Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH

Ilmu Bedah Khusus Veteriner

Prolapsus Bulbi

Oleh :

Rizal Juanda Saputra 14820129

Bintang Maulidya 14820135

Achmad Nurul Faqih 14820136

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

2017
Definisi

Eyeball prolapse atau prolapsus bulbi adalah keluarnya bola mata dari
rongga mata dapat disertai perdarahan subconjunctiva sampai dengan putusnya
nervus optic . Hal ini biasa terjadi pada kasus kecelakaan atau pertarungan. Dapat
terjadi pada semua jenis ras kucing dan lebih sering pada anjing tipe
brachycephalic (kepala pendek dan lebar) termasuk Shih Tzu, Pekingese, English
Bulldog, French Bulldog, Boston Terrier dan Pug.

Etiologi

Prolapsus bulbus oculi dapat terjadi akibat infeksi, benturan, dan tumor
malignan. Anjing dimana tulang orbitalnya menonjol
misalnya Pekingese, Pugs dan jenis brachycephalic mudah mengalami prolapsus
bulbus oculi, bahkan bisa juga terjadi akibat kesalahan restrain. (Archibald,1974).

Metode dan Teknik Operasi

Persiapan Pra-Operasi :

Sebelum operasi dilakukan, ruangan dan tempat operasi, alat-alat disterilkan, dan
obat-obatan yang akan digunakan dipersiapkan. Pemeriksaan keadaan fisik pasien
secara umum, sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan terlebih dahulu
selama 6 – 12 jam.

Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan antara lain : meja operasi, stetoskop, spuit,


scalpel, needle, holder, gunting bengkok dan lurus, pinset anatomis dan cirurgis,
alli’s forceps, arteri klem anatomis dan cirurgis, drapping, tampon, sarung tangan
dan lampu operasi. Bahan-bahan yang digunakan yaitu benang cat gut dan nilon,
kain kasa, alkohol 70%, iodium tincture 3%, aquades, NaCl fisiologi, obat
premedikasi (atropine sulfat) dan anestesi (ketamin dan xylazin), antibiotik
(penicillin oil) dan salap mata.

Premedikasi dan Anestesi

Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat dengan dosis 0,2-0,5


mg/kg BB secara intra muscular. Setelah ± 10 menit dilanjutkan dengan
pemberian anestesi umum yaitu xylazine 2-3 mg/kg BB dan ketamin 10-40 mg/kg
BB secara intra muscular (Allen dkk., 1993). Setelah pemberian anestesi,
frekuensi nafas dan denyut jantung dimonitoring setiap 10 menit sampai
pembedahan selesai (Tilley dan Smith, 2002).

Tehnik Operasi

Operasi ini terdiri atas pengangkatan bola mata bersamaan dengan


konjungtiva dan membran nictitan. Hewan diletakkan lateral rekumbensi, lalu
dilakukan pemasangan duk steril pada mata yang akan dioperasi. Daerah yang
akan di insisi diolesi yodium tincture 3%.

Teknik operasi metode Bemis sebagai berikut :

 Kelopak mata disatukan dengan jahitan nilon pola menerus

 Dibuat sayatan elips sepanjang tepi kelopak mata menembus otot kelopak
mata sampai konjungtiva.
 Dengan tetap menarik bulbus oculi dan tanpa menyayat konjungtiva,
jaringan retrobulbus disayat sampai lepas dengan muskulus-muskulusnya
kemudian dipotong sedekat mungkin dengan bulbus oculi. Penarikan
diteruskan sampai musculus retractor oculi terlihat.

 Muskulus retractor oculi, arteri, vena, dan saraf diklem dengan forcep
lengkung.

 Pendarahan dikontrol dengan menjahit vena dan arteri yang terpotong


dengan benang chromic catgut.Dead space yang terbentuk ditutup dengan
mempertemukan jaringan retrobulbus dan musculus mengunakan
benang cat gut 3-0 secara simple continous, kulit dijahit dengan benang
nilon pola simple interrupted. (Archibald,1974)

Pembahasan

Pertolongan pertama dan penanganan yang tepat dan sistematis pada kasus
prolapsus bulbus oculi diharapkan kebutaan dapat dicegah demikian pula rasa
sakit dapat dihilangkan. Ada tiga metode penanganan terbaik berdasarkan tingkat
keparahan proptosis adalah, reposisi, canthotomy tarsorraphy dan enukleasi.
(David dan Eugene , 1996).

Metoda reposisi

Metoda ini sering digunakan untuk mengatasi proptosis yang ringan,


dimana terdapat perdarahan yang minim dan tidak ada kerusakan pada otot mata.
Untuk lebih mudah dalam melakukan reposisi sebaiknya lakukan restrain,
selanjutnya angkat kelopak mata dorsal dan ventralis menggunakan allis forsep
atau strabismus hook secra perlahan-lahan dan usahakan mendekati posisi normal
kemudian masukkan bola mata dengan cara menekan permukaan dengan kasa
steril yang lembab, sampai dirasakan bola mata masuk ke rongga orbitalnya.
Berikan salf mata untuk pemakaian 7 hari. (Archibald,1974)

1. Canthotomy dan tarsorraphy

Metode ini digunakan untuk mengatasi proptosis yang sedang, dimana otot mata
masih utuh, tetapi sudah terjadi peradangan yang parah, dan bengkak yang agak
hebat, sehingga usaha untuk memasukkan kembali bola mata ke posisi normal
masih tidak sempurna. Dibawah pengaruh anastesi tarsorraphy sementara dan
canthotomy dilakukan dengan cara menyayat lateral canthus sepanjang kurang
lebih 1 cm, sehingga bola mata dapat ditekan masuk, selanjutnya dengan
menggunakan benang 4/0 atau 5/0 jahitkan kembali sayatan yang dibuat tadi
menggunakan jahitan sederhana, diikuti dengan penjahitan tarsorraphy (ventrikel
matras) sebanyak 2 – 3 jahitan sambil menyisipkan slang karet kecil atau kancing
khusus agar tidak terjadi iritasi benang dengan jaringan. Usahakan benang
ditempatkan diantara cilia palpebrae dan sedikit lateral kelenjar meibomian, agar
tidak menimbulkan entropion dan kerusakan pada kornea. Jahitan canthotomy dan
tarsorraphy sementara dibuka 12-14 hari sesudah operasi. (Archibald,1974)

2. Enucleasi bulbi

Cara ini digunakan jika kerusakan bola mata sangat parah karena syaraf serta otot-
otot rusak dan mata sudah hampir 80% keluar dari tempatnya. Pendekatan operasi
enucleasi atau pengangkatan bola mata dan konjungtiva juga digunakan pada
penanganan kasus glaucoma yang menimbulkan kesakitan bagi penderita, radang
kornea campuran yang mencair, dan neoplasia intraocular. (Archibald,1974)

3. Tahapan tahapan operasi enukleasi:


 Dibawah pembiusan umum, bersihkan dengan desinfektan providone
iodine/betadine dari mulai kelopak mata, ke konjungtiva dan kornea.

 Untuk memudahkan penyayatan kulit sebaiknya lekatkan dahulu kelopak


mata atas dan bawah dengan menjahitkannya, lalu sayat sekitar kelopak
mata selebar 3-5 mm dari tepi kelopak mata.

 Pisahkan kulit kelopak mata atas dan bawah dari jaringan sub
konjungtiva.Selama pemisahan ini usahakan perkecil pengaruh tekanan
pada bola mata. Gunting ligamentum septum orbital dibagian medial
kemudian lakukan yang sama di bagian lateral, dan lakukan preparasi ini
sedekat mungkin dengan sklera untuk menghindari perdarahan yang hebat.

 Gunting semua otot-otot penggantung bola mata sedekat mungkin dengan


sklera, setelah bola mata hampir terlepas, putar 360 0 dan jepit batang yang
tersisa dengan menggunakan jepitan bengkok yang kuat. Jahit dengan kuat
menggunakan benang 2/0-3/0 dibawah jepitan.

 Lalu potong sehingga seluruh bola mata terangkat. Jahitkan sisa otot dan
jaringan dijahit dengan pola matras menggunakan benang absorbable 3/0–
4/0. Terakhir jahitkan kulit dengan jahitan matras dan sederhana. Buka
jahitan 10-12 hari pasca operasi.

 Berikan obat antibiotik oral seperti Clavamox atau augmentine untuk 5


hari sesudah operasi, dan penghilang sakit untuk 2 hari. (Archibald,1974)

Pasien dengan permasalahan mata yang bersifat darurat dapat disebabkan oleh
trauma/benturan dan karena penyakit. Trauma karena benturan langsung maupun
tidak langsung ke organ mata, dalam hal ini termasuk kejadian luksasio/prolapsus
bola mata akibat berkelahi atau benturan benda tumpul, kecelakaan tertabrak
mobil. Trauma langsung pada daerah mata juga dapat menimbulkan robeknya
kelopak mata, konjungtiva, kornea dan kerusakan bagian dalam bola mata.
Keadaan darurat akibat penyakit umumnya ditandai dengan perkembangan
kerusakan matanya berjalan begitu cepat (1 –2 hari) sampai mencapai rasa sakit
yang berlebihan, kebutaan atau kerusakan bagian dalam bola mata. Untuk itu
diperlukan pengobatan langsung. Contohnya pada kasus glaucoma, luksasio lensa,
kebutaan yang mendadak sehubungan dengan kasus posterior uveitis, melepasnya
retina detachment, dan perdarahan pada retina dan ruang anterior. (Tilley dan
Smith, 2002).

Pengobatan

Prinsip dasar dalam menangani kasus prolapsus ulbus oculi adalah bola
mata diusahakan secepatnya harus dikembalikan ke posisi normal, namun
sayangnya tidak semua kasus ini dapat kita lakukan secara cepat dan memuaskan
mengingat banyak klien tidak mengetahui cara mengatasinya dalam memberikan
pertolongan pertama, serta umumnya pemilik tidak sesegera mungkin membawa
hewannya ke dokter hewan. Namun demikian metoda pengobatan dan
penangannyapun tergantung pada jenis proptosisnya. (Tilley dan Smith, 2002).

Pencegahan

 Pada Anjing Pekingese, perlakuan medial canthoplasty dapat


dipertimbangkan sebagai pencegahan untuk terjadinya proptosis.

 Restrain pada anjing yang termasuk kedalam ras brachiocephalic harus


diperlakukan secara hati- hati.

 berikan masukkan kepada pembiak anjing untuk tidak mengembangbiakan


ras anjing dengan palpebrae fissure yang terlalu panjang.
Kesimpulan

Dilihat dari tingkat keparahannya proptosis terbagi menjadi 3 bagian.

1. Proptosis ringan, yaitu bola mata nampak menonjol keluar tanpa ada
perdarahan.

2. Proptosis sedang, yaitu bola mata nampak menonjol disertai perdarahan


atau luka tanpa kerusakan otot yang berarti dan lamanya kejadian tidak
lebih dari 15 menit untuk ras Pekingese dan kurang dari 2 jam untuk ras
lainnya.

3. Proptosis Bulbi Ocular parah, yaitu bola mata menonjol disertai kerusakan
syaraf dan sampai putusnya otot retraktor oculi anguli dan retraktor bulbi,
sehingga daya lihat sudah dipastikan negatif/buta.

DAFTAR PUSTAKA

http://centerveterinary.blogspot.co.id/2015/11/proptosis-bulbi-ocular-pada-anjing.html
diakses pada hari Sabtu tanggal 11 November 2017

Martin, Charles L., 2010. Ophthalmic Disease in Veterinary Medicine

Plunkett, Signe J., 2009. Emergency Procedures for the Small Animal
Veterinarian

Stades, Frans C., dkk. 2007. Ophthalmology for the Veterinary Practitioner

Tilley, L.P. & Francis W.K. Smith. 2011. Blackwell’s Five Minute veterinary
Consult:

Canine and Feline