Anda di halaman 1dari 21

Meneladani Kesabaran dan Ketabahan Rasul Ulul

‘Azmi dalam Berdakwah: Studi Kisah-Kisah


dalam Al-Qur’an
M. Abduh Amrie
Fakultas Dakwah IAIN Antasari

One of the basic substative content of the Qur'an is the the story of the past as a
form of dakwah methods of the Qur'an to mankind. Among the story is about the
Apostles of Ulul 'Azmi. They were included Noah, Moses, Abraham, Isa, and the
Muhammad. They were all prophets and messengers who faced the strong
challenges and opposition from their people, but thanks to their courage and patience
they remained strong and continued to fight for the sake of upholding the Tawheed
on this earth. Their character should be followed by every person who wants to take
part in the field of dakwah and concentrate on calling people to the religion of Allah.

Keywords: Ulul „Azmi, Fir‟aun, Namruz, Nuh As, Musa As, Ibrahim As, Isa As,
Muhammad Saw.

Salah satu subtansi pokok kandungan Al-Qur’an adalah memuat tentang kisah
masa lalu, sebagai salah satu bentuk metode dakwah Al-Qur’an kepada umat
manusia. Di antara kisah itu adalah tentang para Rasul Ulul ‘Azmi. Adapun Rasul-
rasul yang termasuk dalam Ulul ‘Azmi ini adalah Nabi Nuh As, Nabi Musa As, Nabi
Ibrahim As, Nabi Isa As, dan Nabi Muhammad Saw. Mereka semua adalah Nabi
dan Rasul paling banyak mendapatkan tantangan dan perlawanan dari kaumnya,
namun berkat keteguhan hati dan kesabaran yang tinggi mereka tetap tegar dan
terus berjuang demi menegakkan kalimat Tauhid di permukaan bumi ini. Suatu
karakter yang patut bahkan harus diteladani oleh setiap orang yang ingin terjun ke
medan dakwah untuk mengkhususkan dirinya mengajak umat ke jalan agama
Allah SWT.

Kata kunci: Ulul „Azmi, Fir‟aun, Namruz, Nuh As, Musa As, Ibrahim As, Isa As,
Muhammad Saw

Al-Qur‟an adalah kitab suci yang yang disampaikan melalui Rasul-Nya


diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw (Departemen Agama
Muhammad Saw, sebagai Undang- RI 1990, 28). Salah satu subtansi pokok
undang Rabbani yang bersifat qath’i, kandungan Al-Qur‟an adalah memuat
universal kesejatiaan sebagai petunjuk tentang kisah masa lalu.
bagi alam semesta. Di dalamnya berisi Sebagai satu bentuk metode dakwah
hukum-hukum, peraturan dan Al-Qur‟an kepada manusia. Menurut M.
pedoman hidup, kisah-kisah sejarah Quraish Shihab kisah-kisah dalam Al-
masa lalu dan berita masa akan Qur‟an berkisar pada peristiwa sejarah
datang. Semua ajaran dan informasi yang terjadi dengan menyebutkan
yang disajikan di dalam Al-Qur‟an pelaku dan tempat terjadinya, biasa
tersebut terjamin kebenarannya, sebab pula kisah yang berupa peristiwa yang
ia merupakan wahyu dari Allah SWT telah terjadi dan masih dapat terulang

Email penulis: abduhamrie@iain-antasari.ac.id

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 97
Abduh Amrie Meneladani

kejadiannya, dan kisah dalam Al- dan halangan serta ancaman


Qur‟an yang merupakan kisah simbolis pembunuhan dari berbagai pihak
yang tidak menggambarkan suatu dilancarkan kepada mereka, sebut saja
peristiwa yang telah terjadi namun misalnya seperti Nabi Nuh As yang
dapat saja terjadi sewaktu-waktu selama seribu tahun berdakwah namun
(Shihab 1992, 198). yang beriman dapat dihitung dengan
Kisah Al-Qur‟an merupakan topik jari bahkan isteri dan anaknya sendiri
paling luas yang dibahas Al-Qur‟an, membangkang ajakan beliau. Nabi
dimulai dari kata qasas dan berbagai Musa As dengan kekejaman “Fir‟aun”
derivasi (tasrif) disebutkan sebanyak 26 dan keras kepalanya kaum Bani Israil,
kali dalam Al-Qur‟an (Abdul Baqi 1981, Nabi Ibrahim As dengan Raja “Namruz”-
549), dan 114 surah, 6336 ayat, 77.934 nya yang dengan kesadisannya
kata dan 323.671 huruf, maka 25%-nya membakar beliau, Nabi Isa As. dengan
dikemukakan dalam bentuk kisah yang kaum Yahudi-nya yang selalu berusaha
tersebar ke dalam beberapa surah (Al- ingin membunuh beliau, dan Nabi
Faruqi dan Al-Faruqi 1988, 136). Muhammad Saw yang diusir oleh
Diantara kisah-kisah yang terdapat di kaumnya sendiri dari kota kelahiran
dalam Al-Qur‟an adalah kisah para Nabi beliau, Mekkah sehingga harus hijrah
dan Rasul. Mereka adalah manusia ke Madinah.
terpilih yang ditentukan oleh Allah SWT
dan dijadikan-Nya sebagai
pengajak/penyeru/pembimbing Rasul-Rasul Ulul ‘Azmi
manusia agar tunduk dan patuh
kepada-Nya. Pada esensinya dakwah Dalam buku “Kamus Pintar Agama
yang disampaikan oleh para Nabi dan Islam”, bahwa arti Rasul adalah
Rasul itu terbagi pada dua hal utama, “utusan Tuhan, nabi yang mendapat
yaitu : wahyu dari Allah SWT dan
a. Dakwah kepada umat manusia diperintahkan menyampaikannya
untuk beribadah hanya kepada Allah kepada umatnya” (Ahmadi dan
SWT sebagaimana yang telah Abdullah 1991, 233). Sementara itu
ditentukan oleh syara‟. menurut M. Noor Matadawam, bahwa
b. Dakwah kepada umat manusia Rasul ialah “seorang laki-laki yang
untuk meninggalkan beribadah mulia, yang mendapatkan wahyu dari
keapada selain Allah SWT atau Allah SWT dan diberi tugas untuk
meninggalkan segala pelanggaran menyampaikan kepada umatnya”
dan pembangkangan terhadap (Matadawam 1984, 92).
syari‟at Allah SWT (Rabi 1992, 49). Sedangkan arti Ulul ‘Azmi adalah
Al-Qur‟an telah banyak bercerita “Rasul-rasul yang mempunyai
tentang para Nabi dan Rasul, di ketabahan yang luar biasa. Dalam
dalamnya ditegaskan bahwa mereka menjalankan tugas yang diemban dari
adalah juru dakwah yang selalu Allah, mereka sangat tabah dan sabar
mengajak ke jalan Allah SWT, bahkan menghadapi segala macam gangguan,
diterangkan pula jangkauan dan segala rintangan dan cobaan yang mereka
sarana yang digunakan dalam terima dari kaum yang menentang misi
berdakwah tersebut. Namun dari sekian mereka. Ketabahan Rasul Ulul ‘Azmi
banyak Nabi dan Rasul itu, ada tersebut sangat luar biasa, melebihi
beberapa diantara mereka yang ketabahan/kesabaran Rasul-rasul
kemudian diberi gelar oleh Allah sendiri lainnya, sehingga mereka disebut
sebagai Ulul ‘Azmi, lantaran tantangan dengan Ulul ‘Azmi. Adapun Rasul-rasul
Ulul ‘Azmi tersebut adalah Nabi Nuh As,

98 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang
Isa As, dan Nabi Muhammad Saw. Hal agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
ini dijelaskan oleh Allah SWT melalui kepada Nuh dan apa yang telah Kami
firman-Nya dalam surah al-Ahqaf ayat wahyukan kepadamu dan apa yang telah
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan
35 :
Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah belah
         
  tentangnya.

            

Maka bersabarlah kamu seperti orang-  


        
orang yang mempunyai keteguhan hati dari
rasul-rasul telah bersabar, dan janganlah   
kamu meminta disegerakan (azab) bagi
mereka. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil
perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu
Menurut Sirojuddin dalam buku (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa
“Ensiklopedi Islam” menyebutkan putra Maryam, dan Kami telah mengambil
bahwa Ulul ‘Azmi (ulu al-‘azmi) artinya dari mereka perjanjian yang teguh.
“orang-orang yang mempunyai
kemauan kuat dan teguh” (Sirojuddin Al-Bizar dan Al-Haitsimi
1993, 121). Rasul-rasul yang menerangkan :
termasuk dalam kelompok Ulul ‘Azmi
adalah Rasul-rasul yang terkenal ‫ﻥ ﺃﺏﻯ‬ ‫ ﻉ‬.‫ﻝﺭﺱﻝﻭﺥﻱﺍﺭﺏﻥﻯ ﺁﺩﻡ‬‫ﻭﻩﺅالء اﻝﺥﻭﺱﺓ ﻩﻥﺃﻑﺽﻝ ﺍ‬
kesabaran dan ketabahannya dalam ‫ (ﺥﻱﺍﺭ ﻭﻝﺫ ﺁﺩﻡ ﺥﻭﺱﺓﻥﻯﺡ‬:‫ﻩﺭﻱﺭﺓ ﺭﺽﻱ هللا ﻉﻥﻩ ﺃﻥﻩﻕﺍﻝ‬
menjalankan tugas, sehingga kesabaran ‫ﻯﺱﻯ ﻭﻩﺡﻭﺫﺹﻝﻯ هللاﻉﻝﻱﻩﻭﺱﻝﻥ‬ ‫ﻱﺱﻯ ﻭ ﻩ‬ ‫ﻱﻥ ﻭﻉ‬
‫ﻭﺇﺏﺭ ﺍﻩ‬
mereka dipuji oleh Allah sendiri seperti ‫ﻭﺥﻱﺭﻩﻥ ﻩﺡﻭﺫﺹﻝﻯ هللاﻉﻝﻱﻩﻭﺱﻝﻥ ﻭﺹﻝﻯ هللاﻭﺱﻝﻥﻉﻝﻱﻩﻥ‬
dalam ayat 35 surah al-Ahkaf di atas. .)‫ﺃﺝﻭﻉﻱﻥ‬
Karena itu dari 25 Nabi dan Rasul yang
wajib diketahui hanya lima Rasul saja Dan lima Rasul ini semulia-mulia anak
yang mendapatkan julukan Ulul ‘Azmi Adam. Telah berkata Abu Hurairah Ra,
ini, dan gelar ini merupakan gelar bahwasanya Rasulullah Saw bersabda :
tertinggi atau teristimewa di tingkat Semulia-mulia anak Adam ada lima orang,
para Nabi dan Rasul. yaitu Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan
Tentang gelar ini telah diterangkan Muhammad Saw, dan semulia-mulia
diantara mereka adalah Muhammad Saw
dalam Al-Qur‟an surah Asy-Syura ayat (Al-Bizar dan Al-Haitsimi t.th., 114).
13 dan Al-Ahzab ayat 7, Allah SWT
berfirman : Dari beberapa keterangan di
atas, maka Rasul-Rasul yang termasuk
          Ulul ‘Azmi itu ada 5 (lima) orang, yaitu :
1. Nabi Nuh As, 2. Nabi Ibrahim As, 3.
Nabi Musa As, 4. Nabi Isa As, dan 5.
          Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi
dalam tulisan ini penulis batasi hanya
         4 (empat) orang Rasul Ulul ‘Azmi saja
yang akan dipaparkan, yakni Nabi Nuh
As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, dan
Nabi Isa As. Sedangkan Nabi

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 99
Abduh Amrie Meneladani

Muhammad Saw akan dipaparkan “Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul”
tersendiri, mengingat kolom yang sebagai berikut :
disediakan sangat terbatas, sementara Nabi Nuh As. dibesarkan di daerah
ketauladanan Nabi Muhammad Saw Irak, di kalangan masyarakat yang
sangat banyak sekali, sehingga tidak kufur dan sesat. Allah SWT kemudian
akan bisa hanya dipaparkan dalam 2 mengutus Nuh dengan risalahnya guna
atau 3 halaman saja, tetapi mengeluarkan mereka dari lumpur
memerlukan pemaparan yang panjang kesesatan dan kegelapan pemikiran
lebar. menuju jalan petunjuk dan cahaya
yang terang. Beliau adalah rasul
Dakwah Rasul Ulul ‘Azmi dan pertama diutus di bumi ini seperti yang
Tantangannya disebutkan di dalam kitab “Shahih
Bukhari” dan “Shahih Muslim” tentang
Untuk mengetahui bagaimana hadits syafaat dari Nabi Muhammad
dakwah para Rasul Ulul ‘Azmi dan Saw.
bagaimana pula tantangan dan Kesesatan kaum Nabi Nuh
rintangan yang dihadapi selama mereka merupakan kesesatan akidah pertama
mengajak umat/ kaumnya agar terjadi di muka bumi. Penyebabnya
menyembah hanya kepada Allah SWT, adalah seperti yang telah disebutkan
tidak kepada patung/ berhala-berhala Ibnu Jarir Ath-Thabari: “Pada mulanya
yang mereka buat dengan tangan kaum yang berada diantara Nabi Adam
mereka sendiri. Maka di sini akan dan Nabi Nuh adalah orang-orang saleh
diuraikan satu persatu, dari Nabi Nuh yang meninggal dunia (mati), para
As sampai kepada Nabi Muhammad pengikut tersebut berkata: „jika kita
Saw. membuat gambar mereka, tentunya
kita akan lebih gemar beribadah karena
mengingat mereka. Akhirnya, mereka
Nabi Nuh As. membuat gambar para nabi dan orang-
orang saleh tersebut‟. Setelah pembuat
Nabi Nuh As.1 adalah merupakan
gambar itu meninggal dunia (mati)
rasul pertama yang ditugaskan Tuhan
datanglah kelompok lain yang telah
mengajak umat manusia/kaumnya
dirasuki iblis seraya berkata: „mereka
agar kembali menyembah Allah SWT
telah menyembah orang-orang saleh
sebagai Tuhan yang berhak disembah.
tersebut dan meminta diturunkan
Beliau, kata M. Abid Bisri, berdakwah
hujan‟. Lantas, setiap orang akhirnya
sejak usia 40 tahun sampai berusia 950
menyembah masing-masing orang saleh
tahun, di Negara Armenia, tetapi
tadi dan kemudian menjadikannya
kaumnya tidak mau beriman, sekalipun
sembahan khusus berbentuk patung-
dalam masa yang sangat panjang itu
patung yang berjasad”.
(Bisri dan Mujies 1985, 43).
Demikian, badai topan menimpa
Secara rinci tentang dakwah Nabi
kaum Nuh yang ingkar, sombong, dan
Nuh As. ini digambarkan oleh Sami bin
berbuat kerusakan di muka bumi. Allah
Abdullah al-Maghluts dalam bukunya
SWT kemudian menyelamatkan Nabi
Nuh beserta pengikutnya yang beriman
1
Nabi Nuh As. putra Lamik bin Matushalih bin saat kapal mereka berlabuh di atas
Akhmukh bin Barad bin Mahla’il bin Anisy bin Syit Bukit Judi, disebuah tempat yang
As. Ibu beliau bernama Qainusyi binti Rakil. Jadi dikenal dengan Jazirah Ibnu Umar.
antara Nabi Nuh dan Nabi Adam terdapat kesepuluh Saat ini, tempat tersebut merupakan
keturunan Lihat: Mahrus As’ad, Pelajaran Aqidah
Akhlak, (Bandung: CV Armico, 1994), 165.

100 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

bagian Timur Turki (Al-Maghluts 2008,


70-72).          
Beratus-ratus tahun Nabi Nuh
menyampaikan misi dakwahnya agar  
kembali menyembah Allah semata,
namun kaum beliau tetap menyembah
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah
berhala/ patung-patung yang telah Engkau biarkan seorangpun di antara
dibuat oleh mereka sendiri dengan orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
nama-nama orang saleh yang telah
meninggal (mati) tersebut, seperti Lalu kemudian terjadilah banjir
Wadda, Suwaa‟, Yaghuts, Ya‟uq atau besar tersebut, maka Al-Qur‟an
Nasr (Salim 1970, 20). Hal ini seperti menerangkan pula tentang banjir besar
diterangkan Al-Qur‟an sendiri dalam ini dalam surah Al-Ankabut ayat 14
surah Nuh ayat 23 : yang berbunyi :
     
              

       


    

Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali  


kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-
tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali
kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
dan jangan pula Suwwa', Yaghuts, Ya'uq Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di
dan Nasr". antara mereka seribu tahun kurang lima
puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir
Demikian Al-Qur‟an menggambar- besar, dan mereka adalah orang-orang yang
kan situasi dan kondisi kaum Nabi Nuh zalim.
pada saat itu, mereka lebih memilih
menyembah patung-patung buatan Sangat beralasan jika Nabi Nuh
mereka sendiri daripada mengikuti memohon kepada Allah SWT agar
ajakan Nabi Nuh As. untuk menyembah orang-orang kafir dimusnahkan saja
Allah SWT, termasuk isteri dan dari muka bumi ini, karena setiap kali
anaknya sendiri (Kan‟an) durhaka Nabi Nuh mengajak ke jalan Allah, para
dengan beliau, sehingga akhirnya anak pemimpin-pemimpin kaumnya yang
dan isteri beliau harus tenggelam kafir selalu mengejek dan menghina
bersama orang-orang kafir lainnya serta mencemoohkan dakwah Nabi Nuh
ketika terjadinya banjir besar. Dan As, hal ini seperti digambarkan dalam
terjadinya banjir besar ini lantaran do‟a surah Hud ayat 25-27 :
Nabi Nuh sendiri agar orang-orang kafir
dimusnahkan saja dari muka bumi ini,           
karena sudah hampir ribuan tahun
beliau berdakwah namun yang beriman
hanya 83 orang saja. Dalam surah Nuh  
            
ayat 26 digambarkan bagaimana Nabi
Nuh berdo‟a :         

         

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 101
Abduh Amrie Meneladani

anak jari mereka ke dalam telinganya dan



           menutupkan bajunya (kemukanya) dan
mereka tetap (mengingkari) dan
        menyombongkan diri dengan sangat.
Kemudian sesungguhnya aku telah
menyeru mereka (kepada iman) dengan cara
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus terang-terangan, kemudian sesungguhnya
Nuh kepada kaumnya, (Dia berkata): aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-
"Sesungguhnya aku adalah pemberi terangan dan dengan diam-diam.
peringatan yang nyata bagi kamu agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Demikian gambaran dakwah Nabi
Sesungguhnya aku takut kamu akan Nuh As. yang selalu ditantang dan
ditimpa azab (pada) hari yang sangat dicemoohkan bahkan dihina oleh
menyedihkan". Maka berkatalah pemimpin- kaumnya sehingga membuat kesabaran
pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami Nabi Nuh As. sampai kepada
tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) puncaknya, lalu kemudian terlintas
seorang manusia (biasa) seperti kami, dan
do‟a agar orang-orang kafir tersebut
kami tidak melihat orang-orang yang
mengikuti kamu, melainkan orang-orang dimusnahkan saja dari permukaan
yang hina dina di antara kami yang lekas bumi ini, maka mereka pun
percaya saja, dan kami tidak melihat kamu ditenggelamkan semua oleh Allah SWT
memiliki sesuatu kelebihan apapun atas dalam peristiwa banjir besar, kecuali
kami, bahkan kami yakin bahwa kamu orang-orang yang beriman sebanyak 80
adalah orang-orang yang dusta. orang beserta hewan dan binatang
masing-masing sepasang-sepasang
Pada surah Nuh ayat 5-9 (jantan dan betina) yang dengan
diterangkan pula bagaimana Tuhan kekuasaan Allah mereka berbondong-
menggambarkan prilaku kaum Nuh bondong naik ke atas kapal secara
dalam menerima dakwah beliau, yaitu : teratur dan rapi tanpa ada
pertengkaran dan permusuhan diantara
binatang/hewan-hewan itu sesuai
         dengan tempat yang telah disediakan
oleh Nabi Nuh As (Hamka 1993, 32).
       

        Nabi Ibrahim As.

Nabi Ibrahim As.2 lahir di tengah-


    
    tengah masyarakat yang penuh dengan
kemusyrikan dan kekufuran, namun
    
         beliau terpelihara daripada perbuatan
kufur tersebut, karena Allah SWT yang
memelihara dan menjaganya, sebab
 

Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya 2


Nabi Ibrahim adalah anak Azar, ayahnya
aku telah menyeru kaumku malam dan seorang pembuat patung untuk sesembahan mereka.
siang, maka seruanku itu hanyalah Beliau dilahirkan di tengah-tengah masyarakat yang
menambah mereka lari (dari kebenaran). penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran, tetapi
Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru Nabi Ibrahim terpelihara daripada perbuatan kufur itu.
mereka (kepada iman) agar Engkau (Lihat: Ny. Hj. Hadiyah Salim, Qishashul Anbiya,
mengampuni mereka, mereka memasukkan Bandung: PT Al-Ma’arif, 1982, h. 40).

102 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

Allah menghendaki supaya Ibrahim matahari. Namun semua alam yang


menjadi seorang Nabi dan Rasul. dilihat dan diperhatikannya itu tidak
Pada zaman itu ada seorang raja dapat memberikan jawaban yang
yang sangat kejam dan zhalim bernama memuaskannya, akhirnya beliau
raja “Namrudz”, pada tahun kelahiran memasuki usia remaja dan telah diberi
Ibrahim tersebut raja Namrudz oleh Allah kecerdasan berpikir yang
membuat undang-undang agar setiap luar biasa serta keberanian berdebat
anak laki-laki yang lahir harus dibunuh baik dengan bapaknya sendiri maupun
hidup-hidup karena dianggap dengan kaumnya tentang ke-Tuhan-an.
membahayakan dan mengancam Puncaknya, dengan keberanian
kerajaan. Namun Allah SWT pencipta Ibrahim, beliau hancurkan berhala-
alam semesta memelihara dan berhala sesembahan mereka saat
menyelamatkan Ibrahim dari mereka beramai-ramai ke tempat
kekejaman dan kezaliman raja bersuka ria (Departemen Agama RI
Namrudz. Ketika Ibu Ibrahim 1990, 502).
merasakan akan melahirkan, beliau Sehabis masyarakat semua
kemudian pergi ke hutan dan bersuka ria, lalu mereka pun pulang ke
bersembunyi di dalam sebuah gua yang kota dan mereka dapati berhala-berhala
tidak pernah dikunjungi seorang pun. mereka semuanya telah hancur
Setelah Ibrahim dilahirkan, ibu beliau berantakan, hanya satu berhala besar
sering meninggalkan Ibrahim seorang yang tertinggal. Di leher berhala besar
diri di gua ini untuk beberapa hari, ini digantungkan kapak oleh Ibrahim,
maka ketika Ibrahim merasa lapar atau maka manakala mereka bertanya
haus, beliau mengisap ibu jari perihal siapa yang menghancurkan
tangannya, lalu air yang manis bagai berhala-berhala mereka kepada
madu pun keluar dari ibu jarinya (Bung Ibrahim, beliaupun menjawab : “Yang
Smas 2011, 1). memperbuat demikian adalah berhala
Setiap kali ibunya menengok yang besar ini, coba tanyakan
Ibrahim, ibunya mengira hanya akan kepadanya” (Salim 1982, 45).
melihat sisa-sisa bangkai Ibrahim saja Dengan rasa malu dan terpukul
lagi, karena mungkin akan dimakan atas jawaban Ibrahim, mereka
binatang buas atau ular. Tetapi apa menjawab : “Sesungguhnya engkau
yang terjadi, bayi Ibrahim justru telah mengetahui bahwa berhala-
tumbuh besar dan sehat, lebih sehat berhala kami tiada pandai berbicara”.
dari bayi kebanyakan orang. Maka Berkata Ibrahim : “Patutkah kamu
sejak itulah ibunya seringkali sekalian menyembah selain Allah;
menengok Ibrahim dan tetap sedang berhala/patung itu tidak bisa
dirahasiakan agar tidak diketahui oleh memberi manfaat dan mudarat sedikit
orang lain (Salim 1982, 40). juapun, dengan dirinya saja tidak dapat
Setelah Ibrahim mulai besar dan membela bagaimana lagi dengan orang
sudah mengerti akan sesuatu, maka lain/ manusia, apakah kamu tidak
beliau selalu menanyakan kepada orang berakal?”3
tua tentang siapa orang yang Kendatipun Ibrahim dalam
menjadikan alam semesta ini. Semua kebenaran dan telah membuka
jawaban orang tua tidak dapat
memuaskan beliau, maka terpaksalah 3
Al-Qur’an pada surah Al-Anbiya ayat 51-69
Ibrahim mempergunakan akalnya menceritakan secara panjang lebar mengenai
untuk mula-mula mencari Tuhan, dari peristiwa penghancuran berhala/patung oleh Ibrahim
melihat bintang, bulan sampai ini, sehingga akhirnya mereka kalah dan tertunduk
malu dalam perdebatan tersebut.

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 103
Abduh Amrie Meneladani

wawasan berpikir kaumnya, namun perhitungannya beliau tidak bisa hamil


kebanyak mereka meminta kepada lagi, namun Tuhan menghendaki lain,
“Namrudz”, raja mereka saat itu supaya beliaupun hamil dan dikarunia anak
Ibrahim dihukum mati, lalu beliaupun dua orang, yaitu Nabi Ishak dan Nabi
dibakar dalam api yang menyala-nyala. Ya‟qub, maka dari Nabi Ishak inilah
Tetapi Allah yang lebih berkuasa dan kemudian menurunkan Nabi Musa As
memelihara Ibrahim, sedikit pun beliau (Smas 2011, 4).
tidak merasakan kepanasan, malah Sewaktu Isma‟il masih bayi, dalam
kedinginan. Hal ini seperti diterangkan susuan Siti Hajar, rupanya Siti Sarah
dalam surah Al-Anbiya ayat 69 : merasa tidak nyaman dengan
kehadiran anak madunya ini, maka
Allah memerintahkan Ibrahim agar
         membawa Siti Hajar bersama anaknya
ke suatu tempat yang belum
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, diketahuinya, hanya Allah
dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" . memberitahukan tanda-tandanya saja.
Maka Ibrahim pun membawa keduanya
Semenjak kejadian ini sebagian ke suatu tempat yang telah ditentukan
mereka ada yang mengikuti Ibrahim, Tuhan itu. Sesampainya di tempat itu
namun kebanyakan mereka tetap yang ternyata disitu tidak ada
dengan kekufurannya, termasuk raja pepohonan dan air, tanahnya gersang
“Namrudz” dan ayah Ibrahim sendiri, dan tandus, maka Ibrahim pun
bahkan beliau diusir oleh ayahnya dari kemudian diperintahkan oleh Allah
rumah jika terus menyebarkan ajaran untuk meninggalkan keduanya.
baru tersebut. Maka sejak itulah Nabi Kendatipun terasa berat sekali
Ibrahim berhijrah ke tanah suci meninggalkan isteri dan anaknya,
“Baitulmaqdis” dan berumah tangga di namun karena hal ini merupakan
sana dengan mengawini seorang wanita perintah Allah, maka Nabi Ibrahim pun
cantik jelita lagi shalehah bernama dengan tabah dan ikhlas meninggalkan
“Sarah”. Namun karena sudah mereka, sementara Siti Hajar pun
berpuluh-puluh tahun berumah tangga dengan tabah dan ikhlas menerima
beliau belum dikarunia anak, maka Siti keputusan Tuhan ini (Smas 2011, 6).
Sarah kemudian meminta agar Nabi Lagi-lagi Allah ingin memperlihatkan
Ibrahim mengawini “Hajar”4. Ternyata kekuasaan-Nya dan memberkahi
tidak begitu lama “Hajar” pun hamil kehidupan keluarga Nabi Ibrahim,
dan kemudian melahirkan, oleh Nabi maka sepeninggal Nabi Ibrahim di
Ibrahim anak ini diberi nama Isma‟il, tempat ini keduanya dijaga dan
dari Nabi Isma‟il inilah kemudian dipelihara oleh Allah dengan hadirnya
menurunkan Nabi Muhammad Saw sumur Zamzam yang senantiasa
(Salim 1982, 49). Adapun “Siti Sarah”, memancar dari bawah tanah, sampai
setelah usia lanjut, menurut akhirnya Isma‟il menginjak masa anak-
anak, ketika itulah Nabi Ibrahim
4 diperintahkan oleh Allah untuk
Siti Hajar adalah seorang budak pemberian Raja
menengok keluarganya kembali di
Sinan dari Mesir, Raja Sinan ini termasuk seorang
raja dari Dinasti Fir’aun yang kejam dan tidak tempat pengasingan tersebut, sekaligus
berprikemanusiaan. Siti Hajar diperintahkan oleh Raja diperintahkan untuk menyembelih
Sinan untuk menemani Siti Sarah di perjalanan pulang anaknya Isma‟il (Smas 2011, 4).
ke rumahnya dari istana, sekaligus hadiah untuk Setibanya di tempat pengasingan
Ibrahim (Lihat: Bung Smas, Kisah-kisah dalam Al- itu, apa yang dijumpai Nabi Ibrahim,
Qur’an, 2011), h. 4

104 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

tempat yang tadinya gersang dan


tandus berubah menjadi sebuah kota    
  
     
yang ramai dikunjungi bahkan dihuni
banyak orang, kota ini kemudian           
bernama “Bakkah” atau “Makkah”
sekarang. Nabi Ibrahim pun kemudian         
menemui Siti Hajar bersama anaknya
Isma‟il yang sangat tampan, ketika Nabi
Ibrahim bertemu keduanya mereka        
  
saling mengucapkan takbir dan tasbih,
mengagungkan kebesaran Allah SWT          
karena mereka bisa berkumpul
kembali.         
Akan tetapi hanya satu hari
bersilang, Nabi Ibrahim harus
menunaikan perintah Allah untuk   
menyembelih/mengorbankan putra
kesayangannya yang baru saja Maka kami beri dia khabar gembira dengan
bersamanya itu. Namun Nabi Ibrahim seorang anak yang amat sabar. Maka
dengan penuh ketabahan dan tatkala anak itu sampai (pada umur
keikhlasannya menerima perintah Allah sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
tersebut, karena Nabi Ibrahim yakin Ibrahim berkata: "Hai anakku
bahwa hal ini hanya sebagai ujian saja, Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi
sebab Nabi Ibrahim telah mengalami bahwa Aku menyembelihmu. Maka
beberapa ujian sebelumnya dan fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
semuanya itu telah ditolong oleh Allah
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu
SWT, maka dengan tidak ragu-ragu akan mendapatiku termasuk orang-orang
sedikit juapun Nabi Ibrahim melakukan yang sabar". Tatkala keduanya Telah
penyembelihan atu pengorbanan berserah diri dan Ibrahim membaringkan
anaknya itu dan Isma‟il pun tidak anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah
merasa ragu-ragu pula dengan kesabaran keduanya ). Dan kami panggillah
keputusan sang ayah, walaupun dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu
tadinya syaitan telah menghalang- Telah membenarkan mimpi itu[1284]
halangi keduanya (Smas 2011, 8). Sesungguhnya Demikianlah kami memberi
Tetapi apa yang terjadi, ternyata benar, balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu
jasad Isma‟il digantikan oleh Allah
ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu
dengan seekor domba besar, cerita dengan seekor sembelihan yang besar.
mengenai penyembelihan Isma‟il ini Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian
secara panjang lebar disebutkan dalam yang baik) di kalangan orang-orang yang
Al-Qur‟an surah Ash-Shaffat ayat 101- datang Kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan
111 sebagai berikut : dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah
kami memberi balasan kepada orang-orang
yang berbuat baik. Sesungguhnya ia
         termasuk hamba-hamba kami yang
beriman
 
          
Setelah beberapa waktu di kota
“Bakkah” (Makkah) ini, Nabi Ibrahim
   
            harus kembali ke Pelastina untuk
berkumpul kembali dengan isteri

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 105
Abduh Amrie Meneladani

tuanya, Siti Sarah. Berpuluh-puluh kepada orang-orang yang telah banyak


tahun Nabi Ibrahim bersama Siti Sarah memberikan jasa kepadanya. Hal ini
di kota Palestina ini sambil terus bukan lantaran Nabi Musa As orang
berdakwah, akhirnya datanglah dua yang tidak pandai membalas jasa, akan
orang malaikat memberi kabar bahwa tetapi yang dikedepankan adalah
isteri beliau, Siti Sarah, akan hamil dan prinsip-prinsip kebenaran. Apa yang
melahirkan anak. Kendatipun dilakukan oleh Nabi Musa ini adalah
keduanya sempat bertanya bagaimana sebagai gambaran dari kesempurnaan
isteri beliau bisa hamil/ melahirkan, iman kepada Allah dengan
padahal keduanya sudah sangat tua, meletakkannya pada posisi yang paling
namun jika Allah menghendaki maka tinggi dan paling agung. Disamping itu
yang mustahil terjadi akan terjadi. beliau diberi kelebihan oleh Allah bisa
Benar, Siti Sarah melahirkan anak berbicara secara langsung dengan Allah
pertamanya yang kemudian diberi SWT tanpa perantara, sehingga beliau
nama Ishak, kemudian tidak begitu digelar dengan “Kalimullah”. Hal ini
lama lahir pulalah anak kedua yang seperti diterangkan dalam surah Al-
diberi nama Ya‟qub (ayah Nabi Yusuf) A‟raf ayat 144 yang berbunyi:
(Salim 1982, 49).
Tugas Nabi Ibrahim belum selesai,
beliau mendapat perintah lagi dari Allah       
agar kembali ke “Bakkah” untuk
membangun Baitullah (rumah Allah),
dimana tempat ini nantinya untuk        
orang beribadah kepada Allah. Setelah
sampai di kota ini, beliau bersama anak
tercinta yang sudah dewasa dan sudah  
  
beristeri dari keluarga Bani Jurhum,
Nabi Isma‟il, dibantu oleh orang-orang
Allah berfirman: "Hai Musa, sesungguhnya
Bani Jurhum yang sejak pertama kali Aku memilih (melebihkan) kamu dari
kaum inilah tinggal bersama Siti Hajar manusia yang lain (di masamu) untuk
dan Isma‟il semasa kecil membangun membawa risalah-Ku dan untuk berbicara
Ka’bah (Baitullah) dengan penuh langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang
keikhlasan, sehingga akhirnya teguhlah kepada apa yang Aku berikan
terbangunlah “Ka‟bah” seperti yang kita kepadamu dan hendaklah kamu termasuk
saksikan sekarang (Smas 2011, 14). orang-orang yang bersyukur."

Dengan beberapa kelebihan dan


Nabi Musa As. mu‟jizat yang diberikan oleh Allah
kepada Nabi Musa tersebut sebagai
Nabi Musa As.5 adalah salah satu bekal dakwah beliau, maka kemudian
pemimpin yang mampu besikap tegas

seorang raja yang sangat bengis dan kejam bahkan


5
Nabi Musa adalah putera Imron bin Yashar, mengaku dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah,
sedangkan ibu beliau bernama Yuhanidz binti Laawaa yaitu Fir’aun. Penyebutan Fir’aun sebenarnya adalah
bin Ya’qub. Suku Nabi Musa adalah Bani Israil, panggilan tiap-tiap orang yang menjadi raja Mesir.
dilahirkan di Mesir di suatu tempat agak jauh dari Adapun Fir’aun yang hidup pada masa Nabi Musa ini
Sungai Nil, lahir sekitar 1700 tahun sebelum Mesehi bernama Al-Walid bin Mush’ab bin Rayyan (Rames
(kelahiran Nabi Isa As.). Mesir pada waktu itu terdiri ke III), dia berumur kurang lebih 400 tahun. (Lihat:
dari dua suku, yaitu suku Qibthi dan suku Bani Israil, M. Abid Bisri dan Abdul Mujies, Qishashul Anbiya
kedua suku/masyarakat ini di bawah kekuasaan dalam Al-Qur’an, Surabaya: Toko Nun, 1985, h. 247).

106 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

Allah memerintahkan kepada beliau yang diterangkan dalam Al-Qur‟an


agar melakukan dakwah kepada Fir‟aun surah Thaha ayat 24 di bawah ini :
dan pemuka-pemuka kaumnya. Hal ini
seperti diterangkan dalam surah Az-
Zukhruf ayat 46 :  
     

 
        Pergilah kepada Fir'aun; Sesungguhnya ia
telah melampaui batas.

      Kendatipun Fir‟aun disebut oleh
Allah sebagai manusia yang telah
melampaui batas, namun ketika
Dan sesunguhnya Kami telah mengutus
Musa dengan membawa mukjizat- mukjizat berdakwah kepadanya Tuhan
Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka memerintahkan kepada Nabi Musa
kaumnya. Maka Musa berkata: hendaknya menggunakan kata-kata
"Sesungguhnya aku adalah utusan dari yang lemah lembut, seperti diterangkan
Tuhan seru sekalian alam. dalam surah Thaha ayat 42-46:

Kendatipun Nabi Musa selagi kecil


berada di lingkungan istana Fir‟aun,          
karena memang dipelihara oleh isteri
Fir‟aun sendiri (Siti Asiah) sejak bayi.           
Namun meskipun Siti Asiah menjadi
isteri Fir‟aun, tetapi beliau dengan
          
pemeliharaan Allah tidak pernah
disentuh oleh Fir‟aun, melainkan orang
lain yang diserupakan oleh Allah           
dengan beliau, karena Siti Asiah
beriman kepada Allah dan tidak    
 
mengakui Fir‟aun sebagai Tuhan. Maka
setelah Musa mulai menginjak remaja,
beliau lari dari istana dan saat Allah Pergilah kamu beserta saudaramu dengan
SWT menurunkan wahyu kepadanya di membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah
Bukit Sinai dan memerintahkannya kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku;
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun,
agar beliau bersama saudaranya
sesungguhnya dia telah melampaui
sendiri, Nabi Harun As, untuk menemui batas;Maka berbicaralah kamu berdua
Fir‟aun di istananya dan berdakwah kepadanya dengan kata-kata yang lemah
kepadanya karena dianggap oleh Allah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau
sudah melampaui batas, yaitu bahwa takut". Berkatalah mereka berdua: "Ya
dia mengaku dirinya sebagai Tuhan Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir
yang dapat menghidupkan dan bahwa ia segera menyiksa kami atau akan
mematikan seseorang di tangannya bertambah melampaui batas". Allah
sendiri, sementara para pengikutnya berfirman: "Janganlah kamu berdua
membenarkan pula akan ketuhanannya khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu
berdua, Aku mendengar dan melihat.
(Fir‟aun) tersebut. Maka Musa pun
pergi ke istana dan berdakwah,
Al-Maraghi memberi komentar
menyampaikan ajaran tentang ke-Esa-
terhadap ayat ini, kata beliau bahwa
an Allah SWT, tidak ada Tuhan selain
dengan perkataan yang lemah lembut
Allah dan agar taat kepada-Nya seperti
itu agar lebih dapat menyentuh hati

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 107
Abduh Amrie Meneladani

dan lebih dapat menarik Fir‟aun untuk Tentang bagaimana Nabi Musa
menerima dakwah, sebab dengan melawan para penyihir Fir‟aun
perkataan yang lemah lembut, hati misalnya, yaitu dengan ilmu sihir
orang yang durhaka akan menjadi mereka merubah tali-tali yang
halus dan kekuatan orang-orang yang dilemparkan menjadi ular-ular yang
sombong akan hancur (Al-Maraghi sangat ganas. Tadinya Nabi Musa dan
1972, 193-194). saudaranya Nabi Harun merasa takut
Sementara itu Hamka memberikan dan cemas juga, namun kemudian
ulasan tentang ayat di atas, bahwa Allah berfirman kepada keduanya
meskipun di dalam ilmu Allah Ta‟ala seperti yang diceritakan dalam Al-
sendiri sudah diketahui sesungguhnya Qur‟an surah Thaha ayat 68-70:
Fir‟aun itu sampai saat terakhirnya
tidak akan tunduk dengan siapapun,       
     
termasuk kepada Musa, tetapi Tuhan
telah memberikan tuntunan kepada            
Rasul-Nya atau kepada siapapun yang
berjuang melanjutkan risalah Nabi,         
bahwa pada langkah pertama janganlah
memberi sikap menantang, namun
mulailah dengan kata-kata yang lemah       
lembut (Hamka 1993, 159).
Nabi Musa telah menunaikan Kami berkata: "Janganlah kamu takut,
perintah Allah agar berdakwah kepada sesungguhnya kamulah yang paling unggul
Fir‟aun, namun Fir‟aun dengan (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada
kesombongannya tetap menolak ajakan ditangan kananmu, niscaya ia akan
Nabi Musa dan saudaranya Harun, menelan apa yang mereka perbuat.
mereka berdua pun keluar dari Istana "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat
tanpa membawa hasil. Mulai saat itulah itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka).
Fir‟aun senantiasa memusuhi Nabi dan tidak akan menang tukang sihir itu,
Musa dengan berbagai cara, termasuk dari mana saja ia datang". Lalu tukang-
tukang sihir itu tersungkur dengan
mengumpulkan tukang sihirnya yang
bersujud, seraya berkata: "Kami telah
terbaik saat itu untuk mengalahkan percaya kepada Tuhan Harun dan Musa".
dan sekalian ingin membunuh Nabi
Musa dengan sihir-sihir itu. Namun Peristiwa ini kemudian membuat
Allah pun mempunyai rencana yang para tukang sihir Fir‟aun banyak yang
lebih hebat dari Fir‟aun, maka Nabi beriman kepada Nabi Musa As, karena
Musa diberikan mukjizat oleh Allah tampak oleh mereka bahwa apa yang
berupa sebuah tongkat yang dapat diperbuat oleh Musa bukanlah sihir,
digunakan untuk melawan Fir‟aun dan tidak termasuk jenis sihir yang mereka
para pengikut-pengikutnya, yaitu dapat tekuni, tidak pula termasuk macam
menjelma sebagai ular besar yang tipu muslihat yang mereka kenal. Ia
memakan habis ular-ular para penyihir adalah kebenaran yang tidak diragukan
Fir‟aun, juga dapat membelah lautan lagi, dan tidak ada yang dapat
dan dengan tongkat itu pula dapat menguasainya selain Tuhan yang
mengeluarkan 12 mata air dengan berfirman kepada sesuatu: “Jadilah”,
pukulan tongkatnya ke tanah. Hal ini maka jadilah ia. Sehingga ketika itu,
seperti diceritakan dalam Al-Qur‟an mereka tersungkur sujud kepada Allah
yang tersebar di berbagai surah. seraya berkata: “Kami beriman kepada
Tuhan alam semesta, Tuhan Musa dan

108 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

Harun”. Mengetahui para penyihir


Fir‟aun beriman kepada Nabi Musa,        
 
maka Fir‟aun merasa terpukul dan
membuatnya semakin marah kepada        
Nabi Musa dan para pengikut beliau.
Apalagi setelah diketahui oleh Fir‟aun
bahwa Nabi Musa telah berhasil Lalu Kami wahyukan kepada Musa:
"Pukullah lautan itu dengan tongkatmu".
mengeluarkan kaum Bani Isra‟il yang
Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap
tadinya berada di dalam benteng dan belahan adalah seperti gunung yang besar.
beratus-ratus tahun telah menjadi
budak Fir‟aun dibawa oleh Nabi Musa Demikian keterangan Al-Qur‟an
ke luar kota Mesir pada malam hari. tentang peristiwa yang maha dahsyat
Maka Fir‟aun beserta bala tentaranya itu, bagaimana lautan yang sangat luas
mengejar Nabi Musa sampai akhirnya dan sangat dalam itu bisa terbelah
kaum Nabi Musa berada di tepi lautan menjadi dua, namun demikianlah jika
merah. Namun kemudian Allah Allah menghendakinya untuk
berfirman sebagaimana dalam surah menyelamatkan Nabi Musa beserta
Thaha ayat 77-78: kaumnya. Lalu kemudian setelah
mereka semua selamat menyeberangi
  
      
  lautan dan Fir‟aun beserta tentaranya
tenggelam di laut Merah, Nabi Musa
bersama kaum Bani Isra‟il beristirahat
          di suatu kebun, mereka merasa
kehausan sementara air untuk
         diminum tidak mereka memiliki lagi,
maka Nabi Musa berdo‟a kepada Allah
SWT seperti yang diterangkan dalam
 
 
surah Al-Baqarah ayat 60:

Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan


kepada Musa: "Pergilah kamu dengan       
hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam
hari, maka buatlah untuk mereka jalan            
yang kering dilaut itu, kamu tak usah
khawatir akan tersusul dan tidak usah
takut (akan tenggelam)". Maka Fir'aun         
dengan bala tentaranya mengejar mereka,
lalu mereka ditutup oleh laut yang
  
      
menenggelamkan mereka.

Adapun maksud membuat jalan Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air
yang kering di dalam laut seperti untuk kaumnya, lalu kami berfirman:
disebutkan dalam ayat di atas ialah "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". lalu
memukul laut itu dengan tongkat, hal memancarlah daripadanya dua belas mata
ini seperti yang diterangkan dalam ayat air. Sungguh tiap-tiap suku telah
63 surat Asy Syu'ara: mengetahui tempat minumnya (masing-
masing), makan dan minumlah rezki (yang
diberikan) Allah, dan janganlah kamu
berkeliaran di muka bumi dengan berbuat
kerusakan.

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 109
Abduh Amrie Meneladani

“makanan manis sebagai madu” dan


Dalam ayat ini diterangkan ada 12 “Salwa” ialah “burung sebangsa puyuh”
mata air yang memancar, oleh karena (Al-Maraghi 1972, 35).
kaum Bani Isra‟il pada saat itu terbagi Setelah beberapa waktu Nabi Musa
kepada 12 suku, hal ini seperti dan Harun beserta kaum Bani Isra‟il
disebutkan dalam surah Al-A‟raf ayat berada di daerah yang baru mereka
160 yang berbunyi: tempati, terjadilah pula peristiwa apa
yang dinamakan penyembahan kepada
anak sapi yang dibuat oleh kaum Bani
       
  Isra‟il sendiri, saat Nabi Musa beberapa
hari meninggalkan mereka. Kendati pun
 
       Nabi Harun telah diberikan mandat
oleh Nabi Musa untuk selalu
     
         membimbing kaum Bani Isra‟il agar
selalu menyembah Allah, namun
nasehat dan dakwah Nabi Harun sama
      
    sekali tidak diindahkan oleh kaum Bani
Isra‟il, sehingga datangnya Nabi Musa
        ke tempat tersebut baru patung anak
sapi itu dihancurkan oleh beliau.
Memang kaum Bani Isra‟il disebut
      
 
oleh Allah sebagai kaum yang selalu
ingin melakukan keunaran dan
  kedurhakaan di permukaan bumi,
sehingga banyak sekali ayat-ayat Al-
Qur‟an yang menyinggung tentang
Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas
suku yang masing-masingnya berjumlah keburukan sikap atau tingkah laku
besar dan Kami wahyukan kepada Musa mereka. Jadi dapat dibayangkan,
ketika kaumnya meminta air kepadanya: betapa sulitnya Nabi Musa mengajak
"Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". kaum ini untuk menyembah hanya
Maka memancarlah dari padanya dua belas kepada Allah SWT, sebab kaum ini
mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku selalu ingin melakukan kemusyrikan,
mengetahui tempat minum masing-masing, walaupun mereka sendiri telah banyak
dan Kami naungkan awan di atas mereka menyaksikan secara langsung tentang
dan Kami turunkan kepada mereka manna kekuasaan dan kebesaran Allah SWT,
(makanan manis sebagai madu) dan salwa
yaitu sejak peristiwa kekalahan para
(burung sebangsa puyuh). (Kami berfirman):
"Makanlah yang baik-baik dari apa yang penyihir Fir‟aun, terbelahnya lautan
telah Kami rezkikan kepadamu". mereka dan memancarnya 12 mata air dari
tidak menganiaya kami, tapi merekalah batu. Namun nampaknya semua itu
yang selalu menganiaya dirinya sendiri. tidak memberikan bekas atau kesan
yang berarti buat kaum Bani Isra‟il.
Menurut Musthafa al-Maraghi, yang Jadi pantaslah Nabi Musa termasuk
dimaksud dengan “salah satu nikmat Rasul Ulul „Azmi karena kesabaran dan
Tuhan kepada mereka” seperti ketabahan beliau dalam menghadapi
disebutkan Al-Qur‟an di atas ialah kaum yang pada zaman Rasulullah Saw
“mereka selalu dinaungi awan ketika sebagian mereka disebutkan oleh Al-
mereka berjalan diwaktu panas terik Qur‟an dengan kaum Yahudi ini.
padang pasir”, sedangkan apa yang
disebut sebagai “manna” ialah

110 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

Nabi Isa As. bayi (Nabi Isa) berkata seperti


diterangkan dalam surah Maryam ayat
Nabi Isa As6 adalah putra Maryam 30-33:
yang dengan kekuasaan Allah lahir
tanpa seorang ayah, beliau dilahirkan
di Nazaret, sebelah utara Yuressalem    
      
(As’ad 1994, 174) pada tahun 622
sebelum Hijriyah. Dalam Al-Qur‟an       
digambarkan bagaimana hebohnya
peristiwa yang terjadi pada diri Maryam
ketika lahirnya Isa, karena sebenarnya         
 
beliau sendiri masih dalam keadaan
gadis remaja yang tidak pernah    
      
mengenal seorang pria pun, namun
karena Allah yang menghendakinya       
maka terjadilah sesuatu yang tidak
pernah terjadi. Dalam surah Maryam
ayat 16-34 diceritakan dengan panjang Sesungguhnya aku ini hamba Allah, dia
lebar tentang kelahiran Nabi Isa dari memberiku Al Kitab (Injil) dan dia
ibunya Maryam. Intinya setelah menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia
Maryam melahirkan di suatu tempat menjadikan aku seorang yang diberkati
dimana saja aku berada, dan Dia
bernama “Betlehem”, maka anaknya
memerintahkan kepadaku (mendirikan)
tersebut dipangkunya dan dibawanya shalat dan (menunaikan) zakat selama aku
pulang ke kampung halamannya hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia
sendiri. Orang-orang kampung pun tidak menjadikan aku seorang yang
berdatangan melihat dan menanyakan sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan
prihal keberadaan anak bayi itu, semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari
bahkan diantara mereka ada yang aku dilahirkan, pada hari aku meninggal
melontarkan kata-kata kotor, dan pada hari aku dibangkitkan hidup
penghinaan dan cemoohan terhadap kembali.
Maryam, seraya bertanya : “Hai
Maryam! Engkau telah membawa bayi Setelah berusia 30 tahun, sementara
yang tak baik ke sini, sedangkan itu beliau sudah belajar kitab, beliau
keluargamu adalah orang baik-baik, didatangi wahyu di suatu tempat dalam
tunjukanlah kepada kami siapakah mesjid Bait al-Maqdis sebagai tanda
bapak dari bayi ini?” bahwa Allah telah mengutusnya
Maryam tidak menjawab, tetapi menjadi seorang rasul. Kemudian
hanya memberi isyarat kepada anak Tuhan ajari beliau kitab Taurat dan
yang sedang di pangkuannya itu sesuai Injil, hal ini seperti diinformasikan
petunjuk Allah SWT. Berkata mereka: dalam Al-Qur‟an surah Ali Imran ayat
“Bagaimana kami dapat berkata-kata 48-49 sebagai berikut:
dengan anak yang masih bayi ini?”
Namun di tengah-tengah kerumunan
itu maka dengan kekuasaan Allah SWT
       

6          


Nabi Isa satu-satunya putra Maryam yang lahir
di Nazaret, sebelah utara Yuressalem. Sedangkan
Maryam adalah anak Imran bin Matsan, ibu Maryam  
bernama Hannat yang dikenal seorang isteri yang
shalehah pula.

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 111
Abduh Amrie Meneladani

larangan Allah SWT. Beliau berdakwah


Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al supaya mereka bertaubat, yakni
Kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan kembali ke jalan yang benar seperti
(sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang telah dirintis oleh para nabi
berkata kepada mereka): "Sesungguhnya sebelumnya. Dakwah Nabi Isa lebih
aku telah datang kepadamu dengan
terfokus kepada sumber utama, yaitu
membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari
Tuhanmu. roh. Isa ingin menghidupkan rohani
manusia dan membimbingnya untuk
Yang dimaksud dengan Allah mencapai cahaya sang pencipta. Oleh
mengajarkan al-Kitab di sini adalah karena itu, Nabi Isa datang dengan
menafsirkan dengan pelajaran menulis, didukung oleh rohul kudus, dan rohul
tetapi ada pula yang menafsirkannya kudus dalah “Jibril”. Namun, dakwah
dengan kitab-kitab yang diturunkan Nabi Isa mendapat perlawanan dengan
Allah sebelumnya selain Taurat dan berbagai fitnah dan ejekan bahkan
Injil. Namun yang jelas Nabi Isa mereka membuat makar (tipu daya)
diberikan oleh Allah juga sebuah kitab kepada Nabi Isa, seperti yang
yang diberi nama “Injil”, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur‟an surah Ali
diterangkan dalam surah Al-Maidah Imran ayat 52-54 (artinya):
ayat 46 (artinya):
      
  
        
 
        
         
        
        
        
  
 
       
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi
Bani Israil) dengan Isa putera Maryam,  
membenarkan Kitab yang sebelumnya,
yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan
kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran
(ada) petunjukdan cahaya (yang menerangi), mereka (Bani lsrail) berkatalah dia:
dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, "Siapakah yang akan menjadi penolong-
yaitu Kitab Taurat dan menjadi petunjuk penolongku untuk (menegakkan agama)
serta pengajaran untuk orang-orang yang Allah?" para hawariyyin (sahabat-sahabat
bertakwa setia) menjawab: "Kamilah penolong-
penolong (agama) Allah, kami beriman
kepada Allah; dan saksikanlah bahwa
Nabi Isa As mulai berjuang
sesungguhnya kami adalah orang-orang
menyiarkan ajaran Allah, membeberkan yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami
kesalahan para pemuka agama Yahudi, telah beriman kepada apa yang telah
dan menyadarkan mereka tentang Engkau turunkan dan telah kami ikuti
penyimpangan mereka dari ajaran Nabi rasul, karena itu masukanlah kami ke
Musa. Karena itu, beliau berseru dalam golongan orang-orang yang menjadi
kepada Bani Isra‟il agar mereka saksi (tentang keesaan Allah)". Orang-orang
mematuhi perintah dan menjauhi kafir itu membuat tipu daya, dan Allah

112 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

membalas tipu daya mereka itu, dan Allah mukjizat yang dapat memperkuat dan
sebaik-baik pembalas tipu daya. membenarkan dakwahnya serta risalah
beliau. Ketika Nabi Isa masih merasakan
Al-Maraghi mengomentari ayat di kekufuran dan keingkaran Bani Isra‟il,
atas, bahwa kaum yang telah diketahui beliau lalu berangkat menuju Baitul Maqdis
oleh Nabi Isa sebagai kufur, membuat pada hari raya umat Yahudi. Orang-orang
tipu daya (makar) terhadap beliau, disekitranya kemudian berkumpul.
dengan cara mengutus orang-orang Kejadian itu membuat marah para Pendeta
untuk membunuhnya secara licik, yaitu Yahudi hingga mereka membuat berita
orang-orang Yahudi yang paling kuat dusta tentang Nabi Isa kepada
membuat makar dan lihai tipu dayanya, penguasa Romawi, Raja Pilathus,
bahkan paling mampu dalam pengganti Raja Herodes di Plestina.
menjerumuskan mereka ke dalam Sang raja pun meminta mereka agar
bahaya yang tidak mereka duga-duga mengadili dan menghukum Isa As.
Seseorang dari Hawariyin, pengikut Nabi Isa
(Al-Maraghi 1972, 87).
Yahudza al-Askharyuthi (Yudas Iskariot)
Dalam buku “Atlas Sejarah Para berkhianat dengan menunjukkan
Nabi dan Rasul” diterangkan secara persembunyian Isa kepada mereka. Namun,
panjang dan lebar pula tentang situasi Allah berkehendak lain dan menyelamatkan
dan kondisi masyarakat saat kelahiran Nabi Isa dari kelicikan kaum Yahudi. Allah
Nabi Isa serta aktivitas dakwah beliau kemudian menyerupakan Yahudza persis
dengan segala tantangan dan ancaman dengan Nabi Isa. Dengan demikian, para
yang dihadai oleh beliau, yaitu sebagai prajurit menangkap dan menyerahkan
berikut: Yahudza yang mirip dengan Isa kepada Raja
Pilathus, mereka pun kemudian menyalib
Nabi Isa bin Maryam merupakan Nabi dan membunuhnya (Al-Maghluts 2008,
terakhir Bani Isra‟il yang lahir di Betlehem 178).
(Baitulahmi) pada masa kekuasaan raja
Herodes Romawi di Palestina. Kelahirannya Sebagai seorang Nabi dan Rasul, Isa
merupakan sebuah mukjizat, sebab beliau dibekali oleh Allah dengan beberapa
dilahirkan oleh seorang perawan yang suci macam mukjizat yang menurut Mahrus
dan terjaga kehormatannya. Setelah lahir As‟ad dalam bukunya “Pelajaran Aqidah
beberapa hari, Nabi Isa dapat berbicara Akhlak” menyebutkan ada 4 (empat)
untuk membebaskan ibunya dari fitnah. macam mukjizat yang terbesar kepada
Peristiwa tersebut merupakan mukjizat Nabi Isa As, hal itu sebagai media dan
pertamanya, kemudian setelah usia 30
metode dakwah bagi beliau, yaitu :
tahun beliau menemui Nabi Yahya bin
Zakariya untuk di “baptis”. Baptis 1. Membuat burung dari tanah dan
merupakan satu istilah dalam agama dapat hidup terbang ke udara,
Nasrani yang berarti memandikan 2. Menyembuhkan orang yang buta dari
seseorang dengan mandi taubat. Setelah asal (bawaan) dan penyakit leper
itu, malaikat Jibril turun dan inilah tanda yang sangat parah,
awal kenabiannya. Nabi Isa kemudian pergi 3. Menghidupkan orang yang mati,
ke padang pasir dan berpuasa selama 40 4. Mengetahui apa yang dimakan dan
hari di sana tanpa makan dan minum. disimpan seseorang di rumahnya
Allah kemudian menurunkan kitab “Injil”
(As’ad 1994, 173).
kepadanya. Maka sejak itu, risalah Nabi Isa
berlaku kepada kaum Yahudi yang telah Keempat mukjizat ini terangkum
menyeleweng dari syari‟at Nabi Musa. dalam firman Allah surah Ali Imran
ayat 49 (artinya):
Nabi Isa berdakwah kepada kaumnya di
daerah al-Jalil (Galilea), kaum Yahudi Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Isra‟il
lantas memintanya untuk menunjukkan (yang berkata kepada mereka):

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 113
Abduh Amrie Meneladani

"Sesungguhnya aku telah datang kepadamu diantara mereka akan ditimpa siksaan yang
dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) pedih.
dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk
kamu dari tanah berbentuk burung; Dalam surah Al-Maidah ayat 116
Kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi ditegaskan pula bahwa Nabi Isa tidak
seekor burung dengan seizin Allah; dan aku pernah meminta dirinya dijadikan
menyembuhkan orang yang buta sejak dari
sebagai Tuhan, firman Allah:
lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak;
dan aku menghidupkan orang mati dengan
seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu
apa yang kamu makan dan apa yang kamu
         
simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada
yang demikian itu adalah suatu tanda           
(kebenaran kerasulanku) bagimu, jika
kamu sungguh-sungguh beriman.
           
Namun sangat disayangkan para
pengikut Nabi Isa dengan mukjizat yang           
diberikan oleh Allah dan memang
sangat luar biasa itu kemudian terjebak       
 
dalam kesesatan yang sangat jauh
sekali, yakni menyangka Nabi Isa
adalah anak Tuhan, bahkan sebagian Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai
mereka mengatakan bahwa Isa itu Isa putera Maryam, adakah kamu
sendiri sesungguhnya adalah Tuhan, mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah
sebagian yang lain dari kaum Nasrani aku dan ibuku dua orang Tuhan selain
selanjutnya membuat doktrin “Trinitas” Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang
(tiga dalam yang satu), suatu ajaran
bukan hakku (mengatakannya), jika aku
yang sama sekali tidak pernah pernah mengatakan maka tentulah Engkau
diajarkan/disampaikan oleh Nabi Isa As mengetahui apa yang ada pada diriku dan
sendiri seperti yang disinggung oleh Al- aku tidak mengetahui apa yang ada pada
Qur‟an surah al-Maidah ayat 72-73 diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
(artinya): Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang Pada akhirnya dakwah Nabi Isa


yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah harus berhadapan dengan Raja
Al-masih putera Maryam", padahal Al masih Pilathus, penguasa Romawi, yang
(sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, hendak membunuhnya karena hasutan
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu".
dan fitnahan para Pendeta Yahudi yang
Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
benci kepada Isa. Namun Allah juga
maka pasti Allah mengharamkan mempunyai rencana-Nya sendiri, yakni
kepadanya surga, dan tempatnya ialah mengangkat beliau ke atas langit,
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim sehingga yang ditangkap dan disalib
itu seorang penolongpun. Sesungguhnya tersebut bukanlah Nabi Isa, melainkan
kafirlah orang-orang yang mengatakan: seseorang (Yahudza) yang diserupakan
"Bahwasanya Allah salah seorang dari yang oleh Allah. Ayat yang menceritakan hal
tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan itu terdapat dalam surah An-Nisa ayat
selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka 157-158:
tidak berhenti dari apa yang mereka
katakan itu, pasti orang-orang yang kafir

114 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

beliau (Yahudza al-Askharyuthi) yang


 
         berkhianat memberi tahu tempat
persembunyiaan beliau.
     
     

            Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat


            ditarik dari uraian di atas adalah :
Pertama, Nabi Nuh As. berdakwah
     selama kurang lebih 950 tahun, tetapi
yang beriman dapat dihitung dengan
jari, hanya 80 orang, jumlah yang
Dan karena ucapan mereka: sangat tidak seimbang dengan lamanya
"Sesungguhnya kami telah membunuh Al berdakwah. Artinya jika dihitung rata-
Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", ratanya, maka setiap 100 tahun Nabi
padahal mereka tidak membunuhnya dan Nuh As. berdakwah hanya 8 orang yang
tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang
beriman. Kendatipun setiap diajak dan
mereka bunuh ialah) orang yang
diserupakan dengan Isa bagi mereka.
diseru telinga mereka selalu ditutup
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih dengan jari-jarinya, namun Nabi Nuh
paham tentang (pembunuhan) Isa, benar- As. dengan kesabaran dan
benar dalam keragu-raguan tentang yang ketabahannya tetap terus menyeru
dibunuh itu. mereka tidak mempunyai kaumnya agar hanya menyembah
keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kepada Allah SWT. sampai akhirnya
kecuali mengikuti persangkaan belaka, azab didatangkan oleh Allah berupa
mereka tidak (pula) yakin bahwa yang banjir besar dan menanggelamkan
mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang semua orang yang tidak beriman,
sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa
termasuk isteri dan anaknya sendiri.
kepada-Nya dan adalah Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.
Kedua, Nabi Ibrahim As. semenjak
kecil senang berdebat tentang ke-
Demikian perjalanan dakwah Nabi Tuhan-an, baik kepada orang tuanya
Isa As yang penuh dengan tantangan maupun kaumnya. Kemudian setelah
dan rintangan, namun beliau tetap remaja dengan keberanianya
terus berdakwah dari satu tempat ke menghancurkan berhala/ patung-
tempat yang lain, yakni dari daerah al- patung sesembahan kaumnya, hingga
Jalil (Galilea) dimana kaum Bani Isra‟il beliau dibakar dalam api yang sangat
menjadi sasaran dakwahnya sampai ke besar oleh Raja Namrudz yang
daerah Baitalmaqdis dimana di sini berkuasa pada saat itu. Selanjutnya
kaum Yahudi yang lebih banyak setelah beliau berpindah ke Palestina,
menjadi sasaran dakwahnya. Akan maka beliau melanjutkan dakwah
tetapi penguasa Romawi, Raja Pilathus kepada kaum Bani Isra‟il dan di kota ini
pengganti Raja Herodes di Palestina pula beliau kawin dengan Siti Sarah
berusaha ingin menangkap dan dan Siti Hajar. Dengan ketaatan Nabi
membunuh Isa karena hasutan dan Ibrahim As. kepada perintah Allah SWT,
fitnahan dari pendeta-pendeta Yahudi. beliau sampai beberapa kali mundar
Akhirnya dakwah beliau harus berhenti mandir antara kota Palestina dengan
manakala Tuhan mengangkat beliau ke kota “Bakkah” (Makkah) yang jaraknya
langit, sementara yang dibunuh dan sangat jauh sekali, perjalanan satu
disalib adalah salah seorang murid bulan pergi dan satu bulan pulang.
Perintah Tuhan pertama adalah

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 115
Abduh Amrie Meneladani

membawa Siti Hajar dengan anaknya sekian lama menjadi budak Fir‟aun,
Isma‟il yang masih bayi itu ke tempat untuk selanjutnya dibawa ke luar kota
yang disitu tidak ada pepohonan, tidak Mesir, sehingga pada saat itulah Fir‟aun
ada air, tanahnya sangat tandus dan bersama tentaranya mengejar sampai
gersang untuk selanjutnya ke laut merah dan ternyata hidup
diperintahkan Tuhan keduanya harus Fir‟aun harus berakhir di laut merah
tinggal di tempat ini. Perintah Tuhan ini.
kedua adalah menyembelih putra Keempat, Nabi Isa As. merupakan
kesayangannya Isma‟il dan tentu hal ini Nabi dan Rasul Ulul „Azmi keempat
suatu ujian yang paling berat bagi yang juga tidak kalah banyaknya
beliau. Perintah Tuhan ketiga sehingga tantangan dan halangan yang dialami
Nabi Ibrahim harus ke Makkah lagi beliau dalam berdakwah. Namun
adalah untuk membangun “Baitullah” kesabaran dan ketabahan beliau
(Ka‟bah) bersama anak beliau Isma‟il. membuatnya termasuk dalam titel “Ulul
Semua perintah Allah beliau „Azmi”. Tantangan yang dihadapi Nabi
laksanakan dengan penuh kesabaran Isa dalam menyampaikan dakwah
dan ketabahan tetapi semuanya adalah para Pendeta “Yahudi”. Kaum
berujung kepada pertolongan Allah Yahudi ini selalu menyulut api
SWT. keangkuhan dan kesombongan bahkan
Ketiga, Nabi Musa As. adalah mendustakan ajaran beliau.
seorang Nabi yang diberikan kelebihan Kendatipun Nabi Isa As. telah diberikan
dapat berdialog langsung dengan mukjizat oleh Allah untuk
Tuhan, karenanya beliau diberi gelar membuktikan kebenaran akan
dengan “Isa Kalimullah”. Kesabaran kenabian beliau, namun orang-orang
dan ketabahan Nabi Musa As ini adalah Yahudi tetap membuat permusuhan,
karena pada zaman itu beliau harus hingga akhirnya membuat fitnah
berhadapan dengan seorang raja yang kepada “Raja Pilathus”, penguasa
sangat kejam, zhalim dan bengis, lebih Romawi pada saat itu. Maka dengan
dari itu dia mengaku sebagai tuhan fitnah inilah Isa kemudian dibunuh dan
yang harus disembah, jika tidak mau disalib, namun sebenarnya yang
pastilah mati di tangannya, yaitu dibunuh/disalib itu bukanlah Nabi Isa,
“Fir‟aun”. Orang semacam inilah yang melainkan Yahudza al-Askharyuthi
dihadapi oleh Nabi Musa, namun (Yudas Iskariot) yang diserupakan oleh
dengan tongkatnya yang diberikan oleh Allah dengan Nabi Isa.
Allah sebagai mukjizat beliau, maka Demikianlah 4 (empat) orang Rasul
akhirnya Fir‟aun harus tenggelam Ulul „Azmi yang menjadi pembahasan
bersama tentaranya di laut merah. dalam tulisan ini untuk menjadi
Penderitaan pertama yang dialami oleh inspirasi bagi juru dakwah masa kini
Nabi Musa adalah sewaktu beliau dan akan datang, bagaimana
masih bayi, oleh ibunya Musa terpaksa ketauladanan mereka dalam berdakwah
harus dihanyutkan di sungai, untuk yang tidak mengenal lelah, mereka
menyelamatkan beliau dari undang- selalu menyeru umat siang dan malam,
undang Fir‟aun yang berisi setiap anak penuh kesabaran dan ketabahan
laki-laki yang lahir pada waktu itu sambil terus berdo‟a dan memohon
harus dibunuh hidup-hidup. Ujian pertolongan Allah SWT. baik untuk diri
kedua ketika Nabi Musa harus mereka sendiri maupun untuk kaum
berhadapan dengan para tukang sihir. mereka masing-masing. Pantaslah
Perintah Tuhan selanjutnya adalah mereka mendapat gelar “Ulul „Azmi”,
menyelamatkan Bani Isra‟il yang sudah karena disamping memiliki kesabaran

116 Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117
Meneladani Abduh Amrie

yang tinggi, senantiasa bermohon Budaya Islam: Menjelaskan


kepada Allah agar tidak menurunkan Khazanah Peradaban Gemilang,
azab kepada kaumnya, dan senantiasa Bandung: Mizan.
mendo‟akan agar kiranya Allah SWT Fikri, Ali. 2003. Jejak-Jejak Para Nabi
memberi hidayah dan petunjuk kepada Ulul ‘Azmi. Yogyakarta: Pustaka
kaumnya. Pelajar Offes.
Hadi, Rab‟ani. 1992. Manhaj Dakwah
Para Nabi. Jakarta: Gema Insan
Referensi Press.
Hadiyah Salim. 1982. Qishashul Anbiya
Abdul Baqi, Muhammad Fuad. 1981. (Sejarah 25 Rasul). Bandung: PT Al-
Mu’jam al-Mufahras Li al-Fazh al- Ma‟arif.
Qur’an al-Karim. Beirut: Darul Fikri. Hamka. 1993. Tafsir Al-Azhar. Juz XII,
Abi Abdillah bin Ismail bin Ibrahim al- XVI, XXIX. Jakarta: PT Ichtiar Baru
Bukhari Ibnu al-Mughirah. T.th. Van Hoeve.
Shahih Bukhari. Jilid III. Juz VI. Mahdany, Abdul Kadir. 1995. Para
Ahmadi, dan Abdullah. 1991. Kamus Rasul dan Risalahnya. Kuwait: CV
Pintar Agama Islam. Yogyakarta: CV Pustaka Mantiq.
Aneka Solo. Maraghi, Ahmad Musthafa. 1972. Tafsir
Amin, M. Masyhur. 1997. Dakwah Al-Maraghi. Juz XII, XVI, XXIX.
Islam dan Pesan Moral, Yogyakarta: Mesir: Musthafa al-Babi al-Halabi.
Al-Amin Press. Quraish Shihab. 1992. Membumikan
Anshari, Muhammad Hafi. 1993. Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Permasalahan dan Pengalaman Sunarto, Ahmad. 1988. 25 Rasul Dalam
Dakwah, Surabaya: Al-Ikhlas. Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Amani.
As‟ad, Mahrus. 1994. Pelajaran Aqidah Yaqub, Ali Musthafa. 1977. Sejarah dan
Akhlak. Bandung: CV Armico. Metode Dakwah Nabi. Jakarta:
Asyqor, Umar Sulaiman. Al-Rusul wal Pustaka Firdaus.
Risalah. Kuwait: Maktabah al-Falah.
Bisri, M. Abid dan Abdul Mujies. 1985.
Qishashul Anbiya Dalam al-Qur’an,
Surabaya: Toko Nun.
Bung Smas. 2011. Kisah-Kisah dalam
Al-Qur’an, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Dasuki, Hafiz. 1994. Ensiklopedi Islam,
Jilid VI, Jakarta: Ikhtiar Baru.
Departemen Agama RI Proyek
Pengadaan Kitab Suci Al-Qur‟an.
1974. Al-Qur’an dan Terjemahnya
Jakarta: PT Bumi Restu.
Departemen Agama RI. 1990 Al-Qur’an
dan Hadits, Jakarta: Direktorat
Pembinaan Kelembagaan Agama
Islam.
Faruqy, Ismail al-, Louis Lamya. 1988.
The Cultural Atlas of Islam.
Diterjemahkan dalam Bahasa
Indonesia dengan judul Atlas

Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 11 No. 22, Juli –Desember 2012, 97-117 117