Anda di halaman 1dari 13

RESUME

PENILAIAN PEMBELAJARAN BIOLOGI

DISUSUN OLEH:

FAZHA SEFIRA CAHYA RESTI

15304241033

PENDIDIKAN BIOLOGI A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN ALAM
2018
BIOLOGI, KURIKULUM, PEMBELAJARAN, ASESMEN, DAN EVALUASI

Pembelajaran merupakan interaksi guru, peserta didik, sumber belajar dalam


lingkungan belajar.

Karakteristik biologi, objek yang dikaji seluruh benda alam, dikembangkan melalui
fakta empiris, melalui metode ilmiah, jika prosedur yang dilakukan sama maka jika dilakukan
kembali oleh orang lain akan sama, hasilnya objektif yakni, hanya memihak pada kebenaran
ilmiah tapi tidak menutup kemungkinan ada kesalahan.

Pembelajaran biologi, biologi sebagai hasil penemuan. Siswa menemukan fakta baru
sebagai saintific product dengan bukan hanya berdasarkan genering attitude namun juga
dengan sikap ilmiah (seperti, rasa ingin tahu) melalui saintific methode.

Pengukuran dalam pendidikan, menggunakan tes atau non tes. Tes, jika dikategorikan
benar salah. Non tes, tidak dapat dikategorikan benar salah, namun bisa positif atau negatif.
Misalnya non tes yaitu, hasil pengukuran sikap sosial.

Dari mata pelajaran Pendidikan biologi bertujuan menjadikan saintis yang terdidik
yang menghargai dan menghormati orang lain.

Penilaian dilakuan before learning, on learning, and after learning. Penilaian tidak
hanya berdasar pada pengukuran dapat juga berdasar observasi, dll.

Evaluasi yakni, bagaimana program dirancang, dilaksanakan, dampak program untuk


digunakan dalam situasi baru.

Kurikulum atau program pembelajaran merupakan serangkaian program untuk


menetapkan apa saja yang akan dikompetensikan kepada murid. Dilengkapi dengan
pengalaman belajar, rancangan penilaian, dan bahan ajar.
OBJEK ASESMEN DAN EVALUASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

Komponen kurikulum:

 Struktur kurikulum
 Materi pembelajaran

Kurikulum nasional diperoleh dari peraturan mentri. Berupa KI, KD, standar SKL.
Misalnya dalam KI terdapat kompetensi mengagungkan Tuhan, jika dalam islam mudah
karena tinggal mengaitkan dengan kitab suci Al-Qur’an yang merupakan sumber ilmu atas
kepercayaan penganutnya. Kemudian mencari ayat yang berkaitan atau mendukung pokok
pelajaran.

Menilai, misalnya menilai soal yang dibuat oleh guru apakah sudah sesuai atau belum
dengan substansinya.

Evaluasi program pada guru, seharusnya dilakukan oleh pengawas yang sesuai bidangnya
dengan guru. Jika guru biologi maka pengawasnya dari bidang biologi juga. Jumlah
pengawas sebaiknya sebanyak dengan bidang studi yang ada di sekolah.

Evaluasi program dapat juga dilakukan dengan melihat jumlah peserta didik yang lulus
dan ketrampilan yang didapatkan setelah lulus. Jika yang lulus banyak maka program
tersebut bagus sebaliknya jika yang lulus sedikit atau di bawah standar maka program
tersebut jelek dan perlu diganti.

Objek penilaian meliputi aspek kognitif, afektif, sosial, sensosik, motorik, dan lain-lain
yang diterapkan sebelum, saat dan sesudah belajar. Bagaimana keadaan kemampuan
mengingatnya ketika sebelum, saat dan sesudah apakah semakin meningkat ingatannya
mengenai konsep yang diajarkan. Contoh aspek kognitif dari to remember sampai to creat
(ada enam kompetensi).

Anak dapat mengkonstruksi dengan baik jika memiliki banyak pengalaman yang Ia
dapatkan dari lapangan. Dalam bidang biologi diperoleh dengan cara pengamatan.
Pengamatan dilakukan dengan mengamati fenomena kehidupan pada makhluk hidup,
meliputi, fenomena peristia (kejadian), fenomena benda, dan fenomenafaktual (fakta biologi).
RAGAM TEKNIK ASESMEN DAN BENTUK INSTRUMEN PENILAIAN DALAM
PEMBELAJARAN BIOLOGI HUBUNGANNYA DENGAN BIOLOGI

Untuk menentukan status peserta didik dalam pembelajaran harus menggunakan alat
ukur yang shohih dan andal. Shohih artinya akurat, sedangkan andal artinya jika diulang-
ulang hasilnya akan tetap atau sama. Jika alat ukur tersebut akurat maka juga andal. Oleh
karena itu jika kita menggunakan alat yang tidak tepat (tidak sohih dan tidak andal), justu
akan merugikan peserta didik. Disebabkan karena Interprestasi (penafsiran) orang satu dan
yang lainnya berbeda-beda.

Untuk dapat memperoleh hasil yang otentik (menggambarkan kompetensi


sebenarnya), seorang pendidik diharuskan untuk menerapkan teknik penilaian secara
komplementer sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai. Komplementer maksudnya, yang
diukur hanya bagian tertentu yakni, berdasar tujuan pembelajaran. Jika yang diukur diluar
pembelajaran maka alat itu digunakan untuk menentukan status seseorang pada hal tertentu,
yakni, diluar konteks pembelajaran. Misalnya tes TOEFL (Test of English Foreign
Language).

Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007, tentang Standar Penilaian Pendidikan


telah ditetapkan bagaimana standar dalam melakukan penilaian terhadap hasil belajar peserta
didik harus mendasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

• Mendidik

• Terbuka/transparan

• Menyeluruh

• Terpadu dengan pembelajaran

• Objektif

• Sistematis

• Berkesinambungan

• Adil (fair)

• Menggunakan acuan kriteria


TES TERTULIS UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN KOGNITIF

Bentuk tes tertulis menurut Gronlund (1998):

Syarat item tes uraian

1. Konvergen (memusat), ketika jawaban seluruh peserta didik sama (memusat). Banyak
sedikitnya akan menjadi konvergen.
2. Divergen (menyebar), testi yang satu dan yang lain memiliki peluang yang berbeda.

KONSTRUKSI INSTRUMEN ASESMEN RANAH AFEKTIF DAN SOSIAL


Aspek afektif mencakup semua aspek personalitas dimana menurut adalah semua
karakteristik yang dimiliki oleh person orang yang membedakannya dengan person yang lain.
Aspek personalitas mencakup penampilan, perilaku yang menjadi kebiasaan, sikap, minat,
nilai, dan pengetahuan yang memberi sumbangan/kontribusi terhadap personalitas seseorang.
Level afektif versi lama terdiri dari 5 level, namun pada versi baru level domain afektif terdiri
dari 8 level.
Aspek sosial merupakan versi terbaru dalam domain tujuan pendidikan.
Domain ini mencakup penilaian terhadap kompetensi sosial siswa dalam pembelajaran.
Aspek sosial berhubungan dengan hubungan, komunikasi, partisipasi, melakukan negoisasi,
mengadili, kolaborasi, memprakasai, dan membuat perubahan.

1. Skala Likert
Skala Likert umumnya digunakan untuk mengukur sikap dengan skala ordinal.
Skala Likert berwujud kumpulan pertanyaan-pertanyaan sikap yang ditulis, disusun
dan dianalisis sedemikian rupa sehingga respons seseorang terhadap pertanyaan
tersebut dapat diberikan angka (skor) dan kemudian dapat diinterpretasikan. Skala
Likert tidak terdiri dari hanya satu stimulus atau satu pernyataan saja melainkan selalu
berisi banyak item (multiple item measure)
2. Skala Thorstone
Skala Thurstone adalah skala uyang disusun dengan memilih butir yang
berbentuk skala interval. Skala ini mirip dengan skala Likert karena merupakan
suatu instrumen yang pilihan jawabannya menunjukkan tingkatan. Perbedaan skala
Thurstone dengan skala Likert, pada skala Thurstone rentang skala yang
disediakan lebih dari lima pilihan, dan disarankan sekitar sepuluh pilihan jawaban
(misalnya dengan rentang angka 1 s/d 11 atau a s/d k). Perbedaan skala Thurstone
dan Skala Likert ialah pada skala Thurstone interval yang panjangnya sama
memiliki intensitas kekuatan yang sama, sedangkan pada skala Likert tidak perlu
sama.
3. Skala Bogardus
Skala Bogardus atau skala jarak sosial, secara kuantitatif skala ini berupaya
untuk mengukur “jarak sosial” antar individu (kelompok) atau sikap penerimaan
terhadap individu (kelompok) lain, mengukur tingkat jarak seseorang yang diharapkan
untuk memelihara hubungan orang dengan kelompok lain. Dengan skala bogardus
responden diminta untuk mengisi atau menjawab pertanyaan yang ada untuk melihat
jarak sosial terhadap grup etnik lainnya, masing-masing pertanyaan akan diberi skor
dan angka yang lebih tinggi mencerminkan jarak sosial yang lebih besar.

4. Konstruksi Skala Gutman


Skala ini dikembangkan oleh Louis Guttman.Skala ini memiliki ciri penting,
yaitu skala ini merupakan skala kumulatif dan skala ini digunakan untuk mengukur
satu dimensi saja dari satu variabel yang multi dimensi, sehingga skala ini mempunyai
sifat undimensional.Skala ini juga disebut dengan metode Scalogram atau analisa
skala (scale analysis).
Skala Guttman sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan
dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut isi universal (universe
of content) atau atribut universal (universe attribute). Sebagaimana skala Thurstone,
pernyataan-pernyataan memiliki bobot yang berbeda, dan jika responden menyetujui
pernyataan yang memiliki bobot lebih berat, maka diharapkan akan menyetujui
pernyataan yang berbobot lebih rendah. Untuk menilai undimensionalnya suatu
variabel pada skala ini, diadakan analisis skalogram untuk mendapatkan koefisien
reproduksibilitas (Kr), dan koefisien skalabilitas (Ks), dimana jika nilai Kr = ≥ 0,90
dan Ks = ≥ 0,60 skala dianggap bagus (layak).

VALIDITAS INTRUMEN
Validitas dapat diibaratkan sebagai suatu alat ukur yang dinyatakan shahih,
jika alat ukur tersebut benar-benar mampu memberikan informasi empiric sesuai
dengan apa yang diukur. Kesahihan bersifat spesifik yang berkaitan dengan tujuan
dan interpretasi serta mencerminkan ketunggalan konsep yang diukur.
Alat ukur harus memiliki sifat andal (reliable), yaitu jika digunakan untuk
mengukur berulang-ulang selalu menunjukkan hasil yang konsisten/ tetap / stabil.
Macam-macam validitas
1. Kesahihan isi (content validity)
Dalam kesahihan isi selalu berkaitan dengan apakah sampel alat ukur
yang digunakan sudah representative atau belum, karena sesuai dengan
tujuannya yaitu untuk mengetahui kemampuan atau ranah tertentu pada
diri subjek. Jika alat ukur tersebut berupa tes, maka butir-butir pertanyaan
yang ada diharapkan mampu mencerminkan kemampuan subjek setelah ia
dikenai tes.
2. Kesahihan konstruk (construct validity)
Dalam kesahihan konstruk maka yang dibahas adalah mengenai
pemenuhan validitas apakah hasil pengukuran benar-benar bermakna atau
benar-benar dapat diinterpretasikan atau apakah alat ukur yang digunakan
benar-benar mampu mengukur. Dengan kata lain, apakah setiap butir soal
sudah mencerminkan indikator variabel yang akan diukur. Jika setiap butir
soal sudah mencerminkan indikator dari kemampuan yang akan diukur
maka hasil pengukuran yang diperoleh benar-benar mengukur kemampuan
sebagai variabel yang diukur
3. Kesahihan dihubungkan dengan kriteria (criterion-related validity)
Dalam hal ini, kesahihan suatu alat ukur dibandingkan dengan alat
ukur lain yang memiliki standar atau bersifat baku sebagai patokan. Jika
hasil pengukurannya menujukkan korelasi yang sangat positif dengan hasil
pengukuran menggunakan alat ukur baku berarti alat ukur tersebut
memiliki kesahihan yang tinggi
4. Kesahihan muka (face validity)
Dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kesahihan muka yang hanya dilihat
berdasarkan penampakan luarnya dan kesahihan ditinjau berdasarkan
pandangan orang yang lebih ahli yaitu ahli dalam ilmu dan dari segi
evaluasi atau bahasa
5. Kesahihan Antar Budaya (Cultural validity)
Kesahihan alat ukur tercermin dari keseragaman daya tangkap subjek
terhadap alat ukur yang bersangkutan.

Validitas atau kesahihan alat ukur juga harus dipenuhi dengan membuat alat ukur
sebaik mungkin yaitu antara lain dengan cara :

1. Petunjuk mengerjakan harus jelas


2. Struktur kalimatnya harus benar (lugas, komunikatif) dan kata-kata yang digunakan
sesuai dengan kemampuan subjek yang diukur
3. Pernyataan-pernyataan tidak mengandung dua arti
4. Konstruksi alat ukur harus memenuhi persyaratan sesuai dengan jenis alat ukurnya
5. Cukup waktu untuk mengerjakan
6. Alat ukur tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek
7. Khusus alat ukur tes harus memperhatikan : tingkat kesukaran soal atau disesuaikan
dengan kemampuan subjek yang diuji, setiap butir soal benar-benar mengukur
keberhasilan belajar, butir-butir soal diurutkan dari termudah ke paling sukar, dan
jawaban dibuat acak agar tidak mudah di temukenali oleh subjek yag diuji

RELIABILITAS INSTRUMEN
Reliabilitas atau keandalan juga berkaitan dengan keajegan atau konsistensi.
Reliabilitas dapat berlaku pada tingkat suatu perangkat tes dan tidak berlaku pada
masing-masing item tes penyusun perangkat alat ukur. Menurut Frisbie (2005)
reliabilitas tes hasil belajar memiliki ragam yang rendah manakala peserta didik dapat
berhasil dalam belajarnya.
 Tes dengan acuan kriteria atau dikenal dengan tes berbasis kompetensi atau
berbasis standar tidak menggunakan indek korelasi skor item dengan skor
totalnya karena akan menurunkan validitas isi dan validitas berdasarkan
kriteria.
 Teknik belah dua, hasilnya juga menunjukkan korelasi yang tingi diantara
belahan pertama dan kedua . permasalahan yang muncul adalah bahwa kedua
belahan tersebut harus homogen. Dengan menggunakan program QUEST
akan diperoleh nilai realibilitas baik menurut teori klasik yaitu berupa indeks
reliabilitas untuk soal pilihan ganda. Untuk soal yang memiliki tujuan
mengukur penguasaan kompetensi maka digunakan adalah indeks persetujuan
atau indeks Kappa (Kappa index)
 Metode bentuk paralel (equivalent) yaitu dua buah tes yang mempunyai
kesamaan tujuan, tingkat kesukaran, susunan, tetapi butir-butir soalnya
berbeda. Dua tes terbut dicobakan kepada kelompok siswa yang sama, setelah
itu baru hasil dari kedua tes tersebut dikorelasikan. Koefisien reliabilitas dapat
diartikan sebagai koefisien keajegan atau kestabilanhasil pengukuran. Alat
ukur yang reliabel adalah alat ukur yang mampu membuahkan hasil
pengukuran yang stabil (Lawrence, 1994) dan konsisten (Mehrens &
Lehmann,1973: 102).

PROSEDUR ANALISIS INSTRUMEN TES SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF BESERTA


INTERPRETASI HASIL ANALISIS

Ditinjau dari proses pemeriksaannya, suatu tes dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu: (1) Tes tipe subjektif; dan (2) Tes tipe objektif. Data hasil tes biasanya dikatagorikan
sebagai data yang berbentuk interval/rasio.

1. Tes tipe subjektif

Dalam pemeriksaan tes tipe subjektif, ada factor lain di luar kemampuan
testi yang mempengaruhi proses pemeriksaan dan hasil akhir berupa skor. Faktor di
luar kemampuan testi, misalnya: a) guru: emosi/perasaan, kelelahan, kecermatan;
dan b) siswa: tulisan, kerapihan. Macam-macam tes tipe subjektif:

 Tes lisan
 Tes uraian
 Tes perbuatan/keterampilan.
2. Tes tipe objektif
Dalam pemeriksaan tes tipe objektif tidak ada faktor lain yang mempengaruhi
proses pemeriksaan dan hasil akhir berupa skor yang akan diperoleh testi. Macam-
macam tes tipe objektif :
 Benar-Salah (True-False)
 Pilihan berganda (Multiple choice)
a) Pilihan ganda biasa
b) Hubungan antar hal (sebab-akibat)
c) Pilihan ganda kompleks
d) Menjodohkan.
Sedangkan berdasarkan tujuannya, tes dapat dikelompokkan menjadi:
 Tes kecepatan berfikir (Speed test)
a) Tes intelegensi
b) Tes keterampilan bongkar pasang alat
 Tes kemampuan (kognitif atau psikomotorik) (Power test)
 Tes pencapaian (Achievmement test)
a) Tes harian (formatif), untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa
sudah terbentuk (kognitif, afektif, psikomotorik) setelah mengikuti
suatu program tertentu.
b) Tes sumatif, untuk mengetahui penguasaan siswa dalam sejumlah
materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.
c) UAN
 Tes kemajuan hasil belajar / tes perolehan (Assesment test), untuk
melihat hasil belajar setelah kegiatan dilakukan.
 Tes diagnostic (Diagnostic test), untuk mencari, menyelidiki, atau
meneliti penyebab dari sesuatu hal yang muncul.

PROSEDUR ANALISIS INSTRUMEN NON TES SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF


BESERTA INTERPRETASI HASIL ANALISIS

Teknik non-tes digunakan untuk memperoleh data tentang aspek afektif atau
psikomotorik dari subjek yang diteliti. Instrumen penelitian bentuk non tes dapat berupa:
1. Wawancara (interview), dilakukan dengan cara menentukan tanya jawab langsung
antara pewawancara dengan yang diwawancara tentang segala sesuatu yang
diketahui oleh pewawancara. Agar hasil wawancara sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh pewawancara, maka pewawancara harus:
a) Membuat pedoman wawancara, yaitu berupa daftar pertanyaan yang akan
ditanyakan kepada orang yang diwawancara.
b) Merekan pelaksanaan wawancara untuk menganalisis jawaban dari orang
yang diwawancara (responden).
2. Obsevasi/pengamatan (observation), dilakukan dengan cara orang yang melakukan
pengamatan (observer) mengadakan pengamatan langsung ke lapangan tentang
segala sesuatu yang ingin diketahui tentang objek yang diteliti.
3. Angket (questionnaire), adalah daftar pertanyaan/pernyataan yang harus dijawab
atau diisi oleh responden. Berdasarkan kebebasan responden dalam menjawab
setiap pertanyaan, angket dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Angket terbuka,
Jawaban untuk setiap pertanyaan/pernyataan tidak disediakan.
Responden bebas memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan sesuai dengan
yang diinginkannya.
b) Angket tertutup

Jawaban Jawaban untuk setiap pertanyaan/pernyataan telah


disediakan, Responden bebas memberikan jawaban untuk setiap pertanyaan
sesuai alternatif jawaban yang telah disiapkan.

CARA PENETAPAN NILAI PESERTA DIDIK DAN CARA PELAPORAN HASIL ASESMEN

A. Cara penetapan nilai


1. Hasil ujian bentuk uraian
Didasarkan pada beberapa aspek yang harus dimunculkan dalam jawaban dan
bagaimana bobot tiap aspek. Dalam soal uraian, telah dibuat kunci jawaban
dengan skor tertentu, sehingga jika item yang digunakan memiliki bobot yang
berbeda, peserta didik dapat diberi informasi berapa bobot setiap item tersebut.
Dengan mengetahui bobot setiap item, peserta didik dapat memilih item yang
mana yang akan diselesaikan terlebih dahulu. Misalnya item pertama
dicantumkan bobot sebesar 3, item kedua 5, item ketiga 10 dan seterusnya.
Jawaban peserta didik tersebut dicocokkan dengan kunci jawaban dapat dihitung
skor yang diperoleh, kemudian dikonversikan ke dalam nilai.
2. Hasil ujian bentuk objektif
a. Setiap jawaban benar dari suatu item diberi skor 1, sehingga skor total akan
sama dengan jumlah seluruh jawaban yang benar
b. Memperhatikan adanya peluang terjadinya tebakan
Skor diperoleh dari:
𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉
Skor = jumlah jawaban benar – (𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒍𝒕𝒆𝒓𝒏𝒂𝒕𝒊𝒇 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒂𝒏−𝟏)
3. Mengubah skor menjadi nilai
a. Penilaian acuan patokan
Dilakukan dengan cara membandingkan skor mentah dengan
patokan/criteria yang telah ditetapkan dan sifatnya absolute (penilaian
absolute).
b. Penilaian acuan norma
Kemampuan populasi peserta mengikuti distribusi normal sehingga posisi
peserta didik dibandingkan dengan nilai rata-rata.
B. Cara pelaporan hasil asesmen
Dapat berupa nilai angka maupun deskripsi kualitatif terhadap kompetensi dasar
tertentu.
1. Untuk siswa dan orangtua
Laporan yang dibuat oleh pendidik untuk peserta didik dan orang tua berisi
catatan prestasi belajar siswa bersifat singkat sesuai kebutuhan yang dapat
dilihat dalam buku rapor pada setiap semester.
2. Untuk guru dan kepala sekolah
Laporan harus mencakup hasil belajar dalam ranah semua pembelajaran untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalaam satu kelas dan sekolah.
Informasi yang diperlukan kompetensi dasar yang telah dikuasai dan belum
dikuasai oleh peserta didik. Pendidik membutuhkan informasi yang spesifik untuk
masing-masing peserta didik, sedangkan kepala sekolah membutuhkan informasi
dalam satu sekolah.
3. Untuk sekolah
Laporan yang dibuat pendidik tidak hanya hasil prestasi tetapi juga kepribadian
peserta didik. Tidak hanya dalambentuk angka tetapi juga bentuk deskripsi
tentang peserta didik.

EVALUASI PEMBELAJARAN

A. Evaluasi penempatan
Berdasarkan hasil penilaian terhadap peserta didik sebelum mereka menempuh
program pembelajaran. Bertujuan untuk mengetahui penguasaan kemampuan
prasyarat seluruh peserta didik sebagai program yang diperlukan dalam proses
pembelajaran yang akan diselenggarakan.
1. Peserta didik yang tidak menguasai kemampuan prasyarat harus remedy
2. Kemampuan yang sudah dikuasai peserta didik tanpa harus melalui proses
pembelajaran jangan ditargetkan sebagai kemampuan yang harus dikuasai
melalui proses pembelajaran yang akan diselenggarakan
3. Peserta didik yang berbeda karakteristik personalnya perlu mendapatkan
perhatian khusus.

B. Evaluasi formatif
Berdasarkan hasil penelitian formatif selama peserta didik sebagai penempuh
program pembelajaran mengikuti proses pembelajaran dalam kaitannya dengan
penyelenggaraan program pembelajaran. Bertujuan untuk mengetahui seberapa
jauh seluruh peserta didik sebagai penempuh program pembelajaran akan berhasil
dalam mengikuti proses pembelajarn sampai akhir program dan mendiagnosis sebab
kegagalan seluruh peserta didik yang mengalami kesulitan belajar agar dapat
menguasai kemampuan yang ditargetkan dari program pembelajaran berdasarkan
kecakapan dan keterampilan yang dikuasainya sekarang.

C. Evaluasi sumatif
Berdasarkan kumulatif seluruh hasil penulaian sumatif sebagai hasil akhir peserta
didik dalam menempuh program diperoleh melalui ulangan harian, ulangan tengah
semester dan ulangan akhir semester. Bertujuan untuk menentukan nilai akhir
seluruh peserta didik sebagai penempuh program pembelajaran agar dapat
dinyatakan berhasil atau gagal.