Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang bersifat

progresif. Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegenerative terbanyak kedua

setelah penyakit Alzheimer. Pada Penyakit Parkinson terjadi penurunan jumlah

dopamin di otak yang berperan dalam mengontrol gerakan sebagai akibat kerusakan sel

saraf di substansia nigra pars kompakta di batang otak. Penyakit ini berlangsung kronik

dan progresif, dan belum ditemukan obat untuk menghentikan progresifitasnya.

Progresifitas penyakit bervariasi dari satu orang ke orang yang lain. (PERDOSSI,

2016).

Angka prevalensi penyakit Parkinson di Amerika Utara diperkirakan sebesar 160

per 100.000 populasi dengan angka kejadian sekitar 20 per 100.000 populasi.

Prevalensi dan insidensi penyakit Parkinson semakin meningkat seiring bertambahnya

usia. Prevalensi berkisar antara 0,5-1% pada usia 65-69 tahun. Pada umur 70 tahun

prevalensi dapat mencapai 120 dan angka kejadian 55 kasus per 100.000 populasi

pertahun. Prevalensi meningkat sampai 1-3% pada usia 80 tahun atau lebih. Di

Indonesia belum ada data prevalensi penyakit Parkinson yang pasti, namun
diperkirakan terdapat sekitar 400.000 penderita penyakit Parkinson. Penyakit ini lebih

banyak ditemukan pada pria dari pada wanita dengan angka perbandingan 3:2 (Joesoef,

2007).

Penyakit Parkinson mempunyai gejala yang khas berupa adanya tremor,

bradikinesia, rigiditas dan abnormalitas postural. Selain itu terdapat pula gejala psikiatri

berupa depresi, cemas, halusinasi, penurunan fungsi kognitif, gangguan sensorik,

akathesia dan sindrom restless legs, gangguan penciuman, gangguan otonom serta

gangguan tidur yang disebabkan oleh efek samping obat antiparkinson maupun bagian

dari perjalanan penyakitnya (PERDOSSI, 2008).

Patogenesis yang mendasari terjadinya penyakit Parkinson antara lain adalah :

stres oksidatif, disfungsi mitokondria, eksitotoksisitas, inflamasi dan kelemahan sistem

ubiquitin proteasom (Seidl & Potashkin, 2011). Adanya peningkatan zat besi yang

terdeteksi pada substansia nigra pasien dengan penyakit Parkinson meyakinkan

pentingnya peranan stres oksidatif dalam patogenesis penyakit Parkinson. Metabolisme

dopamin endogen ternyata juga menyebabkan peningkatan produksi racun yang

mempertinggi terjadinya stres oksidatif pada pasien penyakit Parkinson (Siderowf,

2003). Stres oksidatif di otak memiliki peranan penting pada onset penyakit Parkinson

dan menyebabkan peningkatan kerusakan oksidatif di substansia nigra (Prasad, et

al.,1999).

Konsumsi global kafein telah diperkirakan 120.000 ton per tahun, sehingga zat

psikoaktif paling populer di dunia. Jumlah ini setara dengan satu porsi minuman kafein

bagi setiap orang, per hari. Kafein adalah sistem saraf pusat dan stimulan metabolik,
dan digunakan untuk mengurangi kelelahan fisik dan mengembalikan kewaspadaan

mental saat kelemahan yang tidak biasa atau mengantuk terjadi. Kafein merangsang

sistem saraf pusat pertama di tingkat yang lebih tinggi, sehingga kewaspadaan

meningkat dan terjaga, aliran lebih cepat dan lebih jelas pemikiran, meningkatkan

fokus, dan koordinasi tubuh yang lebih baik umum (Motoki, 2018).

Beberapa penelitian menyatakan bahwa adanya keterkaitan antara konsumsi

kafein harian dengan menurunnya resiko perburukan pada pasien Parkinson Disease.

Kafein bisa berperan mencegah neurodegenerasi nigral pada 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-

tetrahydropyridine (MPTP). Metabolit dari kafein seperti paraxanthine dan

theophillyne juga melemahkan neurotoksisitas MPTP yang mampu memperbaiki gejala

motorik pada pasien Parkinson Disease (Motoki, 2018).

Pemeriksaan biomarker

Ajaran Islam berpendapat bahwa penyakit yang diderita seseorang memiliki

beberapa makna, yaitu sebagai akibat pola hidup salah, sebagai musibah, sebagai

cobaan atau ujian, sebagai sarana menaikkan derajat kemuliaan, dan sebagai bentuk

kasih sayang Allah SWT. Tetapi sebelum penyakit ini timbul, Islam mengajarkan

umatnya untuk selalu berikhtiar, dalam hal ini ikhtiar menjaga kesehatan. Pemanfaatan

lycopene dari buah-buahan dapat mencegah kanker dengan cara mengkonsumsinya,

termasuk ikhtiar menjaga kesehatan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:


1. Bagaimana peranan kafein menurunkan resiko perburukan pada penderita

Parkinson Disease?

2. Bagaimana efektivitas penggunaan serum kafein dan metabolit dibandingkan

dengan uric acid sebagai biomarker pada Parkinson Disease stadium dini?

3. Bagaimana prosedur pemeriksaan menggunakan serum kafein dan metabolit

sebagai biomarker pada Parkinson Disease dini?

4. Bagaimanakah pandangan Islam tentang mengonsumsi kafein?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penulisan skripsi ini adalah :

1.3.1. Tujuan Umum

Menjelaskan pengetahuan tentang efektivitas penggunaan serum kafein

dan metabolit dibandingkan dengan uric acid sebagai biomarker pada

Parkinson Disease stadium dini ditinjau dari ilmu kedokteran dan Islam.

1.3.2. Tujuan khusus

1. Menjelaskan peranan kafein sebagai neuroprotektor di dalam tubuh.

2. Menjelaskan mekanisme kerja kafein dalam mengurangi resiko

perburukan pada pasien dengan Parkinson Disease.

3. Menjelaskan potensi serum kafein dibandingkan dengan uric acid

sebagai biomarker pada Parkinson Disease stadium dini.

4. Menjelaskan pandangan Islam terhadap penggunaan kafein sebagai

biomarker pada Parkinson Disease stadium dini.

1.4 Manfaat Penulisan


Beberapa manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk masyarakat

Masyarakat dapat mengenal serta memahami tentang efektivitas kafein

dibandingkan dengan uric acid sebagai biomarker pada Parkinson

Disease stadium dini.

2. Untuk Universitas Yarsi

Memberikan informasi yang berguna bagi seluruh civitas akademika

Universitas Yarsi dalam upaya penguasaan khasanah ilmu pengetahuan

kedokteran dan Islam.

3. Untuk penulis

Memberikan wawasan pengetahuan yang lebih luas terhadap efektivitas

penggunaan serum kafein dan metabolit dibandingkan dengan uric acid

sebagai biomarker pada Parkinson Disease stadium dini dari sudut

pandang ilmu kedokteran dan agama Islam.