Anda di halaman 1dari 7

PENGERTIAN IJTIHAD

Ijtihad Menurut Al-Quran


Ijtihad atau proses menggunakan akal dalam
memahami atau mengambil hukum islam, sangat
diperintahkan oleh Allah kepada manusia. Akal
adalah potensi yang diberikan oleh Allah untuk
manusia. Jika tanpa menggunakan akal maka
manusia akan terpengaruh oleh hawa nafsu dan
gangguan syetan. Sedangkan bila manusia
menggunakan akal dengan benar dan objektif,
maka akan dapat memahami apa yang Allah
perintahkan dengan benar. Berikut adalah perintah
Allah terhadap manusia terhadap penggunaan
akal, yang ada dalam AL-Quran.
CONTOH IJTIHAD
 Ditimpakan Kemurkaan Allah Bagi yang Tidak Menggunakan Akal
 “Dan tidak seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah

menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak


mempergunakan akalnya”. (QS Yunus : 100)
 Ijtihad dalam Menangkap Tanda Kekuasaan Allah

 “Sesungguhnnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian

malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai


(akal)  pengetahuan”. (QS Ali Imran : 190)
 Ijtihad dalam Keimanan dan Takut Pada Allah

 “(Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah

ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu


bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu;
maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki
itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu
sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.).”
(QS Ar Rum : 28)
MANFAAT IJTIHAD
 1Setiap permasalahan baru yang dihadapi
setiap umat dapat diketahui hukumnya
sehingga hukum islam selalu berkembang
serta sanggup menjawab tantangan.
 2Dapat menyesuaikan hukum dengan
berdasarkan perubahan zaman, waktu dan
keadaan.
 3 Menetapkan fatwa terhadap masalah-
masalah yang tidak terkait dengan halal atau
haram.
 4Dapat membantu umat islam dalam
menghapi setiap masalah yang belum ada
FUNGSI IJTIHAD
 Fungsi Ijtihad
 Fungsi dari ijtihad ialah untuk mendapatkan
solusi hukum dari suatu masalah yang tidak
ditemukan dalam Al-Qur’an ataupun hadis.
Jadi, jika dilihat dari fungsinya tersebut,
ijtihad telah mendapatkan kedudukan dan
legalitas dalam Islam. Walaupun demikian,
ijtihad tidak dapat dilakukan oleh
sembarang orang, tapi hanya orang-orang
tertentu yang telah memenuhi syarat yang
boleh berijtihad.
HUKUM IJTIHAD
 Menurut Syeikh Muhammad Khudlari bahwa hukum jtihad itu
dapat dikelompokan menjadi:
 a.  Wajib ‘ain, yaitu bagi seseorang yang ditanyai tentang sesuatu
masalah, dan masalah itu akan hilang sebelum hukumnya
diketahui. Atau ia sendiri juga ingin mengetahui hukumnya.
 b.  Wajib kifayah, yaitu apabila seseorang ditanyai tentang
sesuatu dan sesuatu itu tidak hilang sebelum diketahui
hukumnya, sedang selain dia masih ada mujtahid lain. Apabila
seorang mujtahid telah menyatakan dan menetapkan hukum
sesuatu tersebut, maka  kewajiban mujtahid  yang lain telah
gugur. Artinya ijtihad satu orang telah membebaskan beban
kewajiban berijtihad. Namun bila tak seorang pun mujtahid
melakukan ijtihadnya, maka dosalah semua mujtahid tersebut.
 c.  Sunnah, yaitu ijtihad terhadap suatu masalah atau peristiwa
yang belum terjadi.
SYARAT SESEORANG BISA BER- IJTIHAD
 Mempunyai pengetahuan yang luas
dan mendalam
 Mempunyai pemahaman bahasa arab,
ilmu tafsir, usul fiqh, dan tarikh
(sejarah) yang mendalam
 Mengenal tata cara merumuskan
hukum dan melakukan qiyas
 Berakhlaq mulia
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
 NAMA: RIFQID DARMAWAN SUBEKTI
 KELAS: X MM 2
 ABSEN: 29