Anda di halaman 1dari 8

RINGKASAN

Rodifan Maarij Firman Dwi Putro. 145040200111179. Uji Kompatibilitas Jamur Entomo-
Acaripatogen Lecanicillium lecanii dan Pestisida Nabati Ekstrak Daun Sirsak pada Tungau
Merah Jeruk Panonychus citri McGregor. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Retno Dyah
Puspitarini sebagai Pembimbing Utama dan Rina Rachmawati, SP., MP., M.Eng sebagai
Pembimbing Pendamping

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tungau merah jeruk (TMJ) Panonychus citri McGregor (Acari: Tetranichydae) merupakan
hama yang menyerang pada tanaman jeruk di California, Afrika Selatan, dan Jepang (Hoy, 2011).
Di Indonesia, TMJ ditemukan pada tahun 1992 menyerang pada tanaman jeruk (Puspitarini, 2010).
TMJ menyerang permukaan bagian atas daun jeruk dan menyebabkan daun berwarna keabuan,
perak atau kuning (Zhang, 2003). Kerusakan yang ditimbulkan pada daun berakibat pada gugurnya
daun dan buah (Xiao dan Fadamiro, 2010).
Pengendalian hama tungau pada sektor pertanian selama ini dilakukan menggunakan
pestisida sintetis. Penggunaan pestisida sintetis ini sering berdampak buruk pada lingkungan,
resistensi hama, kesehatan manusia, dan biaya sosial ekonomi (Chowańzky et al., 2014). Untuk
mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik pengendalian yang aman bagi lingkungan
untuk mengendalikan hama tungau dengan cara beralih ke pestisida nabati dan hayati yang lebih
aman bagi lingkungan (Djunaedy, 2009).
Pestisida hayati terbuat dari formulasi yang mengandung jamur, bakteri, atau virus yang
dapat menghasilkan senyawa antagonis yang bersifat racun bagi serangga (Djunaedy, 2009). Salah
satu jamur entomo-acaripatogen yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangga hama
adalah Lecanicillium lecanii (Zimmerman) Viegas. Sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap
jamur L. lecanii menunjukkan bahwa jamur ini efektif untuk mematikan beberapa jenis serangga
seperti ulat grayak Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) (Wahyuni et. al., 2013), wereng
coklat Nilaparvata lugens Stall (Hemiptera: Delphacidae) (Khoiroh, 2014), dan kutu putih
Plannococcus citri Risso (Hemiptera: Pseudococcidae) (Ghaffari et. al., 2017).
Pestisida nabati merupakan pestisida yang terbuat dari ekstraksi dari bagian tertentu dari
tumbuhan yang memiliki senyawa yang bersifat racun terhadap hama dan penyakit tertentu pada
tanaman (Djunaedy, 2009). Salah satu tanaman yang biasa digunakan untuk pestisida nabati adalah
sirsak Annona muricata Linnaeus (Magnoliophyta: Magnoliales). Bagian tanaman sirsak yang
dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun dan bijinya (Kementerian Kehutanan, 2010).
Sejumlah peneliatian terhadap ekstrak daun sirsak (EDS) menunjukkan bahwa EDS dapat
mematikan kutu daun persik Myzus persicae Sulz (Desiyanti et. al., 2016) dan meningkatkan
mortalitas walang sangit Leptocorisa acuta Thunberg (Hemiptera: Alynidae) (Tasirilotik, 2015).
Penggunaan pestisida nabati yang dikombinasikan dengan jamur entomo-acaripatogen
untuk mengendalikan hama telah banyak dilakukan melalui uji kompatibilitas. Uji kompatibilitas
berguna untuk mengkaji pengaruh pestisida nabati terhadap fisiologi jamur entomo-acaripatogen.
Uji kompatibilitas pestisida nabati dan hayati sudah banyak dilakukan, diantarannya ekstrak daun
sirsak (EDS) dengan Beauveria bassiana Balsamo (Li’aini, 2015), ekstrak daun putri malu (EDP)
dengan B. bassiana (Astoni et. al., 2015), dan ekstrak biji jarak dengan Metarhizium anisopliae
(Pangesti, 2016).
Informasi tentang pengaruh pestisida nabati EDS terhadap fisiologi jamur entomo-
acaripatogen L. lecanii masih terbatas. Aplikasi pestisida nabati EDS konsentrasi 0,5%; 1,0%; dan
1,5% diharapkan mampu bersinergi dengan fisiologi entomo-acaripatogen L. lecanii dengan
konsentrasi 104 , 106, dan 108 konidia/ml aquades untuk mematikan tungau P. citri.

Tujuan
Penelitan ini bertujuan untuk menguji kompatibilitas antara EDS konsentrasi 0,5%; 1,0%;
dan 1,5% dengan jamur entomo-acaripatogen L. lecanii dengan konsentrasi 104 , 106, dan 108
konidia/ml aquades dalam mematikan tungau P.citri.

Hipotesis
Hipotesis yang diajukan adalah jamur L. lecanii konsentrasi 104 , 106, dan 108
konidia/ml aquades kompatibel dengan ekstrak daun sirsak konsentrasi 0,5%. Semakin tinggi
konsentrasi jamur entomo-acaripatogen L. lecanii yang digunakan, maka persentase mortalitas
tungau P. citri semakin tinggi dan waktu timbulnya gejala semakin cepat.

Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kompatibilitas
pestisida nabati EDS dengan jamur entomo-acaripatogen L. lecanii dan konsentrasi yang paling
efektif terhadap mortalitas P. citri.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempa Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Entomologi dan Sub Laboratorium


Pengembangan Agens Hayati, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian,
Universitas Brawijaya.
Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah cawan Petri kaca dan plastik (d=9 cm),
pemanas Bunsen, jarum Ose, autoklaf, laminar air flow cabinet (LAFC), kuas nomor 0, rotary
shaker, haemocrymeter, cork borer, gelas ukur, gunting, gelas Erlenmeyer, kertas saring, gelas
objek, gelas penutup, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, pinset, gunting, botol kaca, botol
semprot, alumunium foil, falcon tube, pipet tetes, stik L, mikropipet, blender, spons, kapas, kain
kassa, kertas label, dan kamera digital.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu imago tungau P. citri, isolat jamur entomo-
acaripatogen L. lecanii, tanaman jeruk, daun sirsak, aquades steril, dekstrose, pepton, agar, ragi
(yeast), kloramfenikol, kentang, alkohol 70%, dan spirtus.
Metode
Metode dalam penelitian ini terdiri dari perbanyakan massal P. citri, identifikasi jamur
entomo-acaripatogen, pembuatan media padat sabourous dekstrose agar yeast (SDAY),
perbanyakan isolat jamur, pembuatan ekstrak daun sirsak, uji kompatibilitas, dan uji patogenesitas.
Identifikasi Jamur Entomo-acaripatogen
Jamur entomo-acaripatogen L. lecanii didapatkan dari koleksi Jurusan Hama Penyakit
Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Jamur kemudian diindentifikas berdasarkan
pada morfologi konidia, hifa, konidiofor, dan warna koloni. Kunci identifikasi jamur yang
digunakan mengacu pada buku identifikasi Barnet dan Hunter (1998).
Perbanyakan Massal dan Pemeliharaan Tungau P. citri
Imago tungau P. citri diperoleh di kebun apel, Kota Batu, Jawa Timur. Perbanyakan
dilakukan dengan membiakkan tungau di arena percobaan yang berupa cawan Petri plastik yang
di dalamnya ditempatkan busa. Di atas busa diletakkan selapis kapas, kemudian sehelai daun jeruk
yang ukurannya lebih kecil dari luas kapas. Setelah itu, diletakkan sehelai daun jeruk dengan posisi
permukaan bawah daun menghadap atas. Busa dan kapas dijenuhi dengan air setiap hari untuk
menjaga kesegaran daun. Sebanyak 10 ekor imago P. citri diletakkan pada tiap daun jeruk di dalam
arena menggunakan kuas ukuran 0.
Pembuatan Media SDAY
Media SDAY dibuat dengan cara melarutkan 40 g dekstrose, 40 g dekstrose, 20 g pepton,
15 g agar, 2,5 g yeast, dan 0,6 g kloramfenikol ke dalam 1000 ml aquades. Campuran bahan
tersebut direbus hingga mendidih. Setelah itu larutan dituangkan ke dalam botol kaca untuk
kemudian disterilisasi di dalam autoklaf.
Perbanyakan Isolat Jamur
Isolat jamur entomo-acaripatogen L. lecanii yang sudah diidentifikasi, diperbanyak dengan
menggunakan media SDAY. Perbanyakan dilakukan pada media cair untuk memperbanyak
biakan. Pemindahan isolat jamur dilakukan di dalam LAFC dengan menggunakan cork borer yang
telah dipanaskan dengan api Bunsen, hal ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi dari
mikroorganisme yang tidak diinginkan. Inokulum L. lecanii diinkubasikan pada suhu ruang
selama lebih kurang 21 hari hingga koloni memenuhi media pada cawan Petri.
Pembuatan suspensi konidia dilakukan dengan cara mengambil jamur dari isolat murni
yang telah ditumbuhkan pada media, kemudian dilarutkan dengan 10 ml aquades steril hingga
membentuk suspensi. Kemudian dihomogenkan dengan vortex mixer selama beberapa menit.
Penghitungan konsentrasi dilakukan dengan mengambil 1 ml suspensi jamur dan
diteteskan di atas haemocytometer. Konidia dihitung di bawah mikroskop binokuler dengan
perbesaran 400 kali. Konidia dihitung pada kotak tengah (Gambar 1a). Pada kotak tengah tersebut
ditetapkan 5 kotak contoh (Gambar 1b). Tiap kotak terdiri 16 kotak kecil. Konsentrasi konidia
dihitung dengan menggunakan rumus Hadioetomo (1993) sebagai berikut:
t
C= x 106
n x 0,25
C adalah konsetrasi konidia/ml larutan, t adalah jumlah konidia dalam kotak contoh, n
adalah jumlah kotak contoh (5 x 16 kotak kecil = 80 kotak) dan angka 0,25 adalah faktor koreksi
penggunaan kotak contoh skala kecil pada haemocytometer.
Kerapatan konidia jamur yang digunakan pada penelitian ini yaitu 104 , 106, dan 108
konidia/ml aquades. Suspensi massa konidia dihitung hingga tercapai konsentrasi tersebut melalui
pengenceran berseri. Pengenceran berseri dilakukan apabila konsentrasi jamur yang diperoleh
lebih tinggi dari konsentrasi tertinggi yang diinginkan (108 konidia/ml aquades). Pengenceran
dilakukan hingga tercapai konsentrasi terendah (104 konidia/ml aquades). Jika kerapatan konidia
yang dihasilkan kurang dari kerapatan terendah, maka suspensi jamur kembali diinkubasi pada
suhu 26-29 C dan dilakukan perhitungan hingga diperoleh kerapatan konida yang diinginkan
dengan cara yang sama.

Kotak contoh

a b
Gambar 1. Bidang pandang pada haemocytometer. a. kotak tengah; b: kotak contoh yang
masing-masing terdiri dari 16 kotak kecil

Pembuatan Ekstrak Daun Sirsak


Daun yang tua ditimbang sebanyak 100 g kemudian dicuci bersih dengan air mengalir dan
dikeringanginkan. Kemudian daun sirsak ditambahkan 100 ml aquades steril dan diblender hingga
halus. Kemudian disaring menggunakan saringan halus. Hasil saringan merupakan ekstrak daun
sirsak konsentrasi 100% yang merupakan larutan stok. Ekstrak daun sirsak kemudian diencerkan
sesuai dengan tingkat konsentrasi yang diuji. Konsentrasi EDS yang digunakan adalah 0,5; 1,0;
dan 1,5%. Konsentrasi tersebut diperoleh secara berurutan dengan cara menambahkan 0,5; 1,0;
dan 1,5 ml ke dalam 99,5; 99,0; 98,5 ml aquades steril.
Uji Kompatibilitas
Uji kompatibilitas disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 12 kombinasi
perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali sehingga terdapat 60 satuan percobaan. Kombinasi
perlakuan terdiri dari 3 konsentrasi L. lecanii yaitu, 104 , 106, dan 108 konidia/ml aquades dan 4
konsentrasi EDS yaitu, 0 (kontrol); 0,5; 1,0; dan 1,5 %. Masing-masing konsentrasi dari jamur
entomo-acaripatogen dan pestisida nabati EDS dikombinasikan sehingga didapatkan 12
kombinasi.
Uji kompatibilitas jamur entomo-acaripatogen L. lecanii dengan EDS dilakukan secara in
vitro dengan teknik peracunan media. Media SDAY dicampur dengan EDS sesuai konsentrasi
perlakuan dengan perbandingan volume 3:1 kemudian diaduk rata. Selembar kertas saring
dicelupkan ke dalam suspensi jamur entomo-acaripatogen L. lecanii sesuai konsentrasi perlakuan.
Kemudian kertas saring tersebut diletakkan di dalam cawan Petri yang berisi media pada SDAY
yang mengandung EDS sesuai konsentrasi perlakuan. Selembar kertas saring juga dicelupkan ke
dalam suspensi jamur sesuai konsentrasi perlakuan kemudian diletakkan di dalam cawan Petri
yang berisi media padat SDAY tanpa campuran EDS sebagai kontrol. Semua proses tersebut
dilakukan di dalam LAFC untuk terhindar dari kontaminasi. Kemudian jamur entomo-
acaripatogen L. lecanii diinkubasi pada suhu 26-29 C.
Variabel pengamatan uji kompatibilitas yaitu pertumbuhan koloni, daya kecambah konida,
dan sporulasi. Rerata diameter koloni pada 6 hari setelah aplikasi (HSA) dan jumlah konidia pada
15 HSA digunakan untuk menghitung nilai kompatibiltas. Data yang diperoleh diolah
menggunakan sidik ragam. Jika respon perlakuan berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji
Duncan pada taraf nyata 5%.
Pertumbuhan Koloni. Pengaruh EDS terhadap pertumbuhan koloni jamur ditentukan
dengan cara mengukur diameter koloni jamur entomo-acaripatogen L. lecanii. Penghitungan
diameter koloni dilakukan pada 6 HSA. Persentase penurunan koloni jamur dihitung dengan rumus
berikut:
N1 − N2
Nr = × 100%
N1
Nr adalah persentase penurunan pertumbuhan koloni, N1 adalah pertumbuhan koloni jamur pada
media yang tidak dicampur dengan EDS, N2 adalah pertumbuhan koloni jamur pada media yang
dicampur dengan EDS.
Daya Kecambah Konidia. Persentase kecambah dihitung dari 200 konidia. Konidia
dinyatakan berkecambah apabila kecambah telah melebihi diameter konidia. Daya kecambah
konidia ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
K1
V= x100%
K2
V adalah daya kecambah konidia (%), K1 adalah jumlah konidia yang berkecambah, dan K2 adalah
jumlah konidia yang diamati.
Penghitungan daya kecambah konidia dilakukan pada 6 HSA. Jika terjadi penurunan daya
kecambah konidia, maka persentase penurunan daya kecambah konidia dihitung dengan rumus
sebagai berikut:

M1 − M2
Mr = x100%
M1
Mr adalah persentase penurunan daya kecambah, M1 adalah daya kecambah konidia pada media
yang tidak dicampur dengan EDS, dan M2 adalah daya kecambah konidia pada media yang
dicampur dengan EDS.
Jumlah Konidia. Konidia jamur dipanen dengan cara menambahkan 5 ml aquades steril.
Konidia dilepaskan dari media menggunakan kuas halus. Kemudian suspensi dimasukkan ke
dalam tabung reaksi dan konsentrasi konidia dihitung menggunakan haemocytometer. Persentase
penurunan sporulasi dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

S1 − S2
Sr = x100%
S1
Sr adalah persentase penurunan sporulasi, S1 adalah jumlah konidia yang dihasilkan jamur pada
media yang tidak dicampur dengan EDS, dan S2 adalah jumlah konidia jamur pada media yang
dicampur dengan EDS.
Perhitungan Nilai Kompatibilitas. Data pertumbuhan koloni dan jumlah konidia
dimasukkan ke dalam rumus T dari Depieri et al. (2005) sebagai berikut:
20(𝑃𝑘) + 80(𝑆𝑝)
𝑇=[ ]
100

T adalah nilai kompatibilitas, PK adalah nilai relatif pertumbuhan koloni perlakuan dibandingkan
dengan kontrol (%) dan SP adalah nilai relatif sporulasi perlakuan dibandingkan dengan kontrol
(%).
Nilai T dibagi dalam kategori sebagai berikut: 0-30 = sangat toksik, 31-45 = toksik, 46-60
= kurang toksik, dan >60 = tidak toksik atau kompatibel. Perlakuan yang menunjukkan nilai
kompatibel akan dilanjutkan dengan uji patogenesitas L. lecanii dan EDS pada imago tungau P.
citri
Uji Patogenesitas
Percobaan menggunakan 10 ekor tungau uji. Tungau uji disemprot menggunakan larutan
yang berisi konidia L. lecanii dan pestisida nabati EDS yang dimasukkan ke dalam botol
penyemprot. Penyemprotan pada seluruh perlakuan dilakukan pada jarak 15 cm pada sore hari.
Perlakuan L. lecanii 104 , 106, dan 108 konidia/ml aquades dikombinasikan dengan EDS 0,5; 1,0;
dan 1,5 %, dan aquades sebagai kontrol sehingga didapatkan 12 perlakuan.
Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang 4 kali sehingga
didapatkan 48 satuan percobaan. Masing-masing unit percobaan diaplikasikan pada 10 imago
tungau P. citri di arena percobaan, sehingga jumlah tungau yang dibutuhkan untuk uji
patogenesitas adalah 480 tungau.
Pada uji patogenestias diamati mortalitas, jumlah telur, jumlah larva, jumlah larva mati
tungau P. citri, gejala infeksi jamur L. lecanii dan pestisida EDS terhadap tungau P. citri.
Pengamatan mortalitas imago tungau P. citri dilakukan dengan menghitung jumlah imago tungau
yang mati dengan ciri-ciri tubuh dan tungkai tidak bergerak. Perhitungan mortalitas dilakukan
setiap 24 jam sekali sampai imago mati. Pengamatan jumlah telur dilakukan dengan menghitung
jumlah telur tungau P. citri yang menetas setelah diaplikasikan jamur L. lecanii dan pestisida
nabati EDS setiap 24 jam hingga imago mati. Pengamatan jumlah larva dilakukan dengan
menghitung jumlah larva tungau P. citri setelah diaplikasikan jamur L.. lecanii dan pestisida
nabati EDS. Pengamatan dilakukan setiap 24 jam hingga imago mati. Pengamatan jumlah larva
mati dilakukan dengan menghitung jumlah larva dari telur yang menetas menjadi larva kemudian
larva tersebut mati, setelah diaplikasikan jamur L. lecanii dan pestisida nabati EDS. Pengamatan
gejala infeksi yaitu deskripsi perubahan fisik imago tungau P. citri sejak pertama muncul gejala
sampai imago mati. Pengamatan dilakukan setiap 24 jam hingga imago mati.
Percobaan dihitung menggunakan sidik ragam, apabila respon dari perlakuan berpengaruh
nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf kesalahan 5%. Untuk pengamatan gejala
infeksi akan dianalisis secara deksriptif dan ditampilkan melalui foto dokumentasi.
DAFTAR PUSTAKA

Astoni, M. A., R. D. Puspitarini, dan H. Tarno. 2015. Uji Kompatibilitas Jamur Patogen Serangga
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin (Hypocreales: Cordycipitaceae) dengan
Insektisida Nabati Ekstrak Daun Putri Malu. Jurnal HPT. 3(3): 79-86.

Chowańzky, S., M. Kudlewska, P. Marciniak, dan G. Rosiński. 2014. Synthetic Insecticides – is


There an Alternative?. Polish Journal of Enviromental Studies. 23(2): 291-302.

Depieri, R.A., S.S. Martinez,dan A. O. Menezes Jr.. 2005. Compatibility of the Fungus Beauveria
bassiana (Bals.) Vuill. (Deuteromycetes) with Extracts of Neem Seeds and Leaves and the
Emulsible Oil. Journal Neotropical Entomology. 34(4): 601-606.

Desiyanti, N. M, D., I. M. D. Swantara, dan I. P. Sudiarta. 2016. Uji Efektivitas dan Identifikasi
Senyawa Aktif Ekstrak Daun Sirsak sebagai Pestisida Nabati terhadap Mortalitas Kutu
Daun Persik (Myzus persicae Sulz) pada Tanaman Cabai Merah (Capsipcum annum L.).
Jurnal Kimia. 10(1): 1-6.

Djunaedy, A. 2009. Biopestisida sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)


yang Ramah Lingkungan. Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Unijoyo. 6(1): 88-95

Ghaffari, S., J. Karimi, S. Kamali, dan E. M. Moghadam. 2017. Biocontrol of Planococcus citri
(Hemiptera: Pesudococcidae) by Lecanicillium longisporum and Lecanicillium lecanii
under laboratory and Greenhous Conditions. Journal of Asia-Pasific Entomology. 20(2):
605-612.

Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Teknik dan Prosedur dasar dalam
Praktikum. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.

Hoy, M. A. 2011. Agricultural Acarology: Introduction to Integrated Mite Management. CRC


Press: Taylor and Francis Group, Florida.

Kementerian Kehutanan. 2010. Pengenalan Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati dan


Pemanfaatannya Secara Tradisional. Diunduh di http://www.forda-
mof.org/files/Booklet_Pestisida_Nabati.pdf pada tanggal 5 Desember 2017.

Khoiroh, F., Isanawati, dan U. Faizah. 2014. Patogenesitas Cendawan Entomopatogen


Lecanicillium lecanii sebagai Bioinsektisida untuk Pengendalian Hama Wereng Coklat
secara In Vivo. Jurnal LenteraBio. 3(2): 115-121.

Li’aini, A. S. 2015. Pengaruh Pestisida Nabati Ekstrak Daun Sirsak terhadap Fisiologi Jamur
Entomo-acaripatogen Beauveria bassiana untuk Mematikan Tungau
Polyphagotarsonemus latus Banks (Acari: Tarsonemidae). Skripsi. Fakultas Pertanian,
Universitas Brawijaya.

Pangesti, I. R. 2016. Pengaruh Kombinasi Cendawan Metarhizium anisopliae dengan Ekstrak Biji
Jarak Terhadap Mortalitas Helopeltis spp. di Laboratorium. Skripsi. Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung.
Puspitarini, R. D. 2010. Kelimpahan Populasi Tungau Merah Jeruk, Panonychus citri (McGregor)
(Acari: Tetranychidae) pada Pertanaman Apel: Tungau Eksotik, Hama Baru pada
Pertanaman Apel. Diunduh dari http://repository.fp.ub.ac.id/wp-
content/uploads/2012/05/Kelimpahan-Populasi-Tungau-Merah-Jeruk.pdf pada tanggal 2
Januari 2018.

Tasirilotik, F. C. E. N. 2015. Uji Efektivitas Daun Sirsak (Annona muricata L.) sebagai Bahan
Pestisida Organik terhadap Mortalitas Hama Walang Sangit. Skripsi. Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Wahyuni, D. T., Isnawati, dan G. Suparno. 2013. Patogenesitas Cendawan Entomopatogen


Lecanicillium lecanii (Zimmerman) Viegas terhadap Larva Instar III Spodoptera exigua
(Lepidoptera: Noctuidae). Jurnal LenteraBio. 2(2): 173-178.

Xiao, Y., H. Y. Fadamiro. 2010. Functional Responses and Prey-stage Preferences of Three
Species of Predacious Mites (Acari: Phytoseiidae) on Citrus Red Mite, Panonychus citri
(Acari: Tetranychidae). Journal of Biological Control. 53(3): 345-352.

Zhang, Z. Q. 2003. Mites of Greenhouse. Identification, Biology and Control. CABI Publishing,
USA.