm

7. Hamza A, Herr D,Solomayer E. Polyhydramnios:causes,diagnosis and

therapy. Available at URL :

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3964358/ ,accessed on

November 2017.

28