Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL GROUP PROJECT

UJI KARBOHIDRAT PADA DAUN BAYAM, DAUN KANGKUNG, DAN DAUN


SINGKONG

OLEH
1. Zahra Noor A’yuna 15304241003
2. Yuni Prastiwi Mutiarani 15304241008
3. Dimas Bayu Pamungkas 15304241019
4. Olivia Indah Puspitasari 15304241024
5. Nur Jati Dwipuji Lestari 15304241030
6. Fazha Sefira Cahya Resti 15304241033

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarakat indonesia familiar dengan berbagai macam jenis sayur-sayuran yang


menjadi bahan makanan sehari-hari. Contohnya adalah sayur-sayur berwarna hijau
seperti sayur bayam, daun katuk dan sayur kangkung. Masing-masing sayur tersebut
memiliki berbagai macam kandungan zat gizi. Kandungan zat gizi yang terdapat pada
sayuran daun diantaranya adalah protein, karbohidrat, serat, vitamin, dan sedikit lemak.
Beberapa jenis sayuran memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dibandingkan
dengan jenis sayuran lain.
Di masa sekarang ini, masyarakat Indonesia kurang memahami tentang asupan
gizi dari makanan yang dikonsumsi. Mayoritas penduduk indonesia menjadikan beras
sebagai bahan makanan pokok. Padahal beras mengandung karbohidrat yang tinggi
dibandingkan jenis makanan pokok lain seperti kentang dan jagung. Konsumsi
karbohidrat berlebih yang didapatkan dari makanan pokok masyarakat berupa beras dan
sayur-sayuran dapat memicu penyakit diabetes. Diabetes terjadi karena tubuh mengalami
kelebihan gula sehingga pankreas tidak bisa memenuhi kebutuhan pembentukan hormon
insulin untuk mengolah gula. Pada keadaan seperti ini mengakibatkan gula masuk ke
dalam aliran darah.
Masyarakat pada umumnya sering mengkonsumsi makanan pokok berupa beras
dan sayuran hijau secara bersamaan. Kedua bahan makanan tersebut mengandung
karbohidrat yang tinggi, terutama pada beras. Dengan mengetahui sayuran manakah yang
mengandung karbohidrat tinggi dapat mengatasi kemungkinan kelebihan konsumsi
karbohidrat yang terjadi. Pada penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap kandungan
karbohidrat yang terdapat pada sayuran yang umum dikonsumsi oleh masyarakat.
Tujuannya adalah mengetahui sayuran mana yang memiliki kandungan karbohidrat
tertinggi sehingga masyarakat awam dapat mengkontrol jumlah yang dikonsumsi. Selain
itu, juga dapat menghindari kasus kelebihan jumlah karbohidrat yang masuk dalam tubuh
untuk mencegah resiko penyakit diabetes.

B. Rumusan Masalah

Apakah pada daun singkong, daun bayam, dan daun kangkung terdapat kandungan
karbohidrat?

C. Tujuan
Mengetahui kandungan karbohidrat pada daun bayam, daun kangkung, dan daun
singkong.

D. Manfaat Penelitian
Dapat membatasi pengonsumsian karbohidrat sayur dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

a. Uji seliawanoff
Uji Seliwanoff Pada uji Seliwanoff, jika gula tersebut mempunyai gugus keton disebut
ketosa. Sebaliknya jika ia mengandung gugus aldehida, ia adalah aldosa. Prinsip dari uji ini
adalah dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan
penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk kompleks berwarna merah
oranye(Aprilia Kusbandari, 2015: 39).
Uji ini didasarkan pada fakta bahwa ketika dipanaskan, ketosa lebih cepat terdehidrasi
daripada aldosa. Fruktosa dan sukrosa merupakan dua jenis gula yang memberikan uji positif.
Sukrosa menghasilkan uji positif karena ia adalah disakarida yang terdiri dari fruktosa dan
glukosa. Hasil menunjukan positif mengandung gula pereduksi dengan adanya endapan merah
pada larutan. dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel tepung ganyong yang terhidrolisa
memberikan warna oranye yang lebih pekat dibandingkan sampel yang lainnya(Aprilia
Kusbandari, 2015: 39).

b. Uji benedict
Uji Benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam larutan sampel.
Prinsip dari uji ini adalah gugus aldehid atau keton bebas pada gula reduksi yang terkandung
dalam sampel mereduksi ion Cu2+ dari CuSO4.5H2O dalam suasana alkalis menjadi Cu+ yang
mengendap menjadi Cu2O. Suasana alkalis diperoleh dari Na2CO3 dan Na sitrat yang terdapat
pada reagen Benedict(Aprilia Kusbandari, 2015: 38).
Pada uji ini menghasilkan endapan merah bata yang menandakan adanya gula pereduksi
pada sampel. Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata tergantung
pada konsentrasi gula reduksinya. semakin berwarna merah bata maka gula reduksinya semakin
banyak. Pada Tabel II terlihat bahwa pati ganyong yang sudah dihidrolisis berwarna merah bata
dibandingkan tepung, hal ini menandakan bahwa pati yang terhidrolisis mengandung gula
reduksi yang lebih banyak(Aprilia Kusbandari, 2015: 38).

c. Uji molisch
Reaksi Molich adalah uji umum untuk karbohidrat. Reaksi ini positif untuk semua
karbohidrat, misalnya tabung yang berisi larutan karbohidrat ditambahkan alfa-naptol (yang baru
dibuat), kemudian ditambah asam sulfat pekat melalui dinding secara hati-hati hingga asam
sulfat berada dibawah. Sakarida dengan adanya asam pekat akan didehidrasi menjadi senyawa
furfural atau derivatnya seperti hidroksimetilfurfural. Antara kedua cairan akan terdapat warna
violet. Pada reaksi ini akan terjadi furfural maupun turunan yang dengan berealsi dengan
alfanaptol membentuk warna violet(Retno Arianingrum, 2015:43).

d. Uji Iodin
Pati yang berikatan dengan (I2) akan menghasilkan warna biru. Sifat ini dapat digunakan
untuk menganalisis adanya pati. Hal ini disebabkan oleh struktur molekul iodin dan terbentuklah
warna biru. Bila pati dipanaskan, spiral merenggang, molekul-molekul iodin terlepas sehingga
warna biru menghilang. Dari percobaan-percobaan didapat bahwa pati akan merefleksikan warna
biru bila berupa polimer glukosa yang lebih besar dari dua puluh, misalnya molekul-molekul
amilosa. Bila polimernya kurang dari dua puluh seperti amilopektin, maka akan dapat dihasilkan
warna merah. Sedang dekstrin dengan polimer 6,7 dan 8 membentuk warna coklat. Polimer yang
lebih kecil dari lima tidak memberikan warna dengan iodin (Winarno, 2004: 40)
Tanaman bayam merupakan salah satujenis sayuran komersial yang mudah diperolehdi setiap
pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan. Tanaman bayam banyak dikonsumsi oleh
masyarakat umum. Tanaman bayam memiliki beberapa kandungan vitamin dan mineral. Bayam
mempunyai kandungan Fe yang tinggi, yaitu 3.9 mg/100 g. Selain itu, bayam juga kaya serat.
Berikut merupakan tabel kandungan dari bayam menurut (Dian Sukma Kuswardhani, 2001: 2 )
Kangkung (Ipomoea sp.) merupakan tanaman sayuran komersial yang bersifat menjalar.
Kangkung berbatang kecil, bulat panjang dan berlubang di dalamnya. Daunnya digemari seluruh
lapisan masyarakat Indonesia karena rasanya enak segar. Selain itu, Kangkung tergolong sayuran
daun yang cukup terkenal, karena murah juga mudah didapatkan dipasaran (Sunarjono,2004:34).

Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu
4-6 minggu sejak dari benih. Kangkung yang dikenal dengan nama Latin Ipomoea terdiri dari 2
(dua) varietas, yaitu Kangkung Darat yang disebut Kangkung Cina dan Kangkung Air yang
tumbuh secara alami di sawah, rawa atau parit-parit. Bagian tanaman kangkung yang paling
penting adalah batang muda dan pucuk-pucuknya sebagai bahan sayur - mayur. Kangkung selain
rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi (Sunarjono,2004:34).

Berdasarkan literatur, dalam 100 gram tanaman kangkung mengandung 458,00 gram
Kalium dan 49,00 gram Natrium. Dimana Kalium dan Natrium ini merupakan persenyawaan
garam bromida. Senyawa-senyawa ini bekerja sebagai obat tidur berdasarkan sifatnya yang
dapat menekan susunan saraf pusat (Japardi, Iskandar,2009:12)
Kegunaan sayuran kangkung selain sebagai sumber vitamin A dan mineral serta unsur
gizi lainnya yang berguna bagi kesehatan tubuh, juga dapat berfungsi untuk menenangkan syaraf
atau berkhasiat sebagai obat tidur. Disamping itu, tanaman kangkung juga mujarab untuk
dijadikan bahan obat tradisional. Kangkung juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi,
selain mengandung vitamin A, B, dan C juga mengandung protein, kalsium, fosfor, besi, karoten,
dan sitosterol (Rahmat Rukmana,1994:15).

Singkong merupakan jenis tanaman perdu yang dapat hidup sepanjang tahun. Singkong
mudah ditanam dan dibudidayakan, dapat ditanam di lahan yang kurang subur, resiko gagal
panen 5% dan tidak memiliki banyak hama. Tanaman ini mempunyai umur rata rata 7 hingga 12
bulan. Singkong mempunyai umbi atau akar pohon berdiameter rata-rata 5-10 cm lebih dan
panjang 50-80 cm. Daging umbinya ada yang berwarna putih atau kekuning-kuningan
(Soemarjo,1992:6).

Daun singkong biasa dibuat sebagai masakan sayur dengan kuah santan atau dimakan
setelah direbus. Daun singkong memiliki dua varietas, yaitu varietas manis dan pahit. Varietas
manis mengandung asam sianida lebih sedikit dari varietas pahit sehingga daun singkong muda
dari varietas manis umum digunakan. Senyawa antinutrisi yang membatasi penggunaan daun
singkong adalah kandungan hidrogen sianida (HCN), tannin dan asam fitat. HCN dalam jumlah
lebih dari 1 mg/kg bb per hari dapat menimbulkan gangguan kesehatan. HCN terbentuk dari
senyawa glikosida sianogenik singkong yaitu linamarin dan lotaustralin. Tetapi proses
pengolahan dapat mengurangi kadar HCN yang terbentuk, seperti kombinasi pemotongan dan
pengeringan dapat mengurangi tingkat HCN hingga level yang tidak berbahaya. Oleh karena itu
proses pengolahan sangat penting untuk mengurangi bahaya HCN(Heyne,1987:18)

Komposisi kimia daun singkong/100 g bagian yang dapat dimakan mengandung beragam
zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh diantaranya:

Komposisi Jumlah

Karbohidrat 7.1 g

Protein 6.2 g

Lemak 1.1 g

Serat 2.4 g

Abu 1.2 g

Kalsium 166 mg

Fosfor 99 mg

Besi 1.3 g

Karoten total 7052 µg

Vitamin A 0 SI

Vitamin B1 004 mg

Vitamin C 130.0 mg

Air 84.4 g

(Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia)


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


Alat :
 Pipet tetes
 Tabung reaksi
 Rak tabung reaksi
 Bunsen
 Lumpang dan aluporselen
 Gelas ukur
 Plat tetes
 Waterbath
 Penjepit tabung reaksi
 Thermometer
 Gelas becker
 Stopwatch
Bahan :
 Pereaksi Molish (larutan α-naphtol dalam etanol atau metanol)
 H2SO4
 Pereaksi seliwanoff
 Pereaksi Iodine
 Pereaksi benedict
 Sampel uji (bayam, kangkung, dan daun singkong)
B. Cara Kerja

1. Uji Molish

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum

Menuangkan sampel uji pada masing-masing tabung reaksi

Menambahkan 2 tetes pereaksi molish ke dalam masing-masing tabung reaksi

Mengocok masing-masing tabung selama 5 detik

Memiringkan tabung 40° dan menambahkan 1ml (20 tetes) H2SO4 asam sulfat
melewati dinding tabung reaksi

Mengamati perubahan warna yang terjadi

2. Uji Seliwanoff

Memasukkan 1 ml pereaksi seliwanoff dalam tabung reaksi

Menambahkan 2 tetes sampel uji kedalam masing-masing tabung reaksi

Memasukkan semua tabung kedalam waterbath dalam waktu yang bersamaan

Mencatat kecepatan terbentuknya warna pada masing-masing tabung (menit)


3. Uji Iodine

Memasukkan 3 ml larutan sampel kedalam masing-masing tabung reaksi

Memasukkan 3 ml larutan sampel kedalam plat tetes

Menambahkan 2 tetes pereaksi iodin dalam masing-masing sampel uji

4. Uji Benedict

Memasukkan pereaksi benedict (2ml) dalam tabung reaksi

Menambahkan 5 tetes larutan sampel kedalam masing-masing tabung reaksi

Memanaskan setiap tabung reaksi menggunakan bunsen


C. Tabulasi Data

1. Uji Molish
Hasil Pengamataan
NO Zat Uji Keterangan
(+/-)
1. Daun Bayam

2. Daun Kangkung

3. Daun Singkong

2. Uji Seliwanoff

Hasil Pengamataan
NO Zat Uji Keterangan
(+/-)
1. Daun Bayam

2. Daun Kangkung
Daun Singkong
3.

3. Uji Iodine

Hasil Pengamataan
NO Zat Uji Keterangan
(+/-)
1. Daun Bayam

2. Daun Kangkung

3. Daun Singkong

4. Uji Benedict

Hasil Pengamataan
NO Zat Uji Keterangan
(+/-)
1. Daun Bayam

2. Daun Kangkung

3. Daun Singkong
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Daftar Komposisi Bahan
Makanan. Jakarta: Bharata Karya Aksara.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
Japardi, Iskandar.2009.Gangguan tidur. Available from URL :http//library.usu.ac.id
Kuswardhani. D.S., Yaniasih., Pranadi. B. 2001. Fortifikasi Fe Organik dari Bayam dalam
Pembuatan Cookies untuk Wanita Menstruasi. Jurnal PKMI. Vol(3): 1-9. Diunduh pada
tanggal 4 April 2016.

Rahmat Rukmana.1994. Bertanam Kangkung.Yogyakarta: Kanisius.


Retno, Arianingrum. 2015. Kimia Dasar Untuk Biologi. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Sunarjono, H.H.2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Kusbandari, Aprilia. 2015. Analisis Kualitatif Kandungan Sakarida dalam Tepung dan Pati
Umbi Ganyong. Jurnal . Vol(5): 1. Diunduh pada tanggal 4 April 2016.