Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES

TOURNAMENTS (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS


IV SD N GUGUS 6 MENGWI, BADUNG
Ni Pt. Dian Ernawati1, I Kt. Adnyana Putra2, I Ngh. Suadnyana3
1,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: ernawatidian67@yahoo.com, adnyanaputra653@yahoo.co.id,


suadnyanainengah@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara
siswa yang mengikuti model pembelajaran TGT dengan siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Mengwi. Penelitian ini
merupakan penelitian eksperimen semu (quasy eksperiment) dengan rancangan penelitian
yang digunakan adalah Non Equivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini
adalah semua siswa kelas IV SD N Gugus 6 Mengwi tahun pelajaran 2012/2013. Data yang
dikumpulkan adalah nilai hasil belajar IPA di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol
dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda satu jawaban benar (post test). Data
dianalisis dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara
signifikan hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model
pembelajaran TGT dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran
konvensional (thitung = 3,67 > ttabel = 200). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran TGT member pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPA pada siswa
kelas IV Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Mengwi, Badung.

Kata kunci : model TGT, hasil belajar.

Abstract
This study aims to determine significant differences between students' learning outcomes
mathematics modeled TGT learning with students who take the conventional teaching five
graders Primary School six Mengwi. This study is a quasi-experimental study (Quasy
experiment) with the design of the study is a non-Equivalent Control Group Design. The
population in this study were all five grade students at Primary School Six Mengwi year
2012/2013. The data collected is the value of the sains studies in the experimental class and
the control class collected using a multiple-choice test with one correct answer (post-test).
Data were analyzed by t test. The results showed that there were significant differences in
learning outcomes of students who learned with sains using TGT learning model with
students who learned with using conventional learning (t = 3,67 > t table = 2.00). Thus, we
can conclude that TGT learning model significantly influence the results of sains studies in
grade IV Primary School Six Mengwi, Badung.

Keywords: TGT model, the results of learning.


PENDAHULUAN Tinggi rendahnya mutu pendidikan
Pendidikan pada hakekatnya tidak hanya dilihat dari nilai siswa tetapi juga
merupakan masalah semua orang. melalui proses pembelajaran untuk
Seyogyanya menjadi kepedulian semua mendapatkan nilai tersebut. Senduperdana
komponen bangsa, karena kualitas masa (2007) menyatakan bahwa terdapat empat
depan bangsa sangat tergantung pada faktor yang menentukan kualitas proses
kualitas pendidikannya (Dantes, 2003). pembelajaran, meliputi: (1) situasi atau
Melalui pendidikan, setiap individu kondisi pembelajaran; (2) bahan ajar; (3)
semestinya disediakan berbagai kesempatan strategi pembelajaran; dan (4) hasil
belajar sepanjang hayat, baik untuk pembelajaran sampai pada proses
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, terbentuknya pengetahuan dalam diri peserta
dan sikap maupun untuk dapat didik. Berdasarkan keempat komponen
menyesuaikan diri dengan dunia yang tersebut, salah satu yang mempengaruhi
kompleks dan penuh dengan saling mutu pendidikan adalah strategi
ketergantungan. Berbagai usaha telah pembelajaran. Baik buruknya strategi yang
dilakukan pemerintah untuk memajukan digunakan guru akan mempengaruhi hasil
dunia pendidikan. Namun pada belajar siswa.
kenyataannya, upaya–upaya tersebut belum Pada proses pembelajaran IPA
cukup berarti dalam meningkatkan kualitas terdapat berbagai jenis strategi
pendidikan di Indonesia khususnya dalam pembelajaran, yang dapat dipilih guru dalam
bidang sains hasil belajar siswa belum menciptakan proses belajar mengajar yang
menggembirakan. Perkembangan IPTEK menarik dan memudahkan peserta didik
yang cepat akan menuntut kualitas sumber dalam membentuk suatu pengetahuan baru,
daya manusia. Oleh karena itu, pendidikan namun guru cenderung memilih strategi
memiliki peranan yang strategis dalam pembelajaran yang mudah dalam penyiapan
mengembangkan Sumber Daya Manusia dan pelaksanaannya. Hasil yang sama juga
(SDM) yang mampu beradaptasi dengan diungkapkan Trianto (2007) bahwa
pesatnya perkembangan IPTEK (Yasa, berdasarkan hasil analisis penelitian secara
2007). Salah satu kunci dalam empiris, rendahnya hasil belajar peserta didik
mengembangkan SDM adalah pendidikan disebabkan proses pembelajaran yang
ilmu IPA. didominasi oleh pembelajaran tradisional.
Pendidikan IPA sebagai kunci Berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan
pembentukan SDM yang berkualitas, harus Pendidikan (KTSP), menuntut suatu
ditingkatkan terutama pada lingkungan pembelajaran yang tidak hanya mempelajari
sekolah. Ditinjau dari komponen instrumental konsep-konsep, prinsip-prinsip, yang telah
pada lingkungan sekolah, guru memegang ada, tetapi juga berorientasi pada proses
peranan yang sangat penting dalam serta aplikasi pada kehidupan sehari-hari
menggali dan mengembangkan pengetahuan (Trianto, 2007)
dan pemahaman intelektual peserta didik. Berdasarkan observasi dan
Oleh karena itu diperlukan peningkatan wawancara yang dilakukan dengan guru IPA
terhadap kemampuan profesionalisme guru, di SD N Gugus 6 mengwi,Badung pada hari
diantaranya melalui peningkatan kualitas Rabu 19 September 2012, guru cenderung
tenaga guru seperti pelatihan, seminar, menggunakan model yang kurang bervariasi
penataran guru, sertifikasi guru, penyediaan dengan pembelajaraan kurang
dana penelitian, pengadaan sarana menyenangkan dalam pelajaran IPA siswa
prasarana, pengembangan kurikulum. kurang aktif, kurang kreatif, enggan dan malu
Namun, hal ini belum mampu memberikan untuk bertanya walaupun ada yang belum
perubahan yang signifikan dalam pendidikan dimengerti. Hal ini yang menyebabkan rata-
terutama dalam pendidikan IPA. rata nilai IPA tahun pelajaran 2011/2012. Dari
data tersebut dipandang perlu untuk
ditingkatkan lagi. Berdasarkan hasil fisiologis dan psikologis seperti kecerdasan,
wawancara dengan siswa khususnya siswa motivasi berprestasi dan kemampuan
kelas V di SD N 6 Mengwi, Badung, kognitif. Sedangkan faktor eksternal adalah
kebanyakan siswa mengaku malas dan takut faktor yang berasal dari luar diri peserta
ketika mengikuti pembelajaran IPA, karena didik. Yang termasuk faktor eksternal adalah
bagi mereka pelajaran IPA terlalu susah dan faktor lingkungan dan faktor instrumental
membosankan. misalnya guru, kurikulum dan model
Kebanyakan guru juga beranggapan pembelajaran. Semakin tinggi kualitas dari
bahwa pelajaran IPA dapat dipindahkan masing-masing faktor tersebut maka
begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa, semakin tinggi pula hasil belajar siswa.
tanpa memperhatikan siswa, dan tanpa Demikian juga sebaliknya semakin rendah
memperhatikan prosesnya. Kegiatan kualitas dari faktor-faktor tersebut maka
pembelajaran seperti ini cenderung semakin rendah pula hasil belajar siswa
mengakibatkan pengetahuan dan (Suryabrata, 2008:55).
pemahaman yang dimiliki siswa sulit untuk Dalam pembelajaran, guru harus
berkembang dan hanya terbatas pada memahami hakikat materi pelajaran yang
informasi yang diberikan oleh guru saja diajarkannya dan memahami berbagai model
(Kurniasih, 2012: 22). pembelajaran yang dapat merangsang
Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa untuk belajar dengan
hasil belajar siswa baik faktor internal perencanaan pengajaran yang matang
maupun faktor ekternal, sehingga (Riyanto, 2010:83)
diperlukan berbagai usaha untuk Terdapat banyak model pembelajaran
memperoleh hasil belajar yang baik. Guru yang telah dikembangkan oleh para ahli,
merupakan ujung tombak dalam proses seperti model pembelajaran cooperative,
pembelajaran harus mengusahakan agar model pembelajaran langsung, pembelajaran
terjadi pembelajaran yang berpusat pada berdasarkan masalah, model pembelajaran
siswa. Guru berhadapan langsung dengan inquiri, pembelajaran model diskusi kelas dan
peserta didik di kelas melalui proses model pembelajaran kontekstual. Dari
pembelajaran. Peran utama guru dalam karakteristik mata pelajaran IPA dan masalah
pembelajaran sebagai suatu pendekatan yang dialami siswa dalam mengikuti
substansi adalah merancang, mengelola, pembelajaran IPA di kelas, maka model
mengevaluasi dan memberikan tindak lanjut pembelajaran yang tepat untuk mengatasi
terhadap kegiatan pembelajaran. Guru masalah tersebut adalah model pembelajaran
sebagai penyelenggara pendidikan yang kooperatif (cooperative learning).
terdepan dan terlibat langsung dalam Pembelajaran Kooperatif (Cooperative
kegiatan pembelajaran dituntut untuk Learning) merupakan pendekatan
mengupayakan terjadinya peningkatan pembelajaran melalui pengunaan kelompok
proses pembelajaran yang nantinya kecil siswa untuk bekerja sama dalam
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar memaksimalkan kondisi belajar dalam
peserta didik. Peningkatan proses mencapai tujuan belajar (Nurhadi dkk., 2004:
pembelajaran tersebut bisa dilakukan 60). Usaha kerja sama masing-masing
dengan menggunakan pendekatan, strategi, anggota kelompok mengakibatkan manfaat
model, atau metode pembelajaran inovatif timbal balik (Thobroni dan Arif Mustofa, 2011:
serta mengurangi bahkan meninggalkan 23). Model pembelajaran kooperatif tipe
model pembelajaran konvensional.Tinggi Teams Games Tournaments (TGT) adalah
rendahnya hasil belajar dipengaruhi oleh salah satu model pembelajaran kooperatif
dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor yang mudah diterapkan melibatkan aktivitas
eksternal. Faktor internal adalah faktor yang seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
berasal dari dalam diri peserta didik. Yang status, melibatkan siswa sebagai tutor
termasuk faktor internal adalah faktor sebaya dan menggandung unsur permainan
dan reinforcement “ aktifitas belajar dengan siswa dalam kelompok–kelompok belajar
permainan yang dirancang dalam yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa
pembelajaran kooperatif tipe TGT yang memiliki kemampuan, jenis kelamin,
memungkinkan siswa dapat belajar lebih dan suku atau ras yang berbeda. Guru
rileks disamping menumbuhkan, tanggung menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam
jawab, kerja sama, persaingan sehat dan kelompok mereka masing–masing (Yasa
keterlibatan belajar (Kiranawati 2007) Doantara, 2008:75). Metode kooperatif tipe
Lie Anita (2004: 54) menyatakan TGT merupakan metode pembelajaran
bahwa “ model pembelajaran cooperative dengan model permainan kepada siswa.
learning tidak sama dengan sekedar belajar Melalui permainan yang dilakukan secara
kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang kelompok, anak belajar cara bergaul dan
membedakannya dengan pembagian peka terhadap kebutuhan orang lain. Dengan
kelompok asal-asalan”. Model pembelajaran demikian pembelajaran akan terasa
cooperative learning akan dapat memberikan menyenangkan bagi siswa karena dibarengi
nuansa baru di dalam pelaksanaan dengan permainan.
pembelajaran oleh semua bidang studi atau Keunggulan dari model pembelajaran
mata pelajaran yang diampu guru. Karena TGT adalah : a) para siswa dalam kelas TGT
pembelajaran cooperative learning dari hasil memperoleh teman yang secara signifikan
penelitian baik pakar pendidikan dalam dari pada kelas tradisional, b) meningkatkan
maupun luar negeri telah memberikan persepsi siswa bahwa hasil yang mereka
dampak luas terhadap keberhasilan dalam peroleh tergantung dari kinerja dan bukan
proses pembelajaran. Dampak tersebut tidak dari keberuntungan, c) meningkatkan harga
saja kepada guru, akan tetapi juga pada diri sosial pada siswa, d) meningkatkan
siswa dan interaksi edukatif muncul dan kerjasama, e) keterlibatan siswa lebih tinggi
terlihat peran dan fungsi dari guru maupun dalam belajar bersama (Sumantri, 2009:107).
siswa.
Terdapat berbagai tipe model METODE
pembelajaran kooperatif yang telah Penelitian ini dilaksanakan di SD N
dikembangkan antara lain, Jigsaw, Student Gugus 6 Mengwi, Badung tahun pelajaran
Teams Achievement Division (STAD), 2012/2013.Populasi penelitian ini adalah
Cooperative Integrated Reading and seluruh siswa kelas IV SD di Gugus 6
Composition (CIRC), Teams Games Mengwi,Badung. Jenis penelitian ini adalah
Tournament (TGT), Teams Accelerated penelitian eksperimen semu
Instruction (TAI), Group Investigation (GI) dan (quasyexsperiment). Penelitian ini melibatkan
Learning Together (Nurhadi, Yasin, dan dua variabel, yaitu variabel bebas dan
Senduk, 2004:64-65). variabel terikat. Variabel bebas dalam
Dalam penelitian ini, tipe penelitian ini adalah model pembelajaran
pembelajaran kooperatif yang digunakan kooperatif tipe TGT. Sedangkan yang
adalah TGT (Teams Games Tournament). menjadi variabel terikat dalam penelitian ini
Hal ini dikarenakan pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar IPA. Penentuan sampel
model TGT merupakan salah satu tipe atau penelitian ini menggunakan teknik random
model pembelajaran kooperatif yang mudah sampling. Seluruh kelas yang ada akan
diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa dirandom untuk menentukan dua kelas
tanpa harus ada perbedaan status, sebagai populasi penelitian. Kelas yang
melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya muncul sebagai populasi yaitu SD 4 N SD 5
dan mengandung unsur permainan, sehingga Kapal. Jumlah kedua siswa kelas IV di SD 4
sesuai dengan karakteristik siswa SD. Kapal 33 orang dan 30 orang di SD 5 Kapal.
Model pembelajaran Kooperatif tipe Dari sampel yang didapat setelah
TGT merupakan salah satu tipe menggunakan Teknik Simple Random
pembelajaran kooperatif yang menempatkan Sampling yaitu SD 4 kapal yang berjumlah 33
dan 30 orang di sd 5 kapal. Jadi seluruh penelitian(menyusun tes dan menyiapkan
sampel yang digunakan adalah jumlah 63 kuncijawaban), (4) mengkonsultasikan
siswa. Desain eksperimen semu yang instrument. penelitian dengan dosen IPA dan
digunakan adalah nonequivalent control dosen pembimbing, (5) mengadakan uji coba
group design dengan rancangan sebagai instrumen, (6) melaksanakan pembelajaran,
berikut. (7) memberikan post-test kepada kepada
kedua kelompok, (8) Menganalisis hasil
O1 x O2 penelitian untuk menguji hipotesis yang
diajukan. Pengumpulan data hasil
O3 O4 belajardalam penelitian ini menggunakan
metodetes. Yang merupak alat untuk
mengukur hasil belajar IPA.
Gambar 1. Desain nonequivalent control Teknik analisis data yang digunakan
group design dalam penelitian ini, yaitu analisis statisti
(Sumber: Sugiyono, 2012:79) deskriptif dan analisis statistik inferinsial.
Analisis inferensial digunakan untuk menguji
Keterangan : hipotesis penelitian. Sebelum dilakukan
O1, O3 = Pre test analisis data terlebih dahulu dilakukan uji
O2, O4 = Post tes normalitas distribusi dan homogenitas varians
X = Teratment (perlakuan) dengan model terhadap data di sekolah.
pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Untuk menguji hipotesis digunakan rumus
Tournaments (TGT) sebagai berikut

Tahapan-tahapan dari prosedur HASIL DAN PEMBAHASAN


penelitian yang digunakan adalah (1) Hasil
menentukan materi-materi yang Deskirpsi data hasil belajar kelompok
dibahasselama penelitian, (2) eksperimen dan kontrol disajikan pada Tabel
menyiapkaninstrumen pembelajaran (RPP 1.
dan LKS), (3) menyiapkan instrumen

Tabel 1. Data Hasil Belajar Kelompok Ekperimen Dan Kontrol

Kelompok ekperimen Kelompok Kontrol


Rata-rata 78.36 69.53
Standar Deviasi SD 10.14 8.9
Jumlah Subjek N 33 30

Hasil perhitungan uji normalitas data dk = 5 diperoleh Xhitung = 7,1388 dan Xtabel =
hasil belajar IPA pada kelompok eksperimen 11,07 maka data hasil belajar IPA untuk kelas
dengan menggunakan rumus chi-kuadrat, kontrol berdistribusi normal. Rangkuman hasil
diperoleh Xhitung < Xtabel . berdasarkan tabel uji normalitas data kelompok eksperimen dan
distribusi untuk taraf signifikan5% dan dk = 5 kelompokkontrol
diperoleh Xhitung = 10,6483 dan Xtabel = 11,07 Homogenitas varians data hasil
maka data hasil belajar IPA untuk kelas belajar dianalisis dengan uji F dengan kriteia
eksperimen berdistribusi normal. kelompok memilki varians homogens jika
Hasil uji normalitas data hasil belajar IPA Fhitung < F tabel. hasil uji hoogenitas varians
siswa pada kelompok control menunjukan data hasil belaajr IPA siswa yaitu F hitung 1,30
bahwa diperoleh Xhitung < Xtabel . berdasarkan dan F tabel 1,80 berarti Fhitung < Ftabel, maka
tabel distribusi untuk taraf signifikan5% dan hasil belajar IPA siswa kelas pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan model konvensional. Kritetia
mempunyai varians yang homogen. pengujian dalah Ho ditolak jika t hitung >t tabel
Hipotesis penelitian yang di uji adalah dimana t tabel diperoleh dari tabel distribusi t
terdapat perbedaan yang signifikan antara pada taraf signifikan 5% dengan dk (n1 +n2)
hasil belajar IPA siswa yang menggunakan – 2. Rangkuman hasil analisis uji-t ditunjukan
model kooperatif tipe TGT dan siswa yang pada Tabel 2.

Tabel 2. Rangkuman Hasil Uji-t

Kelompok N Dk thitung t tabel


Eksperimen 33 60 3.67 2.00
Kontrol 30

Berdasarkan criteria pengujian karena t para siswa dapat saling membantu, saling
hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha berdiskusi dan berargumentasi untuk
diterima. Artinya terdapat perbedaaan yang mengasah khasanah ilmu pengetahuan yang
signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang mereka kuasai dan menutup kesenjangan
menggunakan model kooperatif tipe TGT dalam pemahaman masing-masing (Slavin
dengan model konvensional siswa kelas IV 2005). Aktifitas belajar dirancang sedemikian
SD N GUGUS 6 Mengwi Badung Tahun rupa sehingga memungkinkan siswa dapat
Ajaran 2012/2013 belajar lebih santai, disamping membutuhkan
tanggung jawab, kerjasama, dan rasa
PEMBAHASAN percaya diri pada siswa.
Berdasarkan uji t diperoleh 3,67 > Hal ini didukung dengan temuan
2,00, t hitung > t tabel berarti hipotesis yang dilapangan selama proses belajar mengajar
menyebutkan bahwa ada perbedaan secara dengan menggunakan model kooperatif tipe
signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang TGT, siswa terlihat lebih aktif. Siswa
menggunkaan pembelajaraan dengan model cenderung tiap mengikuti kegiatan
kooperatif tipe Teams Games Tournament pembelajaraan dengan mempelajari terlebih
(TGT) dengan siswa yang diberi pengajaran dahulu materi yang akan dibahas dikelas.
menggunakan model konvensional pada taraf Dengan model kooperatif tipe TGT ini
signifikan 0,05 diterima. Hal ini mengandung kecenderungan guru menjelaskan materi
arti bahwa siswa yang diajar menggunakan hanya dengan ceramah dapat dikurangi,
model kooperatif tipe teams games sehingga siswa lebih bisa mengkontruksi
tournaments (TGT) hasil belajarnya lebih baik pengetahuannya sendiri sedangkan guru
untuk siswa yang diajar menggunkan model lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator
pembelajaraan konvensional pada standar dalam pembelajaran.
kompetensi menggunakan mememahami Berbeda dengan pembebelajaran IPA
perubahan kenampakan permukaan bumi menggunakan model konvensional, selama
dan benda langit. pembelajar siswa terlihat kurang begitu aktif.
Hal ini disebabkan karena model Siswa hanya mendengarkan secara teliti
pembelajaraan kooperatif tipe TGT serta mencatat hal-hal penting yang
merupakan model pembelajar yang dikemukakan oleh guru. Hal ini
melibatkan aktifitas seluruh siswa tanpa mengakibatkan siswa pasif, karena siswa
harus ada perbedaan status. Dengan hanya menerima apa yang disampaikan guru
menempatkan para siswa bekerja dalam sehingga siswa mudal jenuh, kurang inisiatif
kelompok-kelompok kecil untuk saling dan bergantung pada guru.
membantu satu sama lain dalam mempelajari Dalam pembelajaran IPA
materi pelajaraan. Dengan pembelajaraan ini, menggunakan model kooperatif tipe TGT
memungkinkan siswa dapat bekerja sama heterogen baik dalam segi kemampuan, jenis
dengan teman kelompoknya di mana siswa kelamin, dan suku serta dibantu dengan
saling bekerjasama dalam mempelajari sebuah media kotak pertanyaan yang
materi yang dihadapi. Dalam pembelajaraan bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa
ini siswa dilatih untuk menpresentasikan dalam berkompetisis sehingga
kepada teman sekelas apa yang telah memungkinkan siswa untuk belajar lebih aktif
mereka kerjakan. Dari sini siswa memperoleh dan dapat melatih dalam bekerja sama, serta
informasi maupun pengetahuan serta menunjukkan sikap bertanggung jawab
pemahaman yang berasl dari sesame teman sehingga memungkinkan siswa dapat belajar
dan guru (Slavin, 2005) lebih reileks disamping menunjukkan
Perbedaan hasil belajar yang muncul tanggung jawab, kerja sama, dan keterlibatan
juga disebabkan siswa yang diberi belajar.
pembelajaraan menggunakan model Berdasarkan namanya ciri – ciri dari
kooperatif tipe TGT mempunyai pengalaman model pembelajaran kooperatif tipe TGT yaitu
dalam bekerja dengan teman kelompoknya : 1) adanya teams (kelompok) yang terdiri
tanpa ada rasa canggung dan mampu dari 5 - 6 orang, 2) game (permainan) yaitu
mempresentasikan pendapatnya dan hasil siswa dalam proses pembelajaran akan
pekerjaannya kepada teman dalam kelompok dikondisikan dalam suasana belajar sambil
lain (Slavin, 2005). Dengan demikian siswa bermain, 3) tournament ( kompetisi ). Aturan
tidak akan lupa dengan pelajaran IPA main tournamen model TGT adalah sebagai
khususnya pada standar kompetensi berikut ( Sumantri, 2009: 215 ).
memahami kenampakan benda-benda Keunggulan model pembelajaran TGT
langit,sehingga hasil belajar IPA lebih baik adalah siswa yang belajar dalam kelas TGT
dibandingkan dengan siswa yang diberi memperoleh teman yang secara signifikan
pembelajraan menggunakan model lebih banyak dari siswa yang belajar pada
konvensional. kelas tradisonal (konvensional),
Perbedaan yang signifikan hasil meningkatkan persepsi siswa bahwa hasil
belajar antara model pembelajaran TGT yang mereka peroleh tergantung dari kinerja
dengan kelompok siswa yang mengikuti dan bukan dari keberuntungan,
pembelajaran konvensional dapat meningkatkan harga diri sosial pada siswa,
disebabkan adanya perbedaan sintaks, meningkatkan kerja sama verbal dan non
sumber belajar dan metode ajar dari kedua verbal antar siswa, dan meningkatkan
pembelajaran. Sintaks model pembelajaran keterlibatan siswa dalam belajar bersama.
TGT yaitu; membagi siswa dalam kelompok Proses pembelajaran secara
(team), adanya kerja kelompok (team study), konvensional menempatkan guru sebagai
bimbingan kelompok (scafolding), sumber belajar yang mengajarkan
perlombaan (tournament), validasi, pengetahuan dan keterampilan kepada siswa
penghargaan kelompok (team recognition). atau mahasiswa (Nasution, 2010:52). Model
Sedangkan pembelajaran konvensional tidak pembelajaran konvensional mengacu pada
menggunakan sintak yang pasti sesuai yang psikologi behavioristik, di mana guru
hanya menyesuaikan dengan keinginan guru berperan sebagai pusat informasi (teacher
pada saat membelajarkan siswa, sehingga centered). Siswa dipandang sebagai
siswa cenderung hanya sebagai pelaku komponen pasif dalam pembelajaran dan
belajar yang pasif. memerlukan motivasi dari luar. Model
Secara teoritis, model pembelajaran pembelajaran konvensional merupakan
TGT pada umumnya dapat dipahami sebagai model pembelajaran yang sudah lazim
model pembelajaran yang dirancaang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
dengan unsure permainan (game) yang Proses pembelajaran pada model
menempatkan siswa belajar secara konvensional pada penelitian ini berbeda
berkelompok (5 – 6 orang) yang sifatnya dengan ceramah. Perbedaan pembelajaran
konvensional dengan ceramah adalah menyarankan kepada peneliti selanjutnya
dominasi guru yang dikurangi. Pada untuk melakukan penelitian yang sejenis
pembelajaran konvensional guru hanya pada pokok bahasan yang lain dan cakupan
memberikan informasi pada waktu-waktu bahsa yang lebih luas.
tertentu yang diperlukan siswa. Guru dalam Berdasarkan hasil penelitian,
hal ini berupaya mentransmisikan informasi pembahasan dan kesimpulan, maka dapat
tekstual berupa konsep-konsep dan prinsip- diajukan beberapa saran sebagai berikut.
prinsip kepada para siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Hasil belajar IPA adalah suatu terdapat pengaruh yang signifikan antara
penilaian akhir dari proses dan pengenalan model pembelajaran kooperatif tipe TGT
yang telah dilakukan dalam proses terhadap hasil belajar siswa. Untuk itu, para
pembelajaran matematika yang guru dalam mengajar IPA agar selalu
menyebabkan terjadinya perubahan pada menerapkan salah satu model pembelajaran
seseorang yang belajar, yaitu perubahan dari yang sesuai dengan karakteristik siswa dan
belum tahu menjadi tahu, dan yang belum materi pelajaran serta perkembangan zaman,
mampu menjadi mampu, serta perubahan dalam hal ini model pembelajaran yang
sikap dan pengertian siswa untuk membuat siswa lebih aktif di dalam
mengembangkan pengetahuan menghitung, pembelajaran di kelas sehingga nantinya
mengukur, menurunkan, dan menggunakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
rumus IPA yang diperlukan dalam kehidupan Materi pembelajaran yang digunakan
sehari-hari. Hal tersebut akan tersimpan dalam penelitian ini terbatas hanya pada
dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak mengalikan dan membagi pecahan saja
akan hilang selama-lamanya, karena hasil sehingga dapat dikatakan bahwa hasil-hasil
belajar turut serta dalam membentuk pribadi penelitian terbatas hanya pada materi
individu yang selalu ingin mencapai hasil tersebut. Untuk mengetahui kemungkinan
yang lebih baik lagi sehingga akan hasil yang berbeda pada pokok bahasan
mengubah cara berfikir serta menghasilkan lainnya, peneliti menyarankan kepada peneliti
perilaku kerja yang lebih baik. selanjutnya untuk melakukan penelitian yang
sejenis pada pokok bahasan yang lain dan
Hal ini mendukung hipotetis yang lebih luas.
menyatakan bahwa ada perbedaan hasil Guru dalam membelajarkan siswa di
belajar IPA antara siswa yang belajar kelas maupun di luar kelas hendaknya dapat
menggunakan model kooperatif tipe TGT memfasilitasi siswa dengan sumber belajar
dengan siswa yang belajar menggunakan yang beragam disertai model pembelajaran
model konvensional. yang inovatif seperti model pembelajaran
TGT sehingga aktivitas siswa lebih aktif
PENUTUP dalam pembelajaran dan dapat terjadi
Model pembelajaran TGT berkaitan interaksi multi arah dalam pembelajaran.
dengan STAD kecuali satu hal TGT Sekolah agar dapat menyediakan
menggunakan tournament akademik, dan fasilitas pembelajaran yang lengkap agar
menggunakan kuis-kuis dan sistem skor guru yang membelajarkan siswa dengan
kemajuan individu, di mana para siswa model-model pembelajaran inovatif seperti
berlomba sebagai wakil tim mereka dengan model pembelajaran TGT, tidak mengalami
anggota tim lain yang kemampuan kendala dalam membelajarkan siswa,
akademiknya setara. Pembelajaran IPA yang sehingga kualitas sekolah akan sejajar atau
pada umumnya menjadi permasalahan di dapat lebih baik dari sekolah-sekolah yang
sekolah dasar, bisa menjadi efektif dan lain.
efisien dengan menggunakan model Pemerintah agar dapat memberikan
pembelajaran Kooperatif tipe TGT terhadap pembekalan dan penyuluhan pada guru, agar
hasil belajar IPA siswa tersebut. peneliti dapat lebih memahami model-model
pembelajaran inovatif yang dapat Slavin, Robert E. 2005. Cooperatife learning
mengoptimalkan hasil belajar siswa baik dari teori,riset dan praktek. Bandung :
afektif maupun kognitif, seperti model Nusa Media.
pembelajaran TGT yang berpengaruh
signifikan terhadap hasil belajar siswa, Senduperdana, A. 2007. Analisis Hasil
khususnya dalam mata pelajaran IPA. Belajar Mata Kuliah Umum: Survei di
Fakultas Ilmu Administrasi
DAFTAR RUJUKAN Universitas Krisnadwipayana
Dantes, N. 2003. Paradigma dan orientasi Jakarta. Jurnal Pendidikan dan
pendidikan nasional dalam bingkai Kebudayaan. No. 064. Tahun Ke-13
otonomi pendidikan (dengan
implikasi pada model evaluasi Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses
pembelajaran). Jurnal IKA. Vol. 1 Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
No. 2 (1-12). Rosdakarya

Kinarawati. 2007. Pembelajaraan kooperatif Suryabrata, Sumadi. 2008. Psikologi


tipe teams games tournament (TGT). Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Tersedia pada http://gurupkn.word
press.com/2007/11/13/ metode- Sumantri, Iwan. 2009. “Dua Model
teams-games-tournament- Pembelajaran yang Inovatif”.
tgt/(diakses 5 januari 2012) Tersedia pada
http://iwansmtri.blogspot.com/2009/0
Kurniasih, Imas. 2012. Bukan Guru Biasa. 1/dua-model-pembelajaran-
Jakarta: Arta Pustaka inovatif.html (diakses pada tanggal
26 Agustus 2012 )
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning.
Jakarta:Grasindo Luisa. 2007. Model Sugiyono, 2012. Metode penelitian
for Research on Multiculturality in pendidikan Kualitatif Kuantitatif dan
Mathematics Education. Spain: D&R. Bandung: Alfabeta
University of Granada.
Thobroni, Muhammad dan Arif Mustof. 2011.
Nurhadi, et.al. 2004. Pembelajaran Belajar dan Pembelajaran:
Kontekstual (Contexstual Teaching Pengembangan Wacana dan Praktik
and Learning/CTL) dan Pembelajaran dalam Pembangunan
Penerapannya dalam KBK. Edisi Nasional. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
kedua. Cetakan I. Malang:
Universitas Negeri Malang. Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi
Nasution. 2010. Berbagai Pendekatan dalam Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi
Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Pustaka
Bumi Aksara.
Yasa, I P. 2007. Inovasi Model Belajar Sains
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Sesuai Tuntutan Standar Proses
Pembelajaran: Sebagai Referensi Kurikulum Tingkat Satuan
Bagi Guru/Pendidik dalam Pendidikan (KTSP). Makalah.
Implementasi Pembelajaran yang Disajikan pada seminar akademik
Efektif dan Berkualitas. Jakarta: jurusan pendidikan fisika Undiksha,
Kencana Tanggal 24-25 Sepetember 2007 di
Singaraja.
Yasa, Doantara. 2008. “Pembelajaran
Kooperatif Tipe Teams-Games-
Tournaments (TGT)”. Tersedia pada.
http://ipotes.wordpress.com/2008/05/1
1/pembelajaran-kooperatif-tipe-teams-
game-tournaments-tgt/(diakses
tanggal 15 Agustus 2012).