Anda di halaman 1dari 8

1.

HUBUNGAN ANTARA NERACA DAN LAPORAN LABA RUGI


Terdapat dua pendekatan dalam mendefinisikan elemen akuntansi dan hubungan
antara neraca dan laporan laba rugi, yaitu pendekatan artikulasi dan non-artikulasi.
Berdasarkan SFAC No. 6, elemen-elemen akuntansi diidentifikasi seperti asset,
kewajiban, modal, pendapatan, keuntungan, kerugian, dan biaya. Pendekatan ini
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara laporan keuangan yaitu neraca, laporan rugi
laba dan laporan perubahan modal. Neraca akan menjadi balance (seimbang) jika
perhitungan laba ruginya (selisihnya apakah itu laba atau rugi) sudah dipindahkan ke
dalam pos ekuitas. Pada pos ekuitas akan masuk ke dalam retained earnings. Hal ini
berarti laporan laba rugi dianggap sebagai sub klasifikasi dari pos modal. Dalam sistem
artikulasi ada dua alternatif yang digunakan untuk mendefinisikan elemen akuntansi,
yaitu pendekatan pendapatan-biaya (revenue-expense approach) dan pendekatan
aset-kewajiban (asset-liability approach)
a. Pendekatan pendapatan-biaya, disebut juga pandangan laporan laba rugi atau
penandingan, yang berarti revenue dan expense dihasilkan dari kebutuhan akan
penandingan. Baik neraca maupun laba rugi terutama diatur oleh aturan akuntansi
mengenai pengakuan pendapatan dan cost matching.
b. Pendekatan aset-kewajiban, berkaitan langsung dengan pengukuran aset dan
kewajiban. Pendekatan ini berfokus pada pengukuran atas aktiva bersih.
Pandangan non artikulasi didasarkan pada keyakinan bahwa artikulasi mendorong
perulangan, karena semua kejadian yang dilaporkan dalam laporan laba rugi juga
dilaporkan dalam neraca meskipun dari perspektif yang berbeda. Dalam pendekatan ini
dianggap bahwa neraca dan laporan laba rugi ini secara matematis independen satu sama
lain.
1.1 ASSET
Ada berbagai definisi yang ditawarkan oleh profesi akunting di Amerika Serikat
mengenai aset. Mulai dari Commite on Terminology, APB dan FASB. Adapun
kesimpulan yang dapat diambil dari definisi aset menurut ketiga lembaga tersebut adalah
bahwa aset merupakan segala kekayaan yang dimiliki oleh suatu entitas bisnis akibat dari
transaksi atau kejadian di masa lalu dan diharapkan memberi manfaat ekonomi di masa
depan yang nilainya diakui sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Aset
dimasukkan dalam neraca dengan saldo normal debet.
a. Pengakuan dan Pengukuran Aset
Mengenai pengakuan dan pengukuran aset dan kewajiban pervasive principle
menyatakan bahwa aktiva dan kewajiban secara umumnya awal pencatatannya
berdasarkan peristiwa di mana perusahaan tersebut memperoleh sumber daya dari entitas
lain atau menimbulkan kewajiban pada entitas lain. Aktiva dan kewajiban diukur oleh
harga tukar pada saat transfer berlangsung. Adapun ringkasan mengenai pengukuran aset
disajikan berikut :
1. Piutang, diukur dengan menggunakan perkiraan nilai realisasi bersih.
2. Investasi Bukan Subjek untuk Akuntansi Ekuitas (SFAS No. 115), diukur
menggunakan amortisasi biaya historis jika efek hutang yang dimaksudkan untuk
dimiliki jatuh tempo, jika tidak digunakan nilai wajar.

3. Investasi Subjek untuk Akuntansi Ekuitas (APB No.18), diukur Menggunakan


akuntansi untuk ekuitas
4. Persediaan, diukur menggunakan biaya, biaya pengganti, nilai realisasi bersih atau
mana yang lebih rendah
5. Asset yang Dibangun Sendiri, diukur menggunakan full absorption costing untuk
persediaan dan kapitalisasi bunga untuk non persediaan
6. Subjek Aset untuk Depresiasi atau Deplesi, alokasi depresiasi dicapai oleh salah
satu dari beberapa metode seperti: garis lurus, jumlah angka tahun, saldo menurun dan
unit produksi Biaya deplesi tahunan didasarkan pada prorata jumlah produksi.
7. Pertukaran Non Moneter Aktiva Sejenis, diukur menggunakan nilai buku dari aset
lama ditambah dengan uang tunai
8. Aktiva Tidak Berwujud, pada awalnya harus diakui sebesar biaya perolehan. Setelah
pengakuan awal, suatu aset tidak berwujud harus dinilai pada biaya perolehanya
dikurangi oleh akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian atas penurunan nilai
9. Biaya Ditangguhkan, sebagian besar biaya yang ditangguhkan diamortisasi dengan
cara yang sama sebagai aset tidak berwujud kecuali persyaratan tertentu berlaku
10. Impaired Assets, diukur menggunakan nilai wajar (fair value) jika kurang dari
nilai tercatat, dengan asumsi arus kas masa depan didiskontokan kurang dari nilai
tercatat
C. KEWAJIBAN
Definisi
FASB mendefinisikan kewajiban sebagai kemungkinan pengorbanan kekayaan
ekonomis di masa depan yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang sebagai
akibat dari suatu transaksi atau kejadian yang sudah terjadi. Ada 5 pengelompokan
kewajiban yaitu (1) contractual liabilities, akibat dari peristiwa di mana kewajiban timbul
yang secara tersurat maupun tersirat kontrak dalam arti hukum; (2) constructive
obligation, adalah salah satu kewajiban yang tersirat daripada tegas ditulis; (3) equitable
obligation, adalah kewajiban yang tidak dikuatkan dengan kontrak dan hanya karena
kewajiban moral atau kewajiban demi kewajaran atau keadilan; (4) contingent liabilities,
merupakan kewajiban yang berkaitan dengan kejadian di masa depan yang tidak pasti,
yang mungkin akan menimbulkan suatu keuntungan ataupun kerugian bagi suatu entitas.
(5) deferred credits, adalah sejenis kewajiban, tetapi bukan dalam pengertian
memberikan pengorbanan di masa yang akan datang.

Pengakuan dan Pengukuran Kewajiban


Menurut APB statement 4 dan SFAC No.5 kewajiban diukur pada jumlah yang
ditetapkan dalam transaksi, biasanya jumlah yang harus dibayar di masa depan yang
terkadang didiskon. Beberapa hal yang dibahas dalam golongan kewajiban adalah
sebagai berikut:
 Notes Payable with Below-Market Rates of Interest, atau disebut juga hutang wesel
dengan harga di bawah pasar suku bunga, menurut APB Opinion No. 21, harus
didiskontokan untuk menyesuaikan wesel dengan tingkat bunga pasar yang
sesungguhnya.
 Bonds Payable, atau hutang obligasi ini akan dicatat berdasarkan hasil bersih transaksi
(net proceeds)
 Convertible Bonds, merupakan obligasi yang memiliki tingkat bunga lebih rendah
daripada obligasi konvensional. Obligasi ini memungkinkan adanya pertukaran
obligasi untuk saham biasa.
 Debt with Stock Warrants, berdasarkan APB Opinion No.14 mengharuskan nilai
dibebankan untuk memisahkan waran saham yang menyertai masalah utang
 Redeemable Prefered Stock and other Hybrid Securities. Redeemable preffered stock
pada dasarnya adalah utang yang berupaya untuk lewat sebagai modal. Sementara
sekuritas hybrid lain dikenal sebagai trust preferred stock, yang pertama kali
dikeluarkan oleh Texaco pada tahun 1993 yang menjual trust preferred stock kepada
investor.
 Securitizations. Munculnya isi utama dalam sekuritisasi ini adalah terkait peningkatan
tipe transaksi umum yang melibatkan penjualan aktiva atau kelompok aktiva oleh
perusahaan (transferor) kepada perusahaan lainnya (transferee).

A. EKUITAS
Definisi
Ekuitas pemilik dapat didefinisikan sebagai kepentingan residual maupun tuntutan
pemegang saham terhadap aktiva bersih perusahaan. Ekuitas merupakan bagian hak
pemilik dalam perusahaan yaitu selisih antara aset dan kewajiban yang ada.

Komponen Modal
Beberapa komponen yang membentuk modal perseroan, yaitu:
 Jumlah rupiah maksimum yang dapat disetorkan oleh para pemegang saham, yang
disebut dengan modal dasar.
 Jumlah yang disetorkan oleh pemegang saham yangdisebut dengan modal disetor, dan
selisih antara modal dasar dengan modal disetor disebut dengan modal protepel.
 Jumlah rupiah yang timbul akibat apresiasi atau revaluasi aset-aset berwujud yang
dimiliki perseroan.
 Laba ditahan yang merupakan sisa laba setelah pembagian dividen
 Jumlah rupiah donasi dari pihak non pemegang saham

Pengakuan dan Pengukuran Ekuitas


Dalam pembahasan mengenai pengakuan dan pengukuran ekuitas, akan dibahas
terlebih dahulu mengenai transaksi dalam ekuitas pemilik. Transaksi ini dapat dibedakan
ke dalam dua jenis yaitu transaksi modal dan transaksi yang berhubungan dengan
laba. Dalam transaksi modal, disajikan kontribusi langsung atau pengambilan kembali
aktiva oleh pemilik. Sementara itu transaksi yang berhubungan dengan laba menampilkan
transaksi-transaksi laporan laba rugi dan penyesuaian periode sebelumnya yang
menyinggung laba periode sebelumnya. Beberapa hal yang dibicarakan dalam
kepemilikan modal yaitu :
 Opsi Saham (Stock Options) adalah sejenis kontrak yang memberi hak kepada
karyawan suatu entitas bisnis untuk membeli saham yang dimiliki oleh entitas tersebut
dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu pula. APB Opinion No. 25
mengharuskan tawar-menawar dalam jumlah opsi saham, yang dikenal sebagai
nonqualified stock options, yang akan dialokasikan sebagai biaya berkala dari tanggal
yang diberikan melalui periode layanan yang diperlukan untuk menerima manfaatnya.
 Saham Treasury (Treasury Stock) adalah saham milik perusahaan penerbit yang
diperoleh kembali, dan saham yang diperoleh kembali. Saham treasuri ini dilihat
sebagai metode sinyal untuk prospek di masa yang akan datang bagi pemegang saham.

 Saham Dividen (Stock Dividends), dividen yang dibayarkan oleh perusahaan kepada
para pemegang saham dalam bentuk saham, tujuannya adalah untuk mempertahankan
tingkat modal perusahaan. ARB 43 membahas dua kebijakan akuntansi terpisah untuk
dividen saham tergantung pada ukuran dividen. Deviden saham dikategorikan besar
bila lebih besar dari 25% dan deviden dikatakan saham kecil apabila lebih kecil dari
20%.

B. INSTRUMEN-INSTRUMEN KEUANGAN
Instrumen keuangan dapat diartikan sebagai kontrak-kontrak yang melibatkan aset
keuangan dari satu entitas dan kewajiban keuangan entitas maupun modal dari entitas
lain. FASB mendefinisikan instrumen keuangan sebagai kas, bukti kepemilikan, atau
kontrak dalam suatu entitas. Instrumen keuangan terakhir dikenal adalah derivatif.

Derivatif
Derivatif merupakan instrumen keuangan yang nilainya diturunkan berdasarkan
instrumen keuangan lainnya, seperti indeks saham atau tingkat bunga, atau indeks suku
bunga. Derivatif sangat berguna baik bagi manajemen investasi/portofolio, perusahaan,
lembaga keuangan maupun investor perorangan dalam mengelola posisi yang mereka
miliki terhadap resiko dari pergerakan harga saham dan komoditas, suku bunga, maupun
nilai tukar valuta asing. Terdapat dua tipe derivatif, yaitu forward-based derivatives
(derivatif berbasis forward) dan option-based derivatives (derivatif berbasis option).
 Forward-based Derivatives, timbul diantara dua pihak, saat dimana pihak yang satu
akan menyadari keuntungannya dan pihak yang lainnya menyadari kerugiannya,
yang diakibatkan oleh perubahan nilai faktor yang mendasari instrumen.
 Option-based Derivatives, pilihan pemegang opsi untuk membayar harga spesifik “di
muka” akan memberikan mereka hak membeli (call) atau menjual (put) kuantitas
tertentu pada harga tertentu dari komoditas standar, keuangan, atau instrumen modal.

Terkait dengan instrumen keuangan, FASB telah mengeluarkan beberapa pernyataan


dengan spesifik yang tertuang pada SFAS No. 13, SFAS No. 77, FASB Technical
Bulletin No. 85-2, SFAS No. 133, dan SFAS No. 80, 105, dan 119.
Klasifikasi Neraca
Neraca akan berguna dan memberikan gambaran yang tepat dalam laporan
keuangan jika diklasifikasikan dengan tepat. Neraca dapat diklasifikasikan menjadi dua
yaitu berdasarkan pendekatan current (lancar) dan noncurrent (tidak lancar).
Pengklasifikasian ini dikarenakan ARB 43 mengharuskan klasifikasi aset dan kewajiban
berdasarkan likuiditas. Pendekatan current didefinisikan sebagai siklus operasi
perusahaan selama satu tahun atau satu periode akuntansi. Sementara pendekatan
noncurrent mensyaratkan jangka waktu yang lebih lama, atau lebih dari satu periode
akuntansi, terkait masa manfaat aset maupun pelunasan kewajiban.

REFERENSI :
Wolk, Harry. I., Michael G, Tearney., James. L. Dodd, 2001. Accounting Theory : A
Conceptual and Institutional Approach, Fifth Edition. Ohio:South Western Collage
Publishing

Anggun, Jayanti. 2012. Kewajiban dan Modal.


http://anggunfreeze.blogspot.co.id/2012/11/kewajiban-dan-modal.html diakses
pada 28 April 2016
Romannurbawa. 2012. Pengertian Laporan Keuangan.
https://romannurbawastore.wordpress.com/2012/05/06/pengertian-laporan-
keuangan-menurut-pakar-ahlinya/ diakses pada 28 April 2016

RINGKASAN MATERI KULIAH


TEORI AKUNTANSI
PERTEMUAN X
(NERACA)

OLEH :
KELOMPOK 5
1. I GUSTI PUTU OKA SURYA UTAMA (1591662001/01)
2. IDA BAGUS PUTU FAJAR ADISAMARTHA (1591662002/02)
3. PUTU RIESTY MASDIANTINI (1591662020/20)
4. IDA AYU RIA PARAMITA HANDAYANI (1591662021/21)

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016