Anda di halaman 1dari 5

UU No.

29 tahun 2004 pasal 48 tentang Praktik Kedokteran


Permenkes No. 36 tahun 2012 tentang Rahasia Kedokteran

Rahasia kedokteran berkaitan erat dengan hak asasi manusia, seperti tertulis dalam
United Nation Declaration of Human Right pada tahun 1984 yang intinya menyatakan “Setiap
manusia berhak dihargai, diakui, dihormati sebagai manusia dan diperlakukan secara manusiawi,
sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan”. Oleh karena itu, pasien dalam
menyampaikan keluhan jasmani dan rohani kepada dokter yang merawat, tidak boleh merasa
khawatir bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaannya akan disampaikan kepada
orang lain oleh dokter yang merawat ataupun oleh petugas kesehatan yang bekerjasama dengan
dokter tersebut. Seringkali kewajiban untuk merahasiakan catatan medis seorang bertabrakan
dengan kepentingan umum. Dokter sangat perlu memperhatikan batasan-batasan dalam
merahasiakan dan mengungkapkan rahasia medis kepada umum, dimana hal yang dimaksud
diatur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Di samping itu profesi kedokteran merupakan suatu profesi kepercayaan dan dianggap
sebagai profesi yang mulia, oleh karena pekerjaan yang dilakukan oleh seorang dokter
membutuhkan suatu ketelitian yang tinggi dan dapat berakibat fatal. Profesi kedokteran baru
dapat berlangsung bila ada kerelaan pasien untuk mengungkapkan keadaan dirinya termasuk hal
– hal yang amat pribadi. Akibatnya dapat dikatakan bahwa hubungan dokter – pasien adalah
berdasarkan azas kepercayaan, artinya dokter percaya bahwa pasien akan mengungkapkan diri
seutuhnya sedangkan pasien juga percaya bahwa dokter akan menjaga rahasia yang
diketahuinya.
Sudah diketahui bahwa rahasia kedokteran merupakan salah satu kewajiban dari seorang
dokter. Hal-hal mengenai rahasia kedokteran tersebut telah dituangkan dalam sumpah dokter,
Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Peraturan Pemerintah yang dikutip sebagai berikut:
Di dalam menjalankan praktik, dokter wajib menyimpan rahasia kedokterannya.
Kewajiban wajib simpan rahasia kedokteran diatur di dalam UU No. 29 tahun 2004 pasal 48 ayat
1 tentang Praktik Kedokteran yang berbunyi:1
“Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan
rahasia kedokteran”.
Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran juga tertuang dalam Permenkes No. 36 tahun
2012 pasal 4 ayat 1 tentang rahasia kedokteran yang berbunyi:2
“Semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran dan/atau menggunakan data dan
informasi tentang pasien wajib menyimpan rahasia kedokteran.” Kewajiban ini berlaku
selamanya, walaupun pasien telah meninggal dunia.3
Kewajiban para pejabat medis untuk merahasiakan hal-hal yang diketahui karena
jabatannya atau pekerjaannya berpijak pada norma-norma susila, dan pada hakikatnya hal
tersebut merupakan kewajiban moral. Sumpah dokter berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26
Tahun 1960 Tentang Lafal Sumpah Dokter selanjutnya disebut PP No. 26 Tahun 1960 sebagai
berikut:4
“Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena
keilmuan saya sebagai dokter”

a. Definisi
Mengenai pengertian rahasia kedokteran itu sendiri, dalam Permenkes No. 36 tahun 2012
pasal 1 berbunyi:2
“Rahasia kedokteran adalah data dan informasi tentang kesehatan seseorang yang diperoleh
tenaga kesehatan pada waktu menjalankan pekerjaan atau profesinya.”
Yang dimaksud dengan “Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.”
Pada pasal 4 ayat 2 dijelaskan, pihak yang wajib menyimpan rahasia kedokteran meliputi: a.
dokter dan dokter gigi serta tenaga kesehatan lain yang memiliki akses terhadap data dan
informasi kesehatan pasien; b. pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan; c. tenaga yang
berkaitan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan; d. tenaga lainnya yang memiliki akses
terhadap data dan informasi kesehatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan; e. badan
hukum/korporasi dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan; dan f. mahasiswa/siswa yang
bertugas dalam pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan/atau manajemen informasi di
fasilitas pelayanan kesehatan.
Ruang lingkup rahasia kedokteran dijelaskan dalam Permenkes No. 36 tahun 2012 pasal 3
dimana ruang lingkup rahasia kedokteran mencakup data dan informasi yang dapat
bersumber dari pasien, keluarga pasien, pengantar pasien, surat keterangan konsultasi atau
rujukan, atau sumber lainnya, dan mengenai: a. identitas pasien; b. kesehatan pasien meliputi
hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis,
pengobatan dan/atau tindakan kedokteran; dan c. hal lain yang berkenaan dengan pasien.2

b. Pembukaan rahasia
Dokter wajib menjaga kerahasiaan pasiennya baik yang dikemukakan oleh pasiennya
maupun isi dari rekam medis. Walaupun telah diatur oleh undang-undang atas wajib simpan
rahasia kedokteran tetapi ada pengecualian dimana rahasia kedokteran dapat diungkapkan.
Berdasarkan pasal 48 ayat 2 UU No. 29 tahun 2004 berbunyi:1
“Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi
paraturan penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau
berdasarkan ketentuan perundang-undangan.” Dalam Permenkes No. 36 tahun 2012 Bab IV
dijelaskan tentang pembukaan ahasia kedokteran, yang meliputi pasal 5 hingga pasal 14.2
Pengungkapan rahasia kedokteran dapat dilakukan pada keadaan:
1. Atas izin/otorisasi pasien
Pengungkapan rahasia kedokteran dapat diberikan atas dasar izin dari pasien. Pasien
diberikan penjelasan tentang alasan pengungkapan rahasia. Dalam hal ini pasien harus
dalam keadaan yang kompeten. Demi keamanan, oleh rumah sakit biasanya dimintakan
Surat Izin Tertulis dari pasien/keluarganya secara khusus. Persetujuan dari pasien
dinyatakan telah diberikan pada saat pendaftaran pasien di fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Keperluan Asuransi
Untuk dapat mengungkapan rahasia kedokteran terhadap pihak asuransi, terlebih dahulu sudah
terdapat kesepakatan antara asuransi dengan pasien pada saat mengikuti asuransi. Pihak asuransi
harus menunjukkan kepada dokter lembar persetujuan pasien atas pengungkapan rahasia
medisnya. Dalam hal ini, dokter tidak perlu menjelaskan tentang keadaan pasien secara
menyeluruh, data terbatas dan hanya yang relevan.
3. Penegakan hukum
Adanya permintaan resmi, harus dilakukan secara tertulis dari pihak yang berwenang untuk
pembukaan rahasia kedokteran. Pembukaan rahasia sebaiknya diberikan dalam bentuk surat
keterangan riwayat penyakit yang ditulis dengna lengkap, jelas dan jujur serta menggunakan
bahasa awam. Pembukaan rahasia kedokteran dapat melalui pemberian data dan informasi berupa
visum et repertum, keterangan ahli, keterangan saksi, dan/atau ringkasan medis. Rekam medis
tidak boleh diberikan karena rekam medis hanya boleh keluar dari Rumah Sakit atas perintah
pengadilan.
4. Penegakan etik atau disiplin, serta kepentingan umum
Pembukaan rahasia kedokteran dalam rangka kepentingan penegakan etik atau disiplin atas
permintaan tertulis dari Majelis Kehormatan Etik Profesi atau Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia. Pembukaan rahasia kedokteran dalam rangka kepentingan umum
dilakukan tanpa membuka identitas pasien. Kepentingan umum ini meliputi : a. audit medis; b.
ancaman Kejadian Luar Biasa/wabah penyakit menular; c. penelitian kesehatan untuk
kepentingan negara; d. pendidikan atau penggunaan informasi yang akan berguna di masa yang
akan datang; dan e. ancaman keselamatan orang lain secara individual atau masyarakat. Pada
huruf b dan huruf e, identitas pasien dapat dibuka kepada institusi atau pihak yang berwenang.
5. Dokter digugat di Pengadilan oleh pasiennya atas dasar dugaan kelalaian (dokter sebagai
tergugat). Dengan adanya gugatan dari pasiennya, dianggap pasien itu sudah membebaskan
dokternya dari kewajiban untuk menyimpan rahasianya. Ia oleh mengungkapkan rahasia medis
pasien demi pembelaan diri.
1 Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran. serial on line https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU29-2004PraktikKedokteran.pdf.
diakses tanggal 27 September 2017.
2 Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2012 Tentang Rahasia Kedokteran serial on line
http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/2012_PMK_36_2012_ttg_Rahasia_Kedokteran.pdf
diakses tanggal 27 September 2017.
3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2012 pasal 4 ayat 3 Tentang Rahasia Kedokteran
4 Republik Indonesia, “Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 Tentang Lafal Sumpah
Dokter atas Kode Etik Kedokteran Indonesia,” dalam penjelasan dan pedoman pelaksanaan
Depok: Rona Pancaran Ilmu, hal 21.