Anda di halaman 1dari 11

PENYULUHAN DENGAN KASUS UROLITHIASIS DI RUANG MAMBRUK 6

RS BHAYANGKARA TINGKAT III KOTARAJA JAYAPURA

Nama : Bangkit Fandana S.Kep

NIM :A032817001

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) JAYAPURA

TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di
negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih
banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter), perbedaan ini
dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di
seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih. Penyebab
terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine,
gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang
masih belum terungkap (idiopatik) Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang
mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan
faktor ekstrinsik
Urolithiasis atau Batu ginjal merupakan batu pada saluran kemih (urolithiasis),
Urolithiasis sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan
diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat
diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter,
buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran
kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena
adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra
yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli
ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi
pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering
terjadi (Purnomo, 2000).
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Urolithiasis
1. Definisi
Urolitiasis adalah pembentukan batu didalam saluran kemih.Batu saluran
kemih adalah keadaan tidak normal di dalam ginjal, mengandung komponen kristal
dan matriks organik yang secara khas dijumpai di kaliks atau pelvis dan bila akan
keluar dapat berhenti di ureter/kandung kemih.
Urolithiasis adalah terdapatnya batu di saluran urinary (traktus urinarius).
Neprolithiasis: batu yang terbentuk di paremkim ginjal. Ureterolithiasis:
terbentuknya batu di ureter. Batu yang terbentuk dapat ditemukan disetiap bagian
ginjal sampai ke kandung kemih dan uretra dan ukurannya sangat bervariasi dari
deposit granuler yang kecil yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar
kandung kemih yang berwarna oranye. Perbedaan letak batu akan berpengaruh pada
keluhan penderita dan tanda/gejala yang menyertainya.
Urolithiasis atau Batu ginjal merupakan batu pada saluran kemih (urolithiasis),
Urolithiasis sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan
diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat
diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter,
buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke
saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah
karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau
batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang
terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan
bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran
kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000).
2. Etiologi
Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsertrasi substansi tertentu seperti
Ca oksalat,kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk
ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal
pencegah kristalisasi dalam urin. Kondisi lain yang mempengaruhi laju
pembentukan batu mencakup PH urine dan status cairan pasien.
Faktor tertentu yang dapat mempengaruhi pembentukan batu, mencakup
infeksi, satus urine, periode imobilitas (drainage batu yang lambat dan perubahan
metabolisme kalsium).
Selain itu ada beberapa teori yang ,membahas tentang proses pembentukan
batu yaitu:
1. Teori inti (nucleus): kristal dan benda asing merupakan tempat
pengendapan kristal pada urine yang sudah mengalami supersaturasi.
2. Teori matriks: matriks organik yang berasal dari serum dan protein
urine memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
3. Teori inhibitor kristalisasi: beberapa substansi dalam urine
menghambat terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau
absennya substansi ini memungkinkan terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi ini
tergantung dari PH urine, kekuatan ion, konsentrasi cairan dan pembentukan
kompleks.
Batu kalsium dapat diakibatkan oleh:
1. Hiperkalsiuria abortif: gangguan metabolisme yang menyebabkan
terjadinya absorbsi khusus yang berlebihan juga pengaruh vitamin D
dan hiperparatiroid.
2. Hiperkal siuria renalis: kebocoran pada ginjal
Batu oksalat dapat disebabkan oleh:
1. Primer autosomal resesif
2. Ingesti-inhalasi: Vitamin C, ethylenglicol, methoxyflurane, anestesi.
3. Hiperoksaloria: inflamasi saluran cerna, reseksi usus halus, by pass
jejenoikal, sindrom malabsorbsi
Batu asam urat disebabkan oleh:
1. Makanan yang banyak mengandung purin
2. Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma
3. Dehidrasi kronis
4. Obat: tiazid, lazik, salisilat
Batu sturvit biasanya mengacu pada riwayat infeksi, terbentuk pada urin yang
kaya ammonia alkali persisten akibat UTI kronik. Batu sistin terjadi terutama pada
beberapa pasien yang mengalami defek absorbsi sistin.
Namun demikian pada banyak paisen mungkin tidak ditemukan penyebabnya.
Batu di saluran kemih juga dapat terjadi pada penyakit inflamasi usus dan
pengobatan dengan antasida, diamox, laksatif, aspirin.
3. Manifestasi kinis
Manifestasi klinis adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi,
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter
proksimal. Infeksi (peilonefritis & cystitis yang disertai menggigil, demam dan
disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada,
menyebabkan sedikit gejala namun secara fungsional perlahan-lahan merusak unit
fungsional ginjal dan nyeri luar biasa dan tak nyaman.
Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus
menerus di CVA (costa vertebral angle). Hematuria dan piuria jarang. Nyeri yang
berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita kebawah mendekati
kandung kemih, sedang pada pria mendekati testis. Bila nyeri mendadak menjadi
akut, disertai nyeri tekan di seluruh area kostovertebral dan muncul mual dan
muntah, maka pasien sedang mengalami kolik renal. Diare dan ketidaknyamanan
abdominal dapat terjadi.
Batu yang terjebak di ureter, menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa.
Pasien sering merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit yang keluar dan biasanya
mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Umumnya batu diameter < 0,5-1 cm
keluar spontan.
Batu ureter dapat pula tetap tinggal di ureter hanya ditemukan nyeri tekan.
Nyeri letak atau tak ditemukan nyeri sama sekali dan tetep tinggal di ureter sambil
menyumbat dan menyebabkan hidroureter yang asimtomatik (obstruksi kronik).
Tidak jarang terjadi kematian yang didahului oleh kolik. Bila obstruksi berlanjut,
maka kelanjutan dari kelainan ini adalah hidronefrosis dengan atau tanpa
piolonefritis sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.
Batu yang terjebak di vesika biasanya menyebabkan gejal iritasi dan
berhubungan dengan infeksi traktus urinariun dan hematuria. Jika batu
menyebabkan onstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin. Jika
infeksi berhubungan dengan adanya batu maka dapat terjadi sepsis.
Batu uretra biasanya berasal dari batu vesika yang terbawa saluran kemih saat
miksi, tetapi tersangkut di tempat yang agak lebar. Gejala yang umum: sewaktu
miksi tiba-tiba terhenti, menetes, nyeri. Penyulitnya adalah vesikal, abses, fistel
proksimal dan uremia, karena obstruksi urine.
4. Pencegahan
Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalahupaya
mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata
7%/tahun atau kambuh lebih dari 50% dalam 10 tahun. Prinsip pencegahan didasarkan
pada kandungan unsur penyusun batu yang telah diangkat. Secara umum, tindakan
pencegahan yang perlu dilakukan adalah:

1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3 liter
per hari
2. Diet rendah zat/komponen pembentuk batu
3. Aktivitas harian yang cukup
4. Medikamentosa

Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah:

1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan
menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.
2. Rendah oksalat
3. Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria
4. Rendah purin

Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type II.
5. Pengobatan

Penatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas, sehingga bukan hanya


mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan penyembuhan penyakit
batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan.

Indikasi pengeluaran batu saluran kemih:

1. Obstruksi jalan kemih


2. Infeksi
3. Nyeri menetap/berulang
4. Batu yang kemungkinan menyebabkan infeksi dan obstruksi
5. Batu metabolok yang tumbuh cepat.
Penanganannya berupa terapi medik dan simptomatik atau dengan bahan
pelarut. Dapat pula dengan pembedahan atau pembedahan yang kurang invatif
(misal: nefrostomi perkutan) atau tanpa pembedahan (misal: eswl/litotripsi
gelombang kejut ekstrakorporeal →menghancurkan batu di kaliks ginjal)

Terapi medik/simptimatik:

1. Diberikan obat untuk melarutkan batu


2. Obat anti nyeri
3. Pemberian diuretik untuk mendorong keluarnya batu

Pelarutan: batu yang dapat dilarutkan adalah batu asam urat, dilarutkan dengan
pelarut solutin G

1. Litotripsi
2. Pembedahan:

Pengangkatan batu ginjal secara bedah merupakan mode utama. Namun


demikian saat ini bedah dilakukan hanya pada 1-2% pasien. Intervensi bedah
diindikasikan jika batu tersebut tidak berespon terhadap bentuk penanganan
lain. Ini juga dilakukan untuk mengoreksi setiap abnormalitas anatomik dalam
ginjal untuk memperbaiki drainase urin.

Jenis pembedahan yang dilakukan antara lain:

1. Pielolititomi: jika batu berada di piala ginjal


2. Nefrotomi: bila batu terletak di dalam ginjal atau nefrektomi
3. Ureterolitotomi: bila batu berada dalam ureter
4. Sistolitotomi: jika batu berada di kandung kemih

.
B. SAP (Satuan Acara Penyuluhan)

Topik : Urolithiasis
Peserta : Tn. A beserta keluarga
Tempat : Ruang Mambruk 6
Hari/Tanggal : Selasa/9 januari 2017
Waktu : 20 menit

1. Tujuan Instruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan, peserta diharapkan mengetahui tentang kista
payudara.
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Peserta mengetahui tentang pengertian Urolithiasis
b. Peserta mengetahui tentang etiologi Urolithiasis
c. Peserta mengetahui tentang tanda dan gejala Urolithiasis.
d. Peserta mengetahui tentang pencegahan Urolithiasis.
e. Peserta mengetahui tentang pengobatan Urolithiasis.
3. Sasaran : Pasien Tn. A beserta keluarga
4. Materi
Terlampir
5. Metode
Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah metode ceramah, tanya jawab,
dan diskusi. Metode ceramah dipadukan dengan metode diskusi dan tanya jawab
yang dimaksudkan untuk memotivasi minat dan keterlibatan peserta penyuluhan.
6. Media
Leaflet
7. Kegiatan Penyuluhan
No. Waktu Kegiatan Fasilitator Kegiatan Peserta

1. 3 menit Pembukaan: Peserta menperhatikan


1. Memberi salam. penjelasan yang
2. Perkenalan dan kontrak waktu. disampaikan oleh fasilitator
3. Menyampaikan tujuan penyuluhan. dan aktif mengemukakan
4. Menyampaikan ruang lingkup materi yang pendapat.
akan disampaikan dan metode yang akan
digunakan.
5. Memotivasi peserta dengan menekankan
pentingnya materi ini untuk dipahami.

2. 5 menit Pelaksanaan: Peserta memperhatikan


penjelasan yang diberikan
1. Menggali pengetahuan klien tentang oleh fasilitator.
Urolithiasis
2. Menjelaskan tentang pengertian
Urolithiasis
3. Menyebutkan penyebab Urolithiasis.
4. Menyebutkan tanda dan gejala
Urolithiasis
5. Menjelaskan tentang pencegahan
Urolithiasis.
6. Menjelaskan yang harus dilakukan/
penatalaksanaan Urolithiasis.

3. 5 menit Evaluasi: Peserta aktif bertanya,


Menanyakan kembali kepada peserta tentang menjawab, dan
materi yang telah diberikan, dan mengemukakan pendapat.
reinforcement kepada klien yang dapat Peserta menjawab dan
menjawab pertanyaan. menanggapi pertanyaan
fasilitator.

4. 2 menit Terminasi: Peserta mendengarkan dan


menjawab salam.
1. Mengucapkan terima kasih atas peran
serta peserta.
2. Mengucapkan salam penutup.
3. Membagikan leaflet.
8. Pengorganisasian
Pembimbing : Ns. Connie L. T. S.Kep
Penyaji : Bangkit Fandana S.kep
9. Kriteria Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1) Peserta hadir di tempat penyuluhan.
2) Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di ruang Mambruk 6.
3) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan
selama penyuluhan.
b. Evaluasi Proses
1) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
2) Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan.
3) Peserta mengajukan pertanyaan dan fasilitator menjawab pertanyaan dengan
benar.
c. Evaluasi Hasil
1) Peserta dapat menyebutkan pengertian, penyebab, faktor risiko, tanda dan
gejala, penatalaksanaan, serta pencegahan Urolithiasis.
d. Antisipasi Masalah
1) Bila peserta tidak aktif dalam kegiatan (tidak ada pertanyaan), fasilitator
dapat menstimulasi dengan cara berdialog dengan pemberi materi dalam
membahas apa yang sedang diberikan.
2) Pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawab oleh kelompok penyaji
hendaknya dilakukan konfirmasi dengan pembimbing.
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses


keperawatan), Bandung.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC,
Jakarta.
Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih
bahasa: Tim PSIK UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta
Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan
Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian perawatan
Pasien, Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta
McCloskey&Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi, By
Mosby-Year book.Inc,Newyork
NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-
2014. Jakarta: EGC
Nursalam & Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika