Anda di halaman 1dari 5

TUGAS GEOGRAFI

Disusun Oleh :
Nama : Mutia Gigih Salsabila
No : 15
Kelas : X IPS 3

SMA NEGERI 1 WERU


TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Konsep Essensial Geografi
Dalam mengkaji objek material, ilmu geografi memiliki sepuluh metode atau konsep
dasar.

1. Konsep lokasi
Konsep lokasi atau letak merupakan konsep utama yang sejak awal
pertumbuhan geografi telah menjadi ciri khusus ilmu atau pengetahuan geografi.
Konsep letak merupakan jawaban atas pertanyaan pertama dalam geografi, yaitu
dimana?
a. Lokasi Absolut
Lokasi absolute menunjukkan letak yang tetap terhadap system grid (kisi-kisi)
atau koordinat. Untuk menentukan lokasi absolute di muka bumi, digunakan
system koordinat garis lintang dan bujur yang biasa disebut letak astronomis.
Letak absolute bersifat tetap, tidak berubah, meskipun kondisi tempat yang
bersangkutan terhadap sekitarnya tidak beerubah.

b. Lokasi relatif
Lokasi relatif lebih penting artinya dan lebih banyak dikaji dalam geografi serta
lazim disebut sebagai letak geografis. Artinya lokasi ini berubah-ubah kaitannya
dalam keadaan sekitar.

2. Konsep jarak
Jarak sebagai konsep geografi memiliki arti penting dalam kehidupan social,
ekonomi, ataupun kepentingan pertahanan. Jarak mempunyai faktor pembatas
yangbersifat alami, meskipun arti pentingnya bersifat relative sejalan dengan
kemajuan kehidupan dan teknologi.
Jarak berkaitan erat dengan lokasi dan upaya pemenuhan kebutuhan atau
keperluan poko kehidupan, seperti air, tanah yang subur dan pusat pelayanan. Jarak
dapat dinyatakan dengan ukuran jarak lurus, diudara yang mudah diukur dengan peta
(dengan memperhatikan skala peta). Namun, dapat pula dinyatakan sebagai jarak
tempuh, baik yang berkaitan dengan waktu perjalanan yang diperlukan maupun
dengan satuan biaya angkutan.
Sejalan dengan kemajuan teknologi serta upaya efisiensi,jarak tempuh dan
biaya angkutan antara dua tempat yang berjauhan akan berubah dari waktu ke
waktu. Jarak yang semula ditempuh berhari-hari dengan berjalan kaki, dapat
ditempuh dalam waktu beberapa jam dengan kendaraan bermotor kereta api, dan
selanjutnya ditemput dalam waktu beberapa menit dengan menggunakan kapal
terbang.

3. Konsep Keterjangkauan
Keterjangkauan (accesbility) tidak selalu berkaitan dengan jarak, tetapi lebih
berkaitan dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana angkutan dan komunikasi
yang dapat dipakai.
Suatu tempat dapat dikatakan terasing atau terisolasi kalau tempat itu sukar
dijangkau (dengan sarana komunikasi atau angkutan) dari tempat lain, meskipun
tempat itu relatif tidak jauh dari tempat lain. Rintangan medan yang hanya berupa
rangkaian pegunungan tinggi, hutan lebat, rawa-rawa, atau gurun pasir yang luas
merupakan penyebab suatu tempat kurang dapat dijangkau dari tempat lain.
Faktor social yang berupa bahasa, adat istiadat, serta sikap pendudu yang
berlainan (mencurigai setiap orang asing sebagai musuh) dapat menjadi factor
penyebab kurang terjangkaunya suatu tempat.
Keterjangkauan umumnya berubah akibat perekonomian, perkembangan
teknologi. Sebaliknya, tempat yang keterjangkauannya sangat rendah sulit mencapai
kemajuan dan mengembangan perekonomiannya.

4. Konsep pola
Pola berkaitan dengan susunan, bentuk, atau perseberan fenomena dalam
ruang muka bumi, baik fenomena yang bersifat alami (aliran sungai, persebaran
vegetasi, jenis tanah, dan curah hujan) maupun fenomena social budaya
(pemukiman, persebaran penduduk, mata pencaharian, dan jenis rumah tinggal).
Geografi mempelajari pola-pola bentuk dan persebaran fenomena, memahami
mana atau artinya, serta berupaya untuk memanfaatkan dan mengintervensi atau
memodifikasi pola-pola agar mendapatkan manfaat yang besar.

5. Konsep Morfologi
Morfologi menggambarkan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil
perangatan atau penurunan wilayah (secara geologi) yang lazim disebut erosi dan
sedimentasi sehinggaada yang berbentuk pulau-pulau, daratan yang luas pegunungan
dengan lereng-lereng tererosi, lembah-lembah dan daratan aluvialnya. Morfologi
juga menyangkut bentuk lahan yang berkaitan dengan erosi dan pengendapan,
penggunaan lahan, tebal tanah, ketersediaan air, serta vegetasi yang dominan.
Bentuk daaratan ataupun plato (dengan kemiringan tidak lebih dari 5 derajat)
merupakan perwujudan wilayah yang mudah digunakan sebagai daerah pemukiman
dan usaha pertanian serta usaha-usaha perekonomian lainnya. Jika diperhatikan peta
persebaran penduduk Asia, ternyata penduduk yang padat terpusat pada lembah-
lembah, sungai besar, dan tanah-tanah yang subur. Sebaliknya, wilayah pegunungan
lazimnya merupakan wilayah pegunungan yang jarang penduduknya, bahkan tidak
didiami manusia. Bentuk pulau dengan garis-garis pantai yang panjang memberikan
arti khusus mengingat nilai maritimitas yang tinggi.

6. Konsep Aglomerasi (Menggerombol)


Aglomerasi merupakan kecenderungan penyebaran yang bersifat
mengelompok pada suatu wilayah yang relative sempit paling menguntungkan, baik
mengingat kesejenisan maupun faktor-faktor umum yang paling menguntungkan.
Di kota, penduduk cenderung tinggal mengelompo pada tingat yang sejenis
sehingga timbul daerah pemukiman elit, daerah tempat tinggal para pedagang,
daerah pemukiman atau kompleks perumnas yang kebanyakan berpenghuni para
pegawai negeri, serta daerah pemukiman kumuh.
Di pedesaan yang masih agraris, penduduk cenderung menggerombol ditanah
datar yang subur dan membentuk perdusunan atau pedesaan. Makin subur tanahdan
luas dataran, makin besar desa dan jumlah penduduknya. Sebaliknya, makin terbatas
tanah datar dan juga kurang subur, gerombolan bentuk desa makin kecil dan
terpencar.

7. Konsep kegunaan
Nilai kegunaan fenomena atau sumber-sumber dimuka bumi ini bersifat
relative, tidak sama bagi setiaporang atau golangan penduduk. Daerah pantai
berpasir yang landai dengan perairan yang jernih belum tentu memiliki kegunaan
yang besar bagi penduduk setempat. Apalagi jika kehidupan penduduk tersebut
berorientasipada pemanfaatan sumber-sumber didaratan dan banyak jalan darat
dapat ditempuh. Sebaliknya bagi masyarakat kota yang hidupnya berkecukupan,
daerah pantai bagi sebagian orang memiliki nilai tinggi, yaitu sebagai tempat
rekreasi.
8. Konsep Interaksi dan Interpendensi
Interaksi merupakan peristiwa saling mempengaruhi objek atau tempat yang
satu dan yang lainnya. Setiap tempatmengembangkan potensi sumber dan kebutuhan
yang tidak selalu sama dengan apa yang ada ditempat lain.Oleh karena itu,
senantiasa terjadi interaksi atau bahkan iterpendensi antara yang satu dengan yang
lainnya.

9. Konsep Diferensial Area


Disetiap tempat atau wilayah, terwujud hasil integrasi berbagai unsure atau
fenomena lingungan yang bersifat alam maupun ehidupan. Integrasi fenomena
menjadikan suatu tempat atau wilayahyang lain. Unsur atau tempatfenomena
lingkungan bersifat dinamis. Sementara itu, keadaan berubah dan interaksi atau
integrasi juga menghasilkan karateristik yang berubah dari watu ke waktu.

10. Konsep Keterkaitan Ruangan


Keterkaitan ruangan atau asosiasi keruangan menunjukan derajat keterkaitan
persebaran suatu fenomena dengan fenomena yang lain di suatu tempat atau
ruangan, baik yang menyangkut fenomena alam dan tumbuhan, maupun social.